Ringkasan Inovasi
Pemerintah Desa Kolai di Kecamatan Malua, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan mendirikan Perpustakaan Desa Gerbang Ilmu sebagai inovasi literasi berbasis komunitas yang lahir dari kecintaan Kepala Desa Syukur Syam terhadap buku dan keyakinannya bahwa literasi adalah kunci kemajuan desa. [1] Perpustakaan ini bukan sekadar ruang baca biasa — ia tumbuh menjadi pusat pembelajaran komunitas yang menyediakan koleksi buku lengkap, fasilitas komputer dan internet, pelatihan keterampilan, serta program pemberdayaan yang melibatkan karang taruna, sehingga menarik pengunjung dari semua kelompok usia setiap harinya. Strategi “Literasi untuk Kesejahteraan” yang diusung menjadikan perpustakaan bukan sekadar tempat membaca, melainkan ruang transformasi sosial dan ekonomi warga desa yang paling aksesibel. [5]
Dampak utamanya sangat membanggakan: Perpustakaan Gerbang Ilmu Kolai meraih Juara 2 lomba perpustakaan desa tingkat Provinsi Sulawesi Selatan pada 2017, naik menjadi Juara 1 pada 2018 sekaligus mewakili Sulsel ke tingkat nasional, dan berhasil menembus enam nominator terbaik lomba perpustakaan desa tingkat nasional — sebuah pencapaian luar biasa bagi perpustakaan desa terpencil di Pegunungan Enrekang. [1][2] Riset akademik dari UIN Alauddin Makassar mengonfirmasi peran strategis perpustakaan ini dalam meningkatkan minat baca masyarakat Desa Kolai secara terukur dan berkelanjutan. [9]
Latar Belakang
Tingkat literasi masyarakat perdesaan di Indonesia masih tergolong rendah, dengan minimnya akses terhadap bahan bacaan berkualitas sebagai penyebab utama yang terus menciptakan ketimpangan modal manusia antara desa dan kota. [3] Penelitian tentang perpustakaan desa sebagai pusat literasi mengonfirmasi bahwa kekosongan fasilitas baca di desa menciptakan lingkaran setan yang memperlemah kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan. Anak-anak dan warga dewasa di desa tidak memiliki ruang terstruktur untuk mengembangkan kebiasaan belajar mandiri, yang pada akhirnya membatasi kemampuan mereka memanfaatkan peluang ekonomi dan sosial yang tersedia. [3]
Di Desa Kolai, kondisi ini diperparah oleh keterbatasan infrastruktur literasi yang nyaris nol sebelum Perpustakaan Gerbang Ilmu berdiri. [4] Tidak ada fasilitas baca publik yang memadai, tidak ada akses komputer bagi warga, dan tidak ada ruang terstruktur bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilan digital maupun kecakapan hidup lainnya. Kepala Desa Syukur Syam melihat kondisi ini bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang untuk mengubah wajah desanya melalui investasi pada modal manusia yang paling mendasar — literasi — dengan memulai dari apa yang paling dekat dengan dirinya: koleksi buku pribadi yang ia sayangi. [1]
Program PerpuSeru yang diluncurkan oleh Coca-Cola Foundation Indonesia sejak 2011 membuka jendela peluang bagi Desa Kolai untuk mentransformasi perpustakaan tradisional menjadi pusat belajar komunitas berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). [5] Program ini kemudian direplikasi oleh Perpustakaan Nasional RI bersama Bappenas sebagai Prioritas Nasional 2019 dan telah menjangkau 768 perpustakaan desa di 18 provinsi, membuktikan relevansi dan skalabilitas pendekatan transformasi perpustakaan desa berbasis komunitas. Desa Kolai memanfaatkan kehadiran Program PerpuSeru di Kabupaten Enrekang sebagai akselerator yang mengubah perpustakaan yang sudah ada menjadi ekosistem literasi modern yang berdampak jauh melampaui batas-batas desa. [5]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pendirian Perpustakaan Desa Gerbang Ilmu sebagai pusat pembelajaran dan pemberdayaan komunitas terintegrasi yang menggabungkan fungsi perpustakaan klasik, pusat literasi digital, dan ruang pelatihan kecakapan hidup dalam satu institusi desa yang dikelola sepenuhnya oleh warga setempat. [1] Inovasi ini lahir dari tindakan konkret Kepala Desa Syukur Syam yang menghibahkan koleksi buku pribadinya sebagai modal awal — sebuah gestur kepemimpinan berbasis pengorbanan yang langsung membangun kepercayaan komunitas bahwa pemimpin mereka benar-benar percaya pada nilai literasi yang ia perjuangkan. Pendirian perpustakaan dikukuhkan secara hukum melalui SK Kepala Desa Kolai Nomor 03 Tahun 2006 dan diperkuat dengan SK Nomor 02 Tahun 2016 tentang pengangkatan pengelola resmi, memastikan keberlangsungan kelembagaan tidak bergantung pada satu periode kepemimpinan saja. [1]
Perpustakaan Gerbang Ilmu bekerja sebagai ekosistem literasi berlapis yang melayani kebutuhan berbeda dari berbagai kelompok warga. [6] Koleksi buku fisik yang terus bertumbuh dari berbagai sumber mencakup kebutuhan semua usia — dari buku cerita anak, buku pelajaran, hingga buku pertanian dan keterampilan untuk warga dewasa. Tiga unit komputer terkoneksi internet dari Program PerpuSeru hadir sebagai pintu gerbang literasi digital yang memungkinkan warga Kolai mengakses informasi yang sebelumnya hanya bisa dijangkau dari kota. Karang Taruna Desa Kolai yang dilibatkan secara aktif sebagai pengelola menjamin layanan perpustakaan tetap dinamis, relevan, dan menarik bagi generasi muda yang menjadi target utama transformasi literasi jangka panjang. [6]
Proses Penerapan Inovasi
Pendirian perpustakaan dimulai dari langkah yang sangat sederhana namun sarat makna: Kepala Desa Syukur Syam menghibahkan koleksi buku pribadinya, membangun ruang khusus di kantor desa, dan melegitimasi perpustakaan melalui SK Nomor 03 Tahun 2006 sebagai produk hukum yang memberi perpustakaan status resmi dan kepastian kelembagaan. [1] Koleksi awal kemudian dikembangkan secara paralel melalui multipel sumber: bantuan buku dari Perpustakaan Daerah Kabupaten Enrekang, bantuan dari Perpustakaan Nasional RI, dana dekonsentrasi provinsi, dan yang paling berkelanjutan adalah alokasi anggaran rutin dari Alokasi Dana Desa (ADD) untuk pembelian buku-buku baru sesuai kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan multi-sumber ini memastikan pertumbuhan koleksi tidak terhenti ketika satu sumber dana mengering. [1]
Kemitraan dengan Program PerpuSeru Enrekang menjadi titik transformasi paling signifikan dalam perjalanan perpustakaan ini. [6] Melalui kemitraan tersebut, perpustakaan mendapatkan tiga unit komputer, koneksi internet, dan — yang paling berharga — pendampingan dari fasilitator PerpuSeru yang terlatih dalam mengembangkan strategi layanan berbasis kebutuhan komunitas, jauh melampaui pendekatan perpustakaan konvensional yang hanya mengelola koleksi. Pembenahan fisik ruang baca yang dilakukan bersama Karang Taruna pada April 2018, mulai dari penataan ulang rak buku, pengecatan ruangan, hingga pemasangan papan informasi, menjadi persiapan konkret dan terencana sebelum tim penilai lomba perpustakaan desa tingkat nasional datang melakukan kunjungan penilaian lapangan. [7]
Proses penguatan SDM pengelola berjalan secara bertahap dan konsisten. [2] Fasilitator PerpuSeru memberikan pelatihan kepada pengelola karang taruna tentang manajemen perpustakaan berbasis komunitas, teknik promosi layanan perpustakaan kepada warga, dan pengelolaan program pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan warga desa. Pembelajaran terpenting dari proses ini adalah bahwa keberhasilan perpustakaan desa tidak diukur dari jumlah buku di rak, melainkan dari seberapa sering warga hadir dan seberapa besar manfaat yang mereka rasakan dalam kehidupan nyata — sebuah pergeseran paradigma dari “koleksi-sentris” ke “komunitas-sentris” yang menjadi fondasi seluruh strategi pengembangan perpustakaan. [10]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama adalah kepemimpinan transformatif Kepala Desa Syukur Syam yang tidak sekadar menginstruksikan, tetapi memulai inovasi dengan pengorbanan nyata melalui hibah koleksi buku pribadi yang menjadi fondasi pertama perpustakaan. [4] Kepemimpinan berbasis teladan ini menciptakan legitimasi moral yang membuat seluruh elemen desa — perangkat, karang taruna, hingga warga biasa — tergerak untuk berpartisipasi dengan rasa memiliki yang tulus, bukan sekadar kewajiban administratif. Alokasi rutin Dana Desa untuk operasional dan pengembangan koleksi perpustakaan yang diprioritaskan Kepala Desa dalam proses perencanaan pembangunan desa membuktikan komitmen yang melampaui sekadar retorika. [1]
Faktor kedua adalah kemitraan strategis yang dibangun dengan Perpustakaan Daerah Kabupaten Enrekang dan Program PerpuSeru yang membawa serta tidak hanya sumber daya fisik berupa buku dan komputer, tetapi kapasitas teknis berupa pelatihan pengelolaan dan strategi pengembangan perpustakaan berbasis komunitas yang tidak dimiliki desa secara mandiri. [5] Program PerpuSeru yang pada 2019 masuk Prioritas Nasional dengan telah melatih 2.300 staf perpustakaan dan menjangkau sekitar 14 juta masyarakat di 18 provinsi adalah mitra yang membawa standar pengembangan perpustakaan desa ke level yang jauh lebih tinggi dari sekadar “rak buku di kantor desa”. Keterlibatan karang taruna sebagai pengelola aktif — bukan sekadar sukarelawan — memberikan energi dan inovasi layanan yang terus segar seiring pergantian generasi pengurus. [5]
Hasil dan Dampak Inovasi
Rentetan prestasi yang ditorehkan Perpustakaan Gerbang Ilmu Kolai berbicara paling lantang tentang kualitas inovasi yang dibangun. [1] Pada 2017, perpustakaan ini meraih Juara 2 lomba perpustakaan desa tingkat Provinsi Sulawesi Selatan — sebuah pencapaian mengejutkan bagi desa kecil di pegunungan Enrekang yang tak pernah masuk radar pembangunan literasi sebelumnya. Pada 2018, prestasi itu ditingkatkan menjadi Juara 1 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan sekaligus membawa nama Sulsel ke panggung nasional, lalu berhasil menembus enam nominator terbaik lomba perpustakaan desa tingkat nasional dengan tim penilai dari Perpustakaan Nasional RI yang datang langsung ke Desa Kolai untuk melakukan penilaian lapangan. [2]
Dampak sosial perpustakaan ini mengubah pola aktivitas masyarakat secara fundamental. [9] Penelitian skripsi UIN Alauddin Makassar yang secara khusus mengkaji Perpustakaan Gerbang Ilmu Kolai mengonfirmasi perannya yang signifikan dalam meningkatkan minat baca masyarakat — sebuah perubahan perilaku komunitas yang tidak bisa terjadi dalam semalam melainkan merupakan hasil kerja keras bertahun-tahun membangun ekosistem literasi yang menarik dan relevan. Karang taruna yang terlibat aktif sebagai pengelola mendapatkan pengalaman organisasi, pelayanan publik, dan kepemimpinan yang meningkatkan kualitas pemuda desa secara nyata melampaui sekadar kemampuan mengelola rak buku. [9]
Dari sisi ekonomi dan pemberdayaan, strategi “Literasi untuk Kesejahteraan” yang diusung Desa Kolai sejalan dengan bukti empiris program PerpuSeru secara nasional yang menunjukkan bahwa akses perpustakaan berbasis TIK meningkatkan pendapatan keluarga melalui peningkatan kapasitas perempuan, pemuda, dan usaha kecil yang menggunakan informasi dan pelatihan dari perpustakaan. [5] Perpustakaan Gerbang Ilmu kini menjadi ikon kebanggaan Desa Kolai yang mengangkat citra desa di tingkat kabupaten dan provinsi, membuka akses ke program-program pengembangan literasi dan pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya tidak pernah menyentuh desa sekecil Kolai. [8]
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama yang dihadapi Perpustakaan Gerbang Ilmu Kolai adalah keterbatasan tenaga pengelola yang memiliki latar belakang profesional ilmu perpustakaan. [3] Pengelolaan yang sebagian besar bertumpu pada sukarelawan karang taruna, meski penuh semangat, membutuhkan investasi pelatihan yang berkelanjutan agar kualitas layanan tetap terjaga dan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah pengunjung dan semakin beragamnya kebutuhan masyarakat. Rotasi alami pengurus karang taruna setiap beberapa tahun juga berarti proses pelatihan dan transfer pengetahuan harus terus diulang — sebuah tantangan manajemen SDM yang membutuhkan sistem dokumentasi dan mentoring yang terstruktur agar pengetahuan kelembagaan tidak hilang bersama pergantian pengurus. [10]
Kendala kedua adalah pemeliharaan dan pembaruan perangkat komputer serta koneksi internet secara berkala yang membutuhkan anggaran operasional rutin yang tidak selalu tersedia dalam jumlah memadai dari ADD. [10] Ketergantungan awal pada dukungan Program PerpuSeru untuk infrastruktur digital mengharuskan desa menyiapkan strategi pembiayaan mandiri yang konkret agar kapasitas digital perpustakaan tidak mengalami degradasi setelah program kemitraan berakhir. Kondisi geografis Desa Kolai yang berada di pegunungan Enrekang juga memberikan tantangan tersendiri dalam hal kecepatan dan keandalan koneksi internet yang menjadi tulang punggung layanan literasi digital perpustakaan. [5]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Perpustakaan Gerbang Ilmu Kolai dijaga melalui pelembagaan yang berlapis dan kuat: perpustakaan memiliki dua produk hukum desa sebagai landasan, pengelola resmi yang diangkat melalui SK Kepala Desa, dan alokasi anggaran rutin dari ADD yang memastikan perpustakaan tidak layu ketika bantuan luar berhenti mengalir. [1] Pendekatan ini menempatkan perpustakaan sebagai institusi publik desa yang mandiri secara kelembagaan dan finansial — bukan program titipan yang eksistensinya bergantung pada satu donatur atau satu periode kepemimpinan kepala desa. Komitmen untuk terus mengalokasikan Dana Desa bagi pembelian koleksi baru secara rutin menjamin relevansi perpustakaan terhadap kebutuhan warga yang terus berkembang. [1]
Strategi regenerasi kepemimpinan perpustakaan melalui keterlibatan karang taruna sebagai pengelola adalah investasi keberlanjutan jangka panjang yang paling cerdas dari inovasi ini. [6] Setiap generasi pengurus karang taruna yang masuk membawa energi dan perspektif baru yang mencegah stagnasi layanan, sekaligus menjaga relevansi perpustakaan di mata kelompok usia yang paling strategis untuk masa depan literasi desa. Perluasan program layanan ke arah pemberdayaan ekonomi — melalui pelatihan digital marketing bagi UMKM lokal, kelas keterampilan perempuan, dan bimbingan belajar bagi siswa — akan memperkuat posisi perpustakaan sebagai institusi desa yang paling multifungsi dan paling sering dikunjungi oleh warga dari semua kelompok. [10]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi Perpustakaan Gerbang Ilmu Kolai berkontribusi secara langsung dan terukur pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Strategi “Literasi untuk Kesejahteraan” memungkinkan warga desa mengakses informasi, pelatihan keterampilan, dan pengetahuan usaha yang meningkatkan kemampuan ekonomi mereka. Bukti dari Program PerpuSeru secara nasional menunjukkan bahwa perpustakaan desa berbasis TIK meningkatkan pendapatan keluarga, khususnya bagi perempuan dan pelaku usaha kecil yang menggunakan layanan perpustakaan. [5] |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas | Perpustakaan Gerbang Ilmu menyediakan akses pendidikan nonformal yang merata bagi seluruh warga Desa Kolai, dari anak-anak hingga orang dewasa, tanpa biaya dan tanpa diskriminasi. Penelitian UIN Alauddin Makassar mengonfirmasi peran signifikan perpustakaan ini dalam meningkatkan minat baca masyarakat — indikator kualitas pendidikan yang paling fundamental dan berkelanjutan. [9] |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | Program pelatihan keterampilan dan akses komputer di perpustakaan membuka peluang pengembangan diri yang setara bagi perempuan Desa Kolai yang sebelumnya memiliki akses terbatas pada fasilitas digital dan pendidikan nonformal di luar rumah. Keterlibatan perempuan sebagai pengunjung aktif dan peserta pelatihan memperkuat posisi mereka sebagai agen pengambil keputusan dalam keluarga dan komunitas. [5] |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | Kehadiran komputer dan internet di perpustakaan desa mengurangi kesenjangan digital antara warga Desa Kolai yang terpencil di pegunungan Enrekang dengan masyarakat perkotaan yang memiliki akses lebih mudah ke informasi dan teknologi. Prestasi Juara 1 tingkat Provinsi dan Nominator Nasional membuktikan bahwa kualitas inovasi desa terpencil mampu bersaing setara dengan inovasi dari daerah yang lebih maju secara infrastruktur. [1] |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Tujuan | Perpustakaan Gerbang Ilmu Kolai berhasil membangun ekosistem kemitraan multi-pihak yang efektif: Pemerintah Desa, Perpustakaan Daerah Kabupaten Enrekang, Perpustakaan Nasional RI, Program PerpuSeru (Coca-Cola Foundation Indonesia), Karang Taruna, dan akademisi dari UIN Alauddin Makassar. Kemitraan berlapis ini menjadi model kolaborasi pembangunan literasi desa yang inklusif dan berkelanjutan. [5] |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Perpustakaan Gerbang Ilmu Kolai menawarkan cetak biru replikasi yang sangat mudah diadopsi oleh desa-desa lain karena prasyaratnya sangat minimal dan terjangkau: seorang kepala desa yang berkomitmen, ruang fisik yang memadai, kemauan untuk bermitra dengan perpustakaan daerah, dan keberanian mengalokasikan sebagian ADD untuk koleksi buku. [11] Perpustakaan Daerah Kabupaten Enrekang yang telah terbukti berperan aktif sebagai pembina Perpustakaan Gerbang Ilmu dapat menjadi fasilitator replikasi model ini ke desa-desa tetangga secara sistematis, memanfaatkan pengalaman dan jaringan yang sudah dibangun dalam mendampingi Desa Kolai. [11]
Untuk scale up nasional, Program PerpuSeru yang telah direplikasi Perpustakaan Nasional RI ke 60 perpustakaan kabupaten pada 2018 dan ditetapkan sebagai Prioritas Nasional 2019 dengan target 300 kabupaten menyediakan ekosistem pendampingan yang siap dimanfaatkan oleh ratusan desa baru yang ingin memulai transformasi literasi. [5] Desa Kolai dapat berperan aktif sebagai desa percontohan nasional — narasumber dalam forum replikasi, tuan rumah kunjungan studi banding dari desa-desa lain, dan kontributor modul praktik terbaik pengelolaan perpustakaan desa berbasis komunitas yang dapat didokumentasikan dan disebarluaskan ke seluruh Indonesia melalui jaringan Perpustakaan Nasional RI dan Kementerian Desa. [5]
Daftar Pustaka
[1] Tirta Buana Media, “Gerbang Ilmu Kolai, Dari Kolong Rumah Menjadi Perpustakaan Desa Berskala Nasional,” 3 Feb. 2021. [Online]. Available: https://tirtabuanamedia.co.id/gerbang-ilmu-kolai-dari-kolong-rumah-menjadi-perpustakaan-desa-berskala-nasional/
[2] Matakita.co, “Komitmen Memajukan Perpustakaan, Perpusdes Kolai Terima Kunjungan Tim Penilai Tingkat Nasional,” 6 Agu. 2018. [Online]. Available: https://matakita.co/2018/08/06/komitmen-memajukan-perpustakaan-perpusdes-kolai-terima-kunjungan-tim-penilai-tingkat-nasional/
[3] Jurnal Cibangsa, “Pemberdayaan Perpustakaan Desa sebagai Pusat Literasi Bahasa Masyarakat,” Jurnal Triwikrama, vol. 3, no. 2, Jun. 2025. [Online]. Available: https://cibangsa.com/index.php/triwikrama/article/view/1789
[4] Makassar Tribun News, “Hore, Desa Kolai Enrekang Kini Punya Perpustakaan,” 3 Mei 2018. [Online]. Available: https://makassar.tribunnews.com/2018/05/03/hore-desa-kolai-enrekang-kini-punya-perpustakaan
[5] ANTARA Bali, “PerpuSeru: Transformasi Perpustakaan Berkelanjutan Mendorong Literasi,” 11 Jul. 2018. [Online]. Available: https://bali.antaranews.com/berita/129823/perpuseru-transformasi-perpustakaan-berkelanjutan-mendorong-literasi
[6] PerpuSeru Enrekang, “Perpusdes Kolai,” Blog PerpuSeru Enrekang. [Online]. Available: https://perpuseruenrekang.wordpress.com/tag/perpusdes-kolai/
[7] PerpuSeru Enrekang, “Perpusdes Kolai Benahi Ruang Baca,” 27 Apr. 2018. [Online]. Available: https://perpuseruenrekang.wordpress.com/2018/04/27/perpusdes-kolai-benahi-ruang-baca/
[8] Makassar Tribun News, “Muslimin Bando Sambut Tim Penilai Perpustakaan Desa di Enrekang,” 6 Agu. 2018. [Online]. Available: https://makassar.tribunnews.com/2018/08/06/muslimin-bando-sambut-tim-penilai-perpustakaan-desa-di-enrekang
[9] OPAC UIN Alauddin Makassar, “Peran Perpustakaan Desa Gerbang Ilmu Kolai dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Desa Kolai Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang,” Skripsi Jurusan Ilmu Perpustakaan. [Online]. Available: https://opac.fah.uin-alauddin.ac.id/index.php?p=show_detail&id=9540
[10] Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kab. Grobogan, “Literasi untuk Kesejahteraan: Strategi Pengembangan Perpustakaan Desa,” 5 Des. 2019. [Online]. Available: https://dinarpusda.grobogan.go.id/index.php/perpustakaan/pengembangan-perpustakaan/71-literasi-untuk-kesejahteraan-strategi-pengembangan-perpustakaan-desa
[11] SindoNews, “Perpustakaan Desa Kolai Enrekang Masuk 5 Besar Tingkat Provinsi,” 28 Mei 2018. [Online]. Available: https://daerah.sindonews.com/artikel/makassar/9565/perpustakaan-desa-kolai-enrekang-masuk-5-besar-tingkat-provinsi