Ringkasan Inovasi
BUMDes Jaya Nagari di Desa Gunungsari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah merintis Kampung Edukatif — sebuah pusat pelatihan vokasi berbasis kearifan lokal yang mengemas keahlian para petani dan pengrajin lereng Gunung Slamet menjadi kurikulum pembelajaran luar ruang yang sekaligus menjadi paket wisata edukasi. Program andalan yang ditawarkan meliputi pelatihan pengolahan kopi, pandai besi, ternak ayam, tata bahasa Jawa, dan ilmu komunikasi penyiaran melalui studio radio Persada FM yang menjadi laboratorium komunikasi warga. [1]
Tujuan utama inovasi ini adalah menghentikan arus kepergian pemuda desa ke kota dengan cara menciptakan wadah pengembangan diri yang berakar pada potensi lokal yang mereka miliki sendiri. Dampak utamanya terlihat pada meningkatnya kepercayaan diri pemuda desa sebagai instruktur dan pemandu wisata, terbukanya lapangan kerja baru tanpa harus meninggalkan kampung halaman, serta bertumbuhnya pendapatan asli desa dari sektor wisata edukasi yang dikelola secara mandiri dan berkelanjutan. [2]
Latar Belakang
Desa Gunungsari terletak di lereng Gunung Slamet — gunung berapi tertinggi di Jawa Tengah — dalam kawasan yang secara alamiah kaya dengan perkebunan kopi rakyat dan tradisi kerajinan pandai besi yang sudah diwariskan lintas generasi. Namun kekayaan ini terancam punah bukan karena kurangnya bahan baku, melainkan karena tidak adanya sistem yang menjembatani antara keahlian para tetua yang tersimpan di kepala dengan semangat belajar generasi muda yang belum memiliki akses ke wadah pengembangan diri yang relevan dan mudah dijangkau. [1]
Akibat kesenjangan transfer pengetahuan itu, pemuda Desa Gunungsari memilih pergi ke kota besar karena merasa tidak ada yang bisa dipelajari dan dikembangkan di desa sendiri. Arus urbanisasi ini menguras modal manusia terbaik desa tepat pada saat desa membutuhkan energi dan kreativitas anak mudanya untuk membangun fondasi ekonomi baru yang lebih kuat dan lebih beragam. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: makin banyak pemuda pergi, makin sedikit yang bisa mewarisi keahlian para sesepuh, dan makin lemah posisi desa dalam menghadapi tekanan ekonomi dari luar. [2]
Di sisi lain, Desa Gunungsari sesungguhnya memiliki aset yang kebanyakan desa lain tidak punya: studio siaran radio Persada FM di Dukuh Krajan — sebuah infrastruktur komunikasi yang jarang dimiliki oleh desa di tingkat kecamatan. Aset ini belum pernah difungsikan secara optimal sebagai alat promosi potensi desa, apalagi sebagai laboratorium komunikasi untuk membentuk instruktur yang percaya diri. BUMDes Jaya Nagari membaca keberadaan Persada FM, keahlian para petani dan pandai besi, serta kebutuhan menahan laju urbanisasi sebagai tiga elemen yang bisa disatukan menjadi satu ekosistem pembelajaran inovatif yang belum pernah ada sebelumnya di kawasan lereng Gunung Slamet. [1]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi Kampung Edukatif bekerja dengan cara mengubah aktivitas harian petani dan pengrajin lokal menjadi kurikulum pembelajaran luar ruang yang bernilai komersial, sehingga desa secara bersamaan berfungsi sebagai tempat tinggal, pusat produksi, dan ruang kelas terbuka. BUMDes Jaya Nagari bertindak sebagai manajer profesional yang mengatur seluruh paket pelatihan, menjadwalkan kunjungan, mengatur pembagian peran instruktur, dan memastikan kualitas layanan terjaga dari satu rombongan ke rombongan berikutnya. Sistem ini menempatkan warga desa bukan sebagai objek wisata yang diamati dari jauh, melainkan sebagai instruktur ahli yang ilmunya dihormati dan dibayar oleh para tamu. [1]
Lima program pelatihan utama yang menjadi tulang punggung Kampung Edukatif adalah pengolahan kopi, pandai besi, beternak ayam, tata bahasa Jawa, dan ilmu komunikasi penyiaran radio. Masing-masing program memiliki instruktur dari kalangan warga desa sendiri yang dipilih berdasarkan keahlian nyata yang mereka kembangkan selama puluhan tahun di ladang atau bengkel. Studio radio Persada FM berperan ganda: sebagai laboratorium komunikasi tempat pemuda berlatih berbicara di depan publik, dan sebagai corong promosi yang menyebarkan informasi kegiatan Kampung Edukatif ke seluruh wilayah Kabupaten Pemalang setiap minggunya. [2]
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai dari pemetaan mendalam terhadap seluruh aset desa melalui dialog intensif dengan tokoh masyarakat, petani, pengrajin, dan pemuda. Dari pemetaan itu teridentifikasi bahwa kekayaan pengetahuan praktis ada di tangan para tetua, tetapi mereka tidak terbiasa menyampaikannya di depan orang banyak — sebuah hambatan kultural yang jika tidak diatasi akan menggagalkan seluruh konsep Kampung Edukatif sebelum satu peserta pun datang berkunjung. [2]
Eksperimen awal melalui kelas rintisan bagi pelajar sekolah terdekat memperlihatkan masalah ini secara nyata: para petani yang menguasai seluruh proses pengolahan kopi dari kebun hingga cangkir tidak mampu menyampaikan ilmunya secara menarik kepada anak-anak yang antusias. Kegagalan komunikasi ini memicu lahirnya kolaborasi yang tidak terduga namun sangat jenius: para penyiar radio Persada FM diundang untuk melatih para petani dan pengrajin dalam hal teknik berbicara di depan publik, menyusun alur cerita pelatihan, dan membuat materi yang mudah dipahami oleh berbagai usia. Proses pelatihan internal lintas profesi ini mengubah petani yang pendiam menjadi instruktur yang ekspresif dan percaya diri — sebuah transformasi karakter yang menjadi fondasi kualitas Kampung Edukatif hingga hari ini. [1]
Setelah kapasitas instruktur terbentuk, BUMDes Jaya Nagari terus memperbaiki kurikulum secara berkala berdasarkan umpan balik langsung dari peserta di setiap akhir sesi. Iterasi berkelanjutan ini menghasilkan keseimbangan yang tepat antara teori dan praktik lapangan — peserta tidak hanya mendengar ceramah tentang kopi, tetapi memilih biji, menyangrai, menggiling, dan menyeduh sendiri di bawah bimbingan petani yang mengenal setiap tanaman di kebunnya. Filosofi pembelajaran berbasis pengalaman langsung inilah yang kini menjadi nilai jual paling khas dan paling sulit ditiru oleh destinasi wisata edukasi lain di kawasan Jawa Tengah. [2]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu pertama adalah keunggulan infrastruktur komunikasi berupa studio radio Persada FM yang tidak dimiliki oleh kebanyakan desa setingkat di Kabupaten Pemalang. Persada FM berfungsi sebagai dua alat sekaligus: laboratorium yang melatih kemampuan bicara para instruktur tani, dan media promosi yang menjangkau ribuan pendengar di seluruh kabupaten tanpa biaya iklan. Kombinasi fungsi pelatihan dan promosi dalam satu aset ini adalah keunggulan kompetitif yang secara tidak sengaja menjadi tulang punggung keberhasilan Kampung Edukatif sejak hari pertama beroperasi. [1]
Faktor kedua adalah kepemimpinan BUMDes Jaya Nagari yang berhasil membangun kepercayaan antara petani, pengrajin, dan pemuda melalui transparansi pengelolaan yang konsisten sejak awal. Ketika warga percaya bahwa pendapatan dari paket wisata dibagi secara adil dan setiap instruktur mendapat penghargaan yang setara, semangat gotong royong lereng Gunung Slamet yang sudah mengakar kuat dalam budaya masyarakat setempat berubah menjadi modal sosial yang menjaga kualitas layanan tanpa harus diawasi oleh manajemen setiap saat. Kepercayaan komunitas yang dibangun dari transparansi ini adalah aset yang tidak bisa dibeli dengan anggaran program sebesara pun. [2]
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling terukur dari Kampung Edukatif adalah berhasilnya Desa Gunungsari menempatkan diri sebagai pusat rujukan pendidikan informal di Kabupaten Pemalang yang menerima kunjungan rutin dari institusi pendidikan, komunitas, dan rombongan wisata keluarga. Produk kopi olahan lokal yang sebelumnya hanya dijual dalam bentuk biji mentah kini memiliki pasar baru yang lebih luas karena peserta pelatihan pulang membawa cerita, membeli produk, dan merekomendasikan desa kepada jaringan mereka — sebuah rantai pemasaran organik yang jauh lebih efektif dan lebih murah dibanding kampanye iklan berbayar mana pun. [1]
Dari sisi sumber daya manusia, inovasi ini berhasil menciptakan profesi baru di desa yang sebelumnya tidak ada: pemandu wisata edukasi dan instruktur teknis vokasional yang bekerja penuh waktu di kampung sendiri. Pemuda yang sebelumnya berencana merantau kini memiliki alasan konkret untuk tinggal karena terbukti ada penghasilan yang layak dan karir yang bisa berkembang dari mengelola dan mengembangkan paket-paket baru Kampung Edukatif. Perubahan pilihan hidup ini adalah dampak sosial yang paling sulit dikuantifikasi tetapi paling bermakna bagi keberlanjutan desa dalam jangka panjang. [2]
Dampak tidak langsung yang sama pentingnya adalah terselamatkannya kearifan lokal dan keahlian tradisional dari ancaman kepunahan melalui proses dokumentasi aktif yang dilakukan oleh studio Persada FM. Setiap sesi pelatihan yang disiarkan atau direkam oleh radio desa menjadi arsip pengetahuan yang dapat diakses kembali kapan pun — sebuah perpustakaan hidup yang menyimpan bagaimana cara pengrajin pandai besi mengolah besi, bagaimana petani kopi membaca tanda-tanda alam untuk menentukan waktu panen, dan bagaimana sesepuh desa menyusun tata bahasa Jawa yang mulai dilupakan generasi muda. [1]
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar yang dihadapi pada awal penerapan adalah hambatan psikologis para instruktur tani yang terbiasa bekerja dalam kesunyian ladang dan bengkel, bukan di depan audiens yang mengamati setiap langkah mereka. Petani yang menguasai seluruh proses pengolahan kopi selama puluhan tahun bisa kehilangan kata-kata ketika harus menjelaskan proses yang sama kepada sekelompok pelajar yang antusias — sebuah kesenjangan antara kepemilikan keahlian dan kemampuan mentransfernya yang jika dibiarkan akan menjadi tembok penghalang terbesar antara potensi desa dan pasar wisata edukasi. [2]
Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi kualitas layanan ketika volume kunjungan meningkat dan jumlah instruktur yang perlu dikoordinasikan bertambah. BUMDes Jaya Nagari harus membangun sistem standar operasional yang cukup terstruktur untuk menjaga kualitas, tetapi cukup fleksibel untuk mempertahankan keautentikan interaksi antara instruktur warga dan peserta — karena jika layanan terlalu terstandarisasi, pengalaman belajar langsung dari warga lokal yang menjadi daya tarik utama Kampung Edukatif bisa berubah menjadi pertunjukan yang terasa artifisial dan kehilangan jiwa aslinya. [1]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Kampung Edukatif dibangun di atas dua pilar yang saling menopang: kemandirian finansial melalui reinvestasi sebagian laba BUMDes untuk pembiayaan pelatihan lanjutan instruktur muda, dan kemandirian konten melalui sistem kaderisasi yang memastikan bahwa setiap instruktur berpengalaman memiliki murid yang siap mengambil alih ketika generasi senior tidak lagi aktif. Pola manajemen mandiri ini secara sengaja dirancang agar Kampung Edukatif tidak bergantung pada siklus program bantuan pemerintah yang datang dan pergi — karena setiap destinasi wisata desa yang keberlangsungannya bergantung pada dana hibah eksternal pada dasarnya adalah destinasi yang menunggu kepunahan. [2]
Studio radio Persada FM juga menjadi tulang punggung strategi keberlanjutan konten karena setiap sesi pelatihan yang direkam menjadi arsip digital yang dapat diakses kembali dan diperbarui secara berkala. BUMDes secara rutin memperbarui materi pembelajaran agar selaras dengan tren minat generasi muda dan kebutuhan pasar wisata edukasi yang terus berubah — menambahkan modul baru seperti fotografi alam pegunungan atau pengolahan hasil hutan nonkayu ketika ada peluang baru yang teridentifikasi dari umpan balik peserta. [1]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Kampung Edukatif Desa Gunungsari berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs PBB 2030. Dengan menyinergikan pelestarian kearifan lokal, pendidikan vokasi informal, pemberdayaan pemuda, dan pengembangan wisata berbasis komunitas ke dalam satu ekosistem desa yang terintegrasi, inovasi ini menyentuh dimensi pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, pengurangan kesenjangan, dan pelestarian budaya secara bersamaan.
| No SDGs | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Kampung Edukatif menciptakan sumber penghasilan baru bagi petani, pengrajin pandai besi, dan pemuda desa sebagai instruktur dan pemandu wisata yang tidak bergantung pada siklus panen atau harga komoditas. Rantai nilai produk kopi yang diperpanjang dari kebun hingga pengalaman wisata menghasilkan pendapatan yang jauh lebih besar dibanding menjual biji kopi mentah kepada pengepul. |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas | Kampung Edukatif menghadirkan pendidikan informal berbasis pengalaman langsung yang mencakup keterampilan vokasional pertanian, kerajinan, komunikasi, dan bahasa daerah — jenis pendidikan yang tidak tersedia di sekolah formal tetapi sangat relevan untuk kehidupan dan penghidupan di perdesaan. Radio Persada FM sebagai laboratorium komunikasi memperluas akses pembelajaran ini melampaui batas fisik desa. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Inovasi ini secara langsung menekan angka pengangguran dan urbanisasi pemuda dengan menciptakan profesi baru sebagai pemandu wisata edukasi dan instruktur vokasi yang dapat ditekuni secara penuh waktu di desa sendiri. Pertumbuhan sektor wisata edukasi yang dikelola BUMDes menghasilkan pendapatan asli desa yang dapat diputar untuk membiayai layanan sosial dan pembangunan infrastruktur. |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | Kampung Edukatif mengurangi kesenjangan akses terhadap pendidikan vokasi antara warga desa terpencil di lereng Gunung Slamet dengan warga perkotaan yang lebih mudah menjangkau balai latihan kerja formal. Dengan menjadikan petani dan pengrajin sebagai instruktur yang dihormati dan dibayar, inovasi ini juga mengurangi kesenjangan status sosial antara profesi pertanian dan profesi sektor jasa. |
| SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan | Dengan memberikan alasan ekonomi yang kuat bagi pemuda untuk tetap tinggal di desa, Kampung Edukatif berkontribusi pada pembangunan komunitas perdesaan yang lebih seimbang, mengurangi tekanan urbanisasi yang berlebihan, dan menjaga keberlanjutan komunitas lokal yang menyimpan kearifan tradisional. Arsip pengetahuan lokal melalui radio Persada FM memastikan warisan budaya lereng Gunung Slamet tidak ikut pergi bersama warga yang merantau. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Keistimewaan model Kampung Edukatif untuk direplikasi adalah bahwa prasyaratnya bukan teknologi mahal atau infrastruktur besar, melainkan tiga hal yang dimiliki oleh ratusan desa di Indonesia: keahlian tradisional yang tersimpan di tangan warga, semangat gotong royong yang membuat mereka bersedia berbagi, dan satu orang pengelola yang cukup jeli untuk mengemas keahlian itu menjadi produk layanan yang bisa dibeli oleh pengunjung luar. Studio radio adalah aset yang mempercepat, bukan prasyarat — desa yang tidak punya radio pun bisa menggantikannya dengan podcast desa, channel YouTube komunitas, atau akun media sosial yang dikelola secara aktif. [2]
Untuk scale up di tingkat kawasan, BUMDes Jaya Nagari sudah membuka pintu bagi desa-desa tetangga di lereng Gunung Slamet untuk melakukan studi banding dan mendapatkan modul standar operasional Kampung Edukatif. Jika beberapa desa di kawasan Kecamatan Pulosari mengembangkan spesialisasi masing-masing — satu desa fokus pada kopi, desa lain pada pandai besi, desa berikutnya pada tenun atau batik lokal — jaringan Kampung Edukatif antardesa dapat dikemas menjadi paket wisata edukasi kawasan Gunung Slamet yang menawarkan itinerari multi-hari dengan pengalaman belajar yang lebih beragam dan lebih menarik bagi rombongan sekolah, perguruan tinggi, maupun wisatawan internasional yang mencari authentic village learning experience. [1]
Daftar Pustaka
[1] Tim Redaksi Gemari, “Desa Gunungsari Kembangkan Kampung Edukatif di Pemalang,” gemari.id, 28 Agust. 2020. [Online]. Available: https://gemari.id/gemari/2020/8/29/7t7q8l6a9cswjpy80f5kvn4ye9az74
[2] Inovasi Desa, “ID 00658: BUMDes Jaya Nagari Membangun Kampung Edukatif Guna Tingkatkan Keterampilan Pemuda dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Wisata Desa Gunungsari,” inovasi.web.id. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/bumdes-jaya-nagari-membangun-kampung-edukatif-guna-tingkatkan-keterampilan-pemuda-dan-dorong-pertumbuhan-ekonomi-wisata-desa-gunungsari/
[3] Kementerian Pariwisata RI, “Desa Wisata Gunungsari,” Jadesta — Jaringan Desa Wisata. [Online]. Available: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/gunungsari
[4] Detik Jateng, “14 Wisata di Sekitar Kaki Gunung Slamet,” detik.com, 15 Okt. 2023. [Online]. Available: https://www.detik.com/jateng/wisata/d-6984281/14-wisata-di-sekitar-kaki-gunung-slamet-ada-yang-gratis-adem-dan-seru
[5] Instagram Inovasi Desa, “Gemini berkata: Inovasi Kampung Edukatif BUMDes Jaya Nagari Desa Gunungsari,” 21 Feb. 2026. [Online]. Available: https://www.instagram.com/p/DVD98-NlNFG/
[6] S. Rahayu et al., “Strategi Pemberdayaan Potensi Masyarakat Melalui Edukasi Pengelolaan Kampung Wisata,” Jurnal Rinjani Universitas Tribhuwana Tunggadewi, 2022. [Online]. Available: https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/2186
[7] F. Zamzami dan I. Huda, “Akuntabilitas Keuangan BUMDes Melalui Sistem Informasi Keuangan,” Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, Okt. 2020. [Online]. Available: https://ugm.ac.id/id/berita/20211-sekolah-vokasi-ugm-luncurkan-sistem-informasi-keuangan-bumdes/
[8] A. Kumparan, “Taman Botani Baturaden: Destinasi Wisata Edukatif yang Mempesona di Lereng Gunung Slamet,” kumparan.com, 4 Agust. 2024. [Online]. Available: https://kumparan.com/fikri-faadhilah/taman-botani-baturaden-destinasi-wisata-edukatif-yang-mempesona-23EGCKeSUr3
terima kasih informasinya sangat bermanfaat
info nya menarik dan bermnfaat