Ringkasan Inovasi
Desa Tanjunganom, Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara, mengembangkan inovasi pencegahan stunting bernama GURIS — Gerakan Untuk Rakyat Indonesia Sehat — yang diinisiasi oleh Kader Posyandu Anggrek 2 bersama pemerintah desa sejak 16 Januari 2025. [1] Inovasi ini menggabungkan edukasi gizi, pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan pangan lokal, kunjungan rumah intensif, serta pemantauan tumbuh kembang balita secara terpadu, memanfaatkan potensi besar desa sebagai “Desa Seribu Kolam” penghasil ikan nila sebagai sumber protein hewani utama. [2]
Tujuan utamanya adalah menurunkan prevalensi stunting di tingkat komunitas melalui pendekatan promotif dan preventif berbasis pemberdayaan masyarakat, menempatkan kader posyandu sebagai agen perubahan perilaku gizi di level keluarga yang paling efektif. [1] Keberhasilan GURIS berkontribusi pada target nasional penurunan stunting menjadi 14% pada 2024, sekaligus menjadikan Desa Tanjunganom model desa yang mengintegrasikan potensi ekonomi perikanan lokal ke dalam solusi gizi komunitas secara cerdas dan berkelanjutan. [3]
| Nama Inovasi | : | GURIS — Gerakan Untuk Rakyat Indonesia Sehat (Inovasi Pencegahan Stunting Berbasis Pemberdayaan Masyarakat dan Pangan Lokal) |
| Alamat | : | Desa Tanjunganom, Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah (Kode Pos 53463) |
| Inovator | : | Kader Posyandu Anggrek 2 Desa Tanjunganom; Pemerintah Desa Tanjunganom; didukung Puskesmas Rakit dan Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara |
| Kontak | : |
Website: tanjunganom-banjarnegara.desa.id Email: tanjunganomdesaku@gmail.com Telepon: 081327755862 |
Latar Belakang
Stunting masih menjadi tantangan serius di banyak desa di Kabupaten Banjarnegara, termasuk di Desa Tanjunganom yang memiliki populasi balita aktif yang dipantau secara rutin melalui Posyandu Anggrek 2. [1] Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi stunting di Indonesia masih berada di angka 21,6% — jauh dari target nasional 14% yang diamanatkan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. [6] Kondisi ini diperburuk oleh masih rendahnya pemahaman sebagian ibu hamil dan menyusui tentang ASI eksklusif, pola makan bergizi seimbang, dan stimulus tumbuh kembang anak yang tepat sejak usia dini. [1]
Sebelum GURIS hadir, penanganan stunting di tingkat desa berjalan secara parsial — kader posyandu, bidan desa, puskesmas, dan lintas sektor bergerak sendiri-sendiri tanpa mekanisme koordinasi yang terstruktur dan terpadu. [1] Akibatnya, intervensi yang dilakukan tidak menjangkau keluarga paling rentan secara konsisten, terutama keluarga yang jarang atau tidak pernah datang ke posyandu karena berbagai keterbatasan akses, waktu, dan motivasi. Kajian akademik tentang strategi desa dalam penanggulangan stunting mengonfirmasi bahwa ketiadaan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang terkoordinasi di tingkat desa menjadi hambatan sistemik yang menghalangi efektivitas intervensi gizi di level komunitas. [7]
Desa Tanjunganom sesungguhnya menyimpan potensi besar untuk mengatasi masalah gizi ini dari dalam komunitas itu sendiri. [2] Desa ini dikenal sebagai “Desa Seribu Kolam” dengan 400 rumah tangga perikanan yang pada 2024 memproduksi lebih dari 230 juta ekor benih ikan nila — sebuah sumber protein hewani berlimpah yang mudah diakses warga dan dapat menjadi komponen utama PMT bergizi bagi balita yang berisiko stunting. Kunjungan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Dr. Tb Haeru Rahayu, pada Juli 2025 yang membawa bantuan 2.000 ekor calon induk nila unggul bagi lima kelompok pembudidaya semakin menegaskan posisi Tanjunganom sebagai simpul ketahanan pangan berbasis protein hewani yang strategis di Banjarnegara. [4]
Inovasi yang Diterapkan
GURIS lahir dari kepedulian mendalam para kader Posyandu Anggrek 2 yang setiap bulan menyaksikan angka stunting di wilayah binaan mereka belum turun secara signifikan meski posyandu rutin berjalan. [1] Inovasi ini diresmikan pada 16 Januari 2025 sebagai gerakan komunitas yang menempatkan kader posyandu bukan lagi sebagai operator administrasi kesehatan semata, melainkan sebagai agen perubahan perilaku gizi yang hadir langsung ke pintu keluarga-keluarga paling rentan. Semangat founding idea GURIS selaras dengan arah kebijakan nasional yang mendorong transformasi posyandu menjadi Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) yang berperan aktif sebagai garda terdepan layanan kesehatan dasar masyarakat desa. [6]
GURIS bekerja melalui lima jalur intervensi yang saling memperkuat: koordinasi aktif dengan puskesmas dan lintas sektor untuk memastikan penanganan multidimensi; penyuluhan stunting dan ASI eksklusif bagi ibu hamil dan menyusui; edukasi PMT berbahan pangan lokal termasuk ikan nila dari kolam warga; kunjungan rumah rutin untuk pemantauan tumbuh kembang balita; serta monitoring pola makan dan asupan gizi keluarga yang terdeteksi berisiko. [1] Integrasi sumber protein hewani lokal — ikan nila yang dibudidayakan sendiri oleh warga — ke dalam menu PMT adalah kunci inovatif yang menghilangkan hambatan ekonomi paling lazim dalam program gizi: biaya bahan makanan bergizi yang dianggap mahal oleh keluarga kurang mampu. [2]
Proses Penerapan Inovasi
Proses dimulai dengan membangun kesepahaman bersama antara kader posyandu, bidan desa, dan Puskesmas Rakit tentang pola intervensi terkoordinasi yang akan dijalankan secara sinergis dan saling melengkapi. [1] Koordinasi lintas sektor ini memastikan setiap kasus stunting mendapat penanganan komprehensif yang mencakup aspek kesehatan, pangan, sanitasi lingkungan, dan pola asuh — bukan hanya dari satu sudut pandang klinis semata. Mekanisme koordinasi ini menjawab kelemahan mendasar yang selama ini membuat intervensi stunting di tingkat desa berjalan tidak optimal karena masing-masing pihak bekerja dalam silo yang terpisah. [7]
Tahap selanjutnya adalah pemetaan menyeluruh seluruh balita di wilayah Posyandu Anggrek 2 untuk mengidentifikasi anak yang berisiko maupun yang sudah terdeteksi stunting berdasarkan data pengukuran tinggi dan berat badan yang dikumpulkan secara rutin. [1] Data hasil pemetaan ini menjadi acuan untuk menentukan prioritas kunjungan rumah dan intensitas pendampingan yang diberikan kepada setiap keluarga — keluarga dengan risiko stunting tinggi mendapat kunjungan lebih sering dan pendampingan yang lebih intensif. Pendekatan berbasis data ini memastikan sumber daya kader yang terbatas diarahkan kepada mereka yang paling membutuhkan, bukan tersebar merata tanpa prioritas. [6]
Pembelajaran terpenting dari proses implementasi adalah bahwa edukasi di posyandu saja tidak pernah cukup untuk menjangkau keluarga yang paling membutuhkan perubahan perilaku gizi. [1] Kunjungan rumah menjadi terobosan kunci: dengan hadir langsung ke keluarga, kader dapat memantau asupan harian balita secara nyata, mendampingi ibu dalam menyiapkan PMT dari bahan lokal yang tersedia di dapur atau kolam ikan tetangga, dan membangun kepercayaan personal yang memperkuat kepatuhan keluarga terhadap program secara jangka panjang. Metode kunjungan rumah yang digabungkan dengan edukasi pangan lokal ini selaras dengan rekomendasi penelitian terkini tentang intervensi stunting berbasis komunitas yang menekankan pentingnya pendekatan individual dan kontekstual. [7]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama keberhasilan GURIS adalah semangat dan komitmen tanpa pamrih para kader Posyandu Anggrek 2 yang bergerak secara sukarela dengan rasa memiliki yang tinggi terhadap program pencegahan stunting ini. [1] Mereka bukan sekadar pelaksana teknis yang mengikuti instruksi dari atas, melainkan agen perubahan sosial yang menjalin hubungan personal mendalam dengan setiap keluarga di wilayah binaannya — sebuah modal sosial yang tidak bisa digantikan oleh program manapun yang datang dari luar komunitas. Dukungan nyata pemerintah desa Tanjunganom yang mengintegrasikan GURIS ke dalam sistem layanan kesehatan desa memberikan legitimasi kelembagaan yang memperkuat posisi kader di hadapan warga. [2]
Faktor kedua yang sama kuatnya adalah ketersediaan sumber protein hewani lokal yang berlimpah dari ekosistem “Desa Seribu Kolam” — ikan nila yang dibudidayakan oleh 400 rumah tangga perikanan menjadi bahan dasar PMT yang mudah diakses, sangat terjangkau, dan bergizi tinggi. [2] Ketersediaan pangan bergizi lokal ini menghilangkan hambatan ekonomi yang paling sering dikutip sebagai alasan keluarga tidak mampu mencukupi kebutuhan protein anak balitanya secara rutin. Dengan bantuan 2.000 ekor calon induk nila unggul dari KKP pada Juli 2025, ekosistem perikanan lokal yang menjadi tulang punggung GURIS akan semakin kuat dan produktif untuk tahun-tahun mendatang. [4]
Hasil dan Dampak Inovasi
Setelah GURIS diterapkan, prevalensi stunting di wilayah Posyandu Anggrek 2 Desa Tanjunganom mengalami penurunan yang terukur — sebuah capaian yang bermakna mengingat program baru berjalan sejak Januari 2025 dan membutuhkan waktu beberapa siklus pemantauan untuk melihat dampak antropometrik yang signifikan. [1] Kunjungan posyandu menjadi lebih rutin karena kepercayaan keluarga terhadap kader meningkat secara organik melalui pendekatan kunjungan rumah yang personal dan tidak menghakimi. Ibu-ibu muda mulai lebih aktif bertanya tentang pola makan dan gizi balita, menandai pergeseran dari sikap pasif menunggu informasi menjadi aktif mencari pengetahuan gizi. [1]
Secara kualitatif, ibu hamil dan menyusui di Desa Tanjunganom menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang ASI eksklusif, MPASI tepat waktu di usia 6 bulan, dan pentingnya variasi sumber protein dalam menu harian balita. [1] Edukasi PMT berbahan pangan lokal mengubah persepsi mendasar warga bahwa makanan bergizi tidak harus identik dengan mahal — ikan nila dari kolam tetangga yang diolah menjadi nugget, bubur, atau pepes dapat menjadi sajian bergizi tinggi yang justru lebih segar dan lebih murah dari produk olahan pabrikan. Pergeseran persepsi ini adalah dampak kualitatif yang jauh lebih bernilai jangka panjang dibanding sekadar penurunan angka stunting pada satu periode pengukuran. [8]
Pada skala yang lebih luas, keberhasilan GURIS memperkuat posisi Desa Tanjunganom sebagai desa proaktif dalam mendukung aksi konvergensi stunting Kabupaten Banjarnegara yang sedang bersiap menggelar Intervensi Serentak Pencegahan Stunting 2026. [5] Pengakuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mengunjungi desa ini pada Juli 2025 dan memberikan bantuan 2.000 ekor calon induk nila unggul kepada lima kelompok pembudidaya memvalidasi pendekatan GURIS yang mengintegrasikan potensi perikanan lokal ke dalam solusi gizi komunitas secara sistemik. [4] Banjarnegara bahkan kini bersiap menjadi pemasok benih nila nasional dengan kapasitas produksi benih yang terus meningkat, yang secara tidak langsung memperkuat fondasi ketahanan pangan berbasis protein hewani lokal yang menjadi tulang punggung program GURIS. [9]
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar yang dihadapi GURIS adalah konsistensi kehadiran keluarga berisiko stunting dalam kegiatan posyandu dan sesi penyuluhan yang menjadi bagian inti program. [1] Sebagian keluarga — terutama yang orangtuanya bekerja penuh hari di sawah atau mengelola kolam ikan — sulit meluangkan waktu untuk hadir secara rutin dalam kegiatan yang waktunya ditetapkan secara terjadwal. Ketidakhadiran keluarga paling rentan inilah yang justru paling kritis untuk dicegah, karena mereka adalah sasaran utama program yang paling membutuhkan intervensi namun paling sulit dijangkau melalui mekanisme konvensional berbasis kunjungan ke posyandu. [7]
Kendala struktural yang menyertai adalah keterbatasan waktu dan tenaga kader posyandu yang menjalankan seluruh program GURIS secara sukarela di luar kesibukan rumah tangga mereka sendiri. [1] Beban kerja kunjungan rumah yang intensif — terutama saat jumlah balita stunting yang perlu dipantau cukup banyak dalam satu periode — memerlukan dukungan lebih besar dari pemerintah desa agar keberlanjutan program tidak semata-mata bertumpu pada semangat dan keikhlasan kader yang bisa fluktuatif. Penguatan kapasitas dan apresiasi terhadap kader posyandu melalui insentif yang memadai menjadi prasyarat penting yang tidak bisa diabaikan jika GURIS ingin berlari lebih jauh. [6]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan GURIS dijamin melalui integrasi program ke dalam Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), sebuah pendekatan transformasi posyandu yang sedang didorong oleh Kementerian Kesehatan RI secara nasional untuk memperkuat peran posyandu sebagai pusat layanan kesehatan dasar yang komprehensif di level desa. [1] Dengan integrasi ini, GURIS tidak lagi berdiri sebagai program ad hoc yang rentan terhenti jika momentum awal memudar, melainkan menjadi bagian dari sistem layanan kesehatan rutin desa yang terlembaga secara formal dengan anggaran, jadwal, dan mekanisme evaluasi yang terstruktur. Pelembagaan ini adalah kunci transisi dari inovasi berbasis inisiatif kader menjadi sistem yang berkelanjutan melampaui masa jabatan individu. [6]
Pemerintah Desa Tanjunganom juga berkomitmen memperkuat ketahanan pangan berbasis perikanan lokal sebagai pilar gizi jangka panjang, terutama setelah ditetapkan sebagai Kampung Perikanan Budidaya oleh KKP dengan potensi produksi benih nila yang terus berkembang. [4] Sinergi antara ekosistem budidaya ikan nila yang semakin produktif dan program gizi komunitas GURIS menciptakan fondasi ekonomi dan sosial yang kokoh dan saling mengokohkan — semakin banyak ikan nila yang dihasilkan, semakin murah dan mudah diakses bahan PMT bergizi oleh keluarga-keluarga yang berpartisipasi dalam GURIS. Rapat Koordinasi Persiapan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting 2026 yang telah dilaksanakan Bappeda Banjarnegara pada April 2026 semakin memperkuat komitmen sistemik daerah dalam mendukung keberlanjutan program seperti GURIS di seluruh desa. [5]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi GURIS Desa Tanjunganom merupakan contoh nyata implementasi SDGs di level komunitas desa yang menghubungkan intervensi gizi berbasis pangan lokal dengan pemberdayaan perempuan, ketahanan pangan, dan penguatan kelembagaan kesehatan primer. [3] Program ini membuktikan bahwa solusi untuk masalah pembangunan yang kompleks seperti stunting dapat lahir dari kearifan komunitas lokal yang mengoptimalkan sumber daya yang sudah ada di sekitar mereka, tanpa harus menunggu intervensi teknologi atau anggaran besar dari luar desa. [1]
| No SDGs | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | GURIS mengurangi beban ekonomi keluarga miskin dalam memenuhi kebutuhan gizi balita dengan mengintegrasikan ikan nila — produk lokal yang mudah diakses dan terjangkau — sebagai sumber PMT utama, menghilangkan hambatan biaya yang selama ini membuat keluarga kurang mampu tidak mampu mencukupi protein hewani anak secara rutin. [2] |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Edukasi PMT berbahan ikan nila lokal dan pemantauan asupan gizi rutin oleh kader GURIS secara langsung memperkuat ketahanan gizi komunitas desa, mendukung agenda nasional penurunan prevalensi stunting dari 21,6% menuju target 14%, dan memastikan balita Tanjunganom mendapat asupan protein berkualitas dari sumber pangan lokal yang berkelanjutan. [6] |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | GURIS berkontribusi langsung pada penurunan prevalensi stunting di Posyandu Anggrek 2, meningkatkan kesadaran ibu hamil dan menyusui tentang ASI eksklusif dan MPASI bergizi, serta memperkuat kapasitas komunitas dalam mendeteksi dan menangani dini risiko gangguan tumbuh kembang balita sebelum menjadi stunting permanen. [1] |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | GURIS memberdayakan perempuan — khususnya kader posyandu dan ibu-ibu muda — sebagai agen utama perubahan perilaku gizi di komunitas desa, memberikan mereka peran strategis dan nyata dalam pengambilan keputusan kesehatan keluarga yang sebelumnya lebih banyak tunduk pada kebiasaan dan tradisi tanpa dukungan pengetahuan gizi yang memadai. [1] |
| SDGs 14: Ekosistem Lautan (Perairan Darat) | Pemanfaatan produk budidaya ikan nila lokal sebagai sumber PMT GURIS memberikan insentif ekonomi bagi warga untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perairan darat di Desa Tanjunganom, mendorong praktik budidaya ikan yang bertanggung jawab karena hasil panennya kini juga terhubung langsung dengan program gizi komunitas yang bermakna. [4] |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | GURIS membangun kemitraan efektif antara kader posyandu, pemerintah desa, Puskesmas Rakit, Dinas Kesehatan Banjarnegara, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, menciptakan model konvergensi lintas sektor di tingkat desa yang diakui sebagai pendekatan terbaik dalam percepatan penurunan stunting oleh kebijakan nasional. [5] |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model GURIS dapat direplikasi oleh desa-desa lain dengan menyesuaikan sumber pangan protein hewani lokal yang tersedia di masing-masing wilayah — tidak harus ikan nila, tetapi bisa telur ayam kampung, daging unggas, ikan sungai, atau hasil budidaya lokal lain yang mudah dijangkau oleh keluarga kurang mampu. [1] Kunci replikasinya bukan pada jenis bahan pangannya, melainkan pada pemberdayaan kader posyandu sebagai agen gizi komunitas aktif yang bergerak melalui kunjungan rumah — mengubah posyandu dari titik layanan statis menjadi jaringan pendampingan gizi yang dinamis dan menjangkau setiap keluarga di wilayah binaannya. [7]
Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara dapat memfasilitasi diseminasi model GURIS ke seluruh desa dengan prevalensi stunting tinggi melalui pelatihan kader terintegrasi, penyediaan panduan operasional sederhana, dan mekanisme monitoring bersama yang memanfaatkan sistem data stunting yang sudah ada. [5] Pada skala yang lebih besar, model integrasi GURIS-Posyandu ILP yang menghubungkan sumber pangan lokal dengan program gizi komunitas dapat menjadi template nasional yang didorong oleh Kementerian Kesehatan bagi ribuan desa dengan potensi pangan lokal yang belum dioptimalkan sebagai solusi stunting berbasis kearifan komunitas. Pengalaman Desa Tanjunganom membuktikan bahwa inovasi paling berdampak dalam penurunan stunting sering lahir bukan dari program besar berbiaya tinggi, melainkan dari kepedulian komunitas yang berani bertindak dengan sumber daya yang sudah ada di sekitar mereka. [8]
Daftar Pustaka
[1] Pemerintah Desa Tanjunganom, “Posyandu ILP Anggrek 2 Desa Tanjunganom — Inovasi GURIS,” tanjunganom-banjarnegara.desa.id, 16 Jan. 2025. [Online]. Available: https://www.tanjunganom-banjarnegara.desa.id/index.php/artikel/2025/1/17/posyandu-ilp-anggrek-2-desa-tanjunganom
[2] Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, “‘Desa Seribu Kolam’ Tanjunganom Banjarnegara, Terima Bantuan Ribuan Calon Indukan Nila Unggul,” jatengprov.go.id, 21 Jul. 2025. [Online]. Available: https://jatengprov.go.id/beritadaerah/desa-seribu-kolam-tanjunganom-banjarnegara-terima-bantuan-ribuan-calon-indukan-nila-unggul
[3] Instagram Katalog Inovasi Desa, “ID 00849: Desa Tanjunganom Terapkan GURIS Berbasis Pangan Lokal,” instagram.com, 8 Apr. 2026. [Online]. Available: https://www.instagram.com/p/DW6TgNJkhg9/
[4] Serayu News, “Banjarnegara Punya Desa Seribu Kolam! Dirjen KKP Datang, Ini Harapannya untuk Petani Ikan,” serayunews.com, 21 Jul. 2025. [Online]. Available: https://serayunews.com/banjarnegara-punya-desa-seribu-kolam-dirjen-kkp-datang-ini-harapannya-untuk-petani-ikan
[5] Bappeda Banjarnegara, “Rapat Koordinasi Persiapan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting Tahun 2026,” bapperida.banjarnegarakab.go.id, 21 Apr. 2026. [Online]. Available: https://bapperida.banjarnegarakab.go.id/rapat-koordinasi-persiapan-intervensi-serentak-pencegahan-stunting-tahun-2026/
[6] Kementerian Kesehatan RI, “Kebijakan dan Strategi Percepatan Penurunan Stunting,” lms-elearning.bkkbn.go.id. [Online]. Available: https://lms-elearning.bkkbn.go.id/pluginfile.php/18037/
[7] I. Fitriana et al., “Strategi Pemerintah Desa dalam Penanggulangan Stunting Melalui Program Percepatan Penurunan Stunting di Desa Larangan,” archive.umsida.ac.id. [Online]. Available: https://archive.umsida.ac.id/index.php/archive/preprint/download/7647/54774/60817
[8] Radar Banyumas, “Potensi Besar Perikanan Banjarnegara, KKP Kucurkan Bantuan Ribuan Induk Nila,” radarbanyumas.disway.id, 22 Jul. 2025. [Online]. Available: https://radarbanyumas.disway.id/banjarnegara/read/141074/potensi-besar-perikanan-banjarnegara-kkp-kucurkan-bantuan-ribuan-induk-nila
[9] Banyumas Ekspres, “KKP Serahkan Dua Ribu Induk Nila, Banjarnegara Siap Suplai Benih Nila Nasional,” banyumasekspres.id, 23 Jul. 2025. [Online]. Available: https://banyumasekspres.id/banjarnegara-siap-suplai-benih-nila-nasional/
[10] BKKBN / Kementerian Kesehatan RI, “Program Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting — Laporan Pemantauan Kinerja Anggaran,” dashboard.stunting.go.id, 2021. [Online]. Available: https://dashboard.stunting.go.id/