Ringkasan Inovasi
Papua Diving Academy adalah sekolah selam pertama di Papua yang didirikan dan dikelola sepenuhnya oleh putra-putri asli Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura — sebuah terobosan yang membuktikan bahwa pemuda kampung pesisir mampu menguasai keterampilan bertaraf internasional dan menjadi tuan rumah yang berdaulat atas kekayaan alam laut mereka sendiri. [1] Inovasi ini lahir dari transformasi panjang sembilan pemuda kampung yang memulai perjalanan dari pelatihan menyelam dasar pada 2006, berkembang menjadi organisasi Ombang Scuba Diving, lalu akhirnya mendirikan lembaga pendidikan selam berstandar internasional pada 2019 yang mampu mendidik siapapun hingga bersertifikat SSI (Scuba School International). Kampung Tablasupa yang memiliki 20 spot diving dan 50 spot snorkeling kini memiliki SDM lokal berkualifikasi internasional yang siap mengelola potensi wisata bahari itu secara profesional, mandiri, dan berkelanjutan. [5]
Tujuan utama inovasi ini melampaui sekadar bisnis pariwisata: Papua Diving Academy hadir sebagai instrumen kemandirian ekonomi kampung, pelestarian ekosistem laut Teluk Tanah Merah, dan pembangunan identitas pemuda Papua sebagai pelaku aktif — bukan sekadar penonton — dalam industri wisata bahari yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi. [3] Dampak utamanya mencakup pembukaan lapangan kerja bagi generasi muda kampung yang sebelumnya menganggur, pemberdayaan wisatawan melalui paket selam bersertifikasi internasional seharga Rp6,5 juta per orang dengan kursus tujuh hari, serta pengakuan resmi dari Bupati Jayapura yang menetapkan Kampung Tablasupa sebagai lokasi kejuaraan selam dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021. [1]
Latar Belakang
Kampung Tablasupa berdiri di atas laut — sebuah keunikan fisik yang menjadikan warganya hidup dalam pelukan laut sejak lahir, namun ironisnya tidak memiliki sarana untuk menjadikan kekayaan bahari itu sebagai sumber penghidupan yang bermartabat dan berkelanjutan. [6] Kawasan Teluk Tanah Merah di sekitar Tablasupa menyimpan keindahan bawah laut yang dapat dinikmati hingga kedalaman 30 meter, dengan keanekaragaman terumbu karang dan biota laut yang menjadikannya salah satu destinasi selam terbaik di Papua. Namun sebelum adanya Papua Diving Academy, potensi itu hanya bisa diakses oleh wisatawan yang membawa pemandu dari luar kampung — sebuah ketidakadilan ekonomi yang membiarkan kekayaan alam lokal dinikmati oleh pihak yang tidak memiliki hak ulayat atas tanah dan lautnya. [5]
Sejarah kelam juga pernah melukai laut Tablasupa. [7] Sebelum tahun 1980-an, aktivitas penangkapan ikan dengan bom merusak terumbu karang secara masif di kawasan Teluk Tanah Merah, menghancurkan ekosistem yang telah tumbuh selama ratusan tahun dan memaksa nelayan berlayar lebih jauh ke tengah laut karena hasil tangkapan di dekat kampung terus menurun. Trauma ekologis ini meninggalkan kesadaran kolektif yang kuat di masyarakat Tablasupa bahwa laut mereka perlu dijaga dan dikelola dengan bijaksana — sebuah nilai kearifan lokal yang kemudian menjadi fondasi spiritual Papua Diving Academy dalam menggabungkan kegiatan wisata dengan kampanye pelestarian lingkungan laut secara aktif. [7]
Di sisi ekonomi, pemuda Kampung Tablasupa menghadapi keterbatasan lapangan kerja yang parah di wilayah pesisir terpencil yang aksesnya satu jam dari Bandara Sentani dan belum terhubung dengan pusat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jayapura. [5] Mereka menyaksikan wisatawan asing dan domestik berdatangan mengagumi keindahan laut kampung mereka, tetapi uang yang dibawa wisatawan itu mengalir keluar kampung karena tidak ada SDM lokal yang memiliki keterampilan dan sertifikasi untuk menawarkan layanan wisata selam secara profesional. Kesenjangan antara potensi alam yang luar biasa dan kapasitas SDM lokal yang rendah inilah yang mendorong sembilan pemuda Tablasupa mengambil langkah berani mengikuti pelatihan selam pada 2006 — memulai perjalanan transformasi yang membutuhkan 13 tahun untuk berbuah menjadi Papua Diving Academy. [1]
Inovasi yang Diterapkan
Papua Diving Academy adalah inovasi kelembagaan berbasis komunitas yang menggabungkan tiga fungsi dalam satu lembaga: sekolah selam bersertifikat internasional, penyedia layanan wisata bahari profesional, dan organisasi pelestarian lingkungan laut aktif. [1] Inovasi ini lahir bukan dari desain kebijakan top-down, melainkan dari keinginan sembilan pemuda kampung yang melihat potensi besar di depan mata dan memutuskan untuk membekali diri dengan keterampilan yang diperlukan untuk mengolah potensi itu — sebuah proses bottom-up yang butuh waktu lebih dari satu dekade namun menghasilkan lembaga yang benar-benar berakar kuat dalam identitas dan kepemilikan komunitas lokal. Dikelola oleh 16 orang pengurus yang semuanya merupakan warga Tablasupa bersertifikasi SSI (Scuba School International) dari Singapura, Papua Diving Academy menawarkan kursus selam berdurasi tujuh hari hingga peserta lulus dan memperoleh sertifikasi internasional seharga Rp6,5 juta per orang. [4]
Secara operasional, Papua Diving Academy bekerja melalui empat lini layanan yang saling menopang. [1] Pertama, layanan diving guide bagi wisatawan yang datang menjelajahi 20 spot diving dan 50 spot snorkeling dengan tarif Rp350.000 per rombongan untuk panduan ke spot-spot terbaik. Kedua, program kursus selam bersertifikat yang mengubah wisatawan pemula menjadi penyelam tersertifikasi dalam tujuh hari. Ketiga, penyediaan layanan sewa peralatan selam lengkap seharga Rp500.000 per hari bagi wisatawan yang tidak membawa perlengkapan sendiri. Keempat, program edukasi lingkungan laut bagi sekolah-sekolah dengan modul khusus yang memperkenalkan dunia bawah laut kepada generasi muda Papua sejak dini — menginvestasikan nilai konservasi ke dalam pikiran anak-anak yang kelak akan menjadi penjaga laut Tablasupa berikutnya. [7]
Proses Penerapan Inovasi
Perjalanan Papua Diving Academy dimulai pada 2006 ketika Dinas Pariwisata Provinsi Papua menyelenggarakan pelatihan menyelam yang diikuti sembilan pemuda Tablasupa. [1] Dari pelatihan itu mereka mengantongi sertifikasi Open Water — tingkat dasar dalam hierarki sertifikasi selam internasional — yang membuka mata mereka akan potensi besar yang tersembunyi di bawah permukaan laut kampung mereka sendiri. Dengan modal sertifikasi dasar dan semangat yang menggebu, sembilan pemuda ini segera membentuk organisasi Ombang Scuba Diving sebagai wadah kolektif untuk menawarkan layanan pemandu selam kepada wisatawan yang mulai berdatangan ke Tablasupa. [4]
Tahap peningkatan kapasitas berlangsung dalam tiga gelombang. [1] Pada 2008, 2012, dan 2014, Dinas Pariwisata Kabupaten Jayapura secara konsisten mengirimkan delegasi Ombang Scuba Diving ke kursus selam di Taman Nasional Bunaken, Minahasa, Sulawesi Utara — memilihnya sebagai lokasi kursus karena keunggulan standar pengajarannya dan kemiripan kondisi lautnya dengan Teluk Tanah Merah. Dari tiga gelombang pengiriman ini, tujuh delegasi berhasil meraih sertifikasi SSI (Scuba School International) yang diakui secara internasional, memberikan Ombang Scuba Diving fondasi SDM bersertifikasi yang cukup untuk mendirikan lembaga pendidikan selam yang kredibel. Proses selama delapan tahun ini — dari Open Water 2006 hingga SSI penuh 2014 — bukan tanpa hambatan: biaya kursus yang tidak murah, jarak tempuh Tablasupa–Bunaken yang sangat jauh, dan keterbatasan dukungan finansial membuat setiap pengiriman delegasi adalah perjuangan tersendiri. [1]
Pada 2019, setelah lima tahun konsolidasi dan pengembangan sistem operasional, Ombang Scuba Diving resmi meluncurkan Papua Diving Academy yang diresmikan langsung oleh Bupati Kabupaten Jayapura, Mathius Awoitauw. [1] Untuk mempercepat peningkatan kemampuan komunikasi internasional para instruktur dalam melayani wisatawan mancanegara, Papua Diving Academy menggandeng Papua Language Institute (PLI) sebagai mitra pengembangan bahasa dan komunikasi lintas budaya. Lembaga juga menerbitkan brosur trilingual paket snorkeling dan diving yang didistribusikan ke sekolah-sekolah sebagai medium promosi sekaligus sarana edukasi wisata bahari bagi siswa yang ingin mengakses layanan kegiatan ekstra kurikuler berbasis alam laut. [1]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor paling menentukan dalam keberhasilan Papua Diving Academy adalah konsistensi dukungan pemerintah daerah yang tidak bersifat transaksional melainkan transformatif: Dinas Pariwisata Provinsi dan Kabupaten Jayapura hadir bukan hanya pada momen peresmian, tetapi secara aktif memfasilitasi pengiriman delegasi ke Bunaken selama tiga periode berturut-turut hingga SDM lokal benar-benar mencapai standar internasional yang dibutuhkan. [1] Bupati Mathius Awoitauw memainkan peran kunci tidak hanya dengan meresmikan lembaga secara simbolis, tetapi juga dengan menjamin kontrak kepercayaan paling konkret yang bisa diberikan pemerintah kepada komunitas lokal: janji penetapan Tablasupa sebagai lokasi kejuaraan selam PON XX — sebuah keputusan yang mengangkat Tablasupa dari destinasi wisata lokal menjadi arena kompetisi olahraga berskala nasional. [1]
Faktor kedua adalah keunggulan alam Tablasupa yang menjadi daya tarik intrinsik tak tertandingi. [3] Dengan 20 spot diving dan 50 spot snorkeling yang tersebar di perairan Teluk Tanah Merah, ditambah tiga titik pengamatan burung Cenderawasih di darat, Tablasupa menawarkan paket wisata alam yang sangat lengkap dan unik — perpaduan yang sulit ditemukan di destinasi lain mana pun di Indonesia. Keistimewaan Tablasupa sebagai kampung yang secara harfiah berdiri di atas laut menambah dimensi wisata budaya yang membuat pengunjung bukan hanya datang untuk menyelam, tetapi juga untuk menyaksikan cara hidup komunitas adat Suku Tepera yang telah hidup berdampingan dengan laut selama berabad-abad. [6]
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak ekonomi paling langsung dari Papua Diving Academy adalah pembukaan lapangan kerja bermartabat bagi 16 pemuda Tablasupa yang sebelumnya tidak memiliki akses ke pekerjaan formal di wilayah pesisir terpencil yang minim industri. [1] Mereka kini berpenghasilan dari kombinasi tiga sumber yang saling melengkapi: jasa pemandu selam Rp350.000 per rombongan, sewa peralatan Rp500.000 per hari, dan pendapatan dari kursus sertifikasi Rp6,5 juta per peserta — sebuah portofolio pendapatan yang sangat beragam dan tidak bergantung pada satu jenis layanan saja. Dibandingkan pendapatan nelayan tradisional yang sangat bergantung pada musim dan kondisi laut, model pendapatan ini jauh lebih stabil dan dapat diprediksi, terutama karena wisatawan datang ke Tablasupa sepanjang tahun untuk menikmati kondisi bawah laut yang relatif konsisten. [4]
Dampak sosial yang sama pentingnya adalah transformasi persepsi diri pemuda kampung — dari posisi “penonton” menjadi “tuan rumah yang berdaulat” atas kekayaan alam kampung mereka. [1] Keberhasilan mendirikan lembaga yang diakui pemerintah daerah, bermitra dengan instansi internasional, dan mampu mengeluarkan sertifikat yang diakui secara global membuktikan kepada seluruh komunitas Tablasupa bahwa pemuda kampung bisa bersaing dan unggul tanpa harus meninggalkan kampung halaman. Pengakuan Bupati Jayapura yang mengutip Isak Samuel Kijne — tokoh pendidikan Papua yang berpesan agar “Papua bangkit mengurus dirinya sendiri” — memberikan legitimasi budaya yang kuat pada semangat kemandirian yang menjadi jiwa dari Papua Diving Academy. [1]
Dari perspektif ekologi, Papua Diving Academy berkontribusi pada pemulihan dan pelestarian ekosistem laut Teluk Tanah Merah yang sebelumnya terdampak aktivitas penangkapan ikan destruktif. [7] Dengan menjadikan laut yang sehat sebagai aset bisnis utama mereka, para instruktur Papua Diving Academy memiliki insentif ekonomi yang sangat kuat untuk aktif menjaga kualitas terumbu karang — sebuah sinergi langka antara kepentingan bisnis dan kepentingan konservasi yang saling memperkuat bukan saling mengorbankan. Program edukasi lingkungan laut bagi sekolah-sekolah lokal yang menggunakan modul khusus tentang dunia bawah laut menanam benih kesadaran konservasi ke dalam generasi penerus yang akan menjadi penjaga laut Tablasupa untuk puluhan tahun ke depan. [7]
Tantangan dan Kendala
Tantangan struktural terbesar yang dihadapi Papua Diving Academy adalah keterbatasan infrastruktur akses yang membatasi volume kunjungan wisatawan secara signifikan. [8] Untuk mencapai Kampung Tablasupa, wisatawan harus menempuh perjalanan satu jam dari Bandara Sentani melalui jalan pegunungan Cyclops, kemudian menyeberang menggunakan speedboat dengan tarif Rp250.000 (8 orang) dari Pantai Amai atau Rp450.000 per perahu dari jalur Sentani–Depapre. Biaya dan waktu perjalanan yang cukup besar ini menyaring jumlah wisatawan yang bersedia datang, sehingga kapasitas kunjungan aktual jauh di bawah potensi yang sebenarnya bisa diraih jika infrastruktur akses diperbaiki. [4]
Tantangan kedua adalah ketergantungan pada dukungan pemerintah daerah yang bisa berubah seiring pergantian kepemimpinan dan prioritas anggaran. [1] Pemerintah Kampung Tablasupa mengakui bahwa dukungan anggaran yang bisa mereka berikan kepada Papua Diving Academy masih sangat terbatas, sehingga keberlanjutan operasional lembaga sangat bergantung pada pendapatan dari wisatawan dan kemitraan dengan Dinas Pariwisata Kabupaten dan Provinsi. Ketergantungan ini menciptakan kerentanan finansial yang perlu diatasi dengan membangun arus pendapatan yang lebih mandiri dan tidak tergantung pada siklus anggaran pemerintah yang seringkali tidak bisa diprediksi. [8]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan Papua Diving Academy berpusat pada penguatan ekosistem wisata terpadu Tablasupa yang mengintegrasikan seluruh potensi alam kampung — selam, pengamatan burung Cenderawasih, wisata pantai, dan wisata budaya kampung adat di atas laut — dalam satu paket pengalaman yang tidak bisa didapatkan di destinasi manapun di Indonesia. [6] Integrasi ini akan meningkatkan rata-rata lama tinggal wisatawan (length of stay) dan nilai pengeluaran per kunjungan, sehingga pendapatan Papua Diving Academy dan warga kampung meningkat tanpa harus menambah volume kunjungan yang bisa merusak ekosistem jika tidak dikelola dengan baik. Penetapan Tablasupa sebagai Kampung Wisata Konservasi oleh BBKSDA Papua memberikan landasan hukum yang kuat untuk pengelolaan wisata berbasis masyarakat yang terproteksi dari eksploitasi berlebihan. [3]
Pengembangan program sertifikasi yang lebih beragam — dari Open Water hingga tingkat instruktur — akan membuka sumber pendapatan baru sekaligus membangun pipeline SDM lokal yang berkelanjutan untuk generasi pengurus Papua Diving Academy berikutnya. [1] Kemitraan dengan Papua Language Institute perlu diperluas ke kemitraan dengan universitas di Papua dan lembaga internasional konservasi laut untuk membuka akses ke penelitian, pendanaan, dan jaringan wisatawan penyelam global yang sangat aktif dan berdaya beli tinggi. Visi jangka panjangnya adalah menjadikan Papua Diving Academy sebagai pusat keunggulan (center of excellence) wisata bahari Papua yang melatih instruktur dan pemandu dari kampung-kampung pesisir lain di seluruh Papua, menyebarkan model kemandirian berbasis potensi laut lokal ke seluruh penjuru Cenderawasih. [1]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Papua Diving Academy berkontribusi secara langsung dan terukur pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dirinci dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Papua Diving Academy menciptakan lapangan kerja bermartabat bagi 16 pemuda Tablasupa yang sebelumnya tidak memiliki akses ke pekerjaan formal di wilayah pesisir terpencil. Kombinasi pendapatan dari pemanduan selam, sewa peralatan, dan kursus sertifikasi memberikan penghasilan yang jauh lebih stabil dan lebih besar dibandingkan mata pencaharian nelayan tradisional yang rentan terhadap musim. [4] |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas | Papua Diving Academy menyediakan jalur pendidikan vokasi berstandar internasional bagi pemuda kampung yang tidak tercover oleh sistem pendidikan formal, menghasilkan instruktur selam bersertifikat SSI Singapura yang diakui secara global. Program modul edukasi lingkungan laut bagi siswa sekolah mengintegrasikan kearifan lokal tentang ekosistem laut ke dalam kurikulum muatan lokal yang kontekstual dan bermakna. [7] |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pengelolaan 20 spot diving dan 50 spot snorkeling oleh SDM lokal bersertifikasi internasional menciptakan ekosistem pariwisata bahari yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi kampung berbasis aset alam yang sudah ada. Model ini membuktikan bahwa pemuda Papua mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas dari potensi lokal tanpa bergantung pada investasi dari luar kampung. [1] |
| SDGs 14: Ekosistem Lautan | Papua Diving Academy secara aktif menjalankan kampanye pelestarian lingkungan laut sebagai bagian dari program operasionalnya, menjadikan konservasi ekosistem laut Teluk Tanah Merah sebagai kepentingan bisnis yang langsung terhubung dengan keberlanjutan pendapatan para pengelola. Penetapan Tablasupa sebagai Kampung Wisata Konservasi oleh BBKSDA Papua memperkuat kerangka perlindungan ekosistem laut dan terumbu karang yang menjadi modal utama seluruh aktivitas wisata di kawasan ini. [3] |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Tujuan | Papua Diving Academy membangun ekosistem kemitraan multi-lapis yang efektif: Dinas Pariwisata Kabupaten dan Provinsi Papua, Papua Language Institute, BBKSDA Papua, SSI Singapura, dan pemerintah kampung. Model kolaborasi lintas sektor dan lintas batas negara (SSI Singapura) ini membuktikan bahwa komunitas adat terpencil pun mampu membangun jaringan kemitraan internasional jika ada modal sosial dan keterampilan yang memadai. [1] |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Papua Diving Academy menawarkan blueprint replikasi yang sangat relevan bagi ratusan kampung pesisir di Papua, Maluku, Nusa Tenggara, dan Sulawesi yang menyimpan potensi wisata bahari luar biasa namun belum memiliki SDM lokal yang terlatih dan tersertifikasi untuk mengelolanya secara profesional. [2] Formula replikasinya terdiri dari tiga langkah yang telah terbukti bekerja di Tablasupa: pertama, identifikasi pemuda kampung yang memiliki hubungan kuat dengan laut sebagai kandidat pelatihan; kedua, investasikan dalam sertifikasi internasional mereka melalui kolaborasi pemerintah daerah, bukan melalui mekanisme pasar; ketiga, berikan pengakuan resmi dan dukungan promosi agar produk wisata mereka bisa bersaing di pasar yang lebih luas. Penelitian tentang pariwisata berbasis komunitas di kawasan pesisir Indonesia secara konsisten menunjukkan bahwa model seperti Papua Diving Academy — di mana komunitas lokal memiliki kendali penuh atas aset wisata mereka — menghasilkan distribusi manfaat ekonomi yang jauh lebih merata dibandingkan model investasi dari luar. [9]
Strategi scale up yang paling strategis adalah mengembangkan Papua Diving Academy menjadi lembaga pelatihan induk yang mendidik instruktur dari kampung-kampung pesisir lain di Kabupaten Jayapura dan Papua, menggunakan model yang sama dengan yang dilakukan Bunaken kepada Tablasupa dulu. [1] Kemitraan dengan operator wisata nasional dan internasional melalui platform pemesanan wisata digital akan membuka akses ke segmen pasar wisatawan penyelam global yang secara aktif mencari destinasi selam otentik di luar jalur konvensional Bali–Komodo–Bunaken. Kampung Tablasupa dengan keunikan fisiknya sebagai kampung di atas laut, keindahan bawah lautnya, burung Cenderawasih-nya, dan kini Papua Diving Academy sebagai instruktur lokalnya, memiliki semua elemen untuk menjadi destinasi wisata bahari premium Papua yang mampu bersaing di pasar wisata internasional dengan nilai jual yang tidak bisa direplikasi oleh destinasi manapun. [5]
Daftar Pustaka
[1] Inovasi Desa, “Papua Diving Academy,” inovasi.web.id, 2019. [Online]. Available: https://inovasi.web.id
[2] Mongabay Indonesia, “Saat Wisata Alam Dirancang di Tablasupa, Kampung Penyangga CA Cyclops,” mongabay.co.id, 24 Des. 2017. [Online]. Available: https://mongabay.co.id/2017/12/24/saat-wisata-alam-dirancang-di-tablasupa-kampung-penyangga-ca-cyclops/
[3] Ditjen KSDAE Kementerian LHK, “BBKSDA Papua Wadahi Kampung Tablasupa Menjadi Kampung Wisata Konservasi,” ksdae.menlhk.go.id, 2017. [Online]. Available: https://ksdae.menlhk.go.id/info/1813/bbksda-papua-wadahi-kampung-tablasupa-menjadi-kampung-wisata-konservasi.html
[4] Imaji Papua, “Berminat Menikmati Spot Selam Terbaik di Tablasupa, Ini Rute dan Harganya,” imajipapua.com, 16 Jul. 2019. [Online]. Available: https://imajipapua.com/2019/07/16/berminat-menikmati-spot-selam-terbaik-di-tablasupa-ini-rute-dan-harganya/
[5] Tribun Video, “Indahnya Kampung Tablasupa di Kabupaten Jayapura, Ada 20 Spot Diving dan 50 Spot Snorkeling,” YouTube, 26 Jul. 2022. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=D0yUjJaVI_M
[6] Malanesia News, “Mengintip Keunikan Kampung Wisata Tablasupa, Kabupaten Jayapura yang Berdiri di Atas Laut,” malanesia.news, 21 Jul. 2023. [Online]. Available: https://www.malanesia.news/mengintip-keunikan-kampung-wisata-tablasupa-kabupaten-jayapura-yang-berdiri-di-atas-laut/
[7] Yayasan Kehati, “Belajar Sambil Menyelam di Papua,” YouTube, 7 Okt. 2012. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=zMiF64sdLJM
[8] Java News Online, “Potensi Perikanan dan Pariwisata Distrik Depapre Butuh Perhatian,” javanewsonline.co.id, 3 Apr. 2023. [Online]. Available: https://javanewsonline.co.id/potensi-perikanan-dan-pariwisata-distrik-depaprebutuh-perhatian/
[9] Kemenparekraf, “Desa Wisata Tablasupa,” jadesta.kemenparekraf.go.id, 2022. [Online]. Available: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/tablasupa
[10] Tribun Papua, “Wisata Papua: Menikmati Alam Bawah Laut hingga Melihat Burung Cenderawasih di Kampung Tablasupa,” papua.tribunnews.com, 30 Nov. 2022. [Online]. Available: https://papua.tribunnews.com/2022/11/30/
Hai, saya ingin tahu apakah Anda memiliki whatsapp sehingga kami dapat berkomunikasi karena kami baru mengenal papua