Ringkasan Inovasi
Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, mengembangkan inovasi tata kelola kesehatan komunitas secara terpadu yang menggabungkan lima pilar program promotif-preventif: Bank Sampah Mandiri, Kawasan Bebas Asap Rokok (KABAR), Taman Gizi dan Toga Desa, Jumantik Mandiri, serta pengelolaan sampah terpadu melalui TPST Dewanata — semuanya berjalan sinergis dalam satu ekosistem desa yang sehat dan bersih. [1] Inisiasi utamanya adalah pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Dewanata pada Maret 2023 oleh Kepala Desa Slamet Boediono, yang merespons darurat sampah akibat tekanan kunjungan wisatawan yang mencapai 20 ton sampah per minggu di dataran tinggi Dieng yang bersejarah. [3]
Tujuan utamanya adalah membangun lingkungan desa yang bersih, sehat, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat kualitas hidup masyarakat di kawasan wisata dataran tinggi yang memiliki kerentanan ekologis tinggi. [1] Hasilnya nyata dan terukur: pada Maret 2025, Desa Dieng Kulon secara resmi meraih penghargaan Desa Sehat dalam ajang Lomba Desa dan Kecamatan Sehat Kabupaten Banjarnegara, sebuah pengakuan formal bahwa ekosistem kesehatan komunitas yang dibangun selama dua tahun ini berhasil mengubah desa wisata yang dulu berjibaku dengan sampah menjadi contoh nyata desa sehat yang inspiratif. [7]
| Nama Inovasi | : | |
| Alamat | : | D |
| Inovator | : | S/td> |
| Kontak | : |
Latar Belakang
Desa Dieng Kulon adalah destinasi wisata unggulan yang masuk dalam 50 Desa Wisata Terbaik Indonesia versi ADWI 2021 dan menjadi tuan rumah Dieng Culture Festival — event nasional bergengsi yang setiap tahun menarik puluhan ribu wisatawan dari seluruh penjuru Indonesia dan mancanegara ke kawasan dataran tinggi yang berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. [2] Namun popularitas ini datang dengan konsekuensi serius: produksi sampah desa mencapai 20 ton per minggu dan melonjak drastis saat musim liburan serta gelaran Dieng Culture Festival, menjadikan sampah sebagai masalah yang selama puluhan tahun menghantui kawasan wisata bersejarah ini. [3] Laporan Mongabay Indonesia mengabadikan bagaimana kemeriahan Dieng Culture Festival selalu menyisakan tumpukan sampah yang mencemari kawasan wisata, menimbulkan bau menyengat yang dikeluhkan wisatawan dan warga. [6]
Di sisi lain, belum ada sistem kesehatan komunitas yang terstruktur untuk menjawab kebutuhan promotif dan preventif warga secara berkelanjutan di luar penanganan sampah. [1] Kader kesehatan, PKK, karang taruna, dan tokoh masyarakat bergerak sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang solid, sehingga dampak program kesehatan tidak terasa secara menyeluruh di tingkat komunitas. Ketiadaan sistem yang terintegrasi ini membuat upaya meningkatkan standar kesehatan lingkungan menjadi terfragmentasi dan tidak mampu menghasilkan perubahan perilaku yang sistemik dan terukur. [1]
Tekanan ekologis yang dihadapi Dieng Kulon sebagai desa wisata aktif sesungguhnya mengandung peluang besar yang belum dimaksimalkan: jika masalah sampah dan kesehatan lingkungan dapat diatasi secara sistemis, desa ini memiliki semua prasyarat untuk menjadi model desa wisata berkelanjutan yang memberikan manfaat ekonomi dan ekologi sekaligus. [2] Kontribusi Desa Dieng Kulon terhadap Pendapatan Asli Daerah Banjarnegara dari sektor pariwisata yang mencapai Rp20 miliar pada 2023 membuktikan bahwa investasi dalam kebersihan dan kesehatan lingkungan adalah investasi wisata yang paling menguntungkan secara jangka panjang. [2]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi lahir dari keresahan mendalam Kepala Desa Slamet Boediono yang menyaksikan penumpukan sampah tak terkelola menghantui kawasan wisata bersejarah ini selama bertahun-tahun tanpa solusi sistemik yang nyata. [3] Pada Maret 2023, ia menginisiasi pendirian TPST Dewanata di lahan milik Perhutani seluas 500 meter persegi sebagai fondasi pengelolaan lingkungan sehat yang sistematis, dilengkapi mesin pemilah sampah, mesin pencacah, alat press, dan fasilitas konversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. [3] TPST Dewanata bekerja dengan prinsip ekonomi sirkular: sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang langsung dimanfaatkan petani lokal, sampah non-organik dipilah dan dijual, sedangkan sampah plastik dikonversi menjadi bahan bakar — seluruh pendapatan operasionalnya digunakan untuk membiayai kelangsungan fasilitas ini tanpa bergantung pada subsidi anggaran desa. [4]
Di level komunitas, inovasi diperluas menjadi ekosistem kesehatan terpadu yang mencakup empat pilar pelengkap: Bank Sampah Mandiri yang mengubah sampah anorganik warga menjadi nilai ekonomi melalui mekanisme tabungan sampah; KABAR (Kawasan Bebas Asap Rokok) yang menciptakan ruang publik dan fasilitas kesehatan bebas asap rokok; Taman Gizi dan Toga Desa yang menyediakan tanaman obat keluarga serta ruang edukasi gizi bagi balita dan ibu hamil; serta program Jumantik Mandiri yang menempatkan juru pemantau jentik terlatih di setiap rumah warga untuk memutus rantai penyebaran penyakit berbasis vektor nyamuk. [1] Kelima pilar ini tidak berdiri sendiri-sendiri melainkan beroperasi sebagai sistem yang saling mengunci — lingkungan bersih dari pengelolaan sampah menjadi prasyarat keberhasilan program kesehatan komunitas lainnya, dan sebaliknya, komunitas yang sadar kesehatan akan lebih konsisten menjaga kebersihan lingkungannya sendiri. [2]
Proses Penerapan Inovasi
Proses dimulai dengan pembangunan fisik TPST Dewanata pada awal 2023 yang didukung penuh oleh jejaring mitra strategis yang dirangkai oleh pemerintah desa melalui lobi-lobi kelembagaan yang intensif. [3] Perhutani menyediakan lahan dan membiayai pembangunan hanggar serta pengadaan tabung pupuk organik cair, sementara PT Geodipa Energi berkontribusi pada pengadaan mesin pengolah dan infrastruktur operasional TPST. Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Purwokerto menyumbangkan alat pemilah, alat press, alat pencacah, dan kendaraan operasional L300 sebagai bagian dari program Bank Indonesia mendorong pariwisata hijau di Dataran Tinggi Dieng. [5]
Pada tahap selanjutnya, pemerintah desa menggalang keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat — kader kesehatan, ibu-ibu PKK, pemuda karang taruna, dan tokoh masyarakat — untuk bersama-sama menjalankan empat program kesehatan komunitas yang dikembangkan paralel dengan beroperasinya TPST. [1] Koordinasi lintas kelompok ini menjadi kunci agar setiap program berjalan serentak dan saling mendukung, bukan terfragmentasi tanpa dampak yang terasa di level warga paling bawah. Pupuk Indonesia turut berkontribusi dengan mengirimkan sekitar 400 relawan, menyediakan kendaraan roda tiga untuk distribusi, serta memberikan pupuk bagi petani desa — sebuah bukti bahwa TPST Dewanata juga berhasil menarik ekosistem dukungan yang lebih luas dari yang diantisipasi pada awalnya. [4]
Pembelajaran terpenting dari proses ini adalah bahwa kapasitas TPST sempat kewalahan menghadapi lonjakan sampah saat gelaran Dieng Culture Festival dan musim liburan panjang — kondisi yang memaksa manajemen untuk mengembangkan sistem perencanaan kapasitas yang adaptif terhadap siklus kunjungan wisata. [6] Pengalaman mengelola lonjakan sampah musiman ini mendorong pemerintah desa untuk mengintegrasikan manajemen sampah wisatawan ke dalam SOP operasional TPST, termasuk koordinasi aktif dengan panitia event besar agar sistem pemilahan sampah diterapkan sejak titik awal, bukan hanya setelah sampah terakumulasi. Iterasi dan adaptasi operasional yang terus-menerus inilah yang membuat TPST Dewanata semakin tangguh dan efisien dari tahun ke tahun sejak mulai beroperasi pada 2023. [3]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama adalah kolaborasi organik antara pemerintah desa, seluruh elemen komunitas, dan mitra eksternal yang bergerak dengan tujuan bersama yang didefinisikan dengan jelas sejak awal. [1] Kader kesehatan, PKK, karang taruna, dan tokoh masyarakat memainkan peran sebagai motor penggerak di tingkat komunitas — mereka bukan sekadar pelaksana instruksi dari atas, melainkan agen perubahan yang memiliki kebebasan dan kepercayaan untuk menggerakkan warga di sekitar mereka sesuai kondisi dan konteks lapangan yang selalu berubah. Kepemimpinan visioner Kepala Desa Slamet Boediono yang berani menginisiasi TPST Dewanata pada saat masalah sampah dianggap terlalu besar untuk diselesaikan di level desa menjadi titik penting yang menggerakkan seluruh ekosistem inovasi ini. [3]
Faktor kedua yang sama krusialnya adalah kemampuan pemerintah desa dalam membangun dan mengelola jejaring kemitraan multi-institusi yang komplementer. [5] Bank Indonesia, Perhutani, PT Geodipa, dan Pupuk Indonesia berkontribusi tidak dalam kapasitas yang tumpang tindih, melainkan secara terkoordinasi — masing-masing mengisi kekosongan kapasitas yang berbeda sehingga tidak ada pemborosan sumber daya. Pengelolaan TPST Dewanata oleh BUMDesa sebagai entitas bisnis yang mandiri secara finansial — bukan sebagai program seremonial yang bergantung penuh pada bantuan — memastikan inovasi ini memiliki fondasi keberlanjutan yang kuat dan tidak akan berhenti ketika bantuan eksternal berakhir. [4]
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling langsung dan terukur terasa pada transformasi pengelolaan lingkungan: TPST Dewanata kini mampu mengolah sampah desa secara sistematis, mengakhiri gunungan sampah yang selama puluhan tahun menghantui kawasan wisata Dieng dan dikeluhkan oleh wisatawan yang datang. [3] Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang langsung dimanfaatkan petani kentang dan sayuran lokal, sementara sampah plastik dikonversi menjadi bahan bakar alternatif — menciptakan nilai ekonomi sirkular bagi warga desa yang sebelumnya hanya melihat sampah sebagai masalah tanpa manfaat. Petugas TPST yang seluruhnya merupakan warga Desa Dieng Kulon mendapat upah dari hasil penjualan produk olahan sampah, membuktikan bahwa fasilitas ini benar-benar menjadi sumber mata pencaharian baru yang layak bagi komunitas. [3]
Dampak ekonomi pariwisata terbukti berkorelasi langsung dengan kebersihan lingkungan yang berhasil dijaga: kontribusi Desa Dieng Kulon terhadap PAD Banjarnegara dari sektor pariwisata mencapai Rp20 miliar pada 2023 — angka yang mencerminkan tingginya kepercayaan dan kepuasan wisatawan terhadap kualitas destinasi yang kini jauh lebih bersih dan nyaman. [2] Keberhasilan ini membuktikan tesis yang menjadi fondasi seluruh inovasi: lingkungan yang sehat adalah investasi pariwisata terbaik yang bisa dilakukan oleh desa wisata manapun. Bank Indonesia KPw Purwokerto mendokumentasikan TPST Dewanata sebagai model keberhasilan program pariwisata hijau di dataran tinggi yang layak disebarluaskan kepada daerah-daerah lain. [5]
Puncak dari seluruh kerja keras komunitas ini adalah penghargaan Desa Sehat dalam Lomba Desa dan Kecamatan Sehat Kabupaten Banjarnegara pada Maret 2025, yang mengantarkan Banjarnegara untuk pertama kalinya siap mengikuti Kabupaten Kota Sehat (KKS) nasional di tahun yang sama. [7] Bupati Banjarnegara Dr. Amalia Desiana memberikan apresiasi langsung dan menyatakan harapannya agar Dieng Kulon menjadi inspirasi bagi seluruh desa di Kabupaten Banjarnegara dalam mengembangkan potensi lokal berbasis kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Pengakuan bertingkat — dari level kabupaten hingga harapan nasional — memvalidasi bahwa model kesehatan komunitas terpadu yang dikembangkan Desa Dieng Kulon bukan hanya inovasi lokal, melainkan praktik baik yang relevan untuk konteks yang jauh lebih luas. [7]
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah besarnya volume sampah yang masuk dari luar desa — terutama dari wisatawan selama musim liburan dan Dieng Culture Festival — yang dalam periode puncak dapat jauh melampaui kapasitas normal TPST Dewanata. [6] Kapasitas pengolahan yang dirancang untuk kebutuhan harian rutin desa tidak selalu cukup untuk mengabsorpsi lonjakan sampah musiman yang datang secara tiba-tiba, sehingga diperlukan perencanaan kapasitas yang dinamis dan adaptif terhadap kalender event wisata. Tantangan ini juga mengungkap kebutuhan yang lebih besar akan koordinasi antara pengelola TPST, panitia event, dan pemerintah kabupaten dalam manajemen sampah event secara terpadu. [6]
Kendala lain yang tidak kalah berat adalah membangun dan mempertahankan konsistensi perilaku warga dalam memilah sampah dari sumbernya dan mematuhi kawasan bebas asap rokok yang ditetapkan program KABAR. [1] Perubahan kebiasaan sosial yang sudah berlangsung puluhan tahun tidak dapat dihasilkan oleh sosialisasi satu kali — ia membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, edukasi rutin yang dikemas secara kreatif, dan keteladanan nyata dari tokoh-tokoh yang dihormati di desa agar budaya hidup sehat benar-benar mengakar sebagai norma komunitas, bukan sekadar kewajiban yang dipatuhi karena ada program. Penelitian tentang manajemen sampah di kawasan wisata mengonfirmasi bahwa perubahan perilaku berbasis komunitas membutuhkan waktu rata-rata dua hingga tiga tahun untuk benar-benar terlembaga dan menjadi kebiasaan yang terjaga bahkan tanpa pengawasan eksternal. [8]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi bertumpu pada tiga pilar yang saling menopang: kemandirian finansial TPST Dewanata melalui model bisnis sirkular, integrasi program kesehatan komunitas ke dalam sistem layanan desa yang terlembaga, dan perencanaan partisipatif yang memastikan seluruh program menjadi agenda prioritas jangka panjang. [4] Model bisnis TPST yang menghasilkan pendapatan dari penjualan pupuk kompos, plastik daur ulang, dan bahan bakar hasil olahan memastikan operasional tidak bergantung semata pada Dana Desa atau kebaikan mitra — sebuah desain keberlanjutan yang dibangun sejak hari pertama TPST beroperasi. [3]
Pemerintah Desa Dieng Kulon juga menyusun Musrenbangdes 2026 dengan prioritas penguatan infrastruktur wisata berkelanjutan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk pengembangan produk lokal berbasis digital yang memanfaatkan reputasi Dieng Kulon sebagai desa wisata sehat bertaraf nasional. [1] Pendekatan perencanaan partisipatif ini memastikan bahwa seluruh program kesehatan dan lingkungan tidak berhenti ketika kepala desa berganti, melainkan menjadi bagian dari identitas dan visi desa yang dimiliki bersama oleh seluruh warga. Dengan posisinya sebagai Desa Sehat peraih penghargaan kabupaten yang kini berkontribusi pada nominasi KKS nasional, Desa Dieng Kulon memiliki insentif reputasional yang kuat untuk terus mempertahankan dan meningkatkan standar kesehatan komunitasnya. [7]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi kesehatan komunitas terpadu Desa Dieng Kulon merupakan salah satu contoh paling komprehensif implementasi SDGs di tingkat desa yang menghubungkan pengelolaan lingkungan, kesehatan komunitas, ekonomi pariwisata, dan tata kelola yang inklusif dalam satu sistem yang koheren dan saling memperkuat. [1] Model ini membuktikan bahwa tantangan kompleks seperti pengelolaan sampah destinasi wisata dan peningkatan kesehatan komunitas dapat diselesaikan secara bersamaan melalui inovasi yang dirancang dengan pendekatan sistem, bukan program-program terpisah yang berjalan dalam silo. [2]
| No SDGs | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | TPST Dewanata menciptakan lapangan kerja tetap bagi warga Desa Dieng Kulon sebagai petugas pengelola sampah yang mendapatkan upah dari hasil penjualan produk olahan, mengubah masalah lingkungan menjadi sumber pendapatan baru yang berkelanjutan bagi keluarga-keluarga yang sebelumnya tidak memiliki sumber penghasilan alternatif selain pertanian. [3] |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | Kombinasi KABAR, Jumantik Mandiri, Taman Gizi dan Toga Desa, serta Bank Sampah Mandiri menciptakan lingkungan dan perilaku hidup sehat yang komprehensif — mencakup pencegahan penyakit berbasis vektor, edukasi gizi balita dan ibu hamil, pengurangan paparan asap rokok di ruang publik, dan sanitasi lingkungan yang lebih baik melalui pengelolaan sampah yang sistemik. [1] |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pengelolaan TPST Dewanata oleh BUMDesa menghasilkan lapangan kerja layak bagi warga lokal, sementara lingkungan yang bersih dan sehat mendorong kunjungan wisatawan yang terus tumbuh — berkontribusi langsung pada PAD Banjarnegara sebesar Rp20 miliar pada 2023 dan membuktikan bahwa investasi lingkungan adalah katalis pertumbuhan ekonomi wisata yang paling efektif. [2] |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Model desa wisata sehat Dieng Kulon menjadikan kawasan dataran tinggi bersejarah ini sebagai permukiman berkelanjutan yang mengintegrasikan aktivitas pariwisata intensif dengan pemeliharaan kualitas lingkungan dan kesehatan komunitas — menunjukkan bahwa pariwisata dan keberlanjutan ekologis tidak harus saling bertentangan jika dikelola dengan sistem yang tepat. [2] |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab | TPST Dewanata mengimplementasikan prinsip ekonomi sirkular secara nyata di tingkat desa — sampah organik menjadi pupuk kompos, sampah plastik menjadi bahan bakar, dan sampah anorganik dijual kembali — menciptakan rantai nilai dari limbah yang sebelumnya hanya menjadi masalah lingkungan tanpa penyelesaian sistemik. [4] |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi komplementer antara pemerintah desa, Bank Indonesia KPw Purwokerto, Perhutani, PT Geodipa Energi, Pupuk Indonesia, dan komunitas warga dalam membangun dan mengelola TPST Dewanata adalah model kemitraan multipihak yang diakui Bank Indonesia sebagai praktik terbaik pariwisata hijau yang layak direplikasi di destinasi wisata lain di Indonesia. [5] |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model inovasi kesehatan komunitas terpadu Dieng Kulon dapat direplikasi oleh desa-desa wisata lain yang menghadapi tekanan lingkungan akibat tingginya kunjungan wisatawan, terutama destinasi yang belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang memadai dan program kesehatan komunitas yang terkoordinasi. [2] Kunci keberhasilan replikasinya terletak pada tiga hal yang harus disiapkan secara bersamaan: pembentukan unit pengelola sampah berbasis BUMDesa dengan model bisnis sirkular yang mandiri finansial, mobilisasi kader kesehatan lintas kelompok di bawah koordinasi pemerintah desa yang kuat, dan pembangunan jejaring kemitraan dengan BUMN serta sektor swasta sejak tahap desain — bukan setelah program berjalan. [4]
Untuk scale up, pengalaman Dieng Kulon sangat relevan bagi puluhan destinasi wisata alam di Jawa Tengah dan luar Jawa yang menghadapi masalah serupa namun belum memiliki keberanian dan model yang sudah terbukti untuk memulai. [2] Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara dan Provinsi Jawa Tengah dapat mendorong replikasi dengan menjadikan Dieng Kulon sebagai desa percontohan wajib kunjungan studi bagi kepala desa dari desa-desa wisata yang sedang dikembangkan, mempersingkat kurva pembelajaran bagi mereka yang ingin mengadopsi model yang sudah terbukti efektif ini. Dengan posisi Banjarnegara yang kini pertama kalinya siap mengikuti Kabupaten Kota Sehat nasional berkat kontribusi Dieng Kulon, model ini memiliki legitimasi kelembagaan yang kuat untuk dipromosikan sebagai standar nasional desa wisata sehat. [7]
Daftar Pustaka
[1] Pemerintah Desa Dieng Kulon, “Desa Dieng Kulon Raih Penghargaan Desa Sehat — Langkah Nyata Menuju Banjarnegara Sehat 2025,” dieng.desa.id, 31 Mar. 2025. [Online]. Available: https://www.dieng.desa.id/artikel/2025/03/31/desa-dieng-kulon-raih-penghargaan-desa-sehat-langkah-nyata-menuju-banjarnegara-sehat
[2] F. A. Aziz, “Penyumbang PAD Pariwisata Terbesar Kabupaten Banjarnegara: Desa Dieng Kulon,” Kompasiana, 21 Jul. 2024. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/farisiabdulaziz/669d1107c925c4593a21f002/
[3] Pemerintah Desa Dieng Kulon, “TPST Dewanata Desa Dieng Kulon Berhasil Atasi Persoalan Sampah,” dieng.desa.id, 25 Jul. 2023. [Online]. Available: https://www.dieng.desa.id/index.php/artikel/2023/7/25/tpst-dewanata-desa-dieng-kulon-berhasil-atasi-persoalan-sampah
[4] Bank Indonesia KPw Purwokerto, “TPST Dewananta Dieng: Solusi Pengelolaan Sampah yang Mengubah Masalah Menjadi Berkah,” YouTube BI Purwokerto, 2023. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=8gSLwloSSes
[5] iNews Purwokerto, “Wujudkan Sektor Pariwisata Hijau di Dataran Tinggi Dieng, BI Dorong Sampah Jadi Berkah,” purwokerto.inews.id, 4 Sep. 2023. [Online]. Available: https://purwokerto.inews.id/read/341843/wujudkan-sektor-pariwisata-hijau-di-dataran-tinggi-dieng-bi-dorong-sampah-jadi-berkah
[6] Mongabay Indonesia, “Setelah Gelaran Dieng Culture Festival, Sampahnya Bagaimana?” mongabay.co.id, 8 Agu. 2018. [Online]. Available: https://mongabay.co.id/2018/08/08/setelah-gelaran-dieng-culture-festival-sampahnya-bagaimana/
[7] Netral News, “Ini Juara Lomba Kecamatan dan Desa Sehat, Banjarnegara Siap Ikuti KKS,” netralnews.com, 15 Apr. 2025. [Online]. Available: https://www.netralnews.com/ini-juara-lomba-kecamatan-dan-desa-sehat-banjarnegara-siap-ikuti-kks/
[8] Detik News, “Puluhan Tahun Jadi Masalah, Gunungan Sampah di Dieng Kini Datangkan Berkah,” detik.com, 2023. [Online]. Available: https://www.detik.com/jateng/bisnis/d-6915334/puluhan-tahun-jadi-masalah-gunungan-sampah-di-dieng-kini-datangkan-berkah
[9] PT Geo Dipa Energi Unit Dieng (Instagram), “ID 00848: Desa Dieng Kulon Integrasikan Program Kesehatan Komunitas,” instagram.com, 14 Des. 2025. [Online]. Available: https://www.instagram.com/reel/DSUQ9nykx6v/