oleh Tim Inovasi Desa | 13 Sep 2026 | Produk Unggulan
Ringkasan Inovasi
BUMDes Renajaya di Desa Karangrena, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, sejak Februari 2020 membangun kemitraan dengan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) untuk mengubah limbah cangkang kerang totok (Thoe/Geloina sp.), yang selama ini terbuang di bantaran Sungai Serayu, menjadi dua produk bernilai ekonomi: kerajinan tangan khas pesisir dan bahan pakan ternak kaya kalsium [1]. Inovasi ini digagas Martin Tri Santoso, S.M., Direktur BUMDes Renajaya, untuk menjawab pencemaran dan bahaya fisik cangkang tajam di sungai sekaligus rendahnya nilai ekonomi yang diterima nelayan dari komoditas kerang [2]. Kolaborasi ini bertumpu pada tiga skema dukungan UMP: penelitian sesuai kearifan lokal, pengembangan teknologi tepat guna, dan pelatihan SDM pengurus BUMDes, sehingga masalah lingkungan desa menjadi titik awal penciptaan nilai ekonomi baru bagi warga [1].
Latar Belakang
Desa Karangrena adalah desa nelayan di tepi Sungai Serayu, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, dikenal sebagai salah satu sentra tangkap kerang totok (Geloina sp.) di Jawa Tengah. Kerang totok, atau Thoe dalam sebutan warga lokal, telah lama menjadi tumpuan penghidupan ratusan keluarga nelayan [2], [4].
Berat cangkang kerang totok mencapai sekitar lima kali berat isinya yang dapat dimakan, sehingga nelayan yang menghasilkan rata-rata 10 kg kerang per hari juga memproduksi sekitar 50 kg limbah cangkang setiap harinya. Dengan ratusan nelayan aktif di desa, total limbah cangkang yang dibuang ke bantaran Sungai Serayu setiap hari mencapai volume yang besar dan tidak terkelola [1].
Cangkang kerang totok yang terbuang di bantaran sungai bukan sekadar masalah estetika. Tepi cangkang yang tajam membahayakan warga yang beraktivitas di sungai, mulai dari anak-anak yang bermain hingga nelayan dan petani yang mengairi sawah, sementara penumpukan cangkang yang terus-menerus berpotensi memengaruhi kualitas air sungai [2]. Paradoks inilah yang ditangkap BUMDes Renajaya sebagai peluang: limbah yang melimpah dan menjadi masalah dapat diubah menjadi bahan baku produk bernilai jual jika dikelola dengan teknologi yang tepat.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi lahir dari inisiatif Martin Tri Santoso, S.M., Direktur BUMDes Renajaya sekaligus Ketua Paguyuban BUMDes se-Kecamatan Maos, yang merintis pertemuan formal dengan UMP pada 5 Februari 2020. Dalam pertemuan yang mempertemukan BUMDes dengan Wakil Rektor IV UMP Dr. H. Anwar Ma’ruf, S.T., M.T., kedua pihak sepakat cangkang kerang totok Thoe berpotensi diolah menjadi dua produk: kerajinan tangan khas pesisir Serayu dan bahan pakan ternak kaya kalsium [1].
Inovasi bekerja melalui dua jalur pengolahan yang terintegrasi dalam satu rantai nilai. Cangkang dengan kualitas estetika terbaik dipilah menjadi bahan baku kerajinan tangan, seperti hiasan dinding, aksesori, dan suvenir khas Karangrena. Cangkang yang tidak memenuhi syarat estetika dihancurkan dengan mesin hammer mill, difermentasi, dan diolah menjadi tepung atau pelet pakan ternak kaya kalsium karbonat (CaCO3), mineral penting bagi pertumbuhan unggas dan ternak ruminansia yang selama ini banyak dipenuhi dari pakan pabrikan [5], [6].
Proses Penerapan Inovasi
BUMDes Renajaya memulai proses dengan pemetaan dan inventarisasi volume limbah cangkang secara sistematis, menghitung volume limbah harian, titik pembuangan terbesar, dan kapasitas pengolahan yang dibutuhkan agar penanganan limbah efektif. Data lapangan ini menjadi fondasi menentukan skala dan model pengolahan yang sesuai kapasitas desa [2].
Setelah data terkumpul, BUMDes membangun kemitraan formal dengan UMP mencakup tiga komitmen: penelitian ilmiah tentang kandungan kimia cangkang kerang totok untuk memvalidasi potensinya sebagai pakan ternak, pengembangan teknologi tepat guna yang sesuai kapasitas desa, serta pelatihan SDM pengurus BUMDes agar mampu mengoperasikan proses produksi secara mandiri [1].
Pada tahap uji coba pengolahan pakan ternak, tim menghadapi tantangan teknis nyata: kekerasan material cangkang Geloina sp. yang mengandung rata-rata 94,90% abu dan 7,76% CaCO3 membutuhkan mesin dengan daya penghancur yang cukup besar, sehingga mesin sederhana yang awalnya dicoba tidak cukup efektif [5]. Tim kemudian merujuk pengalaman pengabdian masyarakat Universitas Swadaya Gunung Jati yang mengolah limbah cangkang kerang hijau menjadi pakan ternak di daerah lain, yang menunjukkan kombinasi mesin hammer mill dan mixer sebagai solusi yang dapat diadaptasi di skala desa, dan mengoreksi pilihan peralatan mereka berdasarkan temuan ini [6].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan terbesar pada fase awal adalah keterbatasan infrastruktur pengolahan di tingkat desa, terutama pengadaan mesin penghancur cangkang (hammer mill) yang membutuhkan investasi awal cukup besar namun menjadi syarat mutlak agar produksi pakan ternak berjalan pada skala ekonomis [6]. Kendala ini dimitigasi dengan merujuk rancangan teknologi tepat guna dari pengalaman perguruan tinggi lain yang telah terbukti bekerja pada skala serupa, alih-alih merancang mesin dari nol.
Kendala kedua berasal dari perilaku nelayan: tidak semua nelayan bersedia mengubah kebiasaan membuang cangkang sembarangan ke sungai sebelum ada sistem pengumpulan limbah yang memberi insentif langsung [2]. Kendala ini direncanakan dimitigasi melalui sistem bank limbah yang menukar setoran cangkang dengan poin atau uang tunai, sehingga nelayan merasakan manfaat ekonomi nyata dari perubahan kebiasaan tersebut, bukan hanya imbauan edukasi semata [1].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama adalah kepemimpinan proaktif Martin Tri Santoso yang membangun jaringan kelembagaan dengan perguruan tinggi, membuka akses pada kapasitas riset dan teknologi yang tidak dimiliki desa secara mandiri [1].
Faktor kedua adalah komitmen institusional UMP menempatkan kemitraan dengan BUMDes sebagai wujud pengabdian masyarakat, bukan proyek sampingan. Sinergi antara pengetahuan lokal nelayan tentang karakteristik kerang totok dan kapasitas ilmiah UMP dalam validasi kandungan kimia serta teknologi pengolahan menciptakan inovasi yang kokoh secara teknis sekaligus relevan secara sosial [2].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak lingkungan yang diharapkan adalah berkurangnya volume limbah cangkang kerang yang mencemari bantaran Sungai Serayu, seiring terbentuknya sistem pengumpulan dan pengolahan limbah yang lebih terorganisir [2]. Riset kandungan kimia cangkang kerang totok dari wilayah Cilacap turut mengonfirmasi konsentrasi mineral yang tinggi pada cangkang, yang jika terakumulasi tanpa pengelolaan berpotensi memengaruhi kualitas air sungai [5].
Secara ekonomi, nelayan Thoe memiliki peluang sumber pendapatan tambahan dari cangkang yang sebelumnya tidak bernilai. Produk kerajinan berbahan cangkang kerang totok memiliki nilai sebagai produk budaya pesisir Sungai Serayu yang khas, sementara pakan ternak berbahan tepung cangkang berpotensi menekan biaya produksi peternak lokal sebagai sumber kalsium alternatif dari pakan pabrikan [6].
Secara kelembagaan, kolaborasi BUMDes Renajaya dengan UMP memperkuat posisi BUMDes sebagai lembaga yang mampu menyelesaikan masalah nyata warga berbasis riset, bukan hanya pengelola aset desa [1], [2].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal untuk mesin hammer mill dan fasilitas pengolahan cangkang secara spesifik. Kemitraan dengan UMP mencakup dukungan riset, teknologi tepat guna, dan pelatihan SDM, sehingga sebagian kebutuhan pengembangan teknis tidak sepenuhnya dibiayai mandiri oleh BUMDes [1].
Model pendapatan direncanakan bertumpu pada dua lini: penjualan produk kerajinan cangkang kerang sebagai suvenir khas pesisir Serayu, dan penjualan tepung atau pelet pakan ternak kaya kalsium kepada peternak lokal sebagai substitusi pakan pabrikan yang lebih terjangkau [6]. Sistem bank limbah yang direncanakan turut menjadi mekanisme untuk memastikan pasokan bahan baku cangkang berjalan konsisten dari nelayan mitra.
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah melakukan pemetaan volume limbah secara sistematis sebelum menentukan skala dan teknologi pengolahan, sehingga investasi peralatan disesuaikan dengan kebutuhan nyata, bukan asumsi [2]. Merujuk pengalaman perguruan tinggi lain yang telah berhasil mengolah limbah cangkang sejenis, alih-alih merancang teknologi dari nol, juga terbukti mempercepat penyelesaian kendala teknis penghancuran cangkang yang keras [6].
Jika memulai dari awal, sistem insentif ekonomi bagi nelayan yang bersedia menyetorkan cangkang idealnya dirancang sejak tahap awal kemitraan, bukan sebagai respons setelah ditemukan resistensi perubahan kebiasaan. Desa pesisir lain yang menghadapi masalah limbah hasil laut serupa disarankan menggandeng perguruan tinggi terdekat untuk validasi ilmiah potensi limbah, memilih teknologi tepat guna yang sudah teruji di tempat lain, dan menyiapkan insentif ekonomi langsung bagi warga sejak perencanaan awal.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi bertumpu pada dua pilar: kemitraan riset jangka panjang dengan UMP yang memastikan kualitas produk terus ditingkatkan berdasarkan temuan ilmiah, dan sistem bank limbah desa yang menciptakan insentif ekonomi langsung bagi nelayan untuk menyetorkan cangkang secara rutin [1], [8].
Pengembangan pasar produk kerajinan melalui platform digital dan jaringan ekonomi kreatif menjadi agenda strategis agar pendapatan dari lini kerajinan dapat tumbuh berkelanjutan. Paguyuban BUMDes se-Kecamatan Maos yang diketuai Martin Tri Santoso berfungsi sebagai platform koordinasi agar inovasi ini tidak berhenti di satu desa [1].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi BUMDes Renajaya Karangrena berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Pengolahan limbah cangkang kerang totok berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru bagi nelayan Thoe yang sebelumnya membuang cangkang tanpa nilai. |
Ratusan nelayan aktif di Desa Karangrena menghasilkan sekitar 50 kg limbah cangkang per orang per hari. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan |
Tepung cangkang kerang totok kaya kalsium karbonat sebagai substitusi pakan ternak mendukung peternakan lokal yang lebih terjangkau. |
Cangkang kerang totok mengandung rata-rata 94,90% abu dan 7,76% CaCO3. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Pengembangan dua lini produk, kerajinan tangan dan pakan ternak, berpotensi membuka lapangan kerja baru di sektor pengolahan dan ekonomi kreatif desa. |
Dua jalur produk (kerajinan dan pakan ternak) dikembangkan dari satu sumber limbah yang sama. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab |
Inovasi ini menerapkan prinsip ekonomi sirkular: limbah dari aktivitas tangkap kerang menjadi bahan baku produk kerajinan dan pakan ternak. |
Cangkang yang tidak memenuhi syarat estetika kerajinan dialihkan menjadi bahan pakan ternak, tanpa sisa yang terbuang percuma. |
| SDGs 14: Ekosistem Lautan |
Sistem pengumpulan limbah cangkang menghentikan akumulasi cangkang tajam di bantaran Sungai Serayu yang berpotensi memengaruhi kualitas air dan biota akuatik. |
Volume limbah cangkang yang dibuang ke sungai diarahkan ke sistem pengumpulan dan pengolahan BUMDes. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan |
Kemitraan formal BUMDes Renajaya dengan UMP melalui tiga skema (riset, TTG, pelatihan SDM) menjadi model kolaborasi desa-perguruan tinggi. |
Pertemuan formal BUMDes-UMP terjadi pada 5 Februari 2020 dihadiri Wakil Rektor IV UMP. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model inovasi BUMDes Renajaya relevan direplikasi oleh desa nelayan lain di kawasan pesisir dan bantaran sungai Indonesia yang menghadapi masalah limbah hasil laut serupa. Kunci replikasinya adalah tiga langkah: identifikasi limbah lokal yang berlimpah dan belum terkelola, membangun kemitraan formal dengan perguruan tinggi terdekat yang memiliki program pengabdian masyarakat, dan mengembangkan teknologi pengolahan tepat guna yang disesuaikan kapasitas SDM dan anggaran desa [7], [8].
Paguyuban BUMDes se-Kecamatan Maos yang dipimpin Martin Tri Santoso menjadi wahana yang siap menjadi pusat penyebaran model ini ke BUMDes-BUMDes tetangga di Cilacap dan sekitarnya [1].
Daftar Pustaka
[1] BUMDes Renajaya Karangrena, “Tangani Masalah Kerang Totok Thoe, BUMDes Renajaya Menggandeng Universitas Muhammadiyah Purwokerto,” Kompasiana, 5 Mar. 2020. [Daring]. Tersedia: https://www.kompasiana.com/bumdesrenajaya2113.
[2] S. Khairunnisa, “BUMDes Renajaya Menggandeng Universitas Muhammadiyah Purwokerto,” Portal Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, inovasi.web.id, 9 Mar. 2020. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/tangani-masalah-kerang-totok-thoe.
[4] E. P. Wibisono, “Kerang Totok (Geloina sp.) di Kecamatan Maos Kabupaten Cilacap: Potensi dan Pengelolaannya,” Skripsi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, 2024. [Daring]. Tersedia: http://repository.unsoed.ac.id/29010.
[5] Tim Peneliti, “Analisis Kadar Unsur dan Senyawa Kimia Limbah Cangkang Kerang Totok (Geloina sp.) Hasil Tangkapan Nelayan Cilacap,” Academia.edu, 2016. [Daring]. Tersedia: https://www.academia.edu/23521315.
[6] Tim LPM-UGJ Cirebon, “Penerapan Teknologi Pengolahan Limbah Cangkang Kerang Hijau sebagai Pakan Ternak dan Ikan,” Ethos: Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Islam Bandung, vol. 9, no. 2, hal. 281-288, 2021. [Daring]. Tersedia: https://ejournal.unisba.ac.id/index.php/ethos.
[7] M. Maulani, “Teknologi Tepat Guna: Konsep dan Aplikasi,” Universitas Trisakti, 2022. [Daring]. Tersedia: https://repository.karyailmiah.trisakti.ac.id.
[8] Redaksi, “Mendorong Inovasi dalam Industri Kecil dan Kerajinan melalui Badan Usaha Milik Desa,” bumdes.id, 2025. [Daring]. Tersedia: https://bumdes.id/artikel/mendorong-inovasi.
oleh Tim Inovasi Desa | 13 Sep 2026 | Produk Unggulan
Ringkasan Inovasi
BUMNag Maju Bersama di Nagori Wonorejo, Kecamatan Pematang Bandar, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, sejak berdiri pada Juli 2017 menerapkan model bisnis berbasis modal sosial yang mengintegrasikan usaha pembibitan ikan nila warga ke dalam satu ekosistem produksi dan pemasaran yang terkelola kolektif [1]. BUMNag tidak membangun kolam sendiri, melainkan bertindak sebagai agregator dan fasilitator, menghubungkan petani ikan anggota dengan benih unggul, pakan, pasar pembeli, dan jaringan kelompok melalui tiga pilar modal sosial: jejaring, kepercayaan, dan kerja sama [2]. Pada 2019, tercatat 36 kepala keluarga bermitra aktif, mengelola kolam seluas sekitar 6 hektare, dan mampu menghasilkan sekitar 2 juta ekor bibit ikan nila per periode panen [1]. Inovasi ini mendapat apresiasi Pemerintah Kabupaten Simalungun berupa bantuan alat pembuat pakan ikan, dan menjadikan Nagori Wonorejo sebagai salah satu sentra pengadaan bibit nila yang diperhitungkan di kawasan Simalungun [1].
Latar Belakang
Nagori Wonorejo menyimpan potensi perikanan yang besar: sebagian besar warga mengusahakan pembibitan ikan nila di lahan sawah mereka, memanfaatkan ketersediaan air dan tradisi bercocok tanam yang sudah berakar [1]. Namun pada fase awal, usaha pembibitan ikan warga hampir seluruhnya dilakukan sendiri-sendiri, skala kecil, dan hanya sebagai usaha sambilan.
Tiga hambatan struktural menghadang kemajuan usaha perikanan warga secara bersamaan: lemahnya pengetahuan teknis budidaya ikan nila yang berkelanjutan sehingga produktivitas rendah dan tingkat kematian benih tinggi [3], skala usaha yang terlalu kecil untuk memenuhi permintaan pembeli besar sehingga posisi tawar warga lemah di hadapan pedagang pengumpul, dan keterbatasan akses permodalan serta pakan berkualitas [1].
Di tengah kondisi itu, Kabupaten Simalungun memiliki ekosistem perikanan budidaya yang mendukung, termasuk industri perikanan berbasis Danau Toba yang membutuhkan pasokan bibit nila dalam jumlah besar. PT Suri Tani Pemuka, anak usaha PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, tercatat menginvestasikan Rp350 miliar sejak 2012 hingga 2018 untuk budidaya ikan nila keramba jaring apung di Danau Toba, mempekerjakan sekitar 1.800 orang dan mengekspor sekitar 4.000 ton nila ke Eropa dan Amerika Serikat pada 2018 [4]. Skala industri inilah yang ditangkap BUMNag Maju Bersama sebagai peluang pasar, dengan mengorganisir kapasitas produksi warga yang sudah tersebar menjadi satu kekuatan kolektif.
Inovasi yang Diterapkan
BUMNag Maju Bersama menerapkan model bisnis agregasi produksi berbasis modal sosial, menempatkan kepercayaan, jaringan, dan kerja sama kolektif sebagai aset ekonomi yang setara pentingnya dengan modal finansial [2].
Secara operasional, BUMNag bekerja pada dua fungsi utama. Pertama, fungsi fasilitasi input: membantu anggota mendapatkan benih dan pakan dengan harga lebih terjangkau karena dibeli kolektif dalam volume besar [1]. Kedua, fungsi pemasaran output: memasarkan produksi bibit ikan seluruh anggota secara terpadu, sehingga volume produksi gabungan sekitar 2 juta ekor per periode mampu memenuhi pembelian dari petani ikan berbagai daerah, termasuk pembeli lintas kabupaten. BUMNag juga memberikan pendampingan teknis budidaya untuk memastikan kualitas bibit memenuhi standar pasar.
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan tidak dimulai dengan membangun infrastruktur fisik, melainkan infrastruktur sosial. Atas bimbingan TAPP dan TAPED dari program P3MD-PID Kabupaten Simalungun, BUMNag yang berdiri Juli 2017 mulai mengidentifikasi petani ikan potensial dan mengajak mereka bergabung dalam pola kemitraan berbasis kepercayaan [1]. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Nagori (PMPN) Kabupaten Simalungun berperan sebagai pembina pada fase awal ini.
Tahun 2018 menjadi titik pembenahan menyeluruh: memperbarui mekanisme pelayanan, memperjelas skema kemitraan, dan membangun sistem pemasaran kolektif yang terstruktur. Membangun kepercayaan awal di antara warga yang terbiasa bekerja sendiri-sendiri memerlukan pembuktian nyata bahwa bergabung dengan BUMNag menguntungkan secara ekonomi, bukan sekadar sosialisasi verbal [1].
Pada 2019, model kemitraan ini berhasil menghimpun 36 kepala keluarga sebagai mitra aktif, dan Pemerintah Kabupaten Simalungun memberikan bantuan alat pembuat pakan ikan sebagai apresiasi [1]. Beberapa tahun kemudian, kajian akademik pada 2023 menemukan bahwa pengurus BUMNag Maju Bersama masih menghadapi ketidakmampuan menyusun laporan keuangan sesuai standar akuntansi, akibat keterbatasan pengetahuan pengurus di bidang ini. Tim pendamping kemudian memberikan pendampingan bertahap, mulai dari edukasi tata kelola BUMNag hingga pendampingan langsung penjurnalan, buku besar, dan penyusunan laporan keuangan, hingga laporan yang dihasilkan dapat dipresentasikan di musyawarah nagori dan diserahkan ke pemerintah kabupaten [5].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan pertama adalah mempertahankan konsistensi kualitas bibit dari puluhan titik produksi yang tersebar di kolam-kolam anggota dengan kondisi air, metode pemeliharaan, dan tingkat kedisiplinan yang berbeda-beda [3]. Kendala ini dimitigasi melalui pendampingan teknis budidaya yang diberikan BUMNag kepada anggota agar bibit yang dihasilkan memenuhi standar pasar sebelum dipasarkan secara kolektif.
Tantangan kedua, yang terdokumentasi secara akademik pada 2023, adalah ketidakmampuan pengurus BUMNag menyusun laporan keuangan yang sesuai standar akuntansi karena keterbatasan pengetahuan dan kapasitas sumber daya manusia pengelola [5]. Kendala ini dimitigasi melalui program pendampingan bertahap dari akademisi, mencakup edukasi tata kelola BUMNag dan pelatihan langsung penyusunan laporan keuangan, hingga BUMNag mampu menghasilkan laporan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada warga dan pemerintah kabupaten.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah keotentikan modal sosial yang sudah hadir secara organik di Nagori Wonorejo sebelum BUMNag berdiri, seperti tradisi gotong royong dan saling kenal antarwarga, yang mempercepat proses membangun kepercayaan organisasi [2].
Faktor kedua adalah peran pendampingan profesional dari TAPP dan TAPED P3MD-PID yang memberikan kerangka metodologis untuk menerapkan konsep modal sosial secara operasional di lapangan, dan belakangan pendampingan akademik tambahan untuk memperbaiki tata kelola keuangan BUMNag [1], [5].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling terukur adalah transformasi skala produksi menjadi kekuatan produksi kolektif sekitar 2 juta ekor bibit ikan nila per periode, dihasilkan 36 kepala keluarga mitra yang mengelola kolam seluas 6 hektare secara terkoordinasi [1]. Kajian akademik atas usaha tani pembibitan nila di Wonorejo, berbasis 28 responden petani, mencatat pendapatan usaha pembibitan nila hormon rata-rata Rp76.782.003, secara signifikan lebih tinggi dibanding pembibitan nila lokal non-hormon yang rata-rata Rp58.141.902 [6].
Dampak sosial terlihat pada peningkatan pendapatan anggota mitra karena bibit nila kini memiliki jalur pemasaran yang pasti melalui BUMNag, serta tumbuhnya kemandirian usaha di kalangan anggota yang sebelumnya bergantung sepenuhnya pada pedagang pengumpul [1].
Dampak kelembagaan terlihat dari bantuan alat pembuat pakan ikan dari Pemerintah Kabupaten Simalungun sebagai bentuk apresiasi, yang secara langsung memangkas biaya produksi anggota karena pakan dapat dibuat dari bahan baku lokal [1].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran modal awal pendirian BUMNag Maju Bersama pada 2017. Model pendapatan BUMNag bertumpu pada margin dari fasilitasi input (benih dan pakan yang dibeli kolektif) serta fasilitasi pemasaran output bibit ikan nila anggota [1].
Bagi petani anggota, perbandingan pendapatan usaha tani pembibitan nila hormon (rata-rata Rp76.782.003) dengan nila lokal non-hormon (rata-rata Rp58.141.902) menunjukkan bahwa pilihan teknik pembibitan turut memengaruhi besaran pendapatan yang diperoleh dari skema kemitraan ini [6]. Bantuan alat pembuat pakan dari Pemerintah Kabupaten Simalungun turut menekan biaya produksi tanpa membebani BUMNag dengan investasi mandiri.
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah membangun kepercayaan lebih dulu melalui konsistensi memenuhi janji, seperti harga benih yang lebih murah dan ketepatan pembayaran hasil panen, sebelum mengharapkan warga sepenuhnya percaya pada model kemitraan baru [1]. Fokus mengorganisir kapasitas produksi warga yang sudah ada, alih-alih membangun kolam sendiri dari nol, juga terbukti menjadi pilihan strategi yang lebih efisien secara modal.
Jika memulai dari awal, penguatan kapasitas tata kelola keuangan pengurus idealnya disiapkan sejak tahun-tahun awal berdirinya BUMNag, bukan ditemukan sebagai kelemahan bertahun-tahun kemudian melalui kajian akademik eksternal pada 2023 [5]. Nagori lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan mengidentifikasi modal sosial yang sudah ada di masyarakat sejak awal, memulai dari fungsi fasilitasi sederhana (input dan pemasaran) sebelum ekspansi, dan menyiapkan pelatihan tata kelola keuangan bagi pengurus sejak tahap pendirian.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan BUMNag Maju Bersama bertumpu pada penguatan tiga pilar modal sosialnya secara terus-menerus: memperluas jejaring anggota mitra, mempertebal kepercayaan melalui transparansi pelaporan keuangan dan pembayaran tepat waktu, serta memperdalam kerja sama dengan institusi di luar nagori seperti Balai Benih Ikan, perbankan, dan koperasi primer perikanan [2]. Alat pembuat pakan dari Pemkab Simalungun perlu dikelola sebagai unit usaha pendukung yang menghasilkan pendapatan tambahan, bukan sekadar fasilitas subsidi.
Sinergi dengan industri perikanan Danau Toba yang tengah berkembang, termasuk kebutuhan pasokan bibit dari operator skala besar seperti PT Suri Tani Pemuka, membuka peluang bagi BUMNag Maju Bersama untuk naik kelas dari sentra bibit nagori menjadi mitra pasokan yang lebih strategis [4].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi BUMNag Maju Bersama Wonorejo berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
BUMNag menciptakan sumber penghasilan yang lebih pasti bagi kepala keluarga anggota yang sebelumnya menjalankan usaha pembibitan sebagai sambilan berpendapatan tidak menentu. |
36 kepala keluarga bermitra aktif dengan BUMNag pada 2019, mengelola kolam seluas 6 hektare. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan |
Produksi 2 juta ekor bibit ikan nila per periode berkontribusi pada ketersediaan pasokan bibit untuk budidaya ikan nila konsumsi di kawasan Simalungun dan sekitarnya. |
Industri perikanan Danau Toba mengekspor sekitar 4.000 ton nila pada 2018, membutuhkan pasokan bibit berkelanjutan. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Model agregasi BUMNag mengubah pekerjaan sambilan menjadi usaha perikanan yang lebih terorganisasi dengan pendapatan yang terukur. |
Pendapatan usaha pembibitan nila hormon rata-rata Rp76.782.003, nila lokal rata-rata Rp58.141.902. |
| SDGs 16: Kelembagaan Kuat dan Akuntabel |
Perbaikan tata kelola laporan keuangan BUMNag melalui pendampingan akademik memperkuat akuntabilitas lembaga kepada warga dan pemerintah kabupaten. |
Laporan keuangan BUMNag hasil pendampingan 2023 dipresentasikan di musyawarah nagori. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan |
BUMNag membangun ekosistem kemitraan antara pemerintah nagori, Dinas PMPN Simalungun, tenaga pendamping profesional P3MD-PID, dan warga petani ikan. |
TAPP dan TAPED P3MD-PID Kabupaten Simalungun mendampingi BUMNag sejak fase pembentukan pada 2017. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model BUMNag Maju Bersama berpotensi direplikasi di nagori lain di Kabupaten Simalungun, terutama yang berada di sekitar kawasan Danau Toba dan memiliki tradisi budidaya ikan yang sudah mengakar [3]. Kunci replikasinya bukan pada ketersediaan modal finansial besar, melainkan pada kesiapan mengidentifikasi dan mengaktifkan modal sosial yang sudah ada di masyarakat [2].
Strategi scale up yang strategis adalah menempatkan BUMNag Maju Bersama sebagai simpul klaster perikanan nila skala nagori yang terhubung ke rantai pasokan industri perikanan Danau Toba yang terus berkembang [4]. Pemerintah kabupaten dapat mempercepat scale up dengan memfasilitasi forum BUMNag perikanan antarnagori yang memungkinkan pertukaran pengetahuan dan standardisasi kualitas bibit.
Daftar Pustaka
[1] Tim Penulis Inovasi Desa, “ID 00623: BUMNag Maju Bersama Mampu Gerakkan Ekonomi Nagori Wonorejo Melalui Konsep Modal Sosial,” inovasi.web.id. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/bumnag-maju-bersama-mampu-gerakkan-ekonomi-nagori-wonorejo-melalui-konsep-modal-sosial/.
[2] A. P. Sari dan M. Zainuddin, “Modal Sosial dalam Pengembangan BUMDes: Studi Kasus BUMDes Sejahtera di Desa Ponokawan Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo,” Jurnal Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Jun. 2023. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.usk.ac.id/JSU/article/view/32614.
[3] R. Situmorang dkk., “Sosialisasi Pembenihan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Nagori Tiga Ras, Kab. Simalungun, Sumatera Utara,” Jurnal Portal Publikasi, Mar. 2025. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.portalpublikasi.id/index.php/AJP/article/view/1726.
[4] Kumparan Bisnis, “Bangun Budi Daya Ikan Nila di Danau Toba, JPFA Rogoh Rp 350 Miliar,” kumparan.com, 17 Jan. 2019. [Daring]. Tersedia: https://kumparan.com/kumparanbisnis/bangun-budi-daya-ikan-nila-di-danau-toba-jpfa-rogoh-rp-350-miliar-1547779863511612249.
[5] L. Saragih, M. H. Sinaga, T. Parinduri, A. Sinurat, E. O. P. Damanik, R. M. Girsang, W. J. Tarigan, T. Sipayung, D. S. Purba, dan S. Martina, “Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan BUMNAG Maju Bersama,” Jurnal Pengabdian Masyarakat Sapangambei Manoktok Hitei, vol. 3, no. 2, hal. 76-88, 2023. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.usi.ac.id/index.php/JPMSMH/article/view/34.
[6] J. Marbun, M. Siadari, dan D. I. Pratama, “Perbedaan Pendapatan Usaha Tani Pembibitan Ikan Nila Hormon dengan Ikan Nila Lokal (Studi Kasus: Desa Wonorejo, Kecamatan Pematang Bandar, Kabupaten Simalungun),” Jurnal Agrilink, vol. 3, no. 1, Feb. 2021. [Daring]. Tersedia: https://www.researchgate.net/publication/362197484_Perbedaan_Pendapatan_Usaha_Tani_Pembibitan_Ikan_Nila_Hormon_dengan_Ikan_Nila_Lokal_Studi_Kasus_Desa_Wonorejo_Kecamatan_Pematang_Bandar_Kabupaten_Simalungun.
oleh Tim Inovasi Desa | 13 Sep 2026 | Produk Unggulan
Ringkasan Inovasi
Di workshop kecil di Jalan Poros RT 01, Desa Suka Maju, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, sampah plastik rumah tangga yang sebelumnya menjadi beban lingkungan kini diolah menjadi paving block. Bank Sampah Mandiri (BSM), yang dirintis dan dipimpin Yayuk Sehati sejak 2018, mengembangkan teknologi daur ulang plastik campuran menjadi bahan bangunan yang digunakan langsung untuk pembangunan fasilitas desa [1]. Inovasi ini mendapat perhatian lintas instansi: produk paving block plastik Desa Suka Maju dipresentasikan dalam Pekan Inovasi Daerah 2023 yang digelar BRIDA Kutai Kartanegara, dan BRIDA Kukar memberikan dukungan berupa pengadaan armada pengangkut sampah senilai Rp200 juta untuk meningkatkan efisiensi pengumpulan bahan baku plastik dari warga [2].
Latar Belakang
Desa Suka Maju, seperti sebagian besar desa di Kabupaten Kutai Kartanegara, menghadapi persoalan sampah plastik yang mengendap di sekitar rumah, jalan, parit, dan badan sungai. Kalimantan Timur memiliki tekanan lingkungan yang tinggi dari aktivitas pertambangan dan perkebunan, sehingga limbah plastik rumah tangga yang tidak terkelola menambah beban pencemaran daerah aliran sungai yang sudah tertekan [3].
Sebagian besar plastik campuran, seperti kantong kresek, gelas air minum, botol bekas, jeriken, dan baskom rusak, tidak memiliki nilai jual di pasar rosok konvensional karena sulit dipilah dan tidak diterima pengepul biasa. Plastik kategori residu ini paling sulit terurai dan paling sering berakhir dibakar atau dibuang sembarangan, menghasilkan dioksin dan polutan berbahaya bagi kesehatan warga [4].
Yayuk Sehati, yang kini juga menjadi tokoh penggerak lingkungan desa, melihat bahwa plastik yang tidak diterima pasar rosok justru memiliki sifat fisik yang berguna: keras ketika dipadatkan, tidak menyerap air, dan tahan terhadap beban tekanan. Sifat inilah yang mengarahkan eksperimennya menuju produk paving block, bahan bangunan yang permintaannya ada di hampir setiap desa dan kota di Indonesia [5].
Inovasi yang Diterapkan
Teknologi produksi yang dikembangkan BSM relatif sederhana dan menggunakan peralatan yang dapat dirakit dari komponen yang tersedia di pasar lokal. Alur produksinya mencakup tujuh tahap: pengumpulan dan pemilahan plastik melalui sistem tabungan sampah warga, pembersihan dari kotoran organik, peleburan bertahap dengan kontrol waktu dan suhu, pencampuran dengan agregat berupa abu, sekam padi, pasir, dan kerikil, pencetakan dan pengepresan, pendinginan alami, serta pengendalian mutu sebelum dipasarkan [5].
BSM menerima semua jenis plastik campuran tanpa persyaratan pemilahan warna atau jenis resin, sehingga menangkap aliran plastik residu yang selama ini paling sulit diserap pasar rosok konvensional [4]. Produk dijual seharga Rp10.000 per buah dalam dua bentuk standar (segi empat dan segi enam), digunakan pemerintah desa untuk pembangunan fasilitas desa, serta dijual ke pembeli eksternal termasuk desa tetangga dan perusahaan swasta [4].
Proses Penerapan Inovasi
Bank Sampah Mandiri berdiri pada 2018 dengan 15 anggota awal, sebagian besar ibu rumah tangga dan remaja Desa Suka Maju, didorong keprihatinan terhadap kondisi sampah di lingkungan sekitar. Pada fase awal, kegiatan berpusat pada pengumpulan dan pencatatan tabungan sampah warga, sebelum produksi skala besar dimulai [1].
Eksperimen pembuatan paving block dimulai secara serius pada Juni 2019. Yayuk dan tim menghabiskan waktu berminggu-minggu menyesuaikan parameter produksi, suhu peleburan, waktu pemanasan, komposisi agregat, dan tekanan cetakan. Proses percobaan yang berulang ini mengungkap bahwa waktu peleburan terlalu cepat menghasilkan paving yang rapuh, sementara waktu terlalu lama menyebabkan plastik terdegradasi dan berasap berlebihan, hingga akhirnya ditemukan rentang waktu peleburan 15-30 menit tergantung ketebalan plastik sebagai standar produksi [4].
Kemitraan dengan BUMDes Suka Maju memberi inovasi ini fondasi kelembagaan yang lebih stabil, dengan BUMDes berperan sebagai mitra distribusi dan pengembangan pasar sementara BSM fokus pada produksi dan pengelolaan bahan baku [2].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan paling kritis adalah ketidakstabilan pasokan bahan baku. Pada fase awal, produksi sering terhenti atau melambat karena stok plastik di wilayah terdekat sudah habis dipungut, sementara lokasi pengumpulan berikutnya semakin jauh dari workshop [4]. Kendala ini dimitigasi melalui pengadaan armada pengangkut sampah senilai Rp200 juta dari BRIDA Kukar, yang memperluas jangkauan pengumpulan bahan baku ke desa-desa sekitar Tenggarong Seberang.
Tantangan kedua adalah aspek kesehatan dan keselamatan kerja dalam proses peleburan plastik, karena pembakaran plastik pada suhu tinggi menghasilkan emisi gas yang perlu dikelola dengan ventilasi memadai dan alat pelindung diri bagi operator tungku [5]. Kendala ini memerlukan mitigasi berkelanjutan berupa standar keselamatan kerja yang konsisten, agar inovasi yang bertujuan memperbaiki lingkungan tidak menimbulkan masalah kesehatan baru bagi para pengolahnya.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah kepemimpinan Yayuk Sehati yang menggabungkan tiga peran: inovator teknis yang bereksperimen langsung, manajer produksi yang menjaga konsistensi kualitas, dan penghubung antara warga penyetor sampah dan pasar pembeli produk [4].
Faktor kedua adalah pilihan produk yang tepat secara pasar. Paving block memiliki permintaan yang stabil dan terdistribusi luas, sehingga dapat langsung bersaing dengan paving block semen konvensional [3]. Faktor ketiga adalah sistem tabungan sampah yang mengubah warga dari pembuang pasif menjadi penyuplai aktif bahan baku, karena warga mendapat uang atau sembako dari sampah yang disetorkan, sehingga partisipasi memiliki insentif ekonomi yang berulang.
Hasil dan Dampak Inovasi
Kapasitas produksi tumbuh dari 50 buah per hari pada fase eksperimen awal menjadi 100 buah per hari ketika proses produksi sudah terstandardisasi, dan menurut data OkeBorneo, kini mencapai sekitar 200 buah per hari [6]. Lima pemesanan pertama datang dari Desa Loa Raya, Desa Kerta Buana, Desa Bukit Pariaman, TK Mekar Sari Desa Suka Maju, dan manajemen PT KPUC, menunjukkan bahwa produk ini dapat dijual kepada pembeli di luar desa, termasuk sektor swasta [4].
Pemerintah desa kini menggunakan paving block plastik BSM untuk pembangunan fasilitas desa, sekaligus menjadi bentuk komitmen anggaran pemerintah desa terhadap produk inovasi lokal [2]. Kepala Desa Kuswara menyatakan bahwa sampah yang dulu sering menjadi keluhan warga kini justru menjadi peluang ekonomi [2].
Dampak rambatan yang terlihat adalah kunjungan studi banding dari berbagai desa di Kutai Kartanegara ke workshop BSM Suka Maju, menjadikan inovasi ini rujukan bagi desa lain di kabupaten yang sama [3].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal awal BSM berasal dari swadaya kelompok 15 anggota pendiri pada 2018, dengan pengembangan bertahap seiring bertambahnya pengalaman produksi. Dukungan eksternal terbesar datang dari BRIDA Kukar berupa armada pengangkut sampah senilai Rp200 juta pada tahap perluasan jaringan pengumpulan bahan baku [2].
Model pendapatan bertumpu pada penjualan paving block seharga Rp10.000 per buah kepada pemerintah desa, desa tetangga, institusi pendidikan, dan perusahaan swasta, sementara warga penyetor sampah menerima uang tunai atau sembako melalui sistem tabungan sampah sebagai insentif pasokan bahan baku [4].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah membangun sistem tabungan sampah dan partisipasi komunitas terlebih dahulu sebelum memulai produksi skala besar, sehingga rantai pasok bahan baku sudah terbentuk ketika permintaan produk meningkat [1]. Kesediaan menghabiskan waktu berminggu-minggu menguji parameter peleburan sebelum menetapkan standar produksi juga terbukti krusial untuk menghasilkan produk yang cukup kuat dan konsisten [4].
Jika memulai dari awal, perluasan jaringan pengumpulan bahan baku antar desa idealnya direncanakan sejak tahap awal, bukan menunggu produksi terhambat akibat kehabisan stok plastik lokal [4]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memulai dari kelompok kecil 10-15 orang dengan sistem tabungan sampah sederhana, menguji parameter produksi sesuai jenis plastik lokal yang dominan, serta menyiapkan standar keselamatan kerja sejak awal sebelum skala produksi diperbesar.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan BSM Suka Maju bertumpu pada tiga pilar: pasokan bahan baku melalui perluasan jaringan tabungan sampah antar desa, kapasitas produksi yang ditingkatkan bertahap selaras permintaan pasar, dan kemitraan dengan BUMDes yang terus diperkuat untuk membuka jalur distribusi [2]. Yayuk Sehati menyatakan harapannya agar pemerintah daerah turut menggunakan paving block dari limbah plastik ini untuk proyek pembangunan di wilayah Kutai Kartanegara, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi komunitas pengelola sampah [7].
Pengembangan varian produk dengan ukuran, warna, dan tekstur berbeda juga dipertimbangkan untuk menyasar segmen landscaping dan dekorasi taman, sementara penerapan uji kuat tekan sesuai standar SNI paving block penting untuk membuka akses ke pasar pengadaan pemerintah yang mensyaratkan sertifikasi produk [4].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi paving block plastik Desa Suka Maju berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Sistem tabungan sampah BSM memberi uang tunai atau sembako kepada warga penyetor, menciptakan pendapatan tambahan bagi ibu rumah tangga dan warga tanpa pekerjaan formal. |
15 anggota aktif BSM dan warga penyetor sampah menerima insentif dari sistem tabungan sampah. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
BSM menciptakan pekerjaan baru di sektor pengolahan limbah: operator tungku, pencetakan, pengendalian mutu, dan distribusi produk. |
Kapasitas produksi tumbuh dari 50 menjadi sekitar 200 buah paving block per hari. |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur |
Paving block plastik yang digunakan untuk pembangunan fasilitas desa menghasilkan infrastruktur fisik dari bahan yang sebelumnya menjadi beban lingkungan. |
Pemerintah desa menggunakan paving block BSM untuk pembangunan fasilitas desa. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab |
BSM menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan menerima semua jenis plastik campuran tanpa seleksi resin, menangkap aliran plastik residu yang paling sulit didaur ulang jalur konvensional. |
BSM menerima kantong kresek, gelas, botol, jeriken, dan baskom rusak tanpa syarat pemilahan jenis plastik. |
| SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim |
Mengalihkan plastik dari pembakaran terbuka menuju jalur pengolahan produktif mengurangi emisi dan senyawa berbahaya dari pembakaran plastik di lingkungan terbuka. |
Plastik residu yang sebelumnya dibakar warga kini diproses menjadi paving block bernilai jual. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan |
Berkurangnya sampah plastik yang dibuang ke parit, sungai, dan lahan sekitar desa mengurangi kontaminasi tanah dan air di wilayah Kutai Kartanegara. |
Sampah plastik yang sebelumnya mengendap di parit dan badan sungai kini disetorkan ke BSM sebagai bahan baku. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model BSM Suka Maju relatif mudah direplikasi secara teknis dan kelembagaan karena tidak memerlukan insinyur atau ilmuwan untuk dioperasikan, bahan bakunya tersedia di setiap desa, dan pasar produknya ada di mana-mana. Langkah replikasi dapat dimulai dari bank sampah yang sudah ada atau kelompok kecil 10-15 orang, membangun sistem tabungan sampah sederhana, lalu memulai produksi paving block sambil menyesuaikan parameter produksi dengan jenis plastik lokal yang dominan [5].
Untuk scale up, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dapat menjadikan model BSM sebagai rujukan program pengelolaan sampah desa, dengan dukungan pelatihan teknisi paving block dan komitmen pengadaan untuk proyek infrastruktur desa. Kajian akademik tentang ekonomi sirkular sampah plastik di daerah lain turut menegaskan bahwa pengolahan plastik residu menjadi produk bernilai jual adalah strategi yang dapat direplikasi lintas daerah [8].
Daftar Pustaka
[1] KutaiRaya.com, “Desa Suka Maju Tenggarong Seberang Miliki Bank Sampah Mandiri,” kutairaya.com, 3 Mar. 2026. [Daring]. Tersedia: https://www.kutairaya.com/news.php?id=5933.
[2] UPNews.id, “Desa Suka Maju Jadikan Limbah Plastik Sebagai Komoditas Ekonomi Lewat Produksi Paving Block,” upnews.id, 14 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.upnews.id/desa-suka-maju-jadikan-limbah-plastik-sebagai-komoditas-ekonomi-lewat-produksi-paving-block/.
[3] Kaltimtoday.co, “Ubah Sampah Jadi Bernilai, Desa Suka Maju Dorong Produksi Paving Block dari Limbah Plastik,” kaltimtoday.co, 28 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://kaltimtoday.co/ubah-sampah-jadi-bernilai-desa-suka-maju-dorong-produksi-paving-block-dari-limbah-plastik.
[4] Kolomdesa.com, “Eco Paving di Desa Suka Maju: Inovasi Potensial yang Perlu Dirawat,” kolomdesa.com, 11 Nov. 2024. [Daring]. Tersedia: https://kolomdesa.com/eco-paving-di-desa-suka-maju-inovasi-potensial-yang-perlu-dirawat-36914/.
[5] Suluh Muda Nusantara, “Bank Sampah Mandiri Desa Suka Maju Ubah Sampah Plastik Jadi Paving Block,” suluhmudanusantara.com, 25 Nov. 2024. [Daring]. Tersedia: https://suluhmudanusantara.com/bank-sampah-mandiri-desa-suka-maju-ubah-sampah-plastik-jadi-paving-block/.
[6] OkeBorneo, “Produksi Paving Blok Plastik Bank Sampah Sukamaju Capai 200 Buah per Hari,” okeborneo.com. [Daring]. Tersedia: https://okeborneo.com/produksi-paving-blok-plastik-bank-sampah-sukamaju-capai-200-buah-per-hari/.
[7] OkeBorneo, “Paving Blok Plastik Buatan Bank Sampah Sukamaju Diharapkan Dipakai di Proyek Daerah,” okeborneo.com, 15 Okt. 2025. [Daring]. Tersedia: https://okeborneo.com/paving-blok-plastik-buatan-bank-sampah-sukamaju-diharapkan-dipakai-di-proyek-daerah/.
[8] A. Nurfadhila dan P. S. A. Sitogasa, “Sirkular Ekonomi Sampah Plastik TPST Kartoharjo,” Jurnal Teknik SILITEK, vol. 5, no. 1, 2025. [Daring]. Tersedia: https://jurnalteknikpasifik.id/index.php/jts/article/view/143.
oleh Tim Inovasi Desa | 12 Sep 2026 | Produk Unggulan
Ringkasan Inovasi
BUMDes Masagenae di Desa Salobukkang, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Provinsi Sulawesi Selatan, sejak Juli 2025 mengelola peternakan itik petelur skala desa dengan memelihara 500 ekor itik berusia enam bulan sebagai langkah penguatan ketahanan pangan lokal [1]. Inovasi ini mendorong transformasi dari aktivitas beternak itik warga yang selama ini berjalan tradisional menjadi unit usaha BUMDes yang dikelola dengan manajemen kandang terstandar [3]. Transformasi ini didukung kolaborasi dengan mahasiswa KKN Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Unhas) Angkatan 114, yang membantu BUMDes Masagenae membangun sistem manajemen kandang berbasis ilmu peternakan modern [2]. Karena program ini baru berjalan dalam hitungan bulan, dokumentasi yang tersedia belum melaporkan data produksi atau penjualan telur yang telah terealisasi; sebagian besar angka yang beredar masih berupa proyeksi berdasarkan kapasitas kandang dan perbandingan dengan BUMDes peternakan itik lain di Sidrap [7].
Latar Belakang
Desa Salobukkang dikenal sebagai desa agraris di Kecamatan Dua Pitue dengan dua kekuatan ekonomi utama: pertanian padi dan peternakan. Aktivitas beternak itik sudah lama menjadi bagian mata pencaharian warga, namun sebagian besar masih dijalankan secara tradisional, tanpa manajemen terstruktur, tanpa standar kandang, dan tanpa jaminan pasar yang memberi kepastian harga [3].
Peternak lokal menghadapi dua tantangan utama: produktivitas itik yang belum optimal akibat sistem pemeliharaan tradisional, dan ketidakstabilan pasokan telur yang membuat harga berfluktuasi sehingga menyulitkan warga mendapat protein hewani dengan harga terjangkau [2]. Riset agribisnis di Kecamatan Dua Pitue juga menunjukkan bahwa sektor peternakan unggas di Sidrap menyimpan potensi yang belum dioptimalkan melalui pendekatan manajemen produksi dan akses pasar yang lebih sistematis [4].
Program ketahanan pangan nasional yang mendorong setiap desa membangun kemandirian pangan menjadi momentum bagi BUMDes Masagenae untuk melangkah lebih jauh dari fungsi administrasi desa semata [5]. Peternakan itik petelur dipilih karena siklus produksi telurnya relatif cepat dan konsisten, bernilai gizi tinggi, dengan biaya pemeliharaan yang secara umum lebih terjangkau dibanding jenis unggas lain di Sidrap [9].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pengelolaan peternakan itik petelur 500 ekor oleh BUMDes Masagenae dengan sistem manajemen kandang terstandar, berbeda dari pola tradisional yang selama ini berlaku di desa. BUMDes membangun kandang dengan ventilasi yang diperhatikan, sanitasi teratur, dan tata letak yang memudahkan pengelolaan pakan serta pengumpulan telur harian [2]. Standar manajemen ini lahir dari kolaborasi dengan mahasiswa KKN Fakultas Peternakan Unhas yang membawa metodologi peternakan modern ke praktik lapangan di Salobukkang [3].
Inovasi ini bekerja melalui sistem manajemen pemeliharaan terpadu: pakan diberikan terjadwal sesuai kebutuhan nutrisi itik petelur, air minum tersedia segar dan diganti berkala, dan sanitasi kandang dilakukan rutin untuk mencegah wabah penyakit [1]. Rencana pengelolaan pendapatan dari penjualan telur diarahkan sebagian ke kas BUMDes dan Pendapatan Asli Desa (PADes), dan sebagian lagi menjadi cadangan modal pengembangan populasi itik ke depan [7].
Proses Penerapan Inovasi
Proses implementasi dimulai dari identifikasi potensi peternakan desa oleh pemerintah desa dan pengurus BUMDes Masagenae, yang kemudian mengorganisasi aktivitas peternakan itik warga menjadi satu unit usaha BUMDes yang lebih terkelola [3]. Dana pengembangan unit peternakan bersumber dari alokasi Dana Desa untuk program ketahanan pangan, sesuai kebijakan nasional yang mendorong penggunaan Dana Desa membangun kemandirian pangan di tingkat lokal [5].
Momentum transformasi terbesar datang dari kehadiran mahasiswa KKN Unhas 114 Fakultas Peternakan pada Juli 2025, yang melaksanakan sosialisasi “Pengembangan Kandang serta Budidaya Itik Petelur Melalui Penerapan Manajemen Kandang yang Baik” bagi peternak lokal, tokoh masyarakat, dan pengelola BUMDes [2]. Materi mencakup desain kandang berstandar, pengelolaan ventilasi dan sanitasi, sistem pemberian pakan terjadwal, serta deteksi dini penyakit umum pada itik petelur [2].
Karena program ini baru berjalan sejak pertengahan 2025, dokumentasi yang tersedia tidak merinci adanya kegagalan produksi atau koreksi teknis besar sejauh ini. Pemkab Sidrap turut memperkuat ekosistem ini melalui sosialisasi budidaya itik oleh Dinas Peternakan dan Perikanan kepada penerima bantuan itik di berbagai desa [8].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan utama adalah menjaga konsistensi kualitas manajemen kandang setelah tim KKN Unhas tidak lagi hadir mendampingi secara langsung, karena pengetahuan teknis yang disampaikan selama KKN perlu benar-benar tertanam dalam rutinitas pengelola BUMDes [2]. Kendala ini direncanakan dimitigasi melalui penyusunan SOP tertulis serta upaya membangun hubungan institusional permanen dengan Fakultas Peternakan Unhas, bukan hanya mengandalkan satu periode KKN.
Tantangan kedua adalah fluktuasi harga pakan itik yang bergantung pada pasokan dedak padi dan konsentrat dari luar desa. Ironisnya, meski Desa Salobukkang adalah produsen padi besar, pemanfaatan dedak sisa penggilingan sebagai komponen pakan itik lokal belum terintegrasi secara sistematis [11]. Kendala ini direncanakan dimitigasi melalui integrasi rantai pakan lokal yang memanfaatkan dedak dari penggilingan padi desa sendiri, sehingga biaya pakan tidak sepenuhnya bergantung pasokan luar desa.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah kolaborasi desa-universitas melalui program KKN Tematik Peternakan Unhas, yang membawa transfer pengetahuan teknis dari desain kandang, manajemen pakan, hingga pengendalian penyakit yang sebelumnya tidak dimiliki pengelola BUMDes maupun peternak lokal [2]. Kajian tentang model collaborative governance menunjukkan bahwa kemitraan pemerintah desa, BUMDes, dan akademisi menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan unit usaha BUMDes berbasis peternakan di Sulawesi Selatan [10].
Faktor kedua adalah ekosistem kebijakan yang mendukung dari Pemkab Sidrap. Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif pada November 2025 menyerahkan bantuan 19.600 ekor itik kepada 415 rumah tangga peternak di pesisir Danau Sidenreng, menunjukkan komitmen pemerintah daerah terhadap pengembangan peternakan itik sebagai bagian ketahanan pangan kabupaten [6]. BUMDes Masagenae mendapat manfaat dari dukungan kebijakan ini melalui akses pelatihan dan jaringan yang lebih luas [8].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dengan 500 ekor itik dan tingkat bertelur rata-rata itik petelur pada umumnya 70-85%, BUMDes Masagenae berpotensi menghasilkan sekitar 350-425 butir telur per hari, meski dokumentasi yang tersedia belum melaporkan angka produksi harian riil yang telah tercapai [1]. Sebagai perbandingan, BUMDes Mattappae Desa Sereang yang mengelola 300 ekor bebek petelur melaporkan pendapatan kotor sekitar Rp630.000 per hari dari 9 rak telur; jika pola serupa berlaku, BUMDes Masagenae berpotensi meraih pendapatan kotor pada kisaran Rp700.000-Rp840.000 per hari, namun angka ini adalah proyeksi berbasis perbandingan, bukan capaian aktual Masagenae [7].
Di luar proyeksi peternakan, Desa Salobukkang memiliki capaian pangan yang sudah terverifikasi dari sektor padi: pada Maret 2026, panen di lahan 362 hektare menghasilkan 3.300 ton gabah senilai sekitar Rp25 miliar [11]. Program peternakan itik diharapkan melengkapi capaian ini sebagai pilar kedua ketahanan pangan desa begitu produksi telur berjalan stabil.
Dampak sosial-ekonomi yang diharapkan mencakup terbukanya lapangan kerja bagi warga sebagai pengelola kandang dan penjual telur, serta kontribusi PADes dari unit peternakan begitu penjualan berjalan rutin [1]. Karena program ini masih pada tahap awal, dampak-dampak ini perlu diverifikasi kembali melalui laporan lanjutan begitu satu siklus produksi penuh terlewati.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal pengembangan unit peternakan bersumber dari alokasi Dana Desa untuk program ketahanan pangan, sesuai kebijakan nasional yang mendorong penggunaan Dana Desa membangun kemandirian pangan di tingkat lokal [5]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal secara spesifik untuk pembangunan kandang dan pengadaan 500 ekor itik.
Model pendapatan yang direncanakan bertumpu pada penjualan telur harian, dengan sebagian hasil dialokasikan ke kas BUMDes dan PADes untuk membiayai program pembangunan desa, dan sebagian lagi menjadi cadangan modal untuk memperbesar populasi itik [7]. Karena program belum genap berjalan satu tahun, model pendapatan ini masih berupa rencana yang belum sepenuhnya teruji dalam siklus produksi penuh.
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah menggandeng KKN Tematik Peternakan sejak awal untuk mendapatkan transfer pengetahuan manajemen kandang, alih-alih membangun unit usaha peternakan hanya berdasarkan pengalaman tradisional warga [2]. Pemilihan itik sebagai komoditas, karena siklus produksinya cepat dan biaya pemeliharaannya relatif terjangkau, juga menjadi pilihan yang sesuai untuk BUMDes berskala kecil dengan modal terbatas [9].
Jika memulai dari awal, integrasi pemanfaatan dedak lokal sebagai komponen pakan idealnya direncanakan sejak tahap desain program, bukan diidentifikasi belakangan sebagai celah efisiensi setelah kandang berjalan [11]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan menyusun SOP tertulis sejak awal agar pengetahuan teknis dari pendampingan sementara seperti KKN tidak hilang begitu program pendamping selesai, dan memetakan sumber pakan lokal yang tersedia sebelum populasi ternak diperbesar.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan jangka panjang bertumpu pada internalisasi pengetahuan manajemen kandang ke dalam SOP tertulis BUMDes Masagenae yang menjamin standar kebersihan, pakan, dan pengelolaan tetap terjaga meski personel pengelola berganti [2]. Membangun hubungan institusional permanen dengan Fakultas Peternakan Unhas, tidak hanya melalui satu periode KKN, menjadi strategi kunci agar BUMDes terus mendapat akses pengetahuan teknis dan pendampingan [3].
Integrasi rantai nilai pakan lokal menjadi agenda strategis: memanfaatkan dedak dari penggilingan padi Salobukkang sebagai komponen pakan itik dapat menekan biaya produksi [11]. Contoh sistem kandang kering yang diterapkan BUMDes Mattapae untuk menambah pendapatan dan memperkuat ketahanan pangan dapat menjadi rujukan teknis tambahan bagi Masagenae [12]. Hilirisasi produk, seperti pengolahan telur itik menjadi telur asin, juga terbuka sebagai strategi lanjutan untuk meningkatkan margin begitu produksi berjalan stabil [7].
Kontribusi Pencapaian SDGs
BUMDes Masagenae berpotensi berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Unit peternakan itik BUMDes berpotensi memberi penghasilan rutin kepada pengelola kandang dan penjual telur, di luar ketergantungan pada panen musiman. |
500 ekor itik dikelola BUMDes dengan rencana pembagian hasil ke pengelola kandang begitu penjualan berjalan. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan |
Produksi telur itik lokal diproyeksikan memperkuat ketersediaan protein hewani terjangkau bagi warga Salobukkang begitu produksi berjalan stabil. |
Potensi produksi sekitar 350-425 butir telur per hari dari 500 ekor itik pada tingkat bertelur 70-85%. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Pengelolaan itik oleh BUMDes berpotensi mendorong PADes dari sektor peternakan dan membangun fondasi ekonomi desa di luar transfer fiskal pemerintah pusat. |
Sebagian pendapatan penjualan telur direncanakan dialokasikan ke PADes dan cadangan modal pengembangan populasi. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan |
Sistem manajemen kandang terstandar dengan sanitasi rutin mencegah pencemaran lingkungan sekitar, sementara rencana integrasi pakan berbasis dedak lokal mengurangi ketergantungan pakan dari luar desa. |
Rencana pemanfaatan dedak dari penggilingan padi Salobukkang sebagai komponen pakan itik. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan |
Kolaborasi antara BUMDes Masagenae, Pemerintah Desa Salobukkang, mahasiswa KKN Fakultas Peternakan Unhas, dan Pemkab Sidrap menciptakan model kemitraan desa-akademisi-pemerintah. |
Sosialisasi manajemen kandang oleh KKN Unhas 114 pada Juli 2025 dihadiri peternak lokal, tokoh masyarakat, dan pengelola BUMDes. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model BUMDes Masagenae relevan direplikasi di desa-desa lain di Kecamatan Dua Pitue dan wilayah sentra peternakan itik di Sulawesi Selatan yang memiliki tradisi beternak namun belum memiliki kelembagaan BUMDes yang memformalisasikan aktivitas tersebut menjadi unit usaha [3]. Kunci replikasinya adalah model kolaborasi KKN Tematik Peternakan, menggandeng fakultas peternakan perguruan tinggi terdekat untuk transfer teknologi kandang ke desa-desa percontohan [2].
Pemkab Sidrap yang telah mendistribusikan 19.600 ekor itik kepada peternak pesisir Danau Sidenreng dapat menjadikan BUMDes Masagenae sebagai salah satu model pengelolaan kelembagaan, menunjukkan bagaimana bantuan itik dapat diorganisasi ke dalam unit BUMDes [6]. Untuk scale up, penambahan populasi secara bertahap melalui reinvestasi keuntungan, jika produksi telah berjalan stabil, dapat membuka peluang BUMDes Masagenae menjadi salah satu pemasok telur itik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tingkat kecamatan [7].
Daftar Pustaka
[1] Desa Salobukkang, “BUMDes Masagenae Kelola 500 Ekor Itik Petelur untuk Ketahanan Pangan di Desa Salobukkang,” salobukkang.digitaldesa.id, 29 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://salobukkang.digitaldesa.id/berita/bumdes-masagenae-kelola-500-ekor-itik-petelur-untuk-ketahanan-pangan-di-desa-salobukkang.
[2] Desa Salobukkang, “Sosialisasi Dilaksanakan Mahasiswa/i KKN Unhas 114: Pengembangan Kandang dan Manajemen Itik Petelur,” salobukkang.digitaldesa.id, 29 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://salobukkang.digitaldesa.id/berita/sosialisasi-di-laksanakan-mahasiswai-kkn-unhas-114-pengembangan-kandang-dan-manajemen.
[3] Desa Salobukkang, “Penguatan Ketahanan Pangan di Desa Salobukkang Melalui Kolaborasi BUMDes dan KKN Unhas,” salobukkang.digitaldesa.id, 16 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://salobukkang.digitaldesa.id/berita/penguatan-ketahanan-pangan-di-desa-salobukkang-melalui-kolaborasi-bumdes-dan-kkn-unhas.
[4] N. Nurhijjah dkk., “Strategi Pengembangan Usaha Ayam Ras Petelur di Kecamatan Dua Pitue Kabupaten Sidenreng Rappang,” Jurnal Mimbar Agribisnis, Universitas Galuh, 2024. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.unigal.ac.id/mimbaragribisnis/article/view/11583.
[5] Pemdes Panca Pitue Sidrap, “Program Ketahanan Pangan: Peternakan Itik Petelur di BUMDes,” Instagram @pemdesppa, 9 Jan. 2026. [Daring]. Tersedia: https://www.instagram.com/reel/DTSONgdEwP1/.
[6] Pemkab Sidrap, “Bupati Sidrap Serahkan Bantuan 19.600 Itik untuk Masyarakat Pesisir Danau Sidenreng,” sidrapkab.go.id, 30 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://sidrapkab.go.id/berita/detail_berita/Berita073444.
[7] KitaSulsel, “BUMDes Mattappae Sereang Kembangkan Bebek Petelur, Raup Omzet Jutaan Rupiah per Bulan,” kitasulsel.com, 28 Jan. 2026. [Daring]. Tersedia: https://kitasulsel.com/2026/01/28/bumdes-mattappae-sereang-kembangkan-bebek-petelur-raup-omzet-jutaan-rupiah-per-bulan/.
[8] Pemkab Sidrap, “Dukung Peternakan Sukses, Disnakkan Sidrap Gelar Pelatihan Budidaya Itik,” sidrapkab.go.id, 6 Des. 2025. [Daring]. Tersedia: https://sidrapkab.go.id/berita/detail_berita/Berita201002.
[9] Pusat Analisis Pendapatan Peternak Itik, “Analisis Pendapatan Peternak Itik Pedaging Berdasarkan Skala Usaha di Kabupaten Sidenreng Rappang,” Garuda Kemdikbud. [Daring]. Tersedia: http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=618680.
[10] Jurnal Sosial dan Politik, “Model Collaborative Governance dalam Pengembangan BUMDes Sulawesi Selatan,” Garuda Kemdikbud. [Daring]. Tersedia: http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1724051.
[11] Pemkab Sidrap, “Panen Padi di Salobukkang, Bupati Sidrap Fokus Peningkatan Pendapatan,” sidrapkab.go.id, 2 Mar. 2026. [Daring]. Tersedia: https://sidrapkab.go.id/berita/detail_berita/Berita200731.
[12] Pemkab Sidrap, “Kandang Kering BUMDes Mattapae, Solusi Tambah Pendapatan dan Ketahanan Pangan,” sidrapkab.go.id, 27 Jan. 2026. [Daring]. Tersedia: https://sidrapkab.go.id/berita/detail_berita/Berita224022.
oleh Tim Inovasi Desa | 12 Sep 2026 | Produk Unggulan
Ringkasan Inovasi
Pemerintah Tiyuh Penumangan Baru di Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung, sejak 2016 menjawab krisis pendapatan rumah tangga akibat anjloknya harga karet dengan mengembangkan komoditas baru berupa nangka mini di pekarangan rumah warga [1]. Menggunakan Dana Desa sebesar Rp66 juta, pemerintah desa mengadakan 4.000 bibit nangka mini yang dibagikan gratis kepada 900 dari total 1.263 keluarga di desa untuk ditanam di pekarangan masing-masing, tanpa memerlukan lahan atau modal tambahan dari warga [1].
Berdasarkan audit pemerintah tiyuh, seluruh 4.000 bibit yang ditanam tumbuh, dan pada pertengahan 2018 sekitar 20 persen tanaman mulai berbuah, lebih cepat dari proyeksi awal [1]. Inovasi ini menunjukkan bahwa diversifikasi pertanian berbasis pekarangan rumah dapat menjadi bantalan ekonomi tambahan bagi petani yang bergantung pada satu komoditas [7].
Latar Belakang
Tiyuh Penumangan Baru adalah desa perkebunan karet yang ekonomi rumah tangganya hampir sepenuhnya bergantung pada harga getah. Karet berproduksi sepanjang tahun, tetapi memiliki dua titik kerentanan utama: masa replanting selama 6-7 tahun tanpa penghasilan dan ketergantungan penuh pada harga pasar yang dipengaruhi faktor global [1].
Sejak 2013, harga karet di Lampung mulai turun. Harga yang pada 2012 masih sekitar Rp8.000 per kilogram tergerus hingga menyentuh Rp3.500 per kilogram. Penelitian akademis mengonfirmasi bahwa penurunan harga karet di Lampung memukul langsung pendapatan bulanan petani, memaksa sebagian beralih kerja sebagai buruh, dan mendorong pengalihan lahan ke komoditas lain yang dianggap lebih prospektif [2].
Sebagian petani bahkan menebang pohon karet yang sudah bertahun-tahun mereka rawat karena tertekan kondisi ekonomi. Kondisi ini membuka kesadaran bahwa pola pertanian monokultur menjadi akar kerentanan: ketika satu komoditas jatuh, ekonomi rumah tangga ikut terjatuh tanpa ada penopang lain [3].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang dikembangkan bukan mengganti karet, melainkan menambah sumber pendapatan baru tanpa memerlukan lahan baru. Pilihan jatuh pada nangka mini, varietas nangka setinggi 3-5 meter yang cocok ditanam di pekarangan rumah, berbuah mulai usia 1,5 tahun, dan mampu menghasilkan lebih dari 40 buah per pohon dengan berat yang bervariasi [4], [5].
Mekanismenya sederhana: Dana Desa dipakai untuk membeli bibit, bukan memberikan subsidi tunai. Setiap keluarga menerima 3-5 bibit secara gratis untuk ditanam di halaman rumah yang sebelumnya tidak produktif. Dengan pendekatan ini, tidak ada tambahan biaya sewa lahan, tidak ada persaingan dengan kebun karet, dan seluruh manfaat panen langsung menjadi milik keluarga penerima [1].
Proses Penerapan Inovasi
Perubahan dimulai dari akar warga. Informasi tentang potensi ekonomi nangka mini beredar di antara masyarakat dan mendapat sambutan antusias, lalu dibawa ke forum perencanaan pembangunan desa yang melibatkan tokoh masyarakat dan aparat tiyuh untuk didiskusikan secara terbuka [1].
Pada 2016, kesepakatan itu dituangkan dalam Peraturan Tiyuh (Perti) Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pengadaan, Penanaman, dan Perawatan Nangka Mini. Terbitnya Perti ini menjadi tonggak penting karena program tidak lagi bersifat imbauan, melainkan kebijakan desa dengan kekuatan hukum, kewajiban pelaksanaan, dan mekanisme akuntabilitas yang jelas [1].
Realisasi pengadaan 4.000 bibit dari Dana Desa sebesar Rp66 juta dilaksanakan setelah regulasi terbit, dan pemerintah tiyuh melakukan audit berkala terhadap perkembangan tanaman. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci adanya kegagalan atau koreksi teknis selama tahap penanaman awal ini; audit justru mencatat hasil yang melampaui proyeksi, dengan seluruh bibit tumbuh dan 20 persen tanaman sudah berbuah pada pertengahan 2018 [1].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan utama muncul pada tahap pascapanen. Ketika ribuan pohon mulai berproduksi hampir serentak sejak 2019, desa menghadapi risiko sulitnya menyerap dan memasarkan hasil panen dalam volume besar secara bersamaan, yang berpotensi menekan harga jual lokal jika tidak dikelola [1]. Pemerintah tiyuh memitigasi risiko ini dengan mendorong BUMDes untuk mengambil peran sebagai agregator hasil panen, mengumpulkan dan memasarkan produk secara kolektif alih-alih membiarkan setiap keluarga menjual sendiri-sendiri ke pasar yang sama [9].
Kendala lain adalah kapasitas warga dalam perawatan tanaman jangka panjang. Berbeda dari karet yang sudah menjadi pengetahuan turun-temurun, budidaya nangka memerlukan praktik pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian hama yang berbeda [8]. Kendala ini dimitigasi melalui pendampingan teknis dari penyuluh pertanian, meski dokumentasi yang tersedia tidak merinci intensitas dan cakupan pendampingan tersebut secara spesifik.
Faktor Penentu Keberhasilan
Penentu keberhasilan utama adalah kesesuaian solusi dengan kondisi nyata warga: nangka mini tidak membutuhkan lahan baru, tidak membutuhkan modal tambahan dari petani, dan cocok dengan iklim Lampung. Kesesuaian ini membuat tingkat partisipasi warga tinggi, dengan 900 dari 1.263 keluarga bersedia menerima dan menanam bibit [1].
Faktor kedua adalah penguatan melalui regulasi desa. Terbitnya Perti Nomor 12 Tahun 2016 mengubah program dari inisiatif kepala tiyuh menjadi komitmen desa yang mengikat lintas periode kepemimpinan, sementara Dana Desa sebagai instrumen fiskal mandiri memungkinkan program dieksekusi tanpa menunggu anggaran kabupaten [1].
Hasil dan Dampak Inovasi
Secara kuantitatif, program ini menanamkan 4.000 bibit di pekarangan 900 rumah warga, setara pemanfaatan lahan produktif sekitar 10 hektare yang sebelumnya menganggur. Seluruh bibit tumbuh, dan pada pertengahan 2018 sekitar 20 persen tanaman sudah berbuah, dengan proyeksi panen raya 2019 rata-rata 25-40 kg per batang dan tambahan pendapatan Rp2.000-Rp3.000 per kilogram bagi setiap keluarga [1].
Secara kualitatif, pekarangan rumah yang semula tidak produktif kini menjadi sumber pangan dan pendapatan tambahan. Peternak kambing turut memperoleh manfaat karena dedaunan nangka mini dapat menjadi pakan ternak, sementara pohonnya yang kompak juga menambah nilai estetika halaman rumah [6].
Dampak jangka panjang yang lebih strategis adalah perubahan pola pikir petani dari mentalitas bergantung pada satu komoditas menjadi diversifikasi. Penelitian menunjukkan bahwa petani karet yang melakukan diversifikasi usaha tani memiliki pendapatan yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan yang hanya mengandalkan karet [7].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Seluruh biaya pengadaan bibit bersumber dari Dana Desa sebesar Rp66 juta untuk 4.000 bibit nangka mini, dialokasikan setelah disahkannya Perti Nomor 12 Tahun 2016 sebagai landasan hukum program [1]. Desa secara sengaja memilih model pemberian bibit gratis, bukan subsidi tunai, agar dana langsung menghasilkan aset produktif jangka panjang bagi penerima, bukan habis terpakai untuk konsumsi jangka pendek.
Model pendapatan warga bersifat mandiri per rumah tangga, dari penjualan langsung hasil panen seharga Rp2.000-Rp3.000 per kilogram tanpa keterlibatan modal tambahan dari keluarga penerima [1]. Untuk keberlanjutan pascapanen, desa mengarahkan BUMDes membangun fungsi agregasi dan pemasaran kolektif, sehingga pendapatan dari hasil panen skala besar tidak sepenuhnya bergantung pada kemampuan pemasaran individu tiap keluarga [9].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah memilih intervensi yang tidak menambah beban warga, yaitu bibit gratis untuk lahan pekarangan yang sudah ada, serta menguatkannya melalui Peraturan Tiyuh agar program tidak bergantung pada satu kepemimpinan [1]. Pendekatan ini terbukti mendorong partisipasi tinggi tanpa memerlukan insentif tunai maupun modal tambahan dari penerima manfaat.
Jika memulai dari awal, perencanaan saluran distribusi dan pemasaran pascapanen idealnya disiapkan sejak tahap penanaman, bukan menunggu hingga ribuan pohon mulai berproduksi serentak [9]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memilih komoditas pekarangan yang benar-benar tidak bersaing dengan komoditas utama, mengikat kesepakatan warga dalam regulasi desa yang mengikat, dan menyiapkan pendampingan teknis budidaya sejak awal karena komoditas baru umumnya tidak diwariskan sebagai pengetahuan turun-temurun seperti komoditas lama [8].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan program bergantung pada kesiapan BUMDes memainkan peran aktif sebagai agregator dan pemasar, mencakup pengumpulan hasil, pengemasan, penetapan harga bersama, dan koneksi ke pasar di luar desa. Model serupa telah diterapkan di desa lain melalui pengembangan wisata edukasi buah dan pemasaran daring produk desa [9].
Program juga diarahkan untuk diperluas ke pengolahan produk turunan nangka, seperti keripik, selai, dan tepung nangka, yang dapat memperpanjang masa simpan, memperluas pasar, dan menambah nilai jual produk desa. Penelitian pengolahan produk nangka menunjukkan bahwa diversifikasi olahan membantu pemasaran tidak bergantung sepenuhnya pada musim panen dan daya serap pasar lokal yang terbatas [10].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi budidaya nangka mini Tiyuh Penumangan Baru berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Program bibit gratis kepada 900 keluarga menghadirkan sumber pendapatan baru bagi petani karet yang terhimpit anjloknya harga getah, mengurangi risiko kemiskinan akibat ketergantungan pada komoditas tunggal. |
900 dari 1.263 keluarga menerima 4.000 bibit nangka mini secara gratis untuk ditanam di pekarangan. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan |
Produksi nangka mini di pekarangan rumah menambah ketersediaan pangan lokal yang bergizi dan mengurangi ketergantungan pengeluaran pangan pada pasar saat pendapatan karet rendah. |
Proyeksi panen 2019 rata-rata 25-40 kg per batang dari 4.000 pohon yang ditanam. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Diversifikasi ke nangka mini memberi petani sumber pendapatan tambahan yang lebih tahan terhadap guncangan harga komoditas global. |
Tambahan pendapatan diproyeksikan Rp2.000-Rp3.000 per kilogram bagi tiap keluarga penerima bibit. |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur |
Penerbitan Peraturan Tiyuh Nomor 12 Tahun 2016 sebagai fondasi hukum pengembangan komoditas baru menunjukkan inovasi kelembagaan desa yang memadukan regulasi dengan program pertanian. |
Perti Nomor 12 Tahun 2016 mengatur pengadaan, penanaman, dan perawatan nangka mini secara mengikat. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan |
Pemanfaatan pekarangan dengan tanaman produktif menambah tutupan hijau dan mengurangi kerentanan lahan monokultur karet terhadap hama dan penyakit yang umum pada pola tanam tunggal. |
Sekitar 10 hektare lahan pekarangan yang sebelumnya tidak produktif kini ditanami nangka mini. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Tiyuh Penumangan Baru dapat direplikasi oleh desa-desa karet lain di Lampung, Sumatera Selatan, dan Kalimantan yang menghadapi masalah serupa. Kunci replikasinya ada tiga: mengidentifikasi komoditas diversifikasi yang cocok dengan iklim dan lahan pekarangan lokal, mewujudkan kesepakatan warga dalam regulasi desa yang mengikat, dan mengalokasikan Dana Desa untuk bibit agar tidak ada hambatan modal bagi keluarga penerima [1], [2].
Untuk scale up, desa dapat memperluas program dari satu jenis tanaman pekarangan menjadi sistem agroforestri pekarangan yang lebih komprehensif, menggabungkan nangka mini dengan komoditas hortikultura lain. Langkah ini didukung bukti bahwa petani karet yang melakukan diversifikasi usaha tani memiliki pendapatan yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan petani monokultur [7].
Daftar Pustaka
[1] Inovasi.web.id, “ID 00613: Budidaya Nangka Mini, Inovasi Desa Tiyuh Penumangan Baru Dongkrak Pendapatan Rumah Tangga Saat Harga Jual Karet Anjlog,” inovasi.web.id, 13 Agu. 2019. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/budidaya-nangka-mini-inovasi-desa-tiyuh-penumangan-baru-dongkrak-pendapatan-rumah-tangga-saat-harga-jual-karet-anjlog/.
[2] D. Permatasari, “Pengaruh Harga Karet terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Lampung,” Adzkiya: Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah, Universitas Metro. [Daring]. Tersedia: https://e-journal.metrouniv.ac.id/adzkiya/article/download/1785/1556.
[3] Repository UIN Raden Intan, “Analisis Dampak Fluktuasi Harga Karet terhadap Kesejahteraan Petani,” repository.radenintan.ac.id, 2024. [Daring]. Tersedia: https://repository.radenintan.ac.id/32711/.
[4] Kementerian Pertanian RI, “Budidaya Nangka,” repository.pertanian.go.id. [Daring]. Tersedia: https://repository.pertanian.go.id/bitstreams/3a3da104-0e36-4b24-83bd-52d5efe3b823/download.
[5] Kompas Agri, “Budidaya Nangka Mini di Pekarangan Rumah agar Berbuah Lebat,” agri.kompas.com, 19 Nov. 2022. [Daring]. Tersedia: https://agri.kompas.com/read/2022/11/19/150845984/.
[6] Kompas Agri, “Cara Budidaya Pohon Nangka Mini, Bisa Berbuah Terus-menerus,” agri.kompas.com, 18 Okt. 2022. [Daring]. Tersedia: https://agri.kompas.com/read/2022/10/18/082000484/.
[7] Universitas Sriwijaya, “Perbandingan Petani Monokultur Karet dan Diversifikasi Karet-Sawit,” repository.unsri.ac.id. [Daring]. Tersedia: https://repository.unsri.ac.id/29842/3/.
[8] GDM Organik, “Cara Menanam Nangka Mini Terlengkap agar Berbuah Lebat,” gdm.id, 11 Sep. 2025. [Daring]. Tersedia: https://gdm.id/cara-menanam-nangka-mini/.
[9] S. Wibowo et al., “Pengembangan BUMDes Lumintu dalam Edukasi Wisata Alam Buah Nangka di Desa Pasung, Klaten,” Prosiding LPPM UPN Veteran Yogyakarta, 2024. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.upnyk.ac.id/index.php/prosidingLPPM/article/view/14990.
[10] Universitas Mataram, “Pembuatan Produk Olahan Inovatif dari Daging Buah Nangka dan Bijinya,” Journal Portal Abdimas Unram, 2024. [Daring]. Tersedia: https://journal.unram.ac.id/index.php/portalabdimas/article/download/3995/2204.
oleh Tim Inovasi Desa | 12 Sep 2026 | Produk Unggulan
Ringkasan Inovasi
BUMDes Berkah Bersama di Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan, sejak 2018 menerapkan dua inovasi yang saling melengkapi: mengolah jeruk siam banjar menjadi es krim berlabel Antani, dan membangun sistem jual-beli gabah langsung yang memangkas ketergantungan petani pada tengkulak [1]. Kedua inovasi ini digagas pengurus BUMDes bersama Rumiyati, warga sekaligus anggota BUMDes, didukung Kepala Desa Sarino, untuk mengatasi persoalan harga jual jeruk dan gabah yang selama ini banyak ditentukan oleh tengkulak dan rentenir [4]. Merek Antani merupakan singkatan dari “anak petani,” mencerminkan bahwa produk olahan ini dikelola oleh dan untuk warga desa sendiri [4]. Dampak inovasi ini terlihat dari dua sisi: es krim jeruk Antani membuka pasar baru bagi olahan jeruk siam banjar dengan nilai jual lebih tinggi dibanding jeruk segar, sementara program gabah BUMDes membantu petani memperoleh harga panen yang lebih adil dengan memanfaatkan selisih harga musiman [1]. Pengakuan atas capaian ini datang pada Juli 2021, ketika BUMDes Berkah Bersama diliput sebagai salah satu BUMDes rujukan di Kabupaten Barito Kuala [5].
Latar Belakang
Desa Karang Bunga merupakan kawasan eks transmigrasi yang dibuka sejak 1983. Sejak awal, pemerintah menanamkan jeruk siam banjar sebagai komoditas pertanian utama bagi empat desa di kawasan itu, yaitu Karang Dukuh, Karang Buah, Karang Bunga, dan Karang Indah [6]. Setiap keluarga petani rata-rata mengelola kebun jeruk seluas dua hektare, menghasilkan buah berlimpah di setiap musim panen, namun hasil bumi yang berlimpah ini tidak serta-merta berarti kesejahteraan bagi petani [1].
Dokumentasi akademis mencatat dua persoalan struktural yang berulang dari musim ke musim: harga jual jeruk segar yang rendah ketika petani menjualnya langsung kepada tengkulak dengan posisi tawar kuat, dan ketergantungan petani pada pinjaman rentenir berbunga tinggi di awal musim tanam sehingga sebagian besar hasil panen habis untuk membayar utang [1], [2]. Pola serupa juga terjadi pada distribusi gabah, ketika tengkulak memborong gabah saat panen raya pada harga terendah, lalu menjualnya kembali di awal tahun berikutnya saat harga melonjak.
Kesadaran atas persoalan berulang ini mendorong pemerintah desa dan pengurus BUMDes merancang dua terobosan sekaligus, yaitu mengangkat nilai jeruk melalui pengolahan dan membangun kembali kendali petani atas harga gabah [2].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi pertama lahir pada 2018 ketika Rumiyati, anggota BUMDes yang juga ibu rumah tangga, mulai mengembangkan es krim berbahan baku utama jeruk siam banjar segar dengan merek Antani [4]. Resep es krim ini menggunakan perasan sari jeruk siam banjar asli yang dicampur susu full cream, tepung maizena, gula, dan bahan pengikat, menghasilkan produk dengan rasa jeruk yang segar dan berbeda dari es krim pabrikan. Adonan disimpan di freezer selama 12 jam sebelum dikemas dalam cup dan dijual mulai harga Rp2.000-Rp3.000 per cup [4].
Inovasi kedua adalah sistem jual-beli gabah dan simpan-pinjam modal yang bekerja sebagai instrumen ganda untuk melepaskan petani dari ketergantungan pada tengkulak dan rentenir [1]. BUMDes memberikan pinjaman modal tanpa bunga kepada petani sebagai modal awal musim tanam, dan petani membayar pinjaman itu menggunakan gabah saat panen dengan harga sesuai harga pasar. Gabah yang masuk ke gudang BUMDes ditahan penjualannya hingga awal tahun berikutnya ketika harga naik, dan BUMDes memperoleh keuntungan rata-rata Rp20.000 per kaleng gabah dari selisih harga musiman ini [1].
Proses Penerapan Inovasi
BUMDes Berkah Bersama berdiri pada 17 Juli 2013 dengan satu unit usaha simpan pinjam yang modal awalnya berasal dari iuran swadaya warga sebesar Rp50.000 per orang, bukan dari Dana Desa [2]. Dua tahun kemudian, musyawarah desa pada 2015 memutuskan mengalokasikan Rp115,22 juta Dana Desa sebagai suntikan modal BUMDes untuk memperluas unit usaha, termasuk membuka ruang bereksperimen dengan pengolahan produk jeruk [1].
Gagasan es krim jeruk muncul dari pelatihan keterampilan yang diinisiasi mahasiswa KKN Universitas Islam Kalimantan (UNISKA), yang memperkenalkan teknik pengolahan es krim menggunakan sari jeruk siam banjar segar [3]. Rumiyati kemudian melanjutkan pengembangan resep ini melalui serangkaian percobaan selama bertahun-tahun, karena komposisi awal belum menghasilkan tekstur dan daya simpan yang stabil, sebelum akhirnya ditemukan formula yang konsisten [4]. Pada 2022, dukungan program Desa BRILian dari BRI membangun Rumah Produksi Jeruk senilai Rp232.667.825 beserta peralatan produksi senilai Rp50.000.000, meningkatkan kapasitas produksi dengan fasilitas yang lebih layak [6], [7].
Proses pengembangan tidak selalu berjalan mulus. Kapasitas produksi yang terbatas membuat Rumah Produksi Jeruk beroperasi berdasarkan pesanan, belum mampu membangun stok reguler, sementara kondisi jalan kabupaten yang rusak menuju desa turut menyulitkan distribusi ke pasar luar daerah seperti Banjarmasin [6].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama adalah keterbatasan skala produksi: BUMDes belum memiliki modal yang cukup untuk membeli jeruk secara masif langsung dari seluruh petani, sehingga bahan baku masih banyak berasal dari kebun desa sendiri dan sistem produksi masih berjalan berdasarkan pesanan [6]. Pengurus BUMDes memitigasi keterbatasan ini secara bertahap melalui penguatan modal dari Dana Desa dan kemitraan Desa BRILian, sambil merencanakan penambahan kapasitas Rumah Produksi Jeruk agar mampu menyerap lebih banyak hasil panen petani.
Tantangan eksternal datang dari kondisi jalan kabupaten menuju Desa Karang Bunga yang rusak, yang menyulitkan dan memperlambat pengiriman produk ke pasar luar daerah [6]. BUMDes memitigasi hambatan ini dengan memusatkan distribusi awal pada pasar-pasar terdekat yang telah stabil, seperti perkantoran dan jaringan BRI di Banjarmasin, sembari terus mengupayakan advokasi perbaikan infrastruktur jalan kepada pemerintah kabupaten.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama adalah komitmen pemerintah desa mengalokasikan Dana Desa secara konsisten sebagai modal pengembangan unit usaha, memberi BUMDes ruang untuk bereksperimen dan berkembang tanpa harus berhenti karena kekurangan modal [1]. Kepala Desa Sarino berperan sebagai penghubung antara visi pemberdayaan ekonomi desa dan kepercayaan warga terhadap BUMDes sebagai lembaga yang mengelola gabah dan modal petani.
Faktor eksternal yang turut mengakselerasi pertumbuhan adalah kemitraan dengan program Desa BRILian dari BRI, yang membentuk kelompok tani binaan sejak awal 2021 beranggotakan 33 petani dan membuka akses pembiayaan KUR serta Kupedes melalui BRI Unit Sungai Gampa [7]. Kajian akademis atas BUMDes Berkah Bersama turut menyimpulkan bahwa lembaga ini efektif dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat karena mampu menyesuaikan diri dengan dinamika dan kendala yang dihadapi [2].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling konkret dari es krim Antani adalah bertambahnya nilai jual jeruk siam banjar, dari sekadar dijual segar ke tengkulak menjadi produk olahan yang menjangkau perkantoran, event kedinasan, dan jaringan pelanggan BRI [6]. Produksi jus dan sirup jeruk mencapai 200-250 botol per bulan, termasuk pesanan rutin sekitar 200 botol per minggu dari Kanwil BRI Banjarmasin [6].
Dampak sistem jual-beli gabah bersifat lebih fundamental: petani memperoleh pinjaman modal tanpa bunga di awal musim tanam dan harga gabah yang lebih adil saat panen, sementara BUMDes memperoleh keuntungan rata-rata Rp20.000 per kaleng dari selisih harga jual musiman [1]. Di tingkat kelompok tani binaan BRI, salah satu anggotanya, Santi, berkembang dari sekadar bertani jeruk menjadi pengelola agen Brilink dan toko kelontong, sekaligus menambah jumlah ternak sapinya dari 5 menjadi 20 ekor [7].
Rumah Produksi Jeruk kini mempekerjakan tiga warga lokal sebagai tenaga tetap, dan kajian skripsi dari Universitas Lambung Mangkurat menyimpulkan BUMDes Berkah Bersama telah efektif memberdayakan ekonomi masyarakat setempat [2]. Liputan media regional pada Juli 2021 turut menampilkan BUMDes Berkah Bersama sebagai salah satu BUMDes rujukan di Kabupaten Barito Kuala [5].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pembiayaan BUMDes Berkah Bersama berkembang bertahap: modal awal 2013 berasal dari iuran swadaya warga sebesar Rp50.000 per orang untuk unit simpan pinjam, diperkuat pada 2015 melalui musyawarah desa yang mengalokasikan Rp115,22 juta Dana Desa [2]. Ekspansi terbesar terjadi pada 2022 melalui program Desa BRILian BRI yang membangun Rumah Produksi Jeruk senilai Rp232.667.825 beserta peralatan produksi senilai Rp50.000.000 [6].
Model pendapatan bertumpu pada dua unit usaha utama, penjualan es krim dan olahan jeruk seharga Rp2.000-Rp3.000 per cup, serta margin jual-beli gabah rata-rata Rp20.000 per kaleng dari selisih harga musiman [1]. Diversifikasi ke empat unit usaha, simpan pinjam gabah, pengolahan jeruk, Pamsimas, dan penggemukan sapi, memberi BUMDes sumber pendapatan lebih dari satu unit usaha sehingga tidak bergantung pada satu jenis usaha saja [3].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah membangun unit usaha simpan pinjam berbasis swadaya warga terlebih dahulu sebelum menerima Dana Desa dalam jumlah lebih besar, sehingga kepercayaan warga terhadap BUMDes telah terbentuk sebelum modal yang lebih besar dikelola [2]. Proses eksperimen resep es krim yang memakan waktu bertahun-tahun sebelum mencapai formula stabil juga mengajarkan bahwa pengembangan produk olahan pangan tanpa dukungan fasilitas produksi memadai membutuhkan waktu adaptasi yang tidak sebentar [4].
Jika memulai dari awal, penambahan kapasitas produksi dan advokasi perbaikan akses jalan idealnya dilakukan lebih dini, sebelum permintaan pasar bertumbuh melampaui kapasitas yang tersedia [6]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memulai dari unit usaha bermodal kecil untuk membangun kepercayaan warga, mengikat kemitraan dengan lembaga keuangan atau perguruan tinggi sejak tahap awal, dan mendiversifikasi unit usaha agar tidak bergantung pada satu komoditas musiman [3].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Landasan legalitas menjadi prioritas strategi keberlanjutan BUMDes Berkah Bersama. Es krim Antani telah mengantongi sertifikat halal dari MUI dan izin edar dari BPOM pada 2022, membuka peluang distribusi ke pasar yang lebih luas [6]. Pencapaian legalitas ini memungkinkan produk desa ini bersaing di pasar yang menerapkan standar keamanan pangan lebih ketat, termasuk marketplace digital dan jejaring distribusi korporat.
Diversifikasi unit usaha menjadi pilar keberlanjutan kedua. BUMDes kini mengoperasikan empat unit usaha secara bersamaan, yaitu simpan pinjam gabah, pengolahan produk jeruk, layanan Pamsimas, dan penggemukan sapi potong, sehingga ketika satu unit usaha menghadapi tekanan musiman, unit usaha lain tetap menghasilkan arus kas [3]. Kemitraan jangka panjang dengan program Desa BRILian BRI turut menjadi ekosistem pendukung pertumbuhan yang direncanakan untuk terus diperluas [7].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi BUMDes Berkah Bersama Karang Bunga berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Sistem jual-beli gabah BUMDes mengurangi ketergantungan petani pada rentenir dan tengkulak dengan memberi akses modal tanpa bunga dan harga panen yang lebih adil. |
BUMDes memperoleh dan membagi keuntungan rata-rata Rp20.000 per kaleng gabah dari selisih harga musiman kepada ekosistem usahanya. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan |
Program jual-beli gabah membantu menstabilkan ketersediaan pangan desa karena gabah tidak seluruhnya dilepas murah ke tengkulak saat panen raya. |
Gabah petani ditampung dan dikelola BUMDes sebagai cadangan yang dijual kembali pada awal tahun berikutnya. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender |
Rumiyati menjadi penggerak utama pengembangan Rumah Produksi Jeruk, memperkuat peran perempuan desa sebagai pelaku ekonomi produktif. |
Rumah Produksi Jeruk mempekerjakan tiga warga lokal ibu rumah tangga sebagai tenaga tetap. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Empat unit usaha BUMDes menciptakan pekerjaan dan mendorong Pendapatan Asli Desa dari sektor pengolahan pangan dan pertanian. |
Produksi jus dan sirup jeruk mencapai 200-250 botol per bulan dengan pesanan rutin dari Kanwil BRI Banjarmasin. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Tujuan |
Kemitraan antara BUMDes, BRI melalui program Desa BRILian, dan mahasiswa KKN UNISKA menciptakan ekosistem kolaborasi multi-pihak dalam pengembangan produk desa. |
Kelompok tani binaan BRI beranggotakan 33 petani terbentuk sejak awal 2021 melalui kemitraan program Desa BRILian. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model inovasi BUMDes Berkah Bersama berpotensi direplikasi di desa-desa lain yang memiliki komoditas pertanian unggulan yang belum diolah secara maksimal. Kunci replikasinya mengikuti dua pendekatan: memberi nilai tambah pada komoditas unggulan lokal melalui pengolahan sederhana, dan membangun sistem pembelian langsung dari petani untuk memangkas peran tengkulak menggunakan gudang dan modal bergulir BUMDes [3].
Pembentukan kelompok tani binaan BRI beranggotakan 33 petani sejak awal 2021 menunjukkan replikasi model ini sudah berjalan secara organik di kecamatan yang sama [7]. Strategi scale up yang paling realistis adalah memperluas kapasitas Rumah Produksi Jeruk agar mampu menyerap lebih banyak hasil panen petani di luar kebun desa sendiri, serta memanfaatkan sertifikat halal dan izin BPOM yang telah dimiliki untuk menjajaki platform e-commerce dan pasar modern di luar Kalimantan Selatan [6], [8]. Kajian akademis lain bahkan memosisikan es krim jeruk khas ini sebagai potensi katalisator wisata desa, membuka peluang scale up lanjutan berupa paket kunjungan edukatif ke Rumah Produksi Jeruk bagi desa-desa yang ingin belajar langsung dari Karang Bunga [9].
Daftar Pustaka
[1] D. Agustiyan et al., “Penguatan Jiwa Kewirausahaan melalui Kesadaran Potensi Diri Anggota BUMDes Berkah Bersama Desa Karang Bunga Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala,” Indonesian Collaboration Journal of Community Services, vol. 2, no. 2, 2022. [Daring]. Tersedia: https://icjcs.esc-id.org/index.php/home/article/download/11/15.
[2] A. Azzahra dan G. Rahman, “Efektivitas Badan Usaha Milik Desa ‘Berkah Bersama’ dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Desa Karang Bunga Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala,” Skripsi, Universitas Lambung Mangkurat, 2023. [Daring]. Tersedia: https://digilib.ulm.ac.id/archive/digital/detailed.php?code=29471.
[3] Tim Inovasi Desa, “Upaya Desa Karang Bunga Mendorong Diversifikasi Usaha BUMDes,” inovasi.web.id, 2021. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/upaya-desa-karang-bunga-mendorong-diversifikasi-usaha-bumdes/.
[4] M. Andriani, “FEATURE: Berdayakan Desa, Rumiyati Manfaatkan Jeruk Siam Banjar Jadi Es Krim Antani,” BeritaBanjarmasin.com, 8 Agu. 2022. [Daring]. Tersedia: https://www.beritabanjarmasin.com/2022/08/feature-berdayakan-desa-rumiyati.html.
[5] Banjarmasin Post, “Mengenal BUMDes Berkah Bersama, Hadir Sebagai Solusi Masyarakat,” YouTube, 10 Jul. 2021. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=2cJNCX2KOG4.
[6] H. F. Zaman, “Mencicipi Es Krim Jeruk, Inovasi Produk Makanan Warga Binaan BRI di Barito Kuala,” Prokalteng.co (Jawa Pos Group), 7 Mar. 2024. [Daring]. Tersedia: https://prokalteng.jawapos.com/prostyle/kuliner/07/03/2024/.
[7] Kalimantan Post, “BRI Marabahan Sukseskan Desa Karang Bunga Menuju Desa Brilian,” kalimantanpost.com, 5 Apr. 2022. [Daring]. Tersedia: https://kalimantanpost.com/2022/04/bri-marabahan-sukseskan-desa-karang-bunga-menuju-desa-brilian/.
[8] Headline9, “BUMDes Berkah Bersama Mandastana Mampu Raup Omzet Puluhan Juta Lewat Usaha Ini,” Headline9.com, 29 Jul. 2024. [Daring]. Tersedia: https://headline9.com/37486/.
[9] S. Nisa et al., “Banjar Siam Orange Ice Cream: A Catalyst for Village Tourism,” Engagement: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2025. [Daring]. Tersedia: https://doi.org/10.29062/engagement.v9i2.1810.
oleh Tim Inovasi Desa | 12 Sep 2026 | Produk Unggulan
Ringkasan Inovasi
BUMDes Kertamukti di Desa Kertamukti, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, sejak sekitar tahun 2017 melembagakan keterampilan memasak roti ibu-ibu Kampung Bojongkerta menjadi unit usaha bernama Roti BUMDes Kertamukti Bakery [1], [2]. Inovasi ini digagas bersama pengrajin roti rumahan, salah satunya Sumarna, dan Pemerintah Desa Kertamukti untuk menjawab persoalan keterampilan warga yang selama ini tidak termonetisasi karena tidak memiliki modal, jaringan pemasaran, maupun branding yang memadai [1]. Melalui dukungan modal, fasilitas produksi, dan jaringan distribusi dari BUMDes, roti tanpa bahan pengawet ini dalam waktu dua tahun berhasil menembus pasar perkantoran, perusahaan, toko, dan warung kecil di berbagai wilayah Kabupaten Sukabumi [1], [2]. Harga jual yang terjangkau mulai Rp2.000 per buah menjadikan produk ini dapat diakses seluruh lapisan masyarakat, sekaligus membuka sumber penghasilan rutin bagi perempuan Kampung Bojongkerta yang sebelumnya sebagian besar mengandalkan penghasilan suami.
Latar Belakang
Desa Kertamukti merupakan hasil pemekaran dari Desa Bojongkerta di Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, dengan Kampung Bojongkerta sebagai salah satu wilayah permukiman utamanya. Karakter desa yang agraris dan berjarak dari pusat kota membuat sebagian besar perempuan di kampung ini menekuni kegiatan rumah tangga, termasuk keterampilan memasak roti yang diwariskan turun-temurun [1].
Sebelum dilembagakan, keterampilan membuat roti para ibu rumah tangga Kampung Bojongkerta hanya menghasilkan penjualan dalam skala rumah ke rumah tanpa modal usaha yang memadai, tanpa jaringan pemasaran yang terstruktur, dan tanpa branding yang mampu mengangkat produk ke pasar yang lebih luas. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci angka pasti volume penjualan maupun pendapatan warga pada periode ini, namun secara konsisten menggambarkan usaha rumahan yang berjalan apa adanya tanpa dukungan kelembagaan [1].
Pemerintah Desa Kertamukti membaca kondisi ini sebagai peluang ekonomi yang belum dikelola secara maksimal, sementara BUMDes pada saat bersamaan membutuhkan unit usaha nyata yang mampu menyerap tenaga kerja lokal dan menghasilkan Pendapatan Asli Desa secara konsisten. Penelitian tentang pemberdayaan BUMDes menunjukkan bahwa lembaga ini paling efektif ketika perannya diarahkan untuk mendampingi potensi ekonomi masyarakat yang sudah ada, bukan membangun usaha dari nol tanpa akar di masyarakat [3].
Dari pertemuan antara keterampilan warga dan kebutuhan kelembagaan desa itulah gagasan sentra produksi roti lahir, dengan salah satu pengrajin, Sumarna, tampil sebagai penggerak yang berkolaborasi langsung dengan Pemerintah Desa Kertamukti untuk membangun Roti BUMDes Kertamukti Bakery [1].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan BUMDes Kertamukti adalah pelembagaan keterampilan informal warga menjadi sentra produksi kuliner desa berstandar usaha nyata. BUMDes merangkul ibu-ibu pengrajin roti Kampung Bojongkerta ke dalam unit usaha Roti BUMDes Kertamukti Bakery, bertindak sebagai penyokong modal, penyedia fasilitas produksi, sekaligus ujung tombak jaringan pemasaran yang menjangkau pasar yang sebelumnya tidak dapat diakses secara mandiri oleh para pengrajin [1].
Model ini bekerja dengan prinsip simbiotik: BUMDes menyediakan kapasitas manajerial dan akses pasar, sementara warga menyumbangkan keahlian tangan dan pengetahuan lokal tentang cita rasa yang disukai konsumen [3]. Secara teknis, roti diproduksi dari bahan dasar tepung terigu, susu, dan gula yang diolah tanpa penambahan zat pengawet apa pun, sebuah pilihan produksi yang berani namun menjadi keunggulan utama produk di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap pangan yang sehat dan alami [1], [4].
Produk dijual mulai harga Rp2.000 per buah, harga yang terjangkau untuk semua lapisan masyarakat, dan dipasarkan melalui jaringan distribusi langsung ke perkantoran, perusahaan, toko kelontong, dan warung kecil di wilayah Sukabumi [2].
Proses Penerapan Inovasi
Penerapan inovasi dimulai dari dialog antara kelompok ibu-ibu pengrajin roti Kampung Bojongkerta dan Pemerintah Desa Kertamukti yang menghasilkan kesepakatan bersama bahwa usaha ini tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri jika ingin tumbuh menembus pasar yang lebih besar. BUMDes kemudian menyiapkan manajemen usaha yang lebih terarah, meliputi pencatatan keuangan dasar, standarisasi proses produksi, dan pembentukan jaringan distribusi yang dapat diandalkan [1], [3].
Tahap paling krusial adalah menjaga konsistensi kualitas produk tanpa bahan pengawet. Pada tahap awal, sejumlah percobaan racikan menghasilkan roti dengan daya tahan yang belum stabil, sehingga tim produksi harus menyesuaikan berulang kali takaran adonan dan durasi fermentasi sebelum menemukan formula yang membuat roti tetap lembut dan legit meski disimpan selama beberapa hari [1], [4]. Proses eksperimen dan koreksi berulang ini menjadi fondasi standar produksi yang dipakai Kertamukti Bakery hingga saat ini.
Selama dua tahun berjalan, unit usaha ini menghadapi kenyataan bahwa kapasitas produksi belum mampu menampung permintaan pasar yang terus bertumbuh seiring meluasnya jaringan distribusi ke berbagai wilayah Sukabumi [1], [2].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal paling mendesak adalah ketimpangan antara kapasitas produksi dan volume permintaan pasar yang terus meningkat. Keterbatasan jumlah alat pemanggang dan tenaga kerja aktif membuat BUMDes tidak selalu mampu memenuhi seluruh pesanan yang masuk, sehingga ada potensi pendapatan yang hilang dan risiko kekecewaan konsumen [1]. Kondisi ini dimitigasi melalui rencana investasi pada peralatan produksi berskala lebih besar dan rekrutmen tenaga kerja baru dari kalangan warga desa [3].
Tantangan eksternal muncul dari sisi regulasi dan akses pasar modern: produk roti Kertamukti Bakery hingga saat ini belum mengantongi izin edar Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) maupun sertifikat halal resmi, sehingga jangkauan distribusinya masih terbatas pada perkantoran, toko, dan warung konvensional dan belum menjangkau ritel modern [6]. BUMDes memitigasi kendala ini dengan menjadikan pengurusan izin PIRT dan sertifikasi halal sebagai agenda prioritas dalam rencana pengembangan usaha ke depan.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah keberadaan keterampilan masyarakat yang sudah matang sebelum inovasi diluncurkan, sehingga BUMDes tidak perlu membangun kapasitas produksi dari nol. BUMDes cukup memfasilitasi keterampilan yang sudah ada menuju proses komersialisasi yang lebih terorganisir, efisien, dan berdampak, sebuah strategi pemberdayaan yang sesuai dengan temuan penelitian bahwa BUMDes yang paling sukses adalah yang mampu mengakselerasi keunggulan komparatif yang sudah dimiliki warganya [3].
Faktor pendukung lain adalah kepemimpinan Kepala Desa Kertamukti, Dede Kusnadi, yang memberi legitimasi kelembagaan dan komitmen jangka panjang terhadap kelangsungan unit usaha bakery. Keputusan Menteri Desa Nomor 3 Tahun 2025 yang mengatur bahwa 20 persen Dana Desa dapat digunakan untuk penyertaan modal BUMDes turut memperkuat landasan pembiayaan bagi keberlanjutan inovasi serupa di Kabupaten Sukabumi [5].
Hasil dan Dampak Inovasi
Hasil paling nyata dari inovasi ini adalah transformasi skala pasar produk roti yang semula hanya dikenal di lingkup rumah tangga Kampung Bojongkerta menjadi komoditas kuliner yang dipasok ke perkantoran, perusahaan, toko kelontong, dan warung kecil di berbagai wilayah Kabupaten Sukabumi dalam kurun dua tahun [1], [2]. Fakta bahwa permintaan pasar melampaui kapasitas produksi yang tersedia menjadi indikator kuat tingginya penerimaan dan loyalitas konsumen terhadap produk ini.
Dampak sosial paling terasa adalah perubahan status ekonomi ibu-ibu rumah tangga Kampung Bojongkerta, dari warga yang sebagian besar mengandalkan penghasilan suami menjadi pekerja produktif dengan penghasilan rutin dari unit usaha bakery. Pemberdayaan perempuan melalui jalur ekonomi riil ini sejalan dengan agenda pembangunan perdesaan yang menekankan pentingnya partisipasi aktif perempuan dalam sistem produksi dan distribusi ekonomi desa [3].
Secara kualitatif, Roti Kertamukti Bakery membangun reputasi lokal yang bertumpu pada kepercayaan konsumen terhadap produk alami tanpa pengawet, dan pertumbuhan permintaan yang konsisten selama dua tahun operasional menjadi sinyal positif bagi prospek bisnis jangka panjangnya [1].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal secara spesifik, namun secara konsisten menunjukkan bahwa BUMDes Kertamukti berperan sebagai penyokong modal, penyedia fasilitas produksi, dan pengelola jaringan distribusi bagi unit usaha bakery, sementara warga menyumbangkan keahlian produksi [1]. Model pendapatan bertumpu pada penjualan langsung roti seharga mulai Rp2.000 per buah ke perkantoran, perusahaan, toko, dan warung kecil, dengan sebagian hasil penjualan diputar kembali sebagai modal kerja operasional.
Keberlanjutan pembiayaan ke depan terbuka lebih luas dengan berlakunya Keputusan Menteri Desa Nomor 3 Tahun 2025, yang mengizinkan penggunaan 20 persen Dana Desa untuk penyertaan modal BUMDes di Kabupaten Sukabumi [5]. Kerangka regulasi ini membuka ruang fiskal bagi BUMDes Kertamukti untuk memperluas kapasitas produksinya tanpa bergantung semata-mata pada akumulasi laba organik yang berjalan lambat.
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan kunci yang terbukti tepat adalah memilih memfasilitasi keterampilan yang sudah dimiliki warga alih-alih memaksakan jenis usaha baru yang asing bagi masyarakat, sehingga BUMDes dapat langsung fokus pada penguatan manajemen, modal, dan pemasaran sejak awal [3]. Proses eksperimen berulang pada takaran adonan dan durasi fermentasi juga mengajarkan bahwa formula produksi tanpa pengawet perlu diuji secara sistematis sebelum produksi diperluas ke skala pasar yang lebih besar [1], [4].
Jika memulai dari awal, investasi pada kapasitas produksi dan pengurusan izin PIRT serta sertifikasi halal idealnya dilakukan lebih dini, sebelum permintaan pasar tumbuh melampaui kemampuan produksi, agar peluang pasar yang muncul tidak terlewat begitu saja [6]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memetakan keterampilan kuliner spesifik yang sudah dimiliki warganya, mengikat kerja sama formal dengan BUMDes sejak tahap awal, dan menyiapkan rencana penambahan kapasitas produksi sebelum permintaan pasar meningkat tajam [3].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Roti BUMDes Kertamukti Bakery bertumpu pada tiga agenda strategis: penambahan kapasitas produksi melalui pengadaan alat pemanggang berskala lebih besar, rekrutmen tenaga kerja baru dari kalangan warga desa, dan profesionalisasi sistem pencatatan keuangan yang lebih tertib [1]. Sumber pendanaan ekspansi ini dapat diakses melalui skema penyertaan modal BUMDes yang diperkuat Keputusan Menteri Desa Nomor 3 Tahun 2025 [5].
Diversifikasi produk menjadi agenda keberlanjutan berikutnya, mencakup inovasi varian rasa baru, penyesuaian kemasan yang lebih menarik dan higienis, serta upaya memperoleh izin PIRT dan sertifikat halal resmi untuk memperluas jangkauan distribusi. Keberlangsungan usaha ini tidak bergantung pada satu figur tertentu, melainkan pada kelembagaan BUMDes dan kelompok pengrajin Kampung Bojongkerta yang menjalankan produksi sehari-hari, sehingga pergantian kepemimpinan desa di masa depan diharapkan tidak menghentikan operasional unit usaha yang telah berjalan [6].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi BUMDes Kertamukti Bakery berkontribusi langsung pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana diuraikan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Sentra bakery BUMDes Kertamukti menciptakan penghasilan rutin bagi ibu-ibu Kampung Bojongkerta yang sebelumnya sebagian besar bergantung pada penghasilan suami. |
Kelompok perempuan pengrajin memperoleh penghasilan rutin dari unit usaha bakery yang beroperasi konsisten selama dua tahun. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan |
Produksi roti tanpa pengawet dengan harga mulai Rp2.000 per buah memastikan akses masyarakat desa terhadap pangan yang terjangkau dan aman dikonsumsi setiap hari. |
Harga jual mulai Rp2.000 per buah menjangkau seluruh lapisan masyarakat di wilayah distribusi. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender |
Ibu-ibu Kampung Bojongkerta menjadi subjek utama penggerak sentra bakery, memperkuat posisi perempuan desa sebagai pelaku ekonomi aktif yang setara. |
Kelompok pengrajin perempuan menjalankan produksi harian dan menjadi ujung tombak unit usaha bakery. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Unit usaha bakery BUMDes menciptakan pekerjaan dengan penghasilan rutin bagi warga desa dan mendorong pertumbuhan Pendapatan Asli Desa dari sektor pangan lokal. |
Produk berhasil menembus pasar perkantoran, perusahaan, toko, dan warung di berbagai wilayah Sukabumi dalam dua tahun. |
| SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan |
Inovasi sentra bakery memperkuat kohesi sosial di Kampung Bojongkerta melalui kerja kolektif dalam satu sistem produksi bersama. |
Kelompok pengrajin bekerja secara kolektif dalam satu unit usaha yang dikelola bersama BUMDes. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan |
Kolaborasi antara kelompok perempuan pengrajin roti, BUMDes, dan Pemerintah Desa Kertamukti membangun ekosistem kemitraan yang saling mengisi. |
Kerja sama tiga pihak (pengrajin, BUMDes, Pemdes) berjalan sejak tahap awal hingga unit usaha beroperasi penuh. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model sentra kuliner BUMDes Kertamukti cocok direplikasi di desa-desa lain yang memiliki kelompok warga dengan keterampilan memasak spesifik yang belum terlembagakan. Prasyaratnya sederhana: ada keahlian memasak yang sudah matang di kalangan warga, ada komitmen kepala desa untuk memfasilitasi komersialisasinya melalui BUMDes, dan ada produk lokal yang memiliki keunggulan rasa atau keunikan yang membedakannya dari produk pasar [3].
Pada tahap scale up, pemerintah kabupaten dapat memperluas dampak model ini dengan merangkul BUMDes sentra kuliner ke dalam jaringan distribusi produk UMKM terpadu yang memiliki akses ke pasar modern dan e-commerce. Dukungan percepatan izin PIRT, sertifikat halal, dan bantuan desain kemasan dari dinas terkait akan mendongkrak daya saing produk BUMDes secara signifikan di pasar yang lebih luas [6], [2].
Daftar Pustaka
[1] Sukabumi Update, “Tangan Terampil Ibu-ibu Warungkiara Hasilkan Roti BUMDes Kertamukti Bakery,” sukabumiupdate.com, 12 Okt. 2019. [Daring]. Tersedia: https://www.sukabumiupdate.com/food-travel/59676/tangan-terampil-ibu-ibu-warungkiara-hasilkan-roti-bumdes-kertamukti-bakery.
[2] Sukabumi Update, “Roti BUMDes Kertamukti Bakery,” Kumparan.com, 12 Okt. 2019. [Daring]. Tersedia: https://kumparan.com/sukabumi-update/roti-bumdes-kertamukti-bakery-1s2vw2uKAey.
[3] F. E. Ramadhan, D. Rahmadanik, dan A. Soesiantoro, “Pemberdayaan BUMDes dalam Meningkatkan Perkembangan UMKM di Desa Sambi Bulu,” PRAJA Observer: Jurnal Penelitian Administrasi Publik, vol. 5, no. 2, hal. 93–101, 2025. [Daring]. Tersedia: https://doi.org/10.69957/praob.v5i02.2174.
[4] T. Hariyanti et al., “Pengembangan Inovasi Produk Roti pada Home Industry,” Garuda Kemdikbud. [Daring]. Tersedia: http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=3270334.
[5] Sukabumi Update, “Modal dari Desa, Pangan untuk Rakyat: BUMDes di Purabaya Sukabumi Dapat Suntikan Strategis,” sukabumiupdate.com, 4 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.sukabumiupdate.com/keuangan/160549.
[6] Inovasi.web.id, “ID 00935: BUMDes Kertamukti Membangun Sentra Bakery dan Memberdayakan Perempuan Desa,” inovasi.web.id, 25 Apr. 2026. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/bumdes-kertamukti-membangun-sentra-bakery-dan-memberdayakan-perempuan-desa/.
oleh Tim Inovasi Desa | 12 Sep 2026 | Produk Unggulan
Ringkasan Inovasi
Pokdakan Mina Mandiri di Desa Serayu Larangan, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, menerapkan teknologi akuaponik, sistem budidaya tertutup yang mengintegrasikan akuakultur ikan nila dengan hidroponik sayuran pakcoy dan kangkung dalam satu siklus yang saling menopang [1]. Limbah amonia dari ikan diubah oleh bakteri nitrifikasi menjadi nutrisi bagi tanaman, sementara tanaman menyaring air bersih yang kembali ke kolam, sehingga limbah budidaya dimanfaatkan kembali dalam sistem [1]. Program pemberdayaan ini dilaksanakan pada Juni-September 2024 melalui kemitraan antara Pokdakan Mina Mandiri, Pemerintah Desa Serayu Larangan, dan tim pengabdi dari Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) yang terdiri dari dosen Program Studi Akuakultur dan Agroteknologi [2]. Setiap kolam menampung 1.200 ekor nila dengan sayuran yang tumbuh di atasnya, menghasilkan dua komoditas pangan sekaligus dari satu unit lahan budidaya yang sebelumnya tidak produktif [2]. Program ini menjawab kondisi awal yang memprihatinkan, karena hasil pretest menunjukkan hanya 10 persen anggota memahami akuaponik dan hanya 5 persen yakin sistem ini dapat meningkatkan ekonomi mereka, sebelum program pendampingan mengubah angka tersebut secara signifikan dalam kurang dari empat bulan [4].
Latar Belakang
Desa Serayu Larangan memiliki potensi pertanian dan perikanan yang belum dioptimalkan secara penuh. Survei dan wawancara yang dilakukan tim pengabdi UNSOED terhadap Pokdakan Mina Mandiri mengidentifikasi empat akar masalah yang saling memperburuk satu sama lain: produktivitas kolam yang rendah, adopsi teknologi budidaya yang minim, harga pakan ikan yang terus meningkat, dan pemahaman teknis anggota yang masih terbatas [1]. Kombinasi keempat faktor ini membuat usaha budidaya ikan berjalan lambat dan rentan terhadap tekanan biaya, sehingga kelompok tidak mampu berkembang melampaui skala subsisten.
Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan lahan dan pengelolaan limbah budidaya yang belum tertangani. Air limbah dari kolam ikan yang kaya amonia sering kali tidak dikelola dengan baik, berpotensi mencemari lingkungan sekitar dan menurunkan kualitas air bagi kolam itu sendiri. Akuaponik kemudian muncul sebagai solusi yang menjawab masalah tersebut secara bersamaan: memanfaatkan limbah sebagai nutrisi, mengoptimalkan lahan terbatas dengan dua komoditas, dan membuka sumber pendapatan tambahan dari sayuran yang sebelumnya tidak ada [3].
Hambatan terbesar bukan pada teknologinya, melainkan pada cara pandang anggota. Hasil pretest sebelum program dimulai menunjukkan angka yang rendah: hanya 10 persen responden yang memahami apa itu akuaponik, hanya 10 persen yang tertarik menerapkannya, dan hanya 5 persen yang meyakini sistem ini dapat meningkatkan ekonomi mereka [4]. Data ini menggarisbawahi bahwa program pemberdayaan tidak bisa berhenti pada pemasangan instalasi, karena perubahan cara pandang dan penguatan kepercayaan diri harus berjalan seiring dengan pelatihan teknis.
Inovasi yang Diterapkan
Akuaponik yang diterapkan Pokdakan Mina Mandiri bekerja melalui siklus biologis tertutup yang melibatkan tiga aktor utama: ikan, bakteri, dan tanaman. Ikan nila membuang limbah amonia ke dalam air kolam; bakteri nitrifikasi yang tumbuh secara alami di media tanam mengubah amonia menjadi nitrit, lalu menjadi nitrat yang dapat diserap tanaman; tanaman pakcoy dan kangkung menyerap nitrat tersebut sebagai nutrisi untuk tumbuh, sekaligus menyaring dan memurnikan air yang kemudian kembali mengalir ke kolam ikan dalam kondisi yang lebih bersih [5]. Siklus ini berlangsung terus-menerus tanpa membutuhkan pupuk kimia untuk tanaman atau penggantian air kolam secara masif.
Varietas yang dipilih, nila sebagai ikan serta pakcoy dan kangkung sebagai sayuran, merupakan kombinasi yang teruji secara agronomi dan pasar. Nila dikenal tahan terhadap fluktuasi kualitas air dan memiliki tingkat pertumbuhan yang baik, sementara pakcoy dan kangkung memiliki siklus panen pendek (21-40 hari), permintaan pasar lokal yang konsisten, dan toleransi tinggi terhadap kondisi nutrisi kolam [6]. Setiap unit kolam menampung 1.200 ekor nila dengan rak sayuran yang dipasang tepat di atasnya, sehingga tidak ada lahan tambahan yang diperlukan, solusi yang relevan bagi desa dengan keterbatasan ruang budidaya.
Proses Penerapan Inovasi
Program pemberdayaan dilaksanakan dalam tiga tahap terstruktur selama Juni hingga September 2024. Tahap persiapan mencakup survei lokasi mendalam, wawancara dengan seluruh anggota Pokdakan dan Kepala Desa, serta pemetaan kondisi awal melalui pretest untuk mengukur tingkat pengetahuan, minat, dan keyakinan anggota terhadap akuaponik. Pendekatan berbasis data ini memastikan program dirancang sesuai kebutuhan nyata di lapangan, bukan asumsi tim pendamping [1], [7].
Tahap pelaksanaan menggunakan metode partisipatif berbasis komunitas yang menggabungkan empat modalitas pembelajaran: presentasi visual, diskusi interaktif, demonstrasi lapangan, dan pelatihan skala kecil yang dapat langsung dipraktikkan. Anggota Pokdakan tidak sekadar menyimak, tetapi secara fisik terlibat dalam setiap langkah, menyiapkan kolam, merakit pipa dan pompa sirkulasi, menanam sayuran pada media yang terhubung kolam, dan memantau parameter sistem secara berkala [2]. Keterlibatan fisik ini penting secara psikologis, karena ketika anggota membangun sistemnya sendiri, rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap keberhasilan sistem tumbuh.
Tim pengabdi dari UNSOED yang terdiri dari tiga dosen lintas disiplin, dua dari Program Studi Akuakultur FPIK dan satu dari Agroteknologi Fakultas Pertanian, memastikan bahwa pendampingan mencakup aspek teknis budidaya ikan, teknik tanam hidroponik, dan manajemen usaha secara terpadu. Program juga menyertakan materi konservasi ikan endemik lokal, khususnya Ikan Dewa (Tor sp.), sebagai bagian dari komitmen terhadap keberlanjutan keanekaragaman hayati di wilayah Kecamatan Mrebet [2].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan teknis utama adalah menjaga keseimbangan parameter biologis sistem, terutama pH air, kadar amonia, nitrit, nitrat, dan suhu, agar semua komponen sistem (ikan, bakteri, tanaman) dapat tumbuh optimal secara bersamaan [5]. Ketidakseimbangan parameter yang terjadi mendadak, misalnya lonjakan amonia akibat kematian ikan atau kegagalan pompa sirkulasi, berpotensi menyebabkan kegagalan seluruh sistem secara berantai, meski dokumentasi program tidak mencatat insiden kegagalan sistem yang benar-benar terjadi selama periode pendampingan. Tim memitigasi risiko ini dengan melatih anggota memantau parameter secara mandiri sejak tahap pelatihan awal, alih-alih menunggu masalah teknis muncul lebih dulu.
Tantangan kelembagaan yang tidak kalah penting adalah memastikan transfer pengetahuan tidak berhenti ketika program formal berakhir pada September 2024. Ketergantungan pada tim pendamping eksternal untuk memecahkan masalah teknis merupakan risiko nyata bagi keberlanjutan jangka panjang. Tim pengabdi memitigasi risiko ini dengan merancang sesi train the trainer sejak sebelum program formal berakhir, agar beberapa anggota terpilih mampu menjadi pemandu teknis internal bagi kelompok tanpa perlu menunggu kunjungan akademisi dari Purwokerto [2].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu pertama adalah kolaborasi tiga pilar yang saling melengkapi: Pokdakan Mina Mandiri sebagai pelaku dan penerima manfaat, Pemerintah Desa Serayu Larangan sebagai penyedia legitimasi dan dukungan kelembagaan, serta tim akademisi UNSOED sebagai mitra pengetahuan teknis [4]. Ketiga elemen ini bekerja secara sinergis, tanpa satu pihak pun yang mendominasi, sehingga proses belajar berlangsung dalam atmosfer yang setara.
Faktor kedua adalah desain program yang menempatkan perubahan cara pandang di atas segalanya. Mengingat hanya 5 persen anggota yang awalnya yakin akuaponik dapat meningkatkan ekonomi mereka, tim pendamping menghabiskan banyak waktu pada sesi membangun keyakinan melalui demonstrasi langsung dan testimoni kasus nyata sebelum masuk ke pelatihan teknis [1]. Pendekatan ini membuktikan bahwa penguatan cara pandang dan kepercayaan diri anggota adalah prasyarat yang penting dalam program pemberdayaan teknologi pertanian di tingkat desa.
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling terukur terlihat pada perubahan pengetahuan dan sikap anggota Pokdakan dalam tempo kurang dari empat bulan. Responden yang memahami akuaponik meningkat dari 10 persen menjadi 70 persen, minat terhadap akuaponik naik dari 10 persen menjadi 60 persen, dan keyakinan bahwa akuaponik dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan meningkat dari 5 persen menjadi 60 persen [4]. Perubahan ini dalam waktu singkat menunjukkan bahwa hambatan sesungguhnya bukan teknologi, melainkan informasi dan kepercayaan diri yang belum pernah difasilitasi sebelumnya.
Pada aspek produksi, kolam-kolam yang sebelumnya tidak produktif berhasil diaktifkan kembali sebagai unit budidaya ganda yang menghasilkan ikan nila dan sayuran organik bebas pupuk kimia secara bersamaan. Dengan kepadatan tebar 1.200 ekor nila per kolam dan siklus panen sayuran yang jauh lebih pendek dari siklus ikan, pendapatan kelompok mulai berputar dalam ritme yang lebih cepat dan beragam [1]. Sayuran pakcoy dan kangkung yang dihasilkan sepenuhnya bebas pestisida dan pupuk kimia, membuka potensi pasar premium yang belum pernah dimasuki kelompok sebelumnya.
Dampak lingkungan yang paling nyata adalah berkurangnya limbah budidaya ikan sebagai sumber pencemaran. Air yang sebelumnya harus dibuang karena mengandung amonia tinggi kini menjadi aset dalam sistem, karena semakin kotor air dari ikan, semakin subur tanaman yang tumbuh di atasnya. Penggunaan air yang jauh lebih hemat dibandingkan budidaya konvensional, karena air hanya ditambahkan sebesar volume yang menguap, menjadikan sistem ini relevan bagi desa yang menghadapi keterbatasan pasokan air bersih di musim kemarau [3].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Program ini dibiayai melalui skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang difasilitasi Universitas Jenderal Soedirman, tanpa memerlukan penyertaan modal dari Dana Desa Serayu Larangan untuk instalasi awal sistem akuaponik [2]. Model bisnis yang terbentuk dari inovasi ini bertumpu pada dua aliran pendapatan sekaligus dari satu unit kolam, yaitu penjualan ikan nila dan penjualan sayuran pakcoy serta kangkung organik bebas pestisida yang berpotensi menyasar segmen pasar premium [1].
Dokumentasi program tidak merinci besaran dana hibah PKM maupun biaya instalasi per unit kolam secara spesifik, sehingga estimasi biaya bagi replikator perlu dikonfirmasi langsung ke tim pengabdi UNSOED atau Pokdakan Mina Mandiri [7]. Strategi keberlanjutan pembiayaan diarahkan pada penataan saluran pemasaran yang lebih terstruktur untuk sayuran organik bernilai premium, agar kelompok memiliki sumber pendapatan tambahan yang tidak bergantung pada bantuan program pemberdayaan eksternal [4].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan mendahulukan pemetaan kondisi psikologis anggota melalui pretest, sebelum memasang instalasi teknis, terbukti menjadi keputusan kunci yang mengungkap bahwa hambatan utama program bukan pada teknologi, melainkan pada rendahnya kepercayaan diri anggota terhadap akuaponik [4]. Keputusan merancang sesi train the trainer sebelum program formal berakhir juga terbukti penting untuk mengantisipasi risiko ketergantungan pada pendamping eksternal, alih-alih menunggu masalah ketergantungan itu benar-benar terjadi [2].
Pengalaman Mina Mandiri menunjukkan bahwa kegagalan replikasi program serupa paling sering terjadi bukan karena teknologinya sulit, melainkan karena program terburu-buru memasang instalasi tanpa lebih dahulu membangun keyakinan anggota [1]. Desa lain yang berencana menerapkan model serupa disarankan memulai dari kelompok kecil yang sudah ada, melakukan pelatihan berbasis demonstrasi yang menghasilkan bukti nyata di depan anggota, dan memberi waktu bagi kepercayaan untuk tumbuh sebelum memperluas skala sistem, termasuk mempertimbangkan media edukasi berbiaya rendah seperti akuaponik berbasis galon bekas untuk pengenalan awal [9].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan program bertumpu pada tiga pilar yang saling menguatkan: pendampingan berkala oleh tim UNSOED, evaluasi rutin oleh pengurus Pokdakan bersama Pemerintah Desa, dan penguatan kapasitas mandiri anggota sebagai operator sistem yang tidak lagi bergantung pada pihak luar. Strategi pemasaran yang lebih terstruktur juga direkomendasikan, mengingat sayuran organik bebas kimia yang dihasilkan akuaponik memiliki nilai jual premium yang belum dimaksimalkan melalui saluran penjualan yang tepat [4].
Pengembangan menuju sistem pemantauan berbasis teknologi menjadi langkah strategis jangka menengah yang direkomendasikan. Integrasi sensor IoT untuk memantau suhu, pH, TDS, dan tingkat oksigen terlarut secara real time akan memungkinkan anggota Pokdakan mengambil keputusan budidaya lebih cepat, mengurangi risiko kegagalan sistem akibat respons yang terlambat terhadap perubahan parameter [1]. Arah ini sejalan dengan tren nasional Smart Farming berbasis IoT yang mulai diadopsi berbagai program ketahanan pangan desa di Jawa Tengah, sejalan pula dengan temuan program akuaponik serupa di tempat lain yang menunjukkan penguatan ketahanan ekonomi kelompok pembudidaya ikan [8].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi akuaponik Pokdakan Mina Mandiri berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs melalui sistem budidaya terpadu yang menggabungkan ketahanan pangan, efisiensi sumber daya, konservasi lingkungan, dan pemberdayaan komunitas. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang dapat diukur dari capaian yang telah didokumentasikan.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Dengan menghasilkan dua komoditas pangan, ikan dan sayuran, dari satu unit kolam yang sebelumnya tidak produktif, akuaponik menambah sumber pendapatan anggota Pokdakan tanpa memerlukan lahan tambahan. |
1.200 ekor nila dan sayuran dihasilkan sekaligus dari satu unit kolam yang sama. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan |
Produksi ikan nila dan sayuran organik secara bersamaan dari sistem akuaponik berkontribusi pada ketersediaan pangan bergizi bagi masyarakat Desa Serayu Larangan. |
Sayuran pakcoy dan kangkung dipanen dengan siklus 21-40 hari tanpa pestisida. |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas |
Program pemberdayaan berbasis metode partisipatif yang melibatkan anggota Pokdakan dalam seluruh tahapan instalasi dan operasi sistem merupakan model pembelajaran vokasional yang efektif. |
Pemahaman anggota tentang akuaponik meningkat dari 10 persen menjadi 70 persen. |
| SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi |
Sistem akuaponik menggunakan air secara efisien dan meningkatkan kualitas air kolam melalui peran tanaman sebagai penyaring biologis alami. |
Penggantian air hanya dilakukan sebesar volume yang menguap. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab |
Prinsip zero-waste yang menjadi inti sistem akuaponik, tempat limbah satu organisme menjadi sumber daya bagi organisme lain, adalah wujud ekonomi sirkular di skala komunitas. |
Tidak ada pupuk kimia, pestisida, atau limbah budidaya yang terbuang ke lingkungan. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan |
Materi konservasi Ikan Dewa (Tor sp.) yang diintegrasikan dalam program memperkuat kesadaran anggota Pokdakan tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati perairan darat di Kecamatan Mrebet. |
Materi konservasi ikan endemik lokal masuk dalam kurikulum pelatihan program. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan |
Model kemitraan tiga arah antara komunitas, pemerintah desa, dan akademisi UNSOED merupakan prototipe kolaborasi multipemangku kepentingan yang efektif. |
Program didokumentasikan dalam jurnal ilmiah yang dapat diadopsi peneliti dan pendamping desa lain. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Serayu Larangan layak direplikasi karena menawarkan formula yang sederhana dan skalabel: mulai dari kelompok kecil yang sudah ada, identifikasi kolam yang tidak produktif, latih anggota secara partisipatif, dan sambungkan budidaya ikan dengan sayuran di atasnya [4]. Desa lain di Kabupaten Purbalingga dan Jawa Tengah yang memiliki Pokdakan aktif dapat memulai dengan unit percontohan satu atau dua kolam sebelum memperluas ke seluruh anggota kelompok.
Potensi scale up paling strategis adalah mengintegrasikan sistem dengan pemantauan IoT dan mengembangkan pemasaran digital produk ikan-sayuran organik akuaponik sebagai produk unggulan desa yang memiliki diferensiasi jelas di pasar konsumen yang makin peduli pada pangan sehat dan ramah lingkungan. Untuk desa dengan anggaran terbatas, media edukasi awal berbiaya rendah seperti akuaponik berbasis galon bekas dapat menjadi pintu masuk sebelum berinvestasi pada sistem kolam skala penuh [9].
Daftar Pustaka
[1] T. Simangunsong, J. Anjaini, dan H. R. Ratnaningsih, “Pemberdayaan Pokdakan Mina Mandiri Desa Serayu Larangan Purbalingga melalui Teknologi Akuaponik untuk Peningkatan Produksi Ikan dan Sayuran Berkelanjutan,” Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Pemberdayaan Indonesia (JPMPI), vol. 7, no. 4, Nov. 2024. [Daring]. Tersedia: https://jppipa.unram.ac.id/index.php/jpmpi/article/view/9420.
[2] YouTube – Tim PKM UNSOED, “Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Pokdakan Mina Mandiri melalui Teknologi Akuaponik,” 23 Sep. 2024. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=izdtBQU8aPo.
[3] Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, “Akuaponik, Cara Asyik Budidaya Ikan dan Sayuran,” pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id, 24 Sep. 2023. [Daring]. Tersedia: https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/info-literasi/akuaponik-cara-asyik-budidaya-ikan-dan-sayuran.
[4] Inovasi Desa & Daerah Tertinggal, “ID 00690: Akuaponik Mina Mandiri – Jawaban Inovatif atas Tantangan Pangan dan Lingkungan di Desa Serayu Larangan,” inovasi.web.id, 19 Mar. 2025. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/pokdakan-mina-mandiri-kembangkan-inovasi-teknologi-akuaponik-untuk-tingkatkan-produksi-ikan-dan-sayuran-d.
[5] H. Rahardjo et al., “Budidaya Ikan dan Sayur Menggunakan Sistem Aquaponik,” Jurnal Pertanian Fakultas UTP. [Daring]. Tersedia: https://ejournal.utp.ac.id/index.php/JPF/article/download/2953/520521808.
[6] Tim Pengabdi, “IbKIK Budidaya Ikan Nila Sistem Akuaponik,” Jurnal Dinamika Masyarakat – Universitas Muhammadiyah Parepare. [Daring]. Tersedia: https://jurnalpertanianumpar.com/index.php/jdm/article/view/355/235.
[7] UNSOED Sinelitabmas, “Pemberdayaan Pokdakan Mina Mandiri Desa Serayu Larangan Purbalingga melalui Teknologi Akuaponik,” sinelitabmas.unsoed.ac.id. [Daring]. Tersedia: https://sinelitabmas.unsoed.ac.id/garuda-doc/4802384/.
[8] Tim PKM UMMAT, “Menuju Ketahanan Ekonomi Kelompok Pembudidaya Ikan melalui Akuaponik,” Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkarya – UMMAT, Apr. 2026. [Daring]. Tersedia: https://journal.ummat.ac.id/index.php/jpmb/article/download/38632/15196.
[9] Y. Sutrisno et al., “Pelatihan Aquaponik Berbasis Galon Bekas sebagai Media Edukasi,” Prosiding Seminar Nasional NCCE – Universitas Nusantara PGRI Kediri. [Daring]. Tersedia: https://proceeding.unpkediri.ac.id/index.php/ncce/article/download/9600/6152/35215.
oleh Tim Inovasi Desa | 12 Sep 2026 | Produk Unggulan
Ringkasan Inovasi
BUMDes Karya Maju di Desa Jambangan, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, mengubah lahan desa menjadi greenhouse modern bernama Jatera Agro, destinasi agrowisata edukasi yang membudidayakan melon Sweet Hami dengan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) [1]. Sejak dibangun pada akhir 2024 menggunakan bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, greenhouse berukuran 9,5 x 40 meter ini telah menyelesaikan empat kali siklus panen dengan hasil lebih dari satu ton melon per panen [1]. Inovasi ini lahir setelah dua percobaan komoditas sebelumnya, pisang dan pepaya hawai, gagal akibat serangan hama yang tidak terkendali di pola budidaya terbuka, mendorong BUMDes beralih ke sistem greenhouse yang mengendalikan lingkungan tanam secara ketat [3]. Model ini menggabungkan tiga fungsi sekaligus dalam satu kawasan, yaitu produksi pertanian modern, wisata petik buah premium, dan pembelajaran hidroponik bagi anak-anak TK hingga SD [2]. Dengan harga jual Rp25.000 per kilogram, omzet pembukaan panen pertama mencapai Rp5 juta dan total pendapatan selama 3-5 hari masa panen dapat menembus Rp20 juta, menjadikan Jatera Agro salah satu kontributor Pendapatan Asli Desa Jambangan [2].
Latar Belakang
Desa Jambangan di Kecamatan Kawedanan menghadapi tantangan yang umum di banyak desa Jawa Timur: BUMDes yang ada belum memiliki unit usaha produktif yang mampu menghasilkan pendapatan nyata secara berkelanjutan [1]. Pengurus BUMDes Karya Maju menyadari bahwa unit usaha yang dibutuhkan bukan hanya yang menghasilkan profit, tetapi juga yang menciptakan identitas dan daya tarik bagi desa yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Perjalanan menuju Jatera Agro tidak dimulai dari keberhasilan. BUMDes sebelumnya telah mencoba dua komoditas pertanian, pisang dan pepaya hawai, namun keduanya gagal akibat serangan hama yang tidak bisa dikendalikan dengan pola budidaya terbuka [3]. Kegagalan berulang ini justru memperjelas kebutuhan spesifik: sistem tanam yang terkontrol, terlindung dari hama, dan mampu menghasilkan produk premium yang bernilai di mata konsumen.
Kabupaten Magetan sendiri sudah mulai bergerak ke arah agrowisata melon hidroponik sejak 2024, ketika Agrowisata Petik Melon Hidroponik di greenhouse Lozam Kembangan, Sukomoro, diluncurkan Pj. Bupati Hergunadi sebagai bagian dorongan Pemkab mengembangkan pertanian modern dan mencetak petani milenial [4]. BUMDes Karya Maju menangkap momentum kebijakan yang kondusif ini dan menempatkan Desa Jambangan sebagai pelaku baru dalam peta agrowisata melon hidroponik Kabupaten Magetan, sejalan dengan semangat warga Magetan yang ingin mengembangkan ikon wisata baru berbasis pertanian modern [10].
Inovasi yang Diterapkan
Jatera Agro menerapkan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT), tempat larutan nutrisi mengalir secara terus-menerus di atas akar tanaman dalam talang-talang bertingkat di dalam greenhouse. Varietas yang dipilih adalah Sweet Hami, melon premium yang dipilih karena tahan terhadap penyakit, tidak membutuhkan banyak pestisida, serta memiliki cita rasa manis dan tekstur renyah yang disukai konsumen [5]. Setiap tanaman menghasilkan satu buah dengan berat rata-rata 1,5 hingga 2 kilogram, dan siklus tanam hingga panen berlangsung sekitar 70 hari, dimulai dari penyemaian selama 5 hari, pemindahan bibit, polinasi manual pada hari ke-23, hingga panen di hari ke-70.
Saat memasuki masa panen, greenhouse dialihfungsikan menjadi wahana wisata petik buah yang terbuka untuk umum. Pengunjung dapat memilih dan memetik melon langsung dari tanaman dengan harga Rp25.000 per kilogram, menciptakan pengalaman berbelanja yang berbeda dari pasar konvensional. Secara paralel, anak-anak TK dan SD dapat melakukan reservasi kunjungan belajar melalui BUMDes untuk mengenal proses budidaya hidroponik secara langsung, menyentuh nutrisi, melihat akar tanaman, dan memahami pertanian modern tanpa tanah [2]. BUMDes juga mengembangkan produk hamper melon premium dengan kemasan eksklusif yang dipasarkan sebagai hantaran untuk kerabat dan relasi bisnis, membuka segmen pasar yang tidak bergantung pada kunjungan wisatawan.
Proses Penerapan Inovasi
Titik balik datang pada akhir 2024 ketika BUMDes Karya Maju menerima bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur [6]. Berbeda dari dua percobaan sebelumnya, pisang dan pepaya hawai, yang langsung memilih komoditas tanpa memitigasi risiko hama dan gagal total di lahan terbuka, kali ini pengurus BUMDes memilih sistem greenhouse hidroponik karena kontrol lingkungan yang lebih baik, sehingga hama dan jamur dapat ditekan, kualitas buah lebih konsisten, dan jadwal panen dapat direncanakan dengan presisi [6].
Pada panen pertama dan kedua, pengelolaan masih membutuhkan pendampingan dari tenaga ahli luar desa. Namun sejak panen ketiga dan keempat, seluruh operasional greenhouse dikelola oleh warga Desa Jambangan sendiri, capaian transfer pengetahuan yang menjamin keberlanjutan program tanpa ketergantungan penuh pada pihak eksternal [6]. Strategi pemasaran dibangun bersamaan dengan strategi produksi: saat panen tiba, BUMDes secara aktif mempromosikan wisata petik melalui media sosial Instagram dan TikTok, mengubah setiap siklus panen menjadi momen yang dinantikan pengunjung dari Magetan, Madiun, dan Ponorogo [7], [8].
BUMDes juga belajar bahwa keberhasilan agrowisata bukan hanya soal produksi, tetapi soal pengalaman pengunjung. Testimoni positif warga seperti Eko Setiawan yang sudah berkali-kali datang karena sensasi petik langsung yang tidak bisa digantikan oleh pengalaman belanja biasa, menjadi aset promosi yang efektif tanpa membutuhkan biaya iklan besar [2].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan teknis terbesar adalah menjaga konsistensi kualitas nutrisi hidroponik dan kebersihan sistem NFT agar setiap siklus panen menghasilkan buah dengan mutu yang seragam [7]. Ketidakkonsistenan nutrisi dapat menghasilkan melon yang lebih kecil atau kurang manis, risiko reputasi yang krusial bagi destinasi wisata petik yang menjual pengalaman cita rasa sebagai daya tarik utamanya. BUMDes memitigasi risiko ini dengan mempertahankan sistem pengelolaan yang dikuasai penuh oleh warga sejak panen ketiga, sehingga pemantauan nutrisi dan kebersihan sistem dilakukan secara konsisten oleh tim yang sama setiap siklus [6].
Tantangan bisnis yang tidak kalah penting adalah mengelola kapasitas pengunjung yang dapat melonjak signifikan saat musim panen di akhir pekan atau hari libur [1]. Ukuran greenhouse 9,5 x 40 meter memiliki batas kapasitas fisik yang tidak bisa dilanggar tanpa merusak tanaman. BUMDes memitigasi kendala ini dengan mengelola reservasi dan pembatasan pengunjung harian secara cermat agar pengalaman setiap pengunjung tetap optimal. Ketergantungan pada satu musim panen yang berlangsung hanya 3-5 hari per siklus 70 hari juga mendorong BUMDes mengembangkan produk hamper premium sebagai sumber pendapatan yang mengisi kekosongan antarsiklus.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu pertama adalah kepemimpinan yang bersedia belajar dari kegagalan. Direktur BUMDes Cahyo Susilo tidak berhenti pada kegagalan pisang dan pepaya hawai, melainkan menggunakan kedua pengalaman itu sebagai data untuk memilih solusi yang lebih tepat, memperlakukan kegagalan sebagai investasi pengetahuan, bukan sinyal untuk mundur [1].
Faktor kedua adalah keberhasilan memilih teknologi yang mengubah kelemahan menjadi kekuatan. Sistem greenhouse NFT mengatasi langsung kelemahan utama yang menghancurkan usaha sebelumnya, yaitu serangan hama, sekaligus menciptakan produk bernilai premium yang menjustifikasi harga jual Rp25.000 per kilogram di pasar. Faktor ketiga adalah strategi pasar ganda, menyasar sekolah untuk wisata edukasi dan masyarakat umum untuk wisata petik premium, sehingga Jatera Agro tidak bergantung pada satu segmen pengunjung saja [5].
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum inovasi ini berjalan, dua percobaan komoditas terbuka BUMDes, pisang dan pepaya hawai, gagal total akibat serangan hama, sehingga BUMDes belum memiliki unit usaha produktif yang menghasilkan pendapatan berkelanjutan [3]. Dalam waktu sekitar 70 hari tanam, Jatera Agro kini menghasilkan lebih dari satu ton melon Sweet Hami per siklus panen yang selalu habis terjual dalam 3-5 hari masa panen. Dengan harga Rp25.000 per kilogram dan omzet per musim panen mencapai Rp20 juta, program ini memberikan kontribusi terhadap PADes, yang pada tahun 2023/2024 mencatat total pendapatan BUMDes sebesar Rp96.143.116 [9].
Jangkauan pengunjung yang terus meluas ke Madiun dan Ponorogo membuktikan bahwa Jatera Agro berhasil membangun nama sebagai destinasi yang layak ditempuh, bukan sekadar dikunjungi karena kedekatan geografis. Pengakuan atas pengalaman ini tercermin dari testimoni pengunjung yang konsisten menyebut rasa buah yang lebih manis, kebersihan tempat, dan sensasi petik langsung sebagai alasan utama mereka datang [5]. Peliputan dari ANTARA, Merdeka.com, JTV Madiun, dan Sinergia Mediatama pada November 2025 memperkuat visibilitas Jatera Agro di tingkat regional Jawa Timur tanpa biaya promosi besar [1].
Dampak yang paling strategis adalah terjadinya transfer pengetahuan yang berhasil: sejak panen ketiga dan keempat, seluruh operasional greenhouse dikelola mandiri oleh warga Jambangan tanpa lagi memerlukan pendampingan ahli dari luar desa [6]. Ini berarti Desa Jambangan kini memiliki kapasitas internal untuk mengoperasikan, merawat, dan mengembangkan sistem pertanian modern secara mandiri, investasi SDM yang nilainya melampaui nilai fisik greenhouse itu sendiri.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal pembangunan greenhouse Jatera Agro berasal dari bantuan keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang disalurkan pada akhir 2024, tanpa memerlukan urunan modal tambahan dari kas desa untuk investasi awal [1]. Model bisnis Jatera Agro bertumpu pada tiga aliran pendapatan sekaligus, yaitu penjualan langsung melon melalui wisata petik seharga Rp25.000 per kilogram, penjualan hamper melon premium dengan kemasan eksklusif, dan biaya reservasi kunjungan edukasi bagi siswa TK dan SD [2].
Kajian kelayakan usaha finansial budidaya melon hidroponik dari Universitas Galuh mengonfirmasi bahwa model bisnis serupa berpotensi memberikan tingkat pengembalian investasi yang layak jika volume produksi dan harga jual dijaga konsisten, sejalan dengan capaian omzet Rp20 juta per musim panen yang diraih Jatera Agro [11]. Strategi pembiayaan lanjutan diarahkan pada reinvestasi dari total pendapatan BUMDes yang mencapai Rp96.143.116 pada 2023/2024 untuk menambah unit greenhouse baru, alih-alih bergantung pada bantuan pemerintah provinsi secara berulang [6].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan memperlakukan kegagalan budidaya pisang dan pepaya hawai sebagai data untuk memilih solusi yang lebih tepat, alih-alih sebagai sinyal untuk mundur dari usaha pertanian, terbukti menjadi keputusan kunci yang mengarahkan BUMDes ke sistem greenhouse hidroponik yang lebih terkendali [1]. Keputusan menyasar dua segmen pasar sekaligus, wisata edukasi sekolah dan wisata petik premium masyarakat umum, juga terbukti penting agar Jatera Agro tidak bergantung pada satu segmen pengunjung saja [5].
Jika memulai dari awal, pengurus BUMDes mengakui idealnya sistem pengendalian hama sudah dipertimbangkan sejak komoditas pertama dipilih, agar dua percobaan awal yang gagal tidak perlu terjadi sebelum sampai pada solusi greenhouse yang tepat [3]. Desa lain yang berencana menerapkan model serupa disarankan memulai dari lahan terbatas, memilih komoditas premium dengan siklus cepat, menerapkan teknologi yang mengontrol risiko hama sejak awal, dan mengemas produksi sebagai pengalaman wisata alih-alih sekadar menjual hasil panen [9].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Jatera Agro dibangun di atas dua pilar yang saling menopang: mutu produksi yang konsisten dan kesinambungan pasar yang diperluas. Pengembangan varian produk, seperti paket hamper melon premium dengan kemasan eksklusif dan melon varietas baru D165 Super Sweet, memperluas segmen pasar yang dapat dijangkau di luar momen wisata petik langsung [6]. BUMDes juga memiliki rencana mengembangkan Desa Jambangan menjadi “desa tematik melon” yang menjadi identitas kuat di peta pariwisata Kabupaten Magetan dan wilayah Madiun Raya.
Fondasi kelembagaan yang sudah kuat, ditunjukkan oleh total pendapatan BUMDes yang mencapai Rp96.143.116 pada 2023/2024, memberikan ruang untuk reinvestasi dalam penambahan lahan greenhouse, pengembangan SDM, dan promosi digital yang lebih masif. Direktur Cahyo Susilo menyatakan harapan untuk menambah unit greenhouse baru jika lahan tambahan tersedia, yang akan memperbesar kapasitas produksi dan kemampuan menerima kunjungan sekolah secara paralel [6]. Mekanisme keberlanjutan ini juga tidak sepenuhnya bergantung pada figur Direktur Cahyo Susilo secara personal, karena kapasitas mengoperasikan greenhouse sudah dikuasai penuh oleh warga sejak panen ketiga, sehingga pengetahuan teknis tidak terkonsentrasi pada satu orang saja [6].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi Jatera Agro berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs. Dengan memadukan pertanian modern berbasis teknologi, wisata edukasi yang memberdayakan generasi muda, dan penguatan ekonomi desa melalui inovasi bisnis, program ini menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan dari dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang dapat diukur dari capaian yang telah didokumentasikan.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Jatera Agro menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan bagi desa melalui PADes dari unit usaha produktif BUMDes. |
Total pendapatan BUMDes mencapai Rp96.143.116 pada tahun anggaran 2023/2024. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan |
Sistem hidroponik NFT yang menghasilkan lebih dari satu ton melon premium per siklus panen berkontribusi pada ketersediaan pangan berkualitas di wilayah Madiun Raya. |
Lebih dari satu ton melon dihasilkan per siklus panen 70 hari. |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas |
Greenhouse Jatera Agro berfungsi sebagai ruang belajar pertanian modern yang dapat diakses anak-anak TK dan SD melalui sistem reservasi kunjungan belajar. |
Kunjungan belajar hidroponik tersedia rutin bagi siswa TK dan SD. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Jatera Agro menciptakan lapangan kerja teknis bagi warga Jambangan sebagai operator sistem hidroponik, pemandu wisata edukasi, dan pengelola greenhouse. |
Sejak panen ketiga, seluruh operasional dikelola penuh oleh warga tanpa tenaga ahli luar desa. |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur |
Penerapan sistem hidroponik NFT dalam skala BUMDes merupakan modernisasi infrastruktur pertanian di tingkat pemerintahan desa. |
Greenhouse berukuran 9,5 x 40 meter mengoperasikan sistem NFT secara mandiri. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan |
Jatera Agro mentransformasi Desa Jambangan menjadi destinasi wisata edukasi yang memiliki identitas ekonomi yang jelas dan menarik pengunjung dari luar wilayah. |
Pengunjung datang dari Magetan, Madiun, dan Ponorogo. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan |
Sistem hidroponik di dalam greenhouse meminimalkan penggunaan pestisida dan pupuk kimia dibandingkan pertanian konvensional berbasis tanah. |
Melon Sweet Hami dibudidayakan tanpa banyak pestisida di dalam greenhouse tertutup. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Formula Jatera Agro layak direplikasi karena menawarkan kerangka yang dapat disesuaikan dengan kondisi desa lain: mulai dari lahan terbatas, pilih komoditas premium dengan siklus cepat, terapkan teknologi yang mengontrol risiko, dan kemas produksi sebagai pengalaman wisata [9]. Desa lain yang ingin mereplikasi perlu meniru cara berpikir BUMDes Karya Maju, termasuk kesediaan untuk gagal, mengevaluasi, dan berpivot, bukan sekadar mereplikasi fisik greenhouse-nya.
Kabupaten Magetan sendiri telah memiliki ekosistem kebijakan yang mendukung replikasi, dengan beberapa inisiatif agrowisata melon hidroponik yang sudah berjalan di Kecamatan Sukomoro sejak 2024 [4]. Pemerintah Kabupaten Magetan dapat mempercepat replikasi dengan menyediakan skema bantuan greenhouse serupa melalui program Dana Insentif Daerah atau Dana Desa, sambil mendorong BUMDes Karya Maju sebagai mentor teknis bagi desa tetangga yang ingin memulai perjalanan yang sama. Dalam skenario skala yang lebih besar, klaster desa tematik melon di Kecamatan Kawedanan dan Sukomoro berpotensi menjadikan Magetan sebagai salah satu ikon wisata agrikultur di Jawa Timur.
Daftar Pustaka
[1] ANTARA Jatim, “BUMDes Jambangan Magetan Kembangkan Wisata Edukasi Petik Buah Melon,” jatim.antaranews.com, 7 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://jatim.antaranews.com/berita/999629/bumdes-jambangan-magetan-kembangkan-wisata-edukasi-petik-buah-melon.
[2] YouTube – Sinergia Mediatama, “MAGETAN – Jatera Agro, Wisata Petik Melon Edukatif dari BUMDes Karya Maju Jambangan,” 7 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=o6zane3EsyA.
[3] Merdeka.com, “BUMDes Jambangan Magetan Sukses Kembangkan Wisata Edukasi Petik Melon Hidroponik Jatera Agro,” merdeka.com, 7 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.merdeka.com/uang/bumdes-jambangan-magetan-sukses-kembangkan-wisata-edukasi-petik-melon-hidroponik-jatera-agro-492004.
[4] Kampoeng Ngawi, “Agrowisata Melon Hidroponik di Magetan,” kampoengngawi.com, 3 Agt. 2024. [Daring]. Tersedia: https://kampoengngawi.com/agrowisata-melon-hidroponik-di-magetan/.
[5] JTV Madiun, “Wisata Petik Melon Sweet Hamee di Greenhouse Jadi Daya Tarik Baru di Magetan,” jtvmadiun.com, 7 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://jtvmadiun.com/wisata-petik-melon-sweet-hamee-di-greenhouse-jadi-daya-tarik-baru-di-magetan/.
[6] YouTube – Lentera Indonesia News, “Melon Hidroponik Produksi BUMDes Karya Maju Desa Jambangan Kecamatan Kawedanan Kab. Magetan,” 22 Mar. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=FuFkFxBvPhM.
[7] Pasar Bujangan, “Greenhouse Hidroponik Jatera Agro Jambangan,” pasarbujangan.com, 14 Jan. 2025. [Daring]. Tersedia: https://pasarbujangan.com/greenhouse-hidroponik-jatera-agro-jambangan/.
[8] Instagram – BUMDes Jambangan, “BUMDes Jambangan Kelola Wisata Edukasi Petik Melon Hidroponik,” instagram.com, 12 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.instagram.com/reel/DQ_YCwLCUcc/.
[9] Inovasi Desa & Daerah Tertinggal, “ID 00696: Jatera Agro – Visi BUMDes Jambangan Mengubah Lahan Desa Menjadi Destinasi Edukasi,” inovasi.web.id, 9 Mar. 2026. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/jatera-agro-visi-bumdes-jambangan-mengubah-lahan-desa-menjadi-destinasi-edukasi/.
[10] YouTube – Harian Surya Tribunnews, “Tekad Warga Magetan Kembangkan Ikon Baru Lewat Wisata Petik Melon Edukatif,” 8 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=a3TQbNoQMtU.
[11] W. N. Rachman et al., “Analisis Kelayakan Usaha Finansial Budidaya Melon Hidroponik,” Jurnal Mimbar Agribisnis – Universitas Galuh, vol. 11, no. 1, Jan. 2025. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.unigal.ac.id/mimbaragribisnis/article/view/17391.
oleh Tim Inovasi Desa | 12 Sep 2026 | Produk Unggulan
Ringkasan Inovasi
BUM Desa Mandiri Jaya di Desa Tangsil Kulon, Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur, memilih mengembangkan budidaya lobster air tawar sebagai usaha inti pada masa ketika banyak BUMDes lain justru melemah akibat pandemi Covid-19 [1]. Di bawah kepemimpinan Ketua BUM Desa Athour Rahman, unit usaha ini tumbuh dari dana SiLPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) senilai Rp50.000.000 menjadi model bisnis desa yang menjalankan pembibitan, pembesaran, dan kemitraan pasar secara bersamaan [1]. Inovasi ini digagas untuk menjawab kondisi BUMDes yang sebelumnya nyaris tidak bergerak akibat pergantian kepemimpinan desa yang berulang sejak 2018, sehingga anggaran tidak terserap optimal [1]. Tujuan utamanya adalah menghidupkan kembali BUMDes yang lama stagnan, membuka sumber pendapatan baru, dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi desa. Dampak utamanya terlihat pada terbentuknya usaha inti yang tetap bergerak saat krisis, tersambungnya pasar ke Mojokerto, Banyuwangi, dan Malang, serta tumbuhnya keyakinan bahwa desa dapat mengelola komoditas premium dengan modal terbatas [1], [2].
Latar Belakang
Sebelum inovasi ini berjalan, BUM Desa Mandiri Jaya berada dalam kondisi nyaris tidak bergerak [1]. Pergantian kepemimpinan desa yang berulang sejak 2018 membuat pengambilan keputusan berjalan lambat dan anggaran BUMDes tidak terserap secara optimal, sehingga unit usaha yang benar-benar berjalan nyaris tidak ada [1].
Pandemi Covid-19 kemudian memperberat keadaan, karena banyak BUMDes kehilangan daya gerak sementara desa harus memusatkan perhatian pada perlindungan sosial dan penanganan darurat, sehingga ruang untuk membangun usaha produktif menjadi sangat sempit [1]. Kondisi ini sejalan dengan tantangan umum yang dihadapi banyak BUMDes di berbagai daerah selama masa pandemi, tempat prioritas anggaran desa bergeser sepenuhnya ke penanganan krisis [1].
Di tengah situasi itu, muncul kebutuhan mendesak akan usaha yang hemat lahan, bernilai jual tinggi, dan dapat dijalankan bertahap tanpa modal besar [3]. Budidaya lobster air tawar memenuhi kebutuhan tersebut karena siklus produksinya terukur, kebutuhan sarananya relatif sederhana, dan nilai ekonominya lebih tinggi dibanding banyak komoditas perikanan konsumsi umum, sebagaimana juga ditemukan pada praktik budidaya lobster air tawar berbasis pemberdayaan masyarakat di desa lain [3].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah menjadikan budidaya lobster air tawar sebagai usaha inti BUMDes dengan dua mesin pertumbuhan sekaligus [1]. Sebagian lobster diposisikan sebagai indukan untuk pembibitan, sedangkan sisanya dibesarkan sebagai stok dagang untuk memenuhi permintaan pasar luar daerah. Pendekatan ganda ini dirancang agar BUMDes tidak perlu menunggu satu siklus pembibitan selesai sebelum mendapatkan pemasukan dari penjualan lobster konsumsi [1].
Gagasan ini lahir dari proses belajar yang aktif, bukan dari rencana bisnis yang sudah jadi sejak awal [1]. Athour Rahman berdiskusi dengan pendamping desa, mendatangi kantor Tenaga Ahli Pendamping Masyarakat (TAPM) P3MD Bondowoso, lalu mengikuti kursus singkat budidaya lobster di Surabaya sebelum menyusun model usaha yang sesuai dengan kapasitas modal desa [1].
Proses Penerapan Inovasi
Penerapan dimulai dari penguatan kapasitas pengelola, karena pengetahuan teknis dipilih sebagai fondasi awal, mengingat keberhasilan budidaya lobster sangat ditentukan oleh ketepatan pemilihan indukan, kualitas air, pakan, dan pengelolaan kolam [1], [3].
Setelah itu, BUMDes membelanjakan modal awal Rp50.000.000 untuk sekitar 1.700 ekor lobster beserta peralatan budidaya [1]. Dari jumlah tersebut, 100 ekor dijadikan indukan, 50 ekor pejantan, dan sisanya dibesarkan sebagai stok komersial, komposisi yang dirancang agar arus kas tidak perlu menunggu satu siklus pembibitan selesai sebelum ada pemasukan [1].
Proses ini tidak berjalan tanpa gangguan. Rencana penguatan unit lain melalui tambahan modal Rp100.000.000 tertunda karena anggaran harus dialihkan untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa bagi 158 keluarga penerima manfaat [1]. Perubahan prioritas anggaran ini memaksa pengelola mengoreksi rencana ekspansi menjadi konsolidasi, dengan berfokus menjaga keberlanjutan usaha inti menggunakan sumber daya yang tersisa, alih-alih memaksakan perluasan yang belum bisa didanai penuh [1]. Wawasan penting bagi replikator dari pengalaman ini adalah bahwa rencana ekspansi BUMDes berbasis anggaran desa perlu memiliki opsi cadangan, mengingat anggaran desa bisa sewaktu-waktu dialihkan untuk kebutuhan darurat sosial yang lebih mendesak.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan utama inovasi ini adalah keterbatasan modal dan tingginya sensitivitas budidaya terhadap kualitas air, pakan, serta kesehatan lobster [3]. Pada usaha berbasis hewan air, kesalahan kecil dalam pemeliharaan dapat berujung pada kematian massal yang langsung memukul arus kas usaha. BUMDes memitigasi risiko ini dengan memprioritaskan penguatan kapasitas teknis pengelola sejak tahap awal, termasuk kursus budidaya di Surabaya, sebelum menjalankan usaha dalam skala penuh [1].
Kendala lain datang dari faktor eksternal, karena saat pandemi, prioritas anggaran desa berubah dengan cepat, sehingga rencana ekspansi dan diversifikasi usaha harus ditunda demi memenuhi kebutuhan perlindungan sosial masyarakat [1]. Pengelola memitigasi kendala ini dengan menata ulang prioritas, memilih mempertahankan dan menstabilkan usaha inti yang sudah berjalan daripada memaksakan ekspansi tanpa dukungan anggaran yang memadai [1].
Faktor Penentu Keberhasilan
Keberhasilan inovasi ini ditentukan oleh kepemimpinan yang berani mengambil peluang saat situasi belum ideal. Athour Rahman tidak menunggu modal besar, tetapi mengubah sisa anggaran yang tidak terserap menjadi usaha produktif yang terukur dan mudah dipantau perkembangannya [1].
Faktor kedua adalah pendampingan dan jejaring. Pendamping desa, TAPM P3MD Bondowoso, serta jejaring pasar di luar daerah membantu menghubungkan aspek teknis, manajerial, dan pemasaran, sehingga inovasi tidak berhenti sebagai percobaan lokal semata [1], [2].
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum inovasi ini berjalan, BUMDes tidak memiliki unit usaha yang benar-benar aktif akibat pergantian kepemimpinan desa yang berulang sejak 2018 [1]. Hasil paling nyata setelah inovasi diterapkan terlihat pada aktifnya kembali BUMDes melalui unit usaha yang jelas, terukur, dan memiliki pasar. Dengan modal Rp50.000.000, BUMDes mampu membangun stok awal sekitar 1.700 ekor lobster dan memulai proses pembibitan serta pembesaran secara bersamaan [1].
Dampak ekonominya terlihat dari potensi peningkatan aset biologis: jika satu indukan menghasilkan sekitar 200 telur, maka 100 indukan berpotensi menghasilkan 20.000 bibit per siklus, lompatan kapasitas yang membuka ruang bagi penjualan benih, pembesaran, dan kemitraan produksi [1].
Dampak sosialnya hadir dalam bentuk pulihnya optimisme warga terhadap BUMDes. Jaringan pemasaran yang mulai terbentuk ke Mojokerto, Banyuwangi, dan Malang menunjukkan bahwa usaha desa dapat menembus pasar antardaerah ketika produk, manajemen, dan kemitraannya berjalan bersamaan, dampak yang melampaui sekadar target pemulihan BUMDes yang stagnan [1].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal awal usaha ini sepenuhnya berasal dari dana SiLPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) BUMDes senilai Rp50.000.000, dana yang sebelumnya tidak terserap optimal akibat kondisi kepemimpinan BUMDes yang sempat stagnan [1]. Model bisnis usaha ini bertumpu pada dua aliran nilai sekaligus, yaitu penjualan bibit dari hasil pembibitan indukan dan penjualan lobster konsumsi dari stok pembesaran ke jaringan pasar di Mojokerto, Banyuwangi, dan Malang [1].
Rencana penambahan modal Rp100.000.000 untuk memperkuat unit usaha ini sempat disiapkan, namun tertunda karena anggaran dialihkan untuk BLT Dana Desa bagi 158 keluarga penerima manfaat, menunjukkan bahwa pembiayaan BUMDes berbasis Dana Desa tetap rentan terhadap perubahan prioritas anggaran darurat [1]. Strategi pembiayaan lanjutan diarahkan pada perputaran hasil penjualan lobster pembesaran untuk membiayai operasional harian, sementara indukan tetap dipertahankan sebagai aset produksi jangka panjang [1].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan menjalankan pembibitan dan pembesaran secara bersamaan, alih-alih menunggu satu siklus pembibitan selesai lebih dulu, terbukti menjadi keputusan kunci yang menjaga arus kas BUMDes tetap berjalan sejak tahap awal [1]. Keputusan Athour Rahman mencari pengetahuan teknis secara aktif, mulai dari diskusi dengan pendamping desa hingga kursus singkat di Surabaya, sebelum menjalankan usaha dalam skala penuh juga terbukti penting, mengingat tingginya sensitivitas budidaya lobster terhadap kesalahan teknis [1].
Jika memulai dari awal, pengelola mengakui idealnya rencana ekspansi BUMDes berbasis Dana Desa mempertimbangkan skenario cadangan sejak awal, mengingat anggaran desa dapat sewaktu-waktu dialihkan untuk kebutuhan darurat sosial seperti BLT [1]. Desa lain yang berencana menerapkan model serupa disarankan memulai dari skala kecil dengan modal sisa anggaran yang tersedia, memprioritaskan pelatihan teknis pengelola sebelum skala penuh, dan menjalankan pembibitan serta pembesaran secara paralel agar arus kas tidak bergantung pada satu siklus produksi saja [3], [1].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi dijaga melalui strategi pemisahan fungsi produksi. Indukan tetap dipertahankan untuk regenerasi dan pembibitan, sedangkan lobster pembesaran dijual untuk menjaga perputaran kas dan menutup biaya operasional harian [1].
Dalam jangka panjang, keberlanjutan juga bertumpu pada penguatan kelembagaan dan kemitraan. Peresmian BUMDes Bersama Tenggarang Mandiri LKD pada 2023 membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam pembiayaan, pelatihan, dan pemasaran lintas desa [2]. Mekanisme keberlanjutan ini juga tidak sepenuhnya bergantung pada figur Athour Rahman secara personal, karena peresmian BUMDes Bersama tersebut menempatkan usaha ini dalam kerangka kelembagaan yang lebih luas, sehingga arah pengembangan berpotensi berlanjut meski kepengurusan BUMDes berganti di masa depan [2].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi budidaya lobster air tawar BUM Desa Mandiri Jaya berkontribusi pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama pada penciptaan lapangan kerja dan penguatan kemitraan usaha desa. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang dapat diukur dari capaian yang telah didokumentasikan.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Usaha budidaya lobster membuka peluang kerja dan sumber pendapatan baru bagi pengelola serta calon mitra warga, penting bagi desa yang sebelumnya bergantung pada transfer anggaran. |
BUMDes yang sebelumnya nyaris tidak bergerak kini memiliki unit usaha aktif dengan modal Rp50 juta. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Budidaya lobster mendorong terbentuknya unit usaha desa yang produktif, berbasis pasar, dan dapat diperluas melalui pola kemitraan. |
Jaringan pemasaran terbentuk ke Mojokerto, Banyuwangi, dan Malang. |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur |
Inovasi ini menghadirkan proses produksi baru yang menggabungkan pembibitan, pembesaran, dan kemitraan pemasaran dalam satu desain usaha desa. |
100 indukan lobster berpotensi menghasilkan hingga 20.000 bibit per siklus produksi. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan |
Keberhasilan usaha ini tidak berdiri sendiri, karena pendamping desa, TAPM P3MD, pemerintah desa, dan mitra pasar antarkota bersama-sama membangun ekosistem yang memungkinkan BUMDes bertahan dan berkembang. |
BUMDes Bersama Tenggarang Mandiri LKD diresmikan pada 2023 untuk memperluas kemitraan lintas desa. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model ini layak direplikasi karena dapat dimulai dengan sarana sederhana, skala kecil, dan pembelajaran bertahap [4]. Desa lain tidak harus menunggu fasilitas besar, sebab kolam, aerator, indukan, dan pendampingan teknis sudah cukup untuk memulai unit usaha awal, sebagaimana juga ditunjukkan oleh BUMDes lain yang menjajaki program kemitraan serupa [4].
Strategi scale up yang paling relevan adalah pola inti-plasma. BUMDes menjadi pusat pembibitan, pelatihan, dan pemasaran, sedangkan warga atau desa mitra menjalankan pembesaran, lalu menjual kembali hasilnya ke BUMDes sebagai agregator kawasan, model yang juga diterapkan pada praktik budidaya lobster air tawar berbasis BUMDes di desa lain [1], [5].
Daftar Pustaka
[1] Inovasi Desa, “BUMDes Tangsil Kulon Kembangkan Budidaya Lobster Air Tawar.” [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/bumdes-tangsil-kulon-kembangkan-budidaya-lobster-air-tawar/.
[2] Radar Bangsa, “Bupati Bondowoso Resmikan BUMDes Bersama Tenggarang Mandiri LKD,” 19 Sep. 2023. [Daring]. Tersedia: https://radarbangsa.co.id/bupati-bondowoso-resmikan-bumdes-bersama-tenggarang-mandiri-lkd/.
[3] N. Nurhayati et al., “Pemberdayaan Masyarakat Desa Sukamakmur Kabupaten Jember Melalui Budidaya Lobster Air Tawar,” Jurnal Pengabdian Masyarakat Peternakan dan Ilmu Pangan, 2021. [Daring]. Tersedia: https://jppipa.unram.ac.id/index.php/jpmpi/article/download/954/643/4585.
[4] Pemerintah Kalurahan Margomulyo Seyegan, “BUMDes Usaha Mulia Margomulyo Menjajagi Program Kemitraan Budidaya Lobster Air Tawar.” [Daring]. Tersedia: https://seyegan.slemankab.go.id/bumdes-usaha-mulia-margomulyo-menjajagi-program-kemitraan-budidaya-lobster-air-tawar/.
[5] Desa Pacellekang, “Budidaya Lobster Air Tawar oleh BUMDes Bumi Pacellekang Sejahtera,” 13 Mei 2024. [Daring]. Tersedia: https://pacellekang.digitaldesa.id/potensi/budidaya-lobster-air-tawar-oleh-bumdes-bumi-pacellekang-sejahtera.