OTL Desa Cilumping Kecamatan Dayeuhluhur Cilacap Kembangkan Kopi Robusta Berkualitas Ekspor dan Tembus Pameran Internasional Hamburg

OTL Desa Cilumping Kecamatan Dayeuhluhur Cilacap Kembangkan Kopi Robusta Berkualitas Ekspor dan Tembus Pameran Internasional Hamburg

Ringkasan Inovasi

Organisasi Tani Lokal (OTL) Desa Cilumping, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, mengorganisir ratusan petani kopi untuk mengubah komoditas mentah menjadi produk bermerek bernilai ekspor. Melalui standarisasi budidaya, pengolahan pascapanen, dan penguatan identitas merek, OTL mengangkat kopi robusta dari lahan seluas 300 hektare di ketinggian 800–900 meter dpl menjadi produk yang tampil di pameran COTECA Expo Hamburg, Jerman, pada 2019 [1]. Inovasi ini membuktikan bahwa kopi dari desa terpencil di ujung utara Cilacap mampu bersaing di pasar global [2]. Kapasitas produksi yang mencapai 150 ton per tahun dan permintaan ekspor yang terus melampaui produksi menjadi indikator kuat bahwa pasar internasional siap menyerap lebih banyak Kopi Cilumping [6].

 

Latar Belakang

Desa Cilumping berada di ketinggian 300 hingga 1.300 meter di atas permukaan laut dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Kuningan dan Ciamis, Jawa Barat — posisi geografis terpencil namun secara agroklimatologi ideal bagi tanaman kopi robusta. Perkebunan kopi warga di ketinggian 800–900 meter menikmati udara sejuk dan tanah vulkanik subur yang menghasilkan biji kopi berkarakter khas [6].

Namun selama puluhan tahun, kopi ini semula dikembangkan oleh warga asal Jawa Barat dan hanya dibeli pedagang dalam bentuk biji hijau mentah tanpa merek. Baru sekitar sepuluh tahun terakhir kopi ini benar-benar dikembangkan secara serius oleh petani setempat sendiri [3]. Masalah mendasar bukan pada kualitas biji kopinya, melainkan absennya sistem pengolahan pascapanen terstandar dan identitas merek yang membedakan Kopi Cilumping dari komoditas curah anonim [1].

Ketua OTL Imam Hamidi dan penggerak kopi Kardi — yang juga menjabat Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Cabang Cilacap — meyakini bahwa keterpinggiran Kopi Cilumping dari kepopuleran kopi Temanggung atau Lampung bukan soal kualitas, melainkan soal organisasi dan strategi [4].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi Kopi Cilumping bukan sekadar inovasi produk, melainkan inovasi organisasi dan rantai nilai menyeluruh. OTL mengorganisir petani untuk menerapkan standar budidaya seragam di seluruh lahan 300 hektare — mulai dari pemilihan varietas, teknik pemupukan, penentuan waktu panen berdasarkan kematangan buah, hingga metode pengolahan pascapanen yang menjamin konsistensi rasa [1].

Biji kopi yang dipanen selektif diproses melalui metode basah atau kering sesuai karakter rasa yang ditonjolkan, lalu dikemas dalam desain bermerek yang mencerminkan identitas Desa Cilumping [2]. Setidaknya dua merek kopi dari Kecamatan Dayeuhluhur kini aktif mengolah dan memasarkan hasil perkebunan petani setempat [5].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai dengan konsolidasi petani di bawah OTL untuk menyatukan standar budidaya di seluruh lahan 300 hektare — pekerjaan besar yang membutuhkan komunikasi intensif membangun kepercayaan antarpetani yang sebelumnya bekerja individual [1]. Penyeragaman teknik panen petik merah dan metode pengolahan pascapanen menjadi fokus karena konsistensi rasa adalah syarat mutlak masuk pasar premium.

Perbaikan kemasan menjadi tonggak berikutnya: kopi yang sebelumnya dijual curah kini hadir dalam kemasan bermerek. Keputusan mengikuti COTECA Expo 2019 di Hamburg — salah satu pameran kopi terbesar dunia — merupakan langkah berani yang menguji kesiapan produk di hadapan pembeli kopi kritis dunia [4]. Kopi Cilumping langsung menarik perhatian meski baru pertama kali tampil di ajang tersebut [4].

Perjalanan ini sempat mengalami kemunduran saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Pj Bupati Cilacap Awaluddin Muuri mengakui pemerintah terus mendorong perkembangan kopi ini karena sudah sampai ke Jerman, meski diakuinya “selain pecinta kopi, mungkin masih jarang yang tahu” [3]. Pemkab Cilacap kemudian berkomitmen mendorong pemasaran dan pengembangan produk kopi ini [3].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar adalah kesenjangan antara kapasitas produksi 150 ton per tahun dan permintaan pasar ekspor yang terus meningkat setelah pameran internasional, sehingga petani belum mampu memenuhi permintaan ekspor secara berkelanjutan [6]. Mitigasinya diupayakan melalui perluasan lahan produktif, meski membutuhkan investasi bibit dan waktu 3–4 tahun sebelum pohon kopi berproduksi optimal.

Hambatan kedua adalah kerentanan terhadap gangguan eksternal seperti pandemi Covid-19 yang sempat menghentikan pengembangan kopi Cilumping. Mitigasinya adalah diversifikasi pasar yang lebih seimbang, mencakup pasar lokal premium dan kafe-kafe spesialti nasional, tidak hanya bergantung pada jalur ekspor dan pameran [3].

Minimnya kesadaran pasar domestik terhadap Kopi Cilumping — yang diakui sendiri Pj Bupati Cilacap — juga menjadi pekerjaan rumah pemasaran yang perlu diselesaikan seiring pengembangan pasar ekspor [3].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Fondasi utama keberhasilan adalah solidaritas petani yang tergabung dalam OTL untuk berinvestasi waktu dalam standarisasi kualitas. Kepemimpinan Imam Hamidi sebagai Ketua OTL dan Kardi sebagai Ketua APEKI Cabang Cilacap memainkan peran sentral sebagai jembatan antara petani dan pasar global [4].

Faktor kedua adalah keberanian mengambil risiko strategis mengikuti COTECA Expo Hamburg 2019 [2]. Kajian tentang pengembangan usaha kopi berbasis keswadayaan masyarakat di desa lain (Desa Genting, Kabupaten Semarang) menunjukkan pola serupa bahwa pengembangan jaringan bisnis dan akses teknologi pengolahan adalah faktor signifikan daya saing kopi desa, sejalan dengan langkah yang ditempuh OTL Cilumping [8]. Dukungan Pemkab Cilacap pasca-pandemi melengkapi ekosistem dukungan ini [3].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak paling bersejarah adalah penetrasi pasar internasional oleh kopi dari desa yang belum banyak dikenal secara nasional. Kopi Cilumping tampil di COTECA Expo Hamburg 2019 dan disebut dalam materi promosi ikut serta dalam kompetisi kopi di Jerman dan Jepang [4]. Pj Bupati Cilacap Awaluddin Muuri menegaskan: “Pemerintah sudah mendorong perkembangan kopi ini, karena kopi tersebut sudah sampai ke Jerman” [3].

Secara ekonomi, kapasitas produksi 150 ton per tahun mencerminkan skala usaha yang sudah melampaui industri rumah tangga, dengan permintaan ekspor yang melampaui kapasitas produksi sebagai sinyal kuat penerimaan pasar internasional [6]. Kajian dampak ekonomi pengolahan kopi pada kelompok tani sejenis di Bondowoso menunjukkan bahwa pengolahan dan pemasaran yang terorganisir dalam satu wadah kelompok tani mampu meningkatkan pendapatan petani secara signifikan, pola yang relevan bagi konteks Cilumping [9].

Secara sosial, inovasi ini mengangkat martabat petani yang selama puluhan tahun menjual hasil panen kepada pedagang dengan harga murah. Keberadaan minimal dua merek kopi aktif dari Kecamatan Dayeuhluhur menunjukkan bahwa inovasi OTL Cilumping turut menginspirasi ekosistem industri kopi desa yang lebih luas [5].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pengembangan Kopi Cilumping sejauh ini bertumpu pada swadaya OTL dan petani anggota, tanpa modal awal besar dari pemerintah untuk fase perintisan standarisasi dan branding. Dukungan Pemkab Cilacap yang dijanjikan pasca-pandemi lebih berupa fasilitasi pemasaran dan pengembangan produk daripada suntikan modal langsung [3].

Model bisnis bertumpu pada margin nilai tambah dari penjualan produk olahan bermerek ke pasar ekspor dan pameran internasional, dibanding penjualan biji mentah curah ke pedagang. Diversifikasi produk turunan seperti briket dari limbah kulit kopi mulai dikembangkan sebagai sumber pendapatan tambahan di luar penjualan biji kopi utama [10].

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Cilumping menunjukkan bahwa kualitas produk saja tidak cukup untuk menembus pasar global — organisasi petani yang solid dan keberanian mengambil risiko promosi di pameran internasional berskala besar seperti COTECA Hamburg adalah faktor pembeda yang mengangkat kopi dari desa terpencil ke panggung dunia.

Pelajaran penting lainnya, yang dibuktikan secara pahit oleh pandemi Covid-19, adalah bahwa ketergantungan berlebihan pada satu jalur pemasaran (ekspor dan pameran internasional) tanpa diversifikasi pasar domestik menciptakan kerentanan tinggi ketika akses global tiba-tiba tertutup — desa lain yang ingin mereplikasi kesuksesan serupa perlu membangun pasar domestik yang kuat sejak awal, bukan hanya mengejar pengakuan internasional semata.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Kopi Cilumping bertumpu pada tiga pilar: perluasan kapasitas produksi melalui penambahan lahan tanam, penguatan kapasitas SDM petani melalui pendidikan nonformal, dan diversifikasi pasar yang lebih seimbang antara ekspor dan pasar premium domestik [7].

Inovasi bernilai tambah yang mulai dikembangkan adalah pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi briket ramah lingkungan, sebuah inovasi sirkular yang membuka sumber pendapatan tambahan sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan [10]. Komitmen Pemkab Cilacap mendorong perkembangan kopi ini melalui dukungan pemasaran memberikan jaminan dukungan kelembagaan yang sebelumnya sempat absen [3].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Kopi Cilumping berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs, dari pengentasan kemiskinan petani hingga pelestarian lingkungan melalui pertanian berkelanjutan.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Transformasi dari penjualan kopi curah anonim menjadi produk bermerek meningkatkan nilai jual hasil panen petani, memotong ketergantungan pada tengkulak. Permintaan ekspor yang melampaui kapasitas produksi 150 ton/tahun
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi OTL menciptakan rantai nilai kopi desa yang menghasilkan pekerjaan di setiap tahap — budidaya, panen selektif, pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran ekspor. Minimal 2 merek kopi aktif dari Kecamatan Dayeuhluhur
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab Pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi briket ramah lingkungan menerapkan prinsip ekonomi sirkular yang mengurangi limbah produksi. Volume limbah kulit kopi yang dikonversi menjadi briket
SDGs 15: Ekosistem Daratan Perkebunan kopi di lereng pegunungan Dayeuhluhur pada ketinggian 800–900 meter berfungsi sebagai tutupan vegetasi permanen yang mencegah erosi. Luas lahan kopi yang menerapkan standar budidaya OTL (300 hektare)
SDGs 17: Kemitraan untuk Tujuan Keberhasilan menembus COTECA Expo Hamburg dibangun di atas kemitraan antara OTL petani, APEKI, Pemkab Cilacap, dan jaringan pembeli internasional. Partisipasi dalam pameran internasional (COTECA Hamburg 2019)

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Kopi Cilumping relevan untuk direplikasi di desa penghasil kopi lain di Indonesia yang memiliki kualitas produk tinggi namun belum terorganisir untuk memasuki pasar premium [2]. Kunci replikasi terletak pada tiga komponen inti: organisasi petani yang solid, standarisasi kualitas sebagai syarat masuk pasar premium, dan keberanian mengikuti ajang promosi berskala internasional [1].

Strategi scale up meliputi perluasan lahan perkebunan untuk memenuhi permintaan ekspor, diversifikasi ke segmen specialty coffee bermargin lebih tinggi, dan pengembangan lini produk berbasis limbah kopi seperti briket [10]. Pemerintah Kabupaten Cilacap dapat mendorong scale up melalui fasilitasi akses ke pameran dagang internasional berikutnya dan dukungan sertifikasi ekspor [3].

 

Daftar Pustaka

[1] Tim Penulis Inovasi Desa, “ID 00835: Desa Cilumping Cilacap Kembangkan Kopi Robusta Berkualitas, Tembus Pameran Internasional Hamburg,” inovasi.web.id. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/desa-cilumping-cilacap-kembangkan-kopi-robusta-berkualitas-tembus-pameran-internasional-hamburg/

[2] Cilumping.web.id, “Kopi Desa Cilumping — Tag Archive,” cilumping.web.id. [Online]. Tersedia: https://www.cilumping.web.id/tag/kopi-desa/

[3] S. D. Apriani, “Pemkab Cilacap Dorong Perkembangan Kopi Lokal Cilacap,” Radar Banyumas / Disway, 13 Jan. 2024. [Online]. Tersedia: https://radarbanyumas.disway.id/cilacap/read/93560/pemkab-cilacap-dorong-perkembangan-kopi-lokal-cilacap

[4] Instagram Kopi Cilumping, “Kopi Cilumping, Dayeuhluhur, Cilacap — Sempat Jadi Juara Nasional, Ikut Kompetisi Kopi di Jerman dan Jepang,” Instagram. [Online]. Tersedia: https://www.instagram.com/reel/CsONIXLsvcn/

[5] BercahayaNews, “Kopi Cilumping Didorong Lebih Berkembang — Setidaknya Ada 2 Merek yang Mengolah Kopi dari Kecamatan Dayeuhluhur,” bercahayanews.com. [Online]. Tersedia: https://www.bercahayanews.com/kopi-cilumping-didorong-lebih-berkembang/

[6] Inibaru.id, “Desa-Desa Penghasil Kopi Robusta Terbaik di Cilacap,” inibaru.id, 17 Mar. 2023. [Online]. Tersedia: https://inibaru.id/hits/desa-desa-penghasil-kopi-robusta-terbaik-di-cilacap

[7] Peneliti Universitas, “Pemberdayaan Petani Kopi Melalui Pendidikan Nonformal dalam Pengolahan dan Pemasaran Kopi Desa Cilumping,” Scribd, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.scribd.com/document/936173969/

[8] A. Marsialapari, “Pengembangan Usaha Kopi Berbasis Keswadayaan Masyarakat di Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang Tahun 2024,” Jurnal Marsialapari, Yayasan BHZ, Des. 2024. [Online]. Tersedia: https://ejournal.yayasanbhz.org/index.php/Marsialapari/article/view/152

[9] R. Sitanggang et al., “Analisis Dampak Ekonomi Pengolahan Kopi Arabika pada Kelompok Tani Sumber Karya Empat, Kabupaten Bondowoso,” JABIS, Universitas Islam Indonesia. [Online]. Tersedia: https://journal.uii.ac.id/JABIS/article/download/23865/13793

[10] At-Taqwa CPG/Mamusda, “Ubah Limbah Kulit Kopi Jadi Briket Ramah Lingkungan di Desa Cilumping,” at-taqwa-cpg.mamusda.id. [Online]. Tersedia: https://at-taqwa-cpg.mamusda.id/ubah-limbah-kulit-kopi-jadi-briket-ramah-lingkungan-di-desa-cilumping/

BUMDes Boya Peramba Mandiri Mengangkat Potensi Kopi Nupabomba Melalui Digitalisasi Layanan Keuangan Guna Meningkatkan Kesejahteraan Petani Donggala

BUMDes Boya Peramba Mandiri Mengangkat Potensi Kopi Nupabomba Melalui Digitalisasi Layanan Keuangan Guna Meningkatkan Kesejahteraan Petani Donggala

Ringkasan Inovasi

BUMDes Boya Peramba Mandiri di Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, mentransformasi ekonomi desa dengan mengintegrasikan hilirisasi komoditas kopi lokal dan sistem pembayaran digital berbasis QRIS. Inovasi ini mengubah pola penjualan konvensional yang mengandalkan tengkulak menjadi rantai nilai mandiri yang menghasilkan produk kopi olahan siap jual bermerek Napeto Coffee [1]. Dampak nyatanya terlihat dari peningkatan pendapatan petani kopi mitra binaan serta efisiensi transaksi usaha yang kini lebih transparan. Inovasi ini mengantarkan Desa Nupabomba meraih peringkat kelima dari 48 desa peserta program Desa BRIlian wilayah Kanwil BRI Manado, sekaligus menjadi salah satu dari tiga desa pemenang kategori pendampingan langsung pada Inaugurasi Deepening Desa BRIlian, 4 Agustus 2022 [2].

 

Latar Belakang

Desa Nupabomba di dataran tinggi Kabupaten Donggala dianugerahi hamparan perkebunan kopi robusta yang subur, ditanam pada ketinggian 900–1.300 meter di atas permukaan laut, dengan sebagian pohon kopi diwariskan sejak era kolonial Belanda. Kabupaten Donggala mencatat produksi kopi mencapai 378.516 kg per tahun dari sekitar 703 hektare lahan, dengan Nupabomba sebagai salah satu sentra paling potensial [3].

Namun selama bertahun-tahun, kekayaan alam ini belum tergarap maksimal karena pola penjualan konvensional yang bergantung penuh pada tengkulak yang menekan harga beli petani. Sistem pencatatan keuangan usaha desa yang masih manual juga menghambat transparansi yang krusial bagi kepercayaan publik dan pengembangan usaha [1].

Peluang besar terbuka seiring meningkatnya tren konsumsi kopi kekinian di Kota Palu dan sekitarnya. Barista di Kota Donggala, Ari Prasetyo, bahkan sudah lebih dulu mengemas kopi dingin siap minum dari biji Nupabomba dalam botol 250 cc bermerek “Hepipo Donggala” sejak Maret 2022 karena tingginya permintaan pasar yang belum terpenuhi produk lokal [4]. Momentum ini menjadi katalis bagi BUMDes Boya Peramba Mandiri untuk mengambil kendali rantai nilai secara penuh, dari kebun hingga konsumen akhir.

 

Inovasi yang Diterapkan

Muhammad Ayub bersama pengurus BUMDes menjadikan kopi robusta Nupabomba sebagai komoditas inti yang diolah menjadi produk bernilai jual tinggi dengan merek “Napeto Coffee” — nama yang diambil dari bahasa Kaili bermakna “kental/pekat” [5]. BUMDes tidak lagi menjual biji mentah ke tengkulak, melainkan memproduksi green bean, biji sangrai, kopi bubuk, dan drip bag yang dipasarkan ke toko oleh-oleh dan kedai kopi modern di Palu dan Donggala [1].

Inovasi produk ini didukung transformasi digital melalui sistem pembayaran non-tunai QRIS yang terintegrasi dengan aplikasi BRIMO. Seluruh transaksi penjualan BUMDes tercatat otomatis dalam pembukuan digital, meminimalkan risiko kebocoran anggaran dan memudahkan audit [6]. Napeto Coffee turut dipasarkan melalui aplikasi Pasardesa.id serta platform lelang.go.id milik DJKN Kementerian Keuangan melalui skema Lelang Sukarela Non Eksekusi bersama KPKNL Palu, membuka akses pasar digital yang sebelumnya tidak terjangkau petani Nupabomba [9].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses pengembangan dimulai dengan pemetaan potensi lahan perkebunan kopi dan identifikasi petani lokal sebagai mitra strategis yang menjual hasil panennya langsung ke BUMDes. Pengelola kemudian mengikuti program pendampingan intensif Desa BRIlian yang melibatkan akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) untuk mempertajam model bisnis, manajemen keuangan, dan strategi pemasaran [1].

Eksperimen pengolahan pascapanen kopi dilakukan berulang kali untuk menemukan profil cita rasa terbaik — kental, keasaman rendah, dengan dominasi rasa cokelat dan earthy — yang sesuai selera pasar konsumen modern [9]. Harga beli biji kopi yang ditetapkan BUMDes berkisar Rp120.000 hingga Rp150.000 per kilogram, jauh lebih kompetitif dan stabil dibandingkan harga tengkulak yang fluktuatif [3]. Kegagalan pada desain kemasan awal yang kurang menarik menjadi pembelajaran berharga yang mendorong perbaikan visual produk agar lebih kompetitif di rak toko oleh-oleh premium.

Edukasi transaksi digital dilakukan bertahap kepada warga desa yang awalnya awam terhadap teknologi pembayaran non-tunai. Kajian umum tentang sosialisasi QRIS di desa lain di Indonesia menunjukkan bahwa tantangan adopsi semacam ini lazimnya meliputi rendahnya literasi digital, keterbatasan akses internet, dan kekhawatiran keamanan transaksi [6], sejalan dengan temuan umum bahwa transformasi digital desa memerlukan pengenalan bertahap terhadap instrumen pembayaran modern seperti QRIS agar diterima warga [8].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Kendala terbesar adalah rendahnya literasi digital awal warga desa yang belum terbiasa dengan instrumen pembayaran non-tunai. Mitigasinya dilakukan melalui sosialisasi persuasif yang berulang hingga warga percaya bahwa transaksi digital lebih aman dan transparan dibanding uang tunai [6].

Pada sisi produk, desain kemasan awal yang kurang menarik sempat melemahkan daya saing Napeto Coffee di rak toko oleh-oleh premium. Proses penyempurnaan kemasan membutuhkan waktu dan biaya tambahan yang tidak dianggarkan sejak awal, menjadi pelajaran bahwa investasi identitas merek harus diprioritaskan sejak tahap perencanaan produk.

Ketergantungan pada satu komoditas utama juga menjadi kerentanan yang mendorong BUMDes mendiversifikasi produk dan sumber pendapatannya, termasuk melalui program agroforestri tanaman pelindung di kebun kopi warga [9].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah kepemimpinan Muhammad Ayub yang berani bertransformasi dari model pedagang bahan baku menjadi produsen produk jadi bermerek, dengan visi yang ia sampaikan sendiri: “Saya ingin menjadi bagian yang mengembalikan kejayaan Kopi Sulawesi Tengah” [9].

Faktor kedua adalah kemitraan strategis dengan Bank BRI melalui program Desa BRIlian bersama Unsrat yang memberi pendampingan manajemen dan akses ekosistem digital perbankan, serta dukungan Bea Cukai Pantoloan dan DJKN KPKNL Palu yang membuka kanal pemasaran lelang.go.id [9]. Survei BSIP Sulawesi Tengah pada Oktober 2023 turut memperkuat posisi Napeto Coffee dengan data potensi komoditas yang terverifikasi secara ilmiah [5].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Pada Inaugurasi Deepening Desa BRIlian 4 Agustus 2022, Desa Nupabomba meraih peringkat kelima dari 48 desa peserta se-wilayah Kanwil BRI Manado dan masuk sebagai salah satu dari tiga desa pemenang kategori pendampingan langsung, bersama Desa Utaurano (Kepulauan Sangihe) dan Desa Palaes (Minahasa Utara) [2]. Prestasi ini diikuti dukungan pendampingan dan fasilitas dari BRI yang memperkuat kapasitas produksi BUMDes.

Secara ekonomi, petani mitra kini menjual hasil panen langsung ke BUMDes dengan harga stabil Rp120.000–Rp150.000 per kilogram, memotong ketergantungan pada tengkulak. Pendapatan Asli Desa menunjukkan tren peningkatan berkat margin keuntungan penjualan produk olahan kopi dan efisiensi manajemen keuangan digital [3].

Dampak kualitatif terlihat dari perubahan perilaku transaksi masyarakat yang semakin melek literasi keuangan digital. Desa Nupabomba kini memiliki kebanggaan kolektif atas produk lokal bermerek Napeto Coffee yang dikenal hingga tingkat provinsi Sulawesi Tengah dan mendapat liputan lembaga negara seperti KPKNL Palu [9].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pendanaan operasional Napeto Coffee bertumpu pada modal usaha BUMDes yang diperkuat dukungan program Desa BRIlian, termasuk fasilitas pencetakan kemasan dari Bank BRI, tanpa disebutkan nominal investasi awal yang spesifik dalam dokumentasi yang tersedia [1].

Model bisnis bertumpu pada margin selisih harga beli biji kopi dari petani (Rp120.000–150.000/kg) dengan harga jual produk olahan bernilai tambah — kopi bubuk, biji sangrai, dan drip bag — ke toko oleh-oleh, kedai kopi, serta kanal digital Pasardesa.id dan lelang.go.id [9]. Diversifikasi kanal penjualan ini mengurangi ketergantungan BUMDes pada satu jalur distribusi saja.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Nupabomba menunjukkan bahwa hilirisasi komoditas lokal menjadi produk bermerek jauh lebih menguntungkan petani dibanding sekadar menjual bahan mentah, asalkan diikuti investasi serius pada kemasan dan identitas merek sejak awal — kegagalan desain kemasan pertama yang harus diulang menjadi bukti nyata betapa mahalnya mengabaikan aspek ini di tahap perencanaan.

Pelajaran lain adalah bahwa prestasi seperti peringkat dalam kompetisi Desa BRIlian sebaiknya dilaporkan secara presisi — Nupabomba sesungguhnya berperingkat kelima dari 48 desa, bukan sekadar “tiga besar” secara umum, meski termasuk tiga desa pemenang kategori pendampingan langsung. Kejelasan semacam ini penting agar desa lain yang ingin mereplikasi memiliki tolok ukur yang realistis, bukan ekspektasi yang berlebihan.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan usaha dijalankan dengan menjaga konsistensi kualitas cita rasa kopi melalui pengawasan ketat di setiap tahapan produksi dari kebun hingga pengemasan. Pengurus BUMDes berkomitmen memperluas jaringan pemasaran ke marketplace nasional dan toko oleh-oleh premium agar volume penjualan Napeto Coffee tetap stabil [1].

Aspek lingkungan diperhatikan melalui program agroforestri berupa penanaman durian dan alpukat sebagai tanaman pelindung di area perkebunan kopi warga, menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi petani saat panen kopi belum tiba [9]. Penguatan kapasitas SDM pengelola melalui pelatihan manajemen lanjutan memastikan estafet pengelolaan BUMDes tidak bergantung pada satu figur saja.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi hilirisasi kopi dan digitalisasi keuangan BUMDes Boya Peramba Mandiri berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs, memadukan pemberdayaan petani, inklusi keuangan digital, dan pengelolaan ekosistem pertanian berkelanjutan.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan BUMDes memotong rantai ketergantungan petani mitra pada tengkulak dan memastikan harga jual yang stabil dan kompetitif. Harga beli stabil Rp120.000–Rp150.000/kg biji kopi
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Program agroforestri penanaman durian dan alpukat memperkuat ketahanan pangan dan pendapatan alternatif petani di luar musim kopi. Jumlah tanaman pelindung produktif yang ditanam di kebun kopi
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Hilirisasi kopi menciptakan rantai nilai baru yang membuka pekerjaan di sektor pengolahan, pengemasan, dan pemasaran bagi warga desa. Pertumbuhan PADes dari unit usaha kopi BUMDes
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Adopsi QRIS dan sistem BRIMO merupakan modernisasi infrastruktur keuangan desa yang mendukung industrialisasi skala kecil berbasis komoditas lokal. Persentase transaksi BUMDes tercatat melalui QRIS/BRIMO
SDGs 10: Berkurangnya Ketimpangan Inklusi keuangan digital memberi akses transaksi modern kepada warga desa yang selama ini termarjinalkan dari ekosistem keuangan formal. Jumlah warga/pelaku usaha yang menggunakan QRIS BUMDes
SDGs 15: Ekosistem Daratan Penanaman tanaman pelindung di perkebunan kopi menjaga keseimbangan ekosistem daratan dataran tinggi Donggala. Luas kebun kopi yang menerapkan pola agroforestri
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Keberhasilan BUMDes bertumpu pada kemitraan dengan Bank BRI, Unsrat, BSIP Sulteng, Bea Cukai Pantoloan, dan DJKN KPKNL Palu. Jumlah mitra lintas sektor (perbankan, akademisi, instansi negara) yang terlibat

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model bisnis hulu ke hilir komoditas kopi ini layak direplikasi oleh desa dataran tinggi lain di Sulawesi Tengah yang memiliki potensi perkebunan kopi serupa namun belum tergarap optimal. BUMDes Boya Peramba Mandiri membuka diri sebagai pusat pembelajaran bagi pengurus desa lain yang ingin mempelajari integrasi hilirisasi produk lokal dan digitalisasi keuangan berbasis QRIS [10]. Praktik adopsi QRIS oleh UMKM desa secara umum juga menunjukkan bahwa keberhasilan digitalisasi serupa sangat bergantung pada pendampingan berkelanjutan, bukan hanya penyediaan alat pembayaran semata [11].

Strategi scale up dilakukan dengan mengembangkan varian produk turunan kopi seperti masker wajah organik dan pengharum ruangan berbahan biji kopi untuk memperluas segmen pasar. Ekspansi ke luar provinsi melalui marketplace digital nasional seperti Pasardesa.id dan lelang.go.id sudah mulai dijajaki [7]. Rencana pendirian kedai kopi signature Napeto Coffee di pusat Kota Palu akan menjadikan Nupabomba pemilik merek yang hadir langsung di hadapan konsumen akhir.

 

Daftar Pustaka

[1] Mercusuar, “BRIlian Dorong Kemajuan BUMDes Boya Peramba Mandiri,” mercusuar.web.id, 9 Mar. 2024. [Online]. Tersedia: https://mercusuar.web.id/donggala/brilian-dorong-kemajuan-bumdes-boya-peramba-mandiri/

[2] Website Resmi Desa Nupabomba, “Inaugurasi Deepening Desa BRIlian 2022,” nupabomba.digitaldesa.id, 4 Ags. 2022. [Online]. Tersedia: https://nupabomba.digitaldesa.id/berita/inaugurasi-deepening-desa-brilian-2022

[3] Website Resmi Desa Nupabomba, “Produksi Kopi di Donggala Capai 378.516 Kg Per Tahun,” nupabomba.digitaldesa.id, 18 Nov. 2023. [Online]. Tersedia: https://nupabomba.digitaldesa.id/berita/produksi-kopi-di-donggala-capai-378516-kg-per-tahun

[4] Alkhairaat Media, “Dikemas Menarik, Kopi Nupabomba Semakin Diminati,” media.alkhairaat.id, 26 Apr. 2022. [Online]. Tersedia: https://media.alkhairaat.id/dikemas-menarik-kopi-nupabomba-semakin-diminati/

[5] BSIP Sulawesi Tengah, “BSIP Sulawesi Tengah Lakukan Survei Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Kopi di Kabupaten Donggala,” sulteng.brmp.pertanian.go.id, 18 Okt. 2023. [Online]. Tersedia: https://sulteng.brmp.pertanian.go.id/berita/bsip-sulawesi-tengah-lakukan-survei-pelaku-utama-dan-pelaku-usaha-kopi-di-kabupaten-donggala

[6] R. Ramadhan et al., “Sosialisasi QRIS: Peluang dan Tantangan Digital Keuangan Desa (Studi Kasus Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang),” Optimal: Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan, vol. 18, no. 2, 2024. [Online]. Tersedia: https://researchhub.id/index.php/optimal/article/view/8313

[7] Pasardesa.id, “Napeto Coffee dari BUMDes Boya Peramba Mandiri di Aplikasi Pasardesa,” Instagram @pasardesa_id. [Online]. Tersedia: https://www.instagram.com/pasardesa_id/

[8] Tim KKN UMGresik, “Transformasi Digital Desa: Mengenal QRIS sebagai Instrumen Pembayaran Modern di Desa,” Prosiding KKN Universitas Muhammadiyah Gresik, 2023. [Online]. Tersedia: https://journal.umg.ac.id/index.php/prosidingkkn/article/download/8901/4717/30630

[9] N. P. Artanti, “Mengangkat Sejarah dalam Cita Rasa: Kopi Asa UMKM Napeto Coffee,” KPKNL Palu — DJKN Kementerian Keuangan RI, djkn.kemenkeu.go.id, 22 Mei 2023. [Online]. Tersedia: https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-palu/baca-berita/32251/Mengangkat-Sejarah-Dalam-Cita-Rasa-Kopi-Asa-UMKM-Napeto-Coffee.html

[10] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “Replikasi Inovasi Desa,” inovasi.web.id. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/tag/replikasi-inovasi-desa/

[11] M. F. Pramana et al., “Implementasi QRIS dalam Mendukung Digitalisasi UMKM di Desa,” Jurnal Abdimas Nusantara Global, 2024. [Online]. Tersedia: https://ejournal.nusantaraglobal.or.id/index.php/ejoin/article/download/3434/3381/19049

Desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu Kelola Bank Sampah BSI Tingkatkan Ekonomi Warga dan Bersihkan Lingkungan Pegunungan Secara Mandiri

Desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu Kelola Bank Sampah BSI Tingkatkan Ekonomi Warga dan Bersihkan Lingkungan Pegunungan Secara Mandiri

Ringkasan Inovasi

Bank Sampah Bersih Sehat dan Indah (BSI) hadir sebagai solusi pengelolaan limbah rumah tangga di Kampung Sukajadi, RW 03, Desa Sugihmukti, yang terletak di kaki Gunung Patuha pada ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut [1]. Program ini mengubah sampah rumah tangga menjadi tabungan bernilai ekonomi melalui mekanisme yang meniru sistem perbankan konvensional. Tujuan utama program ini adalah mendidik warga untuk tidak lagi membuang atau membakar sampah sembarangan sekaligus memberi nilai ekonomi dari limbah yang dihasilkan rumah tangga [1]. Setelah beroperasi sekitar dua tahun sejak dirintis warga RW 03 dengan dukungan Pemerintah Desa Sugihmukti, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung, dan PT Geo Dipa Energi Unit Patuha, program ini menjadi salah satu rujukan pengelolaan bank sampah tingkat desa di Kabupaten Bandung [1].

 

Latar Belakang

Desa Sugihmukti terletak di kawasan pegunungan kaki Gunung Patuha dengan udara sejuk dan bentang alam berupa perkebunan dan hutan yang dihuni lebih dari 100 jenis burung endemik, serta berpenduduk sekitar 10.791 jiwa [6]. Sebelum adanya Bank Sampah BSI, sebagian warga masih terbiasa membakar sisa rumah tangga di pekarangan, sebuah kebiasaan yang berisiko mencemari udara pegunungan yang bersih.

Pemerintah Desa Sugihmukti bersama warga RW 03 Kampung Sukajadi memandang tumpukan sampah rumah tangga yang selama ini dianggap tidak bernilai sebagai peluang ekonomi tambahan bagi warga, sekaligus cara mengatasi minimnya fasilitas pengelolaan limbah di kawasan tersebut [1]. Kondisi ini sejalan dengan mandat visi-misi Pemerintah Desa Sugihmukti untuk mengolah sampah agar memiliki nilai ekonomis bagi warganya [1].

Inovasi yang Diterapkan

Bank Sampah BSI (Bersih, Sehat, dan Indah) digagas warga RW 03 Kampung Sukajadi bersama aparat kewilayahan dan Karang Taruna setempat sebagai lembaga yang mengonversi sampah rumah tangga menjadi saldo tabungan warga [1]. Slogan program ini adalah “Sayangi Desa Kita, Pelihara Kampung Kita” [1].

Warga bertindak sebagai nasabah yang menyetorkan sampah kering hasil pemilahan mandiri untuk ditimbang petugas, kemudian dikonversi menjadi saldo di buku tabungan berdasarkan harga pasar material seperti botol plastik, kertas, dan logam. Sistem ini dilengkapi pembukuan sederhana yang dapat dipantau nasabah, sehingga membangun kepercayaan antara warga dan pengelola.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses pengembangan dimulai dengan sosialisasi dari pintu ke pintu oleh relawan Karang Taruna untuk menjemput sampah sekaligus mengedukasi warga tentang bahaya membakar sampah. Pendekatan personal ini membantu meruntuhkan keraguan warga yang awalnya skeptis terhadap program baru ini.

Pengurus sempat menerapkan metode penjemputan sampah secara serentak dalam satu hari untuk seluruh kepala keluarga, namun cara ini terbukti tidak efisien dan menyebabkan kelelahan pada relawan lapangan mengingat medan pegunungan yang terjal. Pengalaman ini mendorong pengurus mengubah sistem menjadi jadwal penjemputan bergilir berdasarkan zona RT, yang terbukti lebih berkelanjutan bagi relawan maupun nasabah.

PT Geo Dipa Energi Unit Patuha memberikan pendampingan intensif dalam pemanfaatan sampah, sementara Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung menyediakan satu unit Cator (gerobak motor) untuk mengangkut sampah dari titik pengumpulan [1]. Belakangan, kerja sama diperluas melalui program tanggung jawab sosial PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama PT Pindad di bawah konsorsium Defend ID dan PT Geo Dipa Energi Unit Patuha, yang pada 19 Desember 2025 meresmikan program pengolahan sampah ramah lingkungan di Desa Sugihmukti dengan Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESMA) Sugih Alam Lestari sebagai pengelola [2].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan awal adalah mengubah cara pandang warga yang menganggap sampah sebagai barang kotor yang tidak layak disentuh atau dipilah. Pengurus mengatasinya melalui edukasi langsung dari pintu ke pintu dan penjelasan rinci mengenai harga setiap jenis material, sehingga warga dapat memperkirakan sendiri manfaat ekonomi dari pemilahan.

Harga beli sampah plastik yang relatif rendah di tingkat pengepul besar sempat membuat sebagian warga merasa kompensasi tidak sebanding dengan usaha memilah. Kendala logistik berupa medan pegunungan yang terjal juga menyulitkan penjemputan rutin di beberapa titik terpencil, sehingga pengurus mengubah jadwal penjemputan serentak menjadi jadwal bergilir per zona RT untuk menjaga konsistensi layanan dan kepercayaan nasabah.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Dukungan Pemerintah Desa Sugihmukti di bawah Kepala Desa H. Ruswan Bukhori dalam memberikan payung kebijakan dan sarana prasarana menjadi faktor penentu utama keberlangsungan program. Karang Taruna berperan sebagai motor penggerak operasional harian yang menjembatani warga dengan pengelola.

Kemitraan dengan PT Geo Dipa Energi Unit Patuha sebagai penyedia energi panas bumi di sekitar desa turut menjadi faktor eksternal penting yang memberikan pendampingan teknis pengelolaan sampah [1]. Perusahaan yang sama juga tercatat aktif membina pelaku UMKM produk lokal di sekitar wilayah kerjanya, menunjukkan pola kemitraan CSR yang konsisten dan berkelanjutan bagi desa-desa penyangga [3], dengan capaian program tanggung jawab sosial yang terus dilaporkan setiap tahunnya [5]. Transparansi dalam proses penimbangan dan pencatatan saldo tabungan menjadi kunci kepercayaan warga terhadap keberlanjutan bank sampah ini.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Setelah beroperasi sekitar dua tahun, Bank Sampah BSI telah menjadi salah satu percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Desa Sugihmukti dan dirujuk oleh Pemerintah Kabupaten Bandung sebagai model yang layak dikembangkan ke RW lain di desa yang sama [1]. Warga kini memiliki sumber pendapatan tambahan dari hasil pemilahan sampah rumah tangga.

Secara kualitatif, kebiasaan membakar sampah sembarangan berangsur berkurang seiring warga terbiasa memilah sampah kering untuk ditabung. Pertemuan rutin di titik penyetoran turut mempererat interaksi antarwarga sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif menjaga kebersihan lingkungan kampung.

Perluasan dukungan melalui kemitraan CSR PTDI, Pindad, dan Geo Dipa Energi pada akhir 2025 menandai babak baru pengembangan fasilitas pengolahan sampah di Desa Sugihmukti yang dikelola BUMDESMA Sugih Alam Lestari, memperluas cakupan program dari sekadar bank sampah tingkat RW menjadi fasilitas pengolahan berskala desa [2].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal dan operasional Bank Sampah BSI ditopang kombinasi dukungan lintas pihak: Pemerintah Desa Sugihmukti menyediakan payung kebijakan dan fasilitas dasar, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung menyumbang sarana angkut berupa Cator, dan PT Geo Dipa Energi Unit Patuha memberikan pendampingan teknis pemanfaatan sampah sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan panas bumi tersebut [1].

Model bisnis bank sampah bertumpu pada selisih harga jual material daur ulang ke pengepul dengan nilai yang dikreditkan ke saldo tabungan nasabah, sehingga bank sampah memperoleh margin operasional dari volume material yang berhasil dikumpulkan. Perluasan pendanaan terbaru datang dari kemitraan CSR PTDI, Pindad (konsorsium Defend ID), dan Geo Dipa Energi yang membangun fasilitas pengolahan sampah ramah lingkungan dikelola BUMDESMA Sugih Alam Lestari, memperkuat basis pembiayaan program di luar swadaya desa semata [2].

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Bank Sampah BSI menunjukkan bahwa pendekatan edukasi personal dari pintu ke pintu jauh lebih efektif mengubah kebiasaan warga dibanding sosialisasi massal satu arah, terutama di masyarakat yang awalnya skeptis terhadap program baru. Kegagalan awal dalam skema penjemputan serentak sehari penuh juga mengajarkan pentingnya menyesuaikan operasional dengan kondisi geografis riil, bukan hanya rencana di atas kertas.

Pelajaran lain adalah pentingnya membangun kemitraan bertahap: bank sampah yang semula murni inisiatif swadaya RW berhasil menarik dukungan bertingkat, mulai dari pemerintah desa dan kabupaten hingga akhirnya kemitraan CSR perusahaan besar seperti PTDI dan Pindad, yang menunjukkan bahwa keberhasilan skala kecil dapat menjadi bukti konsep yang meyakinkan mitra yang lebih besar untuk berinvestasi.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan program ditopang kolaborasi berkelanjutan antara Pemerintah Desa Sugihmukti, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung, dan PT Geo Dipa Energi Unit Patuha, yang kini diperluas dengan kemitraan CSR PTDI dan Pindad melalui BUMDESMA Sugih Alam Lestari untuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah ramah lingkungan [2]. Kepala Desa menyampaikan rencana mengembangkan Bank Sampah BSI ke RW lain di Desa Sugihmukti sebagai langkah perluasan bertahap [1].

Pembinaan berkelanjutan dari kelompok pemerhati lingkungan turut memperkuat kapasitas warga dalam mengelola bank sampah secara mandiri, sehingga keberlangsungan program tidak bergantung pada satu atau dua penggerak saja.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Bank Sampah Bersih Sehat dan Indah berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di tingkat desa.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Unit bank sampah menciptakan peluang penghasilan tambahan bagi warga melalui konversi limbah menjadi saldo tabungan yang dapat dicairkan untuk kebutuhan keluarga. Jumlah nasabah aktif bank sampah RW 03
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pengelolaan limbah menciptakan peran operasional bagi pemuda Karang Taruna dan mendorong ekonomi sirkular tingkat kampung. Jumlah relawan/petugas Karang Taruna yang terlibat
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan Sistem pengelolaan sampah mandiri mengurangi praktik pembakaran sampah yang berisiko mencemari kualitas udara di kawasan permukiman pegunungan. Jumlah rumah tangga yang beralih dari membakar ke memilah sampah
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab Edukasi pemilahan sampah mendorong warga mengelola kembali limbah rumah tangga melalui proses daur ulang alih-alih membuang atau membakarnya. Volume/jenis material daur ulang yang terkumpul per periode
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi Pemerintah Desa, DLH Kabupaten Bandung, PT Geo Dipa Energi, serta konsorsium CSR PTDI dan Pindad melalui BUMDESMA mencerminkan kemitraan multipihak dalam pengelolaan sampah desa. Jumlah mitra aktif (pemerintah, BUMN, BUMDESMA) yang terlibat

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Kepala Desa Sugihmukti telah menyampaikan rencana memperluas Bank Sampah BSI ke RW lain di desa yang sama sebagai langkah replikasi internal paling dekat [1]. Model pengelolaan berbasis RW dengan penjemputan bergilir per zona ini relatif mudah diadaptasi oleh desa lain di Kabupaten Bandung yang memiliki karakteristik geografis pegunungan serupa.

Perluasan dukungan dari kemitraan CSR PTDI, Pindad, dan Geo Dipa Energi melalui BUMDESMA Sugih Alam Lestari membuka peluang scale up dari bank sampah tingkat RW menjadi fasilitas pengolahan sampah berskala desa yang lebih permanen [2]. Model kemitraan bertingkat ini — dari swadaya RW, dukungan pemerintah kabupaten, hingga CSR korporasi BUMN — dapat menjadi rujukan bagi desa lain di kawasan penghasil energi panas bumi yang ingin mereplikasi pendekatan serupa, sejalan dengan arah program prioritas Kabupaten Bandung yang mendorong pengelolaan sampah berbasis desa di berbagai kecamatan [4].

 

Daftar Pustaka

[1] “Bank Sampah BSI, Percontohan Bank Sampah di Desa Sugihmukti,” Warta Parahyangan, 24 Jan. 2024. [Online]. Tersedia: https://wartaparahyangan.com/bank-sampah-bsi-percontohan-bank-sampah-di-desa-sugihmukti/

[2] I. Satyawati and A. Prastowo, “PTDI Bersama Defend ID Resmikan Program CSR Pengolahan Sampah Ramah Lingkungan,” PT Dirgantara Indonesia, 19 Des. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.indonesian-aerospace.com/en/media/press_release/detail/349/ptdi-bersama-defend-id-resmikan-program-csr-pengolahan-sampah-ramah-lingkungan

[3] “Kembangkan Produk Lokal, PT Geo Dipa Energi Unit Patuha Bina Pelaku UMKM,” Warta Parahyangan. [Online]. Tersedia: https://wartaparahyangan.com/kembangkan-produk-lokal-pt-geo-dipa-energi-unit-patuha-bina-pelaku-umkm/

[4] “Bupati Bandung Evaluasi Program Kampung Bedas,” RMOL Jabar. [Online]. Tersedia: https://www.rmoljabar.id/bupati-bandung-evaluasi-program-kampung-bedas

[5] “Pencapaian Target 2023 PT Geo Dipa Energi (Persero) Unit Patuha,” Bandung Berita. [Online]. Tersedia: https://bandungberita.com/pencapaian-target-2023-pt-geo-dipa-energi-persero-unit-patuha/

[6] “Desa Wisata Sugihmukti,” Jadesta — Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/sugihmukti_1

Desa Sidamukti Kecamatan Patimuan Cilacap Diversifikasi Pangan Berbasis Mocaf dan Wujudkan Kemandirian Pangan Desa yang Tangguh

Desa Sidamukti Kecamatan Patimuan Cilacap Diversifikasi Pangan Berbasis Mocaf dan Wujudkan Kemandirian Pangan Desa yang Tangguh

Ringkasan Inovasi

Desa Sidamukti, Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap, membangun sistem ketahanan pangan yang menggerakkan warga — terutama pemuda dan kelompok tani — untuk mengolah kekayaan lokal menjadi produk pangan unggulan bernilai tinggi. Inti inovasi ini adalah diversifikasi produk pertanian dari komoditas mentah menjadi berbagai produk olahan bermerek, antara lain tepung Mocaf (Modified Cassava Flour) dari singkong fermentasi, beras organik, beras merah, kopi bubuk, gula semut, keripik tempe, hingga produk turunan jagung dan buah-buahan [1]. Tujuan utamanya adalah memutus ketergantungan Sidamukti pada beras sebagai satu-satunya sumber pangan pokok dan meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian yang selama ini dijual mentah dengan harga rendah [2]. Dampaknya berlapis: petani memiliki sumber pendapatan yang lebih beragam, warga mengakses pangan yang lebih bergizi, dan Sidamukti berkembang menjadi salah satu desa yang diusulkan sebagai percontohan ketahanan pangan Jawa Tengah 2026, dalam konteks program diversifikasi pangan berbasis singkong yang juga didukung Badan Pangan Nasional (NFA/Bapanas) di Kabupaten Cilacap [3].

 

Latar Belakang

Desa Sidamukti selama ini terlalu bergantung pada produksi beras sebagai satu-satunya pilar ketahanan pangan warga — ketergantungan yang membuat desa rentan terhadap gangguan cuaca, kegagalan panen, dan fluktuasi harga beras di pasar. Kepala Desa Sutrisno menggambarkan kondisi ini secara gamblang: “Kita harus belajar dari pengalaman masa lalu, di mana ketergantungan yang berlebihan pada beras membuat kita rentan terhadap krisis pangan” [2].

Di sisi lain, Sidamukti menyimpan kekayaan alam yang belum dioptimalkan: lahan subur yang cocok untuk singkong, ubi jalar, jagung, kedelai, kopi, serta buah-buahan dan sayuran. Potensi ini belum menghasilkan nilai tambah berarti karena warga belum memiliki pengetahuan dan teknologi pascapanen untuk mengolah komoditas lokal menjadi produk berdaya saing pasar [1].

Momentum akselerasi datang ketika Kabupaten Cilacap menggulirkan program diversifikasi pangan berbasis singkong, didukung Badan Pangan Nasional (NFA) melalui program penguatan UMKM mocaf di wilayah Cilacap — termasuk UMKM Mocafetela di Desa Karangreja dan sekitarnya, yang kapasitas produksinya meningkat dari 2–3 ton menjadi 8–10 ton per bulan setelah mendapat dukungan peralatan NFA [3]. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Cilacap, Sigit Widianto, menegaskan bahwa “tepung mocaf dapat semakin diminati dan menjadi alternatif pangan pokok yang sehat dan terjangkau,” dan Desa Sidamukti turut memanfaatkan momentum kebijakan regional ini untuk mengembangkan produk mocaf dan diversifikasi pangannya sendiri [3].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi lahir dari musyawarah antara Kepala Desa Sutrisno, perangkat desa, kelompok tani, dan pemuda Karang Taruna yang bersepakat merancang Program Diversifikasi Sumber Pangan berbasis potensi pertanian lokal. Produk andalan yang dikembangkan adalah tepung Mocaf — tepung berbahan dasar singkong fermentasi yang dapat mensubstitusi tepung terigu, dengan kandungan gluten lebih rendah dan cocok bagi penderita sensitivitas gluten [5].

Inovasi ini juga mencakup pengembangan beras analog berindeks glikemik rendah, beras organik bermerek desa, kopi bubuk, gula semut, dan berbagai produk olahan singkong, jagung, serta buah-buahan lokal yang sebelumnya hanya dijual mentah [1]. Inovasi bekerja dalam dua jalur yang saling menopang: jalur produksi nilai tambah, di mana warga mengolah hasil tani menjadi produk siap konsumsi bermerek desa yang dipasarkan ke toko oleh-oleh, swalayan, dan kanal digital; serta jalur teknologi pertanian modern berupa irigasi tetes, alat pengolah lahan mekanis, dan sensor pemantau kondisi tanah [9].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai dengan pemetaan potensi pertanian lokal oleh perangkat desa bersama kelompok tani dan Karang Taruna, mengidentifikasi lahan kosong produktif untuk tanaman pangan diversifikasi. Lahan tersebut ditanami singkong, ubi jalar, dan sayuran organik, sementara Pemerintah Desa mengalokasikan anggaran untuk benih, pupuk, dan bantuan ternak bagi kelompok tani yang membutuhkan modal awal [2].

Pada tahap pengembangan teknologi, desa memperkenalkan digitalisasi pertanian melalui uji coba sensor tanah dan sistem irigasi tetes yang memberikan pembelajaran tentang efisiensi penggunaan air dan konsistensi kualitas hasil panen [9]. Pengolahan Mocaf dan pertanian organik terintegrasi dijadikan pilot project resmi untuk menguatkan ketahanan pangan sesuai kearifan lokal, sebagaimana termaktub dalam rencana pembangunan desa [4].

Proses ini tidak berjalan mulus sepenuhnya: keterbatasan modal awal untuk membeli peralatan pengolahan modern sempat menghambat kecepatan produksi, mendorong perangkat desa menggandeng mitra dari luar desa. Hambatan pemasaran pada fase awal juga memaksa tim desa mengembangkan strategi distribusi lintas saluran, menggabungkan pemasaran offline di pasar tradisional dan pameran daerah dengan pemasaran online melalui platform digital [1].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar adalah mengubah kebiasaan konsumsi warga yang sudah puluhan tahun bergantung pada nasi sebagai makanan pokok — resistensi budaya yang jauh lebih sulit diatasi dibandingkan tantangan teknis manapun. Resistensi ini memperlambat adopsi produk pangan alternatif seperti Mocaf dan beras analog pada tahap awal program [2]. Mitigasinya, tim desa menyelenggarakan demonstrasi memasak langsung dan cicip produk agar warga merasakan sendiri bahwa alternatif pangan lokal itu nyaman dan lezat, strategi yang terbukti lebih efektif dibanding penyuluhan konvensional [2].

Dari sisi teknis dan finansial, penerapan teknologi pertanian modern seperti sensor tanah dan irigasi tetes membutuhkan biaya investasi awal yang melampaui kemampuan petani secara mandiri, sementara petani lanjut usia kesulitan mengoperasikan perangkat digital baru. Kendala ini dimitigasi melalui pencarian skema pembiayaan alternatif dari kemitraan dan program bantuan pemerintah, serta pendampingan intensif dengan waktu adaptasi yang lebih panjang dari rencana semula [2].

Keterbatasan modal awal untuk peralatan pengolahan dan hambatan pemasaran pada fase awal juga sempat menghambat produksi, sebagaimana dicatat pada tahap Proses Penerapan Inovasi. Setiap hambatan dijadikan bahan evaluasi partisipatif yang menghasilkan penyempurnaan sistem produksi dan distribusi secara bertahap, membangun kapasitas kelembagaan desa yang semakin kuat dari satu siklus ke siklus berikutnya [1].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Kepemimpinan Kepala Desa Sutrisno yang proaktif dan konsisten menjadi faktor penentu utama yang menjaga momentum inovasi tetap hidup meski menghadapi berbagai hambatan. Integrasi program ketahanan pangan ke dalam RPJMDes memastikan alokasi anggaran Dana Desa yang berkesinambungan, bukan hanya proyek musiman yang bergantung pada dana eksternal [4].

Peran aktif pemuda dan Karang Taruna dalam mengelola lahan kosong produktif serta menguasai teknik pengolahan produk bernilai tambah mempercepat penerapan inovasi di lapangan [1]. Dukungan kelembagaan dari Badan Pangan Nasional dan Pemerintah Kabupaten Cilacap yang mempromosikan mocaf sebagai produk unggulan daerah memperkuat posisi Sidamukti dalam ekosistem ketahanan pangan yang lebih luas [3]. Riset pengembangan teknologi Mocaf oleh peneliti Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, yang program pemberdayaannya telah menjangkau ribuan warga di sejumlah desa Banyumas, turut menjadi rujukan ilmiah yang memperkuat kredibilitas teknis produk mocaf yang dikembangkan desa-desa seperti Sidamukti [5].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Program diversifikasi pangan di Sidamukti memperkuat ketahanan pangan warga secara struktural sehingga desa tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu komoditas. Warga Bu Tuti merasakan perubahan ini: “Sejak ada program ini, saya tidak lagi khawatir kehabisan bahan makanan. Sekarang kami sekeluarga bisa makan enak dan sehat setiap hari” [2].

Secara ekonomi, diversifikasi produk membuka sumber penghasilan baru bagi petani yang sebelumnya hanya mengandalkan penjualan hasil mentah. Bu Sari, salah satu petani-pengolah desa, merasakan dampak langsung: “Dulu saya hanya menjual jagung mentah dengan harga yang murah. Sekarang, setelah saya mengolahnya menjadi keripik jagung, nilai jualnya bisa berkali-kali lipat” [1].

Secara sosial, program ini meningkatkan kesadaran gizi warga karena konsumsi pangan yang beragam memastikan tubuh memperoleh nutrisi yang lebih lengkap. Pola konsumsi yang sebelumnya didominasi nasi putih kini diperkaya dengan beras merah, beras analog berindeks glikemik rendah, dan produk berbasis singkong yang lebih kaya serat [2]. Sidamukti kini diusulkan sebagai salah satu desa percontohan ketahanan pangan Jawa Tengah 2026, sejalan dengan komitmen Kabupaten Cilacap mendukung program diversifikasi pangan berbasis singkong dan mocaf [7].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pendanaan utama program bersumber dari Dana Desa yang dialokasikan untuk pengadaan benih, pupuk, bantuan ternak, serta pelatihan pengolahan hasil panen, dengan program ini diintegrasikan ke dalam RPJMDes agar mendapat alokasi anggaran yang berkesinambungan [4]. Dukungan teknis tambahan datang dari kemitraan dengan Badan Pangan Nasional dan Pemerintah Kabupaten Cilacap dalam kerangka program diversifikasi pangan regional, meski dukungan peralatan produksi berskala besar dari NFA saat ini lebih terfokus pada UMKM Mocafetela di Desa Karangreja [3].

Model bisnis yang dijalankan bertumpu pada penjualan produk olahan bermerek desa — tepung Mocaf, beras organik, kopi bubuk, gula semut, dan keripik — melalui toko oleh-oleh, swalayan lokal, pameran daerah seperti Car Free Day Cilacap, dan kanal pemasaran digital [1]. Skema ini memungkinkan nilai tambah hasil panen dinikmati langsung oleh petani-pengolah, alih-alih hanya oleh tengkulak yang membeli komoditas mentah.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Sidamukti menunjukkan bahwa mengubah kebiasaan makan warga membutuhkan pendekatan berbasis pengalaman langsung — demonstrasi memasak dan cicip produk — yang jauh lebih efektif daripada sekadar penyuluhan konvensional. Ketergantungan berlebihan pada satu jenis pangan pokok terbukti rentan terhadap gangguan cuaca dan fluktuasi harga, sehingga diversifikasi komoditas menjadi strategi mitigasi risiko pangan yang penting bagi desa lain dengan karakteristik agraris serupa.

Pelajaran lain adalah pentingnya mengintegrasikan program inovasi ke dalam dokumen perencanaan resmi seperti RPJMDes agar keberlanjutan pendanaannya tidak bergantung pada bantuan eksternal yang bersifat sementara. Desa juga perlu realistis bahwa dukungan program nasional seperti NFA/Bapanas seringkali terfokus pada lokasi UMKM tertentu di suatu kabupaten, sehingga desa yang ingin direplikasi perlu membangun kapasitas produksi dan kemitraan pasarnya sendiri secara mandiri, bukan semata mengandalkan program yang sedang berjalan di desa tetangga.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi dijaga melalui integrasi program ketahanan pangan ke dalam RPJMDes, yang memastikan alokasi anggaran Dana Desa untuk kegiatan pertanian diversifikasi berjalan rutin tanpa bergantung pada proyek bantuan luar yang bersifat sementara [4]. Kelompok tani dan Karang Taruna dikuatkan kapasitasnya melalui pelatihan berkelanjutan mulai dari teknik budidaya, pengolahan produk, hingga manajemen pemasaran digital.

Kemitraan strategis dengan Bapanas/NFA dan Pemerintah Kabupaten Cilacap terus diperkuat untuk memastikan produk Mocaf dan beras analog Sidamukti mendapat akses pasar yang semakin luas [3]. Dengan integrasi RPJMDes dan kemitraan kelembagaan yang kuat, model ketahanan pangan Sidamukti dirancang untuk terus hidup melampaui masa kepemimpinan desa saat ini.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi diversifikasi pangan Desa Sidamukti berkontribusi pada beberapa dimensi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), dari pengentasan kemiskinan petani hingga kontribusi pada kesehatan masyarakat melalui pola konsumsi pangan yang lebih beragam.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Diversifikasi produk pertanian membuka sumber penghasilan baru yang lebih beragam bagi petani Sidamukti yang sebelumnya hanya mengandalkan penjualan padi mentah. Jumlah produk olahan bermerek yang dipasarkan (Mocaf, beras organik, kopi, gula semut, keripik)
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Produksi komoditas pangan lokal yang terdiversifikasi memastikan ketersediaan bahan makanan pokok sepanjang tahun, bahkan saat gagal panen beras akibat cuaca ekstrem. Jumlah jenis komoditas pangan yang dibudidayakan selain padi
SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera Konsumsi pangan yang beragam — beras merah, produk berbasis singkong kaya serat, sayuran organik, beras analog berindeks glikemik rendah — meningkatkan asupan nutrisi seimbang warga. Tingkat keberagaman pola konsumsi pangan rumah tangga
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Program diversifikasi produk menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengolahan, pengemasan, distribusi, dan pemasaran digital yang menyerap pemuda Karang Taruna. Jumlah pemuda/warga produktif yang terserap dalam unit pengolahan
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab Produksi beras organik dan sayuran organik yang meminimalkan bahan kimia berkontribusi pada pertanian berkelanjutan yang menjaga kesehatan tanah dan air desa. Luas lahan pertanian organik yang dikelola
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara Pemerintah Desa Sidamukti, Kelompok Tani, Karang Taruna, Dinas Ketahanan Pangan Cilacap, dan Badan Pangan Nasional membentuk ekosistem kemitraan multipihak. Jumlah mitra aktif (pemerintah kabupaten, NFA, akademisi) yang terlibat

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model ketahanan pangan Sidamukti relevan untuk direplikasi di desa-desa lain Cilacap yang memiliki lahan singkong, jagung, dan tanaman lokal melimpah namun belum terkelola produktif. Preseden sudah ada: UMKM Mocafetela di Desa Karangreja yang kapasitas produksinya tumbuh dari 2–3 ton menjadi 8–10 ton mocaf per bulan setelah dukungan NFA, sebagaimana dirinci dalam publikasi resmi Bapanas mengenai diversifikasi pangan berbasis singkong di Cilacap [8], serta kajian pemberdayaan komunitas mocaf di Karangreja yang mendokumentasikan model serupa [3] [10].

Tiga kunci replikasi yang teridentifikasi dari pengalaman Sidamukti adalah: pelatihan pengolahan produk pangan berbasis komoditas lokal yang spesifik; dukungan modal awal untuk teknologi pertanian; dan komitmen kepala desa mengintegrasikan program ke dalam RPJMDes sebagai agenda pembangunan resmi. Secara nasional, pengembangan tepung Mocaf sejalan dengan agenda pemerintah memangkas ketergantungan impor gandum yang sempat mencapai sekitar 11 juta ton pada 2022 sebelum turun ke kisaran 9 juta ton pada 2023, menjadikan setiap desa penghasil Mocaf sebagai kontributor terhadap kedaulatan pangan nasional [6].

 

Daftar Pustaka

[1] Desa Sidamukti, “Inovasi Sidamukti: Diversifikasi Produk untuk Pertanian Maksimal,” sidamukti.desa.id, 10 Agt. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.sidamukti.desa.id/inovasi-sidamukti-diversifikasi-produk-untuk-pertanian-maksimal/

[2] Desa Sidamukti, “Sidamukti Menuju Ketahanan Pangan Melalui Inovasi Diversifikasi Sumber Pangan,” sidamukti.desa.id, 24 Agt. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.sidamukti.desa.id/sidamukti-menuju-ketahanan-pangan-melalui-inovasi-diversifikasi-sumber-pangan/

[3] Badan Pangan Nasional (NFA), “Menuju Swasembada Pangan Lokal, Dukungan NFA untuk UMKM Mocafetela Tingkatkan Produksi Mocaf di Cilacap,” badanpangan.go.id, 7 Mei 2025. [Online]. Tersedia: https://badanpangan.go.id/blog/post/menuju-swasembada-pangan-lokal-dukungan-nfa-untuk-umkm-mocafetela-tingkatkan-produksi-mocaf

[4] Desa Sidamukti, “Program Ketahanan Pangan Desa,” sidamukti.desa.id. [Online]. Tersedia: https://www.sidamukti.desa.id/program-ketahanan-pangan-desa/

[5] Unsoed Berdampak, “MOCAF: Inovasi Ketahanan Pangan Alternatif, Ubah Singkong Jadi Tepung Bebas Gluten,” YouTube, 19 Okt. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=UVgVyCEtDxM

[6] MOCANA, “MOCAF untuk Ketahanan Pangan Nusantara — Indonesia dan Impor Gandum,” YouTube, 18 Feb. 2026. [Online]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=Gouh7KooUlw

[7] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “ID 00841: Desa Sidamukti Cilacap Terapkan Diversifikasi Pangan Berbasis Mocaf dan Wujudkan Kemandirian Pangan Desa,” inovasi.web.id, 7 Apr. 2026. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/id-00841-desa-sidamukti-cilacap-terapkan-diversifikasi-pangan-berbasis-mocaf-dan-wujudkan-kemandirian-pangan-desa/

[8] Perpustakaan Digital Badan Pangan Nasional, “Diversifikasi Pangan Berbasis Singkong dan Pengembangan Mocaf di Kabupaten Cilacap,” pustaka.badanpangan.go.id, 7 Mei 2025. [Online]. Tersedia: https://pustaka.badanpangan.go.id/publikasi/ac1dd209cbcc5e5d1c6e28598e8cbbe8

[9] Desa Sidamukti, “Inovasi Teknologi Pertanian untuk Ketahanan Pangan Desa Sidamukti yang Berkelanjutan,” sidamukti.desa.id. [Online]. Tersedia: https://www.sidamukti.desa.id/inovasi-teknologi-pertanian-untuk-ketahanan-pangan-desa-sidamukti-yang-berkelanjutan/

[10] K. Umam, “Sinergi Komunitas dan Pengembangan Mocaf: Pemberdayaan Komunitas Melalui Inovasi Produk Lokal di Cilacap,” Skripsi, UIN Sunan Kalijaga, 2023. [Online]. Tersedia: https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/63300/

Kampung Bilogai Kembangkan Peternakan Kelinci Berbasis Dana Desa untuk Tingkatkan Gizi dan Ekonomi Warga di Intan Jaya

Kampung Bilogai Kembangkan Peternakan Kelinci Berbasis Dana Desa untuk Tingkatkan Gizi dan Ekonomi Warga di Intan Jaya

Ringkasan Inovasi

Kampung Bilogai, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, memanfaatkan Dana Desa untuk mengembangkan peternakan kelinci sebagai alternatif dari ketergantungan warga pada ternak babi selama ini. Pemerintah kampung mendorong pembangunan kandang yang layak dan bersih sebagai fondasi budidaya yang produktif [1]. Inovasi ini bertujuan menciptakan sumber protein hewani alternatif sekaligus peluang ekonomi baru bagi warga di daerah pegunungan yang terisolasi. Dampaknya mencakup perbaikan gizi keluarga, terbukanya pendapatan dari penjualan daging dan pupuk organik, serta tumbuhnya kemandirian ekonomi kampung [1].

 

Latar Belakang

Kampung Bilogai terletak di jantung pegunungan Papua di Kabupaten Intan Jaya, daerah yang secara geografis sangat terisolasi dan hanya dapat dijangkau melalui jalur udara dari Bandara Bilogai Sugapa. Masyarakat setempat secara turun-temurun menggantungkan kebutuhan protein hewani hampir sepenuhnya pada ternak babi, sehingga menciptakan kerentanan pangan dan ekonomi pada satu jenis komoditas [2].

Sebelum inovasi ini berkembang, usaha ternak kelinci sebenarnya sudah dirintis oleh Kepala Kampung Stevanus Belau secara pribadi dengan skala yang masih sangat kecil. Pada April 2022, ia mengakui hanya memiliki empat ekor kelinci indukan yang terdiri atas tiga betina dan satu jantan, serta mengakui usahanya terkendala kandang yang belum memadai dan ketersediaan pakan yang tidak konsisten [2].

Dana Desa kemudian dimanfaatkan sebagai peluang untuk mengatasi hambatan struktural tersebut dan memperluas rintisan pribadi Stevanus Belau menjadi usaha yang melibatkan lebih banyak warga. Rumput yang berlimpah di pegunungan Papua, yang selama ini kerap dianggap gulma kebun, justru menjadi pakan alami gratis bagi kelinci [1].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan peternakan kelinci berbasis kampung dengan memanfaatkan Dana Desa untuk membangun kandang yang layak, higienis, dan berkapasitas produksi memadai. Inisiatif ini mendapat dukungan pendampingan teknis dari Program Kasuari yang dijalankan Binmas Noken Polri di Intan Jaya [4].

Cara kerja inovasi ini mencakup tiga rantai nilai utama. Warga membudidayakan kelinci dalam kandang terstruktur menggunakan pakan alami rumput dan sayuran lokal, hasil ternak berupa daging dijual ke pasar lokal maupun sesama warga kampung, dan kotoran serta urine kelinci yang kaya nitrogen diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan lahan pertanian warga [5].

 

Proses Penerapan Inovasi

Langkah awal yang dilakukan adalah menjadikan rintisan Stevanus Belau sebagai inti kelompok peternak awal yang kemudian mendapat alokasi Dana Desa untuk membangun kandang permanen yang bersih. Pendekatan ini mempersingkat proses pembelajaran karena ilmu dasar beternak kelinci tidak dimulai dari nol [1].

Pada tahap berikutnya, personel Binmas Noken Intan Jaya, termasuk Ipda Engel Mayor, secara berkala mengunjungi lokasi peternakan untuk memberikan pembinaan teknis mengenai pemberian pakan yang benar dan penanganan kandang [4]. Kolaborasi antara pemerintah kampung dan aparat pembina ini memperkuat kapasitas warga dalam mengelola peternakan secara lebih profesional.

Tantangan awal muncul ketika konsistensi pemberian pakan sulit dijaga karena kesibukan warga di ladang, sehingga pertumbuhan populasi kelinci sempat melambat pada periode tertentu. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bahwa pembagian tanggung jawab pakan antaranggota keluarga harus diatur sejak awal agar siklus produksi berjalan lancar.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar adalah aksesibilitas wilayah yang sangat terbatas akibat kondisi geografis pegunungan Intan Jaya. Pasokan bibit unggul, obat-obatan hewan, dan peralatan kandang sulit didatangkan karena tidak ada jalur darat yang memadai, sehingga ketergantungan pada transportasi udara membuat biaya pengadaan sarana produksi menjadi mahal [3].

Kendala kultural juga memengaruhi perkembangan inovasi ini, karena masyarakat pegunungan Papua secara historis lebih familiar dengan babi sebagai hewan ternak utama dan simbol status sosial. Mitigasi dilakukan melalui pendekatan bertahap dan demonstrasi nyata dari Kepala Kampung Stevanus Belau sendiri, yang membuktikan langsung kelayakan usaha kelinci sebelum mengajak warga lain [3].

Kendala teknis berupa konsistensi pemberian pakan juga dimitigasi melalui pembagian tanggung jawab yang lebih jelas antaranggota kelompok peternak, serta pendampingan rutin dari Program Kasuari Binmas Noken untuk memastikan praktik pemeliharaan berjalan sesuai standar [4].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah peran kepemimpinan Kepala Kampung Stevanus Belau yang secara aktif menjadi pelopor budidaya kelinci di Intan Jaya. Ia tidak hanya memberi instruksi, tetapi langsung menjadi peternak kelinci pertama yang membuktikan kelayakan usaha ini sebelum melibatkan warga lain [2].

Faktor kedua adalah ketersediaan Dana Desa yang dimanfaatkan untuk infrastruktur kandang, karena tanpa kandang yang layak usaha ternak tidak dapat berkembang meski semangat warga sudah tinggi. Dukungan teknis dari Program Kasuari Binmas Noken juga menjadi katalis yang mengisi kekosongan pengetahuan teknis beternak di wilayah yang selama ini minim pembinaan peternakan [4].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak gizi yang paling langsung dirasakan warga adalah ketersediaan sumber protein hewani berkualitas tinggi di tingkat kampung. Dalam 100 gram daging kelinci terkandung sekitar 33 gram protein dengan kadar lemak yang rendah, sehingga memberikan akses pangan bergizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, lansia, dan anak-anak [6].

Secara ekonomi, warga memiliki sumber pendapatan baru dari penjualan daging kelinci kepada sesama warga kampung dan pedagang lokal, ditambah penjualan kotoran kelinci sebagai pupuk organik kepada petani [1].

Program ini juga mendapat perhatian dari Program Kasuari Binmas Noken yang menjadikan usaha Stevanus Belau di Kampung Bilogai sebagai salah satu contoh budidaya kelinci di Kabupaten Intan Jaya, membuka peluang pembinaan lanjutan dan kemungkinan perluasan ke kampung-kampung tetangga [4].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pendanaan utama inovasi ini bersumber dari Dana Desa Kampung Bilogai yang dialokasikan untuk pembangunan kandang kelinci yang layak dan higienis, menggantikan kandang seadanya yang sebelumnya menjadi kendala utama rintisan pribadi Stevanus Belau [1]. Dokumentasi resmi program belum merinci nominal alokasi anggaran secara spesifik, sehingga besaran pastinya tidak dapat dipastikan dalam laporan ini.

Model bisnis yang dijalankan bertumpu pada dua sumber pendapatan yang saling melengkapi, yaitu penjualan daging kelinci kepada sesama warga kampung dan pedagang lokal, serta penjualan kotoran dan urine kelinci sebagai pupuk organik kepada petani setempat. Reproduksi kelinci yang cepat, dengan satu induk mampu menghasilkan 4–8 anak per kelahiran dan masa kebuntingan hanya 28–31 hari, membuat perputaran modal usaha ini jauh lebih cepat dibanding ternak besar seperti babi [5].

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Kampung Bilogai menunjukkan bahwa keteladanan langsung dari pemimpin kampung jauh lebih efektif dalam mengubah kebiasaan beternak masyarakat dibandingkan sekadar sosialisasi atau instruksi dari atas. Rintisan skala kecil yang dimulai dari satu keluarga, jika dikawal konsisten, dapat menjadi model yang lebih mudah diterima warga lain sebelum diperluas dengan dukungan Dana Desa.

Pelajaran penting lainnya adalah bahwa keberhasilan peternakan berskala rumah tangga sangat bergantung pada kedisiplinan pembagian tugas harian, khususnya pemberian pakan, karena kesibukan warga di ladang dapat mengganggu kontinuitas perawatan ternak jika tidak diatur sejak awal. Pendampingan eksternal dari aparat seperti Binmas Noken juga terbukti penting untuk mengisi kekosongan pengetahuan teknis di wilayah yang minim akses layanan penyuluhan peternakan.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi dijaga dengan membangun kelompok peternak kelinci tingkat kampung yang mengelola bibit, kandang, dan distribusi hasil secara kolektif. Dana Desa pada siklus berikutnya dapat dialokasikan untuk penambahan kandang, pembelian bibit baru, dan pengembangan pengolahan pupuk organik cair dari urine kelinci [1].

Dalam jangka panjang, pemerintah kampung perlu mendorong pengolahan hasil ternak menjadi produk bernilai tambah, serta menjalin kerja sama dengan Dinas Peternakan Kabupaten Intan Jaya untuk akses vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan hewan secara berkala agar kepercayaan pembeli meningkat.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi pengembangan ternak kelinci Kampung Bilogai memberikan kontribusi nyata pada berbagai tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), sebagaimana tercantum dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Peternakan kelinci berbasis Dana Desa membuka sumber pendapatan baru bagi rumah tangga di kampung terpencil melalui penjualan daging dan pupuk organik. Jumlah rumah tangga peternak kelinci aktif
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Daging kelinci menyediakan sumber protein hewani terjangkau bagi masyarakat pegunungan yang selama ini terbatas akses pangannya. Volume produksi daging kelinci per siklus kelahiran
SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera Konsumsi daging kelinci yang tinggi protein dan rendah lemak mendukung perbaikan gizi ibu hamil, ibu menyusui, lansia, dan anak-anak. Kadar protein daging kelinci (±33 gram/100 gram)
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Usaha peternakan kelinci menciptakan rantai ekonomi mikro dari bibit, daging, hingga pupuk organik di tingkat kampung. Jumlah unit rantai nilai yang berjalan (ternak, penjualan, pupuk)
SDGs 15: Ekosistem Daratan Penggunaan rumput lokal sebagai pakan mengurangi kebutuhan lahan baru, sementara pupuk organik dari kotoran kelinci mendukung kesuburan tanah pertanian warga. Volume pupuk organik kelinci yang dimanfaatkan petani lokal

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model peternakan kelinci Kampung Bilogai berpotensi direplikasi di kampung-kampung pegunungan Papua lain yang memiliki ketersediaan rumput dan pakan alami berlimpah, dengan syarat utama berupa dukungan Dana Desa untuk kandang dan adanya warga pelopor yang bersedia menjadi percontohan. Program Kasuari Binmas Noken telah menjalankan pembinaan serupa di kabupaten tetangga seperti Lanny Jaya, yang menunjukkan model ini dapat diadaptasi di wilayah pegunungan Papua lainnya [7].

Untuk scale up, Dinas Peternakan Provinsi Papua Tengah dapat menjadikan Kampung Bilogai sebagai contoh peternakan alternatif di pegunungan, dengan pengembangan sistem pembibitan induk kelinci di tingkat distrik agar pasokan bibit ke kampung-kampung lain lebih terjangkau [1].

 

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “ID 00032: Ternak Kelinci, Kampung Bilogai Manfaatkan Dana Desa untuk Kembangkan Peternakan Kelinci,” inovasi.web.id, 21 Jun. 2020. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/pengembangan-ternak-kelinci-kampung-bilogai-distrik-sugapa/

[2] Tribratanews Polri, “Kepala Suku Bilogai: Budidaya Kelinci Bisa Jadi Alternatif Ternak di Intan Jaya,” tribratanews.polri.go.id, 25 Apr. 2022. [Online]. Tersedia: https://tribratanews.polri.go.id/blog/sosial-budaya-5/kepala-suku-bilogai-budidaya-kelinci-bisa-jadi-alternatif-ternak-di-intan-jaya-46347

[3] Tribun Papua, “Selain Babi, Kelinci Juga Bisa Jadi Alternatif Ternak di Intan Jaya, Papua,” papua.tribunnews.com, 24 Apr. 2022. [Online]. Tersedia: https://papua.tribunnews.com/2022/04/24/selain-babi-kelinci-juga-bisa-jadi-alternatif-ternak-di-intan-jaya-papua

[4] Tribratanews Polri, “Program Kasuari Binmas Noken Sambangi Peternakan Milik Warga di Intan Jaya,” tribratanews.polri.go.id, 24 Ags. 2022. [Online]. Tersedia: https://tribratanews.polri.go.id/blog/sosial-budaya-5/program-kasuari-binmas-noken-sambangi-peternakan-milik-warga-di-intan-jaya-49186

[5] Good Doctor, “8 Manfaat Daging Kelinci untuk Kesehatan,” gooddoctor.co.id, 14 Mei 2021. [Online]. Tersedia: https://www.gooddoctor.co.id/hidup-sehat/nutrisi/ragam-manfaat-daging-kelinci-jaga-kesehatan-jantung-hingga-turunkan-berat-badan

[6] Alodokter, “Daging Kelinci: Kandungan Nutrisi dan Manfaatnya bagi Kesehatan,” alodokter.com, 12 Mar. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.alodokter.com/daging-kelinci-inilah-kandungan-nutrisi-dan-manfaatnya-bagi-kesehatan

[7] Tribratanews Polri, “Binmas Noken Papua Beri Pembinaan kepada Petani dan Peternak Kelinci di Lanny Jaya,” tribratanews.polri.go.id, 25 Ags. 2021. [Online]. Tersedia: https://tribratanews.polri.go.id/blog/nasional-3/binmas-noken-papua-beri-pembinaan-kepada-petani-dam-peternak-kelinci-di-lanny-jaya

Kelompok Tani Muda Fakatoto Desa Lian Tasik Seram Bagian Timur Budidayakan Cabai dan Ciptakan Kemandirian Ekonomi Perempuan Muda

Kelompok Tani Muda Fakatoto Desa Lian Tasik Seram Bagian Timur Budidayakan Cabai dan Ciptakan Kemandirian Ekonomi Perempuan Muda

Ringkasan Inovasi

Kelompok Tani Fakatoto di Desa Lian Tasik, Kecamatan Siritaun Wida Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku, mengubah lahan kosong menjadi kebun demplot (demonstration plot) cabai yang produktif di bawah binaan Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) [1]. Kelompok yang didominasi perempuan muda ini dipimpin Muliani Sengan, yang juga menjabat Kader Desa Program TEKAD, sebagai jawaban atas tingginya angka pengangguran pemuda di desa mereka [1]. Inovasi ini membuktikan bahwa sektor pertanian, ketika dikelola dengan metode terstruktur dan pendampingan yang konsisten, mampu menghasilkan puluhan juta rupiah dari hasil demplot cabai setiap musim panen yang berlangsung sekitar 75-80 hari setelah tanam [1]. Program TEKAD sendiri merupakan kerja sama Kementerian Desa PDTT dengan International Fund for Agriculture Development (IFAD) yang menyasar 1.720 desa di sembilan provinsi Indonesia Timur sepanjang 2020-2025 [3].

 

Latar Belakang

Desa Lian Tasik, salah satu desa di Kecamatan Siritaun Wida Timur yang pusat pemerintahan kecamatannya berada di Desa Kian Laut [4], menghadapi tingginya angka pengangguran di kalangan pemuda yang memicu keprihatinan tokoh masyarakat setempat. Sebagian besar anak muda di wilayah pedesaan ini belum memiliki pekerjaan tetap yang mampu menopang kebutuhan ekonomi keluarga, sementara potensi lahan pertanian di sekitar desa belum tergarap optimal [1].

Muliani Sengan, seorang perempuan muda yang kemudian dipercaya menjadi Kader Desa dalam Program TEKAD, melihat peluang pada sektor pertanian yang selama ini terabaikan. Ia mengajak rekan-rekan pemudanya, yang mayoritas juga perempuan muda, untuk mulai mengolah lahan kosong di wilayah desa, meski minimnya pengetahuan teknik bertani sempat menjadi penghalang besar bagi semangat mereka [1].

Momentum datang ketika Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD), kerja sama Kementerian Desa PDTT dan IFAD yang menargetkan pemberdayaan ekonomi 1.720 desa di sembilan provinsi Indonesia Timur sejak 2020, masuk ke Desa Lian Tasik dan menjadikan model demonstration plot (demplot) sebagai salah satu andalan pendekatannya [2], [3]. Modal patungan seadanya dari anggota kelompok serta lahan hibah dari salah satu anggota menjadi titik awal yang penuh perjuangan bagi kebangkitan kelompok tani muda ini.

 

Inovasi yang Diterapkan

Kelompok Tani Fakatoto menerapkan teknik budidaya cabai menggunakan metode demonstration plot (demplot) yang terstruktur, model yang menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Desa PDTT menjadi salah satu keunggulan utama pendekatan Program TEKAD dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif di Indonesia Timur [2]. Metode ini mengoptimalkan setiap tahapan penanaman, mulai dari persiapan media tanam hingga proses pemanenan, sekaligus menjadi sarana pembelajaran langsung yang dapat dicontoh warga lain di sekitar Lian Tasik.

Penerapan inovasi ini memadukan pengetahuan pertanian modern dengan kondisi cuaca lingkungan lokal. Setiap tanaman dirawat menggunakan penutup mulsa untuk menjaga kelembapan tanah dan menekan pertumbuhan gulma, sementara teknik pemberian pupuk TSP dan Urea yang berimbang diaplikasikan secara konsisten guna memastikan kualitas buah cabai mencapai hasil maksimal [1].

 

Proses Penerapan Inovasi

Tahapan budidaya dimulai dengan persemaian benih cabai pilihan pada media tanam yang telah teruji kesuburannya. Pemindahan bibit ke lahan pertanian utama dilakukan secara hati-hati ketika usia tanaman mencapai empat hingga lima minggu, tahap yang krusial agar sistem perakaran tanaman muda dapat beradaptasi dan tumbuh kuat di lingkungan barunya [1].

Memasuki masa pertumbuhan vegetatif, kelompok tani rutin memberikan pupuk TSP dan Urea untuk merangsang kesuburan tanaman sekaligus meningkatkan bobot buah saat panen. Mereka juga aktif memantau kondisi lahan setiap hari untuk meminimalkan risiko serangan hama yang berpotensi merusak hasil pertanian [1].

Proses ini tidak berjalan mulus tanpa hambatan karena kelompok harus terus belajar dari berbagai kegagalan kecil sepanjang masa perintisan, mulai dari kesalahan awal menakar dosis pupuk hingga menyesuaikan jadwal tanam dengan pola cuaca setempat. Namun pengujian metode demplot ini akhirnya membuahkan hasil panen perdana yang membanggakan pada usia tanaman 75-80 hari, membuktikan bahwa metodologi yang mereka pelajari dari pendampingan TEKAD berjalan efektif [1].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Minimnya wawasan teknis seputar dunia pertanian menjadi kendala paling menyulitkan pada masa perintisan, membuat kelompok sempat kebingungan menentukan prosedur tanam yang paling cocok dengan karakteristik tanah setempat. Kendala ini dimitigasi melalui pendampingan teknis intensif dari penyuluh Program TEKAD yang membimbing kelompok sejak tahap persemaian hingga panen [1].

Keterbatasan modal patungan memaksa kelompok berhitung teliti saat mengalokasikan dana untuk pembelian bibit varietas unggul. Kendala ini dimitigasi dengan memanfaatkan skema bantuan demplot dari Program TEKAD yang meringankan beban modal awal kelompok tani rintisan [2].

Anomali cuaca ekstrem serta ancaman hama menjadi tantangan alamiah yang menuntut kewaspadaan tinggi, mengingat satu kesalahan kecil dalam penanganan hama berpotensi menyebabkan gagal panen dan kerugian material. Kendala ini dimitigasi melalui bimbingan langsung dari penyuluh ahli yang membantu kelompok menemukan solusi teknis setiap kali masalah muncul di lapangan [1].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah semangat pantang menyerah seluruh anggota kelompok, didukung kolaborasi solid yang memastikan setiap masalah teknis di lapangan dapat terselesaikan melalui diskusi bersama. Dukungan moral dan fasilitas dari aparat pemerintah desa turut menyediakan ruang berekspresi bagi kelompok tani ini [1].

Faktor kedua adalah intervensi Program TEKAD yang memberikan bimbingan teknis intensif melalui model demplot, pendekatan yang secara aktif mengedukasi petani muda tentang strategi mengubah lahan berukuran kecil menjadi sumber pendapatan yang berarti. Pendampingan berkelanjutan dari Kader Desa seperti Muliani Sengan menjadi kunci yang mengakselerasi kesuksesan Kelompok Tani Fakatoto [2], [3].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Inisiatif budidaya cabai ini memberikan dampak ekonomi nyata: hasil demplot Kelompok Tani Fakatoto dilaporkan mencapai puluhan juta rupiah setiap musim panen, capaian yang mengangkat taraf hidup anggota kelompok secara langsung [1]. Peningkatan pendapatan ini turut membuka mata warga bahwa lahan yang sebelumnya kosong dapat diubah menjadi sumber penghasilan nyata dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak tanam.

Secara kualitatif, inovasi ini mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi petani, dari pekerjaan yang dipandang sebelah mata menjadi pilihan karier yang membanggakan, terutama karena kelompok ini didominasi perempuan muda yang membuktikan diri mampu mengelola usaha pertanian secara profesional dan terstruktur [1]. Kelompok Tani Fakatoto bermetamorfosis menjadi simbol kebangkitan dan regenerasi petani muda di Kabupaten Seram Bagian Timur.

Keberhasilan panen perdana turut mendorong popularitas kelompok tani ini di kalangan masyarakat luas dan menjadi salah satu kisah sukses yang diangkat dalam publikasi capaian Program TEKAD di Maluku, sejalan dengan kunjungan pemantauan berkala yang dilakukan Kemendes PDTT bersama IFAD ke desa-desa dampingan di kawasan timur Indonesia [5].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal Kelompok Tani Fakatoto bersumber dari patungan anggota kelompok dan pemanfaatan lahan hibah dari salah satu anggotanya, sebelum kemudian mendapat dukungan pendampingan teknis dan bantuan sarana demplot dari Program TEKAD, yang dibiayai bersama oleh Kementerian Desa PDTT dan International Fund for Agriculture Development (IFAD) [3]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran nominal bantuan demplot yang diterima kelompok ini secara spesifik.

Model pendapatan kelompok bertumpu pada penjualan hasil panen cabai segar ke pasar lokal, dengan hasil puluhan juta rupiah per musim panen yang sebagian di antaranya direncanakan diputar kembali sebagai modal musim tanam berikutnya. Program TEKAD sendiri secara luas juga mendorong penguatan BUMDes dan lembaga ekonomi desa lain sebagai bagian dari model bisnis berkelanjutan di desa-desa dampingannya [2].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan memulai usaha pertanian melalui skema demplot yang didampingi penyuluh, alih-alih mencoba coba-coba sendiri tanpa bimbingan teknis, terbukti mempercepat proses belajar kelompok yang sebelumnya sama sekali tidak memiliki pengalaman bertani. Melibatkan perempuan muda sebagai penggerak utama kelompok tani juga membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan di sektor pertanian pedesaan mampu menghasilkan capaian yang setara, bahkan menjadi contoh inspiratif bagi kelompok tani lain di sekitarnya.

Jika memulai dari awal, pencatatan hasil panen dan keuntungan secara lebih rinci dan terdokumentasi idealnya dilakukan sejak musim tanam pertama, agar capaian kelompok dapat diverifikasi dan direplikasi secara lebih presisi oleh kelompok tani lain. Kelompok pemuda desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan aktif mencari program pendampingan pemerintah seperti TEKAD sejak awal perintisan, memulai dari skala demplot kecil sebelum memperluas lahan, dan melibatkan perempuan muda sebagai bagian inti kelompok, bukan sekadar peserta pelengkap.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Rencana keberlanjutan inovasi ini difokuskan pada peningkatan kapasitas dan keterampilan seluruh anggota kelompok tani. Mereka sepakat mengembangkan sistem pengelolaan dana kas kelompok yang disisihkan secara proporsional dari hasil penjualan panen cabai, yang nantinya dialokasikan kembali untuk membiayai kebutuhan operasional penanaman secara mandiri setiap pergantian musim [1].

Strategi jangka panjang mencakup rencana diversifikasi tanaman palawija untuk meminimalkan risiko kerugian akibat fluktuasi harga cabai, serta menjalin kemitraan dengan jaringan pasar lokal maupun pemasok berskala lebih besar agar hasil panen dapat terserap dengan harga yang stabil. Keberlanjutan pendampingan dari Program TEKAD hingga masa akhir program pada 2025 turut menjadi faktor penting yang perlu diantisipasi kelompok agar kemandirian dapat tercapai sebelum pendampingan eksternal berakhir [3].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Implementasi metode pertanian demplot ini berkontribusi pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) sebagai berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Budidaya cabai memberikan penghasilan puluhan juta rupiah per musim panen bagi pemuda desa, melepaskan mereka dari keterbatasan ekonomi dan jerat pengangguran. Hasil demplot cabai mencapai puluhan juta rupiah per musim panen (75-80 hari).
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Produksi cabai yang terstruktur memperkuat ketahanan pangan lokal dan mendukung ketersediaan komoditas hortikultura penting bagi masyarakat Lian Tasik. Metode demplot diterapkan sebagai model tanam yang dapat direplikasi warga lain di desa.
SDGs 5: Kesetaraan Gender Kelompok Tani Fakatoto dipimpin dan didominasi anggota perempuan muda, membuktikan bahwa perempuan pedesaan mampu menjadi penggerak utama usaha pertanian modern, bukan sekadar pelengkap. Ketua kelompok dan mayoritas anggota Fakatoto adalah perempuan muda.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Kelompok Tani Fakatoto menciptakan lapangan pekerjaan bagi generasi muda, mengubah lahan kecil menjadi sumber pertumbuhan ekonomi lokal yang mandiri. Program TEKAD menargetkan 1.720 desa dan lebih dari 400.000 rumah tangga di sembilan provinsi.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Keberhasilan Fakatoto bertumpu pada kemitraan antara kelompok tani, Pemerintah Desa Lian Tasik, dan Program TEKAD yang merupakan kerja sama Kemendes PDTT dengan IFAD. Program TEKAD berjalan sebagai kemitraan Kemendes PDTT-IFAD periode 2020-2025.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Keberhasilan Kelompok Tani Fakatoto membuka peluang besar untuk direplikasi di wilayah lain, sejalan dengan strategi Program TEKAD yang memang menjadikan demplot sebagai model pembelajaran interaktif bagi warga desa sekitar dan desa klaster lainnya [2]. Pemuda dari desa tetangga di Kecamatan Siritaun Wida Timur dapat berkunjung langsung untuk mempelajari teknik penanaman yang telah terbukti hasilnya.

Upaya perluasan inovasi ini juga dapat didorong melalui pembentukan jejaring komunitas petani muda di seluruh kecamatan, mengikuti pola pemantauan dan pembinaan yang dilakukan Kemendes PDTT bersama IFAD di berbagai desa dampingan TEKAD lain di Maluku [5]. Dokumentasi praktik baik semacam ini perlu terus dipublikasikan agar dapat memicu gerakan kebangkitan pertanian muda yang lebih luas di kawasan Indonesia Timur, khususnya melibatkan lebih banyak perempuan muda sebagai pelaku utama.

 

Daftar Pustaka

[1] Suara Surabaya, “Petani Muda Binaan Program TEKAD ‘Fakatoto’ Raup Jutaan Rupiah dari Budidaya Cabai,” suarasurabaya.net, 4 Okt. 2024. [Online]. Available: https://www.suarasurabaya.net/ekonomibisnis/2024/petani-muda-binaan-program-tekad-fakatoto-raup-jutaan-rupiah-dari-budidaya-cabai/

[2] Suara Surabaya, “Sekjen Kemendes PDTT: Model Demplot Jadi Keunggulan Program TEKAD,” suarasurabaya.net, 2023. [Online]. Available: https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2023/sekjen-kemendes-pdtt-model-demplot-jadi-keunggulan-program-tekad/

[3] Green Network Asia, “Mendukung Pembangunan Desa melalui Program TEKAD,” greennetwork.id. [Online]. Available: https://greennetwork.id/gna-knowledge-hub/mendukung-pembangunan-desa-melalui-program-tekad/

[4] Wikipedia, “Lian Tasik, Siritaun Wida Timur, Seram Bagian Timur,” id.wikipedia.org. [Online]. Available: https://id.wikipedia.org/wiki/Lian_Tasik,_Siritaun_Wida_Timur,_Seram_Bagian_Timur

[5] Medcom.id, “Kemendes-IFAD Cek Pelaksanaan Program TEKAD di Desa Rambatu Maluku,” medcom.id. [Online]. Available: https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/VNx0zdJN-kemendes-ifad-cek-pelaksanaan-program-tekad-di-desa-rambatu-maluku

Pemerintah Desa Bhuana Jaya Membudidayakan Madu Kelulut Guna Meningkatkan Pendapatan Warga Serta Memperkuat Kemandirian Ekonomi Lokal

Pemerintah Desa Bhuana Jaya Membudidayakan Madu Kelulut Guna Meningkatkan Pendapatan Warga Serta Memperkuat Kemandirian Ekonomi Lokal

Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Bhuana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, mendukung inisiatif warga membudidayakan lebah tanpa sengat (stingless bee) jenis kelulut sebagai sektor ekonomi baru yang memanfaatkan kekayaan hayati hutan Kalimantan secara berkelanjutan [1]. Program ini bertujuan menciptakan kemandirian finansial bagi kelompok tani lokal melalui produksi madu murni yang memiliki nilai jual jauh di atas madu konvensional di pasar kesehatan [1]. Inovasi ini memberikan dampak positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian ekosistem lingkungan desa. Madu kelulut Desa Bhuana Jaya kini menjadi produk yang dikenal di pasar regional dan menjadi tujuan kunjungan eko-eduwisata, termasuk riset propolis oleh peneliti Universitas Indonesia [1].

 

Latar Belakang

Desa Bhuana Jaya memiliki hamparan vegetasi yang beragam dan menjadi rumah alami bagi koloni lebah tanpa sengat jenis kelulut (Trigona spp.). Selama bertahun-tahun potensi ini hanya terbengkalai tanpa pengelolaan yang terorganisir, sementara warga mengandalkan sektor pertanian konvensional yang rentan terhadap cuaca ekstrem dan fluktuasi harga pasar [2].

Kebutuhan akan sumber pendapatan alternatif yang ramah lingkungan menjadi mendesak seiring meningkatnya kesadaran warga terhadap pentingnya menjaga keutuhan hutan desa. Kesenjangan antara ketersediaan sumber daya alam yang melimpah dan minimnya pengetahuan teknis pembudidayaan menjadi tantangan utama yang harus dipecahkan [3].

Awalnya banyak warga merasa ragu untuk memulai budidaya kelulut karena menganggap proses pemeliharaannya rumit dan membutuhkan biaya besar. Namun tekanan ekonomi dan dorongan untuk melestarikan lingkungan akhirnya memicu keberanian Suwondo memulai eksperimen pembudidayaan dalam skala rumah tangga sejak 2012, transformasi pemikiran yang menjadi fondasi awal lahirnya produk unggulan desa [1].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah sistem budidaya madu kelulut semi-intensif yang mengintegrasikan pemanfaatan lahan pekarangan rumah dengan pelestarian vegetasi berbunga sebagai sumber pakan alami lebah. Inovasi ini bekerja dengan memindahkan koloni kelulut dari batang pohon di hutan ke dalam kotak stup modern yang dirancang khusus agar memudahkan proses pemanenan, dengan teknik ekstraksi higienis guna memastikan kandungan nutrisi, enzim, dan antioksidan dalam madu tetap terjaga [4].

Keunikan inovasi ini terletak pada keterbukaan akses informasi dan pendampingan bagi setiap warga yang ingin memulai ternak kelulut di rumah masing-masing. Kelompok peternak berperan sebagai pusat pengendali mutu yang menetapkan standar bagi setiap botol madu yang dikemas dan dipasarkan dengan merek desa, sehingga produk madu kelulut Desa Bhuana Jaya memiliki daya saing dibandingkan madu hutan biasa yang beredar di pasaran [5].

 

Proses Penerapan Inovasi

Perjalanan pengembangan dimulai pada 2012 ketika Suwondo, yang kini menjabat Sekretaris Desa Bhuana Jaya, merintis budidaya pertama dengan mempelajari teknik dari tutorial daring asal Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand karena saat itu belum banyak referensi lokal tersedia. Ia melakukan serangkaian eksperimen untuk menemukan desain stup yang paling nyaman bagi koloni agar lebah tidak mudah stres dan berpindah lokasi [1].

Kegagalan pada tahap awal sempat terjadi ketika beberapa koloni mati akibat suhu dalam kotak yang terlalu panas karena penempatan stup yang terpapar sinar matahari langsung. Pembelajaran ini mendorong Suwondo menciptakan sistem peneduh alami menggunakan tanaman merambat yang sekaligus berfungsi sebagai penyedia nektar harian bagi lebah, sebuah koreksi teknis yang menjadi dasar desain stup yang dipakai hingga sekarang [3].

Proses hilirisasi produk juga melewati tahap pengujian untuk memastikan madu yang dihasilkan murni dan bebas kontaminasi. Kelompok tani bekerja sama dengan tenaga ahli dari Universitas Mulawarman (Unmul) untuk mengembangkan alur produksi yang terstandar dan kemasan yang informatif agar konsumen percaya pada manfaat kesehatan produk ini [2].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar pada tahap awal adalah minimnya referensi lokal terkait teknik budidaya kelulut, sehingga Suwondo harus belajar secara mandiri dari sumber-sumber luar negeri. Kendala ini dimitigasi dengan eksperimen berulang di lahan sendiri, termasuk memperbaiki desain peneduh stup setelah kegagalan koloni akibat suhu panas pada masa awal [1].

Ketidakstabilan iklim turut memengaruhi produktivitas panen karena lebah kelulut sangat sensitif terhadap perubahan suhu, kelembapan, dan ketersediaan nektar musiman. Kendala ini dimitigasi melalui sosialisasi penanaman tanaman berbunga di pekarangan warga secara meluas agar pasokan nektar tetap tersedia sepanjang tahun [6].

Kendala menjaga konsistensi kualitas produk menjadi ujian nyata saat permintaan pasar meningkat, karena sebagian pembudidaya pemula belum sepenuhnya memahami standar kebersihan panen. Kendala ini dimitigasi melalui pendampingan intensif dan standardisasi prosedur operasional bersama Universitas Mulawarman agar reputasi produk desa tetap terjaga [2].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan inovasi ini ditopang oleh komitmen Pemerintah Desa Bhuana Jaya dalam memberikan dukungan permodalan awal serta fasilitasi pelatihan teknis bagi kelompok tani. Peran aktif pemuda desa yang melek teknologi informasi juga krusial dalam membantu proses branding dan pemasaran produk melalui media sosial dan situs web ladangternakankelulut.com [1].

Keterlibatan tokoh masyarakat dalam menyosialisasikan penanaman tanaman berbunga nektar di setiap rumah turut menciptakan ekosistem pakan lebah yang melimpah di seluruh desa. Dukungan teknis dari akademisi Universitas Mulawarman dalam riset madu kelulut Kalimantan Timur menjadi faktor pelengkap yang memperkuat kualitas dan kepercayaan pasar terhadap produk ini [2].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Setelah lebih dari satu dekade pengembangan, Suwondo membangun sekitar 70 koloni lebah kelulut yang tersebar di halaman rumahnya di RT 2 dan RT 3 Desa Bhuana Jaya, meski jumlah koloni yang dilaporkan media sempat bervariasi dari waktu ke waktu seiring perkembangan usaha. Dalam sekali panen, ladang kelulut ini mampu menghasilkan hingga 12 liter madu murni dengan harga jual sekitar Rp1.000 per mililiter, konsisten dengan kemasan 300 mililiter yang dijual sekitar Rp300.000 [1].

Dampak kualitatif yang paling dirasakan adalah tumbuhnya kesadaran kolektif warga untuk menanam berbagai jenis bunga di pekarangan guna mendukung ketersediaan pakan lebah. Lingkungan desa menjadi lebih asri karena tanaman hias kini memiliki fungsi ekonomis ganda bagi penduduk setempat [3].

Keberhasilan ini juga mengangkat Desa Bhuana Jaya sebagai destinasi eko-eduwisata yang dikunjungi sejumlah universitas di Kalimantan Timur dan Pulau Jawa, termasuk Universitas Indonesia yang meneliti propolis dari lebah kelulut di desa ini. Desa Muara Siran (Kecamatan Muara Kaman) dan Desa Senyiur (Kutai Timur) bahkan menginap beberapa hari untuk belajar teknik budidaya dari Bhuana Jaya [1].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal budidaya kelulut bersumber dari swadaya Suwondo sendiri sejak 2012, sebelum kemudian mendapat dukungan permodalan dan fasilitasi pelatihan teknis dari Pemerintah Desa Bhuana Jaya seiring berkembangnya usaha. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran nominal dukungan permodalan desa secara spesifik [1].

Model pendapatan bertumpu pada penjualan madu kemasan seharga sekitar Rp1.000 per mililiter atau Rp300.000 untuk kemasan 300 mililiter, dipasarkan melalui situs web ladangternakankelulut.com dan media sosial hingga menjangkau pembeli di luar Kalimantan. Kelompok peternak turut mengelola dana bersama sebagai penjamin harga dan penampung hasil panen dari pembudidaya lokal lainnya [6].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan Suwondo mempelajari teknik budidaya dari tutorial video negara tetangga (Malaysia, Brunei, Thailand) ketika referensi lokal belum tersedia, kemudian mengoreksi desain stup setelah kegagalan koloni akibat panas berlebih, menunjukkan bahwa memulai dari eksperimen kecil dan memperbaikinya secara bertahap lebih realistis daripada menunggu panduan sempurna tersedia [1]. Menjadikan kelompok peternak sebagai pusat kendali mutu bersama, bukan membiarkan setiap pembudidaya menjual sendiri-sendiri, juga terbukti menjaga reputasi merek desa di pasar yang lebih luas.

Jika memulai dari awal, standar prosedur kebersihan panen idealnya disusun sejak jumlah pembudidaya masih sedikit, bukan menyusul setelah permintaan pasar meningkat dan pembudidaya pemula mulai bergabung tanpa standar yang seragam. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memulai dari satu perintis yang tekun bereksperimen, mendokumentasikan setiap kegagalan sebagai bahan perbaikan desain, dan baru melibatkan warga lebih luas setelah teknik budidaya yang stabil ditemukan.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Strategi keberlanjutan dikelola melalui penguatan kelompok peternak desa yang bertindak sebagai penjamin harga dan penampung hasil panen dari seluruh pembudidaya lokal secara adil. Pengelola juga menyisihkan sebagian keuntungan untuk riset pengembangan produk turunan seperti propolis dan sabun madu guna meningkatkan nilai tambah produk [6].

Program regenerasi pembudidaya dilakukan dengan melibatkan generasi muda desa dalam praktik lapangan agar keahlian teknis terus berkembang. Pemerintah desa berkomitmen menjaga kelestarian area hutan sebagai sumber koloni alami agar populasi lebah tetap terjaga dalam jangka panjang, menjadikan madu kelulut sebagai tulang punggung ekonomi desa yang berkelanjutan [3].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi budidaya madu kelulut Desa Bhuana Jaya berkontribusi nyata pada sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) sebagai berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Budidaya madu kelulut menciptakan sumber pendapatan baru bagi warga Desa Bhuana Jaya, mengurangi ketergantungan pada pertanian musiman, dengan penghasilan rutin dari penjualan madu kepada keluarga peternak. Harga jual madu sekitar Rp1.000 per mililiter (Rp300.000 per kemasan 300 ml).
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Produksi madu kelulut yang kaya antioksidan dan nutrisi memastikan ketersediaan pangan fungsional bergizi bagi warga desa, mendukung ketahanan gizi masyarakat setempat. Hingga 12 liter madu murni dihasilkan dari satu kali panen ladang kelulut Suwondo.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pengelolaan koloni kelulut oleh kelompok peternak desa menciptakan pekerjaan bagi warga, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis sumber daya alam yang mandiri. Sekitar 70 koloni kelulut dikelola di RT 2 dan RT 3 Desa Bhuana Jaya.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Budidaya lebah kelulut yang berbasis pelestarian vegetasi hutan mendorong warga menanam tanaman berbunga di pekarangan, memperkuat keanekaragaman hayati dan menjaga ekosistem hutan Kalimantan Timur. Penanaman tanaman merambat dan berbunga di pekarangan warga sebagai sumber pakan dan peneduh lebah.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kemitraan antara pemerintah desa, kelompok peternak, akademisi Universitas Mulawarman, dan pelaku wisata edukasi memperlihatkan model kolaborasi multipihak yang mendorong replikasi inovasi ke desa-desa lain. Kunjungan studi banding dari Desa Muara Siran dan Desa Senyiur, serta riset propolis oleh Universitas Indonesia.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Pemerintah Desa Bhuana Jaya terbuka berbagi modul pelatihan dan pengalaman teknis budidaya kelulut kepada desa-desa lain di Kalimantan Timur. Hal ini terbukti dengan kunjungan dan pembelajaran dari Desa Muara Siran (Kecamatan Muara Kaman) dan Desa Senyiur (Kutai Timur) yang datang untuk studi banding langsung selama beberapa hari [1].

Suwondo juga membentuk komunitas peternak yang tersebar di Kecamatan Tenggarong Seberang dan Sebulu, menjadi cikal bakal jaringan peternak kelulut regional yang lebih luas. Kerja sama lintas desa sedang dijajaki untuk menciptakan merek kolektif madu kelulut Kalimantan Timur yang mampu menembus pasar nasional, dengan dukungan teknologi digital untuk pemasaran dan pelacakan kualitas produk [7].

 

Daftar Pustaka

[1] Kaltimtoday.co, “Sekdes Bhuana Jaya Budidaya Lebah Kelulut Sejak 2012, Jadi Wadah Eko-Eduwisata,” Kaltim Today, 21 Mei 2022. [Online]. Available: https://kaltimtoday.co/sekdes-bhuana-jaya-budidaya-lebah-kelulut-sejak-2012-jadi-wadah-eko-eduwisata

[2] Universitas Mulawarman, “Pendampingan Petani Madu Kelulut di Kabupaten Kutai Kartanegara,” Jurnal Abdiku Unmul, 2023. [Online]. Available: https://e-journals2.unmul.ac.id/index.php/abdiku/article/view/481

[3] Institut Teknologi Kalimantan, “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Budidaya Lebah Kelulut di Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain,” LPPM ITK, 2023. [Online]. Available: https://lppm.itk.ac.id/detail-hasil-pengabdian/pemberdayaan-ekonomi-masyarakat-melalui-budidaya-lebah-kelulut-di-kawasan-hutan-l

[4] Fitriah, “Penyuluhan dan Pelatihan Pemanfaatan Madu Kelulut (Heterotrigona Itama) untuk Peningkatan Ekonomi dengan Diversifikasi Produk,” Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), vol. 9, no. 2, 2026. [Online]. Available: https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kreativitas/article/view/24154

[5] Kaltim Post, “Ladang Kelulut Bhuana Jaya Jadi Inspirasi Desa Inovatif di Kukar,” Kaltim Post. [Online]. Available: https://kaltimpost.jawapos.com/kutai-kartanegara/2509170116/ladang-kelulut-bhuana-jaya-jadi-inspirasi-desa-inovatif-di-kukar-ken

[6] M. Annisa et al., “Diversifikasi Produk Madu Kelulut: Inovasi dalam Penguatan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Berbasis Keberlanjutan,” Jurnal Masyarakat Mandiri (JMM), Universitas Muhammadiyah Mataram, 2025. [Online]. Available: https://journal.ummat.ac.id/index.php/jmm/article/view/31205

[7] Dailykaltim.co, “Panen Madu Kelulut, Kukar Dorong Pemberdayaan Ekonomi,” Daily Kaltim, 6 Feb. 2025. [Online]. Available: https://dailykaltim.co/panen-madu-kelulut-kukar-dorong-pemberdayaan-ekonomi/

BUMDes Berkah Maju Bersama Desa Rempoah Baturaden Banyumas Budidayakan Maggot BSF dan Ubah Sampah Jadi Sumber Kemakmuran Desa

BUMDes Berkah Maju Bersama Desa Rempoah Baturaden Banyumas Budidayakan Maggot BSF dan Ubah Sampah Jadi Sumber Kemakmuran Desa

Ringkasan Inovasi

BUMDes Berkah Maju Bersama di Desa Rempoah, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengembangkan inovasi budidaya larva lalat hitam Black Soldier Fly (BSF) atau maggot sebagai solusi ganda yang menyelesaikan masalah sampah organik sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi desa [1]. Program ini lahir dari mandat Pemerintah Kabupaten Banyumas pada 2018 yang menginstruksikan setiap desa mengatasi permasalahan sampah di wilayahnya secara mandiri [1]. Inovasi ini memberikan dampak berupa peningkatan Pendapatan Asli Desa, perluasan jangkauan pengelolaan sampah hingga sekitar 2.000 rumah tangga, 14 instansi, dan lebih dari 50 pelaku usaha di kawasan Baturaden. Maggot BSF kini menjadi komoditas bernilai tinggi yang memperkuat kemandirian ekonomi Desa Rempoah sekaligus menjawab tantangan lingkungan secara berkelanjutan [2].

 

Latar Belakang

Sampah menjadi masalah besar di Kabupaten Banyumas, sehingga pada 2018 pemerintah kabupaten menginstruksikan setiap desa untuk mengatasi permasalahan sampah di wilayahnya masing-masing. Desa Rempoah menghadapi tekanan ini dengan serius karena volume sampah organik rumah tangga yang terus meningkat tidak lagi bisa ditangani hanya dengan sistem angkut-buang konvensional [1].

BUMDes Berkah Maju Bersama yang berdiri sejak 2017 semula merintis unit pengelolaan sampah organik menjadi kompos, namun rencana ini terhenti karena keterbatasan tenaga kerja dan pasokan bahan baku yang tidak konsisten untuk menjaga skala produksi. Di sisi lain, para pembudidaya ikan lele di kawasan tersebut menghadapi masalah mahalnya biaya pakan ternak, membuka peluang untuk menghadirkan solusi bernilai tambah dari bahan baku yang selama ini dianggap limbah [1].

Perpaduan antara tekanan masalah sampah dan kebutuhan pasar pakan ternak alternatif inilah yang mendorong BUMDes Berkah Maju Bersama melakukan lompatan inovasi dari rencana kompos yang tidak berjalan menuju budidaya maggot BSF sebagai produk bernilai ekonomi tinggi. Pilihan ini sesuai dengan riset yang menunjukkan bahwa larva BSF mampu mengurai sampah organik dalam jumlah besar dengan cepat sekaligus menghasilkan pakan ternak berprotein tinggi [3].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah sistem budidaya maggot BSF berbasis biokonversi sampah organik secara semi-intensif, menggunakan kotak budidaya terstandar yang ditempatkan di fasilitas TPS terpadu milik BUMDes. BUMDes mengoperasikan enam kotak budidaya, di mana lima kotak dipanen secara reguler dan satu kotak dibiarkan hingga larva berkembang menjadi lalat hitam dewasa untuk mempertahankan siklus koloni secara mandiri [1].

Inovasi ini bekerja dalam satu rantai nilai terintegrasi: sampah organik dari rumah tangga, instansi, dan pelaku usaha dikumpulkan oleh armada jasa pengangkutan BUMDes, kemudian diumpankan ke koloni maggot yang mengurainya dalam hitungan hari menjadi larva segar siap jual dengan harga Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram tergantung volume pembelian. Warga desa yang bergabung dalam program ini juga membudidayakan maggot secara mandiri di rumah masing-masing menggunakan sampah organik yang mereka hasilkan sendiri [4].

 

Proses Penerapan Inovasi

Perjalanan pengembangan dimulai pada akhir 2018 ketika BUMDes Berkah Maju Bersama mulai mengujicobakan budidaya maggot BSF sebagai perluasan dari unit pengelolaan sampah yang sudah ada, setelah rencana awal mengolah sampah menjadi kompos terhenti akibat keterbatasan tenaga kerja dan pasokan. Tim BUMDes melakukan serangkaian eksperimen untuk menentukan komposisi sampah organik paling efektif sebagai media pertumbuhan larva yang menghasilkan bobot maggot tertinggi [1].

Kendala pasokan bahan baku organik yang fluktuatif menjadi hambatan nyata ketika kapasitas produksi ingin ditingkatkan, karena sampah dari Desa Rempoah sendiri tidak selalu mencukupi kebutuhan koloni yang terus berkembang [1]. Tantangan kapasitas ini kemudian direspons melalui dukungan kelembagaan dari luar desa: pada 2024, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) bersama PT Pegadaian memberikan bantuan peralatan berupa mesin pencacah sampah organik, instalasi kompos, sumur bor, dan mesin insinerator untuk memperkuat kapasitas pengolahan TPS BUMDes [4].

Sejalan dengan penguatan infrastruktur ini, BUMDes juga mengembangkan unit jasa modifikasi mesin pemilah sampah untuk optimasi produk turunan seperti Refuse Derived Fuel (RDF) dan produk turunan maggot, langkah yang memperlihatkan proses inovasi berjalan bertahap dari eksperimen skala kecil menuju kapasitas yang lebih terstandar [5].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar adalah keterbatasan dan fluktuasi pasokan bahan baku sampah organik yang membatasi kapasitas produksi maggot, terutama ketika permintaan pasar terus meningkat namun volume sampah organik dari Desa Rempoah sendiri tidak mencukupi kebutuhan koloni [1]. Kendala ini dimitigasi melalui perluasan cakupan layanan pengangkutan sampah ke lebih banyak rumah tangga, instansi, dan pelaku usaha di kawasan Baturaden, serta dukungan peralatan pengolahan tambahan dari mitra eksternal seperti Unsoed dan PT Pegadaian pada 2024 [4].

Keterbatasan tenaga kerja yang memahami teknik budidaya BSF secara spesifik juga menjadi hambatan dalam memperluas skala produksi tanpa mengorbankan kualitas larva yang dihasilkan. Upaya mengatasi tantangan ini dilakukan melalui program wisata edukasi “Rumah Maggot” yang secara tidak langsung melatih warga dan mitra potensial dalam teknik budidaya maggot BSF yang tepat dan efisien [5].

Tantangan lain yang perlu diwaspadai adalah keberlanjutan program tanpa dukungan pemerintah yang terus-menerus, mengingat sebagian infrastruktur pengelolaan sampah desa masih bergantung pada bantuan dan penyertaan modal eksternal. Kendala ini dimitigasi dengan mendorong BUMDes mencapai kemandirian finansial dari penjualan maggot dan produk turunannya, alih-alih terus bergantung pada suntikan dana desa untuk operasional harian [5].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor kunci keberhasilan inovasi ini adalah kepemimpinan Kepala Desa Sugeng Pujihartono, yang menjabat sejak 2013 dan dikenal berani mengalokasikan penyertaan modal dari Dana Desa untuk membiayai unit bisnis inovatif yang belum memiliki preseden keberhasilan di desa tersebut, sebagaimana ia juga pernah merehabilitasi Pasar Rempoah 2 hingga pendapatannya naik dari sekitar Rp16 juta menjadi Rp100 juta per tahun [1]. Dukungan permodalan semacam ini memberikan kepastian finansial bagi BUMDes untuk melakukan eksperimen dan pengembangan bertahap tanpa tekanan untuk langsung menghasilkan keuntungan.

Dukungan kelembagaan dari mitra eksternal seperti Unsoed dan PT Pegadaian dalam menyediakan peralatan pengolahan sampah menjadi faktor enabler yang mengatasi hambatan kapasitas produksi. Keterbukaan BUMDes sebagai destinasi wisata edukasi pengelolaan sampah turut memperluas jaringan pengetahuan dan menjadi saluran pemasaran tidak langsung yang mendatangkan calon mitra dan pembeli dari berbagai daerah [5].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Secara kuantitatif, BUMDes Berkah Maju Bersama berhasil menangani sampah dari sekitar 2.000 rumah tangga, 14 instansi, dan lebih dari 50 pelaku usaha di kawasan Baturaden. Sistem panen maggot dilakukan setiap tiga hingga empat hari sekali, menghasilkan 10-15 kilogram maggot segar per kotak, sehingga dalam satu minggu BUMDes mampu menjual 60-70 kilogram maggot sebagai pakan ikan lele dan burung [1].

Dampak ekonomi terasa nyata karena BUMDes Berkah Maju Bersama bergerak menuju kemandirian finansial dan berupaya mengurangi ketergantungan pada suntikan dana desa untuk operasional sehari-hari. Pendapatan dari penjualan maggot, pupuk kasgot (kotoran maggot), dan iuran layanan pengangkutan sampah menciptakan arus kas yang mendukung keberlanjutan usaha [6].

Dampak lingkungan juga signifikan karena volume sampah organik yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) berkurang berkat proses biokonversi oleh larva BSF. Keberhasilan ini menjadikan TPS BUMDes Berkah Maju Bersama sebagai salah satu percontohan pengelolaan sampah berbasis maggot di Kabupaten Banyumas [6].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal pengembangan unit maggot BSF bersumber dari penyertaan modal Dana Desa yang dialokasikan Kepala Desa Sugeng Pujihartono, dilanjutkan dengan dukungan peralatan dari mitra eksternal Unsoed dan PT Pegadaian pada 2024 berupa mesin pencacah sampah, instalasi kompos, sumur bor, dan mesin insinerator [4]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran nominal penyertaan modal awal Dana Desa secara spesifik.

Model pendapatan BUMDes bertumpu pada tiga aliran: penjualan maggot segar seharga Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram kepada pembudidaya ikan lele dan burung, penjualan pupuk kasgot hasil samping budidaya, serta iuran layanan pengangkutan sampah dari rumah tangga, instansi, dan pelaku usaha [6]. Diversifikasi tiga sumber pendapatan ini membuat BUMDes tidak bergantung pada satu produk maupun satu segmen pelanggan saja.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan meninggalkan rencana awal pengolahan kompos yang terhambat keterbatasan tenaga kerja, lalu beralih ke budidaya maggot BSF yang lebih sesuai dengan sumber daya dan kebutuhan pasar setempat, terbukti menjadi keputusan strategis yang tepat [1]. Membuka BUMDes sebagai destinasi wisata edukasi juga terbukti menjadi cara efektif melatih warga sekaligus membangun jaringan pemasaran tanpa biaya promosi besar.

Jika memulai dari awal, kepastian pasokan bahan baku organik idealnya dipetakan sejak tahap perencanaan agar kapasitas koloni tidak tertahan oleh keterbatasan sampah dari satu desa saja. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memulai dari skala kecil yang bisa diuji-coba dengan sumber daya yang ada, secara aktif mencari mitra eksternal seperti perguruan tinggi atau lembaga keuangan untuk penguatan peralatan, dan memastikan Kepala Desa memiliki komitmen permodalan yang konsisten pada tahap awal yang paling rawan gagal.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Strategi keberlanjutan jangka panjang ditopang oleh perluasan layanan pengambilan sampah ke desa-desa tetangga yang belum memiliki fasilitas pengolahan memadai, langkah yang akan memperbesar volume bahan baku sekaligus memperluas dampak sosial-lingkungan program ini [1].

BUMDes berencana menjual jasa modifikasi mesin dan konsultasi manajemen TPS kepada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) lain sebagai unit bisnis baru yang memperkuat sumber pendapatan desa. Peningkatan kapasitas produksi maggot akan terus didorong melalui investasi mesin pemilah sampah yang lebih modern, sejalan dengan komitmen BUMDes menerapkan pengelolaan sampah yang meminimalkan residu ke TPA [6].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi budidaya maggot BSF BUMDes Berkah Maju Bersama berkontribusi nyata pada sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) sebagai berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Budidaya maggot BSF menciptakan sumber pendapatan baru yang stabil bagi warga Desa Rempoah melalui penjualan larva dan pupuk kasgot, mengurangi ketergantungan pada sektor ekonomi tunggal. Penjualan 60-70 kilogram maggot per minggu seharga Rp8.000-Rp10.000 per kilogram.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi BUMDes Berkah Maju Bersama menciptakan lapangan kerja layak di unit pengangkutan sampah, produksi maggot, pengolahan pupuk, dan wisata edukasi, mendorong pertumbuhan PADes dari sektor pengelolaan lingkungan. Layanan pengangkutan sampah menjangkau 2.000 rumah tangga, 14 instansi, dan lebih dari 50 pelaku usaha.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab Sistem biokonversi sampah organik menjadi maggot dan pupuk kasgot menerapkan prinsip ekonomi sirkular yang mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai, mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA. Enam kotak budidaya memproses sampah organik dari seluruh pelanggan layanan pengangkutan BUMDes.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Pengurangan sampah organik yang masuk ke tempat pembuangan akhir mengurangi produksi gas metana dan lindi yang mencemari tanah dan air tanah di sekitar kawasan Baturaden yang berada di lereng Gunung Slamet. Volume sampah organik yang berkurang dari aliran menuju TPA berkat proses biokonversi maggot.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kemitraan antara BUMDes Berkah Maju Bersama dengan Universitas Jenderal Soedirman dan PT Pegadaian dalam penyediaan peralatan pengolahan sampah merupakan model kolaborasi akademisi-swasta-desa yang memperkuat kapasitas inovasi tingkat desa. Bantuan peralatan Unsoed dan PT Pegadaian pada 2024: mesin pencacah, instalasi kompos, sumur bor, dan insinerator.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model inovasi BUMDes Berkah Maju Bersama terbukti dapat dikembangkan melalui dukungan mitra eksternal seperti perguruan tinggi dan lembaga keuangan dalam penguatan peralatan pengolahan, sebagaimana ditunjukkan kemitraan dengan Unsoed dan PT Pegadaian pada 2024 [4]. BUMDes membuka diri sebagai destinasi wisata edukasi teknik penanganan sampah organik minim bau, menjadikan setiap kunjungan sebagai sarana transfer pengetahuan yang dapat mempercepat replikasi di berbagai wilayah Indonesia [5].

Strategi scale up ke depan mencakup perluasan layanan pengambilan sampah ke desa-desa tetangga, penjualan jasa konsultasi manajemen TPS kepada KSM lain, serta pengembangan produk turunan maggot seperti tepung larva untuk pakan ternak industri yang memiliki potensi pasar lebih besar. Dengan rekam jejak yang telah terverifikasi dan dukungan kelembagaan yang terus diperluas, Desa Rempoah berpotensi menjadi pusat pembelajaran ekonomi hijau berbasis maggot BSF bagi desa-desa lain di Jawa Tengah [6].

 

Daftar Pustaka

[1] Antara News, “Rempoah Bersinergi Mewujudkan Desa Mandiri,” antaranews.com, 19 Mei 2019. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/878263/rempoah-bersinergi-mewujudkan-desa-mandiri

[2] Kementerian Desa PDTT, “Mengubah Sampah Menjadi Berkah | FDL 2020 – Kab. Banyumas,” YouTube, 3 Des. 2020. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=qa56mXvm6YA

[3] Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan, “Pengolahan Limbah Organik Menggunakan Maggot Black Soldier Fly (BSF),” Jurnal KBJPM, vol. 2, no. 1, 2024. [Online]. Available: https://ejurnal.unukase.ac.id/index.php/kbjpm/article/view/35

[4] BUMDes Berkah Maju Bersama, “BUMDes BMB – Desa Rempoah,” bumdesbmbrempoah.com. [Online]. Available: https://bumdesbmbrempoah.com

[5] BUMDes Berkah Maju Bersama, “BUMDes Desa Rempoah Budidaya BSF (Maggot),” Instagram @bsf_baturraden. [Online]. Available: https://www.instagram.com/bsf_baturraden/

[6] B. Sugiantoro, N. Supriyana, dan U. Sutisna, “Penerapan Mesin Pemilah Sampah untuk Optimasi RDF dan Produk Turunan Maggot di TPS 3R BUMDes Berkah Maju Bersama, Banyumas,” Jurnal JAIM STIE AAS, 2023. [Online]. Available: https://jurnal.stie-aas.ac.id/index.php/JAIM/article/download/6718/2804

Kelompok Perempuan Dusun Bajoe Desa Rea Binuang Polewali Mandar Kembangkan Abon Ikan Angkat Ekonomi Rumah Tangga Pesisir

Kelompok Perempuan Dusun Bajoe Desa Rea Binuang Polewali Mandar Kembangkan Abon Ikan Angkat Ekonomi Rumah Tangga Pesisir

Ringkasan Inovasi

Enam perempuan di Dusun Bajoe, Desa Rea, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, membentuk Kelompok Usaha Abon Ikan Gowes Pantai Bajoe pada Mei 2019 untuk mengolah hasil tangkap ikan cucut menjadi abon bernilai tambah [1]. Inovasi ini lahir dari kebutuhan rumah tangga nelayan yang selama ini menjual ikan segar dengan harga murah dan menghadapi pendapatan yang tidak stabil setiap kali harga ikan turun [1]. Sejak dipasarkan dengan harga Rp10.000 per bungkus, Abon Ikan Gowes Pantai Bajoe mendapat sambutan pasar yang baik untuk kebutuhan konsumsi keluarga maupun acara hajatan. Inovasi ini membantu perempuan pesisir memperoleh penghasilan tambahan, memperluas pilihan pangan berbahan ikan, dan menguatkan peran perempuan dalam ekonomi keluarga [2].

 

Latar Belakang

Dusun Bajoe berada di kawasan pesisir Desa Rea, Kecamatan Binuang, sebuah desa dengan sekitar 796 keluarga dan 2.870 jiwa penduduk yang mayoritas bekerja sebagai nelayan dan petani [3]. Ketersediaan ikan laut di kawasan ini sangat melimpah, tetapi sebagian besar tangkapan selama ini dijual dalam bentuk segar sehingga nilai jualnya rendah dan pendapatan keluarga mudah tertekan setiap kali harga ikan di pasar turun [1].

Kondisi tersebut menciptakan kebutuhan yang belum terpenuhi: rumah tangga nelayan membutuhkan usaha sampingan yang dekat dengan sumber daya lokal, mudah dijalankan oleh perempuan, dan mampu mengubah ikan menjadi produk yang lebih tahan simpan. Pada saat yang sama, dusun ini memiliki peluang besar karena bahan baku selalu tersedia dan budaya kerja gotong royong, yang dikenal secara lokal sebagai sibaliparri atau saling membantu, masih kuat di antara warganya [2].

Dari situ muncul kesadaran di antara enam perempuan Dusun Bajoe bahwa ikan tidak cukup hanya dijual mentah. Ikan perlu diolah menjadi produk bernilai tambah agar perempuan memiliki ruang ekonomi sendiri dan keluarga tidak sepenuhnya bergantung pada hasil tangkap harian suami mereka [1].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pengolahan ikan cucut, yang secara lokal dikenal sebagai bale bano, menjadi abon ikan yang gurih, tahan lama, dan mudah dipasarkan. Produk ini dipilih karena sesuai dengan karakter bahan baku setempat yang melimpah serta disukai oleh berbagai kelompok umur, termasuk anak-anak yang sebelumnya kurang menyukai ikan [1].

Kelompok Usaha Abon Ikan Gowes Pantai Bajoe mengembangkan inovasi ini sebagai industri rumahan yang dikelola bersama oleh enam anggotanya. Cara kerjanya sederhana tetapi efektif: ikan dipilih dari hasil tangkap segar nelayan setempat, dibersihkan, dimasak, disuwir, dibumbui, lalu dikeringkan hingga menjadi abon siap kemas yang dijual eceran maupun berdasarkan pesanan untuk hajatan, akikah, serta kebutuhan institusi [2].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses inovasi dimulai dari percakapan sederhana enam perempuan yang melihat dua kenyataan sekaligus: ikan melimpah di kampung mereka, namun ibu-ibu belum memiliki kegiatan ekonomi yang tetap. Mereka kemudian membentuk kelompok usaha bersama dan memulai produksi pada Mei 2019 sebagai kegiatan rutin yang bisa dikerjakan dari lingkungan rumah [1].

Pada tahap awal, modal usaha dikumpulkan secara patungan sebesar Rp500.000, lalu berkembang menjadi Rp1.000.000 untuk membeli bumbu, rempah, dan kemasan, sedangkan ikan dibeli langsung dari nelayan setempat agar kualitas terjaga dan rantai pasok tetap dekat [1].

Dokumentasi yang tersedia tidak merinci adanya satu kegagalan teknis spesifik yang terjadi dan kemudian dikoreksi secara terpisah; pembelajaran yang justru berulang muncul dari ketergantungan kelompok pada peralatan pengeringan sederhana dan cuaca, yang membuat kapasitas produksi tidak stabil dari waktu ke waktu. Kendala berulang ini memperlihatkan bahwa inovasi berjalan secara adaptif: dimulai dari skala kecil, diuji melalui pasar lokal, lalu diperbaiki sedikit demi sedikit sesuai kemampuan kelompok, alih-alih langsung berinvestasi besar sejak awal [2].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama kelompok adalah keterbatasan modal dan peralatan produksi. Nur Cahya, salah satu anggota kelompok, menyampaikan secara terbuka bahwa mereka “butuh tambahan modal, dan masih terkendala dari segi pemasaran” karena penjualan masih bergantung pada pesanan lokal dan jaringan warung sekitar [1]. Kendala ini dimitigasi sementara dengan menjaga kualitas produk secara konsisten agar pelanggan tetap loyal dan pesanan dari acara hajatan maupun institusi seperti rumah sakit terus berlanjut.

Kendala teknis yang paling nyata adalah belum tersedianya alat pengering abon yang memadai. Selama ini proses pengeringan masih mengandalkan alat sederhana dan kondisi cuaca, sehingga memengaruhi efisiensi, konsistensi mutu, dan peluang meningkatkan volume produksi [2]. Kendala ini dimitigasi dengan menyesuaikan volume produksi terhadap kondisi cuaca yang ada, sembari kelompok terus berharap mendapat dukungan alat dari dinas terkait di Kabupaten Polewali Mandar.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan inovasi ini sangat ditentukan oleh ketersediaan bahan baku ikan yang melimpah di Dusun Bajoe dan kedekatan kelompok dengan komunitas nelayan setempat. Akses bahan baku yang mudah menekan biaya produksi dan memastikan kualitas abon tetap baik karena ikan diolah dalam kondisi segar [1].

Faktor penting lainnya adalah solidaritas perempuan dalam kelompok dan dukungan pemerintah dusun. Nilai lokal sibaliparri menjadi fondasi kerja bersama, sedangkan Kepala Dusun Sanusi terus memberi motivasi agar kelompok tetap konsisten, mengembangkan produk, dan mencari dukungan dari dinas terkait [2].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Secara ekonomi, abon ikan memberi jalan baru bagi rumah tangga nelayan untuk memperoleh penghasilan tambahan dari sumber daya yang sebelumnya dijual mentah dengan margin rendah. Produk ini dipasarkan dengan harga standar Rp10.000 per bungkus dan telah menerima pesanan untuk acara pernikahan, akikah, penjualan di warung kecil, bahkan permintaan dari rumah sakit [1].

Dampak pada rumah tangga terlihat dari bertambahnya ruang kontribusi ekonomi perempuan. Pendapatan kelompok memang masih bergantung pada jumlah pesanan yang masuk, tetapi usaha ini sudah membantu kebutuhan harian keluarga dan memperkuat posisi perempuan sebagai pelaku ekonomi, bukan hanya pendamping nelayan [2].

Secara sosial, inovasi ini membangun kebanggaan lokal karena abon ikan menjadi ikon baru Dusun Bajoe. Produk abon turut membantu kampanye makan ikan karena anak-anak yang sebelumnya enggan makan ikan menjadi lebih menyukai ikan dalam bentuk olahan yang gurih dan praktis [1].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal usaha Abon Ikan Gowes Pantai Bajoe sepenuhnya bersumber dari patungan enam anggota kelompok, mulai dari Rp500.000 pada tahap awal hingga berkembang menjadi Rp1.000.000 untuk kebutuhan bumbu, rempah, dan kemasan [1]. Dokumentasi yang tersedia tidak menunjukkan adanya bantuan modal dari pemerintah desa, kabupaten, maupun lembaga keuangan pada tahap pendirian ini.

Model pendapatan bertumpu pada penjualan eceran seharga Rp10.000 per bungkus serta pesanan dalam jumlah lebih besar untuk acara hajatan, akikah, dan institusi seperti rumah sakit. Pendapatan yang diperoleh diputar kembali untuk membeli bahan baku ikan segar dari nelayan setempat serta bumbu dan kemasan musim produksi berikutnya [2].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan memulai usaha dengan modal patungan kecil dan menguji produk terlebih dahulu di pasar lokal, alih-alih menunggu bantuan modal besar yang belum tentu datang, terbukti menjadi langkah yang realistis bagi kelompok perempuan dengan sumber daya terbatas [1]. Memilih ikan cucut yang melimpah dan murah sebagai bahan baku utama juga terbukti menjadi pilihan tepat yang menekan biaya produksi sejak awal.

Jika memulai dari awal, penyediaan alat pengering yang tidak bergantung cuaca idealnya diusahakan lebih dini, mengingat keterbatasan ini masih membatasi kapasitas produksi kelompok hingga saat ini. Kelompok perempuan lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memilih satu jenis ikan lokal yang melimpah dan murah, memulai dari skala rumahan dengan modal kecil, serta aktif mencari dukungan pelatihan dan peralatan dari dinas perikanan setempat sejak tahap awal.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi ini bergantung pada penguatan organisasi kelompok, penambahan alat produksi, dan perluasan pasar. Dengan alat pengering yang memadai, kelompok dapat menjaga mutu, mempercepat proses, dan meningkatkan kapasitas produksi tanpa terlalu dipengaruhi musim atau cuaca [2].

Dari sisi usaha, kelompok telah melihat peluang diversifikasi produk olahan ikan seperti ikan crispy. Langkah ini penting agar usaha tidak bertumpu pada satu produk saja, sekaligus membuka peluang menjangkau konsumen yang lebih luas di sektor oleh-oleh dan jajanan anak, termasuk wisatawan yang berkunjung ke Pantai Binuang yang sudah dikenal sebagai destinasi wisata sepeda laut di kawasan yang sama [5].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Abon Ikan Gowes Pantai Bajoe berkontribusi pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan melalui penguatan ekonomi perempuan, nilai tambah hasil perikanan, dan perbaikan konsumsi pangan keluarga.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Usaha abon ikan menciptakan tambahan penghasilan bagi rumah tangga nelayan yang sebelumnya sangat bergantung pada penjualan ikan segar dengan harga fluktuatif, membantu mengurangi kerentanan ekonomi keluarga pesisir. Penjualan abon ikan seharga Rp10.000 per bungkus menjadi sumber penghasilan tambahan rutin bagi enam anggota kelompok.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Abon ikan memperluas akses keluarga terhadap pangan olahan bergizi berbasis protein ikan dan mendorong anak-anak lebih gemar mengonsumsi ikan dalam bentuk yang lebih praktis dan disukai. Anak-anak yang sebelumnya enggan makan ikan segar kini mengonsumsi abon ikan sebagai lauk sehari-hari.
SDGs 5: Kesetaraan Gender Kelompok usaha ini memperkuat peran perempuan dalam ekonomi desa karena perempuan menjadi penggerak produksi, pengemasan, dan pemasaran, serta memiliki posisi nyata dalam menopang ekonomi keluarga. Enam perempuan mengelola penuh seluruh rantai produksi dan penjualan Abon Ikan Gowes Pantai Bajoe sejak 2019.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Inovasi ini menumbuhkan usaha mikro berbasis sumber daya lokal, menciptakan kegiatan produktif di tingkat dusun, dan mendorong pertumbuhan ekonomi rumah tangga melalui produk olahan bernilai tambah. Modal usaha tumbuh dari Rp500.000 menjadi Rp1.000.000 sejak kelompok berdiri pada Mei 2019.
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Pengolahan ikan menjadi abon menunjukkan praktik inovasi desa yang mengubah komoditas mentah menjadi produk tahan simpan, mudah dipasarkan, dan berpotensi berkembang menjadi usaha olahan perikanan yang lebih modern. Rencana diversifikasi produk ke ikan crispy sebagai perluasan lini usaha olahan perikanan.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab Abon ikan mendorong pemanfaatan hasil tangkap secara lebih efisien karena ikan tidak hanya dijual segar, tetapi diolah menjadi produk tahan lama yang mengurangi risiko susut nilai dan pemborosan hasil laut. Ikan cucut (bale bano) yang sebelumnya dijual mentah kini diolah penuh menjadi produk abon siap jual.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model inovasi Dusun Bajoe mudah direplikasi di desa pesisir lain karena bertumpu pada bahan baku lokal, keterampilan yang dapat dipelajari cepat, dan skala modal awal yang relatif kecil. Strategi replikasi dapat dimulai dengan membentuk kelompok perempuan kecil, memilih satu jenis ikan yang tersedia melimpah, lalu menguji pasar lokal sebelum memperluas kemasan dan distribusi. Model serupa sudah terbukti berjalan di kabupaten yang sama, misalnya kelompok perempuan Sipatuo di Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo, yang mengembangkan olahan ikan bandeng menjadi produk abon dan kerupuk sejak 2018 [4].

Untuk scale up, pemerintah desa dan pemerintah kabupaten dapat masuk melalui bantuan alat pengering, sertifikasi produk, pelatihan higienitas, desain kemasan, dan pemasaran digital. Dengan dukungan tersebut, abon ikan tidak hanya menjadi usaha rumahan, tetapi dapat berkembang menjadi produk unggulan desa dan bagian dari rantai ekonomi kreatif pesisir Polewali Mandar, termasuk sebagai oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata Pantai Binuang di kecamatan yang sama [5].

 

Daftar Pustaka

[1] K. Bakri, “Abon Ikan Gowes Pantai Bajoe Memanjakan Lidah,” mandarnesia.com. [Online]. Available: https://mandarnesia.com/abon-ikan-gowes-pantai-bajoe-memanjakan-lidah/

[2] Kelompok Usaha Abon Ikan Gowes Pantai Bajoe, “Profil Kube Abon Ikan Gowes Pantai,” Scribd. [Online]. Available: https://id.scribd.com/document/873032092/Profil-Kube-Gowes-Pantai

[3] Pemerintah Desa Rea, “Profil Desa Rea, Kecamatan Binuang,” rea.digitaldesa.id. [Online]. Available: https://rea.digitaldesa.id/profil

[4] Warta Bulukumba, “Sipatuo di Polewali Mandar: Kisah Inspiratif Pemberdayaan Perempuan Melalui Inovasi Produk-Produk Lokal,” wartabulukumba.pikiran-rakyat.com, 4 Mei 2024. [Online]. Available: https://wartabulukumba.pikiran-rakyat.com/ekobis/pr-878046469/sipatuo-di-polewali-mandar-kisah-inspiratif-pemberdayaan-perempuan-melalui-inovasi-produk-produk-lokal

[5] Kompas Travel, “Wisata Sepeda Laut, Cara Asyik Menikmati Pesona Pantai Binuang Polman,” travel.kompas.com, 17 Jun. 2018. [Online]. Available: https://travel.kompas.com/read/2018/06/17/164056327/wisata-sepeda-laut-cara-asyik-menikmati-pesona-pantai-binuang-polman

Desa Hadakewa Lembata Bangun BUMDes Tujuh Maret Digitalisasi Ikan Teri dan Wisata Bahari Angkat Ekonomi Warga Pesisir

Desa Hadakewa Lembata Bangun BUMDes Tujuh Maret Digitalisasi Ikan Teri dan Wisata Bahari Angkat Ekonomi Warga Pesisir

Ringkasan Inovasi

BUMDes Tujuh Maret di Desa Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, sejak 2018 mentransformasi potensi maritim desa menjadi bisnis digital melalui produk unggulan Ikan Teri Hadakewa tujuh varian rasa [1]. Inisiatif yang digagas Kepala Desa Klemens Kwaman dan dijalankan Direktur BUMDes Benediktus Lamapaha ini mengintegrasikan armada kapal tangkap milik desa, pengolahan pascapanen oleh kelompok perempuan, pemasaran digital, dan pengembangan wisata bahari Teluk Hadakewa dalam satu ekosistem usaha desa [2]. Pengelolaan BUMDes yang mulai matang secara bertahap sejak 2018 ini mendapat pengakuan Juara I BUMDes Award 2025 Kategori Pariwisata dari Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi NTT bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT [4]. Dampak nyatanya terlihat dari terciptanya pekerjaan bagi puluhan warga desa, meningkatnya pendapatan nelayan dan kelompok pengolah ikan, serta jangkauan pasar teri yang meluas ke luar Lembata setelah sempat lama bergantung sepenuhnya pada tengkulak [3].

 

Latar Belakang

Desa Hadakewa terletak di pesisir tengah Pulau Lembata, sekitar 13 kilometer dari Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, dengan populasi sekitar 1.050 jiwa yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan [1]. Kekayaan laut Hadakewa melimpah, namun selama bertahun-tahun warganya menjalankan pola tangkap subsisten tanpa daya tawar terhadap harga pasar, sementara kepemilikan sebagian kapal dikuasai pemodal dari luar desa sehingga hasil laut tidak sepenuhnya mensejahterakan nelayan lokal [1].

Meskipun komoditas ikan teri dengan tujuh jenisnya tersedia sepanjang tahun, ketiadaan manajemen pengolahan membuat nilai ekonominya rendah dan sangat bergantung pada tengkulak. Potensi kelautan yang besar berbanding terbalik dengan kesejahteraan warga yang tumbuh lambat akibat minimnya hilirisasi produk dan absennya infrastruktur pemasaran modern di wilayah kepulauan ini [5].

Peluang berubah ketika program Dana Desa mulai mengalir ke Hadakewa dan membuka ruang bagi kepemimpinan baru untuk membangun entitas bisnis desa yang mandiri. Klemens Kwaman, sarjana teknik elektro dari salah satu kampus di Makassar yang kembali ke kampung halamannya sebagai kepala desa muda, melihat digitalisasi sebagai jembatan antara kekayaan laut Hadakewa dan pasar nasional yang semakin terhubung secara daring [11].

 

Inovasi yang Diterapkan

Klemens Kwaman menginisiasi BUMDes Tujuh Maret sebagai entitas bisnis yang mengambil kendali dari hulu hingga hilir potensi kelautan desa: penangkapan ikan, pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran digital [1]. Inovasi utamanya adalah digitalisasi pemasaran tujuh varian ikan teri — Peseng-Peseng, Mao Merah, Mao Putih, Siro, Pahada, Gele, dan Merang — yang dikemas higienis tanpa bahan pengawet dan dijual melalui marketplace serta WhatsApp Business, sejalan dengan program pembinaan pemasaran digital BUMDes yang lebih luas di Kabupaten Lembata [10].

BUMDes mengadakan armada kapal tangkap sendiri yang diserahkan kepada nelayan lokal melalui skema cicilan hasil tangkapan, mengurangi ketergantungan pada pemodal luar desa [2]. Ikan segar dari laut diolah kelompok ibu-ibu melalui pencucian, penjemuran, penyortiran, dan pengemasan, dengan setiap tahap dibayar per kilogram sehingga kelompok pengolah memperoleh penghasilan nyata dari setiap rantai proses. Di luar perikanan, BUMDes berekspansi ke pariwisata dengan konsep Hadakewa Night Paradise dan Coffee on the Boat yang mengajak wisatawan menikmati kuliner laut di atas perahu sambil menyaksikan matahari terbenam di Teluk Hadakewa [4].

 

Proses Penerapan Inovasi

Langkah awal dimulai dengan mengalokasikan Dana Desa senilai Rp85 juta pada 2018 sebagai modal awal BUMDes Tujuh Maret untuk membangun infrastruktur pengeringan dan membeli bahan baku ikan dari nelayan dengan harga layak [1]. Sebelum modal ini bekerja optimal, pemerintah desa membutuhkan waktu sekitar dua tahun meyakinkan nelayan dan warga bahwa BUMDes bukan kompetitor melainkan mitra yang menjamin harga beli adil, sementara sebagian warga sempat menganggap upaya pemasaran dan branding produk sebagai hal yang tidak perlu [5].

Pembelajaran paling berharga datang justru dari peluang yang gagal dipenuhi: pembeli asal Jepang pernah meminta pasokan rutin lima ton ikan kering per bulan, namun proses produksi yang saat itu masih sepenuhnya manual membuat BUMDes tidak sanggup memenuhi permintaan sebesar itu [5]. Kegagalan memenuhi permintaan ini menjadi koreksi penting yang mendorong pengelola mencari jalan keluar bertahap: memperbaiki proses pascapanen, membangun jaringan reseller di Jakarta untuk menekan biaya logistik yang sebelumnya membuat ongkos kirim (sekitar Rp90.000) hampir menyamai harga barang itu sendiri (Rp80.000-Rp100.000 per kilogram) sehingga penjualan daring sempat hanya sekitar Rp2 juta per bulan [5].

Pada September 2019, Klemens Kwaman memperkenalkan Ikan Teri Hadakewa dalam sebuah acara di India, momentum yang menarik minat pembeli mancanegara terhadap produk desa ini [11]. Untuk memperkuat pasokan bahan baku seiring meningkatnya permintaan, BUMDes menambah tiga unit kapal bagan pada Oktober 2020 senilai total Rp328,9 juta, gabungan bantuan Pemerintah Kabupaten Lembata Rp200 juta dan modal desa Rp128,9 juta [2].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal terbesar adalah kapasitas produksi yang masih bergantung pada proses manual dan pengeringan alami di bawah sinar matahari, sehingga sempat kehilangan peluang pasokan rutin lima ton ikan kering per bulan dari pembeli Jepang dan rentan terhambat saat musim hujan tiba [5]. Kendala ini dimitigasi secara bertahap melalui perbaikan proses pascapanen dan penambahan armada kapal pada 2020 untuk memperkuat pasokan bahan baku, meski penggantian sistem pengeringan yang sepenuhnya bebas cuaca masih menjadi agenda lanjutan [2].

Tantangan eksternal berupa tingginya biaya logistik pengiriman dari Lembata ke Pulau Jawa, yang sempat membuat ongkos kirim hampir menyamai harga produk itu sendiri dan membebani penjualan daring, dimitigasi melalui pembentukan jaringan reseller di Jakarta yang kini menjadi tulang punggung distribusi nasional [5]. Keterbatasan sumber daya manusia yang melek digital di lingkungan desa pesisir turut memperlambat laju digitalisasi pemasaran, kendala yang dimitigasi lewat pendampingan eksternal dari Bank Indonesia NTT dan program pembinaan pemasaran digital bagi BUMDes se-Kabupaten Lembata dan NTT [10], [7].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor paling menentukan adalah kepemimpinan Klemens Kwaman yang berani menggunakan Dana Desa sebagai modal bisnis produktif, bukan sekadar infrastruktur fisik, dan konsisten melibatkan seluruh lapisan masyarakat dalam rantai nilai produksi [1]. Pemberdayaan nelayan melalui kepemilikan kapal cicilan dan pelibatan kelompok ibu-ibu dalam pengolahan pascapanen mengubah mentalitas warga dari penerima bantuan menjadi pelaku usaha atas sumber daya alamnya sendiri [4].

Faktor kedua adalah eksekusi operasional Direktur BUMDes Benediktus Lamapaha dalam memasarkan produk secara digital, memperbaiki kemasan, dan menyiasati biaya logistik lewat jaringan reseller yang terus meluas [3]. Diversifikasi yang mengintegrasikan perikanan dengan pariwisata bahari menciptakan ekosistem bisnis yang tidak bergantung pada satu sumber pendapatan, sehingga saat musim teri lesu, sektor wisata membantu menjaga roda ekonomi BUMDes tetap berputar [4].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Dari kondisi awal penjualan daring yang hanya sekitar Rp2 juta per bulan akibat biaya logistik yang membebani, BUMDes Tujuh Maret kini mempekerjakan sekitar 20 warga desa secara tetap sebagai awak kapal, pekerja sortir teri, staf pengemasan, dan staf pariwisata, capaian berarti bagi desa berpenduduk sekitar 1.050 jiwa [6]. Kelompok ibu-ibu pengolah ikan mendapat bayaran per kilogram di setiap rantai proses, sementara nelayan kini memiliki kepastian harga jual yang lebih adil dibanding era dominasi tengkulak [1].

Jangkauan pasar Teri Hadakewa meluas ke berbagai wilayah Indonesia melalui marketplace dan WhatsApp Business, dan menurut Direktur BUMDes Benediktus Lamapaha, produk ini telah mengisi pasar hingga ke India, klaim yang berakar dari promosi Klemens Kwaman dalam sebuah acara di India pada September 2019 yang menarik minat pembeli mancanegara [3], [11]. Kemenangan Juara I BUMDes Award 2025 Kategori Pariwisata dari Kanwil DJPb Provinsi NTT bersama KPw Bank Indonesia Provinsi NTT mengonfirmasi bahwa model pengelolaan Tujuh Maret layak menjadi rujukan bagi BUMDes lain di NTT [4], [9].

Dampak sosial yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya kepercayaan diri warga desa yang kini memiliki aset produktif berupa armada kapal dan fasilitas wisata mandiri, sekaligus mendorong masuknya infrastruktur internet yang lebih baik ke Hadakewa. Nama desa kini dikenal luas sebagai contoh transformasi digital desa pesisir di Indonesia Timur [5].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal BUMDes Tujuh Maret bersumber dari Dana Desa senilai Rp85 juta pada 2018 untuk infrastruktur pengeringan dan pembelian bahan baku ikan [1]. Penambahan tiga unit kapal bagan pada Oktober 2020 senilai Rp328,9 juta didanai gabungan bantuan Pemerintah Kabupaten Lembata Rp200 juta dan modal desa Rp128,9 juta, dengan kapal-kapal tersebut kemudian dialihkan kepemilikannya kepada nelayan operator melalui skema cicilan hasil tangkapan [2].

Model pendapatan BUMDes bertumpu pada dua lini usaha: penjualan produk olahan ikan teri secara daring dan luring, serta pendapatan dari fasilitas wisata Pantai Hadakewa berupa restoran, kafe kapal, banana boat, camping ground, dan penyewaan alat watersport [4]. Skema cicilan kapal kepada nelayan berfungsi ganda sebagai mekanisme pengembalian investasi sekaligus jaminan pasokan bahan baku bagi unit usaha pengolahan.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan menjadikan Dana Desa sebagai modal bisnis produktif alih-alih sekadar dana infrastruktur fisik terbukti menjadi pilihan tepat yang membuka jalan bagi BUMDes untuk tumbuh secara bertahap dan mandiri. Diversifikasi ke sektor wisata begitu perikanan mulai stabil juga terbukti menjadi langkah tepat yang menjaga arus kas BUMDes tidak bergantung pada satu musim komoditas saja [4].

Jika memulai dari awal, penguatan kapasitas produksi dan sistem pengeringan yang tidak bergantung sepenuhnya pada cuaca dan tenaga manual idealnya disiapkan lebih dini, mengingat BUMDes sempat kehilangan peluang pasokan rutin lima ton per bulan dari pembeli Jepang karena keterbatasan ini [5]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memastikan kapasitas produksi dapat diskalakan sebelum gencar mempromosikan produk ke pasar yang lebih luas, agar permintaan besar yang datang tidak berakhir menjadi peluang yang terlewat.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan dijalankan dengan terus mendiversifikasi unit usaha agar BUMDes tidak bergantung pada satu komoditas: keuntungan penjualan teri menopang pengembangan fasilitas wisata pantai, sementara pendapatan wisata memperkuat cadangan modal kerja saat musim teri lesu [4]. Kolaborasi dengan Bank Indonesia NTT dan Pemerintah Kabupaten Lembata terus diperkuat untuk pendampingan manajemen keuangan dan akses permodalan bagi peralatan pengering yang tidak bergantung cuaca [7].

Pelestarian lingkungan laut menjadi fondasi keberlanjutan melalui aturan penangkapan ramah lingkungan dan edukasi nelayan agar stok ikan teri tetap terjaga untuk generasi berikutnya. Sistem pembayaran digital dan manajemen stok berbasis aplikasi terus diperluas, sementara regenerasi SDM pengelola dari kalangan anak muda desa menjadi agenda menjaga kesinambungan kepemimpinan BUMDes jangka panjang [8].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

BUMDes Tujuh Maret Hadakewa mengintegrasikan dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam satu model pengelolaan bisnis berbasis komunitas di desa pesisir kepulauan Indonesia Timur.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan BUMDes menciptakan penghasilan tetap bagi warga desa dan sistem bayar per kilogram bagi kelompok ibu-ibu pengolah ikan, mengangkat keluarga nelayan dari ketergantungan pada tengkulak. Sekitar 20 warga desa bekerja tetap sebagai awak kapal, pekerja sortir, staf pengemasan, dan staf pariwisata.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Digitalisasi rantai nilai ikan teri dari kapal milik desa hingga marketplace nasional menciptakan pekerjaan di seluruh rantai produksi sekaligus mendorong Pendapatan Asli Desa dari sektor produktif. Penjualan daring berkembang dari sekitar Rp2 juta per bulan pada masa awal menjadi jangkauan pasar nasional dan promosi lintas negara.
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Penerapan pemasaran digital (marketplace, WhatsApp Business) oleh BUMDes desa terpencil di NTT membuktikan keterbatasan geografis bukan penghalang untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital nasional. Tiga unit kapal bagan senilai Rp328,9 juta menambah kapasitas pasokan bahan baku sejak Oktober 2020.
SDGs 14: Ekosistem Lautan Penerapan aturan penangkapan ikan ramah lingkungan dan edukasi nelayan tentang kelestarian ekosistem pesisir memastikan ketersediaan stok ikan teri Hadakewa untuk generasi berikutnya. Kapal cicilan dialihkan kepemilikannya kepada nelayan operator dengan pengaturan hasil tangkapan yang terkoordinasi BUMDes.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara Pemerintah Desa Hadakewa, Bank Indonesia NTT, Kanwil DJPb NTT, Pemkab Lembata, dan mitra reseller menciptakan ekosistem kemitraan multipihak bagi pengembangan ekonomi desa. Juara I BUMDes Award 2025 Kategori Pariwisata dari Kanwil DJPb Provinsi NTT bersama KPw Bank Indonesia Provinsi NTT.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model integrasi perikanan dan pariwisata BUMDes Tujuh Maret siap direplikasi oleh desa-desa pesisir lain di NTT dengan karakteristik serupa: kekayaan laut melimpah, ketergantungan pada tengkulak, dan minimnya hilirisasi produk perikanan [4]. BUMDes Tujuh Maret membuka diri sebagai pusat pembelajaran bagi pengelola BUMDes lain, sejalan dengan program Bank Indonesia NTT dan Kementerian Desa yang membina puluhan BUMDes di NTT agar mampu memasarkan produknya secara digital ke luar provinsi [7].

Untuk scale up, BUMDes berencana menambah armada kapal dan memodernisasi alat pengeringan agar kapasitas produksi tidak lagi terkendala musim maupun keterbatasan tenaga manual seperti yang pernah menghambat pemenuhan permintaan besar dari pembeli Jepang, serta memperluas jaringan reseller di kota-kota besar selain Jakarta [2]. Bupati Lembata meminta BUMDes Hadakewa menjadi motor penggerak dan role model bagi desa-desa lain di Lembata untuk berani berinovasi sesuai potensi lokal masing-masing [8].

 

Daftar Pustaka

[1] BAKTI Kominfo, “Hadakewa, Desa dengan BUMDes Digital,” baktinews.bakti.or.id. [Online]. Available: https://baktinews.bakti.or.id/artikel/hadakewa-desa-dengan-bumdes-digital

[2] Antara NTT, “BUMDes di Hadakewa Tambah Kapal Perkuat Pasokan Ikan Teri,” kupang.antaranews.com, 18 Okt. 2020. [Online]. Available: https://kupang.antaranews.com/berita/39877/bumdes-di-hadakewa-tambah-kapal-perkuat-pasokan-ikan-teri

[3] MedCom.id, “BUMDes Tujuh Maret Hadakewa Sukses Kelola Ikan Teri,” medcom.id, 2 Mei 2021. [Online]. Available: https://www.medcom.id/gaya/wisata/Rkjl4eEN-bumdes-tujuh-maret-hadakewa-sukses-kelola-ikan-teri

[4] Antara Mataram, “BUMDes Hadakewa Lembata Contoh Baik di Usaha Pariwisata,” mataram.antaranews.com, 21 Jun. 2025. [Online]. Available: https://mataram.antaranews.com/berita/463453/bumdes-hadakewa-lembata-contoh-baik-di-usaha-pariwisata

[5] Merdeka.com, “Ikan Teri Hadakewa: Panen di Laut, Jual di Udara,” merdeka.com, 19 Ags. 2021. [Online]. Available: https://www.merdeka.com/khas/ikan-teri-hadakewa-panen-di-laut-jual-di-udara.html

[6] Pikiran Rakyat Lembata, “Keren! Desa Hadakewa Raih Juara 1 BUMDes Award Tahun 2025,” lembata.pikiran-rakyat.com, 4 Jun. 2025. [Online]. Available: https://lembata.pikiran-rakyat.com/daerah/pr-2169390076/keren-desa-hadakewa-raih-juara-1-bumdes-award-tahun-2025-kades-klemens-kwaman

[7] Antara NTT, “BUMDes di NTT Dibina Pasarkan Produk Secara Digital,” kupang.antaranews.com, 24 Mar. 2026. [Online]. Available: https://kupang.antaranews.com/berita/40364/bumdes-di-ntt-dibina-pasarkan-produk-secara-digital

[8] Pojoknesia.com, “Raih BUMDes Award 2025, Bupati Lembata Minta Jadi Motor Penggerak Desa Lain,” pojoknesia.com, 17 Jun. 2025. [Online]. Available: https://www.pojoknesia.com/raih-bumdes-award-2025-bupati-lembata-minta-jadi-motor-penggerak-desa-lain

[9] Swara Timor, “BUMDes Tujuh Maret Hadakewa Raih Penghargaan BUMDes Award Kategori Pariwisata,” swaratimor.co.id, 21 Jun. 2025. [Online]. Available: https://swaratimor.co.id/2025/06/21/bumdes-tujuh-maret-hadakewa-raih-penghargaan-bumdes-award-kategori-pariwisata/

[10] Media Indonesia, “Pemasaran Produk BUMDes di Lembata Sudah via Aplikasi,” mediaindonesia.com, 17 Jun. 2021. [Online]. Available: https://mediaindonesia.com/nusantara/412818/pemasaran-produk-bumdes-di-lembata-sudah-via-aplikasi

[11] Kompas.id, “Klemens Kwaman, Cahaya dari Hadakewa,” kompas.id, 31 Mei 2024. [Online]. Available: https://www.kompas.id/baca/tokoh/2024/05/31/klemens-kwaman-cahaya-dari-hadakewa