Ringkasan Inovasi
Kelompok Tani Fakatoto di Desa Lian Tasik, Kecamatan Siritaun Wida Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku, mengubah lahan kosong menjadi kebun demplot (demonstration plot) cabai yang produktif di bawah binaan Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) [1]. Kelompok yang didominasi perempuan muda ini dipimpin Muliani Sengan, yang juga menjabat Kader Desa Program TEKAD, sebagai jawaban atas tingginya angka pengangguran pemuda di desa mereka [1]. Inovasi ini membuktikan bahwa sektor pertanian, ketika dikelola dengan metode terstruktur dan pendampingan yang konsisten, mampu menghasilkan puluhan juta rupiah dari hasil demplot cabai setiap musim panen yang berlangsung sekitar 75-80 hari setelah tanam [1]. Program TEKAD sendiri merupakan kerja sama Kementerian Desa PDTT dengan International Fund for Agriculture Development (IFAD) yang menyasar 1.720 desa di sembilan provinsi Indonesia Timur sepanjang 2020-2025 [3].
Latar Belakang
Desa Lian Tasik, salah satu desa di Kecamatan Siritaun Wida Timur yang pusat pemerintahan kecamatannya berada di Desa Kian Laut [4], menghadapi tingginya angka pengangguran di kalangan pemuda yang memicu keprihatinan tokoh masyarakat setempat. Sebagian besar anak muda di wilayah pedesaan ini belum memiliki pekerjaan tetap yang mampu menopang kebutuhan ekonomi keluarga, sementara potensi lahan pertanian di sekitar desa belum tergarap optimal [1].
Muliani Sengan, seorang perempuan muda yang kemudian dipercaya menjadi Kader Desa dalam Program TEKAD, melihat peluang pada sektor pertanian yang selama ini terabaikan. Ia mengajak rekan-rekan pemudanya, yang mayoritas juga perempuan muda, untuk mulai mengolah lahan kosong di wilayah desa, meski minimnya pengetahuan teknik bertani sempat menjadi penghalang besar bagi semangat mereka [1].
Momentum datang ketika Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD), kerja sama Kementerian Desa PDTT dan IFAD yang menargetkan pemberdayaan ekonomi 1.720 desa di sembilan provinsi Indonesia Timur sejak 2020, masuk ke Desa Lian Tasik dan menjadikan model demonstration plot (demplot) sebagai salah satu andalan pendekatannya [2], [3]. Modal patungan seadanya dari anggota kelompok serta lahan hibah dari salah satu anggota menjadi titik awal yang penuh perjuangan bagi kebangkitan kelompok tani muda ini.
Inovasi yang Diterapkan
Kelompok Tani Fakatoto menerapkan teknik budidaya cabai menggunakan metode demonstration plot (demplot) yang terstruktur, model yang menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Desa PDTT menjadi salah satu keunggulan utama pendekatan Program TEKAD dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif di Indonesia Timur [2]. Metode ini mengoptimalkan setiap tahapan penanaman, mulai dari persiapan media tanam hingga proses pemanenan, sekaligus menjadi sarana pembelajaran langsung yang dapat dicontoh warga lain di sekitar Lian Tasik.
Penerapan inovasi ini memadukan pengetahuan pertanian modern dengan kondisi cuaca lingkungan lokal. Setiap tanaman dirawat menggunakan penutup mulsa untuk menjaga kelembapan tanah dan menekan pertumbuhan gulma, sementara teknik pemberian pupuk TSP dan Urea yang berimbang diaplikasikan secara konsisten guna memastikan kualitas buah cabai mencapai hasil maksimal [1].
Proses Penerapan Inovasi
Tahapan budidaya dimulai dengan persemaian benih cabai pilihan pada media tanam yang telah teruji kesuburannya. Pemindahan bibit ke lahan pertanian utama dilakukan secara hati-hati ketika usia tanaman mencapai empat hingga lima minggu, tahap yang krusial agar sistem perakaran tanaman muda dapat beradaptasi dan tumbuh kuat di lingkungan barunya [1].
Memasuki masa pertumbuhan vegetatif, kelompok tani rutin memberikan pupuk TSP dan Urea untuk merangsang kesuburan tanaman sekaligus meningkatkan bobot buah saat panen. Mereka juga aktif memantau kondisi lahan setiap hari untuk meminimalkan risiko serangan hama yang berpotensi merusak hasil pertanian [1].
Proses ini tidak berjalan mulus tanpa hambatan karena kelompok harus terus belajar dari berbagai kegagalan kecil sepanjang masa perintisan, mulai dari kesalahan awal menakar dosis pupuk hingga menyesuaikan jadwal tanam dengan pola cuaca setempat. Namun pengujian metode demplot ini akhirnya membuahkan hasil panen perdana yang membanggakan pada usia tanaman 75-80 hari, membuktikan bahwa metodologi yang mereka pelajari dari pendampingan TEKAD berjalan efektif [1].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Minimnya wawasan teknis seputar dunia pertanian menjadi kendala paling menyulitkan pada masa perintisan, membuat kelompok sempat kebingungan menentukan prosedur tanam yang paling cocok dengan karakteristik tanah setempat. Kendala ini dimitigasi melalui pendampingan teknis intensif dari penyuluh Program TEKAD yang membimbing kelompok sejak tahap persemaian hingga panen [1].
Keterbatasan modal patungan memaksa kelompok berhitung teliti saat mengalokasikan dana untuk pembelian bibit varietas unggul. Kendala ini dimitigasi dengan memanfaatkan skema bantuan demplot dari Program TEKAD yang meringankan beban modal awal kelompok tani rintisan [2].
Anomali cuaca ekstrem serta ancaman hama menjadi tantangan alamiah yang menuntut kewaspadaan tinggi, mengingat satu kesalahan kecil dalam penanganan hama berpotensi menyebabkan gagal panen dan kerugian material. Kendala ini dimitigasi melalui bimbingan langsung dari penyuluh ahli yang membantu kelompok menemukan solusi teknis setiap kali masalah muncul di lapangan [1].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah semangat pantang menyerah seluruh anggota kelompok, didukung kolaborasi solid yang memastikan setiap masalah teknis di lapangan dapat terselesaikan melalui diskusi bersama. Dukungan moral dan fasilitas dari aparat pemerintah desa turut menyediakan ruang berekspresi bagi kelompok tani ini [1].
Faktor kedua adalah intervensi Program TEKAD yang memberikan bimbingan teknis intensif melalui model demplot, pendekatan yang secara aktif mengedukasi petani muda tentang strategi mengubah lahan berukuran kecil menjadi sumber pendapatan yang berarti. Pendampingan berkelanjutan dari Kader Desa seperti Muliani Sengan menjadi kunci yang mengakselerasi kesuksesan Kelompok Tani Fakatoto [2], [3].
Hasil dan Dampak Inovasi
Inisiatif budidaya cabai ini memberikan dampak ekonomi nyata: hasil demplot Kelompok Tani Fakatoto dilaporkan mencapai puluhan juta rupiah setiap musim panen, capaian yang mengangkat taraf hidup anggota kelompok secara langsung [1]. Peningkatan pendapatan ini turut membuka mata warga bahwa lahan yang sebelumnya kosong dapat diubah menjadi sumber penghasilan nyata dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak tanam.
Secara kualitatif, inovasi ini mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi petani, dari pekerjaan yang dipandang sebelah mata menjadi pilihan karier yang membanggakan, terutama karena kelompok ini didominasi perempuan muda yang membuktikan diri mampu mengelola usaha pertanian secara profesional dan terstruktur [1]. Kelompok Tani Fakatoto bermetamorfosis menjadi simbol kebangkitan dan regenerasi petani muda di Kabupaten Seram Bagian Timur.
Keberhasilan panen perdana turut mendorong popularitas kelompok tani ini di kalangan masyarakat luas dan menjadi salah satu kisah sukses yang diangkat dalam publikasi capaian Program TEKAD di Maluku, sejalan dengan kunjungan pemantauan berkala yang dilakukan Kemendes PDTT bersama IFAD ke desa-desa dampingan di kawasan timur Indonesia [5].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal awal Kelompok Tani Fakatoto bersumber dari patungan anggota kelompok dan pemanfaatan lahan hibah dari salah satu anggotanya, sebelum kemudian mendapat dukungan pendampingan teknis dan bantuan sarana demplot dari Program TEKAD, yang dibiayai bersama oleh Kementerian Desa PDTT dan International Fund for Agriculture Development (IFAD) [3]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran nominal bantuan demplot yang diterima kelompok ini secara spesifik.
Model pendapatan kelompok bertumpu pada penjualan hasil panen cabai segar ke pasar lokal, dengan hasil puluhan juta rupiah per musim panen yang sebagian di antaranya direncanakan diputar kembali sebagai modal musim tanam berikutnya. Program TEKAD sendiri secara luas juga mendorong penguatan BUMDes dan lembaga ekonomi desa lain sebagai bagian dari model bisnis berkelanjutan di desa-desa dampingannya [2].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan memulai usaha pertanian melalui skema demplot yang didampingi penyuluh, alih-alih mencoba coba-coba sendiri tanpa bimbingan teknis, terbukti mempercepat proses belajar kelompok yang sebelumnya sama sekali tidak memiliki pengalaman bertani. Melibatkan perempuan muda sebagai penggerak utama kelompok tani juga membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan di sektor pertanian pedesaan mampu menghasilkan capaian yang setara, bahkan menjadi contoh inspiratif bagi kelompok tani lain di sekitarnya.
Jika memulai dari awal, pencatatan hasil panen dan keuntungan secara lebih rinci dan terdokumentasi idealnya dilakukan sejak musim tanam pertama, agar capaian kelompok dapat diverifikasi dan direplikasi secara lebih presisi oleh kelompok tani lain. Kelompok pemuda desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan aktif mencari program pendampingan pemerintah seperti TEKAD sejak awal perintisan, memulai dari skala demplot kecil sebelum memperluas lahan, dan melibatkan perempuan muda sebagai bagian inti kelompok, bukan sekadar peserta pelengkap.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Rencana keberlanjutan inovasi ini difokuskan pada peningkatan kapasitas dan keterampilan seluruh anggota kelompok tani. Mereka sepakat mengembangkan sistem pengelolaan dana kas kelompok yang disisihkan secara proporsional dari hasil penjualan panen cabai, yang nantinya dialokasikan kembali untuk membiayai kebutuhan operasional penanaman secara mandiri setiap pergantian musim [1].
Strategi jangka panjang mencakup rencana diversifikasi tanaman palawija untuk meminimalkan risiko kerugian akibat fluktuasi harga cabai, serta menjalin kemitraan dengan jaringan pasar lokal maupun pemasok berskala lebih besar agar hasil panen dapat terserap dengan harga yang stabil. Keberlanjutan pendampingan dari Program TEKAD hingga masa akhir program pada 2025 turut menjadi faktor penting yang perlu diantisipasi kelompok agar kemandirian dapat tercapai sebelum pendampingan eksternal berakhir [3].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Implementasi metode pertanian demplot ini berkontribusi pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) sebagai berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Budidaya cabai memberikan penghasilan puluhan juta rupiah per musim panen bagi pemuda desa, melepaskan mereka dari keterbatasan ekonomi dan jerat pengangguran. | Hasil demplot cabai mencapai puluhan juta rupiah per musim panen (75-80 hari). |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Produksi cabai yang terstruktur memperkuat ketahanan pangan lokal dan mendukung ketersediaan komoditas hortikultura penting bagi masyarakat Lian Tasik. | Metode demplot diterapkan sebagai model tanam yang dapat direplikasi warga lain di desa. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | Kelompok Tani Fakatoto dipimpin dan didominasi anggota perempuan muda, membuktikan bahwa perempuan pedesaan mampu menjadi penggerak utama usaha pertanian modern, bukan sekadar pelengkap. | Ketua kelompok dan mayoritas anggota Fakatoto adalah perempuan muda. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Kelompok Tani Fakatoto menciptakan lapangan pekerjaan bagi generasi muda, mengubah lahan kecil menjadi sumber pertumbuhan ekonomi lokal yang mandiri. | Program TEKAD menargetkan 1.720 desa dan lebih dari 400.000 rumah tangga di sembilan provinsi. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Keberhasilan Fakatoto bertumpu pada kemitraan antara kelompok tani, Pemerintah Desa Lian Tasik, dan Program TEKAD yang merupakan kerja sama Kemendes PDTT dengan IFAD. | Program TEKAD berjalan sebagai kemitraan Kemendes PDTT-IFAD periode 2020-2025. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Keberhasilan Kelompok Tani Fakatoto membuka peluang besar untuk direplikasi di wilayah lain, sejalan dengan strategi Program TEKAD yang memang menjadikan demplot sebagai model pembelajaran interaktif bagi warga desa sekitar dan desa klaster lainnya [2]. Pemuda dari desa tetangga di Kecamatan Siritaun Wida Timur dapat berkunjung langsung untuk mempelajari teknik penanaman yang telah terbukti hasilnya.
Upaya perluasan inovasi ini juga dapat didorong melalui pembentukan jejaring komunitas petani muda di seluruh kecamatan, mengikuti pola pemantauan dan pembinaan yang dilakukan Kemendes PDTT bersama IFAD di berbagai desa dampingan TEKAD lain di Maluku [5]. Dokumentasi praktik baik semacam ini perlu terus dipublikasikan agar dapat memicu gerakan kebangkitan pertanian muda yang lebih luas di kawasan Indonesia Timur, khususnya melibatkan lebih banyak perempuan muda sebagai pelaku utama.
Daftar Pustaka
[1] Suara Surabaya, “Petani Muda Binaan Program TEKAD ‘Fakatoto’ Raup Jutaan Rupiah dari Budidaya Cabai,” suarasurabaya.net, 4 Okt. 2024. [Online]. Available: https://www.suarasurabaya.net/ekonomibisnis/2024/petani-muda-binaan-program-tekad-fakatoto-raup-jutaan-rupiah-dari-budidaya-cabai/
[2] Suara Surabaya, “Sekjen Kemendes PDTT: Model Demplot Jadi Keunggulan Program TEKAD,” suarasurabaya.net, 2023. [Online]. Available: https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2023/sekjen-kemendes-pdtt-model-demplot-jadi-keunggulan-program-tekad/
[3] Green Network Asia, “Mendukung Pembangunan Desa melalui Program TEKAD,” greennetwork.id. [Online]. Available: https://greennetwork.id/gna-knowledge-hub/mendukung-pembangunan-desa-melalui-program-tekad/
[4] Wikipedia, “Lian Tasik, Siritaun Wida Timur, Seram Bagian Timur,” id.wikipedia.org. [Online]. Available: https://id.wikipedia.org/wiki/Lian_Tasik,_Siritaun_Wida_Timur,_Seram_Bagian_Timur
[5] Medcom.id, “Kemendes-IFAD Cek Pelaksanaan Program TEKAD di Desa Rambatu Maluku,” medcom.id. [Online]. Available: https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/VNx0zdJN-kemendes-ifad-cek-pelaksanaan-program-tekad-di-desa-rambatu-maluku