Ringkasan Inovasi

BUMDes Boya Peramba Mandiri di Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, mentransformasi ekonomi desa dengan mengintegrasikan hilirisasi komoditas kopi lokal dan sistem pembayaran digital berbasis QRIS. Inovasi ini mengubah pola penjualan konvensional yang mengandalkan tengkulak menjadi rantai nilai mandiri yang menghasilkan produk kopi olahan siap jual bermerek Napeto Coffee [1]. Dampak nyatanya terlihat dari peningkatan pendapatan petani kopi mitra binaan serta efisiensi transaksi usaha yang kini lebih transparan. Inovasi ini mengantarkan Desa Nupabomba meraih peringkat kelima dari 48 desa peserta program Desa BRIlian wilayah Kanwil BRI Manado, sekaligus menjadi salah satu dari tiga desa pemenang kategori pendampingan langsung pada Inaugurasi Deepening Desa BRIlian, 4 Agustus 2022 [2].

 

Latar Belakang

Desa Nupabomba di dataran tinggi Kabupaten Donggala dianugerahi hamparan perkebunan kopi robusta yang subur, ditanam pada ketinggian 900–1.300 meter di atas permukaan laut, dengan sebagian pohon kopi diwariskan sejak era kolonial Belanda. Kabupaten Donggala mencatat produksi kopi mencapai 378.516 kg per tahun dari sekitar 703 hektare lahan, dengan Nupabomba sebagai salah satu sentra paling potensial [3].

Namun selama bertahun-tahun, kekayaan alam ini belum tergarap maksimal karena pola penjualan konvensional yang bergantung penuh pada tengkulak yang menekan harga beli petani. Sistem pencatatan keuangan usaha desa yang masih manual juga menghambat transparansi yang krusial bagi kepercayaan publik dan pengembangan usaha [1].

Peluang besar terbuka seiring meningkatnya tren konsumsi kopi kekinian di Kota Palu dan sekitarnya. Barista di Kota Donggala, Ari Prasetyo, bahkan sudah lebih dulu mengemas kopi dingin siap minum dari biji Nupabomba dalam botol 250 cc bermerek “Hepipo Donggala” sejak Maret 2022 karena tingginya permintaan pasar yang belum terpenuhi produk lokal [4]. Momentum ini menjadi katalis bagi BUMDes Boya Peramba Mandiri untuk mengambil kendali rantai nilai secara penuh, dari kebun hingga konsumen akhir.

 

Inovasi yang Diterapkan

Muhammad Ayub bersama pengurus BUMDes menjadikan kopi robusta Nupabomba sebagai komoditas inti yang diolah menjadi produk bernilai jual tinggi dengan merek “Napeto Coffee” — nama yang diambil dari bahasa Kaili bermakna “kental/pekat” [5]. BUMDes tidak lagi menjual biji mentah ke tengkulak, melainkan memproduksi green bean, biji sangrai, kopi bubuk, dan drip bag yang dipasarkan ke toko oleh-oleh dan kedai kopi modern di Palu dan Donggala [1].

Inovasi produk ini didukung transformasi digital melalui sistem pembayaran non-tunai QRIS yang terintegrasi dengan aplikasi BRIMO. Seluruh transaksi penjualan BUMDes tercatat otomatis dalam pembukuan digital, meminimalkan risiko kebocoran anggaran dan memudahkan audit [6]. Napeto Coffee turut dipasarkan melalui aplikasi Pasardesa.id serta platform lelang.go.id milik DJKN Kementerian Keuangan melalui skema Lelang Sukarela Non Eksekusi bersama KPKNL Palu, membuka akses pasar digital yang sebelumnya tidak terjangkau petani Nupabomba [9].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses pengembangan dimulai dengan pemetaan potensi lahan perkebunan kopi dan identifikasi petani lokal sebagai mitra strategis yang menjual hasil panennya langsung ke BUMDes. Pengelola kemudian mengikuti program pendampingan intensif Desa BRIlian yang melibatkan akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) untuk mempertajam model bisnis, manajemen keuangan, dan strategi pemasaran [1].

Eksperimen pengolahan pascapanen kopi dilakukan berulang kali untuk menemukan profil cita rasa terbaik — kental, keasaman rendah, dengan dominasi rasa cokelat dan earthy — yang sesuai selera pasar konsumen modern [9]. Harga beli biji kopi yang ditetapkan BUMDes berkisar Rp120.000 hingga Rp150.000 per kilogram, jauh lebih kompetitif dan stabil dibandingkan harga tengkulak yang fluktuatif [3]. Kegagalan pada desain kemasan awal yang kurang menarik menjadi pembelajaran berharga yang mendorong perbaikan visual produk agar lebih kompetitif di rak toko oleh-oleh premium.

Edukasi transaksi digital dilakukan bertahap kepada warga desa yang awalnya awam terhadap teknologi pembayaran non-tunai. Kajian umum tentang sosialisasi QRIS di desa lain di Indonesia menunjukkan bahwa tantangan adopsi semacam ini lazimnya meliputi rendahnya literasi digital, keterbatasan akses internet, dan kekhawatiran keamanan transaksi [6], sejalan dengan temuan umum bahwa transformasi digital desa memerlukan pengenalan bertahap terhadap instrumen pembayaran modern seperti QRIS agar diterima warga [8].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Kendala terbesar adalah rendahnya literasi digital awal warga desa yang belum terbiasa dengan instrumen pembayaran non-tunai. Mitigasinya dilakukan melalui sosialisasi persuasif yang berulang hingga warga percaya bahwa transaksi digital lebih aman dan transparan dibanding uang tunai [6].

Pada sisi produk, desain kemasan awal yang kurang menarik sempat melemahkan daya saing Napeto Coffee di rak toko oleh-oleh premium. Proses penyempurnaan kemasan membutuhkan waktu dan biaya tambahan yang tidak dianggarkan sejak awal, menjadi pelajaran bahwa investasi identitas merek harus diprioritaskan sejak tahap perencanaan produk.

Ketergantungan pada satu komoditas utama juga menjadi kerentanan yang mendorong BUMDes mendiversifikasi produk dan sumber pendapatannya, termasuk melalui program agroforestri tanaman pelindung di kebun kopi warga [9].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah kepemimpinan Muhammad Ayub yang berani bertransformasi dari model pedagang bahan baku menjadi produsen produk jadi bermerek, dengan visi yang ia sampaikan sendiri: “Saya ingin menjadi bagian yang mengembalikan kejayaan Kopi Sulawesi Tengah” [9].

Faktor kedua adalah kemitraan strategis dengan Bank BRI melalui program Desa BRIlian bersama Unsrat yang memberi pendampingan manajemen dan akses ekosistem digital perbankan, serta dukungan Bea Cukai Pantoloan dan DJKN KPKNL Palu yang membuka kanal pemasaran lelang.go.id [9]. Survei BSIP Sulawesi Tengah pada Oktober 2023 turut memperkuat posisi Napeto Coffee dengan data potensi komoditas yang terverifikasi secara ilmiah [5].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Pada Inaugurasi Deepening Desa BRIlian 4 Agustus 2022, Desa Nupabomba meraih peringkat kelima dari 48 desa peserta se-wilayah Kanwil BRI Manado dan masuk sebagai salah satu dari tiga desa pemenang kategori pendampingan langsung, bersama Desa Utaurano (Kepulauan Sangihe) dan Desa Palaes (Minahasa Utara) [2]. Prestasi ini diikuti dukungan pendampingan dan fasilitas dari BRI yang memperkuat kapasitas produksi BUMDes.

Secara ekonomi, petani mitra kini menjual hasil panen langsung ke BUMDes dengan harga stabil Rp120.000–Rp150.000 per kilogram, memotong ketergantungan pada tengkulak. Pendapatan Asli Desa menunjukkan tren peningkatan berkat margin keuntungan penjualan produk olahan kopi dan efisiensi manajemen keuangan digital [3].

Dampak kualitatif terlihat dari perubahan perilaku transaksi masyarakat yang semakin melek literasi keuangan digital. Desa Nupabomba kini memiliki kebanggaan kolektif atas produk lokal bermerek Napeto Coffee yang dikenal hingga tingkat provinsi Sulawesi Tengah dan mendapat liputan lembaga negara seperti KPKNL Palu [9].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pendanaan operasional Napeto Coffee bertumpu pada modal usaha BUMDes yang diperkuat dukungan program Desa BRIlian, termasuk fasilitas pencetakan kemasan dari Bank BRI, tanpa disebutkan nominal investasi awal yang spesifik dalam dokumentasi yang tersedia [1].

Model bisnis bertumpu pada margin selisih harga beli biji kopi dari petani (Rp120.000–150.000/kg) dengan harga jual produk olahan bernilai tambah — kopi bubuk, biji sangrai, dan drip bag — ke toko oleh-oleh, kedai kopi, serta kanal digital Pasardesa.id dan lelang.go.id [9]. Diversifikasi kanal penjualan ini mengurangi ketergantungan BUMDes pada satu jalur distribusi saja.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Nupabomba menunjukkan bahwa hilirisasi komoditas lokal menjadi produk bermerek jauh lebih menguntungkan petani dibanding sekadar menjual bahan mentah, asalkan diikuti investasi serius pada kemasan dan identitas merek sejak awal — kegagalan desain kemasan pertama yang harus diulang menjadi bukti nyata betapa mahalnya mengabaikan aspek ini di tahap perencanaan.

Pelajaran lain adalah bahwa prestasi seperti peringkat dalam kompetisi Desa BRIlian sebaiknya dilaporkan secara presisi — Nupabomba sesungguhnya berperingkat kelima dari 48 desa, bukan sekadar “tiga besar” secara umum, meski termasuk tiga desa pemenang kategori pendampingan langsung. Kejelasan semacam ini penting agar desa lain yang ingin mereplikasi memiliki tolok ukur yang realistis, bukan ekspektasi yang berlebihan.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan usaha dijalankan dengan menjaga konsistensi kualitas cita rasa kopi melalui pengawasan ketat di setiap tahapan produksi dari kebun hingga pengemasan. Pengurus BUMDes berkomitmen memperluas jaringan pemasaran ke marketplace nasional dan toko oleh-oleh premium agar volume penjualan Napeto Coffee tetap stabil [1].

Aspek lingkungan diperhatikan melalui program agroforestri berupa penanaman durian dan alpukat sebagai tanaman pelindung di area perkebunan kopi warga, menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi petani saat panen kopi belum tiba [9]. Penguatan kapasitas SDM pengelola melalui pelatihan manajemen lanjutan memastikan estafet pengelolaan BUMDes tidak bergantung pada satu figur saja.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi hilirisasi kopi dan digitalisasi keuangan BUMDes Boya Peramba Mandiri berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs, memadukan pemberdayaan petani, inklusi keuangan digital, dan pengelolaan ekosistem pertanian berkelanjutan.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan BUMDes memotong rantai ketergantungan petani mitra pada tengkulak dan memastikan harga jual yang stabil dan kompetitif. Harga beli stabil Rp120.000–Rp150.000/kg biji kopi
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Program agroforestri penanaman durian dan alpukat memperkuat ketahanan pangan dan pendapatan alternatif petani di luar musim kopi. Jumlah tanaman pelindung produktif yang ditanam di kebun kopi
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Hilirisasi kopi menciptakan rantai nilai baru yang membuka pekerjaan di sektor pengolahan, pengemasan, dan pemasaran bagi warga desa. Pertumbuhan PADes dari unit usaha kopi BUMDes
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Adopsi QRIS dan sistem BRIMO merupakan modernisasi infrastruktur keuangan desa yang mendukung industrialisasi skala kecil berbasis komoditas lokal. Persentase transaksi BUMDes tercatat melalui QRIS/BRIMO
SDGs 10: Berkurangnya Ketimpangan Inklusi keuangan digital memberi akses transaksi modern kepada warga desa yang selama ini termarjinalkan dari ekosistem keuangan formal. Jumlah warga/pelaku usaha yang menggunakan QRIS BUMDes
SDGs 15: Ekosistem Daratan Penanaman tanaman pelindung di perkebunan kopi menjaga keseimbangan ekosistem daratan dataran tinggi Donggala. Luas kebun kopi yang menerapkan pola agroforestri
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Keberhasilan BUMDes bertumpu pada kemitraan dengan Bank BRI, Unsrat, BSIP Sulteng, Bea Cukai Pantoloan, dan DJKN KPKNL Palu. Jumlah mitra lintas sektor (perbankan, akademisi, instansi negara) yang terlibat

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model bisnis hulu ke hilir komoditas kopi ini layak direplikasi oleh desa dataran tinggi lain di Sulawesi Tengah yang memiliki potensi perkebunan kopi serupa namun belum tergarap optimal. BUMDes Boya Peramba Mandiri membuka diri sebagai pusat pembelajaran bagi pengurus desa lain yang ingin mempelajari integrasi hilirisasi produk lokal dan digitalisasi keuangan berbasis QRIS [10]. Praktik adopsi QRIS oleh UMKM desa secara umum juga menunjukkan bahwa keberhasilan digitalisasi serupa sangat bergantung pada pendampingan berkelanjutan, bukan hanya penyediaan alat pembayaran semata [11].

Strategi scale up dilakukan dengan mengembangkan varian produk turunan kopi seperti masker wajah organik dan pengharum ruangan berbahan biji kopi untuk memperluas segmen pasar. Ekspansi ke luar provinsi melalui marketplace digital nasional seperti Pasardesa.id dan lelang.go.id sudah mulai dijajaki [7]. Rencana pendirian kedai kopi signature Napeto Coffee di pusat Kota Palu akan menjadikan Nupabomba pemilik merek yang hadir langsung di hadapan konsumen akhir.

 

Daftar Pustaka

[1] Mercusuar, “BRIlian Dorong Kemajuan BUMDes Boya Peramba Mandiri,” mercusuar.web.id, 9 Mar. 2024. [Online]. Tersedia: https://mercusuar.web.id/donggala/brilian-dorong-kemajuan-bumdes-boya-peramba-mandiri/

[2] Website Resmi Desa Nupabomba, “Inaugurasi Deepening Desa BRIlian 2022,” nupabomba.digitaldesa.id, 4 Ags. 2022. [Online]. Tersedia: https://nupabomba.digitaldesa.id/berita/inaugurasi-deepening-desa-brilian-2022

[3] Website Resmi Desa Nupabomba, “Produksi Kopi di Donggala Capai 378.516 Kg Per Tahun,” nupabomba.digitaldesa.id, 18 Nov. 2023. [Online]. Tersedia: https://nupabomba.digitaldesa.id/berita/produksi-kopi-di-donggala-capai-378516-kg-per-tahun

[4] Alkhairaat Media, “Dikemas Menarik, Kopi Nupabomba Semakin Diminati,” media.alkhairaat.id, 26 Apr. 2022. [Online]. Tersedia: https://media.alkhairaat.id/dikemas-menarik-kopi-nupabomba-semakin-diminati/

[5] BSIP Sulawesi Tengah, “BSIP Sulawesi Tengah Lakukan Survei Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Kopi di Kabupaten Donggala,” sulteng.brmp.pertanian.go.id, 18 Okt. 2023. [Online]. Tersedia: https://sulteng.brmp.pertanian.go.id/berita/bsip-sulawesi-tengah-lakukan-survei-pelaku-utama-dan-pelaku-usaha-kopi-di-kabupaten-donggala

[6] R. Ramadhan et al., “Sosialisasi QRIS: Peluang dan Tantangan Digital Keuangan Desa (Studi Kasus Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang),” Optimal: Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan, vol. 18, no. 2, 2024. [Online]. Tersedia: https://researchhub.id/index.php/optimal/article/view/8313

[7] Pasardesa.id, “Napeto Coffee dari BUMDes Boya Peramba Mandiri di Aplikasi Pasardesa,” Instagram @pasardesa_id. [Online]. Tersedia: https://www.instagram.com/pasardesa_id/

[8] Tim KKN UMGresik, “Transformasi Digital Desa: Mengenal QRIS sebagai Instrumen Pembayaran Modern di Desa,” Prosiding KKN Universitas Muhammadiyah Gresik, 2023. [Online]. Tersedia: https://journal.umg.ac.id/index.php/prosidingkkn/article/download/8901/4717/30630

[9] N. P. Artanti, “Mengangkat Sejarah dalam Cita Rasa: Kopi Asa UMKM Napeto Coffee,” KPKNL Palu — DJKN Kementerian Keuangan RI, djkn.kemenkeu.go.id, 22 Mei 2023. [Online]. Tersedia: https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-palu/baca-berita/32251/Mengangkat-Sejarah-Dalam-Cita-Rasa-Kopi-Asa-UMKM-Napeto-Coffee.html

[10] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “Replikasi Inovasi Desa,” inovasi.web.id. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/tag/replikasi-inovasi-desa/

[11] M. F. Pramana et al., “Implementasi QRIS dalam Mendukung Digitalisasi UMKM di Desa,” Jurnal Abdimas Nusantara Global, 2024. [Online]. Tersedia: https://ejournal.nusantaraglobal.or.id/index.php/ejoin/article/download/3434/3381/19049

Data Inovasi

Nama Inovasi
Digitalisasi Layanan Keuangan dan Hilirisasi Kopi Nupabomba (Napeto Coffee)
Alamat
Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
Inovator
BUMDes Boya Peramba Mandiri – Muhammad Ayub (Pengelola Napeto Coffee)
Kontak
Telepon 0821-9189-9683, Email desanupabomba@gmail.com, Website https://nupabomba.digitaldesa.id
Lokasi