Ringkasan Inovasi

BUMDes Tujuh Maret di Desa Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, sejak 2018 mentransformasi potensi maritim desa menjadi bisnis digital melalui produk unggulan Ikan Teri Hadakewa tujuh varian rasa [1]. Inisiatif yang digagas Kepala Desa Klemens Kwaman dan dijalankan Direktur BUMDes Benediktus Lamapaha ini mengintegrasikan armada kapal tangkap milik desa, pengolahan pascapanen oleh kelompok perempuan, pemasaran digital, dan pengembangan wisata bahari Teluk Hadakewa dalam satu ekosistem usaha desa [2]. Pengelolaan BUMDes yang mulai matang secara bertahap sejak 2018 ini mendapat pengakuan Juara I BUMDes Award 2025 Kategori Pariwisata dari Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi NTT bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT [4]. Dampak nyatanya terlihat dari terciptanya pekerjaan bagi puluhan warga desa, meningkatnya pendapatan nelayan dan kelompok pengolah ikan, serta jangkauan pasar teri yang meluas ke luar Lembata setelah sempat lama bergantung sepenuhnya pada tengkulak [3].

 

Latar Belakang

Desa Hadakewa terletak di pesisir tengah Pulau Lembata, sekitar 13 kilometer dari Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, dengan populasi sekitar 1.050 jiwa yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan [1]. Kekayaan laut Hadakewa melimpah, namun selama bertahun-tahun warganya menjalankan pola tangkap subsisten tanpa daya tawar terhadap harga pasar, sementara kepemilikan sebagian kapal dikuasai pemodal dari luar desa sehingga hasil laut tidak sepenuhnya mensejahterakan nelayan lokal [1].

Meskipun komoditas ikan teri dengan tujuh jenisnya tersedia sepanjang tahun, ketiadaan manajemen pengolahan membuat nilai ekonominya rendah dan sangat bergantung pada tengkulak. Potensi kelautan yang besar berbanding terbalik dengan kesejahteraan warga yang tumbuh lambat akibat minimnya hilirisasi produk dan absennya infrastruktur pemasaran modern di wilayah kepulauan ini [5].

Peluang berubah ketika program Dana Desa mulai mengalir ke Hadakewa dan membuka ruang bagi kepemimpinan baru untuk membangun entitas bisnis desa yang mandiri. Klemens Kwaman, sarjana teknik elektro dari salah satu kampus di Makassar yang kembali ke kampung halamannya sebagai kepala desa muda, melihat digitalisasi sebagai jembatan antara kekayaan laut Hadakewa dan pasar nasional yang semakin terhubung secara daring [11].

 

Inovasi yang Diterapkan

Klemens Kwaman menginisiasi BUMDes Tujuh Maret sebagai entitas bisnis yang mengambil kendali dari hulu hingga hilir potensi kelautan desa: penangkapan ikan, pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran digital [1]. Inovasi utamanya adalah digitalisasi pemasaran tujuh varian ikan teri — Peseng-Peseng, Mao Merah, Mao Putih, Siro, Pahada, Gele, dan Merang — yang dikemas higienis tanpa bahan pengawet dan dijual melalui marketplace serta WhatsApp Business, sejalan dengan program pembinaan pemasaran digital BUMDes yang lebih luas di Kabupaten Lembata [10].

BUMDes mengadakan armada kapal tangkap sendiri yang diserahkan kepada nelayan lokal melalui skema cicilan hasil tangkapan, mengurangi ketergantungan pada pemodal luar desa [2]. Ikan segar dari laut diolah kelompok ibu-ibu melalui pencucian, penjemuran, penyortiran, dan pengemasan, dengan setiap tahap dibayar per kilogram sehingga kelompok pengolah memperoleh penghasilan nyata dari setiap rantai proses. Di luar perikanan, BUMDes berekspansi ke pariwisata dengan konsep Hadakewa Night Paradise dan Coffee on the Boat yang mengajak wisatawan menikmati kuliner laut di atas perahu sambil menyaksikan matahari terbenam di Teluk Hadakewa [4].

 

Proses Penerapan Inovasi

Langkah awal dimulai dengan mengalokasikan Dana Desa senilai Rp85 juta pada 2018 sebagai modal awal BUMDes Tujuh Maret untuk membangun infrastruktur pengeringan dan membeli bahan baku ikan dari nelayan dengan harga layak [1]. Sebelum modal ini bekerja optimal, pemerintah desa membutuhkan waktu sekitar dua tahun meyakinkan nelayan dan warga bahwa BUMDes bukan kompetitor melainkan mitra yang menjamin harga beli adil, sementara sebagian warga sempat menganggap upaya pemasaran dan branding produk sebagai hal yang tidak perlu [5].

Pembelajaran paling berharga datang justru dari peluang yang gagal dipenuhi: pembeli asal Jepang pernah meminta pasokan rutin lima ton ikan kering per bulan, namun proses produksi yang saat itu masih sepenuhnya manual membuat BUMDes tidak sanggup memenuhi permintaan sebesar itu [5]. Kegagalan memenuhi permintaan ini menjadi koreksi penting yang mendorong pengelola mencari jalan keluar bertahap: memperbaiki proses pascapanen, membangun jaringan reseller di Jakarta untuk menekan biaya logistik yang sebelumnya membuat ongkos kirim (sekitar Rp90.000) hampir menyamai harga barang itu sendiri (Rp80.000-Rp100.000 per kilogram) sehingga penjualan daring sempat hanya sekitar Rp2 juta per bulan [5].

Pada September 2019, Klemens Kwaman memperkenalkan Ikan Teri Hadakewa dalam sebuah acara di India, momentum yang menarik minat pembeli mancanegara terhadap produk desa ini [11]. Untuk memperkuat pasokan bahan baku seiring meningkatnya permintaan, BUMDes menambah tiga unit kapal bagan pada Oktober 2020 senilai total Rp328,9 juta, gabungan bantuan Pemerintah Kabupaten Lembata Rp200 juta dan modal desa Rp128,9 juta [2].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal terbesar adalah kapasitas produksi yang masih bergantung pada proses manual dan pengeringan alami di bawah sinar matahari, sehingga sempat kehilangan peluang pasokan rutin lima ton ikan kering per bulan dari pembeli Jepang dan rentan terhambat saat musim hujan tiba [5]. Kendala ini dimitigasi secara bertahap melalui perbaikan proses pascapanen dan penambahan armada kapal pada 2020 untuk memperkuat pasokan bahan baku, meski penggantian sistem pengeringan yang sepenuhnya bebas cuaca masih menjadi agenda lanjutan [2].

Tantangan eksternal berupa tingginya biaya logistik pengiriman dari Lembata ke Pulau Jawa, yang sempat membuat ongkos kirim hampir menyamai harga produk itu sendiri dan membebani penjualan daring, dimitigasi melalui pembentukan jaringan reseller di Jakarta yang kini menjadi tulang punggung distribusi nasional [5]. Keterbatasan sumber daya manusia yang melek digital di lingkungan desa pesisir turut memperlambat laju digitalisasi pemasaran, kendala yang dimitigasi lewat pendampingan eksternal dari Bank Indonesia NTT dan program pembinaan pemasaran digital bagi BUMDes se-Kabupaten Lembata dan NTT [10], [7].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor paling menentukan adalah kepemimpinan Klemens Kwaman yang berani menggunakan Dana Desa sebagai modal bisnis produktif, bukan sekadar infrastruktur fisik, dan konsisten melibatkan seluruh lapisan masyarakat dalam rantai nilai produksi [1]. Pemberdayaan nelayan melalui kepemilikan kapal cicilan dan pelibatan kelompok ibu-ibu dalam pengolahan pascapanen mengubah mentalitas warga dari penerima bantuan menjadi pelaku usaha atas sumber daya alamnya sendiri [4].

Faktor kedua adalah eksekusi operasional Direktur BUMDes Benediktus Lamapaha dalam memasarkan produk secara digital, memperbaiki kemasan, dan menyiasati biaya logistik lewat jaringan reseller yang terus meluas [3]. Diversifikasi yang mengintegrasikan perikanan dengan pariwisata bahari menciptakan ekosistem bisnis yang tidak bergantung pada satu sumber pendapatan, sehingga saat musim teri lesu, sektor wisata membantu menjaga roda ekonomi BUMDes tetap berputar [4].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Dari kondisi awal penjualan daring yang hanya sekitar Rp2 juta per bulan akibat biaya logistik yang membebani, BUMDes Tujuh Maret kini mempekerjakan sekitar 20 warga desa secara tetap sebagai awak kapal, pekerja sortir teri, staf pengemasan, dan staf pariwisata, capaian berarti bagi desa berpenduduk sekitar 1.050 jiwa [6]. Kelompok ibu-ibu pengolah ikan mendapat bayaran per kilogram di setiap rantai proses, sementara nelayan kini memiliki kepastian harga jual yang lebih adil dibanding era dominasi tengkulak [1].

Jangkauan pasar Teri Hadakewa meluas ke berbagai wilayah Indonesia melalui marketplace dan WhatsApp Business, dan menurut Direktur BUMDes Benediktus Lamapaha, produk ini telah mengisi pasar hingga ke India, klaim yang berakar dari promosi Klemens Kwaman dalam sebuah acara di India pada September 2019 yang menarik minat pembeli mancanegara [3], [11]. Kemenangan Juara I BUMDes Award 2025 Kategori Pariwisata dari Kanwil DJPb Provinsi NTT bersama KPw Bank Indonesia Provinsi NTT mengonfirmasi bahwa model pengelolaan Tujuh Maret layak menjadi rujukan bagi BUMDes lain di NTT [4], [9].

Dampak sosial yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya kepercayaan diri warga desa yang kini memiliki aset produktif berupa armada kapal dan fasilitas wisata mandiri, sekaligus mendorong masuknya infrastruktur internet yang lebih baik ke Hadakewa. Nama desa kini dikenal luas sebagai contoh transformasi digital desa pesisir di Indonesia Timur [5].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal BUMDes Tujuh Maret bersumber dari Dana Desa senilai Rp85 juta pada 2018 untuk infrastruktur pengeringan dan pembelian bahan baku ikan [1]. Penambahan tiga unit kapal bagan pada Oktober 2020 senilai Rp328,9 juta didanai gabungan bantuan Pemerintah Kabupaten Lembata Rp200 juta dan modal desa Rp128,9 juta, dengan kapal-kapal tersebut kemudian dialihkan kepemilikannya kepada nelayan operator melalui skema cicilan hasil tangkapan [2].

Model pendapatan BUMDes bertumpu pada dua lini usaha: penjualan produk olahan ikan teri secara daring dan luring, serta pendapatan dari fasilitas wisata Pantai Hadakewa berupa restoran, kafe kapal, banana boat, camping ground, dan penyewaan alat watersport [4]. Skema cicilan kapal kepada nelayan berfungsi ganda sebagai mekanisme pengembalian investasi sekaligus jaminan pasokan bahan baku bagi unit usaha pengolahan.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan menjadikan Dana Desa sebagai modal bisnis produktif alih-alih sekadar dana infrastruktur fisik terbukti menjadi pilihan tepat yang membuka jalan bagi BUMDes untuk tumbuh secara bertahap dan mandiri. Diversifikasi ke sektor wisata begitu perikanan mulai stabil juga terbukti menjadi langkah tepat yang menjaga arus kas BUMDes tidak bergantung pada satu musim komoditas saja [4].

Jika memulai dari awal, penguatan kapasitas produksi dan sistem pengeringan yang tidak bergantung sepenuhnya pada cuaca dan tenaga manual idealnya disiapkan lebih dini, mengingat BUMDes sempat kehilangan peluang pasokan rutin lima ton per bulan dari pembeli Jepang karena keterbatasan ini [5]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memastikan kapasitas produksi dapat diskalakan sebelum gencar mempromosikan produk ke pasar yang lebih luas, agar permintaan besar yang datang tidak berakhir menjadi peluang yang terlewat.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan dijalankan dengan terus mendiversifikasi unit usaha agar BUMDes tidak bergantung pada satu komoditas: keuntungan penjualan teri menopang pengembangan fasilitas wisata pantai, sementara pendapatan wisata memperkuat cadangan modal kerja saat musim teri lesu [4]. Kolaborasi dengan Bank Indonesia NTT dan Pemerintah Kabupaten Lembata terus diperkuat untuk pendampingan manajemen keuangan dan akses permodalan bagi peralatan pengering yang tidak bergantung cuaca [7].

Pelestarian lingkungan laut menjadi fondasi keberlanjutan melalui aturan penangkapan ramah lingkungan dan edukasi nelayan agar stok ikan teri tetap terjaga untuk generasi berikutnya. Sistem pembayaran digital dan manajemen stok berbasis aplikasi terus diperluas, sementara regenerasi SDM pengelola dari kalangan anak muda desa menjadi agenda menjaga kesinambungan kepemimpinan BUMDes jangka panjang [8].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

BUMDes Tujuh Maret Hadakewa mengintegrasikan dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam satu model pengelolaan bisnis berbasis komunitas di desa pesisir kepulauan Indonesia Timur.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan BUMDes menciptakan penghasilan tetap bagi warga desa dan sistem bayar per kilogram bagi kelompok ibu-ibu pengolah ikan, mengangkat keluarga nelayan dari ketergantungan pada tengkulak. Sekitar 20 warga desa bekerja tetap sebagai awak kapal, pekerja sortir, staf pengemasan, dan staf pariwisata.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Digitalisasi rantai nilai ikan teri dari kapal milik desa hingga marketplace nasional menciptakan pekerjaan di seluruh rantai produksi sekaligus mendorong Pendapatan Asli Desa dari sektor produktif. Penjualan daring berkembang dari sekitar Rp2 juta per bulan pada masa awal menjadi jangkauan pasar nasional dan promosi lintas negara.
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Penerapan pemasaran digital (marketplace, WhatsApp Business) oleh BUMDes desa terpencil di NTT membuktikan keterbatasan geografis bukan penghalang untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital nasional. Tiga unit kapal bagan senilai Rp328,9 juta menambah kapasitas pasokan bahan baku sejak Oktober 2020.
SDGs 14: Ekosistem Lautan Penerapan aturan penangkapan ikan ramah lingkungan dan edukasi nelayan tentang kelestarian ekosistem pesisir memastikan ketersediaan stok ikan teri Hadakewa untuk generasi berikutnya. Kapal cicilan dialihkan kepemilikannya kepada nelayan operator dengan pengaturan hasil tangkapan yang terkoordinasi BUMDes.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara Pemerintah Desa Hadakewa, Bank Indonesia NTT, Kanwil DJPb NTT, Pemkab Lembata, dan mitra reseller menciptakan ekosistem kemitraan multipihak bagi pengembangan ekonomi desa. Juara I BUMDes Award 2025 Kategori Pariwisata dari Kanwil DJPb Provinsi NTT bersama KPw Bank Indonesia Provinsi NTT.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model integrasi perikanan dan pariwisata BUMDes Tujuh Maret siap direplikasi oleh desa-desa pesisir lain di NTT dengan karakteristik serupa: kekayaan laut melimpah, ketergantungan pada tengkulak, dan minimnya hilirisasi produk perikanan [4]. BUMDes Tujuh Maret membuka diri sebagai pusat pembelajaran bagi pengelola BUMDes lain, sejalan dengan program Bank Indonesia NTT dan Kementerian Desa yang membina puluhan BUMDes di NTT agar mampu memasarkan produknya secara digital ke luar provinsi [7].

Untuk scale up, BUMDes berencana menambah armada kapal dan memodernisasi alat pengeringan agar kapasitas produksi tidak lagi terkendala musim maupun keterbatasan tenaga manual seperti yang pernah menghambat pemenuhan permintaan besar dari pembeli Jepang, serta memperluas jaringan reseller di kota-kota besar selain Jakarta [2]. Bupati Lembata meminta BUMDes Hadakewa menjadi motor penggerak dan role model bagi desa-desa lain di Lembata untuk berani berinovasi sesuai potensi lokal masing-masing [8].

 

Daftar Pustaka

[1] BAKTI Kominfo, “Hadakewa, Desa dengan BUMDes Digital,” baktinews.bakti.or.id. [Online]. Available: https://baktinews.bakti.or.id/artikel/hadakewa-desa-dengan-bumdes-digital

[2] Antara NTT, “BUMDes di Hadakewa Tambah Kapal Perkuat Pasokan Ikan Teri,” kupang.antaranews.com, 18 Okt. 2020. [Online]. Available: https://kupang.antaranews.com/berita/39877/bumdes-di-hadakewa-tambah-kapal-perkuat-pasokan-ikan-teri

[3] MedCom.id, “BUMDes Tujuh Maret Hadakewa Sukses Kelola Ikan Teri,” medcom.id, 2 Mei 2021. [Online]. Available: https://www.medcom.id/gaya/wisata/Rkjl4eEN-bumdes-tujuh-maret-hadakewa-sukses-kelola-ikan-teri

[4] Antara Mataram, “BUMDes Hadakewa Lembata Contoh Baik di Usaha Pariwisata,” mataram.antaranews.com, 21 Jun. 2025. [Online]. Available: https://mataram.antaranews.com/berita/463453/bumdes-hadakewa-lembata-contoh-baik-di-usaha-pariwisata

[5] Merdeka.com, “Ikan Teri Hadakewa: Panen di Laut, Jual di Udara,” merdeka.com, 19 Ags. 2021. [Online]. Available: https://www.merdeka.com/khas/ikan-teri-hadakewa-panen-di-laut-jual-di-udara.html

[6] Pikiran Rakyat Lembata, “Keren! Desa Hadakewa Raih Juara 1 BUMDes Award Tahun 2025,” lembata.pikiran-rakyat.com, 4 Jun. 2025. [Online]. Available: https://lembata.pikiran-rakyat.com/daerah/pr-2169390076/keren-desa-hadakewa-raih-juara-1-bumdes-award-tahun-2025-kades-klemens-kwaman

[7] Antara NTT, “BUMDes di NTT Dibina Pasarkan Produk Secara Digital,” kupang.antaranews.com, 24 Mar. 2026. [Online]. Available: https://kupang.antaranews.com/berita/40364/bumdes-di-ntt-dibina-pasarkan-produk-secara-digital

[8] Pojoknesia.com, “Raih BUMDes Award 2025, Bupati Lembata Minta Jadi Motor Penggerak Desa Lain,” pojoknesia.com, 17 Jun. 2025. [Online]. Available: https://www.pojoknesia.com/raih-bumdes-award-2025-bupati-lembata-minta-jadi-motor-penggerak-desa-lain

[9] Swara Timor, “BUMDes Tujuh Maret Hadakewa Raih Penghargaan BUMDes Award Kategori Pariwisata,” swaratimor.co.id, 21 Jun. 2025. [Online]. Available: https://swaratimor.co.id/2025/06/21/bumdes-tujuh-maret-hadakewa-raih-penghargaan-bumdes-award-kategori-pariwisata/

[10] Media Indonesia, “Pemasaran Produk BUMDes di Lembata Sudah via Aplikasi,” mediaindonesia.com, 17 Jun. 2021. [Online]. Available: https://mediaindonesia.com/nusantara/412818/pemasaran-produk-bumdes-di-lembata-sudah-via-aplikasi

[11] Kompas.id, “Klemens Kwaman, Cahaya dari Hadakewa,” kompas.id, 31 Mei 2024. [Online]. Available: https://www.kompas.id/baca/tokoh/2024/05/31/klemens-kwaman-cahaya-dari-hadakewa

Data Inovasi

Nama Inovasi
Digitalisasi Ikan Teri dan Wisata Bahari Terpadu BUMDes Tujuh Maret
Alamat
Desa Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Inovator
Klemens Kwaman (Kepala Desa Hadakewa), Benediktus Lamapaha (Direktur BUMDes Tujuh Maret), Pemerintah Desa Hadakewa
Kontak
Website: http://hadakewa.desa.id; Klemens Kwaman: +62-813-4276-7461
Lokasi