Ringkasan Inovasi

Pemerintah Tiyuh Penumangan Baru di Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung, sejak 2016 menjawab krisis pendapatan rumah tangga akibat anjloknya harga karet dengan mengembangkan komoditas baru berupa nangka mini di pekarangan rumah warga [1]. Menggunakan Dana Desa sebesar Rp66 juta, pemerintah desa mengadakan 4.000 bibit nangka mini yang dibagikan gratis kepada 900 dari total 1.263 keluarga di desa untuk ditanam di pekarangan masing-masing, tanpa memerlukan lahan atau modal tambahan dari warga [1].

Berdasarkan audit pemerintah tiyuh, seluruh 4.000 bibit yang ditanam tumbuh, dan pada pertengahan 2018 sekitar 20 persen tanaman mulai berbuah, lebih cepat dari proyeksi awal [1]. Inovasi ini menunjukkan bahwa diversifikasi pertanian berbasis pekarangan rumah dapat menjadi bantalan ekonomi tambahan bagi petani yang bergantung pada satu komoditas [7].

 

Latar Belakang

Tiyuh Penumangan Baru adalah desa perkebunan karet yang ekonomi rumah tangganya hampir sepenuhnya bergantung pada harga getah. Karet berproduksi sepanjang tahun, tetapi memiliki dua titik kerentanan utama: masa replanting selama 6-7 tahun tanpa penghasilan dan ketergantungan penuh pada harga pasar yang dipengaruhi faktor global [1].

Sejak 2013, harga karet di Lampung mulai turun. Harga yang pada 2012 masih sekitar Rp8.000 per kilogram tergerus hingga menyentuh Rp3.500 per kilogram. Penelitian akademis mengonfirmasi bahwa penurunan harga karet di Lampung memukul langsung pendapatan bulanan petani, memaksa sebagian beralih kerja sebagai buruh, dan mendorong pengalihan lahan ke komoditas lain yang dianggap lebih prospektif [2].

Sebagian petani bahkan menebang pohon karet yang sudah bertahun-tahun mereka rawat karena tertekan kondisi ekonomi. Kondisi ini membuka kesadaran bahwa pola pertanian monokultur menjadi akar kerentanan: ketika satu komoditas jatuh, ekonomi rumah tangga ikut terjatuh tanpa ada penopang lain [3].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang dikembangkan bukan mengganti karet, melainkan menambah sumber pendapatan baru tanpa memerlukan lahan baru. Pilihan jatuh pada nangka mini, varietas nangka setinggi 3-5 meter yang cocok ditanam di pekarangan rumah, berbuah mulai usia 1,5 tahun, dan mampu menghasilkan lebih dari 40 buah per pohon dengan berat yang bervariasi [4], [5].

Mekanismenya sederhana: Dana Desa dipakai untuk membeli bibit, bukan memberikan subsidi tunai. Setiap keluarga menerima 3-5 bibit secara gratis untuk ditanam di halaman rumah yang sebelumnya tidak produktif. Dengan pendekatan ini, tidak ada tambahan biaya sewa lahan, tidak ada persaingan dengan kebun karet, dan seluruh manfaat panen langsung menjadi milik keluarga penerima [1].

 

Proses Penerapan Inovasi

Perubahan dimulai dari akar warga. Informasi tentang potensi ekonomi nangka mini beredar di antara masyarakat dan mendapat sambutan antusias, lalu dibawa ke forum perencanaan pembangunan desa yang melibatkan tokoh masyarakat dan aparat tiyuh untuk didiskusikan secara terbuka [1].

Pada 2016, kesepakatan itu dituangkan dalam Peraturan Tiyuh (Perti) Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pengadaan, Penanaman, dan Perawatan Nangka Mini. Terbitnya Perti ini menjadi tonggak penting karena program tidak lagi bersifat imbauan, melainkan kebijakan desa dengan kekuatan hukum, kewajiban pelaksanaan, dan mekanisme akuntabilitas yang jelas [1].

Realisasi pengadaan 4.000 bibit dari Dana Desa sebesar Rp66 juta dilaksanakan setelah regulasi terbit, dan pemerintah tiyuh melakukan audit berkala terhadap perkembangan tanaman. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci adanya kegagalan atau koreksi teknis selama tahap penanaman awal ini; audit justru mencatat hasil yang melampaui proyeksi, dengan seluruh bibit tumbuh dan 20 persen tanaman sudah berbuah pada pertengahan 2018 [1].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan utama muncul pada tahap pascapanen. Ketika ribuan pohon mulai berproduksi hampir serentak sejak 2019, desa menghadapi risiko sulitnya menyerap dan memasarkan hasil panen dalam volume besar secara bersamaan, yang berpotensi menekan harga jual lokal jika tidak dikelola [1]. Pemerintah tiyuh memitigasi risiko ini dengan mendorong BUMDes untuk mengambil peran sebagai agregator hasil panen, mengumpulkan dan memasarkan produk secara kolektif alih-alih membiarkan setiap keluarga menjual sendiri-sendiri ke pasar yang sama [9].

Kendala lain adalah kapasitas warga dalam perawatan tanaman jangka panjang. Berbeda dari karet yang sudah menjadi pengetahuan turun-temurun, budidaya nangka memerlukan praktik pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian hama yang berbeda [8]. Kendala ini dimitigasi melalui pendampingan teknis dari penyuluh pertanian, meski dokumentasi yang tersedia tidak merinci intensitas dan cakupan pendampingan tersebut secara spesifik.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Penentu keberhasilan utama adalah kesesuaian solusi dengan kondisi nyata warga: nangka mini tidak membutuhkan lahan baru, tidak membutuhkan modal tambahan dari petani, dan cocok dengan iklim Lampung. Kesesuaian ini membuat tingkat partisipasi warga tinggi, dengan 900 dari 1.263 keluarga bersedia menerima dan menanam bibit [1].

Faktor kedua adalah penguatan melalui regulasi desa. Terbitnya Perti Nomor 12 Tahun 2016 mengubah program dari inisiatif kepala tiyuh menjadi komitmen desa yang mengikat lintas periode kepemimpinan, sementara Dana Desa sebagai instrumen fiskal mandiri memungkinkan program dieksekusi tanpa menunggu anggaran kabupaten [1].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Secara kuantitatif, program ini menanamkan 4.000 bibit di pekarangan 900 rumah warga, setara pemanfaatan lahan produktif sekitar 10 hektare yang sebelumnya menganggur. Seluruh bibit tumbuh, dan pada pertengahan 2018 sekitar 20 persen tanaman sudah berbuah, dengan proyeksi panen raya 2019 rata-rata 25-40 kg per batang dan tambahan pendapatan Rp2.000-Rp3.000 per kilogram bagi setiap keluarga [1].

Secara kualitatif, pekarangan rumah yang semula tidak produktif kini menjadi sumber pangan dan pendapatan tambahan. Peternak kambing turut memperoleh manfaat karena dedaunan nangka mini dapat menjadi pakan ternak, sementara pohonnya yang kompak juga menambah nilai estetika halaman rumah [6].

Dampak jangka panjang yang lebih strategis adalah perubahan pola pikir petani dari mentalitas bergantung pada satu komoditas menjadi diversifikasi. Penelitian menunjukkan bahwa petani karet yang melakukan diversifikasi usaha tani memiliki pendapatan yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan yang hanya mengandalkan karet [7].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Seluruh biaya pengadaan bibit bersumber dari Dana Desa sebesar Rp66 juta untuk 4.000 bibit nangka mini, dialokasikan setelah disahkannya Perti Nomor 12 Tahun 2016 sebagai landasan hukum program [1]. Desa secara sengaja memilih model pemberian bibit gratis, bukan subsidi tunai, agar dana langsung menghasilkan aset produktif jangka panjang bagi penerima, bukan habis terpakai untuk konsumsi jangka pendek.

Model pendapatan warga bersifat mandiri per rumah tangga, dari penjualan langsung hasil panen seharga Rp2.000-Rp3.000 per kilogram tanpa keterlibatan modal tambahan dari keluarga penerima [1]. Untuk keberlanjutan pascapanen, desa mengarahkan BUMDes membangun fungsi agregasi dan pemasaran kolektif, sehingga pendapatan dari hasil panen skala besar tidak sepenuhnya bergantung pada kemampuan pemasaran individu tiap keluarga [9].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan yang terbukti tepat adalah memilih intervensi yang tidak menambah beban warga, yaitu bibit gratis untuk lahan pekarangan yang sudah ada, serta menguatkannya melalui Peraturan Tiyuh agar program tidak bergantung pada satu kepemimpinan [1]. Pendekatan ini terbukti mendorong partisipasi tinggi tanpa memerlukan insentif tunai maupun modal tambahan dari penerima manfaat.

Jika memulai dari awal, perencanaan saluran distribusi dan pemasaran pascapanen idealnya disiapkan sejak tahap penanaman, bukan menunggu hingga ribuan pohon mulai berproduksi serentak [9]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memilih komoditas pekarangan yang benar-benar tidak bersaing dengan komoditas utama, mengikat kesepakatan warga dalam regulasi desa yang mengikat, dan menyiapkan pendampingan teknis budidaya sejak awal karena komoditas baru umumnya tidak diwariskan sebagai pengetahuan turun-temurun seperti komoditas lama [8].

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan program bergantung pada kesiapan BUMDes memainkan peran aktif sebagai agregator dan pemasar, mencakup pengumpulan hasil, pengemasan, penetapan harga bersama, dan koneksi ke pasar di luar desa. Model serupa telah diterapkan di desa lain melalui pengembangan wisata edukasi buah dan pemasaran daring produk desa [9].

Program juga diarahkan untuk diperluas ke pengolahan produk turunan nangka, seperti keripik, selai, dan tepung nangka, yang dapat memperpanjang masa simpan, memperluas pasar, dan menambah nilai jual produk desa. Penelitian pengolahan produk nangka menunjukkan bahwa diversifikasi olahan membantu pemasaran tidak bergantung sepenuhnya pada musim panen dan daya serap pasar lokal yang terbatas [10].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi budidaya nangka mini Tiyuh Penumangan Baru berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Program bibit gratis kepada 900 keluarga menghadirkan sumber pendapatan baru bagi petani karet yang terhimpit anjloknya harga getah, mengurangi risiko kemiskinan akibat ketergantungan pada komoditas tunggal. 900 dari 1.263 keluarga menerima 4.000 bibit nangka mini secara gratis untuk ditanam di pekarangan.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Produksi nangka mini di pekarangan rumah menambah ketersediaan pangan lokal yang bergizi dan mengurangi ketergantungan pengeluaran pangan pada pasar saat pendapatan karet rendah. Proyeksi panen 2019 rata-rata 25-40 kg per batang dari 4.000 pohon yang ditanam.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Diversifikasi ke nangka mini memberi petani sumber pendapatan tambahan yang lebih tahan terhadap guncangan harga komoditas global. Tambahan pendapatan diproyeksikan Rp2.000-Rp3.000 per kilogram bagi tiap keluarga penerima bibit.
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Penerbitan Peraturan Tiyuh Nomor 12 Tahun 2016 sebagai fondasi hukum pengembangan komoditas baru menunjukkan inovasi kelembagaan desa yang memadukan regulasi dengan program pertanian. Perti Nomor 12 Tahun 2016 mengatur pengadaan, penanaman, dan perawatan nangka mini secara mengikat.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Pemanfaatan pekarangan dengan tanaman produktif menambah tutupan hijau dan mengurangi kerentanan lahan monokultur karet terhadap hama dan penyakit yang umum pada pola tanam tunggal. Sekitar 10 hektare lahan pekarangan yang sebelumnya tidak produktif kini ditanami nangka mini.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Tiyuh Penumangan Baru dapat direplikasi oleh desa-desa karet lain di Lampung, Sumatera Selatan, dan Kalimantan yang menghadapi masalah serupa. Kunci replikasinya ada tiga: mengidentifikasi komoditas diversifikasi yang cocok dengan iklim dan lahan pekarangan lokal, mewujudkan kesepakatan warga dalam regulasi desa yang mengikat, dan mengalokasikan Dana Desa untuk bibit agar tidak ada hambatan modal bagi keluarga penerima [1], [2].

Untuk scale up, desa dapat memperluas program dari satu jenis tanaman pekarangan menjadi sistem agroforestri pekarangan yang lebih komprehensif, menggabungkan nangka mini dengan komoditas hortikultura lain. Langkah ini didukung bukti bahwa petani karet yang melakukan diversifikasi usaha tani memiliki pendapatan yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan petani monokultur [7].

 

Daftar Pustaka

[1] Inovasi.web.id, “ID 00613: Budidaya Nangka Mini, Inovasi Desa Tiyuh Penumangan Baru Dongkrak Pendapatan Rumah Tangga Saat Harga Jual Karet Anjlog,” inovasi.web.id, 13 Agu. 2019. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/budidaya-nangka-mini-inovasi-desa-tiyuh-penumangan-baru-dongkrak-pendapatan-rumah-tangga-saat-harga-jual-karet-anjlog/.

[2] D. Permatasari, “Pengaruh Harga Karet terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Lampung,” Adzkiya: Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah, Universitas Metro. [Daring]. Tersedia: https://e-journal.metrouniv.ac.id/adzkiya/article/download/1785/1556.

[3] Repository UIN Raden Intan, “Analisis Dampak Fluktuasi Harga Karet terhadap Kesejahteraan Petani,” repository.radenintan.ac.id, 2024. [Daring]. Tersedia: https://repository.radenintan.ac.id/32711/.

[4] Kementerian Pertanian RI, “Budidaya Nangka,” repository.pertanian.go.id. [Daring]. Tersedia: https://repository.pertanian.go.id/bitstreams/3a3da104-0e36-4b24-83bd-52d5efe3b823/download.

[5] Kompas Agri, “Budidaya Nangka Mini di Pekarangan Rumah agar Berbuah Lebat,” agri.kompas.com, 19 Nov. 2022. [Daring]. Tersedia: https://agri.kompas.com/read/2022/11/19/150845984/.

[6] Kompas Agri, “Cara Budidaya Pohon Nangka Mini, Bisa Berbuah Terus-menerus,” agri.kompas.com, 18 Okt. 2022. [Daring]. Tersedia: https://agri.kompas.com/read/2022/10/18/082000484/.

[7] Universitas Sriwijaya, “Perbandingan Petani Monokultur Karet dan Diversifikasi Karet-Sawit,” repository.unsri.ac.id. [Daring]. Tersedia: https://repository.unsri.ac.id/29842/3/.

[8] GDM Organik, “Cara Menanam Nangka Mini Terlengkap agar Berbuah Lebat,” gdm.id, 11 Sep. 2025. [Daring]. Tersedia: https://gdm.id/cara-menanam-nangka-mini/.

[9] S. Wibowo et al., “Pengembangan BUMDes Lumintu dalam Edukasi Wisata Alam Buah Nangka di Desa Pasung, Klaten,” Prosiding LPPM UPN Veteran Yogyakarta, 2024. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.upnyk.ac.id/index.php/prosidingLPPM/article/view/14990.

[10] Universitas Mataram, “Pembuatan Produk Olahan Inovatif dari Daging Buah Nangka dan Bijinya,” Journal Portal Abdimas Unram, 2024. [Daring]. Tersedia: https://journal.unram.ac.id/index.php/portalabdimas/article/download/3995/2204.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Budidaya Nangka Mini di Pekarangan Rumah
Alamat
Tiyuh Penumangan Baru, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung
Inovator
Pemerintah Tiyuh Penumangan Baru
Kontak
Wirdani (Kepala Tiyuh Penumangan Baru), Telepon +62-823-7974-6369, E-mail penumanganbaru@gmail.com
Lokasi