Ringkasan Inovasi

BUMDes Masagenae di Desa Salobukkang, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Provinsi Sulawesi Selatan, sejak Juli 2025 mengelola peternakan itik petelur skala desa dengan memelihara 500 ekor itik berusia enam bulan sebagai langkah penguatan ketahanan pangan lokal [1]. Inovasi ini mendorong transformasi dari aktivitas beternak itik warga yang selama ini berjalan tradisional menjadi unit usaha BUMDes yang dikelola dengan manajemen kandang terstandar [3]. Transformasi ini didukung kolaborasi dengan mahasiswa KKN Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Unhas) Angkatan 114, yang membantu BUMDes Masagenae membangun sistem manajemen kandang berbasis ilmu peternakan modern [2]. Karena program ini baru berjalan dalam hitungan bulan, dokumentasi yang tersedia belum melaporkan data produksi atau penjualan telur yang telah terealisasi; sebagian besar angka yang beredar masih berupa proyeksi berdasarkan kapasitas kandang dan perbandingan dengan BUMDes peternakan itik lain di Sidrap [7].

 

Latar Belakang

Desa Salobukkang dikenal sebagai desa agraris di Kecamatan Dua Pitue dengan dua kekuatan ekonomi utama: pertanian padi dan peternakan. Aktivitas beternak itik sudah lama menjadi bagian mata pencaharian warga, namun sebagian besar masih dijalankan secara tradisional, tanpa manajemen terstruktur, tanpa standar kandang, dan tanpa jaminan pasar yang memberi kepastian harga [3].

Peternak lokal menghadapi dua tantangan utama: produktivitas itik yang belum optimal akibat sistem pemeliharaan tradisional, dan ketidakstabilan pasokan telur yang membuat harga berfluktuasi sehingga menyulitkan warga mendapat protein hewani dengan harga terjangkau [2]. Riset agribisnis di Kecamatan Dua Pitue juga menunjukkan bahwa sektor peternakan unggas di Sidrap menyimpan potensi yang belum dioptimalkan melalui pendekatan manajemen produksi dan akses pasar yang lebih sistematis [4].

Program ketahanan pangan nasional yang mendorong setiap desa membangun kemandirian pangan menjadi momentum bagi BUMDes Masagenae untuk melangkah lebih jauh dari fungsi administrasi desa semata [5]. Peternakan itik petelur dipilih karena siklus produksi telurnya relatif cepat dan konsisten, bernilai gizi tinggi, dengan biaya pemeliharaan yang secara umum lebih terjangkau dibanding jenis unggas lain di Sidrap [9].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pengelolaan peternakan itik petelur 500 ekor oleh BUMDes Masagenae dengan sistem manajemen kandang terstandar, berbeda dari pola tradisional yang selama ini berlaku di desa. BUMDes membangun kandang dengan ventilasi yang diperhatikan, sanitasi teratur, dan tata letak yang memudahkan pengelolaan pakan serta pengumpulan telur harian [2]. Standar manajemen ini lahir dari kolaborasi dengan mahasiswa KKN Fakultas Peternakan Unhas yang membawa metodologi peternakan modern ke praktik lapangan di Salobukkang [3].

Inovasi ini bekerja melalui sistem manajemen pemeliharaan terpadu: pakan diberikan terjadwal sesuai kebutuhan nutrisi itik petelur, air minum tersedia segar dan diganti berkala, dan sanitasi kandang dilakukan rutin untuk mencegah wabah penyakit [1]. Rencana pengelolaan pendapatan dari penjualan telur diarahkan sebagian ke kas BUMDes dan Pendapatan Asli Desa (PADes), dan sebagian lagi menjadi cadangan modal pengembangan populasi itik ke depan [7].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses implementasi dimulai dari identifikasi potensi peternakan desa oleh pemerintah desa dan pengurus BUMDes Masagenae, yang kemudian mengorganisasi aktivitas peternakan itik warga menjadi satu unit usaha BUMDes yang lebih terkelola [3]. Dana pengembangan unit peternakan bersumber dari alokasi Dana Desa untuk program ketahanan pangan, sesuai kebijakan nasional yang mendorong penggunaan Dana Desa membangun kemandirian pangan di tingkat lokal [5].

Momentum transformasi terbesar datang dari kehadiran mahasiswa KKN Unhas 114 Fakultas Peternakan pada Juli 2025, yang melaksanakan sosialisasi “Pengembangan Kandang serta Budidaya Itik Petelur Melalui Penerapan Manajemen Kandang yang Baik” bagi peternak lokal, tokoh masyarakat, dan pengelola BUMDes [2]. Materi mencakup desain kandang berstandar, pengelolaan ventilasi dan sanitasi, sistem pemberian pakan terjadwal, serta deteksi dini penyakit umum pada itik petelur [2].

Karena program ini baru berjalan sejak pertengahan 2025, dokumentasi yang tersedia tidak merinci adanya kegagalan produksi atau koreksi teknis besar sejauh ini. Pemkab Sidrap turut memperkuat ekosistem ini melalui sosialisasi budidaya itik oleh Dinas Peternakan dan Perikanan kepada penerima bantuan itik di berbagai desa [8].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan utama adalah menjaga konsistensi kualitas manajemen kandang setelah tim KKN Unhas tidak lagi hadir mendampingi secara langsung, karena pengetahuan teknis yang disampaikan selama KKN perlu benar-benar tertanam dalam rutinitas pengelola BUMDes [2]. Kendala ini direncanakan dimitigasi melalui penyusunan SOP tertulis serta upaya membangun hubungan institusional permanen dengan Fakultas Peternakan Unhas, bukan hanya mengandalkan satu periode KKN.

Tantangan kedua adalah fluktuasi harga pakan itik yang bergantung pada pasokan dedak padi dan konsentrat dari luar desa. Ironisnya, meski Desa Salobukkang adalah produsen padi besar, pemanfaatan dedak sisa penggilingan sebagai komponen pakan itik lokal belum terintegrasi secara sistematis [11]. Kendala ini direncanakan dimitigasi melalui integrasi rantai pakan lokal yang memanfaatkan dedak dari penggilingan padi desa sendiri, sehingga biaya pakan tidak sepenuhnya bergantung pasokan luar desa.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor pertama adalah kolaborasi desa-universitas melalui program KKN Tematik Peternakan Unhas, yang membawa transfer pengetahuan teknis dari desain kandang, manajemen pakan, hingga pengendalian penyakit yang sebelumnya tidak dimiliki pengelola BUMDes maupun peternak lokal [2]. Kajian tentang model collaborative governance menunjukkan bahwa kemitraan pemerintah desa, BUMDes, dan akademisi menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan unit usaha BUMDes berbasis peternakan di Sulawesi Selatan [10].

Faktor kedua adalah ekosistem kebijakan yang mendukung dari Pemkab Sidrap. Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif pada November 2025 menyerahkan bantuan 19.600 ekor itik kepada 415 rumah tangga peternak di pesisir Danau Sidenreng, menunjukkan komitmen pemerintah daerah terhadap pengembangan peternakan itik sebagai bagian ketahanan pangan kabupaten [6]. BUMDes Masagenae mendapat manfaat dari dukungan kebijakan ini melalui akses pelatihan dan jaringan yang lebih luas [8].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Dengan 500 ekor itik dan tingkat bertelur rata-rata itik petelur pada umumnya 70-85%, BUMDes Masagenae berpotensi menghasilkan sekitar 350-425 butir telur per hari, meski dokumentasi yang tersedia belum melaporkan angka produksi harian riil yang telah tercapai [1]. Sebagai perbandingan, BUMDes Mattappae Desa Sereang yang mengelola 300 ekor bebek petelur melaporkan pendapatan kotor sekitar Rp630.000 per hari dari 9 rak telur; jika pola serupa berlaku, BUMDes Masagenae berpotensi meraih pendapatan kotor pada kisaran Rp700.000-Rp840.000 per hari, namun angka ini adalah proyeksi berbasis perbandingan, bukan capaian aktual Masagenae [7].

Di luar proyeksi peternakan, Desa Salobukkang memiliki capaian pangan yang sudah terverifikasi dari sektor padi: pada Maret 2026, panen di lahan 362 hektare menghasilkan 3.300 ton gabah senilai sekitar Rp25 miliar [11]. Program peternakan itik diharapkan melengkapi capaian ini sebagai pilar kedua ketahanan pangan desa begitu produksi telur berjalan stabil.

Dampak sosial-ekonomi yang diharapkan mencakup terbukanya lapangan kerja bagi warga sebagai pengelola kandang dan penjual telur, serta kontribusi PADes dari unit peternakan begitu penjualan berjalan rutin [1]. Karena program ini masih pada tahap awal, dampak-dampak ini perlu diverifikasi kembali melalui laporan lanjutan begitu satu siklus produksi penuh terlewati.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal pengembangan unit peternakan bersumber dari alokasi Dana Desa untuk program ketahanan pangan, sesuai kebijakan nasional yang mendorong penggunaan Dana Desa membangun kemandirian pangan di tingkat lokal [5]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal secara spesifik untuk pembangunan kandang dan pengadaan 500 ekor itik.

Model pendapatan yang direncanakan bertumpu pada penjualan telur harian, dengan sebagian hasil dialokasikan ke kas BUMDes dan PADes untuk membiayai program pembangunan desa, dan sebagian lagi menjadi cadangan modal untuk memperbesar populasi itik [7]. Karena program belum genap berjalan satu tahun, model pendapatan ini masih berupa rencana yang belum sepenuhnya teruji dalam siklus produksi penuh.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan yang terbukti tepat adalah menggandeng KKN Tematik Peternakan sejak awal untuk mendapatkan transfer pengetahuan manajemen kandang, alih-alih membangun unit usaha peternakan hanya berdasarkan pengalaman tradisional warga [2]. Pemilihan itik sebagai komoditas, karena siklus produksinya cepat dan biaya pemeliharaannya relatif terjangkau, juga menjadi pilihan yang sesuai untuk BUMDes berskala kecil dengan modal terbatas [9].

Jika memulai dari awal, integrasi pemanfaatan dedak lokal sebagai komponen pakan idealnya direncanakan sejak tahap desain program, bukan diidentifikasi belakangan sebagai celah efisiensi setelah kandang berjalan [11]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan menyusun SOP tertulis sejak awal agar pengetahuan teknis dari pendampingan sementara seperti KKN tidak hilang begitu program pendamping selesai, dan memetakan sumber pakan lokal yang tersedia sebelum populasi ternak diperbesar.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan jangka panjang bertumpu pada internalisasi pengetahuan manajemen kandang ke dalam SOP tertulis BUMDes Masagenae yang menjamin standar kebersihan, pakan, dan pengelolaan tetap terjaga meski personel pengelola berganti [2]. Membangun hubungan institusional permanen dengan Fakultas Peternakan Unhas, tidak hanya melalui satu periode KKN, menjadi strategi kunci agar BUMDes terus mendapat akses pengetahuan teknis dan pendampingan [3].

Integrasi rantai nilai pakan lokal menjadi agenda strategis: memanfaatkan dedak dari penggilingan padi Salobukkang sebagai komponen pakan itik dapat menekan biaya produksi [11]. Contoh sistem kandang kering yang diterapkan BUMDes Mattapae untuk menambah pendapatan dan memperkuat ketahanan pangan dapat menjadi rujukan teknis tambahan bagi Masagenae [12]. Hilirisasi produk, seperti pengolahan telur itik menjadi telur asin, juga terbuka sebagai strategi lanjutan untuk meningkatkan margin begitu produksi berjalan stabil [7].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

BUMDes Masagenae berpotensi berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Unit peternakan itik BUMDes berpotensi memberi penghasilan rutin kepada pengelola kandang dan penjual telur, di luar ketergantungan pada panen musiman. 500 ekor itik dikelola BUMDes dengan rencana pembagian hasil ke pengelola kandang begitu penjualan berjalan.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Produksi telur itik lokal diproyeksikan memperkuat ketersediaan protein hewani terjangkau bagi warga Salobukkang begitu produksi berjalan stabil. Potensi produksi sekitar 350-425 butir telur per hari dari 500 ekor itik pada tingkat bertelur 70-85%.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pengelolaan itik oleh BUMDes berpotensi mendorong PADes dari sektor peternakan dan membangun fondasi ekonomi desa di luar transfer fiskal pemerintah pusat. Sebagian pendapatan penjualan telur direncanakan dialokasikan ke PADes dan cadangan modal pengembangan populasi.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Sistem manajemen kandang terstandar dengan sanitasi rutin mencegah pencemaran lingkungan sekitar, sementara rencana integrasi pakan berbasis dedak lokal mengurangi ketergantungan pakan dari luar desa. Rencana pemanfaatan dedak dari penggilingan padi Salobukkang sebagai komponen pakan itik.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara BUMDes Masagenae, Pemerintah Desa Salobukkang, mahasiswa KKN Fakultas Peternakan Unhas, dan Pemkab Sidrap menciptakan model kemitraan desa-akademisi-pemerintah. Sosialisasi manajemen kandang oleh KKN Unhas 114 pada Juli 2025 dihadiri peternak lokal, tokoh masyarakat, dan pengelola BUMDes.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model BUMDes Masagenae relevan direplikasi di desa-desa lain di Kecamatan Dua Pitue dan wilayah sentra peternakan itik di Sulawesi Selatan yang memiliki tradisi beternak namun belum memiliki kelembagaan BUMDes yang memformalisasikan aktivitas tersebut menjadi unit usaha [3]. Kunci replikasinya adalah model kolaborasi KKN Tematik Peternakan, menggandeng fakultas peternakan perguruan tinggi terdekat untuk transfer teknologi kandang ke desa-desa percontohan [2].

Pemkab Sidrap yang telah mendistribusikan 19.600 ekor itik kepada peternak pesisir Danau Sidenreng dapat menjadikan BUMDes Masagenae sebagai salah satu model pengelolaan kelembagaan, menunjukkan bagaimana bantuan itik dapat diorganisasi ke dalam unit BUMDes [6]. Untuk scale up, penambahan populasi secara bertahap melalui reinvestasi keuntungan, jika produksi telah berjalan stabil, dapat membuka peluang BUMDes Masagenae menjadi salah satu pemasok telur itik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tingkat kecamatan [7].

 

Daftar Pustaka

[1] Desa Salobukkang, “BUMDes Masagenae Kelola 500 Ekor Itik Petelur untuk Ketahanan Pangan di Desa Salobukkang,” salobukkang.digitaldesa.id, 29 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://salobukkang.digitaldesa.id/berita/bumdes-masagenae-kelola-500-ekor-itik-petelur-untuk-ketahanan-pangan-di-desa-salobukkang.

[2] Desa Salobukkang, “Sosialisasi Dilaksanakan Mahasiswa/i KKN Unhas 114: Pengembangan Kandang dan Manajemen Itik Petelur,” salobukkang.digitaldesa.id, 29 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://salobukkang.digitaldesa.id/berita/sosialisasi-di-laksanakan-mahasiswai-kkn-unhas-114-pengembangan-kandang-dan-manajemen.

[3] Desa Salobukkang, “Penguatan Ketahanan Pangan di Desa Salobukkang Melalui Kolaborasi BUMDes dan KKN Unhas,” salobukkang.digitaldesa.id, 16 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://salobukkang.digitaldesa.id/berita/penguatan-ketahanan-pangan-di-desa-salobukkang-melalui-kolaborasi-bumdes-dan-kkn-unhas.

[4] N. Nurhijjah dkk., “Strategi Pengembangan Usaha Ayam Ras Petelur di Kecamatan Dua Pitue Kabupaten Sidenreng Rappang,” Jurnal Mimbar Agribisnis, Universitas Galuh, 2024. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.unigal.ac.id/mimbaragribisnis/article/view/11583.

[5] Pemdes Panca Pitue Sidrap, “Program Ketahanan Pangan: Peternakan Itik Petelur di BUMDes,” Instagram @pemdesppa, 9 Jan. 2026. [Daring]. Tersedia: https://www.instagram.com/reel/DTSONgdEwP1/.

[6] Pemkab Sidrap, “Bupati Sidrap Serahkan Bantuan 19.600 Itik untuk Masyarakat Pesisir Danau Sidenreng,” sidrapkab.go.id, 30 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://sidrapkab.go.id/berita/detail_berita/Berita073444.

[7] KitaSulsel, “BUMDes Mattappae Sereang Kembangkan Bebek Petelur, Raup Omzet Jutaan Rupiah per Bulan,” kitasulsel.com, 28 Jan. 2026. [Daring]. Tersedia: https://kitasulsel.com/2026/01/28/bumdes-mattappae-sereang-kembangkan-bebek-petelur-raup-omzet-jutaan-rupiah-per-bulan/.

[8] Pemkab Sidrap, “Dukung Peternakan Sukses, Disnakkan Sidrap Gelar Pelatihan Budidaya Itik,” sidrapkab.go.id, 6 Des. 2025. [Daring]. Tersedia: https://sidrapkab.go.id/berita/detail_berita/Berita201002.

[9] Pusat Analisis Pendapatan Peternak Itik, “Analisis Pendapatan Peternak Itik Pedaging Berdasarkan Skala Usaha di Kabupaten Sidenreng Rappang,” Garuda Kemdikbud. [Daring]. Tersedia: http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=618680.

[10] Jurnal Sosial dan Politik, “Model Collaborative Governance dalam Pengembangan BUMDes Sulawesi Selatan,” Garuda Kemdikbud. [Daring]. Tersedia: http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1724051.

[11] Pemkab Sidrap, “Panen Padi di Salobukkang, Bupati Sidrap Fokus Peningkatan Pendapatan,” sidrapkab.go.id, 2 Mar. 2026. [Daring]. Tersedia: https://sidrapkab.go.id/berita/detail_berita/Berita200731.

[12] Pemkab Sidrap, “Kandang Kering BUMDes Mattapae, Solusi Tambah Pendapatan dan Ketahanan Pangan,” sidrapkab.go.id, 27 Jan. 2026. [Daring]. Tersedia: https://sidrapkab.go.id/berita/detail_berita/Berita224022.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Peternakan Itik Petelur BUMDes Masagenae Berbasis Manajemen Kandang Terstandar
Alamat
Desa Salobukkang, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan
Inovator
Pengurus BUMDes Masagenae dan Pemerintah Desa Salobukkang
Kontak
Telepon +62-823-3932-5253 (Pemerintah Desa Salobukkang) dan +62-852-3777-7966 (BUMDes Masagenae), E-mail infodesasalobukkang@gmail.com
Lokasi