Ringkasan Inovasi
Di workshop kecil di Jalan Poros RT 01, Desa Suka Maju, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, sampah plastik rumah tangga yang sebelumnya menjadi beban lingkungan kini diolah menjadi paving block. Bank Sampah Mandiri (BSM), yang dirintis dan dipimpin Yayuk Sehati sejak 2018, mengembangkan teknologi daur ulang plastik campuran menjadi bahan bangunan yang digunakan langsung untuk pembangunan fasilitas desa [1]. Inovasi ini mendapat perhatian lintas instansi: produk paving block plastik Desa Suka Maju dipresentasikan dalam Pekan Inovasi Daerah 2023 yang digelar BRIDA Kutai Kartanegara, dan BRIDA Kukar memberikan dukungan berupa pengadaan armada pengangkut sampah senilai Rp200 juta untuk meningkatkan efisiensi pengumpulan bahan baku plastik dari warga [2].
Latar Belakang
Desa Suka Maju, seperti sebagian besar desa di Kabupaten Kutai Kartanegara, menghadapi persoalan sampah plastik yang mengendap di sekitar rumah, jalan, parit, dan badan sungai. Kalimantan Timur memiliki tekanan lingkungan yang tinggi dari aktivitas pertambangan dan perkebunan, sehingga limbah plastik rumah tangga yang tidak terkelola menambah beban pencemaran daerah aliran sungai yang sudah tertekan [3].
Sebagian besar plastik campuran, seperti kantong kresek, gelas air minum, botol bekas, jeriken, dan baskom rusak, tidak memiliki nilai jual di pasar rosok konvensional karena sulit dipilah dan tidak diterima pengepul biasa. Plastik kategori residu ini paling sulit terurai dan paling sering berakhir dibakar atau dibuang sembarangan, menghasilkan dioksin dan polutan berbahaya bagi kesehatan warga [4].
Yayuk Sehati, yang kini juga menjadi tokoh penggerak lingkungan desa, melihat bahwa plastik yang tidak diterima pasar rosok justru memiliki sifat fisik yang berguna: keras ketika dipadatkan, tidak menyerap air, dan tahan terhadap beban tekanan. Sifat inilah yang mengarahkan eksperimennya menuju produk paving block, bahan bangunan yang permintaannya ada di hampir setiap desa dan kota di Indonesia [5].
Inovasi yang Diterapkan
Teknologi produksi yang dikembangkan BSM relatif sederhana dan menggunakan peralatan yang dapat dirakit dari komponen yang tersedia di pasar lokal. Alur produksinya mencakup tujuh tahap: pengumpulan dan pemilahan plastik melalui sistem tabungan sampah warga, pembersihan dari kotoran organik, peleburan bertahap dengan kontrol waktu dan suhu, pencampuran dengan agregat berupa abu, sekam padi, pasir, dan kerikil, pencetakan dan pengepresan, pendinginan alami, serta pengendalian mutu sebelum dipasarkan [5].
BSM menerima semua jenis plastik campuran tanpa persyaratan pemilahan warna atau jenis resin, sehingga menangkap aliran plastik residu yang selama ini paling sulit diserap pasar rosok konvensional [4]. Produk dijual seharga Rp10.000 per buah dalam dua bentuk standar (segi empat dan segi enam), digunakan pemerintah desa untuk pembangunan fasilitas desa, serta dijual ke pembeli eksternal termasuk desa tetangga dan perusahaan swasta [4].
Proses Penerapan Inovasi
Bank Sampah Mandiri berdiri pada 2018 dengan 15 anggota awal, sebagian besar ibu rumah tangga dan remaja Desa Suka Maju, didorong keprihatinan terhadap kondisi sampah di lingkungan sekitar. Pada fase awal, kegiatan berpusat pada pengumpulan dan pencatatan tabungan sampah warga, sebelum produksi skala besar dimulai [1].
Eksperimen pembuatan paving block dimulai secara serius pada Juni 2019. Yayuk dan tim menghabiskan waktu berminggu-minggu menyesuaikan parameter produksi, suhu peleburan, waktu pemanasan, komposisi agregat, dan tekanan cetakan. Proses percobaan yang berulang ini mengungkap bahwa waktu peleburan terlalu cepat menghasilkan paving yang rapuh, sementara waktu terlalu lama menyebabkan plastik terdegradasi dan berasap berlebihan, hingga akhirnya ditemukan rentang waktu peleburan 15-30 menit tergantung ketebalan plastik sebagai standar produksi [4].
Kemitraan dengan BUMDes Suka Maju memberi inovasi ini fondasi kelembagaan yang lebih stabil, dengan BUMDes berperan sebagai mitra distribusi dan pengembangan pasar sementara BSM fokus pada produksi dan pengelolaan bahan baku [2].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan paling kritis adalah ketidakstabilan pasokan bahan baku. Pada fase awal, produksi sering terhenti atau melambat karena stok plastik di wilayah terdekat sudah habis dipungut, sementara lokasi pengumpulan berikutnya semakin jauh dari workshop [4]. Kendala ini dimitigasi melalui pengadaan armada pengangkut sampah senilai Rp200 juta dari BRIDA Kukar, yang memperluas jangkauan pengumpulan bahan baku ke desa-desa sekitar Tenggarong Seberang.
Tantangan kedua adalah aspek kesehatan dan keselamatan kerja dalam proses peleburan plastik, karena pembakaran plastik pada suhu tinggi menghasilkan emisi gas yang perlu dikelola dengan ventilasi memadai dan alat pelindung diri bagi operator tungku [5]. Kendala ini memerlukan mitigasi berkelanjutan berupa standar keselamatan kerja yang konsisten, agar inovasi yang bertujuan memperbaiki lingkungan tidak menimbulkan masalah kesehatan baru bagi para pengolahnya.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah kepemimpinan Yayuk Sehati yang menggabungkan tiga peran: inovator teknis yang bereksperimen langsung, manajer produksi yang menjaga konsistensi kualitas, dan penghubung antara warga penyetor sampah dan pasar pembeli produk [4].
Faktor kedua adalah pilihan produk yang tepat secara pasar. Paving block memiliki permintaan yang stabil dan terdistribusi luas, sehingga dapat langsung bersaing dengan paving block semen konvensional [3]. Faktor ketiga adalah sistem tabungan sampah yang mengubah warga dari pembuang pasif menjadi penyuplai aktif bahan baku, karena warga mendapat uang atau sembako dari sampah yang disetorkan, sehingga partisipasi memiliki insentif ekonomi yang berulang.
Hasil dan Dampak Inovasi
Kapasitas produksi tumbuh dari 50 buah per hari pada fase eksperimen awal menjadi 100 buah per hari ketika proses produksi sudah terstandardisasi, dan menurut data OkeBorneo, kini mencapai sekitar 200 buah per hari [6]. Lima pemesanan pertama datang dari Desa Loa Raya, Desa Kerta Buana, Desa Bukit Pariaman, TK Mekar Sari Desa Suka Maju, dan manajemen PT KPUC, menunjukkan bahwa produk ini dapat dijual kepada pembeli di luar desa, termasuk sektor swasta [4].
Pemerintah desa kini menggunakan paving block plastik BSM untuk pembangunan fasilitas desa, sekaligus menjadi bentuk komitmen anggaran pemerintah desa terhadap produk inovasi lokal [2]. Kepala Desa Kuswara menyatakan bahwa sampah yang dulu sering menjadi keluhan warga kini justru menjadi peluang ekonomi [2].
Dampak rambatan yang terlihat adalah kunjungan studi banding dari berbagai desa di Kutai Kartanegara ke workshop BSM Suka Maju, menjadikan inovasi ini rujukan bagi desa lain di kabupaten yang sama [3].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal awal BSM berasal dari swadaya kelompok 15 anggota pendiri pada 2018, dengan pengembangan bertahap seiring bertambahnya pengalaman produksi. Dukungan eksternal terbesar datang dari BRIDA Kukar berupa armada pengangkut sampah senilai Rp200 juta pada tahap perluasan jaringan pengumpulan bahan baku [2].
Model pendapatan bertumpu pada penjualan paving block seharga Rp10.000 per buah kepada pemerintah desa, desa tetangga, institusi pendidikan, dan perusahaan swasta, sementara warga penyetor sampah menerima uang tunai atau sembako melalui sistem tabungan sampah sebagai insentif pasokan bahan baku [4].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah membangun sistem tabungan sampah dan partisipasi komunitas terlebih dahulu sebelum memulai produksi skala besar, sehingga rantai pasok bahan baku sudah terbentuk ketika permintaan produk meningkat [1]. Kesediaan menghabiskan waktu berminggu-minggu menguji parameter peleburan sebelum menetapkan standar produksi juga terbukti krusial untuk menghasilkan produk yang cukup kuat dan konsisten [4].
Jika memulai dari awal, perluasan jaringan pengumpulan bahan baku antar desa idealnya direncanakan sejak tahap awal, bukan menunggu produksi terhambat akibat kehabisan stok plastik lokal [4]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memulai dari kelompok kecil 10-15 orang dengan sistem tabungan sampah sederhana, menguji parameter produksi sesuai jenis plastik lokal yang dominan, serta menyiapkan standar keselamatan kerja sejak awal sebelum skala produksi diperbesar.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan BSM Suka Maju bertumpu pada tiga pilar: pasokan bahan baku melalui perluasan jaringan tabungan sampah antar desa, kapasitas produksi yang ditingkatkan bertahap selaras permintaan pasar, dan kemitraan dengan BUMDes yang terus diperkuat untuk membuka jalur distribusi [2]. Yayuk Sehati menyatakan harapannya agar pemerintah daerah turut menggunakan paving block dari limbah plastik ini untuk proyek pembangunan di wilayah Kutai Kartanegara, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi komunitas pengelola sampah [7].
Pengembangan varian produk dengan ukuran, warna, dan tekstur berbeda juga dipertimbangkan untuk menyasar segmen landscaping dan dekorasi taman, sementara penerapan uji kuat tekan sesuai standar SNI paving block penting untuk membuka akses ke pasar pengadaan pemerintah yang mensyaratkan sertifikasi produk [4].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi paving block plastik Desa Suka Maju berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Sistem tabungan sampah BSM memberi uang tunai atau sembako kepada warga penyetor, menciptakan pendapatan tambahan bagi ibu rumah tangga dan warga tanpa pekerjaan formal. | 15 anggota aktif BSM dan warga penyetor sampah menerima insentif dari sistem tabungan sampah. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | BSM menciptakan pekerjaan baru di sektor pengolahan limbah: operator tungku, pencetakan, pengendalian mutu, dan distribusi produk. | Kapasitas produksi tumbuh dari 50 menjadi sekitar 200 buah paving block per hari. |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | Paving block plastik yang digunakan untuk pembangunan fasilitas desa menghasilkan infrastruktur fisik dari bahan yang sebelumnya menjadi beban lingkungan. | Pemerintah desa menggunakan paving block BSM untuk pembangunan fasilitas desa. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab | BSM menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan menerima semua jenis plastik campuran tanpa seleksi resin, menangkap aliran plastik residu yang paling sulit didaur ulang jalur konvensional. | BSM menerima kantong kresek, gelas, botol, jeriken, dan baskom rusak tanpa syarat pemilahan jenis plastik. |
| SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim | Mengalihkan plastik dari pembakaran terbuka menuju jalur pengolahan produktif mengurangi emisi dan senyawa berbahaya dari pembakaran plastik di lingkungan terbuka. | Plastik residu yang sebelumnya dibakar warga kini diproses menjadi paving block bernilai jual. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | Berkurangnya sampah plastik yang dibuang ke parit, sungai, dan lahan sekitar desa mengurangi kontaminasi tanah dan air di wilayah Kutai Kartanegara. | Sampah plastik yang sebelumnya mengendap di parit dan badan sungai kini disetorkan ke BSM sebagai bahan baku. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model BSM Suka Maju relatif mudah direplikasi secara teknis dan kelembagaan karena tidak memerlukan insinyur atau ilmuwan untuk dioperasikan, bahan bakunya tersedia di setiap desa, dan pasar produknya ada di mana-mana. Langkah replikasi dapat dimulai dari bank sampah yang sudah ada atau kelompok kecil 10-15 orang, membangun sistem tabungan sampah sederhana, lalu memulai produksi paving block sambil menyesuaikan parameter produksi dengan jenis plastik lokal yang dominan [5].
Untuk scale up, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dapat menjadikan model BSM sebagai rujukan program pengelolaan sampah desa, dengan dukungan pelatihan teknisi paving block dan komitmen pengadaan untuk proyek infrastruktur desa. Kajian akademik tentang ekonomi sirkular sampah plastik di daerah lain turut menegaskan bahwa pengolahan plastik residu menjadi produk bernilai jual adalah strategi yang dapat direplikasi lintas daerah [8].
Daftar Pustaka
[1] KutaiRaya.com, “Desa Suka Maju Tenggarong Seberang Miliki Bank Sampah Mandiri,” kutairaya.com, 3 Mar. 2026. [Daring]. Tersedia: https://www.kutairaya.com/news.php?id=5933.
[2] UPNews.id, “Desa Suka Maju Jadikan Limbah Plastik Sebagai Komoditas Ekonomi Lewat Produksi Paving Block,” upnews.id, 14 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.upnews.id/desa-suka-maju-jadikan-limbah-plastik-sebagai-komoditas-ekonomi-lewat-produksi-paving-block/.
[3] Kaltimtoday.co, “Ubah Sampah Jadi Bernilai, Desa Suka Maju Dorong Produksi Paving Block dari Limbah Plastik,” kaltimtoday.co, 28 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://kaltimtoday.co/ubah-sampah-jadi-bernilai-desa-suka-maju-dorong-produksi-paving-block-dari-limbah-plastik.
[4] Kolomdesa.com, “Eco Paving di Desa Suka Maju: Inovasi Potensial yang Perlu Dirawat,” kolomdesa.com, 11 Nov. 2024. [Daring]. Tersedia: https://kolomdesa.com/eco-paving-di-desa-suka-maju-inovasi-potensial-yang-perlu-dirawat-36914/.
[5] Suluh Muda Nusantara, “Bank Sampah Mandiri Desa Suka Maju Ubah Sampah Plastik Jadi Paving Block,” suluhmudanusantara.com, 25 Nov. 2024. [Daring]. Tersedia: https://suluhmudanusantara.com/bank-sampah-mandiri-desa-suka-maju-ubah-sampah-plastik-jadi-paving-block/.
[6] OkeBorneo, “Produksi Paving Blok Plastik Bank Sampah Sukamaju Capai 200 Buah per Hari,” okeborneo.com. [Daring]. Tersedia: https://okeborneo.com/produksi-paving-blok-plastik-bank-sampah-sukamaju-capai-200-buah-per-hari/.
[7] OkeBorneo, “Paving Blok Plastik Buatan Bank Sampah Sukamaju Diharapkan Dipakai di Proyek Daerah,” okeborneo.com, 15 Okt. 2025. [Daring]. Tersedia: https://okeborneo.com/paving-blok-plastik-buatan-bank-sampah-sukamaju-diharapkan-dipakai-di-proyek-daerah/.
[8] A. Nurfadhila dan P. S. A. Sitogasa, “Sirkular Ekonomi Sampah Plastik TPST Kartoharjo,” Jurnal Teknik SILITEK, vol. 5, no. 1, 2025. [Daring]. Tersedia: https://jurnalteknikpasifik.id/index.php/jts/article/view/143.