Ringkasan Inovasi

Pemuda Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, mengubah Goa Jepang peninggalan Perang Dunia II yang tersembunyi di Dusun Karang Nangka menjadi destinasi wisata sejarah dan foto kreatif bernama Bukit Goa Nippon melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bukit Goa. [1] Dalam dua bulan kerja gotong royong dan pembiayaan swadaya, mereka membersihkan goa berterowongan sepanjang 30 meter, menata kawasan bukit, dan menambahkan spot foto kreatif yang langsung menarik kunjungan keluarga dari berbagai wilayah Lombok Utara. [2]

Inovasi ini bertujuan membangun destinasi wisata alternatif berbasis warisan sejarah lokal sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi puluhan pemuda Desa Sokong yang sebelumnya menganggur. [1] Dalam tempo dua bulan berdiri, Pokdarwis Bukit Goa sudah menghimpun lebih dari 20 anggota aktif dan berhasil mengaktifkan kembali situs sejarah yang selama ini terabaikan menjadi ruang ekonomi dan sosial yang positif bagi komunitas. [1]

Nama Inovasi : Wisata Bukit Goa Nippon — Transformasi Peninggalan Sejarah Jepang menjadi Destinasi Wisata Edukatif dan Kreatif Berbasis Komunitas Pemuda
Alamat : Dusun Karang Nangka, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat
Inovator : Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bukit Goa (Ketua: Adi Putra), Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara
Kontak : Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, NTB — Dinas Pariwisata Lombok Utara: lombokutarakab.go.id

Latar Belakang

Selama masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942–1945), tentara Kekaisaran Jepang membangun goa-goa di berbagai penjuru Nusantara sebagai pos pengawasan, tempat istirahat, dan perlindungan militer. [3] Di Dusun Karang Nangka, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, sebuah goa Jepang dengan terowongan sepanjang 30 meter dan empat ruangan di dalamnya menjadi saksi bisu strategi militer Jepang yang memanfaatkan ketinggian bukit untuk memantau pergerakan di bawah. [2] Situs ini diketahui warga lokal Lombok Utara secara turun-temurun, namun tidak pernah dikelola secara resmi dan hanya dikenal sebagai tempat yang dianggap mistis oleh masyarakat sekitar.

Sebelum inovasi Pokdarwis hadir, Goa Jepang Desa Sokong mengalami nasib yang umum dialami situs bersejarah perang di Indonesia: terbengkalai, tidak terawat, dan hanya dilihat dari luar tanpa interpretasi sejarah yang memadai. [3] Sementara itu, Desa Sokong—yang terletak di ibu kota Kabupaten Lombok Utara—sebenarnya memiliki akses strategis yang lebih baik dibanding banyak desa lain, namun potensi wisatanya belum tergarap secara sistematis. [2] Tingginya angka pengangguran pemuda di kampung juga menjadi latar sosial yang mendorong lahirnya inisiatif kolektif untuk menciptakan lapangan kerja mandiri berbasis potensi lokal.

Peluang muncul dari perpaduan dua tren yang sedang berkembang: meningkatnya minat wisata sejarah pasca-era media sosial dan tingginya permintaan spot foto kreatif di kalangan milenial. [4] Penelitian tentang pengembangan desa wisata di Indonesia menegaskan bahwa destinasi yang berhasil menggabungkan nilai edukatif historis dengan atraksi modern berbasis foto memiliki daya tarik yang lebih luas dan masa hidup yang lebih panjang. [5] Kesadaran akan peluang ini mendorong sekelompok pemuda Desa Sokong untuk mengambil inisiatif mengaktifkan kembali Goa Jepang sebagai aset wisata komunitas.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi lahir dari inisiatif mandiri pemuda yang dipimpin Adi Putra—yang kemudian terpilih sebagai Ketua Pokdarwis Bukit Goa—untuk mentransformasi situs yang selama ini terabaikan menjadi ruang wisata yang hidup dan produktif. [1] Pendekatan yang diterapkan adalah model hybrid wisata: menggabungkan wisata sejarah (eksplorasi goa bersejarah dengan cerita pendudukan Jepang) dengan wisata kreatif berbasis foto digital (instalasi sayap kupu-kupu, ayunan, dan spot foto artisitik) yang relevan dengan perilaku wisatawan milenial masa kini. [1] Kombinasi ini memastikan dua segmen pasar yang berbeda dapat dilayani sekaligus dalam satu destinasi.

Secara teknis, Bukit Goa Nippon menawarkan pengalaman masuk ke dalam goa berkedalaman sekitar lima meter dengan empat ruangan kecil di dalamnya—pengunjung harus menunduk melewati pintu masuk yang rendah, menambah sensasi petualangan yang unik. [2] Di dalam terowongan sepanjang 30 meter, pengunjung dapat menelusuri ruang-ruang yang dulunya digunakan tentara Jepang sebagai tempat istirahat sambil mendengar narasi sejarah pendudukan dari anggota Pokdarwis yang berperan sebagai pemandu. [2] Spot foto di area bukit—termasuk instalasi sayap kupu-kupu dan ayunan—dirancang untuk mendorong wisatawan berbagi pengalaman di media sosial, yang secara otomatis menjadi media promosi gratis bagi destinasi ini.

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai dari keputusan kolektif anggota Pokdarwis untuk menginvestasikan waktu dan dana pribadi selama dua bulan penuh membersihkan goa dan kawasan bukit sekitarnya tanpa menunggu bantuan pemerintah. [1] Proses pembersihan merupakan tahap yang paling memakan waktu dan tenaga: vegetasi liar yang menutupi mulut goa dibersihkan, sampah dan material organik di dalam terowongan dikeluarkan, dan jalur akses pengunjung ditata agar aman dilalui. [1] Kerja swadaya ini membangun rasa kepemilikan yang kuat di antara anggota Pokdarwis—modal sosial yang terbukti lebih tahan lama dibanding program berbasis bantuan dana luar.

Pada tahap selanjutnya, Pokdarwis mengidentifikasi elemen yang bisa menarik segmen wisatawan yang lebih luas melampaui peminat sejarah semata. [4] Keputusan untuk memasang instalasi sayap kupu-kupu dan ayunan sebagai spot foto kreatif didasarkan pada pengamatan langsung terhadap tren wisata foto yang sedang viral di Lombok dan Bali. [1] Hasilnya terbukti efektif: jumlah kunjungan langsung meningkat setelah spot foto dipasang, memvalidasi hipotesis bahwa elemen visual yang bisa dibagikan di media sosial adalah motor penggerak kunjungan wisata masa kini.

Pokdarwis kemudian menyusun proposal dana untuk mengembangkan lebih banyak spot foto dan fasilitas pendukung yang diajukan kepada berbagai pihak. [1] Dari pengalaman fase awal ini, Pokdarwis belajar bahwa tahap pembersihan dan aktivasi awal harus didanai secara mandiri terlebih dahulu untuk membuktikan potensi nyata sebelum menarik perhatian pemerintah dan donatur. [5] Prinsip “buktikan dulu, minta dukungan kemudian” ini menjadi pelajaran berharga yang membedakan Pokdarwis Bukit Goa dari banyak inisiatif wisata desa yang kandas karena menunggu bantuan sebelum berani memulai.

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah kepemimpinan Adi Putra yang mampu menggerakkan energi kolektif pemuda kampung dengan visi yang jelas dan kesediaan untuk bekerja keras secara mandiri tanpa menunggu dukungan luar. [1] Semangat gotong royong yang ditunjukkan dengan pengumpulan dana swadaya membangun kepercayaan bahwa mereka serius, sekaligus menarik lebih banyak pemuda untuk bergabung—terbukti dengan pertumbuhan keanggotaan dari nol menjadi lebih dari 20 orang hanya dalam dua bulan. [1] Solidaritas komunal yang kuat di Desa Sokong menjadi fondasi sosial yang membuat inovasi ini bertahan dan berkembang.

Faktor kedua adalah pembacaan tren pasar yang tepat: mengintegrasikan nilai sejarah dengan elemen wisata foto yang viral di media sosial menciptakan daya tarik yang relevan dengan kebiasaan wisatawan milenial. [4] Riset tentang perilaku wisatawan di Indonesia menunjukkan bahwa media sosial kini menjadi kanal penemuan destinasi nomor satu—terutama Instagram dan TikTok yang mendorong perjalanan berbasis konten foto dan video. [5] Pokdarwis secara instuitif menangkap realitas ini jauh sebelum mendapat pelatihan formal, membuktikan bahwa kedekatan dengan komunitas pengguna adalah sumber intelijen pasar yang tidak kalah valid dibanding riset formal.

Hasil dan Dampak Inovasi

Dalam waktu kurang dari dua bulan sejak pembukaan, Bukit Goa Nippon sudah ramai dikunjungi keluarga dari berbagai wilayah Lombok Utara—sebuah capaian yang mengejutkan mengingat destinasi ini dibangun tanpa iklan formal maupun dukungan anggaran pemerintah. [1] Peningkatan kunjungan ini secara langsung membuka lapangan kerja baru di sekitar destinasi: warga lokal mendapat penghasilan tambahan sebagai juru parkir, pedagang makanan dan minuman, serta penjual souvenir. [1] Dampak ekonomi multiplier ini menjangkau warga yang tidak tergabung dalam Pokdarwis sekalipun, membuktikan bahwa inovasi wisata komunitas memiliki efek trickle-down yang nyata.

Dampak sosial inovasi ini sama pentingnya dengan dampak ekonominya: lebih dari 20 pemuda Desa Sokong kini memiliki aktivitas positif, identitas kolektif, dan kebanggaan sebagai pengelola destinasi wisata. [1] Adi Putra secara eksplisit menyebut Pokdarwis sebagai tameng sosial bagi pemuda dari ancaman narkoba, judi, dan minuman keras—masalah yang kerap menggerogoti pemuda desa yang tidak memiliki aktivitas produktif. [1] Penelitian tentang peran Pokdarwis dalam pemberdayaan pemuda desa wisata menunjukkan bahwa keterlibatan dalam pengelolaan wisata secara konsisten meningkatkan self-efficacy dan tanggung jawab sosial pemuda. [5]

Dari sisi pelestarian warisan budaya, inovasi ini untuk pertama kalinya memberi nilai ekonomi pada situs Goa Jepang Desa Sokong, menciptakan insentif nyata bagi komunitas untuk menjaga dan merawatnya secara berkelanjutan. [3] Situs sejarah yang sebelumnya hanya dikenal sebagai “tempat mistis” kini mulai mendapat narasi sejarah yang lebih akurat tentang pendudukan Jepang di Lombok Utara, memperkaya literasi sejarah lokal masyarakat. [2] Transformasi persepsi dari “tempat angker yang dihindari” menjadi “destinasi wisata yang dikunjungi” adalah perubahan naratif yang fundamental dan berdampak jangka panjang.

Tantangan dan Kendala

Keterbatasan dana menjadi hambatan terbesar yang membatasi kecepatan pengembangan Bukit Goa Nippon. [1] Pokdarwis hanya mengandalkan dana swadaya anggota di awal dan harus menyusun proposal kepada berbagai pihak untuk mendanai penambahan spot foto dan fasilitas pendukung seperti toilet, area parkir formal, dan papan interpretasi sejarah. [1] Proses pengajuan proposal ke pemerintah daerah dan instansi swasta yang panjang membuat pengembangan destinasi terpaksa berjalan lebih lambat dari yang diinginkan.

Belum adanya dukungan infrastruktur dari pemerintah—seperti signage wisata, peningkatan jalan akses, dan fasilitas sanitasi—membuat pengalaman kunjungan masih belum optimal untuk wisatawan yang mengharapkan standar minimal kenyamanan. [2] Kebutuhan pelatihan interpretasi sejarah bagi anggota Pokdarwis yang menjadi pemandu wisata juga belum terpenuhi, sehingga cerita tentang goa masih bergantung pada narasi turun-temurun yang belum diverifikasi oleh ahli sejarah. [3] Kesenjangan antara potensi yang besar dan kapasitas kelembagaan yang masih embrionik menjadi tantangan yang harus diatasi melalui pendampingan terstruktur dari pemerintah daerah dan akademisi.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan jangka panjang Bukit Goa Nippon bergantung pada dua transformasi kelembagaan: formalisasi Pokdarwis dengan struktur organisasi yang kuat dan terdaftar resmi di Dinas Pariwisata, serta pengintegrasian destinasi ini ke dalam peta wisata resmi Kabupaten Lombok Utara. [5] Formalisasi akan membuka akses ke Dana Desa, program CSR perusahaan, dan anggaran pemberdayaan wisata dari Kemenparekraf yang selama ini belum terjangkau oleh kelompok swadaya. [4] Dengan pendanaan yang lebih terstruktur, Pokdarwis bisa mengembangkan museum mini tentang sejarah pendudukan Jepang di Lombok Utara yang akan memperkuat daya tarik wisata edukasi destinasi ini.

Riset dari Universitas Islam Malang tentang pengelolaan website dan digitalisasi promosi Desa Sokong menunjukkan bahwa desa ini memiliki beberapa potensi wisata yang belum terintegrasi—termasuk wisata goa Jepang di Dusun Karang Atas dan wisata budaya di dusun lainnya. [6] Integrasi Bukit Goa Nippon ke dalam ekosistem wisata terpadu Desa Sokong bersama Pokdarwis Kembang dan unit wisata desa lainnya akan menciptakan paket wisata lengkap yang mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama dan mengeluarkan lebih banyak uang di desa. [6] Sinergi antar-pokdarwis di dalam satu desa adalah strategi keberlanjutan yang jauh lebih kuat dibanding mengandalkan satu titik wisata secara terpisah.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Pokdarwis Bukit Goa membuktikan bahwa pemberdayaan pemuda berbasis potensi lokal—sekecil apapun potensinya—mampu menciptakan dampak sosial-ekonomi yang melampaui nilai materinya. [1] Model gotong royong swadaya yang menghasilkan destinasi wisata dari nol tanpa modal besar adalah bukti nyata bahwa kreativitas dan semangat komunitas adalah modal terpenting pembangunan desa. [5]

No SDGs : Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan : Aktivasi Bukit Goa membuka pendapatan baru bagi warga sekitar sebagai juru parkir, pedagang, dan anggota Pokdarwis, mengurangi ketergantungan pada lapangan kerja yang sangat terbatas di desa.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi : Pokdarwis Bukit Goa menciptakan lapangan kerja baru bagi lebih dari 20 pemuda dalam sektor pariwisata—pekerjaan bermartabat yang mengandalkan keterampilan lokal dan kecintaan pada warisan kampung halaman.
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan : Model wisata berbasis komunitas memastikan manfaat ekonomi terdistribusi langsung kepada warga desa, bukan terkonsentrasi pada investor luar, sehingga mengurangi kesenjangan ekonomi di tingkat kampung.
SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan : Transformasi situs sejarah terlantar menjadi ruang publik aktif memperkuat identitas budaya komunitas dan menjaga warisan sejarah Perang Dunia II agar tidak punah ditelan waktu.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh : Pokdarwis sebagai organisasi pemuda yang terstruktur dan transparan dalam pengelolaan dana swadaya mewujudkan tata kelola komunitas yang akuntabel dan menjadi katalisator aktivitas sosial positif di desa.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan : Strategi pengajuan proposal kepada pemerintah daerah dan pihak swasta membangun pola kemitraan multipihak yang berkelanjutan untuk mendukung pengembangan destinasi wisata berbasis komunitas.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Pokdarwis Bukit Goa adalah blueprint pengembangan wisata sejarah berbasis komunitas yang dapat direplikasi di ratusan desa di Indonesia yang memiliki situs peninggalan Jepang namun tidak pernah terkelola. [3] Esensi model ini dapat dirangkum dalam tiga langkah inti: identifikasi situs terlantar bernilai historis, mobilisasi pemuda lokal melalui pembentukan Pokdarwis, dan aktivasi situs dengan elemen wisata foto yang relevan dengan tren media sosial. [4] Kesederhanaan model ini menjadikannya sangat replikabel bahkan di desa-desa dengan keterbatasan sumber daya paling ketat sekalipun.

Scale up inovasi ini membutuhkan dukungan Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara untuk menyusun panduan pengembangan wisata berbasis situs sejarah yang bisa diakses oleh seluruh pokdarwis di kabupaten. [5] Kemenparekraf melalui Program Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) bisa menjadi platform yang mendorong formalisasi dan promosi model Bukit Goa ke skala nasional, sebagaimana yang sudah dilakukan terhadap banyak desa wisata berbasis komunitas lainnya. [4] Pelatihan terpadu untuk pokdarwis yang mencakup interpretasi sejarah, literasi digital, dan pengelolaan keuangan sederhana akan mempercepat kematangan kelembagaan dan memperpanjang umur inovasi ini jauh melampaui masa euforia awal.

Daftar Pustaka

[1] Lombok Post / JawaPos, “Pokdarwis Bukit Goa, Ciptakan Objek Wisata, Buka Lapangan Pekerjaan Baru,” lombokpost.jawapos.com, 29 Mar. 2020. [Online]. Available: https://lombokpost.jawapos.com/tanjung/29/03/2020/pokdarwis-bukit-goa-ciptakan-objek-wisata-buka-lapangan-pekerjaan-baru/

[2] Radar Lombok, “Melihat Gua Peninggalan Tentara Jepang di Desa Sokong,” radarlombok.co.id. [Online]. Available: https://radarlombok.co.id/melihat-gua-peninggalan-tentara-jepang-di-desa-sokong.html

[3] Kompasiana, “Menjelajahi Sejarah di Goa Jepang: Saksi Bisu Perang Dunia II,” kompasiana.com, Sep. 2024. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/azwir52821/66fa31fa34777c6c1e198162

[4] E. A. Fadhila et al., “Pengelolaan Manajemen dan Pembangunan Website Desa Sokong,” Prosiding KOPEMAS Universitas Islam Malang, 2024. [Online]. Available: https://new-conference.unisma.ac.id/index.php/KOPEMAS/article/download/134/111/390

[5] Unimed, “Pengelolaan Desa Wisata berbasis Pokdarwis: Studi Pengembangan Desa Wisata Seribu Goa,” digilib.unimed.ac.id. [Online]. Available: https://digilib.unimed.ac.id/id/eprint/56803/10/3191131015_BAB_VI.pdf

[6] AyoBandung, “Historitas Goa Jepang: dari Bunker Perang Jadi Destinasi Wisata Sejarah,” ayobandung.id, Nov. 2025. [Online]. Available: https://www.ayobandung.id/ayo-netizen/01167641/20112025/goa-jepang-lembang-dari-bunker-perang-hingga-destinasi-wisata-sejarah

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.

Data Inovasi