Desa Wisata Pemuteran di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, membangun model ekowisata bahari berbasis komunitas yang mengintegrasikan teknologi Biorock untuk restorasi terumbu karang, pengelolaan zona konservasi laut, pelestarian budaya tradisi Bali, dan Pemuteran Bay Festival sebagai puncak perayaan tahunan yang menggabungkan seni, konservasi, dan pariwisata berkelanjutan. [1] Inovasi ini berhasil mengubah desa nelayan kecil di ujung barat Bali — yang pernah merusak terumbu karangnya sendiri — menjadi destinasi ekowisata internasional yang meraih gelar Best Tourism Village 2025 dari UN Tourism/UNWTO, penghargaan pariwisata desa tertinggi di dunia. [2]

Dari 270 kandidat desa wisata dari 65 negara anggota UN Tourism, Pemuteran berhasil lolos seleksi ketat dan masuk dalam daftar 52 Desa Wisata Terbaik dunia, bergabung dengan rangkaian penghargaan internasional sebelumnya yakni UNWTO Award 2016, ASEAN Community-Based Tourism Standard 2023–2024, PATA Gold Award 2005, dan SKAL International Award 2003 untuk inovasi Biorock. [3] Rentang lebih dari dua dekade penghargaan internasional ini membuktikan bahwa Pemuteran bukan sekadar destinasi wisata yang indah, tetapi laboratorium hidup ekowisata berkelanjutan yang konsisten dan terus berkembang. [2]

Latar Belakang

Pada dekade 1980-an, penduduk Desa Pemuteran yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan kerap menangkap ikan dengan cara destruktif, termasuk penggunaan bom ikan dan sianida yang waktu itu merajalela di perairan Bali utara. [4] Terumbu karang yang seharusnya menjadi rumah bagi ribuan spesies ikan dan biota laut perlahan rusak parah, mengancam keberlanjutan ekosistem yang justru menjadi sumber penghidupan nelayan itu sendiri. Ironisnya, kerusakan ini mempersempit penghasilan nelayan karena populasi ikan yang bergantung pada terumbu karang ikut menurun drastis dari tahun ke tahun. [1]

Pada awal 2000-an, kesadaran kolektif mulai tumbuh ketika komunitas lokal bersama pengusaha hotel menyadari bahwa kerusakan ekosistem laut adalah ancaman nyata bagi masa depan seluruh desa. [4] Saat itu tidak ada mekanisme efektif untuk memulihkan terumbu karang yang sudah rusak parah, dan tidak ada model pariwisata yang mampu mengintegrasikan kebutuhan ekonomi warga dengan tuntutan pelestarian lingkungan secara bersamaan. Inilah titik balik yang memunculkan kebutuhan mendesak akan inovasi teknologi dan tata kelola yang mampu menjawab dua tantangan sekaligus: memulihkan ekosistem laut dan menciptakan ekonomi desa yang berkelanjutan. [3]

Desa Pemuteran memiliki posisi geografis yang unik — terletak di ujung barat Bali, seolah tersembunyi dari arus utama pariwisata Bali Selatan, dengan lanskap yang memadukan kaki Gunung Pulaki yang menjorok ke laut dengan teluk yang tenang dan jernih. [1] Ketersembunyian ini justru menjadi keunggulan: alam masih terjaga, suasana desa autentik, dan kombinasi pegunungan-teluk menciptakan daya tarik wisata yang berbeda dari destinasi mainstream. Peluang inilah yang kemudian ditangkap dan dioptimalkan melalui inovasi ekowisata yang memadukan teknologi mutakhir, konservasi laut, dan kearifan lokal Bali. [3]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi utama Pemuteran adalah teknologi Biorock — metode restorasi terumbu karang yang dikembangkan oleh Prof. Wolf Hilbertz dan Dr. Tom Goreau — di mana rangka besi tiga dimensi ditanam di dasar laut kemudian dialiri arus listrik bertegangan sangat rendah sekitar 6 volt, menginduksi terbentuknya mineral kalsit dan aragonit yang menciptakan substrat ideal bagi pertumbuhan terumbu karang hidup secara alami. [4] Studi akademik terbaru mengonfirmasi bahwa teknologi Biorock mampu meningkatkan laju pertumbuhan karang hingga enam kali lebih cepat dibandingkan pemulihan alami, sekaligus mendukung keanekaragaman hayati yang signifikan — satu unit Biorock mampu menampung 11 keluarga ikan dan 35 genus biota laut. [10] Di Pemuteran, Yayasan Karang Lestari — yang dipimpin I Gede Agung Prana, perintis sekaligus pemilik resort lokal — mengelola lebih dari 100 unit struktur Biorock yang tersebar di perairan teluk, menciptakan kawasan terumbu karang buatan terbesar dan paling berkembang di dunia. [9]

Di luar Biorock, ekosistem ekowisata Pemuteran diperkaya oleh program penangkaran penyu, penetapan zona konservasi bebas pemancingan, dan Pemuteran Bay Festival yang sudah masuk dalam 100 Calendar of Events (CoE) Indonesia serta Bali Calendar of Event sebagai agenda tahunan tetap. [5] Festival ini menyajikan penenggelaman struktur artistik bawah laut oleh puluhan penyelam sebagai simbol komitmen konservasi — pada Desember 2025, sebuah “Gapura Harmoni Baruna Giri” ditenggelamkan sebagai landmark bawah laut permanen — dipadukan dengan pertunjukan seni budaya Bali, pasar UMKM, dan lokakarya lingkungan. [8] Sistem adopsi terumbu karang juga ditawarkan kepada wisatawan seharga Rp400.000 per unit dengan nama adopter tertera, menjadikan setiap wisatawan sebagai mitra aktif konservasi yang memiliki keterikatan emosional langsung dengan ekosistem Pemuteran. [4]

Proses Penerapan Inovasi

Proses transformasi Pemuteran dimulai dari perubahan mentalitas yang paling mendasar: dari merusak menjadi menjaga. [4] Yayasan Karang Lestari yang dibentuk dari kolaborasi warga lokal dan pengusaha hotel mengambil peran sebagai motor penggerak, meyakinkan nelayan bahwa terumbu karang yang pulih akan menghasilkan lebih banyak ikan dan menarik lebih banyak wisatawan yang membutuhkan layanan jasa mereka. Pendekatan berbasis insentif ekonomi ini terbukti jauh lebih efektif daripada pendekatan larangan semata dalam mengubah perilaku nelayan yang sudah lama bergantung pada cara tangkap destruktif. [3]

Pada tahap awal, pemasangan struktur Biorock menghadapi skeptisisme dari nelayan yang belum percaya bahwa arus listrik 6 volt yang sangat lemah mampu menumbuhkan terumbu karang secara nyata. [4] Percobaan pada beberapa unit kecil di lokasi strategis menunjukkan hasil menjanjikan dalam beberapa bulan pertama — kehadiran ikan yang semakin beragam dan karang yang tumbuh jauh lebih cepat dari biasanya. Hasil yang bisa disaksikan langsung dengan mata inilah yang mengubah skeptisisme nelayan menjadi antusiasme dan mendorong perluasan program Biorock secara masif ke lebih dari 100 unit struktur. [6]

Pemuteran Bay Festival yang pertama kali diselenggarakan pada 2015 dirancang sebagai mekanisme pembaruan komitmen tahunan seluruh komunitas terhadap konservasi laut, bukan sekadar acara pariwisata semata. [5] Pada festival ke-11 yang berlangsung 4–6 Desember 2025, penenggelaman “Gapura Harmoni Baruna Giri” oleh puluhan penyelam menjadi simbol visual paling kuat yang menggambarkan komitmen komunitas yang kini telah mendunia dan diakui oleh badan pariwisata PBB. [8] Evaluasi dan penyesuaian model festival dilakukan setiap tahun berdasarkan masukan komunitas, memastikan relevansi dan pertumbuhan kualitas acara dari tahun ke tahun tanpa kehilangan esensi konservasi yang menjadi jiwanya. [7]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor paling menentukan adalah kemitraan sejati antara komunitas nelayan, pengusaha hotel, Yayasan Karang Lestari, dan pemerintah daerah yang memiliki kepentingan bersama dalam menjaga kesehatan ekosistem Pemuteran sebagai sumber daya bersama yang tidak ternilai. [3] Tanpa kolaborasi ini, Biorock hanya akan menjadi teknologi menarik di atas kertas tanpa kesinambungan pendanaan dan pengawasan di lapangan; tanpa keterlibatan aktif nelayan, kawasan konservasi tidak akan terlindungi dari aktivitas merusak yang mengancam pemulihan ekosistem. Model kolaborasi multipihak inilah yang secara spesifik disebutkan sebagai keunggulan utama Pemuteran dibandingkan ratusan kandidat lain dalam seleksi UN Tourism. [2]

Faktor kedua adalah kepemimpinan visioner I Gede Agung Prana yang menginisiasi Yayasan Karang Lestari dan konsisten memimpin gerakan konservasi ini selama lebih dari dua dekade tanpa goyah meski menghadapi berbagai tekanan dan perubahan kondisi. [9] Pemuteran Bay Festival yang kini memasuki tahun ke-11 adalah bukti konsistensi komunitas ini; festival bukan sekadar kalender acara, melainkan ritual tahunan pembaruan janji komunitas kepada laut yang menghidupi mereka. Keistimewaan geografis Pemuteran — gunung dan laut yang berdekatan dalam satu lanskap dramatik — yang dikelola secara sinergis menambah daya tarik unik yang tidak bisa direplikasi oleh desa manapun di dunia. [4]

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak ekologi yang paling terukur adalah pemulihan terumbu karang secara masif melalui lebih dari 100 unit struktur Biorock yang tersebar di perairan Teluk Pemuteran, dengan kecepatan pertumbuhan karang yang mencapai hingga enam kali lebih cepat dari pemulihan alami. [10] Kawasan yang dulunya tandus kini menjadi rumah bagi ratusan spesies ikan dan biota laut — termasuk penyu yang kembali bertelur di pantai Pemuteran — dengan Biorock Pemuteran meraih rating 4,7 dari 5 bintang di TripAdvisor berdasarkan lebih dari 488 ulasan wisatawan mancanegara. [6] Keberhasilan ekologi ini secara langsung meningkatkan nilai ekonomi kawasan wisata bahari Pemuteran sebagai satu-satunya destinasi Biorock terbesar dan paling mapan di dunia. [4]

Dampak ekonomi terlihat dari transformasi total desa nelayan menjadi ekosistem pariwisata lengkap yang kini mencakup homestay, hotel, villa, restoran, money changer, rental kendaraan, ATM, minimarket, dan toko suvenir yang memenuhi sepanjang jalan desa. [1] Bawah laut Pemuteran yang kini kaya biodiversitas menarik penyelam dari seluruh dunia, terutama dari Eropa — Jerman, Belanda, dan Prancis — yang membawa efek pengeluaran wisatawan premium ke seluruh rantai ekonomi desa. [9] Pemuteran Bay Festival 2025 yang masuk dalam Bali Calendar of Event dan 100 Calendar of Events Indonesia membawa lonjakan kunjungan yang memberikan efek berganda bagi seluruh pelaku UMKM dan akomodasi di desa selama tiga hari penyelenggaraan. [5]

Puncak dari dua dekade konsistensi ini adalah pengakuan UN Tourism pada 17 Oktober 2025 di Huzhou, Tiongkok, yang menetapkan Pemuteran sebagai satu dari 52 Best Tourism Village 2025 dari 270 kandidat di seluruh dunia. [3] Penghargaan ini mengikuti jejak panjang pengakuan global: SKAL International Award 2003, PATA Gold Award 2005, UNWTO Award 2016, dan ASEAN CBT Standard 2023–2024 — serangkaian trofi yang masing-masing memicu lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara secara signifikan. [2] Setiap penghargaan bukan sekadar simbol prestise, tetapi amunisi pemasaran internasional yang membuat nama Pemuteran terus bergema di pasar wisata global tanpa memerlukan biaya promosi yang besar. [8]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar adalah mengelola tekanan kunjungan wisatawan yang terus meningkat seiring popularitas internasional Pemuteran, tanpa merusak ekosistem terumbu karang yang menjadi aset utama dan alasan utama wisatawan datang. [3] Ironisnya, semakin terkenal Pemuteran, semakin besar risiko bahwa kepadatan penyelam dan snorkeler yang berlebihan dapat merusak terumbu karang yang sudah susah payah dipulihkan selama dua dekade. Menyeimbangkan pertumbuhan kunjungan dengan batas daya dukung ekologis yang aman membutuhkan sistem monitoring dan regulasi zona laut yang ketat, konsisten, dan mampu ditegakkan terhadap wisatawan dari berbagai negara. [6]

Tantangan kedua adalah keberlanjutan pendanaan operasional Yayasan Karang Lestari yang selama ini bergantung pada kombinasi donasi adopsi karang, kontribusi sukarela hotel, dan hibah lembaga internasional yang tidak selalu konsisten setiap tahunnya. [4] Jika satu sumber pendanaan terputus, pemeliharaan lebih dari 100 unit struktur Biorock yang membutuhkan aliran listrik dan perawatan rutin dapat terganggu, mengancam kelangsungan pemulihan ekosistem yang masih dalam proses panjang. Model bisnis konservasi yang lebih mandiri, dengan pendapatan yang tidak bergantung pada donor eksternal, menjadi agenda strategis jangka panjang yang terus diupayakan. [6]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan jangka panjang ekowisata Pemuteran bertumpu pada prinsip fundamental bahwa kesehatan ekosistem laut adalah prasyarat — bukan konsekuensi — dari kesehatan ekonomi desa. [3] Pemerintah Kabupaten Buleleng menegaskan komitmen untuk menjadikan konservasi terumbu karang sebagai prioritas utama kebijakan pariwisata Buleleng barat dalam jangka panjang, menciptakan payung kebijakan yang melindungi kawasan konservasi dari tekanan alih fungsi lahan atau eksploitasi berlebihan. [7] Sinergi antara Yayasan Karang Lestari, pemerintah daerah, asosiasi hotel, dan komunitas nelayan dalam badan koordinasi bersama memberikan fondasi kelembagaan yang cukup kuat untuk bertahan melewati pergantian kepemimpinan. [2]

Program adopsi terumbu karang yang membangun loyalitas wisatawan jangka panjang menjadi mesin pendanaan konservasi yang semakin mandiri, di mana wisatawan bertransformasi menjadi mitra aktif pelestarian yang memiliki kepentingan pribadi dalam menjaga kesehatan ekosistem Pemuteran. [4] Digitalisasi pemasaran melalui platform online internasional, media sosial aktif, dan integrasi dengan platform pemesanan wisata global memperkuat posisi Pemuteran di pasar pariwisata dunia tanpa biaya promosi konvensional yang besar. Gelar Best Tourism Village 2025 dari UN Tourism membuka pintu bagi Pemuteran untuk bergabung dalam jaringan desa wisata terbaik dunia yang memberikan akses ke pasar dan mitra internasional yang sebelumnya sulit dijangkau secara mandiri. [2]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Desa Wisata Pemuteran merupakan salah satu contoh paling komprehensif implementasi SDGs di tingkat desa di Indonesia, di mana hampir semua dimensi keberlanjutan — lingkungan, ekonomi, dan sosial-budaya — terintegrasi dalam satu sistem pengelolaan yang koheren dan telah berjalan konsisten selama lebih dari dua dekade. [2] Pengakuan UN Tourism sebagai Best Tourism Village 2025 secara implisit adalah konfirmasi global bahwa Pemuteran telah berhasil menerjemahkan SDGs dari dokumen kebijakan menjadi praktik kehidupan nyata komunitas pesisir Bali utara yang bisa dirasakan, diukur, dan direplikasi. [3]

No SDGs Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Ekosistem pariwisata yang tumbuh dari konservasi terumbu karang menciptakan lapangan kerja dan sumber penghasilan bagi nelayan, pelaku UMKM, pengelola akomodasi, dan pemandu selam yang sebelumnya bergantung pada hasil tangkap ikan yang tidak menentu dan rentan terhadap kerusakan ekosistem yang mereka ciptakan sendiri. [1]
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Ekowisata Pemuteran menciptakan lapangan kerja layak dan bermartabat di sektor selam, snorkeling, pemanduan wisata, akomodasi, restoran, kerajinan suvenir, dan festival budaya yang menggerakkan perekonomian desa secara inklusif, berkelanjutan, dan sepanjang tahun tanpa bergantung pada musim ikan. [2]
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Model ekowisata berbasis komunitas menjadikan Pemuteran sebagai permukiman pesisir berkelanjutan, di mana aktivitas ekonomi wisata dirancang untuk memperkuat — bukan mengancam — keaslian lanskap alam dan budaya desa yang justru menjadi daya tarik utama wisatawan internasional. [3]
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim Terumbu karang yang dipulihkan melalui Biorock berfungsi sebagai penyerap karbon alami dan pelindung pantai dari abrasi serta dampak gelombang ekstrem yang diperkuat oleh perubahan iklim, menjadikan Pemuteran desa pesisir yang lebih resilien terhadap berbagai ancaman iklim yang semakin nyata. [11]
SDGs 14: Ekosistem Lautan Program Biorock dengan lebih dari 100 struktur terumbu karang buatan, penetapan zona konservasi bebas pemancingan, dan program penangkaran penyu merupakan kontribusi langsung pada pemulihan dan pelestarian biodiversitas laut Teluk Pemuteran yang menjadi habitat kritis bagi ratusan spesies ikan dan biota laut tropis. [10]
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara Yayasan Karang Lestari, nelayan lokal, asosiasi hotel, Pemkab Buleleng, dan mitra internasional menciptakan model kemitraan multipihak yang diakui UN Tourism sebagai praktik terbaik pembangunan pariwisata desa berkelanjutan yang inklusif dan mampu bertahan lebih dari dua dekade. [2]

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Pemuteran paling relevan direplikasi oleh desa-desa pesisir di kawasan timur Indonesia yang memiliki ekosistem terumbu karang terancam namun belum terkelola secara optimal, seperti di Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi Tengah, dan Papua yang menyimpan potensi ekowisata bahari luar biasa yang belum tergali. [2] Tiga elemen inti yang dapat ditransfer adalah: pembentukan yayasan konservasi berbasis komunitas sebagai kelembagaan penggerak, penerapan teknologi Biorock dengan sistem adopsi karang sebagai model pendanaan mandiri, dan penyelenggaraan festival ekowisata tahunan yang membangun identitas kolektif sekaligus menarik wisatawan secara konsisten. Yayasan Karang Lestari sendiri sudah berperan aktif sebagai pusat pembelajaran bagi komunitas pesisir dari berbagai daerah yang ingin mengadopsi dan mengadaptasi model Pemuteran sesuai konteks lokal masing-masing. [4]

Untuk scale up, gelar Best Tourism Village 2025 dari UN Tourism membuka peluang bagi Pemuteran untuk menjadi pusat pelatihan regional ekowisata bahari bertaraf ASEAN yang mempertemukan pengelola desa wisata pesisir dari seluruh Asia Tenggara. [3] Kementerian Pariwisata dapat memprogramkan kunjungan studi banding wajib ke Pemuteran bagi seluruh finalis Anugerah Desa Wisata Indonesia yang memiliki potensi wisata bahari, mengakselerasi transfer model yang sudah terbukti konsisten selama lebih dari dua dekade kepada generasi pengelola desa wisata berikutnya di seluruh Nusantara. Dengan posisinya dalam jaringan 52 Best Tourism Villages UN Tourism, Pemuteran kini memiliki akses langsung ke pasar wisata global dan jaringan kemitraan internasional yang sebelumnya hanya bisa dijangkau oleh destinasi wisata skala nasional atau regional. [2]

Kata Kunci

Desa Wisata Pemuteran Bali, Best Tourism Village 2025 UN Tourism, Biorock terumbu karang, Yayasan Karang Lestari, ekowisata bahari berbasis komunitas, Pemuteran Bay Festival, I Gede Agung Prana, restorasi terumbu karang Indonesia, UNWTO award desa wisata, konservasi laut Bali utara, Kabupaten Buleleng pariwisata, adopsi terumbu karang wisata, zona konservasi laut desa, SDGs 14 ekosistem lautan, pariwisata berkelanjutan Bali, wisata selam diving Bali, penangkaran penyu Pemuteran, ekowisata pesisir Indonesia, teknologi akresi mineral Biorock, kemitraan multipihak pariwisata desa

Daftar Pustaka

[1] Kementerian Pariwisata RI, “Mengenal Desa Wisata Pemuteran Bali yang Meraih Gelar Best Tourism Village 2025,” kemenpar.go.id, 31 Des. 2024. [Online]. Available: https://kemenpar.go.id/berita/mengenal-desa-wisata-pemuteran-bali-yang-meraih-gelar-best-tourism-village-2025

[2] Pemerintah Kabupaten Buleleng, “Desa Pemuteran Raih Penghargaan Best Tourism Village di Kancah Dunia,” bulelengkab.go.id, 3 Jan. 2025. [Online]. Available: https://bulelengkab.go.id/informasi/detail/berita/33_desa-pemuteran-raih-penghargaan-best-tourism-village-di-kancah-dunia

[3] Kompas Travel / Tempo, “Desa Wisata Pemuteran Bali Jadi Desa Wisata Terbaik Dunia 2025,” tempo.co, 19 Okt. 2025. [Online]. Available: https://www.tempo.co/hiburan/desa-pemuteran-bali-dapat-penghargaan-desa-wisata-terbaik-dunia-2081093

[4] Biorock Indonesia, “Pemuteran, Kawasan Nelayan Jadi Desa Wisata Internasional,” biorock-indonesia.com, 29 Jan. 2015. [Online]. Available: https://www.biorock-indonesia.com/pemuteran-kawasan-nelayan-jadi-desa-wisata-internasional/

[5] Kementerian Pariwisata RI, “Pemuteran Bay Festival,” indonesia.travel, 30 Nov. 2025. [Online]. Available: https://www.indonesia.travel/id/id/events/event-detail/pemuteran-bay-festival/

[6] Biorock Indonesia, “Pengenalan Biorock di Pemuteran Bali,” biorock-indonesia.com. [Online]. Available: https://www.biorock-indonesia.com/produk/pengenalan-biorock/

[7] Antara Bali, “Pemuteran Bay Festival Perkuat Citra Desa Wisata Berkelanjutan,” antaranews.com, 4 Des. 2025. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/5182081/desa-pemuteran-bali-raih-penghargaan-best-tourism-village-2025

[8] Tempo, “Pemuteran Bay Festival Dibuka dengan Pemasangan Gapura Bawah Laut,” tempo.co, 4 Des. 2025. [Online]. Available: https://www.tempo.co/hiburan/pemuteran-bay-festival-dibuka-dengan-pemasangan-gapura-bawah-laut-2096027

[9] Antara, “Biorock Pemuteran, Konservasi dan Wisata Bahari Mendunia,” antaranews.com, 16 Des. 2016. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/602044/biorock-pemuteran-konservasi-dan-wisata-bahari-mendunia

[10] A. Ridwan et al., “Restorasi Terumbu Karang dengan Metode Biorock: Upaya Pelestarian Ekosistem Laut Indonesia,” Journal of Tropical Peace and Livelihood Studies, Sep. 2025. [Online]. Available: https://glbglavirtualexpo.dewaweb.cloud/index.php/jtpl/article/view/5912

[11] Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, “Terumbu Karang Bali Terancam, Program Restorasi Digenjot,” diskelkan.baliprov.go.id, 19 Sep. 2024. [Online]. Available: https://diskelkan.baliprov.go.id/terumbu-karang-bali-terancam-program-restorasi-digenjot/

[12] Detik Travel, “Desa Pemuteran Bali, Desa Terbaik Versi UNWTO 2025,” travel.detik.com, 21 Des. 2025. [Online]. Available: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-8271835/desa-pemuteran-bali-desa-terbaik-versi-unwto-2025

[13] Liputan6, “Membanggakan, Desa Wisata Pemuteran Bali Sabet Gelar Best Tourism Village 2025,” liputan6.com, 18 Okt. 2025. [Online]. Available: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/6189066/membanggakan-desa-wisata-pemuteran-bali-sabet-gelar-best-tourism-village-2025

[14] M. Yusuf et al., “Sosialisasi Pelestarian Terumbu Karang Berbasis Biorock,” Journal PJCS, Universitas Muhammadiyah Sorong. [Online]. Available: https://ejournal.um-sorong.ac.id/index.php/pjcs/article/download/4639/2328

Data Inovasi

Nama Inovasi
Ekowisata Pemuteran — Restorasi Terumbu Karang Biorock Berbasis Komunitas, Konservasi Laut, dan Pemuteran Bay Festival
Alamat
Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali
Inovator
Yayasan Karang Lestari (didirikan oleh komunitas lokal dan mitra hotel) dan Pokdarwis Desa Pemuteran
Kontak
Hendra Midayana Telp. 085935001112 | E-mail: info@wisatapemuteran.com | Website: http://wisatapemuteran.com | FB: pemuterancoastalvillage | IG: pokdarwis_sgp
Lokasi