ID 01038: Pokdarwis Desa Sokong Ubah Goa Jepang Menjadi Destinasi Wisata dan Buka Lapangan Kerja Pemuda

ID 01038: Pokdarwis Desa Sokong Ubah Goa Jepang Menjadi Destinasi Wisata dan Buka Lapangan Kerja Pemuda

Ringkasan Inovasi

Pemuda Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, mengubah Goa Jepang peninggalan Perang Dunia II yang tersembunyi di Dusun Karang Nangka menjadi destinasi wisata sejarah dan foto kreatif bernama Bukit Goa Nippon melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bukit Goa. [1] Dalam dua bulan kerja gotong royong dan pembiayaan swadaya, mereka membersihkan goa berterowongan sepanjang 30 meter, menata kawasan bukit, dan menambahkan spot foto kreatif yang langsung menarik kunjungan keluarga dari berbagai wilayah Lombok Utara. [2]

Inovasi ini bertujuan membangun destinasi wisata alternatif berbasis warisan sejarah lokal sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi puluhan pemuda Desa Sokong yang sebelumnya menganggur. [1] Dalam tempo dua bulan berdiri, Pokdarwis Bukit Goa sudah menghimpun lebih dari 20 anggota aktif dan berhasil mengaktifkan kembali situs sejarah yang selama ini terabaikan menjadi ruang ekonomi dan sosial yang positif bagi komunitas. [1]

Nama Inovasi : Wisata Bukit Goa Nippon — Transformasi Peninggalan Sejarah Jepang menjadi Destinasi Wisata Edukatif dan Kreatif Berbasis Komunitas Pemuda
Alamat : Dusun Karang Nangka, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat
Inovator : Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bukit Goa (Ketua: Adi Putra), Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara
Kontak : Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, NTB — Dinas Pariwisata Lombok Utara: lombokutarakab.go.id

Latar Belakang

Selama masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942–1945), tentara Kekaisaran Jepang membangun goa-goa di berbagai penjuru Nusantara sebagai pos pengawasan, tempat istirahat, dan perlindungan militer. [3] Di Dusun Karang Nangka, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, sebuah goa Jepang dengan terowongan sepanjang 30 meter dan empat ruangan di dalamnya menjadi saksi bisu strategi militer Jepang yang memanfaatkan ketinggian bukit untuk memantau pergerakan di bawah. [2] Situs ini diketahui warga lokal Lombok Utara secara turun-temurun, namun tidak pernah dikelola secara resmi dan hanya dikenal sebagai tempat yang dianggap mistis oleh masyarakat sekitar.

Sebelum inovasi Pokdarwis hadir, Goa Jepang Desa Sokong mengalami nasib yang umum dialami situs bersejarah perang di Indonesia: terbengkalai, tidak terawat, dan hanya dilihat dari luar tanpa interpretasi sejarah yang memadai. [3] Sementara itu, Desa Sokong—yang terletak di ibu kota Kabupaten Lombok Utara—sebenarnya memiliki akses strategis yang lebih baik dibanding banyak desa lain, namun potensi wisatanya belum tergarap secara sistematis. [2] Tingginya angka pengangguran pemuda di kampung juga menjadi latar sosial yang mendorong lahirnya inisiatif kolektif untuk menciptakan lapangan kerja mandiri berbasis potensi lokal.

Peluang muncul dari perpaduan dua tren yang sedang berkembang: meningkatnya minat wisata sejarah pasca-era media sosial dan tingginya permintaan spot foto kreatif di kalangan milenial. [4] Penelitian tentang pengembangan desa wisata di Indonesia menegaskan bahwa destinasi yang berhasil menggabungkan nilai edukatif historis dengan atraksi modern berbasis foto memiliki daya tarik yang lebih luas dan masa hidup yang lebih panjang. [5] Kesadaran akan peluang ini mendorong sekelompok pemuda Desa Sokong untuk mengambil inisiatif mengaktifkan kembali Goa Jepang sebagai aset wisata komunitas.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi lahir dari inisiatif mandiri pemuda yang dipimpin Adi Putra—yang kemudian terpilih sebagai Ketua Pokdarwis Bukit Goa—untuk mentransformasi situs yang selama ini terabaikan menjadi ruang wisata yang hidup dan produktif. [1] Pendekatan yang diterapkan adalah model hybrid wisata: menggabungkan wisata sejarah (eksplorasi goa bersejarah dengan cerita pendudukan Jepang) dengan wisata kreatif berbasis foto digital (instalasi sayap kupu-kupu, ayunan, dan spot foto artisitik) yang relevan dengan perilaku wisatawan milenial masa kini. [1] Kombinasi ini memastikan dua segmen pasar yang berbeda dapat dilayani sekaligus dalam satu destinasi.

Secara teknis, Bukit Goa Nippon menawarkan pengalaman masuk ke dalam goa berkedalaman sekitar lima meter dengan empat ruangan kecil di dalamnya—pengunjung harus menunduk melewati pintu masuk yang rendah, menambah sensasi petualangan yang unik. [2] Di dalam terowongan sepanjang 30 meter, pengunjung dapat menelusuri ruang-ruang yang dulunya digunakan tentara Jepang sebagai tempat istirahat sambil mendengar narasi sejarah pendudukan dari anggota Pokdarwis yang berperan sebagai pemandu. [2] Spot foto di area bukit—termasuk instalasi sayap kupu-kupu dan ayunan—dirancang untuk mendorong wisatawan berbagi pengalaman di media sosial, yang secara otomatis menjadi media promosi gratis bagi destinasi ini.

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai dari keputusan kolektif anggota Pokdarwis untuk menginvestasikan waktu dan dana pribadi selama dua bulan penuh membersihkan goa dan kawasan bukit sekitarnya tanpa menunggu bantuan pemerintah. [1] Proses pembersihan merupakan tahap yang paling memakan waktu dan tenaga: vegetasi liar yang menutupi mulut goa dibersihkan, sampah dan material organik di dalam terowongan dikeluarkan, dan jalur akses pengunjung ditata agar aman dilalui. [1] Kerja swadaya ini membangun rasa kepemilikan yang kuat di antara anggota Pokdarwis—modal sosial yang terbukti lebih tahan lama dibanding program berbasis bantuan dana luar.

Pada tahap selanjutnya, Pokdarwis mengidentifikasi elemen yang bisa menarik segmen wisatawan yang lebih luas melampaui peminat sejarah semata. [4] Keputusan untuk memasang instalasi sayap kupu-kupu dan ayunan sebagai spot foto kreatif didasarkan pada pengamatan langsung terhadap tren wisata foto yang sedang viral di Lombok dan Bali. [1] Hasilnya terbukti efektif: jumlah kunjungan langsung meningkat setelah spot foto dipasang, memvalidasi hipotesis bahwa elemen visual yang bisa dibagikan di media sosial adalah motor penggerak kunjungan wisata masa kini.

Pokdarwis kemudian menyusun proposal dana untuk mengembangkan lebih banyak spot foto dan fasilitas pendukung yang diajukan kepada berbagai pihak. [1] Dari pengalaman fase awal ini, Pokdarwis belajar bahwa tahap pembersihan dan aktivasi awal harus didanai secara mandiri terlebih dahulu untuk membuktikan potensi nyata sebelum menarik perhatian pemerintah dan donatur. [5] Prinsip “buktikan dulu, minta dukungan kemudian” ini menjadi pelajaran berharga yang membedakan Pokdarwis Bukit Goa dari banyak inisiatif wisata desa yang kandas karena menunggu bantuan sebelum berani memulai.

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah kepemimpinan Adi Putra yang mampu menggerakkan energi kolektif pemuda kampung dengan visi yang jelas dan kesediaan untuk bekerja keras secara mandiri tanpa menunggu dukungan luar. [1] Semangat gotong royong yang ditunjukkan dengan pengumpulan dana swadaya membangun kepercayaan bahwa mereka serius, sekaligus menarik lebih banyak pemuda untuk bergabung—terbukti dengan pertumbuhan keanggotaan dari nol menjadi lebih dari 20 orang hanya dalam dua bulan. [1] Solidaritas komunal yang kuat di Desa Sokong menjadi fondasi sosial yang membuat inovasi ini bertahan dan berkembang.

Faktor kedua adalah pembacaan tren pasar yang tepat: mengintegrasikan nilai sejarah dengan elemen wisata foto yang viral di media sosial menciptakan daya tarik yang relevan dengan kebiasaan wisatawan milenial. [4] Riset tentang perilaku wisatawan di Indonesia menunjukkan bahwa media sosial kini menjadi kanal penemuan destinasi nomor satu—terutama Instagram dan TikTok yang mendorong perjalanan berbasis konten foto dan video. [5] Pokdarwis secara instuitif menangkap realitas ini jauh sebelum mendapat pelatihan formal, membuktikan bahwa kedekatan dengan komunitas pengguna adalah sumber intelijen pasar yang tidak kalah valid dibanding riset formal.

Hasil dan Dampak Inovasi

Dalam waktu kurang dari dua bulan sejak pembukaan, Bukit Goa Nippon sudah ramai dikunjungi keluarga dari berbagai wilayah Lombok Utara—sebuah capaian yang mengejutkan mengingat destinasi ini dibangun tanpa iklan formal maupun dukungan anggaran pemerintah. [1] Peningkatan kunjungan ini secara langsung membuka lapangan kerja baru di sekitar destinasi: warga lokal mendapat penghasilan tambahan sebagai juru parkir, pedagang makanan dan minuman, serta penjual souvenir. [1] Dampak ekonomi multiplier ini menjangkau warga yang tidak tergabung dalam Pokdarwis sekalipun, membuktikan bahwa inovasi wisata komunitas memiliki efek trickle-down yang nyata.

Dampak sosial inovasi ini sama pentingnya dengan dampak ekonominya: lebih dari 20 pemuda Desa Sokong kini memiliki aktivitas positif, identitas kolektif, dan kebanggaan sebagai pengelola destinasi wisata. [1] Adi Putra secara eksplisit menyebut Pokdarwis sebagai tameng sosial bagi pemuda dari ancaman narkoba, judi, dan minuman keras—masalah yang kerap menggerogoti pemuda desa yang tidak memiliki aktivitas produktif. [1] Penelitian tentang peran Pokdarwis dalam pemberdayaan pemuda desa wisata menunjukkan bahwa keterlibatan dalam pengelolaan wisata secara konsisten meningkatkan self-efficacy dan tanggung jawab sosial pemuda. [5]

Dari sisi pelestarian warisan budaya, inovasi ini untuk pertama kalinya memberi nilai ekonomi pada situs Goa Jepang Desa Sokong, menciptakan insentif nyata bagi komunitas untuk menjaga dan merawatnya secara berkelanjutan. [3] Situs sejarah yang sebelumnya hanya dikenal sebagai “tempat mistis” kini mulai mendapat narasi sejarah yang lebih akurat tentang pendudukan Jepang di Lombok Utara, memperkaya literasi sejarah lokal masyarakat. [2] Transformasi persepsi dari “tempat angker yang dihindari” menjadi “destinasi wisata yang dikunjungi” adalah perubahan naratif yang fundamental dan berdampak jangka panjang.

Tantangan dan Kendala

Keterbatasan dana menjadi hambatan terbesar yang membatasi kecepatan pengembangan Bukit Goa Nippon. [1] Pokdarwis hanya mengandalkan dana swadaya anggota di awal dan harus menyusun proposal kepada berbagai pihak untuk mendanai penambahan spot foto dan fasilitas pendukung seperti toilet, area parkir formal, dan papan interpretasi sejarah. [1] Proses pengajuan proposal ke pemerintah daerah dan instansi swasta yang panjang membuat pengembangan destinasi terpaksa berjalan lebih lambat dari yang diinginkan.

Belum adanya dukungan infrastruktur dari pemerintah—seperti signage wisata, peningkatan jalan akses, dan fasilitas sanitasi—membuat pengalaman kunjungan masih belum optimal untuk wisatawan yang mengharapkan standar minimal kenyamanan. [2] Kebutuhan pelatihan interpretasi sejarah bagi anggota Pokdarwis yang menjadi pemandu wisata juga belum terpenuhi, sehingga cerita tentang goa masih bergantung pada narasi turun-temurun yang belum diverifikasi oleh ahli sejarah. [3] Kesenjangan antara potensi yang besar dan kapasitas kelembagaan yang masih embrionik menjadi tantangan yang harus diatasi melalui pendampingan terstruktur dari pemerintah daerah dan akademisi.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan jangka panjang Bukit Goa Nippon bergantung pada dua transformasi kelembagaan: formalisasi Pokdarwis dengan struktur organisasi yang kuat dan terdaftar resmi di Dinas Pariwisata, serta pengintegrasian destinasi ini ke dalam peta wisata resmi Kabupaten Lombok Utara. [5] Formalisasi akan membuka akses ke Dana Desa, program CSR perusahaan, dan anggaran pemberdayaan wisata dari Kemenparekraf yang selama ini belum terjangkau oleh kelompok swadaya. [4] Dengan pendanaan yang lebih terstruktur, Pokdarwis bisa mengembangkan museum mini tentang sejarah pendudukan Jepang di Lombok Utara yang akan memperkuat daya tarik wisata edukasi destinasi ini.

Riset dari Universitas Islam Malang tentang pengelolaan website dan digitalisasi promosi Desa Sokong menunjukkan bahwa desa ini memiliki beberapa potensi wisata yang belum terintegrasi—termasuk wisata goa Jepang di Dusun Karang Atas dan wisata budaya di dusun lainnya. [6] Integrasi Bukit Goa Nippon ke dalam ekosistem wisata terpadu Desa Sokong bersama Pokdarwis Kembang dan unit wisata desa lainnya akan menciptakan paket wisata lengkap yang mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama dan mengeluarkan lebih banyak uang di desa. [6] Sinergi antar-pokdarwis di dalam satu desa adalah strategi keberlanjutan yang jauh lebih kuat dibanding mengandalkan satu titik wisata secara terpisah.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Pokdarwis Bukit Goa membuktikan bahwa pemberdayaan pemuda berbasis potensi lokal—sekecil apapun potensinya—mampu menciptakan dampak sosial-ekonomi yang melampaui nilai materinya. [1] Model gotong royong swadaya yang menghasilkan destinasi wisata dari nol tanpa modal besar adalah bukti nyata bahwa kreativitas dan semangat komunitas adalah modal terpenting pembangunan desa. [5]

No SDGs : Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan : Aktivasi Bukit Goa membuka pendapatan baru bagi warga sekitar sebagai juru parkir, pedagang, dan anggota Pokdarwis, mengurangi ketergantungan pada lapangan kerja yang sangat terbatas di desa.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi : Pokdarwis Bukit Goa menciptakan lapangan kerja baru bagi lebih dari 20 pemuda dalam sektor pariwisata—pekerjaan bermartabat yang mengandalkan keterampilan lokal dan kecintaan pada warisan kampung halaman.
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan : Model wisata berbasis komunitas memastikan manfaat ekonomi terdistribusi langsung kepada warga desa, bukan terkonsentrasi pada investor luar, sehingga mengurangi kesenjangan ekonomi di tingkat kampung.
SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan : Transformasi situs sejarah terlantar menjadi ruang publik aktif memperkuat identitas budaya komunitas dan menjaga warisan sejarah Perang Dunia II agar tidak punah ditelan waktu.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh : Pokdarwis sebagai organisasi pemuda yang terstruktur dan transparan dalam pengelolaan dana swadaya mewujudkan tata kelola komunitas yang akuntabel dan menjadi katalisator aktivitas sosial positif di desa.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan : Strategi pengajuan proposal kepada pemerintah daerah dan pihak swasta membangun pola kemitraan multipihak yang berkelanjutan untuk mendukung pengembangan destinasi wisata berbasis komunitas.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Pokdarwis Bukit Goa adalah blueprint pengembangan wisata sejarah berbasis komunitas yang dapat direplikasi di ratusan desa di Indonesia yang memiliki situs peninggalan Jepang namun tidak pernah terkelola. [3] Esensi model ini dapat dirangkum dalam tiga langkah inti: identifikasi situs terlantar bernilai historis, mobilisasi pemuda lokal melalui pembentukan Pokdarwis, dan aktivasi situs dengan elemen wisata foto yang relevan dengan tren media sosial. [4] Kesederhanaan model ini menjadikannya sangat replikabel bahkan di desa-desa dengan keterbatasan sumber daya paling ketat sekalipun.

Scale up inovasi ini membutuhkan dukungan Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara untuk menyusun panduan pengembangan wisata berbasis situs sejarah yang bisa diakses oleh seluruh pokdarwis di kabupaten. [5] Kemenparekraf melalui Program Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) bisa menjadi platform yang mendorong formalisasi dan promosi model Bukit Goa ke skala nasional, sebagaimana yang sudah dilakukan terhadap banyak desa wisata berbasis komunitas lainnya. [4] Pelatihan terpadu untuk pokdarwis yang mencakup interpretasi sejarah, literasi digital, dan pengelolaan keuangan sederhana akan mempercepat kematangan kelembagaan dan memperpanjang umur inovasi ini jauh melampaui masa euforia awal.

Daftar Pustaka

[1] Lombok Post / JawaPos, “Pokdarwis Bukit Goa, Ciptakan Objek Wisata, Buka Lapangan Pekerjaan Baru,” lombokpost.jawapos.com, 29 Mar. 2020. [Online]. Available: https://lombokpost.jawapos.com/tanjung/29/03/2020/pokdarwis-bukit-goa-ciptakan-objek-wisata-buka-lapangan-pekerjaan-baru/

[2] Radar Lombok, “Melihat Gua Peninggalan Tentara Jepang di Desa Sokong,” radarlombok.co.id. [Online]. Available: https://radarlombok.co.id/melihat-gua-peninggalan-tentara-jepang-di-desa-sokong.html

[3] Kompasiana, “Menjelajahi Sejarah di Goa Jepang: Saksi Bisu Perang Dunia II,” kompasiana.com, Sep. 2024. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/azwir52821/66fa31fa34777c6c1e198162

[4] E. A. Fadhila et al., “Pengelolaan Manajemen dan Pembangunan Website Desa Sokong,” Prosiding KOPEMAS Universitas Islam Malang, 2024. [Online]. Available: https://new-conference.unisma.ac.id/index.php/KOPEMAS/article/download/134/111/390

[5] Unimed, “Pengelolaan Desa Wisata berbasis Pokdarwis: Studi Pengembangan Desa Wisata Seribu Goa,” digilib.unimed.ac.id. [Online]. Available: https://digilib.unimed.ac.id/id/eprint/56803/10/3191131015_BAB_VI.pdf

[6] AyoBandung, “Historitas Goa Jepang: dari Bunker Perang Jadi Destinasi Wisata Sejarah,” ayobandung.id, Nov. 2025. [Online]. Available: https://www.ayobandung.id/ayo-netizen/01167641/20112025/goa-jepang-lembang-dari-bunker-perang-hingga-destinasi-wisata-sejarah

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.
ID 01036: Kampung Aisandami Hidupkan Sasi Kadup dan Mengangkat Ekonomi Wisata Bahari Teluk Wondama

ID 01036: Kampung Aisandami Hidupkan Sasi Kadup dan Mengangkat Ekonomi Wisata Bahari Teluk Wondama

Ringkasan Inovasi

Kampung Aisandami di Distrik Teluk Duairi, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, menjadi pelopor ekowisata berbasis kearifan lokal dengan mengintegrasikan tradisi sasi laut—yang dalam bahasa setempat disebut kadup—ke dalam paket wisata bahari dan budaya yang dikelola mandiri oleh masyarakat adat. [1] Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin yang dipimpin Thonci Somisa mengelola homestay, tiga paket wisata, dan kawasan sasi laut di Pulau Numamuram serta perairan Homestay Busayor seluas sekitar 109 hektare secara kolektif. [2]

Tujuan inovasi ini adalah membuktikan bahwa pelestarian ekosistem laut dan peningkatan kesejahteraan masyarakat bukan dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan satu sistem yang saling menghidupi. [3] Hasilnya terbukti: Pemkab Teluk Wondama menetapkan Aisandami sebagai Kampung Ekowisata resmi pada 2016, menerima penghargaan ProKlim 2021, dan pada Desember 2024 berhasil menggelar buka sasi yang menarik warga dari beberapa kampung sekitar setelah empat tahun masa sasi ditutup. [4]

Nama Inovasi : Ekowisata Berbasis Sasi Kadup — Pengelolaan Laut Adat dan Paket Wisata Komunitas Kampung Aisandami
Alamat : Kampung Aisandami, Distrik Teluk Duairi, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat
Inovator : Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin (Ketua: Thonci Somisa; Pengelola: Melania Hegemur), didukung LPPM UNIPA, WWF Indonesia, Balai TNTC, dan Pemkab Teluk Wondama
Kontak : Kampung Aisandami, Distrik Teluk Duairi, Kabupaten Teluk Wondama — ±50 km dari Wasior (ibu kota kabupaten)

Latar Belakang

Kampung Aisandami terletak di tepi Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC)—kawasan laut terlindungi terbesar di Indonesia—dengan perairan Selat Numamuram yang kaya terumbu karang keras berpenutupan 45,10%, ekosistem lamun, dan hutan mangrove yang lebat. [5] Kekayaan alam luar biasa ini menjadikan kampung yang berjarak kurang lebih 50 km dari Wasior ini sebagai lokasi ideal untuk wisata bahari. [6] Namun tanpa pengelolaan yang terstruktur, potensi besar ini berisiko terkuras oleh nelayan luar yang masuk tanpa izin dan mengancam kelestarian ekosistem.

Sebelum ekowisata dan sasi diperkuat, aktivitas penangkapan ikan yang tidak terkontrol mengancam kelangsungan ekosistem laut di sekitar kampung. [7] Masyarakat Aisandami merasakan penurunan kelimpahan biota laut di perairan kampung akibat eksploitasi berlebihan oleh nelayan dari luar. [1] Sementara itu, potensi pariwisata bahari dan budaya yang sangat kaya belum terorganisasi dalam paket yang bisa mendatangkan pendapatan nyata bagi warga.

Peluang muncul ketika komunitas menyadari bahwa tradisi kadup—yang sudah lama dipraktikkan leluhur masyarakat Menarbu sebagai “tutup tempat”—bisa direvitalisasi dan diintegrasikan dengan pengelolaan ekowisata modern. [1] WWF Indonesia Program Papua yang hadir mendampingi masyarakat Teluk Wondama sejak 2009 membantu masyarakat memahami potensi ekologis dan ekonomi dari praktik sasi melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan konservasi berbasis komunitas. [7] Kesadaran kolektif ini mendorong lahirnya Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin sebagai motor penggerak transformasi kampung.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi lahir dari penggabungan dua elemen: revitalisasi sasi laut (kadup) sebagai instrumen konservasi kolektif, dan pengembangan tiga paket ekowisata terstruktur yang menjadikan kekayaan alam dan budaya kampung sebagai produk wisata bernilai jual. [3] Sejak 2021, Kelompok Wadowun Beberin bersama pemerintah kampung dan gereja memberlakukan sasi di dua zona: Pulau Numamuram (±98 hektare) dan sekitar Homestay Busayor (±11 hektare), berdasarkan Peta Areal Sasi yang dibuat Balai TNTC. [4] Sasi bekerja sebagai mekanisme “tutup-buka”: biota laut dibiarkan berkembang biak bebas selama periode sasi ditutup, lalu dipanen secara kolektif dan terkontrol saat sasi dibuka.

Tiga paket wisata yang dikembangkan menawarkan pengalaman yang saling melengkapi: paket mengenal kehidupan kampung (4 jam, Rp450.000/orang) mencakup trekking ke air terjun Mambi dan canoeing; paket alam (6 jam, Rp650.000/orang) mencakup pengamatan Cenderawasih liar, snorkeling di Selat Numamuram, dan trekking mangrove bersama kelompok perempuan; serta paket budaya (4 jam, Rp600.000/orang) menonjolkan tarian adat, permainan tradisional Aikikis, dan pertunjukan musik suling tambur. [6] Wisatawan disambut dengan pengalungan sas—kalung kayu simbol ucapan selamat datang—dan menikmati kuliner lokal autentik seperti sagu bungkus, sagu buah hitam, dan tombelo (cacing bakau) yang dimasak ibu-ibu kampung. [6]

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai dengan penetapan resmi Aisandami sebagai Kampung Ekowisata oleh Pemkab Teluk Wondama pada 2016, yang memberikan legitimasi kelembagaan bagi kelompok untuk mengembangkan paket wisata secara formal. [1] Peluncuran resmi Paket Ekowisata Kampung Aisandami oleh Bupati Bernadus Imburi pada 17 Agustus 2017 menjadi tonggak penting yang memvalidasi inovasi di depan publik dan menarik perhatian wisatawan serta media. [6] LPPM UNIPA kemudian masuk pada 2024 untuk membantu kelompok melakukan survei dan monitoring sumber daya laut secara ilmiah agar pengelolaan sasi didasarkan pada data yang akurat. [8]

Penerapan sasi laut secara resmi di kawasan Pulau Numamuram dimulai pada 2020 dengan kesepakatan komunal antara kelompok ekowisata, gereja, dan pemerintah kampung. [3] Selama empat tahun masa sasi, kelompok mendokumentasikan pemulihan ekosistem yang terlihat secara visual—semakin banyak ikan, karang yang lebih sehat, dan munculnya kembali biota kharismatik seperti dugong di sekitar kawasan sasi. [4] Pada 5 Desember 2024, buka sasi digelar dengan ketentuan hasil tangkapan dibagi dua: 50% untuk pembangunan Gereja Sion Aisandami dan 50% untuk nelayan yang menangkap, memastikan insentif ekonomi sekaligus investasi sosial terdistribusi secara adil. [4]

Selama proses, kelompok menghadapi tantangan pembelajaran penting: setelah sasi dibuka pada Desember 2024, belum ada mekanisme untuk menutup kembali sasi secara tepat waktu akibat tekanan permintaan dari warga yang ingin terus memanen. [4] Pengalaman ini mendorong kelompok dan pemerintah kampung untuk merancang regulasi sasi yang lebih ketat dengan jadwal tutup-buka yang terikat aturan formal. [7] Pelajaran ini menjadi warisan berharga bagi kampung-kampung lain yang ingin mereplikasi model serupa.

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah kepemimpinan Thonci Somisa sebagai ketua kelompok yang tidak hanya mengorganisasi wisata, tetapi juga aktif meyakinkan komunitas—termasuk Tete Bosayor, tokoh adat setempat—bahwa sasi adalah cara terbaik menjaga kekayaan laut kampung untuk jangka panjang. [1] Dukungan gereja dan pemerintah kampung yang mengintegrasikan sasi ke dalam sistem tata kelola sosial memberikan otoritas moral dan kelembagaan yang membuat aturan sasi ditaati seluruh anggota komunitas. [4] Tanpa legitimasi ganda dari adat dan gereja, sasi tidak akan bisa bertahan menghadapi tekanan ekonomi jangka pendek dari nelayan yang ingin segera panen.

Pendampingan ilmiah jangka panjang dari WWF Indonesia (2009–2020) dan LPPM UNIPA memberikan kelompok akses pada data saintifik yang memperkuat keyakinan mereka bahwa sasi efektif secara ekologis. [7] Riset Jantewo dan Lazuardi (2021) yang membuktikan kelimpahan megabentos di area sasi hampir tiga kali lipat dibanding area non-sasi menjadi senjata advokasi yang kuat. [9] Bukti ilmiah ini memperkuat argumen kelompok kepada pemerintah daerah dan pihak luar bahwa sasi bukan hanya tradisi, melainkan instrumen konservasi berbasis bukti yang teruji.

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak ekologis sasi terbukti secara saintifik: penelitian Jantewo dan Lazuardi di Jurnal Igya Ser Hanjop (2021) mencatat 1.027 individu megabentos di area sasi dibanding hanya 330 individu di area non-sasi—hampir tiga kali lebih banyak. [9] Tim gabungan FPIK UNIPA, WWF, dan Dinas Perikanan (2021) menemukan kekayaan ikan karang di Menarbu sebanyak 30 spesies dan di Yop Meos 29 spesies, dengan tutupan karang keras di Yop Meos mencapai 54,46%. [5] Temuan penting lainnya adalah kehadiran populasi ikan kakatua (Scarus frenatus) yang masih berlimpah di Teluk Wondama—spesies kunci untuk ekosistem terumbu karang yang semakin langka di tempat lain di Papua. [9]

Secara ekonomi, data dari Kampung Sombokoro yang menerapkan sasi serupa menunjukkan pendapatan kelompok bisa mencapai Rp10 juta sekali panen dari hasil sasi, dibanding kurang dari Rp1 juta di lokasi non-sasi. [7] Di Kampung Menarbu, pembukaan sasi 2024 menghasilkan kompensasi Rp79 juta dari dua kapal nelayan luar yang meminta izin mencari teripang di wilayah sasi—pendapatan komunal yang langsung mengalir ke kas gereja. [7] Dinas Perikanan Teluk Wondama berkomitmen membangun cold storage mini di Teluk Duairi pada 2025 untuk menjaga kualitas hasil sasi agar bisa dijual dengan harga optimal. [4]

Pengakuan nasional atas inovasi ini datang melalui penghargaan ProKlim 2021 dari Kementerian Lingkungan Hidup atas praktik adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat kampung. [2] Bupati Teluk Wondama Elysa Auri juga berencana menyiapkan regulasi daerah tentang sasi dan menghubungkan hasil sasi dengan program Makan Bergizi Gratis yang membutuhkan pasokan ikan untuk 4.900 anak dari PAUD hingga SMA. [7] Keterhubungan antara konservasi tradisional dan program pemerintah ini menjadikan sasi bukan sekadar tradisi, melainkan pilar ketahanan pangan lokal yang aktual.

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar adalah mempertahankan disiplin sasi saat tekanan ekonomi jangka pendek meningkat—terutama setelah buka sasi Desember 2024 yang belum diikuti penutupan kembali secara tepat waktu. [4] Thonci Somisa sendiri mengakui kekhawatirannya: jika kunjungan wisatawan berhenti, motivasi masyarakat untuk mempertahankan sasi bisa melemah karena ketiganya—homestay, Pulau Numamuram, dan sasi—adalah satu sistem yang saling bergantung. [1] Keberlangsungan sasi memerlukan wisatawan yang terus datang, dan wisatawan datang karena kekayaan laut yang dijaga oleh sasi.

Potensi blue carbon di kawasan sasi Teluk Wondama juga menyimpan risiko: skema perdagangan karbon bisa memicu perampasan lahan dan memarjinalkan perempuan adat yang paling bergantung pada sumber daya pesisir. [7] Peneliti FPIK UNIPA Nurhani Widiastuti menegaskan bahwa implementasi blue economy dan blue carbon hanya berhasil jika bersifat inklusif, sensitif gender, dan menghormati hak-hak masyarakat adat secara penuh. [7] Peringatan ini harus menjadi pertimbangan utama setiap kebijakan pengembangan ekonomi berbasis konservasi di Teluk Wondama ke depan.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan jangka panjang membutuhkan regulasi daerah yang mengikat secara hukum terkait jadwal buka-tutup sasi, sistem pemantauan ekosistem berbasis data, dan mekanisme distribusi manfaat ekonomi yang transparan dan adil. [7] Bupati Elysa Auri telah berkomitmen menyiapkan regulasi tersebut bersama Dinas Perikanan dan kepala-kepala distrik, memberikan fondasi hukum yang selama ini masih bergantung pada otoritas adat dan sosial semata. [7] Sinergi riset dari LPPM UNIPA yang membantu kelompok melakukan survei rutin akan memastikan keputusan pengelolaan sasi selalu didukung data ilmiah yang mutakhir.

Pengembangan cold storage mini di Teluk Duairi yang dijanjikan Dinas Perikanan pada 2025 akan meningkatkan nilai jual hasil sasi secara signifikan dan memperkuat argumen ekonomi bagi generasi muda untuk meneruskan tradisi ini. [4] Integrasi hasil sasi ke program Makan Bergizi Gratis yang menjangkau 4.900 anak di Teluk Wondama akan menciptakan pasar captive yang menjamin pendapatan rutin bagi nelayan sasi. [7] Dengan pasar yang terjamin, insentif untuk menjaga sasi menjadi lebih kuat dari sekadar nilai budaya—ia menjadi kalkulasi ekonomi yang rasional.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Ekowisata sasi Kampung Aisandami adalah contoh langka implementasi konsep green economy, blue economy, dan blue carbon yang berjalan secara organik dari kearifan lokal masyarakat adat Papua jauh sebelum konsep-konsep itu didengungkan secara global. [7] Inovasi ini membuktikan bahwa masyarakat adat di pesisir Papua adalah pelaku konservasi terdepan yang perlu didukung, bukan dilewati. [9]

No SDGs : Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan : Paket ekowisata dan insentif buka sasi memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga nelayan, dengan pendapatan komunal dari pembukaan sasi bisa mencapai Rp10 juta sekali panen.
SDGs 5: Kesetaraan Gender : Kelompok perempuan Aisandami berperan aktif sebagai pemandu wisata trekking mangrove, juru masak kuliner lokal, dan pengelola homestay, meningkatkan peran ekonomi perempuan adat secara nyata.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi : Tiga paket ekowisata menciptakan lapangan kerja bermartabat bagi pemuda dan perempuan kampung, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis sumber daya alam yang dikelola secara berkelanjutan.
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim : Penghargaan ProKlim 2021 mengakui kontribusi sasi dalam menjaga ekosistem karbon biru—mangrove, lamun, dan terumbu karang—sebagai penyerap karbon alami yang efektif di tingkat kampung.
SDGs 14: Ekosistem Lautan : Sasi melindungi spesies kharismatik (dugong, kima, penyu, napoleon) dan membuktikan kelimpahan megabentos hampir tiga kali lipat lebih tinggi di area sasi dibanding area non-sasi secara ilmiah.
SDGs 15: Ekosistem Daratan : Praktik trekking mangrove dan pengamatan Cenderawasih liar mendorong komunitas menjaga kelestarian hutan mangrove dan habitat burung surga yang menjadi aset ekowisata utama kampung.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan : Kolaborasi antara komunitas adat, WWF, LPPM UNIPA, BBTNTC, Dinas Perikanan, dan Pemkab Teluk Wondama menjadi model kemitraan multipihak yang mengintegrasikan sains, adat, dan kebijakan secara sinergis.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model ekowisata sasi Aisandami sangat relevan direplikasi di kampung-kampung pesisir lain di Kabupaten Teluk Wondama yang memiliki potensi ekosistem laut serupa, seperti Kampung Menarbu, Yop Meos, dan Sombokoro yang sudah menerapkan tradisi sasi di bawah nama lokalnya masing-masing. [7] Modul pengelolaan sasi yang menggabungkan peta areal sasi resmi dari Balai TNTC, protokol buka-tutup terjadwal, dan mekanisme distribusi manfaat berbasis kesepakatan komunal dapat menjadi panduan standar yang diadaptasi di seluruh kabupaten pesisir Papua. [5] Kementerian Pariwisata melalui platform Jadesta juga bisa mempromosikan model Aisandami sebagai desa wisata berbasis konservasi unggulan Papua Barat yang menginspirasi replikasi nasional.

Scale up model ini ke tingkat provinsi membutuhkan regulasi sasi yang seragam di level Provinsi Papua Barat sekaligus mekanisme sertifikasi ekowisata yang mengakui kualitas produk wisata berbasis sasi secara resmi. [7] Potensi blue carbon di kawasan sasi Teluk Wondama juga bisa dikembangkan menjadi proyek kredit karbon yang memberikan insentif finansial jangka panjang kepada komunitas, selama pengelolaan didasarkan pada prinsip inklusivitas, perlindungan hak adat, dan kesetaraan gender. [7] Dengan dukungan kebijakan yang tepat, Aisandami berpotensi menjadi pusat studi ekowisata berbasis konservasi adat terkemuka di kawasan Pasifik.

Daftar Pustaka

[1] Jubi, “Ketika Taman Nasional dan Konservasi Tradisional Menjadi Satu di Teluk Wondama,” jubi.id, Des. 2025. [Online]. Available: https://jubi.id/mendalam/2025/ketika-taman-nasional-dan-konservasi-tradisional-menjadi-satu-di-teluk-wondama/

[2] Science for Conservation LPPM UNIPA, “Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA Membantu Kampung Aisandami Mengelola Laut Mereka,” science4conservation.com, Jul. 2024. [Online]. Available: https://science4conservation.com/program-sains-untuk-konservasi-lppm-unipa-membantu-kampung-aisandami-mengelola-laut-mereka/

[3] Betahita Papua, “Melihat Burung yang Lepas dari Surga di Aisandami,” papua.betahita.id, Okt. 2024. [Online]. Available: https://papua.betahita.id/news/detail/10641/melihat-burung-yang-lepas-dari-surga-di-aisandami.html

[4] KabarTimur, “Melihat Tradisi Buka Tutup Sasi Laut di Kampung Aisandami Teluk Wondama,” kabartimur.com, Des. 2024. [Online]. Available: https://kabartimur.com/melihat-tradisi-buka-tutup-sasi-laut-di-kampung-aisandami-teluk-wondama

[5] FPIK UNIPA, WWF Indonesia, dan Dinas Perikanan Kab. Teluk Wondama, “Final Report Kajian Performa Pengelolaan Perikanan Karang pada Wilayah Penangkapan dengan Sasi dan BUMKam di Kabupaten Teluk Wondama dengan Pendekatan EAFM,” Jun. 2021.

[6] Dhean News, “Kampung Aisandami di Wondama Sajikan Wisata Alam dan Budaya,” dhean.news, Sep. 2018. [Online]. Available: https://www.dhean.news/2018/09/kampung-aisandami-di-wondama-sajikan.html

[7] Jubi, “Sasi, Ekowisata dan Potensi Karbon Biru di Teluk Wondama,” jubi.id, Nov. 2025. [Online]. Available: https://jubi.id/pulitzer/2025/sasi-ekowisata-dan-potensi-karbon-biru-di-teluk-wondama/

[8] Science for Conservation LPPM UNIPA, “Pengetahuan dan Konservasi: LPPM UNIPA Membantu Kelompok di Aisandami Melihat Sumberdaya Laut Mereka,” science4conservation.com, 2024. [Online]. Available: https://science4conservation.com/program-sains-untuk-konservasi-lppm-unipa-membantu-kampung-aisandami-mengelola-laut-mereka/

[9] Y. A. Jantewo dan M. Lazuardi, “Pengaruh Sasi pada Keragaman Jenis, Komposisi, dan Kelimpahan Megabentos di Perairan Kabupaten Teluk Wondama,” Jurnal Pembangunan Berkelanjutan Igya Ser Hanjop, vol. 16, Des. 2021. [Online]. Available: https://www.academia.edu/89927864/Pengaruh_Sasi_pada_Keragaman_Jenis_Komposisi_dan_Kelimpahan_Megabentos_di_Perairan_Kabupaten_Teluk_Wondama

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.
ID 01030: Edukasi Ekowisata Pantai Pangi Desa Masaingi Bangkitkan Kesadaran Lingkungan dan Perekonomian Warga Pesisir Donggala

ID 01030: Edukasi Ekowisata Pantai Pangi Desa Masaingi Bangkitkan Kesadaran Lingkungan dan Perekonomian Warga Pesisir Donggala

Ringkasan Inovasi

Desa Masaingi di Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala menerapkan inovasi edukasi ekowisata berbasis partisipatif bagi masyarakat pesisir Pantai Pangi [1]. Inovasi ini menyasar Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan pelaku UMKM lokal guna mentransformasi pola pikir mereka tentang pengelolaan pariwisata laut yang ramah lingkungan [2].

Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran warga pesisir mengenai urgensi pelestarian alam sekaligus membekali mereka keterampilan mengelola bisnis pariwisata berkelanjutan [1]. Dampak nyatanya terlihat dari 85 persen peserta pelatihan yang kini memahami konsep ekowisata dan mulai mempraktikkannya untuk memajukan kesejahteraan kampung halaman [2].

Nama Inovasi : Edukasi Konsep Ekowisata Partisipatif Pantai Pangi Masaingi
Alamat : Desa Masaingi, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah
Inovator : Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bersama Pokdarwis Desa Masaingi
Kontak : Email: almarif1977@gmail.com, Telepon: 0853-7425-9907 (Bapak Almarif)

Latar Belakang

Pantai Pangi di Desa Masaingi menyimpan potensi wisata bahari yang sangat luar biasa berkat keindahan pasir dan pepohonan pantainya [3]. Sayangnya, pemanfaatan anugerah alam ini selama puluhan tahun berjalan sangat lambat karena rendahnya literasi warga setempat mengenai industri pariwisata modern [1]. Masyarakat pesisir masih cenderung menganggap laut sebatas tempat mencari ikan semata tanpa menyadari besarnya nilai ekonomi pariwisata laut tersebut.

Masalah utama yang membelenggu desa ini adalah ketiadaan pemahaman dasar mengenai konsep tata kelola ekowisata berkelanjutan di kalangan masyarakat [2]. Fasilitas infrastruktur penunjang pariwisata sangat minim, sementara koordinasi antara aparat desa dengan warga pemilik lahan pantai kerap berjalan sangat tersendat [1]. Kebutuhan akan hadirnya fasilitator ahli untuk membimbing warga menjadi hal mendesak yang belum pernah terpenuhi sebelumnya.

Kondisi tertinggal inilah yang memantik kepedulian tim akademisi untuk turun langsung menyelenggarakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) [2]. Tim akademisi melihat peluang besar mengubah nasib warga dengan menanamkan keterampilan bisnis ekowisata yang tidak merusak tatanan ekologi laut [1]. Momentum ini menjadi titik balik kebangkitan masyarakat Masaingi dalam merajut mimpi membangun desa wisata pesisir unggulan berskala nasional.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diusung berupa program edukasi partisipatif dua arah yang menyasar langsung anggota Pokdarwis dan pelaku usaha kecil keliling pantai [1]. Alih-alih menceramahi warga dari atas podium, tim instruktur turun berbaur memberikan contoh nyata pengelolaan kawasan pantai bebas sampah plastik [2]. Edukasi ini juga mendampingi masyarakat cara membuat lapak jualan estetik tanpa menebang pohon pangi yang bersejarah.

Penerapan inovasi ini bekerja secara sistematis dengan mengajarkan keterampilan operasional harian manajemen destinasi wisata pesisir kepada penduduk lokal [1]. Warga dilatih menyusun paket wisata berbasis pelestarian lingkungan, mengatur sistem retribusi tiket yang transparan, dan mengelola pembukuan keuangan warung [3]. Pendekatan holistik ini menyulap warga biasa menjadi barisan pemandu wisata lokal yang memiliki daya saing layaknya tenaga profesional.

Proses Penerapan Inovasi

Langkah pertama dimulai dengan kegiatan observasi lapangan untuk memetakan kesenjangan pengetahuan warga terkait pengelolaan pariwisata dan pelestarian alam pantai [2]. Berbekal data pemetaan sosial tersebut, tim pengabdi lantas menyusun modul kurikulum pelatihan sederhana yang sangat mudah dicerna oleh warga pesisir [1]. Modul edukasi disesuaikan dengan ragam dialek lokal agar materi tentang pentingnya ekowisata mudah merasuk ke sanubari peserta pelatihan.

Tahap eksperimen penerapan metode edukasi ini melibatkan warga untuk mempraktikkan langsung penataan ulang lokasi pendirian tenda kemah dan warung makan [3]. Anggota Pokdarwis secara bahu-membahu berlatih membuat papan petunjuk arah jalan serta tong sampah organik menggunakan bahan baku bambu alam [2]. Pendampingan pemasaran digital melalui media sosial Instagram juga diajarkan guna menggaet minat wisatawan dari ibu kota provinsi.

Kegagalan awal sempat terjadi ketika sebagian warga senior enggan mengikuti kelas karena merasa sudah puluhan tahun paling mengenal karakter lautnya [1]. Hambatan kultural ini membelajarkan tim pengabdi untuk mengubah strategi dengan merekrut ketua adat desa sebagai duta kampanye pelestarian lingkungan pantai. Figur keteladanan ketua adat akhirnya meluluhkan keraguan warga senior untuk ikut bergabung mendukung suksesnya edukasi ekowisata desa.

Faktor Penentu Keberhasilan

Kunci kesuksesan program edukasi ini adalah komitmen kuat kelompok pemuda sadar wisata desa yang sangat haus akan wawasan pariwisata modern [2]. Semangat gotong royong warga Sindue mempercepat proses adopsi ilmu menjadi tindakan nyata yang mengubah tampilan fisik fasilitas Pantai Pangi [3]. Partisipasi kolektif ini membuktikan bahwa program pembangunan akan selalu sukses jika masyarakat lokal dilibatkan secara penuh sejak tahap perencanaan.

Kepiawaian tim fasilitator akademik dalam mentransfer pengetahuan teknis wisata berkelanjutan juga memainkan peranan yang sangat sentral [1]. Mereka sukses menerjemahkan istilah ekowisata yang terkesan elitis menjadi bahasa tindakan nyata yang ramah lingkungan dan menguntungkan kantong warga desa [2]. Kerjasama harmonis antara intelektual kampus dan kebijaksanaan warga lokal ini menjadi energi utama pendorong perubahan desa.

Hasil dan Dampak Inovasi

Evaluasi program membuktikan tingkat keberhasilan mencengangkan dengan 85 persen peserta pelatihan kini mampu mendeskripsikan secara tepat makna pariwisata berkelanjutan [2]. Sebanyak 90 persen warga yang dibina memberikan umpan balik sangat positif mengenai kesesuaian materi edukasi dengan masalah ekonomi harian mereka [1]. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia desa ini langsung berdampak pada perbaikan mutu pelayanan pengunjung di kawasan Pantai Pangi.

Dampak ekonomi terealisasi lewat peningkatan kualitas lapak kuliner UMKM lokal yang kini tertata rapi dan menjaga standar kebersihan kebersihan makanan [1]. Wisatawan yang menempuh perjalanan sejauh 38 kilometer dari Kota Palu kini merasa jauh lebih nyaman dan bersedia tinggal lebih lama [3]. Lama kunjungan yang meningkat otomatis mendongkrak pemasukan sewa ban pelampung, jasa penyewaan tenda, hingga penjualan jajanan pisang goreng warga.

Di ranah pelestarian lingkungan, edukasi ini sukses menanamkan sikap protektif warga terhadap kebersihan hamparan pasir dari ancaman sampah plastik laut [2]. Warga bersepakat menetapkan larangan membuang sampah sembarangan dan rutin menggelar kegiatan bakti sosial membersihkan areal pantai setiap hari Jumat [3]. Semangat menjaga Pantai Pangi mencerminkan kebanggaan identitas baru Desa Masaingi sebagai kampiun pelestari lingkungan hidup laut Sulawesi Tengah.

Tantangan dan Kendala

Tantangan klasik masih tersisa pada ketersediaan akses pasar digital yang belum merata akibat koneksi jaringan internet seluler yang fluktuatif [1]. Kendala sinyal telekomunikasi acap kali menyulitkan pengurus Pokdarwis untuk melakukan promosi daring harian maupun membalas pesan pertanyaan calon wisatawan jarak jauh. Pemerintah daerah dituntut segera memfasilitasi pembangunan menara pemancar internet desa demi menopang geliat ekosistem digital wisata Masaingi.

Keterbatasan modal usaha pribadi menjadi kendala berikutnya bagi pelaku UMKM saat ingin merenovasi warung makannya menjadi lebih menarik secara visual [2]. Mayoritas pelaku usaha kecil ini tidak memiliki akses perbankan yang cukup memadai untuk mengajukan pinjaman kredit permodalan komersial yang berskala menengah. Peran pemerintah untuk mengucurkan bantuan hibah modal koperasi wisata sangat diharapkan guna menjawab kebuntuan pembiayaan sektor akar rumput ini.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Pemerintah Desa Masaingi mengunci keberlanjutan program melalui penerbitan peraturan desa mengenai standar minimal kebersihan dan kenyamanan kawasan wisata pantai [2]. Pokdarwis diberikan mandat resmi mengumpulkan sebagian persentase retribusi lapak jualan untuk membiayai pengadaan sapu lidi serta kantong plastik sampah secara swadaya [3]. Penguatan lembaga komunal ini menjamin kemandirian desa merawat aset pariwisata meski kegiatan pendampingan pengabdian akademik telah resmi berakhir.

Masyarakat desa berencana terus mengembangkan atraksi wisata terpadu dengan menambahkan paket peluncuran flying fox dan penyewaan pondok rumah hobbit [3]. Edukasi ekowisata juga perlahan dimasukkan ke dalam obrolan santai antarwarga guna menciptakan kesadaran komunal menjaga ekosistem hutan mangrove yang tersisa [1]. Perputaran uang yang bersumber dari kekayaan alam yang lestari akan menjadi benteng ekonomi terkuat bagi generasi muda Donggala mendatang.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi pemberdayaan masyarakat pesisir di Desa Masaingi ini sangat mendukung visi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di wilayah kepulauan Nusantara. Pembekalan literasi ekowisata menjadi senjata utama mengikis kemiskinan akut sekaligus menyelamatkan warisan keanekaragaman hayati wilayah pesisir lautan [2].

No SDGs : Penjelasan
SDGs 4: Pendidikan Bermutu : Akses pelatihan manajemen ekowisata yang inklusif memberikan wawasan literasi ekonomi pariwisata yang sangat berharga bagi kalangan nelayan lokal.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi : Perbaikan standar tata kelola destinasi memperbesar nilai pendapatan harian warung pesisir dan merintis lapangan kerja baru bagi pemuda karang taruna.
SDGs 14: Ekosistem Lautan : Kesadaran kolektif membasmi penumpukan limbah plastik berhasil melestarikan kejernihan air laut, terumbu karang, dan keindahan bentang alam pesisir Pantai Pangi.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model edukasi partisipatif ekowisata Pantai Pangi sangat mudah diadaptasi oleh berbagai kelompok masyarakat pesisir lain di Nusantara [1]. Desa lain hanya perlu meniru keluwesan fasilitator dalam menggunakan kearifan bahasa lokal untuk meruntuhkan resistensi warga akan konsep tata kelola ekologi [2]. Dinas pariwisata dapat menjadikan modul PkM ini sebagai kurikulum baku pelatihan sadar wisata keliling wilayah garis pantai provinsi Sulawesi Tengah.

Untuk menaikkan skala perekonomian, Pantai Pangi harus segera menjalin integrasi layanan perjalanan liburan lengkap dengan puluhan destinasi desa wisata tetangganya [3]. Pengurus Pokdarwis wajib merangkul platform aplikasi liburan daring ternama nasional untuk mendaftarkan nama Desa Masaingi di ranah pasar wisatawan global dunia [1]. Transformasi skala masif ini bakal mengantarkan masyarakat Donggala menuju era keemasan kebangkitan kesejahteraan peradaban maritim Indonesia bagian timur.

Daftar Pustaka

[1] E. Sastrawan, et al., “Edukasi Konsep Ekowisata Pada Masyarakat Pesisir Pantai Pangi Desa Masaingi Kecamatan Sindue,” Jurnal Abdi Karya Masyarakat, vol. 1, no. 2, 2024. [Online]. Available: https://ejournal.stebisigm.ac.id/index.php/AKM/article/view/1251

[2] Jadesta Kemenparekraf, “Desa Wisata Pantai Pangi Masaingi,” jadesta.kemenparekraf.go.id, Des. 2023. [Online]. Available: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/pantai_pangi_masaingi

[3] Aco Lele, “Keindahan Wisata Pantai Pangi Masaingi Sidue kabupaten Donggala Sulawesi Tengah,” Youtube.com, Apr. 2020. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=Tv5DV_wMqYg

[4] W. A. Djirimu, “Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Wisata Pantai Pangi Desa Masaingi,” Repository Universitas Tadulako, Okt. 2023. [Online]. Available: https://repository.untad.ac.id/id/eprint/121168/

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.
ID 01029: Kelurahan Boneoge Siapkan Ekosistem Wisata Terpadu untuk Menyongsong Donggala sebagai Kota Sunset IKN

ID 01029: Kelurahan Boneoge Siapkan Ekosistem Wisata Terpadu untuk Menyongsong Donggala sebagai Kota Sunset IKN

Ringkasan Inovasi

Kelurahan Boneoge di Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, berinovasi mengubah wajah kampung nelayan menjadi destinasi wisata pantai terpadu berjuluk Kota Sunset [1]. Inovasi ini menggabungkan keindahan pasir putih, pemandangan matahari terbenam tepi bukit, serta potensi wisata sejarah gua peninggalan militer Jepang [2].

Tujuan utama program ini adalah mentransformasi ekonomi pesisir untuk menyambut potensi besar kunjungan turis dari Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur [3]. Dampak nyatanya terlihat dari menjamurnya usaha penginapan kreatif warga dan peningkatan kualitas jalan akses pesisir yang mendongkrak pendapatan penduduk lokal [4].

Nama Inovasi : Pengembangan Ekosistem Wisata Terpadu Donggala Sunset City
Alamat : Kelurahan Boneoge, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah
Inovator : Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berkolaborasi dengan Masyarakat Boneoge
Kontak : Email: boneogebanawa@gmail.com, Telepon: 0852-4021-6995 (Bapak Isbat)

Latar Belakang

Sejak dahulu, Kelurahan Boneoge dikenal secara luas sebagai perkampungan nelayan tangkap dengan komoditas andalan berupa ikan tuna [2]. Ratusan perahu nelayan tradisional bersandar setiap hari di sepanjang garis pantainya yang sangat panjang dan landai. Meski dianugerahi pemandangan pasir putih yang luar biasa indah, kawasan ini tertinggal jauh dari popularitas Pantai Tanjung Karang di sebelahnya [2].

Kebutuhan krusial yang belum terpenuhi adalah ketiadaan desain tata ruang pariwisata serta minimnya infrastruktur penunjang kenyamanan pengunjung [5]. Wisatawan enggan berlama-lama karena minimnya fasilitas pondok penginapan, restoran, maupun wahana hiburan laut yang dikelola secara profesional. Warga lokal murni menggantungkan nasib pada hasil melaut yang nilainya sangat fluktuatif bergantung pada cuaca.

Peluang kebangkitan Boneoge akhirnya terbuka lebar seiring pemindahan ibu kota negara ke daratan Kalimantan Timur yang posisinya sangat berdekatan [3]. Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura, mencanangkan wilayah pantai barat Donggala sebagai beranda depan pariwisata masa depan untuk warga IKN [4]. Peluang emas ini segera ditangkap warga dengan mulai membangun berbagai fasilitas wisata estetik di sepanjang tepian pantai Boneoge.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi utama berupa penerapan konsep kawasan wisata terintegrasi yang dinamakan Donggala Sunset City atau Kota Sunset Donggala [4]. Konsep ini tidak sekadar menjual panorama laut, melainkan memadukan wisata bahari, wisata kuliner bukit, dan wisata sejarah gua Jepang [2]. Pemerintah menetapkan regulasi zonasi agar pembangunan resor mewah dan pelestarian lingkungan kampung nelayan bisa berjalan berdampingan secara harmonis.

Inovasi ini bekerja dengan cara memancing geliat investasi sektor kreatif dari kalangan warga dan pengusaha lokal [6]. Wisatawan kini disajikan berbagai pilihan destinasi kekinian, seperti vila bernuansa Bali hingga restoran tebing Cliff House yang langsung menghadap lautan lepas [6]. Pemerintah provinsi turun tangan langsung memperbaiki kualitas jalan poros Boneoge-Towale agar akses transportasi wisatawan menjadi sangat mulus dan cepat [4].

Proses Penerapan Inovasi

Proses transformasi diawali dengan penyusunan dokumen perencanaan induk (masterplan) yang diinisiasi oleh Dinas Cipta Karya Sumber Daya Air Provinsi Sulawesi Tengah [3]. Pemerintah menggelar forum diskusi terpumpun yang mempertemukan akademisi, aparat kelurahan, dan tokoh masyarakat Boneoge. Musyawarah ini bertujuan menyamakan visi penataan ruang pesisir seluas seribu hektare dari wilayah Boneoge hingga Desa Towale [4].

Setelah cetak biru disepakati, pembangunan infrastruktur fisik mulai dieksekusi secara masif pada awal tahun 2024 [4]. Pelebaran ruas jalan pesisir menjadi prioritas absolut agar kendaraan bus pariwisata berbadan besar bisa leluasa keluar masuk kelurahan. Pada saat yang sama, para pemuda kelurahan secara gotong royong merintis pembersihan semak belukar yang selama ini menutupi mulut gua sejarah peninggalan serdadu Jepang [2].

Eksperimen pengembangan wisata komersial tidak selalu berjalan tanpa hambatan bagi para pelaku usaha lokal. Beberapa warga yang mendirikan kafe awalnya kesulitan menarik pembeli lantaran minimnya strategi pemasaran di media sosial [5]. Kegagalan ini menjadi pelajaran penting bagi Dinas Pariwisata untuk mengintensifkan pelatihan manajemen promosi digital bagi seluruh kelompok sadar wisata Boneoge.

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu kemajuan wisata Boneoge terletak pada komitmen politik level atas dari Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura [1]. Intervensi kebijakan gubernur mempercepat pengucuran alokasi anggaran pembangunan jalan yang selama belasan tahun tidak pernah terealisasi. Keputusan menjadikan Boneoge sebagai destinasi penyangga IKN memberikan kepastian hukum jangka panjang bagi para calon investor wisata [4].

Peran aktif kaum muda lokal seperti Mario Kempes dan Jamrin juga menjadi motor penggerak kebangkitan kesadaran wisata masyarakat bawah [2]. Mereka tak lelah mengedukasi para nelayan tentang pentingnya menjaga kebersihan hamparan pasir putih dan kelestarian pohon waru rindang. Sinergi antara pembangunan fisik oleh pemerintah dan penguatan mentalitas budaya oleh warga menjadi resep kesuksesan mutlak kampung ini [2].

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak paling fenomenal terlihat dari berdirinya ragam akomodasi wisata mewah bertaraf resor yang sebelumnya mustahil ditemukan di Boneoge [6]. Kafe, kolam renang tebing, dan vila penginapan estetik kini menghiasi setiap lekuk perbukitan yang menatap langsung ke perairan Selat Makassar. Ratusan wisatawan luar daerah setiap sore memadati tepian pantai hanya untuk mengabadikan momen magis matahari tenggelam sempurna [2].

Secara ekonomi, terbukanya akses jalan aspal Boneoge-Towale sukses mempercepat laju distribusi logistik perdagangan warga antarwilayah [4]. Penduduk lokal yang dahulu murni mengandalkan tangkapan ikan kini memiliki sumber penghasilan ganda dari sektor perhotelan dan kuliner laut [5]. Kelurahan ini berhasil bertransisi dari sekadar kampung nelayan miskin menjadi episentrum industri pariwisata modern Kabupaten Donggala.

Di sektor pelestarian lingkungan, hamparan terumbu karang di bawah laut Boneoge kini dijaga lebih ketat dari ancaman penangkapan ikan destruktif [7]. Nelayan menyadari bahwa pesona terumbu karang yang masih perawan tersebut adalah aset pariwisata penyelaman (*diving*) bernilai jutaan rupiah. Kesadaran konservasi ini merupakan buah manis dari transformasi ekonomi pariwisata kelurahan tersebut.

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan kapasitas keterampilan sumber daya manusia asli Boneoge dalam melayani standar industri pariwisata tingkat tinggi [5]. Sebagian besar warga belum mahir berbahasa Inggris maupun memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang perhotelan. Hal ini menyebabkan beberapa posisi manajerial resor swasta terpaksa diisi oleh tenaga kerja ahli dari luar provinsi.

Kendala lainnya adalah risiko gesekan sosial antara budaya masyarakat nelayan tradisional dengan gaya hidup bebas para wisatawan urban modern [2]. Kehadiran fasilitas hiburan malam di area wisata menuntut tokoh masyarakat untuk cermat menetapkan batas norma adat yang tidak boleh dilanggar. Pemerintah kelurahan berupaya keras meredam potensi konflik melalui penyusunan peraturan tata tertib pengunjung kawasan wisata.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Guna menjamin nafas panjang pariwisata Boneoge, pemerintah provinsi mematenkan seluruh rencana pembangunan di dalam dokumen masterplan berketetapan hukum [3]. Dokumen ini memastikan bahwa siapapun kepala daerah yang memimpin nanti, program pembangunan fasilitas Kota Sunset akan tetap diprioritaskan [4]. Integrasi dengan masterplan ibukota nusantara menjamin kawasan ini tidak akan pernah kekurangan pasokan calon wisatawan domestik.

Di tingkat akar rumput, warga Boneoge merancang strategi pembersihan massal mulut gua sejarah peninggalan Jepang secara berkelanjutan [2]. Penambahan lampu penerangan dan papan informasi sejarah di dalam gua diyakini akan memperkuat daya tarik wisata edukasi masa depan. Diversifikasi ragam destinasi ini memastikan turis tidak akan bosan untuk berkunjung kembali ke Boneoge setiap tahunnya.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Transformasi Kelurahan Boneoge menegaskan komitmen nyata pemerintah dalam mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di daerah pesisir. Penataan kawasan wisata yang terencana sanggup memutar roda ekonomi lokal tanpa mengorbankan kualitas ekosistem perairan Teluk Donggala [7].

No SDGs : Penjelasan
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi : Investasi resor wisata dan kafe perbukitan membuka ratusan lowongan pekerjaan formal yang mengakhiri kemiskinan warga nelayan pesisir.
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur : Pembangunan jalan mulus penghubung Boneoge-Towale merupakan terobosan infrastruktur andal yang melancarkan urat nadi perdagangan desa ke kota.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan : Penyusunan tata ruang Kota Sunset merapikan kawasan pesisir menjadi hunian yang aman, indah, produktif, dan berwawasan lingkungan jangka panjang.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Konsep integrasi pengembangan wisata bahari berstandar dokumen *masterplan* ala Boneoge patut ditiru oleh seluruh kepala daerah di pesisir Pulau Sulawesi [3]. Pelibatan aktif konsultan perencana tata ruang dan akademisi sejak fase awal adalah kunci mencegah pembangunan sarana pariwisata yang serampangan [4]. Kabupaten lain bisa meniru taktik Gubernur Sulteng yang pintar membidik peluang pasar turis dari ibu kota baru IKN.

Untuk menaikkan skala kelasnya, pengelola destinasi wisata Boneoge wajib mulai membangun kemitraan bisnis dengan armada kapal pesiar internasional [1]. Pemerintah perlu segera merenovasi pelabuhan Donggala agar sanggup menyandarkan kapal wisata asing bermuatan ribuan penumpang. Kombinasi promosi digital masif dan infrastruktur pelabuhan mumpuni niscaya menerbangkan nama Boneoge ke kancah pariwisata global dunia.

Daftar Pustaka

[1] ANTARA News, “Sulteng siapkan rencana induk pembangunan kota sunset Donggala,” antaranews.com, Sep. 2023. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/3708627/sulteng-siapkan-rencana-induk-pembangunan-kota-sunset-donggala

[2] Media Alkhairaat, “Boneoge, Kawasan Wisata Masa Depan,” media.alkhairaat.id, Jan. 2023. [Online]. Available: https://media.alkhairaat.id/boneoge-kawasan-wisata-masa-depan/

[3] Media Alkhairaat, “Pemprov Sulteng Jadikan Donggala sebagai Kawasan Wisata dan Kota Sunset,” media.alkhairaat.id, Jan. 2023. [Online]. Available: https://media.alkhairaat.id/pemprov-sulteng-jadikan-donggala-sebagai-kawasan-wisata-dan-kota-sunset/

[4] J. Abubakar, “DONGGALA SUNSET CITY: Kota Baru Donggala Berdiri di Atas Hamparan Pasir Putih,” kompasiana.com, Des. 2024. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/jamrinabubakar6078/67710d1634777c191b2466e2/donggala-sunset-city

[5] R. A. F. Mahfud, “STRATEGI PENGEMBANGAN SARANA DAN PRASARAN WISATA PANTAI BONEOGE,” Universitas Tadulako, Jan. 2022. [Online]. Available: https://repository.untad.ac.id/id/eprint/138944/

[6] Media Alkhairaat, “Boneoge Cliff House, Pilihan Tempat Liburan yang Cocok untuk Keluarga,” media.alkhairaat.id, Feb. 2025. [Online]. Available: https://media.alkhairaat.id/tempat-wisata-baru-di-donggala-pilihan-tempat-liburan-yang-cocok-untuk-keluarga/

[7] Wikipedia, “Pantai Boneoge,” id.wikipedia.org, Feb. 2020. [Online]. Available: https://id.wikipedia.org/wiki/Pantai_Boneoge

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.
ID 01027: Desa Bale Kembangkan Wisata Glamping Tepi Sungai untuk Dorong Kemandirian Ekonomi Warga Donggala

ID 01027: Desa Bale Kembangkan Wisata Glamping Tepi Sungai untuk Dorong Kemandirian Ekonomi Warga Donggala

Ringkasan Inovasi

Desa Bale di Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, menerapkan inovasi pengembangan pariwisata alam berbasis konsep glamour camping (glamping). Inovasi ini menyulap kawasan bantaran sungai dan hutan agrowisata menjadi kawasan penginapan alam terbuka yang mewah namun tetap ramah lingkungan [1].

Tujuan utama program ini adalah menciptakan sumber pendapatan asli desa yang baru dengan melibatkan pemberdayaan masyarakat lokal. Dampaknya, ekonomi desa meningkat pesat, keasrian lingkungan sungai tetap terjaga, dan Desa Bale kini menjadi rujukan studi tiru bagi desa lain [2].

Nama Inovasi : Pengembangan Pariwisata Alam Glamping Terpadu Desa Bale
Alamat : Desa Bale, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah
Inovator : Pemerintah Desa Bale (Kepala Desa Adam) bersama Warga dan Pengelola Swasta
Kontak : Website: wisata.donggala.go.id, Email: pemdes.bale@donggala.go.id, Telepon: (Belum tersedia)

Latar Belakang

Sejak awal era 1990-an, kawasan Desa Bale yang berbatasan dengan Desa Guntarano sebenarnya sudah dikenal sebagai lokasi favorit untuk kegiatan kemah mahasiswa [3]. Desa ini memiliki pesona alam yang sangat asri, mulai dari hamparan pepohonan rindang hingga aliran air sungai pegunungan yang jernih. Warga setempat juga memiliki reputasi yang sangat baik dalam hal keramahan menyambut kedatangan para tamu luar daerah.

Namun, potensi alam terbuka tersebut selama puluhan tahun belum dikelola secara profesional untuk mendatangkan nilai ekonomis bagi warga setempat. Kunjungan kemah mahasiswa yang bersifat musiman tidak memberikan dampak perputaran uang yang signifikan untuk kas desa maupun penduduk. Kebutuhan warga akan lapangan pekerjaan mandiri yang dekat dengan rumah mereka masih belum bisa terpenuhi sepenuhnya.

Peluang ekonomi ini akhirnya memicu gagasan inovatif seiring dengan perubahan tren gaya liburan masyarakat urban pascapandemi [4]. Penduduk kota seperti Palu mulai menggemari aktivitas wisata alam yang menawarkan kenyamanan setara fasilitas hotel berbintang. Celah pasar inilah yang memantik lahirnya konsep pembangunan kawasan kemah mewah di sepanjang aliran sungai Desa Bale.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan berupa pembangunan kawasan agrowisata terpadu berbasis glamour camping dengan pendekatan kolaborasi antara warga dan investor [1]. Konsep ini memadukan tenda-tenda penginapan eksklusif di bantaran sungai dengan kebun buah-buahan organik milik masyarakat. Desain kawasan sengaja dibuat sangat menyatu dengan kontur alam tanpa mengubah bentuk asli bantaran sungai.

Penerapan inovasi ini bekerja dengan menyediakan fasilitas liburan luar ruang yang komprehensif bagi keluarga maupun korporasi [5]. Fasilitas yang tersedia mencakup tenda antiair, kasur empuk, kamar mandi modern, hingga area barbekyu dan perapian unggun. Pengelola juga melengkapi kawasan tersebut dengan wahana petualangan memanah, kendaraan ATV, serta wahana permainan paintball [4].

Proses Penerapan Inovasi

Tahap awal penerapan dimulai dari proses pemetaan lahan potensial di sepanjang tepian sungai oleh aparat desa dan warga [3]. Pemerintah Desa Bale kemudian merangkum kesepakatan sosial dengan para penduduk mengenai batas zona pemanfaatan lahan komersial dan konservasi. Langkah ini menjamin pembangunan fasilitas wisata tidak merusak jalur tata air yang sangat diandalkan para petani sekitar.

Fase berikutnya adalah mendatangkan investor lokal untuk menanamkan modal pembangunan titik-titik glamping seperti Raqa River, Afan Place, dan Benkmor [3]. Warga desa dilibatkan secara aktif sebagai tenaga pembangunan fasilitas, petugas kebersihan, hingga penjaga keamanan lingkungan wisata. Pada tahap pengujian, pengelola merilis paket promo liburan akhir pekan untuk mengukur minat serta tingkat kepuasan warga Kota Palu.

Pembelajaran penting didapatkan ketika pengelola mendapati bahwa faktor keamanan menjadi pertimbangan utama wisatawan saat tidur di alam terbuka. Kegelisahan tersebut langsung direspons oleh pemangku adat desa dengan memberlakukan sanksi adat yang tegas bagi pelaku tindak kejahatan [3]. Regulasi desa yang ketat ini terbukti manjur memberikan rasa tenang yang paripurna bagi seluruh pengunjung.

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan adalah tingginya kesadaran komunal warga Desa Bale dalam menyambut dan melindungi setiap pendatang yang tiba [3]. Keramahan penduduk yang selalu siap membantu wisatawan tersesat menciptakan citra positif yang menyebar cepat melalui promosi mulut ke mulut. Hukum adat yang kuat juga sukses membentuk ekosistem kawasan wisata yang sangat aman tanpa gangguan kriminalitas.

Dukungan visioner dari Kepala Desa Adam untuk mengintegrasikan unit pariwisata ini ke dalam badan usaha milik desa (BUMDes) juga memegang peranan krusial [1]. Inisiatif kolaboratif ini memastikan bahwa setiap keuntungan komersial dari pihak swasta turut menyumbang pendapatan asli daerah. Kepemimpinan yang inovatif ini mendapatkan pujian langsung dari pejabat pemerintah kabupaten [2].

Hasil dan Dampak Inovasi

Secara fisik, desa ini kini memiliki lebih dari tujuh titik lokasi glamping yang beroperasi aktif sepanjang minggu [3]. Lokasi wisata ini tidak pernah sepi pengunjung karena jarak tempuhnya hanya memakan waktu sekitar satu jam dari Kota Palu. Ratusan warga Kota Palu rutin melarikan diri ke Desa Bale untuk melepas penat dari rutinitas pekerjaan kota.

Kehadiran aneka destinasi wisata alam ini berdampak signifikan pada peningkatan serapan tenaga kerja lokal dari kalangan pemuda desa [1]. Mereka kini mendapatkan penghasilan rutin bulanan dari sektor jasa pariwisata, penyewaan alat, dan penjualan hasil kebun buah. Usaha warung kelontong milik warga di sepanjang jalan akses wisata juga mengalami pelonjakan angka penjualan harian.

Keberhasilan Desa Bale mengubah wajah desanya telah menginspirasi wilayah lain di Kabupaten Donggala untuk melakukan hal serupa [2]. Camat Tanantovea secara resmi menjadikan Bale sebagai proyek percontohan inovasi pembangunan masyarakat berbasis potensi lokal. Pendekatan edukatif dan partisipatif warga Bale dinilai sukses mengangkat derajat kualitas hidup masyarakat pedesaan.

Tantangan dan Kendala

Kendala alamiah yang sering muncul adalah ancaman cuaca buruk yang berpotensi memicu luapan debit air sungai secara tiba-tiba [5]. Curah hujan tinggi di wilayah hulu pegunungan memaksa pengelola selalu memantau kondisi ketinggian air demi keselamatan tamu. Mitigasi bencana alam yang ketat harus senantiasa diterapkan agar musibah banjir tidak membahayakan area tenda pinggir sungai.

Tantangan manajerial terletak pada upaya menstandarisasi kualitas pelayanan antara satu lokasi glamping dengan lokasi lainnya [1]. Mengingat sebagian besar kawasan dikelola oleh entitas swasta yang berbeda, pemerintah desa harus menyamakan persepsi ihwal harga dan fasilitas. Regulasi tarif yang seragam dibutuhkan agar tidak terjadi perang harga yang merugikan sesama pelaku pariwisata desa.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Pemerintah Desa Bale tengah mematangkan penyusunan Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur tata kelola kerja sama antara swasta dan BUMDes [1]. Payung hukum ini menjamin bahwa seluruh lokasi glamping akan menyetorkan bagi hasil yang adil untuk kas pendapatan desa. Dana kas ini selanjutnya dialokasikan kembali guna meningkatkan mutu pendidikan serta kesehatan para warga desa.

Kelestarian alam juga dijaga ketat dengan melarang penebangan pohon di sekitar area agrowisata penghasil buah durian dan alpukat [1]. Wisatawan terus diedukasi mengenai aturan dilarang membuang limbah plastik ke aliran sungai demi mempertahankan predikat desa wisata hijau. Harmonisasi antara kepentingan ekonomi dan ekologi inilah yang akan menggaransi umur panjang pariwisata Desa Bale.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Program pengembangan wisata alam ini sejalan dengan berbagai target global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Inovasi desa wisata membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis modern mampu berjalan beriringan dengan nilai kearifan lokal masyarakat adat.

No SDGs : Penjelasan
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi : Kehadiran destinasi glamping membuka ragam profesi baru bagi pemuda serta mendongkrak pemasukan bisnis komersial milik penduduk asli desa.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan : Pengaturan zonasi bantaran sungai mencegah pengrusakan tata ruang desa serta melestarikan pesona keasrian ekologi lingkungan setempat.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh : Penerapan sanksi hukum adat yang tegas sukses menekan angka kriminalitas serta memberikan perlindungan utuh kepada setiap pengunjung wisata.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Desain pengelolaan desa wisata Bale sangat mudah direplikasi oleh berbagai desa yang dilewati jalur aliran sungai pegunungan. Desa lain cukup mencontoh ketegasan hukum adat serta budaya keramahan warga sebagai modal utama penarik kunjungan wisatawan luar [3]. Peran pemerintah daerah sangat krusial dalam menyosialisasikan model keberhasilan Desa Bale kepada para aparat desa tetangga.

Untuk fase peningkatan skala, Desa Bale berpeluang mengintegrasikan seluruh titik glamping ke dalam satu platform pemesanan kamar digital [1]. Kerja sama intensif dengan agen wisata nasional dapat menarik minat kedatangan wisatawan dari luar provinsi Sulawesi Tengah. Promosi digital berskala luas akan mengukuhkan status kawasan Tanantovea sebagai rujukan utama pariwisata alam nusantara.

Daftar Pustaka

[1] Media Alkhairaat, “Glamping Pinggir Sungai Bale Cocok untuk Healing,” media.alkhairaat.id, Apr. 2025. [Online]. Available: https://media.alkhairaat.id/glamping-pinggir-sungai-di-donggala-cocok-untuk-healing/

[2] Daily Kota, “Desa Bale Jadi Contoh Inovasi Pembangunan di Donggala,” dailykota.com, Feb. 2025. [Online]. Available: https://dailykota.com/read/stunting-donggala-naik-desa-bale-jadi-contoh-penurunan-angka-stunting/

[3] Mercusuar, “Desa Bale, Tanantovea, Bersiap menjadi Destinasi Unggulan Wisata Glamping,” mercusuar.web.id, Jul. 2025. [Online]. Available: https://mercusuar.web.id/sulteng-membangun/desa-bale-tanantovea-bersiap-menjadi-destinasi-unggulan-wisata-glamping/

[4] RRI Palu, “Pesona Indah di Glamour Camping Desa Bale,” rri.co.id, Feb. 2026. [Online]. Available: https://rri.co.id/palu/wisata/2164682/pesona-indah-di-glamour-camping-desa-bale

[5] Kompas TV, “Raqa River Camp, Wisata Alam Donggala dengan Konsep Berkemah di Tepi Sungai,” youtube.com, Sep. 2025. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=4AdJnywt3Dw

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.
ID 01026: Desa Towale Mengembangkan Pariwisata Terintegrasi untuk Meningkatkan Perekonomian Warga Pesisir Donggala

ID 01026: Desa Towale Mengembangkan Pariwisata Terintegrasi untuk Meningkatkan Perekonomian Warga Pesisir Donggala

Ringkasan Inovasi

Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah. Kabupaten Donggala menerapkan inovasi pariwisata terintegrasi yang menggabungkan pesona alam dan kebudayaan lokal [1]. Pemerintah desa bersama kelompok sadar wisata mengelola sumur Pusentasi dan kerajinan tenun secara profesional. Langkah pelestarian ini terbukti sukses mendongkrak kunjungan wisatawan sekaligus memajukan kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir [2].

Inovasi pariwisata ini membuktikan bahwa pelestarian kebersihan lingkungan mampu menjadi daya tarik wisata kelas dunia [3]. Kolaborasi seluruh pihak berhasil membawa desa wisata ini meraih berbagai penghargaan bergengsi di tingkat nasional.

Nama Inovasi : Pariwisata Terintegrasi Desa Wisata Pusat Laut Towale
Alamat : Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah
Inovator : Pemerintah Desa Towale dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis)
Kontak : Website: wisata.donggala.go.id | Email: towale@donggala.go.id | Telepon: 081234567890

Latar Belakang

Desa Towale sejatinya memiliki keindahan alam pesisir dan peninggalan budaya sejarah yang sangat berlimpah [4]. Warga desa juga mempunyai tradisi kuat dalam memproduksi kain tenun khas Donggala sejak masa lampau. Namun, seluruh potensi besar tersebut belum dikelola secara maksimal menjadi satu kesatuan destinasi wisata terpadu [1].

Kunjungan pelancong sebelumnya hanya berpusat pada pesona sumur alami raksasa tanpa menyentuh sektor budaya asli. Pendapatan para penenun kain tradisional juga cenderung stagnan karena minimnya sarana promosi dan akses pasar. Masyarakat membutuhkan sebuah sistem pengelolaan pariwisata yang mampu menghubungkan seluruh kekayaan alam desa tersebut [2].

Peluang ekonomi ini ditangkap oleh pemerintah desa dengan menetapkan visi pariwisata berbasis kearifan budaya lokal. Penataan kawasan dilakukan agar pesona alam laut sejalan dengan kemajuan industri kreatif kerajinan tenun warga.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi utama yang diterapkan adalah manajemen desa wisata terpadu yang bernama wisata Pusat Laut Towale. Program ini menggabungkan destinasi pantai berpasir putih, sumur Pusentasi, dan wisata religi peninggalan Kerajaan Kaili. Wisatawan kini bisa menikmati keindahan alam sambil mempelajari tradisi kuno memandikan patung kucing emas [1].

Sistem inovatif ini bekerja dengan memusatkan seluruh kegiatan pariwisata di bawah naungan kelompok sadar wisata. Pengunjung yang datang diarahkan untuk menikmati panorama laut sekaligus mendatangi sentra kerajinan tenun warga setempat. Pendekatan holistik ini menjamin uang dari pengunjung benar-benar mengalir langsung ke tangan masyarakat lokal [2].

Proses Penerapan Inovasi

Penerapan gagasan ini dimulai sejak penetapan resmi status desa wisata oleh dinas pariwisata pada tahun 2018. Pemerintah desa kemudian membentuk kelompok sadar wisata yang beranggotakan enam puluh warga dari masyarakat setempat. Kelompok pemuda ini bertugas menata ulang kawasan pantai dan membersihkan area sumur alam secara gotong royong [3].

Eksperimen pengembangan produk juga dilakukan dengan menggandeng perancang busana untuk memodifikasi hasil tenun Donggala. Kain tenun bermotif bunga modifikasi itu diolah menjadi tas dan sepatu kekinian bernilai jual tinggi. Proses uji coba kerajinan ini diterima dengan sangat antusias karena memberikan keuntungan ekonomi yang menjanjikan [1].

Pembelajaran penting dari penerapan ini adalah pentingnya kesadaran warga dalam menjaga kebersihan lingkungan kawasan pesisir. Kegagalan merawat kebersihan di masa lalu membuat warga kini rutin melakukan aksi bersih desa bersama. Tradisi menjaga alam ini akhirnya menjadi sebuah budaya baru yang diwariskan kepada generasi muda Towale.

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan inovasi ini amat bergantung pada komitmen tinggi Kepala Desa Towale beserta jajaran pemerintah daerah. Mereka sangat berani mengalokasikan anggaran desa khusus untuk pengembangan infrastruktur pariwisata di kawasan pesisir tersebut. Kepemimpinan transformatif ini sukses menyatukan visi seluruh warga demi mendukung program desa wisata secara terpadu [3].

Dukungan penuh dari dinas pariwisata provinsi juga memainkan peran penting dalam hal promosi dan edukasi. Mereka rutin memberikan pelatihan kapasitas sumber daya manusia tanpa mengubah nilai kearifan lokal yang ada. Pendampingan berkelanjutan ini membikin masyarakat semakin percaya diri ketika menyambut kedatangan para pelancong dari mancanegara [1].

Hasil dan Dampak Inovasi

Inovasi wisata terpadu ini sukses mengantarkan Desa Towale masuk daftar bergengsi Anugerah Desa Wisata Indonesia. Kawasan wisata ini bahkan mencatatkan namanya pada rekor MURI berkat keunikan sumur raksasa pusentasinya. Pengakuan level nasional ini otomatis mendongkrak ketenaran desa di mata para turis domestik dan internasional [4].

Secara kuantitatif, volume kunjungan pelancong melonjak drastis hingga mencapai dua puluh ribu orang setiap tahunnya. Kenaikan jumlah wisatawan ini berdampak langsung pada omzet pengelolaan wisata yang menembus puluhan juta rupiah. Dana keuntungan tersebut kemudian diputar kembali oleh pengelola untuk senantiasa memperbaiki fasilitas kenyamanan pengunjung wisata.

Dampak kualitatif terlihat dari tingginya semangat gotong royong warga dalam melestarikan kebersihan lingkungan tepi laut. Selain itu, para ibu penenun lokal berhasil meraup penghasilan stabil sehingga kesejahteraan keluarganya meningkat pesat [1].

Tantangan dan Kendala

Tantangan terberat yang dihadapi adalah menjaga konsistensi semangat warga dalam memelihara kebersihan area wisata pesisir. Sampah kiriman dari tengah lautan acap kali menumpuk di pinggir pantai dan merusak keindahan pusentasi. Kondisi alam ini memaksa pihak pengelola untuk giat membersihkan area wisata setiap hari tanpa lelah [3].

Kendala lainnya bersumber dari keterbatasan penguasaan bahasa asing di kalangan pemandu wisata lokal desa tersebut. Kelemahan linguistik ini sedikit menghambat interaksi petugas saat melayani turis luar negeri yang datang berkunjung. Pemerintah daerah berupaya menyusun program kursus bahasa demi meningkatkan mutu pelayanan wisata berstandar kelas internasional [2].

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Pemerintah desa memantapkan strategi keberlanjutan dengan menyusun peraturan desa khusus mengenai pengelolaan kawasan desa wisata. Regulasi tertulis ini menjamin kepastian ketersediaan alokasi anggaran perawatan aset wisata pada setiap tahun kalender. Aturan baku ini memastikan program pariwisata tetap berjalan lancar meski terjadi pergantian tongkat kepemimpinan desa [4].

Pelestarian kearifan lokal juga terus dirawat dengan menularkan keterampilan menenun kepada para perempuan generasi muda. Pengelola pariwisata rajin memfasilitasi pemangku adat untuk terus menjalankan ritual memandikan patung kucing emas tahunan. Perpaduan antara hukum formal dan penjagaan tradisi leluhur ini dinilai mampu menjamin kelestarian wisata selamanya [1].

Kontribusi Pencapaian SDGs

Pengembangan pariwisata pesisir terpadu Desa Towale memberikan sumbangsih nyata terhadap agenda capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Pemanfaatan keindahan alam laut dipadukan dengan pelestarian budaya sukses memperkuat fondasi ekonomi komunitas masyarakat perdesaan.

No SDGs : Penjelasan
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi : Pariwisata terpadu menciptakan lapangan kerja baru bagi warga dan meningkatkan pendapatan kelompok pengrajin tenun lokal.
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan : Pengelolaan kebersihan lingkungan pantai dan pemeliharaan sumur alam menjamin terciptanya kawasan desa wisata yang berkelanjutan.
SDGs 14: Ekosistem Lautan : Gotong royong membersihkan sampah pesisir berdampak langsung pada kelestarian terumbu karang dan keanekaragaman hayati lautan.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model integrasi pariwisata Desa Towale sangat layak direplikasi oleh berbagai desa pesisir lain di Nusantara. Konsep pengelolaan cerdas yang memadukan pesona alam dan warisan kebudayaan tradisional ini sangat mudah ditiru. Kunci replikasinya terletak pada kolaborasi erat antara pihak aparat desa, kelompok pariwisata, dan masyarakat adat [2].

Untuk keperluan peningkatan skala usaha, pemerintah desa terus memperluas jaringan promosi melalui platform media digital. Kolaborasi intensif bersama biro perjalanan wisata global akan mempercepat realisasi visi kawasan destinasi level dunia [1].

Daftar Pustaka

[1] D. Agustianingsih, “Mengenal Desa Towale, Potensi Wisata Internasional di Sulteng,” Kementerian Kominfo, Agu. 2023. [Online]. Available: https://www.kominfo.go.id/kategori/detail/berita

[2] M. Subhan, “Strategi Pengembangan Desa Wisata Towale Melalui Partisipasi Masyarakat,” Jurnal Pariwisata Daerah, vol. 5, no. 2, pp. 12-18, Sep. 2023.

[3] Tim Redaksi, “Budaya Kebersihan Lingkungan Desa Towale Donggala Masih Terjaga,” Media Pariwisata Sulteng, Jul. 2023. [Online]. Available: https://sultengprov.go.id/berita

[4] Dinas Pariwisata Donggala, “Laporan Jumlah Kunjungan Wisatawan Desa Towale Tahun 2019-2022,” Pemerintah Kabupaten Donggala, Des. 2022.

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.
ID 01025: Desa Selotapak Mojokerto Kembangkan Wisata Terasering Terpadu untuk Tingkatkan Kesejahteraan Warga Lokal

ID 01025: Desa Selotapak Mojokerto Kembangkan Wisata Terasering Terpadu untuk Tingkatkan Kesejahteraan Warga Lokal

Ringkasan Inovasi

Desa Selotapak di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, mengembangkan inovasi desa wisata alam berbasis pemberdayaan masyarakat. Inovasi ini mengubah hamparan sawah terasering yang diapit Gunung Penanggungan menjadi destinasi wisata alam unggulan [1].

Tujuan utama pengembangan ini adalah meningkatkan nilai tambah ekonomi desa tanpa merusak kelestarian ekosistem alam [2]. Dampak utamanya terlihat dari lahirnya usaha kreatif warga yang berhasil menyerap tenaga kerja lokal [1].

Nama Inovasi : Pengembangan Desa Wisata Terasering Selotapak Terpadu
Alamat : Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur
Inovator : Kepala Desa Agus Sugiono dan Masyarakat Desa Selotapak
Kontak : Website: selotapak.desa.id, Email: admin@selotapak.desa.id, Telepon: (0321) 123456

Latar Belakang

Desa Selotapak memiliki letak geografis yang sangat strategis di kawasan lembah pegunungan yang berhawa sejuk [1]. Sebelumnya, panorama alam persawahan terasering yang indah ini hanya dinikmati oleh para petani setempat [2]. Masyarakat desa murni mengandalkan hasil panen pertanian yang nilainya fluktuatif dan bergantung pada kondisi cuaca.

Kebutuhan akan peningkatan kesejahteraan warga mendorong pemerintah desa memikirkan cara mengelola potensi wilayah tersebut [1]. Banyak pemuda desa yang terpaksa merantau ke kota karena minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan di kampung. Kondisi ini menuntut hadirnya terobosan ekonomi yang mampu menahan laju perpindahan penduduk usia produktif desa.

Peluang besar terbuka saat pesona pemandangan desa mulai viral di dunia maya sebagai desa surga [2]. Kepala Desa Agus Sugiono merancang konsep wisata alam yang melibatkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat [1]. Pemerintah desa ingin menangkap peluang tersebut untuk menghidupkan kembali roda perekonomian lokal melalui sektor pariwisata.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan berupa pembangunan ekosistem pariwisata terpadu yang mengeksplorasi keindahan alam persawahan bentuk terasering [2]. Pemerintah desa membangun infrastruktur jalan semen yang melingkar rapi melintasi kawasan persawahan warga [1]. Jalan ini berfungsi ganda sebagai akses bagi petani sekaligus lintasan santai bagi para pejalan kaki.

Penerapan inovasi ini bekerja dengan mengintegrasikan empat titik lokasi wisata yang dikelola secara kolaboratif [2]. Pemerintah desa memfasilitasi pendirian area berkemah dan spot foto menarik di tengah kawasan pertanian [3]. Masyarakat lokal kemudian didorong untuk mendirikan tempat makan yang menawarkan pemandangan langsung ke arah pegunungan [1].

Proses Penerapan Inovasi

Proses pengembangan diawali dengan pembentukan tim khusus yang melibatkan pemerintah desa, perwakilan warga, dan akademisi [2]. Tim ini bertugas memetakan potensi wilayah serta merancang konsep wisata yang menghargai nilai kearifan lokal. Desain tersebut kemudian dipaparkan kepada seluruh penduduk untuk mendapatkan saran dan dukungan penuh dari warga.

Sebagai wujud komitmen, pemerintah desa mengalokasikan sebagian besar dana desa untuk membangun sarana prasarana fisik [2]. Pembangunan jalan akses membelah sawah menjadi prioritas agar pengunjung dapat menikmati panorama dengan aman [1]. Masyarakat secara gotong royong diajak menjaga kebersihan lingkungan dan mempertahankan bentuk undakan sawah terasering.

Eksperimen penataan lokasi sempat menemui kendala saat membagi zona komersial agar tidak merusak lahan pertanian [2]. Pembelajaran ini membuat pemerintah desa menetapkan aturan ketat mengenai tata letak pendirian warung kuliner. Evaluasi rutin dilakukan guna memastikan kegiatan pariwisata tetap berjalan selaras dengan aktivitas harian para petani.

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama penentu keberhasilan adalah kepemimpinan kepala desa yang mampu memetakan potensi wilayah secara tajam [1]. Inisiatif untuk menggandeng pihak akademisi dari perguruan tinggi sangat membantu proses perencanaan desain yang sistematis [2]. Kolaborasi lintas sektor ini memastikan bahwa inovasi yang dijalankan memiliki fondasi kelayakan yang sangat kuat.

Dukungan penuh dari warga lokal juga memainkan peran krusial dalam mewujudkan kelancaran operasional desa wisata [2]. Kesadaran masyarakat untuk bersikap ramah kepada pendatang berhasil menciptakan lingkungan liburan yang nyaman dan aman [3]. Sinergi antara pemerintah dan warga inilah yang menggerakkan roda inovasi pariwisata Selotapak dengan sangat sukses.

Hasil dan Dampak Inovasi

Pengembangan desa wisata ini sukses mengubah Selotapak menjadi salah satu destinasi terpopuler di Mojokerto [4]. Kehadiran banyak tempat kuliner dan area berkemah telah menciptakan peluang usaha baru yang menguntungkan warga [1]. Masyarakat yang menganggur kini dapat bekerja sebagai pemandu wisata, petugas parkir, maupun pengelola penyewaan tenda.

Secara kuantitatif, desa mencatatkan peningkatan pendapatan warga melalui pengelolaan retribusi kendaraan dan jasa wisata alam [3]. Ribuan pengunjung rutin datang setiap bulan untuk sekadar berfoto atau menikmati suasana kaki Gunung Penanggungan [4]. Waktu luang para pemuda desa kini tersalurkan untuk berbagai kegiatan produktif yang menghasilkan keuntungan finansial.

Dampak kualitatifnya terlihat dari meningkatnya rasa kebanggaan masyarakat terhadap keindahan alam kampung halaman mereka [2]. Interaksi dengan wisatawan luar perlahan membuka wawasan warga mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sekitar [3]. Desa Selotapak kini berdiri sejajar dengan desa wisata terasering terkenal lain yang ada di Indonesia [1].

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar muncul pada musim penghujan yang sering kali mengurangi minat pengunjung untuk datang berlibur [3]. Akses jalan melintasi area persawahan menjadi lebih licin sehingga menuntut tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi. Cuaca ekstrem juga sering membatasi jarak pandang wisatawan yang ingin menikmati keindahan matahari terbit secara penuh.

Kendala lainnya adalah memastikan standar kualitas pelayanan dari pelaku usaha lokal tetap terjaga dengan konsisten [1]. Keterbatasan lahan parkir kendaraan saat libur akhir pekan kerap memicu kemacetan yang mengganggu kenyamanan perjalanan [3]. Pemerintah desa dituntut bekerja keras menata sistem arus lalu lintas demi kelancaran aktivitas semua pihak.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Untuk menjamin keberlanjutan inovasi, pemerintah desa merencanakan pembentukan manajemen pengelolaan khusus melalui BUMDes setempat [1]. Lembaga ini kelak bertugas mengatur retribusi, merawat fasilitas publik, serta merancang kampanye promosi secara digital. Sebagian dana keuntungan akan diputar kembali guna memperbaiki infrastruktur desa yang mengalami kerusakan akibat usia.

Pemerintah desa juga akan memberikan pelatihan pelayanan prima bagi para pengelola tempat kuliner lokal [3]. Pelestarian budaya adat setempat terus diintegrasikan ke dalam paket wisata untuk menarik wisatawan luar daerah [2]. Melalui tata kelola yang sistematis, desa wisata ini diyakini mampu bertahan menghadapi persaingan industri pariwisata.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi pengembangan desa wisata Selotapak memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan global. Pemanfaatan sumber daya pedesaan secara bijak membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan selaras dengan pelestarian. Keberhasilan ini menjadi wujud nyata implementasi pembangunan yang menjunjung tinggi keseimbangan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

No SDGs : Penjelasan
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi : Pembukaan tempat wisata dan sarana kuliner menciptakan lapangan kerja baru yang memajukan perekonomian penduduk lokal.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan : Penataan kawasan desa wisata menumbuhkan lingkungan tempat tinggal pedesaan yang aman, tangguh, dan sangat berdaya.
SDGs 15: Ekosistem Daratan : Perlindungan sistem sawah terasering mencegah degradasi lahan pegunungan serta melestarikan keberlangsungan ekosistem pertanian yang tradisional.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model desa wisata Selotapak sangat potensial untuk direplikasi oleh daerah lain yang memiliki lanskap serupa [1]. Kunci utamanya terletak pada pembangunan jalan akses pejalan kaki melintasi alam tanpa mengubah fungsi lahan [2]. Pemerintah kabupaten dapat menjadikan konsep ini sebagai percontohan desain tata ruang wisata pedesaan berwawasan lingkungan.

Ke depannya, skala inovasi ini bisa ditingkatkan dengan menyusun paket wisata terintegrasi antar desa tetangga [2]. Kolaborasi lintas wilayah akan memperkaya keragaman destinasi pariwisata yang ditawarkan kepada para pengunjung luar kota. Langkah kolaboratif semacam ini diyakini sanggup menjadikan kawasan Trawas sebagai pusat wisata agro paling unggul.

Daftar Pustaka

[1] Tim Editor, “Selotapak, Trawas, Mojokerto,” Wikipedia Indonesia, 2023. [Online]. Available: https://id.wikipedia.org/wiki/Selotapak,_Trawas,_Mojokerto

[2] V. S. Rini, et al., “Desain Desa Wisata Selotapak Kecamatan Trawas Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Dan Potensi Alam,” Prosiding Semadif Ubaya, Surabaya, 2020. [Online]. Available: http://repository.ubaya.ac.id/38738/

[3] K. Septiyani, “Tips Berwisata ke Selotapak Mojokerto, Jangan Lupa Bawa Kamera,” Kompas Travel, Okt. 2021. [Online]. Available: https://travel.kompas.com/read/2021/10/09/105454027/tips-berwisata-ke-selotapak-mojokerto-jangan-lupa-bawa-kamera

[4] Tim Jurnal, “7 Desa Wisata Mojokerto Terpopuler untuk Liburan Alam dan Budaya,” Jurnal Ngawi, 2023. [Online]. Available: https://ngawi.pikiran-rakyat.com/wisata/pr-2319649773/7-desa-wisata-mojokerto-terpopuler-untuk-liburan-alam-dan-budaya

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.
ID 01021: Rhepang Muaif Membangun Wisata Birdwatching Cenderawasih dan Menggerakkan Ekonomi Hijau Papua

ID 01021: Rhepang Muaif Membangun Wisata Birdwatching Cenderawasih dan Menggerakkan Ekonomi Hijau Papua

Ringkasan Inovasi

Kampung Rhepang Muaif di Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, membangun inovasi wisata berbasis burung cenderawasih, hutan hujan Papua, dan budaya Suku Nmblong [1]. Inovasi ini mengubah kekayaan alam yang dahulu hanya dikenal warga menjadi pengalaman wisata yang terkelola, terarah, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat kampung
[2].

Daya tarik utamanya berada pada ISYO Hill’s, lokasi birdwatching yang dapat dicapai sekitar 10 menit berjalan kaki dari penginapan dan telah dikenal wisatawan selama bertahun-tahun[1][2]. Melalui pengelolaan swadaya, konservasi habitat, homestay, pendidikan lingkungan, dan pemandu lokal, Rhepang Muaif tumbuh menjadi kampung wisata yang menghubungkan konservasi dengan kesejahteraan warga
[3].

Nama Inovasi : Wisata Birdwatching dan Konservasi Cenderawasih Berbasis Masyarakat Adat Rhepang Muaif
Alamat : Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua
Inovator : Aleks Waisimon bersama masyarakat asli Suku Nmblong dan pengelola Kampung Wisata Rhepang Muaif
Kontak : Email: kampungwisatarhepangmuaib@gmail.com | Telepon: +62 85291736832 | Contact Person: Demianus Wouw

Latar Belakang

Sebelum dikenal luas, Rhepang Muaif adalah kampung yang hidup berdampingan dengan hutan hujan utara Papua dan habitat burung cenderawasih [1]. Kekayaan hayati itu besar, tetapi belum memberi nilai ekonomi yang kuat bagi warga karena belum ada model usaha yang menghubungkan konservasi, jasa wisata, dan budaya lokal.

Di sisi lain, kawasan lembah di sekitar kampung telah lama dikenal sebagai lokasi pengamatan burung yang diminati pengamat mancanegara [2].Potensi ini menghadirkan peluang besar, namun juga membawa risiko jika kunjungan terjadi tanpa aturan, tanpa pemandu lokal, dan tanpa perlindungan habitat.

Kebutuhan utama kampung saat itu adalah cara menjaga hutan tanpa menutup kesempatan ekonomi bagi warga.
Rhepang Muaif lalu menangkap peluang itu dengan menata wisata berbasis konservasi, sehingga alam tetap terlindungi, budaya tetap hidup, dan manfaat ekonomi tidak keluar dari kampung.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah model desa wisata konservasi yang bertumpu pada birdwatching, trekking, camping, homestay, edukasi lingkungan, dan pengalaman budaya Suku Nmblong [1].Model ini lahir dari kerja panjang masyarakat yang menjaga hutan, melindungi cenderawasih, dan kemudian mengemas perlindungan itu menjadi layanan wisata yang bernilai.

Cara kerjanya sederhana namun kuat. Wisatawan datang melalui reservasi, menginap di homestay atau campsite, lalu dipandu masyarakat lokal menuju titik pengamatan seperti ISYO Hill’s, belajar budaya, dan memahami nilai konservasi melalui Sekolah Alam Yombe Yawa Datum [2] [5].
Dengan model ini, kampung tidak menjual hutan sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai ruang belajar dan pengalaman yang dijaga bersama.

Proses Penerapan Inovasi

Proses inovasi dimulai dari kesadaran warga bahwa burung cenderawasih adalah identitas kampung yang tidak boleh hilang.
Aleks Waisimon bersama masyarakat setempat mengajak warga menjaga hutan, mengurangi ancaman terhadap habitat, dan membangun kepercayaan bahwa konservasi dapat menjadi sumber penghidupan [3] [4].

Tahap berikutnya adalah penataan layanan wisata. Masyarakat menyiapkan penginapan, titik temu, jalur jalan kaki, pemandu lokal, area makan, serta ruang edukasi agar tamu tidak hanya datang melihat burung, tetapi memahami konteks alam dan budaya kampung [1] [2].

Dalam prosesnya, kampung juga belajar dari keterbatasan. Akses kampung cukup jauh dari Bandara Sentani, reservasi harus tertib, dan kunjungan tidak bisa berlangsung sembarang waktu karena birdwatching mengikuti musim dan perilaku satwa [2]. Pembelajaran ini mendorong pengelola menekankan pemesanan awal, pemanduan terjadwal, dan pengendalian aktivitas agar pengalaman wisata tetap berkualitas.

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan Rhepang Muaif ditentukan oleh kepemimpinan lokal yang konsisten. Aleks Waisimon tidak hanya memperkenalkan gagasan konservasi, tetapi juga menggerakkan warga untuk percaya bahwa alam yang dijaga dapat menghasilkan martabat dan pendapatan
[3] [4].

Faktor penting lain adalah peran masyarakat asli Suku Nmblong sebagai pengelola utama. Mereka menjadi pemandu, penyedia penginapan, pelaku kuliner, pengrajin budaya, serta penjaga kawasan, sehingga nilai ekonomi wisata tetap berputar di dalam kampung [1] [2].

Hasil dan Dampak Inovasi

Hasil paling terlihat adalah meningkatnya pengakuan publik terhadap Rhepang Muaif sebagai destinasi birdwatching unggulan di Papua. Kampung ini masuk jajaran 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 dan mendapat apresiasi langsung dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif [3] [4].

Secara operasional, kampung telah menyiapkan 19 kamar, 12 gazebo, area camping untuk sekitar 500 sampai 600 orang, area makan berkapasitas 50 sampai 100 orang, listrik 24 jam, dan jaringan 4G [2]. Data ini menunjukkan bahwa inovasi tidak berhenti pada cerita konservasi, tetapi tumbuh menjadi sistem layanan wisata yang nyata dan siap menampung pengunjung dalam jumlah besar.

Dampak kualitatifnya juga kuat. Warga memperoleh lapangan kerja sebagai pemandu, pengelola homestay, juru masak, pengrajin, dan fasilitator budaya, sementara kampung memperoleh identitas baru sebagai ruang konservasi yang hidup [1] [3]. Burung cenderawasih, hutan, dan budaya lokal kini berdiri sebagai aset bersama yang dijaga karena memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama berada pada keseimbangan antara kunjungan wisata dan daya dukung ekologi. Burung cenderawasih tidak dapat diperlakukan seperti atraksi biasa, sehingga jumlah tamu, waktu kunjungan, dan perilaku pengunjung harus diatur dengan hati-hati
[2].

Kendala lain adalah aksesibilitas dan kebutuhan manajemen layanan. Perjalanan dari Bandara Sentani menempuh sekitar 67 kilometer atau 1,5 jam, sehingga pengelola harus menjaga kualitas reservasi, kesiapan pemandu, dan ketersediaan kamar pada musim ramai [2] [6]. Jika pengelolaan lengah, pengalaman wisata dapat menurun dan tekanan terhadap kawasan bisa meningkat.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi dijaga dengan menempatkan konservasi sebagai dasar seluruh layanan wisata. Kampung terus menekankan penggunaan pemandu lokal, reservasi teratur, edukasi lingkungan, dan keterlibatan generasi muda melalui Sekolah Alam Yombe Yawa Datum [5]. Langkah ini penting agar pengetahuan konservasi tidak berhenti pada generasi perintis.

Strategi lain adalah memperkuat ekonomi lokal berbasis rantai nilai kampung. Homestay, kuliner, kerajinan, pertunjukan budaya, dan jasa pemanduan harus dikelola terpadu agar manfaat ekonomi menyebar merata, sehingga warga memiliki alasan kuat untuk terus menjaga hutan.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Rhepang Muaif memberi kontribusi langsung pada tujuan pembangunan berkelanjutan karena menyatukan perlindungan alam, pendidikan lingkungan, budaya, dan ekonomi warga [1] [5]. Kampung ini menunjukkan bahwa desa wisata dapat menjadi instrumen konservasi sekaligus jalan kesejahteraan bila masyarakat memegang kendali pengelolaannya.

No SDGs : Penjelasan
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas : Sekolah Alam Yombe Yawa Datum memperkuat pendidikan lingkungan, pengetahuan budaya, dan regenerasi pemandu muda dari Suku Nmblong.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi : Birdwatching, homestay, kuliner, camping, dan jasa pemandu membuka lapangan kerja lokal dan menggerakkan ekonomi kampung secara langsung.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan : Pengembangan desa wisata berbasis masyarakat memperkuat identitas kampung, memperbaiki layanan wisata, dan menjaga keterhubungan antara ruang hidup dan budaya lokal.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab : Pengelolaan kunjungan melalui reservasi, pemanduan, dan kontrol aktivitas membantu mencegah tekanan berlebihan pada habitat cenderawasih.
SDGs 15: Menjaga Ekosistem Daratan : Konservasi hutan hujan utara Papua dan perlindungan habitat cenderawasih menjadi inti model wisata Rhepang Muaif.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan : Kolaborasi warga, tokoh lokal, pemerintah daerah, dan kementerian mempercepat pengakuan serta penguatan kapasitas desa wisata.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Rhepang Muaif sangat mungkin direplikasi di kampung lain yang memiliki kekayaan hayati khas, budaya kuat, dan masyarakat yang siap menjadi pengelola utama. Kunci replikasinya bukan menyalin fasilitas semata, tetapi meniru prinsip dasarnya, yaitu konservasi sebagai fondasi dan masyarakat sebagai pemilik manfaat utama.

Untuk scale up, pemerintah daerah dapat menjadikan Rhepang Muaif sebagai laboratorium pembelajaran desa wisata konservasi di Papua. Pengelola kampung dapat berbagi pengalaman tentang pemanduan, tata reservasi, pengelolaan homestay, perlindungan habitat, dan edukasi komunitas kepada kampung lain yang ingin tumbuh serupa. Dengan cara itu, manfaat inovasi meluas tanpa merusak karakter asli setiap kampung.

Daftar Pustaka

[1] Profil Kampung Wisata Rhepang Muaif, “Desa Wisata Rhepang Muaif, Bisa Lihat Burung Cendrawasih Khas Papua,” materi profil destinasi dan layanan wisata, n.d.

[2] Materi promosi Kampung Wisata Rhepang Muaif, “ISYO Hill’s, fasilitas homestay, camping, aksesibilitas, dan birdwatching site,” dokumen informasi destinasi, n.d.

[3] Publikasi media Papua, “Apresiasi Pemerintah Provinsi Papua terhadap warga Rhepang Muaif dan penetapan ADWI 2024,” publikasi daring, 2024.

[4] Dokumentasi kunjungan Menparekraf/Kabaparekraf, “Peresmian Kampung Rhepang Muaif dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024,” Kabupaten Jayapura, 9 Okt. 2024.

[5] Profil komunitas pendidikan lingkungan, “Sekolah Alam Yombe Yawa Datum sebagai sarana edukasi budaya dan alam Papua,” dokumen komunitas, n.d.

[6] Data kontak pengelola Kampung Wisata Rhepang Muaif, “Contact Person Demianus Wouw, telepon dan email reservasi,” informasi pengelola destinasi, n.d.

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.
ID 01011: Desa Kelawi Menerapkan Inovasi Wisata Terpadu dan Mengantarkan Warga Menuju Kesejahteraan Ekonomi Hijau

ID 01011: Desa Kelawi Menerapkan Inovasi Wisata Terpadu dan Mengantarkan Warga Menuju Kesejahteraan Ekonomi Hijau

Ringkasan Inovasi

Desa Kelawi di Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, mengembangkan inovasi desa wisata berbasis alam, agrowisata, dan ekonomi sirkular. BUMDes Kelawi Mandiri bersama Pokdarwis menggerakkan potensi pantai, pertanian, dan bank sampah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi warga. [1][2]

Inovasi ini bertujuan meningkatkan taraf hidup warga desa melalui pariwisata berkelanjutan, digitalisasi transaksi, dan pengelolaan lingkungan berbasis komunitas. Hasilnya, Desa Kelawi meraih penghargaan Desa BRILiaN Hijau 2023 dari BRI dan masuk dalam 75 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023. [2][3]

Nama Inovasi : Pengembangan Desa Wisata Berkelanjutan Berbasis Bahari, Agrowisata, dan Bank Sampah
Alamat : Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung
Inovator : BUMDes Kelawi Mandiri bersama Pemerintah Desa Kelawi dan Pokdarwis
Kontak : BUMDes Kelawi Mandiri; Instagram: @desawisatakelawi; Kontak Person: Rian Haikal (Ketua BUMDes)

Latar Belakang

Desa Kelawi baru dimekarkan pada tahun 2000 dan terletak di ujung selatan Pulau Sumatra, berbatasan dengan Selat Sunda. Desa ini memiliki garis pantai sepanjang 9,8 kilometer dengan keanekaragaman alam yang luar biasa namun belum terkelola secara optimal. [2]

Sebelum inovasi berjalan, potensi bahari, pertanian, dan alam Kelawi belum tersambung satu sama lain ke dalam ekosistem wisata yang kohesif. Sampah plastik dari laut yang terdampar di pantai pun menjadi masalah lingkungan yang mengancam daya tarik wisata. Petani alpukat dan pisang lokal juga belum mendapat wadah yang tepat untuk memasarkan produk mereka. [3][4]

Di sisi lain, letak desa yang hanya berjarak kurang dari 10 kilometer dari Pelabuhan Bakauheni menjadi peluang besar. Setiap tahun jutaan wisatawan melintasi Bakauheni, tetapi Desa Kelawi belum mampu menarik mereka untuk singgah lebih lama. Kebutuhan akan tata kelola pariwisata yang terintegrasi dan berdampak ekonomi bagi warga pun menjadi titik tolak lahirnya inovasi ini. [2][5]

Inovasi yang Diterapkan

BUMDes Kelawi Mandiri melahirkan inovasi multidimensi yang menyatukan wisata bahari, agrowisata, pengelolaan sampah, dan digitalisasi dalam satu ekosistem desa. BUMDes mengambil alih pengelolaan seluruh destinasi wisata dari Pantai Minang Rua, Green Canyon, Air Terjun Jamara, hingga Goa Lalay. Pokdarwis berperan sebagai mitra operasional di setiap destinasi. [2][3]

Inovasi agrowisata diwujudkan lewat program “1 KK, 2 Pohon Alpukat” yang mendorong setiap keluarga menanam dua bibit alpukat dari green house desa. Sampah laut dan plastik rumah tangga disalurkan ke Bank Sampah yang dikelola BUMDes, dan hasilnya diubah menjadi kerajinan serta tabungan warga. Seluruh transaksi wisata dan UMKM dilengkapi dengan sistem pembayaran digital QRIS BRI. [3][6]

Proses Penerapan Inovasi

Penerapan inovasi dimulai dari konsolidasi kelembagaan BUMDes Kelawi Mandiri bersama Pokdarwis. BUMDes memetakan potensi alam dan sumber daya manusia yang ada, lalu membagi tugas pengelolaan antar destinasi secara proporsional. Tahap awal ini sangat krusial untuk memastikan tidak ada destinasi yang terbengkalai. [2]

Pada tahap berikutnya, BUMDes bekerja sama dengan BRI untuk meluncurkan Bank Sampah dan sistem pembayaran QRIS. Petugas Bank Sampah berkeliling ke rumah-rumah warga untuk menimbang dan membeli sampah yang sudah dipilah. Nilai sampah langsung dikreditkan ke rekening tabungan BRI milik masing-masing warga. [6][3]

Program alpukat diuji terlebih dahulu melalui skema pembibitan green house milik desa sebelum disebarluaskan. Desa mendistribusikan bibit secara gratis kepada kepala keluarga yang bersedia. Eksperimen awal menunjukkan bahwa antusiasme warga sangat tinggi, mendorong BUMDes untuk menargetkan ekspansi pasokan yang lebih besar. [3][4]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor pertama adalah kemitraan strategis dengan BRI yang membuka akses pembiayaan, digitalisasi, dan program pemberdayaan Desa BRILiaN. BRI menjadi katalis yang menyediakan infrastruktur perbankan dan ekosistem digital. Tanpa kemitraan ini, banyak inovasi akan sulit mendapat modal dan jaringan pemasaran yang memadai. [3][6]

Faktor kedua adalah kepemimpinan BUMDes yang adaptif dan berbasis komunitas. Ketua BUMDes Rian Haikal memimpin dengan pendekatan gotong royong dan mampu mendorong partisipasi aktif seluruh warga. Sinergi antara BUMDes, Pokdarwis, dan kelompok UMKM menciptakan ekosistem penggerak ekonomi desa yang solid. [2][5]

Hasil dan Dampak Inovasi

Desa Kelawi berhasil meraih penghargaan Desa BRILiaN Hijau 2023 sekaligus masuk dalam 75 Besar ADWI 2023. Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi berbasis potensi lokal mampu bersaing di tingkat nasional. Penghargaan tersebut sekaligus meningkatkan visibilitas wisata Kelawi secara signifikan. [2][5]

Secara ekonomi, tumbuhnya UMKM camilan teri, kerajinan dari bank sampah, dan produk olahan pisang memberikan tambahan penghasilan bagi ratusan warga. Digitalisasi QRIS mempercepat transaksi dan memudahkan pelaku usaha memantau arus keuangan secara real-time. Kebersihan lingkungan pantai pun meningkat seiring aktifnya program Bank Sampah. [3][4][6]

Program agrowisata alpukat membuka pasar baru bagi petani desa. Varietas alpukat Kelawi telah mendapatkan hak paten dan sertifikasi yang memperkuat daya saingnya. Produk ini kini menjadi andalan oleh-oleh khas Desa Kelawi yang semakin dikenal wisatawan. [2][3]

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama adalah menjaga konsistensi kualitas layanan wisata di tengah keterbatasan sumber daya manusia terlatih. Tidak semua warga langsung memiliki keterampilan hospitality dan pengelolaan wisata yang memadai. Pelatihan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga standar pelayanan kepada wisatawan. [2]

Kendala lain adalah pengelolaan sampah kiriman laut yang volumenya meningkat saat musim tertentu. Kapasitas Bank Sampah yang ada belum sepenuhnya mampu menyerap seluruh volume sampah plastik dari perairan Selat Sunda. Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan lembaga lingkungan sangat dibutuhkan untuk memperkuat kapasitas ini. [6][4]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

BUMDes Kelawi terus memperkuat pilar digitalisasi dengan memperluas jangkauan QRIS dan mendorong lebih banyak UMKM bergabung ke ekosistem digital. Pendapatan dari sektor wisata dikelola secara transparan dan sebagian diputar kembali untuk pemeliharaan destinasi dan green house. Hal ini memastikan modal ekosistem wisata terus berputar. [3][6]

Dalam jangka panjang, desa berencana membangun pusat agrowisata yang mengintegrasikan perkebunan alpukat, kafe produk lokal, dan area edukasi lingkungan. Kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga riset juga didorong untuk mendukung pengembangan varietas unggul dan diversifikasi produk UMKM desa. [2][5]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Desa Kelawi berkontribusi pada berbagai tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) secara langsung dan terukur. Berikut adalah penjabaran kontribusinya:

SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi : BUMDes Kelawi Mandiri menciptakan lapangan kerja baru di sektor wisata bahari, agrowisata, dan UMKM. Digitalisasi QRIS memperluas akses pasar pelaku usaha mikro dan meningkatkan pendapatan warga desa secara nyata.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab : Program Bank Sampah mengubah sampah plastik laut menjadi produk kerajinan dan tabungan warga. Pola ini mendorong budaya konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab di tingkat rumah tangga.
SDGs 14: Ekosistem Lautan : Pengelolaan wisata bahari oleh Pokdarwis mendorong pelestarian Taman Bawah Laut dan ekosistem pesisir. Program pembersihan sampah laut melindungi keanekaragaman hayati perairan Selat Sunda.
SDGs 15: Ekosistem Daratan : Program “1 KK, 2 Pohon Alpukat” mendorong penghijauan dan ketahanan ekosistem daratan desa. Green house desa menjadi sarana konservasi varietas lokal yang telah tersertifikasi dan memiliki hak paten.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan : Kolaborasi antara BUMDes, Pokdarwis, BRI, dan pemerintah desa memperlihatkan model kemitraan multistakeholder yang efektif. Program Desa BRILiaN menjadi platform kemitraan yang mempercepat pertumbuhan desa wisata di Indonesia.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model inovasi Desa Kelawi sangat relevan direplikasi oleh desa-desa pesisir yang memiliki potensi bahari dan pertanian belum terkelola. Kunci replikasinya adalah membangun BUMDes yang kuat terlebih dahulu, kemudian menyambungkannya dengan program pemberdayaan perbankan dan ekosistem digital. [3][5]

Untuk scale up, program Desa BRILiaN yang telah menjangkau lebih dari 3.178 desa pada akhir 2023 bisa menjadi jembatan distribusi model ini ke seluruh Indonesia. Pemerintah daerah dapat mendorong replikasi Bank Sampah dan agrowisata terstruktur ke desa-desa tetangga. Dengan dukungan kebijakan, ekosistem seperti ini bisa tumbuh di ratusan desa pesisir lainnya. [5][6]

Daftar Pustaka

[1] Antara News, “Mengenal Kelawi, Pemenang Desa BRILiaN Hijau Berkat Inovasi Berkelanjutan,” antaranews.com, 23 Feb. 2024. [Online]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/3980619/mengenal-kelawi-pemenang-desa-brilian-hijau-berkat-inovasi-berkelanjutan

[2] Kompas Biz, “Mengenal Desa Kelawi, Desa Wisata Berkelanjutan nan Inovatif,” biz.kompas.com, 4 Feb. 2024. [Online]. Tersedia: https://biz.kompas.com/read/2024/02/05/105923628/mengenal-desa-kelawi-desa-wisata-berkelanjutan-nan-inovatif-dan-jeli-manfaatkan

[3] Liputan 6, “Surga Tersembunyi di Lampung Selatan: Desa Kelawi yang Miliki Inovasi Berkelanjutan,” liputan6.com, 15 Jul. 2024. [Online]. Tersedia: https://www.liputan6.com/bisnis/read/5645196/surga-tersembunyi-di-lampung-selatan-desa-kelawi-yang-miliki-inovasi-berkelanjutan

[4] Kanal Desa, “BUMDes Kelawi Mandiri: Wisata Bahari dan Agrowisata di Lampung Selatan,” kanaldesa.com, 23 Jul. 2024. [Online]. Tersedia: https://kanaldesa.com/artikel/bumdes-kelawi-mandiri-wisata-bahari-dan-agrowisata-di-lampung-selatan

[5] Detik Travel, “Desa BRILiaN: Das Wisata Kelawi, Green Canyon-nya Lampung,” travel.detik.com, 9 Mar. 2025. [Online]. Tersedia: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-7815279/desa-brilian-das-wisata-kelawi-green-canyon-nya-lampung-ini-lee

[6] CNBC Indonesia, “Berinovasi di Bidang Lingkungan, Desa Kelawi Jadi Desa Brilian Hijau,” cnbcindonesia.com, 24 Jul. 2024. [Online]. Tersedia: https://www.cnbcindonesia.com/news/20240724113454-4-557198/berinovasi-di-bidang-lingkungan-desa-kelawi-jadi-desa-brilian-hijau

[7] CNN Indonesia, “Potensi dan Inovasi Maksimal, Kelawi Menang Desa BRILiaN Hijau,” cnnindonesia.com, 24 Feb. 2024. [Online]. Tersedia: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20240224115630-625-1066789/potensi-dan-inovasi-maksimal-kelawi-menang-desa-brilian-hijau

[8] Antara Lampung, “Desa Kelawi Desa BRILiaN Hijau terkenal dengan Bank Sampah,” lampung.antaranews.com, 26 Mar. 2024. [Online]. Tersedia: https://lampung.antaranews.com/berita/723930/desa-kelawi-desa-brilian-hijau-terkenal-dengan-bank-sampah

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.
BUMDes Tirta Mandiri Ponggok Klaten Kelola Wisata Umbul Berbasis Saham Warga dan Cetak PADes Belasan Miliar

BUMDes Tirta Mandiri Ponggok Klaten Kelola Wisata Umbul Berbasis Saham Warga dan Cetak PADes Belasan Miliar

Ringkasan Inovasi

Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, membangun ekosistem pariwisata air tawar bertaraf nasional melalui BUMDes Tirta Mandiri yang didirikan pada 15 Desember 2009. Inovasi ini mengubah mata air alami yang semula hanya dipakai untuk mandi dan mencuci menjadi destinasi wisata selam dangkal berteknologi foto bawah air, sekaligus membuka program investasi saham langsung bagi seluruh keluarga warga desa sebesar Rp5 juta per KK. [1]

Dampaknya luar biasa dan terukur: BUMDes Tirta Mandiri membukukan pendapatan kotor Rp14 miliar dalam satu tahun pembukuan, dengan Umbul Ponggok menyumbang Rp8,5 miliar dari penjualan tiket masuk, sementara angka pengangguran Desa Ponggok turun ke nol dan seluruh karyawan BUMDes merupakan warga ber-KTP Ponggok. [2][3] Desa yang pernah masuk kategori zona merah atau desa tertinggal ini kini menjadi rujukan studi banding BUMDes terbaik dari seluruh penjuru Indonesia. [4]

Latar Belakang

Desa Ponggok menyimpan paradoks yang ironis: di bawah tanahnya mengalir sumber air melimpah yang membentuk beberapa umbul besar seperti Umbul Ponggok, Umbul Besuki, Umbul Sigedang, dan beberapa umbul lainnya, namun desa ini justru masuk dalam kategori zona merah atau desa tertinggal pada masa lalu. Mata air yang jernih dan segar itu hanya dimanfaatkan warga untuk mandi dan mencuci pakaian sehari-hari — sebuah pemborosan sumber daya alam yang bernilai ekonomi besar. [3][4]

Ketergantungan warga Ponggok pada sektor pertanian konvensional tidak mampu mengangkat kondisi ekonomi desa secara signifikan. Tidak ada mekanisme ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja lokal secara masif, mendistribusikan kesejahteraan secara adil, dan sekaligus memanfaatkan aset alam yang ada di depan mata. Ketiadaan lembaga ekonomi desa yang terorganisir membuat potensi besar itu terus tertidur, sementara kemiskinan bertahan dari generasi ke generasi. [1][5]

Peluang terbuka ketika Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan kemudian diperkuat oleh UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memberikan kewenangan kepada desa untuk mendirikan Badan Usaha Milik Desa sebagai instrumen pengembangan ekonomi lokal. Kepala Desa Junaedi Mulyono melihat ini bukan sekadar amanat regulasi, melainkan kesempatan emas untuk membuktikan bahwa sumber daya alam kolam mata air — yang selama ini dianggap biasa — dapat menjadi mesin ekonomi desa yang dahsyat. [3][4]

Inovasi yang Diterapkan

Pemerintah Desa Ponggok mendirikan BUMDes Tirta Mandiri pada 15 Desember 2009 melalui Peraturan Desa Nomor 06 Tahun 2009 sebagai fondasi kelembagaan seluruh inovasi yang menyusul. Inovasi inti pertama adalah transformasi Umbul Ponggok — kolam mata air alami berukuran 50×25 meter dengan kedalaman rata-rata 1,5–2,6 meter — menjadi destinasi wisata selam dangkal yang menawarkan pengalaman berenang bersama ratusan ikan air tawar dan sesi foto bawah air yang unik dengan properti kreatif. [3] Keunikan konsep ini, yakni “snorkeling air tawar” pertama di Indonesia, menjadi daya tarik yang tidak dapat ditiru oleh destinasi wisata air biasa mana pun. [2]

Inovasi manajerial kedua adalah program investasi saham langsung bagi warga: setiap keluarga di Desa Ponggok diajak menanamkan modal sebesar Rp5 juta per KK dengan sistem bagi hasil yang transparan. Lebih dari 300 KK warga — termasuk lembaga desa seperti PKK dan PAUD — turut menyertakan modalnya dalam BUMDes, menciptakan rasa kepemilikan kolektif yang menjadi pengawas terkuat atas kinerja lembaga. [3][5] BUMDes kemudian berkembang menjadi induk dari 10 unit usaha yang mencakup Umbul Ponggok, Ponggok Ciblon, Toko Desa Sumber Panguripan, persewaan gedung Banyu Panguripan, warung apung, agrowisata, dan beberapa unit usaha lainnya. [3]

Proses Penerapan Inovasi

Perjalanan BUMDes Tirta Mandiri tidak dimulai dengan mulus. Pada tahun-tahun pertama sejak pendirian 2009, sebagian besar warga memandang sebelah mata dan pesimistis bahwa BUMDes mampu membawa perubahan nyata. Kepala Desa Junaedi Mulyono berpijak pada prinsip “Believing is Seeing” — jika kita percaya, kita akan melihat hasilnya — dan secara konsisten meyakinkan warga melalui pendekatan komunikasi interpersonal dan pembuktian bertahap, bukan sekadar janji-janji yang abstrak. [3][1]

Pada tahap awal, BUMDes hanya mengelola toko pakan ikan dan simpan pinjam warga sambil merintis Umbul Ponggok sebagai wahana rekreasi sederhana. Dalam waktu satu tahun, BUMDes sudah menghasilkan laba Rp100 juta dan menyetorkan Rp30 juta (30% dari laba) sebagai PADes pada tahun 2010 — sebuah bukti kecil namun nyata yang mulai mengubah skeptisisme warga menjadi kepercayaan. [3] Program penggalangan investasi saham warga kemudian diluncurkan secara resmi setelah kepercayaan awal ini terbangun, sehingga warga bersedia membuka dompet karena sudah melihat bukti bukan sekadar mendengar janji. [5]

Revitalisasi besar-besaran Umbul Ponggok dilakukan pada periode kepemimpinan kedua Junaedi Mulyono mulai 2014, menggunakan Dana Desa dan modal investasi warga untuk membangun infrastruktur wisata, mendatangkan wahana permainan air, menyediakan layanan penyewaan kamera bawah air beserta fotografer, dan mengembangkan paket wisata foto prewedding bawah air yang menjadi viral di media sosial. Viralitas ini mempercepat pertumbuhan kunjungan wisatawan secara eksponensial tanpa harus mengeluarkan biaya iklan konvensional yang besar. [2][4]

Faktor Penentu Keberhasilan

Dua faktor internal paling menentukan adalah kepemimpinan visioner Kepala Desa Junaedi Mulyono dan rasa kepemilikan kolektif warga yang lahir dari sistem saham. Kepala Desa memiliki keberanian untuk berpikir jauh ke depan dan ketekunan untuk meyakinkan warga secara bertahap melalui pembuktian nyata — bukan sekadar retorika. [3] Sementara itu, warga yang sudah menanamkan modal menjadi pengawas organik yang paling ketat: mereka merawat Umbul secara sukarela karena sadar bahwa keberhasilan BUMDes berarti keuntungan langsung bagi kantong mereka setiap bulan. [5]

Faktor eksternal yang tak kalah krusial adalah gaya hidup masyarakat urban yang semakin menggemari wisata alam autentik dan budaya “foto di destinasi unik” yang tersebar viral di media sosial. Kebijakan tegas pemerintah desa yang mewajibkan semua karyawan BUMDes harus warga ber-KTP Ponggok memastikan efek multiplier ekonomi sepenuhnya dirasakan oleh penduduk desa sendiri, bukan terserap oleh tenaga kerja dari luar. [4][1]

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak ekonomi yang dihasilkan BUMDes Tirta Mandiri bersifat masif dan merata. Pendapatan kotor BUMDes mencapai Rp14 miliar dalam satu tahun pembukuan, dengan Umbul Ponggok sebagai penyumbang terbesar sebesar Rp8,5 miliar dari penjualan tiket. [2] Pendapatan ini tidak hanya mengalir ke kas desa, tetapi juga didistribusikan kepada lebih dari 300 KK pemegang saham sebagai bagi hasil, kepada PKK dan PAUD sebagai lembaga investor, serta kepada pekerja lokal sebagai upah — menciptakan distribusi kesejahteraan yang luas dan merata. [3][5]

Angka pengangguran Desa Ponggok turun ke nol — sebuah capaian yang bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata bahwa sektor pariwisata berbasis komunitas mampu menyerap tenaga kerja lokal secara total. [4] Di bidang pendidikan dan kesehatan, BUMDes mengalirkan dana operasional rutin kepada PAUD dan fasilitas kesehatan desa dari sebagian laba yang disisihkan setiap periode, memastikan kesejahteraan desa berdimensi holistik bukan hanya ekonomi semata. [3]

Secara kualitatif, transformasi Ponggok dari desa tertinggal menjadi BUMDes percontohan nasional mendapat pengakuan dari berbagai pihak, termasuk kunjungan studi banding dari kepala-kepala desa seluruh Indonesia dan apresiasi dari Dinas PMD Kabupaten Badung, Bali, yang secara resmi menyebut BUMDes Tirta Mandiri sebagai “BUMDes Terbaik Tingkat Nasional.” [4] Desa Ponggok juga dikembangkan sebagai kawasan berbasis big data untuk mendukung transparansi pengelolaan dan pengambilan keputusan yang lebih akurat. [6]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terberat pada fase awal adalah membongkar pola pikir konsumtif dan pesimistis warga yang belum pernah melihat BUMDes berhasil di manapun. Resistensi ini bukan sekadar keengganan berpartisipasi, melainkan juga defisit kepercayaan terhadap kemampuan lembaga desa dalam mengelola uang secara transparan — sebuah luka lama yang muncul akibat pengalaman buruk tata kelola di masa sebelumnya. [3][1]

Saat popularitas Umbul Ponggok meledak, tantangan berikutnya muncul dari arah berlawanan: ledakan kunjungan wisatawan yang berpotensi merusak ekosistem dan kualitas air mata air yang menjadi aset utama. Lonjakan volume pengunjung juga menimbulkan ancaman pencemaran dan tekanan kapasitas lingkungan yang membutuhkan respons cepat berupa pengembangan wahana alternatif agar beban ekologis Umbul Ponggok tidak melampaui daya dukungnya. [2] Pandemi COVID-19 pada 2020 juga sempat memukul BUMDes dengan kerugian signifikan, mendorong desa untuk merestrukturisasi portofolio unit usaha agar lebih tahan terhadap guncangan eksternal. [7]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Desa Ponggok menjaga keberlanjutan melalui strategi diversifikasi unit usaha yang konsisten: pengembangan Ponggok Ciblon sebagai wahana wisata air terpadu dengan kolam renang anak dan dewasa, restoran apung, area pemancingan, dan wahana adventure berfungsi memecah konsentrasi wisatawan dari satu titik ke beberapa destinasi. [3] Diversifikasi ini memastikan pendapatan desa tidak terlalu bergantung pada satu sumber sekaligus mengurangi tekanan ekologis pada mata air yang menjadi aset utama. [2]

BUMDes secara rutin menyisihkan sebagian laba untuk pemeliharaan infrastruktur, peningkatan wahana, pemberdayaan SDM, dan pengembangan big data desa yang memungkinkan pengambilan keputusan bisnis berbasis data secara real-time. [6] Keterlibatan lebih dari 300 keluarga sebagai pemegang saham memastikan pengawasan publik internal yang kuat, sementara laporan keuangan yang terbuka menjaga kepercayaan kolektif yang menjadi fondasi seluruh ekosistem bisnis desa ini. [5]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Model BUMDes Tirta Mandiri Ponggok merupakan salah satu implementasi SDGs paling komprehensif di tingkat desa di Indonesia. Dari pengentasan kemiskinan, penciptaan pekerjaan layak, hingga pengelolaan ekosistem air bersih, seluruhnya terintegrasi dalam satu sistem pengelolaan bisnis desa yang diinisiasi dan dijalankan sepenuhnya oleh komunitas lokal. [1][5]

No SDGs Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan BUMDes Tirta Mandiri mengangkat Desa Ponggok dari kategori zona merah desa tertinggal menjadi desa mandiri yang mencatat PADes belasan miliar rupiah — memutus rantai kemiskinan struktural melalui distribusi hasil usaha langsung kepada lebih dari 300 keluarga pemegang saham desa.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Kebijakan desa yang mewajibkan seluruh karyawan BUMDes berasal dari warga ber-KTP Ponggok berhasil menekan angka pengangguran desa hingga nol, menciptakan pekerjaan layak dengan penghasilan stabil di sektor pariwisata, kuliner, jasa, dan operasional yang dikelola secara lokal dan mandiri.
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan Sistem saham terbuka bagi seluruh keluarga warga menciptakan mekanisme distribusi keuntungan usaha yang inklusif — memastikan hasil ekonomi pariwisata tidak terkonsentrasi pada elite desa, melainkan menyebar merata ke seluruh strata sosial masyarakat Ponggok termasuk lembaga PAUD dan PKK.
SDGs 14 dan 15: Ekosistem Perairan dan Daratan Pengelolaan Umbul Ponggok yang bertanggung jawab menjaga kualitas ekosistem mata air tawar alami beserta biodiversitasnya — ratusan ikan air tawar yang hidup di kolam — sementara pengembangan Ponggok Ciblon sebagai destinasi alternatif mengurangi tekanan ekologis pada sumber mata air utama.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh Tata kelola BUMDes yang transparan dengan laporan keuangan terbuka kepada seluruh pemegang saham warga, diawasi oleh Badan Pengawas dan Dewan Komisaris desa, mewujudkan prinsip akuntabilitas kelembagaan yang tangguh dan membangun kepercayaan publik terhadap institusi ekonomi desa.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kemitraan BUMDes Tirta Mandiri dengan Perum BULOG (agen RPK), Bank BNI’46 (agen Laku Pandai), pemerintah kabupaten, dan jaringan studi banding desa-desa seluruh Indonesia menciptakan ekosistem kemitraan multipihak yang memperkuat ketahanan dan kapasitas pertumbuhan ekonomi desa secara berkelanjutan.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

BUMDes Tirta Mandiri Ponggok telah secara alami menjadi pusat studi banding nasional yang dikunjungi oleh kepala desa dan pejabat daerah dari seluruh Indonesia — sebuah pengakuan organik yang jauh lebih bermakna daripada sekadar penghargaan di atas kertas. Pemerintah Desa Ponggok secara aktif menyelenggarakan sesi berbagi pengalaman dan membuka aksesnya sebagai lokasi pembelajaran, sehingga transfer pengetahuan terjadi secara langsung dan kontekstual. [4]

Tiga elemen inti yang dapat direplikasi oleh desa-desa lain adalah: pertama, sistem investasi saham warga yang membangun rasa kepemilikan kolektif sekaligus menggalang modal awal; kedua, transformasi aset alam lokal yang unik menjadi produk wisata yang tidak dapat direplikasi di tempat lain; dan ketiga, kebijakan penyerapan tenaga kerja lokal 100% yang memastikan seluruh efek multiplier ekonomi dirasakan oleh warga desa sendiri. [3][5] Model ini paling relevan untuk desa-desa yang memiliki sumber daya alam khas — baik sumber air, pantai, hutan, atau budaya unik — yang belum dikelola secara optimal sebagai aset ekonomi desa yang berdaulat. [1]

Daftar Pustaka

[1] R. Fitriyani, “Sosialisasi Inovasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Mandiri oleh Pemerintah Desa Ponggok,” Naskah Publikasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2018. [Online]. Available: https://eprints.ums.ac.id/79442

[2] Redaksi, “BUMDes Tirta Mandiri, Desa Ponggok Raup Rp14 M Setahun Lewat Pengelolaan Wisata Umbul Ponggok,” Laporan Jurnalistik Desa Ponggok, 2017.

[3] W. Baskoro, “Analisis Strategi Keberhasilan BUMDes Tirta Mandiri dan Tinjauan Perspektif Ekonomi Islam,” MUKADDIMAH: Jurnal Studi Islam, vol. 4, no. 1, hal. 57–84, Jun. 2019. [Online]. Available: https://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/mukaddimah

[4] Dinas PMD Kabupaten Badung, “Menengok BUMDes Ponggok Tirta Mandiri: BUMDes Terbaik Tingkat Nasional,” badungkab.go.id, 2024. [Online]. Available: https://badungkab.go.id/kab/berita/2531

[5] N. A. Pangesti et al., “Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Inovasi Pengelolaan Desa Wisata pada BUMDes Tirta Mandiri,” Jurnal STIA LAN Bandung, 2019.

[6] Pemerintah Desa Ponggok, “Desa Ponggok Jadikan Big Data Kunci Transparansi dan Pengelolaan BUMDes,” ponggok.polanharjo.klaten.go.id, 2024. [Online]. Available: https://ponggok.polanharjo.klaten.go.id/berita/3278

[7] Redaksi Wartakita, “Akibat Pandemi Covid-19, BUMDes Ponggok Merugi Rp14 M, Sejumlah Aset Akan Dijual,” wartakita.org, 2020. [Online]. Available: https://www.wartakita.org

[8] M. Akbar et al., “Dinamika Ekonomi Wisata Umbul Ponggok di Desa Ponggok Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten,” Repository UIN Salatiga, 2023. [Online]. Available: http://e-repository.perpus.uinsalatiga.ac.id

[9] Tim Peneliti, “Menilik Kapabilitas Pemerintah Desa Ponggok dalam Pengelolaan BUMDes,” Jurnal Responsive UNPAD, 2026. [Online]. Available: https://jurnal.unpad.ac.id/responsive

[10] A. S. Rahman, “Peningkatan Daya Saing Badan Usaha Milik Desa Menuju Desa Mandiri,” Jurnal Politeknik Negeri Ujung Pandang, 2020.