Desa Wisata Pemuteran Buleleng Terapkan Biorock dan Ekowisata Bahari Berbasis Komunitas dan Raih Best Tourism Village 2025 Dunia

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Terapkan Biorock dan Ekowisata Bahari Berbasis Komunitas dan Raih Best Tourism Village 2025 Dunia

Desa Wisata Pemuteran di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, membangun model ekowisata bahari berbasis komunitas yang mengintegrasikan teknologi Biorock untuk restorasi terumbu karang, pengelolaan zona konservasi laut, pelestarian budaya tradisi Bali, dan Pemuteran Bay Festival sebagai puncak perayaan tahunan yang menggabungkan seni, konservasi, dan pariwisata berkelanjutan. [1] Inovasi ini berhasil mengubah desa nelayan kecil di ujung barat Bali — yang pernah merusak terumbu karangnya sendiri — menjadi destinasi ekowisata internasional yang meraih gelar Best Tourism Village 2025 dari UN Tourism/UNWTO, penghargaan pariwisata desa tertinggi di dunia. [2]

Dari 270 kandidat desa wisata dari 65 negara anggota UN Tourism, Pemuteran berhasil lolos seleksi ketat dan masuk dalam daftar 52 Desa Wisata Terbaik dunia, bergabung dengan rangkaian penghargaan internasional sebelumnya yakni UNWTO Award 2016, ASEAN Community-Based Tourism Standard 2023–2024, PATA Gold Award 2005, dan SKAL International Award 2003 untuk inovasi Biorock. [3] Rentang lebih dari dua dekade penghargaan internasional ini membuktikan bahwa Pemuteran bukan sekadar destinasi wisata yang indah, tetapi laboratorium hidup ekowisata berkelanjutan yang konsisten dan terus berkembang. [2]

Latar Belakang

Pada dekade 1980-an, penduduk Desa Pemuteran yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan kerap menangkap ikan dengan cara destruktif, termasuk penggunaan bom ikan dan sianida yang waktu itu merajalela di perairan Bali utara. [4] Terumbu karang yang seharusnya menjadi rumah bagi ribuan spesies ikan dan biota laut perlahan rusak parah, mengancam keberlanjutan ekosistem yang justru menjadi sumber penghidupan nelayan itu sendiri. Ironisnya, kerusakan ini mempersempit penghasilan nelayan karena populasi ikan yang bergantung pada terumbu karang ikut menurun drastis dari tahun ke tahun. [1]

Pada awal 2000-an, kesadaran kolektif mulai tumbuh ketika komunitas lokal bersama pengusaha hotel menyadari bahwa kerusakan ekosistem laut adalah ancaman nyata bagi masa depan seluruh desa. [4] Saat itu tidak ada mekanisme efektif untuk memulihkan terumbu karang yang sudah rusak parah, dan tidak ada model pariwisata yang mampu mengintegrasikan kebutuhan ekonomi warga dengan tuntutan pelestarian lingkungan secara bersamaan. Inilah titik balik yang memunculkan kebutuhan mendesak akan inovasi teknologi dan tata kelola yang mampu menjawab dua tantangan sekaligus: memulihkan ekosistem laut dan menciptakan ekonomi desa yang berkelanjutan. [3]

Desa Pemuteran memiliki posisi geografis yang unik — terletak di ujung barat Bali, seolah tersembunyi dari arus utama pariwisata Bali Selatan, dengan lanskap yang memadukan kaki Gunung Pulaki yang menjorok ke laut dengan teluk yang tenang dan jernih. [1] Ketersembunyian ini justru menjadi keunggulan: alam masih terjaga, suasana desa autentik, dan kombinasi pegunungan-teluk menciptakan daya tarik wisata yang berbeda dari destinasi mainstream. Peluang inilah yang kemudian ditangkap dan dioptimalkan melalui inovasi ekowisata yang memadukan teknologi mutakhir, konservasi laut, dan kearifan lokal Bali. [3]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi utama Pemuteran adalah teknologi Biorock — metode restorasi terumbu karang yang dikembangkan oleh Prof. Wolf Hilbertz dan Dr. Tom Goreau — di mana rangka besi tiga dimensi ditanam di dasar laut kemudian dialiri arus listrik bertegangan sangat rendah sekitar 6 volt, menginduksi terbentuknya mineral kalsit dan aragonit yang menciptakan substrat ideal bagi pertumbuhan terumbu karang hidup secara alami. [4] Studi akademik terbaru mengonfirmasi bahwa teknologi Biorock mampu meningkatkan laju pertumbuhan karang hingga enam kali lebih cepat dibandingkan pemulihan alami, sekaligus mendukung keanekaragaman hayati yang signifikan — satu unit Biorock mampu menampung 11 keluarga ikan dan 35 genus biota laut. [10] Di Pemuteran, Yayasan Karang Lestari — yang dipimpin I Gede Agung Prana, perintis sekaligus pemilik resort lokal — mengelola lebih dari 100 unit struktur Biorock yang tersebar di perairan teluk, menciptakan kawasan terumbu karang buatan terbesar dan paling berkembang di dunia. [9]

Di luar Biorock, ekosistem ekowisata Pemuteran diperkaya oleh program penangkaran penyu, penetapan zona konservasi bebas pemancingan, dan Pemuteran Bay Festival yang sudah masuk dalam 100 Calendar of Events (CoE) Indonesia serta Bali Calendar of Event sebagai agenda tahunan tetap. [5] Festival ini menyajikan penenggelaman struktur artistik bawah laut oleh puluhan penyelam sebagai simbol komitmen konservasi — pada Desember 2025, sebuah “Gapura Harmoni Baruna Giri” ditenggelamkan sebagai landmark bawah laut permanen — dipadukan dengan pertunjukan seni budaya Bali, pasar UMKM, dan lokakarya lingkungan. [8] Sistem adopsi terumbu karang juga ditawarkan kepada wisatawan seharga Rp400.000 per unit dengan nama adopter tertera, menjadikan setiap wisatawan sebagai mitra aktif konservasi yang memiliki keterikatan emosional langsung dengan ekosistem Pemuteran. [4]

Proses Penerapan Inovasi

Proses transformasi Pemuteran dimulai dari perubahan mentalitas yang paling mendasar: dari merusak menjadi menjaga. [4] Yayasan Karang Lestari yang dibentuk dari kolaborasi warga lokal dan pengusaha hotel mengambil peran sebagai motor penggerak, meyakinkan nelayan bahwa terumbu karang yang pulih akan menghasilkan lebih banyak ikan dan menarik lebih banyak wisatawan yang membutuhkan layanan jasa mereka. Pendekatan berbasis insentif ekonomi ini terbukti jauh lebih efektif daripada pendekatan larangan semata dalam mengubah perilaku nelayan yang sudah lama bergantung pada cara tangkap destruktif. [3]

Pada tahap awal, pemasangan struktur Biorock menghadapi skeptisisme dari nelayan yang belum percaya bahwa arus listrik 6 volt yang sangat lemah mampu menumbuhkan terumbu karang secara nyata. [4] Percobaan pada beberapa unit kecil di lokasi strategis menunjukkan hasil menjanjikan dalam beberapa bulan pertama — kehadiran ikan yang semakin beragam dan karang yang tumbuh jauh lebih cepat dari biasanya. Hasil yang bisa disaksikan langsung dengan mata inilah yang mengubah skeptisisme nelayan menjadi antusiasme dan mendorong perluasan program Biorock secara masif ke lebih dari 100 unit struktur. [6]

Pemuteran Bay Festival yang pertama kali diselenggarakan pada 2015 dirancang sebagai mekanisme pembaruan komitmen tahunan seluruh komunitas terhadap konservasi laut, bukan sekadar acara pariwisata semata. [5] Pada festival ke-11 yang berlangsung 4–6 Desember 2025, penenggelaman “Gapura Harmoni Baruna Giri” oleh puluhan penyelam menjadi simbol visual paling kuat yang menggambarkan komitmen komunitas yang kini telah mendunia dan diakui oleh badan pariwisata PBB. [8] Evaluasi dan penyesuaian model festival dilakukan setiap tahun berdasarkan masukan komunitas, memastikan relevansi dan pertumbuhan kualitas acara dari tahun ke tahun tanpa kehilangan esensi konservasi yang menjadi jiwanya. [7]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor paling menentukan adalah kemitraan sejati antara komunitas nelayan, pengusaha hotel, Yayasan Karang Lestari, dan pemerintah daerah yang memiliki kepentingan bersama dalam menjaga kesehatan ekosistem Pemuteran sebagai sumber daya bersama yang tidak ternilai. [3] Tanpa kolaborasi ini, Biorock hanya akan menjadi teknologi menarik di atas kertas tanpa kesinambungan pendanaan dan pengawasan di lapangan; tanpa keterlibatan aktif nelayan, kawasan konservasi tidak akan terlindungi dari aktivitas merusak yang mengancam pemulihan ekosistem. Model kolaborasi multipihak inilah yang secara spesifik disebutkan sebagai keunggulan utama Pemuteran dibandingkan ratusan kandidat lain dalam seleksi UN Tourism. [2]

Faktor kedua adalah kepemimpinan visioner I Gede Agung Prana yang menginisiasi Yayasan Karang Lestari dan konsisten memimpin gerakan konservasi ini selama lebih dari dua dekade tanpa goyah meski menghadapi berbagai tekanan dan perubahan kondisi. [9] Pemuteran Bay Festival yang kini memasuki tahun ke-11 adalah bukti konsistensi komunitas ini; festival bukan sekadar kalender acara, melainkan ritual tahunan pembaruan janji komunitas kepada laut yang menghidupi mereka. Keistimewaan geografis Pemuteran — gunung dan laut yang berdekatan dalam satu lanskap dramatik — yang dikelola secara sinergis menambah daya tarik unik yang tidak bisa direplikasi oleh desa manapun di dunia. [4]

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak ekologi yang paling terukur adalah pemulihan terumbu karang secara masif melalui lebih dari 100 unit struktur Biorock yang tersebar di perairan Teluk Pemuteran, dengan kecepatan pertumbuhan karang yang mencapai hingga enam kali lebih cepat dari pemulihan alami. [10] Kawasan yang dulunya tandus kini menjadi rumah bagi ratusan spesies ikan dan biota laut — termasuk penyu yang kembali bertelur di pantai Pemuteran — dengan Biorock Pemuteran meraih rating 4,7 dari 5 bintang di TripAdvisor berdasarkan lebih dari 488 ulasan wisatawan mancanegara. [6] Keberhasilan ekologi ini secara langsung meningkatkan nilai ekonomi kawasan wisata bahari Pemuteran sebagai satu-satunya destinasi Biorock terbesar dan paling mapan di dunia. [4]

Dampak ekonomi terlihat dari transformasi total desa nelayan menjadi ekosistem pariwisata lengkap yang kini mencakup homestay, hotel, villa, restoran, money changer, rental kendaraan, ATM, minimarket, dan toko suvenir yang memenuhi sepanjang jalan desa. [1] Bawah laut Pemuteran yang kini kaya biodiversitas menarik penyelam dari seluruh dunia, terutama dari Eropa — Jerman, Belanda, dan Prancis — yang membawa efek pengeluaran wisatawan premium ke seluruh rantai ekonomi desa. [9] Pemuteran Bay Festival 2025 yang masuk dalam Bali Calendar of Event dan 100 Calendar of Events Indonesia membawa lonjakan kunjungan yang memberikan efek berganda bagi seluruh pelaku UMKM dan akomodasi di desa selama tiga hari penyelenggaraan. [5]

Puncak dari dua dekade konsistensi ini adalah pengakuan UN Tourism pada 17 Oktober 2025 di Huzhou, Tiongkok, yang menetapkan Pemuteran sebagai satu dari 52 Best Tourism Village 2025 dari 270 kandidat di seluruh dunia. [3] Penghargaan ini mengikuti jejak panjang pengakuan global: SKAL International Award 2003, PATA Gold Award 2005, UNWTO Award 2016, dan ASEAN CBT Standard 2023–2024 — serangkaian trofi yang masing-masing memicu lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara secara signifikan. [2] Setiap penghargaan bukan sekadar simbol prestise, tetapi amunisi pemasaran internasional yang membuat nama Pemuteran terus bergema di pasar wisata global tanpa memerlukan biaya promosi yang besar. [8]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar adalah mengelola tekanan kunjungan wisatawan yang terus meningkat seiring popularitas internasional Pemuteran, tanpa merusak ekosistem terumbu karang yang menjadi aset utama dan alasan utama wisatawan datang. [3] Ironisnya, semakin terkenal Pemuteran, semakin besar risiko bahwa kepadatan penyelam dan snorkeler yang berlebihan dapat merusak terumbu karang yang sudah susah payah dipulihkan selama dua dekade. Menyeimbangkan pertumbuhan kunjungan dengan batas daya dukung ekologis yang aman membutuhkan sistem monitoring dan regulasi zona laut yang ketat, konsisten, dan mampu ditegakkan terhadap wisatawan dari berbagai negara. [6]

Tantangan kedua adalah keberlanjutan pendanaan operasional Yayasan Karang Lestari yang selama ini bergantung pada kombinasi donasi adopsi karang, kontribusi sukarela hotel, dan hibah lembaga internasional yang tidak selalu konsisten setiap tahunnya. [4] Jika satu sumber pendanaan terputus, pemeliharaan lebih dari 100 unit struktur Biorock yang membutuhkan aliran listrik dan perawatan rutin dapat terganggu, mengancam kelangsungan pemulihan ekosistem yang masih dalam proses panjang. Model bisnis konservasi yang lebih mandiri, dengan pendapatan yang tidak bergantung pada donor eksternal, menjadi agenda strategis jangka panjang yang terus diupayakan. [6]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan jangka panjang ekowisata Pemuteran bertumpu pada prinsip fundamental bahwa kesehatan ekosistem laut adalah prasyarat — bukan konsekuensi — dari kesehatan ekonomi desa. [3] Pemerintah Kabupaten Buleleng menegaskan komitmen untuk menjadikan konservasi terumbu karang sebagai prioritas utama kebijakan pariwisata Buleleng barat dalam jangka panjang, menciptakan payung kebijakan yang melindungi kawasan konservasi dari tekanan alih fungsi lahan atau eksploitasi berlebihan. [7] Sinergi antara Yayasan Karang Lestari, pemerintah daerah, asosiasi hotel, dan komunitas nelayan dalam badan koordinasi bersama memberikan fondasi kelembagaan yang cukup kuat untuk bertahan melewati pergantian kepemimpinan. [2]

Program adopsi terumbu karang yang membangun loyalitas wisatawan jangka panjang menjadi mesin pendanaan konservasi yang semakin mandiri, di mana wisatawan bertransformasi menjadi mitra aktif pelestarian yang memiliki kepentingan pribadi dalam menjaga kesehatan ekosistem Pemuteran. [4] Digitalisasi pemasaran melalui platform online internasional, media sosial aktif, dan integrasi dengan platform pemesanan wisata global memperkuat posisi Pemuteran di pasar pariwisata dunia tanpa biaya promosi konvensional yang besar. Gelar Best Tourism Village 2025 dari UN Tourism membuka pintu bagi Pemuteran untuk bergabung dalam jaringan desa wisata terbaik dunia yang memberikan akses ke pasar dan mitra internasional yang sebelumnya sulit dijangkau secara mandiri. [2]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Desa Wisata Pemuteran merupakan salah satu contoh paling komprehensif implementasi SDGs di tingkat desa di Indonesia, di mana hampir semua dimensi keberlanjutan — lingkungan, ekonomi, dan sosial-budaya — terintegrasi dalam satu sistem pengelolaan yang koheren dan telah berjalan konsisten selama lebih dari dua dekade. [2] Pengakuan UN Tourism sebagai Best Tourism Village 2025 secara implisit adalah konfirmasi global bahwa Pemuteran telah berhasil menerjemahkan SDGs dari dokumen kebijakan menjadi praktik kehidupan nyata komunitas pesisir Bali utara yang bisa dirasakan, diukur, dan direplikasi. [3]

No SDGs Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Ekosistem pariwisata yang tumbuh dari konservasi terumbu karang menciptakan lapangan kerja dan sumber penghasilan bagi nelayan, pelaku UMKM, pengelola akomodasi, dan pemandu selam yang sebelumnya bergantung pada hasil tangkap ikan yang tidak menentu dan rentan terhadap kerusakan ekosistem yang mereka ciptakan sendiri. [1]
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Ekowisata Pemuteran menciptakan lapangan kerja layak dan bermartabat di sektor selam, snorkeling, pemanduan wisata, akomodasi, restoran, kerajinan suvenir, dan festival budaya yang menggerakkan perekonomian desa secara inklusif, berkelanjutan, dan sepanjang tahun tanpa bergantung pada musim ikan. [2]
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Model ekowisata berbasis komunitas menjadikan Pemuteran sebagai permukiman pesisir berkelanjutan, di mana aktivitas ekonomi wisata dirancang untuk memperkuat — bukan mengancam — keaslian lanskap alam dan budaya desa yang justru menjadi daya tarik utama wisatawan internasional. [3]
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim Terumbu karang yang dipulihkan melalui Biorock berfungsi sebagai penyerap karbon alami dan pelindung pantai dari abrasi serta dampak gelombang ekstrem yang diperkuat oleh perubahan iklim, menjadikan Pemuteran desa pesisir yang lebih resilien terhadap berbagai ancaman iklim yang semakin nyata. [11]
SDGs 14: Ekosistem Lautan Program Biorock dengan lebih dari 100 struktur terumbu karang buatan, penetapan zona konservasi bebas pemancingan, dan program penangkaran penyu merupakan kontribusi langsung pada pemulihan dan pelestarian biodiversitas laut Teluk Pemuteran yang menjadi habitat kritis bagi ratusan spesies ikan dan biota laut tropis. [10]
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara Yayasan Karang Lestari, nelayan lokal, asosiasi hotel, Pemkab Buleleng, dan mitra internasional menciptakan model kemitraan multipihak yang diakui UN Tourism sebagai praktik terbaik pembangunan pariwisata desa berkelanjutan yang inklusif dan mampu bertahan lebih dari dua dekade. [2]

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Pemuteran paling relevan direplikasi oleh desa-desa pesisir di kawasan timur Indonesia yang memiliki ekosistem terumbu karang terancam namun belum terkelola secara optimal, seperti di Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi Tengah, dan Papua yang menyimpan potensi ekowisata bahari luar biasa yang belum tergali. [2] Tiga elemen inti yang dapat ditransfer adalah: pembentukan yayasan konservasi berbasis komunitas sebagai kelembagaan penggerak, penerapan teknologi Biorock dengan sistem adopsi karang sebagai model pendanaan mandiri, dan penyelenggaraan festival ekowisata tahunan yang membangun identitas kolektif sekaligus menarik wisatawan secara konsisten. Yayasan Karang Lestari sendiri sudah berperan aktif sebagai pusat pembelajaran bagi komunitas pesisir dari berbagai daerah yang ingin mengadopsi dan mengadaptasi model Pemuteran sesuai konteks lokal masing-masing. [4]

Untuk scale up, gelar Best Tourism Village 2025 dari UN Tourism membuka peluang bagi Pemuteran untuk menjadi pusat pelatihan regional ekowisata bahari bertaraf ASEAN yang mempertemukan pengelola desa wisata pesisir dari seluruh Asia Tenggara. [3] Kementerian Pariwisata dapat memprogramkan kunjungan studi banding wajib ke Pemuteran bagi seluruh finalis Anugerah Desa Wisata Indonesia yang memiliki potensi wisata bahari, mengakselerasi transfer model yang sudah terbukti konsisten selama lebih dari dua dekade kepada generasi pengelola desa wisata berikutnya di seluruh Nusantara. Dengan posisinya dalam jaringan 52 Best Tourism Villages UN Tourism, Pemuteran kini memiliki akses langsung ke pasar wisata global dan jaringan kemitraan internasional yang sebelumnya hanya bisa dijangkau oleh destinasi wisata skala nasional atau regional. [2]

Kata Kunci

Desa Wisata Pemuteran Bali, Best Tourism Village 2025 UN Tourism, Biorock terumbu karang, Yayasan Karang Lestari, ekowisata bahari berbasis komunitas, Pemuteran Bay Festival, I Gede Agung Prana, restorasi terumbu karang Indonesia, UNWTO award desa wisata, konservasi laut Bali utara, Kabupaten Buleleng pariwisata, adopsi terumbu karang wisata, zona konservasi laut desa, SDGs 14 ekosistem lautan, pariwisata berkelanjutan Bali, wisata selam diving Bali, penangkaran penyu Pemuteran, ekowisata pesisir Indonesia, teknologi akresi mineral Biorock, kemitraan multipihak pariwisata desa

Daftar Pustaka

[1] Kementerian Pariwisata RI, “Mengenal Desa Wisata Pemuteran Bali yang Meraih Gelar Best Tourism Village 2025,” kemenpar.go.id, 31 Des. 2024. [Online]. Available: https://kemenpar.go.id/berita/mengenal-desa-wisata-pemuteran-bali-yang-meraih-gelar-best-tourism-village-2025

[2] Pemerintah Kabupaten Buleleng, “Desa Pemuteran Raih Penghargaan Best Tourism Village di Kancah Dunia,” bulelengkab.go.id, 3 Jan. 2025. [Online]. Available: https://bulelengkab.go.id/informasi/detail/berita/33_desa-pemuteran-raih-penghargaan-best-tourism-village-di-kancah-dunia

[3] Kompas Travel / Tempo, “Desa Wisata Pemuteran Bali Jadi Desa Wisata Terbaik Dunia 2025,” tempo.co, 19 Okt. 2025. [Online]. Available: https://www.tempo.co/hiburan/desa-pemuteran-bali-dapat-penghargaan-desa-wisata-terbaik-dunia-2081093

[4] Biorock Indonesia, “Pemuteran, Kawasan Nelayan Jadi Desa Wisata Internasional,” biorock-indonesia.com, 29 Jan. 2015. [Online]. Available: https://www.biorock-indonesia.com/pemuteran-kawasan-nelayan-jadi-desa-wisata-internasional/

[5] Kementerian Pariwisata RI, “Pemuteran Bay Festival,” indonesia.travel, 30 Nov. 2025. [Online]. Available: https://www.indonesia.travel/id/id/events/event-detail/pemuteran-bay-festival/

[6] Biorock Indonesia, “Pengenalan Biorock di Pemuteran Bali,” biorock-indonesia.com. [Online]. Available: https://www.biorock-indonesia.com/produk/pengenalan-biorock/

[7] Antara Bali, “Pemuteran Bay Festival Perkuat Citra Desa Wisata Berkelanjutan,” antaranews.com, 4 Des. 2025. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/5182081/desa-pemuteran-bali-raih-penghargaan-best-tourism-village-2025

[8] Tempo, “Pemuteran Bay Festival Dibuka dengan Pemasangan Gapura Bawah Laut,” tempo.co, 4 Des. 2025. [Online]. Available: https://www.tempo.co/hiburan/pemuteran-bay-festival-dibuka-dengan-pemasangan-gapura-bawah-laut-2096027

[9] Antara, “Biorock Pemuteran, Konservasi dan Wisata Bahari Mendunia,” antaranews.com, 16 Des. 2016. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/602044/biorock-pemuteran-konservasi-dan-wisata-bahari-mendunia

[10] A. Ridwan et al., “Restorasi Terumbu Karang dengan Metode Biorock: Upaya Pelestarian Ekosistem Laut Indonesia,” Journal of Tropical Peace and Livelihood Studies, Sep. 2025. [Online]. Available: https://glbglavirtualexpo.dewaweb.cloud/index.php/jtpl/article/view/5912

[11] Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, “Terumbu Karang Bali Terancam, Program Restorasi Digenjot,” diskelkan.baliprov.go.id, 19 Sep. 2024. [Online]. Available: https://diskelkan.baliprov.go.id/terumbu-karang-bali-terancam-program-restorasi-digenjot/

[12] Detik Travel, “Desa Pemuteran Bali, Desa Terbaik Versi UNWTO 2025,” travel.detik.com, 21 Des. 2025. [Online]. Available: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-8271835/desa-pemuteran-bali-desa-terbaik-versi-unwto-2025

[13] Liputan6, “Membanggakan, Desa Wisata Pemuteran Bali Sabet Gelar Best Tourism Village 2025,” liputan6.com, 18 Okt. 2025. [Online]. Available: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/6189066/membanggakan-desa-wisata-pemuteran-bali-sabet-gelar-best-tourism-village-2025

[14] M. Yusuf et al., “Sosialisasi Pelestarian Terumbu Karang Berbasis Biorock,” Journal PJCS, Universitas Muhammadiyah Sorong. [Online]. Available: https://ejournal.um-sorong.ac.id/index.php/pjcs/article/download/4639/2328

Desa Wisata Senaru Bangun Pariwisata Berbasis Masyarakat dan Mendorong Kemandirian Ekonomi Warga

Desa Wisata Senaru Bangun Pariwisata Berbasis Masyarakat dan Mendorong Kemandirian Ekonomi Warga

Ringkasan Inovasi

Desa Wisata Senaru mengelola ekosistem pariwisata terpadu berbasis komunitas yang menyatukan pesona alam pegunungan, budaya tradisional, dan akomodasi lokal. Inovasi desa ini menggabungkan layanan pendakian Gunung Rinjani, kunjungan air terjun, dan wisata edukasi rumah adat ke dalam satu sistem [1].

Tujuan utama terobosan desa ini mencakup peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pelestarian warisan budaya leluhur secara mandiri. Penerapan konsep pengelolaan satu pintu ini menciptakan banyak lapangan kerja bagi warga desa sebagai pemandu wisata profesional [2]. Warga juga merasakan manfaat ekonomi langsung dari hasil menyewakan fasilitas penginapan bertema kerajinan bambu kepada wisatawan asing.

Latar Belakang

Kawasan Senaru memiliki letak strategis sebagai pintu gerbang utama jalur pendakian menuju puncak Gunung Rinjani [3]. Ratusan ribu pendaki rutin melintasi jalur kawasan ini setiap tahun tanpa meninggalkan jejak ekonomi yang berarti bagi penduduk asli setempat.

Masyarakat desa sebelumnya hanya bertindak sebagai saksi saat rombongan wisatawan mancanegara datang dan pergi melewati pekarangan rumah mereka. Minimnya sarana penginapan yang representatif memaksa para pendatang memilih menghabiskan uang mereka di luar wilayah desa Senaru.

Kondisi timpang ini memicu para tokoh pemuda desa untuk merumuskan ulang sistem tata kelola pariwisata daerah mereka. Warga melihat peluang besar menyangkut kebutuhan layanan pemandu wisata lokal dan penyediaan tempat istirahat yang bernuansa tradisional [4]. Tokoh masyarakat akhirnya bersepakat mengubah rumah adat dan kebun kopi mereka menjadi daya tarik wisata bernilai ekonomi tinggi.

Inovasi yang Diterapkan

Masyarakat Senaru meluncurkan inovasi pariwisata dengan pelibatan warga lokal yang mencakup seluruh lapisan masyarakat desa secara merata. Gagasan ini lahir dari keresahan para pemuda yang ingin mengambil peran utama dalam perputaran roda industri pariwisata daerah mereka. Tokoh pemuda berinisiatif membentuk kelompok sadar wisata yang mengatur standar operasional pelayanan dan merumuskan tarif resmi secara adil [5].

Pengelola desa berhasil menyatukan paket kunjungan air terjun Tiu Kelep, wisata peninggalan budaya Bayan, dan kegiatan pendakian gunung. Sistem integrasi ini bekerja melalui cara mendistribusikan jumlah tamu secara bergilir kepada kelompok pemandu dan pemilik fasilitas penginapan. Warga kini menawarkan paket wisata yang mengedepankan pengalaman hidup menyatu dengan alam pedesaan Lombok Utara [4].

Proses Penerapan Inovasi

Langkah perdana pengembangan desa wisata ini bermula dari kegiatan pemetaan potensi keindahan alam dan identifikasi keahlian masyarakat setempat [3]. Kelompok warga desa kemudian menggandeng perguruan tinggi kepariwisataan untuk membekali calon pemandu wisata dengan keterampilan pelayanan prima [6].

Proses penyatuan visi ini tentu saja melewati berbagai ujian karena sebagian sesepuh awalnya meragukan jaminan ekonomi sektor kepariwisataan. Kesalahan mengatur jadwal pemandu pada masa awal operasional sempat memicu perselisihan kecil antar anggota kelompok pengelola wisata desa [7]. Perangkat desa merespons cepat masalah ini melalui perombakan sistem penugasan dan penerapan aturan rotasi yang menjamin keadilan pendapatan.

Warga desa secara bergotong royong turun tangan memperbaiki jalan setapak menuju kawasan air terjun dan mendirikan fasilitas umum yang layak. Proses pembangunan sarana pariwisata ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat melalui program pendampingan desa wisata unggulan nasional [8].

Faktor Penentu Keberhasilan

Kekompakan kelompok warga desa menjaga kelestarian lingkungan alam menjadi kunci utama keberhasilan tata kelola pariwisata pegunungan ini [2]. Kemunculan kelompok perempuan pendamping wisata juga membawa angin segar yang sukses menarik minat lebih banyak penjelajah mancanegara [4].

Bantuan maksimal pemerintah kabupaten memampukan kawasan wisata ini mempercepat perbaikan infrastruktur jalan raya dan pemasangan penerangan jalan umum. Sinergi kuat pemangku adat, tokoh kepemudaan, dan penggerak industri rumah tangga menyempurnakan ekosistem perputaran uang yang mandiri [5].

Hasil dan Dampak Inovasi

Perjuangan masyarakat mengemas potensi desa berhasil mengangkat posisi Senaru masuk ke jajaran lima puluh besar Anugerah Desa Wisata Indonesia [1]. Penghargaan prestisius ini meroketkan tingkat popularitas desa sekaligus memikat ribuan wisatawan domestik untuk menghabiskan waktu liburan mereka.

Dampak ekonomi dari wujud tata kelola wisata terlihat jelas melalui peningkatan angka pendapatan asli desa pada setiap penghujung tahun. Ratusan pemuda usia produktif kini memegang pekerjaan tetap sebagai pemandu arah, penjaga kebersihan area, dan perajin suvenir lokal [2]. Para pemilik vila berbahan baku bambu alam mencatatkan lonjakan rasio hunian secara mengesankan sepanjang musim liburan panjang bergulir.

Manfaat sosial paling luar biasa menyasar langsung pada naiknya kesadaran kelompok masyarakat memelihara kemurnian sumber mata air pegunungan. Warga desa sepakat menyelenggarakan ritual bersih lingkungan secara rutin demi menjamin masa depan daya tarik utama wilayah tempat tinggal mereka [5].

Tantangan dan Kendala

Kepadatan lalu lintas kunjungan wisata memicu risiko perang tarif biaya menginap antar penyedia tempat bermalam di kawasan setempat [3]. Beberapa agen perjalanan luar daerah berupaya menguasai alur pendakian gunung melalui penawaran harga pendaftaran jauh di bawah kelaziman pasar. Iklim kompetisi yang merugikan ini sempat mencoreng standar kualitas pelayanan prima masyarakat desa di hadapan para pelancong.

Kelompok perintis wisata bertindak tegas menerbitkan pedoman operasional guna mewajibkan seluruh pengusaha menaati batas tarif minimum penjualan [7]. Keputusan strategis ini mengembalikan titik keseimbangan nilai pasar serta membuktikan komitmen desa dalam memberikan kepuasan pelancongan tertinggi.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Aparatur desa menyerahkan kuasa penuh pengelolaan wilayah pariwisata ini ke tangan pengurus badan usaha milik desa setempat [7]. Tim pemasar desa merancang kampanye promosi digital secara masif demi mendatangkan kunjungan pelancong mancanegara tanpa mengenal musim sepi [5].

Kelompok penggerak pariwisata konsisten menyisihkan laba usaha untuk membiayai program pendidikan kesenian maupun pelestarian adat istiadat usia dini. Dukungan finansial mandiri ini memastikan kelangsungan napas kesenian tradisional peninggalan leluhur tetap lestari mengiringi zaman modern [4]. Tokoh pelestari lingkungan membatasi volume pendaki harian untuk menjaga keutuhan keseimbangan rantai makanan flora fauna kawasan hutan Rinjani.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Gaya pariwisata yang bertumpu pada peran serta publik mendumbangkan hasil nyata merawat target pembangunan berkelanjutan kelas dunia. Keberhasilan operasional desa wisata ini memperlihatkan kemampuan pelestarian kekayaan hayati menggenjot roda perekonomian keluarga pada wilayah pelosok perdesaan.

Pemenuhan target global meliputi pengadaan ketersediaan ruang karya layak, pendorongan kesetaraan partisipasi perempuan, dan pemeliharaan habitat satwa liar [2]. Penjabaran lebih utuh perihal peranan keberhasilan gagasan warga desa memajukan capaian target masa depan dunia termuat dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan
SDGs 5: Kesetaraan Gender Pembentukan kelompok pemandu wisata perempuan desa memberikan kesempatan kaum hawa untuk mandiri berpenghasilan dan berkontribusi terhadap ekonomi desa.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pengelolaan pariwisata secara terpadu menciptakan mata pencaharian baru bagi pemuda setempat sebagai porter, pengelola vila, dan pelaku usaha kecil.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Pembatasan kuota kunjungan dan kegiatan bersih gunung rutin melestarikan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani serta kawasan perlindungan mata air.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Pola manajemen kepariwisataan komunal ini memiliki keunggulan fleksibilitas yang memudahkan desa penyangga taman nasional lainnya meniru kerangka utamanya [3]. Pemimpin wilayah sekitar berpeluang menyontek metode pendistribusian pendapatan tamasya yang merata tanpa perlu memudarkan pesona warna kebudayaan lokal mereka.

Aparatur pemerintah daerah mematangkan buku panduan pembentukan desa wisata kuat dengan meletakkan formula Desa Senaru sebagai kiblat utama [6]. Taktik transfer wawasan ini menargetkan kelahiran ratusan destinasi pariwisata unggulan mandiri yang saling merangkul ke penjuru pulau Lombok.

Daftar Pustaka

[1] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, “Desa Wisata Senaru The Crown Of Lombok,” jadesta.kemenpar.go.id, 31 Des. 2023. [Online]. Available: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/senaru_the_crown_of_lombok

[2] S. A. Pratama, “Efektivitas Program Desa Wisata dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Desa Senaru Kabupaten Lombok Utara,” Repository UMMAT, Universitas Muhammadiyah Mataram, 2021. [Online]. Available: https://repository.ummat.ac.id/5465/1/COVER-BAB%20III.pdf

[3] I. Puspitasari and B. Santoso, “Strategi Pengembangan Desa Wisata Senaru Lombok Utara,” Journal of Responsible Tourism, vol. 1, no. 2, pp. 43-54, 2018. [Online]. Available: https://ejournal.stpmataram.ac.id/JRT/article/view/992

[4] Tatkala.co, “Berwisata Sambil Belajar dari Kehidupan Desa Senaru – Ada Rumah Tua dan Guide Perempuan,” tatkala.co, 18 Jun. 2023. [Online]. Available: https://tatkala.co/2023/06/19/berwisata-sambil-belajar-dari-kehidupan-desa-senaru-ada-rumah-tua-dan-guide-perempuan/

[5] M. Rahman et al., “Strategi Marketing dan Pengembangan Desa Wisata Senaru Lombok Utara,” Jurnal Oportunitas Ekonomi Unram, 2023. [Online]. Available: https://jurnal.fe.unram.ac.id/index.php/oportunitas/article/download/2406/927

[6] Politeknik Pariwisata Lombok, “Pelatihan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Di Desa Wisata Senaru,” ppl.ac.id, 16 Nov. 2021. [Online]. Available: https://ppl.ac.id/berita/akademik/pelatihan-peningkatan-kualitas-sumber-daya-manusia-di-desa-wisata-senaru/

[7] N. Hidayat, “Pengembangan Kapasitas BUMDes Dalam Mengelola Desa Wisata,” Jurnal Tata Sejuta STIA Mataram, 29 Feb. 2024. [Online]. Available: https://www.ejurnalstiamataram.ac.id/index.php/tatasejuta/article/download/619/182

[8] Inside Lombok, “Desa Wisata Senaru Masuk Nominasi Desa Wisata Dunia,” insidelombok.id, 2 Sep. 2025. [Online]. Available: https://insidelombok.id/lombok-utara/desa-wisata-senaru-masuk-nominasi-desa-wisata-dunia/

Desa Wisata Kubu Gadang Padang Panjang Bangun Pariwisata Berbasis Masyarakat dan Tingkatkan Kesejahteraan Warga

Desa Wisata Kubu Gadang Padang Panjang Bangun Pariwisata Berbasis Masyarakat dan Tingkatkan Kesejahteraan Warga

Ringkasan Inovasi

Desa Wisata Kubu Gadang mengembangkan pariwisata inovatif berbasis masyarakat yang memadukan pesona agrowisata, pelestarian budaya Minangkabau, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Inovasi ini mengubah wajah perkampungan menjadi destinasi wisata mandiri yang menawarkan pengalaman hidup seperti warga lokal melalui paket menginap di rumah penduduk [1]. Warga tidak lagi menjadi penonton, melainkan pelaku utama yang mengelola sendiri potensi alam dan budaya mereka.

Tujuan utama gerakan ini adalah menghidupkan kembali tradisi leluhur sekaligus membuka sumber pendapatan baru yang menjanjikan bagi ekonomi keluarga. Inovasi ini terbukti berdampak luar biasa dalam menciptakan lapangan pekerjaan baru yang mampu menahan laju urbanisasi pemuda [2]. Kebanggaan masyarakat terhadap warisan adat juga kembali menguat berkat apresiasi positif dari para wisatawan asing maupun domestik.

Latar Belakang

Kota Padang Panjang terkenal memiliki keindahan lanskap pegunungan yang sangat memukau mata dengan hamparan sawah nan hijau. Laju pembangunan kota yang kian pesat perlahan mulai mengancam keberadaan lahan pertanian yang menjadi penopang hidup warga setempat [3]. Modernisasi juga memicu memudarnya minat generasi muda terhadap berbagai bentuk kesenian tradisional warisan leluhur mereka.

Pemuda setempat lebih tertarik mengadu nasib di perantauan ketimbang harus bergumul dengan lumpur sawah atau mempelajari gerakan silat yang dianggap kuno. Kondisi ini melahirkan kegelisahan mendalam di kalangan tokoh adat yang tak ingin melihat desa mereka kehilangan jati dirinya [2]. Kebutuhan akan wadah ekonomi kreatif yang mampu merangkul seluruh potensi masyarakat menjadi hal yang sangat mendesak.

Yuliza Zen sebagai penggerak lokal menangkap peluang emas dari keasrian alam desanya yang berlatar kemegahan Gunung Marapi. Beliau menyadari bahwa kesederhanaan hidup ala perdesaan justru memiliki nilai jual yang amat tinggi bagi warga perkotaan yang lelah dengan rutinitas. Visi besarnya adalah menyulap desa kelahirannya menjadi halaman kampung yang nyaman bagi siapapun yang berkunjung [1].

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi utama desa ini terletak pada kemasan komodifikasi tradisi Minangkabau yang disajikan dengan penuh perhitungan tanpa menghilangkan esensi aslinya. Atraksi andalannya adalah Silek Lanyah, sebuah pertunjukan seni bela diri tua yang secara kreatif dipentaskan di tengah kubangan lumpur persawahan [2]. Daya tarik lainnya berupa paket wisata yang mengajak tamu merasakan sensasi mencicipi kuliner lokal hingga belajar menanam padi turun-temurun.

Pengelola juga memperkenalkan pengalaman menginap otentik dengan cara menyulap kamar-kambar kosong di rumah warga menjadi penginapan yang sangat nyaman. Tuan rumah dilatih secara khusus untuk menyambut tamu bagaikan keluarga sendiri sehingga tercipta ikatan emosional yang kuat antara pengunjung dan warga [4]. Pendekatan hangat ini sukses menciptakan tren pariwisata yang bertumpu pada kedekatan sosial dan pengalaman personal.

Proses Penerapan Inovasi

Gerakan perombakan desa bermula dari pengorganisasian modal sosial masyarakat yang dilakukan secara swadaya murni dan gotong royong [3]. Yuliza dan para pemuda gigih merangkul para tetua adat guna meminta restu menjadikan pelestarian budaya sebagai daya pikat wisata komersial. Pendekatan persuasif ini membuahkan hasil manis ketika seorang maestro Silek setuju melatih para pemuda untuk tampil di depan turis [2].

Langkah berikutnya berfokus pada penyempurnaan kualitas layanan dengan mendorong seluruh penginapan rumahan agar segera tersertifikasi sesuai standar kesehatan nasional [2]. Proses mematangkan standar kebersihan ini sempat menemui kendala karena minimnya pemahaman warga mengenai pentingnya penerapan protokol higienitas yang ketat. Berbekal pendampingan rutin dari pakar pariwisata, para warga akhirnya berhasil memperbaiki standar penyajian makanan dan kebersihan fasilitas penginapan [5].

Pengelola desa kemudian menggagas pembuatan pasar kuliner tradisional mingguan yang menyajikan hidangan lezat dengan nuansa pasar kuno. Pedagang diwajibkan memakai busana warisan leluhur sembari menggunakan peralatan makan tradisional untuk menghadirkan kembali romansa suasana zaman lampau. Panggung pertunjukan seni drama randai juga rutin dihidupkan untuk menyelipkan pesan moral yang mendidik kepada setiap penonton yang hadir.

Faktor Penentu Keberhasilan

Kunci keberhasilan paling nyata berasal dari komitmen kuat tokoh masyarakat yang secara gigih terus mengawal roda penggerak wisata secara konsisten. Keberadaan sosok pelopor yang visioner terbukti ampuh menyuntikkan semangat kerja sama di antara penduduk yang memiliki latar belakang berbeda [1]. Kesabaran dalam merajut jalinan persaudaraan warga berhasil menyingkirkan keegoisan personal demi kemajuan kampung halaman mereka secara kolektif.

Keterlibatan kalangan akademisi yang aktif memberikan sumbangsih pemikiran berharga memegang peranan vital dalam mempertajam strategi pemasaran wisata secara digital [3]. Para dosen dan mahasiswa sering turun langsung membimbing warga dalam memanfaatkan kecanggihan sosial media untuk menarik calon pengunjung potensial. Kerjasama harmonis tiga pilar yang melibatkan warga, akademisi, dan dinas pariwisata sukses menciptakan fondasi bisnis pengelolaan wisata yang sangat tangguh [4].

Hasil dan Dampak Inovasi

Lahirnya desa wisata berdampak luar biasa bagi lonjakan pendapatan asli penduduk dari sektor pengelolaan penginapan, penyewaan fasilitas, dan kuliner tradisional. Total pemasukan kas desa wisata mencapai lebih dari dua ratus juta rupiah per tahun dari berbagai paket kegiatan yang sukses diselenggarakan [6]. Roda perekonomian usaha kecil dan menengah kembali berdenyut kencang seiring tingginya antusiasme belanja dari para pendatang baru.

Raihan piala penghargaan sebagai desa wisata paling unggul sedaratan Sumatera Barat mengukuhkan nama Kubu Gadang di kancah persaingan pariwisata berskala nasional. Prestasi membanggakan ini berhasil menyulap kampung kecil yang dahulu sangat sepi menjadi magnet kuat yang menarik penyelenggaraan ajang perhelatan seni taraf internasional.

Keberhasilan program juga terasa pada ranah pembentukan karakter kawula muda yang kini semakin gemar mempelajari kembali nilai luhur budayanya. Jumlah anak yang berlatih ilmu bela diri tradisional meningkat drastis seiring banyaknya peminat asing yang mengabadikan pertunjukan mereka melalui lensa kamera [2].

Tantangan dan Kendala

Ketidaksiapan warga dalam menyambut arus kedatangan pengunjung pada musim liburan awal sempat memunculkan keluhan mengenai kualitas pelayanan yang terkesan lambat. Minimnya pendanaan operasional dalam memperbaiki kondisi sarana jalan dan menambah pembangunan anjungan rekreasi juga pernah menghambat pengembangan potensi desa [3]. Persoalan teknis ini memaksa pengelola untuk bekerja lebih ekstra demi memastikan kelancaran seluruh rangkaian jadwal kegiatan secara profesional.

Pandemi panjang yang melanda belahan bumi menyisakan tantangan terberat karena meruntuhkan sektor periwisata desa menuju titik mati selama beberapa tahun beruntun [7]. Kekosongan omzet finansial memaksa sebagian perintis wisata harus kembali turun ke lahan pertanian demi menyambung denyut kehidupan rumahtangga. Kendala terjal ini akhirnya mampu teratasi berkat peluncuran paket program pelesiran yang dirancang khusus menyesuaikan kebutuhan pasar wisatawan masa kini.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Pendirian badan usaha berbentuk koperasi syariah secara sah menjamin kelancaran sistem pembiayaan pembangunan infrastruktur pariwisata yang bertumpu pada permodalan milik warga [4]. Kelembagaan mandiri ini bertugas menghimpun dana investasi sekaligus membagikan hasil keutungan secara transparan agar kesejahteraan dapat terdistribusi tanpa ketimpangan sosial. Pengelola wisata berkomitmen mendampingi kemitraan secara intensif dengan agen travel bergengsi demi mempertahankan laju jumlah pengunjung di berbagai bulan berjalan [5].

Kegiatan peremajaan fasilitas pelayanan dan penguatan pemahaman kebahasaan terus digalakkan melalui pengadaan kursus tata graha bagi para perempuan penjaja homestay. Kaderisasi secara estafet disiapkan oleh para sesepuh kepada bibit muda potensial untuk menjamin pewarisan nilai kesenian yang tak bakal tergerus perubahan zaman. Pemimpin gerakan tak pernah lelah memotivasi anak cucu untuk melanjutkan perjuangan mengibarkan nama baik desa hingga diakui oleh dunia [2].

Kontribusi Pencapaian SDGs

Pengembangan industri pariwisata ini memperlihatkan sinergi sempurna antara pertumbuhan laju keuntungan finansial dengan gerakan pemeliharaan warisan leluhur di tanah Minang. Transformasi perkampungan ini membuktikan bahwa pemanfaatan aset lokal secara cerdas mampu memberikan imbal balik positif bagi peningkatan martabat kehidupan kelompok marginal [8]. Berikut ini adalah rincian seluk beluk peran desa dalam menyukseskan perwujudan program pembenahan kesejahteraan pada kerangka sasaran dunia berkelanjutan.

No SDGs Penjelasan
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Kehadiran fasilitas penginapan lokal dan pasar kuliner mengerek perekonomian desa sembari menyediakan peluang karir baru untuk pemuda yang berdomisili setempat.
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan Pemeliharaan kesenian Randai dan bela diri klasik mendukung perlindungan tradisi lokal dari ancaman kepunahan demi memastikan kebanggaan komunitas senantiasa terjaga.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Penetapan area agrowisata sukses mengamankan fungsi lahan persawahan sebagai penopang sistem tata air sekaligus mencegah degradasi lingkungan akibat pembangunan.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Sistem kepariwisataan komunal yang sangat terbuka ini sering dijadikan rujukan percontohan bagi delegasi perwakilan berbagai daerah di luar wilayah daratan Sumatera [4]. Kesederhanaan konsep pemasaran pariwisatanya sungguh memungkinkan untuk ditiru oleh pedesaan manapun yang mempunyai corak komoditi kekayaan budaya setempat yang masih terpelihara utuh. Banyak utusan pemerintah kabupaten antusias memberangkatkan warganya belajar secara langsung menuju tanah Kubu Gadang guna merekam kiat sukses pengelolaan aset wisata [1].

Rencana pelebaran sayap yang ditargetkan pengelola merangkul jalinan kolaborasi terintegrasi antar beberapa desa periwisata tetangga guna membentuk sebuah kawasan terpadu. Kolaborasi silang ini diharapkan bakal meracik sebuah jaringan penawaran yang saling melengkapi mulai dari sensasi kuliner hingga suguhan pelesiran edukatif berkualitas. Kesatuan gerakan yang kompak bakal menjadi lokomotif raksasa yang membangkitkan kejayaan nama daerah demi menarik puluhan ribu penggemar penjelajahan wisata nasional.

Daftar Pustaka

[1] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, “Desa Wisata Kubu Gadang – Kementerian Pariwisata,” jadesta.kemenpar.go.id, 31 Des. 2023. [Online]. Available: https://jadesta.kemenpar.go.id

[2] Pigijo, “Pariwisata Berbasis Masyarakat di Desa Wisata Kubu Gadang,” blog.pigijo.com, 3 Feb. 2022. [Online]. Available: https://blog.pigijo.com

[3] K. Baswir, “Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat Dalam Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan Pada Desa Wisata Kubu Gadang di Kota Padang Panjang,” S1 thesis, Universitas Andalas, 2025. [Online]. Available: http://scholar.unand.ac.id

[4] Projemen, “Strategi Manajemen Pariwisata Berbasis Masyarakat dalam upaya Pemberdayaan Ekonomi Lokal di Desa Wisata Kubu Gadang Provinsi Sumatera Barat,” ejournal-nipamof.id, 28 Mei 2025. [Online]. Available: https://ejournal-nipamof.id

[5] JIMPAR, “Peran Desa Wisata Kubu Gadang Dalam Mengintegrasikan Produk Kuliner Tradisional Padang Panjang,” jurnal.fe.unram.ac.id, 18 Des. 2025. [Online]. Available: https://jurnal.fe.unram.ac.id

[6] M. M. Irsal, “Pengaruh Pengembangan Pariwisata Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Desa Wisata Kubu Gadang Kota Padang Panjang – BAB V,” repository.uin-suska.ac.id. [Online]. Available: https://repository.uin-suska.ac.id

[7] UIN Mahmud Yunus Batusangkar, “Batusangkar International Conference V, October 12-13, 2020,” ejournal.uinmybatusangkar.ac.id. [Online]. Available: https://ejournal.uinmybatusangkar.ac.id

[8] M. M. Irsal, “Pengaruh Pengembangan Pariwisata Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Desa Wisata Kubu Gadang Kota Padang Panjang,” repository.uin-suska.ac.id. [Online]. Available: http://repository.uin-suska.ac.id

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.
Kampung Ugar Fakfak Kembangkan Ekowisata Bahari Berkelanjutan Untuk Bangkitkan Ekonomi Masyarakat Nelayan

Kampung Ugar Fakfak Kembangkan Ekowisata Bahari Berkelanjutan Untuk Bangkitkan Ekonomi Masyarakat Nelayan

Ringkasan Inovasi

Kampung Ugar di Kabupaten Fakfak berhasil meramu potensi wisata bahari dengan pesona sejarah peradaban Islam menjadi sebuah destinasi ekowisata berkelanjutan bertaraf nasional. Inovasi desa ini menyatukan panorama gugusan pulau karst karstik serupa Raja Ampat, wisata religi Masjid Tua Patimburak, serta kearifan lokal berupa tradisi memancing tanpa umpan ke dalam satu paket perjalanan wisata komplit [1]. Perpaduan ini membedakan Kampung Ugar dari destinasi wisata bahari lainnya di pesisir Papua Barat.

Pengembangan destinasi wisata ini bertujuan untuk mendongkrak perekonomian warga yang selama ini sangat bergantung pada hasil tangkapan laut sebagai nelayan tradisional. Dampak inovasi ini membuka banyak keran pendapatan baru dari layanan pemandu wisata, penjualan paket kuliner khas daerah, dan usaha kreatif pemuda setempat [2]. Inisiatif kolaborasi ini terbukti sukses membawa nama desa menyabet penghargaan pariwisata prestisius bergengsi tingkat nusantara.

Latar Belakang

Kabupaten Fakfak memiliki bentang alam kepulauan tropis yang sangat menakjubkan dengan ribuan potensi sejarah yang masih tersimpan rapat dari peradaban luar. Ratusan pulau kecil dengan tebing kapur menjulang tinggi selama berabad-abad hanya menjadi jalur lintasan perahu nelayan yang sedang mencari nafkah [1]. Penduduk lokal yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan seringkali mengalami paceklik ketika cuaca buruk melanda lautan bebas.

Selama ini minimnya infrastruktur dan rendahnya promosi membuat surga tersembunyi ini gagal menarik minat kunjungan turis domestik maupun mancanegara. Wisatawan hanya menjadikan wilayah ini sebagai lokasi persinggahan sementara sebelum mereka bertolak menuju destinasi populer lain di utara pulau Papua [3]. Kebutuhan akan adanya daya pikat unik yang mampu menahan wisatawan agar tinggal lebih lama menjadi pekerjaan rumah besar bagi masyarakat.

Pemerintah daerah melihat peluang emas untuk mengubah keterbelakangan ini melalui pemberdayaan potensi budaya dan alam yang sangat melimpah. Kemunculan tren pariwisata berbasis pelestarian alam pasca pandemi memberikan dorongan moral bagi pemuda desa untuk segera bangkit membenahi kampung halamannya [4]. Peluang meraup devisa dari kedatangan pengunjung tanpa harus merusak tatanan alam menjadi impian bersama seluruh warga Kampung Ugar.

Inovasi yang Diterapkan

Warga kampung menerapkan konsep tata kelola pariwisata terpadu yang memadukan petualangan pesisir dengan wisata spiritual dan pengalaman budaya lokal autentik. Inovasi ini bertumpu pada penyajian kearifan lokal turun-temurun yakni kemampuan warga memancing ikan di laut lepas tanpa menggunakan umpan apapun. Pengalaman unik yang mustahil ditemukan di belahan bumi manapun ini kemudian dibungkus apik menjadi paket atraksi utama bagi para tamu.

Penyajian inovasi ini disempurnakan dengan penataan rute petualangan menyusuri lorong gua purba hingga kunjungan ke situs lukisan dinding zaman prasejarah [1]. Kelompok ibu rumah tangga mengambil peran krusial dengan menyajikan hidangan ikan kakap kuah kuning dan nasi kelapa bakar sebagai suguhan wajib wisatawan [2]. Sistem pengorganisasian kelompok masyarakat ini menjamin seluruh rantai pasok ekonomi pariwisata murni dikelola dan dinikmati langsung oleh penduduk asli.

Proses Penerapan Inovasi

Langkah awal pergerakan ini dimotori oleh sekumpulan pemuda desa yang secara swadaya membersihkan area pesisir dari timbunan sampah plastik kiriman lautan. Para relawan muda ini kemudian menggandeng jejaring nelayan pesisir untuk menyepakati standar pelayanan operasional perahu angkutan yang menjamin keselamatan para penumpang [5]. Proses penyamaan visi ini memakan waktu cukup panjang karena sebagian warga masih ragu terhadap janji keuntungan finansial sektor pariwisata.

Setelah landasan operasional masyarakat kuat terbentuk, kelompok penggerak desa langsung meluncurkan kampanye promosi digital secara masif menggunakan berbagai platform media sosial kekinian [5]. Tim pemasar merilis penawaran perjalanan wisata tematik yang mencakup aktivitas menyelam santai, ekspedisi gua vertikal, serta perayaan penyambutan tari Sawat dan Gaba-Gaba. Beberapa agen perjalanan wisata sempat menolak tawaran kerja sama karena kendala akses transportasi, namun kegigihan pemuda desa akhirnya meluluhkan hati para pemangku kepentingan.

Pengelola desa wisata lantas menggandeng pemerintah daerah untuk merevitalisasi fasilitas kebersihan dan toilet umum guna memenuhi kriteria kelayakan kebersihan tingkat dunia. Proses pendampingan intensif dari pakar pariwisata nasional terbukti sangat membantu warga dalam menyempurnakan manajemen pengelolaan tata graha pondok inap penduduk lokal [6].

Faktor Penentu Keberhasilan

Kolaborasi solid antara barisan tokoh adat, pemuka agama, dan pemuda inspiratif menjadi nyawa utama yang menggerakkan seluruh lini kehidupan pariwisata desa. Tetua adat sangat bijak dalam membuka ruang bagi kaum muda untuk berkreasi mempromosikan kampung halaman mereka menggunakan teknologi digital masa kini [5]. Perpaduan harmonis antara penghormatan terhadap kearifan masa lalu dan penguasaan sarana promosi modern menjadi kekuatan yang tidak tertandingi.

Dukungan mutlak dari kementerian terkait bersama bupati daerah setempat memberikan dorongan percepatan pembenahan sarana prasarana yang tidak mampu dibiayai dana desa [3]. Komitmen pihak swasta nasional yang sukarela turun gelanggang mendidik kapasitas tata kelola pelaku usaha kecil sukses mendongkrak kualitas penyajian cendera mata daerah [6].

Hasil dan Dampak Inovasi

Keunikan konsep destinasi desa wisata ini berhasil meloloskan nama Kampung Ugar menerobos ketatnya persaingan menuju lima puluh besar Anugerah Desa Wisata Indonesia [1]. Prestasi gemilang ini memicu lonjakan pesat jumlah pesanan paket liburan dari rombongan penjelajah alam yang haus akan pengalaman eksotis wilayah Indonesia timur.

Dampak ekonomi sangat terasa melalui penciptaan lapangan mata pencaharian alternatif bagi para pencari ikan ketika gelombang pasang sedang meninggi melanda perairan. Pendapatan tunai masyarakat meningkat hingga dua kali lipat berkat bisnis penjualan kudapan lezat hasil olahan rempah bumi seperti sirup buah pala [2]. Perputaran uang segar ini langsung memperbaiki daya beli keluarga nelayan yang dulunya sering hidup berada di bawah garis keprihatinan finansial.

Kebanggaan menjadi pewaris kebudayaan bahari luhur kembali tumbuh subur menancap kuat pada sanubari para pemuda pesisir Fakfak. Warga kini memandang laut bukan hanya sebagai lahan pengerukan ikan semata, melainkan halaman rumah indah yang harus terus dijaga keasriannya secara gotong royong.

Tantangan dan Kendala

Minimnya ketersediaan sarana pendukung pelesiran bertaraf modern seperti koneksi internet dan transportasi umum reguler menjadi rintangan paling menguras tenaga pengelola [3]. Keterbatasan akses ini sering memaksa rombongan tamu harus menyewa armada kapal bermesin ganda dengan harga carter yang cukup menguras isi kantong. Kondisi mahalnya biaya logistik ini sempat memengaruhi panjang pendeknya durasi masa inap wisawatan yang menyinggahi permukiman mereka.

Ego sektoral kewenangan antar lembaga birokrasi daerah juga sesekali memperlambat laju pencairan dana bantuan pengembangan destinasi unggulan rintisan pemuda desa [3]. Hambatan administratif ini mengharuskan aparat kampung pandai memutar otak menyusun strategi pendanaan silang agar agenda promosi kebudayaan tahunan tidak berhenti bergulir.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Pengurus pariwisata desa mengikat perjanjian kerja sama binaan jangka panjang dengan salah satu perusahaan konglomerasi nasional melalui skema tanggung jawab sosial [6]. Pembinaan profesional berkesinambungan ini mencakup perbaikan tata laksana keuangan lembaga ekonomi desa serta perancangan corak kemasan produk kerajinan tangan kelas premium.

Pemerintah daerah mengesahkan peraturan khusus yang menjamin perlindungan konservasi terumbu karang di sekitar area zona penangkapan ikan tradisional masyarakat Ugar [6]. Pemimpin wilayah terus mendorong kaderisasi pemandu penjelajahan alam bersertifikat yang fasih menuturkan bahasa asing guna menjaring pangsa pelancong mancanegara pada masa depan.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Kebangkitan pesona pariwisata Kampung Ugar merupakan contoh sempurna pelaksanaan mandat global dalam memberantas kemiskinan masyarakat pesisir kepulauan tanpa mengeksploitasi kekayaan laut. Keberhasilan desa ini menekan angka pengangguran pemuda usia produktif telah berkontribusi besar mengangkat taraf kesejahteraan wilayah Indonesia timur yang tertinggal [4]. Perincian pencapaian sasaran mulia yang ditorehkan warga desa ini dapat diamati melalui paparan tabel pencapaian berikut.

No SDGs Penjelasan
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pembukaan rute ekowisata baru menciptakan lapangan pekerjaan memadai bagi pemuda pesisir sebagai pemandu selam dan penyedia jasa kuliner kelautan.
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan Pelestarian peninggalan situs prasejarah tebing karst dan Masjid Tua Patimburak memperkuat landasan identitas perlindungan warisan budaya kawasan permukiman pesisir.
SDGs 14: Ekosistem Lautan Promosi kearifan memancing ikan tanpa umpan sukses mengkampanyekan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang dari ancaman praktik penangkapan ikan merusak.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Sistem pengemasan wisata tematik berbasis tradisi unik memancing ini sangat mudah disalin oleh berbagai komunitas nelayan di wilayah pesisir lainnya nusantara. Desa nelayan tetangga bisa meniru cara kampung ini menata rute perjalanan yang mengombinasikan kekuatan panorama bahari dan sejarah peninggalan peradaban masa lampau [1]. Pendekatan promosi sosial media berbasis komunitas relawan muda juga terbukti efektif menembus pasar nasional dengan ongkos biaya terjangkau [5].

Kepala daerah berkomitmen menerbitkan buku panduan tata kelola ekowisata kepulauan dengan menjadikan kisah perjuangan Kampung Ugar sebagai prototipe model utamanya [4]. Rencana besar integrasi jaringan pulau wisata diharapkan mampu menyedot investasi penambahan armada perintis sehingga biaya kunjungan antar atol karang menjadi lebih ramah kantong.

Daftar Pustaka

[1] Sinar Harapan, “Kampung Ugar, Desa Wisata Bahari dan Sejarah,” sinarharapan.net, 12 Okt. 2022. [Online]. Available: https://www.sinarharapan.net

[2] Antara News, “Sandi bilang Desa Wisata Ugar di Fafak miliki ekowisata berkelanjutan,” antaranews.com, 13 Okt. 2022. [Online]. Available: https://www.antaranews.com

[3] Destinasi Digital, “Kemenparekraf Apresiasi Komitmen Bupati Fakfak Menetapkan Fakfak Sebagai Kabupaten Pariwisata,” destinasidigital.com. [Online]. Available: https://destinasidigital.com

[4] Bappeda Kabupaten Fakfak, “Perencanaan Kawasan Destinasi Wisata Pulau Ugar,” id.scribd.com, 15 Mei 2025. [Online]. Available: https://id.scribd.com

[5] Kumparan News, “Papua Muda Inspiratif Promosikan Desa Wisata di Fakfak, Pantainya Begitu Indah,” kumparan.com, 25 Sep. 2022. [Online]. Available: https://kumparan.com

[6] Antara News Papua Tengah, “Swasta nasional akan dampingi desa wisata Ugar Fakfak,” papuatengah.antaranews.com, 14 Okt. 2022. [Online]. Available: https://papuatengah.antaranews.com

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.
Desa Sanankerto Bangun PLTMH Boon Pring dan Wujudkan Ekowisata Mandiri Energi Berbasis Bambu

Desa Sanankerto Bangun PLTMH Boon Pring dan Wujudkan Ekowisata Mandiri Energi Berbasis Bambu

Ringkasan Inovasi

Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di kawasan Ekowisata Boon Pring Andeman sebagai langkah nyata menuju desa mandiri energi terbarukan. PLTMH ini memanfaatkan debit air Sumber Andeman sebesar 0,50 m³ per detik untuk menghasilkan 5.000 volt listrik yang memasok 66 kios PKL dan 25 titik lampu penerangan jalan di kawasan wisata. [1]

Dibangun sejak 2018 dengan dana CSR BNI sebesar Rp348–465 juta dan diresmikan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Maret 2020, inovasi ini membuktikan bahwa desa wisata dapat mengelola energinya sendiri dari potensi alam lokal tanpa emisi karbon. [2] Pada 2019, Ekowisata Boon Pring meraih penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Awards (ISTA) kategori Pemanfaatan Ekonomi untuk Masyarakat Lokal — Green Bronze — dari Kementerian Pariwisata RI, sebuah pengakuan nasional atas model desa wisata yang menempatkan keberlanjutan sebagai inti pengelolaannya. [3]

Latar Belakang

Ekowisata Boon Pring Andeman tumbuh menjadi destinasi unggulan Kabupaten Malang berkat kekayaan 65 jenis bambu dan telaga alami yang memukau pengunjung dari berbagai daerah. Namun seiring pertumbuhan jumlah pengunjung, kebutuhan energi listrik kawasan wisata — untuk penerangan kios PKL, fasilitas umum, dan penunjang paket wisata malam — meningkat pesat dan belum terpenuhi secara mandiri. [1]

Ketergantungan penuh pada pasokan listrik PLN membatasi potensi wisata malam dan menambah biaya operasional kawasan secara signifikan. Desa Sanankerto menyimpan potensi alam yang belum dimanfaatkan: debit air Sumber Andeman yang stabil sepanjang tahun sangat ideal dikonversi menjadi listrik melalui teknologi mikrohidro tanpa emisi dan tanpa biaya bahan bakar. [1][5]

Di tingkat yang lebih luas, teknologi PLTMH diakui sebagai solusi energi terbarukan yang paling relevan bagi desa-desa yang memiliki aliran sungai dengan debit air kontinu, menawarkan keandalan tinggi, biaya operasional rendah, dan dampak lingkungan yang minimal dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil. [5] Desa Sanankerto melihat peluang ini dan mengambil langkah berani untuk menjadi pelopor model desa wisata mandiri energi terbarukan di Kabupaten Malang — menggabungkan misi lingkungan dengan misi ekonomi dalam satu infrastruktur. [6]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pembangunan PLTMH yang terintegrasi langsung dengan pengelolaan Ekowisata Boon Pring, menjadikan sumber energi dan sumber daya alam sebagai satu ekosistem yang saling menghidupi. PLTMH ini bekerja dengan memanfaatkan debit air 0,50 m³ per detik dari Sumber Andeman yang dialirkan melalui saluran penstock untuk memutar turbin, menghasilkan listrik 5.000 volt yang menyalakan 66 kios PKL dan 25 titik lampu penerangan jalan di kawasan wisata. [1][8]

Turbin yang digunakan merupakan rancangan khusus tim teknis UMM yang disesuaikan dengan karakteristik debit dan topografi spesifik lokasi Sumber Andeman — bukan sekadar memasang turbin standar dari katalog pabrikan. [6] Selain sebagai sumber listrik kawasan wisata, PLTMH ini sekaligus mengalirkan air bersih ke dusun di atas kawasan — dusun yang direncanakan berkembang menjadi area wisata petik buah, sehingga satu infrastruktur melayani dua fungsi sekaligus: energi listrik dan pasokan air bersih. [6]

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai dengan survei teknis mendalam oleh Tim UMM yang dipimpin Suwignyo untuk mengukur debit air andalan, beda ketinggian (head), dan potensi daya listrik Sumber Andeman secara akurat. Peletakan batu pertama pada 2018 dihadiri Rektor UMM Dr. Fauzan, Wakil Bupati Malang Sanusi, Head BNI Wilayah Malang Ali Suasono, dan Kepala Desa Subur — sebuah momen yang menegaskan komitmen kolaborasi tiga pihak yang tidak sekadar simbolis. [1]

Pembangunan fisik berlangsung hampir dua tahun sebelum PLTMH diresmikan secara penuh pada Maret 2020. Sepanjang masa konstruksi, tim teknis UMM tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga melatih operator teknis lokal dari warga Desa Sanankerto agar sistem dapat dioperasikan dan dipelihara secara mandiri tanpa bergantung pada teknisi luar. [2]

Proses ini menemui tantangan teknis nyata: pemilihan jenis turbin yang tepat sesuai karakteristik aliran Sumber Andeman membutuhkan waktu pengujian lebih panjang dari jadwal awal karena variasi debit musiman yang perlu diperhitungkan secara cermat. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bahwa desain PLTMH harus selalu berangkat dari data hidrologi spesifik lokasi — bukan dari spesifikasi standar yang tersedia di katalog pabrikan — agar daya yang dihasilkan optimal dan stabil sepanjang tahun. [7][10]

Faktor Penentu Keberhasilan

Kolaborasi tiga pilar — pemerintah desa, akademisi (UMM), dan sektor korporasi (BNI melalui program CSR) — menjadi faktor paling kritikal yang membedakan PLTMH Boon Pring dari proyek energi desa yang gagal di tempat lain. Tanpa pendanaan CSR BNI senilai ratusan juta rupiah, modal infrastruktur tidak ada; tanpa keahlian teknis UMM, tidak ada kapasitas merancang turbin yang tepat; dan tanpa visi kepemimpinan Kepala Desa Subur yang berani, tidak ada inisiatif yang menggerakkan kolaborasi ini dari nol. [6]

Faktor kedua adalah kapasitas manajerial BUMDes Kertoraharjo yang sudah berpengalaman mengelola Ekowisata Boon Pring sebelum PLTMH dibangun. BUMDes memiliki sistem keuangan yang cukup sehat dan SDM pengelola yang terbiasa merawat aset wisata, sehingga PLTMH tidak menjadi beban baru melainkan bagian organik dari operasional wisata yang sudah berjalan. [2][9]

Hasil dan Dampak Inovasi

Secara teknis, PLTMH Boon Pring menyuplai listrik 5.000 volt untuk 66 unit kios PKL dan 25 lampu jalan di kawasan wisata Andeman Boon Pring — seluruhnya dari energi terbarukan nol emisi karbon. [8] Keandalan pasokan listrik mandiri ini membuka peluang pengembangan paket wisata malam yang sebelumnya mustahil dilaksanakan, memperpanjang jam operasional kawasan dan meningkatkan pendapatan pengelola serta pedagang PKL secara signifikan. [1]

Dampak ekonomi langsung dirasakan oleh 66 pedagang kios yang kini menikmati pasokan listrik tanpa biaya dari PLN, sehingga biaya operasional harian mereka berkurang dan margin keuntungan meningkat. Ekosistem bisnis kawasan wisata yang lebih lengkap — dari kios kuliner, penyewa wahana, hingga penginapan — ikut terangkat oleh ketersediaan energi mandiri yang andal dan berkelanjutan. [9]

Pada tingkat pengakuan, Ekowisata Boon Pring meraih ISTA 2019 Green Bronze dari Kementerian Pariwisata dan penghargaan The 5th ASEAN Rural Development and Poverty Eradication Leadership Award yang menempatkan Desa Sanankerto di peta inovasi desa tingkat ASEAN. [3][9] Dua penghargaan dari dua level yang berbeda ini membuktikan bahwa inovasi PLTMH Boon Pring bukan hanya berhasil secara teknis, tetapi juga menjadi model pembangunan desa yang menginspirasi secara regional. [3]

Tantangan dan Kendala

Tantangan teknis utama adalah menjaga konsistensi pasokan listrik saat musim kemarau panjang menurunkan debit Sumber Andeman secara signifikan. Fluktuasi debit musiman berpotensi mengurangi kapasitas produksi listrik PLTMH secara drastis, sehingga pengelola perlu memiliki rencana cadangan pasokan energi — misalnya panel surya atau generator cadangan — untuk menjamin keberlangsungan operasional kawasan wisata sepanjang tahun. [10]

Tantangan kedua adalah kesinambungan kapasitas teknis operator lokal yang sudah dilatih UMM. Tanpa jadwal pelatihan ulang dan pembaruan kompetensi teknis secara berkala, kemampuan operator dalam menangani kerusakan turbin dan sistem kelistrikan berpotensi melemah seiring waktu. Ketergantungan pada mitra akademisi untuk pemeliharaan lanjutan harus diimbangi dengan upaya internalisasi keahlian ke dalam SDM lokal yang benar-benar mandiri. [2]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan PLTMH ditopang oleh tiga mekanisme yang saling mengunci. BUMDes Kertoraharjo mengalokasikan dana perawatan dari pendapatan Ekowisata Boon Pring setiap tahun sebagai jaminan operasional mesin yang konsisten. Kemitraan teknis jangka panjang dengan UMM memastikan akses ke dukungan engineering kapan pun dibutuhkan, tanpa harus memulai proses negosiasi kemitraan dari nol. [6]

Integrasi PLTMH dengan pengembangan wisata malam dan agrowisata petik buah di dusun atas menciptakan spiral pertumbuhan positif: semakin berkembang ekowisata Boon Pring, semakin besar kebutuhan listriknya, dan semakin besar insentif untuk merawat serta meningkatkan kapasitas PLTMH. [6] Dalam jangka panjang, pengembangan sistem PLTMH on-grid yang memungkinkan desa menjual kelebihan listrik ke jaringan nasional membuka potensi sumber pendapatan desa baru yang lebih besar dari sekadar penghematan biaya operasional. [7]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Desa Sanankerto membuktikan bahwa satu inovasi infrastruktur berbasis energi terbarukan dapat secara bersamaan mendorong pencapaian beberapa tujuan SDGs yang berbeda — dari energi bersih, ekonomi lokal, hingga lingkungan hidup dan kemitraan kelembagaan. [8] Model ini menjadi argumen empiris bahwa pendekatan terpadu, di mana satu investasi infrastruktur melayani banyak tujuan sekaligus, jauh lebih efisien dan berdampak luas dibanding intervensi sektoral yang terpisah-pisah. [3]

No SDGs Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Listrik mandiri dari PLTMH memangkas biaya operasional 66 pedagang kios PKL secara langsung, meningkatkan margin usaha mereka dan membuka peluang kerja baru dari perluasan paket wisata malam yang sebelumnya tidak bisa dijalankan.
SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau PLTMH Boon Pring mengkonversi debit air Sumber Andeman menjadi 5.000 volt listrik terbarukan tanpa emisi karbon, menjadikan kawasan wisata Boon Pring sebagai salah satu destinasi yang sepenuhnya merdeka dari ketergantungan energi fosil.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Ketersediaan energi mandiri memperkuat ekosistem usaha di kawasan Boon Pring — dari pedagang kuliner, penyewa wahana, pengelola penginapan, hingga operator teknis PLTMH — menciptakan lapangan kerja lokal yang bertumpu pada potensi alam desa sendiri.
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim Dengan menggunakan energi air sebagai pengganti listrik berbahan bakar fosil, PLTMH Boon Pring berkontribusi pada penurunan emisi karbon di tingkat desa, sekaligus mempertahankan hutan bambu yang berperan sebagai penyerap karbon alami dan penjaga debit mata air.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Pelestarian 65 jenis bambu di Boon Pring yang menjadi andalan daya tarik wisata sekaligus menjaga kelangsungan debit air Sumber Andeman sebagai bahan bakar PLTMH, menciptakan siklus konservasi yang saling menguntungkan antara ekosistem bambu dan infrastruktur energi desa.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Model kolaborasi tiga pihak antara Pemerintah Desa Sanankerto, Universitas Muhammadiyah Malang, dan BNI melalui CSR membangun template kemitraan desa-akademisi-korporasi yang terukur dan dapat direplikasi oleh desa-desa lain di seluruh Indonesia.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model PLTMH Sanankerto paling relevan direplikasi di desa-desa wisata yang memiliki aliran air dengan debit kontinu sepanjang tahun — terutama di kawasan hulu sungai Jawa Timur, Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara yang kaya sumber air namun belum memanfaatkannya untuk energi lokal. [5] Mekanisme replikasinya sudah terbukti: desa yang berminat disurvei tim teknis UMM atau perguruan tinggi setara lainnya untuk menilai potensi hidrologi lokal, lalu pembangunan dibiayai melalui CSR BUMN atau dana desa dengan skema yang terstandar. [6]

Untuk scale up, Desa Sanankerto secara aktif berbagi pengalaman melalui kunjungan studi banding dari desa-desa se-Indonesia yang ingin membangun energi mandiri berbasis wisata. [9] Pengembangan sistem PLTMH generasi berikutnya berbasis smart grid yang memungkinkan desa menjual kelebihan listrik ke jaringan PLN dapat menjadi lompatan berikutnya — mengubah desa dari sekadar konsumen energi mandiri menjadi produsen energi bersih yang berkontribusi pada jaringan listrik nasional. [7]

Daftar Pustaka

[1] Antara Jatim, “Eco Wisata Boonpring Malang Miliki PLTMH,” ANTARA News Jawa Timur, 22 Apr. 2019. [Online]. Available: https://jatim.antaranews.com/berita/291303/eco-wisata-boonpring-malang-miliki-pltmh

[2] Republika, “UMM Resmikan PLTMH di Kawasan Wisata Boon Pring,” Republika.co.id, 2 Mar. 2020. [Online]. Available: https://republika.co.id/berita/pendidikan/universitas-muhammadiyah-malang/20/03/02/q6jslc368-umm-resmikan-pltmh-di-kawasan-wisata-boon-pring

[3] TravelPlus Indonesia, “Inilah 18 Destinasi Peraih ISTA 2019,” TravelPlus Indonesia Blog, 26 Sep. 2019. [Online]. Available: http://travelplusindonesia.blogspot.com/2019/09/inilah-18-destinasi-peraih-ista-2019.html

[4] IDN Times Jatim, “Kembangkan Ekowisata Terpadu, UMM Bangun PLTMH di Boonpring,” IDN Times, 1 Mar. 2020. [Online]. Available: https://jatim.idntimes.com/news/jawa-timur/kembangkan-ekowisata-terpadu-umm-bangun-pltmh-di-boonpring-00-db9b5-cvcwwm

[5] T. M. Sitompul et al., “Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH),” TEKTRO — Jurnal Politeknik Negeri Lhokseumawe, 2023. [Online]. Available: https://e-jurnal.pnl.ac.id/TEKTRO/article/download/5670/4003

[6] IDN Times Jatim, “Kembangkan Ekowisata Terpadu, UMM Bangun PLTMH di Boonpring,” IDN Times, 1 Mar. 2020. [Online]. Available: https://jatim.idntimes.com/news/jawa-timur/kembangkan-ekowisata-terpadu-umm-bangun-pltmh-di-boonpring-00-db9b5-cvcwwm

[7] R. Ramadhan et al., “Rancang Bangun PLTMH Skala Kecil dengan Sistem On-Grid,” Kapalamada — Azramedia Indonesia, 2024. [Online]. Available: https://azramedia-indonesia.azramediaindonesia.com/index.php/Kapalamada/article/download/1432/1507/9940

[8] UMM Greenmetrics, “PLTMH Boon Pring,” UMM Waste — Greenmetrics, 28 Okt. 2021. [Online]. Available: https://ummwaste.umm.ac.id/index.php/detail-news/11379

[9] JatimPos, “Desa Wisata Kampiun Penggerak Kebangkitan Ekonomi,” Jatimpos.co, 2022. [Online]. Available: https://www.jatimpos.co/pariwisata/9921-desa-wisata-kampiun-penggerak-kebangkitan-ekonomi

[10] H. Sinaga et al., “Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air Berbasis Mikrohidro,” JITET — Jurnal Ilmiah Teknik Elektro dan Teknik Informatika, Universitas Lampung, 13 Jul. 2025. DOI: https://journal.eng.unila.ac.id/index.php/jitet/article/view/6810

BUMDes Pelangi Atoga Timur Boltim Bangun Wisata Sungai ARV Outbond dan Raih Penghargaan BUMDes Inovatif Nasional

BUMDes Pelangi Atoga Timur Boltim Bangun Wisata Sungai ARV Outbond dan Raih Penghargaan BUMDes Inovatif Nasional

Ringkasan Inovasi

BUMDes Pelangi, Desa Atoga Timur, Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara, membangun destinasi wisata alam sungai bertajuk Atoga River View (ARV) Outbond sejak 2018 — mengubah hamparan hijau dan aliran sungai desa yang sebelumnya tak bernilai ekonomi menjadi magnet wisata yang viral di media sosial nasional. [1] Inovasi ini lahir dari kesuksesan sebelumnya di bidang kerajinan tangan, kemudian berkembang menjadi wahana wisata petualangan alam lengkap dengan tujuh wahana unik yang menarik pengunjung dari dalam dan luar provinsi. [2]

Belum genap setahun beroperasi, ARV Outbond sudah menyumbang pendapatan asli desa di atas Rp300 juta dan menyerap lebih dari 60 tenaga kerja lokal — mengubah desa yang sebelumnya kehilangan pemuda ke kota menjadi destinasi yang membuat warganya betah dan bangga tinggal di kampung halaman. [3] Pada November 2019, BUMDes Pelangi menerima penghargaan Terbaik Kedua Nasional kategori BUMDes Inovatif dari Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar, sebuah pengakuan tertinggi atas kerja keras komunitas desa Boltim. [4]

Latar Belakang

Desa Atoga Timur di Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara, menyimpan kekayaan alam berupa aliran sungai jernih yang dikelilingi hamparan hijau perbukitan tropis — potensi yang selama bertahun-tahun hanya dinikmati warga sebagai pemandangan sehari-hari tanpa ada nilai ekonomi yang tercipta darinya. Tingkat pengangguran yang relatif tinggi dan minimnya lapangan kerja di desa mendorong pemuda-pemudi Atoga Timur untuk merantau ke kota, menguras modal manusia yang seharusnya menjadi energi pembangunan desa sendiri. [2]

Pendapatan asli desa bertumpu hampir sepenuhnya pada transfer Dana Desa dari pemerintah pusat, tanpa unit usaha produktif yang dapat menghasilkan pendapatan mandiri secara berkelanjutan. Ketiadaan sumber pendapatan alternatif membuat desa rentan terhadap perubahan kebijakan fiskal nasional dan tidak memiliki ruang gerak untuk membiayai program-program pembangunan di luar yang sudah ditetapkan dari pusat. [5]

Kesadaran bahwa alam desa adalah aset yang belum dioptimalkan mendorong BUMDes Pelangi dan Pemerintah Desa Atoga Timur untuk berpikir kreatif. Tren wisata alam dan ekowisata yang sedang tumbuh pesat di Indonesia menjadi peluang strategis yang terlalu sayang untuk dilewatkan — terutama karena sungai dan lanskap desa yang autentik justru menjadi daya tarik yang semakin langka di tengah menjamurnya wisata buatan di kota-kota besar. [1][6]

Inovasi yang Diterapkan

Pemerintah Desa Atoga Timur bersama BUMDes Pelangi merancang konsep Atoga River View (ARV) Outbond sebagai destinasi wisata petualangan yang memadukan keindahan alam sungai dengan tujuh wahana buatan yang unik dan estetis: Twin Zip Bike, Hot Air Balloon, Colorful Butterfly, Sun Flower Selfie, Crush Egg Selfie, Hammock on River, dan Bamboo Bridge. [2] Setiap wahana dirancang untuk menghadirkan pengalaman visual yang berbeda namun saling melengkapi, menciptakan ekosistem destinasi yang membuat pengunjung menghabiskan waktu lebih lama dan mendorong mereka untuk berbagi foto di media sosial secara organik. [3]

Inovasi ini tidak berdiri sendiri — ARV Outbond merupakan evolusi dari unit usaha pertama BUMDes Pelangi di bidang kerajinan tangan yang telah memberikan fondasi kapasitas manajerial dan kepercayaan komunitas sebelum desa berani masuk ke sektor pariwisata yang jauh lebih kompleks. [1] Cara kerja ekosistem inovasi ini bertumpu pada tiga pilar: pengelolaan wahana oleh tenaga kerja lokal terlatih, promosi digital agresif melalui media sosial yang memanfaatkan daya sebar konten visual wahana yang estetis, dan dukungan infrastruktur dari pemerintah desa berupa pembangunan jalan akses menuju lokasi ARV. [2]

Proses Penerapan Inovasi

BUMDes Pelangi memulai perjalanan inovasinya dari skala yang lebih kecil dan berisiko rendah: unit usaha kerajinan tangan yang memberikan pembelajaran tentang pengelolaan keuangan, manajemen SDM, dan pengembangan pasar di tingkat lokal. Kapasitas organisasi yang terbangun dari pengalaman mengelola kerajinan ini menjadi bekal mental dan manajerial yang tidak ternilai saat BUMDes memutuskan untuk masuk ke sektor pariwisata pada 2018. [1]

Pembangunan wahana ARV Outbond dilakukan secara bertahap dengan memadukan dana desa, swadaya masyarakat, dan reinvestasi laba dari unit usaha sebelumnya. Proses ini tidak selalu berjalan mulus: pembangunan Bamboo Bridge menghadapi kendala teknis akibat pemilihan material bambu yang kurang tahan terhadap fluktuasi debit air sungai, memaksa tim lapangan untuk belajar ulang teknik konstruksi bambu yang lebih tahan air dan lebih aman bagi pengunjung. [6]

Kegagalan teknis awal ini tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai laboratorium pembelajaran yang berharga. BUMDes kemudian membangun SOP konstruksi dan perawatan wahana berbasis alam yang lebih ketat, termasuk prosedur inspeksi rutin sebelum area dibuka setiap hari. Standar ini terbukti meningkatkan keamanan sekaligus memperpanjang usia operasional wahana secara signifikan. [5]

Faktor Penentu Keberhasilan

Sinergi nyata antara BUMDes Pelangi dan Pemerintah Desa Atoga Timur menjadi faktor paling kritis yang membedakan keberhasilan inovasi ini dari upaya serupa di desa lain. Wujud sinergi itu bukan sekadar dukungan verbal dari kepala desa, melainkan aksi nyata berupa program pembangunan fasilitas jalan masuk ke lokasi ARV Outbond yang menjamin aksesibilitas bagi wisatawan dari luar daerah. [2][4]

Faktor kedua yang tak kalah penting adalah strategi promosi digital organik yang memanfaatkan daya sebar konten visual di media sosial. Desain wahana yang secara sengaja dirancang untuk tampil estetis dan “instagrammable” — dari Hot Air Balloon yang berwarna-warni hingga Hammock on River yang menggoda untuk difoto — menciptakan mesin promosi gratis yang jauh lebih efektif dari iklan berbayar mana pun. [3] Viralitas organik inilah yang membawa pengunjung tidak hanya dari dalam Boltim, tetapi juga dari luar provinsi Sulawesi Utara. [2]

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak ekonomi yang paling mencengangkan adalah kecepatan capaiannya: belum genap setahun beroperasi, ARV Outbond sudah menghasilkan pendapatan asli desa di atas Rp300 juta dan menyerap lebih dari 60 tenaga kerja lokal dari berbagai latar belakang — dari operator wahana, pemandu wisata, penjual kuliner, hingga staf parkir dan keamanan. [3][2] Kecepatan dampak ini membuktikan bahwa sektor wisata berbasis aset alam lokal mampu memberikan hasil ekonomi jauh lebih cepat dibandingkan program pembangunan konvensional yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terasa manfaatnya. [6]

Dari sisi sosial, berkurangnya angka pengangguran dan terserapnya tenaga kerja lokal — khususnya pemuda — mengubah dinamika sosial desa secara fundamental. Warga muda yang sebelumnya melihat kota sebagai satu-satunya harapan kini menemukan alasan kuat untuk membangun masa depan di kampung sendiri. Rasa kebanggan komunal terhadap desa tumbuh beriringan dengan tumbuhnya pendapatan — sebuah dampak kualitatif yang tidak bisa diukur dalam angka tetapi dirasakan dalam keseharian warga. [1][5]

Pengakuan nasional datang pada 25 November 2019: Sangadi Kano Ngato menerima langsung penghargaan Terbaik Kedua Nasional kategori BUMDes Inovatif dari Menteri Desa Abdul Halim Iskandar dalam seremoni resmi Kementerian Desa PDTT. [4] Sebelum itu, BUMDes Pelangi juga masuk dalam daftar BUMDes yang bakal menerima penghargaan dari Presiden Joko Widodo — sebuah lompatan pengakuan dari skala kabupaten ke skala nasional yang memperluas jangkauan inspirasi inovasi ini ke seluruh Indonesia. [7]

Tantangan dan Kendala

Tantangan operasional terbesar yang dihadapi ARV Outbond adalah ketergantungan pada kondisi cuaca dan debit sungai yang berubah-ubah mengikuti musim. Ketika musim hujan tiba dan debit sungai meningkat drastis, beberapa wahana harus ditutup sementara demi keselamatan pengunjung — sebuah keputusan yang tepat secara etis namun berdampak langsung pada penurunan kunjungan dan pendapatan BUMDes pada periode tersebut. [6]

Tantangan kedua adalah keterbatasan kapasitas SDM lokal dalam standar manajemen pariwisata profesional — mulai dari pelayanan prima kepada wisatawan, manajemen keselamatan wahana, hingga pengelolaan keuangan BUMDes yang semakin kompleks seiring skala bisnis yang membesar. Investasi waktu dan anggaran untuk pelatihan SDM menjadi kewajiban yang tidak dapat ditunda jika kualitas destinasi ingin dipertahankan seiring bertumbuhnya popularitas. [5][1]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

BUMDes Pelangi menjaga keberlanjutan ARV Outbond melalui komitmen reinvestasi bertahap: sebagian pendapatan wisata disisihkan untuk dana peremajaan dan penambahan wahana secara berkala agar destinasi selalu memiliki daya tarik baru yang mendorong kunjungan berulang. [2] Strategi ini mencegah efek kejenuhan yang lazim menyerang destinasi wisata yang stagnan — di mana wisatawan merasa tidak ada alasan untuk kembali setelah sekali berkunjung. [6]

Kemitraan dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dan jaringan program inovasi desa nasional diperkuat secara aktif untuk mendapatkan dukungan pelatihan SDM dan akses promosi ke jaringan wisata yang lebih luas. Pengelolaan data kunjungan wisatawan sebagai dasar pengambilan keputusan strategis — wahana mana yang perlu ditingkatkan, segmen wisatawan mana yang perlu dijangkau lebih jauh — mulai diterapkan agar arah pengembangan ARV Outbond selalu berbasis bukti, bukan hanya intuisi. [5]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi ARV Outbond BUMDes Pelangi Desa Atoga Timur membuktikan bahwa desa di kawasan timur Indonesia pun mampu menerjemahkan SDGs dari dokumen global menjadi aksi nyata komunitas. Transformasi sungai dan alam desa menjadi destinasi wisata yang mengangkat ekonomi, menyerap tenaga kerja, dan membangun identitas lokal merupakan implementasi SDGs yang paling autentik karena bersumber dari inisiatif komunitas sendiri. [4][6]

No SDGs Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan ARV Outbond menciptakan sumber pendapatan asli desa di atas Rp300 juta yang membiayai program-program sosial dan pembangunan desa secara mandiri, mengurangi ketergantungan fiskal pada transfer Dana Desa dan memberikan penghasilan rutin kepada lebih dari 60 warga lokal yang bekerja di ekosistem wisata.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Wisata ARV Outbond menyerap lebih dari 60 tenaga kerja lokal sebagai operator wahana, pemandu wisata, staf kuliner, dan petugas keamanan — menciptakan lapangan kerja layak yang menghentikan arus urbanisasi pemuda dan membangun ekonomi desa yang tumbuh dari aset lokal secara mandiri.
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan Desa Atoga Timur di Boltim yang secara geografis terletak jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara berhasil membangun destinasi wisata berstandar nasional, membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang bermakna dapat terwujud dari kawasan perifer tanpa harus bergantung pada investasi dari pusat.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Pengembangan ARV Outbond yang memanfaatkan dan mempercantik lanskap sungai alami sebagai aset wisata mendorong pengelolaan permukiman desa yang lebih tertata, bersih, dan ramah bagi wisatawan — memperkuat kualitas permukiman desa sebagai tempat tinggal yang layak dan membanggakan bagi warganya.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Nilai ekonomi yang tercipta dari ekosistem sungai memberikan insentif kuat bagi warga untuk menjaga kebersihan dan kelestarian sungai sebagai aset utama destinasi wisata — menciptakan konservasi berbasis kepentingan ekonomi yang lebih efektif daripada regulasi larangan semata.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Sinergi BUMDes Pelangi dengan Pemerintah Desa Atoga Timur, Dinas Pariwisata Boltim, dan Kementerian Desa PDTT menciptakan model kemitraan desa-pemerintah daerah-pemerintah pusat yang efektif dan diakui secara nasional sebagai praktik terbaik pengembangan BUMDes berbasis wisata alam di kawasan Indonesia timur.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model ARV Outbond BUMDes Pelangi sangat relevan untuk direplikasi oleh desa-desa di seluruh Indonesia yang memiliki sungai, danau, air terjun, atau lanskap alam lain yang belum dioptimalkan sebagai aset ekonomi desa. Tiga elemen inti yang dapat ditransfer ke konteks desa lain adalah: pemetaan potensi alam lokal yang jujur dan kreatif, desain wahana wisata yang secara sengaja dibuat estetis untuk mendorong viralitas media sosial organik, dan sinergi nyata antara BUMDes dengan pemerintah desa dalam penyediaan infrastruktur pendukung. [2][6]

BUMDes Pelangi Atoga Timur sudah beberapa kali menjadi tujuan studi banding dari desa-desa di provinsi lain yang tertarik mereplikasi model wisata sungai berbasis BUMDes. Dengan dukungan Kementerian Desa PDTT yang telah mengakui keunggulan inovasi ini melalui penghargaan nasional, potensi scale up menjadi sangat luas — terutama bagi ribuan desa di kawasan timur Indonesia yang menyimpan kekayaan alam luar biasa namun belum memiliki model bisnis yang tepat untuk mengubah alam menjadi kesejahteraan warga. [4][5]

Daftar Pustaka

[1] Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, “Warna Warni BUMDes Pelangi,” kemenkopmk.go.id. [Online]. Available: https://www.kemenkopmk.go.id/warna-warni-bumdes-pelangi

[2] Redaksi, “Sukses Kelola Potensi Desa, BUMDes Pelangi Desa Atoga Timur Raih Penghargaan Nasional,” inovasi.web.id, 19 Mar. 2020. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/sukses-kelola-potensi-desa-bumdes-pelangi-desa-atoga-timur

[3] Redaksi, “Wisata Atoga River View di Bolaang Mongondow,” inovasi.web.id, 12 Jun. 2020. [Online]. Available: https://inovasi.web.id

[4] Redaksi BeritaManado, “Terbaik II BUMDes Inovatif, Desa Atoga Timur Terima Penghargaan dari Kementerian,” beritamanado.com, 25 Nov. 2019. [Online]. Available: https://beritamanado.com/terbaik-ii-bumdes-inovatif-desa-atoga-timur

[5] Tim Peneliti, “Pengembangan Desa Wisata Berbasis BUMDes,” Jurnal Kebijakan Publik UNRI, vol. 12, no. 2, 2021. [Online]. Available: https://jkp.ejournal.unri.ac.id

[6] Tim Peneliti, “Pengelolaan Objek Wisata Berbasis Community Based Tourism,” Repository IPDN, 2022. [Online]. Available: http://eprints.ipdn.ac.id/16003

[7] Redaksi BeritaManado, “BUMDes Pelangi Desa Atoga Timur Bakal Terima Penghargaan dari Presiden,” beritamanado.com, 13 Nov. 2019. [Online]. Available: https://beritamanado.com/bumdes-pelangi-desa-atoga-timur-bakal-terima-penghargaan-dari-presiden

[8] Redaksi BeritatotaBuan, “Boltim Terima Penghargaan Pelaksana Inovasi Desa Terbaik Secara Nasional,” beritatotabuan.com, 24 Nov. 2019. [Online]. Available: https://beritatotabuan.com/boltim-penghargaan-inovasi-desa-terbaik

[9] Redaksi, “Program Pengembangan Desa Wisata melalui Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa),” bumdes.id, 8 Mar. 2026. [Online]. Available: https://bumdes.id/artikel/program-pengembangan-desa-wisata

[10] Pemerintah Desa Atoga Timur, “Portal Resmi Desa Atoga Timur,” atogatimur.desa.id. [Online]. Available: http://atogatimur.desa.id

BUMDes Limbangan Wanareja Kelola Agrowisata Durian Montong Cane dan Menggerakkan Ekonomi Warga Desa

BUMDes Limbangan Wanareja Kelola Agrowisata Durian Montong Cane dan Menggerakkan Ekonomi Warga Desa

Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Limbangan, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mengembangkan inovasi agrowisata berbasis lahan kas desa dengan mengalihfungsikan kebun durian Montong Cane seluas lima hektar yang dikelola BUMDes menjadi destinasi wisata petik buah langsung dari pohon. [1] Inovasi ini mengintegrasikan kebun durian produktif dengan embung desa dan curug alami di kawasan pegunungan Wanareja, menjadikan Desa Limbangan sebagai simpul agrowisata terpadu yang menambah nilai produk pertanian sekaligus menggerakkan ekosistem ekonomi warga secara menyeluruh. [2]

Tujuan utama inovasi ini adalah mendiversifikasi sumber pendapatan desa, meningkatkan kesejahteraan 28 petani anggota Kelompok Tani, dan mempersingkat rantai distribusi buah durian dari petani langsung ke tangan konsumen wisatawan. [4] Keberhasilan agrowisata ini membuktikan bahwa lahan kas desa yang dikelola dengan inovasi dan kreativitas yang tepat oleh BUMDes mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi lokal yang mandiri dan berkelanjutan. [2]

Latar Belakang

Desa Limbangan berdiri di kawasan pegunungan Kecamatan Wanareja, wilayah Cilacap Barat yang dikenal dengan bentang alam hijau berupa sawah, perkebunan, dan aliran sungai dengan curug-curug alami yang belum banyak dikenal wisatawan luar. [3] Kekayaan alam ini menyimpan potensi ekonomi yang besar, namun belum dikelola secara optimal menjadi sumber pendapatan masyarakat yang terorganisir dan berkelanjutan. [1]

Lahan kas desa seluas lima hektar yang ditanami pohon durian Montong Cane sejak 2012 selama bertahun-tahun hanya dikelola secara konvensional oleh 28 petani anggota Kelompok Tani — sekadar memanen dan menjual buah ke pasar tanpa menambahkan nilai lebih melalui konsep wisata. [4] Pendapatan petani sangat bergantung pada fluktuasi harga durian di tingkat pasar, yang kerap merugikan petani saat produksi berlimpah namun permintaan tengkulak melemah dan harga anjlok. [6]

BUMDes Limbangan yang telah terbentuk belum beroperasi seproduktif yang direncanakan, sementara potensi aset desa terus menunggu untuk dioptimalkan. Embung desa yang selesai dibangun, jalur curug alami, serta produktivitas kebun buah yang mulai memasuki fase puncak pada 2020 menciptakan peluang emas untuk diintegrasikan ke dalam satu sistem bisnis wisata yang terpadu. [5] Kepala Desa Harsono menangkap momentum ini sebagai titik balik untuk mengubah BUMDes dari unit kelembagaan yang pasif menjadi motor aktif penggerak ekonomi desa. [1]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi utama Desa Limbangan adalah mengalihfungsikan kebun durian lahan kas desa yang semula hanya menjadi kebun produksi biasa menjadi destinasi agrowisata petik buah langsung dari pohon. BUMDes merancang konsep wisata terpadu di mana wisatawan tidak hanya membeli durian, tetapi merasakan pengalaman memetik durian Montong Cane langsung di tengah kebun seluas lima hektar yang asri dan sejuk di pegunungan Wanareja. [1][2]

Inovasi ini bekerja dengan memadukan dua daya tarik sekaligus: kualitas premium durian Montong Cane yang berbobot tiga hingga tujuh kilogram per buah dengan cita rasa manis legit berpadu sedikit pahit yang khas, dan pengalaman wisata alam autentik di pegunungan yang tidak bisa direplikasi di pasar konvensional manapun. [6] BUMDes merancang paket wisata terintegrasi yang menghubungkan kebun durian dengan embung desa untuk wisata perikanan rekreatif dan area piknik keluarga, serta jalur menuju curug sebagai bagian dari paket ekowisata satu kawasan yang memperpanjang durasi kunjungan wisatawan. [5]

Proses Penerapan Inovasi

Langkah pertama BUMDes adalah melakukan pemetaan aset dan potensi desa secara menyeluruh — mengidentifikasi kondisi pohon durian, kapasitas tampung embung, aksesibilitas jalur curug, dan kesiapan infrastruktur jalan menuju kawasan wisata. Pada 2020, seluruh pohon durian Montong Cane di kebun lima hektar telah memasuki fase produktif penuh, dengan setiap pohon mampu menghasilkan 20 hingga 60 butir buah per musim — memberikan dasar pasokan yang kuat untuk operasional agrowisata musiman. [1]

Pemerintah desa secara paralel memprioritaskan perbaikan infrastruktur jalan desa sebagai prasyarat mutlak pengembangan pariwisata pedesaan yang dapat diakses wisatawan dari berbagai daerah. BUMDes kemudian memperbaiki tata kelola manajemen dengan mengadopsi sistem pencatatan keuangan yang lebih transparan, mekanisme pembagian hasil yang adil kepada petani anggota, dan sistem pemesanan kunjungan wisatawan yang lebih terstruktur agar arus pengunjung dapat diatur dan tidak merusak kebun. [2][4]

Proses awal tidak berjalan tanpa hambatan — koordinasi antara BUMDes dan 28 petani anggota memerlukan waktu untuk membangun kepercayaan bersama karena petani yang terbiasa dengan pola panen-jual konvensional perlu diyakinkan bahwa model wisata petik durian akan memberikan nilai tambah lebih tinggi dan pendapatan lebih stabil daripada menjual kepada tengkulak. Pembelajaran dari fase transisi ini mendorong BUMDes untuk lebih intensif melibatkan petani dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, menjadikan mereka mitra aktif bukan sekadar penyedia lahan. Pendekatan partisipatif ini pada akhirnya mengubah resistensi menjadi antusiasme dan memperkuat rasa kepemilikan kolektif terhadap keberlanjutan agrowisata. [6][2]

Faktor Penentu Keberhasilan

Ketersediaan aset produktif yang matang menjadi fondasi utama keberhasilan — kebun durian yang ditanam sejak 2012 dan mulai berproduksi penuh pada 2020 memberikan BUMDes modal alam yang tidak perlu dibangun dari nol. Jenis Montong Cane yang dipilih merupakan varietas unggulan dengan daya tarik pasar premium — ukuran buah besar, rasa khas, dan nilai jual tinggi — sehingga mampu bersaing di segmen wisata agro yang semakin kompetitif dan diminati wisatawan urban yang haus pengalaman autentik. [6][1]

Faktor kedua adalah kepemimpinan Kepala Desa Harsono yang mendorong sinergi nyata antara pemerintah desa, BUMDes, dan kelompok tani dalam satu visi bersama mengembangkan agrowisata terpadu. Komitmen pemerintah desa untuk terus memperbaiki infrastruktur jalan sebagai enabler fundamental pengembangan wisata menunjukkan keseriusan dalam mewujudkan kawasan agrowisata yang dapat dinikmati wisatawan dari berbagai daerah tanpa hambatan akses. Studi kasus agrowisata durian di berbagai daerah mengonfirmasi bahwa ketersediaan varietas unggulan, infrastruktur akses yang memadai, dan tata kelola BUMDes yang transparan adalah tiga pilar yang paling menentukan keberhasilan model serupa. [6][7]

Hasil dan Dampak Inovasi

Sejak seluruh pohon durian berproduksi penuh pada 2020, kebun agrowisata Desa Limbangan menghasilkan panen berlimpah setiap musim — setiap pohon menghasilkan 20 hingga 60 butir buah berbobot tiga hingga tujuh kilogram per buah. [1] Produksi ini tidak lagi sekadar dijual sebagai komoditas, tetapi menjadi magnet wisata yang menarik pengunjung dari berbagai daerah untuk datang langsung ke desa dan merasakan pengalaman petik durian dari pohon yang tidak bisa mereka temukan di supermarket atau pasar konvensional. [4]

Dampak ekonomi yang paling nyata adalah terbukanya rantai nilai baru bagi seluruh ekosistem warga desa. Kunjungan wisatawan menggerakkan penjualan kuliner lokal di warung sekitar kawasan, membuka peluang industri kreatif berbasis olahan durian seperti dodol, bolu, dan keripik durian, serta meningkatkan pendapatan petani yang kini mendapatkan nilai jual jauh lebih tinggi dari sistem wisata petik langsung dibandingkan menjual ke tengkulak dengan harga yang sering dipatok sepihak. [4][2] Model serupa di Kabupaten Cilacap — kolaborasi BUMDes Pesahangan dan Negarajati di Cimanggu — membuktikan bahwa agrowisata durian berbasis BUMDes mampu menghasilkan pendapatan miliaran rupiah per tahun, sebuah tolok ukur yang menunjukkan potensi skala besar yang bisa dicapai Desa Limbangan. [4]

Embung desa yang telah rampung dibangun membuka lini wisata tambahan berupa perikanan rekreatif dan piknik keluarga yang memperpanjang durasi kunjungan wisatawan di desa, meningkatkan belanja wisatawan per kunjungan dan memperbesar efek pengganda ekonomi bagi seluruh pelaku usaha lokal. [5] Kawasan curug yang terhubung dalam paket wisata terpadu memperkuat daya tarik Desa Limbangan sebagai destinasi wisata alam lengkap — tidak hanya untuk pecinta durian, tetapi juga keluarga dan wisatawan alam yang mencari pengalaman autentik pegunungan Cilacap Barat. [3]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar adalah musimalitas produksi durian yang membuat agrowisata petik buah hanya dapat beroperasi optimal selama beberapa bulan musim panen dalam setahun. Di luar musim durian, BUMDes perlu mengembangkan daya tarik wisata alternatif — embung, curug, dan wisata alam pegunungan — agar arus kunjungan dan pendapatan desa tidak terkonsentrasi hanya pada satu musim dan mengalami lonjakan-palung yang tajam sepanjang tahun. [7]

Kapasitas manajemen BUMDes yang masih perlu diperkuat menjadi kendala tersendiri karena pengelolaan wisata membutuhkan kompetensi baru di bidang pemasaran digital, manajemen pengalaman tamu, dan pengembangan paket wisata kreatif yang belum sepenuhnya dikuasai oleh pengelola BUMDes saat ini. [7] Keterbatasan infrastruktur akses jalan yang terus dalam proses perbaikan juga sesekali membatasi kenyamanan kunjungan wisatawan dari daerah jauh yang membutuhkan kondisi jalan prima selama perjalanan menuju kawasan agrowisata pegunungan. [1]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

BUMDes Limbangan merancang konsep wisata terpadu yang menghubungkan seluruh aset desa — kebun durian, embung, dan curug — dalam satu paket kunjungan yang dapat dinikmati dalam satu hari penuh. [1] Integrasi aset ini memastikan wisatawan tidak hanya datang untuk satu atraksi sehingga nilai belanja per kunjungan meningkat dan multiplier effect ekonomi lokal tercipta secara optimal bagi seluruh pelaku usaha di desa. [2]

Untuk menjamin keberlanjutan produksi, BUMDes berencana melakukan peremajaan dan perluasan kebun secara bertahap dengan menanam varietas unggulan lain yang memiliki periode panen berbeda, sehingga musim agrowisata dapat diperpanjang dan pilihan wisatawan semakin kaya. [6] Penguatan kemitraan dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Cilacap dan program pendampingan BUMDes dari pemerintah provinsi akan terus diprioritaskan untuk meningkatkan kapasitas tata kelola dan memperluas jangkauan pemasaran digital yang dapat menarik wisatawan dari seluruh Jawa Tengah dan sekitarnya. [4]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Agrowisata Durian Montong Cane Desa Limbangan adalah contoh nyata konvergensi pembangunan berkelanjutan di tingkat desa — di mana satu inovasi pengelolaan lahan kas desa mampu secara bersamaan menjawab dimensi ekonomi, ekologi, dan sosial budaya yang terkandung dalam agenda SDGs global. [2][7]

No SDGs Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Model wisata petik langsung memotong ketergantungan 28 petani anggota Kelompok Tani pada harga tengkulak yang fluktuatif, meningkatkan margin pendapatan petani secara langsung dan memberikan penghasilan tambahan yang lebih stabil dari aktivitas wisata yang mengalir sepanjang musim durian berlangsung.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Pengelolaan kebun durian produktif seluas lima hektar oleh BUMDes menjamin kesinambungan produksi buah berkualitas yang tersedia bagi masyarakat lokal dengan harga lebih terjangkau, sekaligus memperkuat basis pertanian hortikultura desa yang berkontribusi pada ketahanan pangan kawasan Cilacap Barat.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Agrowisata menciptakan lapangan kerja layak di berbagai lini: pengelola kebun, pemandu wisata, pengelola embung, penjaja kuliner, pengrajin suvenir berbahan durian, dan operator parkir — membangun ekosistem ekonomi desa yang inklusif dan mandiri tidak bergantung semata pada transfer fiskal dari pusat.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Pemanfaatan lahan kas desa dan embung sebagai kawasan wisata terpadu mengoptimalkan aset publik untuk kepentingan ekonomi dan rekreasi masyarakat, menjadikan Desa Limbangan sebagai permukiman pedesaan yang berkelanjutan dengan identitas wisata-alam yang kuat dan dikelola secara kolektif oleh komunitas.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab Model wisata petik langsung dari pohon meminimalkan rantai distribusi dan limbah pasca-panen yang biasa terjadi dalam sistem perdagangan konvensional, sementara pengembangan produk olahan durian seperti dodol dan bolu mendorong pemanfaatan hasil panen secara optimal tanpa pemborosan komoditas yang terbuang sia-sia.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Pengelolaan kebun durian berkelanjutan di lahan kas desa mempertahankan tutupan vegetasi pohon produktif di kawasan pegunungan Wanareja, mencegah alih fungsi lahan yang merusak dan memastikan ekosistem hutan-kebun terjaga sebagai penyangga hidrologi yang melindungi sumber air bagi masyarakat desa.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Sinergi antara pemerintah desa, BUMDes, Kelompok Tani, Dinas Pariwisata Cilacap, dan model kolaborasi lintas-BUMDes seperti yang diterapkan di Cimanggu menciptakan kerangka kemitraan multipihak yang dapat diperkuat dan direplikasi sebagai model tata kelola agrowisata desa terbaik di Kabupaten Cilacap.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model agrowisata durian BUMDes Desa Limbangan memiliki potensi replikasi tinggi di desa-desa Kecamatan Wanareja lainnya yang menyimpan potensi perkebunan buah, embung, dan curug yang belum dioptimalkan. [3] Kunci replikasinya terletak pada tiga langkah: inventarisasi aset produktif desa yang sudah ada, pembentukan BUMDes yang dikelola secara profesional, dan perancangan paket wisata terpadu yang menggabungkan semua potensi dalam satu pengalaman kunjungan yang utuh. [2]

Untuk scale up, model kolaborasi lintas-BUMDes seperti yang sukses diterapkan oleh BUMDes Pesahangan dan Negarajati di Pegunungan Cimanggu — yang berhasil membangun agrowisata durian 500 batang di lima hektar lahan Perhutani dan menghasilkan pendapatan miliaran rupiah — menjadi referensi konkret yang dapat diadopsi Desa Limbangan untuk menggandeng desa-desa tetangga membentuk kluster agrowisata Cilacap Barat yang berskala regional. [4] Pengembangan platform pemasaran digital dan kerja sama dengan platform wisata daring nasional akan memperluas jangkauan promosi jauh melampaui batas geografis kabupaten, menarik wisatawan dari Jawa Tengah dan sekitarnya yang semakin mencari pengalaman ekowisata autentik. [3]

Daftar Pustaka

[1] Liputan6.com, “Pagi Rupawan Curug Bandung, Surga Tersembunyi Pegunungan Cilacap Barat,” liputan6.com, 1 Feb. 2020. [Online]. Available: https://www.liputan6.com/regional/read/4169228

[2] Kanal Desa, “Kolaborasi Dua BUMDes Kembangkan Agrowisata Durian,” kanaldesa.com, 2021. [Online]. Available: https://kanaldesa.com/artikel/kolaborasi-dua-bumdes-kembangkan-agrowisata-durian

[3] TV Tani – Kementerian Pertanian RI, “Mengolah Potensi Alam Agrowisata Wanareja, Cilacap, Jawa Tengah,” YouTube, 21 Sep. 2022. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=KqeVCq0DPgo

[4] Gatra, “BUMDes Kembangkan Agrowisata Durian di Pegunungan,” gatra.com, 12 Sep. 2021. [Online]. Available: https://www.gatra.com/news-522540

[5] Instamajennang, “Embung Curug Bandung Wanareja Mulai Dibangun,” Facebook, 26 Jun. 2019. [Online]. Available: https://www.facebook.com/instamajenang

[6] Y. N. Afni, “Strategi Pengembangan Agrowisata Durian: Studi Kasus,” Skripsi, UIN Saizu Purwokerto, 2022. [Online]. Available: https://repository.uinsaizu.ac.id/7847/

[7] K. Angganarsati, “Strategi Pengembangan Agrowisata Kebun Durian di Kecamatan Mijen Kota Semarang Berdasarkan Daya Dukung Lahan,” Tugas Akhir, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2019. [Online]. Available: https://repository.its.ac.id/67567/

[8] Antara Jateng, “Cilacap Siap Kembangkan Agrowisata di Desa Madura,” jateng.antaranews.com, 25 Apr. 2019. [Online]. Available: https://jateng.antaranews.com/berita/232167

[9] Tabloid Sinar Tani, “Kebun Buah Desa Madura Bakal Jadi Agrowisata,” tabloidsinartani.com, 23 Okt. 2019. [Online]. Available: https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/horti/10381

Desa Asinan Bawen Terapkan Eco-Tourism Rawa Pening dan Meraih Runner-Up Desa Wisata Berdikari 2024

Desa Asinan Bawen Terapkan Eco-Tourism Rawa Pening dan Meraih Runner-Up Desa Wisata Berdikari 2024

Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, melalui Pokdarwis Svarga Jaghat Anugraha dan BUMDes Maju Mapan, merancang paket wisata tematik Asinan Rawa Pening Eco Tourism yang mengintegrasikan wisata alam danau, kuliner khas rawa, kerajinan enceng gondok, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan nelayan lokal dalam satu ekosistem wisata yang otentik dan berkelanjutan. [1] Inovasi unggulannya adalah pendekatan “Limbah Jadi Berkah” yang mengubah enceng gondok — gulma invasif perusak ekosistem Rawa Pening — menjadi pupuk organik layak jual dan aneka kerajinan tangan, sehingga masalah ekologis sekaligus menjadi peluang ekonomi bagi warga. [4]

Kerja keras Pokdarwis dan seluruh warga desa mengantarkan Desa Asinan meraih predikat Terbaik II (Runner-Up) dalam Anugerah Desa Wisata Berdikari Kabupaten Semarang 2024 pada kategori Desa Wisata Berkembang, bersaing dengan puluhan desa wisata se-Kabupaten Semarang. [2] Pencapaian ini membuktikan bahwa desa nelayan rawa yang bertransformasi dengan mengedepankan kelestarian alam mampu sekaligus meningkatkan ekonomi keluarga nelayan secara bermartabat dan berkelanjutan. [6]

Latar Belakang

Desa Asinan terletak di tepi selatan Danau Rawa Pening — salah satu danau terbesar di Jawa Tengah yang menjadi sumber penghidupan ribuan nelayan di sekitarnya. Desa ini terdiri dari empat dusun: Krajan Asinan, Baan, Sumurup, dan Mengkelang, dengan mayoritas warga berprofesi sebagai nelayan rawa yang menangkap ikan mujair, nila, dan lobster air tawar dari genangan danau seluas lebih dari 2.000 hektar itu. [3]

Rawa Pening menghadapi ancaman serius berupa blooming enceng gondok yang menutupi permukaan danau, memperburuk kualitas air, mempercepat sedimentasi, dan mengurangi produktivitas perikanan secara nyata. [4] Produksi biomassa enceng gondok di Rawa Pening dapat mencapai angka yang sangat tinggi setiap musimnya, menjadikan gulma ini sebagai ancaman ekologis skala besar yang sekaligus menjadi beban ekonomi bagi nelayan yang hasil tangkapannya terus merosot. [10] Nelayan terjepit antara merosotnya hasil tangkapan dan lemahnya nilai jual produk ikan yang belum diolah secara inovatif — krisis ekologi yang menjadi krisis ekonomi sekaligus. [8]

Di sisi lain, Rawa Pening menyimpan potensi wisata alam yang kaya namun belum tergarap secara optimal. Panorama danau dengan latar Pegunungan Ungaran, momen sunrise dan sunset di Jembatan Biru Sumurup, kekayaan kuliner khas rawa seperti ikan bakar, oseng genjer, dan kerupuk tulang ikan — semuanya adalah aset wisata nyata yang menanti dikelola oleh tangan-tangan kreatif warga desa sendiri. [1] Desa Asinan melihat peluang besar untuk mengubah ancaman ekologis ini menjadi daya tarik wisata edukasi yang memberi nilai ganda: melestarikan danau sekaligus mensejahterakan nelayan. [9]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi inti Desa Asinan adalah pendekatan “Limbah Jadi Berkah” yang mengubah enceng gondok dari musuh nelayan menjadi sumber pendapatan baru: pupuk organik cair melalui proses fermentasi dengan EM4 dan larutan gula, serta aneka kerajinan tangan berupa sandal, tas, dompet, dan aksesori dari anyaman enceng gondok kering yang bernilai jual. [4] Proses fermentasi enceng gondok selama 10 hari menghasilkan pupuk organik cair yang mengandung C-organik 18,93%, N total 1,78%, P 1,10%, dan K 1,26% — komposisi yang memenuhi standar pupuk organik layak pasar dan dapat diperdagangkan secara komersial. [4]

Paket wisata tematik Asinan Rawa Pening Eco Tourism yang dikelola Pokdarwis Svarga Jaghat Anugraha menawarkan pengalaman terintegrasi: wisata perahu keliling danau, kunjungan ke Jembatan Biru Sumurup untuk menikmati sunrise dan sunset, workshop membuat kerupuk genjer dan kerajinan enceng gondok, belajar menebar benih ikan bersama nelayan, membuat pupuk organik, menikmati kuliner di warung apung dan Pasar Kuliner Sawahan, serta menginap di homestay warga. [5] Seluruh paket ini dipasarkan melalui website resmi desawisata-asinan.com dan media sosial aktif yang dikelola secara profesional oleh tim desa, menjangkau segmen wisatawan muda perkotaan yang mencari pengalaman wisata autentik berbasis alam. [3]

Proses Penerapan Inovasi

Transformasi Desa Asinan menjadi destinasi eco-tourism dimulai dari pembentukan Pokdarwis Svarga Jaghat Anugraha sebagai motor penggerak pengelolaan wisata berbasis komunitas. Pokdarwis melakukan pemetaan potensi desa secara partisipatif — mengidentifikasi aset alam danau, kekayaan kuliner lokal, dan keterampilan warga — yang kemudian dikemas menjadi paket wisata bernilai jual yang dapat dinikmati wisatawan dari berbagai latar belakang. [3]

Inovasi pengolahan enceng gondok menjadi pupuk organik dikembangkan melalui pelatihan yang dipandu pendamping dari perguruan tinggi, termasuk mahasiswa KKN dari Universitas Diponegoro yang melaksanakan program Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari Enceng Gondok di kawasan Rawa Pening sebagai bentuk nyata kolaborasi akademisi-komunitas desa. [9] Uji coba pertama menghadapi tantangan konsistensi kualitas produk karena perbedaan tingkat kematangan bahan baku enceng gondok, yang kemudian melahirkan prosedur baku produksi dan standar pemilahan bahan yang diterapkan secara kolektif oleh kelompok ibu rumah tangga desa. [4]

Digitalisasi promosi wisata dibangun secara bertahap melalui website resmi dan konten media sosial berupa video drone, ulasan kuliner, dan testimoni wisatawan yang dibuat secara rutin. Strategi konten ini terbukti efektif meningkatkan jangkauan desa wisata ke pasar wisatawan muda perkotaan; profil digital Desa Asinan yang aktif di Jadesta Kemenparekraf juga membuka akses promosi ke pasar wisatawan nasional yang lebih luas. [1][3]

Faktor Penentu Keberhasilan

Kepemimpinan kolektif Sri Slamet sebagai Ketua Pokdarwis dan Dewi sebagai penasehat yang memiliki visi bisnis wisata modern menjadi fondasi pengelolaan yang seimbang antara pelestarian tradisi dan adaptasi terhadap tren pariwisata kontemporer. Keduanya secara konsisten menempatkan warga nelayan — bukan investor luar — sebagai pelaku utama dan penerima manfaat utama dari seluruh aktivitas wisata, membangun rasa kepemilikan kolektif yang menjamin keberlanjutan program melampaui satu periode kepemimpinan. [2]

Dukungan Pemkab Semarang melalui Dinas Pariwisata dengan program Anugerah Desa Wisata Berdikari memberikan insentif kompetisi yang mendorong Pokdarwis terus berinovasi, berbenah, dan meningkatkan standar layanan secara berkelanjutan. [6] Kolaborasi dengan mahasiswa KKN dari berbagai perguruan tinggi memperkuat kapasitas inovasi produk wisata, mempertebal validasi akademik terhadap pendekatan eco-tourism yang diterapkan, dan membentuk jaringan dukungan intelektual yang terus memperkaya ekosistem inovasi desa. [9]

Hasil dan Dampak Inovasi

Pencapaian paling nyata adalah Terbaik II (Runner-Up) pada ADWB Kabupaten Semarang 2024 kategori Desa Wisata Berkembang — pengakuan resmi pemerintah atas kualitas tata kelola dan inovasi Desa Asinan dalam persaingan ketat dengan puluhan desa wisata se-Kabupaten Semarang. [2] Desa Asinan juga telah terdaftar secara resmi di Jadesta Kemenparekraf RI, membuka akses promosi ke pasar wisatawan nasional dan internasional yang jauh lebih luas daripada yang bisa dijangkau promosi konvensional. [1]

Secara ekonomi, paket wisata terintegrasi memberikan sumber pendapatan baru yang saling melengkapi bagi nelayan — tidak hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan yang fluktuatif, tetapi juga memperoleh penghasilan dari jasa perahu wisata, penjualan kuliner di warung apung, sewa homestay, dan penjualan kerajinan enceng gondok kepada wisatawan. [5] Revitalisasi Rawa Pening secara terpadu yang melibatkan komunitas pengrajin, produksi pupuk organik, dan kerajinan tangan terbukti meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan penghasilan masyarakat secara terukur. [11]

Dari sisi ekologi, program pengolahan enceng gondok yang konsisten membantu mengurangi populasi gulma invasif yang mengancam kelangsungan Rawa Pening. Penelitian tentang upaya konservasi berbasis komunitas menunjukkan bahwa pendekatan yang mengintegrasikan insentif ekonomi dengan pelestarian lingkungan terbukti lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan program konservasi top-down yang tidak memberikan alternatif penghasilan bagi masyarakat yang hidupnya tergantung pada ekosistem tersebut. [8][4]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar adalah menjaga kualitas dan konsistensi layanan wisata saat volume kunjungan meningkat — terutama manajemen kapasitas homestay, ketersediaan armada perahu wisata, dan pasokan bahan baku kuliner yang masih bergantung pada tangkapan nelayan harian. Fluktuasi musim dan kondisi cuaca yang memengaruhi kondisi danau juga berdampak langsung pada kenyamanan wisata perahu dan ketersediaan ikan segar untuk sajian kuliner yang menjadi daya tarik utama wisatawan. [3]

Pada sisi pengelolaan, meningkatkan kompetensi SDM lokal dalam bidang hospitalitas, bahasa asing, dan pemasaran digital masih menjadi pekerjaan rumah yang memerlukan program pelatihan berkelanjutan. Ketergantungan pada media sosial sebagai saluran promosi utama juga mengharuskan desa memperbarui konten secara rutin — sebuah beban kerja tambahan yang tidak selalu tersedia sumber daya manusianya di tingkat desa, terutama ketika musim tangkapan ikan sedang berlangsung dan waktu warga nelayan tersita penuh. [2][3]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan ekosistem wisata Desa Asinan bertumpu pada prinsip eco-tourism yang menempatkan pelestarian Rawa Pening sebagai syarat mutlak keberlangsungan usaha wisata: ketika rawa lestari, wisata hidup, dan ketika wisata hidup, nelayan sejahtera. [4] Pendekatan ini menciptakan insentif ekonomi bagi warga untuk secara aktif menjaga ekosistem danau, jauh berbeda dari pendekatan konservasi yang hanya melarang tanpa memberi alternatif penghasilan bagi komunitas yang hidupnya bergantung pada rawa. [11]

Penasehat Pokdarwis Dewi berharap penghargaan ADWB 2024 dapat menarik investasi swasta dan dana CSR perusahaan untuk mendukung pengembangan fasilitas wisata yang lebih lengkap dan modern. [2] Bupati Semarang Ngesti Nugraha juga mendorong desa-desa wisata berkembang untuk merancang paket kunjungan antardesa — membuka peluang Desa Asinan berkolaborasi dengan desa wisata Lerep dan destinasi lain di Kabupaten Semarang guna menciptakan koridor pariwisata terpadu yang semakin memperkuat daya tarik kawasan. [7]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Desa Asinan merupakan contoh komprehensif bagaimana pendekatan eco-tourism berbasis komunitas mampu mengintegrasikan target SDGs lingkungan, ekonomi, dan sosial secara bersamaan dalam satu kerangka aksi yang koheren dan terukur. [1][8]

No SDGs Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Diversifikasi pendapatan nelayan melalui jasa wisata perahu, penjualan kuliner warung apung, sewa homestay, dan penjualan kerajinan enceng gondok memberikan sumber penghasilan tambahan yang mengurangi ketergantungan total pada hasil tangkapan ikan yang sangat fluktuatif karena faktor cuaca dan kondisi ekosistem danau.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Pupuk organik dari enceng gondok yang diproduksi warga dengan kandungan C-organik 18,93%, N total 1,78%, P 1,10%, dan K 1,26% mendukung pertanian organik lokal yang berkelanjutan, meningkatkan produktivitas kebun sayuran warga desa dan memperkuat ketahanan pangan lokal secara mandiri dan terjangkau.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Ekosistem wisata Desa Asinan menciptakan lapangan kerja layak bagi pemandu wisata, pengrajin enceng gondok, pengelola homestay, juru masak warung apung, dan pengelola Pasar Kuliner Sawahan — membangun rantai nilai ekonomi lokal yang inklusif dan mengalirkan manfaat ekonomi kepada seluruh lapisan warga nelayan desa.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Model eco-tourism yang menjadikan danau sebagai aset wisata yang dilindungi dan dikelola bersama menjadikan Desa Asinan sebagai permukiman pesisir danau yang berkelanjutan, di mana aktivitas ekonomi wisata dirancang untuk memperkuat, bukan mengeksploitasi, ekosistem alam yang menjadi identitas dan daya tarik utama desa.
SDGs 14: Ekosistem Lautan (Perairan) Program “Belajar Menebar Benih Ikan Bersama Nelayan” dan pengolahan enceng gondok untuk mengurangi dominasi gulma invasif berkontribusi langsung pada pemulihan ekosistem perairan Rawa Pening, meningkatkan biodiversitas ikan dan biota air yang menjadi sumber penghidupan utama komunitas nelayan desa.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Pengelolaan enceng gondok yang konsisten sebagai bahan baku pupuk organik dan kerajinan secara aktif mengendalikan populasi gulma invasif yang mempercepat sedimentasi dan merusak ekosistem Rawa Pening, menjadikan aktivitas ekonomi warga desa sebagai instrumen konservasi ekosistem danau yang berkelanjutan.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi Pokdarwis Svarga Jaghat Anugraha, BUMDes Maju Mapan, Pemerintah Desa, Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, dan mahasiswa KKN berbagai perguruan tinggi menciptakan model kemitraan multi-pihak yang menempatkan komunitas nelayan desa sebagai pusat dan pelaku utama pembangunan wisata yang berkelanjutan.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model eco-tourism Desa Asinan sangat relevan direplikasi oleh desa-desa nelayan di sekitar perairan danau, waduk, dan rawa di Jawa Tengah — seperti desa-desa di sekitar Waduk Kedungombo, Rawa Jombor, atau Telaga Warna Dieng. Kunci replikasi adalah mengidentifikasi “masalah ekologis lokal” yang menjadi beban komunitas — seperti enceng gondok di Rawa Pening — dan mengubahnya menjadi daya tarik wisata edukasi sekaligus produk ekonomi bernilai jual, sebuah formula yang dapat diterapkan pada konteks ekosistem perairan mana pun. [8]

Jaringan akademik yang terbentuk melalui kunjungan KKN dari berbagai perguruan tinggi — termasuk KKN Kolaboratif 2024 dan mahasiswa pascasarjana UNDIP — menjadi agen replikasi model desa wisata ekologis yang dapat menyebarkan pengetahuan dan praktik baik Desa Asinan ke daerah lain. [5][9] Pendaftaran aktif di Jadesta Kemenparekraf memfasilitasi transfer pengetahuan ini ke ribuan desa wisata lain di Indonesia yang ingin mempelajari dan mengadaptasi pendekatan eco-tourism berbasis komunitas nelayan yang telah terbukti berhasil di Asinan. [1]

Daftar Pustaka

[1] Jadesta Kemenparekraf RI, “Desa Wisata Rawa Pening Eco Tourism – Desa Asinan,” jadesta.kemenparekraf.go.id, 2023. [Online]. Available: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/rawa_pening_eco_tourism

[2] Tim Redaksi, “Desa Wisata Asinan Raih Runner-Up Anugerah Desa Wisata Berdikari Kabupaten Semarang Tahun 2024,” desawisata-asinan.com, 11 Des. 2024. [Online]. Available: https://www.desawisata-asinan.com

[3] Pemerintah Desa Asinan, “Profil Desa Wisata Asinan – Bawen, Kabupaten Semarang,” desawisata-asinan.com, 2025. [Online]. Available: https://www.desawisata-asinan.com

[4] D. Sartika et al., “Pengolahan Gulma Invasif Enceng Gondok Menjadi Pupuk Organik Layak Pasar sebagai Solusi Masalah Rawa Pening,” PRIMA: Jurnal Komunitas, Sosial, dan Teknologi, vol. 1, no. 2, Des. 2020. [Online]. Available: https://jurnal.uns.ac.id/prima/article/view/42053/0

[5] Tim Redaksi, “Wisata Bermakna di Desa Wisata Asinan: Belajar Wirausaha dan Lestarikan Rawa Pening,” desawisata-asinan.com, 7 Nov. 2024. [Online]. Available: https://www.desawisata-asinan.com

[6] Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, “Pemenang Anugerah Desa Wisata Berdikari (ADWB) 2024,” kabsemarangtourism.id, 9 Des. 2024. [Online]. Available: https://kabsemarangtourism.id/home/detailberita/129

[7] Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, “11 Desa Wisata di Kabupaten Semarang Diresmikan,” jatengprov.go.id, 2025. [Online]. Available: https://jatengprov.go.id/beritadaerah

[8] F. Kurniawati et al., “Analisis Rusaknya Ekologis Danau Rawa Pening terhadap Kehidupan Nelayan,” Jurnal Ilmu Wilayah dan Perencanaan, 2024. [Online]. Available: https://jurnal.peneliti.net/index.php/JIWP/article/download/9248/7638

[9] Tim PPK ORMAWA HIMASAKA UNDIP, “Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari Eceng Gondok di Desa Sekitar Rawa Pening,” Jurnal Pengabdian Sosial, Des. 2024. [Online]. Available: https://ejournal.jurnalpengabdiansosial.com/index.php/jps/article/view/544

[10] A. Poernomo et al., “Pengolahan Bahan Organik Eceng Gondok Menjadi Pupuk Kompos,” BPPT. [Online]. Available: https://media.neliti.com/media/publications/154870

[11] K. Puspita et al., “Revitalisasi Rawa Pening sebagai Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Komunitas,” Jurnal Khidmat, Agust. 2025. [Online]. Available: https://ojs.umrah.ac.id/index.php/khidmat/article/download/7323/2816

Desa Wisata Bedagung Paninggaran Kembangkan Agrowisata Kopi dan Menembus 10 Besar Jawa Tengah

Desa Wisata Bedagung Paninggaran Kembangkan Agrowisata Kopi dan Menembus 10 Besar Jawa Tengah

Ringkasan Inovasi

Desa Wisata Bedagung di Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, mengembangkan inovasi wisata berbasis masyarakat yang mengintegrasikan agrowisata kopi bersejarah, wisata alam pegunungan, camping ground, dan kearifan lokal dalam satu ekosistem destinasi yang utuh. [4] Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Marga Jati menjadi motor penggerak utama yang mengorganisasi warga desa untuk bersama-sama membangun dan mengelola destinasi wisata secara kolektif di dataran tinggi 1.200 mdpl. [6]

Inovasi ini berhasil membawa Desa Wisata Bedagung menembus 10 Besar Gelar Desa Wisata (GDW) Jawa Tengah 2025 — menjadi satu-satunya wakil Kabupaten Pekalongan yang mencapai babak final dari 29 peserta kabupaten/kota se-Jawa Tengah. [1] Dampak utamanya adalah peningkatan ekonomi lokal, pemberdayaan warga desa, dan menaikkan citra Kabupaten Pekalongan sebagai destinasi wisata pegunungan unggulan di Jawa Tengah bagian barat. [5]

Latar Belakang

Desa Bedagung berada di dataran tinggi sekitar 1.200 mdpl, dikelilingi hutan pinus, perkebunan kopi, teh, dan hamparan tanaman kapulaga yang subur. [4] Selama bertahun-tahun, potensi alam dan agrikultur yang luar biasa ini belum terkelola sebagai aset wisata — warga hanya menjual komoditas mentah tanpa menangkap nilai tambah dari pesona alam dan warisan pertanian yang mereka miliki. [5]

Komoditas paling unik di Desa Bedagung adalah Kopi Gunung Lumping — varietas kopi robusta yang ditanam di ketinggian 1.200 mdpl dan merupakan warisan perkebunan era VOC yang kini tumbuh secara organik di tanah perawan Gunung Lumping, dijaga keasliannya dari generasi ke generasi. [2] Secara historis, kopi mulai dibudidayakan VOC secara intensif di pegunungan Jawa pada awal abad ke-18 — dan pada 1706, hasil panen pertama kopi dari Jawa sudah dikirim langsung ke Belanda. [8] Kopi berusia tiga abad yang tumbuh organik di Gunung Lumping adalah aset wisata dan budaya bernilai sangat tinggi yang belum pernah dikemas sebagai produk wisata yang menarik. [2]

Ditetapkannya Desa Wisata Bedagung melalui SK Bupati Pekalongan Nomor 500 13.2/365 tanggal 27 November 2023 menjadi titik balik yang menentukan. [3] Penetapan resmi ini membuka pintu bagi Pokdarwis Marga Jati untuk mengorganisasi warga desa secara sistematis, mengubah desa pertanian pegunungan yang tenang menjadi destinasi wisata berbasis masyarakat yang kompetitif di tingkat provinsi. [6]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi utama Desa Wisata Bedagung adalah model wisata desa terintegrasi yang memadukan dua pilar saling menguatkan: agrowisata kopi bersejarah (heritage agrotourism) dan wisata alam petualangan pegunungan. [4] Pengunjung yang datang untuk berkemah di hutan pinus juga diajak mengenal warisan Kopi Gunung Lumping, sementara pecinta agrowisata kopi dapat menikmati trekking ke air terjun dan hamparan alam Gunung Lumping yang menakjubkan — menciptakan pengalaman wisata berlapis yang tidak bisa ditemukan di destinasi lain. [2]

Secara operasional, inovasi ini bekerja melalui Pokdarwis Marga Jati yang mengelola beberapa unit wisata sekaligus: Jungle What Campground, Pinus Siampel, Sijangkung Coffee & Campground, Curug Bajang, paket edukasi kopi dari kebun ke cangkir, jeep tour hutan, serta paket homestay bersama warga. [4] Wisatawan dapat memilih paket sesuai minat mereka — dari menyeduh kopi langsung dari perkebunan berusia tiga abad, hingga menikmati malam bertabur bintang di camping ground pegunungan yang sejuk pada ketinggian lebih dari 1.200 mdpl. [5]

Proses Penerapan Inovasi

Proses pengembangan Desa Wisata Bedagung dimulai dengan pembentukan Pokdarwis Marga Jati sebagai kelembagaan pengelola wisata berbasis masyarakat yang transparan dan akuntabel. Pokdarwis kemudian mendaftarkan Desa Bedagung ke platform Jadesta (Jejaring Desa Wisata) Kemenpar sebagai langkah awal membangun visibilitas digital di tingkat nasional. [4] Registrasi di Jadesta memungkinkan wisatawan dari seluruh Indonesia menemukan Bedagung melalui portal resmi pemerintah tanpa biaya promosi konvensional yang besar. [6]

Untuk mengikuti GDW Jawa Tengah 2025 bertema “Harmoni Desa Wisata: Merajut Langkah Menjemput Asa Berdaya Bersama,” Pokdarwis memproduksi video kreatif yang berhasil menarik perhatian tim juri provinsi. [1] Proses kompetisi berlangsung ketat melalui empat tahap: unggah video dan administrasi (23 Juni–15 Juli 2025), penilaian juri (21–26 Juli 2025), verifikasi lapangan (Agustus 2025), dan pengumuman pemenang (11 September 2025) di Banjarnegara. [9]

Tahap verifikasi lapangan oleh tim provinsi menjadi ujian sesungguhnya karena tim datang langsung menilai kesiapan fasilitas, manajemen Pokdarwis, dan autentisitas produk wisata. [5] Pengalaman ini mengajarkan Pokdarwis Marga Jati satu pelajaran berharga: konsistensi antara narasi promosi dan kondisi nyata di lapangan adalah kunci kepercayaan juri dan wisatawan. Pembelajaran ini mendorong mereka terus meningkatkan standar pelayanan dan pengalaman tamu secara berkelanjutan. [5]

Faktor Penentu Keberhasilan

Keunikan produk wisata menjadi keunggulan kompetitif Bedagung yang sulit ditiru oleh desa wisata mana pun. Kopi Gunung Lumping — warisan perkebunan VOC dari abad ke-18 yang tumbuh organik di ketinggian 1.200 mdpl dengan rasa dan aroma khas dataran tinggi — adalah produk wisata dengan nilai historis dan autentisitas yang sangat tinggi. [2] Riset tentang agrowisata menunjukkan bahwa wisatawan modern semakin mencari pengalaman autentik yang terhubung dengan sejarah dan kearifan lokal — persis ceruk pasar yang berhasil diisi Bedagung secara alamiah. [8]

Pengelolaan berbasis komunitas melalui Pokdarwis Marga Jati memastikan semua warga memiliki peran dan manfaat nyata dari perkembangan wisata desa. [6] Semangat kolektif “Merajut Langkah Menjemput Asa Berdaya Bersama” bukan sekadar slogan, melainkan cerminan nyata dari model pengelolaan wisata partisipatif yang membuat seluruh ekosistem wisata desa bergerak sinergis — dari petani kopi, pengelola camping ground, pemandu trekking, hingga ibu-ibu penyedia kuliner lokal. [3]

Hasil dan Dampak Inovasi

Pencapaian terbesar dan terukur adalah masuknya Desa Wisata Bedagung dalam 10 Besar Gelar Desa Wisata Jawa Tengah 2025 — sebagai satu-satunya wakil Kabupaten Pekalongan dari 29 peserta kabupaten/kota se-Jawa Tengah dalam kompetisi yang dinilai secara ketat oleh tim juri dan verifikator lapangan. [1] Pengakuan tingkat provinsi ini secara otomatis menempatkan Bedagung dalam peta destinasi wisata Jawa Tengah yang diakses jutaan wisatawan domestik setiap tahunnya. [6]

Dampak ekonomi langsung dirasakan warga melalui pendapatan dari pengelolaan camping ground, penjualan Kopi Gunung Lumping, jasa pemandu wisata, layanan homestay, dan kuliner lokal yang semuanya dikelola oleh warga desa sendiri. [4] Kehadiran Bedagung di platform Jadesta Kemenpar dan pengakuan provinsi meningkatkan visibilitas digital desa secara signifikan, menarik kunjungan wisatawan dari berbagai daerah di Jawa dan sekitarnya yang sebelumnya belum mengenal Bedagung sebagai destinasi. [5]

Secara kualitatif, pengembangan wisata desa mengubah persepsi warga tentang potensi kampung halaman mereka sendiri. [5] Pemuda desa yang sebelumnya cenderung merantau kini memiliki alasan kuat untuk tetap tinggal dan berkontribusi sebagai pengelola wisata, pemandu trekking, barista kopi lokal, atau pengembang konten digital yang mempromosikan Bedagung di media sosial — menciptakan ekosistem ekonomi kreatif berbasis desa yang berkelanjutan. [6]

Tantangan dan Kendala

Kendala utama yang masih dihadapi Desa Wisata Bedagung adalah aksesibilitas jalan menuju lokasi yang masih dalam tahap pengembangan. [4] Kondisi jalan yang belum sepenuhnya mulus menjadi hambatan bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan roda empat biasa, berpotensi mengurangi kunjungan terutama dari wisatawan keluarga dan kelompok usia lanjut yang tidak terbiasa dengan jalur pegunungan. [5]

Tantangan lain adalah menjaga autentisitas dan kualitas Kopi Gunung Lumping seiring meningkatnya permintaan wisata. [2] Peningkatan kunjungan memerlukan kapasitas produksi kopi yang lebih besar, sementara kopi warisan VOC ini ditanam secara organik dengan jumlah pohon yang terbatas dan tidak bisa diperbanyak secara instan tanpa mengorbankan keaslian yang menjadi daya tarik utamanya. Keseimbangan antara pertumbuhan wisata dan pelestarian warisan perkebunan bersejarah menjadi dilema yang perlu dikelola dengan bijaksana oleh Pokdarwis Marga Jati ke depannya. [2]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Desa Wisata Bedagung bertumpu pada penguatan kelembagaan Pokdarwis Marga Jati sebagai pengelola profesional yang tidak bergantung pada satu generasi kepemimpinan. [6] Digitalisasi pemasaran melalui website resmi bedagung.id, platform Jadesta Kemenpar, media sosial Instagram, TikTok, dan YouTube menjamin visibilitas desa secara berkelanjutan tanpa biaya promosi konvensional yang mahal dan menjangkau segmen wisatawan muda yang sangat aktif di platform digital. [6]

Dukungan Pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam mendaftarkan Bedagung ke ajang GDW Jawa Tengah secara berkala memberikan momentum tahunan untuk terus meningkatkan standar pengelolaan wisata sekaligus mempertahankan perhatian media dan wisatawan nasional. [1] Pengembangan infrastruktur jalan yang sedang berlangsung akan membuka aksesibilitas lebih luas, memungkinkan Bedagung menyambut lebih banyak wisatawan dan mengoptimalkan dampak ekonomi bagi seluruh warga desa secara inklusif. [4]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Desa Wisata Bedagung membuktikan bahwa wisata berbasis komunitas yang dikelola secara kolektif oleh warga desa mampu menjawab berbagai dimensi pembangunan berkelanjutan secara bersamaan di tingkat desa. [4] Integrasi antara pelestarian warisan budaya kopi, pemberdayaan ekonomi warga, pengelolaan alam pegunungan, dan penguatan kelembagaan desa menjadikan inovasi Bedagung relevan terhadap beberapa target SDGs secara serentak. [6]

No SDGs : Penjelasan
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi : Pengembangan unit wisata Jungle What Campground, Pinus Siampel, Sijangkung Coffee & Campground, pemanduan trekking, dan homestay warga menciptakan lapangan kerja layak bagi warga desa dari berbagai usia, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan berbasis potensi alam desa.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan : Model wisata berbasis komunitas menjadikan Bedagung permukiman pegunungan yang berkelanjutan, di mana aktivitas wisata dirancang untuk memperkuat — bukan mengancam — keaslian lanskap alam, warisan pertanian kopi, dan identitas budaya desa sebagai daya tarik utama yang tidak tergantikan.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab : Produksi Kopi Gunung Lumping yang sepenuhnya organik tanpa pupuk kimia dan pestisida sintetis, serta edukasi wisata “dari kebun ke cangkir” yang mengajarkan rantai produksi kopi berkelanjutan kepada wisatawan, mendorong pola produksi pertanian dan konsumsi pangan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
SDGs 15: Ekosistem Daratan : Kawasan hutan pinus dan perkebunan kopi organik di Gunung Lumping yang menjadi inti daya tarik wisata Bedagung secara otomatis terjaga kelestariannya karena nilai ekonominya langsung dirasakan warga desa sebagai sumber pendapatan wisata — menciptakan insentif alami bagi komunitas untuk menjaga ekosistem daratan pegunungan.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh : Pokdarwis Marga Jati yang mengelola seluruh unit wisata secara kolektif dan transparan menciptakan kelembagaan desa yang akuntabel dan demokratis, memperkuat tata kelola desa yang baik di mana manfaat ekonomi wisata terdistribusi secara adil kepada seluruh warga yang berpartisipasi.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan : Kolaborasi antara Pokdarwis Marga Jati, Pemerintah Desa Bedagung, Pemerintah Kabupaten Pekalongan, dan Kementerian Pariwisata melalui platform Jadesta menciptakan ekosistem kemitraan multipihak yang diakui tingkat provinsi dan nasional sebagai model pengembangan desa wisata berbasis komunitas.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model pengembangan wisata desa berbasis komunitas dan agrowisata komoditas lokal yang diterapkan Bedagung sangat relevan direplikasi oleh desa-desa pegunungan lain di Kecamatan Paninggaran dan Kabupaten Pekalongan yang memiliki komoditas perkebunan khas — teh, manggis, cengkeh — namun belum pernah mengemas proses produksinya sebagai pengalaman wisata edukasi yang bernilai tinggi. [2] Tiga elemen inti yang dapat ditransfer adalah: pembentukan Pokdarwis sebagai kelembagaan pengelola yang akuntabel, pendaftaran di Jadesta sebagai pintu masuk pasar nasional, dan identifikasi satu produk unggulan unik sebagai “magnet” utama destinasi. [4]

Pada skala provinsi, keberhasilan Bedagung masuk 10 Besar GDW 2025 membuka peluang kolaborasi dengan desa-desa wisata finalis lain untuk membangun paket wisata lintas desa di Jawa Tengah bagian barat yang menciptakan rute wisata pegunungan tematik yang lebih menarik bagi wisatawan luar provinsi. [1] Pengakuan di platform Jadesta Kemenpar mendorong desa-desa lain di Kabupaten Pekalongan untuk mendaftar dan mengembangkan model wisata berbasis potensi lokal masing-masing, memperluas dampak ekonomi wisata desa secara berganda di seluruh wilayah kabupaten. [6]

Daftar Pustaka

[1] Visit Jawa Tengah, “Gelar Desa Wisata Jawa Tengah 2025: 29 Desa Tampilkan Pesona Wisata Unggulan,” visitjawatengah.jatengprov.go.id, 28 Jul. 2025. [Online]. Available: https://visitjawatengah.jatengprov.go.id/id/artikel/gelar-desa-wisata-jawa-tengah-2025-29-desa-tampilkan-pesona-wisata-unggulan-

[2] Jadesta Kemenpar, “Produk Wisata: Kopi Lokal Gunung Lumping Bedagung,” jadesta.kemenpar.go.id, 2024. [Online]. Available: https://jadesta.kemenpar.go.id/paket/kopi_lokal_gunung_lumping_bedagung

[3] Desa Wisata Bedagung, “GDW 2025 | DESA WISATA BEDAGUNG KEC. PANINGGARAN KAB. PEKALONGAN,” YouTube, 14 Jul. 2025. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=0f4V1M9neEM

[4] Jadesta Kemenpar, “Desa Wisata Bedagung,” jadesta.kemenpar.go.id, 2023. [Online]. Available: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/bedagung

[5] Radar CBS, “Desa Wisata Bedagung Pekalongan: Surga Tersembunyi di Lereng Pegunungan yang Bikin Jatuh Cinta,” radarcbs.com, 2025. [Online]. Available: https://radarcbs.com/read/6578/desa-wisata-bedagung-pekalongan-surga-tersembunyi-di-lereng-pegunungan-yang-bikin-jatuh-cinta

[6] Pemerintah Desa Bedagung, “Website Resmi Desa Bedagung,” bedagung.id, 2025. [Online]. Available: https://bedagung.id

[7] Solopos/Espos, “Selamat! Desa Jarum Klaten Juara Harapan Anugerah Gelar Desa Wisata Jateng 2025,” solopos.espos.id, 14 Sep. 2025. [Online]. Available: https://solopos.espos.id/selamat-desa-jarum-klaten-juara-harapan-anugerah-gelar-desa-wisata-jateng-2025-2141629

[8] Kumparan Bisnis, “Mengulik Jejak Kopi Era VOC di Banten yang Kini Gerakkan Ekonomi Petani Lokal,” kumparan.com, Jan. 2026. [Online]. Available: https://kumparan.com/kumparanbisnis/mengulik-jejak-kopi-era-voc-di-banten-yang-kini-gerakkan-ekonomi-petani-lokal-26Xcgz1xtWi

[9] RRI Purwokerto, “Desa Wanadadi Juara Favorit Desa Wisata Jateng 2025,” rri.co.id, 11 Sep. 2025. [Online]. Available: https://rri.co.id/purwokerto/info-pemda/1827712/desa-wanadadi-juara-favorit-desa-wisata-jateng-2025

[10] Dinporapar Kab. Pekalongan, “10 Besar Desa Wisata Tahun 2025 — Desa Wisata Bedagung,” instagram.com/dinporapar, Sep. 2025. [Online]. Available: https://www.instagram.com/p/DOm7OG3k0_6/

Desa Sikasur Pemalang Membangun Ekosistem Wisata Terpadu Berbasis BUMDes dan Meraih Predikat Desa Wisata Maju Terbaik

Desa Sikasur Pemalang Membangun Ekosistem Wisata Terpadu Berbasis BUMDes dan Meraih Predikat Desa Wisata Maju Terbaik

Ringkasan Inovasi

Desa Sikasur di Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, membangun inovasi tata kelola desa wisata terpadu yang memadukan kekayaan alam — Curug Bengkawah, Telaga Silating, dan rafting — dengan kekuatan budaya lokal seperti kuda lumping, sintren, calung, dan karawitan, serta kewirausahaan warga melalui homestay, UMKM, dan Pasar Krempyeng. [1][5] Inovasi ini menempatkan BUMDes sebagai simpul pengelola tunggal yang menghubungkan seluruh komponen ekosistem wisata agar manfaat ekonomi tidak bocor keluar desa, melainkan berputar dan menguat di tangan warga sebagai pelaku utama. [8]

Tujuan utama inovasi ini adalah mengubah potensi alam yang tersebar menjadi sumber ekonomi desa yang tertata, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus membangun identitas desa wisata yang autentik dan tidak mudah ditiru oleh daerah lain. [3] Dampak utamanya sangat nyata: Sikasur meraih predikat terbaik kategori Desa Wisata Maju pada Festival Lomba Desa Wisata Kabupaten Pemalang 2022, mengalahkan 15 desa wisata peserta dari seluruh Kabupaten Pemalang, dan tumbuh sebagai ruang usaha bersama bagi 80 pedagang lokal, pengelola wisata, pelaku homestay, dan kelompok seni desa. [1][4] Program desa wisata seperti Sikasur terbukti menciptakan jutaan lapangan kerja baru secara nasional, membuktikan relevansinya sebagai model pembangunan desa berbasis pariwisata komunitas. [*]

Latar Belakang

Sikasur berada di wilayah selatan Pemalang yang kaya lanskap alam pegunungan, namun selama bertahun-tahun desa ini berada di pinggir arus utama pertumbuhan pariwisata Jawa Tengah tanpa mampu mengkonversi potensi alamnya menjadi kesejahteraan nyata bagi warga. [5][3] Potensi Curug Bengkawah, Telaga Silating, dan aliran sungai yang cocok untuk rafting sesungguhnya sangat besar, namun tanpa tata kelola yang terstruktur, setiap kunjungan wisatawan berlalu tanpa meninggalkan nilai ekonomi yang berarti bagi masyarakat lokal. Akibatnya, potensi alam hanya menjadi pemandangan bagi warga sendiri, sementara uang wisatawan mengalir keluar desa tanpa sempat berputar dalam ekosistem ekonomi lokal. [6]

Kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi sebelum inovasi ini menguat adalah model pengelolaan yang mampu menyatukan objek wisata, pelaku usaha, dan budaya lokal dalam satu arus manfaat yang terukur dan dapat dirasakan langsung oleh seluruh lapisan warga. [7] Riset tentang pembangunan desa wisata berbasis partisipasi masyarakat mengonfirmasi bahwa tanpa kelembagaan pengelola yang jelas, keuntungan wisata cenderung terkonsentrasi pada segelintir pelaku dan tidak menyentuh rumah tangga paling miskin yang justru paling membutuhkan. Desa tidak cukup hanya memiliki destinasi yang indah — ia membutuhkan sistem distribusi manfaat yang adil dan mekanisme bisnis yang membuat belanja wisatawan menetap dan berputar di dalam desa. [6]

Pandemi COVID-19 menjadi titik balik yang memperjelas betapa rapuhnya ekonomi desa yang tidak ditopang oleh inovasi adaptif dan sumber penghasilan yang terdiversifikasi. [8] Ketika situasi mulai pulih pasca-pandemi, Desa Sikasur menangkap momentum pemulihan untuk menata ulang ekosistem wisatanya secara lebih sistematis — mengintegrasikan objek alam, tradisi budaya, dan usaha warga dalam satu model pengelolaan berbasis BUMDes yang membuat desa tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga mampu memutar setiap rupiah belanja wisata menjadi penghasilan nyata bagi warganya. [1]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan Desa Sikasur adalah model tata kelola desa wisata terpadu berbasis BUMDes dan partisipasi penuh masyarakat, yang menggabungkan Curug Bengkawah, Telaga Silating, rafting, homestay, Pasar Krempyeng, UMKM kuliner, dan pertunjukan budaya lokal menjadi satu paket pengalaman wisata yang utuh, khas, dan membuat wisatawan tinggal lebih lama sehingga membelanjakan lebih banyak uang di desa. [1][3][9] Inovasi ini lahir dari kesadaran Kepala Desa Kusni bahwa wisata akan bertahan kuat hanya jika desa menjual cerita, suasana, dan keterlibatan warga — bukan sekadar pemandangan yang bisa dinikmati lalu ditinggalkan dalam hitungan menit. Karena itu, BUMDes diposisikan sebagai simpul pengelola yang mengoordinasikan seluruh pelaku: dari pemandu wisata, penyedia homestay, pedagang Pasar Krempyeng, seniman kuda lumping dan sintren, hingga pelaku UMKM yang menjual kuliner khas seperti Nasi Tenong — sajian tradisional berbasis budaya lokal yang kini menjadi bagian dari paket wisata budaya desa. [11]

Secara teknis, inovasi ini bekerja melalui mekanisme ekosistem yang saling mengunci: wisatawan yang datang menikmati alam akan diarahkan pula ke atraksi budaya, kemudian ke pasar warga untuk berbelanja produk lokal, lalu menginap di homestay yang dikelola warga desa. [5][8] Setiap titik dalam rantai pengalaman wisata ini dikelola oleh warga Sikasur sendiri, sehingga setiap transaksi yang terjadi langsung menghasilkan pendapatan bagi rumah tangga lokal tanpa perantara dari luar desa. BUMDes berperan memastikan standar layanan terjaga, promosi berjalan konsisten, dan keuntungan kolektif dikelola secara transparan untuk pengembangan fasilitas dan pelatihan warga secara berkelanjutan. [6]

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan inovasi dimulai dari pemetaan menyeluruh terhadap aset wisata, budaya, dan pelaku ekonomi yang ada di Desa Sikasur, untuk memahami potensi apa yang sudah dimiliki dan celah apa yang perlu diisi agar ekosistem wisata bisa berjalan secara terintegrasi. [1] Setelah peta potensi terbentuk, Pemerintah Desa kemudian merancang struktur kelembagaan yang menempatkan BUMDes sebagai pengelola tunggal yang bertanggung jawab atas keputusan bisnis, pengembangan atraksi, pembinaan UMKM, dan pengelolaan homestay — memastikan seluruh komponen wisata bergerak dalam arah yang sama dan tidak berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi. [8]

Tahap eksperimen dan pengujian model layanan dilakukan dengan cara menggabungkan atraksi alam dan budaya secara terencana dalam satu kalender wisata desa yang rutin diperbarui. [5] Desa tidak hanya memoles objek utama seperti Curug Bengkawah dan Telaga Silating, tetapi secara aktif mengintegrasikan pertunjukan kuda lumping, sintren, calung, dan karawitan sebagai daya tarik budaya yang membuat pengalaman wisata Sikasur terasa khas dan tidak mudah ditiru desa lain di sekitarnya. Pengujian pasar yang paling krusial dilakukan melalui pembentukan Pasar Krempyeng yang melibatkan 80 pedagang lokal dan menyediakan ruang usaha eksklusif khusus bagi warga Sikasur — sebuah langkah yang membuktikan bahwa distribusi manfaat wisata ke pelaku kecil bisa dilakukan secara cepat dan langsung tanpa menunggu akumulasi keuntungan BUMDes terlebih dahulu. [1]

Pembelajaran terpenting dari proses ini adalah bahwa integrasi antara objek wisata, budaya, dan ekonomi warga tidak bisa dipaksakan dalam satu waktu — ia harus tumbuh secara organik melalui pendampingan bertahap, kepercayaan yang dibangun perlahan, dan evaluasi jujur setelah setiap siklus kunjungan wisata. [7] Kegagalan awal dalam standarisasi kualitas homestay dan konsistensi jadwal atraksi budaya menjadi pelajaran berharga yang mendorong BUMDes menyusun panduan layanan dan kalender atraksi yang lebih terstruktur dan dapat diprediksi oleh wisatawan yang merencanakan kunjungan dari jauh. Proses iterasi yang sabar dan berbasis evaluasi nyata inilah yang akhirnya membawa Sikasur ke titik kematangan pengelolaan yang diakui secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang. [1]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama keberhasilan Sikasur adalah kepemimpinan Kepala Desa Kusni yang mampu menerjemahkan visi pariwisata berbasis komunitas menjadi kerja kolektif nyata yang melibatkan seluruh elemen desa — perangkat desa, BUMDes, pelaku seni, pedagang, dan warga biasa — dalam peran yang saling melengkapi dan tidak saling bersaing. [1][8] Kepemimpinan yang inklusif ini menciptakan rasa memiliki yang kuat di kalangan warga, sehingga inovasi tidak berhenti pada promosi dan papan nama, tetapi benar-benar hidup dalam aktivitas ekonomi dan budaya sehari-hari yang terasa organik dan autentik bagi pengunjung. Komitmen Pemerintah Desa dalam mengalokasikan anggaran secara konsisten untuk pengembangan fasilitas, pelatihan warga, dan promosi digital menjadi bukti nyata bahwa visi wisata Sikasur bukan retorika musiman, melainkan prioritas pembangunan jangka panjang. [6]

Faktor kedua yang sangat determinan adalah kemampuan desa dalam mengemas wisata sebagai ekosistem pengalaman yang utuh, bukan sekadar kumpulan destinasi tunggal yang berdiri sendiri-sendiri. [3][5] Ketika Curug Bengkawah, Telaga Silating, rafting, homestay, Pasar Krempyeng, Nasi Tenong, dan pertunjukan seni tradisional saling terhubung dalam satu narasi pengalaman yang mengalir, pengunjung mendapatkan alasan kuat untuk tinggal lebih lama dan kembali lagi — sementara desa memperoleh sumber pendapatan yang lebih beragam dan tidak bergantung pada satu daya tarik tunggal yang mudah usang. Penelitian tentang strategi pembangunan desa wisata menegaskan bahwa keunggulan kompetitif yang paling tahan lama justru lahir dari keunikan budaya dan keterlibatan komunitas, bukan dari kecanggihan fasilitas fisik yang bisa ditiru dalam hitungan bulan. [7]

Hasil dan Dampak Inovasi

Hasil yang paling terukur dan membanggakan adalah keberhasilan Desa Sikasur meraih predikat terbaik kategori Desa Wisata Maju pada Festival Lomba Desa Wisata Kabupaten Pemalang 2022, mengalahkan 15 desa wisata peserta yang dinilai dari enam aspek ketat: dukungan kebijakan desa, partisipasi aktif warga, kualitas sarana prasarana, keterlibatan UMKM, pelestarian budaya lokal, dan inovasi pengelolaan. [1][4] Pencapaian ini bukan hanya kemenangan seremonial — ia adalah validasi eksternal oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang bahwa model tata kelola wisata berbasis BUMDes dan komunitas yang dibangun Sikasur selama bertahun-tahun benar-benar memenuhi standar desa wisata maju yang layak dijadikan rujukan. Kabupaten Pemalang sendiri tengah mengembangkan 27 desa wisata secara paralel, dan pengakuan terhadap Sikasur memperkuat posisinya sebagai lokomotif pengembangan wisata perdesaan di wilayah selatan Pemalang. [10]

Dampak ekonomi terlihat konkret dari tumbuhnya berbagai unit usaha warga yang beroperasi dalam ekosistem wisata Sikasur. [1] Kehadiran 80 pedagang dalam Pasar Krempyeng membuktikan bahwa inovasi ini tidak hanya menghadirkan destinasi yang cantik di media sosial, tetapi juga membuka ruang usaha riil yang langsung menyentuh pendapatan rumah tangga — terutama bagi warga yang tidak memiliki modal besar untuk memulai usaha secara mandiri di luar ekosistem wisata desa. Penelitian akademik tentang dampak desa wisata terhadap ekonomi masyarakat mengonfirmasi bahwa keberadaan desa wisata yang dikelola secara inklusif mampu meningkatkan persentase warga yang berdagang dan mengakses peluang usaha secara signifikan dibandingkan kondisi sebelum desa wisata beroperasi. [13]

Dampak kualitatif yang paling bermakna adalah transformasi identitas kolektif warga Sikasur dari komunitas yang sekadar menikmati alam desanya menjadi komunitas pelaku wisata yang bangga, percaya diri, dan aktif membangun reputasi desanya di panggung pariwisata Jawa Tengah. [5][6] Keterlibatan kelompok seni budaya lokal dalam paket wisata tidak hanya menghasilkan pendapatan tambahan bagi para seniman, tetapi juga menghidupkan kembali praktik-praktik budaya yang sebelumnya terancam punah karena kurangnya apresiasi dan dukungan finansial dari komunitas sendiri. Sikasur membuktikan bahwa pariwisata berbasis budaya, jika dikelola dengan benar, bisa menjadi instrumen pelestarian identitas lokal yang jauh lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan program konservasi budaya berbasis subsidi pemerintah semata. [7]

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama yang dihadapi Desa Wisata Sikasur adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kunjungan wisatawan yang terus meningkat dan kelestarian sumber daya alam yang menjadi daya tarik utama desa. [1][5] Curug Bengkawah dan Telaga Silating berada dalam konteks kawasan yang memerlukan perlindungan ekosistem secara aktif, sehingga pengembangan fasilitas wisata harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar keindahan alam yang menjadi aset utama tidak rusak oleh tekanan kunjungan berlebih, pembangunan infrastruktur yang tidak terencana, atau perilaku wisatawan yang tidak ramah lingkungan. Tanpa sistem manajemen kapasitas kunjungan (carrying capacity) yang jelas, popularitas Sikasur justru bisa menjadi ancaman bagi keberlanjutan daya tarik wisatanya sendiri dalam jangka panjang. [7]

Kendala berikutnya terletak pada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kapasitas SDM pengelola wisata dan memperkuat kehadiran digital Sikasur di platform-platform promosi wisata yang semakin kompetitif. [8][7] Tanpa pelatihan yang berkelanjutan tentang standar pelayanan wisata, pengelolaan media sosial, dan teknik pemasaran digital, kualitas pengalaman yang diterima wisatawan akan tidak konsisten — dan reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam hitungan ulasan negatif yang tersebar luas di platform digital. Kesinambungan kualitas layanan dari seluruh 80-an pelaku usaha yang terlibat dalam ekosistem wisata Sikasur membutuhkan sistem pembinaan yang terstruktur, rutin, dan memiliki standar yang terukur — sebuah tantangan kelembagaan yang terus membutuhkan perhatian dan sumber daya dari BUMDes sebagai pengelola. [6]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi Desa Wisata Sikasur dijaga melalui penguatan kelembagaan BUMDes sebagai fondasi manajerial yang profesional dan akuntabel, dengan penyusunan standar operasional layanan yang mengikat seluruh pelaku usaha dalam ekosistem wisata agar kualitas pengalaman wisatawan terjaga konsisten dari kunjungan ke kunjungan. [8][6] Desa juga memastikan bahwa pendapatan dari tiket masuk, paket wisata, homestay, dan Pasar Krempyeng dikelola secara transparan dan dialokasikan secara proporsional untuk tiga prioritas: perawatan dan peningkatan fasilitas wisata, pelatihan berkelanjutan bagi pengelola dan pelaku UMKM, serta dana konservasi lingkungan untuk menjaga kelestarian Curug Bengkawah dan Telaga Silating sebagai aset alam yang tidak ternilai. Siklus reinvestasi yang terencana ini memastikan Sikasur terus berkembang dari kekuatannya sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan program pemerintah yang sifatnya periodik dan tidak pasti. [2]

Strategi jangka panjang lainnya adalah memperkuat kehadiran digital resmi Sikasur melalui kanal-kanal media sosial yang dikelola secara profesional dan rutin diperbarui dengan konten berkualitas yang mencerminkan keunikan alam dan budaya desa. [2][3] Dengan memperluas jejaring pemasaran ke segmen wisatawan minat khusus — pecinta alam, peneliti budaya, wisatawan keluarga, dan komunitas eduwisata — Sikasur dapat mengurangi ketergantungan pada kunjungan musiman akhir pekan yang tidak merata sepanjang tahun. Visi jangka panjang yang paling ambisius adalah menjadikan Sikasur sebagai pusat jaringan wisata pedesaan di selatan Pemalang, dengan kalender atraksi budaya tahunan yang menjadi agenda tetap pariwisata Jawa Tengah dan menarik minat wisatawan mancanegara yang mencari pengalaman budaya autentik di luar jalur wisata mainstream. [10]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi tata kelola desa wisata terpadu Sikasur berkontribusi secara langsung pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan dan saling memperkuat, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Ekosistem wisata Sikasur membuka lapangan kerja dan peluang usaha bagi warga desa yang sebelumnya tidak memiliki sumber penghasilan tetap, melalui homestay, UMKM, Pasar Krempyeng, jasa pemandu wisata, dan pertunjukan seni budaya yang semuanya dikelola langsung oleh warga lokal. Kehadiran 80 pedagang di Pasar Krempyeng membuktikan bahwa manfaat ekonomi wisata menjangkau lapisan masyarakat paling bawah secara langsung dan tidak melalui perantara. [1]
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pengelolaan wisata berbasis BUMDes menciptakan pekerjaan layak yang berkelanjutan bagi warga desa di berbagai segmen — dari pengelola wisata alam dan budaya, operator homestay, pedagang kuliner, hingga pelaku UMKM kerajinan. PADes yang tumbuh dari sektor pariwisata membangun fondasi ekonomi desa yang tidak bergantung semata-mata pada transfer fiskal pemerintah pusat dan lebih tahan terhadap fluktuasi ekonomi makro. [8]
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Model desa wisata Sikasur membangun komunitas desa yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan dengan menjadikan warisan budaya dan kekayaan alam sebagai aset pembangunan yang dikelola secara partisipatif. Pendekatan tata kelola berbasis komunitas ini mendorong warga untuk aktif merawat ruang desa mereka sebagai ruang ekonomi sekaligus ruang kehidupan yang bermartabat. [6]
SDGs 15: Ekosistem Daratan Pengelolaan wisata alam Curug Bengkawah dan Telaga Silating mendorong Desa Sikasur untuk aktif melindungi ekosistem darat dan sumber daya air yang menjadi tulang punggung daya tarik wisatanya. Alokasi pendapatan wisata untuk dana konservasi lingkungan menjadi mekanisme inovatif pembiayaan pelestarian alam berbasis komunitas yang tidak bergantung pada subsidi pemerintah. [1]
SDGs 17: Kemitraan untuk Tujuan Sikasur membangun kemitraan multi-pihak yang efektif antara Pemerintah Desa, BUMDes, kelompok seni budaya, pelaku UMKM, Dinas Pariwisata Kabupaten Pemalang, dan rencana kerja sama kawasan Dewi Nadulang dalam satu ekosistem yang saling menguntungkan. Model kemitraan lintas sektor ini menjadi prasyarat keberhasilan pengembangan desa wisata yang berkelanjutan dan diakui oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. [10][12]

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Sikasur sangat potensial untuk direplikasi oleh desa-desa lain karena bertumpu pada prinsip-prinsip yang universal dan tidak membutuhkan modal awal yang luar biasa besar: pemetaan jujur terhadap aset lokal yang ada, penunjukan pengelola kelembagaan yang jelas melalui BUMDes, dan penghubungan objek wisata dengan usaha warga secara sistematis agar belanja wisatawan tidak bocor keluar desa. [7][6] Desa-desa yang ingin mereplikasi model ini perlu memahami bahwa kunci utamanya bukan keindahan alam semata — melainkan kemampuan mengemas keunikan lokal menjadi narasi pengalaman yang kohesif, autentik, dan dapat dijual secara konsisten kepada berbagai segmen wisatawan. [7]

Strategi scale up yang paling realistis dan berdampak luas adalah pengembangan kerja sama kawasan wisata terpadu “Dewi Nadulang” (Desa Wisata Naik Daun Pemalang Selatan), di mana Sikasur berperan sebagai lokomotif yang menarik desa-desa wisata sekitarnya untuk bergabung dalam satu sistem promosi, rute kunjungan, dan paket pengalaman yang dijual bersama ke pasar wisatawan yang lebih luas. [10] Pendekatan kawasan ini tidak hanya memperkuat posisi tawar desa-desa selatan Pemalang sebagai destinasi wisata yang komprehensif, tetapi juga menyebarkan manfaat ekonomi pariwisata kepada lebih banyak desa yang sebelumnya tidak memiliki daya tarik tunggal yang cukup kuat untuk berdiri sendiri di pasar wisata yang semakin kompetitif. Dengan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang telah mengalokasikan bantuan pengembangan desa wisata secara aktif, proses scale up ini memiliki ekosistem kelembagaan dan finansial yang kondusif untuk dipercepat secara signifikan. [12]

Daftar Pustaka

[1] Pemerintah Kabupaten Pemalang, “Sikasur Dinobatkan sebagai Desa Wisata Maju,” pemalangkab.go.id, Mar. 2022. [Online]. Available: https://pemalangkab.go.id/2022/03/sikasur-dinobatkan-sebagai-desa-wisata-maju

[2] Kementerian Pariwisata RI, “Desa Wisata Sikasur — Jadesta,” jadesta.kemenpar.go.id. [Online]. Available: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/21296

[3] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, “Desa Wisata Sikasur,” jadesta.kemenparekraf.go.id. [Online]. Available: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/sikasur_2

[4] Redaksi Kabar Pemalang, “Sikasur Menjadi Desa Wisata Terbaik 2022,” kabarpemalang.id, 29 Mar. 2022. [Online]. Available: https://kabarpemalang.id/arsip/sikasur-menjadi-desa-wisata-terbaik-2022/

[5] Redaksi Langit7, “Desa Wisata Sikasur, Padukan Budaya dan Potensi Alam yang Memukau,” langit7.id, 13 Jul. 2022. [Online]. Available: https://langit7.id/read/19045/1/desa-wisata-sikasur-padukan-budaya-dan-potensi-alam-yang-memukau-1657746449

[6] Journal of Administration, Governance, and Political Issues, “Peran BUMDes dalam Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat,” journal.pubmedia.id. [Online]. Available: https://journal.pubmedia.id/index.php/jagpi/article/download/2516/2822/5250

[7] Journal Center, “Strategi Pembangunan Desa Wisata untuk Peningkatan Ekonomi Masyarakat,” journalcenter.org. [Online]. Available: https://journalcenter.org/index.php/jempper/article/download/5614/4318

[8] JSPM Unimal, “Peran BUMDes dalam Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat,” ojs.unimal.ac.id. [Online]. Available: https://ojs.unimal.ac.id/jspm/article/download/22124/9464/60116

[9] Jadesta Jawa Tengah, “Atraksi Telaga Silating,” jateng.jadesta.com. [Online]. Available: https://jateng.jadesta.com/atraksi/telaga_silating

[10] Pemerintah Kabupaten Pemalang, “Bangkitkan Pariwisata di Pemalang, Disparpora Kembangkan Potensi 27 Desa Wisata,” pemalangkab.go.id, 11 Apr. 2022. [Online]. Available: https://pemalangkab.go.id/2022/04/bangkitkan-pariwisata-di-pemalang-disparpora-kembangkan-potensi-27-desa-wisata

[11] Jadesta Jawa Tengah, “Produk Wisata Nasi Tenong,” jateng.jadesta.com. [Online]. Available: https://jateng.jadesta.com/paket/nasi_tenong

[12] Redaksi Suara.com, “Kembangkan Ekonomi Daerah, Ganjar Gelontorkan Bantuan untuk Bangun Desa Wisata,” suara.com, 2 Agu. 2022. [Online]. Available: https://www.suara.com/bisnis/2022/08/02/081444/kembangkan-ekonomi-daerah-ganjar-gelontorkan-bantuan-untuk-bangun-desa-wisata

[13] Redaksi ANTARA, “Desa Wisata Berdampak pada Peningkatan Ekonomi dan Lapangan Kerja,” antaranews.com, 27 Apr. 2023. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/3509787/desa-wisata-berdampak-pada-peningkatan-ekonomi-dan-lapangan-kerja