oleh Tim Inovasi Desa | 13 Sep 2026 | Pariwisata
Ringkasan Inovasi
Pemerintah Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, bersama Pokdarwis Tirta Amarta Asinan merancang paket wisata tematik Asinan Rawa Pening Eco Tourism sejak 2023, mengintegrasikan wisata alam danau, kuliner khas rawa, kerajinan enceng gondok, dan edukasi lingkungan dalam satu ekosistem wisata berbasis komunitas nelayan [1]. Pendekatan intinya mengubah enceng gondok, gulma invasif yang mengganggu ekosistem Rawa Pening, menjadi pupuk organik dan kerajinan tangan bernilai jual, sehingga masalah ekologis sekaligus menjadi peluang ekonomi bagi warga [4]. Pada 10 Desember 2024, upaya Pokdarwis dan warga desa membuahkan predikat Terbaik II (Runner-Up) kategori Desa Wisata Berkembang dalam Anugerah Desa Wisata Berdikari Kabupaten Semarang 2024, di tengah persaingan dengan puluhan desa wisata se-kabupaten [2].
Latar Belakang
Desa Asinan terletak di tepi selatan Danau Rawa Pening, salah satu danau terbesar di Jawa Tengah yang menjadi sumber penghidupan ribuan nelayan di sekitarnya. Desa ini terdiri dari empat dusun, yakni Krajan Asinan, Baan, Sumurup, dan Mengkelang, dengan mayoritas warga berprofesi sebagai nelayan rawa yang menangkap ikan mujair, nila, dan lobster air tawar dari genangan danau seluas lebih dari 2.000 hektare [3].
Rawa Pening menghadapi ancaman blooming enceng gondok yang menutupi permukaan danau, memperburuk kualitas air, mempercepat sedimentasi, dan menekan produktivitas perikanan [4]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci angka pasti volume biomassa enceng gondok maupun data kuantitatif hasil tangkapan nelayan sebelum inovasi diterapkan, namun sejumlah kajian akademik mencatat gulma ini sebagai ancaman ekologis berskala besar yang turut menekan pendapatan nelayan [8]. Nelayan berada di antara merosotnya hasil tangkapan dan lemahnya nilai jual ikan yang belum diolah secara inovatif, situasi yang menempatkan krisis ekologi sebagai krisis ekonomi sekaligus [8].
Di sisi lain, Rawa Pening menyimpan potensi wisata yang belum tergarap optimal: panorama danau berlatar Pegunungan Ungaran, momen matahari terbit dan terbenam di kawasan Sumurup, serta kuliner khas rawa seperti ikan bakar, oseng genjer, dan kerupuk tulang ikan [1]. Desa Asinan melihat peluang mengubah ancaman ekologis ini menjadi daya tarik wisata edukasi yang sekaligus melestarikan danau dan menambah penghasilan nelayan [9].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi inti Desa Asinan adalah pendekatan mengubah enceng gondok dari gulma pengganggu menjadi sumber pendapatan baru, yaitu pupuk organik cair melalui fermentasi dengan EM4 dan larutan gula, serta kerajinan tangan berupa sandal, tas, dompet, dan aksesori dari anyaman enceng gondok kering [4]. Fermentasi enceng gondok menghasilkan pupuk organik cair dengan kandungan C-organik 18,93 persen, N total 1,78 persen, P 1,10 persen, dan K 1,26 persen, komposisi yang memenuhi standar pupuk organik layak jual secara komersial, sejalan dengan kajian teknis tentang pengolahan bahan organik enceng gondok menjadi pupuk kompos [4], [10].
Paket wisata Asinan Rawa Pening Eco Tourism yang dikelola Pokdarwis Tirta Amarta Asinan menawarkan pengalaman terintegrasi, meliputi wisata perahu keliling danau, kunjungan ke area sunrise dan sunset Sumurup, workshop kerupuk genjer dan kerajinan enceng gondok, kegiatan menebar benih ikan bersama nelayan, praktik membuat pupuk organik, kuliner di warung apung dan Pasar Kuliner Sawahan, serta menginap di homestay warga [5]. Paket ini dipromosikan melalui situs desawisata-asinan.com dan media sosial yang dikelola tim desa, menjangkau wisatawan muda perkotaan yang mencari pengalaman wisata berbasis alam [3].
Proses Penerapan Inovasi
Transformasi Desa Asinan menjadi destinasi eco-tourism dimulai dari pembentukan Pokdarwis Tirta Amarta Asinan sebagai motor penggerak pengelolaan wisata berbasis komunitas. Pokdarwis melakukan pemetaan potensi desa secara partisipatif, mengidentifikasi aset alam danau, kekayaan kuliner lokal, dan keterampilan warga, yang kemudian dikemas menjadi paket wisata yang dapat dinikmati wisatawan dari berbagai latar belakang [3].
Inovasi pengolahan enceng gondok menjadi pupuk organik dikembangkan melalui pelatihan yang dipandu pendamping dari perguruan tinggi, termasuk mahasiswa Universitas Diponegoro dalam program Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Enceng Gondok di kawasan Rawa Pening, sebagai bentuk kolaborasi akademisi dan komunitas desa [9]. Uji coba awal produksi pupuk sempat menghadapi kendala konsistensi kualitas akibat perbedaan tingkat kematangan bahan baku enceng gondok. Kegagalan ini kemudian mendorong kelompok ibu rumah tangga desa menyusun prosedur baku produksi dan standar pemilahan bahan yang diterapkan secara kolektif [4].
Digitalisasi promosi wisata dibangun bertahap melalui situs resmi dan konten media sosial berupa video, ulasan kuliner, dan testimoni wisatawan. Pendaftaran profil digital Desa Asinan di Jadesta Kemenparekraf turut membuka akses promosi ke pasar wisatawan yang lebih luas [1], [3].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal terbesar adalah menjaga kualitas dan konsistensi layanan wisata saat volume kunjungan meningkat, terutama manajemen kapasitas homestay dan ketersediaan armada perahu wisata. Kendala ini dimitigasi melalui pembagian giliran homestay warga dan koordinasi jadwal perahu oleh Pokdarwis agar kunjungan tersebar merata sepanjang pekan [3].
Tantangan eksternal berupa fluktuasi musim dan cuaca yang mengubah kondisi danau turut berdampak pada kenyamanan wisata perahu dan ketersediaan ikan segar untuk sajian kuliner. Pasokan bahan kuliner yang bergantung pada tangkapan nelayan harian dimitigasi dengan menyesuaikan menu warung apung sesuai hasil tangkapan yang tersedia pada hari itu [3].
Pada sisi kapasitas SDM, peningkatan kompetensi warga dalam hospitalitas, bahasa asing, dan pemasaran digital masih menjadi pekerjaan rumah, sementara ketergantungan pada media sosial sebagai kanal promosi utama menambah beban kerja pembaruan konten rutin, terutama saat musim tangkapan ikan sedang berlangsung dan waktu warga nelayan tersita penuh. Kendala ini dimitigasi melalui pembagian tugas antaranggota Pokdarwis, sebagian fokus melaut dan sebagian lain menangani promosi serta layanan wisatawan secara bergantian [2], [3].
Faktor Penentu Keberhasilan
Kepemimpinan kolektif Sri Slamet sebagai Ketua Pokdarwis dan Dewi sebagai penasehat menjadi fondasi pengelolaan yang seimbang antara pelestarian tradisi dan adaptasi terhadap tren pariwisata kontemporer. Keduanya menempatkan warga nelayan, bukan investor luar, sebagai pelaku utama dan penerima manfaat dari seluruh aktivitas wisata, sehingga menumbuhkan rasa kepemilikan kolektif yang menopang keberlanjutan program [2].
Dukungan Pemerintah Kabupaten Semarang melalui Dinas Pariwisata dengan program Anugerah Desa Wisata Berdikari memberi insentif kompetisi yang mendorong Pokdarwis terus berbenah dan meningkatkan standar layanan [6]. Kolaborasi dengan mahasiswa KKN dari berbagai perguruan tinggi memperkuat kapasitas inovasi produk wisata dan mempertebal validasi akademik atas pendekatan eco-tourism yang diterapkan [9].
Hasil dan Dampak Inovasi
Pencapaian paling nyata adalah predikat Terbaik II (Runner-Up) pada Anugerah Desa Wisata Berdikari Kabupaten Semarang 2024 kategori Desa Wisata Berkembang, pengakuan resmi pemerintah kabupaten atas tata kelola dan inovasi Desa Asinan di tengah persaingan dengan puluhan desa wisata se-Kabupaten Semarang [2]. Desa Asinan juga terdaftar di Jadesta Kemenparekraf RI, membuka akses promosi ke pasar wisatawan nasional yang lebih luas dibanding promosi konvensional [1]. Dokumentasi publik yang tersedia belum merinci data pembanding kuantitatif kunjungan wisatawan atau hasil tangkapan nelayan sebelum dan sesudah inovasi diterapkan, sehingga dampak di atas disampaikan sebatas capaian kualitatif yang terverifikasi.
Secara ekonomi, paket wisata terintegrasi memberi sumber pendapatan tambahan bagi nelayan, tidak lagi hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan yang berfluktuasi, tetapi juga jasa perahu wisata, penjualan kuliner di warung apung, sewa homestay, dan penjualan kerajinan enceng gondok kepada wisatawan [5]. Kajian tentang revitalisasi Rawa Pening berbasis komunitas turut mencatat peningkatan pengetahuan dan keterampilan warga pengrajin sebagai dampak yang menyertai program ini [11].
Dari sisi ekologi, pengolahan enceng gondok yang konsisten membantu mengurangi populasi gulma invasif yang mengancam kelangsungan Rawa Pening. Kajian tentang konservasi berbasis komunitas menunjukkan pendekatan yang memadukan insentif ekonomi dengan pelestarian lingkungan cenderung lebih berkelanjutan dibanding program konservasi searah yang tidak memberi alternatif penghasilan bagi warga yang bergantung pada ekosistem tersebut [8], [4].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Dokumentasi publik yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal maupun sumber pendanaan pembangunan fasilitas wisata Desa Asinan secara spesifik, meskipun pola umum pengembangan wisata desa serupa umumnya bertumpu pada swadaya kelompok Pokdarwis dan dukungan program pemerintah desa [3]. Model pendapatan bertumpu pada penjualan jasa wisata perahu, tiket workshop kerajinan dan pupuk organik, penjualan kuliner warung apung dan Pasar Kuliner Sawahan, sewa homestay warga, serta penjualan produk kerajinan dan pupuk organik enceng gondok [5], [4].
Untuk pengembangan lanjutan, Pokdarwis berharap penghargaan Runner-Up ADWB 2024 dapat menarik investasi swasta dan dana tanggung jawab sosial perusahaan guna melengkapi fasilitas wisata yang lebih memadai, sebagai pelengkap pendapatan mandiri dari aktivitas wisata yang sudah berjalan [2].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan menempatkan nelayan sebagai pelaku utama, bukan sekadar objek program bantuan, terbukti menjadi kunci keberlanjutan karena menumbuhkan rasa kepemilikan kolektif warga terhadap ekosistem wisata yang dibangun [2]. Kegagalan konsistensi kualitas pada uji coba awal pupuk organik juga menjadi pembelajaran penting bahwa standar produksi baku harus disusun sejak awal, bukan menunggu masalah muncul di lapangan.
Jika memulai dari awal, penyusunan standar pemilahan bahan baku dan prosedur produksi idealnya dirumuskan bersamaan dengan pelatihan teknis, bukan sebagai respons setelah kegagalan pertama terjadi. Desa lain dengan kekayaan alam serupa disarankan memulai dari pembentukan kelompok sadar wisata yang solid, memetakan masalah ekologis lokal yang bisa diubah menjadi produk bernilai jual, dan menjalin kemitraan akademik sejak tahap awal untuk memperkuat validasi teknis inovasi.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan ekosistem wisata Desa Asinan bertumpu pada prinsip eco-tourism yang menempatkan pelestarian Rawa Pening sebagai syarat mutlak keberlangsungan usaha wisata: ketika rawa lestari, wisata tetap berjalan, dan ketika wisata berjalan, nelayan turut memperoleh manfaat ekonomi [4]. Pendekatan ini memberi insentif ekonomi bagi warga untuk aktif menjaga ekosistem danau, berbeda dari pendekatan konservasi yang hanya melarang tanpa memberi alternatif penghasilan [11].
Karena Pokdarwis dikelola secara kolektif oleh Sri Slamet, Dewi, dan sejumlah relawan warga, regenerasi kepemimpinan tidak bergantung pada satu figur tunggal maupun pada masa jabatan kepala desa. Bupati Semarang Ngesti Nugraha juga mendorong desa-desa wisata untuk merancang paket kunjungan antardesa, membuka peluang Desa Asinan berkolaborasi dengan desa wisata lain di Kabupaten Semarang guna memperkuat daya tarik kawasan secara bersama [7].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi Desa Asinan menjadi contoh bagaimana pendekatan eco-tourism berbasis komunitas mengintegrasikan target SDGs lingkungan, ekonomi, dan sosial dalam satu kerangka aksi yang saling menguatkan, sebagaimana dirinci dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Diversifikasi pendapatan nelayan melalui jasa wisata perahu, kuliner warung apung, sewa homestay, dan penjualan kerajinan enceng gondok mengurangi ketergantungan total pada hasil tangkapan ikan yang fluktuatif. |
Empat sumber pendapatan tambahan (perahu wisata, kuliner, homestay, kerajinan) tercatat berjalan aktif bagi warga nelayan. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan |
Pupuk organik dari enceng gondok mendukung pertanian dan perkebunan sayuran warga secara mandiri dan terjangkau. |
Pupuk organik cair dengan kandungan C-organik 18,93%, N 1,78%, P 1,10%, K 1,26% diproduksi dan diperdagangkan warga. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Ekosistem wisata menciptakan lapangan kerja bagi pemandu wisata, pengrajin enceng gondok, pengelola homestay, dan juru masak warung apung. |
Rantai nilai ekonomi lokal mencakup minimal empat jenis pekerjaan baru yang terkait langsung dengan aktivitas wisata. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan |
Model eco-tourism menjadikan danau sebagai aset yang dilindungi dan dikelola bersama, memperkuat permukiman pesisir danau yang berkelanjutan. |
Desa Asinan terdaftar resmi sebagai desa wisata di Jadesta Kemenparekraf RI. |
| SDGs 14: Ekosistem Lautan (Perairan) |
Kegiatan menebar benih ikan bersama nelayan dan pengolahan enceng gondok untuk mengurangi dominasi gulma invasif berkontribusi pada pemulihan ekosistem perairan Rawa Pening. |
Program tebar benih ikan dan pengolahan enceng gondok berjalan rutin sebagai bagian paket wisata edukasi. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan |
Pengelolaan enceng gondok sebagai bahan baku pupuk organik dan kerajinan mengendalikan populasi gulma invasif yang mempercepat sedimentasi danau. |
Enceng gondok diolah rutin menjadi pupuk organik dan produk kerajinan oleh kelompok warga. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan |
Kolaborasi Pokdarwis Tirta Amarta Asinan, Pemerintah Desa, Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, dan mahasiswa KKN berbagai perguruan tinggi menciptakan model kemitraan multi-pihak. |
Program Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair melibatkan mahasiswa KKN Universitas Diponegoro sebagai mitra akademik. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model eco-tourism Desa Asinan relevan direplikasi oleh desa-desa nelayan di sekitar perairan danau, waduk, dan rawa lain di Jawa Tengah. Prasyarat minimumnya adalah kelompok sadar wisata yang solid, aset alam yang bisa dikemas sebagai atraksi, dan kemauan warga mengelola masalah ekologis lokal, seperti gulma invasif, menjadi produk bernilai jual [8].
Jaringan akademik yang terbentuk melalui kunjungan mahasiswa KKN dari berbagai perguruan tinggi menjadi agen penyebaran pengetahuan dan praktik baik Desa Asinan ke daerah lain [5], [9]. Pendaftaran aktif di Jadesta Kemenparekraf memfasilitasi transfer pengetahuan ini ke desa wisata lain di Indonesia yang ingin mengadaptasi pendekatan eco-tourism berbasis komunitas nelayan [1]. Dokumentasi publik belum merinci estimasi biaya dan waktu replikasi secara spesifik, sehingga desa yang berminat direkomendasikan berkonsultasi langsung dengan Pokdarwis Tirta Amarta Asinan atau Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang.
Daftar Pustaka
[1] Jadesta Kemenparekraf RI, “Desa Wisata Rawa Pening Eco Tourism – Desa Asinan,” jadesta.kemenparekraf.go.id, 2023. [Daring]. Tersedia: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/rawa_pening_eco_tourism.
[2] Tim Redaksi, “Desa Wisata Asinan Raih Runner-Up Anugerah Desa Wisata Berdikari Kabupaten Semarang Tahun 2024,” desawisata-asinan.com, 11 Des. 2024. [Daring]. Tersedia: https://www.desawisata-asinan.com/11/12/2024/berita/desa-wisata-asinan-raih-runner-up-anugerah-desa-wisata-berdikari-kabupaten-semarang-tahun-2024/.
[3] Pemerintah Desa Asinan, “Profil Desa Wisata Asinan – Bawen, Kabupaten Semarang,” desawisata-asinan.com, 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.desawisata-asinan.com/profil-desa/.
[4] D. Sartika et al., “Pengolahan Gulma Invasif Enceng Gondok Menjadi Pupuk Organik Layak Pasar sebagai Solusi Masalah Rawa Pening,” PRIMA: Jurnal Komunitas, Sosial, dan Teknologi, vol. 1, no. 2, Des. 2020. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.uns.ac.id/prima/article/view/42053/0.
[5] Tim Redaksi, “Wisata Bermakna di Desa Wisata Asinan: Belajar Wirausaha dan Lestarikan Rawa Pening,” desawisata-asinan.com, 7 Nov. 2024. [Daring]. Tersedia: https://www.desawisata-asinan.com/07/11/2024/berita/wisata-desa/wisata-bermakna-di-desa-wisata-asinan-belajar-wirausaha-lestarikan-rawa-pening-dan-nikmati-kuliner-khas/.
[6] Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, “Pemenang Anugerah Desa Wisata Berdikari (ADWB) 2024,” kabsemarangtourism.id, 9 Des. 2024. [Daring]. Tersedia: https://kabsemarangtourism.id/home/detailberita/129.
[7] Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, “11 Desa Wisata di Kabupaten Semarang Diresmikan,” jatengprov.go.id, 10 Des. 2024. [Daring]. Tersedia: https://jatengprov.go.id/beritadaerah/11-desa-wisata-di-kabupaten-semarang-diresmikan/.
[8] F. Kurniawati et al., “Analisis Rusaknya Ekologis Danau Rawa Pening terhadap Kehidupan Nelayan,” Jurnal Ilmu Wilayah dan Perencanaan, 2024. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.peneliti.net/index.php/JIWP/article/download/9248/7638.
[9] Tim PPK ORMAWA HIMASAKA UNDIP, “Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari Eceng Gondok di Desa Sekitar Rawa Pening,” Jurnal Pengabdian Sosial, Des. 2024. [Daring]. Tersedia: https://ejournal.jurnalpengabdiansosial.com/index.php/jps/article/view/544.
[10] A. Poernomo et al., “Pengolahan Bahan Organik Eceng Gondok Menjadi Pupuk Kompos,” BPPT. [Daring]. Tersedia: https://media.neliti.com/media/publications/154870.
[11] K. Puspita et al., “Revitalisasi Rawa Pening sebagai Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Komunitas,” Jurnal Khidmat, Agust. 2025. [Daring]. Tersedia: https://ojs.umrah.ac.id/index.php/khidmat/article/download/7323/2816.
oleh Tim Inovasi Desa | 13 Sep 2026 | Pariwisata
Ringkasan Inovasi
BUMDes Pelangi di Desa Atoga Timur, Kecamatan Motongkad (sebelumnya bagian dari Kecamatan Nuangan sebelum pemekaran wilayah), Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Provinsi Sulawesi Utara, membangun destinasi wisata alam sungai bertajuk Atoga River View (ARV) Outbond sejak awal Desember 2018, mengubah aliran sungai dan lanskap desa yang sebelumnya tidak bernilai ekonomi menjadi destinasi wisata yang dikenal luas di Boltim [1]. Inovasi ini lahir dari pengalaman sebelumnya BUMDes mengelola unit usaha kerajinan tangan, kemudian berkembang menjadi wahana wisata petualangan alam dengan beragam spot foto yang menarik pengunjung dari dalam dan luar Boltim [2]. Dalam kurun waktu belum genap setahun beroperasi, ARV Outbond dilaporkan menyumbang pendapatan asli desa di atas Rp300 juta dan menyerap lebih dari 60 tenaga kerja lokal [3]. Pada 25 November 2019, dalam Rapat Koordinasi Nasional Program Inovasi Desa di Jakarta, BUMDes Pelangi menerima penghargaan Terbaik Kedua Nasional kategori BUMDes Inovatif dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi [4].
Latar Belakang
Desa Atoga Timur di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara, menyimpan kekayaan alam berupa aliran sungai jernih yang dikelilingi perbukitan tropis, potensi yang selama bertahun-tahun hanya dinikmati warga sebagai pemandangan sehari-hari tanpa nilai ekonomi. Tingkat pengangguran yang relatif tinggi dan minimnya lapangan kerja mendorong pemuda-pemudi Atoga Timur merantau ke kota [2].
Pendapatan asli desa bertumpu hampir sepenuhnya pada transfer Dana Desa dari pemerintah pusat, tanpa unit usaha produktif yang menghasilkan pendapatan mandiri secara berkelanjutan, membuat desa rentan terhadap perubahan kebijakan fiskal nasional [5].
Kesadaran bahwa alam desa adalah aset yang belum dioptimalkan mendorong BUMDes Pelangi dan Pemerintah Desa Atoga Timur mencari peluang di sektor wisata alam yang sedang tumbuh di Indonesia, terutama karena sungai dan lanskap desa yang autentik menjadi daya tarik tersendiri dibanding wisata buatan di kota besar [1], [6].
Inovasi yang Diterapkan
Pemerintah Desa Atoga Timur bersama BUMDes Pelangi merancang konsep ARV Outbond sebagai destinasi wisata petualangan yang memadukan keindahan alam sungai dengan beragam wahana dan spot foto, seperti jembatan gantung, sepeda gantung, area foto balon udara, dan terowongan warna-warni [2], [1].
Inovasi ini merupakan kelanjutan dari unit usaha pertama BUMDes Pelangi di bidang kerajinan tangan, yang memberi fondasi kapasitas manajerial dan kepercayaan komunitas sebelum desa masuk ke sektor pariwisata yang lebih kompleks [2]. Cara kerja ekosistem inovasi ini bertumpu pada tiga pilar: pengelolaan wahana oleh tenaga kerja lokal, promosi melalui media sosial yang memanfaatkan daya sebar konten visual wahana, dan dukungan infrastruktur dari pemerintah desa berupa pembangunan jalan akses menuju lokasi ARV [2].
Proses Penerapan Inovasi
BUMDes Pelangi memulai perjalanan inovasinya dari skala yang lebih kecil dan berisiko rendah: unit usaha kerajinan tangan yang memberi pembelajaran tentang pengelolaan keuangan, manajemen SDM, dan pengembangan pasar di tingkat lokal. Kapasitas organisasi dari pengalaman ini menjadi bekal saat BUMDes memutuskan masuk ke sektor pariwisata pada 2018 [2].
Pembangunan wahana ARV Outbond dilakukan bertahap dengan memadukan Dana Desa, swadaya masyarakat, dan reinvestasi laba dari unit usaha sebelumnya [1]. Proses ini tidak selalu berjalan mulus: pembangunan jembatan bambu sempat menghadapi kendala teknis akibat pemilihan material bambu yang kurang tahan terhadap fluktuasi debit air sungai, memaksa tim lapangan belajar ulang teknik konstruksi bambu yang lebih tahan air dan lebih aman bagi pengunjung [6].
Kegagalan teknis awal ini menjadi pembelajaran, bukan sekadar hambatan. BUMDes kemudian menyusun SOP konstruksi dan perawatan wahana berbasis alam yang lebih ketat, termasuk prosedur inspeksi rutin sebelum area dibuka setiap hari, yang terbukti meningkatkan keamanan sekaligus memperpanjang usia operasional wahana [5].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan operasional terbesar adalah ketergantungan pada kondisi cuaca dan debit sungai yang berubah mengikuti musim. Ketika musim hujan tiba dan debit sungai meningkat drastis, beberapa wahana harus ditutup sementara demi keselamatan pengunjung, berdampak langsung pada penurunan kunjungan dan pendapatan BUMDes pada periode tersebut [6]. Kendala ini dimitigasi melalui prosedur inspeksi rutin dan penutupan wahana sementara berbasis pemantauan debit air, alih-alih memaksakan operasional yang berisiko bagi keselamatan wisatawan.
Tantangan kedua adalah keterbatasan kapasitas SDM lokal dalam standar manajemen pariwisata profesional, mulai dari pelayanan wisatawan, manajemen keselamatan wahana, hingga pengelolaan keuangan BUMDes yang semakin kompleks seiring skala bisnis yang membesar [5]. Kendala ini dimitigasi melalui investasi waktu dan anggaran untuk pelatihan SDM secara berkelanjutan, mengikuti pertumbuhan popularitas destinasi.
Faktor Penentu Keberhasilan
Sinergi antara BUMDes Pelangi dan Pemerintah Desa Atoga Timur menjadi faktor penting: bukan sekadar dukungan verbal kepala desa, melainkan aksi nyata berupa pembangunan fasilitas jalan masuk ke lokasi ARV Outbond yang menjamin aksesibilitas bagi wisatawan dari luar daerah [2], [4].
Faktor kedua adalah strategi promosi yang memanfaatkan daya sebar konten visual di media sosial. Desain wahana yang dibuat menarik secara visual menciptakan promosi yang relatif murah dibanding iklan berbayar, membawa pengunjung tidak hanya dari dalam Boltim, tetapi juga dari luar provinsi Sulawesi Utara [3], [2].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak ekonomi yang tercatat cukup cepat: dalam kurun belum genap setahun beroperasi, ARV Outbond dilaporkan menghasilkan pendapatan asli desa di atas Rp300 juta dan menyerap lebih dari 60 tenaga kerja lokal, dari operator wahana, pemandu wisata, penjual kuliner, hingga staf parkir dan keamanan [3], [2].
Dari sisi sosial, terserapnya tenaga kerja lokal, khususnya pemuda, memberi alasan bagi sebagian warga muda untuk membangun masa depan di kampung sendiri, alih-alih merantau ke kota [1], [5].
Pengakuan datang pada 25 November 2019: Sangadi Kano Ngato menerima penghargaan Terbaik Kedua Nasional kategori BUMDes Inovatif dari Kementerian Desa PDTT dalam Rapat Koordinasi Nasional Program Inovasi Desa [4]. Pada ajang yang sama, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur turut menerima penghargaan sebagai salah satu pelaksana inovasi desa terbaik secara nasional, menunjukkan pengakuan ini tidak hanya menyasar satu BUMDes, tetapi juga ekosistem inovasi desa di tingkat kabupaten [8]. Sebelum pengumuman resmi ini, media lokal sempat memberitakan BUMDes Pelangi masuk daftar calon penerima apresiasi terkait, meski detail keterlibatan langsung Presiden dalam penyerahan penghargaan ini tidak dapat dipastikan dari dokumentasi yang tersedia [7].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pembangunan ARV Outbond dibiayai dari kombinasi Dana Desa, swadaya masyarakat, dan reinvestasi laba dari unit usaha kerajinan tangan yang telah berjalan sebelumnya [1]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran total investasi awal secara spesifik.
Model pendapatan bertumpu pada tiket masuk dan biaya wahana wisata, penjualan kuliner dan suvenir oleh warga lokal, serta jasa pemanduan wisata, dengan sebagian pendapatan dialokasikan sebagai Pendapatan Asli Desa dan sebagian lagi direinvestasikan untuk peremajaan wahana [3].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah memulai dari unit usaha berisiko rendah (kerajinan tangan) untuk membangun kapasitas manajerial dan kepercayaan warga, sebelum melangkah ke sektor pariwisata yang jauh lebih kompleks dan membutuhkan investasi lebih besar [2]. Belajar dari kegagalan konstruksi jembatan bambu untuk menyusun SOP konstruksi dan inspeksi rutin juga terbukti krusial menjaga keselamatan wahana yang terus digunakan.
Jika memulai dari awal, uji ketahanan material konstruksi terhadap kondisi lingkungan spesifik (seperti fluktuasi debit air sungai) idealnya dilakukan sebelum pembangunan penuh, bukan ditemukan sebagai masalah setelah wahana dibangun. Desa lain yang memiliki aset alam serupa disarankan memulai dari unit usaha kecil untuk membangun kapasitas kelembagaan terlebih dahulu, memastikan pemerintah desa turut menyediakan infrastruktur pendukung seperti akses jalan, dan merancang wahana yang mempertimbangkan karakteristik lingkungan lokal secara spesifik sebelum konstruksi skala penuh.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
BUMDes Pelangi menjaga keberlanjutan ARV Outbond melalui reinvestasi bertahap: sebagian pendapatan wisata disisihkan untuk peremajaan dan penambahan wahana secara berkala agar destinasi memiliki daya tarik baru yang mendorong kunjungan berulang [2].
Kemitraan dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dan jaringan program inovasi desa nasional diperkuat untuk mendapatkan dukungan pelatihan SDM dan akses promosi ke jaringan wisata yang lebih luas. Pengelolaan data kunjungan wisatawan sebagai dasar pengambilan keputusan mulai diterapkan agar arah pengembangan ARV Outbond berbasis bukti [5]. Informasi perkembangan ARV Outbond dan profil Desa Atoga Timur juga dipublikasikan melalui portal resmi desa sebagai kanal transparansi bagi warga dan calon wisatawan [10].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi ARV Outbond BUMDes Pelangi Desa Atoga Timur berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
ARV Outbond menciptakan sumber Pendapatan Asli Desa yang mengurangi ketergantungan fiskal pada transfer Dana Desa, dan memberi penghasilan kepada warga lokal yang bekerja di ekosistem wisata. |
Pendapatan asli desa di atas Rp300 juta tercatat dalam waktu kurang dari satu tahun operasional. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Wisata ARV Outbond menyerap tenaga kerja lokal sebagai operator wahana, pemandu wisata, staf kuliner, dan petugas keamanan. |
Lebih dari 60 tenaga kerja lokal terserap dalam operasional ARV Outbond. |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan |
Desa Atoga Timur yang berada jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara membangun destinasi wisata yang diakui hingga tingkat nasional. |
BUMDes Pelangi meraih Terbaik Kedua Nasional kategori BUMDes Inovatif pada 2019. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan |
Pengembangan ARV Outbond yang memanfaatkan lanskap sungai alami sebagai aset wisata mendorong pengelolaan lingkungan desa yang lebih tertata bagi wisatawan. |
Akses jalan menuju lokasi ARV dibangun pemerintah desa untuk mendukung kunjungan wisatawan. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan |
Nilai ekonomi dari ekosistem sungai memberi insentif bagi warga menjaga kebersihan dan kelestariannya sebagai aset utama destinasi wisata. |
Aliran sungai dan lanskap perbukitan tropis tetap dipertahankan sebagai daya tarik utama wisata. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan |
Sinergi BUMDes Pelangi dengan Pemerintah Desa Atoga Timur, Dinas Pariwisata Boltim, dan Kementerian Desa PDTT menjadi model kemitraan lintas tingkat pemerintahan. |
Kabupaten Boltim turut menerima penghargaan pelaksana inovasi desa terbaik nasional pada acara yang sama. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model ARV Outbond BUMDes Pelangi relevan direplikasi oleh desa yang memiliki sungai, danau, air terjun, atau lanskap alam lain yang belum dioptimalkan sebagai aset ekonomi desa. Tiga elemen inti yang dapat ditransfer adalah pemetaan potensi alam lokal, desain wahana yang menarik secara visual untuk mendukung promosi media sosial, dan sinergi nyata antara BUMDes dengan pemerintah desa dalam penyediaan infrastruktur pendukung [2], [6].
BUMDes Pelangi Atoga Timur telah beberapa kali menjadi tujuan studi banding dari desa lain yang tertarik mereplikasi model wisata sungai berbasis BUMDes. Dengan pengakuan dari Kementerian Desa PDTT, model pengembangan desa wisata melalui BUMDes ini berpotensi direplikasi lebih luas, khususnya di desa-desa kawasan timur Indonesia yang memiliki kekayaan alam namun belum memiliki model bisnis yang tepat untuk mengelolanya [4], [9].
Daftar Pustaka
[1] BeritaManado, “Atoga River View Dikembangkan Dari Dana Desa,” beritamanado.com. [Daring]. Tersedia: https://beritamanado.com/atoga-river-view-dikembangkan-dari-dana-desa/.
[2] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “Sukses Kelola Potensi Desa, BUMDes Pelangi Desa Atoga Timur Raih Penghargaan Nasional,” inovasi.web.id, 19 Mar. 2020. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/sukses-kelola-potensi-desa-bumdes-pelangi-desa-atoga-timur.
[3] TravelingYuk, “Atoga River View, Wisata Outbound Kekinian dengan Banyak Spot Foto Pertama di Boltim,” travelingyuk.com. [Daring]. Tersedia: https://travelingyuk.com/atoga-river-view/183996/.
[4] BeritaManado, “Terbaik II BUMDes Inovatif, Desa Atoga Timur Terima Penghargaan dari Kementerian,” beritamanado.com, 25 Nov. 2019. [Daring]. Tersedia: https://beritamanado.com/terbaik-ii-bumdes-inovatif-desa-atoga-timur.
[5] Jurnal Kebijakan Publik UNRI, “Pengembangan Desa Wisata Berbasis BUMDes,” Universitas Riau, vol. 12, no. 2, 2021. [Daring]. Tersedia: https://jkp.ejournal.unri.ac.id.
[6] Repository IPDN, “Pengelolaan Objek Wisata Berbasis Community Based Tourism,” eprints.ipdn.ac.id, 2022. [Daring]. Tersedia: http://eprints.ipdn.ac.id/16003.
[7] BeritaManado, “BUMDes Pelangi Desa Atoga Timur Bakal Terima Penghargaan dari Presiden,” beritamanado.com, 13 Nov. 2019. [Daring]. Tersedia: https://beritamanado.com/bumdes-pelangi-desa-atoga-timur-bakal-terima-penghargaan-dari-presiden.
[8] BeritaTotabuan, “Boltim Terima Penghargaan Pelaksana Inovasi Desa Terbaik Secara Nasional,” beritatotabuan.com, 24 Nov. 2019. [Daring]. Tersedia: https://beritatotabuan.com/boltim-penghargaan-inovasi-desa-terbaik.
[9] Bumdes.id, “Program Pengembangan Desa Wisata melalui Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa),” bumdes.id, 8 Mar. 2026. [Daring]. Tersedia: https://bumdes.id/artikel/program-pengembangan-desa-wisata.
[10] Pemerintah Desa Atoga Timur, “Portal Resmi Desa Atoga Timur,” atogatimur.desa.id. [Daring]. Tersedia: http://atogatimur.desa.id.
oleh Tim Inovasi Desa | 13 Sep 2026 | Pariwisata
Ringkasan Inovasi
Desa Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, pada Agustus 2025 meluncurkan website resmi desa sebagai portal informasi wisata dan budaya, serta menyelenggarakan pelatihan pengolahan pangan lokal bagi 30 pelaku UMKM dari lima dusun [1]. Kedua inisiatif ini digagas perangkat desa bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), didampingi Universitas Negeri Padang (UNP), untuk menjawab kesenjangan promosi digital dan minimnya nilai tambah ekonomi dari kekayaan budaya Sikerei dan pangan lokal desa [2]. Desa yang sebelumnya hanya dapat dijangkau dengan pompong menyusuri sungai selama enam jam kini hadir di ruang digital melalui desamatotonan.id, sementara warga mengolah sagu, talas, dan pisang menjadi produk kuliner. Capaian ini melengkapi status Desa Matotonan dalam 300 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 kategori Rintisan [4].
Latar Belakang
Desa Matotonan berada di pedalaman Pulau Siberut, digambarkan peneliti sebagai salah satu desa “terpencil, terasing, dan termarginalkan” di Kepulauan Mentawai. Dengan jarak tempuh sekitar 37-40 km dari Muara Siberut yang hanya dapat dilalui melalui sungai menggunakan pompong, desa ini secara historis hidup relatif terputus dari arus modernisasi di wilayah lain Sumatera Barat [7].
Di balik keterpencilan itu, Desa Matotonan menyimpan kekayaan budaya berupa Sikerei, dukun spiritual bertato yang menjadi simbol budaya Mentawai, ritual adat, rumah Uma tradisional, serta bahan pangan lokal seperti sagu, pisang, talas, dan keladi yang selama ini hanya dikonsumsi sendiri tanpa nilai tambah ekonomi [7], [6]. Sebelum inovasi ini hadir, belum ada platform digital yang menghubungkan kekayaan ini dengan calon wisatawan.
Riset lapangan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti pada 2021, bagian dari program pengembangan ekowisata di kawasan desa penyangga Taman Nasional Siberut yang juga mencakup Desa Muntei dan Desa Madobag, mengungkap tiga masalah utama: masyarakat belum mampu mengolah bahan pangan lokal menjadi produk bernilai jual, literasi keuangan UMKM masih terbatas, dan desa belum memiliki saluran promosi digital yang terstruktur [6], [5]. Temuan inilah yang mendorong Desa Matotonan menggandeng UNP sebagai mitra akademis untuk mengisi ketiga kekosongan tersebut.
Inovasi yang Diterapkan
Desa Matotonan menjalankan dua inovasi yang saling melengkapi. Pertama, desa meluncurkan website resmi di desamatotonan.id pada 10 Agustus 2025, bertepatan dengan Hari Jadi Desa Matotonan ke-45, sebagai portal informasi yang menampilkan profil wisata, budaya Sikerei, agenda kegiatan, dan layanan publik desa. Peluncuran ini dihadiri Bupati Kepulauan Mentawai Dr. Rinto Wardana, S.H., M.H. [1].
Kedua, desa menyelenggarakan pelatihan pengolahan pangan lokal yang mengubah sagu, talas, pisang, dan keladi menjadi produk kuliner bernilai ekonomi. Mengacu pada riset STP Trisakti yang telah mengidentifikasi potensi bahan pangan lokal Matotonan, pelatihan ini menghasilkan produk seperti kue sagaik, kembang sagaik, cendol sagu, donat getek dari talas, perkedel keladi, dan berbagai olahan pisang untuk disajikan kepada wisatawan maupun dijual sebagai oleh-oleh [6], [1].
Proses Penerapan Inovasi
Proses ini dimulai sejak 2021 ketika STP Trisakti menerjunkan tim ke Matotonan untuk survei potensi wisata dan pelatihan diversifikasi pangan pertama yang melibatkan 15 ibu rumah tangga. Evaluasi pelatihan itu menunjukkan 93,33% peserta menyatakan pelatihan meningkatkan pengetahuan mereka, dan 86,67% menyatakan keterampilan motorik mereka meningkat signifikan [6].
Pada tahun berikutnya, UNP melalui program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) yang didanai DPPM Kemendikti Saintek mendampingi desa dengan asesmen kebutuhan yang mengidentifikasi dua prioritas: visibilitas digital dan penguatan ekonomi berbasis pangan lokal [2].
Pada tahap pengembangan website, perangkat desa dan anggota Pokdarwis mendapat pelatihan pembuatan video promosi dan pengelolaan konten digital, disertai penyerahan satu unit laptop sebagai sarana operasional mandiri. Pada sesi pelatihan pangan, sebagian peserta pada awalnya belum terbiasa dengan standar higienitas produk untuk konsumsi wisatawan; temuan ini mendorong penambahan modul sanitasi dan pengemasan dalam sesi lanjutan [1].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan utama adalah aksesibilitas geografis yang tidak berubah: Desa Matotonan tetap hanya bisa dijangkau dengan pompong menyusuri sungai selama enam jam dari Muara Siberut, menyulitkan distribusi peralatan, mobilisasi tim pendamping, dan kapasitas menerima kunjungan wisatawan dalam jumlah besar [7]. Kendala ini dimitigasi dengan pendekatan wisata skala kecil berbasis pengalaman langsung (homestay dan interaksi budaya), bukan wisata massal yang membutuhkan akses cepat.
Ketersediaan bahan baku pendamping dan jaringan internet yang sangat terbatas juga menjadi kendala: untuk bumbu pelengkap seperti bawang merah dan bawang putih, warga harus menempuh perjalanan tujuh jam ke Kota Padang, sementara pengelolaan konten website secara real-time terhambat sinyal yang minim [6]. Kendala ini dimitigasi melalui penyerahan laptop untuk pengelolaan konten secara luring terlebih dahulu sebelum diunggah saat sinyal tersedia, serta penyesuaian resep olahan pangan pada bahan yang tersedia secara lokal.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah inisiatif desa yang aktif memanfaatkan kemitraan dengan UNP untuk mengisi kekosongan kapasitas, bukan sekadar menerima program tetapi ikut merancang prioritas sesuai kebutuhan nyata warga [1], [2].
Faktor kedua adalah dukungan pemerintah daerah yang memberi legitimasi dan akselerasi. Kehadiran Bupati Kepulauan Mentawai Dr. Rinto Wardana pada peluncuran website desa menjadi sinyal kebijakan bahwa desa terpencil sekalipun berhak bertransformasi digital, memperkuat sinergi antara desa, akademisi, dan pemerintah daerah [1].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling langsung dari peluncuran desamatotonan.id adalah terbukanya akses informasi Desa Matotonan tanpa batas geografis, menempatkannya dalam jangkauan calon wisatawan yang sebelumnya hanya mengenal desa ini dari cerita mulut ke mulut [3], [1].
Dari sisi ekonomi, 30 pelaku UMKM dari lima dusun kini menguasai teknik pengolahan aneka produk dari sagu, talas, pisang, dan keladi yang siap dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Mentawai [1]. Capaian ini melengkapi status Desa Matotonan dalam 300 Besar ADWI 2023 kategori Rintisan, bersanding dengan Desa Muntei yang lebih dahulu meraih kategori lebih tinggi di ajang yang sama [4].
Riset historis menggambarkan Matotonan sebagai desa yang selama puluhan tahun bertahan hidup dari sagu dan pisang tanpa mengubahnya menjadi nilai ekonomi [7]. Transformasi menuju desa yang hadir secara digital dan memasarkan produk olahan pangan lokal merupakan perubahan yang berarti dalam konteks sejarah desa ini.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Program pengembangan website dan pelatihan pangan lokal didanai melalui program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) UNP yang bersumber dari DPPM Kemendikti Saintek, dilengkapi bantuan perangkat berupa satu unit laptop untuk operasional website [2]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran anggaran program secara spesifik.
Model keberlanjutan ekonomi bertumpu pada penjualan produk olahan pangan lokal kepada wisatawan yang berkunjung dan sebagai oleh-oleh, sementara website desa berfungsi sebagai kanal promosi tanpa biaya berlangganan yang membuka akses pasar wisata tanpa investasi pemasaran besar.
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah melakukan riset kebutuhan lebih dulu (oleh STP Trisakti pada 2021) sebelum merancang program pendampingan yang lebih komprehensif bersama UNP, sehingga program yang dijalankan menjawab kebutuhan yang benar-benar teridentifikasi, bukan asumsi [6]. Penambahan modul sanitasi setelah ditemukan kesenjangan standar higienitas pada sesi pelatihan pertama juga menunjukkan pentingnya evaluasi berkelanjutan selama program berjalan.
Jika memulai dari awal, penyediaan solusi konektivitas internet yang lebih stabil idealnya menjadi prioritas sejak tahap perencanaan, mengingat keterbatasan sinyal terus membatasi pembaruan konten website secara real-time. Desa terpencil lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan menggandeng lembaga akademik untuk riset kebutuhan awal, memulai dari pelatihan skala kecil untuk membangun kepercayaan warga, dan menyiapkan mekanisme operasional luring untuk kendala konektivitas yang mungkin tidak segera teratasi.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan website desa dijaga melalui penyerahan laptop kepada perangkat desa dan pelatihan mandiri bagi pengelola konten dari Pokdarwis, sehingga operasional tidak bergantung pada kehadiran tim UNP secara fisik [1]. Untuk keberlanjutan ekonomi pangan lokal, program direncanakan dilanjutkan dengan pendampingan sertifikasi produk UMKM dan pembukaan akses pasar ke jaringan wisata Mentawai yang lebih luas [2].
Status dalam 300 Besar ADWI 2023 membuka akses potensial terhadap program pengembangan desa wisata dari Kementerian Pariwisata yang dapat memperkuat keberlanjutan kedua inovasi ini [4].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi Desa Matotonan berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Pelatihan pengolahan pangan lokal membuka sumber pendapatan baru bagi pelaku UMKM yang sebelumnya tidak memiliki produk bernilai jual dari bahan subsisten seperti sagu dan talas. |
30 pelaku UMKM dari lima dusun menguasai teknik pengolahan pangan lokal menjadi produk siap jual. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan |
Diversifikasi olahan pangan lokal meningkatkan keragaman menu dari bahan sagu, pisang, talas, dan keladi yang tersedia di desa. |
Produk olahan mencakup kue sagaik, cendol sagu, donat getek, dan perkedel keladi. |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas |
Pelatihan STP Trisakti dan UNP meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan warga melalui pendidikan nonformal berbasis komunitas. |
93,33% peserta pelatihan awal menyatakan pengetahuan bertambah dan 86,67% menyatakan keterampilan motorik meningkat. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Website desa dan produk olahan pangan lokal bersama membuka ekosistem pariwisata yang menciptakan pekerjaan di sektor pemanduan, homestay, kuliner, dan pengelolaan konten digital. |
Desa Matotonan tercatat dalam 300 Besar ADWI 2023 kategori Rintisan. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan |
Model wisata berbasis kearifan lokal menjaga kelestarian rumah Uma, tradisi Sikerei, dan lanskap alam pedalaman Siberut sebagai aset yang dilindungi, bukan dikorbankan. |
Rumah Uma tradisional dan ritual Sikerei tetap dipertahankan sebagai bagian dari paket wisata budaya. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan |
Kolaborasi Desa Matotonan, UNP, dan Pemkab Kepulauan Mentawai menciptakan model kemitraan desa-akademisi-pemerintah untuk transformasi desa terpencil. |
Bupati Kepulauan Mentawai hadir langsung dalam peluncuran website desa pada Agustus 2025. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Matotonan relevan direplikasi di desa adat terpencil lain di Kepulauan Mentawai yang memiliki kekayaan budaya dan pangan lokal serupa namun belum tersentuh digitalisasi. Elemen inti yang dapat ditransfer adalah pembentukan tim pengelola website desa dari unsur perangkat desa dan Pokdarwis, pelatihan diversifikasi pangan lokal bersama perguruan tinggi, dan pendaftaran desa ke program ADWI sebagai langkah menuju pengakuan nasional [4], [6].
UNP sendiri telah menerjunkan 5.051 mahasiswa KKN ke 159 desa di berbagai kabupaten/kota pada periode Juli-Desember 2025, membuka jalur replikasi yang luas di Sumatera Barat, termasuk Kepulauan Mentawai [8]. Dokumentasi program PDB UNP di Matotonan berpotensi menjadi paket pengetahuan yang dapat digunakan perguruan tinggi lain atau dinas terkait di kabupaten kepulauan lain.
Daftar Pustaka
[1] Humas UNP, “UNP Dorong Desa Matotonan Mentawai ke Panggung Dunia Lewat Website dan Inovasi Pangan Lokal,” unp.ac.id, 17 Agu. 2025. [Daring]. Tersedia: https://unp.ac.id/news/17-08-2025/unp-dorong-desa-matotonan-mentawai-ke-panggung-dunia-lewat-website-dan-inovasi-pangan-lokal.
[2] A. Komaini dkk., “Pengembangan Desa Adat ‘Bumi Sikerei’ Matotonan (Desa Suku Asli Pedalaman Mentawai) sebagai Desa Wisata Kelas Dunia Perpaduan Sport Tourism dan Wisata Budaya,” Garuda Kemendikti Saintek, 2024. [Daring]. Tersedia: https://garuda.kemdiktisaintek.go.id.
[3] Desa Matotonan, “Website Resmi Desa Matotonan,” desamatotonan.id, 2025. [Daring]. Tersedia: https://desamatotonan.id.
[4] Kementerian Pariwisata RI, “Desa Wisata Matotonan,” jadesta.kemenpar.go.id, 2023. [Daring]. Tersedia: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/matotonan.
[5] Institut Pariwisata Trisakti, “Pengembangan Ekowisata di Kawasan Desa Penyangga TNS (Desa Muntei, Desa Madobag, dan Desa Matotonan),” iptrisakti.ac.id. [Daring]. Tersedia: https://iptrisakti.ac.id/pengembangan-ekowisata-di-kawasan-desa-penyangga-tns-desa-muntei-desa-madobag-dan-desa-matotonan-2/.
[6] I. Mayasari, N. Widyastuti, F. Asmaniati, dan D. Gantina, “Pelatihan Diversifikasi Produk Kearifan Pangan Lokal di Desa Wisata Muntei dan Desa Wisata Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat,” Jurnal Pemberdayaan Pariwisata, vol. 4, no. 2, hal. 126-137, 2022. [Daring]. Tersedia: https://doi.org/10.30647/jpp.v4i2.1638.
[7] Z. Zubir, Armansyah, R. Adawiyah, dan A. A. Pramesti, “Nan Terpencil, Terasing dan Termarginalkan: Desa Matotonan di Jantung Pedalaman Pulau Siberut Kabupaten Kepulauan Mentawai 2000-2020,” Journal Idea of History, vol. 5, no. 2, hal. 1-13, 2022. [Daring]. Tersedia: https://journal.fib.uho.ac.id/index.php/history/article/download/1885/1322.
[8] Humas UNP, “UNP Dorong Transformasi Desa Lewat KKN Kampus Berdampak: DPL Jadi Ujung Tombak Inovasi di Nagari,” unp.ac.id, 20 Mei 2025. [Daring]. Tersedia: https://unp.ac.id/news/20-05-2025/unp-dorong-transformasi-desa-lewat-kkn-kampus-berdampak-dpl-jadi-ujung-tombak-inovasi-di-nagari.
oleh Tim Inovasi Desa | 13 Sep 2026 | Pariwisata
Ringkasan Inovasi
Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di kawasan Ekowisata Boon Pring Andeman sebagai langkah menuju desa mandiri energi terbarukan. PLTMH ini memanfaatkan debit air sekitar 0,50 meter kubik per detik dari kawasan Sumber Andeman untuk menghasilkan listrik dengan kapasitas generator 20 kVA dan produksi rata-rata 13 kilowatt, memasok puluhan kios PKL dan titik lampu penerangan jalan di kawasan wisata [1], [8]. Peletakan batu pertama dilakukan pada 2018, dengan konstruksi utama berlangsung pada 2019 dan diresmikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Maret 2020, didukung dana CSR BNI [2]. Pada 2019, Ekowisata Boon Pring meraih penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) kategori Pemanfaatan Ekonomi untuk Masyarakat Lokal – Green Bronze, dan pada Mei 2022 BUMDes Kertoraharjo meraih The 5th ASEAN Rural Development and Poverty Eradication (RDPE) Leadership Award mewakili Indonesia [3], [9].
Latar Belakang
Ekowisata Boon Pring Andeman tumbuh menjadi destinasi unggulan Kabupaten Malang berkat kekayaan 65 jenis bambu dan telaga alami di lahan seluas sekitar 36,8 hektare. Seiring pertumbuhan pengunjung, kebutuhan energi listrik kawasan untuk penerangan kios PKL, fasilitas umum, dan penunjang wisata malam meningkat, sementara pasokan mandiri belum tersedia [1].
Ketergantungan penuh pada pasokan listrik PLN membatasi potensi wisata malam dan menambah biaya operasional kawasan. Desa Sanankerto memiliki potensi alam berupa debit air yang relatif stabil dari beberapa mata air di kawasan Andeman, yang berpeluang dikonversi menjadi listrik melalui teknologi mikrohidro tanpa emisi dan tanpa biaya bahan bakar [1], [5].
Teknologi PLTMH dikenal sebagai solusi energi terbarukan yang relevan bagi desa dengan aliran air berdebit kontinu, menawarkan biaya operasional rendah dan dampak lingkungan minimal dibanding pembangkit berbahan bakar fosil [5]. Desa Sanankerto mengambil langkah menjadi salah satu pelopor desa wisata mandiri energi terbarukan di Kabupaten Malang, menggabungkan misi lingkungan dan ekonomi dalam satu infrastruktur [6].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pembangunan PLTMH yang terintegrasi langsung dengan pengelolaan Ekowisata Boon Pring. PLTMH ini memanfaatkan debit air sekitar 0,50 meter kubik per detik yang dialirkan melalui pipa pesat menuju turbin propeler D300 dengan tinggi jatuh efektif 3,46 meter, menghasilkan listrik bertegangan 380 volt, 50 Hz, dengan generator berkapasitas 20 kVA dan produksi rata-rata 13 kilowatt per hari, yang menyalakan puluhan kios PKL dan titik lampu penerangan di kawasan wisata [8].
Turbin yang digunakan dirancang khusus oleh tim teknis UMM sesuai karakteristik debit dan topografi lokasi, bukan sekadar turbin standar pabrikan [6]. Selain sebagai sumber listrik kawasan wisata, sistem ini turut direncanakan mengalirkan air bersih ke dusun di area atas kawasan yang diproyeksikan berkembang menjadi wisata petik buah, sehingga satu infrastruktur berpotensi melayani dua fungsi sekaligus [6].
Proses Penerapan Inovasi
Proses dimulai dengan survei teknis oleh tim UMM yang dipimpin Suwignyo untuk mengukur debit air, tinggi jatuh (head), dan potensi daya listrik Sumber Andeman. Peletakan batu pertama pada 2018 dihadiri Rektor UMM Dr. Fauzan, Wakil Bupati Malang Sanusi, perwakilan BNI Wilayah Malang Ali Suasono, dan Kepala Desa Subur [1].
Konstruksi fisik berlangsung pada 2019 sebelum PLTMH diresmikan pada Maret 2020. Selama masa konstruksi, tim teknis UMM turut melatih operator teknis lokal dari warga Desa Sanankerto agar sistem dapat dioperasikan dan dipelihara secara mandiri [2].
Proses ini menemui tantangan teknis nyata: pemilihan jenis turbin yang tepat sesuai karakteristik aliran Sumber Andeman membutuhkan waktu pengujian lebih panjang dari jadwal awal karena variasi debit musiman yang perlu diperhitungkan secara cermat. Pengalaman ini menjadi pelajaran bahwa desain PLTMH harus berangkat dari data hidrologi spesifik lokasi, bukan dari spesifikasi standar katalog pabrikan, agar daya yang dihasilkan optimal dan stabil sepanjang tahun [7], [10].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan teknis utama adalah menjaga konsistensi pasokan listrik saat musim kemarau panjang menurunkan debit mata air secara signifikan, yang berpotensi mengurangi kapasitas produksi listrik PLTMH [10]. Kendala ini dimitigasi dengan desain sistem yang memanfaatkan gabungan beberapa mata air di kawasan Andeman, bukan hanya satu sumber tunggal, sehingga fluktuasi debit satu mata air tidak langsung menghentikan pasokan listrik secara keseluruhan.
Tantangan kedua adalah keberlanjutan kapasitas teknis operator lokal yang telah dilatih UMM, karena tanpa pembaruan kompetensi berkala, kemampuan menangani kerusakan turbin dan sistem kelistrikan berpotensi melemah seiring waktu [2]. Kendala ini dimitigasi melalui kemitraan teknis jangka panjang dengan UMM yang tetap memberi akses dukungan teknis (engineering) kapan pun dibutuhkan, sehingga operator lokal tidak sepenuhnya dilepas tanpa pendampingan lanjutan [6].
Faktor Penentu Keberhasilan
Kolaborasi tiga pihak, pemerintah desa, akademisi UMM, dan sektor korporasi BNI melalui program CSR, menjadi faktor penentu utama. Tanpa pendanaan CSR, modal infrastruktur tidak tersedia; tanpa keahlian teknis UMM, tidak ada kapasitas merancang turbin yang sesuai kondisi lokal; dan tanpa inisiatif Kepala Desa Subur, kolaborasi ini tidak akan terbentuk [6].
Faktor kedua adalah kapasitas manajerial BUMDes Kertoraharjo yang sudah berpengalaman mengelola Ekowisata Boon Pring sebelum PLTMH dibangun, dengan sistem keuangan dan SDM yang terbiasa merawat aset wisata, sehingga PLTMH menjadi bagian organik dari operasional yang sudah berjalan, bukan beban baru [2], [9].
Hasil dan Dampak Inovasi
Secara teknis, PLTMH Boon Pring menghasilkan listrik 380 volt dengan produksi rata-rata 13 kilowatt per hari dari generator berkapasitas 20 kVA, seluruhnya dari energi terbarukan tanpa emisi karbon, memasok puluhan kios PKL dan titik lampu penerangan jalan di kawasan wisata [8]. Keandalan pasokan listrik mandiri ini membuka peluang pengembangan paket wisata malam yang sebelumnya sulit dilaksanakan karena keterbatasan penerangan.
Dampak ekonomi dirasakan pedagang kios yang tidak lagi menanggung biaya listrik dari PLN untuk kebutuhan operasional dasar, sehingga margin usaha mereka relatif meningkat [9]. Ekosistem bisnis kawasan wisata yang lebih lengkap, dari kios kuliner hingga penginapan, ikut terangkat oleh ketersediaan energi mandiri.
Pada tingkat pengakuan, Ekowisata Boon Pring meraih ISTA 2019 kategori Green Bronze dari Kementerian Pariwisata, dan pada 12 Mei 2022 BUMDes Kertoraharjo menerima The 5th ASEAN Rural Development and Poverty Eradication Leadership Award mewakili Indonesia dalam kategori NGO/CSO, melalui pengusulan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Timur [3], [9].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pembangunan PLTMH dibiayai melalui dana CSR BNI, dengan estimasi nilai investasi berkisar Rp348-465 juta [1]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci lebih jauh pembagian penggunaan dana pada masing-masing tahap konstruksi.
Model keberlanjutan bertumpu pada penghematan biaya listrik kios dan fasilitas wisata yang sebelumnya ditanggung dari tagihan PLN, dengan BUMDes Kertoraharjo mengalokasikan sebagian pendapatan Ekowisata Boon Pring untuk dana perawatan mesin PLTMH setiap tahun [6]. Rencana pengembangan sistem PLTMH on-grid yang memungkinkan penjualan kelebihan listrik ke jaringan PLN berpotensi menjadi sumber pendapatan baru di luar penghematan biaya operasional [7].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah merancang turbin berdasarkan data hidrologi spesifik Sumber Andeman, bukan menggunakan spesifikasi standar pabrikan, meski hal ini membutuhkan waktu pengujian lebih panjang dari jadwal awal [7]. Melatih operator teknis lokal sejak masa konstruksi juga terbukti penting agar sistem tidak sepenuhnya bergantung pada teknisi luar begitu UMM menyelesaikan pendampingan awal [2].
Jika memulai dari awal, rencana cadangan pasokan energi untuk mengantisipasi penurunan debit saat kemarau panjang idealnya dirancang sejak tahap perencanaan, bukan sebagai respons setelah pengoperasian berjalan [10]. Desa lain yang memiliki aliran air berdebit kontinu disarankan melakukan survei hidrologi menyeluruh sebelum menentukan jenis turbin, menyiapkan skema kemitraan pendanaan dan teknis sejak awal, dan merancang program pelatihan ulang berkala bagi operator lokal.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan PLTMH ditopang tiga mekanisme: alokasi dana perawatan tahunan dari pendapatan Ekowisata Boon Pring, kemitraan teknis jangka panjang dengan UMM untuk dukungan engineering, dan integrasi PLTMH dengan pengembangan wisata malam serta rencana agrowisata petik buah di dusun atas kawasan [6].
Dalam jangka panjang, pengembangan sistem PLTMH on-grid yang memungkinkan desa menjual kelebihan listrik ke jaringan nasional dipertimbangkan sebagai sumber pendapatan desa tambahan di luar penghematan biaya operasional [7].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Desa Sanankerto berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Listrik mandiri dari PLTMH memangkas biaya operasional pedagang kios PKL, meningkatkan margin usaha dan membuka peluang perluasan paket wisata malam. |
Puluhan kios PKL di kawasan Boon Pring tidak lagi menanggung biaya listrik PLN untuk penerangan dasar. |
| SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau |
PLTMH Boon Pring mengonversi debit air kawasan Andeman menjadi listrik terbarukan tanpa emisi karbon untuk kebutuhan kawasan wisata. |
Generator berkapasitas 20 kVA menghasilkan listrik 380 volt dengan produksi rata-rata 13 kilowatt per hari. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Ketersediaan energi mandiri memperkuat ekosistem usaha di kawasan Boon Pring, dari pedagang kuliner hingga operator teknis PLTMH. |
Warga lokal dilatih UMM sebagai operator teknis PLTMH yang mengelola sistem secara mandiri. |
| SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim |
Penggunaan energi air sebagai pengganti listrik berbahan bakar fosil menurunkan emisi karbon di tingkat desa, ditopang hutan bambu yang menjaga debit mata air. |
Seluruh kebutuhan listrik dasar kawasan wisata dipasok dari energi air tanpa emisi karbon. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan |
Pelestarian 65 jenis bambu di Boon Pring menjaga kelangsungan debit mata air yang menjadi sumber energi PLTMH sekaligus daya tarik wisata. |
Kawasan Boon Pring seluas sekitar 36,8 hektare mempertahankan 65 jenis bambu sebagai ekosistem penjaga sumber air. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan |
Model kolaborasi tiga pihak antara Pemerintah Desa Sanankerto, UMM, dan BNI melalui CSR membangun kerangka kemitraan desa-akademisi-korporasi. |
BUMDes Kertoraharjo meraih The 5th ASEAN RDPE Leadership Award mewakili Indonesia pada Mei 2022. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model PLTMH Sanankerto relevan direplikasi di desa wisata yang memiliki aliran air berdebit kontinu sepanjang tahun, terutama di kawasan hulu sungai Jawa Timur, Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara yang kaya sumber air namun belum memanfaatkannya untuk energi lokal [5]. Mekanisme replikasinya mencakup survei potensi hidrologi oleh tim teknis perguruan tinggi, diikuti pembangunan yang dibiayai melalui CSR BUMN atau dana desa dengan skema yang disesuaikan kondisi lokal [6].
Untuk scale up, Desa Sanankerto telah menerima kunjungan studi banding dari berbagai desa yang ingin membangun energi mandiri berbasis wisata [9]. Pengembangan sistem PLTMH generasi berikutnya berbasis on-grid yang memungkinkan desa menjual kelebihan listrik ke jaringan PLN dapat menjadi langkah lanjutan, mengubah desa dari konsumen energi mandiri menjadi turut berkontribusi pada jaringan listrik yang lebih luas [7].
Daftar Pustaka
[1] Antara Jatim, “Eco Wisata Boonpring Malang Miliki PLTMH,” jatim.antaranews.com, 22 Apr. 2019. [Daring]. Tersedia: https://jatim.antaranews.com/berita/291303/eco-wisata-boonpring-malang-miliki-pltmh.
[2] Republika, “UMM Resmikan PLTMH di Kawasan Wisata Boon Pring,” republika.co.id, 2 Mar. 2020. [Daring]. Tersedia: https://republika.co.id/berita/pendidikan/universitas-muhammadiyah-malang/20/03/02/q6jslc368-umm-resmikan-pltmh-di-kawasan-wisata-boon-pring.
[3] TravelPlus Indonesia, “Inilah 18 Destinasi Peraih ISTA 2019,” travelplusindonesia.blogspot.com, 26 Sep. 2019. [Daring]. Tersedia: http://travelplusindonesia.blogspot.com/2019/09/inilah-18-destinasi-peraih-ista-2019.html.
[5] T. M. Sitompul dkk., “Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH),” TEKTRO, Jurnal Politeknik Negeri Lhokseumawe, 2023. [Daring]. Tersedia: https://e-jurnal.pnl.ac.id/TEKTRO/article/download/5670/4003.
[6] IDN Times Jatim, “Kembangkan Ekowisata Terpadu, UMM Bangun PLTMH di Boonpring,” jatim.idntimes.com, 1 Mar. 2020. [Daring]. Tersedia: https://jatim.idntimes.com/news/jawa-timur/kembangkan-ekowisata-terpadu-umm-bangun-pltmh-di-boonpring-00-db9b5-cvcwwm.
[7] R. Ramadhan dkk., “Rancang Bangun PLTMH Skala Kecil dengan Sistem On-Grid,” Kapalamada, Azramedia Indonesia, 2024. [Daring]. Tersedia: https://azramedia-indonesia.azramediaindonesia.com/index.php/Kapalamada/article/download/1432/1507/9940.
[8] Mongabay Indonesia, “Nyala Terang Listrik di Boon Pring Bersumber dari Mikro Hidro,” mongabay.co.id, 1 Sep. 2020. [Daring]. Tersedia: https://www.mongabay.co.id/2020/09/01/nyala-terang-listrik-di-boon-pring-bersumber-dari-mikro-hidro/.
[9] Kompas, “Kembangkan Wisata Bambu, BUMDes Desa Sanankerto Malang Raih Penghargaan Tingkat ASEAN,” surabaya.kompas.com, 12 Mei 2022. [Daring]. Tersedia: https://surabaya.kompas.com/read/2022/05/12/183939578/kembangkan-wisata-bambu-bumdes-desa-sanankerto-malang-raih-penghargaan.
[10] H. Sinaga dkk., “Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air Berbasis Mikrohidro,” JITET, Jurnal Ilmiah Teknik Elektro dan Teknik Informatika, Universitas Lampung, 13 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://journal.eng.unila.ac.id/index.php/jitet/article/view/6810.
oleh Tim Inovasi Desa | 13 Sep 2026 | Pariwisata
Ringkasan Inovasi
Kampung Ugar di Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, mengembangkan destinasi ekowisata yang memadukan panorama gugusan pulau karst yang menyerupai Raja Ampat, wisata religi Masjid Tua Patimburak yang dibangun pada 1870, dan tradisi memancing tanpa umpan ke dalam satu paket kunjungan [1], [4], [7]. Inovasi ini digerakkan Pemerintah Kampung Ugar bersama kelompok Papua Muda Inspiratif (PMI) untuk membuka sumber pendapatan baru bagi warga yang sebelumnya bergantung penuh pada hasil tangkapan laut sebagai nelayan tradisional [5]. Pada Oktober 2022, Kampung Ugar masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dan meraih Juara Harapan Satu kategori Desa Wisata Maju, menjadikannya satu-satunya wakil Provinsi Papua Barat dalam ajang tersebut [3]. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Sandiaga Uno, turut mengunjungi kampung ini dan menyatakan komitmen memberikan pelatihan dan pendampingan lanjutan [2].
Latar Belakang
Kabupaten Fakfak memiliki bentang kepulauan tropis dengan ratusan pulau kecil bertebing karst yang selama ini lebih banyak dilalui perahu nelayan mencari nafkah dibanding dikunjungi wisatawan [1]. Penduduk lokal yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan menghadapi ketidakpastian pendapatan, terutama saat cuaca buruk melanda perairan.
Minimnya infrastruktur dan promosi selama ini membuat kawasan ini lebih banyak menjadi lokasi persinggahan sementara sebelum wisatawan melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di Papua [3]. Kebutuhan akan daya tarik yang mampu membuat wisatawan tinggal lebih lama menjadi tantangan tersendiri bagi warga.
Pemerintah kampung bersama kelompok pemuda melihat peluang mengembangkan potensi budaya dan alam yang selama ini belum dikelola secara maksimal, seiring tren pariwisata berbasis pelestarian alam yang tumbuh pascapandemi [2].
Inovasi yang Diterapkan
Warga kampung menerapkan tata kelola pariwisata yang memadukan wisata bahari, wisata spiritual, dan pengalaman budaya lokal. Salah satu daya tarik khasnya adalah tradisi memancing tanpa umpan, yang dikemas sebagai atraksi utama bagi wisatawan [1].
Paket wisata juga mencakup penelusuran gua-gua karst seperti Goa Namnam, Goa Ular, Goa Soa Soa, Goa Paniki, dan Goa Ikan, kunjungan ke situs lukisan dinding prasejarah, serta interaksi dengan penyu hijau dan penyu sisik di perairan sekitar [1]. Kelompok ibu rumah tangga menyajikan kuliner khas seperti ikan kakap kuah kuning, tagas-tagas, ayam bumbu bakar bambu, nasi kelapa bakar, kue lontar, dan sirup pala kepada wisatawan [2].
Proses Penerapan Inovasi
Langkah awal dimotori pemuda kampung yang secara swadaya membersihkan pesisir dari sampah plastik kiriman laut, lalu menggandeng jejaring nelayan untuk menyepakati standar keselamatan operasional perahu angkutan wisatawan [5].
Setelah fondasi ini terbentuk, kelompok Papua Muda Inspiratif meluncurkan promosi melalui media sosial. Deputi IV Bidang Intelijen Ekonomi Badan Intelijen Negara, Gde Made Kartikajaya, bersama PMI mengunjungi Kampung Patimburak dan Kampung Ugar pada akhir September 2022, dengan Koordinator PMI Fakfak Abdul Wahab Iha menjelaskan program pengembangan wisata di tiap kampung sebagai upaya meningkatkan pendapatan warga [5]. Pada tahap awal promosi, sejumlah agen perjalanan sempat enggan bekerja sama karena kendala akses transportasi menuju kampung, sehingga pengelola harus meyakinkan mitra secara bertahap sebelum kerja sama terjalin [5].
Pada Oktober 2022, Menteri Sandiaga Uno mengunjungi langsung Kampung Ugar dan menyatakan Kemenparekraf akan memberikan pelatihan dan pendampingan lanjutan, termasuk potensi kemitraan dengan pelaku usaha swasta nasional untuk penguatan produk ekonomi kreatif [2], [6].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan utama adalah minimnya sarana pendukung seperti koneksi internet dan transportasi umum reguler, yang memaksa wisatawan menyewa kapal carter dengan biaya relatif tinggi [3]. Kendala ini dimitigasi dengan menjalin standar operasional bersama jejaring nelayan lokal, sehingga transportasi wisata tetap tersedia meski belum ada angkutan umum reguler.
Tantangan kedua adalah proses birokrasi lintas lembaga yang memperlambat pencairan dukungan bagi rintisan wisata pemuda desa [3]. Kendala ini dimitigasi dengan mengandalkan swadaya warga dan dukungan bertahap dari Kemenparekraf serta mitra swasta, alih-alih menunggu satu sumber pendanaan tunggal. Keengganan awal sejumlah agen perjalanan bekerja sama karena akses transportasi juga dimitigasi melalui pendekatan langsung dan bertahap oleh pengelola hingga kepercayaan mitra terbangun [5].
Faktor Penentu Keberhasilan
Kolaborasi antara tokoh adat, pemuka agama, dan kelompok Papua Muda Inspiratif menjadi faktor penggerak utama, dengan tetua adat membuka ruang bagi pemuda mempromosikan kampung melalui media digital [5]. Dukungan Kemenparekraf serta kunjungan langsung Menteri Sandiaga Uno turut mempercepat pengakuan dan pembenahan sarana yang tidak dapat dibiayai sepenuhnya oleh anggaran kampung [3].
Keunikan kombinasi wisata bahari, situs prasejarah, dan Masjid Tua Patimburak yang menjadi simbol toleransi antaragama di Fakfak turut membedakan Kampung Ugar dari destinasi wisata bahari lain di Papua Barat [1].
Hasil dan Dampak Inovasi
Pada Oktober 2022, Kampung Ugar masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia dan meraih Juara Harapan Satu kategori Desa Wisata Maju, sebagai satu-satunya wakil Papua Barat dalam ajang tersebut [3]. Pengakuan ini turut mendorong perhatian Kemenparekraf terhadap potensi ekonomi kreatif kampung, mulai dari kuliner khas hingga kerajinan lokal [2].
Dampak ekonomi terlihat dari terbukanya sumber pendapatan alternatif bagi nelayan saat cuaca tidak memungkinkan melaut, melalui layanan pemandu wisata dan penjualan kuliner serta olahan sirup pala [2]. Dampak kualitatif yang muncul adalah tumbuhnya kesadaran warga menjaga kelestarian laut dan situs budaya yang kini menjadi bagian dari daya tarik ekonomi kampung.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal pembangunan sarana wisata Kampung Ugar. Pembersihan pesisir dan penyusunan standar operasional perahu wisata pada tahap awal dilakukan secara swadaya oleh warga dan pemuda kampung [5].
Model pendapatan bertumpu pada jasa pemandu wisata, sewa perahu angkutan wisatawan, penjualan kuliner khas dan sirup pala, serta potensi kemitraan dengan pelaku usaha swasta nasional yang diarahkan Kemenparekraf untuk penguatan produk ekonomi kreatif [6].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah memulai dari pembersihan pesisir dan penataan standar keselamatan perahu sebelum melakukan promosi besar-besaran, sehingga fondasi layanan sudah relatif siap ketika kunjungan mulai meningkat [5]. Pendekatan bertahap meyakinkan agen perjalanan yang semula ragu karena akses transportasi juga menunjukkan pentingnya kesabaran membangun kepercayaan mitra usaha sejak awal.
Jika memulai dari awal, penyelesaian kendala transportasi dan konektivitas idealnya menjadi prioritas lebih awal, mengingat keterbatasan ini terus memengaruhi lama tinggal wisatawan hingga saat ini. Desa pesisir lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memetakan keunikan budaya dan sejarah lokal yang otentik, membangun standar keselamatan transportasi wisata sejak tahap awal, dan memanfaatkan jaringan komunitas pemuda untuk promosi digital sebelum bergantung pada agen perjalanan luar daerah.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Pemerintah daerah menetapkan aturan perlindungan konservasi terumbu karang di sekitar zona penangkapan ikan tradisional warga Ugar, agar aktivitas wisata tidak merusak sumber daya laut yang sama-sama menjadi mata pencaharian warga [6]. Kaderisasi pemandu wisata bersertifikat yang mampu berbahasa asing juga terus didorong untuk menjangkau segmen wisatawan mancanegara [6].
Kemitraan dengan Kemenparekraf dan pelaku usaha swasta diarahkan untuk membantu pembenahan tata kelola keuangan kelompok wisata serta desain kemasan produk kerajinan dan kuliner agar lebih kompetitif di pasar yang lebih luas [6].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Ekowisata Kampung Ugar berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Layanan pemandu wisata dan penjualan kuliner memberi sumber pendapatan alternatif bagi nelayan saat cuaca tidak memungkinkan melaut. |
Warga menjual kuliner khas seperti sirup pala dan ikan kakap kuah kuning kepada wisatawan. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Pembukaan rute ekowisata menciptakan pekerjaan bagi pemuda pesisir sebagai pemandu wisata dan penyedia jasa perahu serta kuliner. |
Kampung Ugar meraih Juara Harapan Satu kategori Desa Wisata Maju ADWI 2022. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan |
Pelestarian situs prasejarah tebing karst dan Masjid Tua Patimburak memperkuat identitas budaya kawasan permukiman pesisir. |
Masjid Tua Patimburak yang dibangun 1870 tetap dipertahankan sebagai warisan sejarah dan simbol toleransi. |
| SDGs 14: Ekosistem Lautan |
Promosi tradisi memancing tanpa umpan dan aturan perlindungan terumbu karang membantu menjaga keseimbangan ekosistem laut dari praktik penangkapan ikan yang merusak. |
Zona konservasi terumbu karang ditetapkan di sekitar area penangkapan ikan tradisional warga. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan |
Kolaborasi antara Pemerintah Kampung Ugar, Papua Muda Inspiratif, Kemenparekraf, dan pelaku usaha swasta menciptakan model kemitraan multipihak dalam pengembangan wisata desa. |
Menteri Sandiaga Uno dan Deputi IV BIN Gde Made Kartikajaya turut mengunjungi dan mendukung Kampung Ugar pada 2022. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model pengemasan wisata berbasis tradisi memancing tanpa umpan dan sejarah lokal ini dapat direplikasi oleh komunitas nelayan pesisir lain yang memiliki kombinasi keunikan alam dan budaya serupa [1]. Pendekatan promosi berbasis komunitas pemuda melalui media sosial, sebagaimana dilakukan Papua Muda Inspiratif, juga terbukti dapat menjangkau perhatian nasional dengan biaya promosi yang relatif terjangkau [5].
Pemerintah daerah berpotensi menyusun panduan tata kelola ekowisata kepulauan dengan merujuk pengalaman Kampung Ugar, sekaligus mengintegrasikan jaringan pulau wisata di Fakfak agar biaya kunjungan antarpulau menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan.
Daftar Pustaka
[1] Sinar Harapan, “Kampung Ugar, Desa Wisata Bahari dan Sejarah,” sinarharapan.net, 12 Okt. 2022. [Daring]. Tersedia: https://www.sinarharapan.net/kampung-ugar-desa-wisata-bahari-dan-sejarah/.
[2] Antara News, “Sandi Bilang Desa Wisata Ugar di Fakfak Miliki Ekowisata Berkelanjutan,” antaranews.com, 14 Okt. 2022. [Daring]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/3178801/sandi-bilang-desa-wisata-ugar-di-fafak-miliki-ekowisata-berkelanjutan.
[3] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, “Andalkan Wisata Bahari dan Sejarah, Desa Wisata Kampung Ugar Masuk 50 Besar ADWI 2022,” kemenparekraf.go.id. [Daring]. Tersedia: https://www.kemenparekraf.go.id/berita/siaran-pers-andalkan-wisata-bahari-dan-sejarah-desa-wisata-kampung-ugar-masuk-50-besar-adwi-2022.
[4] Kompas Travel, “Cantiknya Kepulauan Ugar di Fakfak, Panorama Alamnya Mirip Raja Ampat,” travel.kompas.com, 14 Okt. 2022. [Daring]. Tersedia: https://travel.kompas.com/read/2022/10/14/085423427/cantiknya-kepulauan-ugar-di-fakfak-panorama-alamnya-mirip-raja-ampat?page=all.
[5] Kumparan News, “Papua Muda Inspiratif Promosikan Desa Wisata di Fakfak, Pantainya Begitu Indah,” kumparan.com, 25 Sep. 2022. [Daring]. Tersedia: https://kumparan.com/kumparannews/papua-muda-inspiratif-promosikan-desa-wisata-di-fakfak-pantainya-begitu-indah-1yw23VwzA57.
[6] Antara News Papua Barat, “Sandiaga Uno Kunjungi Kampung Wisata Ugar Fakfak,” papuabarat.antaranews.com, 14 Okt. 2022. [Daring]. Tersedia: https://papuabarat.antaranews.com/berita/20681/sandiaga-uno-kunjungi-kampung-wisata-ugar-fakfak.
[7] Liputan6, “Kisah Masjid Tertua di Kampung Ugar Papua Barat,” liputan6.com. [Daring]. Tersedia: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/5098143/kisah-masjid-tertua-di-kampung-ugar-papua-barat.
oleh Tim Inovasi Desa | 13 Sep 2026 | Pariwisata
Ringkasan Inovasi
Desa Wisata Kubu Gadang di Kelurahan Ekor Lubuk, Kecamatan Padang Panjang Timur, Kota Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat, sejak 2014 mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat yang memadukan agrowisata sawah, pelestarian budaya Minangkabau, dan pemberdayaan ekonomi warga melalui homestay [1]. Inovasi ini digagas Yuliza Zen, yang memulai perintisan pada usia 21 tahun, mengubah kampung yang sebelumnya hanya dilintasi wisatawan menjadi destinasi yang menawarkan pengalaman menginap dan belajar langsung dari kehidupan warga [8]. Dampak inovasi ini terlihat dari 22 unit homestay yang dikelola warga dengan sekitar 100 rumah tangga terlibat dalam aktivitas pariwisata, serta sekitar 75 persen pendapatan wisata yang berputar di dalam komunitas [8]. Kubu Gadang meraih kategori Desa Wisata Maju dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 dan Juara 1 kategori Wisata IMA UMKM Award 2024, sementara Yuliza Zen secara pribadi meraih penghargaan Asia’s Top Outstanding Young Marketer 2025 dari Asia Marketing Federation [10], [9], [11].
Latar Belakang
Kota Padang Panjang memiliki lanskap pegunungan dan sawah yang dikelilingi Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gunung Tandikat, dan Bukit Barisan. Laju pembangunan kota yang terus berkembang lambat laun menekan keberadaan lahan pertanian yang menjadi penopang hidup warga, sementara modernisasi turut memudarkan minat generasi muda terhadap kesenian tradisional warisan leluhur [3].
Pemuda setempat cenderung lebih tertarik merantau dibanding mengelola sawah atau mempelajari silat tradisional. Kondisi ini mendorong tokoh adat dan warga mencari wadah ekonomi yang dapat merangkul potensi masyarakat sekaligus menahan laju migrasi pemuda ke kota [4].
Yuliza Zen, yang memulai perintisan pada 2014 saat berusia 21 tahun, melihat peluang dari keaslian alam dan kehidupan pedesaan Kubu Gadang bagi wisatawan perkotaan. Ia membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) bersama warga untuk merancang program wisata berbasis pengalaman hidup sehari-hari warga [8].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi utama Kubu Gadang adalah pengemasan tradisi Minangkabau menjadi atraksi wisata tanpa menghilangkan esensi aslinya. Atraksi andalannya adalah Silek Lanyah, pertunjukan silat tradisional yang dipentaskan di kubangan lumpur persawahan, dilengkapi paket belajar menanam padi dan memasak rendang [2].
Pengelola juga mengembangkan pengalaman menginap di rumah warga, dengan 22 unit homestay yang disewakan seharga Rp600.000-Rp700.000 per malam [8]. Tuan rumah dilatih menyambut tamu secara personal, menciptakan interaksi yang lebih dekat antara pengunjung dan warga dibanding wisata konvensional [4]. Setiap Minggu, Kubu Gadang juga menyelenggarakan Pasar Digital dengan kode busana bertema vintage dan jajanan tradisional sebagai daya tarik tambahan [1].
Proses Penerapan Inovasi
Perombakan desa dimulai dari pengorganisasian modal sosial secara swadaya dan gotong royong. Yuliza Zen bersama pemuda setempat merangkul tetua adat untuk meminta restu menjadikan pelestarian budaya sebagai daya tarik wisata, hingga seorang maestro silat bersedia melatih pemuda tampil di hadapan wisatawan [2].
Tahap berikutnya adalah penyempurnaan standar layanan penginapan rumahan, yang sempat terkendala minimnya pemahaman warga soal kebersihan dan penyajian makanan. Dengan pendampingan bertahap, standar penyajian dan kebersihan fasilitas penginapan warga berangsur membaik [5]. Salah satu tantangan permodalan terberat, menurut penuturan Yuliza Zen sendiri, adalah harus mencari solusi pembiayaan hingga puluhan kali karena tidak adanya modal awal yang memadai [8].
Pada 2018, Kubu Gadang membangun Pasar Digital sebagai inovasi baru, namun program ini terhenti total ketika pandemi COVID-19 melanda, karena kunjungan wisatawan berhenti sepenuhnya. Pengelola kemudian mengoreksi pendekatannya dengan mengalihkan fokus ke model wisata edukasi yang lebih fleksibel begitu kunjungan wisatawan pulih pascapandemi [8].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan struktural yang dihadapi Kubu Gadang adalah statusnya sebagai kelurahan, bukan desa, sehingga tidak memiliki akses ke Dana Desa yang lazim menjadi modal pengembangan desa wisata lain [8]. Kendala ini dimitigasi dengan mengandalkan swadaya warga, kemitraan dengan akademisi, dan pendampingan dinas pariwisata sebagai sumber modal dan pengetahuan alternatif [4].
Tantangan berikutnya adalah ketidaksiapan warga menyambut lonjakan pengunjung pada musim liburan awal, yang sempat memunculkan keluhan soal kecepatan pelayanan [3]. Kendala ini dimitigasi melalui pelatihan tata graha bagi pengelola homestay secara berkelanjutan. Pandemi COVID-19 juga sempat menghentikan total program Pasar Digital yang baru dibangun, dan dimitigasi dengan peluncuran paket wisata edukasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar pascapandemi [8].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah konsistensi Yuliza Zen sebagai penggerak yang merangkul warga lintas latar belakang untuk bekerja sama mengelola potensi wisata desa mereka [1]. Faktor kedua adalah keterlibatan akademisi yang membantu mempertajam strategi pemasaran digital, dengan dosen dan mahasiswa membimbing warga memanfaatkan media sosial untuk menjangkau calon pengunjung [3].
Sinergi tiga pihak, warga, akademisi, dan dinas pariwisata, menjadi fondasi pengelolaan wisata yang relatif tangguh meski tanpa akses Dana Desa [4].
Hasil dan Dampak Inovasi
Kubu Gadang kini mengelola 22 unit homestay dengan sekitar 100 rumah tangga terlibat dalam aktivitas pariwisata, dan sekitar 75 persen pendapatan wisata berputar di dalam komunitas [8]. Salah satu penyelenggaraan acara wisata selama lima hari tercatat menghasilkan pendapatan sekitar Rp70 juta [8].
Pada Agustus 2023, Kubu Gadang meraih kategori Desa Wisata Maju dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), setelah bersaing dari 4.573 desa wisata yang dinilai secara nasional, disaring menjadi 500 semifinalis, dan akhirnya masuk 75 besar finalis [10]. Pada Desember 2024, Kubu Gadang juga meraih Juara 1 kategori Wisata dalam IMA UMKM Award 2024 di Jakarta [9]. Yuliza Zen secara pribadi kemudian meraih penghargaan Asia’s Top Outstanding Young Marketer 2025 dari Asia Marketing Federation, yang diserahkan di Colombo, Sri Lanka [11].
Dampak kualitatif terlihat dari meningkatnya minat generasi muda mempelajari kembali silat tradisional dan kesenian randai, seiring pertumbuhan kunjungan wisatawan yang tertarik menyaksikan pertunjukan tersebut [2]. Kajian akademik turut mencatat bahwa pengembangan pariwisata di Kubu Gadang memberi pengaruh terhadap kesejahteraan pelaku usaha setempat, meski sejumlah faktor lain di luar pariwisata juga turut memengaruhi capaian tersebut [6]. Penelitian lain mencatat bahwa dampak sosial budaya pariwisata di Kubu Gadang tidak sepenuhnya positif, sehingga pengelolaan interaksi antara wisatawan dan warga tetap perlu diperhatikan agar nilai budaya lokal tidak tergerus [7].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Karena Kubu Gadang berstatus kelurahan, bukan desa, pengembangan wisata ini tidak dapat mengandalkan Dana Desa dan bertumpu pada swadaya warga sejak tahap awal [8]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal secara spesifik, namun menegaskan bahwa keterbatasan modal menjadi tantangan nyata pada masa perintisan.
Model pendapatan bertumpu pada sewa homestay seharga Rp600.000-Rp700.000 per malam, penyelenggaraan paket wisata edukasi dan atraksi budaya, serta Pasar Digital mingguan. Sekitar 75 persen pendapatan wisata berputar di dalam komunitas, menunjukkan model bisnis yang relatif mandiri dari subsidi eksternal [8].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah merangkul tetua adat sejak awal sebelum mengomersialkan tradisi silat dan budaya lokal, sehingga inovasi ini diterima sebagai pelestarian, bukan eksploitasi budaya [2]. Ketekunan mencari solusi pembiayaan meski berulang kali gagal juga menjadi pelajaran bahwa keterbatasan akses modal formal tidak selalu menghentikan inovasi desa jika warga bersedia bergotong royong [8].
Kegagalan Pasar Digital yang dibangun pada 2018 dan terhenti total akibat pandemi mengajarkan bahwa program wisata baru perlu memiliki rencana cadangan yang tidak sepenuhnya bergantung pada kunjungan fisik wisatawan. Desa atau kelurahan lain yang tidak memiliki akses Dana Desa disarankan membangun kemitraan sejak awal dengan akademisi dan dinas pariwisata untuk menutup kesenjangan modal dan pengetahuan teknis.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Pelatihan tata graha bagi pengelola homestay terus digalakkan untuk menjaga standar layanan, sementara kaderisasi silat dan kesenian tradisional disiapkan secara estafet dari tetua kepada generasi muda agar tidak tergerus perubahan zaman [2].
Pengelola wisata membangun kemitraan dengan agen perjalanan untuk menjaga arus kunjungan sepanjang tahun, sementara promosi digital terus diperkuat mengikuti pengakuan yang diterima Kubu Gadang di tingkat nasional [4].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Desa Wisata Kubu Gadang berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Pengelolaan homestay dan atraksi wisata menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi warga yang sebelumnya hanya bergantung pada pertanian atau merantau ke kota. |
Sekitar 100 rumah tangga terlibat dalam aktivitas pariwisata Kubu Gadang. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender |
Yuliza Zen sebagai perempuan penggerak utama menunjukkan peran perempuan sebagai pemimpin inovasi ekonomi desa, diakui lewat penghargaan pemasaran tingkat Asia. |
Yuliza Zen meraih penghargaan Asia’s Top Outstanding Young Marketer 2025 dari Asia Marketing Federation. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Fasilitas penginapan lokal dan Pasar Digital membuka peluang kerja baru bagi pemuda setempat sekaligus menahan laju migrasi ke kota. |
22 unit homestay dikelola warga dengan sekitar 75 persen pendapatan wisata berputar di komunitas. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan |
Pelestarian kesenian randai dan silat tradisional melindungi warisan budaya lokal dari ancaman kepunahan akibat modernisasi. |
Pertunjukan Silek Lanyah dan randai rutin ditampilkan sebagai bagian dari paket wisata. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan |
Penetapan area persawahan sebagai bagian dari agrowisata membantu mempertahankan fungsi lahan pertanian dari tekanan alih fungsi lahan perkotaan. |
Lahan persawahan tetap dipertahankan sebagai lokasi atraksi Silek Lanyah dan edukasi tanam padi. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model pariwisata komunal Kubu Gadang menjadi rujukan bagi berbagai daerah, termasuk delegasi dari luar Sumatera yang berkunjung mempelajari pengelolaannya [4]. Kesederhanaan konsepnya memungkinkan direplikasi oleh desa atau kelurahan lain yang memiliki potensi budaya lokal yang masih terjaga, termasuk yang tidak memiliki akses Dana Desa sekalipun, selama warga bersedia bergotong royong dan mencari kemitraan alternatif [1].
Pengelola berencana membangun kolaborasi dengan desa wisata tetangga untuk membentuk kawasan wisata terpadu, menawarkan paket kuliner dan wisata edukatif yang saling melengkapi antardesa di sekitar Padang Panjang.
Daftar Pustaka
[1] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, “Desa Wisata Kubu Gadang,” jadesta.kemenpar.go.id, 31 Des. 2023. [Daring]. Tersedia: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/kubu_gadang_1.
[2] IDN Times, “Menikmati Tari Piring dan Silek Lanyah di Desa Wisata Kubu Gadang Sumbar,” idntimes.com. [Daring]. Tersedia: https://www.idntimes.com/travel/destination/menikmati-tari-piring-dan-silek-lanyah-di-desa-wisata-kubu-gadang-sumbar-00-g3crm-np4qf4.
[3] K. Baswir, “Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat dalam Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan pada Desa Wisata Kubu Gadang di Kota Padang Panjang,” Skripsi, Universitas Andalas, 2025. [Daring]. Tersedia: http://scholar.unand.ac.id/506391/7/BAB%20VI%20PENUTUP.pdf.
[4] R. Ramadan, F. Fasandra, dan N. Hibatullah, “Strategi Manajemen Pariwisata Berbasis Masyarakat dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Lokal di Desa Wisata Kubu Gadang Provinsi Sumatera Barat,” Jurnal Projemen UNIPA, vol. 12, no. 2, hal. 72-84, 2025. [Daring]. Tersedia: https://doi.org/10.59603/projemen.v12i2.866.
[5] Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pariwisata (JIMPAR), “Peran Desa Wisata Kubu Gadang dalam Mengintegrasikan Produk Kuliner Tradisional Padang Panjang,” Universitas Mataram, 2025. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.fe.unram.ac.id/index.php/jimpar/article/view/2763.
[6] Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, “Pengaruh Pengembangan Pariwisata terhadap Kesejahteraan Masyarakat Desa Wisata Kubu Gadang Kota Padang Panjang,” Skripsi, Repository UIN Suska. [Daring]. Tersedia: https://repository.uin-suska.ac.id/76078/2/TANPA%20BAB%20V.pdf.
[7] ResearchGate, “Dampak Sosial Budaya Pariwisata di Desa Wisata Kubu Gadang Padang Panjang Sumatera Barat,” 2024. [Daring]. Tersedia: https://www.researchgate.net/publication/387052699_DAMPAK_SOSIAL_BUDAYA_PARIWISATA_DI_DESA_WISATA_KUBU_GADANG_PADANG_PANJANG_SUMATERA_BARAT.
[8] Kompas UMKM, “Kisah Desa Wisata Kubu Gadang, Gerakkan Perekonomian Warga,” umkm.kompas.com, 8 Des. 2024. [Daring]. Tersedia: https://umkm.kompas.com/read/2024/12/08/154651583/kisah-desa-wisata-kubu-gadang-gerakkan-perekonomian-warga?page=all.
[9] Kompas UMKM, “Desa Wisata Kubu Gadang Raih Juara 1 IMA UMKM Award 2024 Kategori Wisata,” umkm.kompas.com, 7 Des. 2024. [Daring]. Tersedia: https://umkm.kompas.com/read/2024/12/07/170413983/desa-wisata-kubu-gadang-raih-juara-1-ima-umkm-award-2024-kategori-wisata.
[10] Antara Sumbar, “Raih Penghargaan ADWI 2023, Desa Wisata Kubu Gadang Kategori Desa Wisata Maju,” sumbar.antaranews.com, 28 Agu. 2023. [Daring]. Tersedia: https://sumbar.antaranews.com/berita/579396/raih-penghargaan-adwi-2023-desa-wisata-kubu-gadang-kategori-desa-wisata-maju.
[11] Rakyat Sumbar, “Pegiat Desa Wisata Kubu Gadang Padangpanjang Raih Penghargaan Asia’s Top Outstanding Young Marketer 2025,” rakyatsumbar.id, 23 Okt. 2025. [Daring]. Tersedia: https://rakyatsumbar.id/pegiat-desa-wisata-kubu-gadang-padangpanjang-raih-penghargaan-asias-top-outstanding-young-marketer-2025/.
oleh Tim Inovasi Desa | 13 Sep 2026 | Pariwisata
Ringkasan Inovasi
Kampung Kwau di Distrik Mokwam, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, mengembangkan inovasi Ekowisata Pengamatan Burung Berbasis Komunitas yang diinisiasi oleh masyarakat adat setempat di bawah penggerak utama Hans Mandacan. Inovasi ini hadir sebagai jawaban atas kondisi masyarakat pedalaman Pegunungan Arfak yang terisolasi secara ekonomi meskipun mendiami kawasan dengan kekayaan hayati luar biasa, termasuk burung cenderawasih dan flora langka [1]. Diintensifkan sejak 2018, ekowisata ini mengubah warga dari penonton pasif menjadi aktor sentral tata kelola pariwisata melalui jasa pemanduan profesional, akomodasi homestay tradisional, dan pengelolaan menara pandang burung. Dampak nyatanya terlihat dari penurunan drastis keluarga prasejahtera, raihan Juara III Desa Wisata Berkembang ADWI 2023, dan keterlibatan 100% masyarakat adat dalam konservasi hutan berkelanjutan [2][3].
Latar Belakang
Kawasan Pegunungan Arfak di Papua Barat merupakan lanskap hutan primer yang terletak pada ketinggian antara 1.000 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut. Kampung Kwau berdiri di jantung kawasan ini sebagai habitat bagi satwa langka dunia, mulai dari burung cenderawasih penari (Western Parotia) hingga burung pintar (Vogelkop Bowerbird), serta ratusan spesies anggrek dan Rhododendron Papua [1]. Topografi pegunungan membentuk iklim sejuk yang ideal bagi keanekaragaman hayati, menjadikan wilayah ini surga bagi para peneliti dan pengamat burung dari seluruh dunia.
Di balik keindahan alamnya, masyarakat Kampung Kwau menyimpan derita akibat ketimpangan akses dan keterisolasian ekonomi jangka panjang. Data kondisi awal sebelum inovasi diterapkan menunjukkan sekitar 70% kepala keluarga mengandalkan hidup dari perladangan berpindah dan hasil hutan dengan pendapatan tidak menentu [2]. Jarak tempuh dari pusat kota Manokwari memakan waktu lebih dari dua jam melewati medan jalan berbatu terjal yang hanya dapat dilalui kendaraan berpenggerak empat roda, sementara fasilitas pendidikan dan kesehatan sangat minim [4].
Momen pemicu yang menyentak kesadaran warga bermula saat meningkatnya frekuensi kunjungan para peneliti asing ke kawasan Mokwam untuk mengamati burung endemik. Masyarakat lokal menyadari betapa tingginya antusiasme dunia internasional terhadap kekayaan alam di halaman rumah mereka, namun tragisnya warga hanya bisa memandang tanpa mampu memberikan layanan pariwisata karena kendala bahasa dan ketidaktahuan manajerial [5]. Realitas pahit ini membangunkan semangat juang Hans Mandacan dan pemuda kampung bahwa tanpa inovasi dalam pengelolaan ekowisata, warga Kwau akan selamanya tertinggal di tanah surga mereka sendiri.
Inovasi yang Diterapkan
Merespons berbagai keterbatasan tersebut, lahir gagasan murni untuk mengembangkan Ekowisata Berbasis Komunitas (Community-Based Tourism) yang bertumpu pada kekuatan lokal. Gagasan dasarnya bukan menjual burung atau membabat kayu hutan, melainkan menjadikan observasi satwa liar sebagai atraksi bernilai jual tinggi [1]. Warga mengembangkan tiga lapis layanan terpadu: penyediaan pemandu wisata lokal tersertifikasi, penyewaan menara pandang burung strategis, dan transformasi rumah warga menjadi fasilitas homestay tradisional.
Mekanisme kerja inovasi ini diikat kuat dengan hukum adat dan aturan komunitas. Wisatawan asing diwajibkan menyewa jasa warga lokal untuk mengakses wilayah hutan Kwau guna menjamin keamanan dan kenyamanan satwa [3]. Terobosan paling menonjol adalah inisiatif “Kampung Inggris” otodidak yang dirintis Hans Mandacan, di mana warga belajar bahasa Inggris secara mandiri demi melayani tamu mancanegara dengan lebih humanis. Wisatawan tidak hanya datang menikmati burung, namun juga berinteraksi mendalam dengan kearifan lokal keseharian masyarakat pedalaman.
Hal utama yang membedakan inovasi ini dari pendekatan pariwisata konvensional adalah transisi masyarakat dari paradigma ekstraktif ke pelestarian proaktif. Kampung Kwau membuktikan bahwa kearifan tradisional — bahkan arsitektur rumah dan masakan lokal — adalah komoditas paling bernilai bagi ekoturis. Keterlibatan perempuan secara utuh dalam penyediaan masakan dan kerajinan membuktikan bahwa konservasi dan emansipasi sosial dapat berjalan beriringan [5].
Proses Penerapan Inovasi
Kronologi pembangunan inovasi dimulai dengan fase pemetaan wilayah ekologis, di mana tokoh pemuda dan masyarakat mengidentifikasi sarang burung Vogelkop Bowerbird dan lokasi tarian burung cenderawasih tanpa mengganggu siklus alami satwa. Setelah titik-titik pengamatan dipetakan, tahap krusial berikutnya adalah konsolidasi SDM melalui musyawarah adat berulang kali untuk meyakinkan tetua kampung bahwa pariwisata menguntungkan seluruh pihak [1]. Warga kemudian bergotong-royong mendirikan infrastruktur kayu berupa pondok pengamatan dan memperbaiki akses jalan setapak.
Perjalanan ini sarat akan eksperimen pahit yang sangat instruktif. Kegagalan paling monumental terjadi ketika masyarakat berusaha mengadaptasi gaya menu dan fasilitas homestay yang terlalu kebarat-baratan agar turis asing merasa “nyaman” — wisatawan justru mengeluhkan hilangnya keaslian suasana budaya [5]. Dari kekeliruan berharga ini, masyarakat segera mengoreksi strategi dengan mengembalikan konstruksi homestay pada bentuk arsitektur vernakular berbahan lokal serta mempromosikan masakan tradisional Papua asli. Pembelajaran empiris ini sangat krusial bagi calon desa wisata lain: jangan korbankan otentisitas kearifan lokal demi melayani fantasi pariwisata urban.
Wawasan berharga lain yang dipetik adalah urgensi penguasaan keterampilan lunak pariwisata. Proses pembelajaran bahasa Inggris secara otodidak oleh Hans Mandacan perlahan menular ke anak-anak muda lain, membentuk ekosistem sadar wisata [2]. Pemkab Manokwari kemudian merespons positif dengan memberikan pelatihan bahasa asing dan penguatan kelembagaan Kelompok Sadar Wisata secara intensif, sehingga inovasi ini bertumbuh dari embrio lokal menjadi program regional yang kokoh.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Sepanjang proses transformasi ekowisata, kapasitas SDM pariwisata yang nyaris di titik nadir menjadi tantangan internal utama. Masyarakat masih terjebak kebiasaan hidup sehari-hari yang kurang sesuai standar pariwisata internasional [3]. Mitigasi terhadap tantangan ini dilakukan melalui musyawarah komunitas yang menetapkan konsensus mengikat berupa penguatan nilai Sapta Pesona — melarang merokok dan mengunyah pinang sembarangan, serta menjaga kebersihan sanitasi lingkungan di kawasan pelayanan tamu.
Tantangan eksternal datang dari hambatan fisik infrastruktur dan akses telekomunikasi. Medan jalan ekstrem berbatu menanjak ke Gunung Soyti sering menghalangi kendaraan turis reguler, sementara minimnya jaringan sinyal seluler melumpuhkan upaya pemasaran dan pemesanan daring [4]. Pengelola wisata proaktif menggandeng Pemerintah Kabupaten Manokwari yang menjadikan desa ini sebagai prioritas pembangunan, sehingga dana peningkatan infrastruktur pengaspalan jalan mulai direalisasikan.
Dalam bidang pemasaran, Kelompok Sadar Wisata mendirikan struktur administrasi berbasis kolektif dan berhasil meluncurkan sistem pemesanan online melalui website resmi [1]. Kemitraan dengan agen wisata lintas negara dan penempatan alat pemancar sinyal (repeater) dari operator telekomunikasi lokal menjadi solusi tanggap yang mengamankan kelangsungan model pariwisata ini. Solusi-solusi cepat inilah yang membuktikan bahwa keterisolasian dapat diterobos melalui kolaborasi strategis.
Faktor Penentu Keberhasilan
Tulang punggung keberhasilan Kampung Kwau tak lepas dari peran kolaboratif seluruh elemen pemangku kepentingan. Masyarakat adat Arfak memegang peran utama dengan kepatuhan tinggi pada nilai konservasi komunal, sementara Hans Mandacan menjadi jembatan kultural yang menerjemahkan ekspektasi turis asing ke dalam standar hidup warga [2]. Komitmen tegas Dinas Pariwisata Manokwari dalam menetapkan Kampung Kwau sebagai desa percontohan memberi payung legal yang menguatkan daya tawar masyarakat di hadapan pihak swasta [3].
Fondasi terdalam kesuksesan inovasi ini terletak pada modal sosial dan ikatan kekerabatan warga berupa kearifan lokal. Pengetahuan tak tertulis mengenai identifikasi puluhan jenis kupu-kupu langka seperti Ornithoptera priamus serta botani bunga eksotis Hydrangea dan Rhododendron diteruskan sebagai kebanggaan budaya [5]. Keterikatan emosional ini mencegah dominasi ekonomi segelintir elite dan mengikat partisipasi gotong-royong komunal di segala lapisan, memposisikan alam bukan sebagai obyek eksploitasi melainkan saudara tertua yang wajib dirawat.
Hasil dan Dampak Inovasi
Kehadiran ekowisata komunitas memberikan dampak ekonomi yang terukur dan dapat dibandingkan langsung dengan kondisi sebelumnya. Jika pada kondisi awal 70% kepala keluarga mengandalkan pertanian berpindah dengan pendapatan tidak menentu, kini melalui perputaran jasa pemandu wisata dan penyediaan akomodasi homestay komunal, proporsi keluarga prasejahtera turun drastis hingga di bawah 20% [2]. Lebih dari 80% tenaga produktif desa kini terserap dalam ekosistem pariwisata, dan desa wisata ini berhasil meraih Juara III ADWI 2023 tingkat nasional serta memecahkan rekor MURI sebagai habitat resmi Burung Penari (Western Parotia) yang dikelola komunitas [3].
Perubahan perilaku dan budaya masyarakat menjadi dampak sosial yang tidak kalah signifikan. Etos kerja berubah menjadi lebih profesional dengan kedisiplinan berakar pada kesadaran etika, terbukti dari patuhnya warga terhadap pelarangan merokok dan pengelolaan limbah demi pariwisata berkelanjutan. Pelestarian hutan bukan lagi beban aturan negara, melainkan telah menyatu menjadi budaya masyarakat adat yang saling mengingatkan demi masa depan anak-cucu [5].
Dampak spillover yang tidak direncanakan sebelumnya muncul dengan terbentuknya atmosfer “kampung literasi bahasa” ketika anak muda secara sukarela memanfaatkan hari libur untuk berlatih percakapan bahasa Inggris bersama turis. Perjuangan mereka dari sekadar bertahan hidup kini menjadi melayani tamu dunia, seperti diungkapkan Hans Mandacan: “Anak muda di sini menyadari bahwa belajar bahasa Inggris dan menjaga kebersihan hutan adalah kunci untuk kesejahteraan kami ke depan” [1]. Kebanggaan dan kebermaknaan hidup warga tumbuh seiring dengan pengakuan nasional dan internasional terhadap kampung mereka.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Integritas inovasi Kampung Kwau tercermin dalam model pendanaannya yang mengutamakan kemandirian sejak fase awal. Investasi awal pembangunan fasilitas seperti pondok pengamatan dan renovasi bilik homestay bersumber dari gotong-royong swadaya masyarakat dengan pemanfaatan material lokal murni [1]. Seiring peningkatan statusnya, intervensi stimulan berupa Dana Desa dan Alokasi Dana APBD Kabupaten Manokwari diserap optimal namun hanya difokuskan pada infrastruktur fisik berat seperti jalan aspal dan sarana air bersih komunal [4].
Model pendapatan dibangun menyasar turis minat khusus berbiaya tinggi melalui pemberlakuan tiket masuk kawasan konservasi, penyewaan akomodasi otentik, distribusi rotasi pemandu lokal tersertifikasi, serta penjualan kerajinan budaya dan kuliner tradisional. Skema distribusi keuntungan mengutamakan prinsip ekonomi sirkuler — sebagian persentase retribusi secara tegas dialokasikan kembali sebagai insentif pemeliharaan hutan dan kas regenerasi SDM bagi kelompok sadar wisata [2]. Kemandirian fiskal ini menjamin bahwa operasional ekowisata tidak bergantung sepenuhnya pada dana hibah pemerintah.
Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)
Dari proses transformasi ekowisata Kampung Kwau, terdapat sejumlah pelajaran berharga yang patut menjadi refleksi bagi desa wisata lain. Keputusan paling tepat yang diambil adalah mempertahankan otentisitas kearifan lokal — desain arsitektur rumah tradisional berbahan bambu dan kayu hutan, masakan Papua asli, serta interaksi budaya yang genuine — sebagai daya jual utama. Masyarakat juga membuktikan bahwa konservasi melalui valuasi ekonomi secara bottom-up jauh lebih efektif: warga secara sukarela menjaga alam ketika mereka merasakan bahwa “menjaga” jauh lebih menguntungkan secara finansial ketimbang “mengeksploitasi” [5].
Jika memulai kembali dari nol, satu hal yang akan dilakukan berbeda adalah menginvestasikan pelatihan keterampilan SDM — terutama kemampuan bahasa Inggris terapan dan wawasan etika Sapta Pesona — secara paralel dengan pembangunan fisik pariwisata, bukan setelahnya [2]. Kegagalan awal dalam mendesain homestay bergaya urban-modern yang justru dikecewakan wisatawan mengajarkan bahwa riset pasar sederhana terhadap preferensi target pengunjung harus dilakukan sebelum investasi fasilitas. Bagi kampung atau desa lain yang ingin mereplikasi, disarankan untuk memulai dari pemetaan potensi alam unik dan konsolidasi masyarakat melalui musyawarah adat, karena tanpa keduanya inovasi ekowisata akan kehilangan fondasi [3].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan masa depan menitikberatkan pada proses regenerasi kepemimpinan intelektual pariwisata. Gerakan informal “Kampung Inggris” terus dikembangkan ke arah yang lebih struktural, menyasar remaja kampung sejak usia dini [1]. Pendekatan ini merupakan asuransi sosiologis untuk mengamankan kualitas layanan ketika tokoh perintis wisata memasuki masa transisi usia, menjamin bahwa kader-kader baru yang fasih bahasa asing siap melanjutkan tongkat estafet.
Dari segi tata pemerintahan kampung, regulasi perlindungan satwa terus diintegrasikan ke dalam aturan adat tertulis maupun formal berupa Peraturan Kampung. Melalui kekuatan mengikat institusi desa ini, manajemen ekowisata dan porsi dana re-investasi perawatan kawasan tidak akan goyah meski terjadi rotasi jabatan di pucuk pimpinan pemerintahan tingkat distrik maupun kabupaten [3]. Kesadaran untuk bergantung murni pada penghasilan jasa pelestarian alam menjadi kunci kemerdekaan fiskal kampung secara permanen.
Mekanisme kaderisasi dirancang melalui pelibatan pemuda kampung dalam seluruh aspek operasional — mulai dari pemanduan wisata, pengelolaan homestay, hingga administrasi keuangan — sehingga pergantian inovator utama tidak menghentikan layanan. Penguatan jaringan dengan agen wisata internasional dan platform pemesanan daring memberikan diversifikasi saluran pemasaran yang tidak bergantung pada satu sumber pendapatan tunggal [4].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi ekowisata terpadu Kampung Kwau menyumbang kontribusi positif terhadap pencapaian Agenda Pembangunan Berkelanjutan Global secara terukur di lingkungan Kabupaten Manokwari. Kontribusi tersebut mencakup dimensi ekonomi, ketenagakerjaan, dan kelestarian ekosistem yang saling terkait erat. Tabel berikut merincikan keterkaitan antara inovasi ekowisata komunitas dengan tujuan-tujuan SDGs yang relevan.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Transformasi mata pencaharian tradisional subsisten menuju industri jasa wisata berhasil mendongkrak pemasukan tunai rumah tangga melalui sistem pendapatan bergilir pemandu dan akomodasi. |
Proporsi keluarga prasejahtera turun dari 70% menjadi di bawah 20%; penyerapan lebih dari 80% tenaga produktif desa |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Melahirkan kesempatan kerja inklusif baru yang berkelanjutan (green jobs) tanpa membedakan gender, mencakup pemanduan wisata, pengelolaan homestay, penyediaan kuliner, dan penjualan kerajinan budaya. |
Partisipasi penuh kelompok perempuan dan kaum muda dalam ekosistem pariwisata desa; jumlah homestay aktif |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas |
Inisiatif “Kampung Inggris” otodidak menciptakan ekosistem pembelajaran bahasa asing berbasis komunitas yang meningkatkan kapasitas komunikasi dan daya saing pemuda kampung di kancah pariwisata internasional. |
Jumlah pemuda yang mampu berkomunikasi bahasa Inggris terapan; terbentuknya budaya belajar bahasa bersama turis |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan |
Keterlibatan nyata masyarakat adat sebagai agen konservasi flora (Rhododendron, Anggrek Papua) dan satwa liar endemik (Burung Penari) mencegah deforestasi dan perburuan di kawasan Pegunungan Arfak. |
Nol persen perburuan satwa wisata; luasan hutan lindung berbasis hukum adat terpelihara; rekor MURI habitat Burung Penari |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab |
Model ekowisata yang mengutamakan pemanfaatan material lokal, kuliner tradisional, dan pengelolaan limbah berkelanjutan mencerminkan pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab di tingkat komunitas. |
Penerapan Sapta Pesona secara konsisten; penggunaan material lokal untuk seluruh fasilitas wisata |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Prasyarat minimum untuk mereplikasi model ekowisata Kampung Kwau mencakup empat elemen utama: keberadaan atraksi alam otentik berupa satwa atau flora endemik yang memiliki daya tarik bagi wisatawan minat khusus, kekompakan masyarakat yang solid dan terbukti melalui musyawarah adat, komitmen ketat terhadap etika kelestarian lingkungan, serta minimal satu tokoh penggerak yang mampu menjadi jembatan kultural antara masyarakat lokal dan wisatawan [1][3]. Estimasi biaya replikasi berkisar Rp50–150 juta untuk pembangunan pondok pengamatan, renovasi homestay tradisional, perbaikan akses jalan setapak, dan pelatihan SDM, dengan durasi persiapan hingga operasional penuh sekitar 6–12 bulan tergantung kesiapan infrastruktur dan konsolidasi masyarakat.
Model adaptasi untuk konteks berbeda sangat fleksibel: di lanskap bahari pesisir, observasi satwa laut seperti penyu atau lumba-lumba dapat menggantikan pengamatan burung; di daerah savana, safari mini satwa endemik lokal menjadi atraksi utama [5]. Kabupaten Manokwari telah mendorong desa-desa di sekitar cagar alam untuk melakukan studi banding ke Kampung Kwau sebagai langkah awal replikasi. Dokumentasi melalui platform inovasi.web.id dan website resmi kampungwisatakwau.com memastikan pengalaman ini dapat diakses dan dipelajari oleh desa-desa terpencil lainnya di seluruh Indonesia [6].
Strategi perluasan dampak difokuskan pada pembentukan jejaring desa wisata antar-kampung di kawasan Pegunungan Arfak yang saling berbagi kapasitas pemasaran, pelatihan SDM, dan promosi bersama. Hans Mandacan secara terbuka mengundang kampung-kampung tetangga untuk belajar langsung dari pengalaman operasional harian Kwau [2]. Dukungan Dinas Pariwisata Kabupaten Manokwari dalam memfasilitasi pendaftaran ke JADESTA (Jejaring Desa Wisata) Kementerian Pariwisata memperkuat visibilitas dan legitimasi model ini di tingkat nasional.
Daftar Pustaka
[1] H. Mandacan, “Pengembangan Ekowisata Berbasis Komunitas Kampung Kwau,” kampungwisatakwau.com, 2023. [Online]. Tersedia: https://www.kampungwisatakwau.com
[2] Dinas Pariwisata Manokwari, “Penetapan Kampung Kwau sebagai Destinasi Pariwisata Berbasis Komunitas,” Pemerintah Kabupaten Manokwari, Manokwari, 2023. [Online]. Tersedia: https://manokwarikab.go.id
[3] Kementerian Pariwisata RI, “Profil Jejaring Desa Wisata (JADESTA): Kampung Wisata Kwau,” jadesta.kemenparekraf.go.id, Jakarta, 2023. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenparekraf.go.id
[4] Pemerintah Provinsi Papua Barat, “Program Pembangunan Infrastruktur Kawasan Pariwisata Prioritas Pegunungan Arfak,” papuabaratprov.go.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://papuabaratprov.go.id
[5] A. Salossa dan B. Rumbekwan, “Community-Based Ecotourism sebagai Strategi Konservasi Burung Endemik di Pegunungan Arfak,” Jurnal Konservasi dan Ekowisata, vol. 7, no. 1, pp. 34–48, 2023. [Online]. Tersedia: https://jurnal.unipa.ac.id
[6] Inovasi Desa, “Dokumentasi Inovasi dan Praktik Baik Pembangunan Desa,” inovasi.web.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id
oleh Tim Inovasi Desa | 12 Sep 2026 | Pariwisata
Ringkasan Inovasi
Desa Senaru di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengelola ekosistem pariwisata berbasis komunitas yang menyatukan pendakian Gunung Rinjani, kunjungan air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep, wisata budaya rumah adat, serta penginapan lokal dalam satu sistem tata kelola [1]. Inovasi ini digerakkan Pemerintah Desa Senaru bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk menjawab kondisi lama, ketika ratusan ribu pendaki melintasi desa setiap tahun tanpa banyak transaksi ekonomi yang tertinggal bagi warga setempat [3]. Dampak inovasi ini terlihat dari terbukanya lapangan kerja warga sebagai pemandu, porter, dan pengelola penginapan, serta pengakuan yang diterima desa: Juara IV kategori Daya Tarik Wisata dan masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, dan pada 2025 menjadi satu dari empat besar finalis Sertifikasi Desa Wisata Dunia Kemenparekraf mewakili Nusa Tenggara Barat [8].
Latar Belakang
Desa Senaru terletak strategis sebagai pintu gerbang utama jalur pendakian menuju puncak Gunung Rinjani [3]. Ratusan ribu pendaki melintasi kawasan ini setiap tahun, namun sebagian besar transaksi ekonomi perjalanan mereka lama tidak tertinggal di desa, karena warga sebelumnya lebih banyak berperan sebagai penonton dari lalu lintas wisatawan yang melewati pekarangan rumah mereka.
Minimnya sarana penginapan yang representatif membuat sebagian besar pendaki dan wisatawan menghabiskan pengeluaran mereka di luar wilayah Senaru. Kondisi ini mendorong tokoh pemuda desa merumuskan ulang tata kelola pariwisata, melihat peluang pada kebutuhan layanan pemandu lokal dan penyediaan penginapan bernuansa tradisional [4]. Warga kemudian bersepakat mengubah rumah adat dan kebun kopi menjadi bagian dari daya tarik wisata desa.
Inovasi yang Diterapkan
Masyarakat Senaru membentuk Kelompok Sadar Wisata yang mengatur standar operasional pelayanan dan menetapkan tarif resmi bagi pemandu dan porter, sebagai respons atas keinginan pemuda desa untuk mengambil peran lebih besar dalam industri pariwisata di wilayah mereka sendiri [5].
Pengelola desa menyatukan paket kunjungan air terjun Tiu Kelep, wisata rumah adat Bayan, dan pendakian Gunung Rinjani dalam satu sistem, dengan jumlah tamu didistribusikan secara bergilir kepada kelompok pemandu dan pemilik penginapan agar pendapatan tersebar merata [4]. Salah satu inisiatif yang berkembang adalah kelompok pemandu perempuan yang dirintis Sukatni (Katni), yang menurut Kepala Desa Senaru Raden Akria menjadi bagian dari upaya membuka ruang partisipasi ekonomi perempuan di sektor yang sebelumnya didominasi laki-laki [4].
Proses Penerapan Inovasi
Langkah awal pengembangan desa wisata ini dimulai dari pemetaan potensi alam dan identifikasi keahlian warga setempat [3]. Kelompok warga kemudian menggandeng Politeknik Pariwisata Lombok untuk membekali calon pemandu dengan keterampilan pelayanan yang lebih terstandar [6].
Proses ini tidak berjalan tanpa hambatan. Sebagian tokoh masyarakat awalnya meragukan jaminan ekonomi dari sektor pariwisata, dan pada masa awal operasional, kesalahan pengaturan jadwal penugasan pemandu sempat memicu perselisihan di antara anggota kelompok pengelola, karena sebagian pemandu mendapat giliran tamu lebih sering dibanding yang lain [7]. Perangkat desa mengoreksi masalah ini dengan merombak sistem penugasan dan menerapkan aturan rotasi yang lebih menjamin keadilan pendapatan antaranggota kelompok.
Warga secara gotong royong memperbaiki jalan setapak menuju kawasan air terjun dan mendirikan fasilitas umum, dengan dukungan program pendampingan desa wisata dari pemerintah pusat [8].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal muncul pada masa awal operasional ketika kesalahan pengaturan jadwal penugasan pemandu memicu perselisihan kecil di antara anggota kelompok pengelola wisata [7]. Kendala ini dimitigasi melalui perombakan sistem penugasan dan penerapan aturan rotasi tamu yang lebih adil, sehingga distribusi pendapatan antarpemandu lebih merata.
Tantangan eksternal datang dari sejumlah agen perjalanan luar daerah yang menawarkan harga pendaftaran pendakian jauh di bawah tarif yang berlaku, memicu risiko perang tarif antarpenyedia jasa penginapan dan pemanduan di kawasan tersebut [3]. Kelompok Sadar Wisata memitigasi persaingan yang tidak sehat ini dengan menerbitkan pedoman operasional yang mewajibkan seluruh pengusaha jasa wisata di Senaru mematuhi batas tarif minimum yang telah disepakati bersama [7].
Faktor Penentu Keberhasilan
Kekompakan kelompok warga dalam menjaga kelestarian lingkungan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan tata kelola pariwisata pegunungan ini [2]. Kemunculan kelompok pemandu perempuan turut memperluas basis pelaku wisata yang sebelumnya terbatas pada laki-laki, sekaligus menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara [4].
Dukungan pemerintah kabupaten dalam perbaikan infrastruktur jalan dan penerangan turut mempercepat perkembangan kawasan wisata ini. Sinergi antara pemangku adat, tokoh kepemudaan, dan pelaku usaha rumah tangga memperkuat ekosistem ekonomi lokal yang berputar di dalam desa [5].
Hasil dan Dampak Inovasi
Sejak 2023, Desa Senaru tercatat menerima lebih dari 50.000 kunjungan wisatawan, dengan sekitar 250-300 pengunjung asing per hari pada periode ramai, dan total kunjungan mencapai sekitar 75.000 wisatawan pada 2024 [8]. Ratusan warga kini bekerja sebagai pemandu, porter, penjaga kebersihan kawasan, dan perajin suvenir, sementara pemilik penginapan berbahan bambu mencatat tingkat hunian yang meningkat pada musim liburan [2].
Pengakuan atas capaian ini datang bertahap: pada Desember 2021, Senaru meraih Juara IV kategori Daya Tarik Wisata dan masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari sekitar 1.800 desa wisata se-Indonesia [1]. Pada 2025, Senaru menjadi satu dari empat besar finalis Sertifikasi Desa Wisata Dunia yang diselenggarakan Kemenparekraf, satu-satunya wakil Nusa Tenggara Barat dari sekitar 2.800 desa terdaftar, sebuah program sertifikasi domestik yang berbeda dari penghargaan Best Tourism Village UN Tourism (UNWTO) [8].
Dampak sosial yang terlihat adalah meningkatnya kesadaran warga menjaga kelestarian sumber mata air pegunungan, dengan kegiatan bersih lingkungan yang diselenggarakan secara rutin oleh warga desa [5].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal pembangunan sarana wisata Senaru secara spesifik. Pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan setapak dan fasilitas umum sebagian besar dikerjakan secara gotong royong oleh warga, dengan dukungan program pendampingan desa wisata dari pemerintah pusat [8].
Model pendapatan bertumpu pada tarif resmi jasa pemandu dan porter yang ditetapkan Kelompok Sadar Wisata, sewa penginapan lokal, serta penjualan suvenir dan produk warga. Distribusi tamu secara bergilir kepada kelompok pemandu dan pemilik penginapan menjadi mekanisme pemerataan pendapatan di antara pelaku usaha desa [4].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah membentuk Kelompok Sadar Wisata untuk menetapkan standar tarif dan mekanisme distribusi tamu sejak awal, sehingga persaingan antarpemandu dan pemilik penginapan tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan [5]. Perbaikan sistem penugasan pemandu setelah perselisihan awal juga menunjukkan pentingnya mekanisme rotasi yang transparan sejak tahap perintisan.
Jika memulai dari awal, penetapan pedoman tarif minimum dan aturan rotasi tugas idealnya dirumuskan sebelum konflik atau persaingan harga benar-benar terjadi, bukan sebagai respons setelah masalah muncul [7]. Desa lain yang berada di jalur wisata alam populer disarankan membentuk kelembagaan pengelola bersama sejak tahap awal, melibatkan kelompok yang sebelumnya kurang terwakili seperti perempuan, dan menyiapkan pedoman tarif minimum sebelum agen luar daerah masuk menawarkan harga yang merusak pasar lokal.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Pemerintah desa menyerahkan pengelolaan operasional pariwisata kepada Pokdarwis dan tengah mendorong penguatan peran badan usaha milik desa dalam tata kelola kawasan [7]. Tim pemasar desa merancang promosi digital untuk mendatangkan kunjungan di luar musim ramai pendakian [5].
Sebagian pendapatan kelompok pariwisata dialokasikan untuk mendukung pendidikan kesenian dan pelestarian adat bagi generasi muda, agar tradisi lokal tetap terjaga seiring pertumbuhan sektor wisata [4]. Pembatasan jumlah pendaki harian juga diterapkan untuk menjaga daya dukung kawasan hutan Rinjani dari tekanan kunjungan yang terus meningkat.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Desa Wisata Senaru berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Pengelolaan pariwisata terpadu membuka sumber pendapatan baru bagi warga yang sebelumnya tidak banyak menikmati manfaat ekonomi dari lalu lintas pendaki dan wisatawan yang melintasi desa. |
Ratusan warga kini bekerja sebagai pemandu, porter, penjaga kebersihan, dan perajin suvenir. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender |
Kelompok pemandu perempuan yang dirintis Sukatni membuka ruang partisipasi ekonomi perempuan di sektor pemanduan wisata yang sebelumnya didominasi laki-laki. |
Kelompok pemandu perempuan aktif melayani wisatawan yang berkunjung ke Desa Senaru. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Pengelolaan pariwisata satu pintu menciptakan mata pencaharian bagi pemuda desa sebagai pemandu, porter, pengelola penginapan, dan pelaku usaha kecil. |
Desa Senaru menerima sekitar 75.000 kunjungan wisatawan pada 2024. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan |
Model pariwisata berbasis komunitas dirancang agar aktivitas ekonomi wisata memperkuat, bukan mengancam, keaslian rumah adat dan lanskap Desa Senaru. |
Rumah adat dan kebun kopi warga tetap dipertahankan sebagai bagian dari daya tarik wisata. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan |
Pembatasan kuota kunjungan harian dan kegiatan bersih lingkungan rutin membantu melestarikan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani serta sumber mata air pegunungan. |
Warga menyelenggarakan kegiatan bersih lingkungan secara rutin di kawasan air terjun dan jalur pendakian. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model tata kelola pariwisata komunal Senaru relevan direplikasi oleh desa-desa penyangga taman nasional lain yang menghadapi situasi serupa: banyak dilalui wisatawan namun belum memiliki mekanisme distribusi manfaat ekonomi yang jelas bagi warga [3]. Elemen inti yang dapat ditransfer adalah pembentukan kelompok pengelola bersama, penetapan tarif dan rotasi tugas yang transparan, serta pelibatan kelompok yang sebelumnya kurang terwakili seperti perempuan.
Pemerintah Kabupaten Lombok Utara telah menyusun panduan pengembangan desa wisata dengan merujuk pada praktik Desa Senaru sebagai salah satu contoh [6]. Pendekatan ini berpotensi direplikasi ke desa-desa lain di sekitar Lombok yang memiliki potensi wisata alam serupa, dengan tetap menyesuaikan pada kearifan lokal masing-masing kawasan.
Daftar Pustaka
[1] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, “Desa Wisata Senaru The Crown of Lombok,” jadesta.kemenpar.go.id, 31 Des. 2023. [Daring]. Tersedia: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/senaru_the_crown_of_lombok.
[2] S. A. Pratama, “Efektivitas Program Desa Wisata dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Desa Senaru Kabupaten Lombok Utara,” Repository UMMAT, Universitas Muhammadiyah Mataram, 2021. [Daring]. Tersedia: https://repository.ummat.ac.id/5465/1/COVER-BAB%20III.pdf.
[3] I. Puspitasari dan B. Santoso, “Strategi Pengembangan Desa Wisata Senaru Lombok Utara,” Journal of Responsible Tourism, vol. 1, no. 2, hal. 43-54, 2018. [Daring]. Tersedia: https://ejournal.stpmataram.ac.id/JRT/article/view/992.
[4] Tatkala.co, “Berwisata Sambil Belajar dari Kehidupan Desa Senaru – Ada Rumah Tua dan Guide Perempuan,” tatkala.co, 18 Jun. 2023. [Daring]. Tersedia: https://tatkala.co/2023/06/19/berwisata-sambil-belajar-dari-kehidupan-desa-senaru-ada-rumah-tua-dan-guide-perempuan/.
[5] M. Rahman dkk., “Strategi Marketing dan Pengembangan Desa Wisata Senaru Lombok Utara,” Jurnal Oportunitas Ekonomi, Universitas Mataram, 2023. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.fe.unram.ac.id/index.php/oportunitas/article/download/2406/927.
[6] Politeknik Pariwisata Lombok, “Pelatihan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia di Desa Wisata Senaru,” ppl.ac.id, 16 Nov. 2021. [Daring]. Tersedia: https://ppl.ac.id/berita/akademik/pelatihan-peningkatan-kualitas-sumber-daya-manusia-di-desa-wisata-senaru/.
[7] N. Hidayat, “Pengembangan Kapasitas BUMDes dalam Mengelola Desa Wisata,” Jurnal Tata Sejuta, STIA Mataram, 29 Feb. 2024. [Daring]. Tersedia: https://www.ejurnalstiamataram.ac.id/index.php/tatasejuta/article/download/619/182.
[8] Inside Lombok, “Desa Wisata Senaru Masuk Nominasi Desa Wisata Dunia,” insidelombok.id, 2 Sep. 2025. [Daring]. Tersedia: https://insidelombok.id/lombok-utara/desa-wisata-senaru-masuk-nominasi-desa-wisata-dunia/.
oleh Tim Inovasi Desa | 12 Sep 2026 | Pariwisata
Ringkasan Inovasi
Desa Wisata Pemuteran di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, membangun model ekowisata bahari berbasis komunitas yang mengintegrasikan teknologi Biorock untuk restorasi terumbu karang, zona konservasi laut, pelestarian tradisi Bali, dan Pemuteran Bay Festival sebagai perayaan tahunan yang memadukan seni, konservasi, dan pariwisata [1]. Inovasi ini mengubah desa nelayan kecil di ujung barat Bali, yang pada era 1980-an sempat merusak terumbu karangnya sendiri, menjadi destinasi ekowisata yang pada 17 Oktober 2025 meraih gelar Best Tourism Village 2025 dari UN Tourism (UNWTO) di Huzhou, Tiongkok [2]. Dari lebih dari 300 kandidat desa wisata dari sekitar 75 negara anggota UN Tourism, Pemuteran lolos seleksi dan masuk daftar 52 Desa Wisata Terbaik dunia untuk 2025, melengkapi rangkaian pengakuan sebelumnya: Equator Prize dari UNDP (2012), SKAL International Award (2003), PATA Gold Award (2005), UNWTO Award (2016), dan ASEAN Community-Based Tourism Standard (2023-2024) [3], [15]. Rentang lebih dari dua dekade pengakuan ini mencerminkan konsistensi model konservasi dan ekowisata yang dijalankan komunitas Pemuteran.
Latar Belakang
Pada dekade 1980-an, penduduk Desa Pemuteran yang mayoritas nelayan kerap menangkap ikan dengan cara destruktif, termasuk bom ikan dan sianida, yang saat itu merajalela di perairan Bali utara [4]. Terumbu karang yang menjadi rumah bagi ribuan spesies ikan rusak parah, dan kerusakan ini justru mempersempit penghasilan nelayan karena populasi ikan yang bergantung pada terumbu karang ikut menurun [1].
Pada awal 2000-an, komunitas lokal bersama pengusaha hotel menyadari bahwa kerusakan ekosistem laut adalah ancaman nyata bagi masa depan desa [4]. Saat itu belum ada mekanisme efektif untuk memulihkan terumbu karang yang rusak, maupun model pariwisata yang memadukan kebutuhan ekonomi warga dengan pelestarian lingkungan. Kebutuhan inilah yang mendorong pencarian teknologi dan tata kelola yang mampu menjawab dua tantangan sekaligus [3].
Desa Pemuteran terletak di ujung barat Bali, relatif jauh dari arus utama pariwisata Bali selatan, dengan lanskap kaki Gunung Pulaki yang menjorok ke laut dan teluk yang tenang [1]. Posisi ini menjaga alam desa tetap relatif terjaga, sehingga kombinasi pegunungan dan teluk menjadi daya tarik yang kemudian dioptimalkan lewat inovasi ekowisata yang memadukan teknologi restorasi laut dan kearifan lokal Bali [3].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi utama Pemuteran adalah teknologi Biorock, metode restorasi terumbu karang yang dikembangkan Prof. Wolf Hilbertz dan Dr. Tom Goreau, di mana rangka besi ditanam di dasar laut lalu dialiri arus listrik bertegangan sangat rendah sekitar 6 volt, menginduksi mineral kalsit dan aragonit yang menjadi substrat pertumbuhan terumbu karang [4]. Studi akademik mencatat teknologi ini dapat mempercepat laju pertumbuhan karang beberapa kali dibanding pemulihan alami, sekaligus mendukung keanekaragaman hayati, dengan satu unit Biorock mampu menampung sekitar 11 keluarga ikan dan 35 genus biota laut [10]. Yayasan Karang Lestari, yang dipimpin I Gede Agung Prana, kini mengelola lebih dari 100 unit struktur Biorock di perairan teluk [9].
Di luar Biorock, ekosistem ekowisata Pemuteran diperkaya program penangkaran penyu, zona konservasi bebas pemancingan, dan Pemuteran Bay Festival yang masuk dalam 100 Calendar of Events Indonesia dan Bali Calendar of Event sebagai agenda tahunan [5]. Festival ini menyertakan penenggelaman struktur artistik bawah laut oleh para penyelam sebagai simbol komitmen konservasi; pada Desember 2025, sebuah “Gapura Harmoni Baruna Giri” ditenggelamkan sebagai landmark bawah laut, dipadukan pertunjukan seni budaya Bali dan pasar UMKM [8]. Wisatawan juga dapat mengadopsi terumbu karang seharga Rp400.000 per unit dengan nama adopter tertera, menjadikan mereka mitra konservasi [4].
Proses Penerapan Inovasi
Proses transformasi Pemuteran dimulai dari perubahan pendekatan nelayan terhadap laut. Yayasan Karang Lestari, dibentuk dari kolaborasi warga lokal dan pengusaha hotel, meyakinkan nelayan bahwa terumbu karang yang pulih akan menghasilkan lebih banyak ikan dan menarik wisatawan yang membutuhkan jasa mereka. Pendekatan berbasis insentif ekonomi ini dinilai lebih efektif dibanding larangan semata untuk mengubah kebiasaan tangkap destruktif [3].
Pada tahap awal, pemasangan struktur Biorock menghadapi keraguan nelayan yang belum yakin arus listrik 6 volt yang lemah mampu menumbuhkan terumbu karang. Uji coba pada beberapa unit kecil menunjukkan hasil dalam beberapa bulan pertama, mendorong perluasan program ke lebih dari 100 unit struktur [4], [6]. Pada tahap pengembangan awal teknologi Biorock di Indonesia, catu daya listrik sempat mengandalkan generator diesel yang menimbulkan kekhawatiran lingkungan tersendiri untuk proyek konservasi, sehingga pengembang mencari sumber energi terbarukan sebagai koreksi jangka panjang atas pendekatan ini [14].
Pemuteran Bay Festival pertama kali diselenggarakan pada 2015 sebagai mekanisme pembaruan komitmen tahunan komunitas terhadap konservasi laut, bukan sekadar acara pariwisata [5]. Pada penyelenggaraan ke-11 tanggal 4-6 Desember 2025, penenggelaman “Gapura Harmoni Baruna Giri” menjadi elemen simbolis festival yang kini dikenal luas. Evaluasi dan penyesuaian model festival dilakukan tiap tahun berdasarkan masukan komunitas [7].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan utama adalah mengelola tekanan kunjungan wisatawan yang terus meningkat seiring popularitas internasional Pemuteran, tanpa merusak terumbu karang yang menjadi daya tarik utamanya. Kepadatan penyelam dan snorkeler yang berlebihan berisiko merusak karang yang sudah dipulihkan selama dua dekade [3]. Kendala ini dimitigasi melalui sistem monitoring dan regulasi zona laut yang membatasi jumlah pengunjung di titik-titik tertentu, meski dokumentasi yang tersedia tidak merinci batas kapasitas pengunjung secara spesifik [6].
Tantangan kedua adalah keberlanjutan pendanaan operasional Yayasan Karang Lestari, yang selama ini bergantung pada kombinasi donasi adopsi karang, kontribusi hotel, dan hibah lembaga internasional yang tidak selalu konsisten setiap tahun. Jika satu sumber pendanaan terputus, perawatan lebih dari 100 unit struktur Biorock yang membutuhkan aliran listrik rutin dapat terganggu [4]. Kendala ini dimitigasi melalui program adopsi terumbu karang berbayar yang dirancang menjadi sumber pendanaan yang lebih mandiri dibanding hanya mengandalkan donor eksternal [6].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama adalah kemitraan antara komunitas nelayan, pengusaha hotel, Yayasan Karang Lestari, dan pemerintah daerah yang memiliki kepentingan bersama menjaga ekosistem Pemuteran [3]. Tanpa kolaborasi ini, Biorock akan menjadi teknologi tanpa kesinambungan pendanaan dan pengawasan lapangan; tanpa keterlibatan nelayan, kawasan konservasi tidak akan terlindungi dari aktivitas merusak [2].
Faktor kedua adalah kepemimpinan I Gede Agung Prana yang menginisiasi Yayasan Karang Lestari dan memimpin gerakan konservasi ini lebih dari dua dekade [9]. Pemuteran Bay Festival yang memasuki tahun ke-11 mencerminkan konsistensi komunitas ini. Posisi geografis Pemuteran, dengan gunung dan laut yang berdekatan dalam satu lanskap, juga menambah daya tarik yang relatif jarang ditemukan di destinasi wisata bahari lain [4].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak ekologi yang terukur adalah pemulihan terumbu karang lewat lebih dari 100 unit struktur Biorock di perairan Teluk Pemuteran, dengan laju pertumbuhan karang yang meningkat signifikan dibanding pemulihan alami [10]. Kawasan yang dulu rusak kini menjadi rumah bagi ratusan spesies ikan dan biota laut, termasuk penyu yang kembali bertelur di pantai Pemuteran, dengan Biorock Pemuteran meraih rating 4,7 dari 5 di TripAdvisor berdasarkan lebih dari 488 ulasan [6].
Dampak ekonomi terlihat dari transformasi desa nelayan menjadi ekosistem pariwisata yang kini mencakup homestay, hotel, villa, restoran, money changer, dan toko suvenir di sepanjang jalan desa [1]. Bawah laut Pemuteran menarik penyelam dari berbagai negara, termasuk Jerman, Belanda, dan Prancis [9]. Pemuteran Bay Festival 2025 turut memberi dampak berganda bagi pelaku UMKM dan akomodasi selama tiga hari penyelenggaraan [5].
Puncak pengakuan ini adalah penetapan Pemuteran sebagai satu dari 52 Best Tourism Village 2025 pada 17 Oktober 2025 di Huzhou, Tiongkok [3], [12], [13]. Penghargaan ini melengkapi jejak pengakuan sebelumnya, Equator Prize UNDP 2012, SKAL International Award 2003, PATA Gold Award 2005, UNWTO Award 2016, dan ASEAN CBT Standard 2023-2024 [2], [15], yang secara kumulatif turut mendukung promosi internasional Pemuteran.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pendanaan konservasi Yayasan Karang Lestari bertumpu pada kombinasi donasi adopsi terumbu karang seharga Rp400.000 per unit, kontribusi sukarela hotel mitra, dan hibah dari lembaga internasional [4]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci total anggaran operasional tahunan yayasan secara spesifik.
Model pendapatan ekosistem wisata desa bertumpu pada penginapan, restoran, aktivitas selam dan snorkeling, festival tahunan, serta penjualan suvenir dan produk UMKM yang tumbuh mengikuti kunjungan wisatawan [1]. Program adopsi terumbu karang dirancang sebagai sumber pendanaan konservasi yang lebih mandiri dibanding hanya mengandalkan donor eksternal yang tidak selalu konsisten [6].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah mengubah insentif nelayan lewat pendekatan ekonomi, bukan larangan semata, sehingga pemulihan terumbu karang dan mata pencaharian nelayan berjalan searah, bukan berlawanan [3]. Uji coba Biorock pada unit kecil sebelum perluasan besar juga terbukti efektif meyakinkan nelayan yang semula ragu dengan teknologi ini [4].
Ketergantungan awal pada generator diesel untuk mengalirkan listrik ke struktur Biorock mengajarkan bahwa proyek konservasi perlu mempertimbangkan keberlanjutan sumber energinya sendiri, bukan hanya hasil akhir restorasi karang [14]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memulai dari kemitraan nyata antara nelayan dan pelaku usaha wisata, menguji teknologi restorasi pada skala kecil terlebih dahulu, dan merancang sumber pendanaan konservasi yang tidak sepenuhnya bergantung pada donor eksternal sejak awal.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan ekowisata Pemuteran bertumpu pada prinsip bahwa kesehatan ekosistem laut adalah prasyarat, bukan konsekuensi, dari kesehatan ekonomi desa [3]. Pemerintah Kabupaten Buleleng menjadikan konservasi terumbu karang sebagai salah satu prioritas kebijakan pariwisata Buleleng barat, sementara sinergi antara Yayasan Karang Lestari, pemerintah daerah, asosiasi hotel, dan komunitas nelayan memberi fondasi kelembagaan untuk bertahan melewati pergantian kepemimpinan [7], [2]. Program restorasi terumbu karang di Pemuteran juga sejalan dengan agenda Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali yang menggenjot program restorasi di berbagai perairan Bali yang terumbu karangnya masih terancam [11].
Program adopsi terumbu karang yang membangun loyalitas wisatawan menjadi mesin pendanaan konservasi yang lebih mandiri [4]. Gelar Best Tourism Village 2025 membuka akses bagi Pemuteran untuk bergabung dalam jaringan desa wisata terbaik dunia binaan UN Tourism, yang berpotensi memperluas akses pasar dan mitra internasional [2].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Desa Wisata Pemuteran berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Ekosistem pariwisata yang tumbuh dari konservasi terumbu karang menciptakan lapangan kerja bagi nelayan, pelaku UMKM, pengelola akomodasi, dan pemandu selam yang sebelumnya bergantung pada hasil tangkap ikan yang tidak menentu. |
Ekosistem wisata desa kini mencakup homestay, hotel, villa, restoran, dan toko suvenir di sepanjang jalan desa. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Ekowisata Pemuteran menciptakan lapangan kerja di sektor selam, snorkeling, pemanduan wisata, akomodasi, dan festival budaya yang menggerakkan ekonomi desa sepanjang tahun. |
Wisatawan penyelam dari Eropa (Jerman, Belanda, Prancis) menjadi bagian rutin kunjungan desa. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan |
Model ekowisata berbasis komunitas menjadikan Pemuteran permukiman pesisir yang aktivitas ekonominya dirancang memperkuat, bukan mengancam, keaslian lanskap dan budaya desa. |
Pemuteran ditetapkan sebagai satu dari 52 Best Tourism Village 2025 oleh UN Tourism. |
| SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim |
Terumbu karang yang dipulihkan melalui Biorock berfungsi sebagai pelindung pantai dari abrasi dan dampak gelombang yang diperkuat perubahan iklim. |
Lebih dari 100 unit struktur Biorock terpasang di sepanjang perairan Teluk Pemuteran. |
| SDGs 14: Ekosistem Lautan |
Program Biorock, zona konservasi bebas pemancingan, dan penangkaran penyu berkontribusi langsung pada pemulihan biodiversitas laut Teluk Pemuteran. |
Satu unit Biorock menampung sekitar 11 keluarga ikan dan 35 genus biota laut. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan |
Kolaborasi antara Yayasan Karang Lestari, nelayan lokal, asosiasi hotel, Pemkab Buleleng, dan mitra internasional menjadi model kemitraan multipihak yang bertahan lebih dari dua dekade. |
Yayasan Karang Lestari telah memimpin gerakan konservasi ini sejak awal 2000-an hingga sekarang. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Pemuteran relevan direplikasi oleh desa pesisir dengan ekosistem terumbu karang terancam namun belum terkelola optimal, seperti di sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi Tengah, dan Papua [2]. Tiga elemen inti yang dapat ditransfer adalah pembentukan yayasan konservasi berbasis komunitas, penerapan teknologi Biorock dengan sistem adopsi karang sebagai model pendanaan, dan penyelenggaraan festival ekowisata tahunan yang membangun identitas kolektif. Yayasan Karang Lestari sendiri telah berperan sebagai rujukan belajar bagi komunitas pesisir dari berbagai daerah [4].
Untuk scale up, gelar Best Tourism Village 2025 membuka peluang bagi Pemuteran menjadi pusat pembelajaran ekowisata bahari yang mempertemukan pengelola desa wisata pesisir dari berbagai daerah [3]. Kementerian Pariwisata dapat memprogramkan kunjungan studi ke Pemuteran bagi finalis Anugerah Desa Wisata Indonesia yang memiliki potensi wisata bahari, mempercepat transfer model yang telah berjalan konsisten selama lebih dari dua dekade [2].
Daftar Pustaka
[1] Kementerian Pariwisata RI, “Mengenal Desa Wisata Pemuteran Bali yang Meraih Gelar Best Tourism Village 2025,” kemenpar.go.id, 31 Des. 2024. [Daring]. Tersedia: https://kemenpar.go.id/berita/mengenal-desa-wisata-pemuteran-bali-yang-meraih-gelar-best-tourism-village-2025.
[2] Pemerintah Kabupaten Buleleng, “Desa Pemuteran Raih Penghargaan Best Tourism Village di Kancah Dunia,” bulelengkab.go.id, 3 Jan. 2025. [Daring]. Tersedia: https://bulelengkab.go.id/informasi/detail/berita/33_desa-pemuteran-raih-penghargaan-best-tourism-village-di-kancah-dunia.
[3] Tempo, “Desa Wisata Pemuteran Bali Jadi Desa Wisata Terbaik Dunia 2025,” tempo.co, 19 Okt. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.tempo.co/hiburan/desa-pemuteran-bali-dapat-penghargaan-desa-wisata-terbaik-dunia-2081093.
[4] Biorock Indonesia, “Pemuteran, Kawasan Nelayan Jadi Desa Wisata Internasional,” biorock-indonesia.com, 29 Jan. 2015. [Daring]. Tersedia: https://www.biorock-indonesia.com/pemuteran-kawasan-nelayan-jadi-desa-wisata-internasional/.
[5] Kementerian Pariwisata RI, “Pemuteran Bay Festival,” indonesia.travel, 30 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.indonesia.travel/id/id/events/event-detail/pemuteran-bay-festival/.
[6] Biorock Indonesia, “Pengenalan Biorock di Pemuteran Bali,” biorock-indonesia.com. [Daring]. Tersedia: https://www.biorock-indonesia.com/produk/pengenalan-biorock/.
[7] Antara Bali, “Pemuteran Bay Festival Perkuat Citra Desa Wisata Berkelanjutan,” antaranews.com, 4 Des. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/5182081/desa-pemuteran-bali-raih-penghargaan-best-tourism-village-2025.
[8] Tempo, “Pemuteran Bay Festival Dibuka dengan Pemasangan Gapura Bawah Laut,” tempo.co, 4 Des. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.tempo.co/hiburan/pemuteran-bay-festival-dibuka-dengan-pemasangan-gapura-bawah-laut-2096027.
[9] Antara, “Biorock Pemuteran, Konservasi dan Wisata Bahari Mendunia,” antaranews.com, 16 Des. 2016. [Daring]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/602044/biorock-pemuteran-konservasi-dan-wisata-bahari-mendunia.
[10] A. Ridwan dkk., “Restorasi Terumbu Karang dengan Metode Biorock: Upaya Pelestarian Ekosistem Laut Indonesia,” Journal of Tropical Peace and Livelihood Studies, Sep. 2025. [Daring]. Tersedia: https://glbglavirtualexpo.dewaweb.cloud/index.php/jtpl/article/view/5912.
[11] Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, “Terumbu Karang Bali Terancam, Program Restorasi Digenjot,” diskelkan.baliprov.go.id, 19 Sep. 2024. [Daring]. Tersedia: https://diskelkan.baliprov.go.id/terumbu-karang-bali-terancam-program-restorasi-digenjot/.
[12] Detik Travel, “Desa Pemuteran Bali, Desa Terbaik Versi UNWTO 2025,” travel.detik.com, 21 Des. 2025. [Daring]. Tersedia: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-8271835/desa-pemuteran-bali-desa-terbaik-versi-unwto-2025.
[13] Liputan6, “Desa Wisata Pemuteran Bali Sabet Gelar Best Tourism Village 2025,” liputan6.com, 18 Okt. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/6189066/membanggakan-desa-wisata-pemuteran-bali-sabet-gelar-best-tourism-village-2025.
[14] Mongabay Indonesia, “Biorock: Harapan Masa Depan Keindahan Terumbu Karang Indonesia,” mongabay.co.id, 14 Jun. 2012. [Daring]. Tersedia: https://www.mongabay.co.id/2012/06/14/biorock-harapan-masa-depan-keindahan-terumbu-karang-indonesia/.
[15] Equator Initiative (UNDP), “Yayasan Karang Lestari Teluk Pemuteran,” equatorinitiative.org, 2012. [Daring]. Tersedia: https://www.equatorinitiative.org/wp-content/uploads/2017/05/case_1_1370555095.pdf.
oleh Tim Inovasi Desa | 12 Sep 2026 | Pariwisata
Ringkasan Inovasi
Desa Sakerta Timur di Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, sejak deklarasi desa wisata pada 2017 membangun identitas wisata dengan memadukan lanskap perdesaan Sunda, budaya leluhur, dan penataan visual yang mengingatkan pada nuansa Ubud, Bali [1]. Inovasi ini digerakkan Kepala Desa Cucu Sudrajat bersama sekitar 700 kepala keluarga warga desa, didukung investasi infrastruktur dari pemerintah pusat dan Kabupaten Kuningan senilai total Rp1,12 miliar pada 2018-2019, untuk mengubah desa yang sebelumnya bergantung pada pertanian dan perdagangan subsisten [1]. Tiga destinasi utama menjadi tulang punggung daya tarik desa: Saung Karuhun, wisata kuliner bernuansa Sunda-Bali di tepi hutan kopi dengan pemandangan Waduk Darma; Bukit Bagarurung, wisata alam berketinggian dengan panorama Gunung Ciremai; dan Kampung Tumaritis, perkampungan Sunda yang mempertahankan keaslian kehidupan perdesaan [2]. Dampak inovasi ini terasa lewat terbukanya sumber pendapatan baru bagi warga melalui homestay, kuliner, produk lokal, dan jasa pemandu wisata, dengan program pemberdayaan perempuan P2WKSS turut menjadi bagian penting dari transformasi ekonomi desa ini [9].
Latar Belakang
Desa Sakerta Timur adalah desa tertua di Kecamatan Darma — Desa Jagara, Kertayuga, dan Sakerta Barat pernah menjadi bagian dari wilayahnya sebelum dimekarkan. Desa ini berbatasan langsung dengan Waduk Darma, destinasi unggulan Kabupaten Kuningan yang menampung air dari empat sungai (Cisanggarung, Cinangka, Cikalapa, dan Cireungit) dengan kapasitas kunjungan hingga 10.000 wisatawan dan tarif masuk Rp17.500-Rp20.000 [10]. Kedekatan geografis ini memberi posisi strategis yang selama ini belum dimaksimalkan Sakerta Timur.
Pada 2017, sekitar 700 kepala keluarga dengan total sekitar 2.700 penduduk menyepakati deklarasi bersama menjadikan desa mereka sebagai desa wisata, didorong kesadaran bahwa banyak warga masih bergantung pada pertanian dan perdagangan subsisten, sementara sebagian lain harus keluar desa mencari penghidupan [1]. Wisata dipandang sebagai jalan menggerakkan potensi lokal yang sudah ada, yaitu alam, budaya, dan produk pertanian, tanpa mengubah karakter desa secara mendasar.
Tantangan utamanya bukan ketiadaan potensi, melainkan ketiadaan pembeda yang kuat. Kawasan Waduk Darma dikelilingi sembilan desa yang sama-sama berpotensi menjadi destinasi wisata, sehingga Sakerta Timur perlu menciptakan identitas yang cukup spesifik agar wisatawan tidak sekadar transit, melainkan sengaja datang dan tinggal lebih lama [2].
Inovasi yang Diterapkan
Inti inovasi Sakerta Timur adalah narasi wisata “Sunda-Bali” yang membingkai kekayaan yang sudah lama ada di desa ini — hutan kopi liberika, persawahan berundak, tradisi babarit, produk gula aren, serta panorama Waduk Darma dan Gunung Ciremai — melalui estetika yang mengingatkan pengunjung pada Ubud [4]. Alih-alih menjual objek tunggal, desa ini menawarkan pengalaman ruang yang menyeluruh, dari tata letak hingga nuansa visual.
Saung Karuhun menjadi manifestasi utama konsep ini. Nama “Karuhun” (leluhur) merujuk pada status Sakerta Timur sebagai desa tertua di Kecamatan Darma, dipilih oleh Cucu Sudrajat yang juga pemilik usaha kuliner ini. Bangunan saung khas Sunda di tepi hutan kopi ini dilengkapi detail dekorasi bernuansa Bali, dengan menu berbahan baku lokal dan harga terjangkau mulai Rp7.000 untuk minuman dan paket makan mulai Rp21.000 [3].
Dua destinasi lain melengkapi ekosistem wisata ini. Bukit Bagarurung menawarkan panorama Gunung Ciremai dan Waduk Darma yang dapat dicapai dengan paket perjalanan Jeep dari Saung Karuhun, sementara Kampung Tumaritis mempertahankan keaslian kehidupan pertanian tradisional Sunda [5]. Desa ini juga mengembangkan atraksi pendukung berupa sirkuit motocross, area perkemahan, kolam renang anak, dan kebun kopi liberika sebagai diversifikasi pengalaman wisata.
Proses Penerapan Inovasi
Deklarasi desa wisata pada 2017 diikuti konversi rumah warga menjadi homestay, penempatan produk lokal seperti gula aren dan kopi sebagai bagian pengalaman kunjungan, serta pelestarian tradisi babarit sebagai atraksi budaya [1]. Program Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (P2WKSS) menjadi kendaraan utama yang melibatkan perempuan desa dalam pengelolaan homestay dan industri rumahan olahan pangan lokal [9].
Pengembangan industri rumahan perempuan ini tidak berjalan mulus sejak awal. Produksi keripik singkong sempat terhambat karena keterbatasan lahan membuat jumlah pohon singkong tidak mencukupi dan pertumbuhannya membutuhkan waktu lama, sementara bahan baku nira untuk gula aren juga langka. Produksi keripik pisang menghadapi kendala serupa karena pohon pisang di desa tidak mencukupi, sehingga sebagian bahan baku terpaksa didatangkan dari Kuningan dan Cirebon [9]. Koreksi atas keterbatasan ini menjadi pembelajaran penting bahwa produk unggulan wisata perlu didukung ketersediaan bahan baku yang realistis, bukan sekadar potensi di atas kertas.
Dukungan infrastruktur dari pemerintah mempercepat transformasi fisik desa. Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp550 juta pada 2018 dan Rp370 juta pada 2019 dari pemerintah pusat, ditambah Rp200 juta dari Pemerintah Kabupaten Kuningan, digunakan memperlancar akses jalan menuju desa, termasuk jalur sepeda yang mengelilingi Waduk Darma [1]. Penguatan identitas melalui media sosial dan liputan media turut mendorong kunjungan baru dari Cirebon, Bandung, dan kota-kota Jawa Barat lainnya [3].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama adalah keterbatasan bahan baku produk olahan lokal, seperti singkong, pisang, dan nira, yang tidak sebanding dengan potensi lahan desa. BUMDes dan kelompok perempuan P2WKSS memitigasi kendala ini dengan mendatangkan sebagian bahan baku dari Kuningan dan Cirebon agar produksi keripik dan gula aren tetap berjalan [9].
Tantangan infrastruktur muncul dari akses jalan menuju Bukit Bagarurung yang kondisinya masih membatasi segmen wisatawan, terutama keluarga dengan anak kecil atau lansia yang tidak dapat menggunakan kendaraan off-road [7]. Kendala ini dimitigasi melalui penyediaan paket perjalanan Jeep dari Saung Karuhun, memungkinkan wisatawan tetap mencapai Bukit Bagarurung tanpa harus memperbaiki seluruh ruas jalan terlebih dahulu.
Tantangan kelembagaan yang lebih mendasar adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kunjungan dan kualitas kehidupan warga, karena semakin ramai desa wisata, semakin besar risiko hilangnya keaslian yang menjadi daya tarik utamanya [8]. Pemerintah desa memitigasi risiko ini dengan menentukan zona yang tetap steril dari aktivitas wisata, khususnya di kawasan permukiman inti Kampung Tumaritis, agar ruang hidup warga tidak sepenuhnya beralih fungsi menjadi ruang komersial.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah konsistensi kepemimpinan Cucu Sudrajat sejak deklarasi 2017, yang tidak hanya memimpin kebijakan desa tetapi juga terlibat langsung sebagai pelaku usaha melalui Saung Karuhun [3]. Faktor kedua adalah pemilihan pembeda yang autentik: konsep Sunda-Bali dihidupi secara konsisten melalui arsitektur saung, menu berbahan lokal, dan pelestarian tradisi babarit, bukan sekadar slogan pemasaran [4].
Faktor ketiga adalah diversifikasi pengalaman wisata antara alam, kuliner budaya, dan perkampungan tradisional, sehingga berbagai segmen wisatawan menemukan alasan untuk datang [8]. Faktor keempat adalah keterlibatan perempuan desa melalui program P2WKSS dalam pengelolaan homestay dan industri rumahan, yang memperluas basis pelaku ekonomi wisata di luar sektor kuliner dan pemandu wisata [9].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling nyata adalah transformasi Sakerta Timur dari desa dengan 700 kepala keluarga yang sebelumnya bergantung pada pertanian dan perdagangan subsisten menjadi desa dengan ragam sumber pendapatan baru dari homestay, kuliner, produk lokal, dan jasa pemandu wisata [1]. Saung Karuhun secara konsisten disebut sebagai titik singgah dalam rute wisata keliling Waduk Darma, menarik pengunjung dari Cirebon, Majalengka, dan Bandung [2].
Dampak ekonomi terlihat dari aktivasi lini pendapatan warga yang sebelumnya tidak ada: rumah warga yang dijadikan homestay, petani gula aren dan kopi yang memasok Saung Karuhun, serta warga muda yang menjadi pemandu Jeep menuju Bagarurung [1]. Perempuan desa melalui program P2WKSS turut memperoleh penghasilan dari homestay dan industri rumahan olahan pangan, meski produksinya masih dibatasi ketersediaan bahan baku lokal [9].
Bukit Bagarurung tercatat pernah digunakan untuk kegiatan retreat pejabat eselon II Pemerintah Daerah Kuningan, menunjukkan bahwa kawasan ini telah masuk dalam pertimbangan penyelenggaraan kegiatan semi-formal [6].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pembiayaan infrastruktur desa wisata ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus pemerintah pusat sebesar Rp550 juta pada 2018 dan Rp370 juta pada 2019, ditambah Rp200 juta dari Pemerintah Kabupaten Kuningan, sehingga total investasi infrastruktur mencapai sekitar Rp1,12 miliar pada periode 2018-2019 [1]. Model pendapatan warga bertumpu pada penjualan langsung di Saung Karuhun dengan harga terjangkau mulai Rp7.000 untuk minuman dan Rp21.000 untuk paket makan, ditambah sewa homestay dan jasa pemandu Jeep menuju Bukit Bagarurung [3].
Program P2WKSS turut berperan sebagai skema pendampingan yang mendorong kemandirian ekonomi perempuan melalui homestay dan industri rumahan, meski dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran modal yang dikelola program ini secara spesifik [9]. Pendapatan warga dari sektor wisata pada dasarnya bersifat mandiri dan berjalan tanpa subsidi operasional rutin dari desa, sehingga keberlanjutannya bergantung pada konsistensi kunjungan wisatawan.
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah memilih membingkai ulang aset yang sudah dimiliki desa, seperti hutan kopi, sawah, dan tradisi babarit, melalui narasi Sunda-Bali yang konsisten, alih-alih membangun objek wisata baru dari nol [4]. Keterlibatan langsung Kepala Desa sebagai pelaku usaha di Saung Karuhun juga menunjukkan bahwa komitmen kepemimpinan paling efektif ketika disertai keterlibatan praktis, bukan hanya kebijakan di atas kertas.
Jika memulai dari awal, pemetaan ketersediaan bahan baku produk unggulan lokal idealnya dilakukan lebih dini, agar kendala kekurangan singkong, pisang, dan nira yang dialami program P2WKSS tidak perlu dikoreksi di tengah jalan dengan mendatangkan bahan baku dari luar desa [9]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memetakan warisan budaya dan alam paling otentik yang dimiliki, memastikan pasokan bahan baku produk lokal realistis, dan melibatkan kelompok perempuan sejak tahap perencanaan agar manfaat ekonomi tersebar lebih merata.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan wisata Sakerta Timur bertumpu pada komitmen menjaga kualitas identitas Sunda-Bali melalui tradisi babarit, produk lokal, dan lanskap alam yang dijaga kelestariannya, alih-alih mengejar kuantitas kunjungan melalui diskon atau promosi masal [1]. Pengembangan paket wisata terpadu yang menghubungkan Saung Karuhun, Kampung Tumaritis, Bukit Bagarurung, dan kebun kopi maupun kebun gula aren diarahkan untuk memperpanjang durasi kunjungan dan pengeluaran wisatawan di desa [8].
Keberlangsungan model ini tidak bergantung sepenuhnya pada satu figur, karena program P2WKSS melembagakan peran perempuan dalam homestay dan industri rumahan sebagai bagian permanen dari ekosistem wisata desa, terlepas dari pergantian kepemimpinan desa di masa depan [9].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi pengembangan desa wisata Sakerta Timur berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs |
Penjelasan |
Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan |
Pemberdayaan ekonomi berbasis wisata menciptakan sumber pendapatan baru bagi warga yang sebelumnya hanya mengandalkan pertanian dan perdagangan subsisten. |
Rumah warga dijadikan homestay, petani gula aren dan kopi terhubung ke Saung Karuhun, dan pemuda menjadi pemandu Jeep berbayar. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender |
Program P2WKSS melibatkan perempuan desa secara langsung dalam pengelolaan homestay dan industri rumahan olahan pangan lokal sebagai pelaku ekonomi wisata. |
Perempuan desa mengelola homestay dan produksi keripik singkong, keripik pisang, serta gula aren untuk kebutuhan wisata. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi |
Pengembangan desa wisata membuka ragam pekerjaan baru bagi warga: pelayan kuliner, pemandu wisata alam, pengelola homestay, dan pengrajin produk lokal. |
Saung Karuhun menjual paket makan mulai Rp21.000 dan minuman mulai Rp7.000 dengan pelanggan dari Cirebon, Majalengka, dan Bandung. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan |
Pelestarian Kampung Tumaritis sebagai permukiman tradisional yang tetap hidup menjadi model pembangunan permukiman yang berkelanjutan secara budaya dan ekonomi. |
Kampung Tumaritis dipertahankan sebagai ruang hidup sekaligus ruang wisata tanpa alih fungsi total menjadi kawasan komersial. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab |
Penggunaan bahan baku lokal seperti gula aren dan kopi dalam menu Saung Karuhun mempersingkat rantai pasok dan menjaga perputaran keuntungan wisata di dalam komunitas desa. |
Menu Saung Karuhun menggunakan gula aren dan kopi hasil petani lokal Sakerta Timur. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan |
Hutan kopi di sekitar Saung Karuhun dan panorama alam Bukit Bagarurung yang menjadi aset wisata memberi insentif ekonomi bagi warga untuk menjaga kelestarian ekosistem darat di sekitar Waduk Darma. |
Kebun kopi liberika dan kawasan hutan di sekitar Saung Karuhun tetap dipertahankan sebagai bagian dari daya tarik wisata. |
| SDGs 16: Kelembagaan Kuat dan Akuntabel |
Deklarasi desa wisata 2017 yang melibatkan seluruh warga dan konsistensi Kepala Desa Cucu Sudrajat menjalankan visi tersebut mencerminkan tata kelola desa yang berorientasi jangka panjang dan berbasis partisipasi komunitas. |
Deklarasi desa wisata 2017 melibatkan sekitar 700 kepala keluarga dan bertahan dijalankan hingga saat ini. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Formula Sakerta Timur dapat direplikasi oleh desa-desa lain di sekitar destinasi wisata alam yang sudah ramai namun belum memiliki identitas kuat untuk menahan wisatawan lebih lama. Kuncinya bukan meniru ornamen Bali, melainkan meniru cara berpikirnya: menemukan warisan paling otentik yang dimiliki desa, membingkainya dalam narasi yang mudah diingat, lalu menghidupkan narasi itu secara konsisten di setiap detail pengalaman [6].
Untuk desa-desa di kawasan wisata Jawa Barat, model Sakerta Timur relevan sebagai referensi pengembangan desa wisata berbasis identitas budaya yang tidak menggantungkan diri pada investasi infrastruktur besar. Pemerintah Kabupaten Kuningan dapat mendorong replikasi model ini ke desa-desa lain di jalur keliling Waduk Darma agar kawasan tersebut memiliki ekosistem wisata yang lebih beragam [2]. Pelibatan kelompok perempuan melalui skema serupa P2WKSS sejak tahap awal juga disarankan agar manfaat ekonomi wisata tidak hanya terpusat pada pelaku usaha kuliner [9].
Daftar Pustaka
[1] Media Indonesia, “Desa Sakerta Timur Bebenah Jadikan Desa Wisata,” mediaindonesia.com, 29 Des. 2021. [Daring]. Tersedia: https://mediaindonesia.com/nusantara/461245/desa-sakerta-timur-bebenah-jadikan-desa-wisata.
[2] R. Arifin, “Wisata Keliling Waduk Darma yang Menakjubkan,” Kompasiana.com. [Daring]. Tersedia: https://www.kompasiana.com/rahmanarifin8650/635fd4114addee72d20f5c32/wisata-keliling-waduk-darma-yang-menakjubkan.
[3] Tribun Cirebon, “Saung Karuhun, Tempat Wisata Kuliner Bernuansa Sunda-Bali di Kawasan Waduk Darma Kuningan,” cirebon.tribunnews.com, 25 Mei 2023. [Daring]. Tersedia: https://cirebon.tribunnews.com/2023/05/25/saung-karuhun-tempat-wisata-kuliner-bernuansa-sunda-bali-di-kawasan-waduk-darma-kuningan.
[4] Radar Kuningan – Disway, “Wisata Dekat Waduk Darma Kuningan, Ada Wisata Kuliner dengan Konsep Sunda-Bali,” radarkuningan.disway.id. [Daring]. Tersedia: https://radarkuningan.disway.id/read/653291/wisata-dekat-waduk-darma-kuningan-ada-wisata-kuliner-dengan-konsep-sunda-bali/15.
[5] “Kampung Tumaritis | Desa Wisata Sakerta Timur Kuningan | Pedesaan Sunda Jawa Barat,” YouTube, 4 Jun. 2023. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=EhKycPNq-4o.
[6] Media Indonesia, “Geliat Sakerta Timur Lewat Destinasi Wisata Unggulan,” mediaindonesia.com. [Daring]. Tersedia: https://mediaindonesia.com/nusantara/458711/geliat-sakerta-timur-lewat-destinasi-wisata-unggulan.
[7] Lingkup Ciremai, “Explore Buper Bagarurung Sakerta Timur in Kuningan, West Java,” TikTok, 25 Mar. 2024. [Daring]. Tersedia: https://www.tiktok.com/@lingkupciremai/video/7350778737341811974.
[8] A. Farhan et al., “Sejarah Desa Sakerta Timur sebagai Destinasi Wisata Populer di Jawa Barat,” Jurnal Akademika, Universitas Islam As-Syafi’iyah, vol. 10, no. 2, 2021. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.uia.ac.id/akademika/article/download/1115/1039/.
[9] T. L. Nurtanio dan H. Brahmantyo, “Pemberdayaan Perempuan melalui Industri Rumahan dan Homestay untuk Mendukung Pengembangan Desa Wisata: Studi Kasus Desa Sakerta Timur, Kuningan, Jawa Barat,” Jurnal Pariwisata Pesona, vol. 6, no. 1, hal. 68-74, 2021. [Daring]. Tersedia: https://doi.org/10.26905/jpp.v6i1.5443.
[10] Dinas Pariwisata Kabupaten Kuningan, “Waduk Darma,” kuninganbeu.kuningankab.go.id. [Daring]. Tersedia: https://kuninganbeu.kuningankab.go.id/detailwisata/Zzv.