Ringkasan Inovasi
Desa Senaru di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengelola ekosistem pariwisata berbasis komunitas yang menyatukan pendakian Gunung Rinjani, kunjungan air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep, wisata budaya rumah adat, serta penginapan lokal dalam satu sistem tata kelola [1]. Inovasi ini digerakkan Pemerintah Desa Senaru bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk menjawab kondisi lama, ketika ratusan ribu pendaki melintasi desa setiap tahun tanpa banyak transaksi ekonomi yang tertinggal bagi warga setempat [3]. Dampak inovasi ini terlihat dari terbukanya lapangan kerja warga sebagai pemandu, porter, dan pengelola penginapan, serta pengakuan yang diterima desa: Juara IV kategori Daya Tarik Wisata dan masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, dan pada 2025 menjadi satu dari empat besar finalis Sertifikasi Desa Wisata Dunia Kemenparekraf mewakili Nusa Tenggara Barat [8].
Latar Belakang
Desa Senaru terletak strategis sebagai pintu gerbang utama jalur pendakian menuju puncak Gunung Rinjani [3]. Ratusan ribu pendaki melintasi kawasan ini setiap tahun, namun sebagian besar transaksi ekonomi perjalanan mereka lama tidak tertinggal di desa, karena warga sebelumnya lebih banyak berperan sebagai penonton dari lalu lintas wisatawan yang melewati pekarangan rumah mereka.
Minimnya sarana penginapan yang representatif membuat sebagian besar pendaki dan wisatawan menghabiskan pengeluaran mereka di luar wilayah Senaru. Kondisi ini mendorong tokoh pemuda desa merumuskan ulang tata kelola pariwisata, melihat peluang pada kebutuhan layanan pemandu lokal dan penyediaan penginapan bernuansa tradisional [4]. Warga kemudian bersepakat mengubah rumah adat dan kebun kopi menjadi bagian dari daya tarik wisata desa.
Inovasi yang Diterapkan
Masyarakat Senaru membentuk Kelompok Sadar Wisata yang mengatur standar operasional pelayanan dan menetapkan tarif resmi bagi pemandu dan porter, sebagai respons atas keinginan pemuda desa untuk mengambil peran lebih besar dalam industri pariwisata di wilayah mereka sendiri [5].
Pengelola desa menyatukan paket kunjungan air terjun Tiu Kelep, wisata rumah adat Bayan, dan pendakian Gunung Rinjani dalam satu sistem, dengan jumlah tamu didistribusikan secara bergilir kepada kelompok pemandu dan pemilik penginapan agar pendapatan tersebar merata [4]. Salah satu inisiatif yang berkembang adalah kelompok pemandu perempuan yang dirintis Sukatni (Katni), yang menurut Kepala Desa Senaru Raden Akria menjadi bagian dari upaya membuka ruang partisipasi ekonomi perempuan di sektor yang sebelumnya didominasi laki-laki [4].
Proses Penerapan Inovasi
Langkah awal pengembangan desa wisata ini dimulai dari pemetaan potensi alam dan identifikasi keahlian warga setempat [3]. Kelompok warga kemudian menggandeng Politeknik Pariwisata Lombok untuk membekali calon pemandu dengan keterampilan pelayanan yang lebih terstandar [6].
Proses ini tidak berjalan tanpa hambatan. Sebagian tokoh masyarakat awalnya meragukan jaminan ekonomi dari sektor pariwisata, dan pada masa awal operasional, kesalahan pengaturan jadwal penugasan pemandu sempat memicu perselisihan di antara anggota kelompok pengelola, karena sebagian pemandu mendapat giliran tamu lebih sering dibanding yang lain [7]. Perangkat desa mengoreksi masalah ini dengan merombak sistem penugasan dan menerapkan aturan rotasi yang lebih menjamin keadilan pendapatan antaranggota kelompok.
Warga secara gotong royong memperbaiki jalan setapak menuju kawasan air terjun dan mendirikan fasilitas umum, dengan dukungan program pendampingan desa wisata dari pemerintah pusat [8].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal muncul pada masa awal operasional ketika kesalahan pengaturan jadwal penugasan pemandu memicu perselisihan kecil di antara anggota kelompok pengelola wisata [7]. Kendala ini dimitigasi melalui perombakan sistem penugasan dan penerapan aturan rotasi tamu yang lebih adil, sehingga distribusi pendapatan antarpemandu lebih merata.
Tantangan eksternal datang dari sejumlah agen perjalanan luar daerah yang menawarkan harga pendaftaran pendakian jauh di bawah tarif yang berlaku, memicu risiko perang tarif antarpenyedia jasa penginapan dan pemanduan di kawasan tersebut [3]. Kelompok Sadar Wisata memitigasi persaingan yang tidak sehat ini dengan menerbitkan pedoman operasional yang mewajibkan seluruh pengusaha jasa wisata di Senaru mematuhi batas tarif minimum yang telah disepakati bersama [7].
Faktor Penentu Keberhasilan
Kekompakan kelompok warga dalam menjaga kelestarian lingkungan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan tata kelola pariwisata pegunungan ini [2]. Kemunculan kelompok pemandu perempuan turut memperluas basis pelaku wisata yang sebelumnya terbatas pada laki-laki, sekaligus menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara [4].
Dukungan pemerintah kabupaten dalam perbaikan infrastruktur jalan dan penerangan turut mempercepat perkembangan kawasan wisata ini. Sinergi antara pemangku adat, tokoh kepemudaan, dan pelaku usaha rumah tangga memperkuat ekosistem ekonomi lokal yang berputar di dalam desa [5].
Hasil dan Dampak Inovasi
Sejak 2023, Desa Senaru tercatat menerima lebih dari 50.000 kunjungan wisatawan, dengan sekitar 250-300 pengunjung asing per hari pada periode ramai, dan total kunjungan mencapai sekitar 75.000 wisatawan pada 2024 [8]. Ratusan warga kini bekerja sebagai pemandu, porter, penjaga kebersihan kawasan, dan perajin suvenir, sementara pemilik penginapan berbahan bambu mencatat tingkat hunian yang meningkat pada musim liburan [2].
Pengakuan atas capaian ini datang bertahap: pada Desember 2021, Senaru meraih Juara IV kategori Daya Tarik Wisata dan masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari sekitar 1.800 desa wisata se-Indonesia [1]. Pada 2025, Senaru menjadi satu dari empat besar finalis Sertifikasi Desa Wisata Dunia yang diselenggarakan Kemenparekraf, satu-satunya wakil Nusa Tenggara Barat dari sekitar 2.800 desa terdaftar, sebuah program sertifikasi domestik yang berbeda dari penghargaan Best Tourism Village UN Tourism (UNWTO) [8].
Dampak sosial yang terlihat adalah meningkatnya kesadaran warga menjaga kelestarian sumber mata air pegunungan, dengan kegiatan bersih lingkungan yang diselenggarakan secara rutin oleh warga desa [5].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal pembangunan sarana wisata Senaru secara spesifik. Pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan setapak dan fasilitas umum sebagian besar dikerjakan secara gotong royong oleh warga, dengan dukungan program pendampingan desa wisata dari pemerintah pusat [8].
Model pendapatan bertumpu pada tarif resmi jasa pemandu dan porter yang ditetapkan Kelompok Sadar Wisata, sewa penginapan lokal, serta penjualan suvenir dan produk warga. Distribusi tamu secara bergilir kepada kelompok pemandu dan pemilik penginapan menjadi mekanisme pemerataan pendapatan di antara pelaku usaha desa [4].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah membentuk Kelompok Sadar Wisata untuk menetapkan standar tarif dan mekanisme distribusi tamu sejak awal, sehingga persaingan antarpemandu dan pemilik penginapan tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan [5]. Perbaikan sistem penugasan pemandu setelah perselisihan awal juga menunjukkan pentingnya mekanisme rotasi yang transparan sejak tahap perintisan.
Jika memulai dari awal, penetapan pedoman tarif minimum dan aturan rotasi tugas idealnya dirumuskan sebelum konflik atau persaingan harga benar-benar terjadi, bukan sebagai respons setelah masalah muncul [7]. Desa lain yang berada di jalur wisata alam populer disarankan membentuk kelembagaan pengelola bersama sejak tahap awal, melibatkan kelompok yang sebelumnya kurang terwakili seperti perempuan, dan menyiapkan pedoman tarif minimum sebelum agen luar daerah masuk menawarkan harga yang merusak pasar lokal.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Pemerintah desa menyerahkan pengelolaan operasional pariwisata kepada Pokdarwis dan tengah mendorong penguatan peran badan usaha milik desa dalam tata kelola kawasan [7]. Tim pemasar desa merancang promosi digital untuk mendatangkan kunjungan di luar musim ramai pendakian [5].
Sebagian pendapatan kelompok pariwisata dialokasikan untuk mendukung pendidikan kesenian dan pelestarian adat bagi generasi muda, agar tradisi lokal tetap terjaga seiring pertumbuhan sektor wisata [4]. Pembatasan jumlah pendaki harian juga diterapkan untuk menjaga daya dukung kawasan hutan Rinjani dari tekanan kunjungan yang terus meningkat.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Desa Wisata Senaru berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Pengelolaan pariwisata terpadu membuka sumber pendapatan baru bagi warga yang sebelumnya tidak banyak menikmati manfaat ekonomi dari lalu lintas pendaki dan wisatawan yang melintasi desa. | Ratusan warga kini bekerja sebagai pemandu, porter, penjaga kebersihan, dan perajin suvenir. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | Kelompok pemandu perempuan yang dirintis Sukatni membuka ruang partisipasi ekonomi perempuan di sektor pemanduan wisata yang sebelumnya didominasi laki-laki. | Kelompok pemandu perempuan aktif melayani wisatawan yang berkunjung ke Desa Senaru. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pengelolaan pariwisata satu pintu menciptakan mata pencaharian bagi pemuda desa sebagai pemandu, porter, pengelola penginapan, dan pelaku usaha kecil. | Desa Senaru menerima sekitar 75.000 kunjungan wisatawan pada 2024. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Model pariwisata berbasis komunitas dirancang agar aktivitas ekonomi wisata memperkuat, bukan mengancam, keaslian rumah adat dan lanskap Desa Senaru. | Rumah adat dan kebun kopi warga tetap dipertahankan sebagai bagian dari daya tarik wisata. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | Pembatasan kuota kunjungan harian dan kegiatan bersih lingkungan rutin membantu melestarikan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani serta sumber mata air pegunungan. | Warga menyelenggarakan kegiatan bersih lingkungan secara rutin di kawasan air terjun dan jalur pendakian. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model tata kelola pariwisata komunal Senaru relevan direplikasi oleh desa-desa penyangga taman nasional lain yang menghadapi situasi serupa: banyak dilalui wisatawan namun belum memiliki mekanisme distribusi manfaat ekonomi yang jelas bagi warga [3]. Elemen inti yang dapat ditransfer adalah pembentukan kelompok pengelola bersama, penetapan tarif dan rotasi tugas yang transparan, serta pelibatan kelompok yang sebelumnya kurang terwakili seperti perempuan.
Pemerintah Kabupaten Lombok Utara telah menyusun panduan pengembangan desa wisata dengan merujuk pada praktik Desa Senaru sebagai salah satu contoh [6]. Pendekatan ini berpotensi direplikasi ke desa-desa lain di sekitar Lombok yang memiliki potensi wisata alam serupa, dengan tetap menyesuaikan pada kearifan lokal masing-masing kawasan.
Daftar Pustaka
[1] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, “Desa Wisata Senaru The Crown of Lombok,” jadesta.kemenpar.go.id, 31 Des. 2023. [Daring]. Tersedia: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/senaru_the_crown_of_lombok.
[2] S. A. Pratama, “Efektivitas Program Desa Wisata dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Desa Senaru Kabupaten Lombok Utara,” Repository UMMAT, Universitas Muhammadiyah Mataram, 2021. [Daring]. Tersedia: https://repository.ummat.ac.id/5465/1/COVER-BAB%20III.pdf.
[3] I. Puspitasari dan B. Santoso, “Strategi Pengembangan Desa Wisata Senaru Lombok Utara,” Journal of Responsible Tourism, vol. 1, no. 2, hal. 43-54, 2018. [Daring]. Tersedia: https://ejournal.stpmataram.ac.id/JRT/article/view/992.
[4] Tatkala.co, “Berwisata Sambil Belajar dari Kehidupan Desa Senaru – Ada Rumah Tua dan Guide Perempuan,” tatkala.co, 18 Jun. 2023. [Daring]. Tersedia: https://tatkala.co/2023/06/19/berwisata-sambil-belajar-dari-kehidupan-desa-senaru-ada-rumah-tua-dan-guide-perempuan/.
[5] M. Rahman dkk., “Strategi Marketing dan Pengembangan Desa Wisata Senaru Lombok Utara,” Jurnal Oportunitas Ekonomi, Universitas Mataram, 2023. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.fe.unram.ac.id/index.php/oportunitas/article/download/2406/927.
[6] Politeknik Pariwisata Lombok, “Pelatihan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia di Desa Wisata Senaru,” ppl.ac.id, 16 Nov. 2021. [Daring]. Tersedia: https://ppl.ac.id/berita/akademik/pelatihan-peningkatan-kualitas-sumber-daya-manusia-di-desa-wisata-senaru/.
[7] N. Hidayat, “Pengembangan Kapasitas BUMDes dalam Mengelola Desa Wisata,” Jurnal Tata Sejuta, STIA Mataram, 29 Feb. 2024. [Daring]. Tersedia: https://www.ejurnalstiamataram.ac.id/index.php/tatasejuta/article/download/619/182.
[8] Inside Lombok, “Desa Wisata Senaru Masuk Nominasi Desa Wisata Dunia,” insidelombok.id, 2 Sep. 2025. [Daring]. Tersedia: https://insidelombok.id/lombok-utara/desa-wisata-senaru-masuk-nominasi-desa-wisata-dunia/.