Ringkasan Inovasi
Desa Wisata Pemuteran di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, membangun model ekowisata bahari berbasis komunitas yang mengintegrasikan teknologi Biorock untuk restorasi terumbu karang, zona konservasi laut, pelestarian tradisi Bali, dan Pemuteran Bay Festival sebagai perayaan tahunan yang memadukan seni, konservasi, dan pariwisata [1]. Inovasi ini mengubah desa nelayan kecil di ujung barat Bali, yang pada era 1980-an sempat merusak terumbu karangnya sendiri, menjadi destinasi ekowisata yang pada 17 Oktober 2025 meraih gelar Best Tourism Village 2025 dari UN Tourism (UNWTO) di Huzhou, Tiongkok [2]. Dari lebih dari 300 kandidat desa wisata dari sekitar 75 negara anggota UN Tourism, Pemuteran lolos seleksi dan masuk daftar 52 Desa Wisata Terbaik dunia untuk 2025, melengkapi rangkaian pengakuan sebelumnya: Equator Prize dari UNDP (2012), SKAL International Award (2003), PATA Gold Award (2005), UNWTO Award (2016), dan ASEAN Community-Based Tourism Standard (2023-2024) [3], [15]. Rentang lebih dari dua dekade pengakuan ini mencerminkan konsistensi model konservasi dan ekowisata yang dijalankan komunitas Pemuteran.
Latar Belakang
Pada dekade 1980-an, penduduk Desa Pemuteran yang mayoritas nelayan kerap menangkap ikan dengan cara destruktif, termasuk bom ikan dan sianida, yang saat itu merajalela di perairan Bali utara [4]. Terumbu karang yang menjadi rumah bagi ribuan spesies ikan rusak parah, dan kerusakan ini justru mempersempit penghasilan nelayan karena populasi ikan yang bergantung pada terumbu karang ikut menurun [1].
Pada awal 2000-an, komunitas lokal bersama pengusaha hotel menyadari bahwa kerusakan ekosistem laut adalah ancaman nyata bagi masa depan desa [4]. Saat itu belum ada mekanisme efektif untuk memulihkan terumbu karang yang rusak, maupun model pariwisata yang memadukan kebutuhan ekonomi warga dengan pelestarian lingkungan. Kebutuhan inilah yang mendorong pencarian teknologi dan tata kelola yang mampu menjawab dua tantangan sekaligus [3].
Desa Pemuteran terletak di ujung barat Bali, relatif jauh dari arus utama pariwisata Bali selatan, dengan lanskap kaki Gunung Pulaki yang menjorok ke laut dan teluk yang tenang [1]. Posisi ini menjaga alam desa tetap relatif terjaga, sehingga kombinasi pegunungan dan teluk menjadi daya tarik yang kemudian dioptimalkan lewat inovasi ekowisata yang memadukan teknologi restorasi laut dan kearifan lokal Bali [3].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi utama Pemuteran adalah teknologi Biorock, metode restorasi terumbu karang yang dikembangkan Prof. Wolf Hilbertz dan Dr. Tom Goreau, di mana rangka besi ditanam di dasar laut lalu dialiri arus listrik bertegangan sangat rendah sekitar 6 volt, menginduksi mineral kalsit dan aragonit yang menjadi substrat pertumbuhan terumbu karang [4]. Studi akademik mencatat teknologi ini dapat mempercepat laju pertumbuhan karang beberapa kali dibanding pemulihan alami, sekaligus mendukung keanekaragaman hayati, dengan satu unit Biorock mampu menampung sekitar 11 keluarga ikan dan 35 genus biota laut [10]. Yayasan Karang Lestari, yang dipimpin I Gede Agung Prana, kini mengelola lebih dari 100 unit struktur Biorock di perairan teluk [9].
Di luar Biorock, ekosistem ekowisata Pemuteran diperkaya program penangkaran penyu, zona konservasi bebas pemancingan, dan Pemuteran Bay Festival yang masuk dalam 100 Calendar of Events Indonesia dan Bali Calendar of Event sebagai agenda tahunan [5]. Festival ini menyertakan penenggelaman struktur artistik bawah laut oleh para penyelam sebagai simbol komitmen konservasi; pada Desember 2025, sebuah “Gapura Harmoni Baruna Giri” ditenggelamkan sebagai landmark bawah laut, dipadukan pertunjukan seni budaya Bali dan pasar UMKM [8]. Wisatawan juga dapat mengadopsi terumbu karang seharga Rp400.000 per unit dengan nama adopter tertera, menjadikan mereka mitra konservasi [4].
Proses Penerapan Inovasi
Proses transformasi Pemuteran dimulai dari perubahan pendekatan nelayan terhadap laut. Yayasan Karang Lestari, dibentuk dari kolaborasi warga lokal dan pengusaha hotel, meyakinkan nelayan bahwa terumbu karang yang pulih akan menghasilkan lebih banyak ikan dan menarik wisatawan yang membutuhkan jasa mereka. Pendekatan berbasis insentif ekonomi ini dinilai lebih efektif dibanding larangan semata untuk mengubah kebiasaan tangkap destruktif [3].
Pada tahap awal, pemasangan struktur Biorock menghadapi keraguan nelayan yang belum yakin arus listrik 6 volt yang lemah mampu menumbuhkan terumbu karang. Uji coba pada beberapa unit kecil menunjukkan hasil dalam beberapa bulan pertama, mendorong perluasan program ke lebih dari 100 unit struktur [4], [6]. Pada tahap pengembangan awal teknologi Biorock di Indonesia, catu daya listrik sempat mengandalkan generator diesel yang menimbulkan kekhawatiran lingkungan tersendiri untuk proyek konservasi, sehingga pengembang mencari sumber energi terbarukan sebagai koreksi jangka panjang atas pendekatan ini [14].
Pemuteran Bay Festival pertama kali diselenggarakan pada 2015 sebagai mekanisme pembaruan komitmen tahunan komunitas terhadap konservasi laut, bukan sekadar acara pariwisata [5]. Pada penyelenggaraan ke-11 tanggal 4-6 Desember 2025, penenggelaman “Gapura Harmoni Baruna Giri” menjadi elemen simbolis festival yang kini dikenal luas. Evaluasi dan penyesuaian model festival dilakukan tiap tahun berdasarkan masukan komunitas [7].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan utama adalah mengelola tekanan kunjungan wisatawan yang terus meningkat seiring popularitas internasional Pemuteran, tanpa merusak terumbu karang yang menjadi daya tarik utamanya. Kepadatan penyelam dan snorkeler yang berlebihan berisiko merusak karang yang sudah dipulihkan selama dua dekade [3]. Kendala ini dimitigasi melalui sistem monitoring dan regulasi zona laut yang membatasi jumlah pengunjung di titik-titik tertentu, meski dokumentasi yang tersedia tidak merinci batas kapasitas pengunjung secara spesifik [6].
Tantangan kedua adalah keberlanjutan pendanaan operasional Yayasan Karang Lestari, yang selama ini bergantung pada kombinasi donasi adopsi karang, kontribusi hotel, dan hibah lembaga internasional yang tidak selalu konsisten setiap tahun. Jika satu sumber pendanaan terputus, perawatan lebih dari 100 unit struktur Biorock yang membutuhkan aliran listrik rutin dapat terganggu [4]. Kendala ini dimitigasi melalui program adopsi terumbu karang berbayar yang dirancang menjadi sumber pendanaan yang lebih mandiri dibanding hanya mengandalkan donor eksternal [6].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama adalah kemitraan antara komunitas nelayan, pengusaha hotel, Yayasan Karang Lestari, dan pemerintah daerah yang memiliki kepentingan bersama menjaga ekosistem Pemuteran [3]. Tanpa kolaborasi ini, Biorock akan menjadi teknologi tanpa kesinambungan pendanaan dan pengawasan lapangan; tanpa keterlibatan nelayan, kawasan konservasi tidak akan terlindungi dari aktivitas merusak [2].
Faktor kedua adalah kepemimpinan I Gede Agung Prana yang menginisiasi Yayasan Karang Lestari dan memimpin gerakan konservasi ini lebih dari dua dekade [9]. Pemuteran Bay Festival yang memasuki tahun ke-11 mencerminkan konsistensi komunitas ini. Posisi geografis Pemuteran, dengan gunung dan laut yang berdekatan dalam satu lanskap, juga menambah daya tarik yang relatif jarang ditemukan di destinasi wisata bahari lain [4].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak ekologi yang terukur adalah pemulihan terumbu karang lewat lebih dari 100 unit struktur Biorock di perairan Teluk Pemuteran, dengan laju pertumbuhan karang yang meningkat signifikan dibanding pemulihan alami [10]. Kawasan yang dulu rusak kini menjadi rumah bagi ratusan spesies ikan dan biota laut, termasuk penyu yang kembali bertelur di pantai Pemuteran, dengan Biorock Pemuteran meraih rating 4,7 dari 5 di TripAdvisor berdasarkan lebih dari 488 ulasan [6].
Dampak ekonomi terlihat dari transformasi desa nelayan menjadi ekosistem pariwisata yang kini mencakup homestay, hotel, villa, restoran, money changer, dan toko suvenir di sepanjang jalan desa [1]. Bawah laut Pemuteran menarik penyelam dari berbagai negara, termasuk Jerman, Belanda, dan Prancis [9]. Pemuteran Bay Festival 2025 turut memberi dampak berganda bagi pelaku UMKM dan akomodasi selama tiga hari penyelenggaraan [5].
Puncak pengakuan ini adalah penetapan Pemuteran sebagai satu dari 52 Best Tourism Village 2025 pada 17 Oktober 2025 di Huzhou, Tiongkok [3], [12], [13]. Penghargaan ini melengkapi jejak pengakuan sebelumnya, Equator Prize UNDP 2012, SKAL International Award 2003, PATA Gold Award 2005, UNWTO Award 2016, dan ASEAN CBT Standard 2023-2024 [2], [15], yang secara kumulatif turut mendukung promosi internasional Pemuteran.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pendanaan konservasi Yayasan Karang Lestari bertumpu pada kombinasi donasi adopsi terumbu karang seharga Rp400.000 per unit, kontribusi sukarela hotel mitra, dan hibah dari lembaga internasional [4]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci total anggaran operasional tahunan yayasan secara spesifik.
Model pendapatan ekosistem wisata desa bertumpu pada penginapan, restoran, aktivitas selam dan snorkeling, festival tahunan, serta penjualan suvenir dan produk UMKM yang tumbuh mengikuti kunjungan wisatawan [1]. Program adopsi terumbu karang dirancang sebagai sumber pendanaan konservasi yang lebih mandiri dibanding hanya mengandalkan donor eksternal yang tidak selalu konsisten [6].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah mengubah insentif nelayan lewat pendekatan ekonomi, bukan larangan semata, sehingga pemulihan terumbu karang dan mata pencaharian nelayan berjalan searah, bukan berlawanan [3]. Uji coba Biorock pada unit kecil sebelum perluasan besar juga terbukti efektif meyakinkan nelayan yang semula ragu dengan teknologi ini [4].
Ketergantungan awal pada generator diesel untuk mengalirkan listrik ke struktur Biorock mengajarkan bahwa proyek konservasi perlu mempertimbangkan keberlanjutan sumber energinya sendiri, bukan hanya hasil akhir restorasi karang [14]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memulai dari kemitraan nyata antara nelayan dan pelaku usaha wisata, menguji teknologi restorasi pada skala kecil terlebih dahulu, dan merancang sumber pendanaan konservasi yang tidak sepenuhnya bergantung pada donor eksternal sejak awal.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan ekowisata Pemuteran bertumpu pada prinsip bahwa kesehatan ekosistem laut adalah prasyarat, bukan konsekuensi, dari kesehatan ekonomi desa [3]. Pemerintah Kabupaten Buleleng menjadikan konservasi terumbu karang sebagai salah satu prioritas kebijakan pariwisata Buleleng barat, sementara sinergi antara Yayasan Karang Lestari, pemerintah daerah, asosiasi hotel, dan komunitas nelayan memberi fondasi kelembagaan untuk bertahan melewati pergantian kepemimpinan [7], [2]. Program restorasi terumbu karang di Pemuteran juga sejalan dengan agenda Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali yang menggenjot program restorasi di berbagai perairan Bali yang terumbu karangnya masih terancam [11].
Program adopsi terumbu karang yang membangun loyalitas wisatawan menjadi mesin pendanaan konservasi yang lebih mandiri [4]. Gelar Best Tourism Village 2025 membuka akses bagi Pemuteran untuk bergabung dalam jaringan desa wisata terbaik dunia binaan UN Tourism, yang berpotensi memperluas akses pasar dan mitra internasional [2].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Desa Wisata Pemuteran berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Ekosistem pariwisata yang tumbuh dari konservasi terumbu karang menciptakan lapangan kerja bagi nelayan, pelaku UMKM, pengelola akomodasi, dan pemandu selam yang sebelumnya bergantung pada hasil tangkap ikan yang tidak menentu. | Ekosistem wisata desa kini mencakup homestay, hotel, villa, restoran, dan toko suvenir di sepanjang jalan desa. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Ekowisata Pemuteran menciptakan lapangan kerja di sektor selam, snorkeling, pemanduan wisata, akomodasi, dan festival budaya yang menggerakkan ekonomi desa sepanjang tahun. | Wisatawan penyelam dari Eropa (Jerman, Belanda, Prancis) menjadi bagian rutin kunjungan desa. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Model ekowisata berbasis komunitas menjadikan Pemuteran permukiman pesisir yang aktivitas ekonominya dirancang memperkuat, bukan mengancam, keaslian lanskap dan budaya desa. | Pemuteran ditetapkan sebagai satu dari 52 Best Tourism Village 2025 oleh UN Tourism. |
| SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim | Terumbu karang yang dipulihkan melalui Biorock berfungsi sebagai pelindung pantai dari abrasi dan dampak gelombang yang diperkuat perubahan iklim. | Lebih dari 100 unit struktur Biorock terpasang di sepanjang perairan Teluk Pemuteran. |
| SDGs 14: Ekosistem Lautan | Program Biorock, zona konservasi bebas pemancingan, dan penangkaran penyu berkontribusi langsung pada pemulihan biodiversitas laut Teluk Pemuteran. | Satu unit Biorock menampung sekitar 11 keluarga ikan dan 35 genus biota laut. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi antara Yayasan Karang Lestari, nelayan lokal, asosiasi hotel, Pemkab Buleleng, dan mitra internasional menjadi model kemitraan multipihak yang bertahan lebih dari dua dekade. | Yayasan Karang Lestari telah memimpin gerakan konservasi ini sejak awal 2000-an hingga sekarang. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Pemuteran relevan direplikasi oleh desa pesisir dengan ekosistem terumbu karang terancam namun belum terkelola optimal, seperti di sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi Tengah, dan Papua [2]. Tiga elemen inti yang dapat ditransfer adalah pembentukan yayasan konservasi berbasis komunitas, penerapan teknologi Biorock dengan sistem adopsi karang sebagai model pendanaan, dan penyelenggaraan festival ekowisata tahunan yang membangun identitas kolektif. Yayasan Karang Lestari sendiri telah berperan sebagai rujukan belajar bagi komunitas pesisir dari berbagai daerah [4].
Untuk scale up, gelar Best Tourism Village 2025 membuka peluang bagi Pemuteran menjadi pusat pembelajaran ekowisata bahari yang mempertemukan pengelola desa wisata pesisir dari berbagai daerah [3]. Kementerian Pariwisata dapat memprogramkan kunjungan studi ke Pemuteran bagi finalis Anugerah Desa Wisata Indonesia yang memiliki potensi wisata bahari, mempercepat transfer model yang telah berjalan konsisten selama lebih dari dua dekade [2].
Daftar Pustaka
[1] Kementerian Pariwisata RI, “Mengenal Desa Wisata Pemuteran Bali yang Meraih Gelar Best Tourism Village 2025,” kemenpar.go.id, 31 Des. 2024. [Daring]. Tersedia: https://kemenpar.go.id/berita/mengenal-desa-wisata-pemuteran-bali-yang-meraih-gelar-best-tourism-village-2025.
[2] Pemerintah Kabupaten Buleleng, “Desa Pemuteran Raih Penghargaan Best Tourism Village di Kancah Dunia,” bulelengkab.go.id, 3 Jan. 2025. [Daring]. Tersedia: https://bulelengkab.go.id/informasi/detail/berita/33_desa-pemuteran-raih-penghargaan-best-tourism-village-di-kancah-dunia.
[3] Tempo, “Desa Wisata Pemuteran Bali Jadi Desa Wisata Terbaik Dunia 2025,” tempo.co, 19 Okt. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.tempo.co/hiburan/desa-pemuteran-bali-dapat-penghargaan-desa-wisata-terbaik-dunia-2081093.
[4] Biorock Indonesia, “Pemuteran, Kawasan Nelayan Jadi Desa Wisata Internasional,” biorock-indonesia.com, 29 Jan. 2015. [Daring]. Tersedia: https://www.biorock-indonesia.com/pemuteran-kawasan-nelayan-jadi-desa-wisata-internasional/.
[5] Kementerian Pariwisata RI, “Pemuteran Bay Festival,” indonesia.travel, 30 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.indonesia.travel/id/id/events/event-detail/pemuteran-bay-festival/.
[6] Biorock Indonesia, “Pengenalan Biorock di Pemuteran Bali,” biorock-indonesia.com. [Daring]. Tersedia: https://www.biorock-indonesia.com/produk/pengenalan-biorock/.
[7] Antara Bali, “Pemuteran Bay Festival Perkuat Citra Desa Wisata Berkelanjutan,” antaranews.com, 4 Des. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/5182081/desa-pemuteran-bali-raih-penghargaan-best-tourism-village-2025.
[8] Tempo, “Pemuteran Bay Festival Dibuka dengan Pemasangan Gapura Bawah Laut,” tempo.co, 4 Des. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.tempo.co/hiburan/pemuteran-bay-festival-dibuka-dengan-pemasangan-gapura-bawah-laut-2096027.
[9] Antara, “Biorock Pemuteran, Konservasi dan Wisata Bahari Mendunia,” antaranews.com, 16 Des. 2016. [Daring]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/602044/biorock-pemuteran-konservasi-dan-wisata-bahari-mendunia.
[10] A. Ridwan dkk., “Restorasi Terumbu Karang dengan Metode Biorock: Upaya Pelestarian Ekosistem Laut Indonesia,” Journal of Tropical Peace and Livelihood Studies, Sep. 2025. [Daring]. Tersedia: https://glbglavirtualexpo.dewaweb.cloud/index.php/jtpl/article/view/5912.
[11] Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, “Terumbu Karang Bali Terancam, Program Restorasi Digenjot,” diskelkan.baliprov.go.id, 19 Sep. 2024. [Daring]. Tersedia: https://diskelkan.baliprov.go.id/terumbu-karang-bali-terancam-program-restorasi-digenjot/.
[12] Detik Travel, “Desa Pemuteran Bali, Desa Terbaik Versi UNWTO 2025,” travel.detik.com, 21 Des. 2025. [Daring]. Tersedia: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-8271835/desa-pemuteran-bali-desa-terbaik-versi-unwto-2025.
[13] Liputan6, “Desa Wisata Pemuteran Bali Sabet Gelar Best Tourism Village 2025,” liputan6.com, 18 Okt. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/6189066/membanggakan-desa-wisata-pemuteran-bali-sabet-gelar-best-tourism-village-2025.
[14] Mongabay Indonesia, “Biorock: Harapan Masa Depan Keindahan Terumbu Karang Indonesia,” mongabay.co.id, 14 Jun. 2012. [Daring]. Tersedia: https://www.mongabay.co.id/2012/06/14/biorock-harapan-masa-depan-keindahan-terumbu-karang-indonesia/.
[15] Equator Initiative (UNDP), “Yayasan Karang Lestari Teluk Pemuteran,” equatorinitiative.org, 2012. [Daring]. Tersedia: https://www.equatorinitiative.org/wp-content/uploads/2017/05/case_1_1370555095.pdf.