Ringkasan Inovasi

Desa Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, pada Agustus 2025 meluncurkan website resmi desa sebagai portal informasi wisata dan budaya, serta menyelenggarakan pelatihan pengolahan pangan lokal bagi 30 pelaku UMKM dari lima dusun [1]. Kedua inisiatif ini digagas perangkat desa bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), didampingi Universitas Negeri Padang (UNP), untuk menjawab kesenjangan promosi digital dan minimnya nilai tambah ekonomi dari kekayaan budaya Sikerei dan pangan lokal desa [2]. Desa yang sebelumnya hanya dapat dijangkau dengan pompong menyusuri sungai selama enam jam kini hadir di ruang digital melalui desamatotonan.id, sementara warga mengolah sagu, talas, dan pisang menjadi produk kuliner. Capaian ini melengkapi status Desa Matotonan dalam 300 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 kategori Rintisan [4].

 

Latar Belakang

Desa Matotonan berada di pedalaman Pulau Siberut, digambarkan peneliti sebagai salah satu desa “terpencil, terasing, dan termarginalkan” di Kepulauan Mentawai. Dengan jarak tempuh sekitar 37-40 km dari Muara Siberut yang hanya dapat dilalui melalui sungai menggunakan pompong, desa ini secara historis hidup relatif terputus dari arus modernisasi di wilayah lain Sumatera Barat [7].

Di balik keterpencilan itu, Desa Matotonan menyimpan kekayaan budaya berupa Sikerei, dukun spiritual bertato yang menjadi simbol budaya Mentawai, ritual adat, rumah Uma tradisional, serta bahan pangan lokal seperti sagu, pisang, talas, dan keladi yang selama ini hanya dikonsumsi sendiri tanpa nilai tambah ekonomi [7], [6]. Sebelum inovasi ini hadir, belum ada platform digital yang menghubungkan kekayaan ini dengan calon wisatawan.

Riset lapangan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti pada 2021, bagian dari program pengembangan ekowisata di kawasan desa penyangga Taman Nasional Siberut yang juga mencakup Desa Muntei dan Desa Madobag, mengungkap tiga masalah utama: masyarakat belum mampu mengolah bahan pangan lokal menjadi produk bernilai jual, literasi keuangan UMKM masih terbatas, dan desa belum memiliki saluran promosi digital yang terstruktur [6], [5]. Temuan inilah yang mendorong Desa Matotonan menggandeng UNP sebagai mitra akademis untuk mengisi ketiga kekosongan tersebut.

 

Inovasi yang Diterapkan

Desa Matotonan menjalankan dua inovasi yang saling melengkapi. Pertama, desa meluncurkan website resmi di desamatotonan.id pada 10 Agustus 2025, bertepatan dengan Hari Jadi Desa Matotonan ke-45, sebagai portal informasi yang menampilkan profil wisata, budaya Sikerei, agenda kegiatan, dan layanan publik desa. Peluncuran ini dihadiri Bupati Kepulauan Mentawai Dr. Rinto Wardana, S.H., M.H. [1].

Kedua, desa menyelenggarakan pelatihan pengolahan pangan lokal yang mengubah sagu, talas, pisang, dan keladi menjadi produk kuliner bernilai ekonomi. Mengacu pada riset STP Trisakti yang telah mengidentifikasi potensi bahan pangan lokal Matotonan, pelatihan ini menghasilkan produk seperti kue sagaik, kembang sagaik, cendol sagu, donat getek dari talas, perkedel keladi, dan berbagai olahan pisang untuk disajikan kepada wisatawan maupun dijual sebagai oleh-oleh [6], [1].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses ini dimulai sejak 2021 ketika STP Trisakti menerjunkan tim ke Matotonan untuk survei potensi wisata dan pelatihan diversifikasi pangan pertama yang melibatkan 15 ibu rumah tangga. Evaluasi pelatihan itu menunjukkan 93,33% peserta menyatakan pelatihan meningkatkan pengetahuan mereka, dan 86,67% menyatakan keterampilan motorik mereka meningkat signifikan [6].

Pada tahun berikutnya, UNP melalui program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) yang didanai DPPM Kemendikti Saintek mendampingi desa dengan asesmen kebutuhan yang mengidentifikasi dua prioritas: visibilitas digital dan penguatan ekonomi berbasis pangan lokal [2].

Pada tahap pengembangan website, perangkat desa dan anggota Pokdarwis mendapat pelatihan pembuatan video promosi dan pengelolaan konten digital, disertai penyerahan satu unit laptop sebagai sarana operasional mandiri. Pada sesi pelatihan pangan, sebagian peserta pada awalnya belum terbiasa dengan standar higienitas produk untuk konsumsi wisatawan; temuan ini mendorong penambahan modul sanitasi dan pengemasan dalam sesi lanjutan [1].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan utama adalah aksesibilitas geografis yang tidak berubah: Desa Matotonan tetap hanya bisa dijangkau dengan pompong menyusuri sungai selama enam jam dari Muara Siberut, menyulitkan distribusi peralatan, mobilisasi tim pendamping, dan kapasitas menerima kunjungan wisatawan dalam jumlah besar [7]. Kendala ini dimitigasi dengan pendekatan wisata skala kecil berbasis pengalaman langsung (homestay dan interaksi budaya), bukan wisata massal yang membutuhkan akses cepat.

Ketersediaan bahan baku pendamping dan jaringan internet yang sangat terbatas juga menjadi kendala: untuk bumbu pelengkap seperti bawang merah dan bawang putih, warga harus menempuh perjalanan tujuh jam ke Kota Padang, sementara pengelolaan konten website secara real-time terhambat sinyal yang minim [6]. Kendala ini dimitigasi melalui penyerahan laptop untuk pengelolaan konten secara luring terlebih dahulu sebelum diunggah saat sinyal tersedia, serta penyesuaian resep olahan pangan pada bahan yang tersedia secara lokal.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor pertama adalah inisiatif desa yang aktif memanfaatkan kemitraan dengan UNP untuk mengisi kekosongan kapasitas, bukan sekadar menerima program tetapi ikut merancang prioritas sesuai kebutuhan nyata warga [1], [2].

Faktor kedua adalah dukungan pemerintah daerah yang memberi legitimasi dan akselerasi. Kehadiran Bupati Kepulauan Mentawai Dr. Rinto Wardana pada peluncuran website desa menjadi sinyal kebijakan bahwa desa terpencil sekalipun berhak bertransformasi digital, memperkuat sinergi antara desa, akademisi, dan pemerintah daerah [1].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak paling langsung dari peluncuran desamatotonan.id adalah terbukanya akses informasi Desa Matotonan tanpa batas geografis, menempatkannya dalam jangkauan calon wisatawan yang sebelumnya hanya mengenal desa ini dari cerita mulut ke mulut [3], [1].

Dari sisi ekonomi, 30 pelaku UMKM dari lima dusun kini menguasai teknik pengolahan aneka produk dari sagu, talas, pisang, dan keladi yang siap dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Mentawai [1]. Capaian ini melengkapi status Desa Matotonan dalam 300 Besar ADWI 2023 kategori Rintisan, bersanding dengan Desa Muntei yang lebih dahulu meraih kategori lebih tinggi di ajang yang sama [4].

Riset historis menggambarkan Matotonan sebagai desa yang selama puluhan tahun bertahan hidup dari sagu dan pisang tanpa mengubahnya menjadi nilai ekonomi [7]. Transformasi menuju desa yang hadir secara digital dan memasarkan produk olahan pangan lokal merupakan perubahan yang berarti dalam konteks sejarah desa ini.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Program pengembangan website dan pelatihan pangan lokal didanai melalui program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) UNP yang bersumber dari DPPM Kemendikti Saintek, dilengkapi bantuan perangkat berupa satu unit laptop untuk operasional website [2]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran anggaran program secara spesifik.

Model keberlanjutan ekonomi bertumpu pada penjualan produk olahan pangan lokal kepada wisatawan yang berkunjung dan sebagai oleh-oleh, sementara website desa berfungsi sebagai kanal promosi tanpa biaya berlangganan yang membuka akses pasar wisata tanpa investasi pemasaran besar.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan yang terbukti tepat adalah melakukan riset kebutuhan lebih dulu (oleh STP Trisakti pada 2021) sebelum merancang program pendampingan yang lebih komprehensif bersama UNP, sehingga program yang dijalankan menjawab kebutuhan yang benar-benar teridentifikasi, bukan asumsi [6]. Penambahan modul sanitasi setelah ditemukan kesenjangan standar higienitas pada sesi pelatihan pertama juga menunjukkan pentingnya evaluasi berkelanjutan selama program berjalan.

Jika memulai dari awal, penyediaan solusi konektivitas internet yang lebih stabil idealnya menjadi prioritas sejak tahap perencanaan, mengingat keterbatasan sinyal terus membatasi pembaruan konten website secara real-time. Desa terpencil lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan menggandeng lembaga akademik untuk riset kebutuhan awal, memulai dari pelatihan skala kecil untuk membangun kepercayaan warga, dan menyiapkan mekanisme operasional luring untuk kendala konektivitas yang mungkin tidak segera teratasi.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan website desa dijaga melalui penyerahan laptop kepada perangkat desa dan pelatihan mandiri bagi pengelola konten dari Pokdarwis, sehingga operasional tidak bergantung pada kehadiran tim UNP secara fisik [1]. Untuk keberlanjutan ekonomi pangan lokal, program direncanakan dilanjutkan dengan pendampingan sertifikasi produk UMKM dan pembukaan akses pasar ke jaringan wisata Mentawai yang lebih luas [2].

Status dalam 300 Besar ADWI 2023 membuka akses potensial terhadap program pengembangan desa wisata dari Kementerian Pariwisata yang dapat memperkuat keberlanjutan kedua inovasi ini [4].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Desa Matotonan berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Pelatihan pengolahan pangan lokal membuka sumber pendapatan baru bagi pelaku UMKM yang sebelumnya tidak memiliki produk bernilai jual dari bahan subsisten seperti sagu dan talas. 30 pelaku UMKM dari lima dusun menguasai teknik pengolahan pangan lokal menjadi produk siap jual.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Diversifikasi olahan pangan lokal meningkatkan keragaman menu dari bahan sagu, pisang, talas, dan keladi yang tersedia di desa. Produk olahan mencakup kue sagaik, cendol sagu, donat getek, dan perkedel keladi.
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas Pelatihan STP Trisakti dan UNP meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan warga melalui pendidikan nonformal berbasis komunitas. 93,33% peserta pelatihan awal menyatakan pengetahuan bertambah dan 86,67% menyatakan keterampilan motorik meningkat.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Website desa dan produk olahan pangan lokal bersama membuka ekosistem pariwisata yang menciptakan pekerjaan di sektor pemanduan, homestay, kuliner, dan pengelolaan konten digital. Desa Matotonan tercatat dalam 300 Besar ADWI 2023 kategori Rintisan.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Model wisata berbasis kearifan lokal menjaga kelestarian rumah Uma, tradisi Sikerei, dan lanskap alam pedalaman Siberut sebagai aset yang dilindungi, bukan dikorbankan. Rumah Uma tradisional dan ritual Sikerei tetap dipertahankan sebagai bagian dari paket wisata budaya.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi Desa Matotonan, UNP, dan Pemkab Kepulauan Mentawai menciptakan model kemitraan desa-akademisi-pemerintah untuk transformasi desa terpencil. Bupati Kepulauan Mentawai hadir langsung dalam peluncuran website desa pada Agustus 2025.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Matotonan relevan direplikasi di desa adat terpencil lain di Kepulauan Mentawai yang memiliki kekayaan budaya dan pangan lokal serupa namun belum tersentuh digitalisasi. Elemen inti yang dapat ditransfer adalah pembentukan tim pengelola website desa dari unsur perangkat desa dan Pokdarwis, pelatihan diversifikasi pangan lokal bersama perguruan tinggi, dan pendaftaran desa ke program ADWI sebagai langkah menuju pengakuan nasional [4], [6].

UNP sendiri telah menerjunkan 5.051 mahasiswa KKN ke 159 desa di berbagai kabupaten/kota pada periode Juli-Desember 2025, membuka jalur replikasi yang luas di Sumatera Barat, termasuk Kepulauan Mentawai [8]. Dokumentasi program PDB UNP di Matotonan berpotensi menjadi paket pengetahuan yang dapat digunakan perguruan tinggi lain atau dinas terkait di kabupaten kepulauan lain.

 

Daftar Pustaka

[1] Humas UNP, “UNP Dorong Desa Matotonan Mentawai ke Panggung Dunia Lewat Website dan Inovasi Pangan Lokal,” unp.ac.id, 17 Agu. 2025. [Daring]. Tersedia: https://unp.ac.id/news/17-08-2025/unp-dorong-desa-matotonan-mentawai-ke-panggung-dunia-lewat-website-dan-inovasi-pangan-lokal.

[2] A. Komaini dkk., “Pengembangan Desa Adat ‘Bumi Sikerei’ Matotonan (Desa Suku Asli Pedalaman Mentawai) sebagai Desa Wisata Kelas Dunia Perpaduan Sport Tourism dan Wisata Budaya,” Garuda Kemendikti Saintek, 2024. [Daring]. Tersedia: https://garuda.kemdiktisaintek.go.id.

[3] Desa Matotonan, “Website Resmi Desa Matotonan,” desamatotonan.id, 2025. [Daring]. Tersedia: https://desamatotonan.id.

[4] Kementerian Pariwisata RI, “Desa Wisata Matotonan,” jadesta.kemenpar.go.id, 2023. [Daring]. Tersedia: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/matotonan.

[5] Institut Pariwisata Trisakti, “Pengembangan Ekowisata di Kawasan Desa Penyangga TNS (Desa Muntei, Desa Madobag, dan Desa Matotonan),” iptrisakti.ac.id. [Daring]. Tersedia: https://iptrisakti.ac.id/pengembangan-ekowisata-di-kawasan-desa-penyangga-tns-desa-muntei-desa-madobag-dan-desa-matotonan-2/.

[6] I. Mayasari, N. Widyastuti, F. Asmaniati, dan D. Gantina, “Pelatihan Diversifikasi Produk Kearifan Pangan Lokal di Desa Wisata Muntei dan Desa Wisata Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat,” Jurnal Pemberdayaan Pariwisata, vol. 4, no. 2, hal. 126-137, 2022. [Daring]. Tersedia: https://doi.org/10.30647/jpp.v4i2.1638.

[7] Z. Zubir, Armansyah, R. Adawiyah, dan A. A. Pramesti, “Nan Terpencil, Terasing dan Termarginalkan: Desa Matotonan di Jantung Pedalaman Pulau Siberut Kabupaten Kepulauan Mentawai 2000-2020,” Journal Idea of History, vol. 5, no. 2, hal. 1-13, 2022. [Daring]. Tersedia: https://journal.fib.uho.ac.id/index.php/history/article/download/1885/1322.

[8] Humas UNP, “UNP Dorong Transformasi Desa Lewat KKN Kampus Berdampak: DPL Jadi Ujung Tombak Inovasi di Nagari,” unp.ac.id, 20 Mei 2025. [Daring]. Tersedia: https://unp.ac.id/news/20-05-2025/unp-dorong-transformasi-desa-lewat-kkn-kampus-berdampak-dpl-jadi-ujung-tombak-inovasi-di-nagari.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Website Desa Interaktif dan Inovasi Olahan Pangan Lokal Desa Matotonan "Bumi Sikerei"
Alamat
Desa Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat
Inovator
Perangkat Desa Matotonan dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis)
Kontak
Website https://desamatotonan.id, Telepon Kantor Desa +62-852-1974-4054
Lokasi