Ringkasan Inovasi
Pemerintah Desa Tundakan di Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan menghadirkan listrik tenaga surya bagi warga Kampung Bayur di RT 3 — sebuah permukiman yang terletak delapan kilometer dari pusat desa di tengah kawasan hutan perbukitan yang belum pernah terjangkau jaringan listrik PLN. Paket panel surya yang dibagikan kepada setiap kepala keluarga terdiri dari papan panel penangkap cahaya, baterai penyimpan daya, dan rangkaian lampu hemat energi — sebuah sistem yang bekerja tanpa bahan bakar minyak, tanpa mesin besar, dan tanpa bentangan kabel panjang yang mustahil dibangun di medan terjal seperti Bayur. [1]
Tujuan utama inovasi ini adalah mengakhiri keterisolasian energi yang selama bertahun-tahun membuat warga Kampung Bayur hanya bisa mengandalkan lampu tempel minyak tanah setelah matahari terbenam. Dampak utamanya terlihat pada berubahnya kualitas hidup warga secara menyeluruh: anak-anak dapat belajar di malam hari, ibu-ibu dapat melanjutkan kegiatan menganyam kerajinan sebagai sumber penghasilan tambahan, serta kesehatan pernapasan warga meningkat seiring ditinggalkannya lampu pelita yang menghasilkan asap beracun. [2]
Latar Belakang
Desa Tundakan adalah desa yang memiliki nilai sejarah tinggi sebagai salah satu saksi perlawanan Pangeran Antasari dan Tumenggung Jalil terhadap penjajah Belanda di Kalimantan Selatan. Namun nilai sejarah itu tidak cukup untuk mengangkat kesenjangan infrastruktur dasar yang sangat nyata: dari tiga RT yang ada di desa, satu di antaranya — RT 3 yang dikenal sebagai Kampung Bayur — terletak delapan kilometer dari pusat desa di kawasan hutan perbukitan yang hanya bisa dicapai dengan sepeda motor modifikasi dalam waktu satu jam melewati jalan tanah liat yang licin saat musim hujan. [3]
Kondisi jalan yang sulit itu menjadikan pembangunan jaringan listrik konvensional bukan sekadar mahal, tetapi secara teknis hampir mustahil dilakukan dalam jangka waktu yang terukur. Akibatnya, warga Kampung Bayur hidup selama bertahun-tahun dalam kegelapan total setiap kali matahari terbenam, hanya ditemani nyala lampu tempel berbahan bakar minyak tanah yang asapnya mencemari udara di dalam rumah dan membebani pengeluaran keluarga setiap bulan. Ketiadaan penerangan ini bukan hanya masalah kenyamanan — ia adalah hambatan struktural yang membatasi jam produktif warga, menghambat belajar anak, dan memperlebar kesenjangan kehidupan antara Kampung Bayur dengan RT lain di Desa Tundakan yang sudah lama menikmati aliran listrik PLN. [1]
Ironi yang dirasakan warga Kampung Bayur adalah bahwa kawasan hutan tempat mereka tinggal justru menerima paparan sinar matahari yang sangat melimpah sepanjang tahun — sumber energi gratis yang selama ini tidak pernah dimanfaatkan. Pemerintah Desa Tundakan kemudian membaca peluang ini secara strategis: dengan berkoordinasi dengan Dinas Pertambangan Kabupaten Balangan yang memiliki program pengadaan panel surya bagi masyarakat yang belum teraliri listrik, desa dapat memotong jalur birokrasi yang panjang dan langsung mendaftarkan warga RT 3 sebagai penerima program nasional elektrifikasi desa terpencil yang dicanangkan Kementerian ESDM. [4]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah Solar Home System — paket panel listrik tenaga surya yang dipasang secara individual di setiap rumah kepala keluarga Kampung Bayur, menjadikan setiap rumah sebagai pembangkit energi listriknya sendiri yang mandiri. Sistem ini terdiri dari tiga komponen utama: panel fotovoltaik yang dipasang di atap atau pekarangan untuk menangkap radiasi matahari sepanjang siang, baterai penyimpan daya yang mengakumulasi energi untuk digunakan pada malam hari, dan rangkaian lampu LED hemat energi yang dapat menerangi ruangan-ruangan utama dalam rumah. Desain modular ini memungkinkan setiap rumah beroperasi secara mandiri tanpa harus bergantung pada jaringan kabel antara rumah yang sulit dibangun di medan perbukitan. [1]
Keunggulan teknologi ini dalam konteks Kampung Bayur terletak pada eliminasi dua hambatan infrastruktur terbesar yang selama ini menghalangi elektrifikasi kawasan terpencil: tidak ada kebutuhan bentangan kabel sepanjang delapan kilometer di medan terjal yang harganya bisa melebihi nilai manfaat yang dihasilkan, dan tidak ada kebutuhan mesin generator dengan biaya operasional bahan bakar yang tidak terjangkau bagi keluarga miskin di pedalaman. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Andy Noor Sommeng pernah menegaskan bahwa “Solar home system ideal untuk penerangan di daerah-daerah terpencil” — dan pengalaman Kampung Bayur membuktikan pernyataan itu dengan cara yang paling konkret. [4]
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai pada 2016 ketika Pemerintah Desa Tundakan melakukan pendataan menyeluruh terhadap warga RT 3 Kampung Bayur yang belum memiliki akses listrik. Tim yang diterjunkan langsung ke kawasan Bayur tidak hanya menghitung jumlah kepala keluarga, tetapi juga memetakan kondisi fisik setiap rumah, ketersediaan area terbuka yang menerima paparan matahari langsung, dan kebutuhan riil daya yang diperlukan setiap keluarga. Data yang dikumpulkan dari survei lapangan ini menjadi dokumen utama yang diajukan kepada Dinas Pertambangan Kabupaten Balangan sebagai landasan pencairan anggaran pengadaan perangkat panel surya. [2]
Setelah program disetujui oleh Dinas Pertambangan dan perangkat tiba di desa, pemerintah desa melatih beberapa pemuda Kampung Bayur dalam teknik pemasangan dasar panel surya agar proses instalasi dapat dilakukan oleh tenaga lokal sendiri tanpa harus bergantung pada teknisi dari luar yang sulit dan mahal untuk didatangkan ke kawasan terpencil itu. Eksperimen awal menghadapi kendala teknis saat menentukan sudut kemiringan optimal panel di kawasan yang sebagian wilayahnya ternaung oleh kanopi pohon hutan — sebuah tantangan yang tidak pernah muncul dalam panduan instalasi baku yang dirancang untuk kawasan terbuka. Pembelajaran dari kegagalan penentuan sudut kemiringan itu menghasilkan metode lokal yang mengutamakan survei ketersediaan matahari langsung di setiap titik pemasangan sebelum penyangga panel dipasang. [1]
Tahap terakhir adalah serah terima perangkat yang disertai dengan sesi edukasi bagi setiap kepala keluarga mengenai cara membersihkan permukaan panel dari debu dan kotoran, cara memeriksa kondisi baterai, dan cara menghindari beban berlebih yang bisa memperpendek usia sistem. Pendekatan partisipatif yang menjadikan penerima sebagai pemilik yang bertanggung jawab penuh atas perawatan alat — bukan sekadar penerima bantuan yang pasif — adalah pilihan yang disengaja oleh pemerintah desa untuk memastikan teknologi ini tidak mengalami nasib yang sama dengan banyak program bantuan peralatan desa yang rusak dan ditinggalkan begitu masa garansi habis. [2]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu pertama adalah ketepatan pilihan teknologi yang sesuai dengan kendala geografis spesifik Kampung Bayur. Solar Home System dipilih bukan karena teknologi ini yang paling canggih, melainkan karena ia adalah satu-satunya solusi yang secara teknis dan finansial memungkinkan untuk medan sejauh delapan kilometer dengan jalan tanah liat yang tidak bisa dilewati kendaraan angkutan berat. Ketepatan memilih teknologi yang sesuai konteks — bukan teknologi yang paling populer atau paling sering dipromosikan — adalah keputusan yang menentukan apakah program elektrifikasi ini akan berhasil sejak hari pertama atau gagal sejak tahap perencanaan. [4]
Faktor kedua adalah kemampuan pemerintah desa menghubungkan kebutuhan warga RT 3 dengan program yang sudah tersedia di Dinas Pertambangan Kabupaten Balangan, sehingga tidak perlu menggunakan anggaran desa sendiri untuk membiayai pengadaan yang nilainya melampaui kapasitas fiskal desa. Kepala desa dan perangkatnya bertindak sebagai penghubung aktif antara program kabupaten dengan kebutuhan riil warga terpencil — peran yang sering kali tidak terlihat tetapi sangat menentukan apakah program pemerintah daerah benar-benar sampai ke tangan warga yang paling membutuhkan atau berhenti di tahap perencanaan di atas kertas. [1]
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling langsung dan paling terukur adalah berakhirnya kegelapan total di Kampung Bayur setiap malam setelah bertahun-tahun warga hanya bergantung pada lampu tempel minyak tanah yang redup dan berbahaya. Seluruh kepala keluarga di RT 3 kini berstatus mandiri energi — sebuah perubahan status yang bukan hanya berdimensi teknis, tetapi secara simbolis menyetarakan derajat mereka dengan warga dua RT lainnya yang sudah lama menikmati listrik. Penghematan pengeluaran bulanan dari tidak lagi membeli minyak tanah juga menjadi manfaat ekonomi langsung yang terasa oleh setiap keluarga sejak bulan pertama sistem beroperasi. [1]
Dampak pada kualitas pendidikan anak adalah salah satu yang paling terasa secara sosial. Anak-anak Kampung Bayur yang sebelumnya harus menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum gelap atau tidak menyelesaikannya sama sekali, kini memiliki waktu belajar yang tidak dibatasi oleh terbenamnya matahari. Perubahan ini, meskipun tidak langsung terukur dalam data, adalah investasi pembangunan manusia jangka panjang yang manfaatnya akan terlihat satu generasi ke depan. Ibu-ibu yang menganyam kerajinan tangan sebagai sumber penghasilan tambahan keluarga juga mendapatkan perpanjangan jam kerja efektif yang secara langsung menambah volume produksi dan pendapatan mereka. [2]
Dampak kesehatan yang tidak kalah pentingnya adalah menghilangnya paparan asap pembakaran minyak tanah dari dalam rumah yang selama bertahun-tahun menjadi penyebab gangguan saluran pernapasan kronis terutama bagi anak-anak dan lansia. Penelitian di berbagai konteks serupa di Indonesia menunjukkan bahwa penggantian lampu minyak tanah dengan lampu listrik dapat menurunkan angka infeksi saluran pernapasan atas secara signifikan dalam satu atau dua tahun pertama setelah elektrifikasi. Dampak kesehatan, dampak pendidikan, dan dampak ekonomi ini saling memperkuat satu sama lain membentuk spiral peningkatan kualitas hidup yang akan terus bergerak ke atas selama sistem panel surya terjaga berfungsi dengan baik. [4]
Tantangan dan Kendala
Tantangan teknis utama yang dihadapi selama implementasi adalah keterbatasan paparan sinar matahari langsung di kawasan hutan perbukitan yang sebagian wilayahnya ternaung kanopi pohon. Panel surya yang dirancang untuk kondisi paparan sinar penuh menghasilkan daya yang jauh lebih rendah di bawah naungan parsial, sehingga tim instalasi harus melakukan survei titik per titik di setiap pekarangan rumah untuk menemukan area yang menerima paparan optimal sebelum memasang penyangga. Tantangan ini tidak tercantum dalam panduan teknis standar dan hanya bisa dipecahkan oleh pengetahuan lokal tentang pola pergerakan matahari dan topografi spesifik Kampung Bayur. [2]
Tantangan jangka panjang yang lebih berat adalah pemeliharaan dan penggantian komponen yang habis masa pakainya, terutama baterai yang memiliki siklus hidup terbatas. Ketika baterai mulai melemah daya simpannya setelah beberapa tahun, warga yang sudah terbiasa dengan kenyamanan listrik akan menghadapi penurunan layanan yang bisa memicu frustrasi — dan jika tidak ada mekanisme penggantian yang jelas, sistem yang dibangun dengan susah payah bisa kembali terbengkalai. Sulitnya akses ke Kampung Bayur juga memperlambat respons ketika ada komponen yang rusak dan membutuhkan penggantian segera, sehingga kemampuan teknisi lokal yang dilatih sejak awal menjadi penentu apakah gangguan kecil dapat diselesaikan di tempat atau harus menunggu kedatangan teknisi dari luar. [1]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Pemerintah Desa Tundakan mengalokasikan dana desa secara khusus untuk pemeliharaan berkala sistem panel surya, termasuk penggantian komponen baterai dan lampu yang mengalami penurunan fungsi setelah penggunaan beberapa tahun. Dana ini dikelola oleh kelompok teknisi lokal dari pemuda Kampung Bayur yang sudah mendapat pelatihan instalasi dan perbaikan dasar arus searah sejak program dimulai — sebuah keputusan yang memastikan bahwa pemeliharaan dapat dilakukan dari dalam tanpa harus bergantung pada tenaga ahli dari luar yang tidak mungkin merespons dengan cepat di kawasan terpencil seperti Bayur. [2]
Strategi jangka panjang Pemerintah Desa Tundakan mencakup rencana peningkatan kapasitas penyimpanan daya agar warga secara bertahap bisa menghidupkan perangkat elektronik lain seperti televisi dan pengisi daya telepon seluler — kebutuhan yang semakin nyata seiring masuknya era digitalisasi perdesaan yang didorong oleh program pemerintah pusat. Dinas Perhubungan Kabupaten Balangan juga sudah mencanangkan program Penerangan Jalan Umum (PJU) tenaga surya untuk desa terpencil pada 2026, yang berarti ekosistem dukungan kelembagaan bagi keberlanjutan energi surya di kawasan terpencil Balangan terus menguat dari tingkat desa hingga kabupaten. [5]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi listrik tenaga surya Desa Tundakan berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs PBB 2030. Dengan menghadirkan energi bersih terbarukan ke kawasan terpencil yang terisolasi secara geografis, inovasi ini menyentuh dimensi akses energi, pengurangan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan wilayah secara bersamaan dalam satu intervensi teknologi tepat guna.
| No SDGs | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Penghematan pengeluaran bulanan dari tidak lagi membeli minyak tanah secara langsung meningkatkan disposable income keluarga miskin di Kampung Bayur. Perpanjangan jam produktif bagi ibu penganyam kerajinan tangan pada malam hari menambah volume produksi dan pendapatan yang sebelumnya terpotong oleh kegelapan. |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas | Anak-anak Kampung Bayur kini memiliki waktu belajar yang tidak dibatasi oleh terbenamnya matahari, menghilangkan hambatan struktural terbesar yang selama bertahun-tahun menghalangi mereka untuk mengerjakan tugas sekolah dengan tuntas. Akses penerangan malam hari adalah prasyarat paling mendasar bagi kesetaraan pendidikan antara anak desa terpencil dan anak perkotaan. |
| SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau | Solar Home System yang dipasang di setiap rumah Kampung Bayur adalah implementasi langsung SDGs 7 pada skala paling mikro: akses universal terhadap energi yang andal, berkelanjutan, modern, dan terjangkau bagi kelompok masyarakat yang paling termarjinalkan dari jaringan listrik nasional. Inovasi ini selaras dengan target Kementerian ESDM untuk melistriki 2.500 desa terpencil melalui teknologi panel surya. |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | Elektrifikasi Kampung Bayur secara simbolis dan substansial menyetarakan derajat warga RT 3 dengan warga dua RT lainnya di Desa Tundakan yang sudah lama menikmati listrik PLN. Pengurangan kesenjangan akses energi antara pusat dan pinggiran, antara wilayah terjangkau PLN dan yang tidak terjangkau, adalah kontribusi nyata pada pengurangan ketimpangan pembangunan wilayah. |
| SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim | Penggantian lampu minyak tanah dengan sistem tenaga surya menghilangkan emisi karbon lokal dari pembakaran bahan bakar fosil di dalam rumah sekaligus menjaga kelestarian kawasan hutan Kampung Bayur yang tidak perlu dirusak oleh pembangunan infrastruktur kelistrikan konvensional. Setiap panel surya yang terpasang di rumah warga Bayur adalah kontribusi kecil namun nyata pada pengurangan emisi karbon nasional. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Desa Tundakan sangat relevan untuk direplikasi oleh ratusan desa terpencil di Kalimantan Selatan — dan lebih luasnya di seluruh wilayah Indonesia timur dan tengah — yang menghadapi kombinasi serupa antara isolasi geografis, kelimpahan paparan sinar matahari, dan ketidakmungkinan finansial-teknis membangun jaringan listrik konvensional. Kunci replikasinya bukan pada teknologi yang mahal, melainkan pada strategi pemerintah desa untuk secara aktif menghubungkan kebutuhan warganya dengan program elektrifkasi panel surya yang sudah tersedia di tingkat kabupaten dan kementerian — peran sebagai penghubung yang sering kali lebih menentukan dari ketersediaan anggaran desa itu sendiri. [4]
Contoh replikasi yang sudah terbukti di wilayah Balangan sendiri adalah Desa Liyu di Kecamatan Halong yang pada September 2022 memasang panel surya berkapasitas 1.500 Watt di balai adat dan dua kawasan wisata, dengan dukungan dari Desa Bumi dan berbagai mitra — dan hasilnya adalah peningkatan kunjungan pariwisata yang mencapai 6.000 kunjungan per bulan. Pengalaman Desa Liyu membuktikan bahwa model panel surya untuk desa terpencil bisa berkembang dari sekadar memenuhi kebutuhan penerangan rumah tangga menjadi infrastruktur pendukung pertumbuhan ekonomi wisata yang lebih luas — sebuah skenario scale up yang sangat relevan bagi Desa Tundakan dengan sejarahnya sebagai saksi perlawanan Pangeran Antasari yang berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah. [6]
Daftar Pustaka
[1] N. Azasi, “Inovasi Desa dalam Memanen Energi: Pengalaman Kampung Bayur Desa Tundakan,” Kompasiana. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/noorazasi/5f4a5807d541df0cbe787982/inovasi-desa-dalam-memanen-energi
[2] Inovasi Desa, “ID 00657: Pemerintah Desa Tundakan Menghadirkan Listrik Tenaga Surya untuk Menerangi Permukiman Terpencil dan Menggerakkan Ekonomi Warga,” inovasi.web.id. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/pemerintah-desa-tundakan-menghadirkan-listrik-tenaga-surya-untuk-menerangi-permukiman-terpencil-dan-menggerakkan-ekonomi-warga/
[3] YouTube (Inovasi Desa), “Inovasi Desa Tundakan Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan,” 25 Nov. 2018. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=i_KJeA5k9OI
[4] Kementerian ESDM RI, “Panel Surya Solusi Jangkau Desa Terpencil,” esdm.go.id, 27 Sep. 2017. [Online]. Available: https://www.esdm.go.id/en/unit-news/directorate-general-ebtke/panel-surya-solusi-jangkau-desa-terpencil
[5] Cakrawala iNews, “Program PJU Tenaga Surya untuk Desa Terpencil di Balangan,” TikTok, 27 Feb. 2026. [Online]. Available: https://www.tiktok.com/@cakrawala.inews/photo/7612144741009984786
[6] Antara Kalsel, “Warga Dayak Desa Liyu Manfaatkan Panel Surya Gelar MPG ke-5,” kalsel.antaranews.com, 27 Jul. 2023. [Online]. Available: https://kalsel.antaranews.com/berita/380790/warga-dayak-desa-liyu-manfaatkan-panel-surya-gelar-mpg-ke-5
[7] Antara Kalsel, “Energi Terbarukan untuk Masyarakat Adat Desa Liyu,” kalsel.antaranews.com, 21 Sep. 2022. [Online]. Available: https://kalsel.antaranews.com/berita/343489/energi-terbarukan-untuk-masyarakat-adat-desa-liyu
[8] Medcom, “Potensi Energi Terbarukan Bisa Dimaksimalkan untuk Akses Kelistrikan di Daerah Terpencil,” medcom.id, 16 Des. 2023. [Online]. Available: https://www.medcom.id/ekonomi/bisnis/dN6xnQvk-potensi-energi-terbarukan-bisa-dimaksimalkan-untuk-akses-kelistrikan-di-daerah-terpencil
[9] Bappeda Kabupaten Balangan, “Profil dan Potensi Kabupaten Balangan 2021–2022,” Paringin: Pemerintah Kabupaten Balangan, 2022. [Online]. Available: https://ppid.palangkaraya.go.id/storage/dokumen/4L0OODXaHRPO7LS2nVbMgS8JAUVzjFnAkeNZDlZs.pdf
mantab, bermanfaat