Listrik menjadi salah satu kebutuhan paling prioritas bagi masyarakat desa di Kabupaten Pakpak Bharat. Tidak semua masyarakat desa dapat menikmati ketersediaan sarana listrik, seperti Desa Mahala. Keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Desa Mahala.
Desa Mahala terletak di Kecamatan Tinada, Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatra Utara. Desa ini terdiri dari lima dusun, yaitu Dusun Kuta Delleng, Dusun Kuta Nangka, Dusun Rahib, Dusun Ampeng dan Dusun Lae Meang. Desa Mahala memiliki penduduk sekitar 90 Kepala Keluarga (KK).
Nama Inovasi
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH)
Pengelola
Pemerintah Desa Mahala dan Koperasi Mersada
Alamat
Desa Mahala, Kecamatan Tinada, Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatra Utara
Kontak
Temmu Berutu (Kepala Desa Mahala) – +62-812-6045-0627
Sedang Tumangger (Ketua Koperasi Mersada) – +62-813-7007-7389
Kondisi wilayah yang masih sulit dijangkau menyebabkan wilayah ini menjadi Desa Tertinggal. Dengan jalan yang rusak, dan tiga dusun belum ada aliran listrik. wilayah ini juga memiliki sumber air yang cukup memadai.
Kesulitan-kesulitan ini menjadi pendorong untuk menggali potensi desa dan mengembangkan inovasi guna menjawab persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Desa Mahala. Salah seorang unsur dari lembaga swadaya masyarakat: “Suluh Muda Indonesa” memberi gagasan untuk membuat PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro).
Lembaga suadaya masyarakat terus berjuang untuk mengalirkan listrik di ketiga dusun yaitu Dusun rahib, Dusun Ampeng dan Dusun Lae Meang. Pemerintah desa juga sangat mendukung upaya yang dilakukan oleh LSM tersebut, hingga akhirnya bahu membahu seluruh komponen bekerja sama dan pada tahun 2015 listrik sudah mulai beroperasi dan dapat dialirkan kerumah-rumah penduduk.
Dengan adanya PLTMH tersebut saat ini seluruh warga desa mahala mampu menikmati listrik meskipun harus mengeluarkan biaya untuk operasional bulanan PLTMH dan dikelola oleh pemerintah desa melalui Koperasi.
SOLUSI
Kerja sama yang baik antar pemerintahan Desa bersama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat telah berhasil membuat sebuah PLTMH yang sudah beroperasi memenuhi kebutuhan masyarakat.
MANFAAT
Manfaat dari PLTMH yaitu:
1. untuk memenuhi kebutuhan listrik 24 jam per hari
2. dengan adanya listrik kegiatan pelayanan kantor desa menjadi lebih maksimal.
3. Dengan adanya listrik juga menumbuhkan minat belajar bagi anak-anak sekolah didesa Mahala dan mendorong peningkatan perekonomian masyarakat desa Mahala.
PROSES PENYELESAIAN MASALAH
1. Pemerintah desa mendengarkan keluhan masyarakat akan kondisi tidak adanya listrik dan mengumpulkan informasi guna mencari solusi masalah tersebut.
2. Pemerintah desa berinisiatif untuk membangun PLTMH
3. Pemerintah desa bersama masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat mengadakan rapat untuk menggalang dana pembuatan PLTMH
PENDANAAN
1. Proses pembangunan PLTMH didanai oleh USAID Amerika sebesar + 1 M
2. Untuk pemeliharaan PLTMH Pemerintah Desa Mahala juga mengalokasikan anggaran dari APBDes suumber Dana Desa.
3. Berdasarkan kesepakatan warga desa listrik dikelola oleh Koperasi Mersada dengan iuran perbulan sebesar Rp. 35.000,-/kk
PELAKU
1. LSM “Suluh Muda Indonesia” bekerja sama dengan pemerintah Desa Mahala
HASIL
1. Pada Tahun 2015 PLTMH berhasil dibangun dan beroperasi
2. Masyarakat dapat menikmati listrik secara langsung
PEMBELAJARAN
Desa dapat memanfaatkan sumber air sebagai sarana kebutuhan dasar masyarakat yang ada seperti listrik dan menjaring kerjasama dengan berbagai pihak baik Organisasi maupun pemerintah desa.
REKOMENDASI
PLTMH membutuhkan perawatan tenis (maintenance) yang tidak sederhana manakala dalam maintenance terdapat kesalahan maka bisa jadi dapat berakibat pada kerusakan komponen-komponen mesin dan instalasi perpipaan yang mendukung operasional PLTMH. Oleh karena itu perlunya penguatan kapasitas SDM pengelola PLTMH guna kelancaran operasionalnya dan memberikan perawatan yang tepat. Selain sebagai penunjang kebutuhan dasar bagi masyarakat desa, dengan adanya PLTMH juga sebagai pendorong perekonomian pemerintah maupun masyarakat desa.
Desa Kanding menaruh perhatian besar pada urusan sampah sehingga lahir gagasan untuk mengurangi sampah, terutama sampah anorganik, dengan mengolahnya menjadi bahan baku pembuatan paving .
Sampah merupakan masalah besar yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama sampah anorganik. Lalu, muncullah inovasi paving blok dari sampah plastik.
Nama Inovasi
Paving dari Sampang Plastik
Pengelola
Paguyuban Perdani
Alamat
Desa Kanding, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
Kontak
Kuwat Waluyo
Telepon
+62-815-6465-1549
Inovasi ini diharapkan mampu mengubah nilai sampah menjadi barang yang tepat guna dan mempunyai nilai ekonomis. Produksi paving akan dilaukan oleh para pemuda desa yang tergabung dalam Paguyuban Perdani.
Paguyuban Perdani terbentuk untuk mewujudkan Desa Kanding yang lebih produktif dan lebih tanggap dalam menghadapi permasalahan sosial yang ada.
Desa Kanding terletak Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Desa ini sempat jadi bahan pemberitaan media karena kakek buyut Menteri Perdagangan dan Perindustrian sekaligus calon presiden Suriname, Raymond Sapoen, disebut-sebut berasal dari desa itu.
Canggih bukan? Desa Kaliurip bisa mengolah sampah plastik menjadi BBM (Bahan Bakar Minyak).
Desa Kaliurip terletak di Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Untuk cara pengelolaannya yaitu, plastik dimasukan kedalam tungku yang kemudian dibakar hingga gosong dengan suhu kurang lebih 150 derajat celcius, lalu dialirkan ke pipa dan masuk proses penyulingan dengan pembagian terpisah antara premium dan solar.
Alat ini di desain dan dibuat oleh Irhamto diberi anam “Reaktor Kondensor Destilator” (RKD). Di samping itu alat ini bisa menghasilkan produk berupa arang hasil dari pembakaran yang dapat digunakan sebagai campuran batako.
Melalui teknik budidaya air inilah, pembudidaya ikan mengkondisikan air beserta kolam atau plasma budidaya ikan sehat dan bernutrisi.
Dengan air yang sehat, di lokasi plasma ikan akan muncul dan tumbuh berbagai makhluk hidup terutama plankton, alga dan sebagainya yang bisa menjadi pakan ikan secara alami.
Sementara untuk pakan ikan menggunakan pupuk atau limbah organik dengan teknik fermentasi sehingga menghasilkan maggot (belatung) sebagai pakan ikan sehingga menjadi lebih efisien dan menghemat pakan pelet.
Budidaya ikan dengan teknik aqua culture (budidaya perairan) dikembangkan Komunitas Petani Organik Sejahtera (Kompos) Ciptarasa, Desa Karanglewas Kidul, Kecamatan Karanglewas.
Dengan keberhasilan budidaya inilah, produk benih ikan lele organik semakin dilirik oleh para pedagang hingga pembudidaya ikan lokal dan luar daerah.
Teknik ini merupakan bentuk pemeliharaan dan penangkaran berbagai macam hewan atau tumbuhan perairan yang menggunakan air sebagai komponen pokoknya
Teknik Aqua Culture ini juga telah menjadi bahan studi banding bagi pembudidaya ikan dari wilayah Banyumas hingga akademisi. Pasalnya dibandingkan dengan teknik budidaya ikan yang lain, teknik ini mempunyai kelebihan berupa efisiensi pakan, media budidaya dan biaya operasional cukup rendah.
Sementara produktivitas ikan organic cukup tinggi sehingga lebih menguntungkan.
Menggunakan sistem budidaya ‘aqua culture’ atau budidaya air, 12 orang anggota komunitas ini terbukti berhasil menyelenggarakan perikanan organik sehat berkelanjutan. Berkat kerja keras dan cerdas komunitas, kini omset penjualan benih ikan menjadi belasan juta per bulan
Sebagian besar masyarakat pesisir, terutama di daerah kepulauan, belum mendapatkan akses listrik. Hal itu menimbulkan kesenjangan dan menurunnya kesejahteraan bagi pelayan. Cantilever Piezoelectric Energy Harvester with Energy Bank System for Fisherman (CAPTION) merupakan inovasi teknologi dikembangkan untuk memberikan pasukan listrik bagi masyarakat pesisir.
Minimnya pasokan listrik di daerah pesisir melahirkan satirisme sosial. Salah satunya, yakni lemari pendingin ikan acap dialihfungsikan sebagai lemari baju. Kondisi ini sangat memprihatinkan bila terus-menerus menimpa masyarakat nelayan.
CAPTION dikembangkan oleh tiga mahasiswa Teknik Elektro Universitas Brawijaya, yaitu Kevin Rachman Firdaus, Ariq Kusuma Wardana, dan Mohammad Mufti Fajar. Alat ini mampu menyelesaikan masalah elektrifikasi bagi daerah pesisir dibandingkan teknologi generator yang rumit. Alat ini cukup sederhana dan mudah dimanfaatkan oleh nelayan, terlebih biaya produksi alat ini tergolong ekonomis sekitar Rp 950 ribu.
CAPTION berusaha menawarkan alternatif solusi dengan memanfaatkan gelombang laut dan kantilever piezoelektrik. Piezoelektrik adalah alat pemanen energi yang bersumber dari getaran dan diubah menjadi tegangan listrik. Sementara sistem kantilever menghasilkan getaran dan defleksi secara berulang. CAPTION itu fungsinya seperti generator, tepatnya energi harvester yang bertugas untuk mengumpulkan energi.
CAPTION berbentuk gearbox yang diletakkan pada sisi kiri dan kanan kapal yang berisi pelampung, mekanisme gear, blade serta kantilever piezoelektrik. Selain itu, alat ini dilengkapi dengan energy storage berupa accumulator untuk menjadi energy harvester.
Saat pelampung naik akan memicu dan mengggerakan mekanisme roda gear. Proses tersebut kelak melipatgandakan putaran dari roda gigi yang besar ke kecil. Sumber listrik berasal dari material bernama kristal piezoelektrik. Material ini memiliki kelebihan karena lebih mencari keadaan energi yang tidak konstan atau berubah.
Sistem ini menghasilkan energi listrik yang murah dan mudah diaplikasikan. CAPTION mampu menghasilkan energi sebesar 17,84 Wh hingga 22,12 Wh. Daya itu cukup untuk memberi penerangan bagi nelayan saat melaut selama 6-8 jam. Energi ini dapat ditingkatkan tergantung pada kualitas dan kuantitas piezoelektriknya, menambah kuantitas defleksi piezoelektrik, serta lamanya penyimpanan energi.
Selain itu, pemerintah juga menyadari, pembangkitan listrik berbahan dasar batubara perlu direvisi sehingga pemanfaatan renewable energy perlu dimanfaatkan.
Inovasi produk gula kelapa mampu mendongkrak harga jual semakin meningkat. Pemanfaatan Oven Rotary Blower mampu menghasilkan gula kristal kualitas tinggi pengrajin gula di Desa Panembangan memberikan contoh praktik inovasi teknologi yang menghasilkan produk unggulan desa kualitas ekspor.
Desa Panembangan berada di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Para pengrajin gula kelapa di sana berhasil meningkatkan nilai produk dari gula kelapa cetak menjadi gula kelapa kristal (gula semut). Produk pangan yang mereka hasilkan sudah mendapatkan sertifikat organik sehingga sangat aman dikonsumsi publik.
Nama Inovasi
Teknologi Oven Rotary Blower
Pengelola
Pengrajin Gula Kelapa Desa Panembangan
Alamat
Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
Kontak
Soleh, SP
Telepon
+62-813-9125-9253
Pada segi harga, perubahan bentuk produk mampu meningkatkan harga jual gula kelapa. Harga untuk gula kelapa Cetak ada pada kisaran Rp 12.000 – Rp 13.500 per Kg, sedangkan gula kristal organik mencapay harga Rp 17.000 – Rp 25.000 perKg. Rentang harga sangat tergantung pada kualitas hasil akhir dan kemasan/label produk.
Untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi, para pengrajin gula kristal memanfaatkan teknologi berupa oven rotary blower. Teknologi ini berfungsi untuk menghilangkan kadar air dalam gula. Oven ini menggunakan sistem pengeringan menggunakan udara panas dari tungku yang disirkulasikan melalui blower penghembus udara. Oven ini menggunakan bahan bakar gas LPG.
Produk gula kristal yang baik memiliki kadar air hingga diangka 2 prosen. Proses pembuatan produk dilakukan secara homogen dan higienis. Gula kristal dari Desa Panembangan mampu menembus pasar internasional berkat dukungan teknologi pendukung yang memadai.
Hingga kini, keripik masih menjadi camilan favorit masyarakat Indonesia pada umumnya, termasuk orang-orang yang ada di Kalimantan Selatan. Selain yang terbuat dari terigu, ada juga yang dibuat dari pisang, singkong, dan aneka jenis ubi atau yang disebut gumbili oleh orang Banjar. Bersaing dengan aneka jenis snack yang merupakan pangan olahan kekinian buatan industry modern.
Proses pembuatan keripik ini melalui beberapa tahapan. Pertama, semua bahan dan bumbu rempah dicampur menjadi satu. Bahan yang sudah dicampur, selanjutnya dipress dan dicetak. Cetakan yang masih tebal itu, kemudian dibuat menjadi lempengan dibuat halus dan tipis agar mudah dipotong-potong. Potongan itu digoreng hingga kering menjadi keripik yang renyah dan gurih. Setelah dikemas, siap dijual dan dikirim, baik ke pasar local di Amuntai, maupun ke kabupaten-kabupaten lain di Banua Anam.
Nama inovasi
:
Mesin pembuatan keripik
Pengelola
:
Kelompok pengrajin
Lokasi/alamat
:
Desa Kota Raden Hulu, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan (Kalsel)
Contact person
:
Iqbal (Pendamping/Pengrajin)
Telepon/HP/email
:
+62 852 5293 7044
Usaha ini mulai dirintis sejak 2005. Pada awalnya, pembuatan keripik dilakukan secara manual dengan alat yang diputar menggunakan tangan. Saat itu, seharian hanya bisa mengolah 10 kg terigu untuk dibuat keripik. Perlahan-lahan, mulai dilakukan perubahan dengan pengadaan mesin yang digerakkan listrik. Sekarang, sejak subuh hingga jam 11 siang, bisa dihasilkan keripik dari 80 bungkus keripik dari 25 kg terigu. Keripik bawang tersebut dijual Rp 8.500 per bungkus, atau total penerimaan Rp 680 ribu.
Mesin pengaduk untuk membuat adonan merupakan bantuan dari Kementerian Sosial. Sedangkan, alat pencetak dan mesin elektrik untuk membuat lempengan tipis merupakan rakitan yang dibuat dan didesain berdasarkan kebutuhan dan pengalaman sebagai pengrajin. Meskipun bisa mempermudah pekerjaan dan membuat proses pembuatan berjalan lebih cepat, antara motor dan suku cadang atau bagian untuk membuat lempengan tipis kurang kompatibel. Akibat sering terjadi kerusakan yang berakibat tingginya biaya maintenance.
Problema lain yang dihadapi pengrajin, harga bahan baku yang lumayan tinggi. Harga per bantal terigu isi 50 kg sekitar Rp 170 ribu. Sedangkan singkong atau gumbili sekarang naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 4.000, itu pun barangnya sulit diperoleh. Selain itu, ada biaya bahan bakar gas dan kayu, listrik, minyak goreng dan aneka bumbu dan rempah. Problema ini juga dihadapi pengrajin-pengrajin lain yang membuat amplang, kerupuk haruan dan pangan olahan lain di Desa Kota Raden Hulu.
Kabupaten Hulu Sungai Tengah menyelenggarakan Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) secara rutin setiap tahun. Pada 2018, Syafriansyah dan Ahyadi kembali tampil dengan hasil rekayasa-nya masing-masing dalam lomba ini.
Sosok Ahyadi ini menarik, hampir setiap tahun mengikuti lomba TTG dan menjadi juara, entah 1 atau 2. Menurut keterangannya, total sudah ada sekitar 70-an hasil rekayasa peralatan TTG yang pernah dia buat. Alat atau mesin yang diharapkan dapat menjawab sejumlah persoalan secara tepat guna.
Ada banyak temuan Ahyadi yang sudah diikutkan dalam lomba TTG, diantaranya alat tugal sederhana, alat perontok padi mini yang sekaligus membuatnya langsung jadi beras, kotak multifungsi, alat pembuatan garam dari air asin, serta lampu hemat energi yang dipasang pada masjid di kampungnya.
Ahyadi memiliki minat mengutak-atik peralatan dan bereksperimen sejak kecil. Meski tidak pernah mengikuti pelatihan atau pendidikan secara khusus, dia banyak membaca buku-buku tokoh-tokoh penemu seperti Einstein, Thomas Alfa Edison, Galileo Galilei dan lain-lain.
Pengalamannya bekerja pada sebuah perusahaan komputer ikut memacu semangatnya bereksperimen, informasi dari dunia maya semakin menambah khasanah pengetahuannya.
Setelah menikah, Ahyadi tinggal di Desa Birayang Surapati. Secara administratif, desa ini merupakan bagian dari Kecamatan Batang Alai Selatan. Desa ini merupakan hasil penggabungan dari kampung-kampung kecil yang sebelumnya mempunyai pambakal atau kepala desa sendiri pada masa lalu, seperti Birayang Tugu, Birayang Damanhuri, dan Birayang Surapati itu sendiri.
Nama inovasi
:
Pelatihan Perbengkelan dalam mendukung Pengembangan Teknologi Tepat Guna
Pengelola
:
Pemerintah Desa
Lokasi/alamat
:
Desa Birayang Surapati, Kecamatan Batang Alai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel)
Contact person
:
Ahmadiansyah (Kepala Desa)
Telepon/HP/email
:
+62 823 5157 7207
Pemerintah Desa masih berupaya mendorong penyatuan organisasi Karang Taruna yang terpecah dua sebagai dampak belum selesainya integrasi sosial diantara kampong-kampung yang membentuk desa ini.
Suasana perdesaan yang penuh vegetasi masih tampak di beberapa lokasi, namun beberapa lokasi lain sudah ramai dan padat penduduk. Bahkan kemacetan lalu lintas kerap terjadi di jalan depan Pasar Birayang.
Setelah melaksanakan pelatihan menjahit, Pemerintah Desa juga akan melaksanakan pelatihan perbengkelan. Selain pengenalan mengenai peluang, perencanaan dan analisa kelayakan serta promosi usaha bengkel, juga akan diberikan materi alur kerja dan layout bengkel, manajemen peralatan, perlengkapan, dan suku cadang serta teknis perbengkelan.
Pelatihan ini diharapkan dapat mendorong motivasi pada anak-anak dan generasi muda berinovasi dalam bidang sains dan teknologi, khususnya dalam pengembangan teknologi tepat guna (TTG).
Ke depan, peserta pelatihan perbengkelan ini juga perlu diajak studi banding dan magang ke bengkel-bengkel atau produsen kendaraan dan suku cadang yang sudah berkembang di daerah lain. Pemahaman atas konsep dasar ekonomi, fisika dan elektronik juga perlu diberikan agar peserta dapat bekerja lebih efisien.
Motivasi perlu diberikan agar peserta bukan hanya sekedar memperbaiki mesin, namun juga bisa menghasilkan temuan alat dan mesin yang bisa lebih efisien secara teknis, ekonomi dan sosial. Pembuatan rancang bangun sebagaimana konsep yang dibuat oleh Ahyadi dalam lembaran kertas, bisa diajarkan dengan menggunakan aplikasi planner atau design 3D agar lebih akurat. Meskipun alat atau mesin itu sudah rusak atau tidak ada lagi, dokumen rancang bangun dapat digunakan sebagai rujukan untuk membuatnya kembali.
Sedangkan Syafriansyah sebagai pemenang pertama, menampilkan kendaraan mini elektrik dalam Lomba TTG 2018 ini. Kendaraan ini bisa digunakan untuk mengangkut hasil bumi pada jalan usaha tani yang landai. Kendaraan mirip odong-odong ini, menurut informasi dibuat dengan biaya sekitar Rp 3,5 juta. Adanya tombol otomatis untuk mundur atau berhenti, memudahkan pengendara mengemudikan kendaraan ini. Sekalipun tidak bisa menyetir mobil atau mengendarai motor, tetap bisa mengemudikannya.
Pada tahun sebelumnya, Syafriansyah menampilkan hasil rekayasa berupa alat pembuatan tusuk sate dan tusuk gigi yang inovatif. Sayangnya alat yang menurut informasi dibuat dengan biaya Rp 1,5 juta ini, kemudian dijual dengan harga Rp 3,5 juta sehingga gagal diikutsertakan dalam lomba TTG tingkat provinsi.
Pada Lomba TTG 2018, setiap peserta telah menandatangani kontrak atau fakta integritas sehingga pemenang lomba tidak lagi bisa menjual, memindahtangankan dan/atau membongkar alat dan mesin (alsin) TTG hasil rekayasanya selama jangka waktu minimal satu tahun sejak dinyatakan menang.****
Masyarakat Desa Sindang Sari, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut terlihat berseri-seri. Pada 2017, Pemerintah Desa Sindangsari membangun pompa air tanpa mesin untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga desa. Kegiatan pembangunan ini dibiayai dengan Dana Desa (DD). Kini, warga semakin mudah mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari.
Urusan air, bagi Desa Sindang Sari sangat penting. Desa ini acapkali sulit mendapatkan air bersih, terutama pada musim kemarau. “Jangankan air untuk mandi, untuk minum saja susah,” cerita Ayo Sutisna, Kepala Desa Sindang Sari. Karena itu, pada Musyawarah Desa 2017 diputuskan untuk memanfaatkan dana desa untuk membangun instalasi air bersih.
Dua tahun terakhir, puluhan petani di Nagari Sungai Aur, Kecamatan Sungai Aur, Kabupaten Pasaman Barat memanfaatkan limbah rumah-tangga menjadi pupuk organik cair. Pemanfaatan pupuk organik cair ini semakin memudahkan petani dalam mengolah lahan, bahkan meningkatkan produktivitas pertanian mereka.
Penggunaan pupuk organik cair berawal dari pelatihan yang diadakan oleh Pemerintah Nagari Sungai Aur bekerja sama dengan penyuluh pertanian. Dari pelatihan itu, pihaknya memberanikan diri membuat Pupuk Organik Cair (POC).
Penggunaan pupuk organik cair sangat membantu petani dan pekebun dalam bercocok tanam. Pupuk organik cair yang diolah dari limbah rumah tangga dan sisa sayur-sayuran. Pemanfaatan Pupuk organik cair bisa menghemat biaya dan menjaga kesuburan tanah petani setempat.
Bermodalkan alat yang terbatas, petani dapat menghasilkan sekitar 500 liter pupuk organik cair,sampai sekarang di kelompok tersebut sudah terdapat 7 titik pengolahan dan produksi pupuk organik cair.
Petani mengaku, kehadiran pupuk organik cair ini dapat membantu meningkatkan produktivitas hasil pertanian, seperti tanaman jeruk,cabai dan tanaman palawija lainnya. Dengan biaya yang cukup minim, petani bisa memperoleh pupuk organik cair (POC) untuk pupuk tanaman mereka.
Petani di Nagari Sungai AUR mengaku keunggulan pupuk organik cair ini salah satunya bisa dilihat dari struktur tanah yang telah disemprot POC berubah, sehingga tanah-tanah yang di semprotkan pupuk organik cair tersebut berbeda dengan tanah-tanah yang ada di sekitarnya. Kemudian, tingkat kesuburannya sangat baik.
Meski POC sudah digunakan cukup lama, petani tetap membutuhkan dukungan dan penelitian tentang kandungan POC yang mereka gunakan, sehingga penggunaannya lebih baik dan tepat sasaran, termasuk bisa dikembangkan ke daerah atau petani lainnya di Kabupaten Pasaman Barat