Desa Sukanegara Mengawal Batas Wilayah dan Data Miskin Melalui Sistem Informasi Desa Berdampak Smart City

Desa Sukanegara Mengawal Batas Wilayah dan Data Miskin Melalui Sistem Informasi Desa Berdampak Smart City


Ringkasan Inovasi

Desa Sukanegara menghadirkan Sistem Informasi Desa (SID) berbasis partisipatif yang memadukan pemetaan swadaya dengan teknologi digital untuk menyajikan data kewilayahan dan sosial secara faktual. Inovasi ini mentransformasi cara desa merekam batas wilayah, jumlah rumah tangga miskin, dan potensi lahan yang sebelumnya sarat asumsi menjadi basis rujukan terverifikasi. Pemerintah desa bersama masyarakat tidak lagi bekerja dengan angka perkiraan, melainkan menggunakan peta dan statistik yang lahir dari proses kolaboratif di tingkat tapak.

Dampak utamanya meliputi penyelesaian polemik batas desa, transparansi data kemiskinan, serta fondasi perencanaan pembangunan yang lebih tepat sasaran melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa. Inovasi ini menjadi pijakan awal menuju tata kelola cerdas di Kabupaten Ciamis dengan mengintegrasikan informasi desa ke dalam arsitektur smart city kabupaten.

Latar Belakang

Sebelum tahun 2018, Desa Sukanegara hidup dalam ketidakpastian data yang mengakar pada perselisihan batas wilayah dengan desa tetangga dan pendataan kemiskinan yang kerap dipertanyakan. Warga dan perangkat desa sering menghadapi silang pendapat ketika menentukan garis tapal batas karena dokumen resmi tidak memadai dan belum pernah dilakukan pemetaan partisipatif yang melibatkan saksi sejarah setempat. Persoalan ini diperparah oleh data rumah tangga miskin yang dikumpulkan secara vertikal sehingga banyak keluarga rentan tidak terdata secara akurat.

Kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi adalah sistem dokumentasi spasial dan sosial yang sahih, transparan, serta diakui oleh seluruh pemangku kepentingan. Tanpa data terverifikasi, alokasi Dana Desa berisiko tidak menyentuh prioritas sejati dan batas administrasi kerap menimbulkan konflik horizontal yang menghambat pembangunan. Peluang yang ditangkap oleh Pemerintah Desa Sukanegara adalah semangat Undang-Undang Desa yang memberi kewenangan melakukan pemetaan wilayah berbasis komunitas.

Kepala Desa Asep Aos Maosul melihat celah besar untuk menyelaraskan mandat undang-undang dengan kemajuan teknologi informasi yang mulai merambah desa sehingga tercipta Sistem Informasi Desa yang autentik dan berkelanjutan. Musyawarah desa kemudian menyepakati bahwa persoalan batas dan data kemiskinan harus diselesaikan dengan pendekatan berbasis bukti yang dikerjakan oleh warga sendiri.

Inovasi yang Diterapkan

Sistem Informasi Desa Sukanegara lahir dari dialog intensif antara kepala desa, pendamping desa, dan kelompok masyarakat yang menginginkan basis data faktual untuk mengakhiri sengketa spasial dan ketimpangan informasi. Inovasi ini merupakan platform digital yang memadukan peta partisipatif, profil desa, dan basis data kependudukan yang dimutakhirkan secara berkala dengan melibatkan warga secara langsung dalam proses pengumpulan informasi. Setiap bidang lahan, batas dusun, dan sebaran rumah tangga miskin direkam menggunakan perangkat pemetaan sederhana yang dioperasikan oleh kader lokal terlatih.

SID bekerja dengan cara mengintegrasikan data spasial hasil penelusuran batas partisipatif ke dalam aplikasi berbasis web yang mudah diakses oleh pemerintah desa dan masyarakat melalui jaringan internet. Perangkat desa memasukkan titik koordinat batas yang telah disepakati bersama, mengunggah dokumentasi musyawarah, dan memvisualisasikan peta tematik seperti persebaran lahan pertanian, permukiman, serta fasilitas umum dalam dasbor interaktif. Informasi mengenai rumah tangga miskin diperbarui melalui verifikasi langsung oleh relawan desa sehingga status kesejahteraan tergambar secara real dan otentik, bukan sekadar proyeksi statistik.

Proses Penerapan Inovasi

Langkah awal pengembangan SID dimulai dengan pembentukan tim pemetaan partisipatif yang terdiri dari perangkat desa, pendamping lokal desa, dan tokoh masyarakat yang paham sejarah batas wilayah. Mereka menjalani pelatihan singkat mengenai penggunaan GPS genggam, teknik deliniasi batas, dan pencatatan data sosial ekonomi yang kemudian diujicobakan di satu dusun sebagai proyek percontohan. Eksperimen perdana ini menghadapi kegagalan ketika beberapa titik batas yang ditandai tidak sesuai dengan ingatan kolektif tetua desa sehingga memicu perdebatan baru.

Kegagalan tersebut menjadi pembelajaran penting yang mendorong penyempurnaan metode dengan menggabungkan teknologi GPS dan kesaksian lisan yang dituangkan dalam berita acara kesepakatan batas yang ditandatangani seluruh saksi. Tim inovasi kemudian mengulangi proses pemetaan di seluruh wilayah desa sambil terus menguji validitas data melalui forum musyawarah dusun yang berfungsi sebagai ajang konfirmasi dan pengesahan. Setiap perselisihan titik koordinat diselesaikan melalui mediasi yang difasilitasi oleh pendamping desa profesional, menghasilkan peta definitif yang memiliki legitimasi sosial kuat.

Pemerintah desa menganggarkan dana sebesar Rp40 juta dari Dana Desa untuk pengadaan perangkat, pelatihan, dan pembangunan infrastruktur internet desa yang awalnya menuai keraguan dari sebagian pihak karena dianggap terlalu besar. Namun, transparansi pengelolaan anggaran dan penjelasan berulang mengenai manfaat jangka panjang akhirnya meredakan skeptisisme warga. Proses ini merekatkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa.

Faktor Penentu Keberhasilan

Kepemimpinan Kepala Desa Asep Aos Maosul yang adaptif terhadap teknologi serta kepercayaannya pada partisipasi warga menjadi fondasi utama keberhasilan SID karena ia tidak pernah lelah mendorong transparansi di setiap tahapan. Peran pendamping desa sangat vital dalam menerjemahkan kebijakan pemetaan partisipatif menjadi panduan teknis yang bisa dipraktikkan oleh masyarakat awam, sekaligus menjembatani komunikasi antara desa dan pemerintah kabupaten.

Dukungan perangkat desa yang mau belajar dan komitmen para kader lokal yang secara sukarela melakukan verifikasi data kemiskinan dari rumah ke rumah juga menentukan akurasi basis data yang dihasilkan oleh sistem. Pemerintah Kabupaten Ciamis turut memainkan peran strategis dengan memberikan apresiasi dan dorongan replikasi sehingga atmosfer inovasi tetap terjaga dan menjadi motivasi bagi Desa Sukanegara untuk mempertahankan kualitas SID.

Hasil dan Dampak Inovasi

Penerapan SID berhasil menyelesaikan polemik batas wilayah yang telah berlangsung bertahun-tahun melalui penerbitan peta desa yang disepakati bersama dan diakui oleh desa tetangga serta kecamatan. Secara kuantitatif, desa kini memiliki basis data pasti yang mencakup luas pemukiman, lahan pertanian produktif, dan jumlah rumah tangga miskin yang sebelumnya hanya bersumber dari estimasi. Data terverifikasi ini langsung dimanfaatkan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa sehingga alokasi anggaran tepat menyasar kelompok rentan.

Transparansi data kemiskinan yang ditampilkan melalui SID mendorong partisipasi warga dalam musyawarah pembangunan meningkat dan menurunkan potensi konflik akibat tuduhan manipulasi data penerima bantuan sosial. Efisiensi operasional juga terlihat dari berkurangnya waktu yang dibutuhkan perangkat desa untuk menyusun laporan profil desa karena seluruh informasi telah terintegrasi dan hanya perlu pemutakhiran rutin. Penghematan beban kerja administrasi ini memungkinkan mereka lebih fokus pada pelayanan publik.

Konektivitas data yang dibangun oleh SID menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Ciamis yang tengah menggarap program smart city sehingga menjadikan Desa Sukanegara sebagai desa percontohan integrasi sistem informasi di tingkat kabupaten. Publikasi media menyebut inovasi ini sebagai langkah maju desa dalam mewujudkan pemerintahan berbasis bukti yang dapat direplikasi oleh desa lain di Jawa Barat [1].

Tantangan dan Kendala

Resistensi awal dari sebagian warga yang menganggap pemetaan digital akan mengubah batas tradisional secara sepihak menjadi hambatan serius yang sempat memperlambat proses pengumpulan data lapangan. Selain itu, keterbatasan literasi digital di kalangan perangkat desa dan kader lokal menyebabkan pelatihan harus diulang beberapa kali agar mereka benar-benar mampu mengoperasikan perangkat pemetaan serta memahami sistem basis data. Hal ini berpengaruh pada tahap awal penerapan yang membutuhkan waktu lebih panjang dari jadwal yang direncanakan.

Infrastruktur jaringan internet yang belum merata di wilayah Lakbok juga menjadi kendala teknis yang mengganggu sinkronisasi data secara waktu nyata sehingga beberapa informasi harus dimasukkan secara manual terlebih dahulu. Namun, hambatan ini justru mendorong pemerintah desa untuk mengadvokasi pembangunan infrastruktur telekomunikasi kepada pemerintah kabupaten.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Pemerintah Desa Sukanegara menetapkan pos anggaran rutin tahunan untuk pemeliharaan server, pelatihan penyegaran operator, dan honor kader pemutakhir data yang bersumber dari Dana Desa dan Pendapatan Asli Desa. Pembentukan kelompok kerja SID yang terdiri dari generasi muda desa bertujuan memastikan regenerasi pengelola sistem berjalan mulus dan inovasi tidak bergantung pada satu figur saja. Pemerintah desa juga menjadwalkan audit data setiap enam bulan sekali yang difasilitasi pendamping desa.

Dalam jangka panjang, desa berencana mengintegrasikan SID dengan layanan administrasi kependudukan secara daring dan memperluas fitur pelaporan warga berbasis aplikasi seluler agar partisipasi masyarakat semakin luas dan tidak terbatas pada momen pemetaan. Strategi ini diyakini akan menjaga relevansi sistem dan mengokohkan budaya data terbuka di tingkat komunitas.

Kontribusi Pencapaian SDGs

No SDGs Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Verifikasi data rumah tangga miskin melalui SID memastikan program pengentasan kemiskinan desa menyasar penerima yang tepat, memutus rantau eksklusi sosial, dan mengoptimalkan dana bantuan langsung sehingga warga prasejahtera memperoleh akses perlindungan sosial yang akurat.
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Pembangunan infrastruktur digital desa melalui SID menjadi wujud nyata inovasi teknologi tepat guna di perdesaan yang memperkuat konektivitas internet dan mendorong modernisasi tata kelola pemerintahan yang efisien.
SDGs 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan Pemetaan partisipatif dan pendokumentasian batas wilayah menciptakan permukiman desa yang inklusif, aman dari konflik lahan, serta mendukung perencanaan ruang desa yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh SID mendorong transparansi dan akuntabilitas pemerintahan desa melalui data terbuka yang diakses warga, mengurangi potensi konflik akibat informasi asimetris, dan membangun legitimasi keputusan publik berbasis bukti.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara pemerintah desa, pendamping profesional, masyarakat, dan Pemerintah Kabupaten Ciamis dalam membangun SID menunjukkan kemitraan multipihak yang efektif untuk mencapai target pembangunan desa dan integrasi smart city.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Strategi replikasi SID dilakukan melalui forum berbagi praktik baik yang difasilitasi oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Ciamis dengan menjadikan Desa Sukanegara sebagai desa laboratorium bagi desa-desa lain yang ingin mengadopsi sistem serupa. Kunjungan belajar dan magang singkat bagi perangkat desa tetangga diadakan secara berkala dengan pendampingan langsung oleh tim SID Sukanegara yang telah berpengalaman menghadapi dinamika lapangan.

Pemerintah kabupaten berencana membangun pusat integrasi data desa yang terhubung dengan SID seluruh desa sebagai bagian dari arsitektur smart city sehingga setiap inovasi lokal dapat diadaptasi dengan konteks lokal masing-masing. Publikasi daring dan dokumentasi proses pemetaan partisipatif juga disebarluaskan melalui portal inovasi desa agar desa-desa di luar Ciamis dapat mempelajari metodologi dan menghindari kesalahan serupa [1].


Referensi:
[1] “Sistem Informasi Desa Sukanegara, Inovasi Desa untuk Smart City Ciamis,” Inovasi Desa, 2020. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id. [Diakses: 4 Mei 2026].

Desa Mengen Terapkan Kentongan Digital dan Perkuat Keamanan Warga Berbasis Android

Desa Mengen Terapkan Kentongan Digital dan Perkuat Keamanan Warga Berbasis Android

Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Mengen, Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mengembangkan sistem keamanan berbasis android bernama Kentongan Digital sebagai jawaban atas kebutuhan respons cepat terhadap ancaman keamanan lingkungan. Inovasi ini mengubah fungsi kentongan tradisional menjadi notifikasi digital yang dapat membunyikan alarm serentak di ponsel warga terdaftar hanya melalui satu sentuhan tombol darurat. [1][2]

Kentongan Digital menjadi bagian dari ekosistem aplikasi Smart Mengen yang dibangun desa bersama Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo. Tujuan utamanya adalah mempercepat koordinasi warga, memperkuat rasa aman, dan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama keamanan desa berbasis teknologi yang mudah digunakan. [2][3]

Latar Belakang

Desa Mengen berada di kawasan perbatasan Kabupaten Bondowoso dengan Kabupaten Jember. Posisi ini menjadikan desa lebih rentan terhadap gangguan keamanan dari luar, sementara pola ronda malam konvensional memiliki keterbatasan besar dalam jangkauan patroli dan kecepatan penyebaran informasi saat ancaman muncul tiba-tiba. [3]

Di saat yang sama, penggunaan smartphone android di kalangan warga terus meningkat. Pemerintah desa melihat peluang besar: perangkat yang sebelumnya hanya dipakai untuk komunikasi sehari-hari dapat diubah menjadi alat koordinasi keamanan yang cepat, murah, dan bekerja sepanjang hari tanpa menunggu kentongan dipukul dari rumah ke rumah. [1][2]

Kebutuhan akan sistem peringatan dini yang cepat, presisi, dan partisipatif mendorong desa mencari model yang tidak mematikan tradisi, tetapi justru memodernkannya. Dari gagasan itu lahir keputusan untuk mendigitalisasi kentongan, simbol lama gotong royong desa, ke dalam aplikasi yang dapat menghubungkan warga dan aparat secara serentak. [3][4]

Inovasi yang Diterapkan

Kentongan Digital lahir dari inisiatif Tim Teknologi Informasi Desa Mengen yang ingin menerjemahkan fungsi kentongan tradisional ke dalam teknologi android. Pemerintah Desa Mengen kemudian menggandeng Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo untuk membangun aplikasi Smart Mengen, dan fitur Kentongan Digital ditempatkan sebagai salah satu layanan inti untuk keamanan warga. [2]

Cara kerjanya sederhana namun efektif. Saat warga melihat ancaman keamanan, ia menekan tombol darurat pada aplikasi. Sistem lalu mengirim alarm serentak ke seluruh ponsel warga yang terdaftar, sekaligus menampilkan informasi lokasi kejadian seperti RT atau titik lingkungan tertentu. Informasi ini membuat warga sekitar, perangkat desa, dan aparat dapat bergerak ke lokasi secara lebih cepat dan terarah. [1][3]

Proses Penerapan Inovasi

Proses pengembangan diawali dengan pemetaan masalah keamanan desa dan pengukuran kesiapan digital warga. Tim desa memeriksa kepemilikan ponsel android, kebutuhan fitur, dan pola kejadian gangguan keamanan yang selama ini sulit ditangani karena informasi datang terlambat dan tidak seragam. [2]

Setelah rancangan aplikasi selesai, pemerintah desa mengunggahnya ke Google Play Store agar mudah diunduh. Namun aktivasi akun tidak dibuka bebas. Warga wajib mendaftar langsung ke balai desa dengan menunjukkan Kartu Keluarga, lalu operator dari Kasi Pelayanan memverifikasi identitas sebelum akun diaktifkan. Langkah ini penting untuk mencegah orang luar menyusup ke sistem dan menyalahgunakan tombol darurat. [2][1]

Pada tahap awal, desa menghadapi hambatan adopsi. Sosialisasi belum cukup intensif, sehingga sebagian warga, terutama kelompok lanjut usia, belum segera menggunakan aplikasi. Pemerintah desa lalu memperkuat edukasi pemakai dan menetapkan ancaman sanksi bagi warga yang menekan tombol darurat tanpa alasan sah. Kegagalan awal dalam membangun adopsi ini menjadi pelajaran penting bahwa inovasi digital desa harus dibarengi pelatihan, simulasi, dan pengawasan yang konsisten. [2]

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan Kentongan Digital ditopang oleh kolaborasi yang tepat antara pemerintah desa, tim teknis lokal, dan lembaga pendidikan berbasis komunitas. Pondok Pesantren Nurul Jadid tidak hanya hadir sebagai mitra teknis, tetapi juga sebagai pihak yang memberi legitimasi sosial sehingga warga merasa teknologi ini lahir dari jejaring yang mereka kenal dan percayai. [2]

Peran Kepala Desa Ahmad Fauzan juga sangat menentukan. Ia tidak memosisikan digitalisasi sebagai proyek tempelan, melainkan sebagai arah besar tata kelola desa. Dukungan ekosistem dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui agenda Desa Digital memperkuat keberanian desa untuk terus mengembangkan layanan publik digital, termasuk keamanan lingkungan. [5][6]

Hasil dan Dampak Inovasi

Kentongan Digital mempercepat alur informasi keamanan yang sebelumnya bergerak lambat dari mulut ke mulut. Ancaman yang dulu harus diberitahukan secara berantai kini dapat diteruskan ke seluruh warga terdaftar dalam hitungan detik, sehingga peluang pelaku melarikan diri atau situasi memburuk dapat ditekan sejak awal. [3]

Dampak lainnya muncul pada sisi tata kelola desa. Aplikasi Smart Mengen tidak hanya memuat fitur keamanan, tetapi juga layanan administrasi surat, data rumah penduduk, statistik desa, dan menu informasi kejadian. Integrasi ini membuat satu platform bekerja untuk banyak urusan publik, sehingga warga lebih akrab dengan teknologi desa dan lebih mudah menerima Kentongan Digital sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. [2][5]

Secara kualitatif, warga merasakan peningkatan rasa aman karena mengetahui bahwa komunitas mereka saling terhubung dan dapat merespons gangguan bersama-sama. Literatur tentang keamanan lingkungan berbasis android juga menunjukkan bahwa sistem notifikasi real-time meningkatkan kesiapsiagaan dan kecepatan respons warga terhadap kondisi darurat, sehingga pendekatan Desa Mengen memiliki dasar praktik yang kuat untuk diteruskan dan disebarluaskan. [7][4]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar adalah belum meratanya kualitas jaringan internet di seluruh sudut desa. Dalam sistem yang bergantung pada notifikasi real-time, jeda sinyal sekecil apa pun dapat memengaruhi kecepatan respons. Selain itu, belum semua warga memiliki ponsel android atau terbiasa menggunakan aplikasi digital, sehingga cakupan pengguna aktif belum sepenuhnya merata. [2]

Kendala lain muncul dari sisi tata kelola aplikasi. Perizinan fitur tambahan seperti QR code sempat belum ditindaklanjuti, sehingga pengembangan layanan digital lain berjalan lebih lambat. Risiko penyalahgunaan tombol darurat oleh warga yang iseng juga menjadi ancaman yang harus diantisipasi dengan verifikasi pengguna, aturan tegas, dan pengawasan berkelanjutan. [2][1]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Kentongan Digital bertumpu pada fakta bahwa ia tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari platform Smart Mengen dan website resmi desa. Dengan demikian, inovasi keamanan ini terikat pada sistem pelayanan desa yang lebih luas dan tidak mudah berhenti hanya karena pergantian program tahunan. Operator desa yang bekerja sepanjang waktu juga menjaga sistem tetap hidup dan responsif. [5][2]

Pemerintah Desa Mengen juga membutuhkan pembaruan aplikasi berkala, peningkatan server, dan perluasan akses internet agar seluruh warga dapat menikmati layanan secara setara. Dukungan berkelanjutan dari Diskominfo Bondowoso melalui agenda digitalisasi desa memberi landasan kelembagaan yang penting untuk menjaga inovasi ini tetap relevan, aman, dan dapat berkembang sesuai kebutuhan warga ke depan. [6]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Kentongan Digital menunjukkan bahwa keamanan lingkungan desa dapat dikelola sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan, bukan semata urusan ketertiban. Inovasi ini menggabungkan partisipasi warga, pemanfaatan teknologi, dan penguatan kelembagaan desa dalam satu sistem yang langsung berdampak pada kualitas hidup masyarakat. [2][6]

No SDGs Penjelasan
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Kentongan Digital mengubah alat komunikasi tradisional menjadi sistem keamanan berbasis aplikasi, memperlihatkan bagaimana desa membangun inovasi digital yang sesuai dengan kebutuhan lokal dan memperkuat infrastruktur informasi warga secara murah serta fungsional.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Sistem peringatan dini yang cepat membuat lingkungan permukiman desa menjadi lebih aman, lebih siap menghadapi ancaman, dan lebih tangguh terhadap gangguan keamanan yang dapat mengganggu aktivitas sosial maupun ekonomi warga.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh Inovasi ini memperkuat tata kelola keamanan berbasis partisipasi warga dan koordinasi dengan aparat, sehingga kelembagaan desa menjadi lebih responsif, transparan, dan mampu merespons ancaman secara terstruktur.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi Pemerintah Desa Mengen, Tim TI desa, Pondok Pesantren Nurul Jadid, serta dukungan Diskominfo Bondowoso menunjukkan bahwa inovasi desa tumbuh lebih kuat ketika dibangun melalui kemitraan teknis, sosial, dan kelembagaan yang saling menguatkan.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Kentongan Digital sangat mungkin direplikasi di desa-desa lain yang memiliki kebutuhan keamanan tinggi dan tingkat penggunaan smartphone yang terus tumbuh. Kunci replikasinya terletak pada tiga hal: verifikasi pengguna berbasis KK, pengembangan aplikasi sederhana yang fokus pada fungsi darurat, dan kerja sama aktif dengan aparat keamanan setempat agar alarm digital selalu diikuti tindakan nyata di lapangan. [2][3]

Untuk scale up, Pemerintah Kabupaten Bondowoso dapat menjadikan Desa Mengen sebagai laboratorium pembelajaran desa aman digital bagi 209 desa yang sedang didorong masuk ke ekosistem Desa Digital. Dengan dukungan pelatihan teknis, penguatan jaringan internet, dan modul penggunaan yang mudah dipahami warga lanjut usia, model ini dapat diperluas dari satu desa menjadi arsitektur keamanan komunitas tingkat kabupaten. [6]

Daftar Pustaka

[1] Redaksi, “Inovasi Kentongan Digital, Sekali Klik Android Se-Desa Mengen Berbunyi Otomatis,” inovasi.web.id, 8 Jun. 2020. [Online]. Available: https://idt.web.id/inovasi-kentongan-digital-sekali-klik-android-se-desa-mengen-berbunyi-otomatis/

[2] M. R. Efendi dan K. Haerah, “Prinsip Penerapan Pelayanan Publik Berbasis Aplikasi Mengen Smart di Desa Mengen Kecamatan Tamanan Kabupaten Bondowoso,” Universitas Muhammadiyah Jember, 2022. [Online]. Available: http://repository.unmuhjember.ac.id/11469/10/J.%20artikel.pdf

[3] Redaksi, “Kentongan Digital, Media Cegah Kejahatan di Desa Mengen,” Kolom Desa, 9 Mei 2023. [Online]. Available: https://kolomdesa.com/kentongan-digital-media-cegah-kejahatan-di-desa-mengen-9493/

[4] A. P. Siahaan, D. C. Chairani, dan M. A. Pradana, “Pengembangan Penguatan Keamanan Lingkungan Melalui Digitalisasi dan Partisipasi Masyarakat (Studi Kasus Desa Sambirejo Timur),” Jurnal Pemberdayaan Ekonomi dan Masyarakat, vol. 1, no. 3, 2024. DOI: 10.47134/jpem.v1i3.313.

[5] Redaksi, “Wujudkan Pelayanan Cepat, Desa Mengen Luncurkan Aplikasi Desa Digital,” mengendigital.com, 24 Jun. 2022. [Online]. Available: https://www.mengendigital.com/artikel/detail/2022/6/24/wujudkan-pelayanan-cepat-desa-mengen-luncurkan-aplikasi-desa-digital

[6] Redaksi, “Digitalisasi Desa, Diskominfo Bondowoso Gelar Sosialisasi Website Desa,” kominfo.bondowosokab.go.id, 16 Sep. 2024. [Online]. Available: https://kominfo.bondowosokab.go.id/berita/digitalisasi-desa-diskominfo-bondowoso-gelar-sosialisasi-website-desa

[7] Redaksi, “Penerapan IoT pada Keamanan Lingkungan Berbasis Android,” Jurnal Manajemen Informatika, Universitas Dehasen Bengkulu, 2025. [Online]. Available: https://jurnal.unived.ac.id/index.php/jmi/article/view/7142

BUMDes Bersinar Desaku Mengelola Listrik Komunal Tenaga Surya Guna Menerangi dan Memandirikan Ekonomi Desa Muara Enggelam

BUMDes Bersinar Desaku Mengelola Listrik Komunal Tenaga Surya Guna Menerangi dan Memandirikan Ekonomi Desa Muara Enggelam

Ringkasan Inovasi

BUMDes Bersinar Desaku menghadirkan solusi energi berkelanjutan melalui inovasi pengelolaan listrik komunal bernama KLIK ME. Inisiatif tangguh ini mentransformasi keterbatasan akses setrum menjadi aset ekonomi produktif menggunakan teknologi panel surya ramah lingkungan.

Tujuan utamanya adalah mewujudkan kemandirian energi bagi ratusan keluarga terapung dengan tarif langganan yang sangat terjangkau . Pengelolaan yang cermat menjamin keberlanjutan pasokan cahaya sekaligus sukses melahirkan pundi-pundi pendapatan asli desa yang substansial.

Latar Belakang

Desa Muara Enggelam merupakan sebuah kawasan permukiman unik tanpa daratan yang mengapung di perairan Kutai Kartanegara . Selama puluhan tahun lamanya, seratus tujuh puluh empat kepala keluarga setempat hidup dalam keterbatasan akses kelistrikan . Warga hanya mengandalkan generator berbahan bakar solar yang membutuhkan biaya operasional sangat mahal setiap malamnya .

Keterbatasan setrum yang hanya menyala beberapa jam tersebut sangat menghambat laju produktivitas ekonomi warga desa. Masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam hanya untuk mendapatkan penerangan sangat terbatas yang diiringi suara bising. Ketiadaan aliran daya stabil ini menjadi penghalang terbesar bagi penduduk dalam mengembangkan beragam potensi ekonomi perairan.

Masyarakat pedalaman tentunya mendambakan kehadiran solusi energi mandiri yang murah, ramah lingkungan, dan tersedia penuh. Peluang raksasa untuk memanen energi matahari sejatinya sangat terbuka lebar karena wilayah mereka bersih dari halangan pepohonan . Kebutuhan mendesak inilah yang akhirnya melahirkan dorongan kolektif warga untuk segera memerdekakan diri dari kegelapan abadi.

Inovasi yang Diterapkan

BUMDes Bersinar Desaku menggebrak batas kemustahilan dengan meluncurkan sistem manajemen kelistrikan komunal berbasis energi terbarukan. Unit usaha ini lahir menyempurnakan bantuan infrastruktur fisik pembangkit tenaga surya dengan manajemen pelayanan yang sangat profesional . Ekosistem layanan setrum ini beroperasi maksimal menyerupai perusahan penyedia utilitas publik raksasa di wilayah tingkat desa.

Sistem cerdas ini bekerja mendistribusikan puluhan kilowatt daya panel surya secara merata ke seluruh penjuru rumah tangga . Pengelola memungut iuran harian yang amat murah demi menggantikan tingginya biaya pembelian BBM generator tempo dulu . Aturan manajemen memprioritaskan rasa keadilan komunal sehingga tidak ada lagi warga miskin yang tertinggal dalam kegelapan malam.

Proses Penerapan Inovasi

Langkah perintisan operasional kelistrikan ini bermula dari musyawarah warga untuk menentukan skema pengelolaan aset teknologi mutakhir. Pengurus kelompok melakukan simulasi hitungan ekonomi cermat guna menyepakati tarif tagihan yang paling rasional dan adil . Rangkaian proses partisipatif ini sangat penting demi memupuk rasa kepemilikan kolektif penduduk terhadap seluruh perangkat kelistrikan desa.

Tantangan rumit pemeliharaan jaringan tegangan tinggi di atas air sukses dijinakkan melalui penjadwalan pemeliharaan aset secara disiplin. BUMDes berani menguji nyali dengan menerapkan hukuman sosial berat bagi siapapun yang nekat mencuri arus listrik komunal . Serangkaian kegagalan pengaturan beban tegangan pada fase awal justru memberikan insting operasional berharga bagi perumusan prosedur standar.

Para pengurus juga melebarkan sayap dengan merintis ragam unit niaga lain untuk menopang ketahanan neraca kas . Transparansi catatan sirkulasi dana senantiasa dijaga ketat demi mengunci kepercayaan utuh pelanggan terhadap integritas lembaga ekonomi . Sinergi pendampingan bersama dinas kabupaten terus dipelihara erat agar mesin panel surya selalu berada dalam kondisi prima .

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu kejayaan paling krusial adalah kegigihan luar biasa dari jajaran pemuda pengurus lembaga perekonomian desa . Sosok kepala pemerintahan lokal yang visioner juga berperan magis dalam menjaga harmoni semangat persatuan seluruh elemen warga. Kesadaran moral masyarakat untuk rajin membayar iuran bulanan sukses mengamankan sirkulasi operasional teknologi canggih kelistrikan ini .

Sokongan kolaborasi lintas sektoral dari beragam level pemerintahan pun memuluskan jalan pengabdian para inovator desa ini . Keberanian aparatur membuat regulasi wilayah yang tegas sukses melindungi tatanan bisnis dari segala macam campur tangan merugikan . Harmonisasi keindahan gotong royong warga dan intervensi kepakaran inilah yang akhirnya berhasil menciptakan keajaiban setrum mandiri tersebut.

Hasil dan Dampak Inovasi

Ledakan inovasi kelistrikan ini secara instan meruntuhkan beban pengeluaran energi rumah tangga dari ribuan rupiah menjadi sangat terjangkau . Penghematan finansial masif ini otomatis melonggarkan ruang fiskal keluarga nelayan untuk membiayai perbaikan gizi dan pendidikan anak. Kehadiran daya arus tak terbatas sukses memicu tumbuhnya usaha mikro baru karena warga leluasa memakai perkakas elektronik .

Jika ditinjau dari sisi pembukuan finansial, divisi listrik ini sanggup meraup pendapatan rutin bernilai sangat menggiurkan setiap bulannya. Pendapatan kumulatif badan perekonomian desa itu bahkan sukses menembus angka fantastis melampaui satu miliar rupiah pertahunnya . Prestise kinerja emas inilah yang berhasil mengatrol popularitas desa terapung tersebut ke panggung penghargaan bergengsi tingkat nasional .

Ledakan energi benderang ini juga menumbuhkan ikatan emosional penduduk yang semakin solid karena merasa senasib menjaga aset bersama . Permukiman di tepi telaga ini perlahan telah berubah wujud menjadi daratan cahaya percontohan bagi ratusan pemerintah daerah lainnya . Desa terpelosok yang semula tertinggal kini berani lantang bersuara sebagai pahlawan inspirator transisi energi ramah lingkungan Nusantara.

Tantangan dan Kendala

Ancaman operasional paling mengerikan adalah tingginya potensi kerusakan infrastruktur distribusi akibat gangguan cuaca ekstrem di perairan terbuka . Derasnya terjangan badai sewaktu-waktu bisa memutus sambungan instalasi sehingga teknisi desa harus berani mempertaruhkan nyawa di malam hari. Kondisi geografis brutal ini senantiasa memaksa para penjaga sistem untuk selalu menerapkan kesiagaan prima tanpa kenal lelah.

Merawat kesehatan puluhan unit aki penyimpan tenaga ekstra juga menuntut tingkat kedisiplinan dan pengetahuan teknis yang amat detail . Kesadaran penduduk membatasi pemakaian setrum ketika musim penghujan tiba harus terus menerus diedukasi agar tegangan daya tidak anjlok . Kurangnya daya tampung awal kelistrikan sempat membikin pengelola pusing saat harus memutar otak membagi jatah nyala terang.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Penyokong utama nafas keberlanjutan bisnis komunal ini bersandar penuh pada ketegasan alokasi cadangan dana penyusutan perangkat keras . Manajemen desa amat mengerti bahwa rutinitas menabung uang adalah harga mati guna menyambut masa usang piranti penyimpan daya. Diversifikasi ekspansi ke sektor air minum dan televisi berlangganan turut meneguhkan tegaknya pondasi finansial institusi kerakyatan tersebut .

Upaya mengasah kecakapan teknisi pribumi terus menerus dilangsungkan melalui pelatihan resmi demi menjaga standar mutu pelestarian sarana . Lembaga perekonomian ini segera bersiap melipatgandakan suplai setrum untuk mengimbangi lonjakan animo calon pelanggan baru yang membludak . Komunikasi intens bersama para mitra dinas terkait terus dirawat mesra demi menjaga kelestarian nyala penerang peradaban lokal .

Kontribusi Pencapaian SDGs

Kinerja memukau dari inisiatif setrum komunal ini langsung menyumbangkan dampak nyata pada peta indikator pembangunan berkelanjutan global. Lentera desa terapung sungguh nyata menjelma menjadi sebuah jalan pintas pemerataan hak atas kemajuan peradaban bagi warga pelosok.

No SDGs Penjelasan
SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau Kehadiran PLTS komunal oleh BUMDes memastikan seratusan keluarga terapung bebas mengakses kelistrikan tanpa emisi karbon sepanjang hari dengan biaya iuran operasional yang sangat bersahabat bagi nelayan desa.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Keandalan tegangan energi membuka peluang ekonomi mikro baru sekaligus menyumbang omzet luar biasa bagi kas desa yang berujung pada penguatan finansial serta penyerapan belasan tenaga kerja lokal.
SDGs 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan Rangkaian panel tata surya secara revolusioner menciptakan permukiman pedalaman terapung yang tangguh melawan krisis sumber daya sekaligus menekan tingkat polusi pencemaran lingkungan akibat ketergantungan pada generator fosil.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Kerangka kerja penguasaan arus energi desa ini memegang suatu keunggulan paripurna untuk segera diduplikasi oleh ribuan kawasan tertinggal Nusantara . Otoritas birokrasi daerah mulai menyulap area danau ini sebagai pusat bengkel pelatihan lapangan untuk para kader teladan dari wilayah lainnya . Taktik penyebarluasan sistem ini lebih menitikberatkan pada penempaan karakter wirausaha sosial demi mengawal kelanggengan fasilitas mahal sumbangan negara.

Misi jangka panjang peningkatan skala kelas bisnis memfokuskan integrasi kelebihan daya listrik guna menghidupkan pesona kegiatan pariwisata wisata terapung . Lonjakan ketersediaan setrum di masa depan diproyeksikan bakal secara masif menyalakan lemari pendingin demi menjaga kesegaran ikan tangkapan nelayan . Keberanian merawat secercah cahaya harapan ini dipercaya mampu segera menggiring kawasan perbatasan menuju era kebangkitan peradaban alam terbarukan.

Daftar Pustaka:

[1.1] Kanal Desa, “Bisnis Setrum Terbarukan BUMDes Bersinar Desaku,” KanalDesa.com, Des. 2022. [Daring]. Tersedia: https://kanaldesa.com.

[1.2] M. Clysia, “Muara Enggelam, Mandiri Energi Desa Tanpa Daratan dari PLTS Komunal,” Transisi Energi Berkeadilan, Jan. 2024. [Daring]. Tersedia: https://transisienergiberkeadilan.id.

[1.3] Yovanda, “Muara Enggelam, Desa ‘Role Model’ PLTS Komunal di Kalimantan Timur,” Mongabay Indonesia, Ags. 2023. [Daring]. Tersedia: https://mongabay.co.id.

[1.4] I. Lukmana, “BUMDes Bersinar Desaku, Penerang Desa Muara Enggelam Melalui Usaha PLTS,” Kolomdesa.com, Des. 2022. [Daring]. Tersedia: https://kolomdesa.com.

[1.5] L. Djoang, “Muara Enggelam, Desa Tanpa Daratan yang Mandiri Energi dengan PLTS,” LenteraDjoang.com, Mei 2023. [Daring]. Tersedia: https://lenteradjoang.com.

[2.2] Y. Hendri, “Keberlanjutan Pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Melalui BUM Desa Bersinar Desaku Muara Enggelam,” Tesis Universitas Gadjah Mada, 2023.

[2.5] A. N. Barsei dan J. Sabtohadi, “Analisis Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Energi Terbarukan: Studi Kasus Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Desa Muara Enggelam,” INOVASI: Jurnal Politik Dan Kebijakan, vol. 20, no. 1, pp. 41-54, 2023.

Pemerintah Desa Sugihwaras Bangun Griya Sinau Digital dan Perluas Peluang Anak Desa

Pemerintah Desa Sugihwaras Bangun Griya Sinau Digital dan Perluas Peluang Anak Desa

Ringkasan Inovasi

Griya Sinau Digital (GSD) adalah program kursus komputer dan literasi digital gratis yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Sugihwaras, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sejak November 2019. Program yang diketuai oleh Sekretaris Desa Nur Amiril ini menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu usia kelas 3 SD hingga kelas 3 SMP, dengan proses seleksi berbasis surat keterangan tidak mampu dari Ketua RT. GSD dijalankan sepenuhnya oleh perangkat desa sebagai pengajar — sebuah pilihan strategis yang menekan biaya operasional hingga nol rupiah untuk honor instruktur, sehingga program dapat berjalan berkelanjutan tanpa beban anggaran yang memberatkan APBDes. [1]

Sejak diluncurkan, GSD telah menjangkau lebih dari 73 anak desa yang seluruhnya berasal dari keluarga kurang mampu. Desa Sugihwaras tidak berhenti di GSD saja: ekosistem digital desa ini juga mencakup marketplace desa, aplikasi layanan administrasi berbasis SiPraja 4.0, serta berbagai aplikasi website mandiri yang dikembangkan sendiri oleh aparatur desa, menjadikan Sugihwaras sebagai salah satu desa paling inovatif secara digital di Kabupaten Sidoarjo dan percontohan program Smart Village Kementerian Desa PDTT RI. [2]

Latar Belakang

Desa Sugihwaras adalah desa dengan struktur sosial ekonomi yang beragam: sebagian warganya bekerja sebagai pedagang, karyawan perusahaan swasta, dan pegawai negeri sipil, sementara sebagian lainnya hidup dalam kondisi ekonomi yang rentan. Kesenjangan akses terhadap pendidikan keterampilan digital menjadi nyata di sini: keluarga yang mampu dapat mendaftarkan anaknya ke kursus komputer berbayar di Sidoarjo yang cukup aktif, sementara anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak memiliki jalan yang sama untuk mempersiapkan diri menghadapi pasar kerja yang semakin mensyaratkan kecakapan digital. [3]

Pemerintah Desa Sugihwaras di bawah kepemimpinan Kepala Desa Syaiful membaca kesenjangan ini bukan sebagai takdir, melainkan sebagai masalah yang bisa dipecahkan dari dalam desa sendiri. Aparatur desa Sugihwaras memiliki sumber daya yang sering diabaikan oleh desa lain: perangkat desa yang melek komputer, balai desa yang tidak digunakan secara optimal di luar jam kerja, dan Dana Desa yang bisa dialokasikan untuk program pemberdayaan manusia jangka panjang. Gabungan ketiga sumber daya ini adalah fondasi GSD yang tidak memerlukan anggaran besar untuk dapat dimulai. [4]

Konteks makro yang melatarbelakangi lahirnya GSD adalah program Smart Village yang dipromosikan Kementerian Desa PDTT RI di bawah Menteri Abdul Halim Iskandar — sebuah kebijakan nasional yang mendorong desa-desa di Indonesia untuk mengadopsi konsep kota pintar dalam skala dan konteks perdesaan. Desa Sugihwaras mengambil kebijakan ini bukan sebagai mandate dari atas yang harus dipenuhi secara administratif, melainkan sebagai peluang untuk mengakses dukungan dan pengakuan nasional bagi program yang sudah mereka rancang dari bawah berdasarkan kebutuhan nyata warganya. [5]

Kurikulum dan Struktur Pembelajaran GSD

GSD dirancang sebagai program pembelajaran berjenjang yang memastikan peserta tidak hanya memahami komputer secara teoritis, tetapi memiliki keterampilan praktis yang langsung dapat digunakan di sekolah maupun dunia kerja. Struktur tiga hingga empat kelas yang dikelompokkan berdasarkan tingkat penguasaan komputer memastikan setiap peserta belajar pada kecepatan dan kedalaman materi yang sesuai dengan kemampuannya saat itu — sebuah pendekatan pedagogis yang lebih efektif daripada kelas campuran di mana peserta dengan kemampuan sangat berbeda belajar materi yang sama secara bersamaan. [6]

Kelas / Rombel Materi Utama Capaian Kompetensi yang Diharapkan
Kelas 1 – Dasar Pengenalan hardware dan software komputer, sistem operasi dasar, pengetikan, manajemen file, dan browsing internet dasar Peserta mampu mengoperasikan komputer secara mandiri, memahami komponen perangkat keras dan lunak, serta menggunakan internet untuk keperluan belajar yang aman dan terarah
Kelas 2 – Aplikasi Perkantoran Microsoft Word, Excel, dan PowerPoint; pengolahan data dasar, pembuatan dokumen dan presentasi, serta format tabel dan grafik Peserta menguasai aplikasi office yang menjadi standar minimum persyaratan kerja di hampir seluruh sektor industri di Indonesia, sekaligus langsung berkontribusi pada peningkatan nilai mata pelajaran TIK di sekolah formal
Kelas 3 – Desain Grafis Desain grafis menggunakan Canva atau software desain lainnya; prinsip tipografi, komposisi warna, dan pembuatan konten visual untuk media sosial dan kebutuhan bisnis Peserta memiliki keterampilan desain grafis yang dapat langsung dimonetisasi sebagai jasa freelance, digunakan untuk mendukung UMKM keluarga, atau dikembangkan lebih lanjut sebagai karier di industri kreatif digital
Kelas 4 – Pembuatan Aplikasi Video editing, dasar pembuatan website, dan pengantar pembuatan aplikasi Android; pemahaman logika pemrograman dasar Peserta mendapat paparan awal terhadap keterampilan teknis tertinggi dalam ekosistem digital — pengembangan perangkat lunak — yang membuka jalur menuju karier teknologi berbasis pemrograman bagi mereka yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan teknologi informasi

Selain keempat kelas reguler bagi anak-anak yang berlangsung setiap hari Minggu, GSD juga menyelenggarakan kursus dan pelatihan komputer khusus bagi pengurus lembaga desa setiap Sabtu malam — sebuah layanan yang memastikan kapasitas digital tidak hanya tumbuh di kalangan generasi muda, tetapi juga di kalangan pengambil keputusan dan pelaksana organisasi kemasyarakatan desa. [6]

Proses Penerapan Inovasi

GSD dimulai dari keputusan sederhana tetapi berbobot: menggunakan balai desa yang kosong setiap hari Minggu dan Sabtu malam sebagai ruang kursus, dan menugaskan perangkat desa yang memiliki kecakapan komputer sebagai pengajar tanpa tambahan honor. Keputusan ini menghilangkan dua hambatan klasik yang menghentikan banyak program serupa di desa lain: tidak ada gedung baru yang harus dibangun, dan tidak ada rekrutmen instruktur dari luar yang membutuhkan proses panjang dan anggaran rutin yang besar. Program dapat dimulai dengan infrastruktur yang sudah ada dan sumber daya manusia yang sudah ada, cukup dengan penugasan yang jelas dan jadwal yang disiplin. [3]

Pada tahap awal peluncuran November 2019, GSD dimulai dengan hanya 10 anak peserta. Skala kecil di awal adalah pilihan strategis yang bijaksana: memungkinkan pemerintah desa menguji model pembelajaran, mengidentifikasi kesulitan teknis dan pedagogis, serta membangun kepercayaan warga terhadap program sebelum memperluas jangkauan. Pertumbuhan dari 10 peserta di 2019 menjadi lebih dari 50 peserta pada 2021–2022 dan terus berkembang hingga 73 peserta dalam total rekaman kumulatif mencerminkan ekspansi organik yang didorong oleh reputasi program, bukan oleh kampanye promosi yang dipaksakan. [5]

Pada Februari 2022, tim KKN-P Kelompok 10 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) bergabung sebagai mitra pendampingan selama empat minggu (6–27 Februari 2022), membantu pengajar desa dalam monitoring pembelajaran komputer anak-anak. Keterlibatan mahasiswa Umsida ini adalah contoh kemitraan kampus-desa yang saling menguntungkan: desa mendapat bantuan tenaga pengajar tambahan, sementara mahasiswa mendapat pengalaman belajar lapangan langsung dalam program pemberdayaan digital komunitas. [5]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor pertama dan paling menentukan adalah model pengajaran berbasis perangkat desa yang menghilangkan biaya honor instruktur sepenuhnya. Sekretaris Desa Nur Amiril yang merangkap sebagai Ketua GSD, bersama perangkat desa lain yang melek komputer, menjadi pengajar sukarela yang motivasinya bukan honor, melainkan komitmen terhadap kemajuan warga desanya sendiri. Model ini hanya bisa bekerja jika dua kondisi terpenuhi secara bersamaan: perangkat desa memiliki kemampuan komputer yang memadai, dan pimpinan desa memiliki otoritas dan kepemimpinan yang cukup untuk menugaskan perangkat mengajar di luar jam kerja reguler mereka. [1]

Faktor kedua adalah ketepatan mekanisme seleksi yang memastikan manfaat program benar-benar sampai kepada yang paling membutuhkan. Persyaratan surat keterangan tidak mampu dari Ketua RT adalah mekanisme verifikasi yang sederhana, desentralistis, dan dipercaya warga — RT mengenal kondisi ekonomi warganya secara langsung, sehingga surat yang diterbitkannya jauh lebih akurat dari survei formal atau kriteria administratif yang lebih rumit. Dengan mekanisme ini, GSD tidak mengalami “kebocoran” manfaat ke keluarga yang sebenarnya mampu membeli kursus berbayar. [6]

Faktor ketiga adalah konteks ekosistem digital desa yang lebih luas. GSD tidak berdiri sendiri sebagai program terpisah — ia adalah bagian dari visi Desa Sugihwaras untuk menjadi desa digital yang komprehensif, yang juga mencakup marketplace desa, aplikasi SiPraja 4.0, dan website layanan publik mandiri. Ketika anak-anak GSD melihat bahwa orang dewasa di sekitar mereka — termasuk aparatur desa dan pelaku UMKM — juga aktif menggunakan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari, motivasi belajar mereka mendapat dukungan lingkungan yang jauh lebih kuat dibandingkan jika GSD berdiri sendiri di tengah desa yang tidak melek digital. [7]

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak terukur paling langsung adalah perluasan akses keterampilan digital kepada 73 anak dari keluarga kurang mampu yang tanpa GSD tidak akan memiliki jalan untuk memperoleh keterampilan tersebut. Akses ini bukan akses pasif — peserta GSD secara aktif belajar keterampilan yang bisa langsung mereka gunakan dan tunjukkan: membuat desain grafis, mengedit video, mengerjakan dokumen office, dan memahami dasar pembuatan aplikasi. Ketika keterampilan ini bisa ditunjukkan kepada guru, keluarga, dan teman sebaya, dampaknya melampaui angka — ia membangun kepercayaan diri yang sering kali lebih berharga daripada keterampilan teknisnya sendiri. [2]

Dampak pada prestasi pendidikan formal terdokumentasi secara eksplisit: peserta GSD mengalami peningkatan nilai mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) di sekolah masing-masing. Ini adalah dampak lintas sistem yang jarang dicapai oleh program pendidikan informal berbasis desa — biasanya program seperti ini diapresiasi secara sosial tetapi sulit dibuktikan dampaknya pada indikator pendidikan formal. Ketika guru TIK di sekolah melihat murid dari Desa Sugihwaras datang dengan kemampuan yang jauh di atas rata-rata, efek reputasi ini secara tidak langsung juga meningkatkan posisi sosial anak-anak dari keluarga kurang mampu di lingkungan sekolah mereka. [1]

Dampak yang melampaui batas desa adalah pengakuan Desa Sugihwaras sebagai model Smart Village oleh Kementerian Desa PDTT RI, yang mendokumentasikan GSD sebagai salah satu program unggulan. Pengakuan ini membawa efek multiplier yang penting: desa lain di seluruh Indonesia yang terpapar informasi tentang GSD melalui kanal komunikasi Kemendes mendapat inspirasi konkret bahwa program literasi digital berbasis desa adalah sesuatu yang nyata, terjangkau, dan bisa mereka lakukan sendiri. [5]

Tantangan dan Kendala

Tantangan paling mendasar yang teridentifikasi dalam berbagai dokumentasi GSD adalah ketergantungan program pada komitmen personal perangkat desa sebagai pengajar. Model zero-cost yang menjadi kekuatan GSD sekaligus menjadi kerentanannya: jika ada rotasi atau pergantian perangkat desa yang memiliki kemampuan komputer cukup untuk mengajar, atau jika perangkat yang bersangkutan tidak lagi memiliki waktu dan energi karena meningkatnya beban administrasi desa, program bisa terganggu atau bahkan terhenti tanpa ada mekanisme pengganti yang sudah disiapkan. Institusionalisasi peran pengajar melalui aturan desa atau SKB Kepala Desa adalah langkah yang perlu dilakukan agar keberlangsungan program tidak hanya bergantung pada goodwill individual. [8]

Tantangan dokumentasi juga muncul dalam proses evaluasi program: perbedaan pencatatan antara tiga rombel (sumber narasi inovasi dan Kompasiana) dengan empat kelas mingguan (data SETIA Sidoarjo) menunjukkan bahwa sistem pencatatan perkembangan program belum terstandarisasi dengan baik. Data yang tidak konsisten menyulitkan evaluasi dampak yang akurat dan mengurangi kredibilitas program saat dipresentasikan ke pihak eksternal yang ingin mereplikasi atau mendanai program ini. Diperlukan sistem dokumentasi yang terpusat, berkala, dan dapat diakses publik melalui website desa.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan GSD dalam jangka menengah bertumpu pada tiga langkah pengembangan yang sudah diidentifikasi oleh pemerintah desa sendiri. Pertama, pengembangan kurikulum secara berkelanjutan mengikuti perkembangan kebutuhan industri digital — keterampilan yang relevan di 2019 mungkin perlu diperbarui di 2026 dengan penambahan materi artificial intelligence dasar, digital marketing, dan keamanan digital. Kedua, pembangunan jalur sertifikasi resmi bagi lulusan GSD yang memberi pengakuan formal terhadap keterampilan yang sudah diperoleh — sertifikat dari lembaga yang diakui (seperti LSP atau BNSP) akan meningkatkan nilai GSD secara signifikan di mata calon pemberi kerja. [1]

Ketiga, formalisasi kemitraan dengan perguruan tinggi — khususnya Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang sudah terbukti terlibat dalam KKN-P pada 2022 — sebagai sumber tenaga pengajar tambahan yang memperbarui kemampuan dan materi GSD secara rutin. Kemitraan ini dapat diformalisasi dalam MoU yang memberikan Umsida hak untuk menempatkan mahasiswa KKN secara reguler di GSD, sementara pemerintah desa memberikan akses penelitian lapangan bagi dosen dan mahasiswa. Model kemitraan perguruan tinggi-desa ini adalah salah satu strategi keberlanjutan paling efektif untuk program pendidikan berbasis komunitas karena menyediakan sumber daya manusia baru secara berkesinambungan tanpa biaya permanen. [5]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Program Griya Sinau Digital berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs PBB untuk tahun 2030. Dengan menggunakan infrastruktur dan sumber daya yang sudah ada untuk memberikan akses keterampilan digital secara gratis kepada generasi termuda dari keluarga paling rentan, GSD adalah implementasi SDGs yang langsung terasa di tingkat komunitas terkecil tanpa memerlukan investasi infrastruktur besar.

No SDGs Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan GSD secara eksplisit dirancang sebagai instrumen pemutus kemiskinan antargenerasi: dengan memberikan keterampilan digital gratis kepada anak keluarga miskin, program ini memperbesar peluang mereka untuk memperoleh pekerjaan yang lebih layak dibandingkan generasi orang tua mereka. Kemiskinan yang berlanjut dari generasi ke generasi sering kali disebabkan oleh ketidaksetaraan akses pada keterampilan yang relevan di pasar kerja — GSD secara langsung menyerang akar penyebab ini.
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas GSD menyediakan akses pendidikan keterampilan digital berkualitas yang setara dengan kursus berbayar di kota, tanpa biaya apapun bagi keluarga miskin. Dampak langsung pada nilai mata pelajaran TIK di sekolah formal membuktikan bahwa GSD tidak hanya mengisi celah di luar sekolah, tetapi aktif meningkatkan kualitas capaian pendidikan formal peserta — sebuah sinergi yang jarang berhasil dicapai oleh program pendidikan informal.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Keterampilan yang diajarkan GSD — desain grafis, video editing, aplikasi perkantoran, pembuatan website dan aplikasi — adalah keterampilan yang memiliki permintaan nyata di pasar kerja digital Indonesia yang tumbuh pesat. Lulusan GSD yang menguasai keterampilan ini memiliki akses ke segmen pasar kerja yang upahnya secara rata-rata jauh lebih tinggi daripada pekerjaan buruh kasar yang selama ini menjadi pilihan terbatas bagi pemuda desa yang tidak memiliki keterampilan digital.
SDGs 10: Berkurangnya Ketimpangan Mekanisme seleksi berbasis surat keterangan tidak mampu dari Ketua RT memastikan bahwa manfaat GSD secara tepat sasaran menjangkau kelompok yang paling tereksklusi dari akses keterampilan digital. Ini adalah intervensi yang mengurangi ketimpangan digital (digital divide) bukan hanya antara kota dan desa, tetapi di dalam desa itu sendiri — antara anak keluarga mampu yang bisa membeli kursus berbayar dan anak keluarga miskin yang sebelumnya tidak bisa.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Keterlibatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo melalui program KKN-P pada 2022 menunjukkan model kemitraan kampus-desa yang dapat dijadikan template untuk direplikasi secara sistematis. Pengakuan Kementerian Desa PDTT RI terhadap GSD sebagai model Smart Village membuka pintu kemitraan dengan pemerintah pusat yang dapat mempercepat standardisasi kurikulum dan sertifikasi di tingkat nasional.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model GSD adalah salah satu inovasi pendidikan desa yang paling mudah direplikasi di seluruh Indonesia karena hambatan masuknya sangat rendah: tidak memerlukan gedung baru, tidak memerlukan instruktur profesional berbayar, dan tidak memerlukan perangkat keras mahal yang tidak tersedia di desa. Syarat minimum yang diperlukan adalah: satu ruangan di balai desa yang dapat digunakan di luar jam kerja, setidaknya dua perangkat desa yang menguasai komputer secara memadai, beberapa unit komputer (yang dapat diperoleh melalui hibah Dana Desa, CSR perusahaan, atau donasi alumni desa), dan komitmen jadwal mingguan yang konsisten. [1]

Untuk scale up di tingkat kabupaten, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo — melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) yang sudah mendaftarkan GSD dalam sistem SETIA — dapat mengembangkan paket replikasi GSD yang mencakup modul kurikulum terstandarisasi, panduan pengelolaan program, template dokumentasi peserta, dan akses ke jaringan kemitraan perguruan tinggi di Sidoarjo dan Surabaya. Dengan paket ini, setiap desa di Kabupaten Sidoarjo dapat memulai program GSD-nya sendiri dalam waktu satu bulan tanpa harus mulai dari nol seperti yang dilakukan Desa Sugihwaras pada 2019. Pengalaman Sugihwaras menunjukkan bahwa inovasi pendidikan digital berbasis desa yang paling berkelanjutan bukan yang paling canggih teknologinya, tetapi yang paling konsisten dijalankan oleh orang-orang yang paling peduli dengan masa depan anak-anak di sekelilingnya. [6]

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “Griya Sinau Digital, Inovasi Desa Sugiwaras untuk Kembangkan Ruang Komunitas Digital Desa,” inovasi.web.id. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/griya-sinau-digital-inovasi-desa-sugiwaras-untuk-kembangkan-ruang-komunitas-digital-desa/

[2] Kangamir, “Membangun Generasi Digital Sejak Usia Dini,” Kompasiana, 22 Apr. 2023. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/kangamir/6444c56908a8b51c05137522/membangun-generasi-digital-sejak-usia-dini

[3] Beritabaru.co, “Desa Sugihwaras Sidoarjo Terapkan Pelayanan Berbasis Digital,” beritabaru.co. [Online]. Available: https://beritabaru.co/desa-sugihwaras-sidoarjo-terapkan-pelayanan-berbasis-digital/

[4] Website Resmi Desa Sugihwaras, “Griya Sinau Digital – Inovasi Desa Sugihwaras,” sugihwaras.desa.id, 24 Nov. 2019. [Online]. Available: https://sugihwaras.desa.id/artikel/2019/11/24/griya-sinau-digital-inovasi-desa-sugihwaras

[5] DRPM Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, “Wujudkan Generasi Paham IPTEK, Tim KKN Umsida Dampingi Kegiatan Belajar Program Griya Sinau Digital,” drpm.umsida.ac.id. [Online]. Available: https://drpm.umsida.ac.id/wujudkan-generasi-paham-iptek-tim-kkn-umsida-dampingi-kegiatan-belajar-program-griya-sinau-digital/

[6] SETIA – Sistem Informasi Inovasi Kabupaten Sidoarjo, “Griya Sinau Digital – Inovasi Desa Sugihwaras,” setia.sidoarjokab.go.id. [Online]. Available: https://setia.sidoarjokab.go.id/inovasi/inovasi_sidoarjo/read?aksara=7688a5&id=78&per_page=7

[7] Jurnal Kebijakan Publik UTU, “Innovation in Sugihwaras Village, Sidoarjo District as A Smart Village Based on Government Policy,” jurnal.utu.ac.id, 29 Apr. 2023. [Online]. Available: https://jurnal.utu.ac.id/jppolicy/article/view/5971

[8] ResearchHub ID, “Digitalisasi Sebagai Upaya Pengembangan Sumber Daya Aparatur Pemerintah Desa Di Desa Sugihwaras,” researchhub.id, 29 Sep. 2023. [Online]. Available: https://researchhub.id/index.php/Khatulistiwa/article/view/1861

[9] YouTube – Kementerian Desa PDTT RI, “SUGIHWARAS, Desa di Sidoarjo yang Sedang Bersolek Menuju Desa Digital,” 9 Mar. 2021. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=QDtWUChCcvY

[10] YouTube – Pemerintah Desa Sugihwaras, “Griya Sinau Digital Desa Sugihwaras,” 30 Jun. 2021. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=27QL4OkyyBQ

Pemerintah Desa Kukuh dan INSTIKI Hadirkan Smart Farming IoT yang Ringankan Kerja Petani

Pemerintah Desa Kukuh dan INSTIKI Hadirkan Smart Farming IoT yang Ringankan Kerja Petani

Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Kukuh, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Bali bermitra dengan Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI) membangun Smart Farming berbasis Internet of Things (IoT) sebagai langkah nyata mewujudkan desa pintar (Smart Village). Sistem ini mengubah pengelolaan lahan dari cara konvensional menjadi proses otomatis yang dipantau melalui smartphone dan disimpan dalam cloud. ite>[1]

Inovasi ini bertujuan meringankan beban kerja petani, meningkatkan efisiensi budidaya, dan membuka peluang bagi generasi muda untuk memasuki sektor pertanian berbasis teknologi. Dampak utamanya terlihat pada otomatisasi penyiraman dan pemupukan, perekaman data lahan secara real-time, dan perubahan persepsi warga bahwa bertani bisa modern, bersih, dan berbasis data. ite>[2]

Latar Belakang

Desa Kukuh berada di Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Bali, dengan pertanian sebagai bagian penting kehidupan warga sehari-hari. Sebelum inovasi diterapkan, hampir seluruh aktivitas budidaya — mulai dari penyiraman, pemupukan, hingga pemantauan kondisi tanaman — dijalankan secara manual dan mengandalkan kebiasaan lapangan turun-temurun. Petani harus hadir langsung di lahan setiap hari untuk memastikan tanaman mendapatkan air dan pupuk yang cukup. ite>[3]

Pola konvensional itu menyita waktu dan tenaga, terutama saat cuaca berubah cepat dan keputusan lapangan lebih banyak bergantung pada perkiraan daripada data yang terukur. Petani yang membagi waktu dengan pekerjaan lain di luar sawah atau kebun semakin kesulitan memenuhi ritme kerja harian yang padat dan berulang. Kondisi ini membuat efisiensi lahan belum optimal dan potensi produktivitas tertahan oleh keterbatasan metode, bukan oleh keterbatasan lahan atau sumber daya alam. ite>[4]

Di sisi lain, Desa Kukuh memiliki ambisi nyata untuk menjadi desa digital yang memanfaatkan teknologi sebagai alat peningkatan kualitas hidup warga. Pemerintah desa melihat bahwa transformasi digital di sektor pertanian bukan sekadar modernisasi simbolik, melainkan solusi praktis yang menjawab kebutuhan nyata petani. Dari titik itulah kolaborasi dengan INSTIKI dimulai sebagai jalan paling realistis untuk menghadirkan teknologi pertanian presisi di tingkat desa. ite>[2]

Inovasi yang Diterapkan

Smart Farming berbasis IoT lahir dari kolaborasi Pemerintah Desa Kukuh dan INSTIKI yang dimulai dari satu pertanyaan sederhana: bagaimana teknologi dapat meringankan pekerjaan petani tanpa mempersulit cara kerjanya? Jawabannya bukan sebuah sistem yang rumit dan mahal, melainkan rangkaian sensor terhubung yang membaca kondisi lahan secara otomatis dan mengambil tindakan berdasarkan data tersebut. Gagasan ini tumbuh dari kebutuhan lapangan yang dirumuskan bersama antara dosen, mahasiswa INSTIKI, dan petani setempat. ite>[1]

Sistem ini bekerja dengan memasang sensor yang membaca kelembaban tanah, pH tanah, debit hujan, kondisi cuaca, dan ketersediaan air di tandon. Seluruh data dikirim secara real-time ke cloud dan tersimpan sebagai rekam jejak pengelolaan lahan yang terus bertumbuh dari waktu ke waktu. Berdasarkan pembacaan sensor itulah sistem mengaktifkan penyiraman dan pemupukan otomatis, sementara petani cukup membuka smartphone untuk memantau kondisi lahan tanpa harus hadir secara fisik. ite>[3]

Proses Penerapan Inovasi

Penerapan dimulai dengan memilih lahan non-produktif milik I Made Mastera di wilayah Subak Mumbu, Desa Kukuh, sebagai lokasi percontohan pertama. Lahan itu ditanami cabai agar manfaat sistem dapat diamati pada komoditas yang sudah akrab dan bernilai ekonomi bagi petani setempat. Keputusan ini strategis karena inovasi perlu dibuktikan pada lahan yang sebelumnya belum memberikan hasil optimal, sehingga perubahan yang ditimbulkan teknologi terlihat dengan jelas. ite>[4]

Tim dosen dan mahasiswa INSTIKI memasang sensor, menyiapkan tandon air, dan menyusun alur kerja perangkat dengan sistem cloud selama fase instalasi. Setiap komponen diuji agar data terbaca stabil dan perintah otomatis tidak terlambat saat kondisi lahan berubah secara tiba-tiba. Setelah tiga bulan implementasi dan uji coba, pemerintah desa bersama INSTIKI menggelar evaluasi resmi pada 12 Juli 2022 untuk mengukur kinerja sistem dan menghimpun masukan dari petani pengguna. ite>[2]

Selama masa uji coba, tim menghadapi tantangan kalibrasi sensor yang harus disesuaikan dengan karakter tanah Subak Mumbu yang berbeda dari kondisi standar laboratorium. Cuaca yang dinamis dan perbedaan kebiasaan bertani antara satu petani dengan petani lain menambah variabel yang harus diakomodasi dalam pengaturan sistem. Dari pengalaman itu, tim belajar bahwa teknologi pertanian berbasis sensor tidak bisa dikembangkan dari balik meja — ia harus dibangun bersama petani, di lahan nyata, dengan kesabaran menyesuaikan algoritma pada realitas yang terus berubah. ite>[3]

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan inovasi ini sangat ditentukan oleh kolaborasi yang saling melengkapi antara Pemerintah Desa Kukuh, INSTIKI, dan petani pemilik lahan. Perbekel I Nyoman Widhi Adnyana, S.Kom., M.Pd. — yang memiliki latar belakang teknologi informasi — berperan sebagai penggerak kebijakan sekaligus jembatan komunikasi antara kebutuhan petani dan kemampuan teknis tim kampus. INSTIKI menghadirkan keahlian rekayasa IoT melalui mahasiswanya, I Putu Dedy Martawan, yang mendedikasikan sistem ini untuk mendukung visi desa pintar Desa Kukuh. ite>[2]

Faktor penentu lainnya adalah kemudahan penggunaan yang dirancang sejak awal sebagai prioritas desain sistem. Petani tidak diharuskan memahami cara kerja sensor atau arsitektur cloud sebelum mulai memanfaatkan sistem dalam kegiatan budidaya sehari-hari. Saat pemantauan lahan bisa dilakukan cukup melalui smartphone, tingkat penerimaan petani terhadap teknologi ini meningkat secara alami, dan rasa percaya diri mereka dalam mengoperasikan sistem tumbuh seiring penggunaan yang berulang. ite>[1]

Hasil dan Dampak Inovasi

Hasil paling nyata dari penerapan Smart Farming adalah hilangnya keharusan petani untuk hadir secara fisik di lahan guna menjalankan penyiraman, pemupukan, dan pemantauan harian. Tiga aktivitas yang sebelumnya menyita waktu dan tenaga terbesar kini berjalan otomatis berdasarkan pembacaan sensor tanpa campur tangan manual. Energi petani dapat dialihkan ke keputusan budidaya yang lebih bernilai tinggi, seperti penentuan waktu panen, pengelolaan hama, dan perencanaan rotasi tanam. ite>[3]

Secara kuantitatif, sistem merekam sedikitnya lima jenis data lahan secara berkelanjutan: pH tanah, kelembaban tanah, kondisi cuaca, debit hujan, dan ketersediaan air di tandon. Data ini tersimpan di cloud dan membangun basis pengetahuan lokal yang semakin kaya dari musim ke musim. Percontohan telah diterapkan pada satu lahan cabai di Subak Mumbu dengan dukungan dua institusi utama yang bekerja dalam peran komplementer, yaitu Pemerintah Desa Kukuh sebagai inisiator dan INSTIKI sebagai pengembang teknis. ite>[4]

Secara kualitatif, inovasi ini menggeser cara pandang warga desa terhadap pekerjaan bertani secara fundamental. Stigma bahwa bertani selalu identik dengan pekerjaan kotor, berat, dan tidak berwawasan masa depan mulai runtuh ketika petani muda melihat sawah dan kebun sebagai ruang inovasi yang dikelola dengan data dan teknologi. INSTIKI berkomitmen terus mengembangkan teknologi serupa di desa-desa di Bali dan Nusa Tenggara Barat, menjadikan Desa Kukuh sebagai titik awal ekosistem pertanian digital yang lebih luas. ite>[2]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar yang dihadapi selama penerapan adalah kalibrasi sensor yang harus disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim mikro Subak Mumbu yang memiliki karakteristik berbeda dari kondisi standar pengujian di laboratorium. Variasi cuaca harian yang tinggi di kawasan Tabanan — antara hujan deras dan terik panas dalam satu hari — menuntut penyesuaian parameter sensor yang tidak bisa diselesaikan sekali dan dibiarkan begitu saja. Setiap perubahan kondisi lapangan mengharuskan tim pengembang untuk kembali ke lahan, menguji ulang pembacaan, dan memperbarui pengaturan sistem. ite>[3]

Kendala lain yang perlu diperhatikan adalah ketergantungan sistem pada konektivitas internet yang stabil untuk memastikan data terkirim ke cloud dan perintah otomatis dapat dieksekusi tepat waktu. Di wilayah perdesaan yang kualitas sinyal internet-nya tidak selalu konsisten, gangguan koneksi dapat menyebabkan jeda dalam pembacaan sensor dan penundaan aktivasi penyiraman otomatis yang berakibat pada kondisi tanaman. Ketersediaan teknisi lokal yang mampu melakukan pemeliharaan perangkat keras sensor juga menjadi tantangan jangka panjang yang perlu diantisipasi sebelum sistem direplikasi ke lebih banyak lahan. ite>[1]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Smart Farming Desa Kukuh bertumpu pada dua langkah utama yang harus berjalan beriringan. Pertama, pemerintah desa perlu memasukkan anggaran pemeliharaan perangkat, pembaruan firmware, dan pendampingan rutin petani ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) tahunan agar sistem tidak berhenti beroperasi ketika proyek kolaborasi awal dengan INSTIKI selesai. Kedua, data yang terus terkumpul dari musim ke musim harus aktif dimanfaatkan sebagai basis keputusan budidaya, bukan hanya disimpan sebagai arsip yang tidak dibaca. ite>[3]

INSTIKI berkomitmen menjaga hubungan teknis jangka panjang dengan Desa Kukuh sebagai salah satu desa mitra pengembangan teknologi pertanian di Bali dan Nusa Tenggara Barat. Komitmen ini membuka peluang pembaruan sistem secara berkala mengikuti perkembangan teknologi sensor dan platform cloud yang terus berevolusi. Dengan pola kemitraan yang terjaga, Smart Farming Desa Kukuh dapat berkembang dari satu lahan percontohan menjadi model pengelolaan pertanian digital yang menjadi standar bagi desa-desa lain di kawasan yang sama. ite>[2]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Program Smart Farming berbasis IoT Desa Kukuh berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs PBB 2030. Dengan mengintegrasikan teknologi digital ke dalam ekosistem pertanian desa yang sudah ada, inovasi ini menjawab agenda pembangunan berkelanjutan dari dimensi ekonomi, lingkungan, dan kapasitas sumber daya manusia secara bersamaan.

No SDGs Penjelasan
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Otomatisasi penyiraman dan pemupukan berbasis data sensor meningkatkan konsistensi perawatan tanaman dan mengurangi risiko gagal panen akibat kesalahan perlakuan manual. Sistem yang membaca kelembaban tanah dan debit hujan secara real-time memastikan tanaman mendapat air dan pupuk dalam jumlah dan waktu yang tepat, mendukung produktivitas pertanian desa secara berkelanjutan.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Smart Farming meringankan beban kerja fisik petani dan memungkinkan satu orang mengelola lahan yang lebih luas dengan tenaga yang lebih sedikit, meningkatkan efisiensi ekonomi budidaya secara langsung. Citra pertanian sebagai pekerjaan modern berbasis data mendorong minat generasi muda desa untuk memasuki sektor pertanian, memperkuat basis SDM pertanian yang semakin menua.
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Implementasi IoT di sektor pertanian desa adalah bukti nyata bahwa infrastruktur inovasi teknologi tidak hanya milik kota dan industri besar. Kolaborasi pemerintah desa dengan perguruan tinggi INSTIKI membangun ekosistem inovasi berbasis komunitas yang mentransfer teknologi frontier ke tingkat komunitas terkecil secara langsung dan terukur.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab Sistem penyiraman dan pemupukan otomatis berbasis sensor kelembaban tanah secara langsung mencegah penggunaan air dan pupuk yang berlebihan — dua sumber pemborosan terbesar dalam pertanian konvensional yang juga menjadi sumber polusi tanah dan air. Pertanian presisi berbasis data mendorong produksi pangan yang lebih efisien sumber dayanya per unit hasil panen.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Model kolaborasi Desa Kukuh–INSTIKI adalah contoh kemitraan pemerintah desa–perguruan tinggi yang menghasilkan inovasi konkret di lapangan, bukan sekadar penelitian yang tersimpan di jurnal. INSTIKI berkomitmen mengembangkan kemitraan serupa di desa-desa lain di Bali dan NTB, menjadikan model ini template yang dapat direplikasi di seluruh Indonesia.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Replikasi Smart Farming Desa Kukuh dapat dimulai dari penyusunan paket dokumentasi teknis yang memuat spesifikasi perangkat minimum, panduan instalasi sensor, skema pelatihan operator petani, dan prosedur pemeliharaan berkala yang realistis sesuai kapasitas desa. Paket ini perlu disusun dalam bahasa yang mudah dipahami oleh kepala desa dan penyuluh pertanian, bukan hanya oleh insinyur, agar proses adopsi tidak terganjal oleh hambatan teknis yang sebenarnya bisa disederhanakan. Pengalaman tiga bulan uji coba di Subak Mumbu harus didokumentasikan sebagai studi kasus pembelajaran yang jujur, termasuk tantangan kalibrasi dan solusi yang ditemukan. ite>[3]

Untuk scale up, INSTIKI telah menyatakan komitmen mengembangkan teknologi serupa di desa-desa di Bali dan Nusa Tenggara Barat, membuka peluang replikasi yang didukung oleh institusi akademik yang sudah berpengalaman. Pemerintah Kabupaten Tabanan dapat mempercepat proses ini dengan menjadikan model Desa Kukuh sebagai program percontohan resmi desa digital kabupaten, memberikan dukungan anggaran dan fasilitasi akses ke lembaga penelitian yang dapat membantu desa-desa penerima replikasi dalam proses kalibrasi dan adaptasi sistem. ite>[2]

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “ID 00678: Pemerintah Desa Kukuh dan INSTIKI Hadirkan Smart Farming IoT yang Ringankan Kerja Petani,” inovasi.web.id, 5 Mar. 2026. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/pemerintah-desa-kukuh-dan-instiki-hadirkan-smart-farming-iot-yang-ringankan-kerja-petani/

[2] INSTIKI, “Inovasi Smart Village! Desa Kukuh, Tabanan Berkolaborasi Bersama INSTIKI Bangun Smart Farming Berbasis IoT,” instiki.ac.id, 15 Jul. 2022. [Online]. Available: https://instiki.ac.id/2022/07/15/inovasi-smart-village-desa-kukuh-kerambitan-tabanan-berkolaborasi-bersama-instiki-bangun-smart-farming-berbasis-iot/

[3] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “Inovasi Smart Village, Desa Kukuh Bangun Smart Farming Berbasis IoT,” inovasi.web.id, 20 Apr. 2023. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/inovasi-smart-village-desa-kukuh-bangun-smart-farming-berbasis-iot/

[4] Pemerintah Desa Kukuh, “Evaluasi Penerapan Sistem Smart Farming Berbasis IoT di Desa Kukuh Kerambitan,” kukuh.desa.id, 12 Jul. 2022. [Online]. Available: https://www.kukuh.desa.id/artikel/2022/07/12/evaluasi-penerapan-sistem-smart-farming-berbasis-iot-di-desa-kukuh-kerambitan

[5] YouTube – INSTIKI & Desa Kukuh, “Kukuh Kerambitan Smart Farming,” 25 Agust. 2022. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=-zYcvHF6aOE

ID 00577: Berkat Teknologi Hybrid Energi One Pole (Heop), Dusun Bondan Nikmati Listrik dari Energi Terbarukan Secara Gratis

ID 00577: Berkat Teknologi Hybrid Energi One Pole (Heop), Dusun Bondan Nikmati Listrik dari Energi Terbarukan Secara Gratis

Kini Dusun Bondan tak gelap lagi. Berkat teknologi Hybrid Energi One Pole (HEOP), warga dapat menikmati layanan listrik. Heop adalah teknologi listrik terbarukan yang menggabungkan panel surya dan kincir angin. Istimewanya, warga mendapat jaringan listrik yang lebih aman dan gratis.

Dusun Bondan terletak di Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Dusun itu dihuni oleh 74 kepala keluarga. Sebelum diterpakan teknologi HEOP, setiap malam warga menghidupkan teplok atau lampu berbahan bakar minyak untuk penerangan.

Nama Inovasi Teknologi Hybrid Energi One Pole (Heop)
Pengelola Dusun Bondan, Desa Ujung Alang
Alamat Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah
Kontak Kustoro (Sekretaris Desa Ujung Alang)
Telepon +62-812-2881-4058

Ada juga lampu LED dengan sumber tenaga dari aki. Ada sebagian rumah yang menyalakan lampu dari listrik. Tetapi nyala listrik biarpet, karena jaringan listriknya tidak stabil.

Dusun Bondan memang belum mendapat layanan listrik dari jaringan PLN secara resmi. Sejak 2010, sebagian warga yang menggunakan listrik PLN harus menarik kabel sejauh 5 kilometer (km) dari dusun sebelah.

Jauhnya jarak antara sumber listrik dan pengguna berdampak daya listrik tak bisa stabil. Nyalanya kadang terang, tetapi kemudian redup.

Warga menyadari aliran listrik yang ditarik dengan kabel secara mandiri oleh warga cukup berbahaya. Terlebih, kabel yang ditarik hanya menggunakan tiang-tiang kayu melewati tanah di rawa-rawa.

Aliran listrik di atas hanya digunakan untuk 24 keluarga. Sebanyak 50 keluarga lainnya menggunakan pelita dari minyak maupun lampu LED dengan batu baterai.

Untuk sampai ke Dusun Bondan, para pengunjung dapat menggunakan moda transportasi perahu sekitar 2,5 jam dari Dermaga Sleko, Cilacap. Karena Dusun Bondan terletak di areal hutan mangrove, maka akses utama menuju lokasi menggunakan moda transportasi perahu.

Harapan muncul pada Februari 2017, saat Serikat Pekerja Patra Wijayakusuma (SP PWK) Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap membawa teknologi Hybrid Energi One Pole (HEOP) ke Dusun Bondan. Teknologi inovatif itu menggabungkan panel surya dengan kincir angin yang kemudian menghasilkan listrik.

Teknologi itu sangat pas untuk daerah pesisir seperti Dusun Bondan, karena energi listrik dihasilkan dari sinar matahari dan tiupan angin.

Teknologi Heop sendiri lahir dari sebuah ajang kompetisi karya ilmiah mahasiswa tentang inovasi teknologi terapan untuk masyarakat pesisir. Salah satu pemenangnya adalah STT PLN Jakarta yang mengusung teknologi panel surya dan kincir angin.

SP PWK menantang mereka menerapkan temuannya di Dusun Bondan.

Pada fase pemasangan pertama, teknologi itu mampu menghasilkan listrik untuk dua fasilitas umum (masjid dan tempat pertemuan) serta tiga rumah penduduk. Pemeliharan alat sangat sederhana sehingga langsung diserahkan pada warga.

Melihat perkembangan baik di atas, SP PWK Pertamina meminta manajemen Pertamina RU IV untuk ikut andil dalam memperbanyak teknologi tersebut sehingga menjangkau lebih luas lagi rumah warga.

Pucuk dicinta ulam tiba, manajemen menyambut baik ide dari SP PWK. Lewat dukungan dana Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina, ada 14 titik lagi yang bakal dibangun instalasi Heop. Selain itu, ada 14 panel surya untuk kompleks rumah yang jaraknya jauh.

Kini, Desa Bondan telah mendapat akses listrik dari energi terbarukan yang mampu menerangi seluruh rumah warga. Hal itu sejalan dengan visi Pertamina yang tengah gencar mengkampanyekan energi terbarukan.

Dengan inovasi teknologi HEOP, Dusun Bondan menjadi dusun mandiri energi.

ID OO562: Kelompok Cipta Karya, Desa Bukian Ciptakan Teknologi Kincir untuk Penjernihan Air yang Ramah Lingkungan

ID OO562: Kelompok Cipta Karya, Desa Bukian Ciptakan Teknologi Kincir untuk Penjernihan Air yang Ramah Lingkungan

Desa Bukian memiliki banyak sumber mata air. Namun, masyarakat desa kesulitan mengakses air bersih karena topografi desa yang berbukit-bukit. Kelompok Cipta Karya, Desa Bukian, menciptakan mesin kincir air untuk meningkatkan kualitas air yang ramah lingkungan. Inovasi teknologi ini memudahkan masyarakat mengakses air bersih untuk keperluan sehari-hari.

Kelompok Cipta Karya merupakan salah satu kelompok masyarakat di Desa Bukian, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali. Selain untuk keperluan mandi cuci kakus (MCK), masyarakat Desa Bukian memanfaatkan air untuk memenuhi kebutuhan pertanian, peternakan, usaha loundry, hingga usaha warung. Karena topografi desa di perbukitan, pada saat hujan kondisi air sering keruh sehingga warga sulit mendapatkan air minum yang higienis.

Nama Inovasi Teknologi Kincir Air untuk Penjernihan Air Minum
Pengelola Pemerintah Desa Bukian dan Kelompok Cipta Karya
Alamat Desa Bukian, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali
Kontak
  • I Made Junartha (Kepala Desa Bukian)- +62-857-3834-4447
  • Wayan Budi (Kelompok Cipta Karya) – +62-813-3967-3385
  • Lokasi mata air jauh dari pemukiman masyarakat. Warga biasanya berjalan kaki cukup jauh, sekitar 3-5 Km, naik turun pegunungan, dengan waktu tempuh cukup lama antara 1-2 jam. Bermodal tekad, solidaritas, dan pengetahuan, pada 2008, sekelompok warga mendirikan Kelompok Cipta Karya untuk merancang mesin kincir air. Mesin ini dirancang sebagai alat untuk meningkatkan kualitas air yang biasanya keruh.

    Rekayasa mesin dimulai pada 2010 bermodal dana swadaya masyarakat. Mesin dirancang dengan teknologi sederhana, tapi ramah lingkungan, seperti tidak menimbulkan bising, tidak menghasilkan limbah, biaya operasional murah, dan dapat menggerakkan perekonomian masyarakat. Biaya operasional dan perawatan mesin hanya Rp 120 ribu perbulan, biasanya untuk membeli pelumas.

    Pada 2015, Musyawarah Desa Bukian sepakat menetapkan penyediaan air bersih menjadi program prioritas desa. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) diberi mandat untuk mendirikan unit usaha PAM Desa. Modal usaha berasal dari swadaya masyarakat dan bantuan program Pamsimas senilai Rp 500 juta. Karena itu, Kelompok Cipta Karya menyerahkan pengelolaan mesin kincir air bersih pada Perusahaan Air Minum (PAM) Desa. Selanjutnya, PAM Desa melakukan pemasangan instalasi pipa untuk mendistribusikan air bersih ke rumah-rumah penduduk.

    Kini, PAM Desa melayani kebutuhan air untuk 269 KK. Untuk mendapatkan air bersih, masyarakat hanya membayar iuran yang sangat murah antara Rp 3 ribu hingga Rp 10 ribu per KK, tergantung kapasitas pemakaian mereka. Dari penyediaan air minum, PAM Desa mampu meraup laba Rp 2,5 Juta – Rp. 3 Juta perbulan.

    Berkat kemudahan masyarakat mengakses air bersih, sejumlah usaha masyarakat berkembang pesat. Sebelumnya, sumber mata pencaharian masyarakat hanya bergerak di sektor pertanian. Kini, sejumlah usaha baru mulai tumbuh, seperti usaha loundrKecamatan Payangan Kabupaten Gianyar, Baliy dan peternakan. Usaha di sektor pertanian juga semakin bergairah karena pasokan air lebih terjamin.

    Inovasi teknologi yang dilakukan Desa Bukian mendapatkan apresiasi tingkat nasional. Desa Bukian menyabet desa terbaik untuk Lomba Cipta Karya Teknologi Tepat Guna tahun 2017. Desa Bukian memberikan pelajaran penting bagi pemanfaatan teknologi berbiaya murah yang mampu menyelesaikan permasalahan masyarakat.

    Desa Bukian berharap Pemerintah Kabupaten Gianyar membantu pengurusan hak paten atas inovasi mesin kincir air ramah lingkungan. Tujuannya, untuk meminimalisasi praktik akuisisi atau klaim penemuan oleh pihak lain yang cenderung merugikan Desa Bukian, sebagai inisiator sekaligus pencipta teknologi kincir air tersebut.

    ID 00560: Revitalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), Desa Tepian Terap Mampu Penuhi Kebutuhan Listrik dan Air Bersih Masyarakat

    ID 00560: Revitalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), Desa Tepian Terap Mampu Penuhi Kebutuhan Listrik dan Air Bersih Masyarakat

    Tak seluruh desa di Kabupaten Kutai Timur dapat menikmati ketersediaan sarana listrik dan air bersih, salah satunya Desa Tepian Terap. Untuk mengatasi keterbatasan itu, pemerintah desa memanfaatkan sumber mata air di kawasan hutan pegunungan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Untuk menjaga kualitas debit air, Pemerintah Desa membuat Perdes tentang larangan eksplorasi dan eksploitasi hutan di sekitar kawasan PLTMH seluas lebih dari 300 hektar. Berkat PLTMH, seluruh warga desa Tepian Terap mampu menikmati listrik dan air bersih.

    Desa Tepian Terap terletak di Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Lokasi desa berada cukup jauh dari kota kabupaten dan medan untuk menjangkau desa cukup sulit, bahkan ekstrim. Layanan PLN dan PDAM Kabupaten Kutai Timur tak mampu menembus desa Tepian Terap. Akibat keterbatasan itu, masyarakat desa sulit mengembangkan potensi-potensi desa, terutama di bidang ekonomi.

    Nama Inovasi Revitalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH)
    Pengelola Pemerintah Desa dan BUMDes Jiwata Energy
    Nama Inovasi Desa Tepian Terap, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur
    Kontak Feliks Tintamanis (Desa Tepian Terap)
    Telepon +62-812-5524-6038

    Awalnya, pemerintah desa menampung keluhan masyarakat terkait dengan tidak adanya listrik dan air bersih. Pemerintah dan masyarakat desa sepakat untuk mengaktifkan kembali PLTMH yang rusak. Kerusakan paling parah terjadi pada instalasi baling-baling. PLTMH yang rusak merupakan infrastruktur yang dibangun melalui Program PNPM-Mandiri Perdesaan di masa lalu.

    Anggaran perbaikan instalasi PLTMH diambil dari pos Dana Desa (DD). Pemerintah Desa mengalokasikan Dana Desa sebesar Rp 225.000.000 untuk mendukung pembangunan PLTMH. Pemerintah Desa juga mengomunikasi kesepakatan tersebut pada Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan pihak perusahaan swasta sekitar desa untuk mendapatkan tambahan anggaran pembangunan dan perbaikan PLTMH. Hasilnya, pemerintah kabupaten dan pihak perusahaan siap membantu pengadaan sejumlah kompunen dengan total bantuan Rp 528.000.000,-

    Kini, PLTMH Desa Tepian Terap mampu memproduksi listrik berkapasitas 54 KW dan mengaliri 200 keluarga. Berdasarkan kesepakatan pemerintah dan warga desa, pengelolaan PLTMH diserahkan pada BUMDes Jiwata Energy. Pengelolaan listrik sama persis dengan PLN, yaitu dengan sistem iuran yang ditentukan melalui jumlah pemakaian listrik dalam satu bulan. Penghasilan kotor yang diterima BUMDes sebesar Rp 14.000.000/bulan. Dari usaha pengelolaan PLTMH, BUMDes dapat menyumbang pendapatan asli desa (PADes) sebesar Rp 4.000.000,- perbulan.

    Selain itu, Pemerintah desa mampu membangun instalasi pipa induk air bersih. Masyarakat hanya membangun pipa-pipa air ke rumah masing-masing secara swadaya. Air bersih yang dialirkan ke rumah-rumah warga diberikan secara gratis tanpa dipungut biaya.

    Inovasi PLTMH yang dilakukan Desa Terian Terap memberi dua keuntungan. Pertama, seluruh masyarakat desa dapat menikmati aliran listrik selama 24 jam perhari. Kedua, aliran air yang ditampung dalam bak PLTMH dapat dialirkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat desa. Akibatnya, pemerintah desa mendapat keuntungan ganda berupa iuran listrik dan air bersih sekaligus.

    Selain itu, kegiatan pelayanan kantor desa menjadi lebih maksimal. Minat belajar anak-anak sekolah juga meningkat, tak terkecuali roda perekonomian masyarakat desa semakin bergairah.

    ID 00536: Berkat Inovasi Wajan Bolic, Desa Demulih Berikan Layanan Internet Gratis untuk Masyarakat Desa

    ID 00536: Berkat Inovasi Wajan Bolic, Desa Demulih Berikan Layanan Internet Gratis untuk Masyarakat Desa

    Pemerintah Desa Demulih mengusung brand smart village untuk meningkatkan produktivitas dan perekonomian masyarakat desa. Untuk mewujudkan smart village, seluruh elemen desa dibiasakan untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, baik dalam perencanaan desa, pelayanan publik, maupun mobilitas ekonomi.

    Pemerintah Desa Demulih menggunakan teknologi wajan bolic untuk memberikan layanan internet gratis secara merata bagi seluruh warga. Kini, warga dapat berpartisipasi aktif dalam mewujudkan konsep smart village di seluruh wilayah Desa Demulih.

    Nama Inovasi Internet Gratis dengan Wajan Bolik
    Pengelola Pemerintah Desa Demulih
    Alamat Desa Demulih Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali 80661. Telepon: 0366 5501703
    Kontak I Nyoman Wijana,S.E (Perbekel Desa Demulih)
    Telepon +62-85-792-143-033
    Email desademulih001@gmail.com
    Website https://demulih.desa.id

    Desa Demulih merupakan salah satu desa di Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali. Luas wilayahnya 463 Ha dengan penduduk sebanyak 1.325 KK atau 4.659 jiwa yang tersebar di tiga Banjar Dinas, yaitu Banjar Dinas Demulih, Banjar Dinas Tanggahan Tengah, dan Banjar Dinas Tanggahan Talang Jiwa.

    Mata pencaharian penduduk cukup beragam, mulai dari petani, pelaku pariwisata, pedagang, pengrajin ukiran kayu, pegawai negeri sipil, maupun produksi obat-obatan herbal.

    Pada 2016, Desa Demulih mendapat tantangan dalam menerapkan konsep smart village karena salah satu banjar dinas yang ada di desa itu, yaitu Banjar Dinas Tanggahan Talang Jiwa, tidak memiliki akses telepon atau internet.

    Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Desa Demulih dengan persetujuan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) menggagas penyediaan internet gratis yang sumber dana dari Anggaran Pendapatan dan belanja Desa 2017. Inovasi ini mendapat sambutan baik dari masyarakat Desa Demulih, bahkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Bangli bersedia menjadi supervisor.

    Akses internet utama ada di Kantor Desa yang berada di Banjar Demulih. Kendala berikutnya adalah topologi wilayah Banjar Tanggahan Talang Jiwa yang berada cukup jauh dari Banjar Demulih (7 Km). Untuk itu, Tim IT Desa Demulih memutuskan untuk menggunakan teknologi jaringan nirkabel (wireless).

    Melalui tower pemancar, sinyal dari Banjar Demulih dipancarkan menuju ke Banjar Tanggahan Talang Jiwa dan Banjar Tanggahan Tengah. Hal ini bisa terwujud karena adanya Bukit Demulih yang terletak cukup tinggi sehingga jarak jangkauan nirkabel ini tidak terhalang oleh pepohonan yang menjadi kendala utama dari jaringan nirkabel ini.

    Pada 2017, Pemerintah Desa Demulih kini memberi akses hotspot gratis untuk kantor desa dan seluruh balai banjar. Bahkan, warga desa dapat mengakses administrasi dan informasi desa dengan menggunakan smartphone (telepon pintar) berbasis android.

    Masyarakat dapat mengakses informasi tentang profil desa, jadwal posyandu, produk unggulan, perpustakaan online, peta RTM dan surat menyurat (Surat Keterangan Usaha, Surat Keterangan Tidak Mampu, dsb). Masyarakat juga bisa memberikan kritik, saran maupun melakukan pengaduan melalui fitur pengaduan online.

    Pemerintah Desa Demulih berkomitmen besar untuk memberikan pelayanan yang terbaik, efektif, dan efisien kepada masyarakat. Pemanfaatan teknologi informasi mempermudah proses pelayanan masyarakat. Bahkan, bila masyarakat yang ingin mendapatkan akses internet gratis ini dari rumahnya bisa menggunakan wajan bolik yang berfungsi sebagai penangkap sinyal dari internet yang ada di balai banjar.

    Teknologi wajan bolic mampu menyebarkan wifi hingga radius 2 Km. Wajan bolik bisa dikategorikan sebagai teknologi tepat guna karena seluruh bahan baku yang dibutuhkan mudah ditemukan dan harga akhir yang lebih murah daripada menggunakan jenis antena lain.

    Untuk website dan pelayanan online dirancang ramah untuk pengguna telepon pintar berbasis android. Untuk mengontrol penggunaan internet menggunakan mikrotik routerboard sebagai router dan akses wifi menggunakan username dan password. Ke depannya username dan password ini akan dibuat dengan menggunakan NIK sehingga kontrol akses menjadi lebih mudah.

    Pemanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi di Desa Demulih memberi manfaat cukup besar, seperti:

    • Dengan adanya wifi gratis di kantor desa dan di masing-masing balai banjar diharapkan mempermudah akses informasi masyarakat.
    • Mempermudah pelayanan masyarakat dengan adanya surat online dan pengaduan online.
    • Kedepannya perlu ditambah titik-titik hotspot gratis yang tempatnya strategis dan mudah dijangkau masyarakat.
    • Pengguna sekarang dibatasi dengan menggunakan username dan password yang umum, kedepannya setiap masyarakat yang hendak menggunakan jaringan smart village hendaknya mempunyai username dan password yang berbeda yang didasarkan atas NIK.
    • Untuk pengelolaan yang lebih profesional dan untuk menambah PAD Desa, program ini ke depannya bisa dikelola oleh BUMDes.

    Selain manfaat, mereka juga menghadapi sejumlah tantangan, antara lain:

    • Kondisi geografis menjadi faktor utama dalam penerapan smart village.
    • Pemasangan jaringan nirkabel di Desa Demulih kendala utamnya adalah adanya halangan (Pohon, bangunan yang tinggi) yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas jaringan nirkabel ini sehingga tinggi pemancar dan penerima (tower) menjadi pertimbangan tersendiri bagi penerapan program ini (semakin tinggi biasanya semakin bagus dengan biaya yang juga semakin tinggi).
    • Dalam pembuatan wajan bolik, semakin besar diameter wajan, semakin baik sinyal yang bisa ditangkap, namun kendalanya, semakin susah juga pemasangannya dan semakin sering juga perlu dikalibrasi ulang untuk mendapatkan sudut yang pas.
    • Perlu adanya sosialisasi yang lebih intens kepada masyarakat mengenai penerapan smart village ini dalam kehidupan sehari-hari sehingga program ini bisa tepat guna.
    ID 00530: Mesin Pengering Gabah Sederhana, Inovasi Desa Subuk Siasati Kondisi Cuaca dalam Pengeringan Gabah

    ID 00530: Mesin Pengering Gabah Sederhana, Inovasi Desa Subuk Siasati Kondisi Cuaca dalam Pengeringan Gabah

    Para petani di Desa Subuk tak perlu risau dengan cuaca mendung dan hujan untuk mengeringkan hasil panen padi. Mereka berinovasi menciptakan alat pengering sederhana berbahan bakar gas yang menghasilkan ultraviolet matahari. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk mewujudkan inovasi desa ini mudah didapatkan di pasar lokal, seperti kipas (blower), besi plat, regulator, dan pipa-pipa.

    Prinsip kerja mesin yaitu memanfaatkan hawa panas sebagai media pengering gabah. Untuk pengembangan serta penyempurnaan, alat ini masih perlu ditambahkan pengatur waktu (timer) dan pengukur suhu untuk mengatur lamanya waktu serta tingkat suhu kering agar tidak terjadi “over dry” (kelebihan panas) dalam proses pengeringan.

    Nama Inovasi Mesin Pengering Gabah Sederhana
    Pengelola Pemerintah Desa Subuk
    Alamat Desa Subuk, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali.
    Kontak Person Ketut Suliada Kasana, ST (Perbekel Desa Subuk)
    Telepon +62-819-3648-0101/+62-812-3758-3402

    Desa Subuk terletak di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali. Desa Subuk termasuk desa tua yang diperkirakan berdiri pada 1820 masehi. Konon, awalnya Desa Subuk dihuni oleh 15 KK yang menempati daerah rendah yang disebut Lebah Sari. Karena posisi desa yang rendah, masyarakat diserang hama semut dan penyakit sehingga berpindah ke tempat yang lebih tinggi yang diberi nama “Subuk” yang mempunyai makna “ibuk” (inguh/sibuk/bingung).

    Desa Subuk yang berlokasi di bagian Barat Daya Kabupaten Buleleng, yang mempunyai kontur daerah berbukit dengan kelembaban tinggi. Secara geogreafis dan administratif, Desa Subuk merupakan salah satu dari 129 desa di Kabupaten Buleleng yang memiliki luas wilayah 434 Ha. Secara topografis terletak pada ketinggian 200 sampai 400 meter di atas permukaan laut.

    Desa Subuk berbatasa dengan Desa Titab di sebelah utara, Desa Tinggarsari di sebelah timur, Desa Bantiran di sebelah selatan, dan Desa Pucaksari di sebelah barat. Kehidupan masyarakat Desa Subuk, kebanyakan adalah bertani dan berkebun, selebihnya berprofesi sebagai pedagang. Alokasi lahan terdiri dari tanah sawah seluas 64,4 Ha dan tegalan seluas 326,88 Ha.

    Dengan lahan pertanian yang luas, otomatis kehidupan masyarakat adalah sebagai petani dan pekebun sebagai kegiatan harian serta penghasilan tetap. Pertanian di Desa Subuk, didukung oleh lahan yang sangat subur sehingga sangat didukung oleh faktor alam dengan sumber mata air yang melimpah.

    Padi adalah salah satu tanaman homogen di persawahan Desa Subuk yang menjadi andalan masyarakat Desa Subuk dalam kehidupannya. Selama ini, pertanian padi jarang terserang hama akibat dari kepedulian masyarakat desa dalam menata serta mengelola sawahnya secara kontinyuitas.

    Permasalahan yang dihadapi masyarakat terkait dengan kelembaban yang tinggi sehingga menyulitkan petani mengeringkan gabah (padi). Tantangan yang muncul adalah bagaimana bisa mengeringkan padi pasca panen dalam kondisi alam dengan kelembaban tinggi ataupun pada saat musim hujan yang bercurah tinggi. Selain padi, kebutuhan lainnya adalah alat pengering untuk hasil panen lainnya seperti cengkeh, kopi, dan lain-lain.

    Akhirnya, Pemerintah Desa Subuk merancang pembuatan alat yang bisa mengeringkan hasil-hasil pertanian dan perkebunan yang sederhana, termasuk perancangan alat juga memperhitungkan kemampuan ekonomi masyarakat. Mereka memulai dengan menciptakan alat pengering sederhana, yang dibidani oleh Kepala Desa Subuk dibantu masyarakat serta kader-kader Desa Subuk.

    Setelah melalui perhitungan yang matang, maka diprediksi untuk membuat alat pengering dengan kapasitas 2.500 Kg bahan mentah (gabah) atau menghasilkan beras sejumlah 1.250 Kg, dimensi alatnya 4m x 2m x 1,2m. Proses pengeringan membutuhkan waktu selama 12 jam dengan dukungan bahan bakar gas LPG 3 Kg sebanyak 8 tabung.

    Tantangan selanjutnya adalah pendanaan untuk mewujudkan alat tersebut. Kelompok-kelompok tani di Desa Subuk kesulitan pendanaan untuk menciptakan alat tersebut, terlebih bila alat yang wajib dimiliki oleh setiap kelompok tani. Akhirnya, Pemerintah Desa Subuk mempresentasikan gagasan itu ke Pemerintah Kabupaten Buleleng untuk mendapatkan dukungan pendanaan, sekaligus penyempurnaan desain mesin.

    Keberadaan alat pengering gabah sangat dibutuhkan petani. Capaian sementara, alat pengering tersebut baru mampu berproduksi untuk membantu pengeringan gabah pada satu kelompok tani. Ke depan, Desa Subuk akan menjadi sentra penghasil penganan padi tanpa terhalang cuaca ataupun keadaan alam yang ada. Pemerintah Desa Subuk siap mengembangkan alat dan mentransfer pengetahuan ke desa-desa lain untuk mewujudkan daulat pangan di Kabupaten Buleleng.

    Diolah dari htpp://inovasidesabali.com/