ID 00554: Cetak Kader Teknis Infrastruktur, Pekon Banyuwangi Bikin Sekolah Teknik Desa

ID 00554: Cetak Kader Teknis Infrastruktur, Pekon Banyuwangi Bikin Sekolah Teknik Desa

Kegiatan pembangunan infrastruktur di desa banyak terkendala akibat minimnya tenaga teknis yang mampu membuat desain dan rencana anggaran biaya (RAB). Pekon (Desa) Banyuwangi berinovasi membuat Sekolah Teknik Desa untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) di bidang teknik. Berkat inovasi itu, kini, desa memiliki kader teknik yang mampu membuat desain dan RAB yang membantu desa melakukan perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan, bahkan pemeliharaan pembangunan infrastruktur.

Pekon Banyuwangi, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Setiap tahun pemerintah pekon melaksanakan kegiatan pembangunan infrastruktur desa. Sayang, SDM desa yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam perencanaan, pengelolaan, dan pemeliharaan prasarana desa masih sangat minim.

Nama Inovasi Sekolah Teknik Desa Banyuwangi
Pengelola Pemerintah Pekon Banyuwangi
Nama Inovasi Pekon Banyuwangi, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Pringsewu, Lampung
Kontak Astaman (Sekretaris Pekon Banyuwangi)
Telepon +62-812-1509-1427

Kondisi tersebut menyulitkan desa untuk menjaga kualitas pembangunan sarana/prasarana desa, termasuk sertifikasi pembangunan infrastruktur desa dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait (baik antardesa maupun antarsektor).

Untuk mengatasi kondisi di atas, Pemerintah Desa Banyuwangi mendirikan Sekolah Teknik Desa untuk memberikan pendidikan dasar dan lanjutan bagi para kader desa. Selama mengikuti kegiatan persekolahan, para kader belajar merancang desain dan RAB secara sederhana.

Gagasan pendirian Sekolah Teknik Desa muncul pada Musyawarah Dusun, lalu dilanjutkan dalam Musyawarah Desa. Selanjutnya, usulan dimasukkan dalam dokumen dalam RPJM Desa dan RKP Desa sehingga dapat dianggarkan dalam APBDes 2017.

Pemerintah desa menggodok bentuk dan sistem pendidikan, termasuk strategi rekrutmen murid dan tenaga pengajar. Sistem pelatihan yang dilaksanakan secara berkala setiap 1 minggu, selama 1 tahun. Penyelenggaraaan sekolah dibiayai oleh APBDes 2017.

Pengelolaan Sekolah Teknik Desa dilakukan oleh Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) dan dilatih oleh pelatih yang memiliki latar belakang teknik. Pemerintah Desa menentukan tempat pelatihan, peserta didik, dan tenaga pelatih. Selanjutnya, pembelajaran desain teknik mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI).

Kini Pekon Banyuwangi telah memiliki puluhan Kader Teknik yang mampu membuat Desain dan RAB secara sederhana. Para kader membantu desa dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan, pembangunan, pengelolaan dan pemeliharaan kegiatan bidang pembangunan.

Inovasi ini juga membuat pemerintah desa sudah mandiri dan tidak tergantung pada pihak ketiga dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa. Inisiatif sekolah desa dapat dikembangkan tak sebatas untuk mencetak kader teknik, tapi kader-kader lainnya yang dibutuhkan oleh desa.

ID 00551: Sanggar Seni Simpony, Inovasi Desa Tambangan Mengurai Kenakalan Remaja

ID 00551: Sanggar Seni Simpony, Inovasi Desa Tambangan Mengurai Kenakalan Remaja

Saat ini kebanyakan remaja kurang mendapat perhatian sehingga banyak remaja yang terjerumus ke dalam pergaulan yang negatif. Melihat kondisi ini, Pemerintah Desa Tambangan berinovasi mendirikan Sanggar Seni Simpony sebagai wadah untuk mengarahkan remaja pada kegiatan-kegiatan yang positif. Inovasi desa ini mendapat sambutan antusias dari para remaja dan orang tua sehingga mampu mengurangi arus pergaulan yang bebas dan salah.

Desa Tambangan terletak di Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Di Desa Tambangan banyak terdapat remaja yang kurang memiliki minat akan kebudayaan asli, mereka lebih banyak mengikuti arus pergaulan yang mungkin saat ini banyak digemari oleh kaum remaja. Hal itu membuat orang tua dan warga merasa khawatir.

Nama Inovasi Sanggar Seni Simpony
Pengelola Pemerintah Desa Tambangan
Alamat Desa Tambangan, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung
Kontak Antoni (Kepala Desa Tambangan)
Telepon +62-813-6916-7999

Untuk membendung agar arus pergaulan yang negatif, Pemerintah Desa Tambangan mengajak para pemuda untuk melakukan hal-hal yang positif, seperti bermain musik. Musik dan tari merupakan media yang sangat digemari oleh kalangan pemuda. Selain itu, kegiatan itu dapat melestarikan budaya asli Desa Tambangan.

Awalnya, pemerintah desa mendapat banyak aduan dari orang tua khawatir akan pergaulan remaja yang cenderung negatif. Sejumlah remaja mulai mengenal obat-obatan terlarang seperti narkoba, alkohol, dan lainnya. Lalu, pemerintah desa mencari solusi yang tepat untuk mengatasi kondisi tersebut.

Lalu, pemerintah desa mengumpulkan para orang tua untuk mendiskusikan masalah kenakalan remaja. Musyawarah itu melahirkan gagasan pendirian Sanggar Seni Simpony untuk mengembangkan bakat dan minat kalangan remaja. Pemerintah Desa menyetujui ide itu dan menganggarkan dukungan Dana Desa (DD) melalui APBDes.

Berkat dukungan anggaran desa dan antusiasme seluruh masyarakat Sanggara Seni Simpony dapat berjalan. Bahkan, sanggar tak hanya menjadi tempat aktivitas para remaja, tapi kalangan anak- anak, orang tua, lansia, serta aperatur desa juga ikut terlibat secara aktif.

Berkat inovasi ini, kegiatan remaja semakin mengarah ke hal yang positif. Kini, bakat para remaja semakin berkembang, mereka memiliki sarana untuk mengembangkan ekspresi dan minatnya. selain itu, kebudayaan lokal semakin semarak dan makin terjaga.

Para pemuda dan orang tua berharap kegiatan sanggar seni terus berlanjut. Mereka mengusulkan pemerintah desa dapat menganggarkan pos untuk pembangunan tempat, alat yang dibutuhkan, serta mendatangkan guru seni yang ahli. Selain itu, dukungan dari Pemerintah Kecamatan Padang Cermin dan Pemerintah Pesawaran sangat diperlukan untuk mengembangkan inovasi tersebut.

ID 00550: Lestarikan Seni Tradisi, Desa Banjaran Latih Anak-Anak Seni Kuda Kepang

ID 00550: Lestarikan Seni Tradisi, Desa Banjaran Latih Anak-Anak Seni Kuda Kepang

Kegiatan pemerintahan desa menjadi wadah pembelajaran bagi seluruh warganya. Selain kegiatan pembangunan fisik, Desa Banjaran berinovasi untuk menumbuhkan kecintaan dan pelestarian kebudayaan setempat. Desa ini melatih warga anak-anak dan remaja tentang seni kuda kepang. Ke depan, inovasi desa ini akan mendukung potensi pariwisata dan meningkatkan ekonomi keluarga.

Desa Banjaran terletak di Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Desa Banjaran merupakan desa padat penduduk, sayang potensi sumber daya manusia yang berlimpah itu kurang termanfaatkan karena minimnya pengetahuan dan keahlian yang dimiliki warga. Sebagian besar warga mengenyam pendidikan umum, sementara yang menempuh pendidikan teknis sangat sendikit.

Nama Inovasi Pelatihan Seni Kuda Kepang
Pengelola Pemerintah Desa Banjaran
Alamat Desa Banjaran, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung
Kontak Mat Hamzah (Kepala Desa Banjaran)
Telepon +62-812-7113-2684

Hal itu tercermin dari komposisi pendidikan para perangkat desa yang rata-rata jebolan sekolah umum. Karena itu, Pemerintah Desa Banjaran berupaya mengembangkan minat dan bakat masyarakat setempat melalui pendekatan seni dan budaya lokal. Selain menumbuhkan minat dan bakat yang beragam, pendekatan ini dapat menjadi sarana pelestarian adat dan budaya.

Pelatihan petama yang dipilih adalah seni kuda kepang. Pelatihan seni kuda kepang dilakukan oleh para tetua desa. Meski usia mereka sudah tak muda lagi, para tetua sangat antusias menularkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki pada generasi muda.

Ada pepatah, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Langkah untuk memanfaatkan keahlian para tetua desa mampu menyasar dua kelompok, yaitu anak-anak dan orang tua. Sebelum diberi mandat mengelola pelatihan untuk anak-anak, para tetua desa melatih warga terpilih untuk membentuk kelompok seni kuda kepang desa. Kini, kelompok seni itu sudah menjadi ikon baru bagi Desa Banjaran.

Selanjutnya, pelatihan anak-anak didukung oleh kelompok seni yang sudah terbentuk. Anak-anak senang dan antusias mengikuti pelatihan karena sudah memiliki model dari generasi yang lebih tua.

Inovasi yang diambil oleh Desa Banjaran menjadi pendekatan baru dalam pembinaan generasi muda. Generasi muda adalah aset berharga suatu daerah, jika generasi mudanya baik maka baiklah daerah tersebut. Terobosan ini perlu mendapat dukungan dari desa-desa lainnya, tak terkecuali Pemerintah Kecamatan Padang Cermin dan Kabupaten Pesawaran.

ID OO548: Desa Bajuin Dirikan Pusat Informasi Konseling (PIK) PIK Remaja untuk Atasi Permasalahan Sosial di Desa

ID OO548: Desa Bajuin Dirikan Pusat Informasi Konseling (PIK) PIK Remaja untuk Atasi Permasalahan Sosial di Desa

Banyak remaja yang mengalami trauma masa lalu akibat perlakuan kasar dan tidak menyenangkan pada masa kanak-kanak. Hal itu membuat mereka rendah diri dan rentan perilaku menyimpang. Desa Bajuin berinovasi mendirikan Pusat Informasi Konseling (PIK) Remaja yang diberi nama PIK Remaja Nirwana. PIK Remaja memberikan pelayanan informasi dan konseling, seperti Pendewasaan Usia Perkawinan, fungsi-fungsi keluarga, hingga keterampilan hidup (life skills).

Desa Bajuin terletak di Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Desa ini memiliki perhatian besar pada perkembangan anak-anak dan remaja. PIK Remaja dikembangkan dan dikelola dari, oleh, dan untuk remaja.

Nama Inovasi : Pembentukan Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja
Pengelola : Pemerintah Desa dan PIK Remaja
Alamat : Desa Bajuin, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel)
Kontak : Faizal (Ketua)
Telepon/HP/email : +62-822-3987-0339

Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat. Tak sedikit remaja yang mengalami trauma yang terjadi pada masa kanak-kanak. Hal itu menyebabkan kerentanan pada perkembagan psikis remaja. Ada yang awalnya hanya suka berkelahi, suka keluyuran, dan membolos sekolah.

Lalu, ada yang menjurus pada kejahatan dan pelanggaran hukum, seperti mengendarai mobil tanpa SIM atau kleptokrasi dengan mengambil barang milik orang tua atau milik orang lain tanpa izin.

Pada tahap selanjutnya, bisa terjadi yang lebih kronis lagi dalam bentuk penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang, pergaulan dan hubungan seks bebas, pemerkosaan, perampokan, dan kejahatan-kejahatan lainnya.

Dalam dunia remaja dikenal TRIAD KRR atau tiga hal yang akan merusak dan membahayakan kesehatan reproduksi remaja, yaitu (1) seksualitas; (2) HIV/AIDS; (3) Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (Napza).

Pegiat PIK Remaja dibekali materi-materi konseling yang bersumber pada topik Delapan Substansi Generasi Berencana (GenRe), yaitu (1) Napza/Narkoba; (2) Free Sexs; (3) HIV/ AIDS; (4) Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE); (5) Fungsi Keluarga; (6) Gender; (7) Life Skill; dan (8) Advokasi.

PIK Remaja Nirwana mengembangkan berbagai forum pengajian dan diskusi yang terkait dengan persoalan remaja dan materi-materi tersebut. Remaja dirangkul dan diajak melakukan aktivitas kehidupan yang lebih produktif dan hidup lebih bermakna.

Atas kesepakatan dalam Musyawarah Desa, Pemerintah Desa Bajuin telah mengalokasikan anggaran operasional untuk mendukung kegiatan PIK Remaja Niwana dari pos Dana Desa. langkah tersebut mendapat apresiasi positif dari pihak kecamatan dan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Berkat keberhasilan PIK Remaja Nirwana dalam menekan angka kenakalan remaja, Desa Bajuin berencana untuk mengembangkan PIK Dewasa untuk mengatasi angka premanisme di desa. PIK Dewasa akan menyasar tokoh-tokoh preman dan pasangannya agar bisa diarahkan ke arah aktivitas produktif, seperti usaha tani, berdagang, maupun pengelolaan objek wisata.

Integrasi perlu dilakukan dengan PAUD, Posyandu, PKK, Karang Taruna serta berbagai lembaga lain dan perusahaan-perusahaan dalam mendukung sustainabilitas PIK.****

Kerjasama Antardesa di Kecamatan Tidore Utara Dekatkan Akses Pendidikan Lanjutan untuk Warga di Daerah Kepulauan

Kerjasama Antardesa di Kecamatan Tidore Utara Dekatkan Akses Pendidikan Lanjutan untuk Warga di Daerah Kepulauan



Ringkasan Inovasi

Empat desa di Kecamatan Tidore Utara, yakni Desa Maitara, Maitara Utara, Maitara Selatan, dan Maitara Tengah, berinovasi membangun Sekolah Menengah Umum (SMU) Tododara melalui kerja sama antardesa yang dibiayai secara swadaya. Inovasi ini menjawab masalah mendasar akses pendidikan bagi anak-anak kepulauan yang selama ini terpaksa merantau jauh hanya untuk melanjutkan sekolah menengah atas.

Dengan berdirinya SMU Tododara, anak-anak di Kecamatan Tidore Utara kini dapat mengenyam pendidikan lanjutan di kampung halaman sendiri tanpa harus berpisah dari keluarga. Inovasi ini membuktikan bahwa desa-desa kecil di daerah terpencil sekalipun mampu berkolaborasi memenuhi kebutuhan dasar warganya secara mandiri dan bermartabat.



Latar Belakang

Kecamatan Tidore Utara sebelumnya hanya memiliki fasilitas Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Untuk melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Atas atau Kejuruan, anak-anak kepulauan harus meninggalkan rumah dan pindah ke Kota Ternate maupun Tidore yang jaraknya sangat jauh dari pulau mereka.

Sebagian keluarga harus menyewa tempat tinggal di kota agar anak mereka bisa bersekolah, sementara sebagian siswa lain memilih naik perahu setiap hari dengan risiko cuaca laut yang tidak menentu. Pilihan itu menyita banyak tenaga, biaya, dan waktu, sehingga anak-anak justru lebih sering terganggu perjalanan daripada fokus belajar di sekolah.

Para orang tua juga tidak bisa memantau perkembangan dan perilaku anak secara langsung karena jarak yang memisahkan mereka. Kekhawatiran tentang keselamatan anak saat menyeberang laut dalam kondisi cuaca buruk menjadi beban tersendiri yang terus menghantui setiap keluarga. Kondisi ini mendorong para kepala desa dan tokoh masyarakat untuk mencari solusi yang lebih permanen dan berpihak pada warga.



Inovasi yang Diterapkan

Inovasi lahir dari kesadaran bersama bahwa negara dan pemerintah daerah tidak selalu bisa hadir lebih cepat dari kebutuhan masyarakat. Empat desa sepakat mendirikan sekolah menengah atas secara swadaya melalui pembentukan Yayasan Tododara, yang dalam bahasa lokal berarti “kujaga, kurawat, dan kusayangi.”

SMU Tododara bekerja dengan model pembiayaan dan pengelolaan berbasis komunitas: dana operasional bersumber dari swadaya warga dan Dana Desa, tenaga pengajar direkrut dari putra-putri terbaik keempat desa, dan proses belajar-mengajar dilaksanakan dengan izin resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tidore Kepulauan. Dengan demikian, sekolah ini bukan hanya milik pemerintah, melainkan benar-benar lahir dari dan untuk masyarakat kepulauan.



Proses Penerapan Inovasi

Sebelum mendirikan sekolah, setiap desa terlebih dahulu melakukan peneraan kebutuhan atau need assessment untuk menjaring aspirasi dan umpan balik masyarakat. Proses ini memanfaatkan forum-forum sosial yang sudah ada, seperti majelis yasin tahlil, hajatan warga, musyawarah pemangku masjid, dan musyawarah dusun, agar semua lapisan masyarakat benar-benar terlibat.

Pada 2014, delegasi keempat desa menyelenggarakan Musyawarah Antar Desa (MAD) yang diprakarsai oleh para kepala desa, tokoh masyarakat, pengusaha kapal, kelompok nelayan, dan kelompok perempuan. Forum ini menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan sekolah secara swadaya, sekaligus mengidentifikasi calon tenaga pengajar dan staf administrasi dari warga desa sendiri.

Pada 2015, tim kerja resmi dibentuk untuk mengurus pendirian yayasan. Dana swadaya yang terkumpul sebesar Rp20 juta digunakan untuk mengurus akta notaris, administrasi, dan perlengkapan operasional. Sambil menunggu gedung sendiri, SMU Tododara menumpang di gedung SMP Negeri 17 Tidore Kepulauan di Pulau Maitara hingga akhirnya pada 2018 Dana Desa digunakan untuk membangun dua ruang kelas permanen pertama.



Faktor Penentu Keberhasilan

Kunci utama keberhasilan inovasi ini adalah kuatnya rasa memiliki bersama dari seluruh warga keempat desa. Gagasan mendirikan sekolah tidak datang dari atas, melainkan tumbuh dari musyawarah akar rumput yang merangkul semua elemen masyarakat, sehingga setiap orang merasa menjadi bagian dari solusi.

Faktor kedua adalah kepemimpinan para kepala desa yang berani mengambil prakarsa di luar jalur birokrasi biasa. Mereka memilih tidak menggunakan APBDesa untuk menghindari hambatan regulasi, dan justru menggerakkan potensi sosial warga sebagai modal utama. Keberanian berinovasi dalam keterbatasan inilah yang membuat SMU Tododara benar-benar berdiri dan bertahan.



Hasil dan Dampak Inovasi

Secara kuantitatif, SMU Tododara berhasil menampung 100 siswa dalam tiga rombongan belajar dengan 12 tenaga pendidik non-ASN yang seluruhnya berasal dari keempat desa pendiri. Pada 2018, angkatan pertama siswa berhasil diwisuda, menandai tonggak keberhasilan nyata dari kerja kolektif masyarakat kepulauan yang dimulai dari nol.

Secara kualitatif, dampak paling terasa adalah pemulihan kedekatan keluarga. Para orang tua kini dapat memantau tumbuh kembang anak setiap hari, biaya transportasi dan sewa tempat tinggal di kota berkurang signifikan, dan anak-anak memiliki lebih banyak waktu untuk belajar sekaligus membantu orang tua mendaratkan dan menjual hasil tangkapan ikan. Komunikasi antara anak dan orang tua kembali intensif dan bermakna.

Inovasi ini juga membuktikan bahwa prakarsa desa dalam membangun lembaga pendidikan adalah wujud nyata dari semangat UU Desa. Kewenangan desa untuk berprakarsa, bermusyawarah, dan memutuskan kebijakan sendiri terbukti membawa manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus meringankan beban pemerintah kabupaten dalam menjangkau wilayah kepulauan terpencil.



Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar dalam mendirikan SMU Tododara adalah keterbatasan anggaran karena APBDesa tidak dapat digunakan pada tahap awal. Keseluruhan proses pendirian yayasan harus bertumpu pada swadaya masyarakat yang terkumpul Rp20 juta, jumlah yang sangat terbatas untuk membangun sebuah lembaga pendidikan dari nol.

Kendala lain muncul dari aspek legalitas dan infrastruktur. SMU Tododara harus menumpang di gedung SMP selama beberapa tahun sebelum memiliki ruang kelas sendiri, sementara status seluruh tenaga pendidik yang non-ASN membuat stabilitas ketenagaan bergantung sepenuhnya pada komitmen moral para pengajar. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa keberlanjutan sekolah komunitas sangat membutuhkan dukungan regulasi dan anggaran dari pemerintah yang lebih tinggi.



Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan SMU Tododara bertumpu pada dua fondasi utama: kekuatan yayasan sebagai payung hukum yang mandiri dan komitmen keempat desa untuk terus mengalokasikan dukungan, termasuk penggunaan Dana Desa untuk pembangunan gedung sebagaimana telah dimulai pada 2018. Kemandirian kelembagaan ini memastikan sekolah tidak runtuh saat kepemimpinan desa berganti.

Dalam jangka panjang, advokasi untuk memperoleh pengakuan dan bantuan dari Dinas Pendidikan Kota Tidore Kepulauan menjadi langkah krusial yang perlu terus didorong. Penambahan ruang kelas, pengangkatan guru berstatus ASN, dan perluasan fasilitas belajar akan memperkuat fondasi SMU Tododara agar mampu melayani lebih banyak generasi anak-anak kepulauan di masa mendatang.



Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi pendirian SMU Tododara menyentuh beberapa dimensi pembangunan berkelanjutan secara bersamaan, mulai dari akses pendidikan, pengurangan kesenjangan, hingga penguatan kelembagaan desa. Setiap elemen dari kerja sama antardesa ini berkontribusi langsung pada agenda SDGs global.

No SDGs Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Kehadiran SMU Tododara memangkas pengeluaran rumah tangga warga kepulauan yang sebelumnya harus menanggung biaya sewa tempat tinggal dan transportasi harian anak di kota. Penghematan biaya ini membantu keluarga nelayan dan warga berpenghasilan rendah agar tidak semakin terpuruk secara ekonomi hanya demi memenuhi hak pendidikan anak.
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas SMU Tododara membuka akses pendidikan menengah atas yang sebelumnya tidak tersedia di Kecamatan Tidore Utara. Dengan 100 siswa dan 12 tenaga pengajar lokal, sekolah ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan berkualitas dapat dihadirkan bahkan di wilayah kepulauan yang paling terpencil sekalipun.
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan Inovasi ini menjembatani kesenjangan akses pendidikan antara masyarakat kepulauan dan warga perkotaan. Anak-anak dari keluarga nelayan dan petani kini memiliki hak yang setara untuk menempuh pendidikan lanjutan tanpa harus merantau dan menanggung biaya yang tidak terjangkau.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Kuat Proses Musyawarah Antar Desa yang melibatkan semua pemangku kepentingan mencerminkan tata kelola yang inklusif dan demokratis. Pembentukan yayasan sebagai lembaga resmi memperkuat fondasi hukum dan akuntabilitas pengelolaan sekolah berbasis komunitas.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kerja sama antara empat desa, yayasan, Dinas Pendidikan Kota Tidore Kepulauan, dan masyarakat adalah teladan nyata kemitraan multipihak dalam pembangunan. Model ini membuktikan bahwa sinergi antarlembaga di tingkat desa mampu menghasilkan solusi yang tidak bisa dicapai oleh satu pihak saja.



Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model kerja sama antardesa dalam mendirikan lembaga pendidikan swadaya ini sangat relevan untuk direplikasi di wilayah kepulauan dan daerah terpencil lain yang menghadapi masalah serupa. Kuncinya ada pada tiga hal: kemauan kepala desa untuk berprakarsa bersama, forum musyawarah yang inklusif, dan keberanian membangun dari sumber daya yang tersedia tanpa menunggu bantuan dari atas.

Untuk scale up, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan dan Kementerian Desa dapat menjadikan SMU Tododara sebagai model percontohan pembangunan pendidikan berbasis komunitas di daerah kepulauan. Legalisasi dan penguatan status guru, penambahan ruang kelas melalui Dana Desa, serta penyusunan panduan replikasi yang sederhana akan mempercepat lahirnya lebih banyak sekolah komunitas di seluruh penjuru kepulauan Indonesia.



Kata Kunci

kerja sama antardesa, SMU Tododara, Tidore Utara, Maitara, kepulauan, akses pendidikan, sekolah swadaya, yayasan desa, Musyawarah Antar Desa, Dana Desa, putus sekolah, literasi pendidikan, Maluku Utara, UU Desa, kelembagaan desa, pemberdayaan masyarakat, pendidikan terpencil, ketahanan keluarga, SDGs desa, replikasi inovasi



Daftar Pustaka

[1] Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Jakarta: Kemendes PDTT, 2014. [Online]. Tersedia: https://www.kemendesa.go.id. [Diakses: 29 Apr. 2026].

[2] Badan Pusat Statistik Kota Tidore Kepulauan, Kota Tidore Kepulauan dalam Angka 2023. Tidore: BPS Kota Tidore Kepulauan, 2023. [Online]. Tersedia: https://tidorekepulauankota.bps.go.id. [Diakses: 29 Apr. 2026].

[3] H. Hanif dan R. Noviyanti, “Kerja sama antardesa dalam perspektif UU Desa: Studi kasus pengelolaan aset dan layanan publik,” Jurnal Ilmu Pemerintahan, vol. 7, no. 2, 2021. [Online]. Tersedia: https://ejournal.ipdn.ac.id. [Diakses: 29 Apr. 2026].

[4] Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, “Angka partisipasi sekolah di daerah kepulauan dan terpencil,” Statistik Pendidikan Indonesia, 2022. [Online]. Tersedia: https://referensi.data.kemdikbud.go.id. [Diakses: 29 Apr. 2026].

[5] A. Syahrani, “Inovasi penyelenggaraan pendidikan di daerah terpencil melalui kemitraan komunitas,” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, vol. 6, no. 1, hal. 15–28, Jun. 2020. [Online]. Tersedia: https://jurnaldikbud.kemdikbud.go.id. [Diakses: 29 Apr. 2026].

[6] Direktorat Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan, Panduan Kerja Sama Antardesa. Jakarta: Kemendes PDTT, 2020. [Online]. Tersedia: https://www.kemendesa.go.id/panduan. [Diakses: 29 Apr. 2026].

[7] M. Arif dan S. Wahyuni, “Peran Dana Desa dalam mendukung pembangunan infrastruktur pendidikan di wilayah tertinggal,” Jurnal Kebijakan Publik, vol. 12, no. 3, hal. 87–101, 2021. [Online]. Tersedia: https://ejournal.unri.ac.id/index.php/JKP. [Diakses: 29 Apr. 2026].

[8] Pusat Penelitian Kebijakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud, “Hambatan akses pendidikan menengah di daerah kepulauan Indonesia,” Laporan Penelitian Kebijakan Pendidikan, 2019. [Online]. Tersedia: https://puslitjakdikbud.kemdikbud.go.id. [Diakses: 29 Apr. 2026].


ID 00475:Gampong Seulalah Baru, Membangun Tempat Pendidikan Anak Demi Investasi Generasi Islami

ID 00475:Gampong Seulalah Baru, Membangun Tempat Pendidikan Anak Demi Investasi Generasi Islami

Terletak di salah satu sudut kota Langsa, Gampong (sebutan desa untuk provinsi Aceh) Seulalah Baru merupakan salah satu desa kecil namun memiliki potensi perkembangan yang cukup tinggi. Kemakmuran dan perkembangan gampong ini sudah menjadi rahasia umum bagi warga Kota Langsa pada umumnya.

Gampong Seulalah Baru terletak di Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa, Provinsi Aceh. Gampong ini merupakan salah satu dari ribuan desa di Indonesia yang menerima manfaat Dana Desa.

Gampong yang berdiri dari hasil pemekaran pada tahun 2012 ini memiliki penduduk sejumlah 2.143 orang dengan rincian 1.047 orang laki-laki, 1.096 orang perempuan dan total kepala keluarga sebanyak 586 KK.

Gampong yang memiliki luas 25 ha ini dipimpin oleh seorang Geuchik (sebutan untuk Kepala Desa di Aceh) bernama Zainal Arifin. Ia dibantu oleh beberapa perangkat gampong yang handal dan sigap.

Di bawah kepemimpinan beliau, Gampong Seulalah Baru bangkit dan terus menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Gampong kecil nan kumuh sudah dihapusnya menjadi Gampong Seulalah Baru yang maju.

Pada abad ke-15 masehi, Aceh mendapat gelar terhormat dari Nusantara, yaitu ‘Serambi Mekah’. Sebuah gelar yang diakui oleh masyarakat luas bahwa Aceh dianggap memiliki nilai keimanan, ketakwaan, syariat, dan spiritual yang lebih tinggi dibanding daerah lainnya.

Sesuai dengan gelar Serambi Mekah dan visi untuk menuju Gampong Seulalah Baru yang lebih maju selaras nuansa islami, maka Dana Desa pemanfaatannya diarahkan pada program-program yang berkaitan dengan keagamaan. Untuk tahun 2017, Dana Desa yang diterima Gampong Seulalah Baru mencapai Rp803 juta.

Manfaat nyata yang terlihat dari pemanfaatan Dana Desa saat adalah pembangunan TPA pada Gampong Seulalah Baru. Walaupun bangunan ini bernama Tempat Pendidikan Anak (TPA), tapi nantinya tempat ini diproyeksikan untuk menjadi pusat kegiatan desa secara terintegrasi.

Tempat ini juga akan dijadikan pusat pendidikan agama bagi seluruh warga gampong. Semangat nyata membangun gampong ini didukung dengan partisipasi warga dalam rangka menyukseskan pembangunan ini.

Pembangunan ini wujud nyata perubahan sukses yang didanai oleh Dana Desa. Pada awalnya, TPA hanya berupa pondok kayu yang tidak dapat difungsikan secara optimal karena keterbatasan luas dan fasilitas bangunan. Pondok tersebut juga tidak bisa digunakan ketika cuaca kurang baik.

Namun dengan adanya bangunan tersebut, kegiatan pendidikan untuk seluruh warga dapat meningkat. Gampong Seulalah Baru sendiri memiliki target menghasilkan minimal 1 orang hafidz/hafidzah setiap tahunnya.

Untuk itu, dengan adanya TPA ini, akan dikelola 250 anak di mana didalamnya termasuk 100 anak kurang mampu yang akan disubsidi secara penuh dari Dana Desa.

TPA ini juga akan diproyeksikan menjadi pusat pelayanan gampong, seperti Posyandu, BKB dan sosialisasi masyarakat. Lahan pada TPA ini juga dialokasikan untuk menjadi taman kecil dan pusat olahraga gampong.

Dengan proyeksi ini diharapkan dapat meningkatkan keberdayaan masyarakat gampong baik softskill maupun hardskill dari masyarakat Gampong Seulalah Baru.

Proyeksi pendapatan asli Gampong (PAG) lainnya ialah Gampong Seulalah Baru membentuk suatu usaha masyarakat yang didanai oleh Dana Desa yang bergerak di bidang budidaya jahe. Dikarenakan ketersediaan lahan yang kurang, lewat Dana Desa, Gampong Seulalah Baru melakukan pengadaan 4 keranjang tanam untuk satu partisipan untuk budidaya jahe tersebut.

Nantinya keuntungan 1 keranjang tanam akan menjadi milik partisipan sedangkan 3 lainnya menjadi PAG. Gampong Seulalah Baru telah melakukan sosialisasi dan pembinaan masyarakat terkait proyeksi ini. Budidaya jahe ini diharapkan menjadi stimulus ekonomi warga yang juga sekaligus dapat menambah PAG.

Secara umum, Gampong Seulalah Baru belum memiliki PAG. Namun dengan adanya Dana Desa, Gampong Seulalah Baru telah membentuk suatu sistem untuk menghasilkan retribusi gampong. Salah satunya ialah dengan membentuk suatu retribusi kebersihan gampong.

Banyaknya sampah di sekitaran gampong menjadi inspirasi Geuchik Zainal untuk membuat suatu mekanisme di mana gampong melakukan pengadaan keranjang sampah, yang mana akan dilakukan pemungutan sampah oleh gampong di lingkup Gampong Seulalah Baru. Atas jasa ini, warga gampong diharapkan membayar retribusi kebersihan ke kas gampong
untuk menjadi PAG.

Seluruh kesuksesan ini merupakan bentuk nyata penggunaan Dana Desa yang dikelola dengan sangat baik. Warga Gampong Seulalah Baru berharap agar Dana Desa semakin dapat digunakan dengan tepat sasaran agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh warga. Mengutip dari Geuchik Zainal bahwa “proses pelaksanaan Dana Desa memang melelahkan, namun hasilnya akan dirasakan oleh masyarakat gampong (desa) seumur hidupnya”.

Melihat Gampong Seulalah Baru, kita belajar bahwa salah satu kunci sukses pengembangan sebuah desa adalah bagaimana menyelaraskan pengelolaan Dana Desa dengan karakteristik unik desa tersebut. Dengan ciri khasnya sebagai desa yang agamis, pemanfaatan dana pada program bernuansa agama dapat mendorong peran aktif masyarakat mensukseskan pengelolaan Dana Desa.

ID 00454: Desa Senga Selatan: Mappideceng, Perpustakaan Berbasis Internet

ID 00454: Desa Senga Selatan: Mappideceng, Perpustakaan Berbasis Internet

Dana Desa menjadi penyemangat pembangunan yang bermanfaat bagi kehidupan warga desa. Desa Senga Selatan dapat memaksimalkan program edukasi kepada warga dengan keberadaan Perpustakaan Mappideceng dan program kampung inggris yang mempersiapkan warga untuk memajukan desa di kemudian hari.

Secara administratif, Desa Senga Selatan terletak di wilayah Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan. Akses ke desa ini tergolong mudah dengan lokasi yang relatif dekat dengan pusat kota.

Jarak tempuh desa ke ibukota kecamatan adalah 2 km yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit. Sedangkan jarak dari ibukota kabupaten adalah 2,5 km yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 13 menit.

Luas wilayah Desa Senga Selatan adalah 820 Ha, dengan rincian berupa tanah sawah seluas 197 Ha, tanah kering seluas 352 Ha, perkebunan seluas 256 Ha dan fasilitas umum dengan luas 15 Ha.

Adapun usaha yang menjadi mata pencaharian pokok warga desa adalah bertani dan berkebun dengan hasil utama Kakao dan Kelapa. Di samping itu, sektor perikanan melalui tambak Ikan dan serta budidaya rumput laut juga menjadi pilihan lain di samping sektor peternakan sapi, kambing dan ayam potong.

Pada tahun 2017, Desa ini menerima kucuran dana desa sebesar Rp797 juta. Pada pencairan tahap I, dana desa tersebut telah dipergunakan sebesar Rp475,6 juta (99.44%) dengan capaian output sebesar 68.68%. Dengan realisasi pencairan dan capaian output tersebut di atas, maka desa Senga Selatan sudah seharusnya mendapatkan pencairan tahap II.

Namun karena syarat pencairan adalah laporan konsolidasian, maka desa Senga Selatan harus bersabar menunggu desa lainnya yang belum menyelesaikan laporan pertanggungjawaban keuangannya.

Untuk dana desa tahun 2016 lalu, sebagian besar masih dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur yang berupa perintisan jalan dengan panjang 850 meter dan lebar 5 meter. Berikutnya adalah pembuatan jembatan kayu yang menghubungkan Dusun Walenna sampai ke Muara Walenna yang saat ini masih dalam tahap penyelesaian.

Terkait prioritas pembangunan untuk tahun 2017, Kepala Desa Senga Selatan, Abdul Samad melaksanakan pembangunan 1 (satu) unit Gedung TK. Berikutnya adalah pembangunan drainase di Dusun Kalobang sepanjang 420 meter yang telah rampung 100%. Diikuti dengan pembangunan drainase di Dusun Labulawang sepanjang 247 meter yang saat ini masih dalam proses penyelesaian.

Adapun untuk dana desa tahun 2017 yang telah dikucurkan bagi desa Senga Selatan, telah digunakan untuk melakukan pembangunan 96 unit jamban keluarga (WC) yang tersebar di 4 dusun, termasuk membuat sumur gali 1 unit.

Dengan program tersebut, Abd. Samad berharap di tahun 2017 tidak ada lagi warga desa Senga Selatan yang tidak memiliki jamban keluarga.

Dalam bidang pemberdayaan masyarakat, Abd. Samad menambahkan bahwa di Desa Senga Selatan memiliki Majelis Taklim, PKK, Kader Posyandu dan Karang Taruna yang aktif dengan kegiatan masing-masing.

Untuk menunjang keberhasilan program, maka para pengurus aktif kegiatan pemberdayaan masyarakat tersebut diberikan insentif, termasuk insentif kepada seluruh aparat desa mulai Kepala Dusun, hingga staf di Kantor Desa Senga Selatan sebagai penghargaan atas kinerja mereka dalam membangun Desa Senga Selatan.

Salah satu tolak ukur keberhasilan dalam mengelola dana desa adalah adanya manfaat dan prestasi nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat desa. Hal yang membedakan Desa Senga Selatan dengan desa lainnya adalah adalah kepedulian yang tinggi akan pendidikan dan pemberdayaan SDM masyarakat desa.

Di antara wujud nyata tersebut adalah kehadiran perpustakaan desa ‘Mappideceng’ yang menjadi wadah bagi masyarakat desa Senga Selatan dalam menyalurkan minat membaca sekaligus sarana edukasi gratis untuk semua kalangan.

Bahkan, perpustakaan Desa ‘Mappideceng’ yang dilengkapi dengan fasilitas internet nirkabel ini sempat meraih predikat Juara I Perpustakaan Desa Tingkat Provinsi dan turut mewakili Provinsi Sulsel dalam lomba perpustakaan desa/kelurahan tingkat nasional.

Di samping itu, Abd. Samad selaku Kepala Desa juga berinovasi melalui program “Kampung Inggris” yang membina tidak kurang dari 30 anak, mulai tingkat sekolah dasar hingga tingkat SMA yang dibuatkan jadwal belajar dan dibina langsung oleh Tenaga Asing yang sering berkunjung ke Desa Senga Selatan.

Meski tidak menetap di Luwu, Tenaga Asing yang berasal dari Lembaga Peduli Pendidikan asal Prancis ini secara bergiliran datang dan membina Kampung Inggris yang disiapkan oleh Abd. Samad di samping kediaman pribadinya.

Kegiatan yang mulai digagas tahun 2016 lalu ini terbukti mampu meningkatkan minat anak usia sekolah. Meski masih terbilang sederhana, upaya keras untuk menghadirkan sarana belajar yang nyaman bagi anak-anak peserta Kampung Inggris terus dilakukan secara bertahap.

Sejumlah alokasi Dana Desa tahun 2017 yang telah dikucurkan untuk berbagai program pelatihan dan peningkatan kualitas SDM bagi para tenaga pengelola desa seolah menjadi bold statement dari Pemerintah Desa Senga Selatan bahwa mencerdaskan masyarakat merupakan unsur penting dalam keberhasilan spirit “Desa Membangun”, bukan lagi sekedar “Membangun Desa”.

Desa Senga Selatan menjadi bukti nyata keberhasilan pemanfaatan Dana Desa. Hal ini terlihat dari tersebarnya proyek yang didanai dengan dana desa mulai dari infrastruktur yang dibutuhkan warga hingga program-program pemberdayaan masyarakatnya.

Diolah dari Kisah Sukses Dana Desa: Lilin-Lilin Cahaya di Ufuk Fajar Nusantara, Kementerian Keuangan, Jakarta: 2017

ID 00446: Desa Krejengan, Desa Sadar Hukum di Daerah Tapal Kuda

ID 00446: Desa Krejengan, Desa Sadar Hukum di Daerah Tapal Kuda

Krejengan merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo. Memiliki luas wilayah 156.656 Ha yang terdiri dari 85.897 Ha tanah sawah dan 70.759 Ha tanah kering. Desa ini berada pada ketinggian 10 s.d 50 meter di atas permukaan air laut dan beriklim tropis dengan curah hujan 1.279 mm/tahun.

Penduduk Desa Krejengan berjumlah 2.104 jiwa yang tersebar hampir merata di seluruh wilayah desa dengan tingkat kepadatan sekitar 860 jiwa/km2. Jumlah rumah tangga desa tersebut sebanyak 744 RT. Rasio jumlah penduduk laki-laki dibanding perempuan mendekati proporsi 1:1 atau jumlah laki-laki sebanyak 1.017 jiwa dan perempuan sebanyak 1087 jiwa. Komposisi usia penduduk di dominasi oleh kelompok usia muda yang terdiri dari 67% usia produktif.

Mata pencaharian penduduk desa Krejengan adalah sebagai petani, buruh tani, pedagang, pegawai negeri, TNI/Polri, wirausahawan dan pekerja/buruh industri dan bidang jasa. Tingkat kesejahteraan penduduknya mencapai 9,6% keluarga prasejahtera, 24,7% keluarga sejahtera tingkat I, 48% keluarga sejahtera tingkat II, 17% keluarga sejahtera tingkat III dan 0,8% keluarga sejahtera tingkat III plus Rp 13,8 juta.

Untuk tahun 2017, Desa Krejengan mempunyai total pendapatan sebesar Rp1,01 milliar dengan porsi Dana Desa (APBN) Rp781 juta dan Alokasi Dana Desa (APBD) Rp304 juta.

Salah satu fokus penggunaan Dana Desa adalah peningkatan kompetensi masyarakat khususnya masyarakat miskin melalui berbagai jenis pelatihan baik peningkatan keahlian maupun ketrampilan. Pelatihan market place, pembuatan berbagai jenis kue dan makanan ringan, pelatihan komputer, pelatihan pengelolaan perpustakaan dan sebagainya.

Dengan potensi kapasitas desa, banyak pihak ketiga yang berminat untuk melakukan kerja sama dengan Desa Krejengan ini, baik di bidang penerapan teknologi, pemberdayaan masyarakat, maupun kerjasama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat dan desa.

Beberapa kerjasama tersebut di antaranya seperti kerja sama dengan Coca Cola Foundation dalam pengembangan perpustakaan desa, kerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah dalam bidang pembinaan perpustakaan desa, dan kerja sama dengan Dinas Informasi, Statistik dan Komunikasi dan Sekolah Tinggi Teknik Nurul Jadid Paiton dalam bidang penerapan pelayanan desa berbasis IT, kerja sama dengan BRI (Persero) dalam bidang peningkatan ekonomi masyarakat melalui fasilitasi KUR dan pendirian BUMDes, serta kerja sama dengan BUKALAPAK dalam bidang pembinaan strategi pemasaran online bagi para pelaku usaha.

Peningkatan kompetensi juga dilakukan melalui pembangunan perpustakaan desa. Perpustakaan ini memberikan banyak manfaat kepada masyarakat sebagai pusat informasi dan pengembangan diri. Dari berbagai bahan pustaka yang tersedia di perpustakaan, masyarakat bisa mengembangkan dirinya maupun usahanya dan terbukti banyak masyarakat Desa Krejengen yang dulunya hanya sebagai kuli bangunan saat ini telah menjadi peternak yang sukses.

Dari sisi pembangunan fisik, pemanfaatan Dana Desa terlihat pada pembangunan rumah layak huni yang ditujukan untuk peningkatan kenyamanan hunian bagi warga miskin.

Keberhasilan Desa Krejengan terlihat dengan keberhasilannya mendapatkan anugerah Desa Sadar Hukum di tahun 2017. Anugerah tersebut Merupakan satu-satunya desa di Kabupaten Probolinggo yang telah memenuhi kualifikasi didalam keberhasilan; 1) Mengurangi tingkat kriminalitas, 2) Meningkatkan kesadaran masyarakat didalam memenuhi kewajiban membayar pajak, 3) Mengurangi pernikahan anak di bawah umur 4) Meningkatkan kesadaran akan kebersihan dan kelestarian lingkungan dan 5) Meminimalisir penyalahgunaan narkoba.

Maksimalnya peran Lembaga Keswadayaan Masyarat sebagai mitra Pemerintah Desa, partisipasi masyarakat dalam berbagai forum strategis baik Musyawarah Dusun (Musdus) hingga Musyawarah Desa (Musdes), serta dukungan semua unsur masyarakat membantu mewujudkan sinergi bersama dalam pemanfaatan Dana Desa.

Desa Krejengan menjadi salah satu desa yang mampu mengelola dana desa secara optimal hingga masyarakat miskin pun ikut merasakan hasilnya dengan peningkatan aktivitasnya sehari-hari. Taraf kesehatan dan tingkat pendidikan yang semakin meningkat terbukti berdampak terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat desa menjadi lebih berdaya. Sebagaimana yang dilakukan pada Desa Krejengan, dana desa juga mampu dikelola secara optimal pada sektor peningkatan kompetensi masyarakat.

ID 00443: Desa Tamban Luar, Membangun Ekonomi Rakyat di Hilir Kapuas

ID 00443: Desa Tamban Luar, Membangun Ekonomi Rakyat di Hilir Kapuas

Berlokasi di Kecamatan Bataguh, Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah, Desa Tamban Luar memiliki luas wilayah 6,48 km2 dengan 899 kepala keluarga yang tersebar pada 19 RT. Dari jumlah penduduk ± 3.044 jiwa, masih terdapat 58 jiwa yang hidup di bawah garis kemiskinan. Masyarakat Desa Tamban Luar yang bekerja di bidang Pertanian adalah sebesar 45%, di bidang Perkebunan sebesar 45%, dan sebesar 10 % hidup sebagai pedagang.

Pada Tahun Anggaran 2017, Pemerintah telah menggulirkan Dana Desa kepada Desa Tamban Luar sebesar Rp806 juta. Bantuan program Dana Desa yang digulirkan ke Desa Tamban luar telah berhasil dioptimalkan penggunaannya di beberapa bidang yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat desa. Bidang-bidang itu meliputi bidang pengembangan ekonomi, infrastruktur desa, kesehatan, dan pendidikan. Diharapkan masyarakat desa dapat memanfaatkan Dana Desa demi kemaslahatan bersama.

Salah satu kendala yang dihadapi masyarakat Desa Tamban Luar adalah kurang tersedianya sumber air bersih. Mengatasi hal tersebut, dibuat 12 sumur bor (pada penyaluran Dana Desa Tahap I) dan akan ditambah menjadi 25 sumur bor sampai dengan akhir tahun 2017.

Pemanfaatan Dana Desa untuk peningkatan kualitas kesehatan dilakukan melalui peningkatan fasilitas Poskesdes (Pos Kesehatan Desa) dan Pusat Pelayanan terpadu (Posyandu) yang sebelumnya telah dibuat. Kegiatan Poskesdes dengan pasien umum dilakukan setiap hari senin sampai dengan jumat, dan jika ada pasien, sabtu dan minggu pun tetap buka 24 jam.

Sementara kegiatan Posyandu dilakukan sebulan sekali untuk pasien bayi dan balita. Peningkatan sarana Poskesdes dan Posyandu dapat dimanfaatkan untuk membina dan membantu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat desa.

Dalam bidang pendidikan, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) terutama untuk anak-anak usia dini telah dimulai dari penyediaan fasilitas layanan publik berupa pembangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Nusa Indah 1. Diharapkan Dana Desa dan hasil dari keuntungan BUMDes yang akan diterima berikutnya dapat menambah fasilitas minimal 3 (tiga) PAUD sejenis di desa tersebut.

Untuk peningkatan sector perekonomian masyarakat, Dana Desa digunakan melalui mekanisme BUMDes. Dikelola secara modern dengan sistem korporasi melalui BUMDes, perekonomian Desa Tamban Luar berhasil dikembangkan dan mampu membuka lapangan kerja baru melalui pemanfaatan potensi yang ada antara lain melalui peternakan dan penggemukan sapi, serta penyewaan perlengkapan pesta dan mesin pemotong rumput.

BUMDes Desa Tamban Luar melakukan usaha peternakan dan penggemukan sapi. Pada tahun 2016, Desa Tamban Luar hanya memiliki 1 (satu) ekor sapi dan pada tahun 2017 meningkat menjadi 5 (lima) ekor sapi dan akan dikembangkan lagi menyesuaikan keuntungan dari sektor usaha lainnya yang dikelola BUMDes.

BUMDes Desa Tamban Luar juga memiliki beberapa unit peralatan berupa kursi, meja, dan tenda/kanopi, yang digunakan untuk menjalankan usaha penyewaan peralatan pesta yang mulai dilaksanakan di awal tahun 2017. BUMDes juga menyewakan unit pemotong rumput. Pengembangan usaha diharapkan bisa menambah pendapatan desa dan dimaksimalkan untuk kemaslahatan masyarakat desa.

Dana Desa yang ada juga digunakan untuk meningkatkan kualitas dan layanan publik di desa, yaitu dengan membangun jalan desa. Sampai saat ini, ada 4 (empat) RT yang telah berhasil melakukan pembangunan jalan. Jalan yang sebelumnya berupa jalan tanah yang becek dan tergenang apabila musim hujan, ditingkatkan menjadi jalan base course (lapisan batu kerikil) dan semenisasi. Diharapkan pembangunan itu dapat meningkatkan mobilitas warga untuk kualitas hidup yang lebih baik dan mengembangkan ekonomi masyarakat desa.

Keberhasilan penggunaan Dana Desa pada Desa Tamban Luar tidak terlepas dari sinergi yang dibangun seluruh masyarakat desa bersama perangkat desa. Kunci sukses ini juga didukung dari transparansi pengelolaan Dana Desa oleh perangkat desa.

Keberhasilan penggunaan Dana Desa pada Desa Tamban Luar tidak terlepas dari sinergi yang dibangun seluruh masyarakat desa bersama perangkat desa. Kunci sukses ini juga didukung dari transparansi pengelolaan Dana Desa oleh perangkat desa, kerukunan warga yang terpelihara, rasa persaudaraan yang erat, solidaritas yang tinggi, rasa saling percaya, saling menjaga, dan rasa saling memiliki bahwa prestasi yang ada saat ini adalah kerja bersama antara perangkat pesa dan masyarakat desa.

ID 00442: Desa Sungai Buluh, Membangun Kreativitas Desa

ID 00442: Desa Sungai Buluh, Membangun Kreativitas Desa

Awal tahun ini, masyarakat Desa Buluh berdecak kagum. Foto-foto Danau Biru marak diunggah di media sosial. Danau Biru yang dimaksud adalah bekas galian pertambangan batu bara yang beroperasi beberapa tahun silam. Tak disangka, bekas galian sedalam 15 meter itu menjadi kebiru-biruan seperti Danau Kaolin di Belitong yang juga bekas pertambangan timah, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar Desa Buluh.

Desa Sungai Buluh merupakan desa yang sangat strategis. Lokasinya masih berdekatan dengan Kecamatan dan Ibu Kota Kabupaten. Letaknya pun di Jalan Lintas Jambi-Muara Bulian, yang menjadikan akses desa ini menjadi sangat mudah.

Secara geografis Desa Sungai Buluh terletak Kecamatan Muara Bulian di bagian Timur Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi dengan luas wilayah ±66,7 km 2 . Desa Sungai Buluh terdiri dari empat dusun yaitu Dusun Baru, Dusun Sei. Bamban, Dusun Sei. Pule dan Dusun Sei. Deras, serta terdiri dari 12 Rukun Tetangga (RT).

Desa Sungai Buluh memiliki berbagai jenis sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, antara lain material batu bata, tanah urug, lahan hutan, sungai, dan tanaman palawija.

Desa Sungai Buluh mulai menerima penyaluran Dana Desa sejak tahun 2015, dan nilainya terus meningkat hingga tahun anggaran 2017. Pada tahun 2015, berjumlah Rp 469 juta. Tahun 2016, Dana Desa meningkat menjadi sekitar Rp502 juta dan kembali bertambah menjadi lebih dari Rp780 juta pada tahun 2017.

Dana Desa yang telah diterima dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan di bidang infrastruktur maupun pemberdayaan masyarakat. Sejak tahun 2015, porsi penggunaan Dana Desa sebagian besar digunakan untuk pembangunan infrastruktur antara lain pembangunan dan pemeliharaan jalan, serta penyediaan fasilitas pendidikan.

Adapun pemanfaatan Dana Desa dalam rangka pemberdayaan masyarakat digunakan untuk menyelenggarakan berbagai jenis kegiatan pelatihan peningkatan keterampilan seperti menjahit, karang taruna, kerajinan tangan, dll.

Dari alokasi dana pada tahun 2017, Desa Sungai Buluh menunjukkan perhatian yang besar pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia desa. Lebih dari 145 juta dana yang dialokasikan untuk berbagai kegiatan pelatihan mulai dari tata rias hingga tata boga.

Pembuatan kerajinan tangan dari limbah bungkus detergen salah satu wujud kreatifitas masyarakat desa dari hasil pelatihan yang didanai dengan Dana Desa. Sama halnya dengan pengolahan limbah detergen menjadi detergen, pelatihan lain juga diharapakan akan memberikan nilai tambah bagi desa dan masyarakatnya.

Keberadaan desa yang dekat dengan batas kota bisa menciptakan lapangan pekerjaan sebagai perias, penjahit, dan penyedia camilan. Terlebih bila Danau Biru yang secara alami tercipta tadi mampu memberikan daya tarik kepada masyarakat lain di sekitar Sungai Buluh untuk berkunjung. Tentunya, peluang-peluang lain akan semakin terbuka lebar.

Pada intinya, Dana Desa bisa sukses jika bisa melibatkan masyarakat. Itulah yang terjadi di Desa Buluh. Komitmen masyarakat itu lahir sendirinya bila Dana Desa digunakan
ke dalam program-program yang tepat untuk masyarakat.