Desa Deling Sekar Bojonegoro Bangun Wisata Negeri Atas Angin sehingga Angkat Ekonomi Enam Desa

Desa Deling Sekar Bojonegoro Bangun Wisata Negeri Atas Angin sehingga Angkat Ekonomi Enam Desa

Ringkasan Inovasi

Desa Deling, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, bersama lima desa tetangga mengembangkan destinasi wisata alam Negeri Atas Angin, yang berpusat di puncak Bukit Cinta setinggi 853 meter di atas permukaan laut [3]. Inovasi ini digagas sejak awal 2016 oleh Kepala Desa Deling, Didik Prioman, bersama lima kepala desa lain di Kecamatan Sekar — Bareng, Bobol, Klino, Miyono, dan Sekar — untuk mengangkat potensi lahan hutan Perhutani menjadi destinasi wisata unggulan [2]. Keenam desa mengumpulkan dana patungan untuk membangun fasilitas dasar, dengan pengelolaan lapangan dijalankan bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Hijau dalam kemitraan dengan Perhutani KPH Bojonegoro [5]. Dari lahan hutan yang sebelumnya tanpa nilai wisata, Negeri Atas Angin kini menarik lebih dari 2.000 pengunjung pada akhir pekan dan 500-600 pengunjung pada hari kerja, menawarkan panorama Bojonegoro, Nganjuk, Saradan, hingga Bengawan Solo dari ketinggian, serta legenda rakyat setempat tentang Putri Sekar Sari [1], [3]. Destinasi ini kini juga menjadi lokasi acara budaya tingkat kabupaten, menandai pengakuan resmi atas keberhasilannya [4].

 

Latar Belakang

Desa Deling berada di Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, wilayah perbukitan yang berbatasan dengan Kabupaten Madiun dan sebagian besar arealnya merupakan kawasan hutan di bawah pengelolaan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bojonegoro, tepatnya Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Deling [5]. Kecamatan Sekar selama ini dikenal sebagai wilayah pinggiran Bojonegoro yang jarang menjadi tujuan wisata, meski memiliki lanskap perbukitan yang memukau.

Sebelum dikembangkan menjadi destinasi wisata, kawasan Bukit Cinta hanya berupa lahan hutan tanpa fasilitas maupun akses yang memadai bagi pengunjung, sehingga potensi panorama alamnya tidak memberi nilai ekonomi bagi warga sekitar. Enam desa di Kecamatan Sekar, yang secara ekonomi tergolong tertinggal dibanding wilayah Bojonegoro lainnya, membutuhkan sumber penghidupan alternatif di luar sektor pertanian yang selama ini menjadi tumpuan utama warga.

Momentum pengembangan wisata ini muncul pada awal 2016, ketika Kepala Desa Deling, Didik Prioman, bersama lima kepala desa lain di Kecamatan Sekar — Bareng, Bobol, Klino, Miyono, dan Sekar — berinisiatif mengangkat potensi lanskap perbukitan di wilayah mereka menjadi destinasi wisata bersama, alih-alih membiarkan lahan hutan tersebut tidak dimanfaatkan [2].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan kawasan hutan Perhutani di puncak Bukit Cinta menjadi destinasi wisata alam bernama Negeri Atas Angin, dengan skema kemitraan antara enam pemerintah desa, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Hijau, dan Perhutani KPH Bojonegoro sebagai pemegang hak kelola kawasan hutan [5]. Skema ini memungkinkan warga desa memanfaatkan lahan hutan negara untuk kegiatan wisata tanpa mengubah status kawasan menjadi milik pribadi.

Mekanismenya melibatkan enam desa yang urunan dana untuk membangun fasilitas dasar seperti gazebo, mushola, toilet, dan sarana air bersih, sementara LMDH Wana Hijau menjalankan operasional harian bersama Kelompok Sadar Wisata Desa Deling. Yang membedakan model ini dari pengelolaan wisata konvensional adalah kolaborasi lintas desa dan lintas instansi — pemerintah desa, LMDH, dan Perhutani — sehingga risiko dan manfaat ekonomi wisata terbagi merata di antara enam desa, bukan hanya dinikmati satu desa saja.

 

Proses Penerapan Inovasi

Pada awal 2016, keenam kepala desa di Kecamatan Sekar mulai mengumpulkan dana patungan untuk membangun fasilitas dasar di Bukit Cinta, dengan kontribusi awal dari setiap desa digunakan bertahap untuk pembangunan sarana wisata [2]. Salah satu pembangunan awal yang tercatat adalah kolam renang dengan biaya sekitar Rp75 juta, dibiayai dari dana patungan bersama enam desa.

Pada tahap awal pengembangan, fasilitas yang tersedia masih sangat terbatas, hanya berupa akses jalan dan area pandang sederhana tanpa fasilitas pendukung seperti toilet maupun tempat berteduh, sehingga banyak pengunjung awal mengeluhkan minimnya kenyamanan meski keindahan alamnya sudah menarik perhatian. Pengelola kemudian menyadari bahwa keindahan alam saja tidak cukup mempertahankan minat pengunjung tanpa fasilitas penunjang standar pariwisata, mendorong pembangunan bertahap gazebo, mushola, toilet, dan sarana air bersih menyusul keluhan awal tersebut.

Seiring waktu, pengelolaan Negeri Atas Angin semakin tertata dengan diterapkannya standar Sapta Pesona — aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, dan kenangan — yang menjadi acuan LMDH Wana Hijau dan Perhutani KPH Bojonegoro dalam menjaga kualitas layanan wisata [5]. Pengembangan lanjutan seperti kolam renang tanpa batas, wahana flying fox, dan taman bunga terus direncanakan untuk memperkaya daya tarik destinasi ini.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah menyatukan enam pemerintah desa dengan kapasitas anggaran berbeda-beda dalam satu skema patungan pembangunan wisata, mengingat tidak semua desa memiliki kemampuan kontribusi dana yang sama. Para kepala desa mengatasinya dengan menyepakati skema urunan bersama serta pembagian peran pengelolaan yang melibatkan LMDH Wana Hijau sebagai operator lapangan yang netral bagi keenam desa [2].

Tantangan eksternal berupa status lahan yang berada di bawah kawasan hutan negara memerlukan skema kemitraan resmi dengan Perhutani agar pengelolaan wisata tidak melanggar aturan kehutanan. Kemitraan melalui LMDH Wana Hijau di bawah KPH Bojonegoro menjadi solusi yang memungkinkan warga memanfaatkan kawasan hutan untuk wisata secara legal dan berkelanjutan [5].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah kolaborasi enam kepala desa di Kecamatan Sekar yang bersedia menanggalkan ego kewilayahan demi mengembangkan destinasi wisata bersama, alih-alih bersaing membangun destinasi terpisah di masing-masing desa [2]. Kekompakan lintas desa ini memperbesar skala investasi dan jangkauan promosi dibanding jika dikembangkan sendiri-sendiri.

Faktor kedua adalah kemitraan resmi dengan Perhutani KPH Bojonegoro melalui LMDH Wana Hijau, yang memberi legalitas pengelolaan sekaligus dukungan standar layanan wisata Sapta Pesona, sehingga Negeri Atas Angin dapat berkembang secara tertib dan berkelanjutan di atas lahan hutan negara [5].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum dikembangkan, kawasan Bukit Cinta hanya berupa lahan hutan tanpa fasilitas maupun nilai ekonomi wisata bagi warga sekitar. Setelah dikembangkan sejak 2016, Negeri Atas Angin kini menarik lebih dari 2.000 pengunjung pada akhir pekan dan 500-600 pengunjung pada hari kerja, dengan tarif masuk terjangkau mulai Rp3.000 pada hari kerja hingga Rp6.000 pada akhir pekan dan hari libur [1], [3].

Kehadiran wisatawan membuka peluang usaha kuliner, seperti Soto Raja Atas Angin yang menjadi kuliner khas destinasi ini, serta usaha jasa jeep wisata dan penginapan bagi warga enam desa yang terlibat dalam pengelolaan. Perputaran ekonomi ini memberi sumber penghidupan alternatif bagi warga Kecamatan Sekar yang sebelumnya hanya mengandalkan sektor pertanian.

Dampak spillover dari inovasi ini adalah pengakuan Negeri Atas Angin sebagai Geopark Atas Angin oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, yang pada akhir Desember 2025 menjadikannya lokasi penyelenggaraan pagelaran seni budaya Ketoprak dan Campursari tingkat kabupaten, menandai pengakuan resmi atas keberhasilan enam desa mengembangkan destinasi ini secara mandiri [4].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal pembangunan Negeri Atas Angin berasal dari dana patungan enam pemerintah desa di Kecamatan Sekar, dengan salah satu pembangunan awal berupa kolam renang senilai sekitar Rp75 juta yang dibiayai bersama pada 2016 [2]. Skema urunan ini memungkinkan desa-desa dengan anggaran terbatas tetap dapat berkontribusi membangun fasilitas wisata skala besar secara kolektif.

Model bisnisnya berbasis tarif tiket masuk terjangkau yang berjenjang sesuai hari kunjungan, ditambah pendapatan dari sewa jasa jeep wisata, kuliner, dan penginapan yang dikelola warga sekitar. Pendapatan tiket dan retribusi wisata dikelola bersama LMDH Wana Hijau dan Perhutani KPH Bojonegoro sesuai skema kemitraan pengelolaan hutan, sementara sebagian dialokasikan untuk perawatan fasilitas dan pengembangan lanjutan.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Negeri Atas Angin menunjukkan bahwa keputusan enam kepala desa membangun destinasi wisata bersama secara kolektif, alih-alih masing-masing desa mengembangkan wisata sendiri-sendiri, adalah keputusan kunci yang tepat karena memperbesar skala investasi dan daya tarik promosi. Kemitraan resmi dengan Perhutani melalui LMDH juga terbukti penting untuk memastikan legalitas pengelolaan wisata di atas lahan hutan negara.

Jika memulai dari awal, pembangunan fasilitas dasar seperti toilet dan tempat berteduh idealnya sudah disiapkan sejak tahap pembukaan awal destinasi, bukan menyusul setelah pengunjung mengeluhkan minimnya kenyamanan, agar kepuasan wisatawan sejak kunjungan pertama lebih terjaga.

Bagi kelompok desa lain yang ingin menerapkan pendekatan serupa, saran praktisnya adalah menjalin kemitraan resmi dengan pemegang hak kelola lahan seperti Perhutani sejak awal, menyepakati skema patungan dan pembagian peran antardesa secara jelas, serta memastikan fasilitas dasar tersedia sebelum promosi besar-besaran dilakukan.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Negeri Atas Angin ditopang kemitraan formal dengan Perhutani KPH Bojonegoro melalui LMDH Wana Hijau, yang memastikan pengelolaan kawasan hutan wisata ini berjalan sesuai standar Sapta Pesona dan aturan kehutanan negara secara jangka panjang [5].

Mekanisme regenerasi kepemimpinan tersebar di antara enam pemerintah desa yang terlibat, sehingga keberlangsungan pengelolaan tidak bergantung pada satu kepala desa tertentu seperti Didik Prioman semata, melainkan pada struktur kemitraan kolektif antar-desa yang telah terbentuk sejak 2016.

Rencana pendapatan mandiri ke depan diperkuat melalui pengembangan fasilitas tambahan seperti kolam renang tanpa batas, wahana flying fox, dan taman bunga, serta status Geopark Atas Angin yang membuka peluang menjadi lokasi acara budaya tingkat kabupaten secara berkala, memperluas sumber pendapatan di luar tiket masuk harian [4].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi wisata Negeri Atas Angin di Desa Deling berkontribusi pada lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Wisata Negeri Atas Angin memberi sumber penghidupan alternatif bagi warga enam desa di Kecamatan Sekar yang sebelumnya hanya mengandalkan pertanian. Warga 6 desa memperoleh pendapatan dari usaha kuliner, jeep, dan penginapan
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan jumlah pengunjung mendorong berkembangnya usaha kuliner, jasa transportasi jeep, dan penginapan di sekitar destinasi. 2.000+ pengunjung akhir pekan dan 500-600 pengunjung hari kerja
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan Pengembangan wisata turut melestarikan warisan budaya berupa legenda rakyat setempat dan lanskap alam khas Kecamatan Sekar. Legenda Bukit Cinta terus diceritakan kepada pengunjung sebagai bagian atraksi wisata
SDGs 15: Ekosistem Daratan Kemitraan dengan Perhutani memastikan pemanfaatan kawasan hutan untuk wisata dilakukan tanpa alih fungsi lahan maupun kerusakan ekosistem hutan. Status hutan tetap dikelola Perhutani KPH Bojonegoro melalui skema kemitraan LMDH
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi enam pemerintah desa, LMDH Wana Hijau, dan Perhutani KPH Bojonegoro menjadi model kemitraan multipihak dalam pengelolaan wisata berbasis hutan. 6 desa dan 2 lembaga (LMDH, Perhutani) berkolaborasi aktif

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model kolaborasi lintas desa dalam mengembangkan wisata di kawasan hutan ini berpotensi direplikasi oleh kelompok desa lain di Indonesia yang memiliki lanskap alam potensial namun berada di bawah kawasan hutan negara. Prasyarat minimum meliputi kesediaan beberapa desa bertetangga bekerja sama dalam skema patungan, akses kemitraan resmi dengan pemegang hak kelola lahan seperti Perhutani, serta pembentukan lembaga pengelola bersama seperti LMDH atau Pokdarwis lintas desa.

Estimasi biaya replikasi bervariasi tergantung skala fasilitas yang dibangun, mengacu pada pengalaman Negeri Atas Angin yang memulai dari fasilitas dasar sebelum menambah fasilitas seperti kolam renang senilai Rp75 juta secara bertahap. Kelompok desa lain dapat mengadaptasi model ini dengan menyesuaikan jumlah desa yang berpatungan dan skala investasi terhadap potensi wisata serta jumlah pengunjung yang realistis di wilayah masing-masing.

 

Daftar Pustaka

[1] Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, “Menikmati Negeri Atas Angin Bojonegoro,” kominfo.jatimprov.go.id. [Online]. Tersedia: https://kominfo.jatimprov.go.id/berita/menikmati-negeri-atas-angin-bojonegoro

[2] ANTARA News Jawa Timur, “Objek Wisata ‘Atas Angin’ Bojonegoro Dikelola Desa,” jatim.antaranews.com, 2016. [Online]. Tersedia: https://jatim.antaranews.com/berita/170475/objek-wisata-atas-angin-bojonegoro-dikelola-desa

[3] Kompas, “Negeri Atas Angin di Bojonegoro: Daya Tarik, Harga Tiket, dan Rute,” surabaya.kompas.com, 9 Agu. 2024. [Online]. Tersedia: https://surabaya.kompas.com/read/2024/08/09/201045678/negeri-atas-angin-di-bojonegoro-daya-tarik-harga-tiket-dan-rute

[4] Pemerintah Kecamatan Sekar, “Website Resmi Kecamatan Sekar Kabupaten Bojonegoro,” sekar.bojonegorokab.go.id. [Online]. Tersedia: https://sekar.bojonegorokab.go.id/

[5] Perum Perhutani, “Indahnya Wisata Negeri Atas Angin di Bojonegoro,” perhutani.co.id. [Online]. Tersedia: https://www.perhutani.co.id/en/indahnya-wisata-negeri-atas-angin-di-bojonegoro/

Desa Pulosari Bareng Jombang Kembangkan Goa Ngesong sehingga Bangkitkan Wisata Kaki Anjasmoro

Desa Pulosari Bareng Jombang Kembangkan Goa Ngesong sehingga Bangkitkan Wisata Kaki Anjasmoro

Ringkasan Inovasi

Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, mengembangkan Goa Ngesong, gua unik di kaki Gunung Anjasmoro, menjadi destinasi wisata alam desa [1]. Gua ini ditemukan warga secara tidak sengaja saat mencari rumput pakan ternak di perbukitan antara Dusun Pulosari dan Sumbermulyo, kemudian dikembangkan Pemerintah Desa Pulosari bersama relawan lokal di bawah koordinasi Kepala Dusun Pulosari, Widji [3]. Nama Ngesong berasal dari bahasa Jawa berarti tembus, merujuk pada struktur gua yang menembus bukit dengan dua bibir menghadap barat dan timur, di mana sisi barat kini tertutup batu besar sesuai legenda setempat tentang tokoh sakti yang menutup sarang kirik kikik. Gua ini terletak tak jauh dari Candi Arimbi, cagar budaya peninggalan Majapahit yang diyakini sebagai tempat pendharmaan Ratu Tribhuwana Tunggadewi, ibunda Hayam Wuruk, dan telah didokumentasikan sejak akhir abad ke-19 oleh naturalis Alfred Russel Wallace [4]. Pemerintah Desa Pulosari, di bawah Kepala Desa Nefi Ufus Solikah, kini merancang pengelolaan Goa Ngesong bersama air terjun Grojokan Parang Ondo melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) agar menjadi sumber Pendapatan Asli Desa [2], [5].

 

Latar Belakang

Desa Pulosari berada di Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, di kaki Gunung Anjasmoro dengan topografi berbukit pada ketinggian 300-400 meter di atas permukaan laut, terbagi dalam tiga dusun [2]. Nama desa berasal dari pohon polosari yang dulu tumbuh subur di wilayah ini, meski kini jarang ditemukan kecuali satu pohon yang masih dipertahankan di depan kantor desa, sementara asal-usul desa sendiri dikaitkan warga dengan legenda era Kerajaan Majapahit serta pembukaan hutan oleh Kyai Sari dan Mayang Sari yang mendirikan Kampung Pulosari [5].

Sebelum dikembangkan sebagai destinasi wisata, potensi alam Desa Pulosari, termasuk Goa Ngesong, air terjun Grojokan Parang Ondo, dan kawasan Sumber Bengawan, belum dikelola secara terorganisir sehingga tidak memberi nilai ekonomi bagi warga. Padahal desa ini menyimpan kekayaan alam dan sejarah yang berdekatan dengan Candi Arimbi, cagar budaya peninggalan Majapahit yang sudah lebih dulu dikenal wisatawan dan peneliti [4].

Momentum pengembangan wisata ini bermula dari penemuan Goa Ngesong secara tidak sengaja oleh warga yang mencari rumput pakan ternak di perbukitan antara Dusun Pulosari dan Sumbermulyo [3]. Penemuan ini mendorong Pemerintah Desa Pulosari dan relawan lokal, dikoordinasikan Widji selaku Kepala Dusun Pulosari, untuk menggali potensi wisata yang selama ini terpendam di wilayah mereka.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan Goa Ngesong sebagai destinasi wisata alam desa, memadukan keunikan geologis gua yang menembus bukit dengan panorama air terjun, sungai jernih, dan hutan rimbun di sekitarnya [1]. Pemerintah desa memosisikan Goa Ngesong bukan sekadar objek tunggal, melainkan bagian dari paket wisata alam kaki Anjasmoro yang mencakup Grojokan Parang Ondo dan kedekatan dengan Candi Arimbi.

Mekanismenya melibatkan gotong royong warga dan relawan membersihkan area, menata akses jalan, dan mempersiapkan fasilitas dasar bagi pengunjung, sembari mengangkat narasi legenda kirik kikik dan koneksi historis dengan Candi Arimbi sebagai daya tarik naratif situs [3]. Yang membedakan pendekatan ini dari sekadar promosi wisata alam adalah upaya menggabungkan unsur mistis, sejarah Majapahit, dan keindahan geologis dalam satu paket cerita yang memperkaya pengalaman wisatawan.

 

Proses Penerapan Inovasi

Setelah penemuan Goa Ngesong oleh warga, Pemerintah Desa Pulosari mulai menata akses dan piranti wisata yang dibutuhkan, sebagaimana disampaikan Sekretaris Desa Muchammad Nurul yang menegaskan konsep Pulosari sebagai desa wisata segera direalisasikan [3]. Proses ini melibatkan pembersihan area gua dan penataan jalur akses menuju bibir gua timur yang berjarak sekitar 200 meter dari Balai Desa Pulosari, dilanjutkan jalur menurun sejauh 100 meter.

Pada tahap awal pengembangan, akses menuju Goa Ngesong masih terbatas dan menantang, dengan jalur kendaraan bermotor hanya bisa menjangkau sebagian jalan sebelum pengunjung harus berjalan kaki menuruni jalur curam, sehingga pengelola menyadari perlunya penataan akses bertahap agar destinasi ini lebih ramah bagi wisatawan umum, bukan hanya pendaki berpengalaman. Pembelajaran dari tahap ini mendorong pemerintah desa memprioritaskan penataan infrastruktur akses sebelum promosi wisata besar-besaran dilakukan.

Ketertarikan akademis turut menyertai proses pengembangan ini, dengan mahasiswa dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) dan Universitas Darul Ulum (Undar) melakukan penelitian dan studi kelayakan atas potensi wisata Goa Ngesong [3]. Kajian akademis ini membantu Pemerintah Desa Pulosari merancang strategi pengembangan yang lebih terukur sebelum mengelola situs ini secara profesional melalui BUMDesa.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah keterbatasan infrastruktur akses menuju gua yang curam dan menantang, sehingga belum ramah bagi wisatawan umum, terutama keluarga dengan anak-anak atau lansia. Pemerintah desa dan relawan mengatasinya secara bertahap melalui kerja gotong royong menata jalur akses dan fasilitas dasar, sembari menunggu dukungan pendanaan lebih besar untuk penataan permanen.

Tantangan eksternal berupa persaingan dengan destinasi wisata alam dan sejarah lain di Jombang, termasuk Candi Arimbi yang sudah lebih dulu dikenal luas, turut menjadi pertimbangan strategi promosi. Pemerintah desa memitigasi hal ini dengan memosisikan Goa Ngesong sebagai pelengkap paket wisata kawasan, memanfaatkan kedekatan lokasi dengan Candi Arimbi alih-alih bersaing langsung sebagai destinasi tunggal.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah semangat gotong royong warga Desa Pulosari dan relawan lokal yang bersedia bekerja bersama membersihkan dan menata Goa Ngesong tanpa menunggu proyek besar dari pemerintah kabupaten [1]. Koordinasi Widji sebagai Kepala Dusun Pulosari turut memastikan inisiatif warga terarah dan berkelanjutan.

Faktor kedua adalah kekayaan narasi situs, yang menggabungkan keunikan geologis, legenda kirik kikik, dan koneksi historis dengan Candi Arimbi, sehingga Goa Ngesong menawarkan pengalaman wisata yang lebih kaya dibanding sekadar keindahan alam semata. Dukungan kajian akademis dari mahasiswa Untag dan Undar turut memperkuat dasar perencanaan pengembangan situs ini [3].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum dikembangkan, Goa Ngesong dan potensi alam sekitarnya tidak dikenal luas dan tidak memberi nilai ekonomi bagi warga Desa Pulosari. Setelah ditata melalui kerja gotong royong warga dan relawan, Goa Ngesong kini mulai dikenal sebagai destinasi wisata alam yang dipromosikan melalui situs resmi desa dan liputan media lokal seperti Kabar Jombang [3].

Warga Desa Pulosari kini memiliki kebanggaan baru atas kekayaan alam dan sejarah desanya, yang sebelumnya kurang dikenal dibanding Candi Arimbi. Ketertarikan mahasiswa dan media lokal turut mengangkat profil Desa Pulosari sebagai kawasan wisata potensial di kaki Gunung Anjasmoro.

Dampak spillover dari inovasi ini adalah rencana pengelolaan terpadu Goa Ngesong bersama Grojokan Parang Ondo dan potensi wisata lain di Desa Pulosari melalui BUMDesa, yang jika terealisasi dapat memperluas manfaat ekonomi ke seluruh warga desa, tidak hanya di sekitar lokasi gua [2]. Desa Pulosari, yang dikenal dengan julukan “Panyongone Anjasmoro,” juga berpotensi menggabungkan promosi wisata alam dengan produk unggulan keripik singkong sebagai oleh-oleh khas wisatawan [2].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal pengembangan Goa Ngesong berasal dari swadaya warga dan relawan lokal dalam bentuk tenaga kerja gotong royong untuk membersihkan dan menata area wisata, tanpa investasi besar dari anggaran pemerintah desa. Dukungan Dana Desa dan Pendapatan Daerah dari Retribusi Daerah (PDRD) turut menjadi sumber pembiayaan program pengembangan ekonomi desa secara umum, termasuk potensi sektor wisata [2].

Model bisnis ke depan diarahkan melalui pengelolaan profesional oleh BUMDesa, yang direncanakan mengelola tiket masuk, jasa pemandu wisata, dan produk oleh-oleh seperti keripik singkong, sehingga pendapatan dari wisata Goa Ngesong dapat menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Desa yang berkelanjutan.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Desa Pulosari menunjukkan bahwa keputusan memulai pengembangan wisata dari kerja gotong royong warga dan relawan, alih-alih menunggu investasi besar dari luar, adalah keputusan kunci yang tepat karena memungkinkan destinasi mulai dikenal tanpa modal besar di tahap awal. Melibatkan kajian akademis mahasiswa sejak dini juga membantu merancang strategi pengembangan yang lebih terarah.

Jika memulai dari awal, penataan infrastruktur akses menuju gua idealnya sudah direncanakan lebih matang sejak tahap awal, mengingat medan yang curam dan menantang berpotensi membatasi segmen wisatawan yang bisa berkunjung, terutama keluarga dan lansia.

Bagi desa lain yang memiliki potensi wisata alam serupa namun belum tergali, saran praktisnya adalah memanfaatkan narasi lokal seperti legenda dan koneksi sejarah untuk memperkaya daya tarik situs, menggandeng perguruan tinggi setempat untuk studi kelayakan, serta memulai penataan dari kerja gotong royong warga sebelum mengajukan pendanaan lebih besar.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan pengembangan Goa Ngesong direncanakan melalui pengelolaan profesional di bawah BUMDesa, sehingga tata kelola wisata tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kerja swadaya dan gotong royong warga semata.

Mekanisme regenerasi kepemimpinan bertumpu pada struktur pemerintahan desa formal, dengan Kepala Desa Pulosari saat ini, Nefi Ufus Solikah, meneruskan visi pengembangan wisata yang dirintis bersama koordinasi Widji di tingkat dusun [5]. Keterlibatan relawan lokal dan mahasiswa turut memastikan pengetahuan pengelolaan situs tidak bergantung pada satu individu semata.

Rencana pendapatan mandiri desa ke depan diperkuat dengan menggabungkan potensi wisata Goa Ngesong, Grojokan Parang Ondo, dan produk unggulan keripik singkong dalam satu paket wisata terpadu di bawah BUMDesa, sehingga desa memiliki beberapa sumber pendapatan yang saling melengkapi, tidak bergantung pada satu objek wisata saja.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi pengembangan wisata Goa Ngesong di Desa Pulosari berkontribusi pada lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Pengembangan wisata membuka alternatif sumber penghidupan bagi warga di luar sektor pertanian dan produk keripik singkong. Rencana pengelolaan wisata dan oleh-oleh melalui BUMDesa
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pengelolaan wisata melalui BUMDesa berpotensi membuka lapangan kerja baru dan pendapatan asli desa dari sektor pariwisata. Rencana pembentukan unit usaha wisata di bawah BUMDesa
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan Pengembangan wisata turut melestarikan narasi budaya dan sejarah lokal, termasuk koneksi dengan Candi Arimbi peninggalan Majapahit. Legenda dan sejarah situs terus diceritakan kepada pengunjung
SDGs 15: Ekosistem Daratan Pengembangan wisata alam mendorong pelestarian kawasan hutan, sungai, dan perbukitan di sekitar Goa Ngesong dan Sumber Bengawan. Kawasan hutan dan aliran Sumber Bengawan tetap terjaga sebagai daya tarik wisata
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi Pemerintah Desa, relawan lokal, dan mahasiswa Untag serta Undar memperkuat kajian dan perencanaan pengembangan wisata. 2 perguruan tinggi terlibat dalam studi kelayakan wisata

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model pengembangan wisata berbasis penemuan warga dan kerja gotong royong ini berpotensi direplikasi oleh desa lain yang memiliki potensi alam serupa namun belum tergali, khususnya desa yang berdekatan dengan situs sejarah atau cagar budaya yang sudah lebih dulu dikenal. Prasyarat minimum meliputi keberadaan potensi alam atau situs yang bisa dinarasikan secara menarik, kesediaan warga bergotong royong menata akses awal, serta dukungan perguruan tinggi setempat untuk studi kelayakan.

Estimasi biaya replikasi relatif terjangkau pada tahap awal karena mengandalkan swadaya warga untuk penataan dasar, sebelum memerlukan investasi lebih besar untuk infrastruktur permanen dan pengelolaan profesional melalui BUMDesa. Desa lain dapat mengadaptasi model ini dengan memetakan narasi lokal seperti legenda dan koneksi sejarah yang dimiliki wilayahnya, sebagaimana Desa Pulosari memanfaatkan kedekatan dengan Candi Arimbi untuk memperkaya daya tarik Goa Ngesong.

 

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa, “Mutiara Tersembunyi di Kaki Anjasmoro: Menyingkap Pesona Mistis Goa Ngesong Jombang,” inovasi.web.id. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/id-00008-mutiara-tersembunyi-di-kaki-anjasmoro-menyingkap-pesona-mistis-goa-ngesong-jombang/

[2] Pemerintah Desa Pulosari, “Selayang Pandang Desa Pulosari,” pulosari-bareng.jombangkab.go.id. [Online]. Tersedia: https://pulosari-bareng.jombangkab.go.id/desa/selayang

[3] Kabar Jombang, “Keelokan Tersembunyi Goa Ngesong di Desa Pulosari,” kabarjombang.com. [Online]. Tersedia: https://kabarjombang.com/travel-kuliner/keelokan-tersembunyi-goa-ngesong-di-desa-pulosari/

[4] Kontributor Wikipedia, “Candi Rimbi,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Rimbi

[5] Desa Kita, “Asal-usul Desa Pulosari Kecamatan Bareng Jombang: Dulunya Terdapat Banyak Tanaman Polosari, Ada Sejak Era Kerajaan Majapahit,” desakita.co. [Online]. Tersedia: https://desakita.co/pemerintahan/5634/asal-usul-desa-pulosari-kecamatan-bareng-jombang-dulunya-terdapat-banyak-tanaman-polosari-ada-sejak-era-kerajaan-majapahit/