Ringkasan Inovasi

BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Nglegi di Desa Nglegi, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, mengembangkan unit usaha penggemukan sapi sejak 2017. Inovasi ini bertujuan menggerakkan potensi lokal sekaligus menciptakan sumber penghasilan tambahan bagi warga peternak.

Unit usaha ini lahir dari musyawarah desa dan bermodal Rp 60 juta dari APBDes 2016. Dalam satu siklus pertama (empat bulan, lima ekor sapi), BUMDes mencatat keuntungan Rp 10,475 juta dengan skema bagi hasil 60:40 antara peternak mitra dan BUMDes [1]. Inovasi ini membuktikan bahwa sumber daya desa dapat dioptimalkan untuk memperkuat perekonomian masyarakat.

Nama Inovasi : Unit Usaha Penggemukan Sapi BUMDes Nglegi
Alamat : Desa Nglegi, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DI Yogyakarta
Inovator : Pemerintah Desa Nglegi bersama BUMDes Nglegi (didukung hasil musyawarah desa)
Kontak : https://www.nglegi-patuk.desa.id/ | https://desanglegi.gunungkidulkab.go.id

Latar Belakang

Desa Nglegi merupakan desa agraris di kawasan perbukitan Gunungkidul yang kaya potensi alam namun terbatas dalam akses modal usaha. Banyak warga memiliki keterampilan beternak sapi, tetapi tidak memiliki modal awal yang cukup untuk mengembangkan usaha secara mandiri.

Sebelum BUMDes aktif, peternakan sapi berskala kecil di desa ini berlangsung secara individual tanpa dukungan kelembagaan yang kuat. Akibatnya, keuntungan tidak tersebar merata dan warga kurang mampu justru tersisihkan dari rantai ekonomi peternakan [2]. Kebutuhan akan wadah usaha kolektif yang transparan dan berkeadilan menjadi dorongan utama lahirnya inovasi ini.

Desa Nglegi juga memiliki lahan yang masih mencukupi untuk kandang ternak dan budidaya pakan. Potensi ini, ditambah modal sosial berupa kepercayaan dan jaringan antar-warga, menjadi fondasi yang menjanjikan untuk pengembangan usaha penggemukan sapi berbasis desa [3].

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang dikembangkan BUMDes Nglegi adalah sistem usaha penggemukan sapi berbasis kemitraan antara BUMDes sebagai penyedia modal dan warga peternak sebagai pelaksana pemeliharaan. Gagasan ini muncul dari musyawarah desa pada 2016 yang menggali aspirasi warga tentang potensi ekonomi lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal [1].

Mekanisme inovasi bekerja dalam siklus bergulir: BUMDes membeli sapi bakalan menggunakan modal desa, lalu menyerahkan sapi kepada peternak mitra untuk digemukkan selama empat hingga enam bulan. Setelah sapi dijual ke pasar, keuntungan dibagi sesuai skema 60:40—60% untuk peternak mitra dan 40% untuk BUMDes. Uang hasil penjualan kemudian dibelikan sapi baru dan disalurkan kepada warga lain yang siap memelihara, sehingga manfaat bergulir ke lebih banyak keluarga [1].

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan dimulai dengan pengalokasian dana APBDes 2016 sebesar Rp 60 juta untuk modal awal BUMDes. Pemerintah Desa Nglegi kemudian membentuk kepengurusan BUMDes dan menetapkan aturan main usaha melalui Peraturan Desa, sesuai amanat UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa yang memberi desa kewenangan mengelola aset dan usaha ekonomi [4].

Pada Maret 2017, BUMDes membeli lima ekor sapi bakalan sebagai uji coba tahap pertama. Selama empat bulan, peternak mitra memelihara dan menggemukkan sapi dengan pakan lokal yang tersedia di desa. Proses ini menjadi laboratorium lapangan untuk menguji kelayakan usaha sebelum skala diperbesar.

Dari pengalaman tahap pertama, BUMDes belajar bahwa keberhasilan bergantung pada seleksi peternak mitra yang disiplin dan penyediaan pakan yang konsisten. Pembelajaran ini menjadi dasar penyempurnaan standar operasional pada siklus berikutnya, termasuk mekanisme pengawasan dan pencatatan hasil penggemukan secara rutin [4].

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah partisipasi aktif warga yang terbangun melalui musyawarah desa sebagai titik awal pengambilan keputusan. Keterlibatan warga sejak perencanaan menciptakan rasa memiliki (sense of ownership) yang kuat, sehingga pelaksanaan usaha berjalan dengan dukungan sosial yang solid [3].

Faktor kedua adalah kejelasan skema bagi hasil yang adil dan transparan. Pembagian 60:40 memberi insentif nyata bagi peternak mitra untuk merawat sapi dengan optimal, sekaligus memastikan BUMDes mendapat surplus untuk reinvestasi. Komitmen Pemerintah Desa Nglegi untuk terus menambah penyertaan modal secara bertahap juga memperkuat keberlanjutan usaha ini [1].

Hasil dan Dampak Inovasi

Pada siklus pertama (Maret–Juli 2017), lima ekor sapi menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 10,475 juta. Peternak mitra menerima Rp 6,285 juta (60%), sedangkan BUMDes memperoleh Rp 4,19 juta (40%) untuk diputar kembali sebagai modal usaha berikutnya [1].

Secara kualitatif, warga peternak melaporkan peningkatan penghasilan keluarga yang sebelumnya bergantung pada pertanian subsisten. Sistem bergulir memungkinkan manfaat menjangkau peternak baru di setiap siklus, sehingga distribusi kesejahteraan semakin meluas. Penelitian serupa di berbagai desa menunjukkan bahwa program penggemukan sapi melalui BUMDes terbukti berpengaruh positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat desa [5].

Dampak lebih luas tercermin dari meningkatnya kepercayaan warga terhadap BUMDes sebagai lembaga ekonomi desa. Keberhasilan unit usaha ini mendorong Pemerintah Desa Nglegi berencana menambah penyertaan modal secara bertahap, yang pada gilirannya akan meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) dan kesejahteraan warga secara keseluruhan [6].

Tantangan dan Kendala

Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan modal awal yang membatasi jumlah sapi dan peternak mitra yang dapat dilibatkan di setiap siklus. Dengan hanya lima ekor sapi pada tahap pertama, dampak ekonomi yang dirasakan warga masih terbatas pada segelintir keluarga peternak.

Tantangan lain muncul dari fluktuasi harga sapi di pasar yang sulit diprediksi, sehingga margin keuntungan bisa berubah signifikan antarsiklus. Risiko kematian atau penyakit sapi selama masa pemeliharaan juga menjadi kendala yang memerlukan manajemen risiko yang baik, termasuk akses ke layanan veteriner dan penyuluhan teknis peternakan [7].

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Strategi keberlanjutan BUMDes Nglegi bertumpu pada mekanisme bergulir (revolving fund) yang memastikan modal tidak tergerus melainkan terus berkembang di setiap siklus. Pemerintah Desa berkomitmen menambah penyertaan modal secara bertahap sesuai kapasitas APBDes, sehingga jumlah sapi dan peternak mitra yang terlibat terus bertambah dari tahun ke tahun [1].

Untuk memperkuat ketahanan bisnis jangka panjang, BUMDes dapat mempertimbangkan diversifikasi usaha—misalnya pengolahan pupuk organik dari kotoran sapi—yang akan menambah nilai ekonomi sekaligus mendukung pertanian desa secara terpadu. Inovasi adopsi teknologi probiotik pakan juga dapat meningkatkan efisiensi penggemukan dan menekan biaya operasional [8].

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model kemitraan BUMDes Nglegi berpotensi direplikasi di desa-desa lain di Kecamatan Patuk maupun di seluruh Kabupaten Gunungkidul yang memiliki potensi peternakan serupa. Kunci replikasi terletak pada tiga hal: ketersediaan lahan pakan, keberadaan warga terampil beternak, dan kemauan pemerintah desa mengalokasikan modal awal dari APBDes [9].

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dan Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta dapat memfasilitasi replikasi melalui program pendampingan teknis, pelatihan manajemen BUMDes, dan skema bantuan modal awal bagi desa-desa yang baru memulai. Dokumentasi praktik baik dari BUMDes Nglegi—termasuk skema bagi hasil dan standar operasional—dapat menjadi panduan replikasi yang mudah diadaptasi sesuai kondisi lokal masing-masing desa [10].

Daftar Pustaka

  1. Pemerintah Kalurahan Nglegi, “Penggemukan Sapi, Program BUMDes Nglegi 2016,” desanglegi.gunungkidulkab.go.id, 11 Oktober 2017. [Online]. Available: https://desanglegi.gunungkidulkab.go.id/first/artikel/477-Penggemukan-Sapi–Program-BUMDes-Nglegi-2016. [Accessed: 28 Maret 2026].
  2. Y. Nurlaila, “Pemberdayaan Peternak Sapi Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Masyarakat Desa Kutasari,” Skripsi, UIN Saizu Purwokerto, 2022. [Online]. Available: https://repository.uinsaizu.ac.id/16100/.
  3. T. Rahma dan kawan-kawan, “Strategi Pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Unit Usaha Ternak Sapi Potong Berdasarkan Modal Sosial Peternak di Kabupaten Tanjung Jabung Timur,” Jurnal Agri Sains, vol. 5, no. 1, pp. 1–12, Juni 2021. [Online]. Available: https://ojs.umb-bungo.ac.id/index.php/JAS/article/view/530.
  4. A. N. Choirudin, “Analisis Kinerja Unit Usaha Penggemukan Sapi Pada Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Sekar Mulia Desa Kedungbanteng Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar,” Skripsi, Universitas Brawijaya, 2017. [Online]. Available: https://repository.ub.ac.id/id/eprint/5080/.
  5. Sulfiadi, “Pengaruh Program Penggemukan Sapi BUMDes terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat di Desa Duampanuae Kecamatan Bulupoddo,” Skripsi, Universitas Islam Ahmad Dahlan, 2023. [Online]. Available: https://repository.uiad.ac.id/id/eprint/838/.
  6. R. Setyaningsih, “Optimalisasi Pemanfaatan Tanah Kas Desa dalam Rangka Pengembangan BUMDes: Studi Kelayakan Usaha Penggemukan Sapi Desa Lugurejo,” Tesis, Universitas Gadjah Mada, 2024. [Online]. Available: https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/241777.
  7. Yuliani dan kawan-kawan, “Peran BUMDesa Podo Makmur melalui Unit Peternakan dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa,” Jurnal Studi Pemerintahan APPISI, 2025. [Online]. Available: https://ejournal.appisi.or.id/index.php/Studi/article/download/104/105/546.
  8. Gunawan, “FGD Pemanfaatan Probiotik untuk Mendukung Pengembangan Unit Usaha Penggemukan Sapi oleh BUMDesa,” dinsospmd.babelprov.go.id, 9 Januari 2022. [Online]. Available: https://dinsospmd.babelprov.go.id. [Accessed: 28 Maret 2026].
  9. “BUMDes di Bekasi Kembangkan Ternak Sapi Perkuat Ketahanan Pangan,” Antara News, 15 Februari 2026. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/5419194/. [Accessed: 28 Maret 2026].
  10. “Penguatan Badan Usaha Milik Desa,” iGov Journal. [Online]. Available: https://igovjournal.org/index.php/igj/article/download/56/47.

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.

Data Inovasi