Ringkasan Inovasi

BUMDes Berkah Bersama di Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, menerapkan inovasi ganda yang saling menguatkan: mengolah jeruk siam banjar menjadi es krim premium berlabel Antani sekaligus membangun sistem jual-beli gabah langsung yang memotong dominasi tengkulak atas petani lokal. [1] Dua inovasi ini lahir dari satu visi yang sama — memberikan nilai tambah nyata kepada hasil panen petani yang selama ini diperas oleh rantai distribusi yang tidak adil, tidak transparan, dan menguntungkan pihak luar desa saja. Merek Antani, singkatan dari “anak petani,” bukan sekadar nama produk; ia adalah pernyataan identitas yang tegas bahwa hasil bumi desa ini milik dan untuk kebanggaan warga desa sendiri. [6]

Dampak utama inovasi ini terasa dari dua arah sekaligus: es krim jeruk Antani membuka pasar baru yang mengangkat harga jeruk siam banjar jauh di atas harga jual segar ke tengkulak, sementara program gabah BUMDes memastikan petani menerima harga panen yang adil dengan memanfaatkan selisih harga musiman yang menguntungkan. [3] Keberhasilan model bisnis ini mengantarkan BUMDes Berkah Bersama meraih predikat BUMDes terbaik perwakilan Kabupaten Barito Kuala dalam ajang pemilihan BUMDes terbaik se-Kalimantan Selatan pada Juni 2021. [7]

Latar Belakang

Desa Karang Bunga merupakan kawasan eks transmigran yang dibuka sejak 1983, dan sejak awal pemerintah telah menanamkan jeruk siam banjar sebagai komoditas pertanian utama bagi empat desa di kawasan itu — Karang Dukuh, Karang Buah, Karang Bunga, dan Karang Indah. [8] Setiap keluarga petani rata-rata mengelola kebun jeruk seluas dua hektar, menghasilkan buah berlimpah di setiap musim panen. Namun berlimpahnya hasil bumi ini tidak serta-merta berarti berlimpahnya kesejahteraan, karena petani tidak memiliki kuasa atas harga jual hasil panen mereka sendiri. [1]

Dua belenggu struktural memiskinkan petani secara sistematis dari musim ke musim. [1] Pertama, harga jual jeruk segar anjlok dramatis saat petani menjualnya langsung ke tengkulak yang datang ke desa dengan posisi tawar sangat kuat karena petani tidak punya pilihan lain. Kedua, di awal musim tanam petani terpaksa meminjam modal dari rentenir dengan bunga tinggi yang mencekik, sehingga sebagian besar hasil panen habis untuk membayar utang sebelum bisa dinikmati sebagai pendapatan. [3]

Di sisi lain, pola distribusi gabah juga menjerat petani dalam siklus yang serupa. [1] Tengkulak memborong gabah saat panen raya ketika harga mencapai titik terendah, lalu menjualnya kembali di awal tahun ketika harga melonjak — mengambil selisih keuntungan yang seharusnya menjadi milik petani. Kesadaran akan anomali yang menyedihkan ini mendorong pemerintah desa dan pengurus BUMDes untuk merancang dua terobosan sekaligus: mengangkat nilai jeruk melalui pengolahan dan merebut kembali kendali harga gabah dari tangan tengkulak. [7]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi pertama lahir pada 2018 ketika Rumiyati, anggota BUMDes yang juga ibu rumah tangga, mulai mengembangkan es krim berbahan baku utama jeruk siam banjar segar yang diberi merek Antani — singkatan dari “anak petani” yang menjadi simbol kebanggaan dan identitas perjuangan petani desa. [6] Resep es krim ini menggunakan perasan sari jeruk siam banjar asli yang dicampur susu full cream, tepung maizena, gula, dan sedikit bahan pengikat, menghasilkan produk dengan rasa jeruk yang otentik, segar, dan sangat berbeda dari es krim pabrikan. Proses produksinya mengharuskan adonan disimpan di freezer selama 12 jam untuk mendapatkan tekstur yang sempurna sebelum dikemas dalam cup dan siap dipasarkan dengan harga Rp3.000 per cup. [6]

Inovasi kedua adalah sistem jual-beli gabah dan simpan-pinjam modal yang bekerja sebagai instrumen ganda pembebas petani dari jerat tengkulak dan rentenir. [1] BUMDes memberikan pinjaman modal tanpa bunga kepada petani sebagai modal awal musim tanam, dan petani membayar pinjaman itu menggunakan gabah saat panen dengan harga yang sesuai harga pasar saat itu — sebuah skema yang jauh lebih manusiawi dari sistem ijon konvensional. Gabah yang masuk ke gudang BUMDes kemudian ditahan penjualannya hingga awal tahun berikutnya ketika harga melonjak, dan BUMDes meraih keuntungan rata-rata Rp20.000 per kaleng gabah dari selisih harga musiman ini. [1]

Proses Penerapan Inovasi

BUMDes Berkah Bersama berdiri pada 17 Juli 2013 dengan satu unit usaha simpan pinjam yang modal awalnya bukan dari dana desa, melainkan dari iuran swadaya warga sebesar Rp50.000 per orang — sebuah fondasi gotong royong yang membuktikan kepercayaan warga terhadap lembaga ini sejak hari pertama. [7] Dua tahun kemudian, setelah alokasi Dana Desa mulai mengalir, musyawarah desa pada 2015 memutuskan mengalokasikan Rp115,22 juta sebagai suntikan modal BUMDes untuk memperluas unit usaha. Penguatan modal ini membuka ruang bagi pengurus untuk bereksperimen dengan unit usaha baru yang lebih ambisius, termasuk pengolahan produk jeruk. [1]

Gagasan es krim jeruk muncul dari pelatihan keterampilan yang diinisiasi mahasiswa KKN Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) yang memperkenalkan teknik pengolahan es krim menggunakan 350 ml sari jeruk yang diperas dari sekitar 10 buah jeruk siam banjar segar. [2] Rumiyati mengambil alih pengembangan resep ini dan melakukan serangkaian eksperimen selama bertahun-tahun untuk menyempurnakan komposisi bahan dan proses produksi. Pada 2022, berkat dukungan program Desa BRILian dari Bank BRI yang menyumbangkan pembangunan Rumah Produksi Jeruk senilai Rp232.667.825 dan peralatan produksi senilai Rp50.000.000, kapasitas produksi meningkat signifikan dengan fasilitas yang lebih layak. [8]

Proses pengembangan tidak selalu berjalan mulus. [8] Kapasitas produksi yang terbatas menjadi hambatan utama, sehingga Rumah Produksi Jeruk beroperasi berdasarkan sistem based on order — memproduksi hanya sesuai pesanan yang masuk, belum mampu membangun stok reguler. Kondisi jalan kabupaten yang rusak menuju desa juga menyulitkan distribusi ke pasar luar daerah, memaksa pengurus bekerja ekstra keras setiap kali mengantar pesanan ke Banjarmasin. Dari setiap hambatan ini, pengurus BUMDes belajar bahwa infrastruktur produksi dan akses pasar yang terencana adalah prasyarat mutlak untuk naik ke skala yang lebih besar. [1]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama keberhasilan BUMDes Berkah Bersama adalah komitmen pemerintah desa dalam mengalokasikan Dana Desa secara konsisten sebagai modal pengembangan unit usaha, memberikan fondasi finansial yang memungkinkan BUMDes bereksperimen, gagal, belajar, dan berkembang tanpa harus gulung tikar karena kekurangan modal. [1] Kepala Desa Sarino memainkan peran krusial sebagai jembatan antara visi pemberdayaan ekonomi desa dan kepercayaan masyarakat terhadap BUMDes sebagai lembaga yang layak dipercaya untuk memegang gabah dan uang petani. Sinergi erat antara pengurus BUMDes, aparatur desa, dan petani memastikan semua program berjalan dalam ekosistem kepercayaan yang menjadi modal sosial paling berharga dari inovasi ini. [7]

Faktor eksternal yang mengakselerasi pertumbuhan adalah kemitraan strategis dengan program Desa BRILian dari BRI yang dimulai sejak akhir 2018. [8] Dukungan BRI tidak hanya berupa investasi infrastruktur fisik Rumah Produksi Jeruk, tetapi juga membuka akses pasar berkelanjutan: Kanwil BRI Banjarmasin secara rutin memesan jus dan es krim jeruk setiap minggu, menjadikan BRI sebagai pelanggan korporat pertama dan paling setia yang menstabilkan arus kas produksi. Penelitian akademis mengonfirmasi bahwa efektivitas BUMDes Berkah Bersama dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat sudah efektif karena mampu menyesuaikan diri dengan dinamika lingkungan dan kondisi tak terduga yang dihadapi secara adaptif. [4]

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak paling konkret dari inovasi es krim Antani adalah transformasi nilai jual jeruk siam banjar: buah yang sebelumnya dijual murah ke tengkulak kini diolah menjadi produk kuliner premium yang harganya jauh lebih tinggi dan bisa menembus pasar perkantoran, event kedinasan, expo, dan jaringan pelanggan BRI. [8] Rumah Produksi Jeruk kini menghasilkan beragam olahan — es krim, jus, sirup, permen jeli, bahkan produk berbasis kulit jeruk seperti handsanitizer dan masker wajah — memaksimalkan setiap bagian dari buah jeruk tanpa ada yang terbuang sia-sia. Produksi jus dan sirup jeruk mencapai 200–250 botol per bulan dengan pesanan rutin dari Kanwil BRI Banjarmasin setiap minggu sebanyak 200 botol, sebuah angka yang membuktikan stabilitas permintaan pasar. [8]

Dampak sistem jual-beli gabah lebih fundamental: ia memutus siklus kemiskinan struktural yang selama bertahun-tahun menjerat petani antara rentenir dan tengkulak. [1] Petani kini mendapatkan pinjaman modal tanpa bunga di awal musim tanam dan harga gabah yang adil saat panen, sementara BUMDes meraup keuntungan rata-rata Rp20.000 per kaleng dari selisih harga jual di awal tahun yang lebih tinggi. Program ini menciptakan situasi win-win yang nyata: petani sejahtera, BUMDes untung, dan modal desa terus bergulir untuk pembiayaan musim tanam berikutnya. [3]

Pengakuan tertinggi datang pada Juni 2021 ketika BUMDes Berkah Bersama terpilih sebagai perwakilan Kabupaten Barito Kuala dalam ajang pemilihan BUMDes terbaik se-Kalimantan Selatan, membuktikan bahwa model inovasi berbasis nilai tambah produk lokal ini diakui sebagai yang terbaik di tingkat regional. [7] Secara akademis, penelitian dari Universitas Lambung Mangkurat menyimpulkan bahwa BUMDes Berkah Bersama telah efektif dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang berubah. Rumah Produksi Jeruk mempekerjakan tiga warga lokal ibu rumah tangga sebagai tenaga tetap — angka kecil yang bermakna besar karena setiap pekerjaan yang tercipta di desa berarti satu keluarga yang tidak perlu merantau. [4]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar yang masih menghambat pertumbuhan inovasi ini adalah keterbatasan skala produksi yang belum mampu membeli jeruk langsung dari petani secara masif. [1] BUMDes masih mengandalkan bahan baku dari kebun desa sendiri karena kapasitas finansial belum cukup untuk menyerap seluruh hasil panen petani — sebuah ironi karena inovasi ini justru bertujuan untuk membebaskan petani dari ketergantungan pada tengkulak, namun belum sepenuhnya bisa menggantikan peran pembeli itu sendiri. Kondisi ini juga berarti sistem produksi masih berjalan based on order tanpa kemampuan membangun stok reguler yang dibutuhkan untuk memasok pasar modern yang lebih besar. [8]

Kendala infrastruktur fisik menjadi hambatan distribusi yang sangat nyata dan belum terselesaikan. [1] Kondisi jalan kabupaten menuju Desa Karang Bunga yang masih mengalami kerusakan parah menyulitkan pengiriman produk ke pasar luar daerah, meningkatkan biaya logistik, dan membatasi frekuensi pengiriman yang bisa dilakukan. Target pasar yang masih terbatas pada lingkup Kabupaten Barito Kuala dan Kalimantan Selatan sebagian besar disebabkan oleh hambatan akses ini, bukan karena minimnya permintaan dari luar daerah yang justru terus berdatangan. [8]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Landasan legalitas yang kokoh menjadi prioritas strategi keberlanjutan BUMDes Berkah Bersama. [1] Es krim Antani telah mengantongi sertifikat halal dari MUI dan izin edar dari BPOM pada tahun 2022, membuka pintu distribusi ke pasar yang lebih luas secara nasional yang sebelumnya tidak bisa dimasuki tanpa legalitas tersebut. [6] Pencapaian legalitas ganda ini adalah titik balik penting yang mengubah produk desa dari komoditas lokal menjadi produk yang siap bersaing di pasar modern, marketplace digital, dan jejaring distribusi korporat yang membutuhkan standar keamanan pangan yang terverifikasi.

Diversifikasi unit usaha menjadi pilar keberlanjutan kedua yang semakin memperkuat fondasi keuangan BUMDes. [7] BUMDes kini mengoperasikan empat unit usaha secara bersamaan: simpan pinjam gabah, pengolahan produk jeruk, layanan Pamsimas (air bersih), dan penggemukan sapi potong — sebuah portofolio yang memastikan ketika satu unit usaha menghadapi tekanan musiman, unit usaha lain tetap menghasilkan arus kas. [7] Kemitraan jangka panjang dengan program Desa BRILian BRI, yang telah terbukti memberikan dampak nyata berupa infrastruktur, peralatan, dan akses pasar, akan terus dijaga dan diperluas sebagai ekosistem pendukung pertumbuhan yang tidak bisa digantikan oleh sumber daya desa sendiri.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi BUMDes Berkah Bersama Karang Bunga berkontribusi secara langsung pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Sistem jual-beli gabah BUMDes memutus siklus kemiskinan struktural petani yang selama ini terjepit antara rentenir dan tengkulak, memberikan akses modal tanpa bunga dan harga panen yang adil. Rumah Produksi Jeruk menciptakan lapangan kerja tetap bagi ibu rumah tangga desa yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan mandiri di luar sektor pertanian. [1]
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Program jual-beli gabah BUMDes memastikan ketersediaan stok pangan desa yang lebih stabil dan harga beras yang lebih terjangkau bagi warga, karena gabah tidak lagi habis dijual murah ke tengkulak di luar desa saat panen raya. Pengolahan jeruk menjadi berbagai produk pangan olahan yang aman dan bersertifikat turut memperkuat keanekaragaman pangan lokal yang tersedia bagi masyarakat desa. [3]
SDGs 5: Kesetaraan Gender Rumiyati dan para ibu rumah tangga Karang Bunga menjadi penggerak utama Rumah Produksi Jeruk — sebuah pelembagaan peran perempuan sebagai pelaku ekonomi produktif yang memiliki pendapatan mandiri di luar ketergantungan pada penghasilan suami. Inovasi ini secara konkret memperkuat kemandirian finansial perempuan desa dan meningkatkan posisi tawar mereka dalam pengambilan keputusan keluarga. [6]
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Empat unit usaha BUMDes — simpan pinjam, pengolahan jeruk, Pamsimas, dan penggemukan sapi — menciptakan pekerjaan layak bagi warga dengan penghasilan stabil, mendorong PADes dari sektor industri pengolahan dan pertanian. Model ini membuktikan desa mampu membangun fondasi ekonomi yang produktif dan tidak bergantung semata-mata pada transfer fiskal pemerintah. [7]
SDGs 17: Kemitraan untuk Tujuan Kemitraan strategis antara BUMDes Berkah Bersama, BRI melalui program Desa BRILian, UNISKA melalui KKN, dan Pemerintah Desa Karang Bunga menciptakan ekosistem kolaborasi multi-pihak yang mengakselerasi pertumbuhan ekonomi desa secara inklusif. Model kemitraan BUMN-BUMDes-perguruan tinggi ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi lintas sektor menghasilkan dampak pemberdayaan yang jauh melampaui kapasitas masing-masing pihak jika bekerja sendiri. [8]

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model inovasi BUMDes Berkah Bersama sangat potensial untuk direplikasi di desa-desa lain yang memiliki komoditas pertanian unggulan yang belum diolah dan nilai tambahnya belum dimaksimalkan. [2] Kunci replikasi yang paling mudah diikuti adalah pendekatan dua lapis: pertama, beri nilai tambah pada komoditas unggulan lokal melalui pengolahan sederhana yang bisa dilakukan dengan peralatan terjangkau; kedua, bangun sistem pembelian langsung dari petani untuk memotong tengkulak menggunakan gudang dan modal bergulir BUMDes. Pemerintah daerah Kabupaten Barito Kuala telah menjadikan Desa Karang Bunga sebagai model percontohan, dan pengurus BUMDes siap membagikan resep, proses produksi, dan skema bisnis gabah kepada kelompok tani dari luar daerah yang ingin belajar. [9]

Strategi scale up yang paling realistis adalah memperluas kapasitas Rumah Produksi Jeruk agar mampu menyerap seluruh hasil panen jeruk petani, bukan hanya dari kebun desa sendiri — sebuah lompatan yang membutuhkan tambahan modal, peralatan, dan tenaga kerja. [8] Skenario scale up yang lebih ambisius adalah membangun konsorsium antardesa penghasil jeruk di Kecamatan Mandastana untuk membagi kapasitas produksi, distribusi, dan pemasaran secara kolektif — model serupa dengan yang sudah berhasil diterapkan oleh koperasi pertanian di berbagai negara berkembang. Ekspansi ke platform e-commerce dan pasar modern di luar Kalimantan Selatan, yang kini terbuka lebar setelah es krim Antani mengantongi sertifikat halal dan izin BPOM, menjadi peluang scale up paling strategis yang menunggu untuk dieksekusi. [6]

Daftar Pustaka

[1] Tim Kerja Kemendes PDTT, “BUMDes Berkah Bersama Karang Bunga Tingkatkan Nilai Tambah Produk Unggulan Desa,” Gemari.id, 30 Nov. 2020. [Online]. Available: https://gemari.id/gemari/2020/12/1/huej7q09begyjwhq7u6retp86co2er

[2] Tim Inovasi Desa, “Upaya Desa Karang Bunga Mendorong Diversifikasi Usaha BUMDes,” inovasi.web.id, 2021. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/upaya-desa-karang-bunga-mendorong-diversifikasi-usaha-bumdes/

[3] D. Agustiyan et al., “Penguatan Jiwa Kewirausahaan melalui Kesadaran Potensi Diri Anggota BUMDes Berkah Bersama Desa Karang Bunga Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala,” Indonesian Collaboration Journal of Community Services, vol. 2, no. 2, 2022. [Online]. Available: https://icjcs.esc-id.org/index.php/home/article/download/11/15

[4] A. Azzahra dan G. Rahman, “Efektivitas Badan Usaha Milik Desa ‘Berkah Bersama’ dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Desa Karang Bunga Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala,” Skripsi, Universitas Lambung Mangkurat, 2023. [Online]. Available: https://digilib.ulm.ac.id/archive/digital/detailed.php?code=29471

[5] Channel Desa, “Inovasi Es Kriuk Antani Es Krim Jeruk Desa Karang Bunga,” YouTube, 2019. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=2cJNCX2KOG4

[6] M. Andriani, “FEATURE: Berdayakan Desa, Rumiyati Manfaatkan Jeruk Siam Banjar Jadi Es Krim Antani,” BeritaBanjarmasin.com, 8 Agu. 2022. [Online]. Available: https://www.beritabanjarmasin.com/2022/08/feature-berdayakan-desa-rumiyati.html

[7] Banjarmasin Post, “Mengenal BUMDes Berkah Bersama, Hadir Sebagai Solusi Masyarakat,” YouTube, 10 Jul. 2021. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=2cJNCX2KOG4

[8] H. F. Zaman, “Mencicipi Es Krim Jeruk, Inovasi Produk Makanan Warga Binaan BRI di Barito Kuala,” Prokalteng.co (Jawa Pos Group), 7 Mar. 2024. [Online]. Available: https://prokalteng.jawapos.com/prostyle/kuliner/07/03/2024/

[9] Headline9, “BUMDes Berkah Bersama Mandastana Mampu Raup Omzet Puluhan Juta Lewat Usaha Ini,” Headline9.com, 29 Jul. 2024. [Online]. Available: https://headline9.com/37486/

[10] S. Nisa et al., “Banjar Siam Orange Ice Cream: A Catalyst for Village Tourism,” Engagement: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2025. DOI: https://doi.org/10.29062/engagement.v9i2.1810

Data Inovasi

Nama Inovasi
Produksi Es Krim Jeruk Antani dan Unit Usaha Jual Beli Gabah BUMDes Berkah Bersama
Alamat
Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan
Inovator
Rumiyati (penggagas es krim Antani) dan Agus Esthi Panti Iti (Ketua BUMDes) didukung Kepala Desa Sarino dan Pemerintah Desa Karang Bunga
Kontak
E-mail: bumdesberkahbersama@gmail.com | Telepon: 081122334455
Lokasi