Ringkasan Inovasi
Pemerintah Tiyuh Penumangan Baru, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung, menjawab krisis pendapatan rumah tangga akibat anjloknya harga karet dengan mengembangkan komoditas baru berupa nangka mini. Menggunakan Dana Desa sebesar Rp66 juta, pemerintah desa mengadakan 4.000 bibit nangka mini yang dibagikan gratis kepada 900 keluarga dari total 1.263 KK di desa untuk ditanam di pekarangan rumah masing-masing [1].
Hasilnya melampaui ekspektasi. Seluruh 4.000 bibit yang ditanam tumbuh 100 persen, lahan pekarangan seluas sekitar 10 hektar menjadi lebih produktif, dan pada pertengahan 2018 sudah 20 persen tanaman mulai berbuah. Inovasi ini membuktikan bahwa diversifikasi pertanian berbasis pekarangan rumah mampu menjadi bantalan ekonomi nyata bagi petani yang terhimpit ketergantungan pada komoditas tunggal [1][2].
Latar Belakang
Tiyuh Penumangan Baru adalah desa perkebunan karet yang kehidupan ekonomi rumah tangganya hampir sepenuhnya bergantung pada harga getah. Karet mampu berproduksi sepanjang tahun, tetapi memiliki dua titik kerentanan utama: masa replanting selama 6-7 tahun tanpa penghasilan dan ketergantungan penuh pada harga pasar yang dikontrol oleh faktor global [1].
Sejak 2013, harga karet di Lampung mulai terjun bebas. Harga yang pada 2012 masih sekitar Rp8.000 per kilogram terus tergerus hingga menyentuh Rp3.500 per kilogram. Penelitian akademis mengkonfirmasi bahwa penurunan harga karet di Lampung secara langsung memukul pendapatan bulanan petani, memaksa sebagian dari mereka beralih kerja sebagai buruh, dan mendorong pengalihan lahan ke komoditas lain yang dianggap lebih prospektif [2].
Frustasi ekonomi meluas. Sebagian petani bahkan merusak pohon karet yang sudah bertahun-tahun mereka rawat. Kondisi ini membuka kesadaran bahwa pola pertanian monokultur menjadi akar kerentanan — ketika satu komoditas jatuh, seluruh ekonomi rumah tangga ikut terjatuh tanpa ada penopang lain [3].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang lahir bukan mengganti karet, melainkan menambah sumber pendapatan baru tanpa memerlukan lahan baru. Pilihan jatuh pada nangka mini, varietas nangka bertinggi hanya 3-5 meter yang cocok ditanam di pekarangan rumah, berbuah mulai usia 1,5 tahun, dan mampu menghasilkan lebih dari 40 buah per pohon dengan berat buah yang bervariasi [4][5].
Cara kerjanya sederhana namun strategis. Dana Desa dipakai untuk membeli bibit, bukan memberikan subsidi tunai. Setiap keluarga menerima 3-5 bibit secara gratis. Bibit ditanam di halaman rumah yang selama ini tidak produktif. Dengan demikian, tidak ada tambahan biaya sewa lahan, tidak ada persaingan dengan kebun karet, dan seluruh manfaat panen langsung masuk ke kantong keluarga penerima [1].
Proses Penerapan Inovasi
Proses perubahan dimulai dari akar warga. Informasi tentang potensi ekonomi nangka mini beredar di antara masyarakat dan mendapat sambutan antusias. Informasi itu lalu dibawa masuk ke forum-forum perencanaan pembangunan desa yang melibatkan tokoh masyarakat dan aparat tiyuh untuk didiskusikan secara terbuka dan partisipatif [1].
Pada 2016, kesepakatan itu dituangkan dalam Peraturan Tiyuh (Perti) Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pengadaan, Penanaman, dan Perawatan Nangka Mini. Terbitnya Perti menjadi tonggak penting karena program tidak lagi bersifat himbauan, melainkan kebijakan desa yang memiliki kekuatan hukum, kewajiban pelaksanaan, dan mekanisme akuntabilitas yang jelas [1].
Realisasi pengadaan 4.000 bibit dari Dana Desa sebesar Rp66 juta dilaksanakan setelah regulasi terbit. Pemerintah tiyuh kemudian melakukan audit berkala terhadap perkembangan tanaman. Audit tersebut menjadi pembelajaran berharga karena hasilnya melampaui target awal: seluruh bibit tumbuh, dan pada pertengahan 2018 sudah 20 persen tanaman memasuki fase berbuah lebih cepat dari proyeksi [1][4].
Faktor Penentu Keberhasilan
Penentu keberhasilan utama adalah kesesuaian antara solusi yang ditawarkan dengan kondisi nyata warga. Nangka mini tidak membutuhkan lahan baru, tidak membutuhkan modal tambahan dari petani, dan cocok dengan iklim Lampung. Solusi yang tepat sasaran ini menjadikan adopsi warga sangat tinggi: 900 dari 1.263 KK bersedia menerima dan menanam bibit, angka partisipasi yang luar biasa untuk program sukarela berbasis pertanian [1].
Faktor penentu kedua adalah penguatan melalui regulasi desa. Terbitnya Perti Nomor 12 Tahun 2016 mengubah program dari inisiatif kepala tiyuh menjadi komitmen desa yang mengikat lintas periode kepemimpinan. Dukungan Dana Desa sebagai instrumen fiskal yang mandiri memungkinkan program ini dieksekusi tanpa harus menunggu anggaran dari kabupaten [1].
Hasil dan Dampak Inovasi
Secara kuantitatif, program ini menanamkan 4.000 bibit di pekarangan 900 rumah warga, setara dengan pemanfaatan lahan produktif sekitar 10 hektar yang sebelumnya menganggur. Seluruh bibit tumbuh 100 persen, dan pada pertengahan 2018 sudah 20 persen tanaman berbuah. Proyeksi panen raya pada 2019 memperkirakan rata-rata hasil 25-40 kg per batang, memberikan tambahan pendapatan berkisar Rp2.000-Rp3.000 per kilogram bagi setiap keluarga [1].
Secara kualitatif, dampaknya melampaui angka panen. Pekarangan rumah yang semula tidak produktif kini menjadi sumber pangan dan pendapatan. Peternak kambing dan hewan serupa mendapat keuntungan tambahan karena dedaunan nangka mini berfungsi sebagai pakan ternak (ramban). Estetika halaman rumah pun meningkat karena pohon nangka mini yang kompak juga bernilai sebagai tanaman hias pekarangan [6].
Dampak jangka panjang yang lebih strategis adalah perubahan pola pikir petani dari mentalitas monokultur menjadi diversifikasi. Penelitian menunjukkan bahwa petani karet yang melakukan diversifikasi usaha tani memiliki pendapatan lebih tinggi secara signifikan dibandingkan yang hanya mengandalkan karet, membuktikan bahwa langkah Penumangan Baru sejalan dengan bukti empiris ilmiah [7].
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama adalah tahap pasca panen. Ketika 4.000 pohon mulai berproduksi serentak pada 2019, desa menghadapi tantangan baru, yaitu menyerap dan memasarkan produksi yang cukup besar secara bersamaan. Tanpa rencana bisnis dan saluran distribusi yang matang, surplus panen bisa menekan harga jual lokal dan mengurangi manfaat ekonomi yang diharapkan [1].
Kendala lain adalah kapasitas warga dalam perawatan tanaman jangka panjang. Berbeda dari karet yang sudah menjadi pengetahuan turun-temurun, budidaya nangka memerlukan praktik pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian hama yang berbeda. Tanpa pendampingan teknis yang berkelanjutan dari penyuluh pertanian, produktivitas jangka panjang berisiko tidak optimal [8].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan program sangat bergantung pada kesiapan BUMDes memainkan peran aktif sebagai agregator dan pemasar. BUMDes perlu membangun rantai nilai pasca panen yang mencakup pengumpulan hasil, pengemasan, penetapan harga bersama, dan koneksi ke pasar yang lebih luas di luar desa. Model serupa telah berhasil diterapkan di desa-desa lain melalui pengembangan wisata edukasi nangka dan pemasaran daring produk buah desa [9].
Selain itu, program perlu diperluas ke pengolahan produk turunan nangka seperti keripik nangka, selai nangka, dan tepung nangka, yang dapat memperpanjang masa simpan, memperluas pasar, dan meningkatkan nilai tambah produk desa. Penelitian pengolahan produk nangka membuktikan bahwa diversifikasi olahan adalah kunci agar pemasaran tidak tergantung pada musim panen dan daya serap pasar lokal yang terbatas [10].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi budidaya nangka mini Tiyuh Penumangan Baru berkontribusi secara nyata pada beberapa tujuan SDGs karena menyentuh dimensi ketahanan pangan, pengurangan kemiskinan, dan resiliensi ekonomi rumah tangga sekaligus [1].
| No SDGs | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Program bibit gratis kepada 900 KK menghadirkan sumber pendapatan baru bagi keluarga petani karet yang terhimpit anjloknya harga karet, mengurangi risiko kemiskinan akibat ketergantungan pada komoditas tunggal yang harganya tidak stabil. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Produksi nangka mini di pekarangan rumah menambah ketersediaan pangan lokal yang bergizi, memperkuat ketahanan pangan keluarga petani, dan mengurangi ketergantungan pengeluaran pangan pada pasar saat pendapatan karet sedang rendah. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Dengan diversifikasi ke nangka mini, petani memperoleh sumber pendapatan tambahan yang berkelanjutan, mendorong pertumbuhan ekonomi rumah tangga yang lebih tahan terhadap guncangan harga komoditas global. |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | Penerbitan Peraturan Tiyuh Nomor 12 Tahun 2016 sebagai fondasi hukum pengembangan komoditas baru menunjukkan inovasi kelembagaan desa yang memadukan regulasi dengan program pertanian untuk mendorong transformasi ekonomi lokal yang terstruktur. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | Pemanfaatan pekarangan dengan tanaman produktif memperbaiki fungsi ekologis lahan, menambah tutupan hijau, dan mengurangi kerentanan lahan karet monokultur terhadap serangan hama dan penyakit yang umum pada pola tanam tunggal. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Tiyuh Penumangan Baru sangat mudah direplikasi oleh desa-desa karet lain di Lampung, Sumatera Selatan, dan Kalimantan yang menghadapi masalah serupa. Kunci replikasi hanya tiga hal: identifikasi komoditas diversifikasi yang cocok dengan iklim dan lahan pekarangan lokal, wujudkan kesepakatan warga dalam regulasi desa yang mengikat, dan alokasikan Dana Desa untuk bibit agar tidak ada hambatan modal bagi keluarga penerima [2][1].
Untuk scale up, desa dapat memperluas program dari satu jenis tanaman pekarangan menjadi sistem agroforestri pekarangan yang komprehensif, menggabungkan nangka mini dengan komoditas hortikultura lain. Langkah scale up ini didukung bukti empiris bahwa petani karet yang melakukan diversifikasi usaha tani memiliki pendapatan yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan petani monokultur, sehingga semakin banyak komoditas yang dikelola, semakin tangguh ekonomi rumah tangga desa [7].
Daftar Pustaka
[1] inovasi.web.id, “ID 00613: Budidaya Nangka Mini, Inovasi Desa Tiyuh Penumangan Baru Dongkrak Pendapatan Rumah Tangga Saat Harga Jual Karet Anjlog,” inovasi.web.id, 13 Agt. 2019. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/budidaya-nangka-mini-inovasi-desa-tiyuh-penumangan-baru-dongkrak-pendapatan-rumah-tangga-saat-harga-jual-karet-anjlog/. [Diakses: 4-Mei-2026].
[2] D. Permatasari, “Pengaruh Harga Karet terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Lampung,” Adzkiya: Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah Metro Univ. [Online]. Tersedia: https://e-journal.metrouniv.ac.id/adzkiya/article/download/1785/1556. [Diakses: 4-Mei-2026].
[3] Repository UIN Raden Intan, “Analisis Dampak Fluktuasi Harga Karet terhadap Kesejahteraan Petani,” repository.radenintan.ac.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://repository.radenintan.ac.id/32711/. [Diakses: 4-Mei-2026].
[4] Kementerian Pertanian RI, “Budidaya Nangka,” repository.pertanian.go.id. [Online]. Tersedia: https://repository.pertanian.go.id/bitstreams/3a3da104-0e36-4b24-83bd-52d5efe3b823/download. [Diakses: 4-Mei-2026].
[5] Kompas Agri, “Budidaya Nangka Mini di Pekarangan Rumah agar Berbuah Lebat,” agri.kompas.com, 19 Nov. 2022. [Online]. Tersedia: https://agri.kompas.com/read/2022/11/19/150845984/. [Diakses: 4-Mei-2026].
[6] Kompas Agri, “Cara Budidaya Pohon Nangka Mini, Bisa Berbuah Terus-menerus,” agri.kompas.com, 18 Okt. 2022. [Online]. Tersedia: https://agri.kompas.com/read/2022/10/18/082000484/. [Diakses: 4-Mei-2026].
[7] Universitas Sriwijaya, “Perbandingan Petani Monokultur Karet dan Diversifikasi Karet-Sawit,” repository.unsri.ac.id. [Online]. Tersedia: https://repository.unsri.ac.id/29842/3/. [Diakses: 4-Mei-2026].
[8] GDM Organik, “Cara Menanam Nangka Mini Terlengkap agar Berbuah Lebat,” gdm.id, 11 Sep. 2025. [Online]. Tersedia: https://gdm.id/cara-menanam-nangka-mini/. [Diakses: 4-Mei-2026].
[9] S. Wibowo et al., “Pengembangan BUMDes Lumintu dalam Edukasi Wisata Alam Buah Nangka di Desa Pasung, Klaten,” Prosiding LPPM UPN Veteran Yogyakarta, 2024. [Online]. Tersedia: https://jurnal.upnyk.ac.id/index.php/prosidingLPPM/article/view/14990. [Diakses: 4-Mei-2026].
[10] Universitas Mataram, “Pembuatan Produk Olahan Inovatif dari Daging Buah Nangka dan Bijinya,” Journal Portal Abdimas Unram, 2024. [Online]. Tersedia: https://journal.unram.ac.id/index.php/portalabdimas/article/download/3995/2204. [Diakses: 4-Mei-2026].