BUMDes Kertamukti Sukabumi Membangun Sentra Bakery Tanpa Pengawet dan Memberdayakan Perempuan Desa

Ringkasan Inovasi

BUMDes Kertamukti di Desa Kertamukti, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, melembagakan keterampilan memasak ibu-ibu Kampung Bojongkerta menjadi sentra produksi roti desa yang profesional di bawah naungan unit usaha bernama Roti BUMDes Kertamukti Bakery. [1] Inovasi ini menyatukan potensi keahlian warga yang selama ini tersebar dan tidak termonetisasi ke dalam satu ekosistem usaha yang terstruktur, bermodal, dan memiliki jaringan pemasaran yang jelas. Tujuan utamanya adalah menciptakan lapangan kerja desa yang bermartabat bagi perempuan sekaligus membangun produk unggulan lokal yang kompetitif di pasar Kabupaten Sukabumi. [2]

Dampak nyata inovasi ini terlihat dari perluasan pasar produk roti yang berhasil menembus kawasan perkantoran, perusahaan, toko, hingga warung kecil di berbagai wilayah Sukabumi hanya dalam waktu dua tahun sejak unit usaha ini berdiri. [1] Keunggulan kompetitif produk ini terletak pada rasa yang lembut dan legit tanpa menggunakan bahan pengawet, sebuah proposisi nilai yang kian relevan di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk pangan yang sehat dan alami. Inovasi BUMDes Kertamukti menjadi bukti bahwa pendekatan pemberdayaan berbasis keterampilan lokal — ketika difasilitasi dengan kelembagaan yang tepat — mampu menghasilkan dampak ekonomi yang melampaui skala rumah tangga. [3]

Latar Belakang

Di Kampung Bojongkerta, sekelompok ibu rumah tangga sebenarnya telah lama memiliki keterampilan memproduksi roti yang terasah turun-temurun dari kebiasaan memasak di rumah. [1] Namun usaha kecil mereka berjalan tanpa modal yang memadai, tanpa jaringan pemasaran yang terstruktur, dan tanpa branding yang mampu mengangkat produk ke pasar yang lebih luas. Keterampilan berharga ini tersimpan rapi di dapur-dapur desa tanpa pernah benar-benar bertransformasi menjadi sumber penghasilan yang layak dan berkelanjutan.

Pemerintah Desa Kertamukti membaca kondisi ini bukan sebagai keterbatasan, melainkan sebagai peluang ekonomi yang belum dikelola secara maksimal. [1] Sejalan dengan itu, BUMDes juga membutuhkan unit usaha nyata yang mampu menyerap tenaga kerja lokal dan menghasilkan pendapatan asli desa secara konsisten. Penelitian menunjukkan bahwa BUMDes sangat efektif ketika perannya diarahkan untuk mendampingi potensi ekonomi masyarakat yang sudah ada, bukan membangun usaha dari nol tanpa akar di masyarakat. [4]

Dari pertemuan antara kebutuhan warga dan kebutuhan kelembagaan desa itulah gagasan sentra produksi roti lahir. [1] Desa membutuhkan produk unggulan yang merepresentasikan identitas lokal sekaligus memiliki keunggulan kompetitif yang riil. Roti tanpa pengawet yang tahan lama, legit, dan dibuat sepenuhnya oleh tangan warga desa dianggap mampu menjadi identitas ekonomi baru yang mengangkat nama Desa Kertamukti di pasar Kabupaten Sukabumi dan sekitarnya. [2]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan BUMDes Kertamukti adalah pelembagaan keterampilan informal warga menjadi sentra produksi kuliner desa yang berstandar bisnis nyata. [1] BUMDes merangkul ibu-ibu pengrajin roti dari Kampung Bojongkerta ke dalam unit usaha bernama Roti BUMDes Kertamukti Bakery, dengan BUMDes bertindak sebagai penyokong modal awal, penyedia fasilitas produksi, sekaligus ujung tombak jaringan pemasaran yang menjangkau pasar yang sebelumnya tidak dapat diakses secara mandiri oleh para pengrajin. Model ini bekerja dengan prinsip simbiotik: BUMDes menyediakan kapasitas manajerial dan akses pasar, sementara warga menyumbangkan keahlian tangan dan pengetahuan lokal tentang cita rasa yang disukai konsumen. [3]

Secara teknis, proses produksi menggunakan bahan dasar tepung terigu, susu, dan gula yang diolah tanpa penambahan zat pengawet apapun — sebuah pilihan produksi yang berani namun menjadi keunggulan utama produk di pasar. [1] Roti diproduksi secara harian dengan takaran dan durasi fermentasi yang telah disesuaikan agar tekstur tetap lembut dan rasa tetap legit meski disimpan selama beberapa hari. Produk dijual mulai harga Rp2.000 per buah — harga yang sangat terjangkau untuk semua lapisan masyarakat — dan dipasarkan melalui jaringan distribusi langsung ke perkantoran, perusahaan, toko kelontong, dan warung kecil di wilayah Sukabumi. [2]

Proses Penerapan Inovasi

Penerapan inovasi dimulai dari dialog terbuka antara kelompok ibu-ibu pengrajin roti Kampung Bojongkerta dan Pemerintah Desa Kertamukti yang menghasilkan kesepakatan bersama: usaha ini tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri jika ingin tumbuh menembus pasar yang lebih besar. [1] BUMDes kemudian turun tangan menyiapkan manajemen usaha yang lebih terarah, meliputi pencatatan keuangan dasar, standarisasi proses produksi, dan pembentukan jaringan distribusi yang dapat diandalkan. Langkah pertama ini meletakkan fondasi kelembagaan yang mengubah kegiatan memasak kolektif warga dari sekadar kebiasaan menjadi sebuah entitas usaha yang akuntabel dan terukur. [4]

Tahap berikutnya yang paling krusial adalah menjaga konsistensi kualitas produk dalam volume produksi yang lebih tinggi dari biasanya. [1] Proses eksperimen terhadap takaran adonan dan durasi fermentasi dilakukan berulang-ulang agar roti tetap lembut, legit, dan tidak basi meski sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet. Proses adaptasi ini memakan waktu dan tenaga, namun menghasilkan formula produksi yang menjadi standar baku dan keunggulan kompetitif utama produk Kertamukti Bakery hingga saat ini. [5]

Selama dua tahun berjalan, inovasi ini menghadapi kenyataan bahwa kapasitas produksi belum mampu menampung tingginya permintaan pasar yang terus bertumbuh. [1] Keterbatasan alat pemanggang dan tenaga kerja menghambat kecepatan pemenuhan pesanan, menyebabkan sejumlah peluang pasar terlewat karena stok habis sebelum permintaan terpenuhi. Hambatan ini kemudian diperparah oleh dampak pandemi COVID-19 yang sempat memukul operasional BUMDes secara keseluruhan, menjadi pembelajaran berharga bahwa sentra produksi desa membutuhkan cadangan modal darurat dan rencana kontinjensi yang terstruktur. [3]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah keberadaan keterampilan masyarakat yang sudah matang sebelum inovasi diluncurkan, sehingga BUMDes tidak perlu membangun kapasitas produksi dari nol. [1] BUMDes cukup memfasilitasi keterampilan yang sudah ada menuju proses komersialisasi yang lebih terorganisir, efisien, dan berdampak — sebuah strategi pemberdayaan yang jauh lebih efektif dibanding memaksakan jenis usaha baru yang asing bagi masyarakat. Pendekatan berbasis potensi lokal ini sesuai dengan temuan penelitian bahwa BUMDes yang paling sukses adalah yang mampu mengidentifikasi dan mengakselerasi keunggulan komparatif yang sudah dimiliki warganya. [4]

Faktor pendukung yang tidak kalah kuat adalah kepemimpinan Kepala Desa Kertamukti, Dede Kusnadi, yang memberikan legitimasi kelembagaan, dukungan modal desa, dan komitmen jangka panjang terhadap kelangsungan unit usaha bakery. [1] Keputusan Menteri Desa Nomor 3 Tahun 2025 yang mengatur bahwa 20 persen Dana Desa dapat digunakan untuk penyertaan modal BUMDes semakin memperkuat landasan pembiayaan bagi keberlanjutan inovasi serupa di Kabupaten Sukabumi. [6] Sinergi antara kelembagaan desa yang kuat dan kapasitas masyarakat yang matang terbukti menjadi kombinasi paling efektif dalam menggerakkan ekonomi lokal berbasis sumber daya manusia desa.

Hasil dan Dampak Inovasi

Hasil paling nyata dari inovasi ini adalah transformasi skala pasar produk roti yang semula hanya dikenal di lingkungan Rukun Tetangga menjadi komoditas kuliner yang diakui di tingkat kabupaten. [1] Roti BUMDes Kertamukti Bakery kini memasok perkantoran, perusahaan, toko kelontong, dan warung kecil di berbagai wilayah Sukabumi, sebuah pencapaian distribusi yang mustahil diraih para pengrajin jika mereka tetap bekerja secara mandiri tanpa dukungan kelembagaan BUMDes. Fakta bahwa permintaan pasar justru melampaui kapasitas produksi yang ada merupakan indikator kuat tentang tingginya penerimaan dan loyalitas konsumen terhadap produk ini. [2]

Dampak sosial paling transformatif adalah perubahan status ekonomi ibu-ibu rumah tangga Kampung Bojongkerta dari warga yang sekadar mengandalkan penghasilan suami menjadi pekerja produktif dengan penghasilan rutin yang terstruktur. [1] Pemberdayaan perempuan melalui jalur ekonomi riil ini sejalan dengan agenda pembangunan perdesaan yang menekankan pentingnya partisipasi aktif perempuan dalam sistem produksi dan distribusi ekonomi desa. [4] Secara kualitatif, keberhasilan ini juga membangun rasa percaya diri kolektif warga bahwa desa mereka memiliki kapasitas untuk menciptakan produk yang bersaing di pasar yang lebih luas dari lingkungan kampung mereka sendiri.

Secara kualitatif, Roti Kertamukti sukses membangun reputasi lokal yang kuat berbasis kepercayaan konsumen terhadap produk alami tanpa pengawet. [1] Pertumbuhan permintaan yang konsisten selama dua tahun operasional menjadi sinyal positif tentang prospek bisnis jangka panjang yang menjanjikan. Inovasi ini sekaligus membuktikan bahwa pendekatan BUMDes sebagai fasilitator komersialisasi keterampilan lokal — bukan sebagai pelaku usaha yang bertindak sendiri — adalah model yang tepat dan skalabel untuk diterapkan di desa-desa lain di seluruh Indonesia. [4]

Tantangan dan Kendala

Tantangan internal paling mendesak adalah ketimpangan antara kapasitas produksi dan volume permintaan pasar yang terus meningkat. [1] Keterbatasan jumlah alat pemanggang dan tenaga kerja aktif membuat BUMDes tidak selalu mampu memenuhi seluruh pesanan yang masuk, sehingga ada potensi pendapatan yang hilang dan risiko kekecewaan konsumen yang bisa merusak reputasi yang sudah susah payah dibangun. Kondisi ini menuntut langkah segera berupa investasi pada peralatan produksi berskala lebih besar dan rekrutmen tenaga kerja baru dari kalangan warga desa. [3]

Tantangan eksternal yang sempat menghantam adalah dampak pandemi COVID-19 yang memaksa banyak BUMDes menghentikan atau memangkas operasional secara drastis, termasuk unit usaha bakery Kertamukti. [3] Ketiadaan cadangan modal darurat dan lemahnya sistem manajemen risiko membuat pemulihan pasca-pandemi membutuhkan waktu yang lebih panjang dari yang seharusnya. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bahwa setiap sentra produksi desa berbasis BUMDes wajib memiliki kerangka manajemen krisis dan cadangan likuiditas yang memadai sebelum skala usaha diperluas. [4]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Roti BUMDes Kertamukti Bakery bertumpu pada tiga agenda strategis: penambahan kapasitas produksi melalui pengadaan alat pemanggang berskala lebih besar, rekrutmen tenaga kerja baru dari kalangan warga desa, dan profesionalisasi sistem pencatatan keuangan yang lebih tertib. [1] Sumber pendanaan ekspansi ini dapat diakses melalui skema penyertaan modal BUMDes yang kini semakin diperkuat oleh Kepmendes Nomor 3 Tahun 2025, yang mengizinkan penggunaan 20 persen Dana Desa untuk modal BUMDes di Kabupaten Sukabumi. [6] Kerangka regulasi ini membuka ruang fiskal yang konkret bagi BUMDes Kertamukti untuk memperluas kapasitas produksinya tanpa bergantung semata-mata pada akumulasi laba organik yang lambat.

Diversifikasi produk menjadi agenda keberlanjutan berikutnya yang tak kalah penting. [1] Inovasi varian rasa baru, penyesuaian kemasan yang lebih menarik dan higienis, serta upaya mendapatkan sertifikat halal resmi akan memperluas jangkauan distribusi dan meningkatkan kepercayaan konsumen di pasar yang lebih luas. Langkah profesionalisasi ini penting agar sentra bakery Kertamukti bertransformasi secara penuh dari industri rumahan tradisional menjadi unit usaha desa yang memiliki standar produksi, pengemasan, dan pemasaran yang setara dengan produk UMKM modern yang berdaya saing. [5]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi BUMDes Kertamukti Bakery berkontribusi langsung pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana diuraikan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Sentra bakery BUMDes Kertamukti menciptakan lapangan kerja tetap bagi ibu-ibu Kampung Bojongkerta yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan rutin. Penghasilan yang terstruktur dari unit usaha ini mengurangi ketergantungan keluarga pada sumber pemasukan tunggal suami dan memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga desa. [1]
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Produksi roti tanpa pengawet dengan harga mulai Rp2.000 per buah memastikan akses masyarakat desa terhadap produk pangan yang terjangkau, bergizi, dan aman dikonsumsi setiap hari. Ketersediaan pangan lokal yang diproduksi di dalam desa sendiri memperkuat ketahanan pangan komunitas desa secara langsung. [1]
SDGs 5: Kesetaraan Gender Ibu-ibu Kampung Bojongkerta menjadi subjek utama penggerak sentra bakery — bukan sekadar penerima program — sehingga inovasi ini secara struktural memperkuat posisi perempuan desa sebagai pelaku ekonomi aktif yang setara. Pemberdayaan perempuan melalui jalur ekonomi produktif ini membangun kemandirian finansial yang berdampak jangka panjang pada kesejahteraan keluarga dan komunitas desa. [4]
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Unit usaha bakery BUMDes menciptakan pekerjaan layak dengan penghasilan stabil bagi warga desa, mendorong pertumbuhan PADes dari sektor industri pangan lokal, dan membangun fondasi ekonomi desa yang produktif serta tidak bergantung semata-mata pada transfer fiskal pemerintah. [4]
SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan Inovasi sentra bakery memperkuat kohesi sosial di Kampung Bojongkerta melalui kerja kolektif yang mempererat hubungan antarwarga dalam satu sistem produksi bersama. Model usaha komunal ini membangun komunitas desa yang lebih mandiri, produktif, dan resilien terhadap tekanan ekonomi eksternal. [4]
SDGs 17: Kemitraan untuk Tujuan Kolaborasi antara kelompok perempuan pengrajin roti, BUMDes, dan Pemerintah Desa Kertamukti membangun ekosistem kemitraan multi-pihak yang saling mengisi — kelembagaan BUMDes, keahlian warga, dan dukungan regulasi desa bekerja bersama untuk menciptakan dampak ekonomi yang lebih besar dari yang bisa dicapai oleh masing-masing pihak secara sendiri. [6]

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model sentra kuliner BUMDes Kertamukti sangat cocok direplikasi di desa-desa lain yang memiliki kelompok warga dengan keterampilan memasak spesifik yang belum terlembagakan. [1] Prasyarat replikasinya sederhana: ada keahlian memasak yang sudah matang di kalangan warga, ada komitmen kepala desa untuk memfasilitasi komersialisasinya melalui BUMDes, dan ada produk lokal yang memiliki keunggulan rasa atau keunikan yang membedakannya dari produk pasar. Setiap daerah dapat menyesuaikan model ini dengan kearifan kuliner lokal masing-masing — mulai dari dodol, keripik singkong, hingga olahan ikan desa pesisir — menggunakan kerangka kelembagaan BUMDes yang sama sebagai platform komersialisasinya. [4]

Pada tahap scale up, pemerintah kabupaten dapat memperluas dampak model ini dengan merangkul BUMDes sentra kuliner ke dalam jaringan distribusi produk UMKM terpadu yang memiliki akses ke pasar modern, e-commerce, dan program pengadaan pemerintah. [6] Dukungan percepatan sertifikat halal, izin edar PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), dan bantuan desain kemasan dari dinas terkait akan mendongkrak daya saing produk BUMDes secara signifikan di pasar yang lebih luas. Dengan ekosistem dukungan yang lengkap ini, produk roti BUMDes Kertamukti memiliki potensi nyata untuk berekspansi menembus pasar ritel modern di seluruh Jawa Barat, mengangkat nama desa ke panggung ekonomi yang lebih bergengsi. [2]

Daftar Pustaka

[1] Tim Inovasi Desa, “BUMDes Kertamukti Sentra Produksi Aneka Roti,” Gemari.id, 15 Mar. 2020. [Online]. Available: https://gemari.id/gemari/2020/3/16/bumdes-kertamukti-sentra-produksi-aneka-roti

[2] Sukabumi Update, “Roti BUMDes Kertamukti Bakery,” Kumparan.com, 12 Okt. 2019. [Online]. Available: https://kumparan.com/sukabumi-update/roti-bumdes-kertamukti-bakery-1s2vw2uKAey

[3] Netral News, “Kades Kertamukti Bantah Dana Desa Diselewengkan,” netralnews.com, 30 Apr. 2025. [Online]. Available: https://www.netralnews.com/kades-kertamukti-bantah-dugaan-penyimpangan-dana-desa/

[4] F. E. Ramadhan, D. Rahmadanik, dan A. Soesiantoro, “Pemberdayaan BUMDes dalam Meningkatkan Perkembangan UMKM di Desa Sambi Bulu,” PRAJA Observer: Jurnal Penelitian Administrasi Publik, vol. 5, no. 2, hal. 93–101, 2025. DOI: https://doi.org/10.69957/praob.v5i02.2174

[5] T. Hariyanti et al., “Pengembangan Inovasi Produk Roti pada Home Industry,” Garuda Kemdikbud. [Online]. Available: http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=3270334

[6] Sukabumi Update, “Modal dari Desa, Pangan untuk Rakyat: BUMDes di Purabaya Sukabumi Dapat Suntikan Strategis,” sukabumiupdate.com, 4 Jul. 2025. [Online]. Available: https://www.sukabumiupdate.com/keuangan/160549

[7] Inovasi.web.id, “ID 00935: BUMDes Kertamukti Membangun Sentra Bakery dan Memberdayakan Perempuan Desa,” inovasi.web.id, 25 Apr. 2026. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/bumdes-kertamukti-membangun-sentra-bakery-dan-memberdayakan-perempuan-desa/

Data Inovasi

Nama Inovasi
Sentra Produksi Roti dan Bakery BUMDes Kertamukti
Alamat
Desa Kertamukti, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
Inovator
Kepala Desa Kertamukti (Dede Kusnadi) dan BUMDes Kertamukti bersama ibu-ibu Kampung Bojongkerta
Kontak
Dede Kusnadi (Kepala Desa Kertamukti) | Telepon: +62-856-2413-1324
Lokasi