Ringkasan Inovasi

Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, membangun sirkuit off-road Karangpara pada tahun anggaran 2018 sebagai bagian dari Road Map Pengembangan Desa Wisata [1]. Inovasi ini diprakarsai oleh Pemerintah Desa Kebonmanggu bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kebonmanggu, dengan pendampingan Sabadesa Institut [1] [2]. Pembangunan menjawab keterbatasan atraksi aktif di objek wisata Gunung Karangpara, yang sejak dikenal warga akhir 2016 baru mengandalkan pemandangan alam pasif meski dikunjungi hampir seratus wisatawan setiap pekan [3]. Sirkuit sepanjang 1.300 meter dengan 18 tikungan ini dibangun di lahan 5 hektare berbiaya Rp100 juta, 54 juta di antaranya dari belanja modal BUMDes [1]. Sirkuit diresmikan Bupati Sukabumi pada 5 Agustus 2018 bersamaan dengan gelaran Grasstrack Bupati Cup Seri 3, sekaligus mendongkrak kunjungan wisatawan dan ekonomi warga sekitar objek wisata [4] [5].

Latar Belakang

Desa Kebonmanggu terletak di Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, sekitar sembilan kilometer dari pusat Kota Sukabumi di sepanjang Jalan Pelabuhan II [6]. Desa ini memiliki luas wilayah 395 hektare dengan jumlah penduduk sekitar 5.400 jiwa yang tersebar di lima dusun — Kebonmanggu, Pasirmalang, Cipeundeuy I, Cipeundeuy, dan Padaraang — serta 14 RW dan 40 RT [7]. Kecamatan Gunungguruh berkembang menjadi kawasan penyangga (suburban) Kota Sukabumi, dengan tujuh desa dan kepadatan penduduk lebih dari 2.200 jiwa per km² [8]. Di Kampung Padaraang, Dusun Padaraang, terdapat formasi bebatuan alam Gunung Karangpara yang menjadi potensi wisata unggulan desa sejak mulai dikenal luas warga pada akhir 2016 [3].

 

Sebelum dikembangkan, kawasan Karangpara hanya dimanfaatkan warga untuk mencari kayu bakar dan rumput ternak, tanpa nilai ekonomi berarti bagi desa [4]. Pemandangan alam dan formasi batu Karangpara memang menarik hampir seratus pengunjung setiap pekan sejak akhir 2016 [3]. Namun, infrastruktur pendukung masih sangat terbatas — akses jalan belum memadai untuk kendaraan besar, sementara area parkir dan toilet umum belum tersedia [3]. Kondisi ini membatasi potensi Pendapatan Asli Desa (PADes) dari sektor wisata, sekaligus membatasi durasi kunjungan karena minimnya atraksi pendukung selain pemandangan alam [3].

 

Momentum berubah ketika Pemerintah Desa Kebonmanggu menyusun Road Map Pengembangan Desa Wisata dengan pendampingan Sabadesa Institut, lembaga pemberdayaan masyarakat desa yang berdiri sejak 2015 di Kabupaten Sukabumi [2]. BUMDes Kebonmanggu sebelumnya telah membangun flying fox, camping ground, sarana bermain (kaulinan barudak), spot selfie, spot pre-wedding, dan embung di sekitar Karangpara [1]. Dari pengalaman ini, BUMDes melihat peluang menambah atraksi baru berupa sirkuit off-road untuk menjaring wisatawan penggemar otomotif. Ketika Pemerintah Kabupaten Sukabumi menjadikan Karang Para sebagai lokasi seri kejuaraan Grasstrack Bupati Cup 2018, desa memiliki alasan konkret dan tenggat waktu untuk mempercepat pembangunan sirkuit [4] [5].

 

Inovasi yang Diterapkan

Ide membangun sirkuit off-road lahir dari kebutuhan menambah atraksi wisata yang membedakan Karangpara dari destinasi alam lain di Sukabumi. BUMDes dan Pemerintah Desa menilai fasilitas hiburan yang sudah ada — flying fox, camping ground, dan spot foto — belum cukup menahan wisatawan tinggal lebih lama atau datang kembali [1]. Segmen off-road dan grasstrack dipilih karena kontur berbukit dan bebatuan di sekitar Karangpara secara alami cocok dijadikan lintasan, sekaligus sejalan dengan agenda Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang rutin menggelar seri kejuaraan Grasstrack Bupati Cup [4].

 

Sirkuit dibangun di lahan seluas 5 hektare, di belakang area parkir objek wisata Karangpara, dengan panjang lintasan 1.300 meter, lebar start 30 meter, panjang start 100 meter, dan lebar rata-rata lintasan 7–8 meter [4]. Lintasan dirancang menantang dengan 18 tikungan — 7 tikungan kanan dan 11 tikungan kiri — dilengkapi rintangan table top jump, camel jump, double jump, dan delapan dolphin jump [4]. Desain ini memungkinkan sirkuit menampung kejuaraan grasstrack maupun motocross tingkat kabupaten hingga provinsi, bukan sekadar lintasan latihan warga lokal.

 

Elemen pembeda inovasi ini terletak pada pembiayaan kolaboratif antara BUMDes dan APBDes yang memadukan fungsi komersial dan pelayanan publik dalam satu aset desa [1]. Alih-alih membangun fasilitas wisata generik, desa memanfaatkan topografi Karangpara yang semula tidak produktif menjadi arena kompetisi berstandar kejuaraan resmi. Pendekatan ini berbeda dari desa wisata lain yang umumnya hanya mengandalkan keindahan alam pasif tanpa atraksi aktif pendorong kunjungan berulang.

 

Proses Penerapan Inovasi

Pembangunan sirkuit dimulai pada awal tahun anggaran 2018 setelah Road Map Pengembangan Desa Wisata disepakati bersama BUMDes dan Sabadesa Institut [1] [2]. Pekerjaan tanah dan pembentukan kontur lintasan dikerjakan bertahap sepanjang semester pertama 2018, dengan capaian fisik sekitar 60 persen pada pertengahan tahun [1]. Pemerintah Desa menargetkan penyelesaian pada akhir Juli 2018, dikejar untuk memenuhi jadwal Grasstrack Bupati Cup Seri 3 pada Agustus 2018 [1].

 

Pada tahap awal pembangunan, anggaran dicurahkan sepenuhnya untuk pembentukan lintasan dan tikungan, sementara akses jalan menuju lokasi belum turut diperlebar. Ketika Bupati Sukabumi meninjau lokasi pada 22 Juli 2018, ditemukan bahwa bus dan kendaraan besar pengangkut penonton belum dapat menjangkau sirkuit karena jalan masih sempit [9]. Temuan ini mendorong desa mengoreksi prioritas pembangunan tahap berikutnya dengan memasukkan perbaikan akses jalan sebagai komponen wajib — pelajaran bahwa infrastruktur pendukung sama pentingnya dengan lintasan itu sendiri bagi replikator di desa lain.

 

Sirkuit akhirnya diresmikan pada 5 Agustus 2018 bersamaan dengan pelaksanaan Grasstrack Bupati Cup Seri 3 yang diikuti ratusan pembalap dari Jawa Barat dan Banten [5]. Keterlibatan Sabadesa Institut sejak tahap perencanaan membantu desa menyusun prioritas pembangunan secara bertahap, alih-alih membangun seluruh fasilitas sekaligus tanpa mempertimbangkan urutan kebutuhan pengunjung [2]. Peresmian ini menandai berpindahnya status Karangpara dari sekadar objek wisata alam menjadi tuan rumah event olahraga otomotif tingkat kabupaten.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan utama adalah kekurangan biaya sebesar Rp59 juta untuk menyelesaikan area parkir dan paddock, komponen krusial bagi kenyamanan peserta dan penonton kejuaraan [1]. Keterbatasan kapasitas fiskal BUMDes dan APBDes membuat desa tidak dapat menutup kekurangan ini secara mandiri dalam waktu singkat. Mitigasi ditempuh dengan mengajukan permohonan dukungan anggaran kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi, memanfaatkan momentum sirkuit sebagai tuan rumah kejuaraan resmi kabupaten [1].

 

Tantangan eksternal berupa akses jalan menuju lokasi sirkuit yang belum memadai untuk dilalui bus dan kendaraan besar pengangkut penonton maupun peserta kejuaraan [9]. Kondisi ini berisiko membatasi jumlah pengunjung yang dapat hadir pada hari perlombaan, sekaligus menghambat potensi kunjungan wisata rutin. Mitigasi dilakukan dengan mengusulkan perbaikan dan pelebaran jalan desa kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi sebagai bagian dari paket dukungan infrastruktur off-road [9].

 

Tenggat waktu yang ketat — target penyelesaian akhir Juli 2018 untuk kejuaraan awal Agustus — menjadi tekanan tersendiri bagi tim pelaksana di lapangan. Pembangunan yang baru mencapai 60 persen pada pertengahan tahun berisiko molor jika tidak dikelola ketat [1]. Mitigasi dilakukan dengan mempercepat pekerjaan tanah dan kontur lintasan secara paralel dengan penyelesaian administrasi dukungan anggaran tambahan, sehingga sirkuit tetap diresmikan tepat jadwal kejuaraan [1] [5].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Sinergi antara Pemerintah Desa Kebonmanggu, BUMDes Kebonmanggu, dan Pemerintah Kabupaten Sukabumi menjadi faktor penentu utama keberhasilan pembangunan sirkuit [1] [4]. BUMDes berperan sebagai penyedia belanja modal sekaligus pengelola aset wisata, sementara Pemerintah Kabupaten memberikan legitimasi melalui penunjukan Karangpara sebagai lokasi kejuaraan resmi Grasstrack Bupati Cup [5]. Dukungan pendampingan Sabadesa Institut sejak penyusunan Road Map Desa Wisata memastikan pembangunan sirkuit terintegrasi dengan rencana pengembangan wisata jangka panjang, bukan berdiri sendiri [2].

 

Kehadiran fasilitas wisata pendahulu — flying fox, camping ground, dan sarana kaulinan barudak — yang lebih dulu dibangun BUMDes turut memperkuat legitimasi Karangpara sebagai kawasan wisata terpadu di mata warga [1]. Modal sosial berupa kepercayaan warga terhadap pengelolaan BUMDes, yang terbentuk dari pengalaman mengelola fasilitas-fasilitas sebelumnya, mempermudah desa memobilisasi dukungan untuk proyek sirkuit yang berskala lebih besar dan berisiko lebih tinggi. Rekam jejak pengelolaan yang transparan ini menjadi modal penting ketika BUMDes mengajukan kontribusi belanja modal senilai Rp54 juta untuk proyek sirkuit [1].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum sirkuit dibangun, Karangpara hanya mengandalkan daya tarik pasif berupa formasi bebatuan alam, dengan kunjungan mingguan berkisar seratus wisatawan pada akhir 2016 tanpa atraksi aktif pendorong kunjungan berulang [3]. Setelah sirkuit rampung dan diresmikan pada 5 Agustus 2018, Karangpara langsung menjadi tuan rumah Grasstrack Bupati Cup Seri 3 yang diikuti ratusan pembalap dari Jawa Barat dan Banten dalam satu hari penyelenggaraan [5]. Perubahan ini menandai transisi Karangpara dari destinasi wisata pasif berbasis pemandangan menjadi destinasi aktif berbasis event olahraga otomotif yang mendatangkan massa jauh lebih besar dibandingkan kunjungan mingguan biasa.

 

Bupati Sukabumi menyatakan sirkuit diharapkan menciptakan dampak pertumbuhan ekonomi bagi warga sekitar, membuka peluang sebagai pemandu wisata, pengelola parkir, maupun pedagang makanan dan minuman di sekitar arena [4]. Area yang sebelumnya hanya dimanfaatkan warga mencari kayu bakar dan rumput kini bertransformasi menjadi aset produktif yang mendatangkan pengunjung dari luar daerah pada setiap gelaran kejuaraan [4]. Setiap gelaran kejuaraan berpotensi menghadirkan ratusan pengunjung sekaligus dalam satu hari, jauh melampaui volume kunjungan wisata harian sebelum sirkuit dibangun.

 

Keberhasilan sirkuit turut memperkuat posisi Karangpara sebagai kawasan wisata terpadu, melengkapi fasilitas flying fox, camping ground, dan spot foto yang lebih dulu dikelola BUMDes [1]. Dampak spillover yang tidak sepenuhnya direncanakan adalah munculnya wacana pengembangan wisata paralayang di kawasan yang sama, memanfaatkan kontur perbukitan yang sama dengan lokasi sirkuit [4]. Perubahan ini menunjukkan pergeseran cara pandang desa terhadap potensi alam — dari sekadar pemandangan menjadi infrastruktur wisata aktif yang dapat dikembangkan berlapis.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pembangunan sirkuit off-road Karangpara didanai dari dua sumber utama pada tahun anggaran 2018: belanja modal BUMDes Kebonmanggu sebesar Rp54 juta dan sisanya dari alokasi desa, dari total anggaran Rp100 juta [1]. Skema ini menempatkan BUMDes bukan hanya sebagai penerima manfaat, melainkan turut menanggung risiko investasi pembangunan fasilitas wisata. Kekurangan biaya Rp59 juta untuk penyelesaian area parkir dan paddock diajukan sebagai usulan dukungan tambahan kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi [1].

 

Model bisnis BUMDes Kebonmanggu bertumpu pada pendapatan dari retribusi kunjungan wisata dan penyelenggaraan event kejuaraan grasstrack maupun motocross yang mendatangkan massa dalam skala besar. Sirkuit yang terintegrasi dengan fasilitas flying fox, camping ground, dan spot foto menciptakan paket wisata yang saling melengkapi, sehingga satu kunjungan wisatawan berpotensi menghasilkan pendapatan dari berbagai lini usaha BUMDes sekaligus [1]. Pendekatan ini berbeda dari model bisnis yang hanya mengandalkan satu sumber retribusi, karena diversifikasi lini usaha membuat pendapatan BUMDes tidak bergantung pada satu jenis atraksi saja.

 

Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)

Keputusan memadukan aset wisata pasif berupa pemandangan Karangpara dengan atraksi aktif berupa sirkuit off-road terbukti tepat karena langsung mendatangkan massa jauh lebih besar dibandingkan kunjungan wisata biasa [5]. Kolaborasi pembiayaan antara BUMDes dan APBDes juga tepat karena membagi risiko investasi, sekaligus memastikan aset yang dibangun dikelola secara komersial oleh BUMDes, bukan sekadar fasilitas publik pasif. Kedua keputusan ini menunjukkan bahwa inovasi wisata desa tidak harus dimulai dari nol, melainkan dapat dibangun di atas aset dan kelembagaan yang sudah berjalan.

 

Jika memulai dari awal, perencanaan akses jalan seharusnya dilakukan bersamaan dengan perencanaan lintasan, bukan menyusul setelah peninjauan pejabat menemukan bus tidak dapat menjangkau lokasi [9]. Alokasi anggaran untuk parkir dan paddock area idealnya turut dihitung sejak awal RAB, bukan muncul sebagai kekurangan dana Rp59 juta di tengah proses pembangunan [1]. Kedua koreksi ini menegaskan pentingnya perencanaan anggaran yang menyeluruh sejak tahap awal, bukan hanya berfokus pada komponen utama proyek.

 

Desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa disarankan memulai dari pemetaan potensi topografi yang secara alami sesuai untuk atraksi aktif tertentu, bukan sekadar meniru fasilitas populer di desa lain. Kedua, libatkan lembaga pendamping desa sejak tahap perencanaan, seperti Sabadesa Institut, untuk menyusun Road Map Desa Wisata yang terintegrasi [2]. Ketiga, jalin komunikasi awal dengan pemerintah kabupaten untuk mengaitkan fasilitas baru dengan agenda event resmi yang mempercepat popularitas dan kunjungan.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan sirkuit off-road Karangpara bertumpu pada kalender event rutin, terutama posisi sirkuit sebagai salah satu lokasi seri kejuaraan Grasstrack Bupati Cup Kabupaten Sukabumi [5]. Dengan menjadi tuan rumah kejuaraan tahunan, sirkuit memiliki jaminan aliran pengunjung dan pendapatan retribusi tanpa perlu promosi mandiri setiap tahun. Strategi ini menempatkan sirkuit sebagai infrastruktur permanen dalam kalender olahraga kabupaten, bukan sekadar fasilitas wisata musiman yang bergantung pada tren pengunjung.

 

BUMDes Kebonmanggu sebagai entitas usaha desa yang bersifat permanen menjamin pengelolaan sirkuit tetap berjalan meskipun terjadi pergantian Kepala Desa maupun perangkat desa. Mekanisme ini penting karena keputusan investasi awal digagas pada kepemimpinan desa periode 2018, sehingga kelembagaan BUMDes menjadi jangkar keberlanjutan program di luar siklus politik desa. Regenerasi kepemimpinan BUMDes yang berjalan melalui mekanisme organisasi internal, bukan mengikuti masa jabatan Kepala Desa, memastikan pengelolaan sirkuit tidak terhenti akibat pergantian pejabat desa.

 

Rencana pendapatan mandiri BUMDes bertumpu pada diversifikasi sumber pemasukan dari retribusi sirkuit, sewa fasilitas flying fox dan camping ground, serta potensi pengembangan wisata paralayang yang telah diwacanakan Pemerintah Kabupaten Sukabumi [4]. Diversifikasi ini penting agar keberlanjutan sirkuit tidak bergantung sepenuhnya pada dukungan anggaran tambahan dari Pemerintah Kabupaten yang sifatnya insidental. Dengan beragam sumber pendapatan ini, BUMDes memiliki ruang gerak lebih besar untuk membiayai pemeliharaan rutin sirkuit tanpa harus menunggu alokasi APBDes setiap tahun.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Pembangunan sirkuit off-road Karangpara berkontribusi pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan, dengan penekanan pada penciptaan lapangan kerja, infrastruktur wisata, dan kemitraan multipihak [4].

 

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Sirkuit membuka peluang pendapatan baru bagi warga sekitar Karangpara sebagai pemandu wisata, pengelola parkir, dan pedagang makanan-minuman pada setiap gelaran kejuaraan [4]. Warga sekitar terlibat sebagai pemandu wisata, juru parkir, dan pedagang; lahan tak produktif bertransformasi menjadi aset ekonomi
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi BUMDes Kebonmanggu menjadi motor penggerak ekonomi lokal melalui pengelolaan retribusi wisata dan penyelenggaraan event kejuaraan otomotif berskala regional [1]. Belanja modal BUMDes Rp54 juta tersalurkan; event kejuaraan diikuti ratusan pembalap dari luar daerah
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Pembangunan sirkuit berstandar kejuaraan sepanjang 1.300 meter beserta rencana perbaikan akses jalan menunjukkan peningkatan infrastruktur wisata desa yang inovatif [4]. Sirkuit 1.300 meter dengan 18 tikungan terbangun di lahan 5 hektare; usulan perbaikan akses jalan diajukan
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan Lahan yang semula tidak produktif — tempat mencari kayu bakar dan rumput — bertransformasi menjadi ruang publik wisata terpadu bagi masyarakat [4]. Kawasan Karangpara terintegrasi dengan flying fox, camping ground, dan sirkuit dalam satu destinasi wisata
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi Pemerintah Desa, BUMDes, Pemerintah Kabupaten Sukabumi, dan Sabadesa Institut membuktikan kemitraan multipihak mampu mempercepat pembangunan fasilitas wisata desa [2]. 4 pemangku kepentingan berkolaborasi; usulan dukungan anggaran Rp59 juta diajukan ke Pemkab Sukabumi

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model pengembangan sirkuit off-road berbasis potensi topografi lokal dapat direplikasi oleh desa lain yang memiliki tiga prasyarat minimum. Pertama, lahan berkontur alami yang sesuai untuk olahraga otomotif. Kedua, BUMDes aktif dengan kapasitas belanja modal. Ketiga, akses jalan yang dapat ditingkatkan untuk mendukung event skala kabupaten [1] [4].

 

Mengacu pada pengalaman Kebonmanggu, pembangunan sirkuit sepanjang 1.300 meter di lahan 5 hektare memerlukan anggaran sekitar Rp150–160 juta, termasuk area parkir dan paddock [1]. Durasi pelaksanaan diperkirakan sekitar 6–8 bulan dari tahap perencanaan hingga peresmian. Estimasi ini dapat bervariasi tergantung kondisi kontur lahan dan harga material lokal di masing-masing desa.

 

Model adaptasi untuk desa dengan potensi berbeda dapat mengganti sirkuit off-road dengan atraksi olahraga lain yang sesuai kontur alam setempat, seperti downhill sepeda gunung atau trek lari lintas alam. Prinsipnya tetap sama: memadukan aset alam pasif dengan atraksi aktif berstandar kejuaraan. Untuk scale up di tingkat kabupaten, Pemerintah Kabupaten Sukabumi dapat mereplikasi skema kemitraan BUMDes–Pemkab ini di desa-desa lain. Skema tersebut dapat menjadikan desa-desa berpotensi topografi serupa sebagai lokasi bergilir seri kejuaraan daerah, sehingga manfaat ekonomi tersebar merata ke berbagai desa [5].

 

Daftar Pustaka

[1] B. Permana, “Sirkuit Karangpara, Desa Kebonmangu Bangun Sirkuit Off-Road untuk Tingkatkan Kunjungan Wisata Desa,” inovasi.web.id, 2018. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id

 

[2] Yayasan Saba Desa, “Profil,” sabadesa.or.id. [Online]. Tersedia: https://sabadesa.or.id

 

[3] Sukabumizone, “Desa Kebonmanggu Dongkrak PADes dari Potensi Wisata Alam,” sukabumizone.com, 2017. [Online]. Tersedia: https://sukabumizone.com

 

[4] BeritaBalap.com, “Bedah Lay Out Sirkuit Spesial Karang Para Lokasi Open Grasstrack Bupati Cup 2018 Putaran Ke-3,” beritabalap.com, 2018. [Online]. Tersedia: https://beritabalap.com

 

[5] Radar Sukabumi, “Bupati Resmikan Sirkuit Karang Para,” radarsukabumi.com, 2018. [Online]. Tersedia: https://radarsukabumi.com

 

[6] Wikipedia, “Kebonmanggu, Gunung Guruh, Sukabumi,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kebonmanggu,_Gunung_Guruh,_Sukabumi

 

[7] Sukabumizone, “Profil Desa Kebonmanggu,” sukabumizone.com, 2011. [Online]. Tersedia: https://sukabumizone.com

 

[8] Wikipedia, “Gunungguruh, Sukabumi,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Gunungguruh,_Sukabumi

 

[9] Infodesaku, “Bupati Sukabumi Tinjau Sirkuit Gastrack di Objek Wisata Karang Para,” infodesaku.co.id, 2018. [Online]. Tersedia: https://www.infodesaku.co.id

 

Kata Kunci:

Data Inovasi

Nama Inovasi
Pembangunan Sirkuit Off-Road Karangpara sebagai Daya Tarik Aktif Wisata Desa
Alamat
Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
Inovator
Pemerintah Desa Kebonmanggu bersama BUMDes Kebonmanggu, didampingi Sabadesa Institut
Kontak
Telepon: +62-857-9301-3439 (Dadan Ramdani, Sekretaris Desa Kebonmanggu)
Lokasi