Ringkasan Inovasi

Pemuda Desa Senteluk, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menciptakan jenama fesyen lokal bernama Tangkong sebagai produk cenderamata sekaligus media promosi pariwisata budaya Sasak. Inovasi ini lahir dari kesadaran kolektif para pemuda bahwa potensi ekonomi dari arus wisatawan Pantai Tanjung Bias belum tergarap secara optimal melalui produk kreatif berbasis identitas lokal [1]. Dengan dukungan modal awal dari Dana Desa sebesar Rp20 juta yang dialokasikan oleh Kepala Desa Fuad Abdurrahman, Tangkong berhasil menciptakan lapangan kerja baru bagi pemuda sekaligus memperkuat citra Desa Senteluk sebagai destinasi wisata yang kaya nilai budaya [2]. Inovasi ini membuktikan bahwa sinergi antara semangat wirausaha pemuda dan kebijakan fiskal desa mampu melahirkan solusi ekonomi yang berdampak luas dan berkelanjutan.

 

Latar Belakang

Desa Senteluk terletak di Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebuah desa pesisir yang menikmati masa keemasan sebagai destinasi wisata pantai favorit di Pulau Lombok. Pantai Tanjung Bias yang dulunya hanya gundukan sampah dan tempat sandar sampan nelayan berhasil ditransformasi menjadi kawasan wisata kuliner halal yang ramai dikunjungi ribuan wisatawan setiap pekan [2]. Panorama Gunung Agung Bali di kejauhan dan pemandangan matahari terbenam yang memukau menjadikan Tanjung Bias destinasi yang kian viral di media sosial.

Di tengah keramaian wisatawan itu, terdapat celah besar yang belum tergarap: ketiadaan produk cenderamata otentik yang mencerminkan keunikan budaya Desa Senteluk. Wisatawan kerap hanya menghabiskan waktu menikmati kuliner seafood dan pemandangan lalu pulang tanpa membawa buah tangan khas yang menjadi pengingat perjalanan mereka [1]. Ketiadaan produk oleh-oleh ini menghilangkan potensi pendapatan tambahan yang seharusnya bisa dinikmati masyarakat setempat secara langsung.

Masalah pengangguran di kalangan pemuda menjadi pemicu lain perlunya diversifikasi usaha di luar sektor perikanan dan pelayanan restoran pantai. Desa membutuhkan wadah kreativitas yang mampu menyerap tenaga kerja muda produktif sekaligus memberikan nilai tambah nyata pada ekosistem pariwisata [3]. Peluang menciptakan produk kreatif berbasis identitas budaya Sasak yang kaya pun muncul sebagai jawaban atas keresahan kolektif tersebut.

 

Inovasi yang Diterapkan

Menjawab tantangan itu, sekelompok pemuda kreatif Desa Senteluk meluncurkan inovasi produk kaos dengan jenama lokal bernama “Tangkong.” Nama ini diambil dari kosakata bahasa Sasak halus yang berarti baju, menegaskan akar identitas kultural kuat yang ingin diusung oleh setiap produk yang lahir dari tangan pemuda desa [1]. Inovasi ini bekerja dengan menjadikan kaos sebagai kanvas berjalan yang memvisualisasikan keindahan panorama Desa Senteluk dan kekayaan peribahasa Sasak kepada khalayak yang lebih luas.

Penerapan inovasi dilakukan dengan mendirikan gerai sederhana berukuran dua kali dua meter di tepi Pantai Tanjung Bias yang memiliki trafik pengunjung tinggi. Di gerai inilah kaos berkualitas dengan desain tipografi Sasak dan ilustrasi alam Senteluk dipajang untuk menarik minat wisatawan yang tengah menikmati suasana pantai [2]. Tangkong tidak sekadar menjual pakaian, melainkan menjual narasi dan kebanggaan akan budaya lokal yang dikemas dalam desain modern dan menarik perhatian, sebuah produk yang membawa cerita desa ke mana pun pemakainya pergi.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses kelahiran Tangkong dimulai dari diskusi intensif antara kelompok pemuda dan Pemerintah Desa Senteluk mengenai potensi ekonomi kreatif berbasis identitas budaya lokal. Kepala Desa Fuad Abdurrahman merespons positif dengan mengalokasikan Dana Desa sebesar Rp20 juta sebagai modal awal usaha — sebuah keputusan berani yang menjadi fondasi kepercayaan diri para pemuda [1]. Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar Pemerintah Desa Senteluk yang mengucurkan total Rp100 juta dari Anggaran Dana Desa untuk membangun ekosistem wisata Tanjung Bias secara menyeluruh [2].

Dana tersebut digunakan untuk membeli peralatan sablon manual, bahan kain berkualitas, dan biaya operasional awal produksi. Para pemuda mendapatkan pelatihan teknis menyablon dan desain grafis untuk memastikan produk yang dihasilkan memiliki standar jual yang kompetitif di pasar wisata. Proses trial and error dalam pencampuran warna dan teknik sablon menjadi fase pembelajaran berharga yang mematangkan keterampilan mereka secara nyata.

Eksperimen desain dilakukan dengan menggabungkan unsur visual Pantai Tanjung Bias dan peribahasa Sasak yang kaya filosofi untuk menemukan formula desain yang paling diminati pasar. Evaluasi penjualan dilakukan secara berkala untuk menentukan desain mana yang perlu diproduksi ulang dan mana yang perlu diperbarui sesuai tren [3]. Tantangan keterbatasan ruang pamer diatasi dengan memaksimalkan lokasi strategis di bibir pantai yang sudah ramai pengunjung, mengubah keterbatasan menjadi keunggulan.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal terbesar adalah membangun kesadaran pasar bahwa produk kaos lokal Tangkong memiliki nilai budaya dan kualitas yang layak dibeli oleh wisatawan yang terbiasa dengan produk brand nasional yang sudah dikenal. Proses membangun reputasi jenama lokal membutuhkan waktu dan konsistensi yang tidak selalu mudah dipertahankan oleh kelompok pemuda yang baru merintis usaha [1]. Mitigasinya ditempuh dengan konsisten menjaga kualitas bahan dan keunikan desain berbasis budaya Sasak yang tidak bisa ditiru oleh produk kaos wisata generik dari luar desa.

Tantangan eksternal berupa keterbatasan alat sablon dan kapasitas produksi yang rendah membuat pengelola tidak mampu memenuhi lonjakan permintaan pada hari-hari puncak kunjungan wisatawan. Keterbatasan keahlian desain grafis juga sempat menjadi hambatan dalam menghasilkan visual yang cukup menarik dan kompetitif di pasar cenderamata wisata yang semakin ramai [2]. Hambatan-hambatan ini dimitigasi dengan memprioritaskan pelatihan desain digital bagi pemuda dan merencanakan penambahan kapasitas produksi sebagai investasi strategis berikutnya.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama keberhasilan Tangkong adalah kepemimpinan Munajab yang memiliki visi pemberdayaan kuat serta kemampuan mengorganisir semangat kreatif para pemuda secara efektif dan terarah. Dukungan politik dan fiskal dari Kepala Desa Fuad Abdurrahman melalui penyertaan modal Dana Desa menciptakan kepercayaan diri yang mendorong para pemuda untuk berani bereksperimen [2]. Kolaborasi erat antara pemerintah desa sebagai fasilitator dan pemuda sebagai eksekutor kreatif menjadi resep kunci yang tidak mudah ditiru oleh inisiatif serupa di tempat lain.

Lokasi strategis gerai di tepi Pantai Tanjung Bias menjadi faktor krusial yang secara alami menempatkan produk Tangkong di hadapan ribuan calon pembeli potensial setiap harinya. Keunikan nama dan konsep produk yang berakar pada bahasa dan budaya Sasak memberikan nilai diferensiasi yang kuat dan autentik, sulit ditiru oleh produk kaos wisata generik dari luar desa [1]. Faktor-faktor ini bersinergi membentuk ekosistem usaha yang kokoh dan adaptif terhadap dinamika pasar pariwisata yang terus bergerak.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum Tangkong hadir, wisatawan Pantai Tanjung Bias tidak memiliki pilihan cenderamata berbasis budaya lokal dan pemuda desa belum memiliki wadah kerja kreatif di luar sektor perikanan dan pelayanan restoran pantai. Setelah inovasi ini berjalan, gerai sederhana di bibir pantai bertransformasi menjadi titik singgah wisatawan yang mencari oleh-oleh khas Senteluk, sementara kelompok pemuda pengelola memperoleh pendapatan baru yang menekan angka pengangguran produktif di kalangan generasi muda desa [1]. Terbukanya kesempatan kerja di bidang produksi, desain, dan pemasaran memperluas manfaat ekonomi kepada lebih banyak anggota komunitas muda desa.

Secara kualitatif, inovasi ini berhasil mengangkat citra Desa Senteluk sebagai destinasi wisata yang lengkap, bernilai budaya, dan berdaya ekonomi kreatif. Wisatawan semakin familiar dengan istilah dan peribahasa bahasa Sasak yang tertera pada kaos, menciptakan pertukaran budaya positif yang secara tidak langsung memperkuat literasi budaya lokal [3]. Dampak spillover yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal adalah terciptanya ekosistem pariwisata yang saling menguatkan antara pelaku kuliner, penyedia jasa wisata, dan industri kreatif di satu kawasan pantai yang terintegrasi, membuktikan bahwa modal kecil yang dikelola dengan kreativitas tinggi mampu menghasilkan dampak komunitas yang jauh melampaui nilai investasi awalnya [2].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Sumber pendanaan awal Tangkong berasal dari Dana Desa sebesar Rp20 juta yang dialokasikan oleh Pemerintah Desa Senteluk di bawah kepemimpinan Kepala Desa Fuad Abdurrahman, sebagai bagian dari total anggaran Rp100 juta yang digelontorkan untuk membangun ekosistem wisata Tanjung Bias secara menyeluruh [1], [2]. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan peralatan sablon manual, bahan kain berkualitas, dan biaya operasional awal produksi.

Model bisnis Tangkong bersifat langsung: penjualan kaos cenderamata kepada wisatawan di gerai tepi pantai dengan margin keuntungan yang disisihkan sebagian untuk modal pengembangan varian produk baru seperti topi, tas kain, dan gantungan kunci berbahan lokal. Model keberlanjutan finansialnya tidak bergantung pada subsidi berkelanjutan dari Dana Desa, melainkan bertumpu pada pendapatan penjualan produk yang terus dikembangkan variasinya seiring pertumbuhan kunjungan wisatawan ke Pantai Tanjung Bias.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan yang tepat dalam inovasi ini adalah memulai dari skala kecil dengan gerai sederhana berukuran dua kali dua meter di lokasi yang sudah memiliki trafik pengunjung tinggi, sehingga investasi awal bisa diminimalkan sementara eksposur produk tetap maksimal. Pemilihan nama jenama “Tangkong” yang berakar pada kosakata bahasa Sasak juga terbukti menjadi keputusan branding yang kuat karena memberikan diferensiasi autentik yang tidak bisa ditiru oleh kompetitor dari luar desa [1].

Jika memulai dari awal, pelatihan desain grafis digital sebaiknya dilakukan sejak tahap perintisan, bukan menunggu sampai keterbatasan desain menjadi hambatan produksi. Saran praktis bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa adalah menggali terlebih dahulu kosakata, peribahasa, atau ikon visual khas budaya lokal masing-masing sebagai fondasi branding produk, kemudian memanfaatkan lokasi wisata yang sudah ramai sebagai titik penjualan awal sebelum merambah ke kanal pemasaran yang lebih luas.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan usaha Tangkong dijalankan dengan menjaga kualitas bahan dan keunikan desain agar konsumen tetap loyal serta aktif merekomendasikan produk kepada orang-orang di sekitarnya. Pemerintah Desa Senteluk berkomitmen memberikan dukungan berkelanjutan berupa pelatihan lanjutan dan fasilitasi promosi di tingkat kabupaten hingga provinsi NTB [4]. Keuntungan usaha sebagian disisihkan untuk modal pengembangan varian produk baru seperti topi, tas kain, dan gantungan kunci berbahan lokal.

Mekanisme regenerasi kepemimpinan disiapkan melalui kaderisasi desainer muda dari desa untuk menjamin kesegaran ide kreatif di masa depan sekaligus memastikan regenerasi pengelola yang berkelanjutan tanpa ketergantungan pada individu tertentu. Pengelola berencana memperluas jangkauan pemasaran dengan merambah platform perdagangan elektronik dan konten media sosial secara lebih terencana. Visi jangka panjangnya adalah menjadikan Tangkong sebagai unit usaha BUMDes yang menguntungkan sekaligus menjadi duta budaya Sasak yang dikenal luas di pasar wisata regional dan nasional.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi jenama kaos Tangkong dari Desa Senteluk berkontribusi nyata terhadap beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama terkait pemberdayaan ekonomi pemuda, pelestarian budaya Sasak, dan penguatan ekosistem pariwisata lokal, sebagaimana dirinci dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Inovasi Tangkong menciptakan sumber penghasilan baru bagi pemuda yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap di luar sektor perikanan dan pelayanan restoran pantai. Modal awal Rp20 juta dari Dana Desa melahirkan unit usaha yang memberikan penghasilan rutin bagi kelompok pemuda pengelola
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas Kaos Tangkong yang menampilkan tipografi peribahasa dan kosakata bahasa Sasak secara tidak langsung berfungsi sebagai media edukasi budaya bagi wisatawan yang memakainya. Setiap kaos yang terjual menyebarkan pengetahuan tentang kekayaan bahasa dan filosofi Sasak kepada khalayak yang lebih luas
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Tangkong menciptakan pekerjaan layak di bidang produksi, desain, dan pemasaran bagi pemuda Desa Senteluk yang sebelumnya tidak memiliki peluang kerja di sektor ekonomi kreatif. Diversifikasi ekonomi desa dari ketergantungan pada sektor primer menuju ekosistem pariwisata kreatif bernilai tambah tinggi
SDGs 10: Berkurangnya Ketimpangan Kebijakan penyertaan modal Dana Desa untuk usaha pemuda mendistribusikan manfaat pertumbuhan wisata Tanjung Bias secara lebih merata kepada kalangan muda yang sebelumnya tidak memiliki akses modal. Pemuda lokal berpartisipasi aktif dalam rantai nilai pariwisata yang sebelumnya lebih banyak dinikmati pelaku usaha luar desa
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Transformasi Pantai Tanjung Bias dari kawasan kumuh menjadi destinasi wisata budaya yang dikelola pemuda lokal menjadikan Desa Senteluk contoh permukiman pesisir berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Kehadiran produk Tangkong melengkapi ekosistem wisata pantai yang menjual kuliner dan identitas budaya secara terintegrasi
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Keberhasilan Tangkong bertumpu pada kemitraan antara pemuda kreatif desa, Pemerintah Desa Senteluk, dan dukungan Pemerintah Provinsi NTB yang mencanangkan Tanjung Bias sebagai desa wisata. Sinergi antara inisiatif masyarakat dan fasilitasi kebijakan pemerintah menghasilkan inovasi ekonomi kreatif yang berkelanjutan

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Prasyarat minimum bagi desa lain yang ingin mereplikasi inovasi ini meliputi ketersediaan lokasi wisata dengan arus kunjungan yang memadai, kekayaan budaya lokal yang dapat dijadikan materi branding produk, serta komitmen pemerintah desa untuk menyediakan modal awal melalui Dana Desa. Estimasi biaya replikasi relatif terjangkau, sekitar Rp15-25 juta untuk pengadaan peralatan sablon, bahan baku awal, dan gerai sederhana, dengan waktu persiapan sekitar tiga hingga enam bulan hingga produk siap jual [5]. Strategi replikasi dimulai dengan menggali potensi bahasa daerah, ikon visual, atau tokoh budaya desa masing-masing sebagai materi desain produk yang autentik dan tidak bisa ditiru.

Strategi scale up Tangkong dilakukan dengan membuka gerai cabang di lokasi strategis kawasan Senggigi dan Kota Mataram untuk menjangkau pasar wisatawan yang lebih luas dan beragam. Tangkong juga berencana menjalin kerja sama konsinyasi dengan hotel-hotel berbintang di sekitar Batu Layar guna menjangkau segmen wisatawan mancanegara kelas atas yang memiliki daya beli lebih tinggi [2]. Model adaptasi dapat disesuaikan dengan konteks budaya masing-masing daerah, misalnya desa dengan tradisi tenun dapat mengintegrasikan motif tenun ke dalam desain kaos, sementara integrasi produk ke dalam paket wisata resmi desa menjadi langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan volume penjualan secara signifikan.

 

Daftar Pustaka

[1] Lombok Post – Jawa Pos, “Cara Pemuda Desa Senteluk Kembangkan Pariwisata,” lombokpost.jawapos.com. [Online]. Tersedia: https://lombokpost.jawapos.com/giri-menang/1903130026/cara-pemuda-desa-senteluk-kembangkan-pariwisata

[2] Gatra.com, “Tanjung Bias Lombok Disulap jadi Destinasi Wisata Berkelas,” gatra.com. [Online]. Tersedia: https://www.gatra.com/news-488934-gaya-hidup-tanjung-bias-lombok-disulap-jadi-destinasi-wisata-berkelas.html

[3] Detik Bali, “Mengenal Suku Sasak Lombok, Sejarah hingga Kebudayaannya,” detik.com, 1 Mar. 2024. [Online]. Tersedia: https://www.detik.com/bali/nusra/d-7221027/mengenal-suku-sasak-lombok-sejarah-hingga-kebudayaannya

[4] ANTARA, “Empat Desa Wisata NTB Peroleh DPUP dan Literasi Keuangan,” antaranews.com, 14 Okt. 2023. [Online]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/3774453/empat-desa-wisata-ntb-peroleh-dpup-dan-literasi-keuangan

[5] E. Sulistyowati et al., “Penguatan Desa Wisata Bilebante, Lombok Tengah Melalui Pelatihan Produk Ekonomi Kreatif,” Jurnal Abdimas Lombok, Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, 2022. [Online]. Tersedia: https://ejournalunwmataram.org/index.php/jaltn/article/download/1232/696

[6] YouTube – Diskominfotik Lombok Barat, “Wisata Pantai Tanjung Bias Desa Senteluk Kec. Batulayar Lombok Barat,” 4 Agu. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=wQvktr100-s

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Produksi Kaos Brand Lokal "Tangkong" untuk Promosi Wisata Budaya Sasak
Alamat
Desa Senteluk, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat
Inovator
Pemuda Desa Senteluk – Munajab (Koordinator) didukung Fuad Abdurrahman (Kepala Desa)
Kontak
087713415423 | muhammadsulthan553@gmail.com
Lokasi