Ringkasan Inovasi
Pemerintah Desa Tundakan di Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan menghadirkan listrik tenaga surya bagi warga Kampung Bayur di RT 3, permukiman berpenduduk sekitar 161 jiwa yang terletak delapan kilometer dari pusat desa di tengah kawasan hutan perbukitan yang belum pernah terjangkau jaringan listrik PLN [1]. Paket panel surya yang dibagikan sejak 2016 kepada kepala keluarga terdiri dari papan panel penangkap cahaya, baterai penyimpan daya, dan rangkaian lampu hemat energi, sistem yang bekerja tanpa bahan bakar minyak dan tanpa bentangan kabel panjang yang mustahil dibangun di medan terjal seperti Bayur [2]. Tujuan utama inovasi ini adalah mengakhiri keterisolasian energi yang selama bertahun-tahun membuat warga Kampung Bayur hanya bisa mengandalkan genset diesel bersama (“mesin domping”) yang menyala terbatas pukul 18.00-22.00. Dampak yang diharapkan mencakup waktu belajar anak yang lebih panjang di malam hari dan perpanjangan jam kerja ibu-ibu penganyam kerajinan, meski laporan terbaru pada 2026 menunjukkan sebagian panel surya yang dibagikan sudah rusak dan sebagian warga kembali bergantung pada genset berbayar, sehingga keberlanjutan program ini masih menjadi pekerjaan rumah nyata bagi pemerintah desa [8].
Latar Belakang
Desa Tundakan adalah desa yang memiliki nilai sejarah tinggi sebagai salah satu saksi perlawanan Pangeran Antasari dan Tumenggung Jalil terhadap penjajah Belanda di Kalimantan Selatan. Namun nilai sejarah itu tidak cukup mengangkat kesenjangan infrastruktur dasar: dari tiga RT yang ada di desa, RT 3 yang dikenal sebagai Kampung Bayur terletak delapan kilometer dari pusat desa, hanya bisa dicapai dengan sepeda motor modifikasi dalam waktu sekitar satu jam melewati jalan tanah liat yang licin saat musim hujan [1].
Kondisi jalan yang sulit itu menjadikan pembangunan jaringan listrik konvensional bukan sekadar mahal, tetapi secara teknis hampir mustahil dilakukan dalam jangka waktu yang terukur. Selama puluhan tahun, warga Kampung Bayur mengandalkan genset diesel bersama yang hanya menyala pukul 18.00 hingga 22.00, dengan warga patungan membeli solar sekitar Rp15.000-Rp20.000 per minggu tergantung jumlah alat elektronik yang digunakan, jauh dari akses listrik PLN penuh yang sudah dinikmati dua RT lain di Desa Tundakan [8].
Ironi yang dirasakan warga Kampung Bayur adalah bahwa kawasan hutan tempat mereka tinggal justru menerima paparan sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun, sumber energi gratis yang selama ini tidak pernah dimanfaatkan. Pemerintah Desa Tundakan membaca peluang ini secara strategis: dengan berkoordinasi dengan Dinas Pertambangan Kabupaten Balangan yang memiliki program pengadaan panel surya bagi masyarakat yang belum teraliri listrik, desa dapat memotong jalur birokrasi dan langsung mendaftarkan warga RT 3 sebagai penerima program elektrifikasi desa terpencil yang dicanangkan Kementerian ESDM [4].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah Solar Home System, paket panel listrik tenaga surya yang dipasang secara individual di setiap rumah kepala keluarga Kampung Bayur, menjadikan setiap rumah sebagai pembangkit energi listriknya sendiri. Sistem ini terdiri dari tiga komponen utama: panel fotovoltaik yang dipasang di atap atau pekarangan untuk menangkap radiasi matahari sepanjang siang, baterai penyimpan daya yang mengakumulasi energi untuk malam hari, dan rangkaian lampu LED hemat energi [2].
Keunggulan teknologi ini dalam konteks Kampung Bayur terletak pada eliminasi dua hambatan infrastruktur terbesar yang selama ini menghalangi elektrifikasi kawasan terpencil: tidak ada kebutuhan bentangan kabel sepanjang delapan kilometer di medan terjal, dan tidak ada kebutuhan mesin generator dengan biaya operasional bahan bakar yang berat bagi keluarga miskin di pedalaman. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Andy Noor Sommeng menegaskan bahwa “solar home system ideal untuk penerangan di daerah-daerah terpencil,” sejalan dengan target ESDM saat itu melistriki 2.500 desa terpencil dan lebih dari 256.000 rumah tangga melalui teknologi panel surya [4].
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai pada 2016 ketika Pemerintah Desa Tundakan melakukan pendataan menyeluruh terhadap warga RT 3 Kampung Bayur yang belum memiliki akses listrik. Tim yang diterjunkan ke kawasan Bayur memetakan jumlah kepala keluarga, kondisi fisik setiap rumah, ketersediaan area terbuka yang menerima paparan matahari langsung, dan kebutuhan riil daya setiap keluarga, data yang menjadi dokumen utama pengajuan anggaran ke Dinas Pertambangan Kabupaten Balangan [2].
Setelah program disetujui dan perangkat tiba di desa, pemerintah desa melatih beberapa pemuda Kampung Bayur dalam teknik pemasangan dasar panel surya agar instalasi dilakukan tenaga lokal sendiri. Eksperimen awal menghadapi kendala teknis saat menentukan sudut kemiringan optimal panel di kawasan yang sebagian wilayahnya ternaung kanopi pohon hutan, tantangan yang tidak muncul dalam panduan instalasi baku untuk kawasan terbuka. Pembelajaran dari kegagalan penentuan sudut kemiringan itu menghasilkan metode lokal yang mengutamakan survei ketersediaan matahari langsung di setiap titik pemasangan sebelum penyangga panel dipasang [1].
Dokumentasi video yang direkam Pemerintah Desa Tundakan pada masa awal program turut memperlihatkan proses sosialisasi dan pemasangan panel surya kepada warga Kampung Bayur sebagai bagian dari transparansi pelaksanaan inovasi ini [3]. Tahap terakhir adalah serah terima perangkat disertai edukasi bagi setiap kepala keluarga mengenai cara membersihkan permukaan panel, memeriksa kondisi baterai, dan menghindari beban berlebih. Namun sepuluh tahun kemudian, laporan warga pada September 2026 mengungkap bahwa sebagian unit panel surya yang dibagikan telah rusak dan tidak lagi berfungsi, sementara belum ada akses listrik PLN yang masuk ke Bayur, sehingga sebagian warga kembali sepenuhnya bergantung pada genset diesel bersama untuk penerangan malam hari [8].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan teknis utama selama implementasi adalah keterbatasan paparan sinar matahari langsung di kawasan hutan perbukitan yang sebagian wilayahnya ternaung kanopi pohon, sehingga panel menghasilkan daya jauh lebih rendah di bawah naungan parsial. Kendala ini dimitigasi melalui survei titik per titik di setiap pekarangan rumah untuk menemukan area dengan paparan optimal sebelum memasang penyangga panel [1].
Tantangan jangka panjang yang jauh lebih berat, dan kini terbukti nyata, adalah pemeliharaan dan penggantian komponen yang habis masa pakainya, terutama baterai yang memiliki siklus hidup terbatas. Laporan warga pada September 2026 mengonfirmasi bahwa sebagian panel surya sudah rusak tanpa penggantian, memaksa sebagian keluarga kembali bergantung pada genset diesel berbayar Rp15.000-Rp20.000 per minggu [8]. Kendala ini semestinya dimitigasi melalui dana pemeliharaan desa dan teknisi lokal terlatih sejak awal program, namun realitas di lapangan menunjukkan mekanisme tersebut belum cukup kuat untuk mencegah kemunduran layanan, sehingga evaluasi ulang skema perawatan dan penggantian komponen menjadi kebutuhan mendesak.
Sulitnya akses ke Kampung Bayur turut memperlambat respons ketika ada komponen yang rusak dan membutuhkan penggantian segera. Kendala ini idealnya dimitigasi dengan memperkuat kemampuan teknisi lokal yang sudah dilatih sejak awal agar gangguan kecil dapat diperbaiki di tempat, namun perlu disertai jaminan pasokan suku cadang baterai yang selama ini tampaknya belum tersedia secara konsisten.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu pertama adalah ketepatan pilihan teknologi yang sesuai kendala geografis spesifik Kampung Bayur. Solar Home System dipilih bukan karena teknologi paling canggih, melainkan karena menjadi satu-satunya solusi yang secara teknis dan finansial memungkinkan untuk medan sejauh delapan kilometer dengan jalan tanah liat yang tidak bisa dilewati kendaraan angkutan berat [4].
Faktor kedua adalah kemampuan pemerintah desa menghubungkan kebutuhan warga RT 3 dengan program yang sudah tersedia di Dinas Pertambangan Kabupaten Balangan, sehingga tidak perlu menggunakan anggaran desa sendiri untuk membiayai pengadaan yang nilainya melampaui kapasitas fiskal desa. Kepala desa dan perangkatnya bertindak sebagai penghubung aktif antara program kabupaten dengan kebutuhan riil warga terpencil [2].
Hasil dan Dampak Inovasi
Pada tahun-tahun awal setelah pemasangan, dampak paling langsung adalah berkurangnya kegelapan total di Kampung Bayur setiap malam, setelah bertahun-tahun warga hanya bergantung pada genset diesel yang menyala terbatas empat jam sehari. Anak-anak Kampung Bayur mendapat tambahan waktu belajar malam, dan ibu-ibu penganyam kerajinan tangan memperoleh perpanjangan jam kerja efektif [2].
Dampak kesehatan yang diharapkan adalah berkurangnya paparan asap pembakaran bahan bakar di dalam rumah. Penelitian di berbagai konteks serupa di Indonesia menunjukkan bahwa penggantian sumber penerangan berbahan bakar fosil dengan listrik dapat menurunkan angka infeksi saluran pernapasan atas dalam satu-dua tahun pertama setelah elektrifikasi [4].
Namun, dokumentasi terbaru pada September 2026 menunjukkan bahwa dampak positif ini belum sepenuhnya berkelanjutan: sebagian unit panel surya di Kampung Bayur telah rusak, akses listrik PLN belum juga masuk ke kawasan tersebut, dan sebagian warga kini kembali mengandalkan genset diesel berbayar sebagai sumber penerangan utama [8]. Temuan ini penting untuk dicatat secara jujur agar evaluasi program elektrifikasi desa terpencil tidak berhenti pada narasi keberhasilan awal semata, melainkan juga memperhitungkan keberlanjutan jangka panjangnya.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pengadaan awal paket Solar Home System bagi Kampung Bayur dibiayai oleh Dinas Pertambangan Kabupaten Balangan melalui program pengadaan panel surya bagi masyarakat yang belum teraliri listrik, sejalan dengan program elektrifikasi desa terpencil Kementerian ESDM. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran nominal anggaran pengadaan tersebut secara spesifik [4].
Tidak ada model bisnis komersial dalam distribusi awal panel surya ini karena sifatnya adalah bantuan pemerintah kepada warga tidak mampu. Sebagai perbandingan, model pembiayaan energi warga Bayur saat ini justru kembali ke skema urunan tunai untuk bahan bakar genset diesel (Rp15.000-Rp20.000 per minggu per rumah tangga), menunjukkan bahwa tanpa skema pembiayaan pemeliharaan panel surya yang jelas, warga kembali ke model energi lama yang lebih mahal dan tidak berkelanjutan dalam jangka panjang [8].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan melatih pemuda lokal sebagai teknisi instalasi sejak awal program terbukti menjadi langkah tepat yang membangun kapasitas dari dalam, alih-alih bergantung pada teknisi luar yang sulit dijangkau. Namun pengalaman Kampung Bayur juga mengajarkan pelajaran yang lebih pahit: bantuan perangkat keras tanpa skema pemeliharaan dan penggantian komponen yang terjamin dalam jangka panjang berisiko kembali terdegradasi, sebagaimana terbukti dari laporan kerusakan panel dan kembalinya sebagian warga ke genset diesel sepuluh tahun kemudian [8].
Jika memulai dari awal, skema pendanaan pemeliharaan dan penggantian baterai jangka panjang idealnya dirancang sejak tahap pengadaan awal, bukan diserahkan sepenuhnya pada kemampuan swadaya warga setelah program serah terima selesai. Desa lain yang menerima bantuan serupa disarankan menegosiasikan komitmen dukungan purnajual dari pemberi program (dinas terkait atau kementerian) sebelum menerima perangkat, serta membangun dana kas desa khusus perawatan energi terbarukan sejak hari pertama alat beroperasi, bukan menunggu kerusakan pertama muncul.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Pemerintah Desa Tundakan semestinya mengalokasikan dana desa secara khusus untuk pemeliharaan berkala sistem panel surya, termasuk penggantian komponen baterai dan lampu yang menurun fungsinya, dikelola kelompok teknisi lokal dari pemuda Kampung Bayur yang telah dilatih instalasi dan perbaikan dasar arus searah sejak program dimulai. Mengingat laporan kerusakan panel pada 2026, realisasi mekanisme ini perlu dievaluasi dan diperkuat kembali agar tidak sekadar rencana di atas kertas [8].
Ekosistem dukungan kelembagaan bagi energi surya di Balangan sesungguhnya terus berkembang: Dinas Perhubungan Kabupaten Balangan mencanangkan program Penerangan Jalan Umum (PJU) tenaga surya untuk desa terpencil, dan Desa Liyu di Kecamatan Halong berhasil memanfaatkan panel surya untuk mendukung pariwisata masyarakat adat sejak 2022 [5], [7]. Sinergi dengan program-program kabupaten semacam ini idealnya turut dimanfaatkan Tundakan untuk memperbarui dan memperluas cakupan Solar Home System di Kampung Bayur, alih-alih membiarkan sistem yang sudah terpasang terus menurun tanpa pembaruan.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi listrik tenaga surya Desa Tundakan berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs PBB 2030, meski keberlanjutan capaiannya masih memerlukan penguatan lebih lanjut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Pada periode panel berfungsi baik, penghematan pengeluaran dari tidak membeli solar genset meningkatkan pendapatan bersih keluarga. Namun kerusakan panel membuat sebagian keluarga kembali menanggung biaya bahan bakar genset. | Urunan genset Rp15.000-Rp20.000 per rumah tangga per minggu yang kembali ditanggung sebagian warga pada 2026. |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas | Anak-anak Kampung Bayur sempat memiliki waktu belajar malam yang lebih panjang saat panel surya berfungsi optimal, dibanding era genset terbatas empat jam per hari. | Genset komunal sebelumnya hanya menyala pukul 18.00-22.00, membatasi jam belajar malam anak. |
| SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau | Solar Home System adalah implementasi langsung SDGs 7 pada skala mikro, namun laporan kerusakan panel pada 2026 menunjukkan tantangan keberlanjutan akses energi bersih di kawasan terpencil ini belum sepenuhnya teratasi. | Sebagian unit panel surya di Kampung Bayur dilaporkan rusak per September 2026. |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | Elektrifikasi Kampung Bayur ditujukan menyetarakan derajat warga RT 3 dengan warga dua RT lainnya di Desa Tundakan yang sudah lama menikmati listrik PLN, meski PLN belum juga masuk hingga 2026. | 161 jiwa penduduk Kampung Bayur masih menunggu akses listrik PLN hingga laporan terakhir 2026. |
| SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim | Penggunaan panel surya, ketika berfungsi, menghilangkan emisi karbon lokal dari pembakaran bahan bakar fosil dibanding genset diesel yang kini kembali digunakan sebagian warga. | Kombinasi panel surya dan genset diesel yang masih berjalan paralel di Kampung Bayur pada 2026. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Desa Tundakan relevan direplikasi oleh desa-desa terpencil lain di Kalimantan Selatan yang menghadapi kombinasi serupa antara isolasi geografis, kelimpahan sinar matahari, dan ketidakmungkinan finansial-teknis membangun jaringan listrik konvensional. Kunci replikasinya bukan pada teknologi yang mahal, melainkan pada strategi pemerintah desa menghubungkan kebutuhan warganya dengan program elektrifikasi panel surya yang sudah tersedia di tingkat kabupaten dan kementerian [4].
Contoh replikasi yang sudah terbukti di Balangan adalah Desa Liyu di Kecamatan Halong, yang sejak 2022 memanfaatkan panel surya untuk mendukung energi masyarakat adat Dayak dan kemudian memasang panel berkapasitas 1.500 Watt di balai adat serta dua kawasan wisata pada 2023, mendorong peningkatan kunjungan wisata [6], [7]. Namun pengalaman Kampung Bayur menjadi pengingat penting bagi replikator lain: keberhasilan awal pemasangan panel surya harus diikuti komitmen pemeliharaan jangka panjang yang jelas, agar potensi energi terbarukan di daerah terpencil benar-benar termanfaatkan maksimal dan tidak terdegradasi seiring waktu [8].
Daftar Pustaka
[1] N. Azasi, “Inovasi Desa dalam Memanen Energi: Pengalaman Kampung Bayur Desa Tundakan,” Kompasiana. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/noorazasi/5f4a5807d541df0cbe787982/inovasi-desa-dalam-memanen-energi
[2] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “ID 00657: Pemerintah Desa Tundakan Menghadirkan Listrik Tenaga Surya untuk Menerangi Permukiman Terpencil dan Menggerakkan Ekonomi Warga,” inovasi.web.id. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/pemerintah-desa-tundakan-menghadirkan-listrik-tenaga-surya-untuk-menerangi-permukiman-terpencil-dan-menggerakkan-ekonomi-warga/
[3] YouTube (Inovasi Desa), “Inovasi Desa Tundakan Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan,” 25 Nov. 2018. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=i_KJeA5k9OI
[4] Kementerian ESDM RI, “Panel Surya Solusi Jangkau Desa Terpencil,” esdm.go.id, 27 Sep. 2017. [Online]. Available: https://www.esdm.go.id/en/unit-news/directorate-general-ebtke/panel-surya-solusi-jangkau-desa-terpencil
[5] Cakrawala iNews, “Program PJU Tenaga Surya untuk Desa Terpencil di Balangan,” TikTok, 27 Feb. 2026. [Online]. Available: https://www.tiktok.com/@cakrawala.inews/photo/7612144741009984786
[6] Antara Kalsel, “Warga Dayak Desa Liyu Manfaatkan Panel Surya Gelar MPG ke-5,” kalsel.antaranews.com, 27 Jul. 2023. [Online]. Available: https://kalsel.antaranews.com/berita/380790/warga-dayak-desa-liyu-manfaatkan-panel-surya-gelar-mpg-ke-5
[7] Antara Kalsel, “Energi Terbarukan untuk Masyarakat Adat Desa Liyu,” kalsel.antaranews.com, 21 Sep. 2022. [Online]. Available: https://kalsel.antaranews.com/berita/343489/energi-terbarukan-untuk-masyarakat-adat-desa-liyu
[8] Banjarmasinpost.co.id (Tribunnews), “Isi Curhatan Warga Bayur Tundakan Balangan Kalsel, Masih Mengandalkan Genset untuk Penerangan,” banjarmasin.tribunnews.com, 3 Sep. 2026. [Online]. Available: https://banjarmasin.tribunnews.com/kalsel/1374526/isi-curhatan-warga-bayur-tundakan-balangan-kalsel-masih-mengadalkan-genset-untuk-penerangan