Ringkasan Inovasi
Griya Sinau Digital (GSD) adalah program kursus komputer dan literasi digital gratis yang diselenggarakan Pemerintah Desa Sugihwaras, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, sejak November 2019. Program yang diketuai Sekretaris Desa Nur Amiril ini menyasar anak usia kelas 3 SD hingga kelas 3 SMP dari keluarga kurang mampu, dengan seleksi berbasis surat keterangan tidak mampu dari Ketua RT, dan diajarkan sepenuhnya oleh perangkat desa tanpa honor instruktur [1]. Sejak diluncurkan, GSD telah menjangkau lebih dari 73 anak dari keluarga kurang mampu. Ekosistem digital Desa Sugihwaras juga mencakup marketplace desa, layanan administrasi berbasis SiPraja, dan aplikasi layanan mandiri lain yang dikembangkan aparatur desa sendiri, menjadikan Sugihwaras salah satu percontohan program Smart Village Kementerian Desa PDTT RI [2].
Latar Belakang
Desa Sugihwaras memiliki struktur sosial ekonomi yang beragam: sebagian warga bekerja sebagai pedagang, karyawan swasta, dan pegawai negeri, sementara sebagian lain hidup dalam kondisi ekonomi yang rentan. Kesenjangan akses terhadap pendidikan keterampilan digital terlihat nyata, karena keluarga mampu dapat mendaftarkan anaknya ke kursus komputer berbayar di Sidoarjo, sementara anak dari keluarga kurang mampu tidak memiliki jalan yang sama untuk mempersiapkan diri menghadapi pasar kerja yang semakin membutuhkan kecakapan digital [3].
Pemerintah Desa Sugihwaras di bawah Kepala Desa Syaiful membaca kesenjangan ini sebagai masalah yang bisa dipecahkan dengan sumber daya yang sudah dimiliki desa: perangkat desa yang melek komputer, balai desa yang tidak digunakan optimal di luar jam kerja, dan Dana Desa yang dapat dialokasikan untuk pemberdayaan manusia jangka panjang [4].
Konteks yang melatarbelakangi lahirnya GSD adalah program Smart Village yang dipromosikan Kementerian Desa PDTT RI di bawah Menteri Abdul Halim Iskandar, sebuah kebijakan nasional yang mendorong desa mengadopsi konsep kota pintar dalam skala perdesaan. Desa Sugihwaras memanfaatkan kebijakan ini untuk mengakses dukungan dan pengakuan bagi program yang sudah dirancang sesuai kebutuhan nyata warganya [5].
Inovasi yang Diterapkan
GSD dirancang sebagai program pembelajaran berjenjang agar peserta memiliki keterampilan praktis, bukan sekadar pemahaman teoretis tentang komputer. Empat kelas dikelompokkan berdasarkan tingkat penguasaan, sehingga setiap peserta belajar sesuai kecepatan dan kedalaman materi yang sesuai kemampuannya [6].
| Kelas | Materi Utama | Capaian yang Diharapkan |
| Kelas 1 – Dasar | Pengenalan hardware dan software komputer, sistem operasi dasar, pengetikan, manajemen file, dan browsing internet dasar | Peserta mampu mengoperasikan komputer secara mandiri dan menggunakan internet untuk keperluan belajar yang aman dan terarah |
| Kelas 2 – Aplikasi Perkantoran | Microsoft Word, Excel, dan PowerPoint; pengolahan data dasar, pembuatan dokumen dan presentasi | Peserta menguasai aplikasi office yang menjadi standar minimum di banyak sektor kerja, sekaligus mendukung nilai TIK di sekolah |
| Kelas 3 – Desain Grafis | Desain grafis menggunakan Canva atau software sejenis; prinsip tipografi, komposisi warna, dan konten visual | Peserta memiliki keterampilan desain yang dapat dimanfaatkan sebagai jasa freelance atau mendukung UMKM keluarga |
| Kelas 4 – Pembuatan Aplikasi | Video editing, dasar pembuatan website, pengantar pembuatan aplikasi Android, dan logika pemrograman dasar | Peserta mendapat paparan awal keterampilan pengembangan perangkat lunak bagi yang ingin melanjutkan ke jenjang teknologi informasi |
Selain kelas reguler bagi anak-anak setiap hari Minggu, GSD juga menyelenggarakan pelatihan komputer khusus bagi pengurus lembaga desa setiap Sabtu malam, sehingga kapasitas digital tumbuh baik di kalangan generasi muda maupun pengambil keputusan desa [6].
Proses Penerapan Inovasi
GSD dimulai dari keputusan menggunakan balai desa yang kosong setiap Minggu dan Sabtu malam sebagai ruang kursus, dan menugaskan perangkat desa yang memiliki kecakapan komputer sebagai pengajar tanpa tambahan honor, sehingga tidak diperlukan gedung baru maupun rekrutmen instruktur dari luar [3].
Pada peluncuran November 2019, GSD dimulai dengan hanya 10 anak peserta, sebuah pilihan skala kecil yang disengaja untuk menguji model pembelajaran dan membangun kepercayaan warga sebelum diperluas. Jumlah peserta bertumbuh menjadi lebih dari 50 pada 2021-2022 dan mencapai lebih dari 73 peserta secara kumulatif [5].
Pada Februari 2022, tim KKN-P Kelompok 10 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) bergabung sebagai mitra pendampingan selama empat minggu (6-27 Februari 2022), membantu pengajar desa memonitor pembelajaran komputer anak-anak [5]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci adanya kegagalan teknis besar dalam pelaksanaan GSD itu sendiri; kajian tentang tata kelola digital Desa Sugihwaras secara lebih luas justru mencatat bahwa penerapan sistem informasi desa lain (SID) sempat terkendala karena hanya sebagian kecil perangkat desa yang benar-benar memahami pengoperasiannya, sebuah pengalaman yang turut mendasari perlunya pelatihan komputer berjenjang seperti GSD [8].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan paling mendasar adalah ketergantungan program pada komitmen personal perangkat desa sebagai pengajar tanpa honor. Model tanpa biaya ini sekaligus menjadi kerentanan: jika terjadi rotasi perangkat desa yang memiliki kemampuan mengajar, atau jika perangkat yang bersangkutan kehabisan waktu karena beban administrasi desa, program berisiko terganggu tanpa mekanisme pengganti yang siap [8]. Kendala ini direncanakan dimitigasi melalui institusionalisasi peran pengajar lewat aturan desa, agar keberlangsungan program tidak hanya bergantung pada kesediaan individu.
Tantangan kedua adalah konsistensi dokumentasi program: perbedaan pencatatan jumlah kelas antara sumber yang berbeda menunjukkan sistem pencatatan perkembangan program belum sepenuhnya terstandardisasi, yang dapat menyulitkan evaluasi dampak secara akurat ketika dipresentasikan kepada pihak eksternal [6]. Kendala ini perlu dimitigasi melalui sistem dokumentasi terpusat dan berkala yang dapat diakses publik melalui situs resmi desa.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah model pengajaran berbasis perangkat desa yang menghilangkan biaya honor instruktur. Sekretaris Desa Nur Amiril bersama perangkat desa lain yang melek komputer menjadi pengajar sukarela, sebuah model yang hanya bekerja jika perangkat desa memiliki kemampuan komputer memadai dan pimpinan desa memiliki otoritas menugaskan mereka mengajar di luar jam kerja [1].
Faktor kedua adalah ketepatan mekanisme seleksi berbasis surat keterangan tidak mampu dari Ketua RT, yang lebih akurat mengenali kondisi ekonomi warga dibanding survei formal, sehingga manfaat program tidak bocor ke keluarga yang sebenarnya mampu [6]. Faktor ketiga adalah konteks ekosistem digital desa yang lebih luas, karena GSD bukan program terpisah, melainkan bagian dari visi Desa Sugihwaras sebagai desa digital yang mencakup marketplace desa dan layanan publik berbasis aplikasi [7].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak terukur adalah perluasan akses keterampilan digital kepada lebih dari 73 anak dari keluarga kurang mampu, yang belajar keterampilan yang dapat langsung ditunjukkan: desain grafis, video editing, dokumen office, dan dasar pembuatan aplikasi [2].
Dampak pada pendidikan formal tercatat berupa peningkatan nilai mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) di sekolah masing-masing peserta, sebuah dampak lintas sistem yang jarang dicapai program pendidikan informal berbasis desa [1].
Pengakuan yang melampaui batas desa datang dari Kementerian Desa PDTT RI yang mendokumentasikan Sugihwaras sebagai model Smart Village dengan GSD sebagai salah satu program unggulan, termasuk dalam liputan video resmi kementerian [9], [10].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
GSD dijalankan tanpa biaya honor instruktur karena seluruh pengajar adalah perangkat desa yang mengajar secara sukarela di luar jam kerja, sehingga beban utama pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) hanya berupa pemeliharaan fasilitas dan pengadaan unit komputer [1]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran anggaran tahunan spesifik yang dialokasikan untuk unit komputer dan operasional GSD.
Sebagai program layanan publik, GSD tidak memiliki model pendapatan komersial. Keberlanjutan pendanaannya bergantung pada komitmen anggaran desa yang berkelanjutan serta potensi kemitraan dengan perguruan tinggi dan pihak ketiga untuk pengadaan perangkat maupun tenaga pengajar tambahan [5].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah memulai dengan skala kecil (10 peserta) untuk menguji model pembelajaran sebelum memperluas jangkauan, sehingga kesalahan desain program dapat diperbaiki lebih awal dengan risiko yang kecil [5]. Memanfaatkan sumber daya yang sudah ada, balai desa dan perangkat desa yang melek komputer, alih-alih menunggu anggaran besar untuk gedung dan instruktur baru, juga terbukti menjadi kunci program ini dapat dimulai tanpa hambatan modal [3].
Jika memulai dari awal, sistem dokumentasi peserta dan capaian program idealnya distandardisasi sejak tahun pertama, agar tidak terjadi perbedaan pencatatan antarsumber di kemudian hari. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memastikan setidaknya dua perangkat desa yang menguasai komputer sebelum memulai, menyusun mekanisme seleksi peserta yang sederhana namun akurat seperti surat keterangan RT, dan menyiapkan rencana regenerasi pengajar sejak awal agar program tidak bergantung pada satu individu saja.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan GSD bertumpu pada tiga langkah: pengembangan kurikulum berkelanjutan mengikuti kebutuhan industri digital, seperti penambahan materi kecerdasan buatan dasar dan keamanan digital; pembangunan jalur sertifikasi resmi bagi lulusan melalui lembaga seperti LSP atau BNSP; dan formalisasi kemitraan dengan perguruan tinggi, khususnya Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang sudah terlibat dalam KKN-P 2022, sebagai sumber tenaga pengajar tambahan yang berkelanjutan [1], [5].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Program Griya Sinau Digital berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | GSD memberi keterampilan digital gratis kepada anak keluarga kurang mampu, memperbesar peluang mereka memperoleh pekerjaan yang lebih layak dibanding generasi orang tua. | Lebih dari 73 anak dari keluarga kurang mampu telah mengikuti program GSD sejak 2019. |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas | GSD menyediakan akses pendidikan keterampilan digital tanpa biaya, dengan dampak langsung pada peningkatan nilai mata pelajaran TIK di sekolah formal peserta. | Peserta GSD tercatat mengalami peningkatan nilai TIK di sekolah masing-masing. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Keterampilan desain grafis, video editing, dan aplikasi perkantoran yang diajarkan GSD memiliki permintaan nyata di pasar kerja digital yang terus tumbuh. | Empat jenjang kelas GSD mencakup keterampilan office, desain grafis, hingga dasar pemrograman. |
| SDGs 10: Berkurangnya Ketimpangan | Mekanisme seleksi berbasis surat keterangan tidak mampu memastikan manfaat GSD tepat sasaran menjangkau kelompok yang paling tereksklusi dari akses keterampilan digital. | Seleksi peserta menggunakan surat keterangan tidak mampu dari Ketua RT. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Keterlibatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo melalui KKN-P dan pengakuan Kementerian Desa PDTT RI sebagai model Smart Village membuka kemitraan lintas lembaga. | Tim KKN-P Umsida mendampingi GSD selama empat minggu pada Februari 2022. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model GSD relatif mudah direplikasi karena hambatan masuknya rendah: tidak memerlukan gedung baru, instruktur profesional berbayar, atau perangkat keras mahal. Syarat minimumnya adalah satu ruangan di balai desa yang dapat digunakan di luar jam kerja, setidaknya dua perangkat desa yang menguasai komputer, beberapa unit komputer yang dapat diperoleh dari Dana Desa atau donasi, dan komitmen jadwal mingguan yang konsisten [1].
Untuk scale up di tingkat kabupaten, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sidoarjo yang telah mendaftarkan GSD dalam sistem SETIA dapat mengembangkan paket replikasi berupa modul kurikulum terstandardisasi, panduan pengelolaan program, dan akses jaringan kemitraan perguruan tinggi di Sidoarjo dan Surabaya [6].
Daftar Pustaka
[1] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “Griya Sinau Digital, Inovasi Desa Sugihwaras untuk Kembangkan Ruang Komunitas Digital Desa,” inovasi.web.id. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/griya-sinau-digital-inovasi-desa-sugiwaras-untuk-kembangkan-ruang-komunitas-digital-desa/.
[2] Kangamir, “Membangun Generasi Digital Sejak Usia Dini,” Kompasiana, 22 Apr. 2023. [Daring]. Tersedia: https://www.kompasiana.com/kangamir/6444c56908a8b51c05137522/membangun-generasi-digital-sejak-usia-dini.
[3] Beritabaru.co, “Desa Sugihwaras Sidoarjo Terapkan Pelayanan Berbasis Digital,” beritabaru.co. [Daring]. Tersedia: https://beritabaru.co/desa-sugihwaras-sidoarjo-terapkan-pelayanan-berbasis-digital/.
[4] Website Resmi Desa Sugihwaras, “Griya Sinau Digital – Inovasi Desa Sugihwaras,” sugihwaras.desa.id, 24 Nov. 2019. [Daring]. Tersedia: https://sugihwaras.desa.id/artikel/2019/11/24/griya-sinau-digital-inovasi-desa-sugihwaras.
[5] DRPM Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, “Wujudkan Generasi Paham IPTEK, Tim KKN Umsida Dampingi Kegiatan Belajar Program Griya Sinau Digital,” drpm.umsida.ac.id. [Daring]. Tersedia: https://drpm.umsida.ac.id/wujudkan-generasi-paham-iptek-tim-kkn-umsida-dampingi-kegiatan-belajar-program-griya-sinau-digital/.
[6] SETIA – Sistem Informasi Inovasi Kabupaten Sidoarjo, “Griya Sinau Digital – Inovasi Desa Sugihwaras,” setia.sidoarjokab.go.id. [Daring]. Tersedia: https://setia.sidoarjokab.go.id/inovasi/inovasi_sidoarjo/read?aksara=7688a5&id=78&per_page=7.
[7] Jurnal Kebijakan Publik UTU, “Innovation in Sugihwaras Village, Sidoarjo District as A Smart Village Based on Government Policy,” jurnal.utu.ac.id, 29 Apr. 2023. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.utu.ac.id/jppolicy/article/view/5971.
[8] ResearchHub ID, “Digitalisasi Sebagai Upaya Pengembangan Sumber Daya Aparatur Pemerintah Desa di Desa Sugihwaras,” researchhub.id, 29 Sep. 2023. [Daring]. Tersedia: https://researchhub.id/index.php/Khatulistiwa/article/view/1861.
[9] Kementerian Desa PDTT RI, “Sugihwaras, Desa di Sidoarjo yang Sedang Bersolek Menuju Desa Digital,” YouTube, 9 Mar. 2021. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=QDtWUChCcvY.
[10] Pemerintah Desa Sugihwaras, “Griya Sinau Digital Desa Sugihwaras,” YouTube, 30 Jun. 2021. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=27QL4OkyyBQ.