Ringkasan Inovasi
Pemerintah Desa Bojongkulur di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, membangun sistem tata kelola desa yang menyeluruh dengan tiga pilar utama: pelayanan publik prima, pemberdayaan ekonomi melalui BUMDes, dan pembangunan infrastruktur swakelola sejak Dana Desa mulai mengalir pada 2015 [1]. Inovasi ini bertujuan mewujudkan kemandirian desa yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga secara nyata dan merata. Hasilnya cukup terukur: Desa Bojongkulur meraih status Desa Mandiri sejak 2016 dan menempati peringkat lima se-Jawa Barat dalam Indeks Desa Membangun (IDM) dengan skor 0,9778 poin [2]. BUMDes Bojongkulur Teladan Mandiri (BUMDes BTM) meraih omzet hingga Rp800 juta per tahun dan menyumbang Rp100 juta ke Pendapatan Asli Desa, menjadikannya satu dari hanya enam BUMDes berstatus mandiri di antara 416 BUMDes aktif se-Kabupaten Bogor [3].
Latar Belakang
Sebelum inovasi tata kelola diterapkan secara serius, Desa Bojongkulur menghadapi tantangan yang umum dijumpai di desa-desa pinggiran kota besar. Banjir kerap melanda wilayah desa akibat sistem drainase yang belum memadai, sementara potensi ekonomi warga tersebar tanpa wadah yang terstruktur [1].
Kebutuhan akan platform ekonomi komunitas yang akuntabel juga belum terpenuhi. Warga memiliki semangat usaha, tetapi tidak ada lembaga resmi yang memfasilitasi permodalan dan pengelolaan usaha bersama secara formal, sehingga potensi ekonomi desa berisiko tidak menghasilkan nilai yang berarti [4].
Di sisi lain, terdapat peluang besar yang belum disentuh: lahan pasar milik Pemerintah Kabupaten Bogor yang belum dikelola optimal, modal sosial berupa keguyuban warga yang kuat, dan aliran Dana Desa yang mulai mengalir sejak 2015. Pemerintah desa menangkap peluang ini dengan merancang tata kelola yang terintegrasi dan berorientasi pada kemandirian jangka panjang [3], [1].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi lahir dari kesadaran bahwa desa bukan sekadar unit administrasi, melainkan ekosistem kehidupan yang harus dikelola secara cermat dan partisipatif. Pemerintah Desa Bojongkulur membangun sistem tata kelola berbasis tiga pilar: pelayanan publik prima, pemberdayaan ekonomi melalui BUMDes, dan pembangunan infrastruktur swakelola [1].
BUMDes Bojongkulur Teladan Mandiri (BUMDes BTM), yang berdiri sejak 2015, menjadi motor penggerak ekonomi desa dengan empat unit usaha utama: pengelolaan Pasar Desa dengan sekitar 300 kios dan lebih dari 400 pedagang kaki lima yang dikenakan retribusi harian Rp2.000 hingga Rp25.000, Koperasi Mitra Mandiri Tiga Enam (Komitman 36), kerja sama dengan Samsat, serta jasa pengiriman dan grosir [3]. Lahan pasar yang semula milik Pemerintah Kabupaten Bogor diserahkan secara resmi kepada desa untuk dikelola BUMDes, menjadi preseden kelembagaan yang langka dan berharga [1].
Proses Penerapan Inovasi
Perjalanan inovasi dimulai pada 2015 ketika Dana Desa pertama sebesar Rp330 juta mulai dikucurkan pemerintah pusat. Pemerintah desa langsung memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar, khususnya drainase sepanjang 120 meter, untuk menanggulangi banjir yang selama ini merugikan warga [1].
Pembangunan drainase dilakukan secara swakelola dan padat karya oleh Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) bersama masyarakat, dengan alokasi anggaran Rp19.689.000 dari Dana Desa 2019. Pendekatan ini bukan sekadar membangun saluran air, melainkan juga membangun rasa memiliki dan keterlibatan warga dalam setiap proses pembangunan desa [1].
Pada 2019, pemerintah desa melangkah lebih jauh dengan mendirikan Koperasi Komitman 36 menggunakan modal awal Rp15 juta dari Dana Desa untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dana Desa sendiri terus tumbuh dari Rp330 juta pada 2015 hingga mencapai Rp900 juta pada 2019, seluruhnya dimanfaatkan secara transparan untuk infrastruktur dan pengembangan ekonomi [4], [1]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci adanya percobaan awal yang gagal secara spesifik dalam proses ini; tantangan yang muncul lebih banyak berupa hambatan operasional bertahap yang terus dibenahi seiring pertumbuhan unit usaha.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Meskipun BUMDes BTM telah berstatus maju dengan empat unit usaha utama, kajian independen mencatat pengelolaannya masih menghadapi tantangan nyata di lapangan: kesadaran pedagang dalam membayar sewa, persaingan usaha dari pihak luar, dan keterbatasan sumber daya manusia pengelola [7]. Kendala ini dimitigasi melalui penguatan pengawasan retribusi harian dan pendampingan manajemen unit usaha secara bertahap, meski kajian yang sama mencatat efektivitas pengelolaan masih tergolong sedang dan memerlukan penguatan kapasitas staf lebih lanjut.
Tantangan lain muncul pada aspek keberlanjutan sistem tata kelola ketika terjadi pergantian kepemimpinan desa. Nilai-nilai keguyuban dan budaya partisipasi yang menjadi fondasi inovasi harus terus dirawat secara aktif agar tidak memudar saat generasi pengelola berganti. Kendala ini dimitigasi dengan mendokumentasikan praktik tata kelola desa dalam portal resmi desa sebagai memori kelembagaan yang tidak bergantung pada satu figur pemimpin saja [8].
Faktor Penentu Keberhasilan
Kunci utama keberhasilan Desa Bojongkulur terletak pada keguyuban antara perangkat desa dan warganya. Tidak ada sekat birokrasi yang menghalangi komunikasi; perangkat desa menyatu dengan masyarakat dan bekerja dalam semangat gotong royong [1]. Menteri Desa Abdul Halim Iskandar, dalam kunjungan pada 4 Desember 2019, bahkan menyebut desa ini berpotensi menjadi “desa surga” karena pemerintahannya yang baik dan warganya yang rukun: “Banyak yang bisa dilihat di desa ini, baik pemerintahannya, pelayanannya, serta masyarakatnya, semuanya guyub” [1].
Faktor kedua adalah kepercayaan dari Pemerintah Kabupaten Bogor yang menyerahkan aset lahan pasar kepada BUMDes untuk dikelola. Dukungan kelembagaan ini membuka ruang pengelolaan aset produktif yang tidak semua desa berhasil mendapatkannya, dan Bupati Bogor turut mendorong BUMDes BTM menjadi percontohan bagi desa-desa lain [5].
Hasil dan Dampak Inovasi
Hasil inovasi tata kelola ini cukup terukur. Desa Bojongkulur meraih status Desa Mandiri berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) sejak 2016, menempati peringkat lima se-Provinsi Jawa Barat dengan skor 0,9778 poin, di tengah 231 desa berstatus maju dan 95 desa berstatus mandiri lainnya di provinsi tersebut [2], [6].
Dari sisi ekonomi, BUMDes BTM tumbuh dari modal awal puluhan juta rupiah menjadi entitas dengan omzet Rp800 juta per tahun dan menyumbang Rp100 juta ke Pendapatan Asli Desa. Di Kabupaten Bogor yang memiliki 416 BUMDes aktif, hanya enam yang mencapai status mandiri, dan BUMDes BTM termasuk di dalamnya [3].
Secara kualitatif, dampak terbesar dirasakan dalam kualitas hidup warga. Banjir berkurang berkat drainase yang terbangun, kehidupan sosial semakin harmonis, dan warga merasa nyaman tinggal di desa karena kebutuhan dasar mulai terpenuhi di lingkungan sendiri [1].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pendanaan awal inovasi ini bertumpu pada Dana Desa yang tumbuh dari Rp330 juta pada 2015 menjadi Rp900 juta pada 2019, dengan alokasi khusus Rp19.689.000 untuk drainase 120 meter dan Rp15 juta modal awal Koperasi Komitman 36 [1], [4]. Aset lahan pasar milik Pemerintah Kabupaten Bogor yang diserahkan pengelolaannya kepada BUMDes menjadi modal non-tunai yang signifikan bagi keberlanjutan usaha [5].
Model pendapatan BUMDes BTM bertumpu pada sewa sekitar 300 kios pasar, retribusi harian dari lebih 400 pedagang kaki lima (Rp2.000 hingga Rp25.000 per pedagang), kerja sama layanan Samsat, jasa pengiriman, dan grosir, yang bersama-sama menghasilkan omzet Rp800 juta per tahun dan kontribusi Rp100 juta ke Pendapatan Asli Desa [3].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan menyerahkan pengelolaan aset lahan pasar milik pemerintah kabupaten kepada BUMDes, alih-alih membiarkannya menganggur atau dikelola pihak ketiga dari luar desa, terbukti menjadi fondasi ekonomi yang paling produktif bagi Bojongkulur [1]. Mempertahankan keguyuban dan komunikasi tanpa sekat birokrasi antara perangkat desa dan warga juga terbukti menjadi modal sosial yang tidak tergantikan oleh sistem administratif semata.
Jika memulai dari awal, penguatan kapasitas sumber daya manusia pengelola BUMDes idealnya direncanakan sejak unit usaha pertama berdiri, mengingat kajian independen mencatat keterbatasan SDM tetap menjadi kendala meski BUMDes telah berstatus maju. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan mengidentifikasi aset milik pemerintah daerah yang belum optimal dikelola, membangun kepercayaan lintas tingkat pemerintahan sejak awal, dan mendokumentasikan praktik tata kelola secara tertulis agar tidak bergantung pada satu figur kepemimpinan.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi ini ditopang oleh kelembagaan BUMDes yang terus diperkuat melalui diversifikasi unit usaha yang menghasilkan pendapatan asli desa secara mandiri. Kemandirian finansial ini memastikan program-program desa tidak sepenuhnya bergantung pada kucuran Dana Desa dari pemerintah pusat [3].
Selain itu, budaya partisipasi warga yang telah terbangun menjadi modal sosial paling berharga. Selama semangat gotong royong serta kepercayaan antara pemerintah desa dan warga terjaga, dan praktik tata kelola tetap terdokumentasi di portal resmi desa, inovasi ini berpeluang terus hidup dan berkembang dari satu generasi kepemimpinan ke generasi berikutnya [1], [8].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi tata kelola Desa Bojongkulur berkontribusi pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan sekaligus, karena menyentuh aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan, sebagaimana dirinci dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | BUMDes BTM menciptakan lapangan kerja dan sumber pendapatan rutin bagi warga desa melalui unit pasar, koperasi, jasa pengiriman, dan grosir. | Omzet Rp800 juta per tahun mengalirkan manfaat ekonomi bagi sekitar 300 kios dan 400 lebih pedagang kaki lima. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pengelolaan empat unit usaha BUMDes BTM menciptakan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih stabil dan terstruktur. | Dana Desa tumbuh dari Rp330 juta (2015) hingga Rp900 juta (2019), mendorong pertumbuhan ekonomi desa. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Pembangunan drainase swakelola membantu mengurangi banjir dan menciptakan lingkungan permukiman yang lebih nyaman dan aman. | Drainase sepanjang 120 meter dibangun swakelola dengan anggaran Rp19.689.000 dari Dana Desa 2019. |
| SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Kuat | Tata kelola desa yang transparan, akuntabel, dan partisipatif memperkuat kepercayaan warga terhadap pemerintah desa. | Desa Bojongkulur meraih status Desa Mandiri (IDM 0,9778) dan peringkat lima se-Jawa Barat. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Keberhasilan inovasi bertumpu pada kemitraan antara pemerintah desa, BUMDes, Pemerintah Kabupaten Bogor, dan masyarakat. | Aset lahan pasar milik Pemkab Bogor diserahkan pengelolaannya kepada BUMDes BTM. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Desa Bojongkulur telah menjadi desa referensi yang dikunjungi desa-desa lain yang ingin belajar tentang tata kelola mandiri, termasuk kunjungan studi banding dari luar Kabupaten Bogor [9]. Model BUMDes dengan unit usaha pasar dan koperasi sangat memungkinkan direplikasi, terutama di desa-desa yang memiliki potensi aset lahan dan semangat ekonomi komunitas yang kuat [5].
Strategi scale up yang paling efektif adalah mendorong Pemerintah Kabupaten Bogor memfasilitasi transfer pengetahuan secara terstruktur dari Bojongkulur ke desa-desa lain. Desa ini berpeluang menjadi pusat pembelajaran tata kelola desa bagi kabupaten lain di Indonesia, dengan catatan bahwa replikasi perlu turut memperhatikan temuan kajian independen tentang penguatan kapasitas SDM pengelola agar hasil yang dicapai lebih merata [7].
Daftar Pustaka
[1] A. Harahap, “Menteri Desa sebut Bojongkulur di Bogor bisa jadi desa surga,” ANTARA News, 3 Des. 2019. [Daring]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/1194011/menteri-desa-sebut-bojongkulur-di-bogor-bisa-jadi-desa-surga.
[2] Redaksi, “Kabupaten Bogor masuk 10 besar nilai IDM tertinggi di Jawa Barat,” ANTARA News Megapolitan, Okt. 2022. [Daring]. Tersedia: https://megapolitan.antaranews.com/berita/217605/kabupaten-bogor-masuk-10-besar-nilai-idm-tertinggi-di-jawa-barat.
[3] R. Gunardi, “Aktifkan Potensi Desa dengan BUMDes: BUMDes Bojongkulur Meraih Omzet Rp800 Juta,” JurnalPost, 7 Des. 2021. [Daring]. Tersedia: https://jurnalpost.com/aktifkan-potensi-desa-dengan-bumdes-bumdes-bojongkulur-meraih-omzet-rp800-juta/28577/.
[4] V. Yolanda, “Peran Perempuan dalam Pembangunan Ekonomi (Studi Kasus Badan Usaha Milik Desa di Desa Bojongkulur, Kabupaten Bogor),” Jurnal INADA, Universitas Kristen Indonesia, 2023. [Daring]. Tersedia: https://ejournal.uki.ac.id/index.php/inada/article/download/6854/3295.
[5] Setda Kabupaten Bogor, “Jadi BUMDes Mandiri, Mudah-mudahan BUMDes Bojong Kulur Bisa Memotivasi,” setda.bogorkab.go.id, 7 Des. 2021. [Daring]. Tersedia: https://setda.bogorkab.go.id/berita/seputar-opd/ade-yasin-jadi-bumdes-mandiri-mudah-mudahan-bumdes-bojong-kulur-bisa-memotivasi-.
[6] Redaksi, “Kabupaten Bogor Masuk 10 Besar Indeks Desa Membangun di Jawa Barat,” Depok Tribunnews, 20 Okt. 2022. [Daring]. Tersedia: https://depok.tribunnews.com/2022/10/20/kabupaten-bogor-masuk-10-besarindeks-desa-membangundi-jawa-barat.
[7] Peneliti UNAS, “Efektivitas Program Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bojongkulur Teladan Mandiri,” Repository Universitas Nasional, 2025. [Daring]. Tersedia: https://repository.unas.ac.id/id/eprint/13604/.
[8] Pemerintah Desa Bojongkulur, “Portal Resmi Pemerintah Desa Bojongkulur,” bojongkulur.id, 2025. [Daring]. Tersedia: https://bojongkulur.id/pemerintah.
[9] Bamuskal Bangunharjo, “Kunjungan Studi Banding BPD Desa Bojong Kulur Kabupaten Bogor ke Kalurahan Bangunharjo,” bangunharjo.bantulkab.go.id, 12 Sep. 2023. [Daring]. Tersedia: https://bangunharjo.bantulkab.go.id/first/artikel/925.