Ringkasan Inovasi
Desa Ujung, Kecamatan Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan, mengembangkan tambatan perahu warga menjadi Dermaga Desa pada tahun anggaran 2018 [1]. Inovasi ini digagas Pemerintah Desa Ujung yang dipimpin Kepala Desa Akhmad Kusairi, berdasarkan usulan musyawarah desa dan kebutuhan nelayan setempat [1]. Pembangunan menjawab persoalan aksesibilitas desa kepulauan berpenduduk sekitar 700 jiwa ini, yang sebelumnya hanya bisa disandari perahu kecil, sementara perjalanan ke Kotabaru harus menempuh jalur memutar melalui feri dan jalan darat berliku [1]. Dermaga dibangun dari Dana Desa 2018 senilai Rp160 juta, menggunakan material kayu ulin, bambu, dan galam, dikerjakan sekitar 20 warga lokal selama satu bulan [1]. Setelah dermaga beroperasi, kapal motor dan perahu berukuran lebih besar dapat berlabuh langsung ke Pelabuhan Kotabaru, memangkas waktu tempuh sekitar 1,5 jam dan mempermudah pemasaran hasil laut warga [1].
Latar Belakang
Desa Ujung merupakan satu dari delapan desa di Kecamatan Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan, dengan luas wilayah sekitar 10,04 km² yang terbagi dalam 4 Rukun Tetangga [2]. Secara geografis desa ini berada di kawasan pesisir Pulau Sebuku, sebuah pulau yang dikenal memiliki deposit batu bara, bijih besi, dan minyak bumi [4]. Penduduk Desa Ujung berjumlah sekitar 700 jiwa pada 2018, terdiri dari suku Bugis, Banjar, dan percampuran keduanya, dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan dan petani [1]. Kecamatan Pulau Sebuku sendiri berpenduduk sekitar 7.247 jiwa dengan kepadatan rendah, sekitar 32 jiwa per km², dan perekonomiannya ditopang sektor pertambangan, perikanan laut, dan perkebunan [3].
Sebagai desa kepulauan, akses Desa Ujung ke pusat Kabupaten Kotabaru sangat bergantung pada transportasi laut yang berjenjang dan memakan waktu panjang [1]. Warga harus menyeberang dari Pulau Laut menggunakan kapal feri dari Pelabuhan Teluk Gosong di Kecamatan Pulau Laut Timur, sekitar 20 km atau satu jam perjalanan dari Kotabaru [1]. Penyeberangan itu dilanjutkan pelayaran laut sekitar 1,5 jam menuju Pulau Sebuku. Dari titik sandar di Pulau Sebuku, perjalanan masih dilanjutkan dengan motor atau mobil sekitar 45 menit menuju Desa Ujung melalui jalan yang turun-naik, berliku, dan sebagian belum beraspal [1]. Sementara itu, tambatan perahu yang ada di desa hanya mampu disandari perahu-perahu kecil, sehingga nelayan kesulitan mengangkut hasil tangkapan dalam jumlah besar dan warga yang merantau kesulitan pulang-pergi secara efisien [1].
Banyak anak muda Desa Ujung merantau untuk bersekolah, nyantri, atau kuliah ke Kotabaru maupun daerah lain, serta bekerja dan berwirausaha di luar Pulau Sebuku, sehingga mobilitas pulang-pergi warga menjadi kebutuhan rutin [1]. Ketergantungan pada jalur feri yang berjenjang, ditambah kondisi tambatan perahu desa yang terbatas, mendorong warga menyuarakan kebutuhan sarana transportasi laut yang lebih langsung dan terjangkau. Momentum ini menguat ketika musyawarah desa merumuskan usulan pengembangan tambatan perahu lama menjadi dermaga desa yang representatif, sejalan dengan kebutuhan nelayan setempat untuk menyandarkan kapal yang lebih besar [1].
Inovasi yang Diterapkan
Ide pengembangan dermaga desa lahir dari usulan warga dalam musyawarah desa yang menangkap kebutuhan nelayan akan tempat sandar kapal yang lebih memadai, sekaligus peluang memangkas rute perjalanan ke Kotabaru [1]. Alih-alih membangun pelabuhan baru dari nol, Pemerintah Desa Ujung memilih mengembangkan tambatan perahu yang sudah ada menjadi Dermaga Desa yang lebih kokoh dan mampu menampung kapal berukuran lebih besar [1]. Pendekatan ini dipilih karena lebih realistis dari sisi anggaran dan waktu dibandingkan menunggu proyek pelabuhan skala kabupaten yang prosesnya jauh lebih panjang.
Dermaga dibangun menggunakan kombinasi kayu ulin sebagai struktur utama karena ketahanannya terhadap rendaman air laut, dilengkapi bambu dan galam untuk konstruksi pendukung [1]. Fungsi dermaga mencakup dua hal utama: sebagai tempat berlabuhnya perahu maupun kapal motor yang mengangkut penumpang langsung ke Pelabuhan Kotabaru, dan sebagai sandaran bagi perahu nelayan [1]. Fungsi kedua ini membuat hasil tangkapan berupa ikan, udang, dan cumi lebih mudah diangkat ke darat. Rute baru dari Dermaga Desa Ujung langsung ke Pelabuhan Kotabaru menggantikan pola perjalanan lama yang harus memutar lewat feri Teluk Gosong dan jalan darat berliku.
Elemen pembeda inovasi ini adalah skala dan kecepatan penyelesaiannya: dermaga dibangun swadaya oleh warga desa dengan Dana Desa dalam waktu sekitar satu bulan [1]. Kecepatan ini jauh berbeda dibandingkan proyek pelabuhan antar-pulau di Desa Sungai Bali yang membutuhkan waktu bertahun-tahun sejak 2013 hingga rampung pada 2019 [6]. Solusi taktis skala desa ini membuktikan bahwa persoalan konektivitas kepulauan tidak selalu harus menunggu proyek infrastruktur besar pemerintah pusat.
Proses Penerapan Inovasi
Proses dimulai dari musyawarah desa yang menampung usulan warga dan kebutuhan nelayan terkait sarana tambat kapal [1]. Pemerintah Desa kemudian mengalokasikan Dana Desa tahun anggaran 2018 sebesar Rp160 juta untuk pembelian material dan upah pekerja [1]. Material utama berupa kayu ulin, bambu, dan galam dibeli dan diangkut ke lokasi pembangunan di tepi Desa Ujung.
Tambatan perahu lama yang hanya mengandalkan kayu-kayu sederhana kerap rusak diterjang gelombang dan pasang-surut air laut, sehingga tidak mampu menahan kapal berukuran besar dalam jangka panjang. Pembelajaran dari kondisi ini mendorong Pemerintah Desa mengoreksi pilihan material pada dermaga baru [1]. Kayu ulin — dikenal luas di Kalimantan karena ketahanannya terhadap rendaman air — dijadikan struktur utama, bukan sekadar bambu dan galam seperti tambatan sebelumnya. Koreksi material ini menjadi pelajaran penting bagi desa pesisir lain: memilih bahan yang tahan kondisi laut lebih menentukan umur pakai dermaga dibandingkan ukuran atau kecepatan pembangunan semata.
Pembangunan dikerjakan secara bergantian oleh sekitar 20 warga lokal, dengan durasi pengerjaan sekitar satu bulan hingga dermaga siap digunakan [1]. Pelibatan tenaga kerja lokal ini sekaligus memastikan upah yang dibayarkan dari Dana Desa berputar kembali di dalam ekonomi desa. Begitu selesai, dermaga langsung dimanfaatkan nelayan dan operator perahu penumpang tanpa memerlukan masa uji coba panjang.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama adalah akses darat menuju Desa Ujung yang berliku, turun-naik, dan sebagian belum beraspal, sehingga pengangkutan material bangunan seperti kayu ulin dari luar desa menjadi tidak mudah [1]. Kondisi ini berpotensi memperlambat proses konstruksi jika logistik material tidak direncanakan dengan cermat. Mitigasi dilakukan dengan memanfaatkan material lokal yang tersedia di sekitar wilayah pesisir Kalimantan Selatan, seperti kayu ulin, bambu, dan galam, sehingga desa tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar pulau.
Tantangan eksternal berupa posisi Desa Ujung sebagai desa kepulauan yang jauh dari pusat kabupaten, dengan total waktu tempuh sekitar 2,5 jam menggunakan kombinasi kapal feri dan kendaraan darat [1]. Keterisolasian ini membuat desa tidak bisa mengandalkan proyek pelabuhan besar pemerintah pusat yang pembangunannya di kawasan sekitar memakan waktu bertahun-tahun [6]. Mitigasi ditempuh dengan membangun solusi taktis skala desa menggunakan Dana Desa, tanpa menunggu penyelesaian infrastruktur pelabuhan antar-pulau berskala lebih besar.
Keterbatasan tenaga kerja terampil konstruksi dermaga di desa kepulauan kecil menjadi kendala tersendiri, mengingat pekerjaan menuntut ketelitian memasang tiang kayu ulin agar kokoh menahan pasang-surut air laut. Mitigasi dilakukan dengan melibatkan sekitar 20 warga lokal yang bekerja secara bergantian, sehingga pengetahuan membangun dermaga tersebar di antara warga, bukan hanya bertumpu pada segelintir tukang berpengalaman [1]. Pola kerja bergantian ini juga membantu menjaga produktivitas pembangunan tetap berjalan meski jumlah tenaga kerja terampil terbatas.
Faktor Penentu Keberhasilan
Peran Pemerintah Desa Ujung, di bawah kepemimpinan Kepala Desa Akhmad Kusairi, sebagai pengelola langsung proyek menjadi faktor penentu utama keberhasilan pembangunan dermaga [1]. Keputusan mengalokasikan Dana Desa untuk kebutuhan transportasi dan perikanan, alih-alih proyek lain yang mungkin lebih terlihat, menunjukkan kepekaan pemerintah desa terhadap kebutuhan riil nelayan dan warga yang merantau. Musyawarah desa yang melibatkan warga dan nelayan sejak tahap perencanaan turut memastikan desain dermaga sesuai kebutuhan pengguna sehari-hari.
Modal sosial berupa gotong royong warga turut menjadi penentu keberhasilan, tercermin dari keterlibatan sekitar 20 warga lokal yang bekerja bergantian menyelesaikan pembangunan dalam waktu sekitar satu bulan [1]. Kearifan lokal dalam memilih material — memanfaatkan kayu ulin yang dikenal tahan lama di kawasan pesisir Kalimantan — turut memperpanjang usia pakai dermaga tanpa memerlukan teknologi atau biaya tinggi. Kedekatan sosial antarwarga kepulauan yang saling bergantung pada transportasi laut juga mempercepat konsensus mengenai lokasi dan desain dermaga.
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum dermaga dibangun, tambatan perahu Desa Ujung hanya mampu disandari perahu-perahu kecil, sementara warga yang hendak ke Kotabaru harus menempuh jalur memutar melalui feri Teluk Gosong dan jalan darat berliku sekitar 45 menit [1]. Setelah dermaga rampung, kapal motor dan perahu berukuran lebih besar dapat berlabuh langsung, termasuk mengangkut penumpang bersama kendaraan roda dua [1]. Rute baru dari Dermaga Desa Ujung langsung ke Pelabuhan Kotabaru memangkas waktu tempuh sekitar 1,5 jam dibandingkan pola perjalanan lama. Tarifnya pun lebih terjangkau — Rp30.000 per orang dan Rp65.000 dengan motor, dibandingkan tarif feri Rp50.000 per orang atau motor dan Rp100.000 untuk mobil roda empat [1].
Keberadaan dermaga mendorong peningkatan nilai tambah hasil perikanan warga, karena udang dan cumi yang telah melalui proses pengumpulan, sortasi, dan pengupasan kulit dapat langsung diangkut dan dipasarkan ke perusahaan di Kotabaru [1]. Produk olahan lain seperti kerupuk dan amplang tengiri turut lebih mudah dipasarkan melalui akses dermaga yang baru [1]. Percepatan distribusi hasil laut setengah jadi ini berpotensi meningkatkan pendapatan nelayan dan pelaku usaha pengolahan ikan dibandingkan kondisi sebelumnya yang bergantung pada jalur transportasi lebih panjang.
Dampak yang tidak sepenuhnya direncanakan adalah kemudahan bagi warga perantau untuk pulang kampung, terutama saat pesta pantai tahunan yang diselenggarakan Karang Taruna Desa Ujung [1]. Kegiatan yang bertujuan mempererat silaturahmi warga se-Pulau Sebuku ini bahkan mampu menghadirkan artis ibu kota seperti Siti Badriah dan Lesty berkat dukungan sejumlah perusahaan, sesuatu yang lebih sulit terwujud tanpa akses dermaga memadai [1]. Perubahan ini menunjukkan bahwa infrastruktur transportasi kecil di desa kepulauan dapat memicu dampak sosial dan budaya yang melampaui fungsi ekonominya.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pembangunan Dermaga Desa Ujung sepenuhnya dibiayai Dana Desa tahun anggaran 2018 senilai Rp160 juta, dialokasikan untuk pembelian material kayu ulin, bambu, dan galam, serta upah sekitar 20 pekerja lokal selama satu bulan [1]. Skema pendanaan ini menempatkan dermaga sebagai aset publik milik desa yang dikelola langsung oleh Pemerintah Desa, tanpa melibatkan skema investasi swasta atau utang. Seluruh biaya konstruksi berasal dari satu sumber pendanaan, sehingga proses pengadaan dan pertanggungjawaban anggaran menjadi lebih sederhana.
Model keberlanjutan finansial dermaga bertumpu pada aktivitas ekonomi yang ditopangnya, bukan pada retribusi langsung dari desa. Operator kapal dan perahu memungut tarif angkut penumpang sebesar Rp30.000 per orang dan Rp65.000 dengan motor, jauh lebih terjangkau dibandingkan tarif feri umum [1]. Pendapatan dari jasa angkutan dan perdagangan hasil laut yang mengalir melalui dermaga ini secara tidak langsung turut mendukung perekonomian warga. Aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar dermaga sekaligus menjadi insentif bagi warga pengguna untuk turut menjaga kelestarian fasilitas ini.
Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)
Keputusan mengembangkan tambatan perahu lama menjadi dermaga skala desa, alih-alih menunggu proyek pelabuhan besar pemerintah pusat, terbukti tepat karena manfaatnya dapat dirasakan warga hanya dalam waktu sekitar satu bulan [1]. Pemilihan kayu ulin sebagai material utama juga merupakan keputusan kunci yang tepat, karena ketahanannya terhadap air laut menjamin umur pakai dermaga lebih panjang dibandingkan tambatan sebelumnya. Kedua keputusan ini menegaskan bahwa solusi sederhana dan cepat dapat memberi dampak nyata bagi desa kepulauan terpencil.
Jika memulai dari awal, perbaikan akses jalan darat menuju desa — yang masih berliku dan sebagian belum beraspal — sebaiknya turut direncanakan bersamaan dengan pembangunan dermaga [1]. Perencanaan bersama ini penting agar manfaat penghematan waktu tempuh dapat dirasakan secara menyeluruh, dari laut hingga darat. Perencanaan logistik pengangkutan material dari luar pulau juga sebaiknya dipetakan lebih awal, mengingat kondisi geografis kepulauan yang menyulitkan distribusi bahan bangunan.
Desa pesisir dan kepulauan lain yang ingin menerapkan inovasi serupa disarankan memulai dari musyawarah desa untuk memastikan desain dermaga sesuai kebutuhan nelayan dan pengguna transportasi laut. Kedua, pilih material lokal yang terbukti tahan kondisi perairan setempat, seperti kayu ulin di Kalimantan, untuk menekan biaya perawatan jangka panjang. Ketiga, libatkan tenaga kerja lokal secara bergantian agar pembangunan berjalan cepat sekaligus memperkuat ekonomi desa melalui upah yang berputar di dalam masyarakat.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Dermaga Desa Ujung bergantung pada pengelolaan rutin oleh Pemerintah Desa, termasuk pemeliharaan struktur kayu ulin agar tetap kokoh menahan pasang-surut air laut. Alokasi anggaran pemeliharaan tahunan dari APBDes menjadi mekanisme utama untuk menjaga fungsi dermaga tetap optimal dalam jangka panjang. Pemantauan berkala terhadap kondisi tiang dan lantai dermaga juga diperlukan agar kerusakan dapat terdeteksi sejak dini.
Mekanisme regenerasi kepemimpinan tidak bergantung pada sosok Kepala Desa tertentu, karena dermaga berstatus sebagai aset desa yang pengelolaannya melekat pada jabatan Pemerintah Desa, bukan pada individu Akhmad Kusairi semata. Pergantian kepala desa di masa depan diharapkan tetap meneruskan fungsi dermaga sebagai infrastruktur vital transportasi dan ekonomi warga. Pendokumentasian proses pembangunan dan pemeliharaan dermaga turut membantu kepala desa berikutnya memahami kebutuhan perawatan fasilitas ini.
Rencana pendapatan mandiri dapat dikembangkan melalui skema retribusi sandar kapal yang dikelola pemerintah desa, memanfaatkan momentum tahunan pesta pantai Karang Taruna yang mendatangkan banyak pengunjung dan perantau yang pulang kampung [1]. Diversifikasi ini penting agar pemeliharaan dermaga tidak sepenuhnya bergantung pada alokasi Dana Desa yang bisa berubah dari tahun ke tahun. Kerja sama dengan operator kapal dan perahu penumpang juga dapat dijajaki untuk berbagi biaya perawatan fasilitas sandar.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Pembangunan Dermaga Desa Ujung berkontribusi pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan, dengan penekanan pada pengurangan biaya transportasi, penguatan ekonomi perikanan, dan konektivitas desa kepulauan terpencil [1].
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Dermaga menekan biaya transportasi warga dan mempercepat distribusi hasil laut, sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan nelayan dan keluarga miskin di desa kepulauan [1]. | Tarif angkutan turun dari Rp50.000 (feri) menjadi Rp30.000 per orang; hasil tangkapan lebih cepat terjual |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Nilai tambah hasil perikanan meningkat karena udang dan cumi olahan setengah jadi, kerupuk, dan amplang lebih mudah dipasarkan ke Kotabaru melalui dermaga [1]. | 20 pekerja lokal terlibat pembangunan; produk olahan perikanan terdistribusi rutin ke Kotabaru |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | Pembangunan infrastruktur dermaga tahan air menggunakan material lokal dan Dana Desa dalam waktu satu bulan menunjukkan inovasi infrastruktur skala desa [1]. | Dermaga baru berkapasitas kapal motor besar terbangun dalam 1 bulan dengan anggaran Rp160 juta |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | Dermaga menghubungkan desa kepulauan terpencil dengan pusat kabupaten secara lebih langsung, mengurangi kesenjangan akses transportasi dibandingkan desa lain yang lebih dekat Kotabaru [1]. | Waktu tempuh ke Kotabaru berkurang sekitar 1,5 jam; akses transportasi laut langsung tersedia bagi warga |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Musyawarah desa yang melibatkan Pemerintah Desa, nelayan, dan warga, serta dukungan perusahaan pada kegiatan tahunan Karang Taruna, menunjukkan kemitraan multipihak [1]. | Musyawarah desa menghasilkan usulan pembangunan dermaga; perusahaan mendukung kegiatan tahunan Karang Taruna |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model pengembangan tambatan perahu menjadi dermaga desa dapat direplikasi oleh desa pesisir atau kepulauan lain yang memiliki tiga prasyarat minimum. Pertama, akses Dana Desa yang mencukupi, sekitar Rp150–200 juta untuk skala dermaga serupa. Kedua, ketersediaan material lokal tahan air seperti kayu ulin atau kayu keras sejenis di sekitar wilayah pesisir. Ketiga, kelompok nelayan dan warga yang aktif menyuarakan kebutuhan melalui musyawarah desa [1].
Mengacu pada pengalaman Desa Ujung, pembangunan dermaga serupa memerlukan anggaran sekitar Rp160 juta dengan durasi pengerjaan sekitar satu bulan menggunakan tenaga kerja lokal sekitar 20 orang [1]. Estimasi ini dapat bervariasi tergantung jarak pengangkutan material dan kondisi pasang-surut di masing-masing lokasi. Desa dengan akses darat yang lebih sulit perlu mengalokasikan waktu dan biaya tambahan untuk logistik material.
Model adaptasi untuk desa dengan kondisi berbeda dapat menyesuaikan jenis material dan ukuran dermaga dengan volume lalu lintas kapal serta karakteristik pasang-surut setempat. Untuk scale up di tingkat kabupaten, Pemerintah Kabupaten Kotabaru dapat menjadikan model dermaga desa skala kecil ini sebagai pelengkap jaringan pelabuhan antar-pulau [6]. Jaringan pelabuhan besar seperti Pelabuhan Sungai Bali umumnya berskala besar dan memakan waktu pembangunan lebih lama. Dengan demikian, desa-desa kepulauan terpencil lain tidak perlu menunggu proyek infrastruktur besar untuk mendapatkan akses transportasi laut yang layak.
Daftar Pustaka
[1] N. Azasi, “ID 00235: Pembangunan Dermaga Desa Ujung, Langkah Taktis Mempercepat Perjalanan ke Kotabaru,” inovasi.web.id, 2018. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id
[2] Wikipedia, “Ujung, Pulau Sebuku, Kotabaru,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Ujung,_Pulau_Sebuku,_Kotabaru
[3] Kecamatan Pulau Sebuku, “Tentang Kami,” plsebuku.kotabarukab.go.id. [Online]. Tersedia: https://plsebuku.kotabarukab.go.id
[4] Wikipedia, “Pulau Sebuku, Kotabaru,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Sebuku,_Kotabaru
[5] Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotabaru, “Kecamatan Pulau Sebuku Dalam Angka 2024,” kotabarukab.bps.go.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://kotabarukab.bps.go.id
[6] Metro Kalimantan, “Pelabuhan Pulau Sebuku Rampung, Pemkab Kotabaru Tunggu Serah Terima,” metrokalimantan.com, 2019. [Online]. Tersedia: https://www.metrokalimantan.com