Ringkasan Inovasi
Pekon Mandiri Sejati, Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung, mengembangkan tata kelola destinasi Pantai Mandiri berbasis kebersihan pantai, kolaborasi pedagang, dan penguatan citra wisata selancar sejak dibuka pada awal 2021 [1], [2]. Inovasi ini tumbuh dari kebutuhan menjaga daya tarik Pantai Mandiri, yang dikenal sebagai lokasi favorit peselancar lokal maupun mancanegara di koridor wisata selancar Krui, berdekatan dengan Pantai Tanjung Setia yang menjadi tuan rumah kejuaraan selancar dunia World Surf League (WSL) Krui Pro [3], [4]. Pemerintah pekon, pedagang, dan pelaku wisata membangun kebiasaan kolektif membersihkan kawasan beberapa kali sehari, mengawasi perilaku pengunjung, dan menjaga keramahan layanan di tepi pantai, sehingga mengubah kebersihan dari tugas pemerintah menjadi tanggung jawab sosial bersama [2]. Sejak tahun pertama beroperasi, Pantai Mandiri telah menarik pengunjung dari Bandar Lampung, Kotabumi, Kotaagung, hingga Palembang, dengan tarif masuk terjangkau Rp10.000 untuk sepeda motor dan Rp20.000 untuk mobil [2], [6]. Meski masih berstatus desa wisata rintisan dengan fasilitas resmi yang tercatat minim di profil Jadesta Kemenparekraf, inovasi tata kelola kebersihan ini memperkuat daya saing Pantai Mandiri di tengah ekosistem sport tourism Pesisir Barat yang terus berkembang [1].
Latar Belakang
Pekon Mandiri Sejati berada di Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung, sekitar 11 kilometer di selatan pusat Kota Krui, di kawasan pesisir yang telah lama dikenal sebagai koridor wisata selancar unggulan Pesisir Barat [6]. Ombak Pantai Mandiri yang konsisten dan kontur pantai yang landai tanpa batu karang menjadikannya lokasi favorit peselancar, sementara posisi Krui semakin diperkuat oleh agenda sport tourism daerah seperti kejuaraan selancar dunia WSL Krui Pro yang digelar di Pantai Tanjung Setia tidak jauh dari sana [3], [4].
Sebelum inovasi tata kelola dikuatkan, daya tarik alam semata belum cukup memenangkan persaingan destinasi, karena kawasan wisata pantai memerlukan kebersihan, kenyamanan, tata kelola pelaku usaha, dan kesadaran pengunjung agar pengalaman wisata tetap positif dari waktu ke waktu. Kebutuhan paling mendesak adalah menjaga pantai tetap bersih saat kunjungan meningkat tajam pada hari libur, sementara pekon juga perlu memastikan pertumbuhan wisata menciptakan manfaat ekonomi yang merata bagi pedagang dan warga sekitar, bukan sekadar keramaian tanpa nilai tambah.
Momentum penguatan tata kelola ini muncul sejak Pantai Mandiri resmi dibuka sebagai destinasi wisata pada awal 2021, ketika kunjungan wisatawan dari berbagai kota mulai berdatangan dalam waktu singkat, menuntut pemerintah pekon dan pedagang segera menata kebersihan dan pelayanan kawasan agar reputasi baik destinasi ini terjaga [2].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan bukan sekadar promosi wisata, melainkan tata kelola destinasi yang menempatkan kebersihan sebagai inti layanan. Pemerintah pekon, pedagang, dan pelaku wisata membangun kebiasaan kolektif untuk membersihkan kawasan beberapa kali sehari, mengawasi perilaku pengunjung, dan menjaga keramahan layanan di tepi pantai.
Cara kerjanya sederhana tetapi efektif: pantai dijaga melalui rutinitas pembersihan tiga kali sehari oleh pedagang, edukasi langsung kepada pengunjung soal pembuangan sampah, serta pengawasan intensif dari peratin dan pelaku usaha [2]. Yang membedakan pendekatan ini dari pengelolaan wisata pantai konvensional adalah pergeseran tanggung jawab kebersihan dari sekadar tugas pemerintah menjadi kebiasaan kolektif yang melibatkan seluruh pelaku usaha di kawasan tersebut.
Proses Penerapan Inovasi
Inovasi ini lahir dari pembacaan masalah yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari di lokasi wisata. Saat kunjungan terus bertambah sejak pembukaan awal 2021, pedagang dan pemerintah pekon menyadari bahwa sampah, ketidaktertiban, dan lemahnya koordinasi dapat merusak pengalaman wisata dan menurunkan reputasi pantai [2].
Tahap awal dilakukan melalui pembagian peran informal namun konsisten: pedagang membersihkan area dagang dan ruang publik pantai, sementara peratin memberi pengarahan dan pengawasan agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan. Namun ketika jumlah wisatawan meningkat tajam saat musim libur, pola kebersihan yang semula bersifat reaktif — membersihkan setelah kawasan kotor — terbukti tidak cukup, sehingga bergeser menjadi preventif melalui rutinitas pembersihan berulang, pengawasan lapangan yang lebih ketat, dan pembiasaan pelayanan ramah sejak pengunjung datang [2]. Dari pengalaman ini, pekon belajar bahwa inovasi wisata paling kuat sering lahir dari disiplin kecil yang dijalankan terus-menerus, bukan proyek besar sekali jadi.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama adalah menjaga konsistensi kebersihan dan pelayanan saat kunjungan memuncak pada hari libur, ketika tekanan terhadap kebersihan, keselamatan, kenyamanan, dan kapasitas layanan meningkat tajam dalam waktu singkat. Pemerintah pekon dan pedagang mengatasinya dengan menggeser pola kebersihan dari reaktif menjadi preventif melalui rutinitas pembersihan berulang sepanjang hari, bukan hanya menunggu kawasan kotor terlebih dahulu.
Kendala eksternal berupa keterbatasan fasilitas resmi yang masih tercatat minim pada profil Desa Wisata Mandiri Sejati di Jadesta Kemenparekraf, dengan status desa wisata rintisan yang belum menampilkan banyak komponen produk seperti homestay, paket wisata, dan suvenir [1]. Kesadaran kolektif menjaga kebersihan pantai ini turut sejalan dengan gerakan lebih luas di Pesisir Barat, seperti aksi bersih-bersih pantai gabungan aparat dan masyarakat yang digelar di pantai lain kawasan tersebut menjelang peringatan World Cleanup Day [7]. Pekon memitigasi keterbatasan fasilitas secara bertahap dengan berfokus lebih dulu pada penguatan tata kelola kebersihan dan pelayanan dasar sebagai fondasi sebelum mengembangkan produk wisata turunan yang lebih kompleks.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah kepemimpinan lokal peratin yang aktif, tidak hanya memberi instruksi tetapi juga membangun pengawasan dan arah bersama agar pedagang dan pengunjung mematuhi norma kebersihan kawasan [2].
Faktor kedua adalah partisipasi pedagang sebagai garda depan layanan wisata, karena mereka bukan hanya penjual, melainkan penjaga suasana destinasi, sebab kebersihan, keramahan, dan kedisiplinan mereka langsung memengaruhi kesan wisatawan. Kekuatan lain datang dari posisi Krui sebagai destinasi selancar yang terus dipromosikan lewat sport tourism tingkat daerah, termasuk rekomendasi Pantai Mandiri sebagai destinasi tambahan bagi wisatawan yang datang menyaksikan WSL Krui Pro di Tanjung Setia [3], [4].
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum inovasi tata kelola dikuatkan, Pantai Mandiri baru dibuka sebagai destinasi wisata pada awal 2021 tanpa sistem kebersihan maupun pelayanan yang tertata. Dalam tahun pertamanya, kawasan ini telah menarik pengunjung dari Bandar Lampung, Kotabumi, Kotaagung, hingga Palembang, dengan laporan lapangan media menyebut ratusan pengunjung memadati kawasan saat hari libur [2].
Secara kualitatif, inovasi ini memperkuat identitas Pantai Mandiri sebagai destinasi yang bersih, sejuk, ramah, dan menarik untuk liburan keluarga maupun wisata minat khusus selancar. Wisatawan lokal dan mancanegara datang tidak hanya karena ombak, tetapi juga karena kualitas lingkungan dan pengalaman yang mereka terima di lokasi.
Dampak ekonomi yang lebih luas dapat dibaca melalui konteks sport tourism Pesisir Barat yang relevan dengan ekosistem Pantai Mandiri: penelitian tentang dampak kejuaraan Krui Pro terhadap masyarakat Tanjung Setia menunjukkan kenaikan pendapatan usaha akomodasi sebesar 25-35 persen atau sekitar Rp7.500.000 hingga Rp10.500.000, serta kenaikan usaha kafe, rumah makan, dan tempat pelelangan ikan (TPI) sebesar 25-35 persen atau sekitar Rp2.000.000 hingga Rp3.500.000 [5]. Temuan ini menegaskan bahwa penguatan sport tourism dan layanan destinasi di koridor Krui berpotensi menguatkan ekonomi lokal secara lebih luas, termasuk bagi pekon-pekon di sekitarnya seperti Mandiri Sejati.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal operasional tata kelola kebersihan Pantai Mandiri berasal dari swadaya pedagang dan pelaku wisata setempat, tanpa memerlukan investasi besar karena inovasi ini berbasis kebiasaan kerja kolektif, bukan pembangunan infrastruktur baru. Pendapatan utama kawasan berasal dari tarif retribusi masuk sebesar Rp10.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp20.000 untuk kendaraan roda empat [6].
Model bisnisnya berbasis kombinasi pendapatan retribusi masuk dan usaha pedagang di kawasan pantai, seperti warung makan dan penyewaan fasilitas rekreasi seperti ATV dan berkuda. Sebagai desa wisata rintisan, Pekon Mandiri Sejati belum banyak mengembangkan produk turunan seperti homestay atau paket wisata terstruktur, sehingga potensi pendapatan dari rantai nilai wisata yang lebih luas masih perlu didorong lebih jauh ke depan [1].
Pelajaran yang Dipetik
Pengalaman Pekon Mandiri Sejati menunjukkan bahwa keputusan menjadikan kebersihan sebagai inti layanan wisata, alih-alih sekadar mempromosikan keindahan ombak semata, adalah keputusan kunci yang tepat karena membedakan Pantai Mandiri dari destinasi selancar lain yang mengandalkan daya tarik alam saja.
Jika memulai dari awal, pergeseran dari pola kebersihan reaktif ke preventif idealnya sudah dirancang sejak pembukaan awal destinasi pada 2021, bukan menunggu lonjakan kunjungan hari libur membuktikan bahwa pola reaktif tidak lagi memadai.
Bagi desa pesisir lain yang ingin menerapkan pendekatan serupa, saran praktisnya adalah memulai dari tata kelola kebersihan dan kolaborasi pelaku usaha sebelum berinvestasi besar pada fasilitas fisik, serta memanfaatkan posisi geografis dekat destinasi wisata besar lain — seperti kedekatan Pantai Mandiri dengan Tanjung Setia — sebagai bagian dari strategi promosi bersama.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi ini perlu dijaga melalui pelembagaan aturan kebersihan, jadwal kerja kawasan, dan pembagian peran yang lebih formal antara pemerintah pekon, pengelola wisata, pedagang, serta kelompok masyarakat, sehingga kebiasaan baik tidak bergantung pada figur tertentu, melainkan menjadi sistem yang hidup dalam tata kelola desa wisata.
Mekanisme regenerasi kepemimpinan perlu ditopang pelembagaan peran peratin dan pengelola desa wisata secara formal, bukan bergantung pada inisiatif personal, agar pergantian kepemimpinan pekon di masa depan tidak mengganggu kesinambungan tata kelola kebersihan yang sudah terbangun.
Pekon juga perlu memperkuat dukungan jangka panjang melalui peningkatan fasilitas, pengelolaan sampah, promosi digital, dan pengembangan produk wisata turunan seperti homestay dan paket wisata, agar wisatawan tinggal lebih lama, berbelanja lebih banyak, dan pendapatan retribusi dapat dikembangkan menjadi sumber Pendapatan Asli Desa yang lebih beragam tanpa mengorbankan karakter lokal pantai.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi tata kelola Pantai Mandiri di Pekon Mandiri Sejati berkontribusi pada lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pengelolaan wisata yang tertata mendorong pertumbuhan usaha pedagang kawasan pantai dan memperkuat ekosistem sport tourism Pesisir Barat. | Pengunjung datang dari Bandar Lampung, Kotabumi, Kotaagung, dan Palembang |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan | Tata kelola kebersihan dan pelayanan kawasan wisata mendukung pengelolaan destinasi pesisir yang lebih tertib dan berkelanjutan. | Rutinitas pembersihan kawasan 3 kali sehari oleh pedagang |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab | Edukasi pengunjung soal pembuangan sampah dan kebiasaan kebersihan kolektif mendorong pola konsumsi wisata yang lebih bertanggung jawab. | Edukasi langsung kepada pengunjung dijalankan rutin oleh peratin dan pedagang |
| SDGs 14: Ekosistem Lautan | Kebersihan pantai yang terjaga melindungi ekosistem pesisir dari pencemaran sampah, sekaligus mendukung kualitas ombak untuk wisata selancar. | Kawasan pantai bebas sampah menjadi standar layanan harian |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi pemerintah pekon, pedagang, dan pelaku wisata lokal menjadi model kemitraan multipihak dalam pengelolaan destinasi wisata pantai. | 3 kelompok pemangku kepentingan berkolaborasi aktif |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Mandiri Sejati dapat direplikasi ke desa pesisir lain dengan prinsip yang mudah diadopsi: memulai dari tata kelola kebersihan, membangun kolaborasi pelaku usaha, lalu menghubungkan kekuatan lokal dengan identitas wisata yang khas. Prasyarat minimum meliputi keberadaan daya tarik alam yang sudah dikenal, kesediaan pedagang dan warga berkolaborasi menjaga kebersihan kawasan, serta dukungan kepemimpinan lokal yang aktif mengawasi dan mengarahkan.
Untuk scale up, pemerintah kabupaten dapat menyiapkan standar desa wisata pantai berbasis kebersihan, pelayanan, keselamatan, dan promosi sport tourism yang terintegrasi dengan agenda besar seperti WSL Krui Pro. Jika pola ini diterapkan di desa-desa sekitar koridor wisata Krui, manfaat ekonomi akan lebih menyebar dan citra Pesisir Barat sebagai kawasan selancar unggulan akan semakin kuat [3], [4].
Daftar Pustaka
[1] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, “Desa Wisata Mandiri Sejati (Pantai Mandiri) – Jadesta,” lampung.jadesta.com. [Online]. Tersedia: https://lampung.jadesta.com/desa/mandiri_sejati_(pantai_mandiri)
[2] Agustiawan, “Pantai Mandiri Salah Satu Tempat Wisata Favorit Diujung Lampung,” kiprah.co.id, 3 Des. 2022. [Online]. Tersedia: https://kiprah.co.id/pantai-mandiri-salah-satu-tempat-wisata-favorit-diujung-lampung/
[3] Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat, “Krui Pro,” pesisirbaratkab.go.id. [Online]. Tersedia: https://pesisirbaratkab.go.id/kruipro
[4] ANTARA, “Gubernur Lampung: Krui akan Jadi Lokasi Selancar Nomor 1 Dunia,” antaranews.com, 27 Mei 2024. [Online]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/4125654/gubernur-lampung-krui-akan-jadi-lokasi-selancar-nomor-1-dunia
[5] A. D. Putri, “Pengaruh Krui Pro dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Tanjung Setia Menurut Perspektif Ekonomi Islam,” skripsi, UIN Raden Intan Lampung, 2023. [Online]. Tersedia: https://repository.radenintan.ac.id/31704/
[6] NgeTrip My ID, “Pantai Mandiri Krui Lampung – Daya Tarik, Fasilitas dan Lokasi,” ngetrip.my.id, 3 Jan. 2024. [Online]. Tersedia: https://www.ngetrip.my.id/2022/10/pantai-mandiri-krui-lampung.html
[7] ANTARA, “Petugas Gabungan Gelar Aksi Bersihkan Sampah di Pantai Pesisir Barat,” antaranews.com, 19 Sep. 2024. [Online]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/4347847/petugas-gabungan-gelar-aksi-bersihkan-sampah-di-pantai-pesisir-barat