Ringkasan Inovasi
Negeri Kataloka di Kecamatan Pulau Gorom, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku, mengemas kekayaan budaya kerajaan dan kearifan lokal konservasi laut ke dalam Festival Kataloka — sebuah perhelatan budaya tahunan yang dirintis sejak 2015 oleh Leawana (Lembaga Adat Wanu Atalo’a) bersama Raja Petuanan Kataloka, Bappeda Kabupaten Seram Bagian Timur, dan WWF-Indonesia [1][2]. Festival ini bukan sekadar panggung pertunjukan tarian dan pawai perahu, melainkan wahana strategis untuk menetapkan Ngam (Sasi) sebagai instrumen konservasi laut, memamerkan warisan sejarah kerajaan, dan membuka dialog antargenerasi tentang peran adat di era modern. Inovasi ini lahir untuk mengatasi ancaman erosi budaya di kalangan generasi muda dan kerusakan ekosistem laut di perairan Pulau Koon akibat praktik penangkapan ikan yang merusak. Berkat konsistensi penyelenggaraannya, Festival Kataloka berhasil meraih pengakuan nasional dengan masuk ke dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) 2023 yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI [3][4].
Latar Belakang
Petuanan Kataloka merupakan salah satu wilayah adat terbesar di Kabupaten Seram Bagian Timur yang mencakup kekuasaan atas Pulau Nukus, Grogos, Koon, dan sebagian Pulau Gorom. Wilayah ini dipimpin secara turun-temurun oleh Raja Kataloka yang membawahi puluhan wanu (kampung) dengan struktur pemerintahan adat yang masih berjalan hingga kini. Nama “Kataloka” sendiri berasal dari kata Atalo’a yang berarti “di atas”, mencerminkan posisi dan kedudukan petuanan ini dalam tatanan adat masyarakat Gorom [1][5].
Meskipun menyimpan kekayaan budaya dan kelautan yang sangat berharga, Negeri Kataloka menghadapi tantangan serius terkait pelestarian identitas budaya di tengah arus modernisasi. Generasi muda mulai kehilangan kedekatan dengan tradisi leluhur, sementara situs-situs sejarah seperti Monumen Pembebasan Irian Barat, Bansina, dan Giro Gajah belum terkelola secara optimal sebagai daya tarik wisata. Di sisi lain, perairan di sekitar Pulau Koon yang merupakan salah satu lokasi pemijahan ikan kakap dan kerapu terbesar di Indonesia Timur terus terancam oleh praktik penangkapan ikan yang merusak [6][2]. Sebelum Festival Kataloka digulirkan, belum ada data komprehensif tentang kondisi terumbu karang di perairan ini yang dapat dijadikan acuan perlindungan.
Kondisi ini mendorong Leawana (Lembaga Adat Wanu Atalo’a) yang didirikan oleh Raja Petuanan Kataloka untuk mencari cara kreatif dalam membangkitkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga warisan budaya sekaligus melestarikan ekosistem laut. Kebutuhan akan sebuah momentum besar yang mampu menyatukan seluruh wanu di bawah Petuanan Kataloka — dan sekaligus menegaskan otoritas hukum adat Ngam terhadap perairan Pulau Koon — menjadi latar belakang lahirnya Festival Kataloka pada tahun 2015 [1].
Inovasi yang Diterapkan
Festival Kataloka lahir dari gagasan Raja Kataloka dan Leawana untuk mengemas seluruh potensi budaya, sejarah, dan kearifan lokal konservasi laut ke dalam satu perhelatan besar yang diselenggarakan secara berkala. Inovasi ini bukan hanya festival seni biasa, melainkan sebuah platform terintegrasi yang menggabungkan pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan pengembangan pariwisata dalam satu kerangka kerja yang dipimpin oleh struktur adat yang telah ada selama berabad-abad [1][3]. Elemen pembeda utama inovasi ini dari festival budaya konvensional terletak pada integrasi penetapan Ngam (Sasi) sebagai agenda tetap — menjadikan festival bukan sekadar perayaan melainkan instrumen penegakan hukum adat untuk konservasi laut.
Festival ini menampilkan rangkaian agenda yang saling terkait secara strategis. Belang (pawai perahu tradisional) membuka festival dengan prosesi perahu yang dihias atribut warna-warni untuk menyambut tamu. Penetapan Ngam oleh Raja Kataloka di perairan Pulau Koon menegaskan komitmen konservasi melalui hukum adat. Pameran budaya dan lingkungan menampilkan benda-benda antik koleksi kerajaan, foto kekayaan bawah laut, dan kuliner khas. Pentas seni menghadirkan tarian tradisional seperti Tari Bongkorey, Tari Perang, Tari Sawat, Tari Silat Jala, serta tari kolosal. Diskusi budaya bertema “Peran Adat di Era Globalisasi” mengundang akademisi dan budayawan ternama. Seluruh agenda ditutup dengan Hanga Riribun, makan bersama seluruh masyarakat dan tamu dengan sajian makanan tradisional warisan leluhur [1][4].
Proses Penerapan Inovasi
Perjalanan Festival Kataloka dimulai dari inisiatif Raja Kataloka yang mengkonsolidasikan seluruh wanu di bawah Petuanan Kataloka melalui musyawarah adat. Leawana sebagai lembaga semi-otonom dengan tujuh divisi yang menangani sektor perikanan, pertanian, pariwisata, perdagangan, pendidikan, kesehatan, dan perencanaan menjadi motor penggerak persiapan festival. Koordinasi dilakukan bersama Bappeda Kabupaten Seram Bagian Timur, Kecamatan Pulau Gorom, dan WWF-Indonesia yang telah mendampingi masyarakat sejak 2011 melalui program Marine Conservation Agreement [6][1].
Pagelaran pertama berlangsung pada tahun 2015, dan festival terus berkembang dari tahun ke tahun. Pada Festival Kataloka ke-3 tahun 2017, tema “Pesona Wisata Budaya Seram Bagian Timur” berhasil menghadirkan sekitar seribu peserta dalam pawai budaya yang menapaki rute bersejarah perjuangan Raja Jou Bessy bersama Sultan Nuku melawan Belanda. Setiap edisi selalu menyertakan penetapan Ngam di perairan Pulau Koon, menjadikan festival ini tidak hanya perayaan melainkan juga instrumen perlindungan ekosistem laut yang efektif [1][2].
Proses tidak selalu berjalan mulus karena tantangan logistik di wilayah kepulauan terpencil sangat nyata. Pada edisi awal, koordinasi antarwanu yang tersebar di beberapa pulau mengalami hambatan komunikasi sehingga beberapa delegasi terlambat tiba di lokasi festival. Pengalaman ini menjadi koreksi penting — pada edisi berikutnya, Leawana menerapkan sistem koordinasi bertingkat melalui kepala-kepala wanu yang bertanggung jawab memobilisasi delegasinya masing-masing dengan tenggat waktu yang lebih longgar. Semangat gotong royong masyarakat adat dan dukungan mitra seperti WWF-Indonesia berhasil mempertahankan keberlanjutan penyelenggaraan dari tahun ke tahun [6].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama adalah keterbatasan sumber daya manusia yang terlatih dalam manajemen event berskala besar dan literasi digital untuk promosi. Masyarakat Kataloka yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan petani memiliki pengalaman terbatas dalam pengelolaan festival yang melibatkan ribuan peserta dari puluhan wanu. Leawana mengatasi hal ini melalui pembagian tugas yang jelas lewat tujuh divisi kerja, sehingga setiap aspek penyelenggaraan ditangani oleh tim yang fokus. Pendampingan teknis dari WWF-Indonesia dan Bappeda Kabupaten juga memperkuat kapasitas pengelolaan [1][6].
Tantangan eksternal yang paling krusial adalah keterbatasan aksesibilitas dan infrastruktur. Negeri Kataloka terletak di wilayah kepulauan terpencil yang hanya dapat dijangkau melalui perjalanan darat dan laut yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan musim. Keterbatasan akomodasi, fasilitas listrik, dan jaringan komunikasi menjadi hambatan serius dalam menarik kunjungan wisatawan secara massal, terutama dari luar Maluku [1][2]. Mitigasi dilakukan melalui penjadwalan festival pada musim tenang (tidak bergelombang) dan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyediakan transportasi laut tambahan selama penyelenggaraan.
Kendala pendanaan juga menjadi persoalan yang berulang setiap tahun. Festival yang melibatkan ribuan peserta dari puluhan wanu membutuhkan biaya operasional yang besar, sementara sumber pendanaan masih bertumpu pada kontribusi masyarakat dan bantuan pemerintah daerah yang belum tentu konsisten. Leawana memitigasi tantangan ini dengan menerapkan sistem iuran sukarela antarwanu dan menjalin kemitraan dengan lembaga seperti WWF-Indonesia yang memberikan dukungan teknis dan sebagian pendanaan program konservasi. Koordinasi antar-instansi pemerintah yang belum optimal diatasi melalui advokasi aktif ke Pemerintah Provinsi Maluku yang akhirnya memberikan pengakuan dan dukungan langsung [3][4].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama keberhasilan Festival Kataloka adalah legitimasi dan kepemimpinan adat Raja Kataloka yang memiliki otoritas tradisional atas seluruh wanu di Petuanan Kataloka. Kepemimpinan ini memberikan kekuatan mobilisasi sosial yang sulit ditandingi oleh mekanisme birokrasi formal. Keberadaan Leawana dengan struktur organisasi yang lengkap juga memastikan festival dikelola secara profesional melalui pembagian tugas yang jelas lintas tujuh divisi kerja [1][5].
Faktor kedua adalah integrasi konservasi laut ke dalam agenda festival melalui penetapan Ngam di perairan Pulau Koon. Kolaborasi dengan WWF-Indonesia memberikan pendampingan teknis dan penguatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi pesisir. Pembentukan Pasukan Leawana pada Juli 2018 sebagai kelompok pengawas berbasis masyarakat adat semakin memperkuat efektivitas perlindungan wilayah perairan dari aktivitas penangkapan yang merusak [6]. Modal sosial berupa tradisi gotong royong antarwanu dan kepatuhan terhadap hukum adat menjadi pengikat partisipasi yang sangat kuat. Dukungan Pemerintah Provinsi Maluku yang diwujudkan melalui kehadiran Gubernur Murad Ismail pada Festival ke-VI tahun 2021 dan pengukuhannya sebagai Matlean Wanu Atolo’a (Orang Besar di Negeri Kataloka) menunjukkan pengakuan resmi terhadap peran adat dalam pembangunan [4].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling signifikan dari Festival Kataloka adalah bangkitnya kesadaran kolektif masyarakat untuk mencintai dan melestarikan budaya sebagai modal sosial pembangunan. Setiap penyelenggaraan festival berhasil mengumpulkan ratusan hingga ribuan warga dari seluruh wanu di Petuanan Kataloka, menciptakan solidaritas antarkelompok masyarakat yang sebelumnya jarang bertemu dalam satu forum besar. Tradisi seperti Tari Sawat Bongkorey, Tari Tiwal Kinor, Tari Perang Jou Besi, dan Tari Silat Jala yang sempat terpinggirkan kini kembali dipelajari dan ditampilkan oleh generasi muda [4][1].
Dari sisi konservasi laut, penetapan Ngam secara konsisten melalui festival terbukti menjaga kelestarian perairan Pulau Koon. Hasil Ekspedisi Zooxanthellae XVII oleh Fisheries Diving Club IPB University pada September–Oktober 2023 menunjukkan bahwa terumbu karang di seluruh lokasi pengamatan di perairan Gorom, Koon, dan Grogos masih tergolong kategori Baik menurut Kepmen LH No. 4 Tahun 2001, dengan biomassa mencapai 50 ton dan keanekaragaman makrobenthos yang tinggi. Tim juga menemukan berbagai biota unik seperti ikan bumphead, ikan napoleon, dan hamparan soft coral yang menandakan ekosistem yang sehat — kondisi ini merupakan bukti langsung efektivitas Ngam dibandingkan kondisi perairan tanpa perlindungan adat di sekitarnya [7][6].
Dari sisi pariwisata, pengakuan Festival Kataloka sebagai salah satu dari 110 event dalam Kharisma Event Nusantara 2023 membuka peluang promosi skala nasional dan internasional. Festival ini menempatkan Kabupaten Seram Bagian Timur dalam peta destinasi wisata budaya Indonesia, mendorong kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara yang sebelumnya belum mengenal potensi kepulauan ini. Efek spillover yang tidak direncanakan adalah meningkatnya minat akademisi dan peneliti untuk melakukan studi di perairan Kataloka, seperti yang dilakukan oleh tim IPB University. Gubernur Maluku sendiri menyatakan harapannya agar wisatawan asing tidak hanya mengenal Indonesia melalui Bali, tetapi juga menjadikan Seram Bagian Timur sebagai destinasi wisata yang layak dikunjungi [3][4].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pendanaan Festival Kataloka bersumber dari kombinasi kontribusi swadaya masyarakat adat, dukungan APBD Kabupaten Seram Bagian Timur melalui Bappeda, dan bantuan teknis serta sebagian pendanaan dari WWF-Indonesia melalui program Marine Conservation Agreement yang telah berjalan sejak 2011 [6]. Masing-masing wanu di bawah Petuanan Kataloka memberikan kontribusi berupa iuran sukarela, tenaga kerja gotong royong, dan bahan makanan untuk kegiatan Hanga Riribun (makan bersama). Besaran biaya operasional setiap edisi festival bervariasi tergantung skala penyelenggaraan, namun secara umum mencakup biaya transportasi laut antarpulau, logistik perlengkapan, konsumsi massal, dan dokumentasi.
Model pendapatan festival belum sepenuhnya bersifat komersial, namun mulai menunjukkan potensi ekonomi melalui beberapa aliran. Penjualan kuliner khas, kerajinan tangan, dan jasa transportasi laut selama penyelenggaraan festival memberikan penghasilan langsung bagi pelaku usaha mikro di Petuanan Kataloka. Masuknya Festival Kataloka ke dalam Kharisma Event Nusantara 2023 membuka peluang akses pendanaan dari Kemenparekraf dan sponsorship skala nasional di masa depan [3][2]. Strategi keberlanjutan finansial diarahkan pada pengembangan paket wisata terpadu yang menghasilkan retribusi sepanjang tahun, tidak hanya selama festival berlangsung.
Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)
Perjalanan Festival Kataloka selama delapan edisi (2015–2023) menyimpan sejumlah pelajaran berharga. Keputusan untuk menjadikan penetapan Ngam sebagai agenda tetap festival — bukan sekadar sisipan — terbukti menjadi langkah paling strategis karena memberikan legitimasi ganda: festival memperoleh substansi konservasi yang otentik, sementara Ngam memperoleh momentum seremonial yang memperkuat kepatuhannya di masyarakat. Integrasi budaya dan konservasi ini menjadi formula yang dapat diterapkan di wilayah adat lain yang memiliki tradisi pengelolaan sumber daya alam serupa [1][6].
Jika memulai dari awal, tim penyelenggara akan mengalokasikan investasi lebih besar pada dokumentasi digital dan promosi daring sejak edisi pertama. Keterlambatan memanfaatkan media sosial dan platform digital menyebabkan beberapa edisi awal kurang terdokumentasi dengan baik dan jangkauan promosinya terbatas pada lingkup lokal. Selain itu, pelibatan akademisi dan peneliti sejak awal — seperti yang akhirnya terwujud melalui kerja sama dengan IPB University — seharusnya dilakukan lebih dini untuk membangun basis data ilmiah yang memperkuat argumen konservasi [7].
Bagi daerah lain yang ingin menerapkan model serupa, saran praktis utamanya adalah memastikan keterlibatan penuh struktur kepemimpinan adat yang memiliki legitimasi sosial kuat di masyarakat. Festival budaya yang digerakkan semata oleh birokrasi formal tanpa dukungan otoritas adat akan kesulitan membangun partisipasi organik dan kepatuhan masyarakat terhadap agenda konservasi. Selain itu, kemitraan dengan lembaga internasional atau LSM yang memiliki keahlian teknis di bidang konservasi terbukti mempercepat penguatan kapasitas masyarakat secara signifikan.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan Festival Kataloka bertumpu pada penguatan kelembagaan adat sebagai fondasi utama. Leawana terus memperkuat kapasitas organisasinya melalui tujuh divisi yang bekerja sepanjang tahun, tidak hanya menjelang festival. Mekanisme regenerasi kepemimpinan dijamin oleh tradisi suksesi raja yang telah berlangsung selama berabad-abad — pergantian Raja Kataloka mengikuti garis keturunan adat yang diakui seluruh wanu, sehingga otoritas dan legitimasi pengelolaan festival tidak terputus meskipun pemimpin berganti. Pelibatan pemuda sebagai pelaku utama pelestarian budaya menjadi prioritas jangka panjang [1][5].
Program pendampingan dari WWF-Indonesia dalam pengelolaan kawasan konservasi pesisir diharapkan terus berlanjut untuk menjaga efektivitas Ngam sebagai instrumen perlindungan ekosistem laut. Pembentukan Pasukan Leawana sebagai kelompok pengawas berbasis masyarakat adat memastikan bahwa penegakan hukum adat tidak bergantung pada kehadiran pihak eksternal. Rencana pendapatan mandiri difokuskan pada pengembangan paket wisata terpadu yang mencakup wisata budaya, wisata bahari, wisata sejarah, dan wisata pendidikan ekologi sehingga daya tarik Negeri Kataloka dapat dirasakan sepanjang tahun, bukan hanya selama festival berlangsung [6].
Di tingkat strategis, masuknya Festival Kataloka ke dalam Kharisma Event Nusantara membuka peluang kolaborasi dengan Kemenparekraf untuk peningkatan kualitas penyelenggaraan dan pemasaran wisata secara nasional. Penguatan sistem informasi digital dan kemitraan dengan platform perjalanan berkelanjutan akan memperluas jangkauan pasar ke tingkat internasional, menjadikan Festival Kataloka sebagai model perhelatan budaya berbasis kearifan lokal yang dapat diadopsi oleh daerah lain di Indonesia [3][2].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Festival Kataloka memperlihatkan bahwa inovasi berbasis kearifan lokal dapat menjadi instrumen efektif untuk mencapai beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan secara simultan. Dengan memadukan pelestarian budaya, konservasi laut, dan pengembangan pariwisata dalam satu kerangka kelembagaan adat, Negeri Kataloka menunjukkan bahwa SDGs dapat dicapai melalui pendekatan yang berakar pada identitas dan tradisi masyarakat. Kontribusi paling signifikan terletak pada SDGs 14 (Ekosistem Lautan) melalui penetapan Ngam dan SDGs 11 (Permukiman Berkelanjutan) melalui pelestarian warisan budaya tak benda, sebagaimana dirinci dalam tabel berikut [1][2].
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Festival Kataloka menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal melalui penjualan kuliner khas, kerajinan tangan, jasa transportasi laut, dan akomodasi selama penyelenggaraan festival. Perputaran ekonomi ini memberikan penghasilan tambahan bagi nelayan, pengrajin, dan pelaku usaha mikro di Petuanan Kataloka [2]. | Jumlah pelaku usaha mikro yang mendapat penghasilan tambahan selama festival; peningkatan perputaran ekonomi lokal per edisi |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan | Festival ini menjadi instrumen pelestarian warisan budaya tak benda melalui penampilan tarian tradisional, pameran benda bersejarah kerajaan, dan diskusi budaya yang melibatkan akademisi dan tokoh adat. Pengelolaan festival secara partisipatif oleh masyarakat adat sejalan dengan prinsip SDGs 11.4 tentang pelestarian warisan budaya dan alam [4]. | Jumlah tarian tradisional yang dihidupkan kembali dan ditampilkan oleh generasi muda; jumlah benda bersejarah yang dipamerkan |
| SDGs 14: Ekosistem Lautan | Penetapan Ngam (Sasi) di perairan Pulau Koon sebagai agenda tetap festival merupakan kontribusi langsung terhadap perlindungan lokasi pemijahan ikan kakap dan kerapu terbesar di Indonesia Timur. Pembentukan Pasukan Leawana sebagai kelompok pengawas berbasis masyarakat adat memperkuat penegakan hukum adat terhadap praktik penangkapan ikan yang merusak [6]. | Terumbu karang kategori Baik (Ekspedisi IPB 2023); biomassa 50 ton; keberadaan ikan bumphead dan napoleon sebagai indikator ekosistem sehat |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | Kearifan lokal Ngam tidak hanya berlaku untuk sumber daya laut, tetapi juga mencakup perlindungan sumber daya alam daratan di Pulau Grogos, Koon, dan sekitarnya. Tradisi ini memastikan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan dan menjaga keseimbangan ekosistem daratan kepulauan [1]. | Penerapan Ngam untuk sumber daya daratan di Pulau Grogos dan Koon; terjaganya vegetasi alami pulau |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Festival Kataloka merupakan hasil kolaborasi multipihak antara Leawana, Raja Kataloka, Bappeda Kabupaten Seram Bagian Timur, Kecamatan Pulau Gorom, Pemerintah Provinsi Maluku, WWF-Indonesia, dan IPB University melalui Ekspedisi Zooxanthellae. Kemitraan ini menjadi model kolaborasi antara lembaga adat, pemerintah, LSM, dan perguruan tinggi dalam pengelolaan sumber daya alam dan budaya [7][6]. | Kemitraan aktif dengan 5+ lembaga (Leawana, Bappeda, Pemprov, WWF-Indonesia, IPB University); pengakuan KEN 2023 |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Festival Kataloka dapat direplikasi di negeri-negeri adat lain di Maluku dan Indonesia Timur yang memiliki struktur kepemimpinan tradisional yang masih kuat. Prasyarat minimum untuk replikasi mencakup tiga elemen utama: keberadaan lembaga adat dengan legitimasi sosial yang tinggi, kekayaan budaya dan alam yang dapat dikemas sebagai daya tarik wisata, serta kemauan politik pemerintah daerah untuk mendukung inisiatif berbasis masyarakat. Desa-desa adat di Kepulauan Banda, Kei, Aru, dan Tanimbar yang memiliki tradisi Sasi serupa berpotensi besar mengadopsi model ini [2][3].
Estimasi biaya replikasi untuk penyelenggaraan festival budaya serupa di wilayah kepulauan terpencil berkisar antara Rp200 juta–Rp500 juta per edisi, mencakup biaya logistik transportasi laut, konsumsi massal, perlengkapan pameran, dan dokumentasi. Durasi persiapan untuk edisi perdana diperkirakan 6–12 bulan. Model adaptasi dapat disesuaikan dengan mengganti substansi konservasi sesuai potensi lokal — tidak harus Sasi laut, melainkan bisa berupa konservasi hutan adat, perlindungan mata air, atau pelestarian spesies endemik. Kunci adaptasinya adalah memastikan bahwa festival memiliki substansi konservasi yang otentik, bukan sekadar pertunjukan seni [1].
Untuk scale up, Festival Kataloka dapat dikembangkan menjadi pusat pembelajaran wisata budaya berbasis kearifan lokal bagi daerah lain di Indonesia. Pembangunan jaringan festival budaya antarpetuanan di Maluku, integrasi dengan jalur wisata bahari Indonesia Timur, dan pengembangan konten digital untuk pemasaran internasional menjadi langkah strategis yang dapat memperluas dampak festival ini. Kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti IPB University untuk monitoring ekosistem secara berkala juga dapat direplikasi sebagai model pengelolaan kawasan konservasi berbasis riset dan kearifan lokal [7][6].
Daftar Pustaka
[1] WWF-Indonesia, “Festival Kataloka: Perhelatan Budaya dan Konservasi di Negeri Kataloka,” wwf.id, 2017. [Online]. Tersedia: https://www.wwf.id/publikasi/festival-kataloka
[2] Redaksi, “Katalog Inovasi Festival Budaya,” inovasi.web.id. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/tag/festival-budaya/
[3] Redaksi, “Festival Kataloka Masuk Kharisma Event Nusantara 2023,” Dinamika Maluku, Jan. 2023. [Online]. Tersedia: https://dinamikamaluku.com/2023/01/festival-kataloka-masuk-ken-2023/
[4] Redaksi, “Festival Kataloka VI 2021: Gubernur Murad Ismail Dikukuhkan Matlean Wanu Atolo’a,” TIMES Indonesia, 20 Des. 2021. [Online]. Tersedia: https://timesindonesia.co.id/pariwisata/festival-kataloka-vi-2021
[5] Wikipedia, “Negeri Kataloka,” Wikipedia Bahasa Indonesia. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Negeri_Kataloka
[6] WWF-Indonesia, “Konservasi Perairan Pulau Koon: Kearifan Lokal dan Kawasan Pemijahan Ikan,” wwf.id, 2018. [Online]. Tersedia: https://www.wwf.id/publikasi/konservasi-koon
[7] FDC IPB University, “Ekspedisi Zooxanthellae XVII di Pulau Gorom, Koon, dan Grogos, Kabupaten Seram Bagian Timur,” IPB University News, Okt. 2023. [Online]. Tersedia: https://ipb.ac.id/news/ekspedisi-zooxanthellae-xvii-fdc-ipb/
[8] Kemenparekraf RI, “Negeri Kataloka — Jejaring Desa Wisata,” Jadesta Kemenparekraf. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/kataloka