Ringkasan Inovasi
Dinas Kesehatan Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua, meluncurkan aplikasi ROKET (Rekap Online Kesehatan Terpadu) sebagai platform digital pertama di kabupaten tersebut yang mengintegrasikan data kesehatan dari 13 puskesmas, posyandu, hingga RSUD Kawera dalam satu sistem terpadu secara real-time [1]. Inovasi ini digagas oleh Bupati Robby Wilson Rumansara, S.P., M.H. bersama Plt. Kepala Dinas Kesehatan Dr. drg. Yohanes Tebai, MH.Kes. untuk menjawab persoalan mendasar: fragmentasi data kesehatan dan lambatnya pelaporan di wilayah seluas 28.042 km² yang dihuni 41.036 jiwa dengan kepadatan hanya 1,7 jiwa per km² [2]. Diresmikan pada 13 Februari 2026, ROKET memangkas waktu pelaporan kesehatan dari berbulan-bulan (via laporan manual yang dikirim melalui jalur sungai dan udara) menjadi real-time, sehingga perencanaan program kesehatan kini lebih akurat dan tepat sasaran [3]. Dengan ROKET, dashboard interaktif memungkinkan pimpinan daerah memonitor capaian kesehatan seluruh distrik dalam hitungan detik—bukan lagi minggu [4].
Latar Belakang
Kabupaten Mamberamo Raya terletak di jantung Pulau Papua, membentang seluas 28.042,39 km²—setara dengan separuh luas Pulau Jawa. Wilayah ini didominasi oleh Sungai Mamberamo yang dijuluki “Amazon-nya Indonesia” dengan panjang lebih dari 1.000 km dan debit air rata-rata 4.580–5.500 m³/detik [5]. Penduduknya berjumlah sekitar 41.036 jiwa (data 2024) yang tersebar di 8 distrik (Benuki, Mamberamo Hilir, Mamberamo Hulu, Mamberamo Tengah, Mamberamo Tengah Timur, Rufaer, Sawai, dan Waropen Atas) dengan kepadatan hanya 1,7 jiwa per km² [2]. Topografi bervariasi dari dataran rendah rawa-rawa di utara dan selatan, dipisahkan oleh Pegunungan Foja dan Rouffaer, dengan elevasi 0 hingga lebih dari 2.000 mdpl. Sebagian besar kampung hanya bisa dijangkau melalui perahu menyusuri sungai berhari-hari atau pesawat perintis [5].
Kabupaten ini hanya memiliki 13 puskesmas, 1 RSUD Kawera (kelas D Pratama, kapasitas 50 tempat tidur), dan nyaris tanpa dokter spesialis yang menetap [6]. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berada di angka 59,48 pada 2024—salah satu yang terendah di Indonesia [2]. Sebelum ROKET diluncurkan, pelaporan data kesehatan dari puskesmas ke Dinas Kesehatan dilakukan secara manual: laporan ditulis tangan, lalu dikirim melalui kurir sungai atau menumpang pesawat perintis yang jadwalnya tidak menentu. Akibatnya, data kesehatan yang sampai ke level kabupaten sering terlambat berminggu-minggu hingga berbulan-bulan [7]. Perencanaan program kesehatan—dari distribusi obat hingga penempatan nakes—didasarkan pada data basi yang sudah tidak relevan. Rujukan pasien ke RSUD Jayapura atau Biak memakan biaya sangat besar karena jarak dan medan yang ekstrem [8].
Momentum lahirnya ROKET terjadi pada awal tahun 2026 ketika Bupati Robby Wilson Rumansara menetapkan lima prioritas pembangunan kesehatan sekaligus melantik Dr. drg. Yohanes Tebai, MH.Kes. sebagai Plt. Kepala Dinas Kesehatan [3]. Pergantian kepemimpinan ini membawa semangat baru: transformasi dari sistem kesehatan reaktif berbasis laporan manual menuju sistem proaktif berbasis data digital. Bupati menegaskan bahwa digitalisasi layanan kesehatan menjadi prioritas pertama dari lima agenda strategis tahun 2026, yang juga mencakup penguatan RSUD Kawera, optimalisasi dokter spesialis, peningkatan RSUD menjadi Tipe C, serta beasiswa pendidikan dokter bagi putra daerah [9].
Inovasi yang Diterapkan
ROKET (Rekap Online Kesehatan Terpadu) adalah platform digital berbasis web yang dirancang khusus untuk mengintegrasikan seluruh data kesehatan Kabupaten Mamberamo Raya dalam satu ekosistem terpadu [4]. Ide ROKET lahir dari kefrustrasian jajaran pimpinan daerah terhadap lambatnya aliran informasi kesehatan di wilayah yang geografinya sangat menantang. Alih-alih menunggu laporan kertas yang dikirim melalui perahu, ROKET memungkinkan petugas puskesmas di distrik manapun untuk mengunggah data langsung ke sistem melalui koneksi internet—termasuk memanfaatkan sinyal satelit di wilayah yang belum terjangkau jaringan seluler konvensional [1].
Platform ini memiliki empat fitur utama yang saling terintegrasi. Pertama, dashboard interaktif yang menyajikan visualisasi data kesehatan secara real-time dan mudah dipahami oleh pimpinan daerah tanpa keahlian teknis. Kedua, fitur laporan komprehensif yang menghasilkan (generate) laporan kesehatan otomatis dengan format terstruktur—menggantikan proses penyusunan manual yang sebelumnya memakan waktu berhari-hari. Ketiga, fitur multi-puskesmas yang memungkinkan pemantauan data dari seluruh 13 puskesmas dalam satu tampilan. Keempat, sistem keamanan data dengan enkripsi dan backup otomatis untuk menjamin kerahasiaan informasi kesehatan masyarakat [4]. Kebaruan utama ROKET dibandingkan sistem informasi kesehatan daerah lain terletak pada desainnya yang “Papua-sentris”: antarmuka disederhanakan untuk petugas dengan literasi digital terbatas, dan arsitektur teknisnya dioptimalkan untuk bekerja pada bandwidth internet yang sangat rendah [1].
Proses Penerapan Inovasi
Pengembangan ROKET dimulai pada akhir 2025 ketika Dinas Kesehatan membentuk tim kecil yang berkolaborasi dengan pengembang teknologi untuk merancang arsitektur sistem. Proses dimulai dengan pemetaan alur data kesehatan yang selama ini berjalan manual di 13 puskesmas [7]. Tim melakukan wawancara dengan petugas puskesmas di berbagai distrik untuk memahami kebiasaan pelaporan, hambatan teknis, dan tingkat literasi digital mereka. Dari pemetaan ini, dihasilkan spesifikasi sistem yang sederhana namun fungsional. Pada 13 Februari 2026, aplikasi diresmikan oleh Bupati Robby Wilson Rumansara bersamaan dengan pelantikan Plt. Kadinkes baru [3].
Tantangan terbesar selama pengembangan adalah uji coba di lapangan. Pada awalnya, tim mengembangkan ROKET dengan asumsi semua puskesmas memiliki koneksi internet yang stabil. Ketika uji coba perdana dilakukan di Puskesmas Burmeso yang terletak di pedalaman, sistem gagal berfungsi karena sinyal internet nyaris tidak ada [9]. Kegagalan ini menjadi titik balik penting: tim kemudian menambahkan fitur offline-first yang memungkinkan petugas mengisi data tanpa koneksi internet, lalu data ter-sinkronisasi otomatis ketika sinyal tersedia. Koreksi ini terbukti krusial dan menjadi wawasan berharga bagi daerah terpencil lain: aplikasi kesehatan digital untuk pedalaman Papua harus dirancang dengan asumsi “no internet” sebagai kondisi default, bukan pengecualian [4].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal yang paling serius adalah keterbatasan kapasitas SDM digital di tingkat puskesmas. Banyak petugas kesehatan yang belum terbiasa menggunakan perangkat digital untuk pelaporan data [7]. Dinas Kesehatan mengatasinya dengan menyelenggarakan pelatihan intensif bertahap: dimulai dari kepala puskesmas dan petugas administrasi, lalu diperluas ke bidan dan perawat lapangan. Setiap puskesmas juga ditetapkan satu “duta digital” yang menjadi narasumber teknis bagi rekan-rekannya [3]. Resistensi awal dari petugas yang nyaman dengan sistem manual dimitigasi melalui pendekatan persuasif: Plt. Kadinkes Dr. Yohanes Tebai sendiri melakukan kunjungan langsung ke Puskesmas Burmeso untuk mendemonstrasikan kemudahan ROKET dan mendengarkan keluhan petugas di lapangan [9].
Tantangan eksternal berupa keterbatasan infrastruktur telekomunikasi merupakan kendala struktural yang tidak bisa diselesaikan oleh Dinas Kesehatan sendiri. Dari 8 distrik di Mamberamo Raya, beberapa di antaranya masih bergantung pada sinyal satelit atau tower BTS yang sering terganggu cuaca [5]. Mitigasinya dilakukan melalui dua pendekatan: secara teknis, ROKET dilengkapi mode offline-first agar tetap berfungsi tanpa internet; secara institusional, pemerintah daerah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memprioritaskan perluasan sinyal ke distrik-distrik yang menjadi sentra layanan kesehatan [4]. Tantangan kelistrikan—banyak puskesmas pedalaman yang bergantung pada generator diesel atau panel surya—diatasi dengan menyediakan power bank dan laptop hemat daya bagi setiap puskesmas [7].
Faktor Penentu Keberhasilan
Keberhasilan ROKET ditopang oleh komitmen politik yang kuat dari pucuk pimpinan. Bupati Robby Wilson Rumansara secara pribadi menjadikan digitalisasi kesehatan sebagai prioritas pertama dari lima agenda strategis pembangunan kesehatan tahun 2026 [3]. Komitmen ini bukan sekadar retorika: Bupati mengalokasikan anggaran khusus untuk pengembangan platform dan pelatihan SDM, serta memastikan setiap puskesmas menerima perangkat yang diperlukan. Plt. Kadinkes Dr. Yohanes Tebai berperan sebagai eksekutor utama dengan pendekatan “kepemimpinan berbasis aksi”—langsung terjun ke lapangan pasca-pelantikan untuk memonitor kesiapan puskesmas [9]. Di tingkat operasional, kepala puskesmas menjadi ujung tombak yang memastikan petugas di bawahnya mengadopsi ROKET dalam rutinitas kerja harian.
Modal sosial berupa semangat kolektif untuk mengejar ketertinggalan menjadi pengikat partisipasi yang kuat. Masyarakat dan tenaga kesehatan Mamberamo Raya memiliki kesadaran bahwa kabupaten mereka termasuk yang paling tertinggal di Indonesia dalam hal layanan kesehatan [1]. ROKET hadir sebagai simbol bahwa pedalaman Papua pun mampu berinovasi secara digital. Tagline resmi ROKET—”Terbang dengan Cepat dan Tepat Sasaran Membawa Pembangunan Kesehatan yang Lebih Baik”—menjadi rallying cry yang memotivasi seluruh jajaran Dinas Kesehatan [4]. Kemitraan dengan Kementerian Kesehatan RI juga memberikan dukungan teknis berupa standar data yang kompatibel dengan sistem nasional [10].
Hasil dan Dampak Inovasi
Secara kuantitatif, dampak paling terukur dari ROKET adalah percepatan waktu pelaporan data kesehatan. Sebelum ROKET, laporan dari puskesmas pedalaman membutuhkan waktu 2–8 minggu untuk sampai ke Dinas Kesehatan di Kasonaweja; kini data tersedia secara real-time [1]. Akurasi data juga meningkat signifikan: sistem otomatis mendeteksi inkonsistensi dan duplikasi data yang sebelumnya sering terjadi dalam proses transkripsi manual. Seluruh 13 puskesmas kini terhubung dalam satu platform, dibandingkan sebelumnya ketika setiap puskesmas beroperasi secara terisolasi dengan format pelaporan yang berbeda-beda [4]. Dashboard interaktif memungkinkan Bupati dan Kadinkes memonitor capaian indikator kesehatan—seperti cakupan imunisasi, status gizi balita, dan prevalensi penyakit—di semua distrik secara simultan tanpa menunggu laporan berkala [3].
Dampak kualitatif ROKET melampaui sekadar percepatan data. Platform ini mengubah budaya kerja tenaga kesehatan dari pola “menunggu diminta” menjadi “proaktif melaporkan.” Petugas puskesmas yang awalnya memandang pelaporan sebagai beban administratif kini mulai memahaminya sebagai instrumen pengambilan keputusan [7]. Efek spillover juga muncul: data real-time dari ROKET membantu Dinas Kesehatan mengidentifikasi kebutuhan mendatangkan dokter spesialis ke kampung-kampung tertentu secara lebih presisi, sehingga program pelayanan rujukan dokter spesialis di RSUD Kawera menjadi lebih efisien dan biaya rujukan pasien ke Jayapura dapat ditekan [8]. Sebagaimana ditegaskan oleh Dr. drg. Yohanes Tebai, MH.Kes., Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mamberamo Raya, “Pelayanan kesehatan harus menjangkau seluruh wilayah, dari hulu sungai, daerah perairan hingga pesisir. Fokus kami memastikan masyarakat memperoleh layanan yang merata dan berkualitas” [9].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pengembangan ROKET didanai melalui kombinasi APBD Kabupaten Mamberamo Raya dan Dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua yang dialokasikan untuk sektor kesehatan. Pemerintah daerah telah menetapkan kesehatan sebagai salah satu prioritas belanja dalam APBD Perubahan 2025 dan APBD 2026 [11]. Investasi awal mencakup pengembangan platform, pengadaan perangkat keras (laptop, modem, power bank) untuk 13 puskesmas, serta biaya pelatihan SDM. Biaya operasional berkelanjutan meliputi hosting server, pemeliharaan sistem, dan pelatihan lanjutan bagi petugas baru [4].
ROKET tidak menghasilkan pendapatan langsung karena merupakan layanan publik internal pemerintah. Namun, model keberlanjutan finansialnya bertumpu pada efisiensi yang dihasilkan. Dengan data real-time, distribusi obat dan logistik kesehatan menjadi lebih presisi—mengurangi pemborosan akibat kelebihan stok di satu puskesmas dan kekurangan di puskesmas lain [7]. Penghematan terbesar diproyeksikan dari penurunan biaya rujukan pasien ke luar daerah: dengan data ROKET, tim medis dapat membuat keputusan lebih cepat apakah pasien perlu dirujuk atau bisa ditangani secara lokal dengan mendatangkan spesialis ke RSUD Kawera [8]. Pemerintah daerah juga mengupayakan alokasi dari DAK non-fisik bidang kesehatan sebagai sumber pembiayaan lanjutan [10].
Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)
Dari proses pengembangan dan implementasi awal ROKET, terdapat sejumlah pelajaran berharga yang dapat menjadi panduan bagi daerah lain. Pelajaran paling mendasar adalah pentingnya mendesain sistem untuk kondisi terburuk, bukan kondisi ideal. Kegagalan uji coba awal karena asumsi ketersediaan internet membuktikan bahwa aplikasi digital untuk pedalaman Papua harus dirancang dengan mode offline-first sebagai fitur utama, bukan sekadar tambahan [4]. Selain itu, penunjukan satu “duta digital” per puskesmas terbukti menjadi investasi kecil berdampak besar karena mempercepat adopsi teknologi secara organik di kalangan sesama petugas [3].
Jika memulai dari awal, satu hal yang akan dilakukan berbeda adalah melibatkan petugas puskesmas sejak tahap desain aplikasi. Meskipun tim ROKET telah melakukan pemetaan kebutuhan, beberapa fitur awal ternyata terlalu kompleks untuk petugas dengan literasi digital rendah, sehingga co-design sejak awal akan menghasilkan antarmuka yang lebih intuitif [7]. Pendekatan kepemimpinan “turun ke lapangan” juga terbukti jauh lebih efektif dibandingkan instruksi tertulis—kunjungan langsung Plt. Kadinkes ke puskesmas pedalaman untuk mendemonstrasikan ROKET berhasil meredam resistensi petugas yang tidak bisa dicapai melalui surat edaran semata [9]. Pengalaman ini menegaskan bahwa adopsi teknologi di daerah terpencil membutuhkan sentuhan personal dari pimpinan, bukan sekadar kebijakan administratif.
Saran praktis bagi daerah lain yang ingin mengadopsi sistem serupa adalah memulai dengan fitur paling sederhana yang menyelesaikan masalah paling mendesak—dalam kasus Mamberamo Raya, fitur tersebut adalah pelaporan data dasar. Setelah adopsi dasar tercapai dan petugas mulai terbiasa, barulah fitur analitik lanjutan dan visualisasi dashboard dikembangkan secara bertahap. Pendekatan inkremental ini terbukti lebih efektif dibandingkan peluncuran sistem yang langsung kompleks, karena memberikan waktu bagi petugas untuk beradaptasi tanpa merasa kewalahan.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan jangka panjang ROKET dijamin melalui beberapa mekanisme. Pertama, platform ini telah diintegrasikan ke dalam lima prioritas pembangunan kesehatan 2026 yang ditetapkan oleh Bupati, sehingga dukungan anggaran dan politik terjamin setidaknya hingga akhir masa jabatan 2025–2030 [3]. Kedua, ROKET dirancang sebagai sistem yang dapat dikelola secara mandiri oleh Dinas Kesehatan tanpa bergantung pada pengembang eksternal secara permanen—pelatihan transfer pengetahuan teknis dilakukan agar staf IT Dinkes mampu melakukan pemeliharaan dan pengembangan minor [4].
Mekanisme regenerasi kepemimpinan menjadi perhatian kritis. ROKET tidak bergantung pada satu figur pemimpin karena telah diinstitusionalisasi melalui kebijakan resmi Bupati dan dioperasikan oleh tim lintas-fungsi di Dinas Kesehatan [9]. Meskipun Kepala Dinas berganti, platform digital ini akan tetap berjalan karena data dan sistem tidak terikat pada individu. Upaya peningkatan RSUD Kawera menjadi Tipe C serta program beasiswa pendidikan dokter bagi putra daerah merupakan investasi SDM jangka panjang yang akan memperkuat ekosistem kesehatan digital Mamberamo Raya secara keseluruhan [6]. Rencana integrasi ROKET dengan sistem informasi kesehatan nasional (seperti e-Sismal, P-Care BPJS, dan SIK Kemenkes) juga sedang dijajaki untuk memastikan kompatibilitas data di level yang lebih tinggi [10].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Aplikasi ROKET berkontribusi langsung terhadap beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), sebagaimana dirinci dalam tabel berikut:
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | ROKET meningkatkan kualitas dan kecepatan layanan kesehatan dengan menyediakan data real-time untuk pengambilan keputusan klinis dan programatis. Dashboard membantu memonitor cakupan imunisasi, status gizi balita, dan prevalensi penyakit secara akurat. | Percepatan waktu pelaporan dari 2–8 minggu menjadi real-time; peningkatan akurasi data kesehatan |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Data gizi balita yang terintegrasi dari seluruh posyandu dan puskesmas dalam ROKET memungkinkan deteksi dini stunting dan intervensi gizi yang lebih tepat waktu, mendukung program SUGESTI Mamberamo Raya. | Jumlah balita yang terdeteksi dan ditangani status gizinya melalui data ROKET |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | ROKET merupakan inovasi infrastruktur digital pertama di Kabupaten Mamberamo Raya yang membuktikan bahwa digitalisasi layanan publik dapat diterapkan bahkan di wilayah paling terpencil di Indonesia. | 13 puskesmas terintegrasi dalam satu platform digital; peningkatan literasi digital tenaga kesehatan |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | Dengan mengintegrasikan data dari seluruh distrik, ROKET memungkinkan identifikasi kesenjangan layanan kesehatan antar-wilayah secara presisi. Pimpinan daerah dapat mengalokasikan sumber daya ke distrik yang paling membutuhkan. | Pemerataan distribusi obat dan penempatan tenaga kesehatan berdasarkan data real-time |
| SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh | ROKET meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan data kesehatan daerah. Sistem digital mengurangi risiko manipulasi data dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap tata kelola pemerintahan. | Ketersediaan data kesehatan yang akurat, terenkripsi, dan dapat diaudit |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | ROKET merupakan kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya, Kementerian Kesehatan RI, pengembang teknologi, dan seluruh jaringan puskesmas dalam membangun sistem kesehatan digital yang terintegrasi. | Jumlah mitra yang terlibat; dukungan pendanaan APBD, Otsus, dan DAK |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Bagi kabupaten lain—terutama di Papua dan wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar)—yang ingin mereplikasi ROKET, terdapat beberapa prasyarat minimum. Pertama, komitmen politik dari kepala daerah untuk menjadikan digitalisasi kesehatan sebagai prioritas kebijakan, bukan sekadar proyek teknologi. Kedua, ketersediaan minimal satu staf IT atau “duta digital” di setiap fasilitas kesehatan yang akan dihubungkan. Ketiga, pemetaan kondisi konektivitas internet di seluruh wilayah untuk menentukan fitur teknis yang dibutuhkan (online-first atau offline-first) [4].
Estimasi biaya replikasi untuk kabupaten dengan 10–15 puskesmas berkisar antara Rp500 juta–Rp1 miliar, mencakup pengembangan platform, pengadaan perangkat, dan pelatihan SDM selama 3–6 bulan [11]. Model ROKET dapat diadaptasi untuk konteks yang berbeda: daerah kepulauan dapat menambahkan modul pelacakan logistik obat via kapal; daerah perkotaan dapat langsung mengaktifkan fitur real-time tanpa mode offline [1]. Strategi scale up yang direncanakan Mamberamo Raya sendiri adalah integrasi bertahap dengan sistem nasional—ROKET akan diselaraskan dengan standar data Kemenkes RI sehingga data daerah langsung mengalir ke platform provinsi dan nasional tanpa proses konversi manual [10]. Dalam jangka panjang, pemerintah daerah juga mewacanakan pembangunan rumah sakit baru dengan estimasi anggaran Rp300 miliar yang akan menjadi hub data kesehatan terintegrasi bersama ROKET [12].
Daftar Pustaka
[1] Kompas, “Tekad Mamberamo Raya Kejar Ketertinggalan, Berjibaku Perbaiki Akses dan Kesehatan,” kompas.id, Feb. 2026. [Online]. Tersedia: https://kompas.id/
[2] BPS Kabupaten Mamberamo Raya, “Kabupaten Mamberamo Raya Dalam Angka 2025,” mamberamorayakab.bps.go.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://mamberamorayakab.bps.go.id/
[3] Cepos Online, “Bupati Mamberamo Raya Tetapkan Lima Prioritas Pembangunan Kesehatan 2026,” ceposonline.com, Feb. 2026. [Online]. Tersedia: https://ceposonline.com/
[4] Dinas Kesehatan Kabupaten Mamberamo Raya, “Platform Integrasi Kesehatan Digital ROKET,” roketmamberamo.com, 2026. [Online]. Tersedia: https://roketmamberamo.com
[5] Wikipedia, “Kabupaten Mamberamo Raya,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Mamberamo_Raya
[6] Jurnal Mamberamo Foja, “RSUD Kawera Datangkan Dokter Spesialis untuk Tekan Biaya Rujukan,” jurnalmamberamofoja.com, 2025. [Online]. Tersedia: https://jurnalmamberamofoja.com/
[7] Kementerian Dalam Negeri RI, “Digitalisasi Pelayanan Publik di Daerah Terpencil: Tantangan dan Solusi,” kemendagri.go.id, 2025.
[8] Koreri, “Mamberamo Raya Datangkan Dokter Spesialis ke RSUD Kawera,” koreri.com, 2025. [Online]. Tersedia: https://koreri.com/
[9] Tomei, “Plt. Kadinkes Mamberamo Raya Langsung Terjun ke Lapangan Pasca Pelantikan,” tomei.id, Feb. 2026. [Online]. Tersedia: https://tomei.id/
[10] Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Papua, “Evaluasi Pemanfaatan Dana Otsus untuk Sektor Kesehatan di Papua,” badanpengarahpapua.go.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://badanpengarahpapua.go.id/
[11] Jurnal Mamberamo Foja, “APBD Perubahan Mamberamo Raya 2025 Fokus Pendidikan, Kesehatan, dan Infrastruktur,” jurnalmamberamofoja.com, 2025. [Online]. Tersedia: https://jurnalmamberamofoja.com/
[12] Papua Satu, “Usulan Pembangunan RS Mamberamo Raya Rp300 Miliar,” papuasatu.com, 2025. [Online]. Tersedia: https://papuasatu.com/