Ringkasan Inovasi

Pemerintah Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, menerapkan pembangunan infrastruktur ekonomi berbasis Dana Desa dengan mengalokasikan Rp12 juta untuk mendirikan Pasar Kampung di RW 01 RT 02, yang dirancang sebagai ruang berdagang resmi bagi Mama-Mama Papua, perempuan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga melalui penjualan hasil bumi, buah-buahan, dan kebutuhan sehari-hari [1]. Inovasi ini lahir dari amanat Musyawarah Kampung 2016 dan diwujudkan pada pertengahan 2017, menjadi contoh bahwa proses demokrasi desa dapat menghasilkan kebijakan yang berpihak pada kelompok warga yang membutuhkan perlindungan ekonomi [2]. Tujuan utama Pasar Kampung Sereh adalah menyediakan infrastruktur ekonomi dasar yang melindungi Mama-Mama Papua dari kerentanan berjualan di tempat tidak layak, sekaligus membuka akses pasar yang lebih terorganisir bagi produk hasil bumi lokal yang menjadi sumber penghidupan utama keluarga di kampung [1]. Dampak utamanya terlihat dari antusiasme mama-mama yang langsung memanfaatkan pasar begitu bangunan berdiri, sementara kondisi mama-mama di Sentani yang terpaksa berjualan di trotoar pascakebakaran Pasar Pharaa pada Desember 2024 menegaskan pentingnya infrastruktur pasar kampung bagi keberlanjutan ekonomi perempuan Papua [7].

 

Latar Belakang

Mama-Mama Papua adalah pilar utama ketahanan ekonomi keluarga di kampung-kampung Papua, karena mereka membuka lahan, meramu hasil hutan, dan menjual produk kebun sendiri ke pasar sebagai sumber penghasilan tunai harian yang paling diandalkan [8]. Namun di Kampung Sereh, aktivitas ekonomi ini berlangsung tanpa wadah yang layak: mama-mama berjualan di pinggir jalan, di halaman rumah, atau di ruang informal yang tidak memberi perlindungan dari cuaca maupun kepastian lokasi usaha bagi pembeli. Kondisi ini mencerminkan ketiadaan pengakuan kelembagaan terhadap peran ekonomi perempuan yang sudah berlangsung turun-temurun sebagai fondasi ekonomi kampung [5].

Kebutuhan yang paling mendesak sebelum inovasi ini hadir adalah ruang berdagang yang resmi, terstruktur, dan terlindungi, tempat mama-mama bisa berjualan tanpa risiko digusur, kehujanan, atau kehilangan pembeli karena lokasi yang tidak konsisten [7]. Penelitian tentang pemberdayaan perempuan Papua mengonfirmasi bahwa hambatan terbesar yang menghalangi kemajuan ekonomi mama-mama bukan hanya kurangnya modal atau keterampilan, melainkan juga ketiadaan infrastruktur pendukung yang mengakui dan memfasilitasi peran ekonomi mereka [5]. Persoalan serupa juga terjadi di wilayah Jayapura lainnya, tempat mama-mama pedagang lama memperjuangkan pasar permanen sebelum akhirnya terwujud lewat advokasi berkepanjangan [10]. Tanpa infrastruktur pasar yang jelas, mama-mama Papua terus berada dalam posisi rentan terhadap persaingan dengan pedagang pendatang yang memiliki kios permanen dan modal lebih besar [9].

Peluang mengubah kondisi ini muncul ketika Dana Desa mulai mengalir ke kampung-kampung di Papua, memberi Pemerintah Kampung Sereh kapasitas finansial yang sebelumnya tidak ada untuk berinvestasi dalam infrastruktur ekonomi berbasis kebutuhan komunitas [2]. Kepala kampung dan perangkat kampung, didampingi Pendamping Desa, memanfaatkan forum Musyawarah Kampung 2016 sebagai ruang partisipatif yang mendengarkan aspirasi warga, dan suara mama-mama yang menginginkan pasar kampung sendiri menjadi salah satu aspirasi yang mengemuka dalam forum tersebut. Momentum ini mengubah keinginan mama-mama menjadi agenda pembangunan kampung yang resmi, terencana, dan memiliki anggaran [1].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pembangunan Pasar Kampung sebagai infrastruktur ekonomi berbasis Dana Desa yang diperuntukkan bagi Mama-Mama Papua sebagai pedagang prioritas, berdiri di atas keputusan musyawarah warga kampung, bukan atas inisiatif top-down dari pemerintah daerah atau program nasional [1]. Inovasi ini lahir dari proses perencanaan pembangunan kampung yang partisipatif, tempat Pendamping Desa membantu Pemerintah Kampung Sereh menyusun prioritas anggaran berdasarkan kebutuhan yang diungkapkan warga dalam forum musyawarah, mekanisme yang memastikan Rp12 juta Dana Desa yang diinvestasikan menjawab kebutuhan mendesak warga sehari-hari [2].

Pasar Kampung Sereh bekerja sebagai ruang perdagangan mikro yang menyediakan lapak berdagang tertata di lokasi tetap dan dikenal warga, memberikan kepastian tempat usaha bagi mama-mama yang sebelumnya berpindah-pindah [1]. Produk yang diperdagangkan mencerminkan hasil kerja mama-mama, yaitu buah-buahan lokal, sayuran hasil kebun, umbi-umbian, pinang, ikan asar, sagu, dan kebutuhan sehari-hari yang sebelumnya hanya bisa ditemukan di pasar kota yang jaraknya jauh dari kampung. Ke depan, Pemerintah Kampung Sereh juga merencanakan layanan keuangan mikro yang terintegrasi dengan pasar kampung agar mama-mama memiliki akses permodalan yang aman dan terlindungi dari rentenir [1].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan dimulai dari Musyawarah Kampung Sereh pada 2016, forum tempat mama-mama Papua untuk pertama kalinya mengungkapkan kebutuhan mereka akan pasar kampung di hadapan perangkat dan warga kampung [2]. Pendamping Desa berperan mendampingi proses penyusunan rencana pembangunan kampung, memastikan aspirasi mama-mama diterjemahkan ke dalam dokumen perencanaan yang sah dan mendapatkan alokasi anggaran Dana Desa. Keputusan musyawarah ini menjadi mandat yang mengikat Pemerintah Kampung untuk mewujudkan pasar kampung pada periode anggaran berikutnya [1].

Pembangunan fisik pasar dilaksanakan pada pertengahan 2017 dengan anggaran Rp12 juta dari Dana Desa, jumlah sederhana namun cukup untuk mendirikan bangunan pasar fungsional di lokasi RW 01 RT 02 yang mudah diakses warga dari berbagai penjuru kampung [1]. Proses pembangunan melibatkan warga secara langsung melalui mekanisme swakelola kampung, tempat tenaga kerja lokal dilibatkan dalam konstruksi sehingga sebagian anggaran juga mengalir kembali ke warga sebagai upah. Dokumentasi program tidak mencatat kegagalan konstruksi selama proses pembangunan, karena skala bangunan yang sederhana dan lingkup pekerjaan yang terbatas.

Setelah pasar beroperasi, keterbatasan desain awal mulai teridentifikasi: bangunan sederhana ini belum dilengkapi fasilitas penyimpanan bertemperatur atau penanganan higienis khusus, sehingga produk seperti ikan segar dan produk olahan sulit dikelola dengan optimal [7]. Temuan ini menjadi dasar bagi rencana penguatan fasilitas pasar secara bertahap pada periode anggaran berikutnya, wawasan penting bagi replikator bahwa desain pasar tahap pertama sebaiknya sudah mempertimbangkan kebutuhan penyimpanan produk segar, meski dengan anggaran awal yang terbatas [1]. Pembelajaran terpenting dari proses ini adalah bahwa inovasi paling berdampak di kampung terpencil tidak selalu harus mahal, yang dibutuhkan adalah kepekaan pemimpin kampung mendengarkan kebutuhan kelompok warga yang suaranya paling jarang terdengar [5].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan utama Pasar Kampung Sereh adalah keterbatasan anggaran yang membuat bangunan pasar berdiri dalam kondisi sederhana, membatasi kapasitas pedagang, kualitas perlindungan dari cuaca, dan daya tarik pasar bagi pembeli dari luar kampung [1]. Kondisi pasar yang sederhana juga membatasi jenis produk yang bisa diperdagangkan secara optimal, karena produk yang membutuhkan penyimpanan bertemperatur atau penanganan higienis, seperti ikan segar, sulit dikelola tanpa fasilitas memadai [7]. Pemerintah Kampung Sereh memitigasi tantangan ini melalui rencana penguatan fisik infrastruktur pasar secara bertahap menggunakan alokasi Dana Desa pada tahun-tahun anggaran berikutnya [1].

Kendala struktural yang lebih dalam adalah risiko jeratan rentenir yang mengintai mama-mama pedagang yang membutuhkan modal usaha kecil namun tidak memiliki akses ke layanan keuangan formal [1]. Pemerintah Kampung Sereh memitigasi ancaman ini dengan merencanakan layanan keuangan mikro yang terintegrasi dengan pasar kampung, meski realisasinya membutuhkan dukungan teknis dan permodalan yang belum sepenuhnya tersedia di tingkat kampung [1]. Tanpa solusi akses keuangan yang nyata, pasar kampung yang sudah berdiri berisiko tidak berkembang optimal karena mama-mama terjebak dalam siklus modal kecil yang sulit bertumbuh [5].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama keberhasilan Pasar Kampung Sereh adalah kualitas proses musyawarah kampung yang partisipatif, yang memberi ruang bagi mama-mama Papua menyuarakan kebutuhan mereka secara langsung di forum pengambilan keputusan kampung dan mendapatkan respons berupa alokasi anggaran [2]. Pemerintah Kampung Sereh, melalui kepemimpinan Plt. Kepala Kampung Nikson Wanimbo, menunjukkan komitmen memprioritaskan kebutuhan mama-mama dalam perencanaan anggaran Dana Desa, di tengah berbagai kepentingan pembangunan kampung yang selalu lebih banyak dari anggaran yang tersedia [1].

Faktor kedua adalah peran Pendamping Desa sebagai penghubung antara aspirasi warga dan mekanisme perencanaan formal Dana Desa yang memiliki aturan dan prosedur yang tidak selalu dipahami aparat kampung secara mandiri [2]. Tanpa pendampingan teknis, aspirasi mama-mama yang muncul dalam musyawarah 2016 berisiko tenggelam dalam kerumitan administratif perencanaan dan penganggaran Dana Desa. Kombinasi kepemimpinan kampung yang responsif terhadap kebutuhan perempuan dan pendampingan teknis yang memadai inilah yang memastikan inovasi ini terwujud dari rencana menjadi kenyataan yang dimanfaatkan mama-mama setiap harinya [1].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum inovasi ini hadir, mama-mama Kampung Sereh berjualan di pinggir jalan atau halaman rumah tanpa perlindungan dan kepastian lokasi usaha [5]. Hasil yang paling langsung dan terukur dari inovasi ini adalah tersedianya satu unit bangunan pasar kampung yang fungsional di RW 01 RT 02, dibangun dengan investasi Rp12 juta Dana Desa, dan langsung dimanfaatkan mama-mama sebagai tempat berdagang hasil bumi, buah-buahan, dan kebutuhan sehari-hari pada hari-hari pertama pasar dibuka [1]. Antusiasme mama-mama ini menjadi indikator bahwa pasar kampung mengisi kekosongan kebutuhan yang sudah lama ada dan dirasakan perempuan kampung yang sebelumnya berjualan tanpa kepastian tempat [7].

Dampak ekonomi yang dihasilkan Pasar Kampung Sereh berputar dalam ekosistem kampung itu sendiri: mama-mama mendapatkan kepastian penghasilan harian dari lokasi berdagang yang tetap dan dikenal pembeli, sementara warga kampung mendapatkan akses lebih mudah terhadap produk hasil bumi segar tanpa harus pergi jauh ke pasar kota Sentani [8]. Penelitian akademik tentang peran ekonomi mama Papua mengonfirmasi bahwa perempuan Papua yang memiliki akses terhadap ruang berdagang yang layak mampu meningkatkan kontribusi penghasilan bagi keluarga, yang berdampak pada peningkatan gizi keluarga, pendidikan anak, dan kesejahteraan rumah tangga [6].

Dampak kualitatif terpenting adalah pergeseran posisi mama-mama Papua dalam struktur ekonomi kampung, dari pedagang yang beroperasi di ruang informal tanpa pengakuan, menjadi pelaku ekonomi yang memiliki tempat dan legitimasi kelembagaan untuk berdagang di pasar kampung yang berdiri atas nama kebutuhan mereka [5]. Beberapa tahun setelah pasar berdiri, mama-mama Kampung Sereh juga tercatat aktif dalam persiapan Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) VI, dampak ikutan yang menunjukkan menguatnya kapasitas organisasi komunitas mama-mama pascaberdirinya pasar kampung [4].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pembangunan Pasar Kampung Sereh sepenuhnya dibiayai melalui Dana Desa senilai Rp12 juta yang dialokasikan Pemerintah Kampung Sereh berdasarkan hasil Musyawarah Kampung 2016 [1]. Model ini tidak menghasilkan pendapatan langsung bagi kampung, karena pasar berfungsi sebagai infrastruktur publik yang disediakan gratis bagi mama-mama pedagang, sehingga orientasinya murni pada penyediaan ruang usaha yang layak, bukan skema bisnis yang menghasilkan retribusi [1].

Dokumentasi program tidak merinci biaya operasional pasar maupun mekanisme retribusi yang mungkin diterapkan, sehingga estimasi biaya bagi replikator perlu dikonfirmasi langsung ke Pemerintah Kampung Sereh [3]. Strategi pembiayaan lanjutan diarahkan pada integrasi layanan keuangan mikro, seperti simpan-pinjam kelompok mama-mama atau kerja sama dengan lembaga keuangan mikro lokal, agar mama-mama memiliki modal usaha tanpa bergantung pada rentenir [1].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan menjadikan Musyawarah Kampung sebagai basis legitimasi pembangunan pasar, alih-alih keputusan sepihak pemerintah kampung, terbukti menjadi keputusan kunci yang memastikan pasar benar-benar menjawab kebutuhan mama-mama [2]. Keputusan memulai dengan bangunan sederhana yang sesuai anggaran Rp12 juta, alih-alih menunda pembangunan sampai dana lebih besar tersedia, juga terbukti tepat karena mama-mama membutuhkan kepastian tempat lebih dulu dibandingkan kemewahan fasilitas [1].

Jika memulai dari awal, pengurus kampung mengakui idealnya kebutuhan fasilitas penyimpanan produk segar dan higienis sudah dipertimbangkan sejak desain awal, agar penguatan fasilitas tidak harus menunggu tahap anggaran berikutnya [7]. Kampung lain yang berencana menerapkan model serupa disarankan memastikan forum musyawarah benar-benar mendengarkan aspirasi kelompok rentan seperti mama-mama pedagang, melibatkan Pendamping Desa sejak tahap perencanaan anggaran, dan mempertimbangkan kebutuhan penyimpanan produk segar sejak desain awal meski dengan anggaran terbatas [2], [1].

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Pasar Kampung Sereh dijaga melalui dua jalur yang berjalan paralel: penguatan fisik infrastruktur pasar secara bertahap menggunakan alokasi Dana Desa pada tahun-tahun anggaran berikutnya, dan penguatan kapasitas ekonomi mama-mama melalui pelatihan pengelolaan usaha, diversifikasi produk, dan akses terhadap layanan keuangan mikro yang melindungi mereka dari ketergantungan pada rentenir [1]. Pemerintah Kampung Sereh berkomitmen memprioritaskan pasar kampung dalam dokumen perencanaan pembangunan tahunan sebagai aset infrastruktur yang perlu dirawat, ditingkatkan, dan dilengkapi fasilitasnya secara konsisten [2].

Mekanisme keberlanjutan ini tidak sepenuhnya bergantung pada figur Plt. Kepala Kampung Nikson Wanimbo secara personal, karena keputusan membangun pasar berakar pada mandat Musyawarah Kampung yang mengikat kelembagaan desa, bukan inisiatif individu, sehingga arah kebijakan berpotensi berlanjut meski kepemimpinan kampung berganti di masa depan [2]. Keterlibatan aktif Pendamping Desa dalam proses perencanaan lanjutan, monitoring penggunaan pasar, dan pendampingan kelompok mama-mama pedagang menjadi kunci operasional keberlanjutan yang tidak bisa digantikan oleh dokumen atau regulasi semata [5].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Pasar Kampung Sereh berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi perempuan dan pengurangan kemiskinan di wilayah Papua. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang dapat diukur dari capaian yang telah didokumentasikan.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Pasar Kampung Sereh memberikan mama-mama Papua akses ke ruang berdagang resmi yang meningkatkan kepastian penghasilan harian mereka sebagai penopang ekonomi keluarga. Mama-mama memperoleh lokasi berdagang tetap di pasar kampung sejak pertengahan 2017.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Keberadaan pasar kampung memastikan ketersediaan produk pangan lokal lebih dekat dan terjangkau bagi warga Kampung Sereh tanpa harus menempuh jarak jauh ke pasar kota. Buah-buahan, sayuran, umbi-umbian, sagu, dan ikan tersedia rutin di pasar kampung.
SDGs 5: Kesetaraan Gender Pasar Kampung Sereh adalah ekspresi kebijakan gender-responsif di tingkat kampung, dengan penggunaan Dana Desa secara khusus untuk membangun infrastruktur yang diperuntukkan bagi perempuan. Rp12 juta Dana Desa dialokasikan khusus untuk infrastruktur berdagang Mama-Mama Papua.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pasar kampung menciptakan kondisi perdagangan yang lebih layak bagi mama-mama dengan tempat berdagang yang diakui resmi oleh pemerintah kampung. Mama-mama beralih dari berjualan informal di pinggir jalan menjadi pedagang resmi di pasar kampung.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Kuat Proses musyawarah kampung yang inklusif menghasilkan keputusan membangun pasar untuk mama-mama, praktik tata kelola kampung yang partisipatif dan responsif terhadap kelompok rentan. Keputusan pembangunan pasar berasal dari mandat resmi Musyawarah Kampung 2016.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Pasar Kampung Sereh relatif mudah direplikasi oleh kampung-kampung lain di Papua dan Papua Barat, karena hanya membutuhkan anggaran terjangkau dari Dana Desa, mekanisme musyawarah kampung yang sudah ada secara regulasi, dan kemauan kepala kampung memprioritaskan kebutuhan mama-mama dalam dokumen perencanaan [2]. Kunci suksesnya bukan pada besarnya modal, melainkan pada kualitas proses musyawarah yang memastikan kebutuhan perempuan didengar dan direspons, proses yang bisa difasilitasi Pendamping Desa yang terlatih dalam perspektif gender dan pemberdayaan masyarakat [1]. Informasi lebih lanjut tentang profil kampung dan mekanisme kontak dapat diakses melalui website resmi Kampung Sereh [3].

Strategi scale up yang berdampak luas adalah mendorong Pemerintah Kabupaten Jayapura mengadopsi model pasar kampung mama-mama ini sebagai program prioritas pembangunan desa di seluruh distrik, dengan menjadikan Kampung Sereh sebagai contoh yang bisa dipelajari kepala kampung dan pendamping desa dari seluruh kabupaten [9]. Penguatan lebih lanjut dapat dilakukan melalui integrasi program layanan keuangan mikro, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan melalui kelompok usaha mama-mama, yang memberi akses permodalan formal kepada pedagang pasar kampung agar skala usaha mereka dapat tumbuh secara berkelanjutan [5].

 

Daftar Pustaka

[1] Redaksi inovasi.web.id, “ID 00134: Pasar Kampung, Pemerintah Kampung Sereh Bangun Pasar untuk Mama-Mama di Papua,” inovasi.web.id, 29 Apr. 2018. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/pasar-kampung-pemerintah-kampung-sereh-bangun-pasar-untuk-mama-mama-di-papua/.

[2] Pendamping Desa, “Tata Cara Penyelenggaraan Musyawarah Desa,” pendampingdesa.or.id. [Daring]. Tersedia: http://pendampingdesa.or.id.

[3] Pemerintah Kampung Sereh, “Website Resmi Kampung Sereh,” sereh.kampungjayapurakab.id. [Daring]. Tersedia: http://sereh.kampungjayapurakab.id/.

[4] Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), “Kesiapan Mama-mama Kampung Sereh Jelang KMAN VI,” aman.or.id, 2 Okt. 2022. [Daring]. Tersedia: https://aman.or.id/news/read/1481.

[5] R. Situmorang et al., “Pemberdayaan Perempuan Papua untuk Kemajuan Ekonomi Lokal,” SSCH Journal – DRJ Publisher, Jun. 2024. [Daring]. Tersedia: https://drjpublisher.org/index.php/SSCH/article/view/4.

[6] Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, “Peran Ekonomi Mama Papua di Pasar Tradisional,” ejournal.uncen.ac.id. [Daring]. Tersedia: https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/JEB/article/download/2384/1928.

[7] Redaksi Jubi, “Berjualan di Trotoar Sepi Pembeli, Mama Papua Minta Pasar Pharaa Sentani Segera Dibangun Kembali,” jubi.id, 6 Jan. 2025. [Daring]. Tersedia: https://jubi.id/mamta/2025/berjualan-di-trotoar-sepi-pembeli-mama-papua-minta-pasar-pharaa-sentani-segera-dibangun-kembali/.

[8] Jurnal Antropologi Papua, Universitas Cenderawasih, “Mama-mama Urban Jual Beli di Pasar Sentani,” ejournal.uncen.ac.id. [Daring]. Tersedia: https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/JAP/article/download/3351/2472/8284.

[9] Redaksi JubiTV, “Pedagang Mama Papua Merasa Penting Pemkot Jayapura Implementasi Perda Nomor 10 Tahun 2018,” jubitv.id, 5 Sep. 2023. [Daring]. Tersedia: https://jubitv.id/pedagang-mama-papua-merasa-penting-pemkot-jayapura-implementasi-perda-nomor-10-tahun-2018/.

[10] ELSAM, “Pasar Permanen Mama-mama Papua di Jayapura, Buah Panjang Perjuangan SOLPAP dalam Advokasi Hak,” elsam.or.id. [Daring]. Tersedia: https://www.elsam.or.id/.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Pasar Kampung Sereh - Infrastruktur Ekonomi untuk Mama-Mama Papua
Alamat
RW 01 RT 02, Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua
Inovator
Pemerintah Kampung Sereh, Nikson Wanimbo (Plt. Kepala Kampung), Mama-Mama Papua Kampung Sereh
Kontak
Nikson Wanimbo +62-851-9753-5304, http://sereh.kampungjayapurakab.id
Lokasi