Ringkasan Inovasi

Kampung Nanggouw di Distrik Sausapor, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya, mentransformasi kekayaan alam dan kearifan lokal masyarakat adat menjadi destinasi ekowisata birdwatching yang diakui secara nasional. Inovasi ini digerakkan oleh Yulianus Yekwam bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Nanggouw dan Pemerintah Kabupaten Tambrauw, mengintegrasikan pengamatan burung cenderawasih di Gunung Toweu, eksplorasi Kali Suan dan Danau Runbom, serta keindahan Pantai Nanggouw ke dalam satu ekosistem wisata terpadu [1]. Permasalahan utama yang diselesaikan adalah keterisolasian ekonomi, ancaman kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim, serta tekanan terhadap habitat satwa endemik. Keberhasilan inovasi ini ditandai dengan masuknya Desa Wisata Nanggaouw Bird Watching ke dalam 500 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 [2][3].

Latar Belakang

Kampung Nanggouw terletak di pedalaman Distrik Sausapor, Kabupaten Tambrauw, sebuah kabupaten yang memproklamirkan diri sebagai kabupaten konservasi di Provinsi Papua Barat Daya [4]. Wilayah ini dikelilingi hamparan hutan tropis lebat dengan topografi berbukit yang membentang dari pegunungan hingga pesisir pantai. Masyarakat asli Tambrauw yang bermukim di kampung ini berjumlah sekitar beberapa ratus jiwa, masih memegang adat istiadat dan pola pengelolaan sumber daya alam secara tradisional. Hamparan hutan, pantai, dan sungai menyimpan biota endemik yang hidup liar di dalamnya, mulai dari burung cenderawasih, rusa, kanguru pohon, hingga penyu [2].

 

Di balik keindahan tersebut, masyarakat Kampung Nanggouw menghadapi tantangan serius berupa ancaman perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang mengancam fondasi penghidupan mereka. Yulianus Yekwam, tokoh masyarakat berusia sekitar 70 tahun, merasakan langsung dampak perubahan iklim berupa suhu yang lebih panas dari biasanya ketika musim kemarau [5]. Pengalaman pahit kemarau panjang enam bulan pada 1982 membekas dalam ingatannya — kebun masyarakat mengalami kekeringan hingga gagal panen, air sungai mengering, dan sejumlah burung mati. Kekhawatirannya terbukti ketika pada September 2023 lahan kebun seorang warga di pegunungan terbakar, mengingatkan seluruh masyarakat bahwa ancaman iklim bukan dongeng masa lalu.

 

Tekanan terhadap habitat satwa endemik dan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar menambah urgensi perlindungan ekosistem. Potensi ekowisata birdwatching di kawasan ini belum tergarap optimal meskipun wisatawan sudah mulai berdatangan secara sporadis untuk mengamati tarian cenderawasih [6]. Keterisolasian ekonomi yang membuat masyarakat sepenuhnya bergantung pada pertanian subsisten dan penangkapan ikan tradisional, serta minimnya kapasitas mengelola pariwisata, menjadi celah peluang yang menunggu ditangkap. Momentum perubahan datang ketika Pemerintah Kabupaten Tambrauw menegaskan komitmen konservasi dan kolaborasi dengan WWF-Indonesia membuka jalan bagi masyarakat untuk mengonversi kekayaan alam menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi ekowisata birdwatching Kampung Nanggouw lahir dari pertemuan antara kearifan lokal masyarakat adat Tambrauw dan kebutuhan konservasi habitat cenderawasih. Gagasan ini tidak muncul secara instan, melainkan tumbuh dari kesadaran kolektif yang diperkuat oleh kolaborasi dengan WWF-Indonesia Program Papua dan dukungan Pemerintah Kabupaten Tambrauw [5]. Yulianus Yekwam mengamati bahwa wisatawan sudah datang mencari cenderawasih, tetapi tidak ada struktur pengelolaan yang bisa menangkap nilai ekonomi dari kunjungan tersebut. Dari pengamatan itulah lahir konsep menggabungkan empat destinasi unggulan dalam satu paket ekowisata terpadu: menjelajahi Gunung Toweu untuk melihat tarian burung cenderawasih, menyusuri Kali Suan dan Danau Runbom yang dihuni ikan, kura-kura, dan soa-soa, serta mengakhiri perjalanan dengan menikmati panorama Pantai Nanggouw [1].

 

Elemen pembeda utama inovasi ini terletak pada integrasinya dengan kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Warabiai berkapasitas 1,6 MW yang diresmikan pada 2018 dan dikelola oleh BUMD PT Tambrauw Bersinar Abadi [7][8]. Proyek perancangan kawasan wisata birdwatching di sekitar PLTMH ini mengusung pendekatan pariwisata berkelanjutan yang memadukan konservasi alam, edukasi energi terbarukan, dan pemberdayaan komunitas lokal [9]. Wisatawan tidak hanya mengamati burung, tetapi juga belajar tentang pemanfaatan energi bersih dan kearifan lokal masyarakat Tambrauw dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Pendekatan Community Based Tourism yang diterapkan membedakan Nanggouw dari destinasi birdwatching konvensional yang biasanya dikelola oleh operator wisata dari luar.

 

Proses Penerapan Inovasi

Tahap pertama penerapan inovasi dimulai dengan pembentukan kesadaran kolektif masyarakat terhadap potensi ekowisata yang dimiliki kampung mereka. Yulianus Yekwam berperan sebagai penghubung antara pemangku kebijakan pemerintah Kabupaten Tambrauw dengan lembaga masyarakat sipil seperti WWF-Indonesia dan Flora Fauna Indonesia [5]. Ia menginisiasi serangkaian aturan kampung yang menjadi landasan pengelolaan ekowisata, di antaranya larangan penebangan hutan di sepanjang aliran sungai, himbauan penanaman bambu dan tanaman jangka panjang seperti rambutan, durian, dan matoa, serta pemasangan papan larangan penangkapan penyu dan penggunaan jaring ikan di sungai kampung.

 

Tahap kedua adalah penguatan kapasitas masyarakat melalui kolaborasi dengan WWF-Indonesia Program Papua. Kegiatan Pengkajian Risiko Iklim yang berlangsung pada 25 September hingga 13 Oktober 2023 menjadi momentum penting yang membangun pemahaman masyarakat tentang hubungan antara pelestarian lingkungan, adaptasi perubahan iklim, dan potensi ekonomi ekowisata [4]. Pelatihan solusi berbasis alam (Nature-based Solutions) dan adaptasi berbasis ekosistem (Ecosystem-based Adaptation) diberikan kepada kelompok masyarakat, termasuk penguatan Pokdarwis untuk mengelola destinasi wisata secara berkelanjutan. Kelompok usaha Toweuw Kampung Nanggouw juga dibentuk untuk mengolah hasil hutan bukan kayu menjadi produk kerajinan tangan seperti tas anyaman yang dijual kepada wisatawan [10].

 

Pada percobaan awal penyelenggaraan paket ekowisata multi-destinasi, pengelola menghadapi kegagalan dalam mengatur durasi kunjungan yang realistis bagi wisatawan. Paket awal dirancang mencakup empat destinasi (Gunung Toweu, Kali Suan, Danau Runbom, dan Pantai Nanggouw) dalam satu hari, tetapi kondisi medan hutan tropis yang berat dan waktu pengamatan cenderawasih yang tidak bisa diprediksi membuat wisatawan kelelahan dan melewatkan destinasi terakhir. Kegagalan ini mendorong pengelola untuk merevisi paket menjadi format multi-hari dengan prioritas fleksibel — pengamatan cenderawasih di pagi buta sebagai agenda utama, sementara destinasi lain dijadwalkan sesuai kondisi cuaca dan stamina wisatawan. Tahap ketiga berfokus pada pengembangan infrastruktur dan pemasaran destinasi, termasuk pembangunan homestay (Dominggas Homestay), jalur tracking, dan pendaftaran di platform Jadesta yang membuka akses pemasaran digital nasional [1][2].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal terberat adalah keterbatasan sumber daya manusia di bidang manajemen pariwisata dan literasi digital. Mayoritas penduduk Kampung Nanggouw berprofesi sebagai petani dan nelayan tradisional yang belum berpengalaman melayani wisatawan, apalagi wisatawan mancanegara yang membutuhkan komunikasi dalam bahasa Inggris. Keterbatasan fasilitas dasar seperti jalur tracking yang terstandarisasi dan papan informasi multibahasa turut mengurangi kenyamanan pengunjung [11]. Mitigasi yang ditempuh adalah penyelenggaraan pelatihan pemandu ekowisata lokal oleh WWF-Indonesia dan pendampingan dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang mencakup keterampilan komunikasi dasar, standar keselamatan wisatawan di medan hutan, dan pengenalan pemasaran digital melalui platform Jadesta [9].

 

Tantangan eksternal berupa aksesibilitas menjadi hambatan utama yang membatasi jumlah wisatawan. Perjalanan menuju Kampung Nanggouw membutuhkan waktu yang cukup panjang melalui medan yang menantang, dan jaringan telekomunikasi yang tidak stabil mengurangi kemampuan promosi digital serta kenyamanan wisatawan. Mitigasi dilakukan melalui advokasi kepada pemerintah kabupaten untuk peningkatan akses jalan dan konektivitas telekomunikasi, serta pemanfaatan platform Jadesta dan media sosial sebagai saluran pemasaran utama yang dapat diakses wisatawan sebelum keberangkatan [1].

 

Ancaman perubahan iklim yang semakin nyata — sebagaimana dibuktikan oleh kebakaran lahan pada September 2023 — menghadirkan risiko terhadap keberlangsungan ekosistem yang menjadi fondasi ekowisata [4]. Tekanan dari aktivitas ekonomi konvensional seperti pembukaan lahan dengan cara membakar dan penangkapan satwa secara ilegal tetap memerlukan pengawasan konsisten. Mitigasi yang ditempuh adalah penerapan aturan kampung yang diinisiasi Yulianus Yekwam — melarang penebangan hutan di sepanjang aliran sungai, mewajibkan penanaman tanaman jangka panjang, dan memasang papan larangan di area konservasi — yang diperkuat oleh Kegiatan Pengkajian Risiko Iklim bersama WWF-Indonesia untuk membangun kapasitas masyarakat dalam adaptasi berbasis ekosistem [5].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Kepemimpinan visioner Yulianus Yekwam menjadi faktor penentu utama yang menggerakkan seluruh komponen masyarakat. Laki-laki berusia sekitar 70 tahun ini tidak hanya menyadarkan warga tentang ancaman perubahan iklim, tetapi juga menerjemahkan kesadaran tersebut menjadi aksi nyata berupa aturan kampung dan inisiatif konservasi [5]. Kemampuannya menjadi jembatan antara masyarakat, pemerintah kabupaten, dan lembaga internasional memastikan bahwa aspirasi warga kampung tersalurkan secara efektif. Semangat Yulianus dalam membangun pemahaman dan kesadaran masyarakat menjadi modal sosial yang tidak ternilai bagi keberlangsungan inovasi.

 

Kolaborasi multipihak antara masyarakat adat, Pemerintah Kabupaten Tambrauw, WWF-Indonesia, Flora Fauna Indonesia, serta Universitas Atma Jaya Yogyakarta memperkuat fondasi inovasi dari berbagai sisi [9]. Status Tambrauw sebagai kabupaten konservasi memberikan payung kebijakan yang kondusif bagi pengembangan ekowisata berbasis pelestarian alam. Modal sosial berupa kearifan lokal masyarakat adat dalam mengelola sumber daya alam — termasuk sistem kalender musim untuk bercocok tanam yang telah teruji berabad-abad — menjadi fondasi pengelolaan wisata yang menghormati keseimbangan ekosistem. Budaya gotong royong masyarakat adat Tambrauw memastikan bahwa setiap warga merasa menjadi bagian dari inisiatif bersama, bukan sekadar penonton program dari luar.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum inovasi ekowisata diterapkan, masyarakat Kampung Nanggouw sepenuhnya bergantung pada pertanian subsisten dan penangkapan ikan tradisional dengan penghasilan yang tidak menentu. Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar masih lazim dilakukan, ancaman terhadap habitat satwa endemik terus meningkat, dan wisatawan yang datang secara sporadis tidak menemukan infrastruktur maupun layanan pengelolaan wisata. Setelah ekosistem ekowisata birdwatching terbentuk, perubahan paling signifikan terlihat pada perilaku masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan. Warga yang sebelumnya membuka lahan dengan membakar kini menerapkan sistem kalender musim — saat musim panas masyarakat memanen hasil kebun, dan pada musim pancaroba mereka menggarap kebun untuk ditanami kembali [5]. Pemasangan papan larangan di lokasi rawan longsor dan larangan penangkapan penyu memberikan perlindungan konkret bagi ekosistem kampung.

 

Secara ekonomi, hadirnya wisatawan birdwatching menciptakan sumber pendapatan alternatif yang sebelumnya tidak ada. Pengelolaan homestay Dominggas, jasa pemandu ekowisata lokal, dan penjualan kerajinan anyaman oleh kelompok usaha Toweuw memberikan penghasilan tambahan yang lebih stabil di luar hasil pertanian dan tangkapan ikan [10]. Masuknya Kampung Nanggouw ke dalam 500 Besar ADWI 2024 meningkatkan eksposur nasional secara signifikan, membuka peluang mendatangkan lebih banyak wisatawan dan mitra potensial di masa mendatang [2].

 

Dampak sosial-budaya yang tidak kalah penting adalah penguatan identitas masyarakat adat Tambrauw. Generasi muda yang terlibat sebagai pemandu wisata memperoleh keterampilan baru tanpa mengikis tradisi dan kearifan lokal. Kesadaran masyarakat untuk menjaga hutan di sepanjang aliran sungai memastikan keberlanjutan habitat satwa endemik yang menjadi daya tarik utama ekowisata. Dampak spillover yang tidak direncanakan sebelumnya adalah meningkatnya minat distrik-distrik lain di Tambrauw untuk mengembangkan model ekowisata serupa setelah menyaksikan pengakuan nasional yang diraih Nanggouw [12].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Sumber pendanaan awal pengembangan ekowisata Kampung Nanggouw berasal dari kombinasi swadaya masyarakat, fasilitasi Pemerintah Kabupaten Tambrauw, dan dukungan teknis serta finansial dari WWF-Indonesia Program Papua melalui program Pengkajian Risiko Iklim dan pelatihan adaptasi berbasis ekosistem [4]. Pembangunan infrastruktur kawasan PLTMH Warabiai berkapasitas 1,6 MW yang mendukung ekosistem ekowisata didanai melalui anggaran pemerintah pusat dan dikelola oleh BUMD PT Tambrauw Bersinar Abadi [7][8]. Pendampingan akademis dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta untuk perancangan kawasan wisata diperoleh melalui skema kerja sama perguruan tinggi yang tidak membebankan biaya kepada masyarakat [9].

 

Model bisnis ekowisata Kampung Nanggouw beroperasi melalui pendapatan yang tersebar di berbagai lini rantai nilai pariwisata. Sumber pendapatan utama meliputi biaya pemanduan ekowisata birdwatching dan jungle tracking, tarif penginapan di Dominggas Homestay, serta penjualan kerajinan anyaman oleh kelompok usaha Toweuw [10]. Pendaftaran di platform Jadesta Kemenparekraf memberikan akses promosi nasional secara cuma-cuma yang setara dengan biaya pemasaran besar jika dilakukan secara mandiri. Mekanisme distribusi manfaat dirancang agar pendapatan wisata mengalir langsung ke masyarakat pelaku — pemandu, pengelola homestay, dan pengrajin — sehingga seluruh warga yang terlibat memperoleh manfaat ekonomi secara proporsional.

 

Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)

Keputusan paling tepat yang diambil dalam pengembangan ekowisata Nanggouw adalah memulai dengan pembentukan aturan konservasi kampung terlebih dahulu sebelum mengundang wisatawan. Aturan larangan penebangan hutan, larangan penangkapan penyu, dan kewajiban menanam tanaman jangka panjang yang diinisiasi Yulianus Yekwam memastikan bahwa fondasi kelestarian ekosistem sudah kokoh sebelum aktivitas wisata dimulai [5]. Keputusan kunci lainnya adalah merangkul kolaborasi dengan lembaga internasional (WWF-Indonesia) dan akademisi (UAJY) sejak tahap awal, karena kapasitas masyarakat dalam mengelola pariwisata profesional masih sangat terbatas dan membutuhkan pendampingan intensif.

 

Jika memulai dari awal, pengelola mengakui bahwa perencanaan durasi dan format paket wisata seharusnya diuji coba secara internal terlebih dahulu sebelum ditawarkan kepada wisatawan. Pengalaman paket satu hari yang terlalu padat di medan hutan tropis bisa dihindari jika simulasi perjalanan dilakukan bersama warga sebelum peluncuran. Selain itu, pelatihan bahasa Inggris dasar bagi pemandu wisata idealnya dimulai lebih awal mengingat target wisatawan birdwatching internasional yang menjadi segmen pasar utama.

 

Saran praktis bagi kampung lain yang ingin menerapkan inovasi serupa mencakup tiga hal pokok. Pertama, pastikan ada minimal satu tokoh lokal yang dipercaya masyarakat dan mampu menjadi jembatan antara komunitas, pemerintah, dan lembaga pendamping — tanpa figur ini, koordinasi akan sangat sulit di wilayah terpencil. Kedua, bangun aturan konservasi yang mengikat sebelum membuka destinasi wisata, karena tanpa perlindungan ekosistem maka daya tarik utama ekowisata akan cepat rusak. Ketiga, daftarkan destinasi di platform Jadesta Kemenparekraf sedini mungkin untuk mendapatkan akses promosi dan pendampingan nasional tanpa biaya besar [1].

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Strategi keberlanjutan jangka panjang dirancang melalui penguatan kelembagaan Pokdarwis dan kaderisasi pemuda kampung sebagai pengelola ekowisata generasi berikutnya. Pendekatan adaptasi berbasis ekosistem yang telah diperkenalkan oleh WWF-Indonesia menjadi kerangka kerja untuk memastikan aktivitas wisata tidak melampaui daya dukung lingkungan [4]. Aturan kampung yang diinisiasi Yulianus Yekwam akan diinstitusionalisasikan sebagai peraturan adat yang mengikat seluruh warga, sehingga keberlanjutan konservasi tidak bergantung pada keberadaan satu figur pemimpin.

 

Mekanisme regenerasi kepemimpinan disiapkan melalui pelibatan aktif generasi muda kampung dalam kepengurusan Pokdarwis dan kegiatan pemanduan wisata. Pemuda yang telah mengikuti pelatihan dari WWF-Indonesia dan pendampingan dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta disiapkan sebagai calon pengelola berikutnya [9]. Dokumentasi aturan kampung dan prosedur pengelolaan ekowisata memungkinkan transfer pengetahuan yang terstruktur antar generasi. Kearifan lokal masyarakat adat yang telah mengakar selama berabad-abad menjadi fondasi keberlanjutan yang lebih kuat dibandingkan ketergantungan pada satu individu — ketika Yulianus Yekwam kelak tidak lagi aktif, nilai-nilai konservasi yang sudah ditanamkan akan terus hidup melalui aturan adat dan praktik komunal.

 

Rencana pendapatan mandiri jangka panjang mencakup diversifikasi produk wisata yang mengintegrasikan kawasan PLTMH Warabiai sebagai destinasi edukasi energi terbarukan. Paket ekowisata multi-hari yang menggabungkan birdwatching, jungle tracking, eksplorasi sungai, wisata pantai, dan pengalaman budaya masyarakat adat bertujuan meningkatkan lama tinggal dan belanja wisatawan [9]. Kemitraan berkelanjutan dengan WWF-Indonesia, Flora Fauna Indonesia, dan lembaga pendidikan tinggi memastikan pendampingan teknis berlanjut. Pemanfaatan platform digital Jadesta dan media sosial akan memperluas jangkauan pemasaran tanpa bergantung pada anggaran pemerintah, sementara peran Tambrauw sebagai kabupaten konservasi menjadi keunggulan kompetitif yang membedakannya dari destinasi wisata konvensional.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi ekowisata birdwatching Kampung Nanggouw berkontribusi pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) secara simultan. Dengan memadukan konservasi alam, adaptasi perubahan iklim, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat adat, ekowisata ini menciptakan dampak multidimensi yang melampaui sektor pariwisata semata. Kontribusi tersebut terangkum dalam tabel berikut.

 

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Pengembangan ekowisata birdwatching menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat kampung yang sebelumnya bergantung sepenuhnya pada pertanian subsisten dan penangkapan ikan tradisional. Pengelolaan homestay, jasa pemandu wisata, dan penjualan kerajinan anyaman memberikan penghasilan yang lebih stabil dan terukur. Terciptanya lapangan kerja baru di sektor ekowisata: pemandu, pengelola homestay, pengrajin anyaman kelompok Toweuw
SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau Integrasi kawasan ekowisata dengan PLTMH Warabiai berkapasitas 1,6 MW menjadi contoh pemanfaatan energi terbarukan yang mendukung aktivitas pariwisata dan kebutuhan listrik masyarakat. Kampung Nanggouw menjadi showcase harmoni antara energi bersih dan konservasi alam. PLTMH Warabiai 1,6 MW aktif beroperasi mendukung kawasan ekowisata dan kebutuhan listrik masyarakat
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Ekosistem ekowisata terpadu yang melibatkan empat destinasi unggulan menggerakkan roda ekonomi kampung melalui belanja wisatawan dan jasa pendukung pariwisata. Kelompok usaha Toweuw mengolah hasil hutan bukan kayu menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Masuk 500 Besar ADWI 2024; pembentukan kelompok usaha Toweuw; peningkatan kunjungan wisatawan
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim Kegiatan Pengkajian Risiko Iklim bersama WWF-Indonesia membangun kapasitas masyarakat dalam adaptasi perubahan iklim. Aturan kampung yang melarang pembakaran lahan dan mewajibkan penanaman tanaman jangka panjang di sepanjang aliran sungai menjadi aksi mitigasi yang konkret. Pelatihan adaptasi iklim oleh WWF-Indonesia (Sep–Okt 2023); penerapan aturan kampung anti-pembakaran lahan
SDGs 15: Ekosistem Daratan Perlindungan habitat cenderawasih, penyu, kanguru pohon, dan fauna endemik lainnya menjadi prioritas utama inovasi ekowisata. Larangan penebangan hutan, larangan penangkapan penyu, dan penanaman bambu di sekitar aliran sungai memastikan kelestarian ekosistem daratan kampung. Pemasangan papan larangan di area konservasi; aturan adat perlindungan satwa endemik; terjaganya habitat cenderawasih
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi multipihak antara masyarakat adat, Pemerintah Kabupaten Tambrauw, WWF-Indonesia, Flora Fauna Indonesia, dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta menjadi model kemitraan efektif dalam pengembangan ekowisata berbasis konservasi di wilayah terpencil. Kemitraan aktif dengan WWF-Indonesia, FFI, UAJY, dan Pemerintah Kabupaten Tambrauw; terdaftar di platform Jadesta

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model ekowisata birdwatching Kampung Nanggouw memiliki potensi replikasi yang tinggi di wilayah-wilayah lain di Kabupaten Tambrauw dan Papua Barat Daya yang memiliki kekayaan biodiversitas serupa. Prasyarat minimum untuk mereplikasi model ini mencakup tiga hal: keberadaan habitat satwa endemik yang memiliki daya tarik bagi wisatawan pengamat burung, komitmen masyarakat adat untuk menjaga kelestarian ekosistem melalui aturan adat yang mengikat, serta dukungan kelembagaan dari pemerintah dan lembaga pendamping. Distrik-distrik lain di Tambrauw seperti Kebar, Senopi, dan Miyah yang juga memiliki habitat cenderawasih dapat mengadopsi model serupa dengan penyesuaian konteks lokal [12]. Estimasi biaya replikasi bergantung pada kondisi infrastruktur dasar yang sudah ada, dengan durasi persiapan dari pembentukan aturan konservasi hingga operasional perdana diperkirakan sekitar enam hingga dua belas bulan.

 

Model adaptasi dapat disesuaikan dengan potensi fauna dan flora endemik masing-masing wilayah. Kampung yang memiliki habitat penyu dapat mengembangkan ekowisata konservasi penyu, sementara kampung di pesisir dengan terumbu karang dapat mengintegrasikan diving dan snorkeling dalam paket wisata berbasis konservasi. Kunci replikasi terletak pada keberadaan tokoh lokal yang mampu menjembatani masyarakat adat dengan pemangku kebijakan serta lembaga pendamping.

 

Strategi scale up diarahkan pada pembentukan jaringan desa wisata birdwatching se-Kabupaten Tambrauw yang saling terhubung. Wisatawan dapat berpindah dari satu kampung ke kampung lain dalam paket wisata lintas destinasi, memperpanjang lama kunjungan dan memperluas dampak ekonomi ke lebih banyak komunitas [4]. Pengalaman kolaborasi dengan WWF-Indonesia dalam adaptasi perubahan iklim dapat direplikasi sebagai fondasi pengembangan ekowisata yang tangguh di seluruh wilayah Tambrauw. Peran kabupaten konservasi menjadi keunggulan kompetitif yang membedakan jaringan ekowisata Tambrauw dari destinasi wisata konvensional di manapun di Indonesia.

 

Daftar Pustaka

[1] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, “Profil Desa Wisata Nanggaouw Bird Watching, Distrik Sausapor, Kabupaten Tambrauw,” jadesta.kemenparekraf.go.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenparekraf.go.id

 

[2] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, “500 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024,” kemenparekraf.go.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://kemenparekraf.go.id

 

[3] Portal Inovasi Desa, “Inovasi Ekowisata Birdwatching Kampung Nanggouw Tambrauw,” inovasi.web.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id

 

[4] WWF-Indonesia, “Pengkajian Risiko Iklim di Kampung Nanggouw, Distrik Sausapor, Kabupaten Tambrauw,” wwf.id, Okt. 2023. [Online]. Tersedia: https://wwf.id

 

[5] WWF-Indonesia, “Yulianus Yekwam: Tokoh Masyarakat Kampung Nanggouw yang Menggerakkan Kesadaran Perubahan Iklim,” wwf.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://wwf.id

 

[6] Tempo, “Panduan Birdwatching di Kabupaten Tambrauw Papua Barat Daya,” tempo.co, 2023. [Online]. Tersedia: https://tempo.co

 

[7] Kementerian ESDM, “PLTMH Warabiai di Kabupaten Tambrauw: Energi Terbarukan untuk Papua Barat Daya,” esdm.go.id, 2018. [Online]. Tersedia: https://esdm.go.id

 

[8] Kumparan, “PLTM Warabiai Tambrauw Berkapasitas 1,6 MW Resmi Beroperasi,” kumparan.com, 2018. [Online]. Tersedia: https://kumparan.com

 

[9] Universitas Atma Jaya Yogyakarta, “Perancangan Kawasan Wisata Birdwatching di Sekitar PLTMH Warabiai Kampung Nanggouw Kabupaten Tambrauw,” e-journal.uajy.ac.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://e-journal.uajy.ac.id

 

[10] WWF-Indonesia, “Kelompok Toweuw Kampung Nanggouw: Pengolahan Hasil Hutan Bukan Kayu untuk Kemandirian Ekonomi,” wwf.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://wwf.id

 

[11] Kompas, “Tips Mengamati Burung Cenderawasih di Habitat Alami Papua Barat Daya,” kompas.com, 2023. [Online]. Tersedia: https://kompas.com

 

[12] Dinas Pariwisata Papua Barat, “Destinasi Birdwatching di Kabupaten Tambrauw: Kebar, Senopi, Miyah, dan Sausapor,” dpdhpipapuabarat.com, 2023. [Online]. Tersedia: https://dpdhpipapuabarat.com

Data Inovasi

Nama Inovasi
Ekowisata Birdwatching Kampung Nanggaouw — Wisata Konservasi Berbasis Kearifan Lokal Tambrauw

Alamat
Kampung Nanggouw, Distrik Sausapor, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya
Inovator
Yulianus Yekwam (Tokoh Masyarakat), Pokdarwis Kampung Nanggouw, dan Pemerintah Kabupaten Tambrauw
Kontak
Email: nanggaouwbird@gmail.com
Telepon: Herman Yesnath — 0811486132
Lokasi