Ringkasan Inovasi

Di tengah ancaman banjir, kekeringan, dan pencemaran di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dan Cibeet, Desa Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, menjadi salah satu desa penggerak utama gerakan Ecovillage yang dikoordinasikan Jangkar (Jaringan Kerja) Ecovillage Kabupaten Bekasi, jaringan yang menaungi sepuluh desa lintas dua kecamatan sejak 2019 [3]. Melalui program Ecovillage KDW Beriman, gerakan ini menata ulang hubungan warga dengan sampah, air, tanaman, dan ruang hidup sehari-hari secara partisipatif, bukan sebagai proyek instan dari luar [1]. Tujuan utamanya adalah membentuk desa berbudaya lingkungan yang memadukan ekologi, ekonomi, dan perubahan perilaku warga. Dampaknya tampak pada aksi nyata: pengelolaan sampah organik, biopori, konservasi tanaman keras, kawasan rumah pangan lestari, pelatihan hidroponik, dan penguatan bank sampah — semuanya menjadi landasan menuju status Kampung Program Kampung Iklim (ProKlim) [1].

 

Latar Belakang

Desa Kedungwaringin berada di Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, kawasan yang termasuk wilayah pengembangan ecovillage di sepanjang DAS Citarum dan Cibeet — dua sungai dengan sejarah panjang persoalan lingkungan di Jawa Barat. Wilayah ini menghadapi penumpukan sampah yang mengotori badan air serta menurunnya kemampuan tanah menyerap air yang memperparah banjir dan kekeringan secara bergantian [1].

Masalah lingkungan di desa tidak hanya berwujud sampah yang terlihat mata, tetapi juga tercermin dari kebiasaan yang memisahkan urusan rumah tangga dari urusan ekologi desa. Ketika warga belum terbiasa memetakan potensi dan masalah lingkungannya sendiri, banyak persoalan berkembang tanpa penanganan yang menyentuh akar perilaku [1].

Sejak Februari 2019, Indra Jaya selaku Ketua Jangkar Ecovillage Kabupaten Bekasi mengoordinasikan program ecovillage di sepuluh desa: enam desa di Kecamatan Kedungwaringin (Kedungwaringin, Karangmekar, Mekarjaya, Karangsambung, Waringinjaya, dan Bojongsari) serta empat desa di Kecamatan Cikarang Timur (Jatireja, Labansari, Jatibaru, dan Cipayung), dengan delapan desa lain merencanakan program mandiri dibiayai APBDes masing-masing [3]. Kedungwaringin menjadi salah satu desa yang paling konsisten mengembangkan model ini menjadi Ecovillage KDW Beriman.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah Gerakan Desa Berbudaya Lingkungan melalui Ecovillage KDW Beriman — pendekatan pemberdayaan komunitas yang mendorong warga mengelola lingkungannya sendiri secara bertahap dan berbasis pemahaman yang tumbuh dari dalam, bukan proyek sesaat dari luar [1].

Cara kerjanya dimulai dari riungan warga yang partisipatif untuk menggali masalah dan potensi lingkungan, mengenali siklus air, memetakan persoalan kampung, hingga merumuskan dokumen rencana aksi. Rencana itu diterjemahkan menjadi program konkret: pengelolaan sampah organik dan limbah peternakan menjadi pupuk organik cair, pembuatan lubang biopori, penanaman pohon keras seperti suren, manglid, dan mahoni, serta pembangunan kawasan percontohan berupa rumah pangan lestari, tanaman obat keluarga, taman desa, dan bank sampah [1].

 

Proses Penerapan Inovasi

Penerapan diawali dengan pendekatan sosial yang menempatkan warga sebagai subjek utama perubahan sejak hari pertama — membangun kepercayaan dan keterbukaan melalui pertemuan warga sebelum masuk ke pembangunan fisik [1]. Warga bersama penggerak ecovillage kemudian melakukan pemetaan partisipatif: survei kampung, analisis kecenderungan, dan kalender musim.

Dukungan Kampung Berseri Astra (KBA) yang masuk sejak Agustus 2019 memperkuat proses ini melalui pelatihan pengelolaan bank sampah, pelatihan penyemaian media rockwool untuk hidroponik yang melibatkan 14 warga pada Oktober 2019, pelatihan UKM produk ikan lele, dan penguatan kelembagaan [1]. Dukungan sarana turut datang dari mitra lain seperti Wuling Motors yang menyumbangkan 20 unit peralatan angkut sampah untuk mendukung operasional bank sampah jaringan Ecovillage Kabupaten Bekasi [7].

Ketika pandemi Covid-19 membatasi ruang gerak warga pada 2020, pembangunan rumah kompos sederhana pada Mei 2020 tetap berjalan melalui pola padat karya, dikerjakan 10 warga selama 8 hari. Produksi pupuk organik cair yang belum stabil dan belum teruji laboratorium pada masa itu menjadi pembelajaran teknis yang mendorong desa memperkuat kapasitas sebelum melangkah ke skala lebih luas [1]. Momentum World Cleanup Day 2021 turut dimanfaatkan Indra Jaya untuk memperkuat konsep ecovillage menuju arah pariwisata berkelanjutan [2].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan teknis paling nyata adalah ketidakstabilan produksi pupuk organik cair yang belum diuji laboratorium, sehingga pemanfaatannya masih terbatas pada kelompok dan warga setempat. Mitigasinya dilakukan bertahap dengan memperkuat kapasitas produksi terlebih dahulu sebelum memperluas jangkauan pemasaran ke luar desa [1].

Tantangan sosial yang tidak kalah berat adalah menjaga konsistensi keterlibatan warga dalam jangka panjang, karena antusiasme awal program lingkungan sering menurun ketika manfaat langsung belum terasa. Pandemi Covid-19 pada 2020 memperberat tantangan ini, namun dimitigasi melalui pola kerja padat karya berskala kecil (10 warga, 8 hari) yang tetap bisa berjalan di tengah pembatasan [1].

Cakupan Jangkar Ecovillage yang meliputi sepuluh desa juga menghadirkan tantangan pemerataan kapasitas antar desa, karena delapan dari sepuluh desa masih merencanakan program mandiri dengan pendanaan APBDes yang bervariasi, sementara Kedungwaringin relatif lebih maju berkat dukungan KBA sejak 2019 [3].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah konsistensi pendekatan partisipatif yang menempatkan warga sebagai pemilik proses dari awal hingga akhir, bukan sekadar penerima program dari luar [1].

Peran Indra Jaya sebagai Ketua Jangkar Ecovillage Kabupaten Bekasi yang tinggal dan bekerja di tengah masyarakat sejak 2019 menjadi faktor kedua yang tidak tergantikan, sebagaimana tercatat dalam profil jaringan relawan lingkungan ini [4]. Dukungan sinergis dari Kampung Berseri Astra yang menyediakan pelatihan dan penguatan kelembagaan berbasis empat pilar pemberdayaan komunitas [6], serta mitra CSR lain seperti Wuling Motors yang menyumbang sarana angkut sampah, memperkuat fondasi program agar tumbuh menjadi sistem kerja komunitas yang terstruktur [7].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Hasil paling terukur adalah lahirnya rangkaian kegiatan lingkungan yang saling terhubung: pelatihan hidroponik media rockwool melibatkan 14 warga pada Oktober 2019, sementara pembangunan rumah kompos pada Mei 2020 dikerjakan 10 warga selama 8 hari melalui pola padat karya [1].

Secara operasional, desa memperoleh infrastruktur lingkungan fungsional: rumah kompos, lubang biopori, kawasan rumah pangan lestari, tanaman obat keluarga, dan bank sampah yang mulai memberi nilai ekonomi bagi sampah yang sebelumnya hanya menjadi masalah [1]. Model Kedungwaringin turut mendorong desa lain di jaringan yang sama, seperti Mekarjaya dengan Situs Pacinan dan Cipayung dengan wisata tematiknya, mengembangkan potensi wisata berbasis lingkungan masing-masing [3].

Dampak paling fundamental adalah perubahan cara pandang warga terhadap lingkungan mereka sendiri — dari beban atau urusan pemerintah semata menjadi ruang hidup bersama yang perlu dirawat oleh siapa pun yang tinggal di dalamnya, sebagaimana disampaikan Indra Jaya dalam kisah perjalanannya mengembangkan ecovillage menuju arah pariwisata berkelanjutan [2].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pendanaan program bersumber dari kombinasi tiga jalur: Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang membiayai delapan dari sepuluh desa jaringan untuk program mandiri, dukungan Kampung Berseri Astra sejak Agustus 2019 berupa pelatihan dan penguatan kelembagaan, serta bantuan sarana dari mitra CSR seperti Wuling Motors berupa 20 unit peralatan angkut sampah [3] [7].

Model keberlanjutan finansial bertumpu pada bank sampah sebagai unit ekonomi yang mengonversi sampah anorganik menjadi nilai tukar bagi warga, serta potensi rumah kompos untuk menghasilkan pupuk organik bermutu jual di masa depan setelah melalui pengujian laboratorium. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran nominal pendanaan APBDes atau nilai bantuan KBA secara spesifik.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Kedungwaringin menunjukkan bahwa perubahan perilaku lingkungan warga membutuhkan tahapan sosial (membangun kepercayaan, riungan warga) yang harus mendahului pembangunan fisik, bukan sebaliknya — sebuah urutan yang kerap terbalik pada program lingkungan konvensional. Kegagalan awal produksi pupuk organik cair yang belum stabil juga mengajarkan bahwa kapasitas teknis perlu diperkuat lebih dulu sebelum produk dipasarkan ke luar desa.

Pelajaran penting lainnya adalah bahwa gerakan ecovillage yang mencakup banyak desa sekaligus (dalam kasus ini sepuluh desa) akan menghasilkan kecepatan kemajuan yang tidak merata — desa dengan dukungan mitra eksternal seperti KBA cenderung lebih cepat berkembang dibanding desa yang murni mengandalkan APBDes mandiri, sehingga replikasi perlu memperhitungkan kesenjangan kapasitas antar desa dalam satu jaringan.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Ecovillage KDW Beriman bertumpu pada tiga pilar: penguatan kelembagaan bank sampah melalui pelatihan pengurus dan perbaikan administrasi, pengembangan rumah kompos menjadi unit usaha yang menghasilkan pupuk organik bermutu teruji, dan perluasan ekosistem wisata berbasis lingkungan yang menghubungkan taman desa, tanaman obat keluarga, dan rumah pangan lestari [1].

Dengan dukungan lintas pihak — Pemerintah Kabupaten Bekasi, Kampung Berseri Astra, dan mitra CSR lain — Ecovillage KDW Beriman diarahkan tumbuh dari gerakan desa menjadi model kawasan pariwisata berkelanjutan, sejalan dengan visi Indra Jaya mengembangkan ecovillage menjadi destinasi yang mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan [2].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Ecovillage KDW Beriman berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs dengan mengintegrasikan pengelolaan lingkungan, ketahanan pangan, dan ekonomi sirkular berbasis sampah ke dalam satu gerakan desa yang terpadu.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Kawasan rumah pangan lestari, tanaman obat keluarga, dan pelatihan hidroponik memperkuat ketahanan pangan tingkat rumah tangga. 14 warga terlatih hidroponik media rockwool (Okt. 2019)
SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera Pengelolaan sampah melalui bank sampah dan rumah kompos mengurangi pencemaran sumber penyakit berbasis vektor dan pencemaran air. Beroperasinya rumah kompos dan bank sampah desa
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Biopori meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan, mengurangi risiko banjir dan kekeringan di kawasan DAS Citarum dan Cibeet. Jumlah lubang biopori dan luas taman desa yang dibangun
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab Pengelolaan sampah organik dan limbah peternakan menjadi pupuk organik cair adalah contoh ekonomi sirkular tingkat desa. Volume sampah organik yang terkonversi menjadi pupuk cair
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim Konservasi tanaman keras seperti suren, manglid, dan mahoni memperkuat kapasitas penyerapan karbon desa. Jumlah pohon keras yang ditanam dalam program konservasi
SDGs 15: Ekosistem Daratan Penanaman pohon dan pengelolaan air melalui biopori menjaga kesehatan ekosistem daratan desa di kawasan DAS Citarum. Cakupan wilayah konservasi di 10 desa jaringan Ecovillage

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Kedungwaringin sudah menjadi rujukan bagi sembilan desa lain dalam jaringan Jangkar Ecovillage Kabupaten Bekasi, enam di Kecamatan Kedungwaringin dan empat di Kecamatan Cikarang Timur, yang sejak 2019 sama-sama menerapkan program bank sampah, rumah pangan lestari, tanaman keluarga, dan penghijauan sesuai karakteristik masing-masing desa [3]. Delapan dari desa-desa ini merencanakan mengembangkan program mandiri dengan pendanaan APBDes sendiri [3].

Untuk scale up, Pemerintah Kabupaten Bekasi dapat memperluas pendampingan ecovillage ke desa lain di sepanjang DAS Citarum dan Cibeet, dikombinasikan dengan kolaborasi lintas sektor antara dinas lingkungan hidup, akademisi, dan mitra CSR swasta seperti Kampung Berseri Astra dan Wuling Motors, agar manfaatnya meluas dari satu jaringan desa menjadi gerakan kawasan yang memperkuat ketahanan ekologi seluruh koridor Citarum [7]. Profil kelembagaan jaringan ini juga terdokumentasi secara terbuka melalui blog resmi Jangkar Ecovillage Kabupaten Bekasi, yang dapat menjadi rujukan desa lain yang ingin mempelajari struktur kerja jaringan [5].

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “Jangkar Ecovillage Kabupaten Bekasi Gerakkan Ecovillage KDW Beriman untuk Tumbuhkan Budaya Lingkungan dan Perkuat Ketahanan Desa,” inovasi.web.id. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/jangkar-ecovillage-kabupaten-bekasi-gerakkan-ecovillage-kdw-beriman-untuk-tumbuhkan-budaya-lingkungan-dan-perkuat-ketahanan-desa/

[2] Good News From Indonesia, “Kisah Indra Jaya: Sang Penggerak Lokal Ecovillage di Kedungwaringin Kabupaten Bekasi Menjadi Pariwisata Berkelanjutan,” goodnewsfromindonesia.id, 9 Okt. 2023. [Online]. Tersedia: https://www.goodnewsfromindonesia.id/network/content/kisah-indra-jaya-sang-penggerak-lokal-ecovillage-di-kedungwaringin-kabupaten-bekasi-menjadi-pariwisata-berkelanjutan-sVmyxi

[3] CNN Indonesia, “Konsep Eco Village Diterapkan di Kabupaten Bekasi,” cnnindonesia.com, 28 Feb. 2019. [Online]. Tersedia: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190228142809-269-373475/konsep-eco-village-diterapkan-di-kabupaten-bekasi

[4] Indorelawan, “Jangkar Ecovillage Bekasi,” indorelawan.org. [Online]. Tersedia: https://www.indorelawan.org/organization/5f50c5874e67eaddc74a1393

[5] Jangkar Ecovillage Kabupaten Bekasi, “Profil dan Kegiatan,” jkrecokabbekasi.blogspot.com, 3 Nov. 2019. [Online]. Tersedia: https://jkrecokabbekasi.blogspot.com/

[6] Astra International, “Kampung Berseri Astra: Program Pemberdayaan Komunitas Berbasis Empat Pilar,” astra.co.id. [Online]. Tersedia: https://www.astra.co.id/Sustainability/Kampung-Berseri-Astra

[7] Wuling Motors, “Wuling Motors Kembali Wujudkan Kepedulian Terhadap Lingkungan,” wuling.id. [Online]. Tersedia: https://wuling.id/id/blog/press-release/wuling-motors-kembali-wujudkan-kepedulian-terhadap-lingkungan/

Data Inovasi

Nama Inovasi
Ecovillage KDW Beriman
Alamat
Desa Kedungwaringin, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat (bagian dari jaringan 10 desa Jangkar Ecovillage di Kecamatan Kedungwaringin dan Cikarang Timur)
Inovator
Jangkar Ecovillage Kabupaten Bekasi bersama masyarakat Desa Kedungwaringin; Penggerak: Indra Jaya (Ketua Jangkar Ecovillage Kabupaten Bekasi)
Kontak
Telepon +62 877-8558-4721 (Indra Jaya)
Lokasi