Ringkasan Inovasi
Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, berhasil mentransformasi diri dari “desa merah” tertinggal menjadi desa cerdas berbasis kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan energi terbarukan — sebuah transformasi yang dibangun selama lebih dari satu dekade oleh kepemimpinan visioner Dwinanto, SE, sejak menjabat kepala desa pada 2013. [1] Inovasi ekosistem digital ini mencakup lima pilar sekaligus: smart government berbasis chatbot AI dan SiPolgan, smart agriculture dengan irigasi tenaga surya IoT, smart economy melalui BUMDes digital Tokodesaku.id dan Ngojol, smart environment lewat CCTV dan WiFi desa, serta smart society yang membangun literasi digital warga secara inklusif. [4]
Krandegan meraih Juara 3 Lomba Desa Digital Tingkat Nasional 2025 yang penghargaannya diserahkan langsung oleh Menteri Desa dan PDT Yandri Susanto kepada Kepala Desa Dwinanto pada puncak Hari Desa Nasional 15 Januari 2026 di Boyolali, Jawa Tengah. [2] Desa ini juga telah berstatus Desa Mandiri berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) Kemendes PDT — menjadi yang pertama di Kabupaten Purworejo — dan kini ditetapkan sebagai benchmarking resmi bagi 16 desa percontohan digital di kabupaten tersebut. [6]
Latar Belakang
Desa Krandegan yang berdiri di atas lahan seluas 800 hektare di Kabupaten Purworejo dulunya masuk dalam kategori desa tertinggal atau “desa merah” — sebuah label yang mencerminkan minimnya layanan publik, rendahnya produktivitas pertanian, dan terbatasnya akses ekonomi bagi warganya. [1] Infrastruktur layanan publik yang serba manual membuat warga kesulitan mengurus administrasi kependudukan secara cepat: setiap urusan surat-menyurat mengharuskan kunjungan fisik ke balai desa yang tidak selalu bisa dilakukan oleh warga yang bekerja di luar desa. Kesulitan ini bukan hanya soal ketidaknyamanan — bagi pekerja migran dan warga yang tinggal jauh dari balai desa, biaya transportasi dan waktu yang terbuang untuk urusan administratif adalah beban riil yang menghambat produktivitas dan kualitas hidup. [3]
Di sektor pertanian, ratusan petani Krandegan terkungkung oleh keterbatasan sistem irigasi yang bergantung sepenuhnya pada pompa diesel berbahan bakar solar, dengan biaya operasional yang menguras hingga Rp800.000 per hari di musim kemarau. [3] Lahan sawah seluas 70 hektare yang seluruhnya merupakan lahan tadah hujan hanya mampu panen sekali setahun karena biaya irigasi diesel terlalu berat ditanggung petani secara mandiri — sebuah jebakan kemiskinan struktural yang mengunci produktivitas pertanian di titik terendahnya selama puluhan tahun. [8] Kondisi ini mendorong lahirnya kesadaran mendesak bahwa inovasi teknologi bukan lagi kemewahan, melainkan keniscayaan untuk bertahan dan berkembang. [3]
Kepala Desa Dwinanto yang mulai menjabat sejak 2013 menangkap peluang besar dari perkembangan teknologi digital untuk mengubah wajah Krandegan secara fundamental dan sistematis. [1] Momentum ini semakin kuat dengan masuknya Krandegan dalam program smart village (desa cerdas) yang menjadi prioritas RPJMD 2021 Kabupaten Purworejo, memberikan dukungan kebijakan dan pendampingan teknis dari pemerintah daerah. [4] Sinergi antara visi kepemimpinan lokal yang kuat, dukungan kebijakan kabupaten, dan kemitraan akademik dengan Universitas Sebelas Maret Surakarta inilah yang menjadi bahan bakar transformasi digital desa yang kini berbuah prestasi juara nasional. [4]
Inovasi yang Diterapkan
Dwinanto merancang ekosistem digitalisasi Krandegan secara berlapis dalam lima pilar yang saling menopang: smart government (SiPolgan dan chatbot AI 24 jam), smart economy (Tokodesaku.id dan Ngojol), smart environment (CCTV pengawasan banjir dan WiFi gratis desa), smart society (literasi digital warga secara inklusif), serta smart agriculture (irigasi tenaga surya 18 kW berbasis IoT). [4] Seluruh komponen ini dirancang, dikembangkan, dan dikelola secara mandiri oleh SDM lokal Krandegan — sebuah pendekatan yang memastikan tidak ada ketergantungan pada vendor luar yang bisa meninggalkan sistem tanpa dukungan kapanpun. Filosofi yang mendasari inovasi ini dirumuskan Dwinanto dengan jernih:
“Digitalisasi bukan soal gaya-gayaan. Ini adalah keniscayaan yang harus kita jalani dan hadapi.” — Dwinanto, Kepala Desa Krandegan [3]
Secara teknis, chatbot AI yang diluncurkan pada Februari 2025 menjawab pertanyaan warga tentang KTP, Kartu Keluarga, status surat, dan profil desa secara real-time selama 24 jam melalui WhatsApp, laman krandegan.id, dan aplikasi Android SiPolgan yang telah terdaftar di Google Play Store dan dapat diunduh oleh siapapun dari manapun. [5] Sistem irigasi PLTS berkekuatan 18.000 watt yang dikembangkan bersama UNS Surakarta menggerakkan pompa berdebit 77 liter per detik (setara 279 m³/jam) secara gratis melalui kontrol IoT dari ponsel — menggantikan pompa diesel yang boros, mahal, dan mencemari lingkungan. [8] BUMDes digital mengelola Tokodesaku.id sebagai marketplace produk lokal dan Ngojol sebagai layanan ojek daring lokal dengan skema bagi hasil 80% untuk pengemudi dan 20% masuk kas BUMDes — model bisnis inklusif yang mensejahterakan sekaligus membiayai operasional desa. [9]
Proses Penerapan Inovasi
Proses digitalisasi Krandegan dibangun secara bertahap selama lebih dari satu dekade, dimulai sejak 2013 dengan penyiapan infrastruktur keras dan lunak secara paralel yang dipandu oleh visi kepala desa yang konsisten dari tahun ke tahun. [1] Dwinanto memprioritaskan penyediaan jaringan WiFi gratis di sejumlah titik desa (sejak 2020), pemasangan CCTV pengawasan lingkungan termasuk deteksi banjir, dan pengembangan aplikasi SiPolgan sebagai fondasi digital awal yang membangun kepercayaan warga pada layanan berbasis teknologi. [6] Krandegan kemudian mencatatkan diri sebagai desa pertama di Kabupaten Purworejo yang meraih status IDM Desa Mandiri — sebuah pencapaian yang mempertegas bahwa proses panjang ini berjalan di jalur yang benar. [6]
Pengembangan sistem irigasi tenaga surya melewati perjalanan panjang yang penuh ketekunan: dimulai dari program irigasi gratis berbasis donatur yang berjalan selama sembilan tahun sebagai bukti konsep awal, lalu Dwinanto mengajukan proposal resmi pembangunan PLTS kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. [1] Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Purworejo akhirnya mengucurkan dana Rp450 juta untuk mewujudkan sistem irigasi surya terintegrasi yang berdaya 18 kW, dengan dukungan teknis UNS Surakarta dalam integrasi sistem IoT dan kontrolnya melalui ponsel pintar. [7] Sejak 2022, sistem ini telah berhasil menghemat biaya irigasi hingga 50 persen dibanding pompa diesel — dan terus ditingkatkan kapasitas dan cakupannya dari tahun ke tahun. [5a]
Pada Februari 2025, tim digital lokal meluncurkan chatbot AI setelah melewati fase eksperimen intensif yang menghadapi tantangan tidak terduga: sistem awalnya kesulitan memahami pertanyaan warga yang menggunakan bahasa Jawa dialek lokal Purworejo yang kaya variasi. [3] Tantangan linguistik ini mendorong tim untuk menyempurnakan database respons secara berulang dan terus-menerus hingga sistem semakin responsif, akurat, dan mampu melayani warga dalam bahasa sehari-hari mereka. Hasilnya luar biasa: dari 900 Kepala Keluarga di Desa Krandegan, 800 di antaranya (89%) telah mengunduh dan menggunakan aplikasi SiPolgan — tingkat adopsi yang luar biasa tinggi untuk sebuah desa pedesaan di Jawa Tengah dan membuktikan bahwa teknologi yang dirancang sesuai kebutuhan warga pasti akan diterima. [3]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor paling menentukan keberhasilan transformasi digital Krandegan adalah kepemimpinan visioner Dwinanto yang konsisten mendorong inovasi selama lebih dari satu dekade tanpa kehilangan fokus di tengah berbagai tantangan anggaran, resistensi warga, dan perubahan prioritas kebijakan. [4] Penelitian dari Universitas Kristen Satya Wacana tentang Desa Krandegan menyimpulkan bahwa digitalisasi desa ini terjadi karena digerakkan oleh kepala desa berjiwa wirausaha (entrepreneurial spirit), didukung generasi milenial yang melek teknologi, dan dipercepat oleh momentum pandemi Covid-19 yang memaksa percepatan layanan digital tanpa tatap muka. [4] Konsistensi kepemimpinan selama lebih dari satu dekade inilah yang membedakan Krandegan dari ribuan desa lain yang memulai inovasi digital namun berhenti di tengah jalan. [7]
Faktor penentu kedua adalah keberadaan kader digital lokal yang terlatih secara mendalam — bukan sekadar pengguna pasif teknologi, melainkan pengembang dan pemelihara aktif seluruh sistem yang beroperasi di desa. [1] Kapasitas teknis internal ini memastikan tidak ada ketergantungan kritis pada vendor luar yang bisa menghentikan operasional sistem kapanpun. Dukungan institusional berlapis dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (teknis IoT), Pemprov Jawa Tengah (hibah PLTS Rp450 juta), dan Pemkab Purworejo (penetapan sebagai benchmarking 16 desa) memberikan ekosistem dukungan yang komprehensif di sekeliling inovasi mandiri yang sudah tumbuh dari dalam. [3]
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling konkret dan terukur dari inovasi ini adalah transformasi produktivitas pertanian yang dramatis: sistem irigasi tenaga surya berhasil meningkatkan frekuensi panen petani Krandegan dari satu kali menjadi tiga kali dalam setahun — sebuah lompatan produktivitas 300% yang langsung melipatgandakan pendapatan lebih dari 100 petani yang menggarap lahan sawah seluas 70 hektare. [1] Biaya irigasi yang sebelumnya mencapai Rp800.000 per hari kini turun menjadi mendekati nol rupiah, karena pompa berdebit 77 liter per detik itu kini digerakkan oleh sinar matahari yang tidak pernah mengirimkan tagihan. [8] Penghematan biaya dan peningkatan frekuensi panen ini secara struktural memutus rantai kemiskinan yang selama puluhan tahun mengekang keluarga petani Krandegan. [3]
Dari sisi layanan publik, chatbot AI dan SiPolgan memangkas waktu pengurusan administrasi yang sebelumnya membutuhkan kunjungan fisik dan antrean berjam-jam menjadi cukup sepuluh detik melalui ponsel kapanpun dan dimanapun. [5] Tingkat adopsi SiPolgan yang mencapai 89% (800 dari 900 KK) adalah validasi pasar paling kuat bahwa produk digital yang benar-benar menjawab kebutuhan warga akan digunakan tanpa harus dipaksa. Warga yang bekerja di luar desa merasakan manfaat paling nyata, sebagaimana disampaikan Rina, salah satu pengguna aktif SiPolgan:
“Saya kerja di luar desa, tapi tetap bisa mengurus dokumen. Tidak perlu bolak-balik pulang ke desa, hemat waktu dan biaya.” — Rina, warga Krandegan [3]
Krandegan kini berstatus Desa Mandiri IDM — pertama di Kabupaten Purworejo — dan menjadi benchmarking resmi bagi 16 desa percontohan digital se-kabupaten. [6] Prestasi Juara 3 Lomba Desa Digital Nasional 2025 yang diraih bersaing dengan ribuan desa dari seluruh Indonesia semakin mengukuhkan posisi Krandegan sebagai referensi nasional pengembangan desa cerdas berbasis kekuatan lokal. [2] BUMDes digital yang mengoperasikan Tokodesaku.id dan Ngojol mengalirkan pendapatan rutin ke kas desa sambil membuka lapangan kerja nyata bagi pengemudi dan pelaku UMKM lokal yang sebelumnya tidak memiliki platform pemasaran digital. [9]
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar dalam perjalanan transformasi ini adalah mengubah pola pikir sebagian warga dan perangkat desa yang masih menaruh kepercayaan penuh pada cara manual yang sudah puluhan tahun mereka jalani — sebuah resistensi perubahan yang wajar namun membutuhkan energi dan kesabaran luar biasa untuk diatasi. [1] Kondisi ini terutama terasa di kalangan warga lanjut usia dengan keterbatasan literasi teknologi, mendorong tim desa untuk melakukan pendampingan dan sosialisasi door-to-door secara intensif agar tidak seorang warga pun tertinggal dari manfaat transformasi digital yang sedang berlangsung. Dwinanto dan seluruh perangkat desa secara konsisten mengadakan pelatihan berkala dan sosialisasi tatap muka sebagai strategi inklusi digital yang memastikan transformasi ini tidak meninggalkan siapapun. [1]
Keterbatasan anggaran menjadi tantangan struktural yang semakin menguat ketika kebijakan efisiensi nasional Dana Desa mulai berdampak pada pembiayaan program-program inovasi digital yang membutuhkan investasi teknologi berkelanjutan. [7] Ketidakstabilan koneksi internet di wilayah pedesaan Purworejo pada jam-jam tertentu juga sempat mengganggu performa chatbot AI dan layanan SiPolgan yang membutuhkan koneksi data aktif — mendorong tim teknis untuk merancang mekanisme layanan offline sebagai jaring pengaman yang memastikan layanan tidak pernah benar-benar mati. [7] Kedua tantangan ini — pembiayaan dan konektivitas — adalah tantangan sistemik yang tidak bisa diselesaikan oleh desa secara individual dan membutuhkan solusi kebijakan di tingkat yang lebih tinggi. [4]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan ekosistem digital Krandegan ditopang oleh dua pilar mandiri yang saling menguatkan: BUMDes digital sebagai mesin pendapatan, dan infrastruktur surya sebagai tulang punggung pertanian. [4] BUMDes digital yang mengelola Tokodesaku.id dan Ngojol menghasilkan aliran PADes yang sebagian hasilnya dialokasikan khusus untuk pemeliharaan dan pembaruan berkala infrastruktur teknologi desa — menciptakan ekosistem pembiayaan inovasi yang self-sustaining dan tidak bergantung sepenuhnya pada Dana Desa yang jumlahnya bisa berubah setiap tahun. [4] Sistem irigasi PLTS yang tidak membutuhkan bahan bakar dan memiliki masa pakai panel surya lebih dari 25 tahun menjadi infrastruktur pertanian berkelanjutan yang bisa beroperasi jangka panjang tanpa beban biaya operasional berarti. [8]
Regenerasi kader digital desa dipersiapkan secara terencana melalui program pelatihan berkelanjutan yang melibatkan generasi muda desa, memastikan sistem tidak pernah bergantung pada satu atau dua individu saja. [1] Pemerintah desa merancang siklus pembaruan teknologi berkala agar semua platform digital selalu relevan dengan kebutuhan warga yang terus berkembang, dengan mengalokasikan anggaran pembaruan dari hasil pendapatan BUMDes digital. [5] Dengan dua pilar mandiri ini berjalan beriringan, inovasi Krandegan dirancang untuk terus hidup dan berkembang jauh melampaui masa jabatan pemimpin yang menggagasnya — sebuah warisan kelembagaan yang sesungguhnya. [7]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Ekosistem desa cerdas Krandegan berkontribusi secara simultan pada tujuh tujuan SDGs sekaligus — membuktikan bahwa inovasi teknologi di tingkat desa mampu menciptakan dampak lintas-dimensi yang jauh melampaui nilai investasinya ketika didesain dengan pendekatan yang holistik dan berorientasi pada kebutuhan komunitas secara menyeluruh. [4] Dari irigasi tenaga surya yang melipatgandakan panen petani hingga chatbot AI yang mendemokratisasi akses layanan publik, setiap komponen inovasi Krandegan adalah kontribusi nyata pada agenda pembangunan berkelanjutan global yang berhasil dilokalkan hingga tingkat desa pedesaan Jawa Tengah. [1]
| No SDGs | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Irigasi tenaga surya gratis yang meningkatkan frekuensi panen dari 1 menjadi 3 kali setahun melipatgandakan pendapatan lebih dari 100 keluarga petani yang sebelumnya terperangkap kemiskinan karena biaya diesel yang mencapai Rp800.000/hari menggerus seluruh keuntungan panen mereka. BUMDes digital membuka lapangan kerja bagi pengemudi Ngojol dan pelaku UMKM lokal, menciptakan sumber penghasilan baru di luar sektor pertanian yang selama ini menjadi satu-satunya tumpuan. [1] |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Sistem irigasi IoT tenaga surya yang memompa 77 liter air per detik secara gratis memperkuat ketahanan pangan Desa Krandegan secara struktural — memastikan sawah tetap terairi bahkan di musim kemarau panjang tanpa membebani petani dengan biaya operasional. Alat pengusir hama burung berbasis sensor ultrasonik yang aman bagi manusia turut melindungi hasil panen dari kerusakan, menjamin ketersediaan pangan lokal sepanjang tahun. [3] |
| SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau | PLTS 18.000 watt yang menggantikan pompa diesel berbahan bakar solar adalah implementasi nyata transisi energi bersih dan terjangkau di tingkat desa — menghapus emisi karbon dari sistem irigasi pertanian sekaligus menekan biaya energi petani dari Rp800.000/hari menjadi mendekati nol rupiah. Keberhasilan ini membuktikan bahwa energi terbarukan bukan hanya milik kota besar, tetapi bisa diimplementasikan secara mandiri oleh desa kecil sekalipun. [8] |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | BUMDes digital yang mengoperasikan Tokodesaku.id dan Ngojol menciptakan lapangan kerja layak bagi pengemudi lokal dan pelaku UMKM desa dengan skema bagi hasil yang adil (80% untuk pengemudi, 20% untuk BUMDes). Pertumbuhan PADes dari ekosistem digital ini membiayai inovasi berkelanjutan dan layanan publik desa tanpa bergantung semata pada Dana Desa. [9] |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | Ekosistem teknologi desa yang mencakup WiFi gratis, CCTV, chatbot AI, IoT irigasi, dan aplikasi SiPolgan membangun infrastruktur digital canggih setara kota di pedesaan Jawa Tengah. Fakta bahwa seluruh sistem ini dikembangkan dan dikelola secara mandiri oleh kader lokal desa membuktikan bahwa kapasitas inovasi tidak bergantung pada lokasi geografis, melainkan pada kualitas kepemimpinan dan komitmen. [4] |
| SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh | Chatbot AI 24 jam dan SiPolgan yang memangkas waktu layanan administrasi menjadi 10 detik mewujudkan pelayanan publik yang inklusif, transparan, dan dapat diakses oleh seluruh warga tanpa diskriminasi — termasuk warga lanjut usia yang didampingi, warga yang bekerja jauh dari desa, dan warga dengan mobilitas terbatas. Sistem digital ini menghilangkan ketergantungan layanan pada jam kantor dan kehadiran aparat tertentu, membangun kelembagaan desa yang lebih tangguh dan akuntabel. [5] |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi antara Pemerintah Desa Krandegan, UNS Surakarta (dukungan teknis IoT), Pemprov Jawa Tengah (hibah PLTS Rp450 juta dari APBD Provinsi dan Kabupaten), dan Pemkab Purworejo (penetapan sebagai benchmarking 16 desa digital) membuktikan model kemitraan multipihak yang saling menguatkan. Kemitraan ini menjadi teladan bagi ribuan desa lain bahwa transformasi digital yang ambisius dapat terwujud ketika pemerintah desa, akademisi, dan pemerintah daerah bersinergi dengan peran masing-masing yang jelas. [4] |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Krandegan telah menjadi destinasi studi banding resmi bagi puluhan desa dari berbagai penjuru Indonesia yang ingin mengadopsi model digitalisasi desa secara komprehensif — dan kini Pemerintah Kabupaten Purworejo secara formal menetapkannya sebagai role model dan benchmarking bagi 16 desa percontohan digital yang akan dikembangkan di seluruh wilayah kabupaten. [6] Modul pelatihan, dokumentasi sistem teknis, dan panduan operasional yang telah tersusun membentuk paket transfer pengetahuan yang siap disebarluaskan ke desa-desa lain di Jawa Tengah dan seluruh Indonesia tanpa harus memulai dari nol. Strategi replikasi yang paling kritis untuk dipahami adalah bahwa keberhasilan Krandegan bukan produk dari anggaran besar, melainkan dari konsistensi kepemimpinan selama lebih dari satu dekade — sebuah pelajaran yang berlaku universal di desa apapun. [4]
Strategi scale up Krandegan diarahkan pada pembentukan klaster desa digital di Kecamatan Bayan yang saling terhubung dalam satu ekosistem layanan dan data terintegrasi, memungkinkan berbagi infrastruktur server, sumber daya kader teknis, dan platform pemasaran bersama. [1] Model klaster ini akan menekan biaya transformasi digital secara signifikan bagi desa-desa yang lebih kecil dan terbatas anggarannya, karena investasi infrastruktur bisa dibagi bersama. [4] Ketika model klaster terbukti efektif di Kecamatan Bayan, Krandegan siap bertransformasi menjadi pusat pengembangan kapasitas (center of excellence) desa digital di tingkat Provinsi Jawa Tengah — membawa manfaat transformasi digital yang nyata bagi ribuan desa lain di seluruh Nusantara. [6]
Kata Kunci
Desa Krandegan Purworejo digital, desa cerdas smart village Jawa Tengah, chatbot AI pelayanan publik desa, irigasi tenaga surya IoT pertanian, SiPolgan aplikasi layanan desa, PLTS desa irigasi gratis petani, BUMDes digital Tokodesaku Ngojol, juara desa digital nasional 2025, Dwinanto kepala desa inovasi, digitalisasi desa tertinggal menjadi mandiri, IDM desa mandiri Purworejo pertama, smart government smart agriculture desa, WiFi desa CCTV pengawasan lingkungan, transformasi digital dana desa Jawa Tengah, kader digital lokal desa mandiri, UNS Surakarta IoT pertanian desa, RPJMD smart village Kabupaten Purworejo, benchmarking desa digital kabupaten, SDGs 7 energi bersih irigasi desa, replikasi klaster desa digital kecamatan
Daftar Pustaka
[1] Kompas.com, “Di Puncak Hari Desa Nasional, Desa Krandegan Purworejo Ukir Prestasi Desa Digital,” regional.kompas.com, 15 Jan. 2026. [Online]. Available: https://regional.kompas.com/read/2026/01/15/193332178/
[2] Pituruhnews.com, “Desa Krandegan Jadi Inspirasi, Sukses Raih Juara 3 Lomba Desa Digital Tingkat Nasional 2025,” pituruhnews.com, 14 Jan. 2026. [Online]. Available: https://www.pituruhnews.com/2026/01/desa-krandegan-jadi-inspirasi-sukses.html
[3] GovInsider Asia, “Transformasi Desa Cerdas Krandegan: Dari Chatbot AI sampai IoT,” govinsider.asia, 5 Nov. 2025. [Online]. Available: https://govinsider.asia/indo-en/article/transformasi-desa-cerdas-krandegan-dari-chatbot-ai-sampai-iot
[4] R. Novita et al., “Peran Digitalisasi Desa terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Desa Krandegan, Kabupaten Purworejo,” Jurnal Kritis, Universitas Kristen Satya Wacana. [Online]. Available: https://ejournal.uksw.edu/kritis/article/download/8361/2454
[5] Pemerintah Desa Krandegan, “Pemerintah Desa Krandegan Maksimalkan Pelayanan Warga dengan Chatbot Kecerdasan Buatan (AI),” krandegan-bayan.desa.id, 7 Feb. 2025. [Online]. Available: https://krandegan-bayan.desa.id/artikel/2025/2/7/pemerintah-desa-krandegan-maksimalkan-pelayanan-warga-dengan-chatbot
[5a] Kolom Desa, “Pemdes Krandegan Manfaatkan Panel Surya untuk Irigasi Sawah,” kolomdesa.com, 3 Jul. 2024. [Online]. Available: https://kolomdesa.com/pemdes-krandegan-manfaatkan-panel-surya-untuk-irigasi-sawah-29675/
[6] Kecamatan Bayan Purworejo, “Pemaparan Kepala Desa Krandegan dalam Ajang Lomba Desa Digital Nasional 2025,” kec-bayan.purworejokab.go.id, 11 Jul. 2025. [Online]. Available: https://kec-bayan.purworejokab.go.id/berita/detail/pemaparan-kepala-desa-krandegan-dalam-ajang-lomba-desa-digital-nasional-2025
[7] Pemerintah Desa Krandegan, “Nasib Program Desa Digital di Tengah Disrupsi Dana Desa,” krandegan-bayan.desa.id, 23 Jan. 2026. [Online]. Available: https://krandegan-bayan.desa.id/artikel/2026/1/24/nasib-program-desa-digital-di-tengah-disrupsi-dana-desa
[8] Koran Juri, “Hebat, Desa Krandegan di Purworejo Ciptakan Sistem Irigasi Bertenaga Surya,” koranjuri.com, 11 Des. 2022. [Online]. Available: https://koranjuri.com/hebat-desa-krandegan-di-purworejo-ciptakan-sistem-irigasi-bertenaga-surya/
[9] UKSW Jurnal Kritis, “Peran Digitalisasi Desa — Ngojol dan Tokodesaku BUMDes Krandegan,” ejournal.uksw.edu. [Online]. Available: https://ejournal.uksw.edu/kritis/article/download/8361/2454
[10] Pituruhnews.com, “Desa Krandegan Mantap Menuju Smart Village, Hadirkan Chatbot AI dan Website Desa,” pituruhnews.com, 12 Des. 2025. [Online]. Available: https://www.pituruhnews.com/2025/12/desa-krandegan-mantap-menuju-smart.html
[11] Seputar Purworejo, “Desa Krandegan Purworejo Raih Juara 3 Lomba Desa Digital Tingkat Nasional 2025,” seputarpurworejo.com, 15 Jan. 2026. [Online]. Available: https://seputarpurworejo.com/desa-krandegan-purworejo-raih-juara-3-lomba-desa-digital-tingkat-nasional-2025/