Ringkasan Inovasi
Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan, meluncurkan Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB) sebagai strategi “jemput bola” untuk mendatangkan tim medis—termasuk dokter spesialis—ke kampung-kampung terpencil yang nyaris tak tersentuh layanan kesehatan [1]. Program ini digagas di bawah koordinasi Plt. Kepala Dinas Kesehatan dr. Meily Theresia Manopo dan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Muniarti. PKB hadir guna menjawab persoalan mendasar: ketimpangan akses kesehatan bagi 71.997 jiwa penduduk yang tersebar di 20 distrik dan 112 kampung dengan luas wilayah 27.108 km² [2]. Sejak digulirkan pada tahun 2022, PKB menjangkau belasan kampung di berbagai distrik pedalaman dan secara bertahap menurunkan angka kesakitan akibat malaria serta penyakit kulit [3]. Pada tahun 2024, tercatat 12.259 kasus malaria di Boven Digoel—turun signifikan dari 30.296 kasus di Provinsi Papua Selatan pada tahun 2023 [4].
Latar Belakang
Kabupaten Boven Digoel terletak di bagian selatan Pulau Papua dan berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Wilayah seluas 27.108,29 km² ini didominasi hutan lebat, rawa-rawa, serta sungai-sungai besar yang menjadi urat nadi transportasi. Penduduknya berjumlah sekitar 71.997 jiwa (data akhir 2024) yang tersebar di 20 distrik dan 112 kampung, dengan kepadatan sangat rendah yakni hanya 2,7 jiwa per km² [2]. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada pertanian subsisten dan meramu hasil hutan. Kondisi geografis yang ekstrem membuat banyak kampung hanya bisa dicapai dengan perahu berhari-hari atau berjalan kaki berminggu-minggu menyusuri hutan belantara [5].
Kabupaten ini memiliki 20 puskesmas induk dan 16 puskesmas pembantu, namun hanya ditunjang oleh 37 dokter umum, 9 dokter spesialis, dan 4 dokter gigi untuk melayani seluruh penduduk [6]. Rasio dokter umum terhadap populasi hanya 0,47 per 1.000 penduduk—jauh di bawah standar nasional. Akibatnya, warga di kampung-kampung pedalaman seperti Metto, Bayanggop, Manggelum, dan Biwage harus menempuh perjalanan panjang menuju Tanah Merah (ibu kota kabupaten) hanya untuk menemui dokter [3]. Penyakit malaria, keluhan kulit, serta gangguan gizi menjadi momok utama; pada tahun 2023, Boven Digoel tercatat sebagai salah satu penyumbang kasus malaria tertinggi di Provinsi Papua Selatan [4].
Situasi ini mencapai titik kritis ketika beberapa puskesmas di distrik pedalaman—seperti Puskesmas Firiwage, Kawagit, dan Ambatkuy—terpaksa menarik sementara tenaga medisnya ke ibu kota kabupaten karena faktor keamanan dan keterbatasan logistik [5]. Kampung-kampung di wilayah kerja puskesmas tersebut praktis kehilangan akses kesehatan sama sekali. Momentum inilah yang mendorong Dinas Kesehatan Boven Digoel pada tahun 2022 untuk melahirkan program Pelayanan Kesehatan Bergerak sebagai jawaban darurat sekaligus solusi jangka panjang agar tak satu pun warga yang tertinggal dari layanan kesehatan [1].
Inovasi yang Diterapkan
Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB) lahir dari gagasan sederhana namun revolusioner: alih-alih menunggu warga datang ke fasilitas kesehatan yang jauh, tim medis justru mendatangi mereka di kampung. Program ini menghadirkan tim kesehatan lengkap—terdiri dari dokter spesialis anak, spesialis penyakit dalam, spesialis kandungan, spesialis bedah, dokter gigi, dokter umum, petugas gizi, serta petugas kesehatan lingkungan—langsung ke kampung-kampung terpencil [1]. Tim ini membawa peralatan medis portabel dan persediaan obat-obatan esensial yang cukup untuk melayani seluruh warga di setiap lokasi yang dikunjungi.
Kebaruan PKB Boven Digoel terletak pada pendekatannya yang komprehensif dan multi-layanan. Berbeda dengan posyandu atau puskesmas keliling konvensional yang biasanya hanya menawarkan pemeriksaan dasar, PKB mengintegrasikan empat jenis layanan sekaligus. Layanan tersebut meliputi kuratif (pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter spesialis), preventif (imunisasi, skrining penyakit), promotif (penyuluhan PHBS, edukasi gizi, penimbangan bayi dan balita), serta pemetaan kesehatan lingkungan seperti akses air bersih dan sanitasi [7]. Selain itu, tim PKB juga membagikan “bahan kontak” berupa perlengkapan kebersihan diri—sabun, sampo, sikat gigi, dan pasta gigi—sebagai stimulus awal perubahan perilaku hidup sehat di kampung-kampung yang dikunjungi [3].
Proses Penerapan Inovasi
Pelaksanaan PKB dimulai pada September 2022, ketika tim pertama diberangkatkan ke Distrik Manggelum. Pada tahap perdana, layanan difokuskan di tiga kampung—Manggelum, Mangga Tiga, dan Kewam—kemudian berlanjut ke Kampung Bayanggop dan Klofkamp [1]. Sepanjang tahun 2022, PKB dilaksanakan hingga empat tahap (Tahap I–IV) dengan fokus utama pemeriksaan spesialis, penimbangan bayi, dan penyuluhan PHBS [8]. Pada tahun 2023–2024, cakupan PKB diperluas ke kampung-kampung di distrik lain, termasuk Kampung Biwage di Distrik Kawagit dan Kampung Karuwage di Distrik Firiwage [9]. Pada Oktober 2025, PKB menjangkau Kampung Metto di Distrik Subur, salah satu kampung dengan akses tersulit dan terjauh [3].
Salah satu pelajaran paling berharga datang dari tahap awal pelaksanaan di Manggelum. Tim menemukan bahwa warga enggan datang ke posko pemeriksaan karena takut disuntik, mengingat pengalaman traumatis dengan program vaksinasi sebelumnya yang minim sosialisasi [1]. Strategi kemudian dikoreksi: sebelum setiap kunjungan PKB, petugas puskesmas setempat dikirim terlebih dahulu untuk melakukan pendekatan persuasif melalui tokoh adat dan kepala kampung. Pendekatan ini terbukti efektif—partisipasi warga melonjak drastis pada tahap-tahap berikutnya. Wawasan ini menjadi sangat berharga bagi daerah lain: keterlibatan tokoh lokal sebagai “duta kesehatan” merupakan kunci keberhasilan layanan kesehatan bergerak di kawasan pedalaman [7].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan terbesar PKB adalah medan geografis yang sangat berat. Untuk menjangkau beberapa kampung di pedalaman, tim medis harus menempuh perjalanan sungai berhari-hari menggunakan perahu bermotor, lalu dilanjutkan berjalan kaki berjam-jam menembus hutan [5]. Biaya logistik transportasi menjadi sangat tinggi. Dinas Kesehatan mengatasinya dengan membangun kerja sama logistik bersama pemerintah distrik, TNI, dan Polri yang memiliki jalur akses dan moda transportasi ke wilayah-wilayah terisolasi [10].
Tantangan internal berupa keterbatasan tenaga medis spesialis juga menjadi kendala serius. Dengan hanya 9 dokter spesialis untuk seluruh kabupaten, menarik mereka dari RSUD Boven Digoel ke pedalaman berarti mengurangi kapasitas layanan di rumah sakit [6]. Mitigasinya dilakukan melalui penjadwalan rotasi yang cermat: tim PKB dijadwalkan pada periode ketika beban pasien di RSUD relatif rendah, dan dokter spesialis dijamin kembali dalam waktu 7–10 hari [1]. Selain itu, faktor keamanan di beberapa distrik rawan juga menimbulkan kekhawatiran bagi petugas. Pemerintah daerah mengatasi hal ini dengan menyediakan pengawalan keamanan dan melakukan koordinasi intensif dengan aparat setempat sebelum setiap misi PKB [5].
Faktor Penentu Keberhasilan
Keberhasilan PKB Boven Digoel ditopang oleh kolaborasi multi-pihak yang solid. Pemerintah daerah, melalui Bupati dan Dinas Kesehatan, menjadi penggerak utama dengan memastikan komitmen politik dan alokasi anggaran. Kementerian Kesehatan RI berperan melalui dukungan teknis, pelatihan, dan penyaluran Dana Alokasi Khusus (DAK) non-fisik untuk kesehatan [9]. RSUD Boven Digoel menjadi pemasok utama tenaga dokter spesialis. Di tingkat kampung, kepala distrik, kepala kampung, dan tokoh adat berfungsi sebagai jembatan sosial yang memobilisasi warga untuk berpartisipasi dalam pemeriksaan kesehatan [1].
Modal sosial berupa gotong royong dan kepercayaan terhadap tokoh adat menjadi pengikat partisipasi yang sangat kuat. Di banyak kampung pedalaman Boven Digoel, instruksi dari kepala suku atau ondoafi masih sangat dipatuhi warga [7]. Ketika tokoh adat menyatakan dukungan terhadap PKB dan mengajak warga untuk memeriksakan diri, tingkat partisipasi melonjak. Kearifan lokal ini menjadi aset tak ternilai yang membedakan PKB Boven Digoel dari program kesehatan bergerak di daerah lain: tanpa dukungan struktur adat, program serupa akan sulit berhasil di Papua [10].
Hasil dan Dampak Inovasi
Secara kuantitatif, PKB telah menunjukkan dampak yang terukur. Jumlah kasus malaria di Kabupaten Boven Digoel turun dari posisi puncak penyumbang tertinggi di Papua Selatan (dari total 30.296 kasus provinsi pada 2023) menjadi 12.259 kasus pada tahun 2024 [4]. Di Puskesmas Ujung Kia yang membawahi Kampung Metto, angka kesakitan akibat malaria dan penyakit kulit dilaporkan menurun setelah kunjungan PKB disertai penyuluhan PHBS dan pembagian perlengkapan kebersihan [3]. Evaluasi tahap IV PKB tahun 2022 juga menunjukkan peningkatan perilaku hidup sehat: anak-anak di kampung yang dikunjungi mampu mempraktikkan cara mencuci tangan dan menyikat gigi dengan benar [8].
Dampak kualitatif program ini tak kalah signifikan. PKB berhasil mengubah pola pikir masyarakat pedalaman tentang kesehatan—dari sikap pasrah terhadap penyakit menjadi proaktif mencari pengobatan. Warga yang sebelumnya mengandalkan pengobatan tradisional untuk kasus yang seharusnya ditangani medis kini lebih terbuka terhadap layanan kesehatan modern [7]. Efek multiplier juga terasa: kunjungan tim PKB yang membawa ahli gizi dan petugas kesehatan lingkungan turut memicu perbaikan sanitasi dan kesadaran gizi di kampung-kampung yang dikunjungi [8]. “Kami sangat bersyukur karena Dinas langsung turun tangan dan membawa dokter. Kami harap program ini terus berlanjut karena sangat membantu kami masyarakat yang hidup di kampung-kampung ini,” ujar Philipus Yaiwap, warga Distrik Manggelum [1].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pendanaan PKB berasal dari dua sumber utama. Pada tahap awal (2022–2023), program dibiayai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) non-fisik bidang kesehatan yang disalurkan oleh pemerintah pusat [9]. Mulai tahun 2025, sumber pendanaan dialihkan ke Dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua dengan pertimbangan fleksibilitas penggunaan dan keberlanjutan. Pada tahun 2024, pagu Dana Otsus Kesehatan Boven Digoel tercatat sebesar Rp17,518 miliar dengan realisasi mencapai Rp15,732 miliar (99,8%) [11].
PKB bukanlah model bisnis yang menghasilkan pendapatan langsung karena seluruh layanan diberikan secara gratis kepada masyarakat. Namun, model keberlanjutan finansialnya bertumpu pada alokasi anggaran rutin pemerintah daerah. Investasi pada PKB menghasilkan penghematan jangka panjang melalui penurunan biaya rujukan pasien ke fasilitas kesehatan di kota yang selama ini sangat mahal akibat biaya transportasi pedalaman [3]. RSUD Boven Digoel juga mendukung melalui realisasi DAK Non Fisik sebesar 100% untuk pengadaan alat kesehatan yang turut dimanfaatkan oleh tim PKB [12].
Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)
Dari pelaksanaan PKB selama empat tahun (2022–2025), beberapa keputusan kunci terbukti tepat dan menjadi panduan bagi daerah lain. Pendekatan melalui tokoh adat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan menjadi kunci utama keberhasilan karena sosialisasi lewat struktur formal pemerintahan saja tidak cukup di wilayah pedalaman Papua [7]. Keputusan menghadirkan layanan komprehensif—bukan sekadar dokter umum—juga terbukti tepat karena warga memerlukan pemeriksaan menyeluruh dalam satu kunjungan mengingat kesempatan berikutnya berbulan-bulan kemudian [1]. Dokumentasi data baseline di setiap kampung sejak kunjungan pertama menjadi pelajaran penting untuk memudahkan pengukuran dampak secara presisi [4].
Jika memulai dari awal, tim PKB akan mengalokasikan waktu sosialisasi pra-kunjungan yang lebih panjang. Rendahnya partisipasi warga pada tahap awal akibat ketakutan terhadap suntikan sebenarnya bisa dicegah dengan sosialisasi minimal dua minggu sebelum kedatangan tim [8]. Bagi daerah lain yang ingin menerapkan program serupa, saran praktisnya adalah memulai dari kampung dengan akses tersulit dan kebutuhan tertinggi. Pendekatan ini memastikan dampak dan urgensi program langsung dirasakan sehingga menjadi justifikasi politis untuk keberlanjutan anggaran.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Untuk menjamin keberlanjutan jangka panjang, Dinas Kesehatan Boven Digoel telah merancang beberapa strategi. Pertama, pengalihan sumber dana dari DAK ke Dana Otsus memberikan fleksibilitas anggaran yang lebih besar dan mengurangi ketergantungan pada mekanisme transfer pusat yang prosedural [9]. Kedua, pemerintah daerah tengah mendorong transformasi puskesmas menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), yang memungkinkan puskesmas mengelola pendapatan sendiri dan meningkatkan kecepatan pelayanan—termasuk mendukung logistik PKB secara mandiri [13].
Mekanisme regenerasi kepemimpinan menjadi perhatian serius. PKB tidak bergantung pada satu figur pemimpin semata; program ini telah diinstitusionalisasi melalui Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kesehatan 2021–2025 dan akan dilanjutkan dalam Renstra berikutnya [2]. Artinya, meskipun Kepala Dinas berganti, komitmen programatis tetap terjaga secara dokumen perencanaan. Selain itu, pembangunan puskesmas baru di distrik pedalaman menjadi langkah strategis untuk mengurangi jarak tempuh layanan. Peresmian Puskesmas Kawagit pada Maret 2026 beserta rumah dinas nakes menandai transformasi bertahap PKB dari solusi darurat menjadi pelengkap puskesmas permanen [14].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Program PKB Boven Digoel berkontribusi langsung terhadap enam tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Kontribusi paling signifikan terletak pada SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penyediaan layanan kesehatan primer dan spesialistik gratis di kampung terpencil. Selain itu, PKB juga menyentuh dimensi kemiskinan, ketahanan pangan, sanitasi, pengurangan kesenjangan, dan kemitraan multi-pihak sebagaimana dirinci dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | PKB mengurangi beban pengeluaran kesehatan rumah tangga miskin di pedalaman. Warga tidak lagi harus mengeluarkan biaya besar untuk transportasi ke kota kabupaten demi menemui dokter, sehingga sumber daya keluarga dapat dialokasikan untuk kebutuhan produktif. | Penurunan pengeluaran transportasi kesehatan rumah tangga di kampung sasaran PKB |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Tim PKB menyertakan petugas gizi yang melakukan penimbangan bayi dan balita, edukasi gizi bagi ibu hamil dan menyusui, serta deteksi dini stunting. Kegiatan ini terintegrasi dengan program SUGESTI (Survei Cegah Stunting) yang dijalankan Pemkab Boven Digoel. | Jumlah bayi dan balita yang di-screening status gizinya selama kunjungan PKB |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | Kontribusi paling langsung: PKB menghadirkan layanan kesehatan primer dan spesialistik gratis ke kampung terpencil, menekan angka kesakitan malaria (dari puncak 30.296 kasus provinsi 2023 ke 12.259 kasus kabupaten 2024), serta meningkatkan cakupan imunisasi dan pemeriksaan ibu hamil. | Penurunan kasus malaria; peningkatan cakupan imunisasi; jumlah warga yang dilayani per tahun |
| SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak | Tim PKB menyertakan petugas kesehatan lingkungan (Kesling) yang melakukan pemetaan kondisi air bersih dan sanitasi di setiap kampung yang dikunjungi. Data ini menjadi dasar intervensi perbaikan sanitasi oleh pemerintah daerah. | Jumlah kampung yang dipetakan kondisi sanitasinya; distribusi perlengkapan kebersihan diri |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | PKB secara eksplisit menyasar kampung-kampung dengan akses tersulit dan terjauh—mengurangi kesenjangan pelayanan kesehatan antara wilayah perkotaan (Tanah Merah) dan pedalaman. | Jumlah distrik dan kampung terpencil yang dijangkau PKB; peningkatan rasio layanan kesehatan di wilayah tertinggal |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | PKB merupakan kolaborasi lintas sektor antara Dinas Kesehatan Kabupaten, Kementerian Kesehatan RI, RSUD Boven Digoel, pemerintah distrik, TNI/Polri, serta tokoh adat dan masyarakat kampung. | Jumlah mitra yang terlibat; dukungan pendanaan dari berbagai sumber (DAK, Otsus) |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Bagi kabupaten lain yang ingin mereplikasi PKB, terdapat beberapa prasyarat minimum. Pertama, ketersediaan minimal satu rumah sakit umum daerah sebagai “pangkalan” tenaga spesialis yang dapat dirotasi ke lapangan. Kedua, adanya jaringan puskesmas dengan tenaga medis lokal yang memahami kondisi sosiokultural masyarakat setempat untuk melakukan sosialisasi pra-kunjungan. Ketiga, jalur transportasi—baik sungai, darat, maupun udara—yang telah dipetakan dengan estimasi waktu tempuh ke setiap kampung sasaran [5].
Estimasi biaya replikasi untuk satu siklus PKB (mencakup 3–5 kampung dalam satu distrik) berkisar antara Rp200–500 juta, tergantung pada jarak tempuh dan durasi misi. Durasi persiapan hingga pelaksanaan siklus pertama diperkirakan 2–3 bulan [11]. Model PKB dapat diadaptasi untuk konteks geografis yang berbeda: di daerah kepulauan, tim medis dapat menggunakan kapal kesehatan; di daerah pegunungan, pendekatan dengan helikopter atau pesawat perintis dapat dipertimbangkan [10]. Strategi scale up yang diterapkan Boven Digoel adalah ekspansi bertahap dengan menambah 2–3 distrik baru setiap tahun sebagai sasaran PKB. Secara paralel, puskesmas permanen dibangun di distrik yang sudah stabil sehingga PKB dapat “bergerak maju” ke wilayah berikutnya yang lebih terpencil [14].
Daftar Pustaka
[1] Kabar Digoel, “Tim PKB Tahap 2 Laksanakan Pelayanan di Kampung Bayanggop,” kabardigoel.com, 2022. [Online]. Tersedia: https://kabardigoel.com/2022/10/05/tim-pkb-tahap-2-laksanakan-pelayanan-di-kampung-bayanggop/
[2] BPS Kabupaten Boven Digoel, “Kabupaten Boven Digoel Dalam Angka 2024,” bovendigoelkab.bps.go.id, 2024.
[3] Info Publik, “Dinkes Boven Digoel Gelar Pelayanan Kesehatan Bergerak di Kampung Terpencil Metto,” infopublik.id, Okt. 2025. [Online]. Tersedia: https://infopublik.id/
[4] Kementerian Kesehatan RI, “Data e-Sismal: Situasi Kasus Malaria Papua Selatan 2023–2024,” kemkes.go.id, 2024.
[5] Papua 60 Detik, “Kondisi Tenaga Kesehatan dan Fasilitas Puskesmas di Boven Digoel,” papua60detik.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://papua60detik.id/
[6] Pemerintah Kabupaten Boven Digoel, “Profil Tenaga Kesehatan Kabupaten Boven Digoel 2024,” bovendigoelkab.go.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://bovendigoelkab.go.id/
[7] Universitas Negeri Surabaya (UNESA), “Analisis Program Pelayanan Kesehatan di Daerah Terpencil Papua,” unesa.ac.id, 2024.
[8] Info Publik, “Evaluasi PKB Tahap IV Boven Digoel: Peningkatan Perilaku Hidup Sehat di Kampung Pedalaman,” infopublik.id, 2022. [Online]. Tersedia: https://infopublik.id/
[9] RRI, “Pelayanan Kesehatan Bergerak Boven Digoel Beralih ke Dana Otsus 2025,” rri.co.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://rri.co.id/
[10] TNI Angkatan Udara, “Dukungan Logistik dan Keamanan untuk Program Kesehatan di Pedalaman Papua,” tni-au.mil.id, 2024.
[11] Badan Pengarah Papua, “Evaluasi Realisasi Dana Otsus Kesehatan Kabupaten Boven Digoel Tahun 2024,” badanpengarahpapua.go.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://badanpengarahpapua.go.id/
[12] RRI, “RSUD Boven Digoel Realisasikan DAK Non Fisik 100 Persen untuk Alat Kesehatan,” rri.co.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://rri.co.id/
[13] RRI, “Boven Digoel Dorong Puskesmas Jadi BLUD untuk Tingkatkan Layanan,” rri.co.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://rri.co.id/
[14] Pemerintah Kabupaten Boven Digoel, “Peresmian Puskesmas Kawagit dan Rumah Dinas Nakes,” bovendigoelkab.go.id, Mar. 2026. [Online]. Tersedia: https://bovendigoelkab.go.id/