Ringkasan Inovasi

Desa Wokam, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, mengubah warisan benteng kolonial dan ekosistem pesisirnya menjadi paket ekowisata terpadu yang dirintis Pemerintah Desa Wokam bersama masyarakat adat. Program ini menggabungkan Wisata Benteng, Wisata Sungai Mangrove, dan Wisata Pantai dalam satu skema pariwisata berbasis komunitas yang telah terdaftar resmi di Jadesta Kemenparekraf [1]. Sebelumnya, seluruh 1.117 warga desa bergantung penuh pada perikanan dan pertanian musiman, sementara benteng peninggalan abad ke-16 dibiarkan tanpa perawatan dan berisiko roboh [4]. Ketergantungan tunggal pada perikanan serta keterisolasian geografis membuat desa ini rentan terhadap goncangan ekonomi sekaligus berisiko kehilangan jejak sejarahnya sendiri. Inovasi ini lahir untuk menjawab persoalan tersebut sekaligus memanfaatkan status Wokam sebagai satu-satunya desa di Kepulauan Aru yang memiliki situs benteng bersejarah. Dampak yang tercatat meliputi upaya pelestarian situs Benteng Kota Lama, tumbuhnya kesadaran konservasi mangrove, terbukanya sumber pendapatan baru dari jasa wisata, dan pengakuan kelembagaan desa lewat gelar Juara II Lomba Desa Pelaksana Terbaik 10 Program Pokok PKK tingkat Kabupaten Kepulauan Aru [2][3].

Latar Belakang

Desa Wokam terletak di Pulau Wokam, salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Aru yang berbatasan langsung dengan Laut Arafura di ujung timur Indonesia. Kabupaten Kepulauan Aru, yang dijuluki “Nusa Mutiara”, terdiri atas sekitar 95 pulau dengan luas daratan 6.426,77 kilometer persegi dan populasi sekitar 112.531 jiwa pada 2024 [2]. Desa Wokam sendiri memiliki wilayah seluas 86,49 kilometer persegi dengan penduduk 1.117 jiwa, terdiri dari 578 laki-laki dan 539 perempuan, menjadikannya salah satu permukiman berkepadatan sangat rendah di kawasan ini. Wilayah pesisirnya menyimpan ekosistem mangrove yang lebat serta situs Benteng Kota Lama, peninggalan jalur perdagangan rempah dan mutiara sejak abad ke-16 [4].

Sebelum inovasi diterapkan, seluruh 1.117 penduduk Desa Wokam menggantungkan hidup pada perikanan tradisional dan pertanian skala kecil yang sepenuhnya bergantung pada musim dan gelombang laut. Sektor pariwisata belum berkontribusi sama sekali terhadap ekonomi desa pada masa itu, sementara situs Benteng Kota Lama mengalami keretakan dan kerobohan struktur akibat dibiarkan tanpa pengelolaan bertahun-tahun [4]. Ekosistem mangrove di sepanjang pesisir juga belum dimanfaatkan sebagai aset ekonomi, meski berfungsi vital sebagai tempat berkembang biak ikan Laut Arafura [5]. Ketiadaan sumber pendapatan alternatif ini membuat keluarga nelayan rentan saat musim paceklik, sementara generasi muda desa nyaris tidak mengenal sejarah kampung halamannya sendiri.

Keterisolasian geografis, dengan jarak 9 kilometer dari Dobo yang hanya dapat ditempuh lewat jalur laut bergantung pasang surut, mempertegas urgensi mencari sumber penghidupan yang tidak rentan terhadap musim maupun akses pasar ikan. Momentum berubah ketika pemerintah desa dan tokoh adat menyadari bahwa Wokam adalah satu-satunya desa di Kepulauan Aru yang memiliki situs benteng kolonial yang masih dapat dikenali strukturnya. Dorongan program pengembangan desa wisata nasional dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif turut menjadi pemicu bagi pemerintah desa untuk memformalkan Wokam sebagai desa wisata [1]. Sejak titik itu, warga dan pemerintah desa mulai merancang strategi memadukan warisan sejarah dengan kekayaan ekosistem pesisir sebagai jalan keluar dari ketergantungan tunggal pada perikanan.

Inovasi yang Diterapkan

Gagasan mengemas tiga destinasi dalam satu paket wisata lahir dari diskusi warga dan pemerintah desa yang menyadari potensi Wokam belum tergarap secara terintegrasi. Wisata Benteng menyajikan jejak sejarah perdagangan kolonial Portugis dan Belanda, Wisata Sungai Mangrove menawarkan susur perahu di ekosistem bakau yang masih alami, dan Wisata Pantai melengkapi pengalaman dengan panorama Laut Arafura [1]. Ketiganya dikemas sebagai satu paket kunjungan yang saling melengkapi, bukan sekadar objek wisata yang berdiri sendiri-sendiri.

Inovasi ini berjalan melalui pendekatan community-based tourism, di mana warga berperan sebagai pemandu, pengemudi perahu tradisional, dan penyedia kuliner berbasis hasil laut. Jadwal kunjungan disusun mengikuti siklus pasang surut air laut, karena akses ke benteng dan sebagian titik pantai hanya memungkinkan pada kondisi air tertentu [1]. Ketergantungan pada ritme alam yang semula dianggap keterbatasan ini justru diubah menjadi elemen pembeda, sebab wisatawan diajak mengalami langsung ritme hidup kepulauan, bukan sekadar mengunjungi objek wisata konvensional yang bisa diakses kapan saja.

Proses Penerapan Inovasi

Tahap pertama dimulai dengan inventarisasi dan dokumentasi aset wisata desa secara partisipatif. Pemerintah desa bersama tokoh adat dan warga memetakan situs Benteng Kota Lama yang menyisakan struktur gudang, dapur, dan tempat istirahat peninggalan kolonial [4]. Tim juga mengidentifikasi jalur sungai mangrove yang aman dilalui perahu serta titik pantai dengan daya tarik visual tinggi, sekaligus mempelajari pengaruh pasang surut terhadap aksesibilitas setiap lokasi.

Tahap kedua berfokus pada penguatan kelembagaan. Pemerintah desa mendaftarkan Wokam ke Jadesta Kemenparekraf sebagai langkah formalisasi status desa wisata, diikuti pelatihan pemanduan, pengelolaan homestay sederhana, dan penyajian kuliner lokal bagi warga yang terlibat langsung melayani wisatawan [1]. Penguatan ini mendapat momentum tambahan ketika desa meraih Juara II Lomba Desa Pelaksana Terbaik 10 Program Pokok PKK tingkat kabupaten [3].

Tahap ketiga adalah penataan jalur wisata dan upaya awal konservasi benteng. Percobaan pertama memperbaiki struktur benteng menggunakan tenaga dan material lokal ternyata tidak membuahkan hasil memadai, karena kerusakan sudah menjangkau bagian struktural yang membutuhkan keahlian konservasi khusus. Kegagalan ini mengoreksi arah desa: alih-alih melanjutkan perbaikan swadaya, pemerintah desa membuka kemitraan dengan lembaga riset seperti BRIN untuk mendatangkan tenaga ahli dari luar pulau [4]. Pelajaran bagi replikator adalah pentingnya menilai keterbatasan kapasitas lokal sejak awal, alih-alih menghabiskan waktu dan tenaga pada solusi swadaya yang berisiko tidak memadai untuk kerusakan berat.

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Secara internal, keterbatasan sumber daya manusia yang terampil di bidang manajemen pariwisata, konservasi situs bersejarah, dan literasi digital menjadi kendala utama pada tahap awal. Pemerintah desa mengatasinya dengan mengikutsertakan warga dalam pelatihan pemanduan wisata, pengelolaan homestay, dan penyajian kuliner yang difasilitasi melalui program pengembangan desa wisata [1]. Keterbatasan modal usaha turut menghambat pembangunan fasilitas pendukung, sehingga warga menempuh jalan swadaya berupa gotong royong untuk menata jalur mangrove dan area benteng pada tahap awal.

Secara eksternal, keterisolasian geografis Desa Wokam yang hanya dapat diakses lewat jalur laut dari Dobo, dengan waktu tempuh bergantung cuaca dan gelombang, membatasi jumlah kunjungan wisatawan. Alih-alih menghilangkan kendala ini, pemerintah desa memilih menjadikan ritme pasang surut sebagai bagian dari paket wisata, sehingga wisatawan justru diajak menyesuaikan jadwal kunjungan dengan kondisi alam [1]. Kerusakan struktural benteng yang sudah retak dan sebagian roboh memerlukan keahlian konservasi yang tidak tersedia di tingkat desa, sehingga pemerintah desa membuka kemitraan dengan BRIN untuk mendatangkan tenaga ahli dari luar pulau [4]. Keterbatasan jaringan telekomunikasi yang menghambat promosi digital diatasi secara bertahap dengan memanfaatkan pendaftaran resmi di Jadesta Kemenparekraf sebagai kanal promosi utama, alih-alih bergantung pada media sosial yang membutuhkan konektivitas stabil [1].

Faktor Penentu Keberhasilan

Peran para pemangku kepentingan saling melengkapi dalam mendukung inovasi ini. Pemerintah Desa Wokam bertindak sebagai penggerak utama dan penghubung ke program nasional, tokoh adat menjaga legitimasi sosial dan mobilisasi warga, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memberi wadah formal melalui Jadesta, sementara BRIN berkontribusi pada aspek konservasi ilmiah situs benteng [1][4]. Sinergi peran ini memastikan inovasi tidak hanya berjalan di tingkat desa, tetapi juga terhubung dengan dukungan kelembagaan yang lebih luas.

Modal sosial berupa solidaritas masyarakat adat yang masih terjaga menjadi pengikat partisipasi warga dalam mengelola destinasi wisata secara kolektif. Struktur kepemimpinan tradisional yang dihormati memudahkan mobilisasi warga, sementara tradisi maritim masyarakat Aru yang telah berlangsung berabad-abad menjadi keunggulan alamiah dalam menyediakan jasa transportasi laut dan pemanduan wisata bahari [2]. Keunikan benteng kolonial sebagai satu-satunya situs bersejarah di Kepulauan Aru turut memberi keunggulan kompetitif yang sulit direplikasi desa lain.

Hasil dan Dampak Inovasi

Dibandingkan kondisi awal ketika seluruh 1.117 warga hanya bergantung pada perikanan dan pertanian musiman, kini sebagian keluarga memperoleh pendapatan tambahan dari jasa pemanduan, sewa perahu, dan penjualan kuliner lokal. Situs Benteng Kota Lama yang sebelumnya dibiarkan retak dan roboh tanpa perawatan kini berangsur mendapat perhatian konservasi melalui kemitraan dengan BRIN [4]. Status desa yang semula tidak tercatat dalam peta pariwisata nasional berubah setelah terdaftar resmi di Jadesta Kemenparekraf, sekaligus meraih Juara II Lomba Desa Pelaksana Terbaik 10 Program Pokok PKK tingkat kabupaten [1][3].

Secara kultural, kesadaran warga atas nilai sejarah benteng sebagai bukti keterlibatan Aru dalam jaringan perdagangan internasional sejak abad ke-16 meningkat signifikan dibanding masa ketika situs itu terabaikan. Generasi muda yang sebelumnya nyaris tidak mengenal sejarah kampung halamannya kini berperan sebagai pemandu yang menceritakan narasi perdagangan rempah dan mutiara kepada pengunjung [4]. Perubahan ini menunjukkan pergeseran cara pandang warga terhadap warisan lokal, dari sesuatu yang terabaikan menjadi sumber kebanggaan sekaligus penghidupan.

Secara ekologis, mangrove yang sebelumnya dianggap lahan tidak produktif kini dipandang sebagai aset wisata yang mendorong warga menjaganya, bukan mengonversinya [5]. Dampak lanjutan yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal adalah meningkatnya perhatian terhadap konservasi terumbu karang di perairan sekitar desa, seiring tumbuhnya kesadaran wisata bahari secara umum.

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pendanaan awal inovasi ini bertumpu pada kombinasi anggaran desa untuk penataan fasilitas dasar dan swadaya masyarakat berupa tenaga kerja gotong royong serta perahu milik warga, tanpa bergantung pada investasi modal besar dari luar. Pendekatan bertahap dan berbiaya rendah ini memungkinkan desa mulai menawarkan paket wisata tanpa menunggu pembangunan infrastruktur skala besar lebih dahulu.

Model pendapatan bertumpu pada jasa pemanduan wisata, sewa perahu susur mangrove, retribusi kunjungan benteng, serta penjualan kuliner dan produk lokal, yang seluruhnya dikelola langsung oleh kelompok masyarakat pengelola wisata. Sebagian pendapatan dialokasikan sebagai dana konservasi situs benteng dan pemeliharaan jalur mangrove, sehingga keberlanjutan pembiayaan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah maupun hibah dari luar desa.

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan melibatkan tokoh adat sejak tahap perencanaan terbukti menjadi kunci yang tepat, karena legitimasi sosial mereka mempercepat mobilisasi warga tanpa memerlukan pendekatan formal yang panjang. Pendaftaran dini ke Jadesta Kemenparekraf juga memberi desa akses pada jaringan promosi dan pengakuan formal lebih cepat dibanding jika desa hanya mengandalkan promosi mandiri [1].

Jika memulai kembali dari awal, pemerintah desa mengakui akan lebih baik langsung melibatkan tenaga ahli konservasi sejak tahap pemetaan aset, alih-alih mencoba perbaikan swadaya pada struktur benteng yang ternyata membutuhkan penanganan khusus. Bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa, langkah praktis yang disarankan adalah menginventarisasi aset unik desa secara jujur, melibatkan struktur adat sejak awal, dan tidak memaksakan perbaikan situs bersejarah tanpa penilaian teknis yang memadai.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi dirancang melalui penguatan kelembagaan pengelola desa wisata yang menyatu dengan struktur pemerintahan desa dan kepemimpinan adat, bukan bertumpu pada satu individu semata. Dengan pengaturan ini, pergantian kepala desa di masa depan diharapkan tidak menghentikan program, karena pengelolaan harian tetap berada di tangan kelompok masyarakat dan tokoh adat yang telah terlatih.

Rencana pendapatan mandiri ditempuh dengan mengalokasikan sebagian retribusi dan hasil jasa wisata untuk dana konservasi serta pemeliharaan jalur wisata, sehingga inovasi tidak bergantung sepenuhnya pada dana hibah dari luar. Kemitraan dengan lembaga penelitian seperti BRIN turut diupayakan berlanjut untuk mendukung dokumentasi arkeologis dan konservasi situs benteng secara ilmiah [4]. Dalam jangka panjang, pemerintah desa berkomitmen mengintegrasikan Desa Wisata Wokam ke jaringan destinasi Kabupaten Kepulauan Aru bersama Taman Agrowisata Ursaguli di Desa Karangguli dan destinasi budidaya mutiara yang telah dikenal luas.

Kontribusi Pencapaian SDGs

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Pengembangan desa wisata terpadu menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat Desa Wokam melalui jasa pemanduan wisata, penyewaan perahu, dan penyediaan kuliner lokal, mengurangi ketergantungan tunggal pada perikanan musiman. Jumlah keluarga yang memperoleh pendapatan tambahan dari sektor wisata dibanding sebelum inovasi diterapkan
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Inovasi ekowisata terpadu membuka peran kerja baru di sektor pariwisata bagi warga pesisir, termasuk pemandu wisata sejarah, nahkoda perahu wisata mangrove, dan penyedia layanan akomodasi sederhana. Jumlah warga yang aktif berperan sebagai pelaku usaha wisata (pemandu, pengemudi perahu, penyedia kuliner/homestay)
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan Pelestarian situs Benteng Kota Lama sebagai warisan sejarah kolonial dan penataan kawasan wisata mangrove meningkatkan kualitas lingkungan permukiman Desa Wokam. Status konservasi situs benteng dan keberadaan jalur wisata mangrove yang tertata dan terpelihara
SDGs 14: Ekosistem Perairan Pengembangan Wisata Sungai Mangrove mendorong kesadaran dan upaya konservasi terhadap ekosistem hutan bakau yang berfungsi sebagai tempat berkembang biak ikan di Laut Arafura dan pelindung pesisir dari abrasi. Luas kawasan mangrove yang dijaga sebagai bagian dari jalur wisata dan bebas dari konversi lahan
SDGs 15: Ekosistem Daratan Integrasi pariwisata dengan konservasi mendorong perlindungan habitat satwa endemik Kepulauan Aru seperti burung cendrawasih dan kakatua hitam yang hidup di kawasan hutan pulau. Ada tidaknya kasus eksploitasi satwa endemik yang tercatat sejak wisata berjalan

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Prasyarat minimum bagi desa lain yang ingin mereplikasi model ini adalah kepemilikan aset wisata yang khas, struktur kepemimpinan adat yang masih berfungsi, dan kesediaan warga terlibat langsung dalam pengelolaan, bukan sekadar menjadi penonton program pemerintah. Estimasi biaya replikasi relatif rendah pada tahap awal karena mengandalkan swadaya dan anggaran desa untuk penataan jalur serta pelatihan dasar, sementara waktu yang dibutuhkan untuk membangun kelembagaan dan reputasi wisata biasanya berlangsung bertahap dalam hitungan tahun, bukan bulan.

Model adaptasi untuk konteks berbeda dapat menyesuaikan jenis atraksi utama sesuai aset lokal, misalnya situs budaya, kerajinan, atau ekosistem lain, selama tetap mengikuti prinsip pengelolaan berbasis komunitas dan penjadwalan yang menyesuaikan kondisi alam setempat. Strategi memperluas manfaat ke desa-desa lain dapat ditempuh melalui pembentukan jaringan desa wisata kepulauan se-Kabupaten Kepulauan Aru, menghubungkan Wokam dengan Taman Agrowisata Ursaguli di Desa Karangguli dan destinasi budidaya mutiara Aru dalam satu paket wisata lintas pulau [2][7]. Dokumentasi proses dan pembelajaran dari Desa Wokam melalui platform inovasi.web.id [6] menjadi referensi bagi desa kepulauan lain yang ingin mengembangkan ekowisata berbasis komunitas.

Daftar Pustaka

[1] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, “Desa Wisata Wokam – Jejaring Desa Wisata Indonesia,” jadesta.kemenparekraf.go.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/

[2] Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru, “Profil dan Potensi Kabupaten Kepulauan Aru,” kepulauanarukab.go.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://kepulauanarukab.go.id/

[3] Mafia Terkini, “Desa Wokam Raih Juara II Lomba Desa Pelaksana Terbaik 10 Program Pokok PKK Tingkat Kabupaten Kepulauan Aru,” mafiaterkini.com, 2025. [Online]. Tersedia: https://mafiaterkini.com

[4] Badan Riset dan Inovasi Nasional, “Situs Arkeologi dan Jejak Perdagangan Kolonial di Kepulauan Aru,” brin.go.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://brin.go.id

[5] Forest Watch Indonesia, “Ekosistem Mangrove dan Keanekaragaman Hayati Kepulauan Aru,” fwi.or.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://fwi.or.id

[6] Inovasi Desa, “Dokumentasi Inovasi dan Praktik Baik Pembangunan Desa,” inovasi.web.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id

[7] Pemerintah Provinsi Maluku, “Pengembangan Pariwisata dan Ekowisata Kepulauan Aru,” malukuprov.go.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://malukuprov.go.id

Data Inovasi

Nama Inovasi
Desa Wisata Ekowisata Terpadu Wokam

Alamat
Desa Wokam, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku
Inovator
Pemerintah Desa Wokam bersama masyarakat adat
Kontak
Email: desawokamaru@gmail.com
Telepon: 081344707202
Instagram: @desawokam
Lokasi