Desa Watu Kawula Mengembangkan Wisata Budaya dan Ekonomi Kreatif untuk Mengangkat Kesejahteraan Masyarakat Sumba
Ringkasan Inovasi
Desa Watu Kawula di Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, mentransformasi kekayaan alam dan warisan budaya megalitikum menjadi destinasi wisata alternatif strategis di tengah kota melalui pendekatan terpadu yang memadukan pengembangan pariwisata berbasis komunitas melalui Kelompok Sadar Wisata (PokDarwis) Kawula, pemberdayaan ekonomi keluarga melalui BUMDes Mandiri Watu Kawula, dan peningkatan ketahanan pangan melalui program budidaya kelor dan peternakan kambing. Inovasi yang digagas oleh Kepala Desa Laurensius Todo ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi 4.501 jiwa penduduk desa melalui diversifikasi mata pencaharian dari sektor pariwisata, perdagangan, dan peternakan, sekaligus melestarikan warisan budaya Suku Lobo yang berusia ratusan tahun. Dampak utamanya mencakup terciptanya lapangan kerja baru, peningkatan pendapatan asli desa melalui BUMDes yang membukukan keuntungan Rp50 juta dalam tiga bulan pertama, serta pengakuan nasional berupa masuknya Desa Wisata Watu Kawula dalam 500 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2022 [1][2][3].
Latar Belakang
Desa Watu Kawula terletak di jantung Kecamatan Kota Tambolaka, ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya, sebuah wilayah yang dikenal dengan lanskap savana khas Pulau Sumba dan tradisi megalitikum yang masih hidup hingga kini. Desa dengan populasi 4.501 jiwa ini menyimpan pesona alam dan budaya yang luar biasa, mulai dari situs kubur batu kuno peninggalan Suku Lobo di Kampung Kalaki Bola, kawasan persawahan dan hutan di Kampung Paba Dana dan Kampung Wano Rongngo, hingga panorama Bukit Mareda Kamou yang dikelilingi hutan jati. Meski kaya potensi, masyarakat desa selama bertahun-tahun belum mampu memanfaatkan kekayaan ini secara optimal untuk meningkatkan taraf hidup mereka [5].
Sebelum inovasi diterapkan, perekonomian masyarakat Watu Kawula bergantung pada pertanian musiman dan peternakan tradisional yang rentan terhadap fluktuasi harga dan wabah penyakit. Ternak babi yang menjadi andalan ekonomi keluarga mengalami pukulan berat akibat virus African Swine Fever (ASF) yang memusnahkan populasi babi secara masif. Letak pasar yang semakin jauh akibat berpindahnya pedagang dari Pasar Rada Mata ke Pasar Hoba Komi-Weepangali turut mempersulit akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok sehari-hari [4][2].
Permasalahan ekonomi ini diperparah oleh tingginya angka stunting di kalangan anak-anak desa akibat keterbatasan akses terhadap pangan bergizi. Banyak keluhan yang diterima dari guru-guru sekolah mengenai kondisi anak-anak dari keluarga tidak mampu yang kesulitan memenuhi kebutuhan gizi dan pendidikan dasar. Kondisi multidimensi inilah yang mendorong Kepala Desa Laurensius Todo untuk merumuskan inovasi terpadu yang menjawab tantangan ekonomi, ketahanan pangan, dan pelestarian budaya secara bersamaan.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi Desa Wisata Budaya dan Ekonomi Kreatif Watu Kawula lahir dari visi Kepala Desa Laurensius Todo yang melihat potensi besar posisi geografis desa sebagai “surga kecil di tengah kota.” Gagasan ini mengintegrasikan tiga pilar utama pembangunan desa, yaitu pengembangan pariwisata berbasis komunitas melalui PokDarwis Kawula, penguatan ekonomi melalui BUMDes Mandiri Watu Kawula, dan peningkatan ketahanan pangan melalui program budidaya kelor dan peternakan kambing. Pendekatan terpadu ini menjadikan setiap komponen saling menguatkan sehingga menciptakan ekosistem pembangunan desa yang berkelanjutan [1][2].
Pada pilar pariwisata, Kepala Desa menata lokasi PokDarwis Kawula dengan memanfaatkan posisi strategis desa yang berada di dataran tinggi. Lokasi ini memiliki keunikan pemandangan yang memukau pada jam 05.00 WITA pagi dan jam 17.00 WITA sore, menjadikannya titik pengamatan sunrise dan sunset yang ideal. Seluruh kegiatan dan potensi wisata desa didokumentasikan dan dipromosikan melalui kanal YouTube PokDarwis Kawula sebagai strategi digitalisasi pemasaran destinasi. Pada pilar ekonomi, BUMDes mengelola unit usaha kios dan simpan pinjam yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, sementara pada pilar ketahanan pangan, program bantuan kambing dan budidaya kelor dirancang untuk meningkatkan gizi masyarakat sekaligus mencegah stunting [1].
Elemen pembeda utama yang menjadikan inovasi Watu Kawula berbeda dari desa wisata konvensional adalah pendekatannya yang tidak hanya mengembangkan pariwisata, tetapi secara simultan mengatasi permasalahan ekonomi dan stunting melalui satu kerangka kebijakan desa yang terintegrasi. Wisatawan yang berkunjung tidak hanya menikmati panorama dan budaya, tetapi juga turut menggerakkan roda ekonomi BUMDes yang hasilnya dialokasikan kembali untuk program pemberdayaan masyarakat — menciptakan closed loop antara pariwisata, ekonomi, dan kesejahteraan sosial.
Proses Penerapan Inovasi
Tahap pertama penerapan inovasi dimulai dengan identifikasi dan pemetaan seluruh aset wisata desa secara menyeluruh. Tim pemerintah desa bersama tokoh masyarakat menginventarisasi situs kubur batu megalitikum Suku Lobo di Kampung Kalaki Bola, kawasan persawahan dan mata air di Kampung Paba Dana dan Kampung Wano Rongngo, serta Bukit Mareda Kamou yang berada di kawasan hutan jati. Proses pemetaan ini menghasilkan basis data komprehensif tentang potensi desa yang kemudian digunakan sebagai fondasi pengembangan paket wisata terpadu [5].
Tahap kedua berfokus pada pembangunan kelembagaan dan infrastruktur ekonomi desa. BUMDes Mandiri Watu Kawula didirikan dengan dua unit usaha awal, yakni kios dan simpan pinjam, menggunakan dana bergulir sebesar Rp191 juta untuk simpan pinjam dan modal Rp100 juta untuk usaha kios. Pada saat yang sama, PokDarwis Kawula dibentuk sebagai wadah masyarakat untuk mengelola dan mempromosikan destinasi wisata desa. Pembangunan Pasar Mandiri Desa Watu Kawula direncanakan di lokasi strategis dekat Kantor Kodim 1629 untuk mendekatkan akses belanja kepada masyarakat [2].
Tahap ketiga mencakup pelaksanaan program pemberdayaan ekonomi keluarga secara langsung. Pada Mei 2022, pemerintah desa menyalurkan bantuan 100 ekor kambing kepada warga masyarakat menggunakan dana Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa. Program ini dipilih sebagai respons adaptif terhadap wabah virus ASF yang memusnahkan ternak babi masyarakat. Secara bersamaan, program penanaman kelor digulirkan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dan mendukung upaya pencegahan stunting. Wawasan penting dari tahap ini adalah bahwa respons cepat terhadap krisis — dalam hal ini penggantian ternak babi dengan kambing — harus disertai edukasi teknis pemeliharaan agar bantuan benar-benar produktif [4].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan infrastruktur berupa keterbatasan akses transportasi mempengaruhi konektivitas desa dengan pusat-pusat ekonomi dan wisata di luar wilayah Tambolaka. Meskipun berada di tengah kota, pengembangan destinasi wisata di beberapa kampung seperti Paba Dana dan Wano Rongngo masih terkendala oleh kondisi jalan yang belum memadai. Mitigasi yang dilakukan adalah mengadvokasi perbaikan jalan lingkungan melalui program pembangunan infrastruktur desa dari Dana Desa, serta mengembangkan jalur wisata alternatif yang memanfaatkan jalan utama kota yang sudah memadai untuk mengakses titik-titik wisata terdekat [4].
Tantangan ekonomi berupa wabah virus African Swine Fever (ASF) yang memusnahkan ternak babi masyarakat memberikan pukulan berat yang memaksa perubahan pola mata pencaharian secara mendadak. Mitigasi yang ditempuh adalah program substitusi peternakan dari babi ke kambing melalui penyaluran bantuan 100 ekor kambing menggunakan dana ADD dan Dana Desa. Harga jual kambing yang melonjak tinggi menjadikan peternakan kambing sebagai pilihan ekonomi yang bahkan lebih menguntungkan dibandingkan beternak babi, sehingga krisis justru membuka peluang baru bagi diversifikasi ekonomi masyarakat [4].
Tantangan sumber daya manusia berupa terbatasnya tenaga terampil di bidang manajemen pariwisata dan literasi digital di tingkat desa menghambat optimalisasi promosi wisata. Unit usaha simpan pinjam BUMDes mengalami perlambatan pertumbuhan karena jangkauannya yang terbatas pada kalangan tertentu saja. Mitigasi yang dilakukan adalah memfokuskan pengembangan BUMDes pada unit usaha kios yang terbukti lebih efektif menjangkau seluruh lapisan masyarakat, serta melatih pemuda desa untuk mengelola kanal YouTube PokDarwis Kawula sebagai sarana promosi digital yang murah dan berdampak luas [2].
Faktor Penentu Keberhasilan
Kepemimpinan visioner dan konsisten dari Kepala Desa Laurensius Todo menjadi faktor penentu utama keberhasilan inovasi ini. Beliau tidak hanya merancang strategi pembangunan terpadu yang mengintegrasikan pariwisata, ekonomi, dan ketahanan pangan, tetapi juga secara aktif turun ke lapangan memantau pelaksanaan setiap program. Komitmennya untuk memberikan bantuan secara berkelanjutan dan bertahap kepada seluruh dusun menunjukkan keberpihakan pada pemerataan kesejahteraan masyarakat [4].
Dukungan kolaboratif dari berbagai pemangku kepentingan turut mempercepat keberhasilan program. Camat Kota Tambolaka, Agustinus H. Theedens, memberikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap pemanfaatan Dana ADD dan Dana Desa untuk pemberdayaan ekonomi keluarga. Keterlibatan aktif Ketua BUMDes Markus Ngongo dalam mengelola unit usaha, partisipasi masyarakat yang antusias dalam menerima dan mengembangkan bantuan ternak, serta gotong royong warga dalam membangun infrastruktur wisata menjadi modal sosial yang tidak ternilai bagi keberhasilan inovasi ini [2][4].
Hasil dan Dampak Inovasi
Secara ekonomi, BUMDes Mandiri Watu Kawula berhasil membukukan keuntungan sekitar Rp40 juta dari usaha simpan pinjam dan Rp10 juta dari usaha kios yang baru beroperasi selama tiga bulan. Pencapaian ini menunjukkan potensi besar usaha kios dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat dibandingkan simpan pinjam yang hanya menyentuh kalangan tertentu. Pembangunan Pasar Mandiri Desa Watu Kawula yang resmi beroperasi pada Desember 2022 berhasil mendekatkan akses kebutuhan pokok bagi masyarakat yang sebelumnya harus menempuh puluhan kilometer untuk berbelanja [2][6].
Program bantuan kambing kepada 100 warga menciptakan sumber pendapatan alternatif yang menjanjikan di tengah merosotnya populasi ternak babi akibat virus ASF. Harga jual kambing yang melonjak tinggi menjadikan peternakan kambing sebagai pilihan ekonomi yang menguntungkan bagi masyarakat desa. Program budidaya kelor memberikan dampak ganda berupa peningkatan ketahanan gizi keluarga dan penurunan risiko stunting pada anak-anak desa [4].
Pada sektor pariwisata, pengakuan Desa Wisata Watu Kawula masuk dalam 500 besar ADWI 2022 menempatkan desa ini pada peta wisata nasional. PokDarwis Kawula berhasil menarik perhatian wisatawan melalui keunikan panorama sunrise dan sunset dari dataran tinggi, serta daya tarik situs megalitikum dan kearifan lokal Suku Lobo yang otentik. Digitalisasi promosi melalui kanal YouTube PokDarwis Kawula memperluas jangkauan informasi destinasi wisata desa hingga ke tingkat nasional [3][1].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pendanaan inovasi Desa Watu Kawula bersumber dari kombinasi Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa yang dikelola secara transparan oleh pemerintah desa. Dana bergulir sebesar Rp191 juta dialokasikan untuk unit usaha simpan pinjam BUMDes, sementara modal sebesar Rp100 juta disiapkan untuk unit usaha kios. Program bantuan kambing sebanyak 100 ekor dibiayai dari Dana Desa sebagai respons adaptif terhadap krisis wabah ASF [2][4].
Model pendapatan BUMDes Mandiri Watu Kawula dibangun dari beberapa aliran. Pertama, margin penjualan kebutuhan pokok di unit usaha kios dan Pasar Mandiri Desa. Kedua, pendapatan bunga dari unit simpan pinjam yang melayani kebutuhan permodalan masyarakat. Ketiga, retribusi dan jasa dari sektor pariwisata yang dikelola PokDarwis Kawula. Keuntungan BUMDes dialokasikan kembali untuk mendanai program pemberdayaan berkelanjutan, termasuk bantuan ternak kambing secara bertahap kepada dusun-dusun yang belum terjangkau, sehingga menciptakan siklus pendapatan yang saling menguatkan antara BUMDes, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat [2].
Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)
Keputusan paling tepat yang diambil oleh pemerintah Desa Watu Kawula adalah merumuskan pendekatan terpadu yang mengintegrasikan pariwisata, ekonomi, dan ketahanan pangan dalam satu kerangka kebijakan desa, alih-alih menangani setiap permasalahan secara terpisah. Respons cepat terhadap krisis wabah ASF melalui program substitusi ternak babi dengan kambing terbukti tidak hanya menyelamatkan ekonomi keluarga, tetapi justru membuka peluang baru yang lebih menguntungkan karena harga jual kambing lebih tinggi. Keputusan untuk mendirikan Pasar Mandiri Desa juga sangat tepat karena langsung menjawab keluhan masyarakat yang kesulitan mengakses kebutuhan pokok setelah pasar tradisional berpindah ke lokasi yang lebih jauh [4][2].
Jika memulai dari awal, pengelola mengakui bahwa unit usaha simpan pinjam BUMDes seharusnya dirancang dengan mekanisme yang lebih inklusif agar menjangkau seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya kalangan tertentu yang memiliki kapasitas meminjam. Pelatihan manajemen pariwisata dan literasi digital bagi pemuda desa idealnya dimulai jauh sebelum PokDarwis diluncurkan, agar saat destinasi wisata siap menerima pengunjung, sumber daya manusia pengelolanya juga sudah terlatih. Edukasi teknis pemeliharaan kambing juga sebaiknya diintensifkan sejak awal penyaluran bantuan untuk memastikan produktivitas ternak optimal.
Saran praktis bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa adalah memulai dari pemetaan aset desa yang menyeluruh untuk mengidentifikasi keunikan yang tidak dimiliki desa lain — baik berupa warisan budaya, panorama alam, maupun potensi komoditas unggulan. Pembentukan BUMDes sebaiknya difokuskan pada unit usaha yang paling dibutuhkan masyarakat dan memiliki pasar yang jelas, bukan pada jenis usaha yang terlihat modern tetapi tidak relevan dengan konteks lokal. Yang terpenting, inovasi desa harus dirancang sebagai ekosistem terintegrasi di mana setiap komponen saling menguatkan, sehingga krisis di satu sektor tidak melumpuhkan seluruh program [1].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan inovasi dirancang melalui konsolidasi unit usaha BUMDes yang memfokuskan pengembangan pada usaha kios dan pengelolaan Pasar Mandiri Desa karena terbukti lebih efektif menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Pendapatan dari BUMDes dialokasikan untuk mendanai program pemberdayaan berkelanjutan, termasuk bantuan ternak kambing secara bertahap kepada seluruh dusun dan pengembangan infrastruktur wisata. Integrasi Taman UMKM dengan destinasi Bukit Wisata Mareda Kamou menjadi strategi untuk menggabungkan ekonomi lokal dengan pariwisata secara sinergis [2][7].
Mekanisme regenerasi kepemimpinan disiapkan melalui pelibatan aktif pemuda desa dalam pengelolaan PokDarwis dan BUMDes, sehingga program tidak bergantung pada satu figur kepala desa. Struktur kelembagaan PokDarwis dan BUMDes dirancang dengan pembagian peran yang jelas agar operasional tetap berjalan meskipun terjadi pergantian personel. Dokumentasi seluruh prosedur pengelolaan wisata dan unit usaha BUMDes menjadi jaminan bahwa pengetahuan organisasi tidak hilang bersama pergantian pengurus.
Pada jangka panjang, pemerintah desa berkomitmen memperkuat program bantuan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu serta memperluas budidaya kelor sebagai pilar ketahanan gizi masyarakat. PokDarwis Kawula akan terus mengembangkan konten digital melalui platform YouTube dan media sosial untuk mempromosikan destinasi wisata desa kepada audiens yang lebih luas. Konektivitas dengan jaringan desa wisata se-Kabupaten Sumba Barat Daya akan memperkuat posisi Watu Kawula dalam ekosistem pariwisata regional [1][8].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi Desa Wisata Budaya dan Ekonomi Kreatif Watu Kawula berkontribusi terhadap pencapaian beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) melalui pendekatan terpadu yang menyentuh dimensi ekonomi, ketahanan pangan, pelestarian budaya, dan lingkungan. Kontribusi tersebut terangkum dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Program bantuan kambing kepada 100 warga dan pengembangan unit usaha BUMDes Mandiri menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat Desa Watu Kawula. Diversifikasi ekonomi melalui peternakan, perdagangan kios, dan jasa pariwisata mengurangi ketergantungan warga pada pertanian musiman. | 100 keluarga menerima bantuan kambing; BUMDes membukukan keuntungan Rp50 juta dalam 3 bulan pertama |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Program budidaya kelor meningkatkan ketersediaan pangan bergizi bagi masyarakat dan berkontribusi langsung pada upaya pencegahan stunting di kalangan anak-anak desa. Pembangunan Pasar Mandiri Desa memperdekat akses masyarakat terhadap bahan pangan segar. | Pasar Mandiri Desa beroperasi sejak Desember 2022; program budidaya kelor aktif di seluruh dusun |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | BUMDes Mandiri dengan unit usaha kios dan simpan pinjam menciptakan lapangan kerja lokal. Pengelolaan Pasar Mandiri Desa dan pengembangan sektor pariwisata melalui PokDarwis Kawula mendorong pertumbuhan ekonomi desa secara berkelanjutan. | Keuntungan BUMDes Rp40 juta (simpan pinjam) dan Rp10 juta (kios) dalam 3 bulan; masuk 500 besar ADWI 2022 |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan | Pembangunan infrastruktur desa seperti jalan lingkungan, rumah layak huni, dan Pasar Mandiri meningkatkan kualitas permukiman. Pengembangan desa wisata berbasis komunitas memastikan pertumbuhan desa berjalan selaras dengan pelestarian situs megalitikum dan warisan budaya Suku Lobo. | Infrastruktur pasar dan jalan lingkungan terbangun; situs budaya megalitikum terpelihara |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | Penataan kawasan wisata Bukit Mareda Kamou di hutan jati dan pelestarian situs kubur batu kuno di Kampung Kalaki Bola mendorong kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem daratan. Ekowisata terintegrasi dengan konservasi kawasan hutan dan mata air memperkuat komitmen pelestarian lingkungan. | Kawasan hutan jati Bukit Mareda Kamou terjaga; mata air di Kampung Paba Dana dan Wano Rongngo terpelihara |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Desa Wisata Budaya dan Ekonomi Kreatif Watu Kawula dapat direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Sumba Barat Daya yang memiliki potensi wisata budaya dan alam serupa, seperti Desa Letekonda yang berada di kecamatan yang sama. Prasyarat minimum untuk replikasi meliputi ketersediaan aset wisata unik (alam, budaya, atau keduanya), kepemimpinan kepala desa yang visioner dan berkomitmen, pembentukan kelembagaan BUMDes dan PokDarwis sebagai penggerak ekonomi dan pariwisata, serta dukungan anggaran dari Dana Desa dan ADD [8].
Estimasi biaya replikasi untuk model minimal (pembentukan BUMDes dengan satu unit usaha dan PokDarwis) berkisar Rp100–200 juta yang mencakup modal usaha, pelatihan masyarakat, dan infrastruktur wisata sederhana. Untuk model lengkap yang mencakup BUMDes multi-unit usaha, pasar desa, dan program bantuan ternak, investasi dapat mencapai Rp300–500 juta. Biaya ini dapat diakses melalui kombinasi Dana Desa, ADD, dan program pemberdayaan dari pemerintah kabupaten. Durasi dari perencanaan hingga operasional awal diperkirakan 6–12 bulan.
Strategi scale up jangka panjang dapat diwujudkan melalui pembentukan jaringan desa wisata se-Kabupaten Sumba Barat Daya yang saling terhubung dalam satu ekosistem pariwisata terintegrasi. Pemerintah kabupaten dapat memfasilitasi konektivitas antardesa wisata melalui pengembangan infrastruktur jalan dan transportasi serta peningkatan kapasitas digital masyarakat desa. Integrasi Desa Wisata Watu Kawula ke dalam paket wisata lintas destinasi bersama situs megalitikum Sumba dan destinasi budaya lainnya akan memperkuat posisi Sumba Barat Daya sebagai destinasi wisata budaya kelas dunia yang berkelanjutan.
Daftar Pustaka
[1] Suara Indonesia, “PokDarwis Kawula: Kepala Desa Watu Kawula Menata Lokasi Wisata Strategis,” suaraindonesia1.com, Jul. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.suaraindonesia1.com/2025/07/pokdarwis-kawula-kepala-desa-watu.html
[2] P. P. Piter, “Kepala Desa Watu Kawula Sumba Barat Daya Siap Bangun Pasar Desa dan Kembangkan Kelor,” Pos Kupang – Tribun News, Des. 2019. [Online]. Tersedia: https://kupang.tribunnews.com/2019/12/30/kepala-desa-watu-kawula-sumba-barat-daya-siap-bangun-pasar-desa-dan-kembangkan-kelor
[3] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, “Desa Wisata Watu Kawula – Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022,” jadesta.kemenparekraf.go.id, 2022. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/
[4] Info Publik, “100 Warga Desa Watu Kawula SBD Dapat Bantuan Kambing,” infopublik.id, Mei 2022. [Online]. Tersedia: https://infopublik.id/kategori/nusantara/630822/index.html
[5] Pemerintah Desa Watu Kawula, “Potensi Wisata Desa Watu Kawula Kecamatan Kota Tambolaka,” YouTube, 2022. [Online]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=7gAriSMvtEU
[6] Info Publik, “Pasar Mandiri Desa Watukawula Resmi Beroperasi,” infopublik.id, Des. 2022. [Online]. Tersedia: https://infopublik.id/
[7] Lintas Sumba, “Pengembangan Taman UMKM dan Bukit Wisata Mareda Kamou Desa Watu Kawula,” lintassumba.com, 2025. [Online]. Tersedia: https://lintassumba.com
[8] Inovasi Desa, “Dokumentasi Inovasi dan Praktik Baik Pembangunan Desa,” inovasi.web.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id