Ringkasan Inovasi

Desa Wanadadi, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara, mengembangkan destinasi Seakong Agroeduwisata di tepi Waduk Panglima Besar Soedirman (Waduk Mrica) yang memadukan wisata alam perairan, edukasi pertanian dan perikanan, serta nilai budaya lokal sebagai tanah kelahiran musisi nasional Ebiet G. Ade [1]. Model Community Based Tourism (CBT) menempatkan warga sebagai pelaku utama wisata, bukan sekadar penonton pembangunan dari luar, sehingga nilai ekonomi kunjungan wisatawan berputar langsung di dalam komunitas [5]. Hasilnya tervalidasi secara kompetitif: pada September 2025, Desa Wisata Wanadadi meraih gelar Juara Favorit dalam Penganugerahan Gelar Desa Wisata Jawa Tengah 2025, mengungguli sejumlah desa wisata dari 29 peserta se-Jawa Tengah berkat inovasi, pengembangan potensi lokal, dan keterlibatan aktif komunitas [3].

 

Latar Belakang

Dua pertiga wilayah Desa Wanadadi merupakan kawasan perairan Waduk Mrica, kondisi geografis yang selama ini menjadi karakteristik dominan desa namun belum dimanfaatkan optimal sebagai aset wisata. Masyarakat mengandalkan mata pencaharian sebagai nelayan tangkap dan pembudidaya keramba jaring apung, namun nilai ekonominya terbatas karena tidak ada rantai nilai tambah yang sistemis di hilir produksi perikanan [1].

Di balik keterbatasan ekonomi itu, Desa Wanadadi menyimpan aset budaya yang langka: desa ini merupakan tanah kelahiran Ebiet G. Ade, musisi legendaris yang lagu-lagunya menembus lintas generasi. Rumah kelahirannya yang masih terjaga, dipadukan dengan panorama waduk dan aktivitas nelayan yang autentik, membentuk potensi wisata yang selama bertahun-tahun belum terkelola secara terstruktur [2].

Momentum perubahan muncul ketika lahan di Dusun Bangkong milik PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Mrica — pengelola Bendungan Panglima Besar Soedirman — mulai dikembangkan sebagai kawasan agroeduwisata seluas sekitar 12 hektare sejak Januari 2022, dengan dukungan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Indonesia Power terhadap pengembangan pariwisata di Banjarnegara [2]. Kepala Desa Wanadadi, Sigit Utoyo, yang telah menjabat sejak periode 2013–2019 dan berlanjut pada periode 2019–2025, mendorong potensi ini diorganisasi secara serius agar manfaatnya merata bagi seluruh warga.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi ini berupa destinasi Seakong Agroeduwisata — nama yang berasal dari akronim “Sela” (batu) dan Dusun Bangkong, merujuk pada formasi bebatuan di kawasan tersebut — yang mengintegrasikan pengalaman alam, edukasi, dan budaya dalam satu destinasi di tepi Waduk Mrica [2]. Model CBT yang dipilih menempatkan warga sebagai pemain utama di semua lini, dari pengelolaan atraksi, kuliner, hingga pemandu wisata.

Seakong memadukan tiga dimensi wisata sekaligus: wisata alam berupa pemandangan waduk dan wahana perahu, wisata edukasi berupa pengenalan budidaya keramba jaring apung dan pertanian, serta wisata budaya melalui penelusuran jejak Ebiet G. Ade di desa kelahirannya [1]. Pengunjung dapat memancing, menyaksikan panen ikan dari keramba, menikmati spot foto tepi waduk, hingga merasakan atmosfer budaya tempat lahirnya lagu-lagu sang maestro.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses pengembangan dimulai pada Januari 2022, disusul pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) “Wanadadi Berdikari” yang dikukuhkan secara resmi pada 16 November 2022 di lokasi Seakong, menandai dimulainya pengelolaan wisata yang terorganisasi [2]. Tim pengembang lalu berkoordinasi dengan BUMDesa Wanasejahtera, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara, serta perangkat desa untuk memetakan potensi dan kendala teknis sebelum destinasi resmi dibuka.

Pada 2024, mahasiswa Kelompok 70 program KPM MBKM-bR Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo turut membantu mengembangkan sarana prasarana dan strategi promosi daring Seakong [4]. Kontribusi ini mengidentifikasi dua kendala lapangan yang mendesak: akses jalan yang masih berlumpur saat musim hujan dan pengelolaan kebersihan lingkungan sekitar waduk yang belum memadai, keduanya sempat memengaruhi kenyamanan pengunjung awal.

Puncak peluncuran resmi berlangsung pada 17–19 November 2023 melalui Seakong Fest, festival tiga hari yang menghadirkan konser Ebiet G. Ade “Pulang Kampung” sekaligus penyerahan Surat Keputusan Desa Wisata kepada Kepala Desa Wanadadi [2]. Strategi peluncuran berbasis momentum budaya ini efektif menarik perhatian media dan wisatawan dari luar daerah, jauh melampaui kapasitas promosi konvensional desa.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar pada tahap awal adalah kondisi infrastruktur dasar yang belum siap menyambut wisatawan: akses jalan yang masih berlumpur di musim hujan dan kebersihan lingkungan sekitar waduk yang belum tertata [4]. Kedua kondisi ini sempat memperlambat laju kunjungan pada bulan-bulan awal sebelum infrastruktur diperbaiki, dan menjadi pengalaman penting bahwa kesiapan infrastruktur dasar harus mendahului promosi masif.

Tantangan berikutnya adalah membangun kapasitas dan mentalitas warga sebagai tuan rumah wisata yang profesional dan konsisten menjaga kualitas layanan. Pengelola Pratama Yudha Santosa menegaskan bahwa gelar Juara Favorit bukan titik akhir, melainkan pengingat bahwa sarana prasarana, diversifikasi atraksi, dan kapasitas pelayanan sumber daya manusia lokal masih perlu terus diperbaiki [3].

Mitigasi dilakukan secara bertahap: perbaikan infrastruktur jalan dan kebersihan diprioritaskan lebih dulu berkat masukan mahasiswa KPM UNSIQ pada 2024, sementara peningkatan kapasitas SDM warga dilakukan melalui pembinaan berkelanjutan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara [4].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah sinergi antara pemerintah desa sebagai fasilitator, BUMDesa Wanasejahtera sebagai motor ekonomi, Pokdarwis Wanadadi Berdikari sebagai pengelola operasional, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara sebagai pembina teknis, serta dukungan CSR PT Indonesia Power sebagai pemilik lahan [2]. Ketika kelima aktor ini bergerak dengan peran yang saling melengkapi, kapasitas kolektif yang dihasilkan melampaui apa yang bisa dicapai masing-masing pihak secara terpisah.

Faktor kedua adalah nilai budaya unik yang tidak dimiliki desa wisata lain: identitas sebagai tanah kelahiran Ebiet G. Ade yang menciptakan daya tarik emosional dan nostalgia lintas generasi, menjadi pembeda fundamental yang melampaui keindahan alam semata [1].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak ekonomi paling nyata terasa pada peningkatan pendapatan pelaku UMKM lokal — warung kuliner, penjual jajanan, penyewa alat pancing, dan pengrajin suvenir — yang mendapat tambahan penghasilan dari arus kunjungan wisatawan sejak destinasi resmi dibuka [4]. Nelayan keramba yang sebelumnya hanya menjual ikan ke pengepul kini mendapat nilai tambah ganda karena sebagian hasil panen dijual langsung kepada pengunjung, sementara aktivitas budidaya keramba mereka sendiri menjadi atraksi edukasi.

Secara kelembagaan, inovasi Wanadadi berkontribusi pada capaian Kabupaten Banjarnegara yang menurut pemerintah kabupaten kini memiliki puluhan desa wisata aktif, dengan Wanadadi sebagai salah satu contoh model pengembangan berbasis komunitas yang berhasil naik kelas ke tingkat provinsi [2]. Studi pengabdian masyarakat lain menilai bahwa pengembangan Seakong turut berdampak pada peningkatan pendapatan warga sekitar destinasi [6], sementara liputan media memperkuat eksposur publik atas pencapaian ini [7].

Puncak pengakuan datang pada September 2025 ketika Desa Wisata Wanadadi dinobatkan sebagai Juara Favorit dalam Penganugerahan Gelar Desa Wisata Jawa Tengah 2025, setelah seleksi selama sebulan terhadap 29 peserta dari seluruh Jawa Tengah [3]. Kepala Disporapar Jawa Tengah, M. Masrofi, menegaskan bahwa Wanadadi menjadi bukti nyata desa wisata Banjarnegara mampu bersaing di tingkat provinsi [3].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Fondasi utama pendanaan Seakong berasal dari lahan milik PT Indonesia Power UBP Mrica yang dikembangkan melalui dukungan CSR perusahaan, dikombinasikan dengan fasilitasi Pemerintah Desa Wanadadi dan pembinaan teknis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara [2]. Skema ini memungkinkan desa mengembangkan infrastruktur wisata tanpa harus menanggung seluruh biaya investasi awal secara mandiri.

Model bisnis operasional dijalankan oleh BUMDesa Wanasejahtera yang mengelola pendapatan dari tiket masuk, sewa wahana perahu dan pancing, serta menyalurkan sebagian keuntungan kepada Pokdarwis Wanadadi Berdikari untuk operasional harian dan pelaku UMKM warga seperti warung kuliner, penjual jajanan, dan pengrajin suvenir [5]. Skema ini dirancang agar BUMDesa tidak sepenuhnya bergantung pada Dana Desa atau bantuan insidental pemerintah daerah untuk keberlanjutan operasionalnya.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Wanadadi menunjukkan bahwa kemitraan dengan pemilik lahan korporat seperti PT Indonesia Power dapat menjadi jalan pintas pendanaan infrastruktur awal yang sulit dijangkau desa secara mandiri, asalkan diimbangi kelembagaan lokal yang kuat agar manfaatnya tidak hanya dinikmati segelintir pihak [2]. Urutan prioritas pembangunan juga menjadi pelajaran penting: infrastruktur dasar yang layak harus lebih dulu tersedia sebelum promosi besar-besaran dilakukan, karena kesan buruk pengunjung pertama sulit diperbaiki oleh strategi pemasaran sekuat apa pun.

Pelajaran lain adalah bahwa identitas budaya yang otentik, bahkan jika bersumber dari satu tokoh lokal seperti Ebiet G. Ade, dapat menjadi magnet promosi yang jauh lebih kuat dibanding keindahan alam semata. Namun demikian, penghargaan seperti gelar Juara Favorit perlu dipandang sebagai motivator untuk perbaikan berkelanjutan, bukan sebagai tujuan akhir pengembangan destinasi.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi bertumpu pada perbaikan bertahap tiga pilar: infrastruktur fisik yang semakin nyaman, mutu pelayanan yang semakin profesional, dan keragaman daya tarik wisata yang terus diperkaya [1]. BUMDesa Wanasejahtera memastikan pengelolaan wisata memiliki sumber pembiayaan berkelanjutan dari pendapatan operasional destinasi.

Kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara memastikan Wanadadi terus mendapat pembinaan teknis dan akses ke jaringan promosi pariwisata daerah yang lebih luas [8]. Identitas budaya Ebiet G. Ade direncanakan terus dikembangkan sebagai magnet wisata jangka panjang melalui festival tahunan dan pengembangan ruang memorial.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Seakong Agroeduwisata merupakan contoh implementasi pariwisata berkelanjutan berbasis komunitas yang menggerakkan beberapa dimensi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), dari pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi inklusif, pelestarian budaya, hingga kemitraan multipihak.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Seakong menciptakan pendapatan alternatif bagi nelayan, petani, dan pelaku UMKM yang sebelumnya bergantung pada hasil tangkapan ikan dengan nilai jual fluktuatif. Jumlah pelaku UMKM aktif di sekitar destinasi Seakong
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas Dimensi agroedukasi Seakong menjadikan destinasi ini ruang pembelajaran bagi pelajar dan mahasiswa, termasuk program KPM UNSIQ Wonosobo pada 2024. Jumlah kunjungan edukasi/kelompok mahasiswa per tahun
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Model CBT yang dijalankan Pokdarwis dan BUMDesa menciptakan pekerjaan layak sebagai pemandu, pengelola atraksi, dan penyedia kuliner tanpa relokasi warga. Jumlah tenaga kerja lokal terserap di unit usaha wisata
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Pengembangan Seakong mendorong penataan kawasan tepi waduk yang lebih teratur dan bersih sejak status Desa Wisata resmi diterima pada November 2023. Status resmi sebagai Desa Wisata sejak SK November 2023
SDGs 14: Ekosistem Lautan dan Perairan Integrasi budidaya keramba jaring apung ke dalam atraksi wisata menciptakan insentif ekonomi bagi nelayan untuk menjaga kualitas air Waduk Mrica. Kondisi kualitas air dan kelestarian keramba jaring apung
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kemitraan antara pemerintah desa, BUMDesa, Pokdarwis, Dinas Pariwisata, PT Indonesia Power, dan akademisi UNSIQ mencerminkan model kemitraan multipihak yang inklusif. Jumlah mitra aktif (pemerintah, korporat, akademisi) yang terlibat

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Seakong Agroeduwisata berpotensi direplikasi oleh desa lain yang memiliki potensi alam perairan — waduk, danau, sungai, atau pantai — yang belum termanfaatkan optimal sebagai destinasi wisata komunitas [5]. Kunci replikasinya terletak pada tiga prasyarat berurutan: pembentukan Pokdarwis yang solid, keterlibatan BUMDesa sebagai motor ekonomi mandiri, dan identifikasi identitas budaya lokal yang otentik sebagai pembeda kompetitif.

Strategi scale up dapat memanfaatkan platform Gelar Desa Wisata Jawa Tengah yang menurut Kepala Disporapar Jawa Tengah M. Masrofi dirancang sebagai ekosistem pembelajaran bersama antardesa wisata, bukan sekadar ajang kompetisi [8]. Dengan posisinya sebagai Juara Favorit tingkat provinsi, Wanadadi berpeluang menjadi rujukan bagi pengembangan desa wisata berbasis potensi alam perairan dan budaya lokal di wilayah lain.

 

Daftar Pustaka

[1] Pemerintah Desa Wanadadi / Desa Wisata Wanadadi, “Seakong Agroeduwisata — Profil Destinasi dan Pokdarwis Wanadadi Berdikari,” Instagram @desawisatawanadadi. [Online]. Tersedia: https://www.instagram.com/desawisatawanadadi/

[2] Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, “Pokdarwis Wanadadi Berdikari Siap Promosikan Seakong sebagai Agro Edu Wisata,” banjarnegarakab.go.id, 16 Nov. 2022. [Online]. Tersedia: https://banjarnegarakab.go.id/2022/11/16/pokdarwis-wanadadi-berdikari-siap-promosikan-seakong-sebagai-agro-edu-wisata/

[3] RRI Purwokerto, “Desa Wanadadi Juara Favorit Desa Wisata Jateng 2025,” rri.co.id, 11 Sep. 2025. [Online]. Tersedia: https://rri.co.id/purwokerto/info-pemda/1827712/desa-wanadadi-juara-favorit-desa-wisata-jateng-2025

[4] KPM MBKM-bR Kelompok 70 UNSIQ Wonosobo, “Pengembangan Wisata Seakong di Desa Wanadadi untuk Meningkatkan Daya Tarik Wisatawan,” Scribd / Publikasi Pengabdian Masyarakat, 2024. [Online]. Tersedia: https://id.scribd.com/document/708401423/

[5] Bina Swadaya, “Pengembangan Ekonomi Lokal Melalui Desa Wisata,” binaswadaya.org, 17 Mei 2022. [Online]. Tersedia: https://binaswadaya.org/pengembangan-ekonomi-lokal-melalui-desa-wisata/

[6] Tim KPM UNSIQ Wonosobo, “Pengembangan Wisata Seakong di Desa Wanadadi untuk Meningkatkan Pendapatan Masyarakat,” JEPEmas: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Bidang Ekonomi), Universitas Sains Al-Qur’an, 2024. [Online]. Tersedia: https://ojs.unsiq.ac.id/index.php/jepemas/article/view/6694

[7] YouTube TVRI / Media Lokal, “Wanadadi Buktikan Pesona, Banjarnegara Raih Juara Favorit Desa Wisata,” YouTube, 11 Sep. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=ttoQq-CqEVw

[8] Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, “Puluhan Inovasi Pariwisata Dipamerkan di Festival Desa Wisata,” jatengprov.go.id, 22 Sep. 2025. [Online]. Tersedia: https://jatengprov.go.id/beritadaerah/puluhan-inovasi-pariwisata-dipamerkan-di-festival-desa-wisata/

Data Inovasi

Nama Inovasi
Seakong Agroeduwisata — Pengembangan Desa Wisata Berbasis Komunitas (Community Based Tourism)
Alamat
Desa Wanadadi, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
Inovator
Sigit Utoyo (Kepala Desa Wanadadi), Pratama Yudha Santosa (Pengelola Desa Wisata), BUMDesa Wanasejahtera, dan Pokdarwis Wanadadi Berdikari, didukung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara
Kontak
Telepon 0286-3398744, Email desawanadadi@gmail.com
Lokasi