Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Tunjung, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, melalui BUMDes Tunjung Mekar meluncurkan program fasilitasi kerja di kapal pesiar internasional dengan skema pinjaman modal tanpa agunan [1]. Program ini menghapus hambatan finansial terbesar yang selama ini menghalangi warga kurang mampu mengakses pekerjaan bergaji tinggi di industri pariwisata global, yaitu ketiadaan biaya awal untuk paspor, dokumen, dan pelatihan keberangkatan. Inovasi ini bertujuan menekan angka pengangguran di empat banjar dinas Desa Tunjung sekaligus membangun sumber devisa keluarga yang stabil. Sejak diluncurkan, program telah memberangkatkan 30 orang angkatan kerja muda secara legal ke kapal pesiar dengan rute Eropa dan Kanada pada tahun-tahun awal [2], dan menurut catatan terbaru BUMDes Tunjung Mekar, jumlah ini telah bertambah menjadi lebih dari 40 orang seiring berjalannya program [8].

 

Latar Belakang

Desa Tunjung berdiri di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut, di wilayah pegunungan Bali Utara. Perekonomian warga bertumpu pada hasil bumi, kopi, cengkih, dan sayuran, yang menghidupi keluarga petani dari generasi ke generasi. Namun ketika angkatan kerja muda tumbuh pesat, lahan pertanian yang terbatas tidak lagi mampu menyerap mereka semua [3].

Peluang kerja di kapal pesiar internasional sudah lama dikenal sebagian warga Desa Tunjung. Industri pariwisata bahari global menawarkan gaji jauh di atas upah minimum daerah, dengan fasilitas akomodasi dan makan yang ditanggung perusahaan. Namun satu tembok tinggi menghalangi pemuda desa untuk melangkah masuk: biaya awal untuk paspor, sertifikasi, pelatihan, dan dokumen keberangkatan yang mencapai jutaan rupiah tidak terjangkau oleh keluarga petani gunung yang tidak memiliki aset sebagai jaminan pinjaman [4].

Perbekel I Made Sadia membaca situasi ini sebagai celah kebijakan yang bisa diisi: jika desa dapat menyediakan modal awal tanpa mensyaratkan agunan, hambatan terbesar itu runtuh dengan sendirinya. Kehadiran seorang mantan pekerja kapal pesiar yang kemudian menjabat Ketua BUMDes Tunjung Mekar menjadi modal sosial yang berharga, karena ia memahami dari dalam bagaimana sistem rekrutmen, pelatihan, dan kehidupan kerja di atas kapal pesiar itu bekerja [5].

 

Inovasi yang Diterapkan

BUMDes Tunjung Mekar mengembangkan skema kredit tanpa agunan khusus bagi warga yang telah lolos seleksi rekrutmen kapal pesiar. Pinjaman ini dikenakan bunga rendah, yang menurut laporan sekitar 1 persen per bulan, jauh di bawah bunga lembaga keuangan formal maupun koperasi konvensional, semata untuk menutup biaya operasional administrasi dan pengelolaan dana bergulir. Besaran pinjaman disesuaikan dengan kebutuhan nyata calon pekerja: biaya paspor, tes kesehatan, sertifikasi Basic Safety Training (BST), seragam, dan tiket keberangkatan [1].

Inovasi ini tidak berhenti pada pembiayaan semata. BUMDes Tunjung Mekar bekerja sama dengan agen penyaluran tenaga kerja kapal pesiar yang telah memiliki rekam jejak terpercaya untuk memastikan setiap pekerja mendapatkan kontrak kerja yang sah, perlindungan hukum, dan kepastian gaji sesuai standar internasional [6]. Seluruh mekanisme ini dirancang sebagai sistem terintegrasi: BUMDes sebagai pemberi modal, agen sebagai penyalur ke perusahaan kapal pesiar, dan pemerintah desa sebagai penjamin moral yang memastikan setiap warga yang berangkat adalah tenaga kerja terlatih dan terdokumentasi dengan baik.

 

Proses Penerapan Inovasi

Langkah pertama yang ditempuh Perbekel I Made Sadia adalah membangun fondasi kompetensi calon pekerja sebelum satu rupiah pun dari BUMDes dicairkan. Kelas bahasa Inggris intensif digelar di kantor desa, dan pelatihan keterampilan teknis hospitaliti dilaksanakan rutin di bawah bimbingan Ketua BUMDes yang pernah merasakan langsung ritme kerja di atas kapal [7].

Setelah peserta dinilai siap secara kompetensi, proses seleksi bersama agen penyaluran dilakukan untuk memastikan hanya kandidat dengan komitmen dan kemampuan memadai yang menerima pinjaman BUMDes. Keputusan memberikan pinjaman tanpa agunan pada awalnya memunculkan kekhawatiran di internal BUMDes tentang risiko gagal bayar. Pemerintah desa menjawab kekhawatiran itu dengan membangun sistem monitoring cicilan berbasis kepercayaan sosial: karena peminjam adalah warga desa yang dikenal secara personal oleh pengurus BUMDes, tekanan sosial komunitas desa terbukti lebih efektif sebagai mekanisme penagihan daripada jaminan aset [5].

Dokumentasi yang tersedia tidak merinci adanya kasus gagal bayar spesifik yang benar-benar terjadi; kekhawatiran ini lebih bersifat antisipatif dan dikelola sejak awal melalui desain program, bukan dikoreksi setelah kegagalan nyata terjadi. Pembelajaran penting dari proses ini adalah bahwa kegagalan bukan datang dari ketiadaan modal, tetapi dari ketiadaan kesiapan, sehingga BUMDes Tunjung Mekar memastikan setiap rupiah yang dipinjamkan menghasilkan tenaga kerja yang benar-benar diterima dan bertahan di kapal pesiar [3].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar yang dihadapi sejak awal adalah kekhawatiran risiko gagal bayar dari skema pinjaman tanpa agunan. Bagi BUMDes yang mengelola dana terbatas, satu atau dua kasus wanprestasi berpotensi mengganggu kesinambungan dana bergulir [5]. Kendala ini dimitigasi melalui mekanisme seleksi yang ketat sebelum pencairan pinjaman dan pemanfaatan modal sosial desa, sehingga tekanan sosial komunitas menjadi mekanisme penagihan yang lebih efektif dibanding jaminan aset formal.

Tantangan lain yang lebih struktural adalah ketergantungan program pada satu jaringan agen penyaluran dan satu figur kunci, yakni Ketua BUMDes yang memiliki pengalaman kapal pesiar. Jika agen mengalami masalah perizinan atau Ketua BUMDes tidak lagi menjabat, program berisiko kehilangan dua sumber daya paling kritis sekaligus [1]. Kendala ini direncanakan dimitigasi melalui diversifikasi mitra agen dan pendokumentasian pengetahuan teknis Ketua BUMDes ke dalam modul pelatihan tertulis, agar keberlanjutan program tidak bergantung pada satu individu semata.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor yang paling menentukan adalah keberadaan Ketua BUMDes yang merupakan mantan pekerja kapal pesiar. Pengetahuan praktisnya tentang standar rekrutmen, budaya kerja di atas kapal, dan jaringan koneksi dengan agen penyaluran terpercaya tidak bisa digantikan oleh pelatihan teknis apa pun [4].

Faktor kedua adalah kepemimpinan Perbekel I Made Sadia yang berani mengambil risiko kelembagaan dengan menjamin pinjaman tanpa agunan menggunakan otoritas moral pemerintah desa. Di desa dengan ikatan komunitas yang kuat seperti Tunjung, jaminan moral perbekel jauh lebih mengikat secara sosial daripada sertifikat tanah sekalipun. Dukungan keluarga, terutama restu orang tua yang mengizinkan anak-anak merantau ke laut lepas, melengkapi ekosistem kepercayaan yang menjadi fondasi program ini [1].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Hasil yang paling terukur adalah keberhasilan memberangkatkan 30 orang angkatan kerja muda dari Desa Tunjung ke kapal pesiar internasional secara legal pada tahun-tahun awal program, dengan rute utama Eropa dan Kanada [2]. Menurut catatan terbaru BUMDes Tunjung Mekar sendiri, jumlah pekerja yang difasilitasi telah bertambah menjadi lebih dari 40 orang seiring waktu, menunjukkan program terus berjalan dan berkembang, bukan berhenti setelah gelombang pertama [8].

Dampak ekonomi yang dirasakan langsung keluarga pekerja adalah masuknya kiriman devisa yang digunakan untuk membangun rumah, membiayai pendidikan anak, dan meningkatkan konsumsi keluarga. BUMDes Tunjung Mekar sendiri mendapatkan manfaat berupa arus cicilan pinjaman yang diputar kembali sebagai modal gelombang pemberangkatan berikutnya [6].

Secara kualitatif, program ini mengubah cara pandang pemuda desa terhadap masa depan mereka, dari identitas “anak petani gunung yang tidak punya pilihan” menjadi “tenaga profesional hospitaliti internasional.” Pergeseran ini membangun kepercayaan diri generasi baru Desa Tunjung bahwa keterbatasan geografis bukan takdir ekonomi yang harus diterima begitu saja [3].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal skema pinjaman bertumpu pada dana BUMDes Tunjung Mekar sendiri, dengan besaran pinjaman disesuaikan kebutuhan nyata calon pekerja untuk paspor, tes kesehatan, sertifikasi BST, seragam, dan tiket keberangkatan [1]. BUMDes juga tercatat menyalurkan bantuan pinjaman darurat senilai Rp35.100.000 kepada 13 rumah tangga saat pandemi Covid-19, menunjukkan kapasitas dana bergulir yang lebih luas dari sekadar pembiayaan kapal pesiar [8].

Model pendapatan BUMDes bertumpu pada bunga pinjaman rendah (sekitar 1 persen per bulan) yang menutup biaya operasional pengelolaan dana bergulir, bukan mencari keuntungan besar dari peminjam [1]. Cicilan yang dibayarkan pekerja setelah bekerja diputar kembali menjadi modal bagi gelombang pemberangkatan berikutnya, menciptakan siklus pembiayaan mandiri; BUMDes bahkan telah mengalokasikan Rp50.000.000 dari akumulasi keuntungan tiga tahun untuk mendukung kegiatan upacara adat komunitas, menandakan dana bergulir ini juga menghasilkan surplus di luar pembiayaan kapal pesiar [8].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan mendahulukan pembangunan kompetensi (bahasa Inggris, keterampilan hospitaliti, simulasi wawancara) sebelum pencairan pinjaman, alih-alih memberi modal terlebih dahulu, terbukti menjadi kunci memastikan setiap rupiah yang dipinjamkan menghasilkan tenaga kerja yang benar-benar diterima dan bertahan di kapal pesiar [7]. Mengandalkan kepercayaan sosial komunitas sebagai mekanisme penagihan, alih-alih mensyaratkan agunan formal, juga terbukti efektif tanpa menimbulkan kasus gagal bayar yang terdokumentasi.

Jika memulai dari awal, diversifikasi mitra agen penyaluran dan pendokumentasian pengetahuan teknis Ketua BUMDes idealnya dilakukan sejak tahap awal, bukan diidentifikasi belakangan sebagai kerentanan struktural. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan mengidentifikasi figur kunci dengan pengalaman industri yang otentik terlebih dahulu, membangun pelatihan kompetensi sebelum pembiayaan, dan merancang sejak awal mekanisme keberlanjutan yang tidak bergantung pada satu individu atau satu mitra agen saja.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan program ini dibangun di atas mekanisme dana bergulir yang mandiri secara finansial: cicilan pinjaman dari pekerja yang sudah berangkat langsung diputar menjadi modal pinjaman bagi calon pekerja di gelombang berikutnya, sehingga program tidak bergantung pada suntikan anggaran desa setiap tahun [8].

Strategi jangka panjang yang inovatif adalah membangun jaringan alumni pekerja kapal pesiar sebagai agen pengetahuan aktif. Para alumni diajak kembali ke desa saat masa kontrak selesai untuk berbagi pengalaman, membimbing calon pekerja baru, dan memperbarui informasi tentang kebutuhan rekrutmen kapal pesiar yang terus berubah, sehingga pengetahuan tidak lagi tersimpan di satu kepala saja [1].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Program fasilitasi kerja kapal pesiar BUMDes Tunjung Mekar berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Skema pinjaman tanpa agunan meruntuhkan hambatan finansial yang mengunci warga miskin dari akses pekerjaan bergaji tinggi, mengangkat daya beli rumah tangga dan membangun aset keluarga. Lebih dari 40 warga tercatat telah difasilitasi bekerja ke luar negeri atau kapal pesiar.
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas Program pelatihan bahasa Inggris intensif dan simulasi wawancara kerja yang diselenggarakan BUMDes adalah bentuk pendidikan vokasional non-formal yang diberikan gratis kepada warga desa. Kelas bahasa Inggris dan pelatihan hospitaliti digelar rutin di kantor desa sebelum pencairan pinjaman.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Program ini menciptakan akses ke pekerjaan layak dengan kontrak resmi, gaji standar internasional, dan perlindungan hukum bagi pekerja migran dari desa terpencil. Dana bergulir BUMDes menguat dari cicilan pekerja untuk membiayai gelombang pemberangkatan berikutnya.
SDGs 10: Berkurangnya Ketimpangan Dengan menyasar warga tanpa aset agunan, program ini memotong mekanisme ketimpangan yang mengunci kemiskinan antargenerasi di desa pegunungan terpencil. Pinjaman tanpa agunan diberikan khusus bagi warga yang lolos seleksi rekrutmen kapal pesiar.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Model kolaborasi antara pemerintah desa, BUMDes, agen penyaluran tenaga kerja swasta, dan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Buleleng mencerminkan kemitraan multipihak yang fungsional. Dinas Tenaga Kerja Buleleng turut memberikan pelatihan dan mendukung proses sertifikasi calon pekerja.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model BUMDes Tunjung Mekar dapat direplikasi oleh desa-desa lain di Kabupaten Buleleng dan wilayah pegunungan Bali yang menghadapi masalah pengangguran pemuda serupa, dengan satu syarat utama: desa harus memiliki atau berhasil mengidentifikasi setidaknya satu figur kunci yang memiliki pengetahuan teknis industri kapal pesiar atau industri kerja luar negeri yang menjadi sasaran program [3]. Pemerintah Desa Tunjung siap mengadakan lokakarya teknis bagi pengurus BUMDes se-Kabupaten Buleleng untuk berbagi mekanisme mitigasi risiko pinjaman, sistem monitoring cicilan, dan kurikulum pelatihan yang telah terbukti.

Untuk scale up ke tingkat provinsi, Pemerintah Provinsi Bali yang pada 2017 telah mengumumkan rencana memfasilitasi 1.000 tenaga kerja lulusan SMK untuk bekerja di kapal pesiar pada 2018 dapat mengadopsi model BUMDes Tunjung Mekar sebagai mekanisme pelaksanaan di tingkat desa yang lebih efisien daripada program pelatihan terpusat [9]. Model ini menempatkan BUMDes sebagai ujung tombak seleksi, pelatihan, dan pembiayaan dengan dukungan teknis dari Dinas Tenaga Kerja dan dukungan modal awal dari Dana Desa.

 

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa, “ID 00668: Pemerintah Desa Tunjung Fasilitasi Warga Bekerja di Kapal Pesiar Guna Atasi Pengangguran Desa,” inovasi.web.id, 3 Mar. 2026. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/pemerintah-desa-tunjung-fasilitasi-warga-bekerja-di-kapal-pesiar-guna-atasi-pengangguran-desa/.

[2] Pemerintah Kabupaten Buleleng, “Atasi Pengangguran, Desa Tunjung Fasilitasi Masyarakat Bekerja ke Luar Negeri,” bulelengkab.go.id, 19 Apr. 2022. [Daring]. Tersedia: https://bulelengkab.go.id/informasi/detail/berita/68_atasi-pengangguran-desa-tunjung-fasilitasi-masyarakat-bekerja-ke-luar-negeri.

[3] LenteraEsai.id, “Langkah Inovatif, Desa Tunjung Fasilitasi Warga Bekerja ke Luar Negeri untuk Atasi Pengangguran,” lenteraesai.id, 20 Apr. 2022. [Daring]. Tersedia: https://lenteraesai.id/2022/04/20/langkah-inovatif-desa-tunjung-fasilitasi-warga-bekerja-ke-luar-negeri-untuk-atasi-pengangguran/.

[4] Bali Tribunnews, “Tekan Angka Kemiskinan, BUMDes Tunjung Beri Pinjaman Modal untuk Pekerja Migran Indonesia,” bali.tribunnews.com, 20 Apr. 2022. [Daring]. Tersedia: https://bali.tribunnews.com/2022/04/20/tekan-angka-kemiskinan-bumdes-tunjung-beri-pinjaman-modal-untuk-pekerja-migran-indonesia.

[5] Koran Buleleng, “BUMDes Desa Tunjung Fasilitasi Warga yang Ingin Kerja di Luar Negeri,” koranbuleleng.com, 21 Apr. 2022. [Daring]. Tersedia: https://koranbuleleng.com/2022/04/21/bumdes-desa-tunjung-fasilitasi-warga-yang-ingin-kerja-di-luar-negeri/.

[6] Bali JPNN, “Desa Tunjung Libatkan BUMDes Berangkatkan Warga ke Kapal Pesiar Atasi Pengangguran,” bali.jpnn.com, 19 Apr. 2022. [Daring]. Tersedia: https://bali.jpnn.com/bali-terkini/15030/desa-tunjung-libatkan-bumdes-berangkatkan-warga-ke-kapal-pesiar-atasi-pengangguran.

[7] Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Buleleng, “Berikan Pelatihan dan Pinjaman Modal Kerja bagi Masyarakat yang Akan Bekerja ke Kapal Pesiar,” disnaker.bulelengkab.go.id. [Daring]. Tersedia: https://disnaker.bulelengkab.go.id/informasi/detail/berita/43_berikan-pelatihan-dan-pinjaman-modal-kerja-bagi-mayarakat-yang-akan-bekerja-ke-kapal-pesiar.

[8] BUM Desa Tunjung Mekar Tunjung, “Misi Sosial BUM Desa Tunjung Mekar Tunjung,” bumdesatunjungmekar.com, 2025. [Daring]. Tersedia: https://bumdesatunjungmekar.com/misi-sosial-bum-desa-tunjung-mekar-tunjung/.

[9] ANTARA News Bali, “Bali Fasilitasi 1.000 Tenaga Kerja Kapal Pesiar,” bali.antaranews.com, 4 Sep. 2017. [Daring]. Tersedia: https://bali.antaranews.com/berita/110343/bali-fasilitasi-1000-tenaga-kerja-kapal-pesiar.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Fasilitasi Kerja Luar Negeri Tanpa Agunan
Alamat
Desa Tunjung, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali
Inovator
I Made Sadia (Perbekel Desa Tunjung) dan BUMDes Tunjung Mekar
Kontak
Website https://bumdesatunjungmekar.com, E-mail desatunjung@bulelengkab.go.id, Telepon (0362) 3301051
Lokasi