Ringkasan Inovasi

Bangun, seorang Kader Kesehatan Lingkungan warga Desa Tritih Wetan, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, menciptakan Clorin Difuser, alat sederhana untuk membersihkan dan membunuh bakteri pada air sumur warga [1]. Inovasi ini lahir dari pengamatan Bangun atas kondisi sumur di wilayah padat penduduk yang letaknya terlalu dekat dengan septic tank, sering kali hanya berjarak 3-5 meter, jauh dari jarak aman minimal 10 meter, sehingga air sumur mudah tercemar bakteri Coliform. Alat ini dibuat dari dua pipa paralon berukuran 2 inci dan 1/2 inci sepanjang 20 sentimeter yang diberi lubang-lubang kecil, dengan pipa kecil berisi kaporit dimasukkan ke pipa besar yang rongganya diisi pasir bersih, lalu direndam ke dalam sumur agar melepaskan klorin secara bertahap. Berdasarkan hasil pemeriksaan UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, jumlah bakteri Coliform pada sampel air sumur turun dari lebih 2.400 per 100 mililiter menjadi kurang dari 2 per 100 mililiter setelah alat digunakan sekitar 10 hari. Inovasi ini turut mendukung capaian Desa Tritih Wetan yang pernah dinilai tim Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tingkat Provinsi Jawa Tengah pada 2018 [3].

 

Latar Belakang

Desa Tritih Wetan berada di Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, dan ke depan direncanakan masuk dalam perluasan wilayah perkotaan Cilacap sehingga berubah status menjadi kelurahan di bawah Kecamatan Cilacap Timur [2]. Sebagai desa dengan kepadatan permukiman yang terus meningkat, sebagian bangunan rumah warga saling berhimpitan, menciptakan tantangan tersendiri bagi ketersediaan air bersih.

Bangun, selaku Kader Kesehatan Lingkungan, mencermati bahwa air sumur di wilayah padat penduduk umumnya kurang bersih karena letaknya yang terlalu dekat dengan tempat pembuangan kotoran manusia maupun limbah sabun rumah tangga. Idealnya, jarak sumur dengan resapan air limbah septic tank minimal 10 meter, namun akibat pertumbuhan permukiman yang semakin padat, jarak tersebut kerap menyempit hingga hanya 3-5 meter, membuat air sumur mudah tercemar bakteri dan berisiko menyebabkan gangguan kesehatan bagi warga yang menggunakannya untuk mencuci piring maupun pakaian.

Keprihatinan atas risiko kesehatan dari air sumur tercemar ini mendorong Bangun mencari solusi murah dan mudah diterapkan warga, tanpa harus membangun ulang sumur atau memindahkan septic tank yang membutuhkan biaya besar. Dari situ, ia merancang Clorin Difuser sebagai alat disinfeksi sederhana yang bisa langsung direndam ke dalam sumur yang sudah ada.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah Clorin Difuser, alat disinfeksi air sumur sederhana yang mengadaptasi prinsip chlorine diffuser, teknik pelepasan klorin secara bertahap yang secara ilmiah terbukti efektif menurunkan kadar bakteri Coliform dan E. coli pada air melalui kerusakan komponen sel bakteri oleh senyawa hipoklorit [4]. Bangun menerapkan prinsip ini dalam bentuk alat sederhana berbahan pipa paralon yang bisa dibuat sendiri oleh warga.

Alat ini dibuat dari dua pipa paralon berukuran 2 inci dan 1/2 inci sepanjang sekitar 20 sentimeter yang masing-masing diberi lubang-lubang kecil sebagai pori-pori. Pipa kecil diisi kaporit hingga penuh lalu dimasukkan ke tengah pipa besar yang bagian bawahnya sudah ditutup rapat, kemudian rongga yang tersisa diisi pasir bersih sebelum kedua ujung pipa ditutup dan diikat tali, lalu direndam ke dalam sumur. Yang membedakan Clorin Difuser dari metode klorinasi konvensional adalah pelepasan klorin yang bertahap melalui pori-pori dan saringan pasir, sehingga bau kaporit tidak terlalu menyengat dibanding menaburkan kaporit langsung ke air sumur.

 

Proses Penerapan Inovasi

Bangun mulai mengembangkan Clorin Difuser berbekal pengamatannya sebagai Kader Kesehatan Lingkungan terhadap kondisi sumur warga di wilayah padat penduduk Desa Tritih Wetan [1]. Ia merancang dan menguji coba alat ini menggunakan bahan yang mudah didapat di toko bangunan, yaitu pipa paralon, kaporit, dan pasir.

Pada uji coba awal, penentuan takaran kaporit dan ketebalan lapisan pasir menjadi tantangan tersendiri, karena terlalu banyak kaporit berisiko menimbulkan bau menyengat dan rasa air yang tidak nyaman, sementara terlalu sedikit kaporit tidak cukup efektif membunuh bakteri dalam sumur berukuran besar. Setelah beberapa kali penyesuaian, Bangun menemukan formulasi yang tepat: kaporit dalam pipa kecil yang dibungkus lapisan pasir di pipa besar mampu melepaskan klorin secara stabil dan bertahap, dengan masa pakai sekitar satu bulan sebelum kaporit perlu diisi ulang.

Hasil uji coba ini kemudian diverifikasi secara ilmiah melalui pemeriksaan sampel air sumur oleh UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, yang mencatat penurunan jumlah bakteri Coliform dari lebih 2.400 per 100 mililiter menjadi kurang dari 2 per 100 mililiter setelah alat digunakan sekitar 10 hari [1]. Verifikasi laboratorium ini menjadi bukti kredibel yang mendorong lebih banyak warga Desa Tritih Wetan mengadopsi Clorin Difuser untuk sumur mereka.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah menentukan takaran kaporit dan pasir yang tepat agar alat efektif membunuh bakteri tanpa menimbulkan bau menyengat atau rasa air yang mengganggu. Bangun mengatasinya melalui uji coba berulang hingga menemukan komposisi yang pas antara volume kaporit, ketebalan pasir, dan ukuran lubang pori-pori pipa.

Tantangan eksternal berupa kondisi permukiman padat yang membuat jarak sumur-septic tank tidak bisa diubah dalam waktu singkat turut menjadi kendala struktural yang sulit diatasi hanya dengan alat disinfeksi semata. Pendekatan Clorin Difuser memitigasi keterbatasan ini dengan menawarkan solusi jangka pendek yang murah dan cepat diterapkan, tanpa perlu menunggu perbaikan tata ruang permukiman yang membutuhkan waktu dan biaya jauh lebih besar.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah kejelian Bangun sebagai Kader Kesehatan Lingkungan dalam mengenali akar masalah pencemaran air sumur di wilayahnya, serta kemampuannya menerjemahkan prinsip disinfeksi klorin yang sudah dikenal secara ilmiah menjadi alat sederhana yang bisa dibuat warga sendiri [4].

Faktor kedua adalah dukungan verifikasi ilmiah dari UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, yang memberi bukti kredibel atas efektivitas alat ini, sehingga warga lebih percaya dan bersedia mengadopsi Clorin Difuser untuk sumur masing-masing.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum menggunakan Clorin Difuser, sampel air sumur di Desa Tritih Wetan tercatat mengandung lebih dari 2.400 bakteri Coliform per 100 mililiter, jauh melampaui ambang batas aman air bersih. Setelah alat digunakan sekitar 10 hari, jumlah bakteri Coliform turun menjadi kurang dari 2 per 100 mililiter, penurunan yang sangat signifikan berdasarkan hasil pemeriksaan UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap [1].

Selain menurunkan kadar bakteri, Clorin Difuser turut mengurangi bau air sumur yang sebelumnya kurang sedap, tanpa menimbulkan bau kaporit yang menyengat karena pelepasan klorin berlangsung bertahap melalui saringan pasir. Warga yang menggunakan air sumur untuk mencuci piring dan pakaian kini memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dari paparan bakteri penyebab penyakit.

Dampak spillover dari inovasi ini adalah kontribusinya terhadap capaian Desa Tritih Wetan yang pernah dinilai oleh tim Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tingkat Provinsi Jawa Tengah pada 2018, menunjukkan bahwa inisiatif kesehatan lingkungan berbasis warga seperti Clorin Difuser turut memperkuat reputasi desa dalam bidang sanitasi dan kesehatan masyarakat [3]. Inovasi ini juga didokumentasikan dalam Sistem Dokumentasi Inovasi Desa Kementerian Desa, PDTT, sebagai salah satu teknologi tepat guna yang dapat direplikasi desa lain [1].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal pembuatan Clorin Difuser sangat terjangkau karena hanya memerlukan bahan sederhana berupa pipa paralon, kaporit, dan pasir yang mudah didapat di toko bangunan setempat, tanpa memerlukan investasi alat khusus atau tenaga ahli tambahan.

Skema pembiayaannya bersifat swadaya warga, dengan setiap rumah tangga dapat membuat dan merawat alat masing-masing secara mandiri, termasuk mengisi ulang kaporit setiap bulan. Model ini tidak menghasilkan pendapatan langsung, namun memberi nilai tidak langsung berupa penghematan biaya kesehatan akibat penyakit yang bisa dicegah dari air sumur yang lebih bersih.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Bangun menunjukkan bahwa keputusan mengadaptasi prinsip disinfeksi klorin yang sudah dikenal secara ilmiah menjadi alat sederhana berbahan lokal, alih-alih mengandalkan teknologi pengolahan air yang mahal, adalah keputusan kunci yang tepat karena mudah direplikasi oleh warga dengan modal minim.

Jika memulai dari awal, uji coba formulasi takaran kaporit dan pasir idealnya melibatkan lebih banyak variasi ukuran sumur sejak tahap awal, agar rekomendasi penggunaan alat bisa lebih spesifik sesuai volume air sumur warga yang berbeda-beda.

Bagi kader kesehatan lingkungan atau desa lain yang ingin menerapkan pendekatan serupa, saran praktisnya adalah memastikan hasil uji coba diverifikasi melalui pemeriksaan laboratorium resmi seperti yang dilakukan UPTD Labkesda, karena bukti ilmiah semacam ini penting untuk meyakinkan warga agar mau mengadopsi inovasi kesehatan berbasis swadaya.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Clorin Difuser ditopang kesederhanaan alat yang memungkinkan warga merawat dan mengisi ulang kaporit secara mandiri setiap bulan, tanpa bergantung pada kehadiran Bangun maupun kader kesehatan lingkungan lainnya secara terus-menerus.

Mekanisme regenerasi pengetahuan bertumpu pada peran kader kesehatan lingkungan lain yang dapat mempelajari dan menyebarluaskan cara pembuatan Clorin Difuser kepada warga, sehingga inovasi ini tidak bergantung sepenuhnya pada satu individu. Dukungan Pemerintah Desa Tritih Wetan turut penting untuk memastikan program kesehatan lingkungan berbasis warga seperti ini tetap mendapat perhatian meski desa berubah status menjadi kelurahan di masa mendatang [2].

Rencana keberlanjutan jangka panjang dapat diperkuat dengan menjadikan pembuatan dan distribusi Clorin Difuser sebagai salah satu program rutin kader kesehatan lingkungan atau posyandu, sebagaimana kanal komunikasi warga yang sudah tersedia melalui situs resmi desa [5], sehingga edukasi dan penyediaan alat kepada warga baru dapat terus berjalan tanpa bergantung pada inisiatif perorangan semata.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Clorin Difuser di Desa Tritih Wetan berkontribusi pada lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera Penurunan drastis bakteri Coliform pada air sumur mengurangi risiko penyakit akibat air yang tercemar bagi warga desa. Bakteri Coliform turun dari lebih 2.400 menjadi kurang dari 2 per 100 ml
SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak Clorin Difuser menyediakan solusi disinfeksi air sumur yang terjangkau bagi warga di permukiman padat dengan risiko pencemaran tinggi. Air sumur warga terverifikasi lebih bersih setelah 10 hari penggunaan alat
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Clorin Difuser merupakan teknologi tepat guna berbiaya rendah yang dapat dibuat dan dirawat sendiri oleh warga tanpa keahlian khusus. Alat dibuat dari bahan sederhana (paralon, kaporit, pasir)
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan Inovasi ini menjadi solusi adaptif bagi permukiman padat penduduk yang jarak sumur-septic tank-nya tidak memenuhi standar jarak aman. Solusi diterapkan pada permukiman dengan jarak sumur-septic tank 3-5 meter
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara kader kesehatan lingkungan dan UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap memverifikasi efektivitas inovasi secara ilmiah. Hasil uji laboratorium resmi memperkuat kredibilitas alat

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Kesederhanaan dan biaya rendah Clorin Difuser membuat inovasi ini sangat berpotensi direplikasi oleh desa lain, khususnya wilayah padat penduduk dengan persoalan jarak sumur-septic tank yang sempit serupa dengan Desa Tritih Wetan. Prasyarat minimum meliputi ketersediaan bahan baku sederhana seperti pipa paralon, kaporit, dan pasir, serta kader kesehatan lingkungan atau warga yang bersedia mempelajari cara pembuatan dan perawatannya.

Estimasi biaya replikasi sangat terjangkau karena seluruh bahan bisa didapat di toko bangunan setempat dengan harga murah, dan proses pembuatannya tidak memerlukan keahlian teknis khusus. Desa lain dapat mengadaptasi model ini dengan menyesuaikan ukuran pipa dan takaran kaporit terhadap volume sumur setempat, serta bekerja sama dengan laboratorium kesehatan daerah untuk memverifikasi efektivitasnya sebagaimana dilakukan Desa Tritih Wetan bersama UPTD Labkesda Dinkes Kabupaten Cilacap [1].

 

Daftar Pustaka

[1] Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, “Clorin Difuser, Inovasi Kader Kesehatan Lingkungan Desa Tritih Wetan,” Sistem Dokumentasi Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, inovasidesa.kemendesa.go.id, 8 Mei 2019. [Online]. Tersedia: https://inovasidesa.kemendesa.go.id/category/teknologi-tepat-guna/

[2] Kontributor Wikipedia, “Tritih Wetan, Jeruklegi, Cilacap,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Tritih_Wetan,_Jeruklegi,_Cilacap

[3] Humas Pemkab Cilacap, “Desa Tritih Wetan Jeruklegi, Dinilai Tim PHBS Tingkat Provinsi Jawa Tengah,” humas.cilacapkab.go.id, 2018. [Online]. Tersedia: http://humas.cilacapkab.go.id/desa-tritih-wetan-jeruklegi-dinilai-tim-phbs-tingkat-provinsi-jawa-tengah/

[4] Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan, “Penggunaan Klorin Diffuser Mini terhadap Sisa Klor pada Air Bak Bilasan Cucian Terakhir Pedagang Angkringan di Dusun Pajangan, Sumberagung, Moyudan, Sleman,” Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, e-journal.poltekkesjogja.ac.id. [Online]. Tersedia: https://e-journal.poltekkesjogja.ac.id/index.php/Sanitasi/article/view/766

[5] Pemerintah Desa Tritih Wetan, “Website Resmi Desa Tritih Wetan,” tritihwetan.desa.id. [Online]. Tersedia: https://www.tritihwetan.desa.id/

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Clorin Difuser
Alamat
Desa Tritih Wetan, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
Inovator
Bangun (Kader Kesehatan Lingkungan Desa Tritih Wetan)
Kontak
+62 851-5977-0838
Lokasi