Ringkasan Inovasi

Desa Subuk, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, menciptakan mesin pengering gabah berbahan bakar gas LPG untuk mengatasi kesulitan petani mengeringkan hasil panen saat cuaca mendung dan musim hujan. Inovasi ini digagas kelompok tani dan warga Desa Subuk bersama Pemerintah Desa, dan dipublikasikan sebagai inovasi desa binaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi pada 2019 [1], [2]. Desa yang berkontur perbukitan dengan curah hujan tinggi ini selama ini bergantung pada penjemuran gabah di bawah sinar matahari, sehingga hasil panen kerap membusuk atau rusak saat masa pascapanen jatuh pada puncak musim penghujan. Mesin berkapasitas 2.500 kilogram gabah basah ini bekerja memanfaatkan hawa panas dari delapan tabung gas LPG 3 kilogram selama 12 jam, tanpa bergantung pada sinar matahari. Kehadirannya membantu petani menjaga kualitas gabah tetap kering meski cuaca buruk, sehingga risiko kerugian pascapanen dapat ditekan.

 

Latar Belakang

Desa Subuk berada di Kecamatan Busungbiu, bagian barat daya Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, dengan luas wilayah sekitar 434 hektare pada ketinggian 200 hingga 400 meter di atas permukaan laut [3]. Desa berpenduduk sekitar 1.600 jiwa ini beriklim tropis lembap dengan curah hujan tahunan mencapai sekitar 3.000 milimeter, dan kontur wilayahnya berupa perbukitan yang diselingi hamparan persawahan [3], [4]. Sekitar 30 persen warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian, dengan padi, jagung, dan sayuran sebagai komoditas utama [4].

Kelembapan udara yang tinggi akibat topografi perbukitan dan curah hujan yang deras menjadi tantangan utama bagi aktivitas pascapanen padi di Desa Subuk [1]. Petani mengandalkan penjemuran gabah di bawah sinar matahari, sehingga proses pengeringan menjadi sangat bergantung pada cuaca cerah. Saat masa panen jatuh pada puncak musim penghujan, gabah basah yang tidak segera kering berisiko membusuk sebelum sempat digiling menjadi beras, menekan pendapatan rumah tangga petani.

Kondisi ini mendorong petani dan warga Desa Subuk mencari solusi teknologi pengeringan yang tidak bergantung pada cuaca. Pemerintah Desa Subuk kemudian memfasilitasi perancangan mesin pengering gabah berbahan bakar gas sebagai jawaban atas persoalan pascapanen yang berulang setiap musim hujan [1].

 

Inovasi yang Diterapkan

Mesin pengering gabah ini dirancang menggunakan material yang mudah didapat di pasar lokal, seperti plat besi, kipas blower, regulator, dan pipa gas [1]. Alat berukuran 4 x 2 x 1,2 meter ini mampu menampung hingga 2.500 kilogram gabah basah dalam satu kali proses pengeringan, setara sekitar 1.250 kilogram beras [1].

Mesin bekerja dengan memanfaatkan hawa panas sebagai media pengering, didukung delapan tabung gas LPG 3 kilogram yang disalurkan melalui regulator ke ruang pemanas, dengan kipas blower mendistribusikan udara panas secara merata [1]. Satu siklus pengeringan membutuhkan waktu sekitar 12 jam kerja konstan. Berbeda dari penjemuran konvensional yang bergantung penuh pada sinar matahari, mesin ini memungkinkan gabah tetap kering meski cuaca mendung atau hujan.

 

Proses Penerapan Inovasi

Pengembangan mesin diawali dengan identifikasi kebutuhan petani dan perancangan konstruksi menggunakan komponen sederhana yang mudah dirakit secara swadaya. Uji coba pengeringan gabah basah menunjukkan mesin mampu menghasilkan panas yang cukup untuk mengeringkan gabah dalam skala besar tanpa sinar matahari [1].

Uji coba lapangan juga mengungkap risiko penting: tanpa pengatur waktu dan sensor suhu otomatis, ruang pemanas berpotensi mengalami suhu berlebih (over dry) yang dapat merusak struktur biji gabah [1]. Temuan ini menjadi pembelajaran utama bagi tim pengembang, yang kemudian menjadikan pemasangan alat pengatur waktu dan sensor suhu sebagai agenda penyempurnaan mesin pada tahap berikutnya, alih-alih mengabaikan risiko tersebut demi kecepatan produksi.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan teknis utama adalah risiko suhu berlebih yang dapat merusak gabah, karena mesin generasi awal belum dilengkapi pengatur waktu maupun sensor suhu otomatis [1]. Tim pengembang memitigasi risiko ini dengan menjadikan pemasangan timer dan sensor suhu sebagai prioritas pengembangan lanjutan, sembari sementara mengandalkan pengawasan manual operator selama proses pengeringan berlangsung.

Kebutuhan delapan tabung gas LPG 3 kilogram untuk setiap siklus pengeringan berpotensi menekan pasokan gas subsidi di tingkat desa, terutama saat musim panen bersamaan dengan permintaan rumah tangga meningkat. Persoalan ini perlu diantisipasi melalui koordinasi dengan penyalur gas setempat agar ketersediaan tabung tetap terjaga selama periode pascapanen.

Sebagian petani yang terbiasa dengan penjemuran tradisional membutuhkan waktu untuk mempercayai efektivitas mesin baru ini. Pendampingan langsung dari kelompok tani dan aparat desa diperlukan untuk memperkenalkan cara pengoperasian mesin serta meyakinkan manfaatnya dibanding metode konvensional.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Dukungan Pemerintah Desa Subuk di bawah Perbekel I Ketut Suliada Kusana dalam memfasilitasi perancangan dan pengujian mesin menjadi faktor penentu utama keberhasilan inovasi ini. Keterlibatan aparat desa membantu mempercepat penerimaan teknologi baru di kalangan petani [5].

Modal sosial berupa kebiasaan gotong royong warga Desa Subuk turut mendukung proses perakitan mesin secara swadaya. Pengakuan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi melalui publikasi inovasi ini memperkuat posisi Desa Subuk sebagai rujukan teknologi tepat guna pertanian di Kabupaten Buleleng [1], [2].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum mesin ini hadir, petani Desa Subuk sepenuhnya bergantung pada penjemuran alami yang rawan gagal saat musim hujan, sehingga gabah basah kerap membusuk sebelum sempat digiling [1]. Setelah mesin beroperasi, satu siklus pengeringan mampu memproses hingga 2.500 kilogram gabah basah menjadi sekitar 1.250 kilogram beras dalam waktu sekitar 12 jam, tanpa bergantung pada cuaca [1].

Ketersediaan mesin pengering membantu petani menjaga jadwal pascapanen tetap berjalan meski cuaca mendung berkepanjangan, mengurangi risiko kerugian akibat gabah rusak. Kemampuan mesin mengeringkan gabah dalam ruang tertutup juga menekan potensi tumbuhnya jamur yang biasa muncul pada gabah basah yang terlalu lama menunggu sinar matahari.

Inovasi ini mendapat pengakuan sebagai salah satu praktik baik binaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi yang didokumentasikan secara nasional [1], [2]. Pengalaman Desa Subuk turut menjadi rujukan bagi diskusi mengenai adaptasi teknologi pascapanen pertanian di kawasan berkelembapan tinggi lainnya di Bali.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pembangunan mesin pengering ditopang swadaya kelompok tani dan warga Desa Subuk, memanfaatkan material yang relatif terjangkau seperti plat besi, kipas blower, dan pipa gas [1]. Pemerintah Desa Subuk berperan memfasilitasi proses perancangan dan mendorong publikasi inovasi ini melalui program inovasi desa Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi [2].

Biaya operasional utama berasal dari pembelian delapan tabung gas LPG 3 kilogram untuk setiap siklus pengeringan, yang selama ini ditanggung bersama oleh petani yang memanfaatkan mesin. Untuk keberlanjutan jangka panjang, pengelolaan mesin secara kolektif oleh kelompok tani atau lembaga desa seperti BUMDes berpotensi menjadi model yang lebih formal, sehingga biaya perawatan dan penggantian tabung gas dapat dikelola melalui iuran pengguna secara terorganisasi.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Desa Subuk menunjukkan bahwa teknologi sederhana berbasis material lokal dapat menjawab persoalan pascapanen tanpa memerlukan investasi besar, asalkan dirancang sesuai kebutuhan spesifik petani setempat. Keterbukaan mendokumentasikan temuan uji coba, termasuk risiko suhu berlebih yang belum sepenuhnya teratasi, menjadi contoh yang berguna bagi desa lain untuk belajar dari proses pengembangan yang sebenarnya, bukan hanya hasil akhirnya.

Jika pengembangan dilanjutkan, penambahan pengatur waktu dan sensor suhu otomatis sejak tahap awal akan mengurangi risiko kerusakan gabah akibat panas berlebih. Saran praktis bagi desa lain yang ingin mereplikasi adalah menyiapkan komponen kendali suhu sebagai bagian dari desain awal, bukan sebagai penyempurnaan belakangan, agar risiko over dry dapat diminimalkan sejak awal pengoperasian.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan mesin pengering bergantung pada pengembangan lanjutan berupa pemasangan pengatur waktu dan sensor suhu otomatis, agar operator tidak perlu mengandalkan pengawasan manual sepenuhnya selama proses pengeringan [1]. Pemerintah Desa Subuk berperan penting mendampingi kelompok tani dalam tahap penyempurnaan teknis ini.

Pelibatan kelompok tani secara kolektif dalam pengoperasian mesin, alih-alih bergantung pada satu individu, membantu memastikan keberlangsungan pemanfaatan alat meski kepemimpinan desa maupun pengurus kelompok tani berganti dari waktu ke waktu. Pendokumentasian cara kerja dan perawatan mesin menjadi penting agar pengetahuan teknis dapat diwariskan ke generasi petani berikutnya.

Formalisasi pengelolaan mesin melalui kelembagaan desa seperti BUMDes atau kelompok tani berbadan hukum berpotensi membuka skema iuran pengguna yang menopang biaya perawatan dan penggantian komponen secara mandiri, tanpa terus bergantung pada swadaya maupun bantuan program dari luar desa.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi mesin pengering gabah Desa Subuk berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di tingkat desa.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Mesin pengering menjaga kualitas gabah tetap terjaga saat musim hujan, mencegah kerugian finansial akibat gabah rusak yang menekan pendapatan petani. Jumlah kilogram gabah yang berhasil diselamatkan dari risiko rusak per siklus pengeringan
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Mesin memastikan proses pascapanen padi tetap berjalan meski cuaca buruk, menjaga pasokan beras tetap tersedia bagi ketahanan pangan desa. Volume beras (kg) yang dihasilkan per siklus pengeringan (sekitar 1.250 kg)
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Kepastian hasil panen mendorong kelangsungan mata pencaharian petani di sektor pertanian yang menjadi tumpuan sebagian besar warga desa. Jumlah petani/kelompok tani yang memanfaatkan mesin secara rutin
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Mesin pengering berbasis komponen lokal membuktikan warga desa mampu merancang infrastruktur teknologi pertanian adaptif terhadap cuaca secara mandiri. Status inovasi sebagai praktik baik terdokumentasi nasional dan jumlah replikasi di desa lain

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Replikasi mesin pengering gabah mensyaratkan ketersediaan kelompok tani yang bersedia bekerja secara swadaya, akses material dasar seperti plat besi dan kipas blower, serta pasokan gas LPG yang memadai di tingkat desa. Berdasarkan spesifikasi mesin Desa Subuk, desa lain dapat memperkirakan kebutuhan investasi awal untuk material dan komponen dalam kisaran puluhan juta rupiah, dengan waktu perakitan berkisar beberapa bulan tergantung ketersediaan tenaga kerja swadaya.

Kapasitas dan dimensi mesin dapat disesuaikan dengan skala produksi gabah masing-masing desa, sehingga tidak perlu mengikuti ukuran 2.500 kilogram milik Desa Subuk secara persis. Desa-desa lain di kawasan berkelembapan tinggi Bali maupun daerah lain di Indonesia dengan tantangan pascapanen serupa dapat mempelajari desain ini melalui dokumentasi program inovasi desa Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi sebagai titik awal adaptasi [1], [2].

 

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa, “Mesin Pengering Gabah Sederhana, Inovasi Desa Subuk Siasati Kondisi Cuaca dalam Pengeringan Gabah,” inovasi.web.id, 13 Mar. 2019. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/mesin-pengering-gabah-sederhana-inovasi-desa-subuk-siasati-kondisi-cuaca-keringkan-gabah/

[2] Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, “Mesin Pengering Gabah Sederhana, Inovasi Desa Subuk Siasati Kondisi Cuaca dalam Pengeringan Gabah,” inovasidesa.kemendesa.go.id. [Online]. Tersedia: https://inovasidesa.kemendesa.go.id/mesin-pengering-gabah-sederhana-inovasi-desa-subuk-siasati-kondisi-cuaca-keringkan-gabah/

[3] Pemerintah Desa Subuk, “Kondisi Umum Desa Subuk,” subuk-buleleng.desa.id. [Online]. Tersedia: https://subuk-buleleng.desa.id/index.php/first/artikel/3

[4] Wikipedia, “Subuk, Busungbiu, Buleleng,” id.wikipedia.org, 2024. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Subuk,_Busungbiu,_Buleleng

[5] Pemerintah Desa Subuk, “Profil Pemerintah Desa Subuk,” subuk-buleleng.desa.id. [Online]. Tersedia: https://subuk-buleleng.desa.id/index.php/first/index/13

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Mesin Pengering Gabah Sederhana
Alamat
Desa Subuk, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali
Inovator
Kelompok tani dan warga Desa Subuk bersama Pemerintah Desa Subuk
Kontak
I Ketut Suliada Kusana, ST (Perbekel Desa Subuk), telepon 0819-3648-0101, situs subuk-buleleng.desa.id
Lokasi